Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dalam proses belajar mengajar, perlu adanya suatu evaluasi untuk mengetahui
apakah materi yang telah diajarkan pada waktu atau bab sebelumnya benar-benar
dipahami oleh siswa atau tidak. Proses evaluasi juga dapat digunakan sebagai alat
ukur pada kualitas proses mengajar guru/pendidik.

Suatu kualitas dari kinerja pendidik dikatakan baik jika materi yang disampaikan
dapat diterima dengan baik pula oleh siswa. Untuk mengetahui seberapa jauh siswa
memahami materi, maka dilakukan evaluasi dalam bentuk tes atau ujian.

Ujian dilakukan secara berkala saat materi yang diberikan sudah selesai. Selain
itu, tes juga dapat diberikan sebagai bahan seleksi untuk menentukan kelayakan siswa
dapat naik ke tingkat/jenjang yang lebih tinggi. Hasil dari suatu tes tak selalu sesuai
dengan pemahaman siswa atau kualitas kinerja guru. Hal tersebut kemungkinan
dipengaruhi oleh faktor-faktor atau kesalahan pada proses pembuatan soal tes.

Untuk meminimalisir suatu kesalahan dari proses pembuatan soal, maka perlu
diketahui terlebih dahulu kriteria soal yang baik serta langkah-langkah dalam
menyusun soal. Selain dalam proses penyusunan soalnya, proses penentuan hasil atau
pemberian nilai harus benar-benar sesuai dengan keadaan. Hal ini dimaksudkan,
dalam proses penilaian, pendidik harus melakukannya dengan obyektif tanpa memberi
unsur subyektif pada hasilnya. Dengan begitu, hasil tes dapat dikatakan relevan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan tes?


2. Apa saja yang termasuk dalam bentuk-bentuk tes?
3. Bagaimana cara mengembangkan tes?
4. Apa saja kriteria tes yang baik?

C. Tujuan Makalah
1. Mengetahui pengertian tes
2. Mengetahui bentuk-bentuk tes
3. Mengetahui cara mengembangkan tes
4. Mengetahui kriteria tes yang baik

1
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Tes

Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk
mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek yang berupa kecakapan peserta didik,
minat, motivasi dan sebagainya. Tes merupakan bagian tersempit dari penilaian. Menurut
Djemari (2008: 67) tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan
seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau
pertanyaan. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar yang bersifat hard skills.

B. Bentuk-Bentuk Tes

Bentuk tes di lihat dari segi sistem penskorannya dapat dikategorikan menjadi dua,
yaitu tes objektif dan tes subjektif. Tes objektif adalah tes yang penskorannya bersifat
objektif, yaitu hanya dipengaruhi oleh objek jawaban atau respons peserta tes. Tes
subjektif adalah tes yang penskorannya selain dipengaruhi oleh jawaban atau respons
peserta tes juga dipengaruhi oleh subjektivitas pemberi skor. Berikut ini adalah
subjektivitas yang dapat memengaruhi hasil penskoran hasil tes meliputi:

1. Ketidakkonsistenan Penilai (Rater unreliability)

Kondisi penilai baik fisik maupun psikis akan mempunyai pengaruh terhadap
skoring jawaban siswa. Guru yang sedang sakit akan berbeda menilai jawaban siswa
dengan guru yang sehat. Kondisi psikis guru yang sedang mengahadapi banyak
persoalan juga akan mempengaruhi pemberian skor jawaban tes. Oleh karena itu,
ketidakstabilan kondisi penilai (rate) akan mengurangi tingkat reliabilitas skor .

2. Hallo Effect

Kesan guru terhadap siswa sebelumnya akan dapat memengaruhi skor hasil tes
siswa. Contohnya siswa yang berperilaku baik akan mendapatkan nilai yang baik,
sebaliknya siswa yang berperilaku buruk akan mendapatkan nilai yang kurang baik.

3. Pengaruh Urutan Pemeriksaan (Order Effect)

Urutan pemeriksaan terhadap lembar jawaban siswa kadang-kadang dapat


memengaruhi skor tes. Urutan Guru cenderung akan memberi skor yang lebih tinggi
pada lembar jawaban tes yang diperiksa setelah lembar jawaban sebelumnya
mempunyai skor yang tinggi dan sebaliknya..
4. Pengaruh Bentuk Tulisan dan Bahasa (Mechanic and Language Effect)

Bentuk tulisan yang sulit dibaca guru dan penggunaan bahasa yang sulit dipahami
oleh guru akan mengurangi skor yang diberikan.

Bentuk tes objektif yang sering digunakan adalah bentuk pilihan ganda, benar salah,
menjodohkan, dan uraian objektif. Tes uraian dapat dibedakan uraian objektif dan uraian

2
subjektif. Tes uraian objektif sering digunakan pada bidang sains dan teknologi atau
bidang sosial yang jawaban soalnya sudah pasti, dan hanya satu jawaban yang benar
misalnya mata pelajaran matematika, fisika, kimia, biologi, dan sebagainya. Tes uraian
subjektif sering digunakan pada bidang ilmu-ilmu sosial, yaitu yang jawabannya luas dan
tidak hanya satu jawaban yang benar, tergantung argumentasi yang diberikan oleh
peserta tes. Biasanya penggunaan tes uraian subjektif terdapat pada mata pelajaran
sejarah, ekonomi, geografi, PPKn, dan lain sebagainya.

Dari berbagai macam bentuk tes, tidak ada bentuk tes yang paling baik untuk semua
mata pelajaran untuk semua aspek hasil belajar, maupun untuk semua tujuan tes.
Pemilihan bentuk tes yang tepat ditentukan oleh karakteristik mata pelajaran dan aspek
hasil belajar peserta didik yang diujikan, tujuan tes, jumlah peserta tes, waktu yang
tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes, cakupan materi tes.

C. Tes Objektif

Tes objektif adalah bentuk tes yang kemungkinan jawabannya telah disediakan oleh
penyusun soal sehingga peserta hanya memilih alternatif jawaban yang telah disedikan.
Dengan demikian pemeriksaan atau penskoran jawaban/respons peserta tes sepenuhnya
dapat dilakukan secara objektif oleh pemeriksa. Pekerjaan tersebut juga dapat dilakukan
oleh mesin, misalnya mesin scanner.

a. Kelebihan Tes Objektif

1) Lebih representatif mewakili isi dan luas bahan.

2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci
jawaban bahkan mesin scanner.

3) Tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi

4) Pemeriksaannya dapat diserahkan orang lain

b. Kelemahan Tes Objektif

1) Membutuhkan persiapan yang lebih sulit karena butir soalnya banyak.

2) Butir-butir soal cenderung hanya mengungkap ingatan (recalling) sehingga sukar


untuk mengukur kemampuan berpikir yang tinggi seperti sintesis maupun
kreativitas.

3) Banyak kesempatan bagi siswa untuk spekulasi atau untung-untungan (guessing)


dalam menjawab soal tes.

4) Kesempatan kerjasama antar siswa lebih besar pada waktu mengerjakan soal.

3
c. Cara Mengatasi Kelemahan

1) Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan jalan banyak berlatih
menyusun soal tes secara terus-menerus, sehingga semakin lama semakin terampil.

2) Menggunakan tabel spesifikasi untuk mengatasi kelemahan antar nomor.

3) Menggunakan standar penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan (guessing)


yang bersifat spekulatif.

Secara umum ada tiga tipe tes objektif, yaitu:

1. Tipe Benar-Salah (True-False Test)

Tes tipe benar salah adalah tes yang butir soalnya terdiri dari pernyataan yang
disertai dengan alternatif jawaban atau pernyataan benar dan salah. Cara menjawab
soal tipe benar salah yaitu dengan cara melingkari atau menyilang huruf "B" jika
jawaban atau pernyataan itu dianggap benar atau pada huruf "S" jika jawaban atau
pernyataan itu dianggap salah.

Contoh:

B - S Gaya sentripetal adalah gaya yang arahnya selalu menuju pusat lingkaran.

a. Kelebihan Tipe Benar-Salah

1) Dapat mewakili pokok bahasan atau materi pelajaran yang lebih luas

2) Tidak banyak membutuhkan lembar soal karena biasanya pernyataannya


singkat.

3) Mudah penyusunannya.

4) Mudah diskor.

5) Merupakan instrumen yang baik untuk mengukur fakta dan hasil belajar
langsung, terutama yang berkaitan dengan ingatan.

b. Kekurangan Tipe Benar-Salah

1) Hanya dapat menguji hasil belajar langsung yang berbentuk ingatan dan
pengenalan kembali (recalling).

2) Mendorong peserta tes untuk menebak jawaban.

c. Cara Mengolah skor Tes Tipe Benar-salah

Rumus untuk mencari skor dalam tes tipe benar-salah ada 2 macam, yaitu:

1) Sistem Denda

4
Rumus : Sk= B-S
dengan ketentuan: Sk = skor yang diperoleh peserta tes

B = jumlah jawaban yang benar

S = jumlah jawaban yang salah

Contoh:

Jumlah soal tes 100 butir soal Ani dapat menjawab dengan benar sejumlah 80
butir soal, jawaban yang salah berumlah 20 butir soal dan 10 butir soal tidak
dikerjakan. Maka skor untuk Ani adalah 80-20 = 60.

Kelebihan sistem denda akan mengurangi kemungkinan peserta tes untuk


berspekulasi (untung-untungan) dalam menjawab soal tes. Kelemahannya ada
kemungkinan seorang peserta tes memperoleh skor negative.

2) Sistem Tanpa Denda

Rumus : Sk = B
dengan ketentuan: Sk = skor yang diperoleh peserta tes

B = jumlah jawaban yang benar.

Apabila jawaban Ani dalam contoh di atas menggunakan sistem tanpa denda,
maka Ani memperoleh skor 80.

Kekurangan sistem tanpa denda adalah mendorong peserta tes untuk


berspekulasi (untung-untungan) dalam menjawab soal tes, namun kelebihannya
adalah tidak ada peserta tes yang memperoleh skor negatif.

2. Tipe Menjodohkan (Matching Test)

Tes menjodohkan disebut juga tes memasangkan atau mencocokkan


pertanyaan/pernyataan dan jawaban. Tugas peserta tes adalah mencari dan
menjodohkan jawaban-jawaban, sehingga sesuai atau cocok dengan
pertanyaan/pernyataan. Contoh:

Pasangkanlah pernyataan yang ada pada lajur kiri dengan pernyataan yang ada pada
lajur kanan.

1. Satuan suhu a. Candela (Cd)

2. Satuan intensitas cahaya b. Mol

3. Satuan jumlah zat c. Ampere (A)

d. Kelvin (K)

5
Cara menjawab butir soal di atas dapat ditulis "huruf" yang ada di depan nama
satuan yang dipilihnya, misalnya:

Satuan suhu: (d)

a. Kelebihan Tipe Menjodohkan

1) Baik untuk menguji hasil belajar yang berhubungan dengan pengetahuan


istilah, definisi, peristiwa atau penanggalan.

2) Dapat menguji kemampuan menghubungkan dua hal

3) Penyusunan soal lebih mudah

4) Pokok bahasan dan sub-pokok bahasan dapat terwakili secara merata.

5) Mudah dinilai

b. Kelemahan tes tipe ini adalah

Tipe menjodohkan terlalu mengandalkan pada pengujian aspek ingatan.


Kelemahan ini dapat dihindari dengan penyusunan butir soal harus dipersiapkan
secara hati-hati.

c. Cara mengolah skor tipe tes menjodohkan

Rumus : Sk = B

dengan ketentuan: Sk = skor yang diperoleh peserta tes

B = jumlah jawaban yang benar

d. Prinsip Penyusunan Tes Tipe Menjodohkan

1) Kelompok pernyataan di sebelah kiri dan kelompok jawaban di sebelah kanan


masing-masing haruslah terdiri dari kelompok yang homogen.

2) Kelompok jawaban (kanan) harus lebih banyak dari kelompok pernyataan


(kiri) untuk memudahkan penyediaan lembaran jawaban yang seragam.

3. Tipe Pilihan Ganda (Multiple Choice Test)

Tes pilihan ganda adalah tes di mana setiap butir soalnya memiliki jumlah
alternatif jawaban berkisar antara 2 sampai 5. Tipe tes ini adalah yang paling populer
dan banyak digunakan dalam kelompok tes objektif karena banyak sekali materi yang
dapat dicakup.

Setiap tes pilihan ganda terdiri dari dua bagian, yaitu: (1) pernyataan atau
pertanyaaan disebut juga stem, dan (2) alternative pilihan jawaban atau disebut juga

6
option. Di antara pilihan ini ada satu jawaban yang benar atau paling benar sebagai
kunci (key). Pilihan di luar yang benar atau yang paling tepat berfungsi sebagai
pengecoh (distractors). Contoh tipe soal pilihan ganda:

Sebuah benda yang melakukan gerak rotasi dengan percepatan sudut tetap, besar
momen gayanya akan…..

a. Sebanding dengan momen inersianya

b. Lebih besar dari momen inersianya

c. Lebih kecil dari momen inersianya

d. Berbanding terbalik dengan momen inersianya

e. Dua kali lebih besar dari momen inersianya

Berikut ini adalah uraian singkat tentang variasi lain atau modifikasi dari tes
pilihan ganda.

 Pilihan Ganda Analisis Hubungan Antar-Hal

Pilihan ganda hubungan antar-hal terdiri dari dua pernyataan. Kedua


pernyataan tersebut dihubungkan oleh kata “SEBAB". Jadi ada dua kemungkinan
hubungan antara kedua pernyataan tersebut, yaitu ada hubungan sebab akibat atau
tidak ada hubungan sebab akibat. Kemampuan lain yang dites yaitu apakah
pernyataan pertama benar atau salah dan apakah pernyataan kedua benar atau
salah. Aturan penyelesaian soal hubungan antar-hal sebagai berikut:

A. Pernyataan benar, alasan benar, keduanya menunjukkan hubungan sebab


akibat

B. Pernyataan benar, alasan benar, keduanya tidak me nunjukkan hubungan sebab


akibat

C. Pernyataan benar alasan salah

D. Pernyataan salah alasan benar

E. Pernyataan dan alasan salah

Contoh :

Besar gaya normal pada sebuah benda yang terletak pada sebuah bidang selalu
sama dengan berat benda itu
SEBAB
Gaya aksi sama besar dan berlawanan arah dengan gaya reaksi
Pada contoh di atas pernyataan salah dan alasan benar maka jawabannya
adalah "D".

7
 Pilihan Ganda Analisis Kasus

Pada tes bentuk pilihan ganda analisis kasus peserta tes dihadapkan pada suatu
kasus. Kasus ini disajikan dalam bentuk cerita, peristiwa dan sejenisnya. Kepada
peserta tes diajukan beberapa pertanyaan. Setiap pertanyaan dibuat dalam bentuk
melengkapi pilihan. Contoh:

Ketika sebuah mesin mengangkat lift, atau martil memukul paku, atau angin
meniup daun-daun pada sebuah pohon, berarti sebuah …. sedang diberikan.

a. energy d. gaya

b. kerja e. usaha

c. daya

 Pilihan Ganda Asosiasi

Dalam pilihan ganda asosiasi ini jawaban yang benar dapat lebih dari satu,
mungkin 2, 3 atau 4. Contoh:

Petunjuk Pilihan:

A. Jika (1), (2), dan (3) benar

B. Jika (1), dan (3) benar

C. Jika (2), dan (4) benar

D. Jika hanya (4) yang benar

E. Jika semuanya benar

Kalor yang mengalir per satuan waktu melalui suatu konduktor

(1) sebanding dengan luas penampang konduktor

(2) sebanding dengan selisih suhu antara kedua ujung-ujungnya

(3) berbanding terbalik dengan panjang konduktor

(4) tergantung pada macam konduktor

 Pilihan Ganda dengan Diagram, Grafik, Tabel dan sebagainya

Bentuk soal tes ini mirip analisis kasus, baik struktur maupun pola
pertanyaannya. Bedanya dalam tes bentuk ini tidak disajikan kasus dalam bentuk
cerita atau peristiwa, tetapi kasus tersebut berupa diagram, gambar, grafik maupun
tabel. Contoh:

Resultan ketiga vektor gaya pada gambar berikut adalah ….

8
A. 125 N D. 50 N

B. 100 N E. 25 N

C. 70 N

a. Kelebihan Tes Pilihan Ganda

1) Butir soal tes pilihan ganda dapat digunakan untuk mengukur segala level
tujuan pembelajaran, mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang
paling kompleks.

2) Pokok bahasan yang akan diujikan dapat lebih luas.

3) Penilaian hasil tes dapat dilakukan secara objektif.

4) Dapat mengurangi keinginan peserta tes untuk menebak karena pilihan


jawaban lebih dari 2.

5) Tingkat kesukaran butir soal dapat diatur, dengan hanya mengubah tingkat
homogenitas alternatif jawaban.

b. Kekurangan Tes Pilihan Ganda

1) Relatif lebih sulit dalam penyusunan butir soal terutama untuk menemukan
alternatif jawaban yang homogeny dapat digunakan untuk mengukur
kemampuan peserta tes.

2) Ada kecenderungan bahwa guru menyusun butir soal tipe ini dengan hanya
menguji atau mengukur aspek ingatan.

3) Adanya pengaruh kebiasaan peserta tes terhadap tes bentuk pilihan ganda
(testuise) terhadap hasil tes peserta. Jadi makin terbiasa seseorang dengan
bentuk tes tipe pilihan ganda makin besar kemungkinan ia akan memperoleh
skor yang lebih tinggi.

c. Cara Mengolah skor Tes Pilihan Ganda

1) Sistem Denda

Rumus : Sk = B – (S / (P-1))

9
dengan ketentuan: Sk = skor yang diperoleh peserta tes

B = jumlah jawaban yang benar

S = jumlah jawaban yang salah

P = banyaknya pilihan (option)

1 = bilangan tetap

Kelebihan sistem denda akan mengurangi kemungkinan peserta tes untuk


berspekulasi (untung-untungan) dalam menjawab soal tes, namun
kelemahannya ada kemungkinan seorang peserta tes memperoleh skor negatif.

2) Sistem Tanpa Denda

Rumus : Sk = B
dengan ketentuan : Sk = skor yang diperoleh peserta tes

B = jumlah jawaban yang benar

Kekurangan sistem tanpa denda adalah mendorong peserta tes untuk


berspekulasi (untung-untungan) dalam menjawab soal tes, namun
kelebihannya adalah tidak ada peserta tes yang memperoleh skor negative.

d. Pedoman Penyusunan Tes Pilihan Ganda

1) Inti permasalahan harus dicantumkan dalam rumusan pokok soal, sehingga


dengan membaca pokok soal siswa sudah dapat menentukan jawaban sebelum
dilanjutkan membaca pilihan jawaban.

2) Hindari pengulangan kata-kata yang sama dalam pilihan. Peniadaan


pengulangan kata berarti menyangkut waktu menulis dan membaca serta
menghemat tempat.

3) Hindari rumusan kata yang berlebihan. Rumusan yang baik adalah rumusan
yang berisi, padat dan jelas.

4) Kalau pokok soal merupakan pernyataan yang belum lengkap, maka kata atau
kata-kata yang melengkapi harus diletakkan pada ujung pernyataan, bukan di
tengah-tengah kalimat.

5) Susunan alternatif jawaban dibuat teratur dan sederhana. Cara menyusun


alternatif jawaban disusun berderet dari atas ke bawah. Kalau yang dideretkan
itu terdiri dari satu kata, urutan ke bawah dibuat berdasarkan alfabet. Kalau
yang dideretkan bilangan, urutan ke bawah berdasarkan bilangan yang makin
bertambah besar atau makin menurun atau diurutkan berdasarkan panjang
kalimat.

10
6) Semua pilihan jawaban harus homogen dan dimungkinkan sebagai jawaban
yang benar.

7) Hindari jawaban yang benar selalu ditulis lebih panjang dari jawaban yang
salah. Ada kecenderungan peserta tes memilih jawaban yang lebih panjang dan
lebih terinci sebagai jawaban yang benar. Oleh karena itu, penyusun butir soal
tes berusaha agar pengecoh dan jawaban yang benar ditulis sama panjang
dengan rincian yang sama.

8) Hindari adanya petunjuk/indikator pada jawaban yang benar.

9) Gunakan tiga atau lebih alternatif pilihan jawaban. Kalau hanya dua pilihan
bentuk ini sama dengan bentuk benar-salah. Dua pilihan berarti tebakannya
tinggi sedangkan kalau lima pilihan faktor tebakan menurun yaitu 20 persen.

10) Pokok soal diusahakan tidak menggunakan ungkapan atau kata-kata yang
bermakna tidak pasti, misalnya: kebanyakan, sering kali, kadang-kadang dan
sejenisnya.

11) Pokok soal sedapat mungkin dalam pernyataan atau pertanyaan positif. Jika
terpaksa menggunakan pernyataan negatif maka kata negatif digaris bawahi,
cetak miring atau ditulis tebal.

D. Tes Subjektif

Tes subjektif, pada umumnya berbentuk uraian (esai) yakni butir soal yang
mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus
dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes (Asmawi Zaenul dan Noehi
Nasution 2005: 37). Ciri-ciri pertanyaannya didahului dengan kata-kata seperti: uraikan,
jelaskan, bandingkan, mengapa, bagaimana, simpulkan dan sebagainya (Suharsimi
Arikunto. 2008: 162)

Jumlah butir soal dalam tes uraian biasanya hanya sekitar 5-10 butir soal dalam
waktu kira-kira 90 s.d. 120 menit. Soal-soal bentuk uraian ini menuntut kemampuan
peserta tes untuk dapat mengorganisir, menginterpretasi, dan menghubungkan
pengertian-pengertian yang dimiliki sehingga peserta tes harus mempunyai daya
kreativitas yang tinggi.

Berdasarkan tingkat kebebasan peserta tes untuk menjawab soal tes uraian, secara
umum tes uraian dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu: tes uraian bebas atau uraian
terbuka (extended response) dan tes uraian terbatas (restricted response)

1. Tes Uraian Bebas (Extended Response Test)

Tes uraian bebas merupakan bentuk tes uraian yang memberi kebebasan kepada
peserta tes untuk mengorganisasikan dan mengekspresikan pikiran dan gagasannya
dalam menjawab soal tes. Jawaban peserta tes bersifat terbuka, fleksibel dan tidak
terstruktur.

11
Contoh:

a. Jelaskan mengenai “Energi Potensial” benda!

b. Jelaskan macam-macam gelombang menurut arah rambatnya!

Untuk menjawab butir soal di atas dengan baik, peserta tes harus mengingat
konsep dari energi potensial dan macam-macam gelombang. Setelah itu ia harus
mengorganisasikan dan menyusun jawaban dalam suatu urutan yang logis dan dengan
menggunakan gaya bahasanya sendiri yang dapat dipahami oleh orang lain.

2. Tes Uraian Terbatas (Restricted Response Test)

Tes uraian terbatas merupakan bentuk tes uraian yang memberi batasan-batasan
atau rambu-rambu tertentu kepada peserta tes dalam menjawab soal tes yang
mencakup format, isi, dan ruang lingkup jawaban.

Contoh:

Tumbukan dapat dibedakan menjadi tiga jenis, jelaskan pengertian dan perbedaan dari
masing-masing jenis tumbukan tersebut serta berikan contoh untuk salah satu jenis
tumbukan!

Untuk menjawab butir soal di atas peserta tes tidak dapat memilih dengan bebas
penyajiannya. Ia harus mengikuti instruksi butir soal untuk menjawab. Tetapi peserta
tes tetap memiliki kebebasan untuk menjawab menurut pola kognitifnya sendiri dan
mengekspresikan dalam gayanya sendiri.

Ada beberapa ragam tes uraian terbatas, antara lain ragam tes melengkapi dan
ragam tes jawaban singkat.

 Tipe Jawaban Melengkapi

Yang dimaksud dengan tipe jawaban melengkapi adalah butir soal yang
memerintahkan kepada peserta tes untuk melengkapi kalimat dengan satu frasa,
angka, atau satu formula.

Contoh:

i) Alat yang digunakan untuk mengukur diameter cincin adalah …………

ii) Alat yang digunakan untuk mengukur suhu disebut………….

Tipe butir soal melengkapi baik untuk menguji kemampuan mengingat fakta dan
prinsip yang sederhana selain itu juga dapat digunakan untuk menguji kemampuan
pada tingkatan yang lebih tinggi seperti pemahaman, aplikasi dan evaluasi asalkan
disusun secara hati-hati.

 Tipe Jawaban Singkat

12
Yang dimaksud dengan tipe jawaban singkat adalah butir soal berbentuk
pertanyaan yang dapat dijawab dengan satu kata, satu frasa, satu angka atau satu
formula.

Contoh:

Berapakah jenis-jenis tumbukan?

Butir soal tipe ini termasuk tipe yang paling mudah disusun karena butir soal
ini hanya mengukur hasil belajar yang sederhana, yaitu ingatan. Keterbatasan
utama butir soal tipe ini yaitu tidak dapat mengukur hasil belajar yang kompleks
dan hanya menghasilkan respons singkat yang sederhana.

a. Pedoman Penyusunan Tes Uraian

Untuk menghasilkan butir soal tes uraian yang baik, bagi penyusun tes diharapkan
memerhatikan hal-hal berikut:

a) Butir soal tes hendaknya meliputi ide-ide pokok dari materi yang diujikan dan
mampu mewakili materi pokok dalam mata pelajaran yang diujikan.

b) Sebaiknya butir soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari
buku atau catatan, karena akan cenderung mendorong siswa hanya menghafalkan
materi ujian.

c) Pada waktu menyusun butir soal sudah dilengkapi dengan kunci jawaban serta
pedoman penskorannya. Sehingga reliabilitas soal dapat ditingkatkan dan
subjektivitas penilaian dapat dikurangi.

d) Hendaknya pertanyaan tes bervariasi antara "jelaskan, mengapa, bagaimana,


uraikan, bandingkan” agar tingkat penguasaan siswa terhadap bahan ujian dapat
diketahui.

b. Kelebihan Tes Uraian

a) Dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks, seperti kemampuan
mengaplikasikan prinsip, kemampuan menginterpretasikan hubungan, kemampuan
merumuskan kesimpulan dan sebagainya.

b) Meningkatkan motivasi belajar peserta tes dibandingkan bentuk tes objektif.

c) Mudah disiapkan dan disusun, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi
guru untuk menyiapkannya.

d) Tidak banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan, sehingga


peserta tes dituntut untuk betul-betul memikirkan jawaban yang dibutuhkan.

e) Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat.

c. Kekurangan Tes Uraian


13
a) Reliabilitas tes rendah. Artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten
bila tes yang sama atau tes paralel diuji beberapa kali.

b) Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memeriksa lembar jawaban.

c) Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan.

d) Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling utama
untuk membedakan prestasi belajar antar siswa.

d. Penggunaan Tes Uraian

Tes uraian sangat baik digunakan apabila :

a) Jumlah peserta tes relatif sedikit, misalnya kurang dari 100 orang.

b) Waktu yang dimiliki guru untuk mempersiapkan soal sangat terbatas, sedangkan ia
mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa hasil ujian.

c) Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan


pikiran dalam bentuk tulisan, menguji kemampuan menulis dengan baik atau
kemampuan penggunaan bahasa tulis.

d) Untuk memperoleh hasil pengalaman belajar siswa, maka tes uraian merupakan
salah satu bentuk yang paling tepat untuk mengukur pengalaman belajar tersebut.

E. Pengembangan Tes

Ada sembilan langkah yang perlu ditempuh dalam mengembangkan tes hasil belajar
(Djemari Mardapi. 2008: 88- 97). Kesembilan langkah tersebut adalah:

1. Menyusun Spesifikasi Tes

Langkah awal dalam mengembangkan tes adalah menetapkan spesifikasi tes,


yaitu uraian yang menunjukkan karakteristik apa saja yang harus dimiliki suatu tes.
Penyusunan spesifikasi tes mencakup kegiatan:

a. Menentukan Tujuan Tes

Ditinjau dari segi tujuannya ada empat macam tes yang banyak digunakan
di lembaga pendidikan, yaitu tes penempatan, tes diagnostik, tes formatif, dan
tes sumatif.

Tes penempatan adalah tes yang dilaksanakan pada awal pelajaran untuk
mengetahui tingkat kemampuan yang dimiliki peserta didik.

Tes diagnostik berguna untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi


peserta didik. Tes ini dilakukan apabila diperoleh informasi bahwa sebagian
besar peserta didik gagal dalam mengikuti proses pembelajaran.

14
Tes formatif bertujuan untuk memperoleh masukan tentang tingkat
keberhasilan belajar dan pelaksanaan proses pembelajaran. Masukan ini berguna
untuk memperbaiki strategi mengajar.

Tes sumatif diberikan di akhir suatu pelajaran atau akhir semester. Hasilnya
untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didik untuk mata pelajaran
tertentu.

b. Menyusun Kisi-kisi Tes

Kisi-kisi ini merupakan acuan bagi penulis soal, sehingga siapa pun yang
menulis soal akan menghasilkan soal yang isi dan tingkat kesulitannya relatif
sama. Matrik kisi-kisi soal terdiri dari dua jalur, yaitu kolom dan baris. Kolom
menyatakan kompetensi dasar dan indikator, pokok dan subpokok bahasan,
serta materi. Sedangkan baris menyatakan tujuan yang akan diukur dalam tes.

Ada empat langkah dalam mengembangkan kisi-kisi tes, yaitu:

1) Menulis standar kompetensi dan kompetensi dasar

2) Menentukan indikator

3) Membuat daftar pokok bahasan subpokok bahasan yang akan diujikan.

4) Menentukan jumlah butir soal tiap pokok bahasan dan subpokok bahasan

Sumber utama standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pokok


bahasan dan subpokok bahasan adalah silabus mata pelajaran. Tujuan yang
ingin dicapai disertai dengan informasi tentang pokok dan subpokok bahasan
yang diuraikan dalam bentuk indikator.

Jumlah soal yang digunakan tergantung pada waktu yang tersedia untuk tes
dan materi yang akan diujikan. Pemilihan materi tes biasanya dilakukan dengan
melakukan pemilihan sampel yang mampu mewakili bidang studi, pokok dan
subpokok bahasan yang diujikan.

c. Memilih Bentuk Tes

Pemilihan bentuk tes yang tepat ditentukan oleh tujuan tes, jumlah peserta
tes, waktu yang tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes, cakupan materi,
dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan. Bentuk tes objektif pilihan ganda
dan bentuk tes benar salah sangat tepat digunakan bila jumlah peserta banyak,
waktu koreksi singkat, dan cakupan materi yang diujikan banyak karena lembar
jawaban dapat diperiksa dengan komputer sehingga objektivitas penskoran
dapat dijamin.

Bentuk tes uraian objektif (jawaban singkat dan melengkapi) sering


digunakan pada mata pelajaran yang batasnya jelas, misalnya mata pelajaran

15
matematika, fisika, kimia, biologi, teknik dan sebagainya. Pada tes bentuk
uraian objektif ini sistem penskoran dapat dibuat dengan jelas dan rinci.

d. Menentukan Panjang Tes

Penentuan panjang tes didasarkan pada cakupan materi ujian dan kelelahan
peserta tes. Pada umumnya tes tertulis menggunakan waktu 90 sampai 150
menit, untuk tes praktik bisa lebih dari itu. Penentuan panjang tes berdasarkan
pengalaman saat melakukan tes.

Pada umumnya waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan tes bentuk


pilihan ganda adalah 2 sampai 3 menit untuk tiap butir soal. Hal itu juga
dipengaruhi oleh tingkat kesulitan soal. Untuk tes bentuk uraian, lama tes
ditentukan oleh kompleksitas jawaban yang dituntut. Untuk mengatasi agar
jawaban tidak terlalu panjang, sebaiknya jawaban tes di batasi.

2. Menulis Soal Tes

Penulisan soal merupakan langkah menjabarkan indikator menjadi pertanyaan-


pertanyaan yang karakteristiknya sesuai dengan perincian pada kisi-kisi yang telah
dibuat. Langkah ini perlu dilakukan secara hati-hati agar keseluruhan tes dapat
berkualitas baik. Pertanyaan perlu dikembangkan dan dibuat dengan jelas dan simpel.

3. Menelaah Soal Tes

Setelah soal dibuat, perlu dilakukan telaah atas soal tes tersebut. Hal ini perlu
dilakukan untuk memperbaiki soal apabila masih ditemukan kekurangan atau
kesalahan. Telaah soal ini sebaiknya dilakukan oleh orang lain dan akan lebih baik
lagi jika telaah soal dilakukan oleh sejumlah orang yang terdiri dari para ahli yang
secara bersama-sama dalam tim menelaah dan atau mengoreksi soal.

4. Melakukan Uji Coba Tes

Sebelum soal digunakan dalam tes yang sesungguhnya, uji coba perlu dilakukan
untuk memperbaiki kualitas soal. Uji coba ini dilakukan untuk memperoleh data
empirik tentang tingkat kebaikan soal yang telah disusun. Melalui uji coba dapat
diperoleh data tentang reliabilitas, validitas, tingkat kesukaran, pola jawaban,
efektivitas pengecoh daya beda, dan lain-lain.

5. Menganalisis Butir Soal Tes

Dari uji coba tes yang dilakukan dapat diperoleh beberapa informasi penting
tentang kualitas soal yang telah disusun termasuk kualitas tiap butir soalnya. Melalui
analisis butir ini dapat diketahui antara lain: tingkat kesulitan butir soal, daya
pembeda, serta efektivitas pengecoh.

6. Memperbaiki Tes

16
Setelah dilakukan uji coba dan analisis, langkah berikutnya adalah melakukan
perbaikan-perbaikan tentang bagian soal yang masih belum sesuai dengan yang
diharapkan. Biasanya akan dilakukan tes butir soal untuk memperbaiki masing-
masing butir soal yang masih belum baik.

7. Merakit Tes

Dalam merakit soal, hal-hal yang dapat memengaruhi validitas soal seperti nomor
urut soal, pengelompokan bentuk soal, layout, dan sebagainya harus diperhatikan. Hal
ini sangat penting karena walaupun butir-butir soal yang disusun telah baik, tetapi jika
penyusunannya sembarangan dapat menyebabkan soal tersebut menjadi tidak baik.

8. Melaksanakan Tes

Dalam pelaksanaan tes, diperlukan pemantauan dan pengawasan agar peserta tes
benar-benar mengerjakan tes dengan jujur dan sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.

9. Menafsirkan Hasil Tes

Hasil tes menghasilkan data kuantitatif berupa skor. Skor ini kemudian
ditafsirkan menjadi nilai yang rendah, menengah atau tinggi. Ada dua acuan penilaian
yang sering digunakan dalam bidang psikologi dan pendidikan, yaitu acuan norma dan
acuan kriteria.

Nilai pencapaian belajar dapat digunakan untuk menyusun rencana perbaikan


serta bisa menjadi motivasi bagi peserta didik untuk belajar lebih baik. Nilai juga
merupakan informasi mengenai keberhasilan guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran.

F. Karakteristik Tes yang Baik

Suharsimi Arikunto (2008: 57-62) menyatakan bahwa suatu tes dapat dikatakan baik
apabila memenuhi lima per syaratan, yaitu:

1. Validitas

Alat ukur dikatakan valid apabila alat ukur itu dapat dengan tepat mengukur apa
yang hendak diukur. Dengan kata lain validitas berkaitan dengan “ketepatan". Tes
sebagai salah satu alat ukur hasil belajar dapat dikatakan valid apabila tes itu dapat
dengan tepat mengukur hasil belajar peserta didik.

Contoh:

Untuk mengukur tingkat partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, bukan diukur
melalui skor nilai yang diperoleh ketika ulangan, tetapi dilihat melalui:

 kehadiran;

17
 terpusatnya perhatian pada pelajaran;

 ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru.

Nilai yang diperoleh pada waktu ulangan menggambarkan prestasi belajar peserta
didik. Ada beberapa macam validitas, yaitu validitas logis (logical validity), validitas
isi (content validity), validitas konstruk (conctruct validity), validitas ramalan
(predictive validity).

Untuk tes hasil belajar, aspek validitas yang paling penting adalah validitas isi
yakni ukuran yang menunjukkan sejauh mana penguasaan peserta tes dalam bidang
studi yang diuji melalui perangkat tes tersebut.

2. Reliabilitas

Kata reliabilitas diambil dari bahasa Inggris yang artinya dapat dipercaya. Suatu
tes dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap atau konsisten apabila
diteskan berkali-kali.

Tetap tidak selalu harus sama, tetapi mengikuti perubahan secara tetap. Jika
keadaan A mula-mula berada lebih rendah dibandingkan dengan B, maka jika
diadakan pengukuran ulang, si A tetap berada lebih rendah dari B. Itulah yang
dikatakan tetap, yaitu tetap dalam kedudukan siswa di antara anggota kelompok yang
lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa reliabilitas berhubungan dengan ketetapan.

3. Objektivitas

Objektif berarti tidak ada unsur pribadi yang memengaruhi. Sebuah tes dikatakan
memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes tidak ada faktor subjektif yang
memengaruhi, terutama dalam sistem skoring.

Ada 2 faktor yang memengaruhi subjektivitas dari suatu tes, yaitu bentuk tes dan
penilai. Bentuk tes uraian akan memberi banyak kemungkinan terjadi subjektivitas
penilaian. Untuk menghindari masuknya unsur subjektivitas dari penilai, maka perlu
dibuat sistem skoring yang baik. Untuk menghindari atau mengurangi masuknya
unsur subjektivitas dalam penilaian, maka penilaian harus dilaksanakan:

a. Secara kontinu (terus-menerus), sehingga akan diperoleh gambaran yang lebih


jelas tentang keadaan siswa.

b. Secara komprehensif (menyeluruh), yaitu mencakup keseluruhan materi,


mencakup berbagai aspek berpikir dan melalui berbagai cara.

c. Praktikabilitas. Tes yang praktis adalah tes yang:

1) Mudah dilaksanakan, artinya tidak menuntut peralatan yang banyak dan


memberi kebebasan kepada siswa untuk mengerjakan terlebih dahulu
bagian yang dianggap mudah oleh siswa.

18
2) Mudah pemeriksaannya, artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan kunci
jawaban maupun pedoman skoringnya.

3) Dilengkapi dengan petunjuk petunjuk sehingga dapat diberikan oleh orang


lain.

4. Ekonomis

Yang dimaksud dengan ekonomis disini adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut
tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.

19
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk
mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek yang berupa kecakapan peserta
didik, minat, motivasi dan sebagainya.
2. Bentuk tes di lihat dari segi sistem penskorannya dapat dikategorikan menjadi
dua, yaitu tes objektif dan tes subjektif. Tes objektif adalah tes yang penskorannya
bersifat objektif, yaitu hanya dipengaruhi oleh objek jawaban atau respons peserta
tes. Tes subjektif adalah tes yang penskorannya selain dipengaruhi oleh jawaban
atau respons peserta tes juga dipengaruhi oleh subjektivitas pemberi skor.
3. Ada sembilan langkah yang perlu ditempuh dalam mengembangkan tes hasil
belajar. Kesembilan langkah tersebut adalah:
1. Menyusun Spesifikasi Tes
2. Menulis Soal Tes
3. Menelaah Soal Tes
4. Melakukan Uji Coba Tes
5. Menganalisis Butir Soal Tes
6. Memperbaiki Tes
7. Merakit Tes Melaksanakan Tes
8. Menafsirkan Hasil Tes
4. Kriteria tes yang baik adalah sebagai berikut :
1. Validitas
2. Reliabilitas
3. Objektivitas
4. Ekonomis
B. Saran

Kami menyadari bahwa penulisa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Kedepannya, kami (penulis) akan lebih focus dan detail dalam menjelaskan tentang isi
makalah diatas dengan sumber-sumber yang lebih lengkap dan dapat
dipertanggungjawabkan.

20
DAFTAR PUSTAKA
 Widyoko, Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
 https://mafiadoc.com/soal-soal-fisika-pilihan-ganda-hogasaragihwordpresscom-
_598642221723ddd169540abf.html 8 Oktober 2017

21