Anda di halaman 1dari 3

Materi Tekhnik Persidangan

Oleh: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tulungagung

A. Pengantar
Persidangan merupakan suatu kegiatan yang selalu ada dalam setiap organisasi. Sebelum
kita membahas tentang persidangan terlebih dahulu kita harus fahami beberapa istilah yang
terkadang membuat rancu definisi atau makna dari persidangan diantaranya diskusi, dialog, rapat,
seminar, simposium, lokakarya.
Diskusi atau dialog adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara
bersama sama guna memecahkan suatu permasalahan dengan jalan saling “adu” argumentasi
dalam memberikan saran, usulan, dan atau solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Dalam
memberikan setiap argumentasi yang harus dikedepankan adalah kebenaran dan obyektifitas
serta dilakukan dengan cara yang sopan, arif dan bijaksana.
Rapat adalah suatu pertemuan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau kepanitiaan dalam
rangka membahas agenda yang telah ditetapkan.
Seminar atau simposium adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk membahas suatu
topik, dengan mendatangkan pemateri yang relevan dengan topik yang sedang dibahas.
Lokakarya adalah suatu pertemuan yang dilakukan oleh suatu organisasi dengan tujuan
untuk merumuskan program kerja yang harus dilakukan.

B. Persidangan
Persidangan adalah suatu forum yang bertujuan untuk menghasilkan keputusan- keputusan
dan ketetapan–ketetapan tentang berbagai hal sesuai dengan agenda yang telah ditetapkan.
Perbedaan pokok antara persidangan dengan forum-forum lain seperti tersebut di atas
adalah terletak pada out put yang dihasilkan. Kalau dalam diskusi, dialog, rapat, seminar,
simposium, lokakarya dll out put yang dihasilkan hanya berupa kesimpulan. Tetapi kalau dalam
persidangan out put yang dihasilkan adalah keputusan dan ketetapan yang sifatnya mengikat dan
harus dipertanggungjawabkan secara konstitusi atau hukum.

C. Jenis - Jenis Persidangan


1. Sidang Pleno/Paripurna, merupakan sidang yang diikuti seluruh peserta sidang.
2. Sidang Komisi, merupakan sidang yang hanya diikuti oleh peserta sidang komisi yang
ditentukan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Peserta sidang komisi diambilkan dari
peserta sidang pleno sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Hasil dari sidang komisi
selanjutnya dibawa ke sidang pleno untuk dibahas dan atau ditetapkan.
3. Sidang Sub Komisi, merupakan sidang yang hanya diikuti oleh peserta sidang sub komisi.
Peserta sidang sub komisi diambilkan dari peserta sidang komisi yang terkait sesuai dengan
aturan yang telah ditetapkan. Hasil dari sidang sub komisi selanjutnya dibawa ke sidang komisi
dan atau pleno untuk dibahas dan atau ditetapkan.

D. Komponen - Komponen yang Harus Ada dalam Persidangan


1. Pimpinan sidang adalah orang yang dipilih oleh peserta sidang untuk memimpin dan mengatur
jalannya sidang. Jika pimpinan sidang lebih dari satu orang, maka istilah yang dipakai adalah
Presidium Sidang.
2. Peserta sidang adalah seluruh orang yang secara syah menjadi peserta persidangan
berdasarkan aturan atau tata tertib yang berlaku. Peserta sidang terdiri dari dua macam, yaitu
peserta penuh dan peserta peninjau. Peserta penuh adalah peserta yang mempunyai hak
bicara dan hak suara, sedangkan peserta peninjau hanya mempunyai hak bicara.
3. Palu sidang adalah palu yang dipakai dalam persidangan untuk “mengetuk” setiap keputusan
dan ketetapan yang telah disepakati.
4. Draf materi sidang merupakan kumpulan materi yang akan dibahas dalam persidangan.
5. Ketetapan atau konsideran merupakan bukti secara tertulis dari berbagai ketetapan yang telah
dihasilkan.
E. Jenis – Jenis Pimpinan Sidang
1. Steering Committee, bertugas sebagai pimpinan sidang sementara, untuk membentuk
pimpinan sidang selanjutnya.
2. Pimpinan sidang pleno adalah pimpinan sidang yang bertugas memimpin dan mengatur
jalannya sidang pleno.
3. Pimpinan sidang komisi adalah pimpinan sidang yang bertugas memimpin dan mengatur
jalannya sidang komisi.
4. Pimpinan sidang sub komisi adalah pimpinan sidang yang bertugas memimpin dan mengatur
jalannya sidang sub komisi

E. Istilah dalam Persidangan


1. Pending, adalah menghentikan sidang sejenak dikarenakan terdapat kendala tekhnis atau
prinsip. Contoh ; makan, shalat, kebakaran, dsb.
2. Skorsing, adalah menghentikan sidang sejenak untuk melakukan lobying, dikarenakan sulitnya
mencapai kesepakatan antar peserta sidang yang berseteru.
3. Lobying, merupakan proses diskusi antar peserta sidang diluar pengaturan pimpinan sidang.
4. Pencerahan, merupakan upaya seorang peserta sidang untuk meluruskan kesalahfahaman
yang terjadi antara peserta sidang yang lain.
5. Voting, merupakan prosesi pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak setelah jalan
musyawarah mengalami kebuntuan.
6. Quorum, merupakan syarat sebelum persidangan dimulai, agar keputusan dapat dianggap sah.
7. Interupsi, yaitu memotong pembicaraan orang lain.

F. Interupsi
Secara terminologi interupsi berarti menyela. Kata interupsi hanya dipakai jika peserta
sidang ingin menyampaikan perintah, pendapat, solusi, informasi dll pada saat sedang terjadi
sebuah perdebatan atau diskusi di dalam persidangan.
Macam –Macam Interupsi :
1. Interupsi point of previlage, merupakan interupsi yang digunakan jika peserta sidang ingin
minta ijin kepada pimpinan sidang untuk melakukan hal –hal yang sifatnya pribadi. Misalnya
ijin keluar.
2. Interupsi point of information, merupakan interupsi yang digunakan jika peserta sidang ingin
menyampaikan informasi
3. Interupsi point of order, merupakan interupsi yang digunakan jika peserta sidang ingin
menyampaikan perintah kepada pimpinan sidang dan atau peserta sidang.
4. Interupsi point of justification, merupakan interupsi yang digunakan untuk menguatkan
pendapat sebelumnya.
5. Interupsi point of clarification, merupakan interupsi yang digunakan jika peserta sidang ingin
menyampaikan klarifikasi atau pelurusan terhadap suatu pendapat atau informasi.
6. Interupsi point of solution, merupakan interupsi yang digunakan jika peserta sidang ingin
menyampaikan atau menawarkan suatu solusi.

 Interupsi dilakukan dengan mengangkat tangan terlebih dahulu, dan berbicara setelah
mendapat ijin dari Presidium Sidang.
 Interupsi diatas interupsi hanya berlaku selama tidak menggangu persidangan.
 Apabila dalam persidangan, Presidium Sidang tidak mampu menguasai dan mengendalikan
jalannya persidangan, maka panitia pengarah (SC) diberikan wewenang untuk mengambil alih
jalannya persidangan, atas permintaan presidium sidang dan atau peserta sidang.

G. Teknik Penggunaan Palu Sidang


1. Ketukan 3 X dipakai untuk:
o Membuka sidang
o Menutup sidang
o Menetapkan suatu ketetapan atau konsideran

Contoh kalimat yang dipakai oleh presidium sidang


a. Membuka sidang
“Dengan mengucap Bismilahirahmanirahim, sidang pleno I saya nyatakan dibuka..”
tok…….tok…….tok
b. Menutup sidang
“Dengan mengucap Alhamdulillahriabilalamin, sidang pleno I saya nyatakan ditutup.”
Tok……..tok……..tok

2. Ketukan 2 X dipakai untuk:


o Memindahkan palu sidang
o Menerima palu sidang
o Menetapakan break (istirahat), jika menggunakan perkalian 2. Contoh break 2 x 5 menit.

Contoh kalimat yang dipakai oleh Presidium Sidang


a. Mengalihkan pimpinan sidang
“Dengan ini pimpinan sidang saya alihkan kepada pimpinan sidang berikutnya” tok….tok…”

b. Mengambil alih pimpinan sidang


“Dengan ini pimpinan sidang saya ambil alih “ tok….tok….”

c. Skorsing
“Dengan ini sidang saya skorsing selama 2 kali 15 menit” tok……….tok…”
“Dengan ini skorsing 2 kali 15 menit saya cabut dan saya nyatakan sidang dilanjutkan“
tok…….tok…

3. Ketukan 1 X dipakai untuk:


o Keputusan tiap point
o Menetapkan break, jika menggunakan perkalian 1. contoh break 1 X 5 menit.

4. Ketukan tak beraturan, dipakai untuk memperingatkan peserta sidang jika peserta sedang
gaduh atau ramai
Tok………. “Peserta sidang harap tenang !”

H. Penutup
Dalam mempelajari teknik dan mekanisme persidangan, tidaklah cukup kita memahami
sampai dalam ruangan ini saja, oleh karena itu dalam memahami bentuk dan mekanisme
persidangan yang dibutuhkan adalah ketekunan dan kemauan kita dalam mempelajari semua ini.