Anda di halaman 1dari 8

2.

ISU STRATEGIS
2.1.Analisis Isu Strategis
Isu (utama) strategis disarikan dari potensi dan permasalahan yang muncul di WP-3-K
Provinsi Lampung melalui suatu rangkaian analisis SWOT, dimana analisis ini
berintikan bagaimana memaksimalkan kekuatan dan peluang yang ada serta
meminimalkan kelemahan dan ancaman yang terjadi. Sehingga diperoleh kerangka
kebijakan strategi berdasarkan kondisi aktual dari berbagai sektor yang berkepentingan
di WP-3-K Provinsi Lampung. Arah pembangunan WP-3-K Provinsi Lampung
diturunkan dari isu-isu yang menjadi prioritas dengan arah pembangunan berisi:
1. Tujuan yang merupakan pernyataan umum menerangkan mengenai kondisi atau
outcome yang diinginkan dari suatu isu tertentu;

2. Sasaran yang menerangkan mengenai kondisi yang diharapkan, tetapi lebih


spesifik daripada pernyataan tujuan;

3. Strategi yang menjelaskan bagaimana aktivitas akan dilakukan untuk mencapai


suatu sasaran, menyatakan setiap kondisi yang dapat diterapkan untuk masa
depan, atau untuk proses-proses pengelolaan, dan diterapkan pada seluruh
kawasan perencanaan atau pada lokasi spesifik;

4. Arahan Program merupakan kebijakan yang akan dirumuskan lebih lanjut oleh
eksekutif dalam bentuk penentuan prioritas kegiatan yang berkaitan dengan
pendanaan sesuai mekanisme yang berlaku dan dinamika masyarakat yang
berkembang;

5. Indikator merupakan pengukuran kinerja dimaksudkan sebagai sarana penilaian


atas keberhasilan/kegagalan pelaksanaan kegiatan/program/kebijakan sesuai
dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi
dan misi yang telah disepakati bersama; dan

6. Target adalah hasil yang diharapkan dalam waktu tertentu dan memberikan suatu
dasar untuk membedakan kinerja “baik” dan “buruk”. Sebagai titik awal, keadaan
sekarang dari suatu indikator tertentu digunakan sebagai dasar perbandingan
perubahan ke depan.
Berdasarkan hasil analisis SWOT, maka didapatkan Isu Strategis (utama) untuk
pengelolaan dan pembangunan WP-3-K Provinsi Lampung sebagai berikut:

ISU STRATEGIS WP-3-K PROVINSI LAMPUNG

A. Degradasi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil


B. Marjinalisasi dan Kemiskinan Masyarakat Pesisir
C. Konflik Pemanfaatan dan Konflik Kewenangan
D. Bencana Alam dan Bencana Buatan Manusia
E. Kekosongan dan Ketidakpastian Hukum
F. Potensi Sumberdaya Pesisir

2.2.Enam Isu Strategis


1. DEGRADASI SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

Isu degradasi sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil di Provinsi Lampung


disebabkan diantaranya oleh kesadaran dan kepedulian yang masih rendah terhadap
lingkungan di WP-3-K Lampung disamping oleh tingginya pemanfaatan
sumberdaya alam dan lingkungan pesisir tanpa mengukur daya dukung sumberdaya
alam dan lingkungan pesisir yang bisa digunakan dan tanpa diikuti oleh aksi
konservasi, sehingga pemanfaatan yang terjadi tidak dapat berlanjut secara
berkesinambungan. Kondisi pemanfaatan yang terjadi saat ini berakibat terhadap
rusaknya ekosistem pantai (terumbu karang, padang lamun dan mangrove), taman
nasional dan cagar alam laut, pencemaran dan intrusi air laut.

Habitat penting di sepanjang pesisir pantai Lampung meliputi mangrove, terumbu


karang, pantai berpasir dan hutan pantai. Kondisi mangrove di pesisir Lampung
sudah mulai berkurang, terutama di wilayah pesisir timur Kabupaten Tulang
Bawang dan Kabupaten Lampung Timur. Sejumlah kecamatan di pesisir timur ini
garis pantainya mundur antara 300-700 meter ke daratan. Kondisi ini turut
diperparah oleh besarnya gelombang setiap datang Musim Timur yang terjadi
antara April-Oktober. Hal ini disebabkan karena adanya konflik kepentingan dalam
pemanfaatan lahan pesisir. Alih fungsi lahan yang pada mulanya berupa hutan
mangrove menjadi tambak udang secara tidak terkontrol telah menimbulkan
peningkatan abrasi pantai dan penurunan populasi akibat hilangnya fungsi
mangrove sebagai habitat, tempat mencari makan, dan tempat pembesaran ikan dan
biota laut lainnya. Pengembangan tambak udang baik oleh masyarakat maupun
perusahaan belum sepenuhnya diimbangi dengan penataan ruang pesisir secara
terpadu sehingga turut serta menjadi sebab berkurangnya luasan mangrove di
wilayah pesisir.

Penyebab utama rusaknya habitat mangrove adalah:

 Pembabatan dan pengulitan pohon mangrove untuk kayu/pengawet;

 Konversi lahan mangrove untuk tambak;

 Pengelolaan pertambakan tidak berwawasan lingkungan;

 Penggunaan tanah timbul menjadi tambak;

 Pencemaran pantai (limbah industri dan minyak);

 Urbanisasi.

Akibat yang ditimbulkan adalah :

 Penurunan luasan vegetasi mangrove;

 Penurunan kualitas air;

 Penurunan hasil tangkapan, terutama kepiting, kerang, dan udang;

 Penurunan pendapatan pengguna mangrove;

 Erosi pantai meluas karena penurunan fungsi alami perlindungan pantai.

Terumbu karang di wilayah Lampung sangat mendukung usaha-usaha perikanan


yang produktif, sehingga ada banyak bagan menggantungkan penghasilannya dari
keberadaan terumbu karang. Namun sangat disayangkan, ada indikasi nelayan
bagan juga menggunakan bom ikan jenis kecil (bom dodol) untuk membantu
aktivitas penangkapan ikan. Disamping penggunaan bom, beberapa penyebab
terjadinya kerusakan terumbu karang adalah:
a. Penambangan karang dengan atau tanpa bahan peledak;

b. Penangkapan ikan dengan bahan peledak;

c. Penangkapan ikan hias dengan menggunakan bahan beracun (misalnya Kalium


Sianida);

d. Penggunaan mini trawl dan sejenisnya;

e. Belum adanya pelampung tambat (mooring buoys) dan dermaga di pulau kecil;

f. Reklamasi pantai utamanya untuk alih fungsi menjadi areal pemukiman, wisata,
industri

Akibat yang ditimbulkan adalah:

a. Perusakan habitat dan kematian massal hewan terumbu;

b. Hilangnya daerah pemijahan sehingga terjadi penurunan hasil tangkapan ikan;

c. Kerusakan habitat dan berkurangnya keanekaragaman hayati.

d. Abrasi pantai karena penurunan fungsi perlindungan pantai

2. MARJINALISASI DAN KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR

Degradasi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara tidak langsung


menurunkan pendapatan nelayan dan pembudidaya yang memanfaatkan
sumberdaya pesisir sebagai sumber mata pencahariannya. Konflik pemanfaatan
ruang laut juga menjadi salah satu penyebab kegiatan perikanan tangkap dan
perikanan budidaya mengalamai penurunan produktivtas karena semakin
berkurangnya areal penangkapan dan areal budidaya. Pengurangan areal
penangkapan dan budidaya disebabkan oleh antara lain adanya alokasi eksklusif
perairan untuk kegiatan wisata bahari dan adanya kawasan TNI-AL serta
pengusahaan oleh korporate untuk usaha budidaya kerang mutiara.

Marjinalisasi dan kemiskinan masyarakat pesisir juga diperparah oleh ketersediaan


dan kondisi sarana prasarana yang mendukung keberhasilan sektor usaha
masyarakat pesisir yang kesulitan dari sisi aksesibilitas sarana perhubungan,
prasarana umum lainnya, maupun perumahan. Fasilitas sarana prasarana dasar
sangat dibutuhkan oleh masyarakat pesisir untuk menopang kelancaran produksi
dan distribusi barang dan jasa dari dan ke wilayah pesisir. Hal ini sangat penting
karena berkaitan erat dengan pergerakan roda ekonomi di wilayah pesisir.

Tingkat pendidikan seseorang sangat erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan


dan keterampilan yang dapat dipergunakannya sebagai modal untuk bekerja atau
berusaha dalam mencapai kehidupan yang layak. Seseorang yang tidak memiliki
pendidikan, pengetahuan, atau keterampilan yang memadai akan berpeluang besar
menjadi pengangguran. Apabila hal ini terjadi pada sebagian besar warga pesisir,
maka akan menimbulkan masalah sosial yang lebih parah.

Selanjutnya rendahnya tingkat pendidikan masyarakat juga berpengaruh terhadap


rendahnya derajat kesehatan. Hal ini karena tingkat pendidikan secara langsung
maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pengetahun masyarakat akan
penerapan pola hidup sehat. Rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan
masyarakat pesisir juga sangat erat kaitannya dengan kekumuhan wilayah pesisir
dan kemiskinan masyarakatnya.

3. KONFLIK PEMANFAATAN DAN KONFLIK KEWENANGAN

Isu utama di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (WP3K) Provinsi Lampung
yang menyangkut konflik pemanfaatan dan kewenangan terjadi di semua
kabupaten/kota yang memiliki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Konflik
pemanfaatan bisa dikategorikan 2 (dua) golongan besar yaitu konflik
internal dan konflik eksternal. Konflik Internal yaitu konflik pemanfaatan oleh dua
atau lebih aktivitas pemanfaatan WP3K dalam satu sektor pengusahaan. Sebagai
contoh adalah konflik antara Petambak dan Pembudidaya KJA di Kabupaten
Pasawaran yang secara sektor berada di bawah binaan Dinas Kelautan dan
Perikanan. Petambak merasa air yang diambil dari daerah sekitar usaha KJA telah
menurun kualitasnya akibat limbah pakan dari KJA, begitu pula sebaliknya KJA
merasa kualitas perairan tempat usaha budidaya KJA menurun dan mengakibatkan
kematian ikan akibat limbah dari usaha petambak yang terbawa air sungai masuk
ke laut.
Konflik Eksternal terjadi apabila dua sektor pengusahaan atau lebih di suatu lokasi
yang berdampingan atau di lokasi yang sama seperti pemanfaatan lahan perairan
untuk budidaya KJA dengan kegiatan pariwisata (snorkling, banana boat) di areal
yang sama. Begitu pula adanya konflik pemanfaatan antara Budidaya KJA,
Pariwisata dan lokasi militer yang ditetapkan oleh TNI-AL seperti yang terjadi di
Kabupaten Pasawaran. Konflik eksternal yang menyangkut kewenangan juga
terjadi di Bandar Lampung akibat pemanfaatan Teluk Lampung untuk kegiatan
konservasi, budidaya dan pengembangan water front city.

4. BENCANA ALAM DAN BENCANA BUATAN MANUSIA

Isu rawan bencana di WP3K Provinsi Lampung terkait dengan tingginya intensitas
gempa bawah laut pada patahan lempeng Sumatera khususnya di perairan Selat
Sunda dengan meningkatnya aktivitas Gunung Krakatau. Isu ini harus segera
mendapat perhatian dan ditindaklanjuti guna menghindari kerugian jiwa dan materi
yang sangat besar seperti yang telah terjadi pada kejadian tsunami di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan Pulau Mentawai. Provinsi Lampung bekerjasama
dengan pemerintah Kabupaten/Kota telah melakukan mitigasi dengan membuat
titik-titik dan jalur evakuasi jika terjadi bencana tsunami. Rencana penanganan
bencana telah membuat TES atau Tempat Evakuasi Bencana di lokasi-lokasi yang
memiliki dampak jika terjadi bencana tsunami seperti penentuan titik kumpul di
Polres Bandar Lampung atau TES di Pulau Pasaran.

5. KEKOSONGAN DAN KETIDAKPASTIAN HUKUM

Dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah


Daerah dan belum adanya peraturan turunannya berupa Peraturan Pemerintah (PP),
Pemerintah Kabupaten/Kota/Provinsi masih kebingunan dalam melaksanakan
undang-undang tersebut. Pelimpahan sebagian urusan Pendidikan, Pertambangan,
Kehutanan, dan Kelautan dari Kabupaten/Kota ke Pemerintah Provinsi menjadi hal
yang sangat mengkagetkan. Dampaknya adalah perijinan yang berhubungan
dengan urusan di atas belum bisa diproses oleh Perintah Provinsi Lampung.
Perda tentang Rencana Zonasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagai amanat
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 jo Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014,
belum ada di Provinsi Lampung mengakibatkan perijinan pengelolaan Pesisir,
Pulau Kecil, Perikanan, Wisata Bahari dan Pertambangan belum bisa dikeluarkan
Pemerintah Provinsi Lampung.

6. POTENSI SUMBERDAYA PESISIR

Wilayah Provinsi Lampung merupakan pintu gerbang pulau Sumatera bagian


selatan yang memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat besar. Lampung
dengan garis pantai mencapai 1.105 km, 132 pulau-pulau kecil yang memiliki
karakteristik yang spesifik dan 7 kabupaten kota yang memiliki wilayah pesisir
menjadikan Lampung sebagai salah satu daerah pesisir yang potensial untuk
pengembangan sektor industri kelautan dan perikanan di Indonesia. Potensi
perairan laut Karimata, Teluk Lampung, Teluk Semangka, Selat Sunda dan
Samudra Hindia menjadi potensi sebagai daerah untuk di kembangkannya industri
kelautan (perhubungan, perdagangan, pariwisata) dan pengoptimalan produksi
perikanan tangkap, budidaya hingga pengolahannya.

Potensi sumbedaya alam pesisir laut dan pulau-pulau kecil yang besar dimiliki oleh
Provinsi Lampung menjadi modal dasar dalam melaksanakan pembangunan di
segala bidang yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Kondisi ini harus pula
diikuti dengan peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia yang ada
khususnya di bidang kelautan dan peningkatan pemahaman stakeholder dalam
pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan. Era persaingan global menuntut
Provinsi Lampung untuk memiliki konsep-konsep pembangunan yang mampu
meningkatkan jaminan keamanan, kenyamanan dan membuka ruang investasi yang
mudah dengan memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan dan ekonomi
kerakyatan.

Ancaman eksploitasi secara besar-besaran dan tidak mempertimbangkan fungsi


ekologis kawasan pesisir laut dan pulau-pulau kecil di masa datang menjadi
permasalahan serius yang harus di tangani oleh para stakeholder yang
berkepentingan. Dilakukannya pengembangan wilayah pesisir laut dan pulau-pulau
kecil sebagai kawasan pemukiman, perindustrian, perhubungan, perikanan,
pariwisata hingga pertambangan menjadi sebuah potensi yang dapat mendukung
pendapatan daerah, namun bila tidak dikelola dengan tepat akan menjadi ancaman
kerusakan permanen sumberdaya alam yang berdampak kepada penurunan kualitas
hidup masyarakat sekitar pesisir dan pulau-pulau kecil. Prinsip pembangunan
berkelanjutan mendorong penetapan capaian yang mempertimbangkan
keseimbangan ekonomi dan ekologi. Potensi ancaman pemanasan global dan
destruktif lingkungan menuntut dilahirkannya kebijakan pembangunan yang
berkelanjutan, adil dan lestari.

Potensi sumberdaya alam pesisir yang dimiliki Provinsi Lampung merupakan


modal dasar yang dapat dikembangkan pengelolaannya untuk meningkatkan PAD
dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Karakteristik wilayah pesisir Lampung yang
terdiri dari wilayah pantai Timur, Teluk Lampung, Teluk Semangka dan pantai
Barat serta pulau-pulau kecilnya menjadi daya tarik tersendiri untuk dikembangkan
sebagai objek pariwisata bahari. Pantai yang landai dan berpasir putih, air yang
jernih dan pemandangan yang indah serta keragaman flora fauna menjadi aset yang
potensial. Peran serta masyarakat dan swasta dalam mengembangkan wisata bahari
Lampung perlu di dukung dengan rencana kelola yang berbasiskan potensi lokal
dan didukung kebijakan yang terpadu lintas sektor dan administrasi.