Anda di halaman 1dari 19

2.2.

1 Kolinergik

Obat kolinergik singkatnya disebut kolinergik juga disebut


parasimpatomimetik, berarti obat yang kerja serupa perangsangan saraf
parasimpatis. Tetapi karena ada saraf, yang secara otomatis termasuk saraf
simpatis, yang transmonitornya asetilkolin maka istilah obat kolinergik yang
lebih tepat dari pada istilah parasimpatis. Obat kolinergik dibagi dalam tiga
golongan :

(1) ester kolin; dalam golongan ini termasuk : asetilkolin, metakolin,


karbakol, betanekol.

(2) antikolinesterase, termasuk didalamnya : eserin (fisostigmin), prostigmin


(neostigmin), diisopropil-fluorofostat (DFP), dan indektisid golongan
organofosfat
(3) alkaloid tumbuhan, yaitu : muskarin, pilokarpin dan arekolin.

2.2.1.1 Ester Kolin


Asetilkolin (ACh) merupakan prototip dari obat golongan ester
kolin. Sekarang telah terbukti bahwa, ACh merupakan transmitor
diberbagai sinaps dan akhiran saraf pada saraf simpatis, parasimpatis dan
somatik. Asetikolin hanya bermanfaat dalam penelitian dan tidak berguna
secara klinis karena efeknya menyebar ke beberapa organ sehingga titik
tangkapnya terlalu luas dan terlalu singkat. Selain itu ACh tidak dapat
diberikan per oral karena dihidrolisis oleh asam lambung.

Untuk mendapatkan kolinergik yang kerjanya lebih selektif dan


masa kerjanya lebih panjang lebih dikembangkan berbagai obat misalnya
metakolin yang kerjanya lebih lama dan taktin yang bekerja sentral.

Farmakodinamik
Asetikolin eksogen secara umum memperhatikan efek yang sama
dengan ACh endogen, yang eksogen kerjanya tentu lebih menyebar
(difusi) dan memerlukan kadar yang lebih besar untuk menimbulkan efek
yang sama. Efek farmakodinamik esterkolin maupun obat kolinergik
lainnya dapat dimengerti bila diketahui efek ACh pada berbagai organ.
Secara umum farmakodinamik dari ACh dibagi dalam dua golongan, yaitu
terhadap : (1) kelenjar eksorin dan otot polos, yang disebut efek
muskarinik; (2) ganglion (simpatis dan parasimpatis) dan otot rangka,
yang disebut efek nikotinik. Pembagian feel ACh ini didasarkan obat yang
dapat menghambatnya, yaitu atropin menghambat khusus efek
muskarinik, dan nikotin dalam dosis besar menghambat efek nikotinik
asetikolin terhadap ganglion. Kurare khusus menghambat efek nikotin
terhadap otot rangka. Bila digunakan dosis yang berlebihan maka atropin,
nikotin dan kurare masing-masing juga menghambat semua efek
muskarinik dan nikotinik ACh. Efek obat pada dosis toksik ini dianggap
sebagai efek farmakologik lagi, karena efek selektifnya hilang.

SISTEM KARDIOVASKULER. Perubahan kardiovaskuler yang


nyata hanya dapat dilihat bila ACh disuntikan secara intravena dengan
dosis besar atau pada organ terisolasi. Pemberian dengan cara yang lain
tidak diberikan efek karena ACh sangat cepat dihidrolisis, juga setelah
pemberian SK. Pada hewan coba atau pada manusia, ACh menyebabkan
vasodilatasi terutama dari pembuluh darah kecil, yang menyebabkan
turunnya tekanan darah disertai bradikardi dan beberapa kelainan EKG.

Bila asetikolin diberikan intravena, maka efeknya terhadap


pembuluh darah merupakan resultante dari beberapa efek tunggal ACh
bekerja langsung pada reseptor kolinergik pembuluh darah dan melalui
pelepasan EDGF (endothelium derived relaxing factor) menyebabkan
vasodilatasi. zat ini mengaktivasi guanilat siklase dan meningkatkan
cGMP otot polos sehingga meningkatkan vasodilatasi; ACh bekerja pada
ganglion simpatis dengan akibat pelepasan NE pada akhiran post sinaptik
pembuluh darah yang menyebabkan vasokonstriksi. Saraf parasimpatis
hampir tidak mempunyai pengaruh terhadap pembuluh darah melaluui
ganglion parasimpatis kecuali pada alat kelamin ; ACh bekerja
merangsang sel medula anak ginjal yang melepas ketekolamin dan
menyebabkan vasokonstriksi; ACh dapat merangsang reseptor muskarinik
prasinaps saraf adrenergik dan mengurangi penglepasan NE.
Resultante dari efek diatas ini akan menentukan apakah terjadi
kenaikan atau penurunan tekanan darah. Dalam keadaan efek muskarinik
yang unggul, sehingga terlihat efek hipotensif. Bila dosis besar, efek
hipotensi akan terjadi secara mendadak sehingga baroreseptor yang
terletak dalam aorta dan arteri korotis terangsang, dengan terjadinya akibat
efekrefleksi simpatis. Refleksi simpatis menyebabkan jantung berdenyut
lebih cepat dan lebih kuat disertai vasokonstriksi yang memungkinkan
naiknya tekanan darah. Kejadian ini dikenal sebagi refleks kompensasi
yang hanya terjadi kalau ada perubahan mendadak. Takikardi ini tentunya
tidak akan terlihat pada sediaan jantung terpisah (isolated heart), yang
tidak lagi dapat dipengaruhi refleksi kompensasi. Jadi pada kesediaan
jantung terpisah, ACh jelas menyebabkan bradikardi. Fenomena ini adalah
contoh efek farmakodinamik yang pada hakekatnya terdiri dari banyak
komponen.

Pada feokromositoma (tumor medula adrenal) pemberian ACh


akan menyebabkan penglepasan katekolamin yang lebih banyak dari pada
dalam keadaan normal, sehingga menimbulkan tekanan darah yang naik-
turun secara mendadak tergantung pada jumlah sekresi katekolamin.
Curah jantung dan waktu sirkulasi tidak mengalami perubahan berarti pada
pemberian ACh.

SALURAN CERNA. semua obat dalam golongan ini dapat


merangsang paristalsis dan sekresi lambung serta usus halus. Karbakol dan
betanokol menimbulkan hal ini tampak mempengaruhi sistem
kardiovaskuler. Sedangkan efek asetikolin dan metakolin disertai dengan
hipertensi dan takikardi kompensatoar.

KELENJAR EKSOKRIN. ACh dan ester kolin lainnya


merangsang kelenjar keringat, kelenjar air mata, kelenjar pankreas dan
kelenjar ludah. Efek ini merupakan efek muskarinik dan tidak nyata pada
orang sehat.

BRONKUS, ester kolin dikontraindikasikan pada penderita asma


bronkial karena terutama pada penderita ini akan menyebabkan spasme
bronkus dan produksi lendir berlebihan, efek ini tidak nyata pada orang
sehat.

Efek samping
Dosis berlebihan dari ester kolin sangat berbahaya karena itu
jangan diberikan secara IV, karena asetikolin yang lama terjadi sangat
singkat. Pemberian oral atau SK merupakan cara yang lazim digunakan.
Kombinasi dengan progistigmen atau oral kolinergik lain juga tidak boleh
digunakan, karena terjadi potosintesis yang dapat membawa akibat buruk.
Asma bronkial atau alkus peptikum merupakan kontraindikasi untuk
pegobatan secara ini. Ester kolin dapat mendatangkan serangan iskemia
jantung pada penderita angina pektoris, karena tekan jantung yang
menurun mengurangi sirkulasi koroner. Penderita hipertiroidisme dalam
mengalami fibrilasi atrium, terutama pada pemberian metakolin; tindakan
pengalaman perlu diambil, yaitu dengan menyediakan antropil dan
epinefrin sebagai antidotum. Gejala keracuman pada umumnya berupa
efek muskarinin dan nikotinin yang berlebihan. Keracunan ini harus dapat
diatasi dengan atropil dan epinfrin.
2.2.1.2 Antikolinesterase
Antikolinestrerase menghambat kerja kolinesterase (dengan mengikuti
kolinestrerase) dan mengakibatkan perangsangan saraf kolinergik terus
menerus karena ACh tidak dihidrolisis. Dalam golongan ini kita kenal dua
kelompok obat yaitu yang menghambat reversibel, misalnya fisostigmin,
prostigmin, pirisdogtigmin dan edrotonium; dan menghambat secara
reveksibel misaknya gas perang; tabun, sarin, soman dan sebaginya; dan
insiktisida organofosfal (TEPP), heksaaetiltertrafosfat (HETP), dan
oktametilpiro-fosfortetramid (OMPA).

Farmakodinamik
Efek utama antikolinestrase yang menyangkut terapi terlihat pada pupil,
usus dan sambungan saraf otonom, efek-efek lainnya hanya mempunyai arti
toksikologik.

MATA. bila fisostogmin (eserin) atau DFP diteteskan pada konjungtiva


bulbi, maka terlihat suatu perubahan yang nyata pada pupil berupa miosis,
hilangnya daya akomomodasi dan hiperemia konjungtiva.

SALURAN CERNA. Prostogmin peling efektif terhadap saluran cerna.


Pada manusia pemberian prostigmin meningkatkan peristalsis dan kontraksi
lambung serta sekresi asam lambung. Efek muskarinik ini dapat mengatasi
inhibisi oleh atropin.

SAMBUNGAN SARAF-OTOT. Antikolinesterase memperlihatkan efek


nikotinik terhadap otot rangka den asetikolin yang bertimbul pada
sambungan saraf-otot menyebabkan rangka otaot dalam keadaan terangsang
terus menerus. Hal ini menimbulkan tremor, fibrilasi otot, dan dalam
keadaan keracunan, kejang-kejang.
TEMPAT-TEMPAT LAIN. Pada umumnya antikolinesterase, melalui efek
muskarinik, memperbesar sekresi semua kelenjar eksokrin misalnya
kelenjar pada bronkus, kelenjar air mata, kelenjar keringat, kelenjar liur, dan
kelenjar saluran cerna.

Farmakokinetik
Fisostigmin mudah diserap melalui saluran cerna, tempat suntikan maupun
melalui selaput lendir lain. Seperti atropin, fisostogmin dalam obat tetes
mata dapat menyebabkan efek sistemik. Hal ini dapat dicegah dengan
menekan sudut medial mata dimana terdapat kanalis lakrimalis. Prostigmin
dapat diserap secara baik pada pemberian perenteral, sedangkan pada
pemberan oral dibutuhkan dosis 30 kali lebih besar, lagi pula penyerapan
tidak teratur. Efek hipersalivasi baru tampak 1-1/2 jam setelah pemberian
oral 15-20 mg. insektisida organofosfat memperlihatkan koefisien partisi
yang tinggi karena itu dapat diserap dari semua tempat di tubuh, termasuk
kulit. Absorpsi demikian baik sehingga keracunan dapat terjadi hanya akibat
tersiram insektisida organosfosfat di kulit tubuh. Bila inseksitida
disemprotkan ke udara, racun ini diserap paru-paru.

Antikolinesterase diikat oleh protein plasma, kemudian mengalami hidrosis


dalam tubuh, yang satu lebih cepat dari pada yang lain. Pada manusia,
sebanyak 1 mg prostigmin misalnya telah dirusak dalam waktu 2 jam setelah
pemberian subkutan. Ekskresi terjadi dalam urine sebagai metabolit hasil
hidrolisis.

2.2.1.3 Alkaloid Tumbuhan


Farmakologi
Dalam golongan ini termasuk 3 alkaloid yaitu muskarin, pilokarpin dan
arekolin. Pada umumnya ketiga obat ini bekerja pada efektor muskarinik,
kecuali pilokarpin yang juga memperhatikan efek nikotonik. Pilokarpin
terutama menyebabkan rangsangan terhadap kelenjar keringat, kelenjar air
mata dan kelenjar ludah. Produksi kelenjar keringat dapat mecapai tiga liter.
Efek terhadap kelenjar keringat ini terjadi kerena perangsangan langsung
(efek muskarinik) dan sebagian kerena perangsangan ganglion (efek
nikotinik). Suatu khususan dari kelenjar keringat ialah bahwa, secara
anatomi kelenjar ini termasuk sistem simpatik, tetapi neurotransmirornya
asetilkolin. Ini yang menyebabkan terjadinya hiperhidrosis oleh zat
kolinergik.

Selain yang disebut diatas, pada penyuntikan IV biasanya terjadi kenaikan


tekanan darah akibat efek ganglionik dan sekresi katekolamin dari medula
adrenal; terjadi juga hipersekresi pepsin dan musin. Sekresi bronkus
meningkat, dan bersama dengan timbulnya konstriksi bronkus dapat
menyebabkan udema paru.

2.2.2 Antikolinergik yang Bekerja pada Muskarinik (Antimuskarinik)


Antimuskarinik ini bekerja di alat yang dipersarafi serabut pascaganglion
kolinergik. Pada ganglion otonom dan otot rangka,tempat asetilkolin juga bekerja,
penghambatan oleh atropin hanya terjadi dengan dosis sangat besar.
Antimuskarinik memperlihatkan efek sentral terhadap susunan saraf pusat, yaitu
merangsang pada dosis kecil dan mendepresi pada dosis toksik. Banyak sekali
antikolinergik disintesis dengan efek selektif terhadap gangguan tertentu disertai
efek samping yang lebih ringan. Saat ini terdapat antimuskarinik yang digunakan
untuk ; (1) mendapatkan efek perifer tanpa efek sentral misalnya, antispasmodik;
(2) penggunaan lokal pada mata sebagi midriatikum; (3) memperoleh efek sentral
misalnya, obat untuk penyakit parkison; (4) efek bronkodilatasi; dan (5)
memperoleh efek hambatan pada sekresi lambung dan gerakan saluran cerna.

2.2.2.1 Alkaloid Belladona


Farmakodinamik
Hambatan oleh atropin bersifat reversibel dan dapat diatasi dengan
pemberian asetikolin dalam jumlah berlebih atau pemberian antikolinesterase.
Antropin membelok asetikolin endogen maupun eksogen. Tetapi hambatannya jauh
lebih kuat teradap yang eksogen. Skopolamin memiliki efek depresi sentral yang
lebih besar dari pada atropin, sedangkan efek perifer terhadap jantung, usus dan
otot bronkus lebih kuat dipengaruhi oleh atropin.

Susunan saraf pusat. Atropin merangsang medula oblongata dan pusat lain dari
otak. Dalam dosis 0,5 mg (untuk orang indonesia mungkin ± 0,3 mg) atropin
merangsang N. vagus dan frekuensi berkurang. Depresi yang timbul khusus
dibeberapa pusat motorik dalam otot, dapat menghilangkan tremor yang terlihat
pada parkinsonisme. Perangsangan respirasi terjadi sebagai akibat dilatasi bronkus,
tetapi dalam hal depresi respirasi oleh sebab tertentu, atropin menyebabkan depresi
napas, eksitasi, disorientasi, delirium, hatusinasi dan perangsangan lebih jelas di
pusat-pusat yang lebih tinggi. Lebih lanjut depresi dan paralisis medula oblongata.
Skopolamin memperhatikam efek terapi yang berlainan, yaitu euforia, amnesia dan
kantuk. Kandang-kandang terjadi indiosinkrasi berupa kegelisahan, delirium dan
halusinasi dengan dosis terapi. Pada orang tua, antikolinergik terutama yang efek
sentralnya kuat dapat menyebabkan sindrom demensia.

Mata. Alkoloid belladona menghambat M. constrictir pulpillea dan M. ciliaris lensa


mata, sehingga menyebabkan midriasis dan sikloplegia (paralisis mekanisme
akomodasi). Midriasis mengakibatkan fotofobia, sedangkan sikioplegia
menyebabkan hilangnya daya melihat jarak dekat.
Saluran napas. Alkoloid belladona mengurangi sekresi hidung, mulut, faring, dan
bronkus. Pemakaiannya ilah padaa medikasi preanestetik untuk menguramg sekresi
lendir pada jalan napas. Sebagi bronkodilator, atropin tidak berguna dan jauh lebih
lemah dari pada epinefrin arau aminofillin. Lopatropium bromida merupakan
antimuskarinik yang memperlihatkan bronkodilatasi bararti secara khusus.

Sistem kardiovaskular. Pengaruh atropin terhadap jangtung bersifat bitasik, dengan


dosis 0,25-0,5 mg yang biasa digunakan, frekuensi jantung berkurang, mungkin
disebabkan karena perangsang nukleus N. vagus. Bradikardi biasanya tidak nyata
dan tidak disertai perubhan tekanan darah atau curah jantung. Pada dosis lebih dari
2 mg, yang biasanya hanya digunakan pada keracunan infeksida organofosfat,
terjadi hambatan N. vagus dan timbul suatu tekikardi. Pirenzepin bekerja lebih
selektif mengahambat skeresi asam lambung dan pepsin pada dosis yang krang
memenuhi organ lain. Sekresi asam lambung pada malm hari dapat diturunan
sampai 44% dengan dosis 100 mg sehari, sekresi saliva dan motilitas kolon
berkurang, penggosokan lambung pada faal pankreas tidak dipengaruhi obat ini.

Otot polos lain. Salaran kemih dipengaruhi oleh atropin dalam dosisi agak besar
(kira-kita 1 mg). pada pielogram akan terlihat dilatasi kaliks, pelvis, ureter dan
kandung kemih. Hal ini dapat mengakibatkan retensi urine. Retensi urin disebabkan
relaksasi M. detrusor dan konstriksi sfingter uretra. Bila ringan akan berupa
kesulitan mikis yaitu penderita harus mengejar sewaktu miksi.

Kelanjar eksokrin. Kelenjar eksokrin yang paling jelas dipengaruhi oleh atropin
ialah kelenjar liur dalam mulut serta bronkus. Untuk menghambat aktivitas kelenjar
keringat diperlukan dosis yang lebih besar, kulit menjadi kering.

Farmakokinetik
Alkoloid belladona mudah diserap dari semua tempat, kecuali dari kulit.
Pemebrian antropil sebagai obat tetes mata, terutama pada anak dapat menyebabkan
absorpsi dalam jumlah yang cukup besar lewat mukosa nasal, sehingga
menimbulkan efek sistemik dan bhkan keracunan. Untuk mencegah hal ini perlu
keronga hidung, terserap dan menyebabkan efek sistemik. Dari sirkulasi darah,
atropin cepat memasuki jaringan dan kebanyakan mengalami hirolisis enzimatik
oleh haper. Sebagian diekresikan melalui gijal dalam bentuk asal.

Antikolinergik sintetik, misalnya skopolamin metilbromida, lebih sulit


diabssorpsi sehingga perlu diberikan dalam dosis yang lebih besar (2,5 mg), tetapi
efek sentralnya tidak sekuat atropil karena tidak melewati sawar darah otak.
Absorpsi pirenzepin tidak lengkap (20-30%) dan dipengaruhi danya makanan
dalam lambung. Masa penuh eliminasinya sekitar 11 jam. Sebagian besar
pirenzepin diekresi melalui urine dan feses dalam bentuk senyawa asal. Dalam
pasien gagal ginjal, kadar otak meningkat 30-40%, namun belum menyebabkan
efek toksik.

Efek samping atau toksik


Efek samping antimuskarin hampir semuanya merupakan efek
farmakodinamik obat. Pada orang muda efek samping mulut kering, gangguan
miksi, meteorisme sering terjadi, tetapi tidak membahayakan pada orang tua efek
sentral terutama sindrom demensia, dapat terjadi. Memburuknya retensi urine pada
pasien dengan hopertrifi prostat dan penglihatan pada pasien glaukoma,
menyebabkan obat ini kurang diterima. Efek samping sentral kurang pada
pemberian antimuskarinik yang bersifat amonium kuaterner. Walaupun demikian
selektivitas hanya berlaku pada dosis toksis semuanya dapat terjadi. Muka merah
stelah pemberian atropin bukan alergi melainkan efek samping sehungan
pasodilatasi pembuluh darah di wajah. Alergi terhadap atropin tidak sering
ditemukan.

Atropin dan skopolamin kadang-kadang menyebabkan keracunan, terutama


pada anak, karena kesalahan dalam menghitung dosis, atau sewaktu meracik obat
kombinasi, karena itu atropin tidak dilanjurkan pada anak dibawah 4 tagun. Telah
dijelakan diatas bahwa kadang-kadang obat tetes matapun dapat menyebabkan
keracunan bila tidak dilakukan untun mengurangi absopsinya. Keracunan akibat
kecacunan buah daru tanaman yang mengandung alka;oid belladona, misalnya
kecubung. Walau[un gejala keracunan obat ini sangat mengejutkan, kematian
jarang terjad. Telah dilaporkan bahwa dosis 500-1000 mg hasih belum digunakan
dosis fatal. Sebaliknya pada anak, dosis 10 mg mungkin menyebabkan kematian.
DI RSCM pernah terjadi kematian pada 2 dari 3 anak yang makan beberapa buah
kecubung (datura stramonium). Perbedaan dalam dosisi patal ini mungkin
berdasarkan reaksi indiosinkrasi dan kepekaan seseorang. Karena itu, tiap
keracunan alka;oid belladona tidak boleh dianggap tidak berbagaya. Skopolamin
mungkin lebih toksik dari pada atropin.

2.2.3 Adrenergik
Obat golongan ini disebut obat adrenergik kerena efek yang ditimbulkan
mirip perangsangan saraf adrenergik, atau mirip efek neurotransmitor neropinefrin
dan epinefrin (yang disebut juga nor adrenalin dan adrenalin) sari sususan araf
simpatis. Golongan obat ini disebut juga obat simpatik atau simpatomimetik, tetapi
nama ini kurang tepat karena aktivitas susunan saraf simpatis ada yang
diperantaikan oleh transmitor asetikolin. Kerja obat adrenergik dapat dibagi dalam
7 jenis : (1) perangsangan parifer terhadap otot polos pembukuh darah kulit dan
mukosa, dan terdapat kelenjar liur dan keringat; (2) penghambatan parifer terhadap
otot polos usus, bronkus, dan pembuluh darah otot rangka; (3) perangsangan
jantung, dengan akibat meningkatkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi; (4)
perangsangan SPP, misalnya perangsangan pernapasan, peningkatan kewaspadaan,
aktivitas psikomotor, dan penggunaan nafsu makan; (5) efek metabolok, missalnya
meningkatkan glikogenesis di hati dan otot, lipolisis dan penglepasan asam lemak
bebas dari jaringan lemak; (6) efek endokrin, misalnya mempengaruhi sekresi
insuline, renin dan hormon hipofisis dan (7) efek prasinaptik, dengan akibat
hambatan atau peningkatan pelepasan neurotransmitir NE dan ACh (secara
fisikologis, efek hambatan lebih penting).

2.2.3.1 Epinefrin
Farmakodinamik
Pada umumnya, pemberian epi menimbulkan efek miring stimulus saraf
adrenergik. Ada bberapa perbedaan karena neurotransmitor pada saraf adrenergik
adalah NE. efek yang paing mneojol adalah efek terhadap jatung, otot polos
pembuluh darah dan otot polos lain.

Kardiovaskular. Pembuluh darah. Efek vaskular epi terutama pada atreiol kecil dan
atreri besar juga dipengaruhi. Pembuluh darah kulit, mukosa dan ginjal mengalami
konstriksi akibat aktivitas reseptor 𝛼 oleh epi. Pembuluh darah otot rangka
mengalami dilatasi oleh epidosis rendah, akibat aktivitas reseptor 𝛽2 yang
mempunyai efinitas lebih besar pada epi dibandingkan dengan reseptor 𝛼. Epi dosis
tinggi bereaksi dengan dua jenis reseptor. Dominasi reseptor 𝛼 menyebabkan
peningkatan resestensi perifer yang berakibat peningkatan tekanan darah. Pada
waktu kadar epi menurun, efek terhadap respons 𝛼 yang kurang sensitif lebih dulu
menghilang, efek epi terhadap reseptor 𝛽2 masih ada pada kadar yang rendah ini,
dam menyebabkan hopotensi sekunder pada pemberian epi secara sistemik. Jika
sebelum epi telah diberikan suatu penghangat reseptor 𝛼, maka pemberian epi
hanya menimbulkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah. Suatu kenaikan
tekanan darah yang tidak begitu jelas mungkin timbul sebelum penurunan tekanan
drah hal ini; kenaikan ynag terlintas ini akibat stimulasi jantung oleh epi.

Arteri koroner. Epi menimbulkan aliran darah koroner. Epi di satu pihak epi
cenderung menurunkan aliran darah koroner karena kompresi akibat peningkatan
kontraksi otot jantung, dan karena vasokonstriksi pembuluh darah koroner 𝛼. Di
lain pihak epi memperpanjang waktu diastolik, meningkatkan tekanan drah aorta,
dan menyebabkan dilepaskannya adenosis, suatu metabolik yang bersifat
vasodilator, akibat peninkatan kontrasi jantung dan komsumsi oksigen miokard;
semua ini akan meningkatkan aliran darah koroner.

Epi memperkuat kontraksi dan mempercepat relakssi. Dalam mempercepat denyut


jantung dalam kisaran fisiologis. Epi memperpendek waktu sistolik tanpa
mengurangi waktu diastolik. Akibatnya, curah jantung bertambah , tetapi kerja
jantung dan pemakaian oksigen sangat bertambah, sehingga efisiensi jantung (kerja
dibanding dengan pemakaian oksigen) berkurang. Dosis epi yang berlebihan
disamping menyebakan tekanan darah naik sangat tinggi, juga minimbulkan
kontrasi ventrikel prematur, diikuti takikardi ventrikel, dan akhirnya fibrilasi
ventrikel.

Saluran cerna. Melalui reseptor 𝛼 dan 𝛽2, epi menimbulkan relaksasi otot polos
saluran cerna pada umumnya: tonus dan motilitas usus dan lambung berkurang.

Kandung kemih. Epi menyebabkan relaksasi otot detrusor melalui reseptor 𝛽2 dan
kontraksi otot trigon dan sfingter melalui reseptor 𝛼1, sehingga dapat menimbulkan
kesulitan urinasi serta retensi urin dalam kandung kemih.

Pernapasan , epi mempengaruhi pernapasan terutama dengan cara meleraksasi otot


bronkus melalui reseptor 𝛽2 . efek bronkodilatasi ini jelas sekali bila sudah ada
kontraksi otot polos bronkus karena asam bronkial, histamin, ester kolin,
pilokarpin, bradikinin, zat penyebab anafilaksis yang bereaksi lambat (SRS-A), dan
lain-lain. Di sini epi bekerja sebagai antagonis fisiologik. Pada asma, epi juga
menghambat penglepasan mediator inflamasi dari sel-sel mast melalui reseptor
𝛽2, setra mengurangi sekresi bronkus dan kongesti mukosa melalui reseptor 𝛼1.
Peningkatan kadr glukosa dan laktat dalam darah, dan menurunkan ladar glikogen
dalam hati dan otot rangka. Epi melalui aktivitas reseptor 𝛽3 meningkatkan
aktivitas lipase trigliserida dalam jaringan lemak, sehingga mempercepat
pamecahan trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Akibatnya, kadar
asam lemak bebas dalam darah meningkat.

Farmakokinekit
Absorpsi. Dalam pemberian oral. Epi tidak mencapai dosis terapi karena sebagian
besar dirusak oleh enzim COMT dan MAO yang banyak terdapat pada dinding usus
dan hati. Pada penyuntikan SK, absopsi yang lambat terjadi karena vaskontraksi
lokasi, dapat dipercepat dengan memijat tempat suntikan. Absorpsi yang lebih cepat
terjadi dengan menyuntikan IM. Pada pemebrian lokal pada saluran napas, tetapi
efek sitemik dapat terjadi,terutama bila digunakan dosis besar.

Introksikasi, efek samping dan kontraindikasi


Pemberian epi dapat menimbulkan gejala seperti perasaan takut, khawatir, gelisah,
tegang, nyeri kepla berdenyut, tremor, rasa lemah, pusing, pucat, sukar bernafas
dan palpitasi. Gejala-gejala ini mereda dengan cepat setelah istirahat. Penderita
hipertiroid dan hipertensi lebih peka terhadap efek-efek tersebut di atas maupun
terhadap efek pada sistem kardiovaskular. Pada penderita psikoneurotik. Epi
memperberat gejala-gejalanya. Dosis epi yang besar atau penyuntikan IV cepat
yang tidak disengaja dapat menimbulkan pendarahan otak karena kenaikan tekanan
darah yang hebat. Bahkan menyuntikan SK 0,5 ml larutan 1:1000 dapat
menimbulkan pendarahan subaraknoid dan hemiplegia. Untuk mengatasinya, dapat
diberikan vasodilator yang terjadi cepat, misalnya nitrat atau natrium nitroprusid 𝛼-
bloker mungkin juga berguna.

2.2.4 Penghambat Adrenergik


Penghambat adrenergik atau adrenolitik ialah golongan obat yang menghambat
perangsangan adrenergik. Berdasarkan tempat kerjanya, golongan obat ini terbagi
atas antagonis adrenoseptor dan oenghambat saraf adrenergik. Antagonis
adrenoseptor dan adrenoseptor bloker ialah obat yang menduduki adrenoseptor
sehingga menghalanginya untuk berinteraksi dengan obat adrenergik pada sel
efektornya. Ini berarti adrenoseptor bloker mengurangi repons sel efektor
adrenergik terhadap perangsangan saraf adrenergik maupun terhadap obat
adrenergik eksogen. Untuk masing-masing adrenoseptor 𝛼 dan 𝛽ada penghabatan
yang slektif. Antagonis adrenoseptor 𝛼 atau 𝛼-bloker memblokir hanya reseptor 𝛼
dan tidak menduduki reseptor 𝛽. Sebaliknya, antagonis adrenoseptor 𝛽 atau 𝛽-
bloker memblokir hanya reseptor 𝛽 dan tidak mempengaruhi reseptor 𝛼.

Penghambat saraf adrenergik ialah obat yang mengurangi respons sel efektor
terhadap perangsangan terhadap saraf adenergik, tetapi tidak terhadap obat
adrenergik eksogen. Obat golongan ini bekerja pada ujung saraf adrenergik,
menggangu pelepasan dan atau penyimpanan neripinefrin (NE).

2.2.4.1 Antagonis Adrenoseptor α ( α -Bloker)


2.2.4.1.1 α-Bloker Nonselektif
2.2.4.1.1.1 Derivat Haloalkilamin.

Obat ini memperlihatkan efek farmakodinamik yang serupa. Sebagi contoh lain
dibenami, yamg ditemukan pertama kali; dan fenoksibezamin, yang potensinya 6-
10 kali potensi dibenami serta diabsopsi lebih baik pada pemeberian oral.
Fenoksibezamin memblok reseptor 𝛼1 maupun 𝛼2 pada otot polos arteriol dan vena
sehingga menimbulkan vasodilatasi dan vanodilatasi. Akibatnya tekanan darah
turun dan terjadi refleks stimulus jantung. Hambatan reseptor 𝛼2 di ujung saraf
adrenergik peningkatkan penglepasan NE dari ujung saraf, yang meningkatkan
perangsangan reseptor 𝛽1 dijantung. Di samping ini fenoksibenzamin menghambat
proses ambilan kembali NE kedalam ujung saraf adrenergik (ambilan-2). Hal ini
meningkatkan jumlah NE di sinaps dan makin memeperkuat stimulus jantung.
Akibatya terjadi takikardi dan peningkatan kontraksi yang berbaring, penurunan
darah relatif kecil, tetapi bila terdiri penurunan tekanan darah yang hebat karena
aktivitas vasokonstriksi yang meningkat sewaktu berdiri dihambat oleh 𝛼-bloker.
Jika 𝛼-bloker ini menunjukan efek pustural yang jelas. Hambatan refleks
vasokonstriksi ini juga terjadi pada hipovolemia dan pada vasodilatasi akibat
anestesia. Pemberian epi dakan enimbulkan respons hipotensi karena blokade
reseptor 𝛼 menyebabkan efek epi pada reseptor 𝛽2 (vasodilatasi) tidak terimbangi.

Farmakokinetik. Absorpsi fenoksibenzamin dari saluran cerna hanya 20-30%.


Waktu penurunannya kurang dari 24jam, tetapi lama kerjanya bergantung juga pada
kecepatan sintesis reseptor 𝛼. Diperlukan waktu sehari-hari sebelum jumlah
reseptor 𝛼 pada permukaan sel target kembali nolmal. Fenoksibenzamin terdiri
dalam bentuk kapsul 10 mg untuk pemberian oral.

Intoksikasi dan efek samping. Efek samping utama dalah hipotensi postiral, yang
sring diserta dengan refleks takikardi dan aitmia lainnya. Hipotensi yang berat
terjadi pada hipovolemia atau keadaan yang menyebabkan vasodilatasi (obat
vasodilator, latihan fisik, minum alkohol atau makanan banyak). Hambatan
ejakulasi dan aspermia yang reversibel setelah organisme dapat terjadi karena
tambahan kontraksi otot polos vas deferens dan sauran ejakulasi.
2.2.4.1.1.2 Derivat Kuinazolin

FARMAKODINAMIK. Efeknya yang utama adalah hasil hambatan reseptor a


pada otot polos arteriol dan vena, yang menimbulkan vaso dan venodilatasi
sehingga menurunkan resistensi perifer dan alir balik vena. Penurunan resistensi
ferifer menyebabkan penurunan tekanan darah tetapi biasanya tidak menimbulkan
refleks takikardi. Hal ini disebabkan (1) a bloker tidak memblok reseptor B2
prasinaps sehingga tidak meningkatkan penglepasan NE dari ujungsaraf yang akan
merangsang jantung melalui reseptor B1 yang tidak diblok, dan (2) penurunan elir
balik vena menyebabkan berkurangnya peningkatan curah jantung dan denyut
jantung (berbeda dengan vasodilator murni, misalnya hidralazin, yang tidak
menyebabkan venodilatasi).

Karena efek vasodilatasinya, maka aliran darah di organ-organ vital


(otak,jantung,ginjal) dapat dipertahankan, demikian juga dengan aliran darah
perifer di ekstremitas.
FARMAKOKINETIK. Semua derivat kulnazolin diabsorpsi dengan baik pada
pemberian oral, terikat kuat pada protein plasma (terutama a1-glikopro-teuin),
mengalami metabolisme yang ekstensif di hati, dan hanya sedikit yang diekskresi
utuh melalui ginjal (berkisar dari 0,7% untuk bunozosin sampai 10% untuk
terazosin.

Perbedaan utama terletak pada waktu paruh eliminasinya. Prazosin,


trimazosin dan bunazosin mempunyai waktu paruh 2-3 jam sehingga harus
diberikan 2-3 kali sehari. Terazosin mempunyai waktu penuh 12 jam, sehingga
harus diberikan 1-2 kali sehari. Sedangkan doksazosin dengan waktu parus 20-22
jam dapat diberikan sekali sehari.

EFEK SAMPING. Efek samping utama yang potensial dapat terjadi pada terjadi
pada pemberian a1-bloker adalah fenomen dosis pertama, yakni hipotensi postural
yang hebat dan sinkop yang terjadi 30-90 menit setelah pemberial dosis pertama.
Hal ini disebabkan oleh penurunan tekanan darah yang cepat tanpa disertai refleks
takikardi sebagai kompensasi, bahkan diperkuat oleh kerja sentral yang mengurangi
aktivitas simpatis disamping dosis awal yang terlalu besar. Fenomena dosis pertama
ini kecil kemungkinan terjadinya pada oemberian doksazosin, karena selain
dilakukan titarasi dosis yang hati-hati, obat ini mempunyai mula kerja yang lambat
(yang menyertai masa kerjanya yang panjang) sehingga penurunan tekanan darah
terjadi secara perlahan (gradual).

Efek samping yang paling sering berupa pusing (hipotensi postural), sakit
kepla, ngantuk, palpitasi, edema parifer dan nausea.

2.2.4.1.2 α₁-Bloker Selektif

2.2.4.1.3 α₂-Bloker Selektif


Sebagai a2-bloker yang selektif hanya dikenal yohimbin, yang ditemukan dalam
kulitbatang pohon Pausinystalia yohimbe dan dalam akar Rauwolfia. Struktur
kimianya mirip reserpin.

Yohimbin masuk SSP dengan mudah, di situ memblok reseptor a2


pascasinaps (lihat uraian pada Bab 5 mengenai a2-agnois) dan menyebabkan
peningkatan aktivitas neuron adrenergik sentral, sehingga meningkatan
penglepasan NE dari ujung saraf adrenergik di perifer. Akibatnya, terjadi
peningkatan tekanan darah dan denyut jantung serta aktivitas motorik, dan juga
terjadi tremor. Efek ini berlawanan dengan efek a2-agnois, misalnya klonidin.

Yohimbin juga merupakan antagonis serotonin. Obat ini banyak dipakai


untuk impotensi meskipun efektivitasnya tidak jelas terbukti. Obat ini
meningkatkan aktivitas seksual pada tikus jantan, dan mungkin berguna bagi
beberapa penderita dengan impotensi psikogenik.

2.2.4.2 Antagonis Adrenoseptor β (β-Bloker)


Dikloroisoproterenol adalah β-bloker yang pertama ditemukan tetapi tidak
digunakan karena obat ini juga merupakan agois parsial yang cukup kuat.
Propranolo, yang ditemukan kemudian, menjadi prototipe golongan obat ini.
Sampai sekarang, semua β-bloker baru dibandingkan dengan propranolol.

FARMAKODINAMIK
Beta-bloker menghambat secara kompetitif efek obat adrenergik, baik NE
dan Epi endogen maupun obat adrenergik eksogen, pada adrenoseptortor β. Potensi
penghambatan dilihat dari kemampuan obat ini dalam menghambat takikardi yang
ditimbulkan oleh isoproterenol atau oleh exercise. Karena penghambatan ini
bersifat kompetitif, maka dapat diatasi dengan meningkatkan kadar obat adrenergik.

SALURAN NAFAS. Bronkodilatasi adrenergik diperantarai oleh adrenoseptor β2.


Adanya bronkodilatasi adrenergik instrinsik baru disadari setelah ditemukan β-
bloker yang selalu meningkatkan resistensi saluran nafas. Efek bronkokonstrinsik
ini kecil dan tidak berarti pada orang normal, tetapi daoat membahayakan jiwa pada
penderita asma atau penderita penyakit obstruktif menahun (PPHOM), misalnya
emfisema.

EFEK METABOLIK. Metabolisme karbohidrat. Propranolol menghambat


glikogonoisis di sel hati dan otot rangka, sehingga mengurangi efek hiperglikemia
dari epinefrin eksogen maupun apinefrin endogen dan dilepaskan oleh adanya
hipoglikemia. Akibatnya, kembalinya kadar gula darah pada hipoglikemia
(misalnya oleh insulin) diperlambat.

Metabolisme lemak. Propranolol menghambat aktivitas enzim lipase dalam sel


lemak, sehingga menghambat penglepasan asam lemak bebas dalam sirkulasi, yang
ditimbulkan oleh peningkatan aktivitas simpatis sewaktu kegiatan fisik atau stress
emosional. Akibatnya, peningkatan asam lemak dalam darah, yang dibutuhkan
sebagai sumber enersi oleh otot rangka yang sedang aktiv bekerja, berkurang.
FARMAKOKINETIK
Sifat-sifat farmakokinetik berbagai β-bloker dapat dilihat dalam tabel 6-2.
Berdasarkan sifat-sifat ini, β-bloker dapat dibagi atas 3 golongan :

(1) Β-bloker yang mudah larut dalam lemak, yakni propranolol, alprenolol,
oksprenolol, labetalol, dan metopranolol.
(2) Β-bloker yang mudah larut dalam air, yakni satalol, nadolol dan atenolol.
Satatol diabsorpsi dengan baik dari saluran cerna, dan tidak mengakami
metabolisme lintas pertamma
(3) Β-bloker yang kelarutannya terletak di antara golongan (1) dan (2), yakni
timolol, bisoprolol , asebutolol dan pidodol. Ke 4 obat ini diabsorpsi dengan
baik dari saluran cerna, tetapi mengalami metabolisme lintass pertama yang
berbeda derajat.

EFEK SAMPING DAN PERHATIAN


Kebanyakan efek samping β-bloker adalah akibat hambatan reseptor β; efek
samping yang tidak berhubungan dengan reseptor β jarang terjadi.

GAGAL JANTUNG. β-bloker dapat menyebabkan atau mencetuskan gagal


jantung pada penderita dengan gangguan fungsi miokard, misalnya gagal jantung
yang masih terkompensasi, infark miokard akut, atau kardiomegali.

GANGGUAN SIRKULASI PERIFER. Β-bloker dapat menyebabkan ekstremitas


dingin, mencetuskan atau memperberat gejala penyakit Raynaud, dan
menyebabkan kambuhnya kaludikasio intermiten.

HIPOGLIKEMIA. Hipoglikemia menimbulkan aktivasi simpatoadrenal yang


akan meningkatkan gula darah melalui glikogenolisis dan akan menimbulkan
takikardi sebagai tanda penting pada hipoglokemia. Β-bloker menghambat
glikogenelosis dan menghilangkan takikardi yang menandai hipoglikkemia.
Akibatnya, pemberian β-bloker dapat memperberat dan memperpanjang perode
hipoglikemia akibat insulin hipoglikemik oral pada penderita diabetes dan dapat
menimbulkan hipoglikemia padda derita dibetes yang labil.

EFEK METABOLIK. β-bloker nonselektif tanpa ISA menurunkan kadar


kolestrol HDL dan meningkatkan kadar trigliserida dalam serum. Β-bloker selektif
atau dengan ISA tidak/kecil pengaruhnya terhadap lipid darah.

EFEK SENTRAL. Efek samping β-bloker pada SSP berupa rasa lelah, gangguan
tidur (insomnia, mimpi buruk), dan depresi. Mimpi buruk dan insomnia seringkali
dapat dihindarkan dengn tidak memberikan obat pada malam hari.
2.2.4.3 Penghambat Saraf Adrenergik
Penghambat saraf adrenergik menghambat aktivitas saraf adrenergik berdasarkan
gangguan sintesis atau penyimpanan dan penglepasan neurotransmitor di ujung
saraf adrenergik.

Dalam kelompok ini termasuk guanetidin, guanadrel, reserpin dan


metiirosin.

FARMAKODINAMIK. Oleh karena guanetidin menyebabkab pengosongan NE,


maka obat ini menyebabkan hambatan reseptor a maupun β. Guanetidin tidak
mempengaruhi kadar katekolamin dalam medula adrenalmaupun penglepasannya.
Kadar katekolamin dalam SSP juga tidak dipengaruhi karena panetrasi obat polar
ini ke dalam SSP buruk. Pada fase ketiga terjadi penurunan progresif tekanan darah
sistemik maupun pulmonal yang berlangsung selama beberapa hari, akibat
hambatan simpatis terhadap sistem kardiovaskuler, yang menyebabkan
vasodilatasi, venodilatasi, dan penurunan curah jantung. Tekanan darah berbaring
hanay sedikit berkurang, tetapi tekanan darah berddiri dan sewaktu exercise banyak
berkurang, sesuai dengan aktivitas simpatisnya (semakin tinggi aktivitas simpatis,
semakin besar hambatannya).

FARMAKOKINETIK. Biovailabilitas oral guanetidin rendah dan bervariasi,


antara 3-50%. Obat ini dengan cepat diangkut ke tempt kerjanya dalam saraf, dari
sini deliminasi dengan waktu paruh 5 hari. Sekitar 50% mengalami metabolisme,
dan sisanya diekskresi utuh dalam urin. Karena waktu paruhnya yang panjang,
guanetidin dapat diberikan sekali sehari, dan keadaan steady state dicapai dalam
waktu minimal 2 minggu.

EFEK SAMPING. Efek samping guanetidin bersifat kumulatif dan masih bertahan
berhari hari setelah pengobatan dihentikan. Yang paling penting adalah hipotensi
ortotastik, yang paling menonjil pada waktu penderita baru bangun tidur, dan dapat
diperberat oleh alkohol, hawa panas dan latihan fisik.hipotensi dapat disertai gejala
gejala iskemia sereblar dan iskemia miokard. Retensi air dan garam dapat
menyebabkan udem dan kegagalan terapi bila diuratik tidak diberikan bersama.
2.2.4.3.1 Guanadrel

Guanadrel dan guanetidin bekerja dengan cara yang sama. Perbedaan utama antara
keduanya adalah dalam fisik sifat-sifat farmekokinetiknya.
2.2.4.3.2 Reserpin
Reserpin adalah alkoloid terpenting dari Rauwolfia serprntina
FARMAKODINAMIK. Curah jantung dan resistensi perifer berkurang pada
terapi jangka panjang dengan reserpin. Penurunan tekanan darah berlangsung
dengan lambat, karena reserrpin mengosongkan berbagai amin dalam otak maupun
dalam saraf adrenergik perifer, mungkin efek antihipertensinya merupakan hasil
kerja sentral maupun hasil kerja perifernya. Hipotensi postural dapat terjadi tetapi
biassanya tidak menimbulkan gejala. Terjadi retensi garam dan air, yang sering
menimbulkan pseudotolerance.

FARMAKOKINETIK. Reserpin dimetabolisme seluruhnya, tidak ada bentuk


utuh yang diekskresindalam urin. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 0,1 mg dan
0,25 mg.

TOKSISITAS DAN EFEK SAMPING. Kebanyakan efek samping reserfin akibat


efeknya pada SSP. Yang paling sering adalah sedasi dan tidak mampu
berkonsentrasi atau melakukan tugas yang komples. Kadang-kadang terjadi depresi
psikotik sampai akhirnya bunuh diri. Depresi biasanya muncul dengan sangat
perlahan dalam waktu berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sehingga
mungkin tidak dihubungkan dengan pemberian reserpin. Reserpin harus dihentikan
begitu muncul gejala depresi, dan obat ini tidak boleh diberikan pada penderita
dengan riwayat depresi. Depresi jarang sekali terjadi pada dosis 0,25 mg sehari atau
kurang.

Efek samping lain adalah hidung tersumbat dan eksaserbasi ulkus peptikum,
yang terakhir ini jarang terjadi pada dosis rendah.
2.2.4.3.3 Metirosin

Metirosin merupakan pengahmbat enzim tirosin hidroksilase yang mengkatalisis


konversi tirosin menjadi DOPA, dan yang merupakan enzim penentu dalam
biosintesis NE dan Epl. Efek maksiaml terjadi setelah berhari-hari efek ini dapat
dilihat dengan mengukur kadar katekolamin dan metabolitinya dalam urin.

Metirosin dapat menimbulkan kristaluri, yang dapat dicegah dengan banyak


minum (volue urin harus lebih dari 2 liter sehari). Efek samping lain berupa sedasi,
gejala ekstrapiramidal, diare, ansietas, dan gangguan psikis.

2.2.5 Obat yang merangsang Ganglion


GANGLION. Perubahan dalam tubuh setelah pemberian nikotin sangat rumit dan
sering tidak dapat diramaikan. Hal ini disebabkan kerja nikotin yang sangat luas
terhadap ganglion simpatis maupun parasimpatis dan efek bifasiknya terhadap
ganglion.
SUSUNAN SARAF PUSAT. Nikotin adalah suatu perangsang SSP yang kuat yang
akan menimbulkan tremor serta konvulsi pada dosis besar.

SISTEM KARDIOVASKULER. Setelah pemberian nikotin biasanya tonus


simpatis lebih jelas sehingga terlihat takikardi dan vasokonstriksi.

SALURAN CERNA. Berlainan dengan efek terhadap sistem kardiovaskuler,


nikotin menyebabkan perangsangan parasimpatis pada usus. Tonus usus dan
peristaltis ,meninggi, kadang-kadang menyebabkan muntah.

KELENJAR EKSORKIN. Salivasi yang timbul waktu merokok sebagian


diakibatkan oleh iritasi asap rokok, namun nikotin sendiri menyebabkan
perangsangan sekresi air liur dan sekret bronkus disusul penghambatannya.

FARMAKOKINETIK
Nikotin dapat diserap dari semua tempat termasuk kulit. Keracunan berat
dilaporkan terjadi akibat absorpsi di kulit. Absorpsi di lambunng seddikit karena
sifat nikotin sebagai basa kuat. Absorpsi intensiall cukup untuk menyebabkan
keracunan peroral. Nikotin terutama mengalami metabolisme di hati, juga di paru
dan ginjal. Nikotin yang diinhalasi dimetabolisme dalam jumlah yang berarti di
paru-paru.

FARMAKODINAMIK
SISTEM KARDIOVASKULER. Arteri dan vena di domminasi oleh tonus
simpatis, sehingga heksametonium menghambat lebih nyata ganglion simpatis dan
menyebabkan vasodilatasi serta pengurangan air balik vena. Tekanan darah dalam
sikap berdiri dapat menurun dan menimbulkan hipotensi ortostatik. Dalam sikap
berbaring, tekanan darah tidak begitu banyak dipengaruhi.

Perubahan denyut jantung setelah pemberian penghambat ganglion


tergantung tonus semula. Umunya, terjadi takikardi ringan karena jantung
doidominasi tonus parasimpatos. Tetapi bradikardis dapat terjadi bila sebelumnya
denyut jantung tinggi.

2.2.6 Obat Penghambat Ganglion


Dalam golongan ini termasuk : heksametonium (C6), pentolinium (C5),
tetraetilamonium (TEA), klorisondamin, mekamilammin dan trimetafan. Berbeda
dengan penghambatan obat-obat tersebut tidak didahului oleh suatu perangsangan.
Hambatan ini terjadi secara kompetitif dengan menduduki reseptor asetikolin.
Penglepasan asetikolin dari ujung serat prasinaps tidak diganggu.
Sakuran cerna dan sakuran kemih. Sekresi lambung jelas berkurang sesuai
pengobatan dengan c6; begitu juga sekresi pankreas serta air liur. Tonus dan
peristalsis lambung, usus kecil serta kolon ditambah sehingga keinginan untuk
defekasi tidak ada.

Farmakokinetik
Absorpsi oral dari obat golongan ini sangat tidak teratur karena senyawa-senyawa
tersebut tergolong dalam amunium kuaterner yang suka melewati membran sel.
Selain itu hambatan pengosonangan lambung dalap memperlambat absopsi
diselangi dengan episode penyerahan dalam jumlah besar akibat beberapa dosis
obat sekaligus masuk usus hakus dari lambung. Oleh karena itu dosis sukar sekali
ditetapkan.prngrcualian untuk ini ialah kamilamin yang diserap secara lengkap oleh
usus, terutama karena sebagai obat ini dieksresi dalam lumen usus melalui empedu
dan diserap kembali. Selain itu mekanisme bukan suatu amonium kuartener
sehingga dapat melewati sawar darah otak dan ssawar uri. Walaupun absopsi
mekamilamin tetap baik, tetapi ada bahaya penurunan aktivitas usus dengan akibat
paralisis di hati dan ginjal dan masa kerjanya relatif lama. Sebagian besar obat
gangliolitik dieksresi oleh ginjal dalam bentuk asal sehingga akumulasi dapat
timbul pada gagal ginjal.

Efek samping
Karena efek farmakodinamiknya yang luas,maka obat ganglionik menimbulkan
efek samping yang sangat menggangu. Reaksi yang paling mengganggu dan
mungkin berbahaya ialah hipotensi ortostatik, sembelit dengan kemungkinan ieus
paralitik dan retensi urine. Hipotensi ortostatik pada pengobatan hipertensi berat
dapat mencetuskan gagal jantung kiri yang fatal.