Anda di halaman 1dari 122

FAKTOR - FAKTOR

PENYEBAB

KEBIASAAN

MEROKOK

DI KALANGAN SISWA DAN UPAYA PENANGGULANGAN PADA MTs NEGERI 1 KENDARI

SISWA DAN UPAYA PENANGGULANGAN PADA MTs NEGERI 1 KENDARI SKRIPSI Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kependidikan pada Jurusan Bimbingan dan Konseling

OLEH :

AWAL SAFITRAH A1B1 13 087

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI

2018

PERNYATAAN PENULIS

Skripsi dengan judul Faktor-faktor Penyebab Kebiasaan Merokok di

Kalangan Siswa dan Upaya Penanggulangan pada MTs Negeri 1 Kendariadalah

hasil karya sendiri dan tidak ada unsur plagiat secara total pada hasil karya orang

lain.

ii

Penulis

Awal Safitrah A1B1 13 087

PERSETUJUAN PEMBIMBING

SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEBIASAAN MEROKOK DI KALANGAN SISWA DAN UPAYA PENANGGULANGAN PADA MTs NEGERI 1 KENDARI

Oleh:

Awal Safitrah

A1B113087

Telah disetujui untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

Pendidikan pada Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Halu Oleo Kendari.

Pembimbing I,

Menyetujui,

Kendari,

April 2018

Pembimbing II

Dr. H. La Ode Muharam, M.Pd NIP. 19581231 198603 1 433

Alber Tigor Arifyanto S.Pd., M.Pd NIP. 19820416 200604 1002

Mengetahui,

a.n. Dekan FKIP

Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling

Aspin S.Ag., M.Si NIP. 19690213 200801 1 006

iii

HALAMAN PENGESAHAN

SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEBIASAAN MEROKOK DI KALANGAN SISWA DAN UPAYA PENGANGGULANGAN PADA MTs NEGERI 1 KENDARI

Oleh:

Awal Safitrah A1B1 13 087

Telah diterima dan disetujui oleh Panitia Ujian Skripsi pada Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Halu Oleo Kendari Berdasarkan SK Dekan FKIP UHO.

Nomor

: 1196/UN29.5.1/PP/2018

Hari/Tanggal

: Rabu, 28 Maret 2018

Panitia Ujian

Ketua

: Dr. H. La Ode Muharam, M.Pd

(…………………)

Sekertaris

: Alber Tigor Arifyanto, S,Pd, M.Pd

(…………………)

Anggota

: 1. Dra. Sudarmi Suud B, M.Pd

(…………………)

2. Aspin, S.Ag, Msi

3. Dodi Priyatmo Silondae, S.Pd, M.Pd

4. Abas Rudin, S.Pd, M.Pd

(…………………)

(…………………)

(…………………)

Kendari, 2 April 2018 Disahkan Oleh Dekan FKIP Universitas Halu Oleo

Dr. H. Jamiludin, M.Hum NIP. 19641030 198902 1 001

iv

MOTTO

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Dan boleh

jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha

mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”

(Al-Baqarah: 216)

“Kunci dasar kesuksesan adalah tindakan” (Pablo Pisacco).

“Kebanyakan orang gagal disebabkan mereka hanya berfikir dan berteori, namun

jarang ada yang mau lansung bertindak”

(Penulis)

Kudedikasikan :

“Kepada orang-orang yang telah berperan dan berjasa menjadikan

Aku hingga seperti sekarang ini (Ayah, Ibu, Adik-adikku), Almamater,

Bangsa dan Negara

v

ABSTRAK

Awal Safitrah (A1B1 13 087). Faktor-Faktor Penyebab Kebiasaan Merokok di Kalangan Siswa dan Upaya Penanggulangan pada MTs Negeri 1 Kendari. Dibimbing oleh Dr. H. La Ode Muharam, M.Pd dan Alber Tigor Arifyanto, M.Pd. telah dilakukan penelitian pada siswa MTs Negeri 1 Kendari dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kebiasaan merokok di kalangan siswa MTs Negeri 1 Kendari. Subyek dalam Penelitian ini adalah 1 guru wali kelas, 1 guru Bimbingan dan Konseling dan 16 siswa MTs Negeri 1 Kendari yang melakukan Kebiasaan merokok. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan studi dokumen. Metode analisis data adalah dengan analisis kualitatif Miles & Huberman. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan siswa melakukan kebiasaan merokok disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari reaksi emosi positif, reaksi emosi negatif, alasan sosial dan kecanduan. Sedangkan faktor ekternal penyebab siswa merokok adalah pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya dan pengaruh lingkungan sosial. Faktor yang paling dominan menyebabkan siswa merokok adalah faktor pengaruh teman sebaya. Sedangkan upaya penanggulangan Kebiasaan merokok yang dilakukan oleh guru wali kelas dan guru BK adalah melalui upaya yang bersifat pencegahan yaitu memberikan informasi tentang peraturan dan tata tertib sekolah dan memberikan informasi tentang bahaya merokok dan menganjurkan siswa untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, kemudian upaya yang bersifat pengentasan yang dilakukan oleh wali kelas adalah dengan memberikan hukuman yang mendidik dan menyampaikan kepada guru BK dan yang dilakukan guru BK adalah dengan memberi layanan konseling individu, konseling kelompok, layanan bimbingan kelompok atau melakukan kunjungan rumah.

Kata Kunci : penyebab kebiasaan merokok, upaya penanggulangan

vi

ABSTRACT

Awal Safitrah (A1B1 13 087). Factors Causing Smoking Habits among Students and Countermeasures at MTs Negeri 1 Kendari. Guided by Dr. H. La Ode Muharam, M.Pd and Alber Tigor Arifyanto, M.Pd. has been conducted research on students MTs Negeri 1 Kendari with the aim to determine the factors causing smoking habits among students MTs Negeri 1 Kendari. Subjects in this study were 1 teacher homeroom teacher, 1 teacher Guidance and Counseling and 16 students MTs Negeri 1 Kendari who do smoking habit. This type of research is qualitative research. Data collection was done by interview technique and document study. Methods of data analysis is by qualitative analysis Miles & Huberman. Based on the results of the study found that students do smoking habit caused by internal factors and external factors. Internal factors consist of positive emotional reactions, negative emotional reactions, social reasons and addictions. While the external factors that cause smoking students are the influence of parents, peer influence and the influence of the social environment. The most dominant factor causing students to smoke is the influence factor of peers. While the effort to overcome Smoking habits undertaken by teachers homeroom and teachers BK is through efforts that are prevention of providing information about the rules and school rules and provide information about the dangers of smoking, then efforts that are at pursuance by olek homeroom is to impose penalties which educates and conveys to BK teachers and what BK teachers do is to provide individual counseling services, group counseling, group counseling services or home visits.

Keywords: causes of smoking habit, countermeasures

vii

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puja dan puji dipersembahkan kepada kehadirat Illahi Rabbi Pemilik

Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puja dan puji dipersembahkan kepada

kehadirat Illahi Rabbi Pemilik semua keagungan dan kemuliaan, yang telah

melimpahkan hidayahnya taufik dan karuniaNya kepada penulis sehiingga skripsi

yang berjudul “Faktor-faktor Penyebab Perilaku Merokok di Kalangan Siswa dan

Upaya Penanggulan pada MTs Negeri 1 Kendaridapat diselesaikan.

Penghargaan yang tinggi dan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua

orang tua saya ayahanda La Mane dan Ibunda Salna yang telah merawat,

membesarkan, mendidik dan menyekolahkan serta memberikan do’a restu kepada

penulis agar sukses dalam studi dan aktivitas lainnya.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada bapak DR. H. Ld. Muharam,

M.Pd dan bapak Alber Tigor Arifyanto, S.Pd, M.Pd yang telah membimbing dan

mengarahkan penulis hingga selesainya penulisan ini.

Selama mengikuti proses perkuliahan hingga penyelesaian studi, banyak

pihak

yang

turut

memberikan

sumbangsih,

dukungan,

do’a,

motivasi

serta

semangat. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan

penghargaan dan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Muhammad Zamrun Firihu, S.Si., M.Sc selaku Rektor Universitas

Halu Oleo yang telah memberikan kondisi yang kondusif untuk menimba ilmu

di Universitas Halu Oleo.

viii

2. Dr.

H.

Jamiludin

M.Hum.,

selaku

Dekan

Fakultas

Keguruan

dan

Ilmu

Pendidikan Universitas Halu Oleo yang telah memberikan izin dan kesempatan

untuk melaksanakan penelitian sampai selesainya skripsi ini.

3. Aspin, S.Ag, M.Si selaku ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas

Keguruan dan Ilmuu Pendidikan Universitas Halu Oleo, yang telah banyak

memberikan dukungan, masukan, arahan dan motivasi serta kemudahan selama

mengikuti proses studi.

4. Alber Tigor Arifyanto, S.Pd, M.Pd selaku Sekretaris Jurusan Bimbingan dan

Konseling

Fakultas

Keguruan

dan

Ilmuu

Pendidikan

Universitas

Halu

Oleo,yang telah banyak memberikan dukungan, masukan, arahan dan motivasi

serta kemudahan selama mengikuti proses studi.

5. Dosen serta staf Administrasi Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas

Halu Oleo atas segala bantuan dan kmudahan pelayanan yang di berikan

selama studi.

6. La Duku, S.Ag. M.Pd., selaku Kepala Sekolah MTsN 1 Kendari yang telah

memberikan izin untuk melaksanakan penelitian di MTsN 1 Kendari.

7. Muh. Agus Saharuddin S.Pd selaku guru Bimbingan dan Konseling di MTsN 1

Kendari yang telah membantu, mengarahkan, mendampingi dan memfasilitasi

selama pelaksanaan penelitian.

8. Siswa MTsN 1 Kendari yang telah meluangkan waktunya untuk berpartisipasi

dalam penelitian ini.

ix

9. Rekan-rekan

mahasiswa

BK

Angkatan

2013

dan

2012

atas

kerja

sama,

bantuan,

masukan

dan

dorongan

yang

diberikan

kepada

penulis

sejak

perkuliahan sampai saat penulisan skripsi ini.

10. Sahabat-sahabatku Ei8ht Luz (Muhammad Musafir S.Pd, Dheni Muswarah

S.Pd, Sunandar, Firman, Arfib Taoba, Sholi Tumada S.Pd, Nazmin) RJL

(Mery, Sisil, Devianasari S.Pd, Weni Agustin S.Pd, Febriana S.Pd, Juli, Ulfa,

Ima, Risma), Nadra S.Pd, Hikmawati S.Pd, Rida Febriani S.Pd, Fatimaullah

dan

semua

sahabat-sahabat

yang

tidak

dapat

penulis

sebut

satu

persatu

terimakasih atas bantuan, dukungan, masukan, saran dan motivasi kepada

penulis.

Ucapan terima kasih khusus kepada orang yang tercinta dalam kehidupan

keluarga penulis yakni saudara-saudaraku Ana Safitri (adik ke-2), Afiza (adik ke-

3) dan sepupu-sepupuku (Yuli, Kisran, Novi) dan adinda Marfiani/Anis yang telah

banyak

memberikan

dorongan

sehingga

penulis

dapat

melanjutkan

dan

menyelesaikan studi di Universitas Halu Oleo.

Kepada semua pihak tersebut di atas penulis doakan semoga Allah SWT

memberikan kesehatan, kekuatan dan kelapangan hidup serta pahala yang besar

atas jasa-jasa mereka.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua

pihak dan dapat menambahkan khasanah keilmuan khususnya bagi para pembaca.

Amiin.

x

Kendari,

Penulis

April 2018

DAFTAR ISI

 

Halaman

HALAMAN SAMPUL

i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

iii

HALAMAN PENGESAHAN

iv

MOTTO

v

ABSTRAK

vi

ABSTRACT

vii

KATA PENGANTAR

viii

DAFTAR ISI

ix

DAFTAR BAGAN

xi

DAFTAR LAMPIRAN

xiv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

5

1.3 Tujuan Penelitian

5

1.4 Manfaat Penelitian

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Kebiasaan Merokok

7

2.1.1

Pengertian Kebiasaan Merokok

7

2.1.2

Tipe-tipe Perokok

8

2.1.3

Tahapan Kebiasaan Merokok

11

2.1.4

Aspek-aspek Kebiasaan Merokok

13

2.2

Fungsi Guru Bimbingan dan Konseling

14

2.3

Faktor-faktor Penyebab Kebiasaan Merokok

17

2.4

Dampak Kebiasaan Merokok Bagi Siswa

21

2.5

Upaya Penanggulan Kebiasaan Merokok di Kalangan Siswa

24

2.6

Penelitian Relevan

27

2.7

Kerangka Pikir

28

2.8

Hipotesis Penelitian

29

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

31

3.2 Subyek Penelitian

31

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian

31

xi

3.4

Teknik Pengumpulan Data

32

3.5

Teknik Analisis Data

33

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

37

 

4.1.1 Gambaran Umum MTs Negeri 1 Kendari

37

4.1.2 Hasil Penelitian

43

4.2 Pembahasan

51

4.3 Keterbatasan Penelitian

56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

57

5.2 Saran

58

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xii

DAFTAR BAGAN

Lampiran

Teks

Halaman

1.

Kerangka Pikir Penelitian

30

 

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Teks

Halaman

1. Pra Penelitian (Catatan Kasus)

61

2. Wawancara (Pra Penelitian) dengan Guru BK di MTsN 1 Kendari .

62

3. Kisi-Kisi Pedoman Wawancara

64

4. Pedoman Wawancara dengan Siswa MTsN 1 Kendari

65

5. Pedoman Wawancara dengan Guru BK dan Wali kelas MTsN 1 Kendari

67

6. Hasil Wawancara dengan Wali Kelas MTsN 1 Kendari

68

7. Hasil Wawancara dengan guru BK MTsN 1 Kendari

70

8. Hasil wawancara dengan Siswa MTsN 1 Kendari

72

9. Tabulasi Penyebab Siswa Merokok

88

10. Kesimpulan Wawancara (Reduksi, Display dan Kesimpulan Hasil Wawancara dengan Informan Penelitian)

89

11. Dokumentasi Penelitian

95

12. Surat Izin Penelitian dari FKIP UHO

98

13. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian dari MTsN 1 Kendari

99

14. Biodata Peneliti

100

xiv

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHALUAN

Rokok adalah hasil olahan tembakau dibungkus cerutu ataupun bentuk

lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rucita dan

spesies lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau

tanpa bahan tambahan. Rokok merupakan silinder dari kertas berukuran panjang

antara 70 mm- 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10

mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada

salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat

mulut pada ujung lain (PP No.19/2003).

Menurut World Health Organization (WHO), rokok merupakan zat aditif

yang memiliki kandungan kurang lebih 4000 elemen, dimana 200 elemen di

dalamnya berbahaya bagi kesehatan tubuh (Abadi, dalam Nastasia & Rahmadhani

2015:35). Indonesia menempati posisi ketiga dalam daftar 10 negara dengan

jumlah perokok terbesar di dunia setelah China (390 juta) dan India (114 juta).

Data statistik di Indonesia memperlihatkan bahwa sebanyak 24,1% remaja pria

dan 4,0% anak/remaja wanita adalah perokok sedangkan perokok dikalangan

orang

dewasa

(2015:19)

sebanyak

63%

pada

pria

dan

4,5%

wanita,

Salmawati

dkk

Usia perokok di Indonesia kini semakin muda, bahkan telah menyentuh usia

anak-anak. Kondisi ini yang menyebabkan Indonesia disebut sebagai satu-satunya

negara di dunia dengan baby smoker atau perokok anak. Terlibat dalam kegiatan

1

2

merokok merupakan bahaya yang dihadapi sebagian anak-anak pada tahap kanak-

kanak mereka. Pada tahap perkembangan perkembangan usia siswa, merokok

menghadirkan

tantangan

yang

sesungguhnya,

walaupun

secara

luas

telah

diketahui bahwa merokok merupakan bahaya bagi kesehatan.

Kebiasaan merokok merupakan suatu kegiatan yang banyak dilakukan oleh

banyak orang dan menjadi trend khususnya di kalangan siswa akan tetapi bisa

berakibat buruk bagi kesehatan. Pada dasarnya siswa sudah mengetahui akibat

buruk dari rokok, namun mereka tidak pernah peduli, karena siswa memiliki

tujuan tertentu mengapa mereka merokok antara lain: ingin terlihat lebih gagah

dan lebih dewasa, ingin memperoleh kenikmatan, ingin menyesuaikan diri dengan

lingkungan supaya terlihat lebih modern dan dianggap gaul. Aula (2010:37)

mengemukakan kebiasaan merokok merupakan suatu fenomena yang muncul

dalam masyarakat, dimana sebagian besar masyarakat sudah mengetahui dampak

negatif merokok, namun bersikeras menghalalkan tindakan merokok.

Kebiasaan siswa seringkali tidak lepas dari peran model atau figur yang

dianggap representatif untuk ditiru, hal itu yang menyebabkan mengapa

siswa

masih dianggap sebagai golongan yang labil dalam pengelolaan emosinya, karena

mereka cenderung belum memiliki pendirian yang kuat untuk mengantisipasi

setiap

pengaruh

yang

ditimbulkan

oleh

lingkungan

pergaulannya,

sehingga

mereka cenderung lebih sering meniru kebiasaan orang lain dalam menghadapi

situasi tertentu. Dalam perjalanan hidup manusia dihadapan pada berbagai macam

kejadian dan masalah, setiap individu akan memberikan respon yang berbeda-

beda atas peristiwa yang dialami.

3

Peserta didik dalam hal ini siswa sekolah menengah pertama merupakan

generasi

penerus

yang

akan

membangun

bangsa

kearah

lebih

baik

yang

mempunyai pemikiran jauh kedepan dan kegiatannya yang dapat menguntungkan

diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Siswa seharusnya dalam aktivitas di

sekolah menunjukan kebiasaan dan prestasi yang baik, sehingga dari itu mereka

harus mendapatkan perhatian khusus, baik oleh dirinya sendiri, orang tua, pihak

sekolah dan masyarakat sekitar. Tujuan pedidikan secara umum adalah untuk

mencapai kedewasaan jasmani dan rohani anak didik, peserta didik mampu

mengembangkan potensi dalam dirinya agar menjadi manusia yang beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanung

jawab.

Peserta didik yang sedang dalam tahap perkembangan menuju seorang yang

dewasa ingin sekali kehadiran dan identitas mereka diakui serta dianggap penting

di lingkungan sekitar mereka, dengan melakukan berbagai macam tindakan yang

justru menunjukan hal-hal yang tidak baik. Seperti yang terjadi di Madrasah

Tsanawiyah

(MTs) Negeri 1 Kendari terdapat

sebagian siswa putra yang

melakukan pelanggarakan dalam bentuk kebiasaan merokok. Berdasarkan hasil

wawancara pra-penelitian dengan guru Bibingan dan Konseling (BK) di MTs

Negeri 1 Kendari, diperoleh informasi bahwa pada tahun ajaran baru yang di

mulai bulan juli sampai agustus ditemukan siswa sebanyak 7 orang yang merokok

di lingkungan sekolah. Pelanggaran berupa kebiasaan merokok ini tercatat di buku

kasus yang ada di guru BK. Asumsi dasar bahwa siswa yang merokok disebabkan

4

oleh beberpa hal diantaranya adalah pengaruh ajakan teman, rasa penasaran yang

membuat siswa tersebut ingin mencoba dan ingin terlihat lebih gagah di hadapan

teman-temannya (Wawancara Guru BK, 16 Agustus 2017).

Upaya penanganan kebiasaan merokok telah dilakukan oleh pihak sekolah

MTs Negeri 1 Kendari mulai dari penerapan sanksi oleh guru, pemberian layanan-

layanan bimbingan dan konseling, baik berupa layanan konseling kelompok

maupun konseling individual, pihak sekolah pun bahkan telah memanggil orang

tua siswa untuk mengkomunikasikan permasalahan anaknya tersebut. Namun,

tampaknya hal tersebut belum mampu mengatasi kebiasaan merokok siswa. Hal

ini mungkin disebabkan karena banyaknya faktor yang melatar belakangi siswa

melakukan kebiasaan merokok. Sebenarnya untuk menangani atau menyelesaikan

permasalahan khususnya kebiasaan merokok alangkah baiknya ketika diketahui

secara

pasti

faktor-faktor

penyebab

atau

akar

dari

permasalahan

kebiasaan

merokok tersebut. Sehingga proses penyelesainnya betul-betul mengentaskan dari

sumber permasalahan.

Besarnya dampak negatif yang dapat diakibatkan oleh kebiasaan merokok

siswa yang jika dibiarkan akan berakibat fatal bagi masa depannya, padahal pihak

sekolah sudah melakukan upaya-upaya tetapi kebiasaan merokok siswa tidak bisa

dihilangkan,

sehingga

mendorong

peneliti

untuk

mengkaji

dalam

sebuah

penelitian dengan judul Faktor-Faktor Penyebab Kebiasaan Merokok di kalangan

Siswa dan Upaya Penangulan pada MTs Negeri 1 Kendari”.

5

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan fenomena yang terjadi maka permasalahan

dalam penelitian ini dapat dirumusakan sebagai berikut “Faktor-faktor apa saja

yang

menyebabkan

kebiasaan

merokok

di

kalangan

siswa

dan

upaya

penanggulangan pada MTs Negeri 1 Kendari.?

1.3

Tujuan Penelitian

 

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah

untuk

mengetahui

faktor-faktor

yang

menyebabkan

kebiasaan

merokok

di

kalangan siswa dan upaya penanggulangan pada MTs Negeri 1 Kendari.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan dalam bidang

pendidikan,

khususnya

yang

berkaitan

dengan

keilmuan

Bimbingan

dan

Konseling terkait dengan faktor-faktor penyebab kebiasaan merokok siswa MTs

Negeri 1 Kendari.

1.4.2 Manfaat Praktis

a.

Bagi guru

Penelitian

ini

diharapkan

dapat

digunakan

sebagai

dasar

acuan

serta

referensi bagi guru khususnya di MTs Negeri 1 Kendari dalam upaya pengentasan

kebiasaan merokok siswa secara lebih tepat

b. Bagi sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi berharga bagi kepala

sekolah untuk mengambil suatu kebijakan yang paling tepat dalam mengatasi

6

kebiasaan merokok yang sering terjadi di lingkungan sekolah dengan mengetahui

faktor-faktor

penyebab

penanganan yang tepat.

c. Bagi orang tua

merokok

sehingga

pihak

sekolah

dapat

memberikan

Penelitian ini diharapkan dapat membantu orang tua agar lebih memahami

faktor-faktor

penyebab

kebiasaan

merokok

anak-anak

mereka

sehingga

terhindar

dari

merugikan dirinya sendiri.

d. Bagi Peneliti

dan

mengarahkan

perkembangan

kebiasaan

merokok

yang

dapat

Penelitian ini diharapkan sebagai bahan informasi yang lengkap dan utuh

mengenai faktor-faktor penyebab kebiasaan merokok dan dapat mengembangkan

keterampilan mendasar dalam melaksanakan studi kasus sebagai guru bimbingan

dan konseling kelak.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kebiasaan Merokok

2.1.1 Pengertian Kebiasaan Merokok

Rokok dan merokok merupakan masalah yang masih sulit diselesaikan

hingga saat

ini.

Berbagai

dampak

dan

bahaya merokok

sebenarnya sudah

dipublikasikan kepada masyarakat, namun kebiasaan merokok masyarakat masih

sulit untuk dihentikan. Dalam rokok terkandung tidak kurang dari 4000 zat kimia

beracun. Ironisnya para perokok sebenarnya sudah mengetahui akan dampak dan

bahaya dari merokok, namun masih tetap saja melakukan aktivitas tersebut.

Berbagai pihak sudah sering mengeluhkan ketidaknyamanan mereka ketika

berdekatan dengan orang yang merokok. Terbukti bahaya merokok bukan saja

milik perokok tetapi juga berdampak pada orang-orang disekelilingnya Imasar

(2008:96)

Lebih lanjut Sunaryo (2004:74) mengatakan bahwa kebiasaan merokok

merupakan kebiasaan yang berbahaya bagi kesehatan, tetapi masih banyak orang

yang melakukannya, bahkan orang mulai merokok ketika dia masih remaja.

Kebiasaan manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan

respon serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.

Senada dengan Sunaryo, Sitepue (1997:2) mengemukakan merokok adalah

identik dengan “membakar uang” atau memerlukan dana, tetapi demi kenikmatan

sesaat perokok bersedia dalamnya berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kebiasaan

merokok pada siswa semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangan yang

7

8

ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan

intenitas merokok, dan

sering

mengakibatkan

mereka

mengalami

ketergantungan

nikotin,

nikotin

dapat

menibulkan ketagihan baik baik pada perokok aktif maupun perokok pasif,

Mukuan (dalam Kairupan dkk 2016:2).

Berdasarkan

uraian

diatas

maka

dapat

disimpulkan

bahwa

kebiasaan

merokok adalah suatu kegiatan atau aktifitas membakar rokok dan kemudian

menghisapnya dan menghembuskannya keluar dan dapat menimbulkan asap yang

dapat terhisap oleh orang-orang disekitarnya yang dapat menimbulkan bahaya

bagi dirinya dan lingkungan disekitarnya.

2.1.2 Tipe-Tipe Perokok

 

Silvan

Tomkins

(dalam

Dariyo,

2004:67-68)

ada

empat

tipe

perokok

berdasarkan Management of affect theory, ke empat tipe tersebut yaitu :

1.

Perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif.

 

Dengan

merokok

seseorang

merasakan

penambahan

rasa

yang

positif.

Terdapat 3 sub tipe dalam tipe perokok ini :

a. Pleasure

relaxation,

kebiasaan

merokok

hanya

untuk

menambah

atau

meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah

minum kopi atau makan.

b. Stimulation topick themup, kebiasaan perokok hanya dilakukan sekedarnya

untuk menyenangkan perasaan.

c. Pleasure of

handling

the cigarette,

kenikmatan

yang diperoleh

dengan

memegang rokok. Sangat spesifik pada perokok pipa. Perokok pipa akan

menghabiskan waktu untuk mengisi pipa dengan tembakau sedangkan untuk

9

menghisapnya hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja atau perokok

lebih senang berlama-lama memainkan rokonya dengan jari-jarinya lama

sebelum dia menyalakan dengan api.

2. Perokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif.

Banyak

orang

menggunakan

rokok

untuk

mengurangi

perasaan

negatif,

misalnya bila marah, cemas atau gelisah. Rokok dianggap sebagai penyelamat.

Mereka menggukan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari

perasaan yang lebih tidak enak.

3. Perokok yang dipenaruhi oleh zat adiktif.

Sebagai kecanduan secara psikologis (psychological addiction). Mereka yang

sudah kecanduan cenderung akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap

saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Mereka umumnya akan

pergi keluar rumah membeli rokok, walau tengah malam sekalipun, karena

khawatir rokok tidak bersedia saat dia menginginkannya.

4. Perokok yang sudah menjadi kebiasaan.

Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan

perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah kebiasaan rutin. Pada tipe orang

seperti ini merokok merupakan suatu kebiasaan yang bersifat otomatis, sering kali

tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan lagi api rokoknya bila

rokok yang terdahulu telah benar-benar habis.

Kebiasaan merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka menggunakan

rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi

karena benar-benar sudah menjadi kebiasaannya rutin. Dapat dikatakan pada

10

orang-orang tipe ini merokok sudah merupakan suatu kebiasaan yang bersifat

otomatis, seringkali tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan api

rokoknya bila rokok yang terdahulu telah benar-benar habis.

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa tipe-tipe kebiasaan merokok adalah

seseorang yang melakukan kebiasaan merokok dipengaruhi perasaan positif,

perasaan negatif, perokok karena terpengaruh zat adiktif dan perokok yang sudah

menjadi kebiasaan.

Kebiasaan merokok dapat dibedakan menjadi 2 tipe yaitu perokok pasif dan

peokok aktif, berikut penjelasannya :

1. Perokok aktif adalah individu yang benar-benar memiliki kebiasaan merokok.

Mereka merokok setiap waktu, rata-rata menghabiskan satu bungkus tiap

harinya.

2. Perokok pasif adalah individu yang tidak memiliki kebiasaan merkok, namun

terpaksa harus menghisap asap rokok yang dihembuskan orang lain yang

berada disekitarnya.

Baik perokok aktif maupun perokok pasif sama-sama mempunyai resiko

terkena penyakit. Bahkan perokok pasif mempunyai resiko tiga kali lebih para

dari pada perokok aktif ini dikarenakan asap yang bertebaran diudara tidak

melalui filter.

Tipe perokok menurut Sitepue (1997:27) yaitu :

1. Perokok ringan, merokok 1-10 batang sehari.

2. Perokok sedang, merokok 11-20 batang sehari.

11

2.1.3 Tahapan Kebiasaan Merokok

Clearly (dalam Mukhlis & Muqim, 2013: 207-208) mengungkapkan ada

empat tahap sehingga seseorang mencapai tahap perokok, yaitu :

1. Tahap Prepatory

Pada tahap ini, seorang siswa mendapatkan gambaran yang menyenangkan

mengenai merokok dengan cara mendengarkan, melihat, atau dari hasil bacaan,

sehingga menimbulkan niat untuk merokok. Tahap ini, adalah tahap pemunculan

penilaian positif terhadap rokok. Penilaian positif ini seperti merokok lebih

macho, maskulin dan lebih menggambarkan kelelakian.

Tahap ini berlangsung saat seorang individu belum pernah merokok dan

terjadinya pembentukan opini pada diri individu terhadap kebiasaan merokok. Hal

ini disebabkan adanya

pengaruh perkembangan sikap dan intense mengenai

rokok serta citra yang diperoleh dari kebiasaan merokok. Informasi rokok dan

merokok diperoleh dari observasi terhadap orang tua atau orang lain seperti

kerabat ataupun lewat berbagai media. Ada juga anggapan merokok berkaitan

dengan bentuk kedewasaan dikalangan remaja sehingga di asumsikan sebagai

bentuk untuk menunjukan sikap kemandirian. Merokok juga dianggap sebagai

suatu yang prestos, simbol pemberontakan dan salah satu upaya menenangkan diri

dalam situasi yang menegangkan. Pembentukan opini dan sikap terhadap rokok

ini merupakan awal dari suatu kebiasaan merokok.

2. Tahap Initiation

Tahap ini merupakan tahapan yang kritis pada seorang individu karena

merupakan

tahap

coba-coba

dimana

seseorang

beranggapan

bahwa

dengan

merokok dia akan terlihat dewasa sehingga dia akan memulai dengan beberapa

12

batang rokok. Apabila seorang siswa hanya mencoba merokok 1-2 batang saja

maka besar kemudian tidak akan menjadi perokok. Tahapan ini, dimana seseorang

mencoba

merokok,

dan

memberikan

penilaian.

Tahap

ini

adalah

tahap

pengambilan keputusan apakah akan terus merokok atau tidak.

3. Tahap Maintaining a Smoker

Tahap ini seorang individu mulai memberikan label pada dirinya sebagai

seorang

perokok

dan

dia

mulai

mengalami

ketergantungan

kepada

Beberapa studi menyebutkan bahwa dibutuhkan waktu selama 2 tahun

rokok.

bagi

individu untuk menjadi perokok regular. Pada tahap ketiga ini merupakan tahap

pembentukan konsep, belajar tentang kapan dan bagaimana berkebiasaan merokok

serta menyatakan peran perokok pada konsep dirinya. Apabila seseorang mulai

merokok

sebanyak

empat

batang

sehari,

maka

perokok

mempunyai

kecenderungan untuk menjadi perokok.

 

4.

Tahap Maintenance of Smoking

Pada

tahap

ini,

seseorang

menjadikan

rokok

sebagian

bagian

dari

kehidupannya (kepribadiannya). Rokok sudah masuk dalam pengaturan diri (self

regulation). Merokok sudah menjadi ketergantungan karena mempunyai efek

fisiologis yang menyenangkan.

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa tahapan kebiasaan merokok adalah

pengenalan terhadap rokok (preparatory), tahap pemutusan (initiation), tahap

menjadi

seseorang

perokok

(become

a

smoker),

tahap

ketergantungan

(maintenance

of

smoking)

jika

dilakukan

terus-menerus

akan

terasa

menyenangkan dan akan menimbulkan efek ketergantungan pada rokok.

13

2.1.4 Aspek-aspek Kebiasaan merokok

Umumnya setiap individu dapat menggambarkan setiap kebiasaan merokok

menurut tiga aspek. Aspek-aspek kebiasaan menurut Smet (1994:35) adalah

sebagai berikut :

1. Frekuensi. Frekuensi adalah sering tidaknya kebiasaan muncul. Frekuensi

sangat

bermanfaat

untuk

mengetahui

sejauh

mana

kebiasaan

merokok

seseorang dengan menghitung jumlah munculnya kebiasaan merokok yang

sering

muncul

atau

tidak.

Dari

frekuensi

ini

seseorang

kebiasaan merokok yang sebenarnya.

2. Lamanya

berlangsung.

Adalah

waktu

yang

diperlukan

dapat

diketahui

seseorang

untuk

melakukan tindakan. Aspek ini sangat berpengaruh bagi kebiasaan merokok

seseorang.

3. Intensitas. Adalah banyaknya daya yang dikeluarkan oleh kebiasaan tersebut.

Aspek intensitas digunakan untuk mengukur seberapa dalam dan seberapa

banyak seseorang menghisap rokok. Dimensi intensitas merupakan cara yang

paling subjektif dalam mengukur kebiasaan merokok seseorang.

Apek-aspek kebiasaan merokok menurut Nastasia & Rahmadhani (2015: 36-

37), yaitu :

1. Fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari adalah seberapa penting atau

bermakna

aktivitas

merokok

bagi

individu

dalam

kehidupan sehari-hari.

Misalnya dengan menjadikan rokok sebagai penghibur saat beraktivitas.

2. Intensitas merokok. Adalah seberapa sering individu melakukan aktivitas yang

berhubungan dengan kebiasaan merokok seperti menghisap, merasakan dan

14

menikmatinya. Seseorang yang merokok dalam jumlah yang banyak seperti 24

batang perhari hal itu menunjukan kebiasaan merokok sangat tinggi

3. Tempat merokok. Adalah individu akan melakukan kegiatan merokok dimana

saja, bahkan diruangan yang dilarang untuk merokok atau tempat-tempat

dimana individu

biasa

melakukan

aktivitas

merokoknya seperti

sekolah,

kampus, mall, toilet dan lain sebagainya.

 

4. Waktu

merokok.

Adalah

kapan

atau

momen-momen

apa

saja

individu

melakukan aktivitas merokok tidak pandang waktu bisa pagi, siang, sore dan

malam hari.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat di pahami bahwa aspek-aspek

kebiasaan

merokok

meliputi

fungsi

merokok

dalam

kehidupan

sehari-hari,

intensitas merokok, tempat merokok dan waktu merokok.

 

2.2

Fungsi Guru Bimbingan dan Konseling

Menurut

Tohirin

(2007:36-47)

pelayanan

bimbingan

dan

konseling

khususnya disekolah dan madrasah memiliki beberapa fungsi, yaitu :

1. Fungsi Pencegahan

Melalui fungsi ini pelayanan bimbingan dan konseling dimaksudkan untk

mencegah timbulnya masalah pada diri siswa sehingga mereka terhindar dari

berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. Berdasarkan fungsi

ini, pelayanan bimbingan dan konseling harus tetap diberikan kepada siswa

sebagai

usaha

pencegahan

terhadap

timbulnya

masalah.

Fungsi

ini

dapat

diwujudkan oleh guru bimbingan dan konseling dengan merusmukan program

bimbingan

yang

sistematis,

sehingga

hal-hal

yang

dapat

menghambat

perkembangan siswa seperti masalah sosial dalam hal ini kebiasaan merokok

dapat dihindari.

15

2. Fungsi Pemahaman

Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam

rangka memberikan pemahaman tentang diri siswa beserta permasalahannya dan

juga lingkungannya oleh siswa itu sendiri dan pihak-pihak yang membantunya

(guru).

3. Fungsi Pengentasan

Apabila seorang siswa mengalami suatu permasalahan dan dia tidak dapat

memecahkannya sendiri lalu dia pergi ke guru BK, maka yang diharapkan oleh

siswa yang bersangkutan adalah teratasinya masalah yang dihadapinya. Siswa

yang mengalami masalah dianggap berada dalam suatu kondisi atau keadaan yang

tidak menyenangkan sehingga perlu diselesaikan atau dikeluarkan dari kondisi

atau

keadaan

tersebut.

Masalah

yang

dialami

siswa

juga

merupakan

suatu

keadaaan

yang

tidak

disukainya.

Upaya

yang

dilakukan

untuk

mengatasi

permasalahan

melalui

pelayanan

bimbingan

dan

konseling pada hakekatnya

merupakan upaya pengentasan.

4. Fungsi Pemeliharaan

Fungsi pemeliharaan berarti memelihara segala sesuatu yang baik (positif)

yang ada pada diri siswa, baik hal merupakan pembawaan maupun hasil-hasil

perkembangan yang telah dicapai selama ini. Intelegensi yang tinggi, bakat yang

istimewa, minat yang menonjol untuk hal-hal yang positif dan produktif, sikap

dan kebiasaan yang telah terbina dalam bertindak dan bertingkah laku sehari-hari,

cita-cita yang tinggi dan cukup realistis, kesehatan dan kebugaran jasmani,

hubungan sosial dan dinamis, dan berbagai aspek positif lainnya termaksud

16

akhlak yang baik dan individu perlu dipertahankan dan dipelihara. Bahkan

lingkungan

yang

baik

pun

baik

lingkugan

fisik,

sosial

dan

budaya,

perlu

dipelihara dan sebesar-besarnya dimanfaatkan untuk kepentingan siswa.

5. Fungsi Penyesuaian

Melalui fungsi ini, guru bimbingan dan konseling membantu terciptanya

penyesuain antara siswa dengan lingkungannya. Dengan perkataan lain, melalui

fungsi ini, guru bimbingan dan konseling membantu memperoleh penyesuaian diri

secara baik dengan lingkungannya (terutama lingkungan sekolah dan madrasah

bagi para siswa).

6. Fungsi Pengembangan

Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling diberikan kepada para

siswa

untuk

membantu

para

siswa

dalam

mengembangkan

keseluruhan

potensinya secara lebih terarah. Dengan perkataan lain, pelayanan bimbingan dan

konseling membantu para siswa agar berkembang sesuai dengan potensinya

masing-masing. Selain itu, dalam fungsi ini, hal-hal yang sudah baik (positif) pada

diri siswa dijaga agar tetap baik, di mantapkan dan dikembangkan. Misalnya sikap

dan kebiasaan baik yang telah terbina dalam bertindak dan bertingkah laku sehari-

hari tetap di pelihara dan terus diupayakan untuk dikembangkan.

7. Fungsi Perbaikan

Tiap-tiap individu atau siswa memiliki masalah. Bisa dipastikan bahwa tidak

ada individu apalagi siswa di sekolah dan madrasah yang tidak memiliki masalah.

Akan tetapi, jelas kompleksitas masalah yang dihadapi oleh siswa jelas berbeda.

Meskipun

layanan

bimbingan

dan

konseling

melalui

fungsi

pencegahan,

17

penyaluran,

dan

penyesuaian

telah

diberikan,

tetapi

masih

mungkin

siswa

memiliki

masalah-masalah

tertentu,

sehingga

fungsi

perbaikan

diperlukan.

Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling diberikan kepada siswa

untuk mencegah masalah-masalah yang dihadapi siswa. Bantuan yang diberikan

tergantung kepada masalah yang dihaapi siswa. Dengan perkataan lain, program

bimbingan dan konseling dirumuskan berdasarkan masalah yang terjadi pada

siswa.

Berbeda dengan fungsi pencegahan, dalam fungsi ini siswa yang memiliki

masalah

mendapat

prioritas

untuk

diberikan

bantuan,

sehingga

diharapkan

masalah yang dialami oleh siswa tidak terjadi lagi pada masa yang akan datang.

8. Fungsi advokasi

Layanan bimbingan dan konseling melalui fungsi ini adalah membantu peserta

didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang

mendapat perhatian.

Berdasarkan Fungsi guru bimbingan dan konseling di atas maka dapat di

pahami

bahwa

pencegahan,

fungsi

guru

pemahaman,

bimbingan

dan

pengentasan,

pengembangan dan perbaikan.

konseling

di

antaranya

fungsi

pemeliharaan,

penyesuaian,

2.3 Faktor-Faktor Penyebab Kebiasaan Merokok

Levy (dalam Mukhlis & Muqim, 2013:208-211) mengemukakan kebiasaan

merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu, artinya kebiasaan

merokok selain disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan oleh

faktor lingkungan. Selanjutnya Laventhal dan Cleary (dalam Mukhlis & Muqim

18

2013: 210) mengemukakan faktor-faktor penyebab siswa merokok terbagi dua,

yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal) yaitu :

1. Faktor dalam diri (internal) atau faktor psikologis

Merokok dapat digunakan untuk meningkatkan konsentrasi, menghilangkan

rasa kantuk, mengakrabkan suasana sehingga timbul rasa persaudaraan, juga dapat

menimbulkan kesan modern dan berwibawa, sehingga untuk siswa yang sering

bergaul dengan orang lain kebiasaan merokok akan sulit untuk dihindari. Faktor-

faktor psikologis tersebut terbagi dalam lima bagian yaitu.

a. Reaksi emosi yang positif: Merokok digunakan untuk menghasilkan reaksi

yang positif, misalnya rasa senang, relaksasi dan kenikmatan rasa. Merokok

juga

dapat

kedewasaan.

menunjukkan

kejantanan

(kebanggaan

diri)

dan

menunjukkan

b. Reaksi untuk penurunan emosi: Merokok ditunjukkan untuk mengurangi rasa

tegang, kecemasan biasa, ataupun kecemasan yang timbul karena adanya

interaksi dengan orang lain.

c. Alasan sosial: Merokok ditunjukkan untuk mengikuti kebiasaan merokok,

identifkasi perokok lain, dan menentukan image diri seseorang.

d. Kecanduan dan ketagihan: Seseorang merokok mengaku telah mengalami

kecanduan karena kandungan nikotin dalam rokok. Semula hanya mencoba-

coba merokok, tetapi akhirnya tidak dapat menghentikan kebiasaan tersebut

karena kebutuhan tubuh akan nikotin.

19

2. Faktor dari luar (eksternal)

a. Pengaruh orang tua

Pendidikan primer dimulai dari lingkungan keluarga, Orang tua secara

langsung mempengaruhi pembentukan kepribadian anak-anaknya yang dalam hal

ini adalah remaja, Feist dan Feist (dalam Etrawati 2014:81). Siswa yang berasal

dari kelurga konservatif akan lebih sulit unutk terlibat dalam kebiasaan merokok

dibandingkan dengan keluarga yang permisif, dan yang paling kuat pengaruhnya

adalah apabila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu perokok berat, maka

anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya. Kebiasaan merokok lebih

banyak di dapati pada seseorang yang tinggal dengan orang tua (single parent).

siswa berkebiasaan merokok apabila ibu para siswa merokok dari pada ayah yang

merokok.

Keluarga memiliki kontribusi yang besar dalam pembentukan kebiasaan

seorang anak. Kebiasaan merokok pada orang tua dapat membuat anaknya

menganggap bahwa merokok merupakan suatu hal yang tidak

dilarang. Hal ini

semakin

diperkuat

dengan

tidak

ada larangan

dari

orang tua bila anaknya

merokok. (Trim, 2006:9).

b. Pengaruh teman sebaya

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok

maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan

sebaliknya.

Kemungkinan

yang

terjadi

dari

fakta

tersebut

adalah

remaja

terpengaruh

oleh

temantemannya.

Diantara

remaja

perokok

terdapat

87%

20

mempuyai satu atau lebih sahabat yang perokok bigitu pula dengan remaja non

merokok.

Pengaruh teman sebaya terutama sangat penting dalam kaitannya dengan

kebiasaan merokok. F.B. Hu, (dalam Geldard & Gerldard, 2011:74) menemukan

bahwa, meskipun terdapat banyak perbedaan tentang mereka merokok, umumnya

pengaruh teman-teman yang merokok lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh

dari orang tua yang merokok. Lebih lanjut dikemukakan kebiasaan merokok

teman-teman dekat merupakan faktor sosial yang konsisten dan penting untuk

menduga kebiasaan merokok seorang siswa.

Widharto (2007:15) rasa keinginan agar diterima dalam kelompok adalah

salah satu pemicu siswa memiliki kebiasaan merokok karena pada umumnya para

siswa suka membentuk kelompok. Pembentukan kelompok didasari kesamaan-

kesamaan tertentu, misalnya hobi, status sosial dan kebiasaan, dan setiap orang

ingin diakui dan diterima dalam kelompoknya, berdasarkan alasan inilah siswa

mengikuti apa yang dilakukan siswa lain dalam kelompoknya yang menunjukkan

bukti solidaritasnya.

c. Lingkungan sosial.

Lingkungan sosial berpengaruh pada sikap, kepercayaan dan perhatian

individu pada perokok. siswa akan berkebiasaan merokok dengan memperhatikan

lingkungan sosialnya. Kebiasaan budaya, kelas social, tingkat pendidikan, dan

gengsi pekerjaan akan mempengaruhi kebiasaan merokok pada siswa. Dalam

bidang politik, menambahkan kesadaran umum berakibat pada langkah-langkah

politik yang bersifat melindungi bagi orang-orang yang tidak merokok dan usaha

21

untuk melancarkan kampanye-kampanye promosi kesehatan untuk mengurangi

kebiasaan merokok. Merokok menjadi masalah yang bertambah besar bagi Negara

berkembang termaksud Indonesia.

Diantara

anak

laki-laki

yang

menyatakan

“tidak

ada”

temannya

yang

merokok, dibandingkan dengan jumlah 62% perokok dikalangan siswa yang

menjawab “semua” pada jumlah teman yang merokok. Ilustrasi lain dari pengaruh

sosial ini dilanjudkan oleh perubahan dalam pola merokok dikalangan wanita

berusia diatas 40 tahun. Bukan saja jumlah mereka semakin banyak, tetapi mereka

merokok lebih berat dan mulai merokok pada usia lebih muda. Masa kini,

terutama pada wanita muda, pola merokok mereka sudah menyerupai pada laki-

laki. Perubahan ini sejalan dengan perubahan peran wanita dan sikap masyarakat

terhadap wanita yang merokok.

2.4 Dampak Kebiasaan Merokok Bagi Siswa

Kebiasaan merokok oleh siswa merupakan suatu tindakan yang dilakukan

oleh siswa dengan mengkonsumsi rokok dalam keseharian dengan berbagai

intensitasnya. Kebiasaan merokok memiliki dampak buruk bagi siswa jika ditinjau

dari berbagai segi, berikut akan diuraikan dampak negatif rokok bagi siswa.

1. Dari segi kesehatan

Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan oleh

banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui

dengan

jelas.

Banyak

penelitian

membuktikan

bahwa

kebiasaan

merokok

meningkatkan resiko timbulnya berbagai penyakit. Seperti penyakit jantung dan

gangguan pembulu darah, kanker osefagus, bronkhitis, tekanan darah tinggi,

22

impotensi, serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin. Penelitian terbaru juga

menunjukkan adanya bahaya dari secondhand-smoke, yaitu asap rokok yang

terhirup oleh orang-orang bukan perokok karena berada disekitar perokok, atau

biasa disebut juga dengan perokok aktif.

Sitepue (1997:19-21)

menyebutkan komponen

racun

pengaruhnya terhadap tubuh, yaitu:

a. Nikotin

dalam

rokok

dan

Komponen ini paling banyak dijumpai di dalam rokok. Sebagai bahan kimia

yang terdapat di dalam rokok, nikotin bersifat toksis terhadap syaraf dengan

stimulasi atau dipresi. Nikotin yang terdapat di dalam perokok normal akan

menyebabkan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik. Denyut

jantung

bertambah,

kontraksi

otot

jantung

dipaksa,

pemakaian

oksigen

bertambah, aliran darah pada pembuluh koroner bertambah dan vasokonstrik di

pembuluh darah perifer.

b. Gas Karbon Monoksida (CO)

Karbon monoksida memiliki kecendrungan yang kuat untuk berikatan dengan

hemoglobin dalam sel-sel darah merah. Seharusnya, hemoglobin ini berkaitan

dengan oksigen yang sangat penting untuk pernapasan sel-sel tubuh, tapi karena

gas CO lebih kuat daripada oksigen, maka gas CO ini merebuh tempatnya

sisi” hemoglobin.

c. Tar

“di

Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat

asap rokok, dan bersifat karsinogen. Pada saat rokok dihisap, tar masuk ke dalam

23

rongga

mulut

sebagai

uap

padat

setelah

dingin,

akan

menjadi

padat

dan

membentuk endapan berwarna cokelat pada permukaan gigi, saluran pernapasan,

dan paru-paru.

d. Timah Hitam (Pb)

Timah hitam (Pb) merupakan partikel asap rokok. Setiap satu batang rokok

yang diisap diperhitungkan sejumlah

0,5

ugr.

Bila seorang mengisap satu

bungkus rokok perhari, berarti menghasilkan 10 ugr, sedangkan batas bahaya

adalah 20 ugr per hari.

2. Dari segi ekonomi

Berdasarkan data yang disajikan dari (https://sains.kompas.com). Konsumsi

tembakau

di

Indonesia

meningkat

dengan

pesat

dalam

30

tahun

terakhir

disebabkan oleh beberapa faktor: tingginya angka pertumbuhan penduduk, harga

rokok yang relatif murah, pemasaran yang leluasa dan intensif oleh industri rokok,

dan

kurangnya

pengetahuan

masyarakat

akan

bahaya

yang

ditimbulkan

tembakau.“Keberhasilan” bisnis rokok di negeri ini terlihat dari meningkatnya

persentase jumlah perokok di kalangan anak-anak dan remaja. Indikasinya, antara

1995 sampai 2013, perokok berusia 10-14 tahun meningkat dari 0,5% menjadi

4,8% dan perokok berusia 15-19 tahun meningkat dari 13,7% menjadi 37,3%.

Prevalensi perokok aktif di pedesaan berjumlah dua kali di perkotaan.

Ironisnya, belanja rumah tangga kelompok masyarakat miskin untuk rokok,

menempati urutan ketiga tertinggi setelah makanan siap saji dan beras, di atas

pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan. Selain itu biaya kesakitan juga

meningkat. Sebagai konsekuensi ekonomi dari sakit terdiri dari (1) biaya yang

24

ditimbulkan karena penyakit dan biaya terkait lainnya dan (2) nilai kerugian

produksi karena berkurangnya atau hilangnya jam kerja.

3. Dari segi sosial

Berikut ini beberapa masalah yang bisa muncul jika siswa merokok yang

bisa terlihat dari penampilannya sebagai berikut (Amelia: 2009). Merokok akan

mengganggu

performa

di

sekolah.

Siswa

yang

merokok

akan

mengalami

penurunan dalam nilai olahraganya karena tidak bisa berjalan jauh atau berlari

cepat seperti sebelum merokok. Jika ikut ekstrakulikuler musik akan membuatnya

tidak maksimal saat main musik, serta menurunkan kemampuan memori otaknya

dalam belajar yang bisa mempengaruhi nilai-nilai pelajarannya.

Selain itu merokok juga dapat mengganggu hubungan sosial dengan teman

lainnya karena asap rokok dapat membuat ketidaknyamanan bagi siswa-siswa

lainnya

termasuk

bau

asap

rokok

yang

menyengat

pakaiannya dan juga bagian tubuh lainnya.

yang

menempel

pada

2.5 Upaya Penanggulangan Kebiasaan Merokok di Kalangan Siswa

Upaya

yang

dapat

dilakukan

pihak

sekolah

dalam

penanggulangan

kebiasaan merokok di kalangan siswa sebagaimana penjelasan yang dimuat pada

Koran Tribun Jateng Meliputi :

1. Melakukan sosialisasi permendikbud No 64/2015 tentang kawasan tanpa

rokok dilingkungan sekolah.sekolah wajib menciptakan kawasan tanpa rokok

di lingkungan sekolah .

2. Sosialisasi tanpa henti tentang kandungan bahaya merokok. menurut Terry

dan Horn, di dalam rokok terdapat 4.000 zat dan 200 diantaranya sangat

25

berbahaya.

Dapat

disampaikan

juga

tentang

penyakit-penyakit

akibat

merokok. Bau mulut yang tidak sedap, bibir kering, gigi hitam, tubuh kurus,

radang paru-paru, kanker paru-paru sampai kematian.

3. Penegakan tata tertip sekolah. Harus ada peraturan tertulis tentang larangan

membawa dan merokok di lingkungan sekolah serta pemberian sanksi yang

tegas. Operasi rutin pengecekan tas siswa perlu dilakukan untuk mengetahui

yang membawa rokok, perlu dipanggil oleh guru Bimbingan dan Konseling

(BK). Orang tua yang berangkutan juga dipanggil. Kerjasama antar sekolah

dan orang tua amat efektif dalam menangani masalah kebiasaan merokok

siswa.

4. Menyusun program sekolah sehat. Aktivitas Palang Merah Remaja (PMR)

perlu digalakkan dan dibina berkelenjutan sebagai wahana siswa mencintai

kesehatan.

5. Guru, kepala sekolah dan staf sekolah wajib memberikan contoh untuk tidak

merokok.

Kebiasaan merokok pada siswa perlu mendapat penanganan khusus dari

sekolah. beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk menangani

kebiasaan merokok dikalangan siswa adalah sebagai berikut:

1. Guru perlu memberikan perhatian khusus kepeda siswa perokok, terutama

yang

berkaitan dengan keadaan emosi siswa.

2. Guru perlu mendalami kondisi psikologis siswa, terutama ketika merokok

menjadi ekspresi atas kejenuhan belajar, frustasi, dan rasa tertekan.

26

3.

Guru

perlu

memberikan

pengawasan

maksimal,

membangun

suasana

persahabatan di dalam kelas, sehingga setiap siswa akan merasa nyaman, tidak

terancam, dan merasa mendapatkan penerimaan positif.

4.

Sebagai

strategi

tambahan,

guru

perlu

mengubah

persepsi

siswa

bahwa

merokok bukanlah lambang kejantanan dan popularitas.

5.

Guru dapat memberikan edukasi menolak rokok kepada siswa.

6.

Agar

ajakan

untuk

menolak

rokok

menjadi

menjadi

lebih

berbahaya,

hendaknya nasihat disampaikan guru yang memiliki figur otoritas.

7.

Dengan demikian, ucapan, perbuatan, dan nasihatnya akan dijadikan pegangan

hidup. Guru harus mampu menerima siswa, memahami, mendekati, dan

menyampaikan pesan-pasan moral secara efektif.

 

(http://mediaindonesia.com)

2.6

Penelitian Relevan

Adapun hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah

penelitian yang pernah dilakukan oleh beberapa peneliti sebagai berikut:

1. Penelitian oleh Sulistyawan dengan judul “Faktor-faktor lingkungan yang

berhubungan dengan kebiasaan merokok siswa sekolah menengah pertama

Negeri 3 kota Tangerang Selatan tahun 2012” Hasil penelitian menyimpulkan

bahwa siswa yang merokok sebanyak 64 siswa (22,2%). Berdasarkan hasil

analisis uji statistik didapatkan variabel yang berhubungan dengan kebiasaan

merokok siswa adalah jenis kelamin (P=0,000), pengetahuan (P=0,000), sikap

(P=0,000), tindakan (P=0,000), merasa kesulitan dalam pelajaran (P=0,000),

ingin terlihat keren (P=0,000), orang tua yang merokok (P=0,002), saudara

27

serumah yang merokok (P=0,001), teman yang merokok (P=0,006), dan

pengaruh iklan rokok (P=0,000). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan

2.

adalah sarana dan prasarana (P=0,428).

Penelitian

oleh

Santosa

dengan

judul

“Faktor-faktor

lingkungan

yang

mempengaruhi

kebiasaan

merokok

remaja

di

desa

Godegan

Tamantirto

Kasiha Bantul Tahun 2008”. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor

orang tua mempengaruhi kebiasaan merokok remaja dengan nilai signifikan

0,627>0,05; faktor teman sebaya dan iklan mempunyai pengaruh terhadap

kebiasaan

merokok

dengan

signifikan

masing-masing

0,015<0,05

dan

0,044<0,05. Hasil penelitian tersebut menunjukan faktor teman sebaya adalah

faktor yang paling dominan yang mempengaruhi kebiasaan merokok. Adapun

jenis penelitian yang digunakan yaitu non eksperimental dengan rancangan

deskriptif analitik dengan pendekatan crossetional.

Dari hasil penelitian relevan di atas, persamaan penelitian yang hendak

diteliti

oleh

peneliti

memiliki

variabel

yang

sama

yaitu

tentang

kebiasaan

merokok. Adapun perbedaannya yaitu penelitian pertama menggunakan metode

kuantitatif

dengan

pendekatan

cross

sectional,

dan

pengumpulan

data

menggunakan

kuesioner

Penelitian

kedua

menggunakan

metode

non

eksperimental

dengan

rancangan

deskriptif

analitik

dengan

pendekatan

crossetional.

Sementara

penelitian

ini

menggunakan

metode

kualitatif

dan

pengumpulan data mengunakan wawancara.

28

2.7 Kerangka Pikir

Berdasarkan latar belakang, fenomena, permasalahan dan tujuan pada

penelitian ini, maka kerangka pemikirannya akan di fokuskan untuk mengetahui

apa sajakah faktor-faktor penyebab kebiasaan merokok siswa MTs Negeri 1

Kendari.

Sunaryo (2004:74) menjelaskan kebiasaan merokok merupakan sesuatu

yang

dinikmati

dan

menyenangkan

dan

kemudian

akan

bergeser

menjadi

aktivitas obsesif. Hal ini di pengaruhi oleh sifat nikotin sebagai zat adiktif yang

akan bekerja secara cepat menstimulan untuk terus menggunakan, dan jika

diberhentikan secara mendadak akan menimbulkan stress. Kebiasaan merokok

yang dilakukan oleh siswa disebabkan oleh berbagai faktor, secara garis besar

dibagi menjadi 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal yang menyebabkan seseorang merokok yaitu faktor yang

menyebabkan siswa merokok dari dalam diri yaitu faktor psikologis. Banyak

orang yang merasa bahwa dengan merokok dapat digunakan untuk meningkatkan

konsentrasi, menghilangkan rasa kantuk, mengakrabkan suasana sehingga timbul

rasa persaudaraan, juga dapat menimbulkan kesan modern dan berwibawa,

sehingga untuk siswa yang sering bergaul dengan orang lain kebiasaan merokok

akan sulit untuk dihindari. Faktor-faktor psikologis yang menyebabkan siswa

merokok antara lain reaksi emosi yang positif dalam diri siswa, reaksi penurunan

emosi yaitu untuk mengurangi kecemasan dan rasa tegang dalam diri, alasan

sosial

siswa

seperti

ingin

mendapatkan

pengakuan

dari

teman-teman

29

kelompoknya, dan dapat juga merokok muncul karena seseorang telah kecanduan

dengan rokok.

Sedangkan faktor dari luar (eksternal) yang menyebabkan siswa merokok di

sekolah antara lain adalah faktor pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya dan

pengaruh

lingkungan.

Pengaruh

teman

sebaya

menjadi

faktor

yang

sangat

berpengaruh pada siswa untuk merokok. Berbagai fakta mengungkapkan bahwa

semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-

temannya adalah perokok juga dan sebaliknya. Kemungkinan yang terjadi dari

fakta tersebut adalah remaja terpengaruh oleh temantemannya. Begitu pula yang

terjadi pada siswa, umumnya kebiasaan merokoknya dipengaruhi oleh teman

sebaya yang menjadi teman bergaul sehari-hari. Rasa keinginan agar diterima

dalam kelompok adalah salah satu pemicu siswa memiliki kebiasaan merokok

karena pada umumnya para siswa suka membentuk kelompok. Pembentukan

kelompok didasari kesamaan-kesamaan tertentu, misalnya hobi, status sosial dan

kebiasaan, dan setiap orang ingin diakui dan diterima dalam kelompoknya,

berdasarkan alasan inilah siswa mengikuti apa yang dilakukan siswa lain dalam

kelompoknya yang menunjukkan bukti solidaritasnya.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti mengemukakan kerangka pikir

dalam penelitian ini sebagai berikut :

30

Kebiasaan

Merokok

Siswa

Bagan 2.1 Kerangka Pikir Penelitian

Faktor Kepuasan Internal Psikologis Pengaruh Orang Tua Faktor Pengaruh Eksternal Teman Sebaya Lingkungan Sosial
Faktor
Kepuasan
Internal
Psikologis
Pengaruh
Orang Tua
Faktor
Pengaruh
Eksternal
Teman Sebaya
Lingkungan
Sosial

2.8 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan kajian teori tersebut, hipotesis dalam

penelitian

ini

adalah

terdapat

faktor

internal

dan

faktor

eksternal

yang

menyebabkan siswa melakukan kebiasaan merokok.

BAB III

METODE PENELITAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah

jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh dari statistik atau bentuk-

bentuk hitungan lainnya, dan bertujuan mengungkap secara holistik kontekstual

melalui pengumpulan data sampai kepada yang lebih jelas, seperti mencari

informasi yang mendalam dari hal kecil sampai yang hal yang besar yang

menyangkut tentang penelitian atau yang berkaitan dengan penelitian (Sugiarto,

2015:8).

3.2 Informan Penelitian

Informan dalam penelitian ini awalnya adalah 1 orang guru BK, 1 guru wali

kelas dan 7 siswa yang mengalami masalah kebiasaan merokok. Namun setelah

dalam penelitian informan penelitian siswa bertambah 9 orang sehingga jumlah

subyek penelitian siswa menjadi 16 siswa yang mengalami masalah kebiasaan

merokok.

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MTs Negeri 1 Kendari pada pada semester

ganjil,

tahun

ajaran

2017/2018,

yaitu

mulai

bulan

Oktober

sampai

bulan

November 2017. Adapun rincian pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut.

31

32

Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian

     

Jadwal Kegiatan

 

No

 

Jenis Kegiatan

Agustus

September

Oktober

November

 

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

 

Persiapan

                               

a.

Pemilihan Topik

                               

1

b.

Studi Literatur & Pembuatan Proposal

                               

c.

Seminar Proposal

                               

d.

Perbaikan Proposal & Persiapan Penelitian

                               
 

Proses Penelitian

                               

2

Pengambilan data penelitian

                               

3

Pembuatan Laporan Penelitian

                               

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan teknik wawancara dan

studi dokumen.

1. Teknik Wawancara

Wawancara ditujukan

untuk

mengetahui

hal-hal

yang lebih

mendalam

tentang partisipan dalam menginterpresikan situasi dan fenomena yang terjadi.

Dalam

penelitian

ini

teknik

wawancara

yang

digunakan

adalah

wawancara

terstruktur. Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab

kebiasaan merokok siswa, adapun subyek penelitian yaitu:

33

a. Guru Bimbingan dan Konseling

Wawancara

yang

dimaksudkan

untuk

memperoleh

informasi

tentang

peranan Guru BK dalam mengatasi kebiasaan merokok siswa.

b. Wali Kelas

Wawancara

yang

dilakukan

kepada

wali

kelas

dengan

maksud

agar

mendapat informasi

tentang siswa yang merokok dan tentang bagaimana kinerja

guru bimbingan dan konseling selama ini dalam mengatasi kebiasaan merokok

siswa.

c. Siswa yang melakukan kebiasaan merokok

Wawancara dilakukan dengan siswa untuk menggali tentang faktor-faktor

penyebab sehingga mereka merokok di sekolah, dan bagimana peranan guru

bimbingan

dan

konseling

selama

ini

dalam

mengatasi

dan

memberikan

bantuan/program kepada mereka yang terlibat dalam kebiasaan merokok.

2. Studi dokumen

Studi dokumen yang peneliti lakukan yaitu, kajian dari bahan dokumen yang

berupa data-data tentang siswa yang berupa daftar pelanggaran siswa yang pernah

merokok di lingkungan sekolah.

3.5 Tenik Analisis Data

Data yang diperoleh akan di analisis dengan metode analisis deskriptif

kualitatif, yaitu penyajian data dalam bentuk tulisan, dan menerangkan apa adanya

sesuai dengan data yang diperoleh dari hasil penelitian, langkah terakhinya adalah

menarik kesimpulan. Langkah-langkah analisis data kualitatif menurut Miles &

Huberman (dalam Sugiono, 2016: 337) penelitian ini adalah sebagai berikut.

34

1. Reduksi Data

Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia

dari

berbagai

sumber.

Setelah

dikaji,

langkah

berikutnya

adalah

membuat

rangkuman untuk setiap kontak atau pertemuan dengan responden. Kemudian

peneliti membuat abstraksi, yaitu membuat ringkasan yang inti, proses, dan

persyaratan yang berasal dari responden tetap dijaga.

Reduksi

data

merupakan

penyederhanaan,

pengabstrakan,

proses

pemilihan,

pemusatan

perhatian

pada

transformasi

data

kasar

yang muncul dari

catatan-catatan. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menajamkan analisis,

menggolongkan atau pengkategorisasian ke dalam tiap permasalahan melalui

uraian

singkat,

mengarahkan,

membuang

yang

tidak

perlu,

dan

mengorga-

nisasikan data sehingga dapat ditarik dan diverifikasi.

 

Data yang

di reduksi

antara

lain

seluruh

data

mengenai

permasalahan penelitian, data yang di reduksi akan memberikan gambaran yang

lebih

spesifik

dan

mempermudah

peneliti

melakukan

pengumpulan

data

selanjutnya serta mencari data tambahan jika diperlukan.

2. Penyajian Data

Pada proses ini peneliti berusaha menyusun data yang relevan, sehingga

menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu dengan

cara menampilkan dan membuat hubungan antar variabel agar peneliti lain atau

pembaca laporan penelitian mengerti apa yang telah terjadi dan apa yang perlu

ditindaklanjuti untuk mencapai tujuan penelitian.

Pada

proses

display

data

perlu

diarahkan

agar

data

hasil

reduksi

terorganisaikan, tersusun

dalam

pola

hubungan

sehingga

makin

mudah

35

dipahami. Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian naratif, bagan,

hubungan antar kategori serta diagram alur. Penyajian data dalam bentuk tersebut

mempermudah peneliti dalam memahami apa yan terjadi. Pada langkah ini,

peneliti berusaha menyusun data yang relevan sehingga informasi yang didapat

disimpulkan dan memiliki makna tertentu untuk menjawab masalah penelitian.

Display data yang baik merupakan satu langkah penting menuju tercapainya

analisis kualitatif yang valid dan handal. Dalam melakukan penyajian data tidak

semata-mata mendeskripsikan secara naratif, akan tetapi disertai proses analisis

yang terus menerus sampai proses penarikan kesimpulan.

3. Menarik Kesimpulan atau Verifikasi Data

Tahap ini merupakan tahap penarikan kesimpulan dari semua data yang

telah diperoleh sebagai hasil dari penelitian. Penarikan kesimpulan atau verifikasi

adalah usaha untuk mencari atau memahami makna/arti, keteraturan, pola-pola,

penjelasan, alur sebab akibat. Sebelum

melakukan

penarikan

kesimpulan

terlebih dilakukan reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan atau

verifikasi

dari

kegiatan-kegiatan

sebelumnya.

Sesuai dengan

pendapat Miles

dan Huberman, proses analisis tidak sekali jadi, melainkan interaktif, secara

bolak-balik diantara kegiatan reduksi, penyajian dan penarikan

verifikasi selama waktu penelitian.

kesimpulan atau

Setelah melakukan verifikasi maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan

hasil

penelitian

yang

disajikan

dalam

bentuk

narasi.

Penarikan

kesimpulan

merupakan tahap akhir dari kegiatan analisis data. Penarikan kesimpulan ini

36

merupakan tahap akhir dari pengolahan data. Kesimpulan yang dihasilkan dalam

penelitian ini diarahkan untuk menjawab seluruh permasalahan penelitian dan

memberikan gambaran tentang faktor-faktor penyebab kebiasaan merokok siswa

di MTs Negeri 1 Kendari.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum MTs Negeri 1 Kendari

Dari hasil wawancara dan dokumen yang peneliti kumpulkan, dapat diungkap

mengenai data atau informasi MTs Negeri 1 Kendari tentang sejarah singkat

madrasah, visi dan misi, guru dan tenaga kependidikan, data siswa, sarana dan

prasarana, serta kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler di madrasah tersebut.

a. Sejarah Terbentuknya

Sekolah Madrasah Tsanawiah Negeri (MTsN) 1 Kendari bertempat di jalan

Antero No.22 Kendari, Telepon (0401) 3126364. MTs Negeri 1 Kendari berawal

dari Madrasah Tsanawiah Swasta yang di gagas oleh Bapak Haryono, S.Ag

didirikan pada tanggal 1 Januari 1993 disahkan menjadi sekolah Madrasah

Tsanawiah negeri berdasarkan (SK) Menteri Agama SK Menteri NO : DEPAG

0220-Aa 450/PP.005/1 JANUARI 1993, dan ditetapkannya Bapak Haryono, S.Ag

sebagai kepala Madrasah Tsanawiyah defenitif yang pertama.

Madrasah

Tsanawiah

Negeri

(MTsN) 1

Kendari

merupakan

salah

satu

lembaga pendidikan lanjutan tingkat pertama yang ada di Kendari yang pada

waktu itu masih menempati tanah pinjaman DDI Cabang Kendari. Pada awal

berdirinya Madrasah Tsanawiah Negeri (MTsN) 1 Kendari menempati beberapa

lokasi pembelajaran. Pada tahun 1992 lembaga pendidikan ini dipindahkan ke

kelurahan Kadia yang berlokasi di tanah PGA 6.Th Kendari. Selanjutnya pada

37

38

tahun 1993 lembaga pendidikan ini kembali dipindahkan di kelurahan Bende

kecamatan Kadia Kota Kendari dari lokasi tersebut Madrasah Tsanawiah Negeri

(MTsN) 1 Kendari mengadakan pembenahan dengan menempati gedung baru

yang

dibangun

di

tanah

seluas

Departemen Agama.

11.226

m 2 yang

merupakan

bantuan

dari

Madrasah Tsanawiah Negeri (MTsN) 1 Kendari berdiri pada tahun 1992,

dengan jumlah siswa ketika itu 37 orang, kepala madrasah telah berganti sebanyak

9 kali. Jumlah guru MTs Negeri 1 Kendari saat ini yakni, 60 orang yang terdiri

dari 45 orang guru PNS dan 15 orang guru NON-PNS (GBPNS) sedangkan untuk

tenaga kependidikan yakni berjumlah 14 orang yang terdiri dari 7 orang PNS dan

7 orang NON-PNS (PTT). Dalam perkembangan Madrasah Tsanawiah Negeri

(MTsN) 1 Kendari kemudian menjadi pilot project madrasah terbaik dalam

pengelolaan madrasah untuk di Sulawesi tenggara. Melalui beberapa kriteria dan

penilain yang wajib dijalani dan ditentukan pihak Kanwil Depag Sultra. Seperti

pengelolaan (manajeman) madrasah, sarana dan prasarana, jumlah

dan kualitas

guru, kelembagaan dan jumlah siswa yang terus mengalami kemajuan.

Kini, berangkat dari madrasah yang berstatus model itu, Madrasah Tsanawiah

Negeri

(MTsN)

1

Kendari

menuju

taraf

internasional.

Mewakili

Sulawesi

Tenggara, di mana setiap provinsi diwajibkan ada sekolah/madrasah MTs bertaraf

internasional. Tentunya ada beberapa hal atau persyaratan yang wajib dipatuhi

dan dijalankan oleh marasah. Setiap tahunnya, jumlah siswa mengalami kenaikan

yang signifikan. Dalam penerimaan siswa baru, siswa yang diterima tidak hanya

39

berdasarkan NEM (Nilai Ebtanas Murni) namun melalui tes tertulis, kemampuan

dasar mata pelajaran bahasa Indonesia, matemtika, IPA, olah raga dan termasuk

pengalaman ajaran agama seperti baca Tulis Al-Qur’an (BTQ).

Selain

itu,

profesionalisme

guru

terus

ditingkatkan.

Adanya

tuntutan

Madrasah Bertaraf Internasional (MBI), tenaga guru dituntut dapat menguasai dua

bahasa asing, yakni bahasa Inggris dan bahasa Arab yang

wajib digunakan

sebagai pengantar sikap mengajar, ini pun berlaku untuk siswa di Madrasah di

tuntut untuk mampu menggunakannya di lingkungan madrasah.

b. Motto, Visi Dan Misi

1)

Motto

MTs

Negeri

1

Kendari

memiliki

motto

yaitu

menjadikan

siswa

“KREATIF”(Kompetitif, Religius, Edukasi, Tim Kerja, Inovatif dan Flexibel)”

2)

Visi

Motto tersebut dirumuskan menjadi sebuah misi atau cita-cita yang menjadi

tujuan

pelaksanaan

pendidikan

di

MTs

Negeri

1

Kendari

sebagai

berikut

“Beriman, Berakhlakul Karimah, Berprestasi dan Berwawasan Lingkungan”.

3)

Misi

Selanjutnya