Anda di halaman 1dari 196

http://facebook.

com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
Sigmund Freud

Moses and
Monotheism
Musa dalam VXGXWSDQGDQJ3VLNRDQDOLVLV
http://facebook.com/indonesiapustaka
Moses and Monotheism
Musa dalam sudut pandang Psikoanalisis
Sigmund Freud

Editor:
Supriyadi

Tata Letak:
r.l. lendo

Desain Sampul:
Aulia Rahmat SM

Cetakan 2017
x + 186; 14 x 20 cm
E-I SBN: 978-602-51960-8-9

Diterbitkan oleh:
FORUM
Grup Relasi Inti Media (Anggota IKAPI)
http://facebook.com/indonesiapustaka

Jln. Permadi Nyutran RT/RW. 61/19 MG II No. 1606 C


Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta 55151
Tlp/Fax. (0274) 2870300
Pengantar Penerbit

Membaca Sigmund Freud adalah membaca psikologi, khusus­


nya psikoanalisis. Freud, seorang tokoh intelektual terkenal dan ber­
pengaruh yang berasal dari Austria ini, merupakan sosok yang sulit
di­pisahkan dari disiplin psikoanalisis. Oleh karenanya, membaca
karya-karya Freud tentu ada “campur tangan” psikoanalisis di situ.
Begitu pula dalam buku berjudul “Moses & Monotheism” ini, di­
siplin psikoanalisis masih melekat begitu eratnya.
Sekilas, buku ini berbicara tentang Musa, seorang nabi yang
be­gitu dihormati oleh bangsa Israel, dan teologi yang dibawanya un­
tuk di­sampaikan kepada para pengikutnya, yakni bangsa Israel itu
sendiri. Tentu saja yang muncul dari kilasan tersebut adalah pribadi
Musa dalam perspektif sejarah (kisah Musa) dan agama yang di­
ajar­kan­­nya. Meski demikian, perihal historiografi Musa dan ajaran
teologi yang dibawanya (monoteisme) tetap dikaji dengan psiko­
analisis sebagai pisau analisisnya. Oleh karenanya, tidak meng­heran­
http://facebook.com/indonesiapustaka

kan jika historiografi yang dituliskan oleh Freud da­lam buku ini
ber­beda dari kebanyakan historiografi lainnya yang ber­sumber dari
kitab suci (Bibel) secara mutlak. Hanya saja, Freud tetap merujuk
pada kitab suci tersebut sebagai salah satu rujukan primer.
Dalam buku ini, Freud mengurai status kebangsaan Musa; ia
sebagai seorang yang berkebangsaan Mesir atau Israel. Uraian ini

-v-
Moses and Monotheism

men­cakup dua bagian tersendiri. Hanya saja, pernyataan Freud bah­


wa Musa me­rupa­kan seorang yang berkebangsaan Mesir menuai
kontroversi. Pendapat tersebut banyak mendapatkan tentangan.
Hal itu sebagai­mana yang dilontarkan oleh seorang mitolog Joseph
Campbell bahwa pernyataan Freud tersebut mengejutkan banyak
pe­ngagum­nya dan banyak yang menyerang pernyataan tersbut.
Freud, dalam buku ini, mengurai pula peran Musa kepada
bangsa Israel, termasuk juga di dalamnya adalah agama monoteisme
yang disampaikan olehnya untuk bangsa Israel. Uraian ini terdapat
pada bagian ketiga dengan sebuah catatan pembuka dan dua sesi
uraian.
Tentu saja, dalam sekian uraian Freud di buku ini tidak bisa
di­lepas­kan dengan disiplin yang digeluti olehnya, psikoanalisis.
Psiko­analisis digunakan Freud dalam mengurai persoalan ke­bangsa­
an Musa dan kaitannya dengan Firaun dan Mesir. Freud mengguna­
kan­nya sebagai pembedah historisitas kisah Musa yang ber­paling
dari Mesir kepada bangsa Israel sehingga terjadilah pe­ ristiwa
eksodus; bangsa Israel yang mendapatkan penindasan di Mesir di­
bawa keluar oleh Musa dengan menyeberangi Laut Merah. Selain
itu, psikoanalisis juga digunakan Freud dalam membedah “dakwah”
Musa kepada bangsa Israel perihal agama yang diajarkannya.
Dari uraian buku ini, kita akan menemui sajian yang ber­
http://facebook.com/indonesiapustaka

beda dari sejarah yang telah mapan sebelum dan sesudahnya. Oleh
karenanya, tidak bijak jika kita mempersoalkan sejarah yang di­urai­
kan Freud dalam buku ini karena sejarah memang sebuah disiplin
ilmu yang banyak menerima “toleransi” dalam aneka kriteria sebagai
se­buah disiplin ilmu. Hendaknya kita juga bisa “bertoleransi” dalam

- vi -
Pengantar Penerbit

mem­baca buku ini karena berbicara tentang Musa dan agama yang
di­ajar­kan­nya tentu tidak bisa terlepas dari keimanan. Di sini, Freud
me­nge­samping­kan keimanan dalam historiografi Musa dan yang
ter­kait dengannya.
Buku ini menyajikan sebuah sudut pandang yang berbeda dari
apa yang telah kita ketahui dan anggap sebagai sesuatu yang benar.
De­ngan gaya penuturan analitis tentang Musa dan monoteisme
yang diajarkannya kepada bangsa Israel, buku ini membawa kita
un­tuk berkelana ke masa lalu guna menziarahi kesejarahan Musa
de­ngan pisau psikoanalisis. Buku ini bisa dipuji sekaligus dicaci.
Dipuji karena konsistensi Freud dalam psikoanalisisnya, sementara
di­caci karena—kita; para pembaca merupakan orang beriman—
Freud mengesampingkan perkara keimanan sebagai sumber sejarah
yang mempunyai kebenaran mutlak. Namun demikian, cacian ter­
sebut hendaknya kita kubur dalam-dalam karena kita tidak sedang
ber­ibadah, tetapi membaca karya Freud.
http://facebook.com/indonesiapustaka

- vii -
http://facebook.com/indonesiapustaka
Daftar Isi

Pengantar Penerbit ...................................................................... v


Daftar Isi .................................................................................... ix

Bagian 1. Musa, Seorang Berkebangsaan Mesir ............................ 1


Bagian II. Jika Musa adalah Seorang Berkebangsaan Mesir ......... 15
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis ..................... 69
Catatan Pembuka ............................................................. 69
I. Ditulis sebelum Maret 1938 (Wina) .......................... 69
II. Juni 1938 (London) ................................................ 72
Sesi I. ............................................................................... 75
1. Premis Sejarah .......................................................... 75
2. Periode Latensi dan Tradisi ....................................... 86
3. Analogi .................................................................... 94
4. Penerapan .............................................................. 105
5. Kesulitan ................................................................ 122
http://facebook.com/indonesiapustaka

Sesi II ............................................................................. 136


1. Ikhtisar .................................................................. 136
2. Orang-orang Israel ................................................. 138
3. Sosok yang Agung .................................................. 142
4. Kemajuan dalam Spiritualitas ................................. 148
5. Penolakan dan Kepuasan ........................................ 154

- ix -
Moses and Monotheism

6. Kebenaran dalam Agama ........................................ 163


7. Kembalinya Hal yang Tertahan ............................... 166
8. Kebenaran Sejarah .................................................. 171
9. Perkembangan Sejarah ........................................... 176

Glosarium ............................................................................... 185


http://facebook.com/indonesiapustaka

-x-
Bagian I

Musa, Seorang
Berkebangsaan Mesir

enolak untuk memercayai seorang pria yang dipuji oleh

M se­buah masyarakat sebagai putra terbaiknya bukanlah


per­buatan yang dapat dianggap enteng—terutama jika
yang menyangkal ber­­asal dari bangsa yang sama. Meskipun demi­
kian, tidak ada hal yang dapat membuat saya mengesampingkan ke­
benar­an demi apa yang di­sebut sebagai kepentingan nasional. Ter­
lebih lagi, penjelasan me­ngenai kebenaran persoalan ini diharapkan
dapat memperdalam pe­maham­an kita terhadap situasi yang ada.
Musa, sang pembebas umatnya, yang memberikan agama dan
hukum kepada mereka, hidup pada masa lampau sehingga timbul
per­tanyaan apakah ia figur historis atau legendaris. Jika ia memang
nyata, ia hidup pada abad ketiga belas atau keempat belas se­belum
http://facebook.com/indonesiapustaka

Masehi; kita tidak mengetahui apa-apa tentangnya kecuali dari


Kitab Suci dan tradisi tertulis Yahudi. Terlepas dari kekurang-pasti­
an laporan sejarah tersebut, sebagian besar sejarawan telah me­nyata­
kan bahwa sosok Musa memang benar-benar ada pada masa­nya
dan bahwa peristiwa eksodus dari Mesir yang dipimpin olehnya

-1-
Moses and Monotheism

be­nar-benar terjadi. Hal itu telah didukung dengan alasan yang


kuat se­hingga sejarah Israel bahkan tidak dapat dimengerti jika
alasan-alasan tersebut tidak diakui. Ilmu pengetahuan saat ini telah
lebih berhati-hati dan sabar ketika berurusan dengan tradisi jika di­
banding­kan dengan penelitian-penelitian historis sebelumnya.
Hal pertama yang menarik perhatian kita mengenai Musa
ada­lah namanya, yang ditulis Mosche dalam bahasa Ibrani. Sah-sah
saja bagi seseorang untuk bertanya, “Dari manakah nama tersebut
ber­asal? Apa artinya?” Sebagaimana yang telah diketahui, kisah di
Exodus, Bab II, telah menjawab pertanyaan ini. Dalam bab tersebut,
kita mem­­baca bahwa seorang putri Mesir yang menyelamatkan Musa
ke­tika masih bayi dari air sungai Nil memberi nama tersebut, me­
nambah­kan penjelasan etimologis: karena aku mengambilnya dari
air sungai. Namun demikian, penjelasan ini jelas tidak memadai.
“Interpretasi dari nama ‘Ia yang diambil dari air sungai’—menurut
pe­nulis Jüdische Lexikon1—adalah etimologi rakyat; bentuk Bahasa
Ibrani aktif dari nama itu sendiri (Mosche, paling tidak, dapat ber­
makna ‘yang mengambil’) tidak cocok dengan penjelasan ini.”
Alasan ter­­sebut dapat didukung oleh dua pertimbangan yang lebih
jauh: per­­tama, tidaklah masuk akal untuk menganggap seorang putri
Mesir me­miliki pengetahuan mengenai etimologi Ibrani, dan, kedua,
air yang mem­bawa bayi tersebut sebelum diambil ke­mungkin­an be­­
http://facebook.com/indonesiapustaka

sar bukan air sungai Nil.


Sebaliknya, sebuah penjelasan telah lama dibuat oleh ba­nyak
orang bahwa nama Musa berasal dari kosakata Mesir. De­ngan tidak

1 Jüdische Lexikon, disusun oleh Herlitz dan Kirschener, Bd. IV. 1930,
Jüdischer Verlag, Berlin.

-2-
Bagian I. Musa, Seorang Berkebangsaan Mesir

me­ngutip para penulis yang telah mengemukakan pen­dapat ini, saya


akan mengutip sebuah karya baru dari Breasted2 ber­judul Sejarah
Mesir, laporan yang dianggap resmi. “Penting un­tuk kita sadari bah­
wa nama Musa adalah nama Mesir.” Musa me­mang nama Mesir,
ber­­asal dari kata ‘mose’ yang berarti ‘anak’ dan me­rupa­kan bentuk
ringkas dari nama-nama seperti ‘Amen-mose’ yang berarti “Amon-se­­­
orang-anak’ atau ‘Ptah-mose,” yang ber­arti ‘Ptah-seorang-anak.’ Ke­dua
nama tersebut juga merupakan ke­pendek­an dari ‘Amon-(telah-mem­
beri­kan)-seorang anak’ atau Ptah-(telah-memberikan)-se­­­orang-anak.”
Singkatan ‘anak’ pada saat itu menjadi bentuk praktis dari nama-nama
panjang yang sulit, dan nama Musa, ‘anak,’ tidak jarang terukir pada
monumen-monumen Mesir. Ayah Musa pasti telah mem­bubuh­kan
nama dewa Mesir seperti Amon atau Ptah di da­lam nama anaknya.
Nama dewa tersebut secara berangsur-angsur hilang pada penggunaan
nama Musa saat ini, sehingga ia dipanggil ‘Mose’ (Huruf s yang di­
tambah­­kan sehingga menjadi Moses, diambil dari ter­jemahan Kitab
Per­janjian Lama dalam bahasa Yunani. Nama ter­­sebut tidak ter­dapat
di dalam Kitab berbahasa Ibrani, yang meng­guna­­kan ‘mosheh’).” Saya
meng­gunakan kutipan ini secara harfiah dan sama sekali tidak siap ber­
tanggung jawab atas bagian rincinya. Meski­­pun demiki­an, saya sedikit
terkejut bahwa dalam mengutip nama-nama yang terkait, Breasted
meng­abaikan nama-nama dewa lain dalam daftar para raja Mesir,
http://facebook.com/indonesiapustaka

seperti Ah-mose, Thut-mose (Thothmes) dan Ra-mose (Ramses).


Dapatlah diharapkan bahwa salah satu penulis yang meng­
anggap nama Musa merupakan nama Mesir akan mengambil ke­
simpul­an, atau setidaknya mempertimbangkan, bahwa yang me­

2 The Dawn of Conscience, London, 1934, p. 350

-3-
Moses and Monotheism

miliki nama tersebut memanglah orang Mesir. Pada masa modern,


kita tidak ragu untuk mengambil kesimpulan tersebut, meskipun
saat ini, manusia biasanya memiliki dua kata dalam namanya, ti­
dak hanya satu, dan meskipun penggantian nama atau asimilasi
dalam kondisi baru tidak dapat dihiraukan. Jadi, kami sama sekali
tidak terkejut bahwa penyair Chamisso adalah keturunan Perancis,
Napoleon Bonaparte sebenarnya adalah orang Italia, dan Benjamin
Disraeli adalah seorang Yahudi Italia yang dapat kita ketahui dari
nama­nya. Kemudian, kesimpulan yang ditarik mengenai ras dari
nama ter­sebut harus dapat lebih dipercaya dan benar-benar me­
yakin­kan, menyangkut zaman lampau dan primitifnya. Meskipun
demi­kian, sepengetahuan saya, belum ada sejarawan yang menarik
ke­simpul­an seperti itu dalam kasus Musa, bahkan tak ada pula
sejara­wan yang, seperti yang dikatakan Breasted, berpendapat bah­
wa Musa “mengerti semua kebajikan-kebajikan Mesir.”3
Kami hanya dapat memperkirakan hal yang membuat mereka
tidak mengambil kesimpulan tersebut. Mungkin karena kekaguman
terhadap tradisi Alkitab yang tidak dapat dibendung. Mungkin
terasa mustahil membayangkan bahwa Musa bukan seorang Yahudi.
Yang ada hanya gagasan bahwa nama Musa merupakan nama Mesir;
hal itu tidak membuat sejarawan menyimpulkan tempat asal Musa,
bah­kan tidak ada hal lain yang disimpulkan dari hal tersebut. Jika
http://facebook.com/indonesiapustaka

per­tanyaan mengenai status kebangsaan pria agung ini dianggap


penting, apa pun materi baru untuk menjawabnya harus disambut
baik.

3 Loc. Cit., p. 334

-4-
Bagian I. Musa, Seorang Berkebangsaan Mesir

Hal inilah yang sedang coba dibuktikan tulisan saya. Tulisan


ini mungkin akan perlu mengutip dari Imago4 karena kontribusinya
me­nyangkut penerapan psikoanalisis. Maka dari itu, diskusi dalam
tulisan ini hanya akan menarik bagi minoritas pembaca yang akrab
de­ngan pemikiran analitis dan mampu menghargai kesimpulan
yang ada. Saya berharap tulisan ini dianggap signifikan oleh pem­
baca-pembaca tersebut.
Pada 1909, Otto Rank, yang pada saat itu masih di bawah
pengaruh saya, atas saran saya menerbitkan sebuah buku ber­judul:
Der Mythus von der Geburt des Helden.5 Buku tersebut mem­bahas
fakta bahwa “hampir di semua peradaban sejak zaman dahulu,
orang-orang penting bersajak demi merajut mitos yang me­mulia­
kan para kesatria mereka, para raja dan putri dalam mitologi me­
reka, para penegak agama, serta pendiri dinasti, kerajaan dan
kota—singkat­nya, kesatria-kesatria mereka. Sejarah kelahiran dan
masa hidup awal para kesatria tersebut dipercantik dengan hal-hal
fantastis; kemiripan luar biasa, bahkan identitas harfiah dari kisah-
kisah tersebut sangat terkenal dan telah mengejutkan ba­nyak pe­
neliti—bahkan meskipun kisah-kisah tersebut merujuk pada tokoh-
tokoh yang sangat berbeda, dan terkadang secara geografis jauh dari
satu sama lain.” Mengikuti jejak Rank, dan meng­guna­kan teknik
Galton, kami merekonstruksi “mitos umum” yang me­nonjol­kan se­
http://facebook.com/indonesiapustaka

jumlah fitur penting kisah-kisah tersebut dan kemudian kami men­


dapat­kan formula sebagai berikut.

4 Lihat Glosarium
5 Fünftes Heft der Schriften zur angewandten Seelenkunde, Fr. Deuticke, Wien.
Sangat jauh dari pikiran saya untuk mengurangi nilai kontribusi asli Rank
pada karya ini.

-5-
Moses and Monotheism

“Kesatria dalam cerita adalah anak dari orangtua yang me­


miliki jabatan tinggi, seringnya anak dari seorang raja.
“Orangtuanya bersetubuh tanpa menghiraukan pantangan
atau larangan yang ada; mereka melakukannya secara sembunyi-
sembunyi karena larangan ataupun masalah eksternal lain. Saat ibu­
nya mengandung atau sebelumnya, seorang peramal atau sebuah
mimpi mem­peringatkan sang ayah bahwa kelahiran anak tersebut
akan membawa bahaya besar untuk keselamatannya.
“Sebagai akibatnya, sang ayah (ataupun seseorang yang me­
wakili­nya) memerintahkan bahwa bayi tersebut dibunuh atau di­
hadap­kan pada situasi yang sangat berbahaya; dalam banyak kasus,
bayi­nya akan diletakkan di sebuah keranjang dan dipasrahkan pada
ombak.
“Anak tersebut kemudian diselamatkan oleh seekor hewan
atau orang miskin, seperti penggembala, dan disusui oleh hewan
betina atau seorang wanita yang terlahir sederhana.
“Saat ia dewasa, ia mengetahui kebenaran mengenai orangtua
bangsa­wan­nya setelah melewati banyak petualangan aneh, kemudian
ia me­lakukan pembalasan pada ayahnya, disambut rakyatnya, dan
ke­mudian mendapatkan ketenaran dan keagungan.”
Persona sejarah yang paling mustahil dan dilekati mitos ter­
sebut adalah Sargon dari Akkad, pendiri Babel pada tahun 2800
http://facebook.com/indonesiapustaka

SM. Dari sudut pandang hal yang membuat kami tertarik, mungkin
layak untuk mengungkapkan kembali catatan yang dipercaya ber­
asal dari dirinya sendiri.
“Aku adalah Sargon, raja yang berkuasa, Raja Agade. Ibuku
ada­lah seorang Pendeta; aku tidak tahu mengenai ayahku; se­
dang­kan saudara laki-laki ayahku tinggal di pegunungan. Di kota

-6-
Bagian I. Musa, Seorang Berkebangsaan Mesir

Azupirani—yang terletak di hilir sungai Eufrat—ibuku, sang


Pendeta, mengandung diriku. Secara diam-diam ia melahirkanku. Ia
me­letak­kan­ku di keranjang yang berisi ilalang, menutup bukaannya
de­ngan bubungan, dan menurunkanku ke sungai. Arus sungai tidak
mem­buat­ku tenggelam, namun membawaku ke Akki, seorang pe­
nimba air. Akki, sang penimba air, dengan kebaikan hatinya meng­
angkatku dari air. Akki, sang penimba air, membesarkanku seperti
anak­nya sendiri. Akki, sang penimba air, menjadikanku tukang ke­
bunnya. Ketika aku menjadi tukang kebun, Istar jatuh cinta pada­
ku. Aku menjadi raja dan selama empat puluh lima tahun aku me­
merintah sebagai raja.”
Nama paling terkenal dalam buku-buku seperti yang diawali
oleh Sargon dari Agade meliputi Musa, Cyrus, dan Romulus. Namun
demi­kian, selain nama-nama tersebut, Rank telah menyebutkan
banyak kesatria lain yang berasal dari mitos atau sajak; para kesatria
ter­sebut memiliki kisah masa muda yang diceritakan menyeluruh
se­
kaligus atau dalam beberapa bagian, seperti Oedipus, Karna,
Paris, Telephos, Perseus, Heracles, Gilgamesh, Amphion, Zethos, dan
lain-lain.
Kita dapat mengenal asal-muasal dan kecenderungan dari
mitos-mitos tersebut melalui karya Rank. Saya hanya perlu merujuk
pada kesimpulan Rank dengan beberapa petunjuk singkat. Seorang
http://facebook.com/indonesiapustaka

kesatria adalah manusia yang dengan penuh kemanusiaan bertahan


me­lawan ayahnya, dan pada akhirnya dengan penuh kemenangan
mengalahkannya. Mitos menelusuri perjuangan tersebut sejak awal
hidup sang kesatria, yang terlahir di luar keinginan ayahnya, dan di­
selamat­kan terlepas dari niat jahat sang ayah. Paparan di keranjang
ter­sebut jelas merupakan representasi simbolis dari kelahiran; ke­

-7-
Moses and Monotheism

ranjang­nya sendiri adalah rahim, aliran air menyimbolkan proses


kelahiran. Dalam mimpi yang tidak terhitung, hubungan anak
dengan orangtuanya direpresentasikan oleh diambilnya atau di­
selamat­kan­nya keranjang beserta bayi dari sungai. Ketika imajinasi
masya­rakat melekat pada mitos tersebut mengenai sebuah persona
ter­kenal, berarti orang tersebut dianggap sebagai kesatria, bahwa
hidup­nya mengikuti rancangan tertentu. Sumber inti dalam mitos
ini adalah hal yang disebut “romansa keluarga,” reaksi anak ter­
sebut terhadap perubahan hubungan batin dengan orangtuanya,
ter­utama terhadap ayahnya. Masa kecil anak tersebut dikendalikan
oleh penilaian yang terlalu tinggi akan ayahnya; raja dan ratu dalam
mimpi dan dongeng selalu merepresentasikan sosok orangtua sang
anak. Setelah itu, karena pengaruh persaingan dan kekecewaan, sang
anak mulai pergi dan memiliki sikap tidak suka terhadap ayahnya.
Karena itu, dua keluarga dari mitos yang disebutkan (keluarga
bangsa­wan dan sederhana) merupakan gambaran dari keluarganya
sen­diri karena keduanya dialami oleh anak tersebut dalam periode
ber­turut-turut di hidupnya.
Tidaklah terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa observasi
ini sepenuhnya menjelaskan kesamaan dan juga penyebarluasan
mitos kelahiran para kesatria. Lebih menarik lagi, mitos lahir dan
di­buang­nya Musa berbeda jauh; pada tahap tertentu, keduanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

bah­kan saling bertentangan.


Mari kita mulai dengan dua keluarga yang mitosnya me­
nentu­kan takdir sang anak. Kita tahu bahwa interpretasi analitis
me­nyatu­kan mereka menjadi keluarga, bedanya keluarga sementara
atau tidak. Dalam jenis mitos yang tipikal, keluarga pertama yang
me­lahir­kan sang anak adalah keluarga bangsawan dan sering juga

-8-
Bagian I. Musa, Seorang Berkebangsaan Mesir

me­rupa­kan keluarga kerajaan; keluarga kedua yang membesarkan


sang anak adalah keluarga sederhana dan hina, sesuai dengan situasi
yang dirujuk interpretasi tersebut. Hanya di dalam kisah Oedipus,
per­bedaan status keluarga tidak begitu terlihat. Oedipus bayi yang
di­buang oleh keluarga raja dibesarkan oleh pasangan kerajaan juga.
Hampir tidak mungkin merupakan sebuah kebetulan bahwa pada
contoh ini, petunjuk kecil identitas asli kedua keluarga berada
pada mitos itu sendiri. Kontras sosial kedua keluarga—seperti kita
tahu dimaksudkan untuk menekankan sifat heroik seseorang yang
agung, hal yang memberi fungsi kedua untuk mitos ini. Fungsi ter­
sebut menjadi sangat signifikan dengan persona-persona sejarah.
Fungsi tersebut juga dapat menyediakan paten kebangsawanan un­
tuk kesatria yang kita kehendaki agar status sosialnya naik. Jadi,
Cyrus merupakan penakluk asing bagi rakyat Medes; dengan mitos
dibuang melalui sungai, ia menjadi cucu raja Medes. Sifat se­rupa
juga terdapat pada mitos Romulus: jika orang seperti dirinya per­
nah hidup, ia pasti akan menjadi petualang tak dikenal, seorang
yang baru diangkat status sosialnya; mitos membuatnya menjadi
ke­turun­an dan pewaris keluarga kerajaan Alba Longa.
Hal sangat berbeda terjadi pada kasus Musa. Keluarga per­
tama—yang biasanya keluarga ternama—cukup sederhana. Ia
ada­lah anak seorang asisten Pendeta Yahudi. Namun demikian,
http://facebook.com/indonesiapustaka

keluarga yang kedua—keluarga sederhana yang menurut aturan


mitos membesarkan sang kesatria—digantikan oleh keluarga
kerajaan Mesir; seorang putri membesarkannya seperti anak sendiri.
Per­bedaan dari mitos tipikal ini telah mengejutkan dan dianggap
aneh oleh banyak peneliti. E. Meyer dan banyak peneliti setelahnya
mem­per­timbang­kan bahwa bentuk asli mitos tersebut berbeda.

-9-
Moses and Monotheism

Firaun telah diperingatkan oleh mimpi6 bahwa anak dari putrinya


akan mem­bawa bahaya untuknya dan kerajaannya. Karena itu, ia
me­merintah­kan agar bayi tersebut dibuang ke sungai Nil segera
se­telah lahir. Akan tetapi, bayi tersebut diselamatkan oleh orang
Yahudi dan dibesarkan seperti anak sendiri. “Motif Kebangsaan”
da­lam terminologi Rank7 telah mengubah mitos tersebut ke dalam
ben­tuk yang sekarang.
Namun demikian, pemikiran lebih jauh memberitahu kita
bah­wa mitos tipikal yang asli mengenai Musa, mitos yang tidak
ber­beda dari mitos kelahiran kesatria yang lain, bisa saja memang
tidak ada. Hal ini disebabkan oleh asal legenda tersebut: jika tidak
dari bangsa Mesir, pasti dari bangsa Yahudi. Perkiraan yang pertama
dapat kita sisihkan dahulu. Bangsa Mesir tidak punya alasan untuk
meng­agung­kan Musa; bagi mereka Musa bukan seorang kesatria.
Jadi, legenda tersebut pasti dimulai oleh orang-orang Yahudi; hal
ini ber­arti orang-orang Yahudi telah terikat dengan gambaran pe­
mimpin versi mereka sendiri. Hanya saja, untuk memenuhi gambar­
an tersebut, kisah yang sesungguhnya benar-benar dibuat ber­beda;
apa bagus­nya sebuah legenda yang kesatrianya merupakan orang
asing?
Seperti yang kita ketahui saat ini, mitos Musa secara me­
nyedih­kan berada di balik motif rahasia. Jika Musa bukan keturunan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kerajaan, legenda tidak dapat membuatnya menjadi seorang ke­


satria; jika ia tetap menjadi orang Yahudi, hal tersebut tak akan
menaikkan statusnya. Hanya ada satu ciri kecil dari keseluruhan

6 Juga disebutkan di narasi Flavius Josephus


7 Loc. cit., p. 80, catatan kaki

- 10 -
Bagian I. Musa, Seorang Berkebangsaan Mesir

mitos yang tetap efektif: kepastian bahwa sang bayi ternyata ber­
tahan hidup terlepas dari kekejaman alam. Ciri ini terulang pada
sejarah awal Yesus, yang di dalam kisah itu Raja Herodes menjalani
peran sebagai Firaun. Dengan demikian, kita benar-benar memiliki
hak untuk berasumsi bahwa di dalam materi sejarah yang lebih baru
dan agak kaku, sang pembuat materi melihat kemungkinan untuk
men­jadi­kan kesatrianya, Musa, memiliki ciri-ciri tertentu yang ber­
hubungan dengan karakteristik mitos klasik seorang kesatria. Akan
tetapi, ciri tersebut tidak sesuai untuk Musa karena alasan tertentu
dan dalam situasi tertentu.
Dengan hasil yang tidak memuaskan dan bahkan tidak pasti ini,
investigasi kita harus berakhir di sini, tanpa memberikan kontribusi
apa pun untuk menjawab apakah Musa adalah orang Mesir atau
bukan, apakah ada atau tidak cara yang lain dan mungkin lebih ber­
hasil untuk mengungkap mitos itu sendiri.
Mari kita kembali pada dua keluarga yang ada di dalam mitos.
Seperti yang telah kita ketahui, pada level interpretasi analitis, ke­
dua­nya mirip. Pada level mitos, kedua keluarga tersebut di­beda­
kan oleh status kebangsawanan dan kesederhanaannya. Meskipun
begitu, ketika membahas tokoh sejarah yang dilekati mitos tersebut,
ter­dapat level ketiga, yaitu level kenyataan. Satu keluarga adalah
ke­luarga yang asli, keluarga yang melahirkan tokoh besar tersebut
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan keluarga yang membesarkannya. Salah satu dari dua keluarga


ber­sifat fiktif, dibuat oleh mitos untuk memenuhi motif tertentu.
Se­bagai peraturan, keluarga asli harus menyerupai keluarga yang
sederhana, dan keluarga fiksi harus berupa keluarga bangsawan.
Dalam kasus Musa, sesuatu terlihat berbeda. Di sinilah sudut
pan­dang baru mungkin akan memberikan pencerahan. Keluarga

- 11 -
Moses and Monotheism

per­tama, yang menghadapkan sang bayi pada bahaya, setelah di­


banding-bandingkan adalah keluarga yang fiksi; keluarga kedua,
yang mengadopsi sang kesatria dan membesarkannya, adalah ke­
luarga yang asli. Jika kita memiliki keberanian untuk menerima per­
nyata­an ini sebagai kebenaran mengenai legenda Musa, kita akan
me­lihat jalan keluar dengan jelas. Musa adalah orang Mesir—ke­
mungkinan dari keluarga bangsawan—yang berusaha diubah men­
jadi orang Yahudi oleh mitos. Hal itu akan menjadi kesimpulan kita!
Di­alir­kan­nya sang bayi di sungai sesuai dengan gagasan ter­sebut;
agar cocok dengan kesimpulan baru ini, tujuan tersebut harus di­
ubah. Pengubahan dilakukan bukan tanpa kekerasan. Gagas­an me­
nyingkir­kan sang anak diubah menjadi menyelamatkan sang anak.
Perbedaan legenda Musa dengan legenda serupa lain mungkin
dapat ditelusuri sampai ke ciri khusus kisah hidup Musa. Di dalam
kasus-kasus lain, status para kesatria semakin meningkat dari hidup
awal­nya yang sederhana. Sebaliknya, hidup heroisme Musa semakin
me­nurun, dari kemahsyurannya di awal sampai kesetaraannya de­
ngan putra bangsa Israel.
Investigasi sederhana ini dilakukan dengan harapan di­dapat­
kan­nya argumen segar kedua mengenai gagasan bahwa Musa adalah
se­orang berkebangsaan Mesir. Kita telah melihat bahwa argumen
per­tama, yang mempermasalahkan asal nama Musa, belum di­ang­
gap pasti.8 Kita harus mempersiapkan bahwa pemikiran baru ter­
http://facebook.com/indonesiapustaka

8 oleh E. Meyer dalam in Die Mosessagen und die Leviten, Berliner Sitzber, 1905:
“Nama musa mungkin adalah nama Pinchas dalam Dinasti Pendeta
Silo … tanpa keraguan adalah orang Mesir. Meskipun demikian, hal ini
tidak membuktikan bahwa dinasti-dinasti tersebut berasal dari Mesir,
namun membuktikan adanya hubungan dengan Mesir.” (p. 651.)
Kita dapat saja mempertanyakan jenis hubungan tersebut seperti
yang dibayangkan.

- 12 -
Bagian I. Musa, Seorang Berkebangsaan Mesir

sebut—analisis mengenai mitos dipaparkannya sang bayi ter­hadap


bahaya—tidak akan lebih berhasil dari argumen pertama. Ke­sulit­
an­nya kemungkinan besar terletak pada keaadaan tempat asal dan
transformasi legenda yang terlalu tidak jelas untuk dapat meng­
hasil­kan kesimpulan yang lebih pasti dari sebelumnya. Di samping
itu, semua bentuk usaha untuk mendapatkan kebenaran sejarah
di­pasti­kan akan gagal karena ke-tidak-koheren-an dan kontradiksi
yang me­liputi tokoh heroik Musa serta kecenderungan distorsi dan
sratifikasi selama berabad-abad. Saya tidak ikut mengambil sikap
negatif tersebut, tetapi saya juga tidak berada di posisi yang dapat
mem­bantah­nya.
Jika tidak ada lagi harapan mengenai hal ini, mengapa saya
meng­angkat pertanyaan ini ke hadapan publik? Saya menyesali hal
ter­sebut sampai bahkan pembenaran saya pun terbatasi menjadi
petunjuk-petunjuk kecil. Meskipun demikian, jika seseorang ter­
tarik dengan kedua argumen yang disebutkan di atas dan mencoba
mem­per­timbang­kan keduanya dengan serius, sudut pandang yang
sa­ngat menarik dan mendalam akan terbuka. Dengan bantuan
be­ berapa asumsi, motif yang menuntun Musa dalam kisahnya
yang tidak biasa dapat diperjelas; kemungkinan karakteristik serta
motivasi pem­berian agama terhadap bangsa Yahudi dapat dipahami.
Hal ter­ sebut menstimulasi gagasan mengenai asal-usul agama
http://facebook.com/indonesiapustaka

mono­teis se­cara umum. Akan tetapi, pemikiran penting ini tidak


da­pat di­dasar­kan hanya pada kemungkinan psikologis. Meskipun
se­se­orang me­nerima sejarah yang menyebutkan bahwa Musa ada­lah
orang Mesir, kita setidaknya harus memiliki poin tetap lain un­tuk
ber­jaga-jaga akan munculnya banyak kemungkinan celaan seperti:
gagasan tersebut khayal dan terlalu jauh dari kenyataan. Se­buah

- 13 -
Moses and Monotheism

bukti objektif dari masa hidup Musa dan juga perpindahan masal
dari Mesir, mungkin dirasa cukup. Namun demikian, bukti ter­sebut
belum didapatkan, dan karena itu, lebih baik bagi kita untuk me­
nahan pemikiran-pemikiran yang mendukung pandangan bahwa
Musa adalah orang Mesir.
http://facebook.com/indonesiapustaka

- 14 -
Bagian II

Jika Musa adalah Seorang


Berkebangsaan Mesir

alam Bagian I buku ini, saya telah mencoba manambahkan

D argumen baru bahwa Musa, sang pembebas dan pemberi


hukum orang-orang Yahudi, ternyata bukan orang Yahudi
melainkan orang Mesir. Gagasan bahwa nama Musa berasal dari
kosakata Mesir telah lama diamati, meskipun tidak sepenuhnya
diapresiasi. Saya juga menambahkan bahwa interpretasi mitos
dipaparkannya bayi Musa pada bahaya menghasilkan kesimpulan
bahwa ia adalah orang Mesir yang kebangsaannya dirasa perlu diubah
oleh orang-orang menjadi bangsa Yahudi. Pada akhir tulisan saya,
saya menyebutkan bahwa kesimpulan yang penting dan mendalam
da­pat diambil dari gagasan bahwa Musa adalah orang Mesir namun
saya tidak siap untuk membenarkan gagasan tersebut secara ter­
http://facebook.com/indonesiapustaka

buka karena ia hanya didasarkan pada kemungkinan psikologis


dan tidak memiliki cukup bukti objektif. Semakin signifikan ke­
mungkinan tersebut, akan semakin berhati-hati seseorang dalam
me­mapar­kan­nya terhadap serangan kritik dari dunia luar tanpa
fondasi yang aman—seperti monumen besi yang disangga tanah

- 15 -
Moses and Monotheism

liat. Tidak ada kemungkinan, sekalipun ia sangat meyakinkan, yang


dapat melindungi kita dari kesalahan. Bahkan jika semua bagian
terasa melengkapi satu sama lain seperti potongan gambar, kita
harus ingat bahwa kemungkinan tidak selalu berarti kebenaran dan
kebenaran tidak selalu terlihat mungkin terjadi. Akhirnya, tidaklah
menarik bagi kami untuk dikelompokkan bersama dengan para ahli
Skolastik dan Talmud yang puas hanya dengan menunjukkan ke­
cerdik­annya—mereka tidak merasa terganggu meskipun ke­simpul­
an­nya jauh dari kebenaran.
Terlepas dari rasa sangsi yang pada masa ini dan masa lalu
yang sama-sama sangat berpengaruh dan disebabkan oleh konflik
di dalam motif saya, munculah keputusan untuk merespons tulisan
pertama saya dengan kontribusi berikut. Namun begitu, sekali lagi,
tulisan ini hanya merupakan sebuah bagian dari keseluruhan dan
bukan hal yang paling penting.

lI;

Jika kemudian Musa memang berkebangsaan Mesir, hal per­


tama yang akan muncul dari gagasan ini adalah teka-teki baru,
teka-teki yang sulit untuk dijawab. Ketika sebuah suku1 mem­per­
http://facebook.com/indonesiapustaka

siap­kan sesuatu yang besar, diharapkan bahwa seseorang berperan


se­bagai pemimpin atau dipilih untuk menjadi pemimpin. Akan te­
tapi, bukanlah hal yang mudah diduga mengapa orang besar ber­

1 Kami tidak memiliki dugaan mengenai jumlah orang yang mengikuti


eksodus

- 16 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

kebangsa­an Mesir—kemungkinan seorang pangeran, pendeta, atau


pejabat tinggi—untuk menempatkan dirinya sebagai pemimpin
kelompok imigran dengan posisi budaya yang rendah, dan untuk
me­ninggalkan negaranya dengan kelompok tersebut. Pandangan
rendah yang terkenal dimiliki orang Mesir terhadap orang asing
mem­buat peristiwa tersebut benar-benar mustahil. Memang saya
lebih me­milih berpikir bahwa hal ini adalah alasan para sejarawan—
yang ber­anggapan bahwa nama Musa berasal dari Mesir dan yang
me­ngalungkan kebajikan-kebajikan Mesir kepada Musa—tidak
ingin mengakui kemungkinan yang telah jelas bahwa Musa ber­
kebangsaan Mesir.
Kesulitan yang pertama diikuti oleh yang kedua. Kita tidak
boleh lupa bahwa Musa bukan hanya pemimpin politik bangsa
Yahudi yang tinggal di Mesir, melainkan juga pemberi kebijakan
dan pen­didi­kan serta seseorang yang memaksa mereka mengadopsi
agama baru yang sampai hari ini masih disebut agama Musa.
Namun demikian, dapatkah seseorang menciptakan agama baru
dengan sangat mudah? Ketika seseorang ingin memengaruhi agama
orang lain, bukankah hal yang paling alamiah adalah membuat
orang ter­sebut berpindah kepercayaan ke agamanya? Bangsa Yahudi
yang tinggal di Mesir sudah pasti bukan tanpa agama tertentu. Jika
Musa, yang memberikan agama baru kepada mereka, adalah se­
http://facebook.com/indonesiapustaka

orang ber­kebangsaan Mesir, tidaklah dapat ditolak bahwa agama


baru tersebut adalah agama yang berasal dari Mesir.
Kemungkinan ini menemui sebuah hambatan: perbedaan
men­colok antara agama Yahudi yang diatributkan pada Musa de­
ngan agama yang berasal dari Mesir. Agama yang diberikan Musa
me­rupa­kan bentuk monoteisme yang betul-betul kaku. Hanya ada

- 17 -
Moses and Monotheism

satu Tuhan, tunggal, mahakuasa, dan tidak dapat didekati. Wajah-


Nya tidak boleh digambar; tidak ada yang dapat membuat gambaran
atas Zat-Nya, bahkan siapa pun tidak boleh menghela nama-Nya.
Sebaliknya, dalam agama Mesir, terdapat begitu banyak dewa yang
me­miliki peran dan asal yang berbeda. Beberapa dewa adalah per­
sonifikasi dari kekuatan natural agung seperti surga dan bumi,
matahari dan bulan. Kami pun menemukan sebuah abstraksi seperti
Maat (Keadilan, Kebenaran) atau makhluk aneh seperti Bes yang
kerdil. Sebagian besar dari mereka adalah dewa lokal yang berasal
dari masa ketika tanah bangsa tersebut dibagi menjadi beberapa
provinsi. Dewa-dewa tersebut berbentuk hewan, seakan-akan
belum dapat melepaskan bayangan hewan yang dijadikan simbol
tempat asal mereka. Dewa-dewa tersebut tidak dibedakan dengan
jelas, hampir tidak dibedakan oleh fungsi khusus yang diatributkan
pada beberapa dari mereka. Berbagai himne pujian menceritakan
hal yang sama mengenai setiap dewa, mengidentifikasi mereka satu
sama lain tanpa perasaan takut salah, sehingga membuat kita ter­
amat sangat bingung. Nama-nama dewa digabungkan dengan satu
sama lain sehingga julukan dewa tertentu hampir mirip dengan
julukan dewa lain. Karena itu, dalam periode terbaik “Kekaisaran
Baru,” dewa utama kota Thebes disebut Amon-Re yang gabungan
kata pertamanya berarti dewa kota berkepala biri-biri, sedangkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Re adalah nama dari Dewa Matahari On yang berkepala elang. Sihir


dan upacara serta jimat dan formula mendominasi penyembahan
ter­hadap dewa-dewa tersebut, hal yang setiap hari dilakukan oleh
orang-orang Mesir.
Beberapa dari perbedaan tersebut dapat dengan mudah ter­
bentuk dari prinsip yang kontras antara monoteisme kaku de­

- 18 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

ngan politeisme tidak terbatas. Perbedaan lain jelas merupakan


konsekuensi perbedaan level intelektual; satu agama teramat dekat
de­ngan gagasan primitif, yang satunya berada pada level abstraksi
paling tinggi. Mungkin kedua karakteristik inilah yang terkadang
mem­beri­kan kesan bahwa perbedaan kontras antara agama Musa
dan agama Mesir sengaja dibuat dan diperjelas: contohnya, ketika
satu agama dengan keras mengutuk segala bentuk sihir atau ilmu
hitam, hal-hal tersebut berkembang pesat di agama yang lain; atau
ke­tika nafsu bangsa Mesir yang tidak pernah terpuaskan untuk
mem­buat gambaran dewa-dewanya dari tanah liat, batu, dan metal
di­kontras­kan dengan penggambaran makhluk hidup atau tokoh
visioner yang betul-betul dilarang.
Terdapat pula perbedaan lain antara dua agama tersebut; per­
beda­an yang belum tersentuh oleh penjelasan kami sebelumnya.
Belum pernah ada orang dari masa lalu yang meskipun berusaha
keras menghindari kematian, mereka juga membuat persiapan yang
rapi untuk akhirat. Oleh sebab itu, dewa kematian Osiris yang me­
rupakan penguasa dunia-akhirat menjadi dewa paling populer dan
tidak terbantahkan di antara semua dewa Mesir. Sebaliknya, agama
Yahudi awal telah sepenuhnya melepaskan kepercayaan terhadap
ke­abadi­an; kemungkinan adanya kehidupan setelah kematian tidak
pernah disebutkan di mana pun. Gagasan ini menjadi lebih men­
http://facebook.com/indonesiapustaka

cengang­kan saat pengalaman di kemudian hari menunjukkan bah­


wa kepercayaan pada kehidupan setelah kematian dapat dengan sa­
ngat mudah disatukan dengan agama monoteis.
Kami berharap, gagasan bahwa Musa berkebangsaan Mesir
akan memberi penerangan dan menstimulasi dalam banyak hal.
Namun demikian, kesimpulan pertama kami dari gagasan ini—

- 19 -
Moses and Monotheism

bah­wa agama baru yang ia berikan kepada bangsa Yahudi adalah


agama­nya sendiri, agama dari Mesir—telah tenggelam di antara
per­bedaan kedua agama yang bahkan sangat kontras.

l II ;

Sebuah fakta sejarah unik mengenai agama dari Mesir, yang


di­kenali dan diapresiasi dengan agak terlambat, membuka sudut
pandang lain. Masih terdapat kemungkinan bahwa agama yang di­
beri­kan Musa kepada umat Yahudinya memang agamanya sen­diri,
sebuah agama yang dipraktikkan di Mesir meskipun tidak ber­asal
dari Mesir sendiri.
Pada dinasti kedelapan belas yang berjaya, ketika Mesir men­
jadi ke­kuatan dunia untuk kali pertama, Firaun muda menaiki
takhta pada sekitar 1375 SM, dan menyebut dirinya sendiri sebagai
Amenhotep (IV) seperti ayahnya, namun kemudian ia mengganti
nama­nya—dan bukan hanya nama yang ia ganti. Ia menekankan se­
buah agama baru pada rakyatnya, agama yang bertentangan dengan
tradisi kuno dan semua kebiasaan mereka. Agama tersebut adalah
agama monoteis kaku, sepengetahuan kami merupakan hal pertama
dalam sejarah dunia, dan intoleransi keagamaan yang masih asing
http://facebook.com/indonesiapustaka

pada zaman dahulu menjadi tak terhindarkan; agama tersebut lahir


dengan kepercayaan terhadap satu Tuhan. Namun demikian, masa
peme­rintahan Amenhotep bertahan hanya tujuh belas tahun; segera
se­telah kematiannya pada 1358, agama baru tersebut menghilang
dan ingatan mengenai raja bidah tersebut dilarang. Dari reruntuhan

- 20 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

kota yang telah ia bangun serta dedikasikan kepada Tuhannya dan


dari inskripsi di makam batu yang ada di sana, kami mendapatkan
se­dikit pengetahuan mengenai Amenhotep (IV). Segala sesuatu
yang kami pelajari mengenai sosok luar biasa dan unik ini layak
men­dapat­kan perhatian paling besar.2
Sesuatu yang baru pasti mengakar pada sesuatu yang meng­
awalinya. Asal mula monoteisme Mesir dapat ditelusuri cukup jauh
dengan keyakinan tertentu.3 Pada Sekolah Pendeta di Kuil Matahari
On (Heliopolis), selama beberapa waktu telah ada kecenderungan
untuk mengembangkan gagasan Tuhan universal dan menekankan
aspek-aspek etisnya. Maat, Dewi kebenaran, ketertiban, dan ke­
adilan, adalah putri dari Dewa Matahari yang bernama Re. Di ba­wah
pemerintahan Amenhotep III yang merupakan ayah dan le­luhur­
nya, penyembahan terhadap Dewa Matahari telah menjadi se­makin
penting, kemungkinan bertentangan dengan penyembahan ter­
hadap Amun dari Thebes, dewa yang terlalu menonjol. Nama kuno
dari Dewa Sun, Aton atau Atum, ditemukan kembali dan dalam
agama Aton ini, raja muda tersebut menemukan sebuah gerakan
yang tidak perlu ia buat, namun gerakan yang dapat membuatnya
ber­gabung.
Kondisi politik di Mesir pada saat itu mulai mempraktikkan
pe­ngaruh yang bertahan lama pada agama Mesir. Melalui pedang
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke­menangan milik sang penakluk agung, Thutmose III, Mesir

2 Breasted menyebutnya “Individu pertama dalam sejarah manusia.”


3 Laporan yang saya berikan di sini sangat didasarkan pada History of
Egypt oleh J. H. Breasted, 1906, dan The Dawn of Conscience, 1936,
serta bagian-bagian yang sesuai dalam Cambridge Ancient History,
Vol. 11.

- 21 -
Moses and Monotheism

men­­jadi kekuatan dunia. Nubia di selatan, Palestina, Suriah, dan


bagian dari Mesopotamia di utara telah ditambahkan ke dalam
ke­kaisaran. Sistem imperialisme ini direfleksikan ke dalam agama
se­bagai universalitas dan monoteisme. Karena pengaruh Firaun
telah menyebar dari Mesir ke Nubia dan Suriah, Tuhan itu sendiri
harus melepaskan keterbatasan nasionalnya dan Tuhan baru bangsa
Mesir harus menjadi seperti Firaun—seorang penguasa dunia yang
unik dan tidak terbatas serta yang dikenal bangsa Mesir. Selain
itu, memang sudah sepatutnya bahwa saat perbatasan daerah me­
lebar, Mesir dapat dimasuki pengaruh asing; beberapa istri para
raja merupakan putri-putri Asia,4 dan mungkin bahkan dorongan
untuk menganut monoteisme masuk dari Suriah.
Amenhotep tidak pernah menyangkal bahwa ia diangkat se­
bagai Pemuja Matahari On. Dalam dua nyanyian pujian untuk
Aton—yang telah dipertahankan melalui inskripsi di makam-ma­
kam batu dan kemungkinan diciptakan olehnya—ia memuji mata­
hari yang ia sebut sebagai sang pencipta dan pemelihara semua
ma­khluk hidup di dalam dan di luar Mesir dengan semangat yang
sama dari berabad-abad lalu, setelah sebelumnya hanya tertulis di
Mazmur Pujian terhadap dewa Yahudi bernama Yahweh. Namun
demi­kian, ia tidak berhenti pada hal yang ia sebut menakjubkan
me­ngenai efek cahaya matahari tersebut. Tidak diragukan bahwa ia
http://facebook.com/indonesiapustaka

me­muja matahari lebih jauh lagi: ia menyembahnya bukan sebagai


objek materi, melainkan sebagai simbol keilahian yang energinya
di­mani­festasi­kan dalam cahayanya.5

4 Mungkin bahkan istri tercinta Amenhotep yang bernama Nofertete


5 Breasted, History of Egypt, p. 360: “Namun sejelas apapun asal-usul

- 22 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

Hanya saja, terasa kurang adil terhadap sang raja jika kita
se­kadar memandangnya sebagai pengikut dan pelindung agama
Aton yang telah ada sebelum ia hidup. Aktivitasnya lebih energik. Ia
me­nambah­kan suatu hal baru yang berubah menjadi monoteisme,
doktrin mengenai satu tuhan semesta: kualitas yang eksklusif. Dalam
salah satu nyanyian pujiannya, hal tersebut disebutkan dalam banyak
kata: “Oh, Engkau satu-satunya Tuhan! Tidak ada Tuhan selain
Engkau.”6 Kita pun tidak boleh lupa bahwa untuk menilai sebuah
doktrin baru, tidaklah cukup untuk hanya mengetahui isi positifnya;
sisi negatifnya juga sama pentingnya, pengetahuan mengenai hal
yang disangkal oleh doktrin tersebut. Akan menjadi kesalahan
juga jika kita berasumsi bahwa agama baru dengan seketika hidup
de­ngan kondisi siap dan lengkap seperti Athena yang hidup dari
dahi Zeus. Segala sesuatunya lebih memperlihatkan bahwa selama
peme­rintahan Amenhotep, agama baru tersebut menjadi lebih kuat
dan mem­per­oleh kejelasan, konsistensi, kepadatan, dan intoleransi
yang lebih besar. Mungkin perkembangan ini terjadi di bawah pe­
ngaruh oposisi dahsyat di antara pendeta-pendeta Amon yang me­

Heliopolitan dari agama negara baru, hal tersebut bukan hanya pe­
muja­ an terhadap matahari; kata Aton digunakan di dalam istilah
lama yang berarti ‘tuhan’ (nuter), dan tuhan tersebut jelas berbeda
http://facebook.com/indonesiapustaka

da­ri matahari yang merupakan benda.” “Jelaslah bahwa apa yang


dituhankan oleh sang raja adalah kekuatan yang digunakan mata­
hari untuk membuat dirinya dirasakan di dunia” (Dawn of Conscience,
p. 279). Pendapat Erman mengenai sebuah formula puji­an terhadap
tuhan mirip dengan gagasan tersebut: A. Erman (Die Ægyptische
Religion, 1905). “Ada…kata-kata yang dimaksud untuk meng­ungkap­
kan dalam bentuk abstrak mengenai fakta bahwa bukan bintang itu
sendiri yang disembah, melainkan sosok yang memanifestasikan diri­
nya dalam bintang tersebut.”
6 Idem, History of Egypt, p. 374.

- 23 -
Moses and Monotheism

lawan pembaruan sang raja. Pada tahun keenam pemerintahan


Amenhotep, perseteruan ini telah berkembang sampai-sampai sang
raja meng­ubah namanya yang tadinya mengandung nama Dewa
Amon. Bukan lagi Amenhotep, ia sekarang memanggil dirinya
Ikhnaton.7 Namun demikian, bukan hanya nama yang dibersihkan
dari jejak-jejak Ikhnaton yang ia benci tersebut, ia juga menghapus
se­mua yang berhubungan dengannya di semua inskripsi dan bahkan
ke­tika ia menemukan Ikhnaton di nama ayahnya, Amenhotep III.
Se­gera setelah penggantian nama tersebut, Ikhnaton meninggalkan
Thebes yang berada di bawah pengaruh Amon, dan membangun
ibu­kota baru yang terletak lebih dekat dengan sungai yang ia sebut
Akhetaton (Horison Aton). Reruntuhannya sekarang disebut Tell-
el-Amarna.8
Perubahan yang dilakukan raja tersebut ditujukan untuk Amon,
namun bukan untuk melawannya. Di segara penjuru ke­ kaisar­
an, kuil-kuil ditutup, kebaktian dilarang, dan properti ke­gereja­an
disita. Memang, usaha sang raja dilakukan hanya untuk mem­buat
menghapus kata “Tuhan” ketika digunakan dalam bentuk jamak9
dalam inskripsi-inskripsi dan monumen tua. Bukanlah se­suatu yang
harus dipertanyakan jika perintah tersebut memancing reaksi balas
dendam fanatik di antara pendeta-pendeta dan orang yang tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

7 Saya mengikuti ejaan (Amerika) Breasted mengenai nama tersebut


(ejaan Bahasa Inggris yang diterima adalah Akhenaten). Nama baru
sang raja memiliki arti yang kurang lebih sama dengan yang se­belum­
nya: Tuhan puas. Bandingan Godfrey kami dan Gotthold Jerman.
8 Ini adalah ketika pada tahun 1887 korespondensi raja-raja Mesir dengan
para sahabat dan budaknya ditemukan, sebuah korespondensi yang
terbukti sangat penting untuk pengetahuan kita mengenai sejarah.
9 Idem, History of Egypt, p. 363.

- 24 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

senang dengan hal tersebut; sebuah reaksi yang mampu me­nemukan


jalan keluar dengan mudah setelah kematian sang raja. Agama Aton
tidak berhasil menarik pengikut; agama tersebut mung­kin dibatasi
hanya untuk orang-orang di sekitar Ikhnaton. Akhir hidupnya di­
selimuti misteri. Kita mengetahui bahwa banyak pe­nerus yang ber­
umur pendek dan jarang terlihat dari keluarganya sen­diri. Sosok
yang pada saat itu telah menjadi menantunya, Tutankhaton, dipaksa
kem­bali ke Thebes untuk menukar nama Amon di dalam namanya
men­jadi dewa Aton. Setelah itu, muncul­lah periode anarki sampai
Jenderal Haremhab pada 1350 berhasil me­ngembali­kan ketertiban.
Dinasti kedelapan belas yang penuh ke­ menangan musnah; dan
hilang­lah juga penaklukannya di Nubia dan Asia. Dalam masa per­
alihan pemerintahan penuh duka ter­se­but, agama Mesir yang se­
belum­nya tersebut telah dipulihkan. Agama Aton berada di akhir
hidup­nya, ibukota Ikhnaton hancur serta dijarah, dan mengenang
raja ter­sebut dianggap sebagai tindak kriminal.
Kita akan mendapat tujuan tertentu jika memperhatikan
beberapa karakteristik negatif agama Aton. Pertama-tama, semua
mitos, sihir, dan ilmu hitam ditolak olehnya.10
Setelah itu, ada beberapa bentuk representasi Dewa Mata­
hari: tidak lagi seperti masa-masa permulaan dalam bentuk piramida
kecil dan elang, tetapi dalam bentuk lingkaran cakram dengan sinar
http://facebook.com/indonesiapustaka

10 Weigall (The Life and Times of Akhnaton, 1923, p. 121) menyebutkan


bahwa Ikhnaton sama sekali tidak membedakan teror-teror yang
harus diwaspadai seseorang dengan menggunakan mantra sihir
dengan jumlah yang tidak terhitung. “Akhnaton mengempaskan
semua formula tersebut ke dalam api. Jin, hantu, roh, monster,
manusia setengah dewa, dan Osiris sendiri dengan seluruh istananya,
dilemparkan ke dalam bara api dan menjadi abu.”

- 25 -
Moses and Monotheism

dari dalam yang dapat menghilang di genggaman manusia, bentuk


yang hampir rasional. Terlepas dari kecintaan terhadap seni pada
pe­riode Amarna, tidak ada satu pun representasi personal Dewa
Mata­hari Aton yang ditemukan dan dapat kami katakan dengan
lan­tang bahwa hal itu memang tidak akan pernah ditemukan.11
Akhirnya, terdapat keheningan total mengenai dewa kematian
Osiris dan alam orang mati. Tidak ada nyanyian pujian atau
inskripsi di batu nisan yang mungkin dapat dengan lebih baik men­
jelas­kan isi hati bangsa Mesir. Perbedaan kontras dengan agama
yang populer tidak dapat digambarkan dengan lebih jelas.12

l III ;

Kami menarik kesimpulan berikut ini: jika Musa adalah orang


Mesir dan jika ia meneruskan agamanya sendiri kepada bangsa
Yahudi, berarti agama tersebut adalah agama Ikhnaton, agama Aton.
Sebelumnya, telah kita bandingkan antara agama Yahudi dan
agama yang dimiliki bangsa Mesir, dan kita menyadari be­tapa ke­
duanya berbeda dari satu sama lain. Sekarang, mari kita ban­dingkan
agama Yahudi dengan agama Aton; kita harus bersiap untuk me­
http://facebook.com/indonesiapustaka

11 A. Weigall, l.c., p. 103, “Akhnaton tidak mengizinkan gambaran


atau ukiran apapun mengenai Aton. Tuhan sejati, sebutnya, tidak
berbentuk; dan ia berpegang teguh pada pendapat tersebut seumur
hidupnya.”
12 Erman, l.c., p. 90: “Mengenai Osiris dan dunianya, tidak ada yang
dapat didengar.” Breasted, Dawn of Conscience, p. 291: “Osiris benar-
benar tidak dihiraukan. Ia tidak pernah disebutkan di laporan apapun
oleh Ikhnaton atau dalam batu nisan apapun di Amarna.”

- 26 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

nemu­kan kenyataan bahwa mereka sebenarnya identik. Kami pa­


ham bahwa hal tersebut bukan tugas yang mudah. Tidak cukup
jika kita hanya memahami agama Aton, berkat pembalasan dendam
para pendeta Amon. Kita hanya mengetahui bentuk akhir agama
Musa setelah agama tersebut diperbaiki oleh para pendeta Yahudi
pasca-pengasingan sekitar 800 tahun kemudian. Jika ditemukan
indikasi yang sesuai dengan tesis kita, maka kita mungkin memang
me­nilai kedua agama tersebut dengan tinggi.
Akan ada cara singkat membuktikan dugaan bahwa agama
Musa tidak lain dan tidak bukan adalah agama Aton adalah dengan
cara pengakuan keyakinan, sebuah proklamasi. Akan tetapi, saya
khawatir bahwa cara tersebut sulit untuk dipraktikkan. Ajaran
Yahudi yang telah diketahui dengan baik menyebutkan, “Schema
Jisroel Adonai Elohenu Adonai Echod.” Jika kesamaan nama Atom da­
lam bahasa Mesir (atau Atum) dengan Adonai dalam bahasa Ibrani
dan nama Ilahi Adonis dalam bahasa Suriah bukan hanya ke­betul­
an, melainkan hasil dari penyatuan bahasa dan makna dari masa
purba, maka kita dapat menerjemahkan formula Yahudi yang telah
disebutkan menjadi: Dengarlah, oh Israel, tuhan kami Aton (Adonai)
adalah satu-satunya Tuhan. Sayangnya, saya benar-benar tidak layak
untuk menjawab pertanyaan tersebut dan hanya me­nemu­kan sedikit
bukti mengenainya di dalam literatur yang relevan,13 namun kita
http://facebook.com/indonesiapustaka

mungkin sebaiknya tidak memandang segala se­suatu dengan terlalu

13 Hanya sedikit bagian di dalam Weigall, l.c., pp. 12, 19: “Tuhan Atum,
yang mendeskripsikan Re sebagai matahari terbenam, kemungkinan
memiliki asal yang sama dengan Aton, umumnya dimuliakan di
Suriah bagian utara. Seorang ratu asing, demikian pula pengikut-
pengikutnya, mungkin telah tertarik pada Heliopolis daripada Thebes.”

- 27 -
Moses and Monotheism

sederhana. Terlebih lagi, kita sebaiknya kem­bali membahas masalah


nama-nama keilahian.
Poin-poin persamaan dan perbedaan dalam kedua agama mu­
dah ditemukan, namun tidak dapat banyak membuat kita paham.
Ke­dua­nya adalah bentuk monoteisme ketat dan kita sebaiknya ber­
fokus pada karakter dasar keduanya untuk menemukan kesamaan.
Monoteisme Yahudi sampai tahap tertentu bahkan lebih tidak ke­
nal kompromi daripada monoteisme Mesir, contohnya adalah ke­
tika monoteisme Yahudi melarang semua representasi visual akan
Tuhannya. Perbedaan yang paling penting—terlepas dari nama
Tuhan mereka—adalah bahwa agama Yahudi sepenuhnya te­lah me­
ninggal­kan pemujaan terhadap matahari, hal yang masih di­laku­kan
oleh agama Mesir. Ketika membandingkan agama rakyat Yahudi
dan Mesir, kami mendapat kesan bahwa terlepas dari per­beda­an
prinsip, terdapat elemen kontradiksi yang disengaja dalam per­beda­
an tersebut. Kesan ini terlihat beralasan ketika dalam mem­banding­
kan­nya, kami mengganti agama Yahudi dengan agama Aton yang,
se­
penge­ tahu­an kami, dikembangkan oleh Ikhanaton dengan
antagonis­me yang sengaja dibuat terhadap agama populer. Kami
ter­kejut—dan sudah sewajarnya demikian—bahwa agama Yahudi
tidak memiliki gaung setelah kemusnahannya, sebab doktrin yang
demi­kian bertautan dengan bentuk monoteisme paling ketat. Ke­
http://facebook.com/indonesiapustaka

terkejut­an tersebut menghilang jika kita telusuri kembali dari agama


Yahudi ke agama Aton dan menduga bahwa fitur agama Yahudi
tersebut diambil dari agama Aton, karena bagi Ikhnaton hal ter­
sebut merupakan keharusan dalam memerangi agama populer yang
di situ kematian Dewa Osiris mungkin mengambil bagian lebih
pen­ting dibanding dewa-dewa lain yang lebih berkuasa. Kesamaan

- 28 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

agama Yahudi dengan agama Aton dalam poin penting ini adalah
argumen kuat pertama yang mendukung tesis kami. Akan kita lihat
bahwa argumen tersebut bukanlah satu-satunya.
Musa tidak hanya memberikan bangsa Yahudi sebuah agama
baru; adalah suatu keyakinan juga bahwa ia memperkenalkan
tradisi khitan. Hal ini benar-benar penting bagi masalah yang se­
dang kita bahas, dan hampir belum pernah dipertimbangkan.
Me­mang benar bahwa laporan Alkitab sering kali bertentangan
de­ngan hal tersebut. Pada satu sisi, Alkitab menelusuri kembali
budaya khitan tersebut sejak zaman tokoh-tokoh Alkitab sebagai
tanda perjanjian antara Tuhan dan Ibrahim. Pada sisi lain, tulisan
ter­
sebut menyebutkan dengan tidak begitu jelas bahwa Tuhan
marah kepada Musa karena ia telah mengabaikan kesucian dari
ke­gunaan khitan dan bermaksud untuk membunuhnya sebagai
hukuman; istri Musa, seorang penduduk Madyan, menyelamatkan
suami­nya dari kemurkaan Tuhan dengan melakukan operasi secara
cepat. Meskipun demikian, laporan-laporan tersebut merupakan
pe­nyimpang­an yang seharusnya tidak membuat kita kehilangan
arah; kita akan menelusuri motif yang mendasarinya dalam uraian
berikut. Fakta menyebutkan bahwa pertanyaan mengenai asal-usul
khitan hanya memiliki satu jawaban: tradisi tersebut datang dari
Mesir. Herodotus, “bapak sejarah,” mengatakan pada kita bahwa
http://facebook.com/indonesiapustaka

tradisi khitan telah lama dipraktikkan di Mesir, dan pernyataannya


telah dikonfirmasi oleh pemeriksaan terhadap mumi dan bahkan
gambar-gambar di tembok makam. Sepengetahuan kami, tidak
ada bangsa di Mediterania Timur yang mengikuti tradisi ini; da­
pat kita asumsikan dengan yakin bahwa bangsa Semit, Babel, dan
Sumeria tidak mempraktikkan khitan. Sejarah Alkitab sendiri

- 29 -
Moses and Monotheism

me­ngata­kan hal yang sama mengenai penduduk Kanaan; hal ini


telah dapat diduga dari cerita petualangan antara anak perempuan
Yakub dan Pangeran Sikhem.14 Kemungkinan bahwa bangsa
Yahudi di Mesir mengadopsi kegunaan khitan dengan berbeda
dari agama yang diberikan Musa dapat ditolak karena alasannya
tidak cukup kuat. Sekarang marilah mengingat bahwa khitan di­
praktik­kan di Mesir oleh para penduduk sebagai sebuah tradisi
umum, dan mari mengadopsi asumsi umum bahwa Musa adalah
orang Yahudi yang ingin membebaskan saudara sebangsanya
dari kuasa seorang raja Mesir dan memimpin mereka keluar dari
negara tersebut untuk mengembangkan hidup yang independen
serta penuh keyakinan—sesuatu yang memang ia capai. Apakah
masuk akal bahwa ia memaksakan beban tradisi, yang katakanlah,
membuat mereka menjadi orang Mesir dan memiliki keharusan
untuk selalu mengingat Mesir, padahal pada saat yang sama, ia
memiliki tujuan yang berseberangan, yaitu bahwa rakyatnya harus
terlepas dari negara perbudakan dan menjawab keinginan umatnya
untuk “memasak Mesir”? Tidak, fakta yang membuat kita memulai
diskusi ini dan gagasan yang kita tambahkan sangat tidak sejalan

14 Ketika saya menggunakan tradisi Alkitab di sini dengan gaya otokratis


dan semaunya, merujuk kepada tulisan tersebut ketika memungkinkan,
dan mengabaikan bukti-buktinya tanpa keraguan jika bertentangan
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan kesimpulan saya, saya sangat paham bahwa saya membuat


diri saya mudah diserang kritik tajam mengenai metode yang saya
gunakan dan bahwa saya memperlemah kekuatan bukti-bukti saya.
Namun demikian, hal ini adalah satu-satunya cara memperlakuan
materi yang keandalannya—yang kita ketahui dengan pasti—benar-
benar dirusak dengan memutarbalikkan tendensi. Diharapkan bahwa
pem­benaran akan datang nanti ketika kita telah menggali motif-motif
rahasia tersebut. Bagaimanapun, kepastian tidak akan didapatkan,
dan, terlebih lagi, dapat kita katakan bahwa penulis lain juga telah
me­lakukan hal yang sama.

- 30 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

de­ngan satu sama lain sehingga kita maju lagi untuk menarik ke­
simpulan berikut: Jika Musa tidak hanya memberikan bangsa
Yahudi sebuah agama baru, tetapi juga hukum khitan, dia memang
bukan orang Yahudi melainkan orang Mesir, dan kemudian agama
Musa tersebut mungkin merupakan agama Mesir, yaitu—karena
per­bedaan kontrasnya dari agama populer—agama Aton yang me­
miliki luar biasa banyak kemiripan dengan agama Yahudi pada
poin-poin tertentu.
Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, hipotesis saya
yang ber­bunyi bahwa Musa bukan orang Yahudi, namun orang
Mesir me­munculkan teka-teki baru. Hal yang ia lakukan—yang
mudah di­mengerti jika ia orang Yahudi—menjadi tidak dapat di­
mengerti di Mesir. Namun demikian, jika kita menempatkan Musa
pada masa Ikhnaton dan mengasosiasikannya dengan masa Firaun,
maka teka-teki tersebut akan terselesaikan dan sebuah motif akan
muncul dengan sendirinya serta menjawab semua per­tanya­an kita.
Mari kita asumsikan bahwa Musa adalah seorang laki-laki terhormat
dan mahsyur: mungkin memang merupakan ang­gota kerajaan, se­
perti yang disebutkan mitos. Ia pastilah sadar akan ke­mampu­an­
nya yang besar, ambisius, dan energik; mungkin ia dapat melihat
diri­nya di masa depan sebagai pemimpin dari rakyatnya, pemimpin
ke­kaisar­an. Karena hubungannya yang dekat dengan Firaun, ia me­
http://facebook.com/indonesiapustaka

rupa­kan penganut kuat agama baru itu yang prinsip-prinsip dasar­


nya sangat ia pahami dan ia jadikan prinsipnya sendiri. Dengan
ke­mati­an sang raja dan reaksi setelahnya, ia menyaksikan semua
harap­an dan prospeknya hancur. Jika saja ia tidak menarik kembali
keyakinan yang sangat ia kasihi, maka ia tidak akan mendapatkan
derita yang sedang ia alami saat itu dari Mesir; ia telah kehilangan

- 31 -
Moses and Monotheism

negara asalnya. Saat ia merasa membutuhkan jalan keluar, ia me­


nemu­kan solusi yang tidak biasa. Sang pemimpi Ikhnaton telah
me­ng­asing­kan diri dari rakyatnya, telah membiarkan kerajaannya
hancur. Sifat aktif Musa melahirkan cara membangun kekaisaran
baru­nya serta menemukan rakyat baru yang dapat menerima agama
yang dihina Mesir. Sebagaimana yang kita pahami, tindakan ter­sebut
merupa­kan tindakan heroik untuk melawan nasibnya, untuk me­
nemu­kan kompensasi dua arah atas kehilangan yang telah ia alami
karena kegagalan Ikhnaton. Mungkin pada saat itu ia merupakan
pe­mimpin dari provinsi perbatasan (Gosen) yang—mungkin sudah
semenjak “masa Hyksos”—ditempati suku Semit tertentu. Orang-
orang ini dipilihnya menjadi rakyat barunya, sebuah keputusan yang
bersejarah.15
Ia membangun hubungan dengan mereka, menempatkan
diri­nya sebagai kepala dan memimpin eksodus “dengan kekuatan
tangan”. Bertentangan dengan Alkitab, kita dapat berpikir bahwa
eksodus tersebut terjadi dengan damai dan tanpa pengejaran. Ke­
pemimpin­an Musa memungkinkan hal tersebut dan pada saat itu
ti­dak ada kekuatan pusat yang dapat menghalanginya.

15 Jika Musa merupakan seorang pejabat tinggi, kita dapat mengerti


http://facebook.com/indonesiapustaka

dirinya ditempatkan pada posisi pemimpin yang ia anggap ia miliki


dengan bangsa Yahudi. Jika ia adalah seorang pendeta, niat untuk
memberikan sebuah keyakinan baru kepada rakyatnya pasti dekat
dengan hatinya. Dalam kedua kemungkinan tersebut, ia tetap akan
melanjutkan profesi sebelumnya. Seorang pangeran keturunan
kerajaan dapat saja menjadi keduanya: pemerintah dan pendeta.
Dalam Laporan Flavius Josephus (Antiqu. Jud.), yang menerima mitos
dialirkannya bayi, namun terlihat mengetahui tradisi lain selain tradisi
Alkitab, Musa terlihat sebagai pemimpin lapangan Mesir dalam
sebuah kampanye kemenangan di Etiopia.

- 32 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

Berdasarkan pemikiran kami, eksodus dari Mesir terjadi antara


tahun 1358 dan 1350, yaitu setelah kematian Ikhnaton dan sebelum
pe­mulihan otoritas daerah Haremhab.16 Tujuan pengembaraan
pasti­
nya hanya Kanaan. Setelah supremasi Mesir runtuh, para
pen­duduk Aramean yang seperti gerombolan perang membanjiri
negara, me­nakluk­kan dan menjarah, serta memperlihatkan bahwa
me­reka mam­pu mengisi lahan baru. Kami paham mengenai para
prajurit ini dari surat-surat yang ditemukan tahun 1887 dalam arsip
se­buah kota hancur bernama Amarna. Sejumlah surat tersebut di­
sebut Habiru dan tidak ada yang tahu mengapa nama tersebut di­
ketahui oleh para penjajah Yahudi yang datang kemudian dan tidak
mungkin disebutkan di dalam surat-surat Amarna. Suku yang paling
dekat berhubungan dengan bangsa Yahudi yang saat itu me­ninggal­
kan Mesir juga tinggal di bagian selatan Palestina—di Kanaan.
Motivasi yang telah kita tarik mengenai eksodus secara ke­
seluruh­an juga meliputi gagasan khitan. Kita tahu bagaimana
manusia—baik kelompok maupun individu—bereaksi terhadap
tradisi kuno ini, mereka hampir tidak paham. Mereka yang tidak
mem­praktik­kan tradisi tersebut menganggapnya sangat aneh dan
agak me­ngeri­kan; namun mereka yang mengadopsi khitan justru
bangga akan tradisi tersebut. Mereka merasa lebih unggul, ter­hormat,
dan memandang rendah penuh kebencian pada orang-orang yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

tidak mempraktikkannya, menganggap mereka tidak ber­sih. Bahkan

16 Hal ini terjadi sekitar seabad lebih cepat daripada yang diasumsikan
sebagian besar sejarawan, yang menempatkannya pada masa
dinasti kesembilan belas di bawah pemerintahan Merneptah: atau
mungkin lebih jauh, karena laporan resmi terlihat menyertakan masa
peralihan pemerintahan di bawah Haremhab.

- 33 -
Moses and Monotheism

hingga saat ini, orang Turki melontarkan makian ter­hadap penganut


Kristiani dengan panggilan “anjing yang belum khitan.” Luar biasa­
nya, Musa yang sebagai orang Mesir juga di­khitan, melakukan hal
yang sama. Para Yahudi yang bersama Musa meninggalkan negara
asal­nya merupakan pengganti lebih baik dibanding penduduk Mesir
yang di­tinggal­kan­nya. Tidak ada situasi yang membuat mereka lebih
rendah dari­pada bangsa Mesir. Ia ingin menjadikan mereka sebagai
“Orang-Orang Suci”—yang juga disebutkan secara eksplisit dalam
teks Alkitab—dan sebagai tanda dedikasi, ia memperkenalkan tradisi
yang mem­buat mereka se­tidak­nya sejajar dengan para penduduk
Mesir. Lebih jauh lagi, akan dapat lebih membuatnya puas jika tradisi
itu me­ngisolasi dan men­cegah umatnya berinteraksi dengan orang
asing yang ditemui se­lama pengembaraan, seperti halnya bangsa Mesir
men­jauhi semua orang asing.17

17 Herodotus, yang mengunjungi Mesir pada sekitar tahun 450 SM, mem­
beri­kan dalam laporan perjalanananya mengenai karakteristik bang­
sa Mesir yang memperlihatkan kesamaan luar biasa dengan fitur-fitur
yang dikenal dari orang-orang Yahudi di kemudian hari. “Mereka
dalam segala hal sangat lebih taat daripada yang lain, mereka juga
berbeda dari yang lain dalam banyak tradisi, seperti khitan, yang oleh
sebab kebersihan mereka perkenalkan kepada yang lain; lebih jauh,
ketakutan mereka terhadap babi, tidak diragukan berhubungan
dengan fakta bahwa orang Set melukai Horus ketika menjelma sebagai
babi hitam; dan, terakhir, terutama oleh rasa hormat mereka terhadap
sapi, hewan yang tidak pernah mereka makan atau kurbankan karena
http://facebook.com/indonesiapustaka

mereka akan menyinggung sang Isis yang bertanduk sapi. Karena


itu, tidak ada orang Mesir, pria atau wanita, yang mencium orang
Yunani atau menggunakan pisau orang Yunani, tempat panggang atau
alat masaknya, atau makan daging bersih lembu jantan yang telah di­
potong dengan pisau Yunani…
Dalam sempit dan angkuhnya pemikiran, mereka memandang
rendah orang lain yang tidak bersih dan tidak dekat dengan Tuhan
se­perti halnya mereka.”
(Dari Erman, The Egyptian Religion, p. 181, etc.)

- 34 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

Meskipun demikian, tradisi Yahudi nantinya terasa seakan-


akan ia ditekan oleh beberapa gagasan yang baru saja kita kem­bang­
kan. Jika kita mengakui bahwa khitan adalah tradisi Mesir yang
di­per­kenal­kan oleh Musa, kita hampir menemukan bahwa agama
yang di­beri­kan kepada mereka oleh Musa juga adalah agama dari
Mesir. Akan tetapi, para Yahudi selalu memiliki alasan bagus untuk
me­nyang­kal fakta ini; maka, kebenaran mengenai khitan juga telah
di­kontradiksi.

l IV ;

Pada saat ini, saya mengantisipasi celaan bahwa saya hanya


mem­buat-buat tafsiran ini—penjelasan yang menempatkan Musa,
seorang Mesir, pada masa Ikhnaton; Musa yang membuat ke­putus­
an setelah mempertimbangkan keadaan politik Mesir pada saat itu
dan mem­buat keputusan untuk melindungi bangsa Yahudi; Musa
yang mengakui bahwa agama Aton adalah agama yang ia berikan
ke­pada rakyatnya atau bebankan kepada mereka, agama yang telah
di­musnah­kan di Mesir sendiri; bahwa saya telah membuat-buat
spekulasi dengan keyakinan terlalu besar sedangkan materinya sen­
diri tidak mengandung dasar-dasar yang cukup. Saya pikir celaan-
http://facebook.com/indonesiapustaka

cela­an tersebut tidak dapat dibenarkan. Saya telah menekankan

Secara alami, kita tidak lupa gagasan paralel dari kehidupan India.
Apa yang memberi pujangga Yahudi Heine gagasan untuk mengeluh
mengenai agamanya pada abad kesembilan belas dengan berkata,
“Wabah yang mengalir dari lembah Nil, keyakinan yang kurang sehat
dari orang-orang Mesir Kuno”?

- 35 -
Moses and Monotheism

ke­ragu­an dalam bagian pendahuluan, menyertakan pertanyaan di


da­lam tanda kurung, dan maka dapat menghindarkan diri saya
dari perlunya mengulang hal-hal tersebut setiap saat dengan tanda
kurung.
Sejumlah observasi yang saya lakukan sendiri dapat membuat
diskusi ini berlanjut. Inti dari tesis kami adalah ketergantungan
monoteisme Yahudi pada masa monoteis dalam sejarah Mesir telah
ditebak dan diisyaratkan oleh beberapa peneliti. Saya tidak perlu
mengutipnya kembali di sini, karena tidak ada dari peneliti tersebut
yang mampu mengatakan dengan bagaimana hal tersebut terjadi.
Meskipun, seperti yang telah saya katakan, hal tersebut terikat oleh
individualitas Musa. Kita tetap harus menambahkan kemungkinan-
kemungkinan lain di samping yang kita miliki saat ini. Tidaklah perlu
bagi kita untuk menebak bahwa tergulingnya agama Aton benar-
benar mengakhiri tren monoteis di Mesir. Sekolah Pendeta di On,
tempat yang memunculkan hal tersebut, bertahan dari bencana dan
mungkin telah menarik seluruh generasi setelah Ikhnaton ke dalam
orbit pemikiran keagamaan mereka. Gagasan bahwa Musa me­
laku­kan hal tersebut sedikit dapat dibayangkan, meskipun ia tidak
hidup pada masa Ikhnaton dan tidak berada di bawah pengaruh
langsung raja tersebut, dan meskipun ia hanya merupakan pengikut
atau anggota sekolah On. Dugaan ini akan memundurkan waktu
http://facebook.com/indonesiapustaka

ter­jadi­nya peristiwa eksodus dan membawanya ke abad ketiga belas,


abad yang diasumsikan pada umumnya; jika tidak tepat, tidak ada
waktu lain yang dapat direkomendasikan. Kita harus melepaskan
pe­mikir­an yang telah ditambahkan ke motif Musa serta gagasan
bah­wa peristiwa eksodus difasilitasi oleh anarki yang merebak di
Mesir. Para raja dari dinasti kesembilan belas, memerintah negara

- 36 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

de­ngan kuat, mengikuti Ikhnaton. Semua kondisi, baik internal


mau­pun eksternal, yang mendukung eksodus hanya sesuai sesaat
se­telah kematian raja bidah tersebut.
Bangsa Yahudi kaya akan literatur Alkitab ekstra yang di situ
terdapat mitos dan takhayul yang dalam waktu berabad-abad di­
rajut di sekeliling figur besar pemimpin pertama dan pengemuka
agama mereka; mitos dan takhayul tersebut mengeramatkan dan
mem­ buat figur-figur tersebut kurang dapat dipahami dengan
jelas. Beberapa fragmen tradisi lisan yang tidak dapat berkembang
di Pentateukh mungkin tersebar di antara materi tersebut. Salah
satu legenda mendeskripsikan dengan atraktif betapa ambisiusnya
Musa sejak masa kecilnya. Ketika Firaun menggendong dan meng­
angkat­nya ke udara, Musa yang pada saat itu berumur tiga tahun
meng­ambil mahkota dari kepala Firaun dan meletakkannya di atas
kepala­nya sendiri. Sang raja terkejut dengan pertanda itu dan ber­
konsultasi dengan orang-orang bijaknya.18 Setelah itu, lagi-lagi
kami men­dengar kisah mengenai pertempuran penuh kemenangan
yang ia pimpin sebagai seorang kapten Mesir di Etiopia dan bahwa
ia me­lari­kan diri dari negara tersebut karena memiliki alasan untuk
takut akan rasa dengki faksi istana atau bahkan rasa dengki Firaun
sen­diri. Kisah Alkitab itu sendiri memberikan Musa beberapa fitur
yang dapat mendorong setiap orang untuk memercayainya. Alkitab
http://facebook.com/indonesiapustaka

men­ deskripsi­
kan­ nya sebagai pribadi koleris, pemarah—seperti
ketika dalam kemarahannya, ia menghabisi pengawas brutal yang
mem­per­laku­kan pekerja Yahudi dengan buruk atau ketika dalam
kebenciannya terhadap kekurangan rakyatnya, ia menghancurkan

18 Anekdot yang sama, sedikit diubah, ditemukan dalam Yosefus.

- 37 -
Moses and Monotheism

meja yang telah diberikan padanya di Gunung Sinai. Memang,


Tuhan sendiri pada akhirnya menghukum Musa karena sikap
kurang sabarnya—tidak diceritakan alasannya. Karena kurang sabar
bukan merupakan sifat yang dapat dipuja, hal tersebut mungkin
saja merupakan kebenaran sejarah. Kita juga bahkan tidak bisa me­
nepis kemungkinan bahwa banyak kepribadian yang dibaurkan
bangsa Yahudi ke dalam konsepsi awal mereka mengenai Tuhan
ke­tika mereka membuat-Nya merasakan kecemburuan, memiliki
ke­tegasan dan sifat keras kepala. Inti dari kepribadian tersebut di­
ambil dari ingatan mereka mengenai Musa, karena sesunggahnya
Musa bukan merupakan tuhan yang wujudnya tidak terlihat me­
lain­kan manusia yang memimpin mereka keluar dari Mesir.
Sifat lain yang dipertalikan pada Musa juga layak mendapat
perhatian khusus. Musa dikatakan “lambat dalam berbicara”—ber­
arti, bisa jadi ia memiliki hambatan untuk berbicara atau inhibisi—
sehingga ia harus meminta Harun (yang disebut saudara laki-
lakinya) untuk membantunya dalam diskusi dengan Firaun. Hal ini
juga mungkin merupakan kebenaran sejarah dan berfungsi sebagai
tambahan dalam upaya membangun citra pria hebat ini. Meskipun
demikian, hal ini dapat memiliki makna lain yang lebih penting.
Dengan sedikit distorsi, laporan tersebut dapat mengingatkan kita
pada fakta bahwa Musa berbicara dalam bahasa lain dan tidak da­pat
http://facebook.com/indonesiapustaka

berkomunikasi dengan rakyat Neo-Mesir Semit-nya tanpa bantu­


an seorang penerjemah, setidaknya pada awal pertemuan. Maka,
tesis kami menemukan suatu konfirmasi baru yaitu: Musa ber­
kebangsaan Mesir.
Saat ini, tampak seakan-akan rentetan pemikiran kita telah
me­nuju titik akhir. Dari dugaan Musa adalah orang Mesir, terlepas

- 38 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

dari telah dibuktikannya atau belum, tidak ada lagi yang dapat di­
simpulkan pada saat ini. Tidak ada sejarawan yang menganggap
laporan Alkitab mengenai Musa dan eksodus sebagai suatu hal
selain mitos ketaatan agama, yang mentransformasikan tradisi kuno
atas dasar kepentingan dan tendensi Alkitab sendiri. Kita tidak tahu
bagaimana tradisi tersebut sesungguhnya dijalankan. Namun demi­
kian, kita dapat menebak tendensi yang membelokkan tersebut
meski tetap akan sulit memahaminya karena ketidakpedulian kita
pada kejadian-kejadian sejarah. Kita juga tidak akan kehilangan arah
hanya karena kita tidak meninggalkan ruang kosong bagi fitur-fitur
spektakuler tulisan Alkitab, seperti sepuluh wabah, jalan melalui
Laut Merah, serta pemberian hukum yang khidmat di Gunung
Sinai. Hanya saja, kita tidak bisa tetap bersikap untuk tidak peduli
ketika menemukan diri kita pada posisi yang berseberangan dengan
penelitian-penelitian sejarah yang dianggap waras pada zaman kita.
Para sejarawan modern yang direpresentasikan dengan baik
oleh E. Meyer19 ini menelaah teks Alkitab pada satu poin penting.
Mereka setuju jika suku-suku Yahudi, yang kemudian menjadi
bangsa Israel, pada suatu masa menerima sebuah keyakinan baru.
Namun demikian, hal ini tidak terjadi di Mesir maupun di kaki
gunung semenanjung Sinai, tetapi di suatu tempat yang disebut
Meribat-Qadeš, sebuah oasis yang berlimpah akan mata air dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

sumur di negara bagian selatan Palestina, antara ujung timur seme­


nanjung Sinai dan ujung barat Arabia. Di tempat itu, orang-orang
me­ laku­
kan pemujaan terhadap Dewa Yahweh, kemungkinan
penyembahan berasal dari suku Arab Madyan yang tinggal di dekat

19 E. Meyer: Die Israeliten und ihre Nachbarstāmme, 1906.

- 39 -
Moses and Monotheism

situ. Dapat diduga bahwa suku-suku tetangga lain juga menyembah


dewa tersebut.
Yahweh jelas adalah dewa gunung berapi. Meskipun demikian,
seperti yang kita ketahui, Mesir tidak memiliki gunung berapi dan
gunung-gunung di semenanjung Sinai bukanlah gunung berapi. Di
sisi lain, gunung berapi yang mungkin aktif ditemukan sepanjang
perbatasan barat Arabia. Salah satu dari gunung ini merupakan
Sinai-Horeb yang dipercaya sebagai tempat tinggal Yahweh.20
Terlepas dari semua transformasi yang telah dialami tulisan Alkitab,
kita dapat merekonstruksi hal yang menurut E. Meyer merupakan
karakter asli dewa tersebut: ia adalah iblis yang menyeramkan
dan haus darah, berjalan di malam hari dan menghindari cahaya
matahari.21
Perantara antara manusia dan sang dewa pada kelahiran agama
baru ini adalah seseorang yang bernama Musa. Ia adalah me­nantu
dari pendeta Madyan yang bernama Jethro, dan sedang merawat
ter­nak­nya ketika mendapat panggilan Tuhan. Jethro me­ngunjungi­
nya di Qadeš untuk memberinya instruksi.
E. Meyer memang mengakui bahwa ia tidak pernah me­
ragu­kan inti kebenaran sejarah dalam cerita perbudakan di Mesir
dan mala­petaka rakyat Mesir,22 tetapi jelas ia tidak mengetahui
fakta ter­sebut dikategorikan ke mana dan harus diapakan. Hanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

tradisi khitan yang dapat ia sebut berasal dari tradisi Mesir. Meyer
memperkaya diskusi kita sebelumnya dengan dua gagasan penting.

20 Tulisan Alkitab mempertahankan bagian tertentu yang menjelaskan


bahwa Yahweh turun dari Sinai ke Meribat-Qadeš
21 L.c., pp. 38, 58.
22 L.c., pp. 49.

- 40 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

Per­tama, bahwa Joshua meminta rakyat menerima praktik khitan


“un­tuk menghindari celaan dari Mesir”; dan kedua, dengan kutip­an
dari Herodotus dan para Fenisia (yang berarti bangsa Yahudi) serta
bangsa Suriah di Palestina sendiri, Joshua mengakui telah belajar
tradisi khitan dari bangsa Mesir.23 Namun demikian, Musa yang
me­rupa­kan orang Mesir tidak membuatnya tertarik. “Musa yang
kami kenal adalah nenek moyang para pendeta Qadeš; maka ia
ber­hubung­an dengan kultus tersebut, ia merupakan figur mitologi
dan bukan merupakan sosok sejarah. Jadi, kecuali orang-orang
yang menerima seluruh tradisi yang ia praktikkan sebagai ke­benar­
an sejarah, tidak satu pun yang memperlakukannya sebagai sosok
sejarah dan tidak ada yang berhasil mengisi bentuk kosong ini de­
ngan deskripsi bahwa Musa adalah tokoh konkret mereka; me­reka
tidak memiliki pencapaian ataupun misi dalam sejarah untuk di­
ceritakan kepada kita.24
Sebaliknya, Meyer tidak jenuh-jenuhnya bercerita mengenai
hubungan Musa dengan Qadeš dan Madyan. “Sosok Musa terikat
erat dengan Madyan dan tempat-tempat suci lain di padang pasir.”25
“Sosok Musa berasosiasi dan tidak dapat dipisahkan dari Qadeš
(Massa dan Meriba); hubungan dengan seorang pendeta Madyan atas
dasar pernikahan melengkapi gambaran ini. Sebaliknya, hubungan
de­ngan peristiwa eksodus dan cerita tentang masa mudanya secara
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke­seluruh­an, benar-benar hal sekunder dan hanya merupakan kon­


sekuensi dari keharusan bahwa Musa harus sesuai dengan kisah

23 L.c., pp. 449.


24 L.c., pp. 451.
25 L.c., pp. 49.

- 41 -
Moses and Monotheism

yang berhubungan dan sambung-menyambung ini.”26 Meyer


juga meng­observasi bahwa semua karakteristik yang ada di dalam
kisah me­ngenai masa muda Musa di kemudian hari dihilangkan.
“Musa dari Madyan bukan lagi seorang berkebangsaan Mesir dan
cucu Firaun, melainkan seorang penggembala yang didatangi oleh
Yahweh. Di dalam kisah mengenai sepuluh wabah, hubungan-
hubung­an­nya terdahulu tidak lagi disebutkan, meskipun hal itu
se­sungguh­nya dapat digunakan dengan sangat efektif; dan kisah
me­ngenai perintah untuk membunuh bayi pertama bangsa Israel
sama sekali dilupakan. Di dalam peristiwa eksodus dan kebinasaan
bangsa Mesir, Musa sama sekali tidak diceritakan; namanya bahkan
tidak disebutkan. Karakteristik seorang pahlawan, yang telah di­
sebut­kan pada kisah masa kecilnya, sama sekali hilang dari kisah
Musa di kemudian hari; ia hanya merupakan kaki tangan Tuhan,
pelaku keajaiban, yang memiliki kekuatan supernatural kepunyaan
Yahweh.”27
Kita tidak dapat melepaskan kesan bahwa Musa dari Qadeš
dan Madyan—tempat yang membuat pengkhianat bahkan dapat
di­anggap dewa penyembuh oleh tradisi—merupakan orang yang
cukup berbeda dari orang Mesir yang memperkenalkan kepada
rakyat­nya sebuah agama yang benar-benar mengutuk segala bentuk
sihir dan ilmu hitam. Musa dari Mesir yang kita maksud mungkin
http://facebook.com/indonesiapustaka

ti­dak begitu berbeda dengan Musa dari Madyan, jika dibandingkan


de­ngan perbedaan dewa semesta Aton dengan sang iblis Yahweh.
Dan, jika kita mengakui kisah yang dihias oleh sejarawan modern

26 L.c., pp. 72.


27 L.c., p. 47.

- 42 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

sebagai kebenaran, maka kita juga harus mengakui bahwa tali


kesimpulan bahwa Musa adalah orang Mesir telah putus untuk kali
kedua; kali ini, tali tersebut sudah tidak dapat disambung kembali.

lV;

Meskipun demikian, sebuah jalan tanpa diduga terbuka bagi


masalah ini. Dari E. Meyer, Gressmann, dan peneliti lain me­nerus­
kan upaya untuk menemukan sosok yang melebihi pendeta Qadeš
dalam diri Musa, serta upaya untuk mengonfirmasi adanya ke­
makmur­an yang dipertaruhkan tradisi demi sosoknya. Pada 1922,
E. Sellin membuat penemuan yang sangat penting.28 Di dalam buku
Hosea pada tengah kedua dari abad kedelepan belas, ia menemukan
jejak-jejak kebenaran bahwa pendiri keyakinan mereka (Musa) me­
nemui akhir tragis dalam pemberontakan rakyatnya. Agama yang ia
dirikan pada saat yang sama ditinggalkan. Kisah ini tidak di­batasi
sampai Hosea: hal tersebut juga terdapat pada tulisan-tulisan para
sejarawan dalam buku selanjutnya; memang, menurut Sellin, kisah
tersebut adalah dasar semua harapan di kemudian hari ter­hadap
Mesias. Menjelang akhir pengasingan bangsa Babel, harapan mun­
cul di antara bangsa Yahudi bahwa sosok yang telah mereka habisi
http://facebook.com/indonesiapustaka

tanpa perasaan akan kembali dari alam baka dan me­mimpin umat­
nya, dan mungkin juga bangsa lain, yang penuh rasa sesal, ke tanah

28 E. Sellin, Mose und seine Bedeutung fuer die israelitisch-juedische


Religionsgeschichte, 1922.

- 43 -
Moses and Monotheism

ke­bahagia­an abadi. Akhir hidup sang pendiri agama se­lanjut­nya


tidak akan ditemui di dalam bahasan kita saat ini.
Secara alamiah, saya tidak berada di posisi yang dapat me­nentu­
kan apakah Sellin telah secara tepat menginterpretasi bagian-bagian
buku tersebut. Meskipun demikian, jika ia melakukannya dengan
benar, kita dapat menganggap kisah yang ia temukan kredibel secara
historis: sebab hal-hal tersebut tidak dapat diciptakan seketika—dan
tidak ada alasan yang bisa dimengerti untuk merekayasanya. Jika
hal-hal tersebut benar-benar terjadi, harapan untuk melupakannya
dapat dengan mudah dimengerti. Kita tidak perlu menerima setiap
detail cerita. Sellin berpikir bahwa Sitim di tanah bagian timur
Jordan adalah tempat terjadinya pembunuhan keji tersebut. Kita
akan melihat bahwa hal tersebut tidak selaras dengan argumen kita.
Mari kita gunakan dugaan Sellin bahwa Musa dari Mesir
di­habisi oleh bangsa Yahudi dan kepercayaan yang ia ba­ngun di­
tinggal­kan. Hal tersebut memungkinkan kita untuk mem­ per­
panjang jangkauan bahasan kita tanpa mengontradiksi hasil-hasil
yang se­kira­nya dapat dipercaya dari penelitian sejarah. Namun
demi­kian, kita harus mencoba tidak terpengaruh para sejarawan da­
lam hal lain dan memiliki jejak kita sendiri. Peristiwa eksodus dari
Mesir akan tetap menjadi poin awal kita. Pasti ada cukup banyak
manusia yang meningggalkan Mesir dengan Musa; kelompok kecil
http://facebook.com/indonesiapustaka

tidak akan layak mendapatkan usaha pria ambisius dengan rencana


licik­nya tersebut. Para imigran tersebut mungkin telah menetap di
Mesir cukup lama sampai berkembang menjadi jumlah yang besar.
Kita berusaha untuk tidak kehilangan arah jika kita dengan sebagian
besar peneliti menganggap bahwa hanya sebagian dari pengikut
ekosudus—yang di kemudian hari menjadi bangsa Yahudi—ter­

- 44 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

sebut yang mengalami nasib perbudakan di Mesir. Dengan kata lain,


suku yang kembali dari Mesir kemudian digabungkan di negara
antara Mesir dan Kanaan dengan suku-suku berdekatan lain yang
baru beberapa waktu berada di sana. Kelompok ini, yang kemudian
men­jadi bangsa Israel, mengatakan bahwa diri mereka mengadopsi
se­buah kepercayaan baru—hal yang umum bagi semua suku—ber­
nama agama Yahweh; menurut E. Meyer, hal ini terjadi di Qadeš
di bawah pengaruh orang-orang Madyan. Oleh karena itu, bangsa
ter­sebut merasa cukup kuat untuk menjalankan pendudukan atas
Kanaan. Hal ini tidak sejalan dengan rangkaian kejadian yang ada
se­hingga malapetaka yang dialami Musa dan agamanya seharusnya
ter­jadi di tanah sebelah timur Jordan, dan pasti telah terjadi jauh
se­belum kelompok tersebut terbentuk.
Telah jelas bahwa banyak elemen sangat berbeda yang ber­
kontribusi membentuk bangsa Yahudi, namun perbedaan paling
besar di antara mereka bergantung pada apakah mereka singgah di
Mesir dan mengalami kejadian setelahnya atau tidak. Dari sudut
pan­dang ini, dapat kita katakan bahwa sebuah bangsa dibentuk
oleh kesatuan dua konstituen dan hal tersebut selaras dengan fakta
bahwa pascaperiode kesatuan politik yang hanya sesaat, bangsa
Yahudi terbelah menjadi dua bagian—Kerajaan Israel dan Kerajaan
Yehuda. Sejarah menunjukkan banyak restorasi semacam itu, yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

di dalamnya persatuan baru menjadi hancur dan perpisahan yang


ter­jadi sebelumnya terlihat jelas kembali. Contoh yang paling me­
ngesan­kan dan sangat dikenal ditunjukkan oleh reformasi: ketika
setelah interval lebih dari seribu tahun, reformasi tersebut me­mun­
cul­kan kembali batas antara Germania yang merupakan Roman
dan bagian yang akan selalu menjadi independen. Dengan bang­

- 45 -
Moses and Monotheism

sa Yahudi, kita tidak dapat memverifikasi kisah yang sangat mirip


dengan keadaan sebelumnya tersebut. Kita hanya mengetahui
masa-masa tersebut dengan asumsi bahwa Kerajaan Utara telah me­
nyerap penduduk aslinya, sedangkan Kerajaan Selatan menyerap
pen­duduk yang kembali dari Mesir; namun, perpisahan yang terjadi
di kemudian hari dalam hal ini tidak mungkin tidak berhubungan
de­­ngan bangsa sebelumnya. Bangsa Mesir yang ada sebelumnya ke­
mungkin­an berjumlah lebih sedikit daripada bangsa Mesir saat itu,
namun mereka telah membuktikan bahwa mereka memiliki tingkat
ke­budaya­an lebih tinggi. Bangsa Mesir yang ada sebelumnya me­
miliki pengaruh lebih besar terhadap perkembangan rakyat Mesir
karena mereka membawa tradisi yang tidak dimiiki Bangsa Mesir
se­telahnya.
Mungkin mereka membawa hal lain dan lebih nyata di­ban­
ding­kan tradisi. Di antara teka-teki terbesar masa prasejarah Yahudi
adalah teka-teki yang berhubungan dengan pendahulu bangsa
Lewi. Mereka dikatakan berasal dari salah satu dari kedua belas
suku Israel, suku Lewi, namun belum ada tradisi yang pernah me­
nyebut­kan dari suku mana ia berasal atau bagian negara Kanaan
mana yang dikuasainya. Suku Lewi menempati posisi kependetaan
paling penting, namun mereka tetap dibedakan dari pendeta. Se­
orang Lewi belum tentu merupakan seorang pendeta; Lewi bukan­
http://facebook.com/indonesiapustaka

lah nama suatu kasta. Dugaan kami mengenai sosok Musa mem­
beri­ kan sebuah penjelasan. Tidaklah kredibel jika seorang pria
sejati seperti Musa dari Mesir mendekati orang-orang yang tidak
ia kenal tanpa seorang perantara. Ia pasti membawa rombongan
ber­ samanya, pengikut-pengikut terdekatnya, juru tulisnya, dan
pelayan­nya. Orang-orang ini adalah orang Lewi yang asli. Sebuah

- 46 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

kisah menyebutkan bahwa Musa adalah orang Lewi. Hal ini jelas ter­
lihat menyimpang dari keadaan sesungguhnya: bangsa Lewi adalah
orang-orang Musa. Kesimpulan ini didukung oleh hal yang telah
saya sebutkan pada tulisan saya sebelumnya: bahwa di kemudian
hari kami menemukan nama-nama Mesir di antara nama-nama
bangsa Lewi.29 Kita dapat mengatakan bahwa cukup banyak peng­
ikut Musa yang melarikan diri dari nasib yang menimpa Musa dan
agama­nya. Jumlah mereka bertambah pada generasi setelahnya dan
mereka berbaur dengan orang-orang yang hidup bersama me­reka,
namun mereka tetap setia pada Musa, menghormati ke­nang­an me­
ngenai­nya, dan mempertahankan tradisi ajarannya. Ke­tika orang-
orang tersebut bersatu dengan para pengikut Yahweh, me­reka mem­­
bentuk minoritas yang berpengaruh, unggul secara budaya dari yang
lain.
Saya mengajukan sebuah gagasan—dan baru merupakan
gagas­an sejauh ini—bahwa di antara peristiwa kejatuhan Musa
dan di­bentuk­nya agama di Qadeš, dua generasi telah lahir dan
me­ng­hilang, mungkin satu abad setelah peristiwa pertama. Saya
me­nyebut orang-orang yang kembali dari Mesir sebagai bangsa
“Neo-Mesir” untuk membedakannya dengan bangsa Yahudi yang
lain; dan saya tidak tahu bagaimana saya dapat mengetahui apakah
orang-orang Neo-Mesir ini bertemu dengan saudaranya yang di­
http://facebook.com/indonesiapustaka

cerita­kan dalam kisah sejarah yang sama setelah atau sebelum mereka
menerima agama Yahweh: kemungkinan besar sebelum agama ter­

29 Asumsi ini sangat selaras dengan hal yang disebutkan Yahuda


mengenai pengaruh Mesir pada tulisan-tulisan awal Yahudi. Lihat A.
S. Yahuda, Die Sprache des Pentateuch in ihren Beziehungen zum
Aegyptischen, 1929.

- 47 -
Moses and Monotheism

sebut diterima. Kedua hal tersebut tidak menunjukkan hasil yang


ber­beda. Hal yang terjadi di Qadeš adalah sebuah kompromi yang
dalam persoalan itu peran yang dimainkan oleh suku Musa tidak
di­ragukan lagi.
Di sini, kita dapat mengingat kembali tradisi khitan yang
telah berulang-ulang dijelaskan kepada kita sebagai praktik yang
penting melalui semacam “leitfossil.” Tradisi ini juga telah menjadi
hukum di agama Yahweh, dan karena hal tersebut tidak dapat
dipisahkan dengan Mesir, adopsi terhadap tradisi khitan menandai
pengakuan terhadap pengikut Musa. Mereka—atau bangsa Lewi
yang hidup di antara mereka—tidak akan meninggalkan tanda
peng­abdian tersebut. Mereka ingin mempertahankan banyak hal
dari agama mereka yang dahulu, dan demi harga tersebut, mereka
ber­sedia mengakui tuhan baru dan segala sesuatu yang dikatakan
pendeta Madyan mengenainya. Kemungkinan mereka juga berhasil
men­dapat­kan pengakuan-pengakuan lain. Telah kami sebutkan se­
belum­nya bahwa ritual Yahudi memiliki kondisi tertentu dalam
peng­ gunaan nama Tuhan. Terlepas dari Yahweh, mereka harus
me­nyebut­kan nama Adonai. Kami tergoda untuk menggunakan
aturan ter­sebut dalam argumen kita, namun ia masih sebatas duga­
an. Pem­batasan untuk mengucap nama Tuhan juga diketahui se­
bagai tabu masa lampau. Hal itu dikarenakan bahwa peraturan itu
http://facebook.com/indonesiapustaka

di­per­barui di dalam firman Yahudi tidak begitu jelas; dan bukan lagi
sebuah pertanyaan bahwa hal ini terjadi karena sebuah motif baru.
Sulit untuk mengatakan bahwa peraturan tersebut di­patuhi de­ngan
konsisten; kata Yahweh dengan bebas digunakan di dalam pem­
bentu­kan nama-nama ilahi secara pribadi, i.e. dengan peng­gabung­
an seperti Jochanan, Jehu, Joshua. Namun demikian, ada sesuatu

- 48 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

yang aneh mengenai nama ini. Telah diketahui bahwa penafsiran


Alkitab memiliki dua sumber Heksateukh. Kedua sumber itu di­
sebut J dan E, yang satu menggunakan nama suci Yahweh, yang
satu­nya Elohim; ya, nama Elohim, bukan Adonai. Akan tetapi, saat
ini kami akan mengutip seorang penulis: nama yang berbeda adalah
tan­da khusus dari dewa yang berbeda pula.30
Kami berpendapat bahwa tradisi khitan dipertahankan se­
bagai bukti bahwa pada pendirian agama baru di Qadeš, sebuah
kompromi telah dilakukan. Isi dari kompromi tersebut dapat kita
ke­tahui dari J dan E; kedua laporan tersebut serupa, maka pasti
me­miliki sumber yang sama, baik tertulis maupun lisan. Tujuannya
ada­ lah membuktikan keagungan dan kekuatan tuhan baru,
Yahweh. Karena pengikut Musa memandang peristiwa eksodus dari
Mesir sebagai sesuatu yang sangat penting, keberhasilan pem­bebas­
an mereka harus dianggap karena Yahweh. Anggapan ini harus
di­sempurna­kan dengan fitur yang membuktikan kekuasaan dewa
gunung berapi ini, contohnya seperti pilar asap yang berubah men­
jadi pilar api dalam semalam, atau badai yang membelah lautan
se­
hingga pasukan yang mengejar mereka tenggelam karena air
laut­ nya kembali seperti semula. Maka, peristiwa ekosudus dan
pen­ dirian agama baru dibuat terjadi dalam waktu berdekatan,
interval panjang di antara dua kejadian tersebut disangkal. Peng­
http://facebook.com/indonesiapustaka

anugerah­an Sepuluh Firman Tuhan juga dikatakan bukan terjadi


di Qadeš melainkan di kaki Gunung Suci saat gunung tersebut
hampir meletus. Meskipun demikian, deskripsi ini benar-benar
merusak kenangan akan Musa; adalah ia, dan bukan sang dewa

30 Gressmann—Mose und Seine Zeit, 1913.

- 49 -
Moses and Monotheism

gunung berapi, yang telah membebaskan umatnya dari Mesir.


Maka, sebuah kompensasi disebabkan olehnya dan kompensasi
ter­sebut dilakukan dengan memindahkan sosok Musa ke Qadeš
atau ke gunung Sinai-Horeb dan menjadikannya sebagai pendeta
Madyan. Kami akan mempertimbangkan bagaimana solusi ini me­
menuhi tendensi lain yang mendesak. Dengan cara tersebut, dapat
di­katakan sebuah keseimbangan telah tercapai: Yahweh diizinkan
mem­ per­
lebar kekuasannya ke Mesir dari gunung di Madyan,
sedang­kan keberadaan dan aktivitas Musa dipindahkan ke Qadeš
dan negara di bagian timur Jordan. Hal ini membuatnya menyatu
de­ngan sosok yang kemudian mendirikan agama tersebut, menantu
Jethro yang berasal dari suku Madyan, sosok yang mendapat pin­
jam­an nama Musa. Meskipun demikian, kita tidak mengetahui
hal yang lebih pribadi mengenai sosok Musa yang satunya ini—
sosok­nya tidak begitu jelas dibanding Musa dari Mesir—kecuali
mung­kin dari petunjuk kontradiktif yang ditemukan di Alkitab
me­ngenai karakterisasi Musa. Ia cukup sering dideskripsikan se­
bagai orang yang sewenang-wenang, pemarah, dan bahkan kasar;
namun ia juga dikatakan sebagai pria paling sabar dan baik hati.
Jelaslah bahwa sifat-sifat tersebut tidak terdapat pada diri Musa
dari Mesir yang melakukan hal-hal besar dan sulit untuk umatnya.
Mungkin sifat-sifat itu dimiliki oleh Musa yang satunya, Musa dari
http://facebook.com/indonesiapustaka

Madyan. Saya pikir memang beralasan jika kita ingin membedakan


ke­dua orang tersebut dan berasumsi bahwa Musa dari Mesir tidak
pernah menginjakkan kaki di Qadeš dan belum pernah men­
dengar nama Yahweh. Sebaliknya, Musa dari Madyan belum per­
nah menginjakkan kaki di Mesir dan tidak mengetahui apapun
me­ngenai Aton. Demi menyatukan kedua orang tersebut, tradisi

- 50 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

atau legenda harus memindahkan Musa dari Mesir ke Madyan; dan


kami belum pernah menemukan penjelasan untuk hal tersebut.

l VI ;

Saya cukup siap untuk mendengar kembali celaan yang telah


saya antisipasi dalam rekonstruksi sejarah awal suku Israel dengan
ke­tidak­pastiannya. Saya tidak akan menganggap bahwa kritik-
kritik ter­sebut terlalu pedas, karena kritik memiliki gemanya di
dalam penilaian saya sendiri. Saya sendiri tahu bahwa rekonstruksi
ini me­miliki berbagai kelemahan namun juga memiliki banyak ke­­
lebihan. Secara keseluruhan, argumen yang mendukung ke­lanjut­an
penelitian ini ke arah yang sama bertahan. Catatan Alkitab di hadap­
an kita berisi bukti sejarah yang berharga, juga yang tidak ber­harga.
Meskipun demikian, bukti-bukti tersebut te­lah meng­alami distorsi
karena pengaruh kepentingan serta hasil penjabaran tulisan yang
puitis dan sulit dimengerti. Dalam tulisan ini, kita telah mampu
men­definisikan salah satu kepentingan yang menyebabkan distorsi
ter­sebut. Hal ini merupakan petunjuk bagi kita untuk menemukan
faktor lain yang menyebabkan distorsi. Jika kita memiliki alasan un­
tuk menemukan bentuk distorsi lain, kita juga harus mampu me­ng­
http://facebook.com/indonesiapustaka

ungkap kejadian nyata yang terjadi.


Mari kita mulai dengan menandai apa yang dijabarkan oleh
pe­nelitian kritis mengenai bagaimana kitab Heksateukh—lima
Kitab Musa dan Kitab Joshua—mulai ditulis.31 Sumber paling tua

31 Encyclopedia Britannica, XI Edition, 1910, Art.: Bible.

- 51 -
Moses and Monotheism

di­anggap berasal dari J, Yahwis; peneliti paling modern menduga


pe­nulis­nya adalah pendeta Ebjatar, orang yang hidup di zaman
Raja Daud.32 Beberapa waktu kemudian, jarak waktu pastinya ti­
dak di­ ketahui, muncullah yang disebut Eloistik dari kerajaan
utara. Setelah hancurnya kerajaan tersebut, pada 722 SM, se­orang
33

pendeta Yahudi menggabungkan tulisan J dan E dan me­nambah­


kan kontribusinya sendiri. Kompilasi tersebut disebut JE. Pada abad
ketujuh, Deuteronomy yang merupakan buku kelima di­tambah­
kan. Diduga bahwa keseluruhan buku tersebut baru saja di­temu­kan
di Gereja. Setelah kehancuran Gereja tersebut, pada 586 SM, saat
terjadinya pengasingan dan setelahnya, diletakkanlah teks yang telah
ditulis ulang, bernama Kode Imamat. Pada abad kelima, muncul
versi yang jelas telah direvisi dan semenjak itu materi di dalam
tulisan tersebut belum pernah diubah.34
Kisah Raja Daud dan zamannya kemungkinan besar adalah
karya salah satu orang yang hidup di masa itu. Ini merupakan

32 Lihat Auerbach, Wüste and Gelobtes Land, 1932.


33 Austruc pada 1753 merupakan orang pertama yang membedakan
antara Yahwis dan Elohis.
34 Adalah kejadian sejarah yang pasti bahwa tipe Yahudi betul-betul
telah ditetapkan sebagai akibat reformasi oleh Ezra dan Nehemiah
pada abad kelima sebelum Masehi, dan juga setelah pengasingan
http://facebook.com/indonesiapustaka

saat orang-orang Persia yang ramah memerintah. Berdasarkan per­


kira­an kami, kurang lebih 900 tahun telah berlalu sejak kemunculan
Musa. Dengan berbagai reformasi ini, aturan yang ditujukan untuk
konsekrasi orang-orang terpilih dihadapi dengan serius: perpisahan
dari suku-suku lain dimulai dengan melarang pernikahan antarsuku;
Pentateukh yang merupakan kompilasi hukum asli, dikodifikasikan
dalam bentuk yang definitif; tulisan ulang yang disebut Kode Imamat
ter­sebut selesai disusun. Terlihat jelas bahwa reformasi tersebut tidak
meng­ ikutsertakan tendensi-tendensi baru, tetapi hanya mengambil
dan me­nyatukan gagasan-gagasan terdahulu.

- 52 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

sejarah nyata, lima ratus tahun sebelum Herodotus, sang “Bapak


Sejarah,” hidup. Menurut hipotesis saya, kita akan mulai memahami
pencapaian ini jika kita mengasumsikan adanya pengaruh Mesir.35
Sebuah gagasan telah diajukan bahwa orang-orang Israel awal yang
merupakan pengikut Musa berkontribusi dalam penemuan alfabet
pertama.36 Sesungguhnya kami tidak dapat mengetahui sebanyak
apa laporan masa lampau didasarkan pada sumber-sumber terdahulu
atau tradisi lisan dan interval yang terjadi di antara sebuah peristiwa
dan laporan tertulisnya. Meskipun demikian, tulisan-tulisan ter­
sebut cukup dapat menjelaskan sejarahnya sendiri, hal yang kami
ketahui dewasa ini. Dua kekuatan yang berbeda, yang bertentangan
satu sama lain secara diametris, telah meninggalkan jejaknya pada
laporan-laporan yang ada. Di satu sisi, transformasi tertentu harus
lakukan, seperti mengubah isi laporan supaya selaras dengan
di­
kepentingan yang ada, memotong dan menyambung kembali isi
laporan sampai tulisan tersebut menjadi terbolak-balik. Di sisi lain,
ketaatan yang luar biasa besar meliputi transformasi tersebut, ter­
dapat rasa cemas untuk menjaga laporan tersebut supaya tidak ber­
ubah, tidak peduli apakah detailnya cocok dengan satu sama lain
atau justru saling menganulir. Maka, hampir di keseluruhan teks
ter­dapat penghilangan isi laporan yang mencolok, pengulangan
yang mengganggu, kontradiksi yang jelas: tanda-tanda yang me­
http://facebook.com/indonesiapustaka

nunjuk­kan transformasi tersebut tidak pernah dimaksudkan untuk

35 Cf. Yahuda, l.c.


36 Jika mereka dibatasi oleh larangan membuat gambar, mereka
bahkan memiliki alasan untuk meninggalkan tulisan gambar hieroglif
ketika mereka mengadaptasi abjad-abjad tertulis mereka untuk
mengekspresikan bahasa baru.

- 53 -
Moses and Monotheism

terjadi. Distorsi yang terjadi pada isi tulisan tersebut hampir tidak
dapat dibedakan dengan pembunuhan. Hambatannya bukan ter­
letak pada eksekusi tindakannya, melainkan upaya mereka untuk
me­­nyingkirkan jejak. Kita dapat memberi makna ganda pada kata
“distorsi” jika diperlukan, meskipun maknanya tidak lagi digunakan
dalam pem­bahasan ini. Kata tersebut bukan hanya berarti “meng­
ganti bentuk luar dari,” melainkan juga berarti “mengacak-acak,”
atau “me­mindah­kan penempatannya.” Itulah mengapa dalam ba­
nyak distorsi tekstual kita pasti dapat menemukan materi yang di­
singkir­kan dan sengaja diabaikan di sekitar teks tersebut, meskipun
da­lam bentuk yang diubah dan dikoyak dari bentuk aslinya. Hanya
saja, tidak selalu mudah untuk menemukan hal tersebut.
Kepentingan yang menyebabkan distorsi dan ingin kita te­
lusuri tersebut pasti telah memengaruhi tradisi yang ada sebelum
tra­disi tersebut ditulis. Salah satu kepentingan tersebut, mungkin
juga yang terkuat, telah kami temukan. Kami berpendapat bahwa
ketika tuhan baru Yahweh di Qadeš mulai disembah, sesuatu harus
di­laku­kan untuk mengagungkannya. Lebih tepat jika kita berkata:
Ia harus dibuat ada, diberikan ruang; dan jejak-jejak keyakinan yang
ter­dahulu harus ditiadakan. Hal yang terakhir kelihatannya telah ber­
hasil dilakukan terhadap agama berbagai suku yang menetap lebih
awal; hilang tidak bersisa. Dengan adanya suku yang kembali ke
http://facebook.com/indonesiapustaka

tempat tersebut, upaya ini tidak begitu mudah dilakukan; peng­ikut


Yahweh bertekad untuk menyingkirkan kisah eksodus dari Mesir,
sosok Musa, dan tradisi khitan. Memang mereka sebelumnya ber­
ada di Mesir, namun kemudian mereka meninggalkan Mesir dan se­
menjak itu setiap jejak pengaruh Mesir harus disangkal. Sosok Musa
disingkirkan dengan cara memindahkannya ke Madyan dan Qadeš

- 54 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

serta menggabungkan sosoknya dengan pendeta yang men­diri­kan


agama Yahweh. Tradisi khitan, tanda paling jelas pengaruh Mesir,
harus dipertahankan, namun terlepas dari semua bukti yang ada,
segala upaya dilakukan untuk memisahkan praktik ini dari pengaruh
Mesir. Pada kisah mengenai peristiwa eksodus, di suatu bagian teks
yang gaya penulisannya hampir tidak bisa di­ pahami, dikatakan
bahwa Tuhan telah murka terhadap Musa karena lalai dengan tradisi
khitan dan bahwa istrinya yang berasal dari Madyan berupaya me­
nyelamat­kan nyawa sang suami dengan segera melakukan operasi.
Tulisan tersebut dapat ditafsirkan se­bagai sebuah tulisan yang se­
ngaja dibuat kontradiktif terhadap ke­benaran­nya. Kita akan segera
me­nemukan kejadian lain yang di­laku­kan untuk menafikan validitas
sebuah bukti yang kurang me­ng­untung­kan mereka.
Kita hampir tidak dapat mendeskripsikannya sebagai sebuah
ke­pentingan baru: sebuah upaya untuk menyangkal bahwa Yahweh
adalah tuhan baru, tuhan yang asing bagi bangsa Yahudi. Demi
tuju­an itu, mitos para rasul seperti Ibrahim, Isa, dan Ya’qub dibuat.
Yahweh tetap kukuh bahwa Dia adalah Tuhan dari para rasul; fakta­
nya adalah Dia harus mengakuinya sendiri bahwa para rasul tidak
me­nyembah-Nya dengan nama tersebut.37
Dia tidak menambahkan dengan nama apa Dia pernah di­
sembah. Dari sini, terlihat sebuah upaya untuk menyingkirkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke­benar­an jelas mengenai pengaruh Mesir dalam tradisi khitan.


Di­kata­kan bahwa Yahweh telah memerintahkan Ibrahim untuk me­
nerapkan tradisi tersebut sebagai tanda ikatan antara diri-Nya dan

37
Batasan digunakannya nama baru tersebut tidak terlihat lebih
dapat dimengerti dengan kata-kata tersebut, dugaan lebih banyak
digunakan untuk memahaminya.

- 55 -
Moses and Monotheism

ke­turunan Ibrahim. Meskipun demikian, hal ini adalah langkah


yang tidak hati-hati. Jika seseorang ingin menggunakan sebuah
tanda untuk membedakan dirinya dari orang lain, ia akan memilih
se­suatu yang tidak dimiliki orang lain, jelas bukan sesuatu yang
dapat diperlihatkan pada jutaan orang. Seorang berkebangsaan
Israel yang berada di Mesir akan menganggap semua orang Mesir
saudara yang terikat oleh ikatan yang sama: oleh Yahweh. Fakta
bah­wa tradisi khitan berasal dari Mesir tidak mungkin tidak di­
ketahui bangsa Israel yang menulis Alkitab. Bagian dari Joshua yang
di­kutip E. Meyer mengatakan hal ini dengan lantang; namun biar
bagai­mana­pun fakta tersebut kemungkinan besar tetap saja akan
di­sangkal.
Kita tidak bisa berharap bahwa mitos keagamaan dapat mem­
per­lihat­kan hubungan logis. Lantas, umatnya kemungkinan akan
mem­beri pengecualian terhadap sikap tuhan yang membuat per­
janjian dengan para rasul-Nya mengenai kewajiban bersama dan
ke­mudian mengabaikan umat manusia-Nya selama berabad-abad
sampai Dia tiba-tiba berpikir untuk menampakkan diri-Nya kem­
bali kepada anak cucu mereka. Hal yang lebih mencengangkan
adalah konsepsi tuhan yang tiba-tiba “memilih” orang-orang ter­
tentu, membuat mereka umat-Nya dan membuat diri-Nya sendiri
se­bagai tuhan. Saya yakin hal tersebut hanya sekali terjadi dalam
http://facebook.com/indonesiapustaka

sejarah keyakinan manusia. Dalam kasus lain, umat dan tuhannya


sama-sama tidak terpisahkan; mereka merupakan satu kesatuan
sejak awal. Terkadang kita mendengar manusia memeluk tuhan dan
keyakinan baru, namun tidak pernah kita mendengar tuhan memilih
umat baru. Mungkin kita akan lebih memahami kejadian unik ini
ketika kita mempertimbangkan hubungan antara Musa dan bangsa

- 56 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

Yahudi. Musa telah membungkukkan dirinya di hadapan bangsa


Yahudi, menjadikan mereka umatnya; mereka adalah “orang-orang
ter­pilih”38 yang ia miliki.
Terdapat tujuan lain dimunculkannya para rasul ke dalam
agama Yahweh yang baru. Mereka tinggal di Kanaan; kenangan me­
reka berhubungan dengan kisah lokal tertentu di negara tersebut.
Mung­kin mereka sendiri merupakan pahlawan Kanaan atau sosok

38 Yahweh tidak diragukan lagi merupakan dewa gunung berapi.


Tidak ada alasan bagi penduduk Mesir untuk menyembahnya. Saya
jelas bukan orang pertama yang terkejut dengan kemiripan nama
Yahweh dengan asal nama dewa lain: Jupiter, Jovis. Gabungan
nama Yohanan—dibuat sebagian dari bahasa Ibrani Yahweh dan
memiliki makna yang hampir mirip dengan makna nama Godfrey
atau padanannya dalam bahasa Punik, Hannibal—menjadi salah
satu nama Kristen Eropa populer dalam bentuk Yohan, John, Jean,
Juan. Ketika bangsa Italia mengadopsi nama tersebut dalam bentuk
Giovanni dan kemudian menyebut salah satu hari dengan kata
Giovedi, mereka membawa kembali kemiripan yang mungkin tidak
bemakna apapun atau justru sangat bermakna. Meskipun tidak kukuh,
terdapat suatu kemungkinan besar di luar sana. Pada masa kegelapan
yang baru-baru ini ditelusuri penelitian sejarah, negara-negara di
sekitar cekungan timur Mediterania terlihat sebagai tempat terjadinya
letusan gunung berapi yang parah, tidak terhindarkan memiliki
kesan yang dalam pada penduduknya. Evans menduga bahwa
kehancuran akhir keajaan Minos di Knossos juga merupakan hasil dari
gempa bumi. Di Kreta, mungkin juga di semua tempat di dunia Ægea,
Ibu Dewi pada saat itu disembah. Observasi bahwa dewi tersebut
tidak mampu melindungi tempat tinggalnya dari serangan kekuatan
yang lebih kuat mungkin telah berkontribusi terhadap keharusannya
http://facebook.com/indonesiapustaka

menyerahkan posisinya pada seorang dewa, yang akhirnya ditempati


oleh dewa gunung berapi tersebut untuk menggantikannya. Zeus
masih menyandang nama “pengguncang Bumi.” Hampir tidak ada
keraguan bahwa pada masa yang kurang dapat diketahui tersebut,
para dewi digantikan oleh dewa-dewa (mungkin awalnya anak laki-
laki mereka). Hal yang benar-benar mengagumkan adalah nasib
Pallas Athena, yang merupakan sosok tuhan wanita lokal; melalui
revolusi keagamaan ia dijadikan seorang anak perempuan yang ibu
kandungnya direnggut, serta selamanya dihalangi menjadi ibu karena
tabu keperawanan.

- 57 -
Moses and Monotheism

lokal yang disembah. Sosok-sosok tersebut lantas diadopsi oleh


bang­sa Israel yang berimigrasi. Dengan hal-hal tersebut, seorang
yang ber­kebangsa­an Israel akan memberi bukti bahwa dirinya lahir
dan di­besar­kan di negara tersebut, juga menyangkal hal-hal yang
di­anggap aib, hal-hal yang berhubungkan dengan penakluk asing.
Hal ter­sebut adalah tindakan yang cerdik: Tuhan Yahweh hanya
mem­beri­kan hal yang pernah dimiliki nenek moyang mereka.
Di dalam teks Alkitab nantinya, upaya untuk tidak menyebut
kata Qadeš mencapai kesuksesan. Tempat didirikannya agama
baru tersebut memang gunung Sinai-Horeb. Tujuannya tidak be­
gitu jelas; mungkin mereka tidak ingin teringat akan pengaruh
Madyan. Namun demikian, semua distorsi yang ada di kemudian
hari, ter­utama distorsi oleh Kode Imamat, memiliki tujuan yang
ber­beda. Deskripsi peristiwa pada masa lampau tidak lagi perlu di­
ubah ke arah tertentu. Di sisi lain, sebuah upaya dilakukan untuk
me­nelusuri asal mula hukum dan institusi tertentu yang ada saat
itu. Tujuan­nya adalah menjadikannya dasar aturan hukum Musa,
hal yang dapat mereka gunakan untuk memastikan kekuatan suci
dan meng­ikat. Meskipun demikian, banyak peristiwa masa lam­pau
yang tidak diceritakan dengan benar karena hal tersebut, dan se­
lalu ada pembenaran psikologis tertentu. Gambaran tersebut me­
refleksikan fakta bahwa selama berabad-abad—sekitar 800 tahun
http://facebook.com/indonesiapustaka

antara peristiwa eksodus dan penetapan teks Alkitab oleh Ezra dan
Nehemiah—agama Yahweh telah mengalami regresi dan akhirnya
ber­padu dengan agama asal Musa (mungkin sampai menyangkut
masalah identitas). Hal ini adalah temuan yang penting, konten
yang menentukan sejarah keagamaan bangsa Yahudi.

- 58 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

lI;

Di antara semua peristiwa prasejarah Yahudi yang digambarkan


oleh para penyair, pendeta, dan sejarawan, terdapat kasus peng­
hilang­an atau pemindahan materi paling besar, hal yang terjadi
karena tujuan yang sangat jelas. Tujuannya adalah membunuh so­
sok pemimpin dan pembebas agung, Musa, orang yang menurut
Sellin dituhankan atas petunjuk yang dibuat dan diperindah oleh
para rasul. Dugaan Sellin tidak bisa disebut berlebihan karena hal
ter­sebut mungkin cukup beralasan. Di sekolah Ikhnaton, Musa
meng­guna­kan metode yang sama dengan sang raja; ia memberikan
perintah dan memaksakan agamanya kepada rakyat.39 Mungkin
doktrin Musa kurang meyakinkan dibanding tuannya; ia tidak perlu
mem­per­tahan­kan hubungan dengan agama Dewa Matahari karena
sekolah On tidak penting bagi umatnya yang merupakan orang
asing. Musa disambut oleh nasib yang sama seperti Ikhnaton, nasib
yang selalu menghampiri seluruh pemimpin lalim. Dibandingkan
de­ngan umat Mesir pada dinasti kedelapan belas, umat Yahudi
Musa kurang mampu menghadapi agama yang sangat spiritual itu
dan merasa kebutuhan mereka tidak dapat dipenuhi. Dalam ke­
dua kasus, ada hal sama yang terjadi: orang-orang yang merasa di­
awasi dan dirampas kebebasannya kemudian memberontak dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

me­nyingkir­kan beban keyakinan yang dipaksakan pada me­reka.


Hanya saja ketika bangsa Mesir menunggu sampai Firaun me­

39 Pada masa itu, bentuk pengaruh yang lain hampir tidak dimungkinkan.

- 59 -
Moses and Monotheism

ninggal, orang-orang Semit yang keji menentukan takdir mereka


sen­diri dan menyingkirkan pemimpin lalimnya.40
Kami tidak berpendapat bahwa teks Alkitab yang ada saat ini
tidak menerangkan tanda-tanda akhir hidup Musa yang demi­kian.
Laporan mengenai “Pengembaraan di Gurun” atau masa peme­
rintahan Musa mendeskripsikan sejumlah pemberontakan besar
me­lawan pemerintah yang dipadamkan dengan hukuman keji atas
pe­rintah Yahweh. Cukup mudah untuk membayangkan jika salah
satu pem­beronta­kan tersebut memiliki akhir berbeda dari yang
di­
kisah­ kan teks Alkitab. Peristiwa pemungkiran umat terhadap
agama baru juga disebutkan di dalam teks, meskipun hanya se­bagai
peristiwa singkat. Pada kisah anak lembu emas, sebuah pe­langgara­
an hukum—yang harus dimengerti secara simbolis (= “ia telah me­
langgar hukum”)—dianggap dilakukan oleh Musa sendiri dan di­
tuduh­kan pada kemarahannya.
Datanglah sebuah masa saat manusia menyesali pembunuhan
Musa dan mencoba melupakannya. Hal ini benar-benar terbukti
saat pertemuan di Qadeš. Meskipun begitu, jika peristiwa eksodus
dianggap terjadi dalam waktu yang berdekatan dengan ber­diri­nya
agama mereka di wahah, dan seseorang mengisahkan Musa mem­
bantu pendirian agama tersebut, maka bukan hanya klaim umat
Musa yang terpenuhi melainkan fakta menyakitkan mengenai pem­
http://facebook.com/indonesiapustaka

bunuh­an Musa yang kejam juga dapat disangkal. Kenyataannya,

40 Sangatlah luar biasa bahwa selama masa milenium kita jarang


mendengar sejarah Mesir mengenai penyingkiran atau eksekusi
terhadap Firaun. Perbandingan dengan sejarah Asyur, contohnya,
membuatnya lebih mencengangkan lagi. Tentu saja alasannya
kemungkinan adalah bahwa laporan sejarah Mesir hanya digunakan
secara eksklusif untuk tujuan resmi.

- 60 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

sangat tidak mungkin jika Musa dapat berpartisipasi dalam peristiwa


di Qadeš, meskipun jika masa hidupnya tidak dipersingkat.
Di sini, kita harus mencoba menjelaskan urutan pe­ristiwa-
peristiwa ini. Kita telah menempatkan peristiwa eksodus dari Mesir
pada masa setelah dinasti kedelapan belas runtuh (1350). Hal ter­
sebut mungkin terjadi pada saat itu atau beberapa waktu kemudian,
karena para penulis sejarah Mesir mengisahkan beberapa tahun se­
telah­nya yang penuh anarki pada pemerintahan Haremhab, raja
yang mengakhiri dinasti tersebut dan yang memerintah sampai
tahun 1315. Penjelasan satu-satunya yang dapat membantu mem­
per­baiki kronologi kejadian diberikan oleh prasasti Merneptah
(1225-1215), yang memuji-muji kemenangan atas Isiraal (Israel)
dan kehancuran bibit-bibitnya (sic). Sayangnya, nilai prasasti ter­
sebut diragukan; suku Israel pada masa itu dianggap terbukti
telah menetap di Kanaan.41 Dari prasasti ini, E. Meyer sepatutnya
me­ nyimpulkan bahwa Merneptah tidak mungkin merupakan
Firaun yang dikisahkan pada peristiwa eksodus, seperti yang biasa
diasumsikan. Peristiwa eksodus pasti terjadi pada periode se­belum­
nya. Pertanyaan mengenai siapa Firaun pada masa eksodus menurut
saya merupakan pertanyaan yang tidak ada gunanya. Tidak ada raja
Firaun pada saat itu, karena peristiwa eksodus terjadi pada masa
per­alihan pemerintahan. Namun demikian, prasasti Merneptah ti­
http://facebook.com/indonesiapustaka

dak menerangkan kemungkinan tanggal terjadinya perpaduan dan


di­terima­nya agama baru di Qadeš. Yang dapat kita katakan dengan
yakin adalah dua peristiwa tersebut terjadi di antara tahun 1350 dan
1215 SM. Selama abad ini, kami berasumsi bahwa eksodus terjadi

41 E. Meyer. l.c.,p. 222.

- 61 -
Moses and Monotheism

lebih dekat dengan tahun 1350, sedangkan peristiwa di Qadeš


terjadi tidak lama dari tahun 1215. Diperlukan waktu cukup lama
untuk meredakan potensi suku-suku yang baru kembali dari Mesir
setelah pembunuhan Musa dan para pengikut Musa, bangsa Lewi,
untuk menjadi sangat kuat seperti yang diisyaraatkan peristiwa
kompromi di Qadeš. Enam puluh tahun mungkin waktu yang
cukup untuk menghasilkan dua generasi. Tanggal yang diisyaratkan
prasasti Merneptah itu terlalu cepat, dan seperti yang kita tahu, di
dalam hipotesis kita sebuah asumsi hanya bertopang pada asumsi
lain sehingga kita harus mengakui bahwa jalannya diskusi ini me­
miliki titik lemah. Sayangnya, segala sesuatu yang berhubungan de­
ngan pendudukan orang Yahudi di Kanaan sangat tidak jelas dan
mem­­bingung­kan. Tentu saja kami mungkin menggunakan jalan
yang kurang bijaksana dengan menduga bahwa nama pada prasasti
Israel tidak merujuk pada suku-suku yang sedang kita coba telusuri
dan yang di kemudian hari disatukan sebagai orang-orang Israel.
Bagai­mana­pun juga, nama Habiru (=Ibrani) dari masa Amarna juga
di­turun­kan pada orang-orang Israel.
Peristiwa penyatuan suku-suku berbeda menjadi sebuah bang­
sa dengan menerima agama yang sama mungkin saja me­rupa­kan
peris­tiwa yang tidak begitu penting bagi sejarah dunia. Agama baru
ter­sebut mungkin telah tersapu bersih oleh rangkaian peristiwa lain.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Yahweh pada saat itu telah mengambil alih posisi tuhan yang di­
visualisasi oleh Flaubert; dan semua pengikutnya da­lam dua belas
suku akan “tersesat,” bukan hanya sepuluh suku seperti yang telah
lama dicari orang-orang Anglo-Saxon. Tuhan Yahweh, yang dituju
Musa dari Madyan beserta para pengikut baru­nya, mungkin sama
se­kali bukan sosok yang luar biasa. Sebagai tuhan lokal yang kasar

- 62 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

dan berpikiran sempit serta kejam dan haus darah, Dia telah berjanji
pada mereka untuk memberikan “tanah yang berlimpah dengan
susu dan madu” dan Dia mendorong mereka untuk membersihkan
negara tersebut dari penduduk yang telah ada “dengan ujung
pedang.” Sangatlah mencengangkan bah­wa terlepas dari semua per­
bai­kan di dalam teks Alkitab, terlalu banyak yang dipertahankan se­
hingga kita dapat mengetahui sifat asli Musa. Bahkan belum pasti
bah­wa agamanya adalah bentuk monoteisme sesungguhnya, bahwa
agama tersebut menyangkal bahwa sosok-sosok lain yang dituhankan
me­miliki sifat tuhan. Agama tersebut mungkin memandang bahwa
tuhan yang disembah oleh dirinya sendiri memiliki kuasa lebih besar
daripada tuhan-tuhan lain. Ketika jalannya berbagai peristiwa ber­
belok ke arah ber­beda dibandingkan dengan permulaannya, kami
yakin hal ter­sebut dihasilkan oleh satu sebab. Kepada sebagian umat
ter­tentu, Musa dari Mesir memberikan konsepsi lain yang lebih
spiritual mengenai Tuhan: satu-satunya Tuhan yang menggenggam
seluruh dunia, Tuhan yang penyayang dan agung, yang menentang
se­gala bentuk upacara dan sihir, yang menempatkan kemanusiaan
se­bagai tujuan hidup tertinggi penuh kebenaran dan keadilan.
Terlepas dari ketidaklengkapan informasi yang kami miliki mengenai
sisi etis agama Aton, merupakan informasi yang sangat signifikan
bah­­wa Ikhnaton sering mendeskripsikan dirinya sendiri pada ber­
http://facebook.com/indonesiapustaka

bagai inskripsi dengan kata-kata seperti ia “hidup dalam Maat” (ke­


benaran, keadilan).42 Dalam jangka panjang, tidaklah bermasalah

42 Nyanyian ini memiliki penekanan tidak hanya pada universalitas


dan keesaan Tuhan, namun juga sifat penyayang-Nya untuk semua
makhluk hidup; mereka mengajak penganut agama untuk menikmati
alam dan kecantikannya. Cp. Breasted, The Dawn of Conscience.

- 63 -
Moses and Monotheism

bah­wa umat Musa meninggalkan ajarannya dan menghilangkan


nya­wa pria tersebut, kemungkinan setelah jangka waktu yang cu­kup
pendek. Tradisi itu sendiri masih tersisa dan pengaruhnya men­capai
tujuan yang bahkan tidak dapat dicapai Musa, meskipun ke­ber­
hasilan tersebut didapatkan secara lambat dan dalam waktu ber­
abad-abad. Tuhan Yahweh mendapatkan penghargaan yang se­benar­
nya tidak ditujukan untuknya ketika beberapa laporan sejak masa
Qadeš menuliskan bahwa ia melakukan tindakan pembebasan yang
sesungguhnya dilakukan Musa. Namun demikian, ia harus mem­
bayar mahal atas perebutan kekuasaan ini. Bayangan tuhan yang di­
dudukinya menjadi lebih kuat dari dirinya sendiri; pada akhir per­
kembangan sejarah, muncullah sosok Tuhan Musa yang se­belum­nya
terlupakan, sosok yang melampaui sosoknya sendiri. Tidak ada yang
dapat meragukan bahwa gagasan inilah hal satu-satu­nya yang mem­
buat bangsa Israel berhasil mengatasi seluruh coba­an dan bertahan
sampai masa kini: gagasan mengenai sosok Tuhan lain.
Kita tidak lagi mungkin mengetahui bagian yang dimainkan
bangsa Lewi dalam kemenangan akhir Tuhan Musa dari Tuhan
Yahweh. Ketika kompromi di Qadeš dilakukan, mereka memberikan
suara untuk Musa: kenangan mereka masih hangat mengenai tuan
yang peng­ ikutnya dan saudara sebangsanya merupakan bangsa
me­reka sendiri. Selama berabad-abad setelahnya, bangsa Lewi te­
http://facebook.com/indonesiapustaka

lah men­jadi satu dengan bangsa tersebut atau dengan kumpulan


pendeta­nya. Telah menjadi tugas utama para pendeta untuk me­
ngembang­kan dan mengawasi ritual keagamaan, di samping men­
jaga teks suci dan memperbaikinya sesuai dengan tujuan mereka.
Akan tetapi, bukankah semua pengorbanan dan adat-istiadat pa­
da dasarnya hanya merupakan sihir dan ilmu hitam? Hal yang da­

- 64 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

lam bentuk apapun dikutuk oleh doktrin Musa? Di antara umat


manusia, tidak henti-hentinya muncul sosok yang belum tentu me­
rupakan keturunan pengikut Musa, namun hatinya penuh dengan
tradisi agung dan kuat mengenai ajaran Musa, semangat yang
telah berkembang dalam kegelapan. Orang-orang ini adalah para
rasul yang dengan gigih mengajarkan doktrin lama Musa: Tuhan
me­ nolak pengorbanan dan adat-istiadat; Dia hanya menuntut
kepercayaan dan hidup penuh kejujuran dan keadilan (Maat).
Usaha para rasul menghasilkan kesuksesan; doktrin yang didirikan
kembali dari kepercayaan lama tersebut menjadi konten permanen
agama Yahudi. Merupakan sebuah kehormatan bagi bangsa Yahudi
bah­wa mereka dapat mempertahankan tradisi serta membentuk
sosok-sosok yang meminjamkan suara mereka, bahkan jika stimulus
ter­sebut awalnya datang dari luar, dari orang asing.
Gambaran peristiwa di atas mengharuskan saya memper­
timbang­kan penilaian orang lain, para ahli, atau peneliti yang me­
mandang pentingnya Musa bagi sejarah agama Yahudi, meskipun
orang-orang tersebut tidak mengetahui bahwa asal agama Musa
ber­akar di Mesir. Di antara pendapat-pendapat Sellin yang ada
di buku­nya, ia berujar,43 “Maka, mulai sekarang kita harus meng­
gambar­ kan agama Musa yang sesungguhnya: kepercayaannya
akan satu tuhan; agama yang dimiliki kelompok kecil masyarakat.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Kita tidak dapat berharap menemui agama tersebut di dalam per­


kumpul­an resmi, sebagai agama para pendeta, dan sebagai ke­yakin­
an umum masyarakat. Hal yang dapat kita harapkan adalah di
beberapa tempat, api spiritual yang telah dinyalakan agama Musa

43 Sellin, l.c., p. 52.

- 65 -
Moses and Monotheism

akan menyebarkan percikan api; bahwa gagasan keyakinannya be­


lum padam, namun diam-diam memengaruhi kepercayaan dan
tra­disi yang ada sampai gagasan tersebut muncul dengan lebih ku­
at dan dominan di antara masyarakat, hal yang cepat atau lam­bat
terjadi di bawah pengaruh peristiwa tertentu atau melalui sosok-
sosok keagamaan. Dari sudut pandang inilah kita harus me­man­
dang sejarah keagamaan awal bangsa Israel yang terdahulu. Kita
akan terjebak dalam kesalahan metodologis terburuk jika ingin
me­rekonstruksi agama Musa setelah polanya dihamparkan pada
dokumen sejarah mengenai agama dalam lima abad pertama di
Kanaan.” Volz44 menyebutkannya secara lebih eksplisit. Ia berkata,
“Karya surgawi Musa pada awalnya sulit dimengerti dan dibangun
de­ngan lemah, sampai karya tersebut merasuk lebih dalam lagi
pada jiwa manusia dan akhirnya menemukan tujuannya pada rasul
agung yang melanjutkan karya pendirinya.”
Dengan ini, saya akhiri penjelasan awal ini. Tujuan utama saya
adalah menempatkan sosok Musa dari Mesir ke dalam kerangka
sejarah Yahudi. Akan saya jelaskan kesimpulan saya dalam formula
paling singkat: Kami akan menambahkan dualitas baru ke dalam
dualitas yang dikenal sejarah tersebut—seperti dua orang yang di­
padu­kan untuk membentuk satu bangsa, dua kerajaan yang ber­
diri karena bangsa terbagi dua, serta dua nama untuk menyebut
http://facebook.com/indonesiapustaka

Tuhan dalam sumber Alkitab. Dualitas tersebut adalah: pendirian


dua agama baru, agama yang pertama terhapus oleh yang kedua
na­mun muncul kembali dengan penuh kemenangan; dua pendiri
agama, yang keduanya disebut Musa dan yang harus kita bedakan

44 Paul Volz: Mose, 1907, p. 64.

- 66 -
Bagian II. Jika Musa Seorang Berkebangsaan Mesir

antara satu sama-lain. Semua dualitas ini merupakan konsekuensi


yang tidak terhindarkan dari dualitas yang pertama: sebagian
rakyat melewati hal yang pantas disebut pengalaman traumatis,
hal yang tidak dialami sebagian lain. Masih ada banyak hal untuk
di­diskusikan, dijelaskan, dan ditegaskan. Jika semua hal tersebut
ber­hasil dilakukan, ketertarikan kita pada penelitian sejarah murni
akan sepenuhnya terjamin. Dalam hal apa tepatnya sifat intrinsik
tradisi dapat ditemukan dan di mana kekuatan anehnya ter­
kandung, apakah manusia benar-benar tidak dapat menyangkal
pe­ngaruh personal individu-individu besar dalam sejarah dunia,
pen­cemaran terhadap keragaman hidup manusia seperti apa yang
kita lakukan jika kita memandang bahwa hal tersebut terjadi hanya
ka­rena kebutuhan materi, dari sumber-sumber apakah gagasan ter­
tentu, terutama gagasan keagamaan, mendapatkan kekuatan yang
digunakan untuk menundukkan individu dan masyarakat—mem­
pelajari semua hal ini pada kasus tertentu dalam sejarah Yahudi
adalah tugas yang menarik. Tulisan saya selanjutnya akan ber­
hubung­an dengan kesimpulan yang ditulis dua puluh lima tahun
lalu dalam “Totem and Taboo”. Akan tetapi, saya hampir tidak dapat
ber­anggapan bahwa kemampuan saya dapat memberikan hasil yang
lebih jauh dari itu.
http://facebook.com/indonesiapustaka

- 67 -
http://facebook.com/indonesiapustaka
Bagian III

Musa, Pengikut,
dan Agama Monoteis

Catatan Pembuka
I. Ditulis sebelum Maret 1938 (Wina)

Dengan keberanian manusia yang merasa tidak dapat dirugikan,


untuk kali kedua saya ingin mematahkan hal yang telah kukuh di­
bangun dan juga menindaklanjuti dua tulisan saya mengenai Musa
(Imago, Bd. XXIII, Heft I dan 3) dengan sebuah bagian akhir yang
hingga kini masih saya tahan. Ketika menyelesaikan tulisan terakhir
saya, saya telah mengatakan bahwa saya sangat paham, kemampuan
saya tidak memadai untuk memenuhi tugas tersebut. Tentu saja,
saya sedang merujuk pada melemahnya kemampuan berpikir kreatif
seseorang berdampingan dengan usia senja,1 namun terdapat pula
http://facebook.com/indonesiapustaka

1 Saya tidak memiliki opini yang sama dengan kawan sezaman saya
yang berbakat, Bernard Shaw, bahwa manusia dapat mencapai
sesuatu yang bermanfaat hanya jika mereka dapat mencapai umur
300 tahun. Dengan memperpanjang periode hidup, tidak akan ada
yang dapat dicapai kecuali banyak kondisi dalam hidup ini diubah
juga secara radikal.

- 69 -
Moses and Monotheism

rintangan lain. Kami tercengang bahwa kemajuan zaman juga


sejalan dengan barbarisme. Di Soviet Rusia, sebuah upaya telah di­
lakukan untuk memperbaiki kehidupan ratusan juta orang yang
sampai sekarang masih dibungkam. Para penguasa cukup berani
untuk melucuti orang-orang tersebut dari penawar hidup mereka
yang bernama agama dan cukup bijak untuk memberikan mereka
ke­bebasan seksual. Namun demikian, dalam pelaksanaannya mereka
mem­buat orang-orang tersebut merasakan hukuman yang pa­ling
kejam dan sama sekali melarang kebebasan berpikir. Dengan ke­
brutal­an yang serupa, orang-orang Italia diajarkan mengenai ke­
tertiban dan rasa tanggung jawab. Dalam kasus orang-orang Jerman,
me­mang sangat sulit bagi kita ketika mengetahui bahwa ke­mundur­
an dalam hal apapun selain barbarisme prasejarah dapat masuk se­
cara independen ke dalam gagasan progresif. Meskipun demi­kian,
ber­bagai peristiwa telah terjadi sedemikian rupa sehingga saat ini,
demokrasi konservatif telah menjadi pelindung kemajuan budaya;
aneh­nya hal ini juga menyebabkan hanya institusi Gereja Katolik
yang melakukan perlawanan kuat terhadap bahaya yang meng­ancam
ke­budaya­an. Gereja Katolik, institusi yang sejauh ini me­rupakan
musuh bebuyutan dari segala bentuk kebebasan ber­pikir dan yang
telah menolak keras gagasan apapun mengenai dunia yang dipimpin
oleh majunya penemuan akan kebenaran.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Kita tinggal di negara Katolik di bawah perlindungan Gereja


ter­sebut, tidak yakin sampai kapan perlindungan tersebut akan
ber­ tahan. Selama perlindungan itu masih ada, saya tentu saja
ragu untuk melakukan hal apa pun yang dapat membangkitkan
rasa benci Gereja. Hal ini bukan berarti saya pengecut, melainkan
ber­hati-hati; musuh yang baru—dan saya harus berhati-hati agar

- 70 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

tidak memancingnya—lebih berbahaya daripada yang sebelumnya;


musuh yang bersama-sama belajar hidup dalam kedamaian dengan
kita. Penelitian psikoanalisis dalam kasus apa pun merupakan sasaran
ke­curigaan doktrin Katolik. Saya tidak berkata bahwa kecurigaan
ter­sebut tidak beralasan. Jika penelitian ini menuntun kita pada hasil
yang menurunkan status agama menjadi penyakit mental manusia
dan menjelaskan kekuatan delusi tersebut dengan cara yang sama
ketika kita menjelaskan pasien dengan obsesi mental, maka kita
pasti akan mendapatkan kebencian terbesar di negara ini terhadap
kekuatan delusi tersebut. Bukan berarti saya memiliki hal baru
untuk dikatakan, bukan berarti juga saya belum menjelaskannya
dengan jelas seperempat abad lalu. Meskipun demikian, semua pen­
jelasan tersebut telah terlupakan, dan tidak diragukan lagi ia akan
meng­hasil­kan sebuah efek jika saya mengulanginya lagi saat ini dan
me­nambah­kan sebuah contoh tipikal mengenai cara didirikannya
agama. Hal ini mungkin akan membuat kita dilarang bekerja da­
lam bidang psikoanalisis. Metode kejam dengan pembungkaman
ter­sebut sama sekali tidak asing bagi Gereja Katolik; gereja cukup
me­ng­anggap pihak lain yang menempuh jalan yang sama dengan
mereka sebagai sebuah gangguan terhadap hak mereka. Meskipun
demi­kian, psikoanalisis yang telah membahas banyak kasus semasa
hidup saya belum menemukan tempat yang lebih bermanfaat selain
http://facebook.com/indonesiapustaka

kota tempatnya lahir dan berkembang.


Saya tidak hanya berpikir demikian, saya tahu bahwa bahaya
eksternal ini akan menghalangi saya memublikasikan bagian akhir
risalah Musa ini. Saya telah mencoba menyingkirkan rintangan ini
dengan meyakinkan diri saya bahwa hal tersebut hanya didasarkan
pada estimasi yang berlebihan diri saya sendiri, dan bahwa peme­

- 71 -
Moses and Monotheism

rintah mungkin akan menunjukkan sikap kurang peduli terhadap


hal yang saya katakan mengenai Musa dan asal-muasal agama
monoteis. Namun demikian, saya tidak yakin penilaian saya tepat.
Bagi saya, terlihat lebih mungkin bahwa kebencian dan nafsu akan
sensasi akan menutupi kekurangan saya bagi banyak pasang mata di
dunia. Jadi, saya tidak akan memublikasikan tulisan ini. Hanya saja,
ke­butuhan yang ada tidak menghalangi saya untuk menuliskannya.
Ter­lebih lagi karena tulisan ini pernah ditulis sebelumnya, dua tahun
lalu, dan karenanya, ia hanya memerlukan penulisan ulang dan pe­
nambahan terhadap dua tulisan sebelumnya. Maka, tulisan ini akan
di­sembunyi­kan sampai waktunya tiba saat ia dapat ditampilkan de­
ngan aman atau sampai seseorang yang memiliki pendapat dan ke­
simpul­an yang sama diberitahu dengan kata-kata ini: “Pada masa
yang lebih gelap dari saat ini, pernah hidup seseorang yang me­
mikir­kan hal yang sama seperti yang kau pikirkan.”

II. Juni 1938 (London)

Kesulitan internal dan eksternal luar biasa yang menimpa saya


ketika menulis essai mengenai Musa adalah alasan bagian ketiga dan
terakhir ini memiliki catatan pembuka yang kontradiktif, bahkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

menihilkan satu sama lain. Hal ini dikarenakan dalam interval yang
pendek saat penulis menyusun catatan pertama dan kedua, kondisi
eksternal penulis telah berubah secara radikal. Sebelumnya, saya
tinggal di bawah perlindungan Gereja Katolik dan takut jika saat
saya me­mublikasikan tulisan ini, saya akan kehilangan perlindungan

- 72 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

ter­sebut, dan bahwa para praktisi serta siswa psikoanalisis di Austria


akan dilarang melakukan tugas mereka. Setelah itu, secara tiba-tiba
invasi Jerman terjadi pada kami dan doktrin Katolik terbukti sebagai
“sesuatu yang tidak dapat diharapkan” seperti yang disebutkan
Alkitab. Saya sudah pasti dihukum bukan hanya karena karya saya,
me­lain­kan juga karena “ras” saya; saya meninggalkan banyak kawan
masa kecil saya, kawan selama 78 tahun, yang telah menjadi rumah
bagi saya.
Sambutan paling ramah saya temukan di Inggris yang indah,
bebas, dan murah hati. Di tempat saya tinggal sekarang, saya adalah
tamu yang disambut dan dibebaskan dari penindasan. Saya merasa
senang sehingga mungkin akan menjelaskan dan menulis hal—saya
hampir berkata “memikirkan”—yang saya inginkan atau yang harus
saya lakukan. Sekarang saya berani memublikasikan bagian terakhir
dari tulisan saya.
Tidak ada lagi rintangan eksternal atau setidaknya yang meng­
khawatir­kan. Dalam minggu-minggu terakhir saya tinggal di sana,
saya menerima banyak ucapan salam dari teman-teman yang me­
ngata­kan bahwa mereka senang telah bertemu saya, dan bahkan dari
orang-orang yang tidak saya kenal serta tidak begitu tertarik dengan
karya saya; mereka hanya mengungkapkan kepuasan mereka karena
saya telah menemukan kebebasan dan rasa aman di sini. Selain
http://facebook.com/indonesiapustaka

ungkap­an kegembiraan tersebut, surat-surat lain tiba terlalu sering


bagi orang asing seperti saya. Surat-surat tersebut mengungkapkan
rasa cemas terhadap kejiwaan saya. Mereka tidak sabar menuntun
saya menuju Yesus serta ingin menjelaskan kepada saya masa depan
Israel. Orang-orang baik yang menulis surat-surat tersebut ber­arti
tidak tahu banyak mengenai saya. Meskipun demikian, saya mem­

- 73 -
Moses and Monotheism

prediksi ketika karya saya nanti menjadi terkenal di kalangan rekan


se­negara saya, saya akan kehilangan simpati yang sekarang saya
dapat­kan dari korespondensi saya dan orang-orang lain.
Hambatan yang datang dari dalam diri tidak akan dapat di­
ubah oleh sistem politik berbeda dan domisili baru. Saat ini, seperti
yang telah saya alami, saya merasa khawatir jika dihadapkan dengan
karya saya sendiri; saya merindukan kesatuan dan keakraban yang
se­harus­nya dirasakan penulis dan karyanya. Bukan berarti saya
kurang yakin mengenai kebenaran kesimpulan saya. Keyakinan
ter­sebut saya dapatkan seperempat abad lalu, ketika saya menulis
buku  “Totem and Taboo”  (pada tahun 1912), dan semenjak itu
keyakinan saya justru semakin besar. Semenjak itu pula, saya tidak
pernah ragu bahwa fenomena religius hanya dapat dimengerti jika
kita menelaah model gejala kelainan mental individu dalam bentuk
ter­ulangnya kejadian penting dalam sejarah masa purba manusia.
Gejala-gejala tersebut memiliki karakter obsesif yang berasal dari
masa lampau, dan karenanya, ia memengaruhi manusia, pengaruh
yang berasal dari kebenaran historisnya. Rasa ketidakyakinan saya
muncul ketika saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya
telah berhasil membuktikan hal ini dengan contoh Monoteisme
Yahudi. Menurut pemikiran kritis saya, risalah mengenai Musa ini
bagaikan seorang penari yang menyeimbangkan tubuhnya di atas
http://facebook.com/indonesiapustaka

satu ibu jari kaki. Jika saya tidak dapat menemukan data yang men­
dukung interpretasi analitis mengenai mitos dialirkannya Musa
pada saat bayi, dan juga gagasan Sellin mengenai akhir hidup Musa,
seluruh risalah ini belum dapat ditulis. Namun demikian, izinkan
saya mencoba memulainya.

- 74 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

Saya mulai dari mengabstraksikan hasil tulisan saya mengenai


Musa, tulisan yang murni historis. Saya tidak akan mempelajarinya
secara kritis di sini karena hasil-hasil tersebut membentuk premis
diskusi psikologis yang didasarkan pada kesimpulan saya dan selalu
akan kembali ke kesimpulan saya.

Sesi I
1. Premis Sejarah

Latar belakang sejarah dari peristiwa yang menarik perhatian


kami akan dijelaskan sebagai berikut. Melalui penaklukan pada
dinasti kedelapan belas, Mesir menjadi kekaisaran dunia. Imperialis­
me dalam bentuk baru direfleksikan oleh perkembangan gagasan-
gagas­an keagamaan tertentu yang ada di kalangan rakyat atau di
kalangan masyarakat atas dan aktif secara intelektual. Di bawah
pe­ngaruh para pendeta Dewa Matahari di Kuil On (Heliopolis),
dan kemungkinan diperkuat oleh gagasan dari Asia, berkembanglah
gagasan Tuhan universal bernama Aton yang tidak lagi terbatas oleh
se­kelompok masyarakat dan satu negara. Pada masa itu, Amenhotep
IV muda (yang kemudian mengubah namanya menjadi Ikhnaton)
naik takhta sebagai seorang Firaun; Firaun yang tidak ter­tarik ter­
http://facebook.com/indonesiapustaka

hadap hal lain kecuali mengembangkan gagasan Tuhan universal.


Ia me­ngembang­kan agama Aton menjadi agama resmi dan karena­
nya, Tuhan universal menjadi Tuhan Yang Esa; tuhan-tuhan lain
di­kata­kan di­anggap sebagai kebohongan dan tipu daya. Dengan
sifat­nya yang sangat keras kepala, ia bertahan dari semua godaan

- 75 -
Moses and Monotheism

magis dan meninggalkan semua ilusi yang sangat dipegang teguh


oleh masyarakat Mesir, atau gagasan mengenai kehidupan setelah
ke­matian. Dengan ilmu pengetahuan, ia menganggap energi dari
radiasi matahari sebagai sumber semua kehidupan di dunia dan
me­nyembah matahari sebagai simbol kekuatan Tuhan. Ia merasa
bangga pada gagasan penciptaan dan hidup dalam Maat (kebenaran
dan ke­adilan).
Hal tersebut merupakan kasus pertama dalam sejarah umat
manusia dan mungkin kasus paling alami mengenai agama monoteis.
Pengetahuan lebih mendalam mengenai kondisi historis dan psi­kolog­
is kasus tersebut memiliki nilai tidak terhingga. Meskipun demi­kian,
saya pikir tidak begitu banyak informasi mengenai agama Aton yang
harus kita ketahui. Di bawah pemerintahan penerusnya yang lemah,
semua hal yang diciptakan Ikhnaton musnah. Para pendeta yang
telah dibungkam meluapkan kemarahan mereka atas ke­nangan me­
ngenai Ikhnaton. Agama Aton dihapuskan; ibukota Firaun yang di­
anggap sesat dihancurkan dan dijarah. Pada tahun 1350 SM, dinasti
ke­delapan belas ditumpaskan; setelah beberapa wak­tu yang penuh
anarki, Jenderal Haremhab, yang memerintah sam­pai tahun 1315,
me­mulihkan ketertiban. Hal yang disusun Ikhnaton hanya ter­lihat
se­bagai peristiwa yang ditakdirkan untuk di­lupakan.
Hal tersebut telah disusun secara historis dan pada poin ini­
http://facebook.com/indonesiapustaka

lah hipotesis kami dimulai. Di antara kerabat dekat Ikhaton, ter­


dapat seorang pria yang mungkin bernama Thutmose, nama yang
di­miliki banyak orang pada saat itu;2 nama Thut itu sendiri bukan

2 Thutmose juga merupakan nama pematung yang ruang kerjanya


ditemukan di Tell el-Amarna.

- 76 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

me­rupa­kan masalah, namun bagian akhir dari banyak nama pasti


ber­­bunyi –mose. Thutmose memiliki pangkat tinggi dan merupa­
kan pengikut taat agama Aton namun bertentangan dengan sang
raja, ia sosok pemaksa dan bersemangat. Baginya, kematian Ikhnaton
dan penghapusan agamanya berarti akhir dari semua harapan­nya. Ia
harus memilih meninggalkan Mesir atau mengaku bahwa diri­nya
salah. Jika saja Thutmose merupakan gubernur di se­buah provinsi
per­batasan, ia juga pasti berhubungan dengan suku Semit ter­tentu
yang telah berimigrasi beberapa generasi lalu. Dalam rasa kekecewaan
dan kesendirian, ia berpaling ke orang-orang asing ter­sebut dan men­
cari sesuatu yang hilang darinya di dalam diri mereka. Dari kelompok
orang asing tersebut, ia mencari pengikut dan mencoba merealisasikan
cita-citanya melalui mereka. Setelah ia me­ninggal­kan Mesir bersama
mereka dan para pengikut barunya, ia menyuci­kan mereka dengan
tradisi khitan, memberi aturan hokum, dan mem­per­kenal­kan mereka
ke­pada agama Aton yang baru saja di­buang rakyat Mesir. Mungkin
atur­an yang dipaksakan terhadap para pengikut Yahudinya bahkan
lebih ketat dibanding aturan hukum tuan dan gurunya, Ikhnaton;
mung­kin ia juga melepaskan hubungan dengan Dewa Matahari On
yang bahkan masih ditaati oleh Ikhnaton.
Mengenai peristiwa eksodus dari Mesir, kita harus menetapkan
masa peralihan pemerintahan setelah tahun 1350. Periode waktu
http://facebook.com/indonesiapustaka

se­telah­nya, sampai kepemilikan tanah Kanaan diambil, betul-betul


kurang dapat diperkirakan. Dari hal-hal yang tidak diungkapkan
de­ngan jelas atau justru sengaja diburamkan oleh teks Alkitab, pe­
neliti­an historis pada masa kita dapat membedakan dua fakta. Fakta
per­tama, yang ditemukan oleh E. Sellin, mengungkap bahwa bangsa
Yahudi—yang bahkan menurut Alkitab adalah orang-orang keras

- 77 -
Moses and Monotheism

kepala dan tidak patuh terhadap pemberi kebijakan serta pemimpin


mereka—pada akhirnya memberontak, membunuh Musa, dan
mem­buang kepercayaan Aton seperti yang dilakukan bangsa Mesir.
Fakta kedua, yang dibuktikan oleh E. Meyer, mengungkap bahwa
se­kembali­nya orang-orang Yahudi tersebut dari Mesir, mereka ber­
satu dengan suku-suku yang hampir bersaudara dengan mereka.
Hal ter­ sebut terjadi di sebuah negara yang berbatasan dengan
Palestina, peninsula Sinai, dan Arab. Di sana, di sebuah tempat
subur ber­nama Qadeš, mereka menerima agama baru di bawah
pe­ngaruh bangsa Madyan Arab: penyembahan terhadap Dewa
Gunung Berapi, Yahweh. Segera setelah hal tersebut terjadi, mereka
siap me­nakluk­kan Kanaan.
Jarak waktu di antara dua kejadian ini dan juga dengan
peristiwa eksodus sangat tidak jelas. Perkiraan historis selanjutnya
di­tunjukkan dalam prasasti Firaun Merneptah, yang memerintah
sampai 1215. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa “Israel” me­
rupa­kan salah satu bangsa yang ditaklukkan dari Suriah sampai
Palestina. Jika kita menganggap bahwa keterangan waktu pada
prasasti ini sebagai batas waktu akhir, tetap tersisa satu abad yang
men­cakup semua peristiwa, termasuk peristiwa eksodus, setelah
tahun 1350 SM sampai sebelum tahun 1215 SM. Meskipun
begitu, mungkin nama Israel tidak merujuk pada nama suku-suku
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang takdirnya sedang kita telaah di sini. Mungkin juga jika pada
ke­nyata­an­nya, terdapat sebuah periode yang lebih lama dari itu.
Pen­dudukan orang-orang Yahudi di Kanaan jelas bukan hal yang
cepat dicapai; hal itu merupakan rangkaian perjuangan yang ber­
turut-turut dan sudah pasti terjadi dalam waktu yang cukup pan­
jang. Jika kita mengabaikan batasan yang ditekankan oleh prasasti

- 78 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

Merneptah, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk mem­per­


kira­kan bahwa terdapat tiga puluh tahun atau satu generasi pada
masa hidup Musa3 dan setidaknya dua generasi, atau mungkin
lebih, sampai terjadinya persatuan di Qadeš:4 jarak waktu antara
peristiwa di Qadeš dan perjalanan menuju Kanaan pastilah tidak
lama. Seperti yang saya tunjukkan di tulisan terakhir saya, tradisi
Yahudi memiliki kepentingan tertentu sehingga mereka mungkin
mem­per­pendek jarak waktu antara peristiwa eksodus dan pendirian
agama di Qadeš; pendapat ini mendorong kami untuk lebih ber­
pihak kepada gagasan sebaliknya.
Sampai sekarang, kami masih berfokus pada aspek eksternal
kisah ini dengan upaya mengisi celah pengetahuan sejarah. Se­bagi­
an bahasan­nya merupakan pengulangan dari tulisan kedua saya.
Ketertarikan kami tertuju pada kisah hidup Musa dan doktrin-
doktrin­nya, kisah yang diakhiri oleh pemberontakkan bangsa
Yahudi. Dari laporan Yahwis yang ditulis sekitar tahun 1000 SM—
mes­ki pastinya juga didasarkan pada rujukan terdahulu—kami me­
nge­tahui bahwa persatuan suku dan berdirinya sebuah agama di
Qadeš me­nunjuk­kan kompromi, dua pihak pada kompromi ter­
sebut masih dapat dibedakan. Satu pihak berusaha me­nyangkal
latensi dan asing­ nya Tuhan Yahweh, serta memperkuat klaim
Yahweh demi men­dapat­kan ketaatan umat. Pihak yang lain tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

pernah me­ninggal­kan kenangan berharga mengenai pem­bebas­an

3 Hal ini akan sejalan dengan apa yang diceritakan Alkitab: empat
puluh tahun mengembara di gurun pasir.
4 Jadi, sekitar tahun 1350-40 sampai 1320-10 untuk Musa, dan tahun 1260
atau mungkin masih agak nanti untuk Qadeš, serta prasasti Merneptah
sebelum tahun 1215.

- 79 -
Moses and Monotheism

dari Mesir dan sosok besar pemimpinnya, Musa. Me­mang, pihak


kedua ini berhasil menempatkan fakta dan juga sosok Musa dalam
representasi baru sejarah awal Yahudi; berhasil mem­per­tahan­kan
setidaknya sisi luar agama Musa, yaitu tradisi khitan; dan ber­hasil
menekankan batasan-batasan tertentu dalam pengguna­ an nama
tuhan baru. Saya telah berkata bahwa orang-orang yang me­nekan­
kan permintaan tersebut adalah keturunan pengikut Musa yang
me­rupa­kan bangsa Lewi, dan yang terpisah beberapa generasi dari
bangsa Lewi yang hidup di zaman Musa dan senegara dengannya.
Orang-orang ini masih terikat pada kenangan mengenai Musa ka­
rena tradisi yang masih dijaga. Laporan yang dijelaskan dengan
gaya puitis mengenai para Yahwis dan pesaingnya di kemudian hari,
para Elohis, diibaratkan seperti batu nisan yang di situ kebenaran
me­ngenai sifat agama Musa dan penyingkiran sosok Musa serta ke­
benaran yang baru diketahui dari generasi baru harus diletakkan
di pembaringan terakhir. Jika kita telah mencocok-cocokkan ber­
bagai peristiwa dengan kisah ilahi, tidak akan ada yang misterius
me­ngenai peristiwa-peristiwa tersebut; kendati demikian, hal ini
sa­ngat mungkin menandai akhir kisah Musa dalam sejarah bangsa
Yahudi.
Hal yang luar biasa adalah bahwa sesungguhnya dampak
paling besar dari kejadian tersebut tidak harus muncul dalam wak­
http://facebook.com/indonesiapustaka

tu lama dan tidak harus menunjukkan wujudnya sedikit demi se­


dikit selama berabad-abad. Tidaklah mungkin jika karakter Yahweh
sangat berbeda dari karakter tuhan-tuhan yang dimiliki masya­rakat
lain dan suku tetangga; memang benar jika Yahweh dan tuhan-
tuhan lain merebutkan predikat tuhan sebagaimana ba­nyak suku
saling menggempur. Namun demikian, kita dapat berasumsi jika

- 80 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

pemuja Yahweh pada saat itu sama sekali tidak ingin meragukan
keberadaan tuhan Kanaan, Moab, Amalek, dan-lain-lain, seperti
halnya mereka tidak meragukan keberadaan pemuja tuhan-tuhan
lain. Gagasan monoteis yang telah populer pada masa Ikhnaton
sekali lagi menjadi kurang jelas dan tetap berada dalam kegelapan
selama waktu yang panjang. Di pulau Elephantine, dekat dengan
air terjun pertama Nil, informasi mencengangkan telah terungkap
bahwa sebuah koloni militer Yahudi yang menetap di sana beberapa
abad lalu melakukan pemujaan di kuil-kuil terhadap tuhan utama
mereka, Yahu, dan dua tuhan wanita, salah satunya bernama
Anat-Yahu. Bangsa Yahudi tersebut telah dipisahkan dari negara
mereka dan belum melalui perkembangan keagamaan yang sama;
pemerintah Persia (pada abad ke-5 SM) memberikan mereka
peraturan adat-istiadat baru Yerusalem.5 Jika kita tinjau kembali
ke masa lampau, kita dapat berpendapat bahwa Yahweh agak
berbeda dibanding tuhan Musa. Aton merupakan seorang pasifis,
seperti pemimpin dan sosok yang ia tiru di dunia, Ikhnaton Firaun,
yang hanya bersedekap sambil menyaksikan kekaisaran nenek
moyangnya hancur berkeping-keping. Bagi rakyat yang sedang
bersiap menaklukkan tanah baru dengan kekerasan, Tuhan Yahweh
sudah pasti lebih sesuai. Lagi pula, hal yang layak dihormati dari
tuhan Musa berada di luar pemahaman orang primitif.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Telah saya sebutkan—dan pada poin ini saya didukung


oleh opini peneliti lain—bahwa fakta inti perkembangan agama
Yahudi adalah sebagai berikut: seiring waktu, Yahweh kehilangan
karakter­nya sendiri dan semakin mirip dengan tuhan Musa yang

5 Auerback: Wüste und Gelobtes Land. Bd. II, 1936.

- 81 -
Moses and Monotheism

lama, Aton. Memang tetap ada perbedaan, dan sekilas, keduanya


ter­lihat penting; namun hal tersebut mudah dijelaskan. Aton me­
mulai pemerintahannya di Mesir pada masa yang sangat aman
dan bahkan ketika kekaisaran mulai mengguncang landasannya,
pe­ngikut agama Aton berhasil berpaling dari urusan duniawi
serta terus memuji dan menikmati ciptaan tuhannya. Bagi bangsa
Yahudi, takdir berhubungan dengan sederetan hukuman berat
dan pengalaman menyakitkan sehingga sikap Tuhan mereka men­
jadi keras, tidak pemaaf. dan memang sebagaimana adanya, di­
selimuti kesuraman. Bangsa Yahudi mempertahankan karakter
tuhan universal yang menguasai seluruh dunia dan orang-orang
di dalamnya. Meskipun demikian, fakta mengenai pemujaan ter­
hadap tuhan yang telah diturunkan dari bangsa Mesir ke Yahudi
telah menemukan titik terang. Petunjuk tersebut terlihat di dalam
tambah­an doktrin yang menyebutkan bahwa bangsa Yahudi adalah
umat yang terpilih, yang kewajiban khususnya akan berubah men­
jadi imbalan khusus pula pada akhirnya. Tidaklah mudah bagi
orang-orang yang mengalami nasib buruk tersebut untuk memiliki
keyakin­an mengenai Tuhan yang Maha Kuasa, yang mengatur se­
gala­nya. Kendati demikian, mereka tidak membiarkan keraguan
me­nguasai diri mereka. Mereka memperkuat rasa bersalah mereka
untuk membungkam kecurigaan mereka sendiri dan mungkin
http://facebook.com/indonesiapustaka

akhir­nya berkata bahwa nasib yang mereka alami adalah “kehendak


Tuhan yang tidak bisa kita mengerti,” seperti halnya orang-orang
agamis pada masa sekarang. Hal teraneh yang ada di dunia ini
ada­lah tuhan yang mengizinkan pemimpin lalim baru datang dan
mem­per­laku­kan umatnya dengan buruk—seperti yang terjadi pada
bangsa Asuriah, Babel, Persia. Akan tetapi, kekuasaan tuhan dikenal

- 82 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

karena kemudian semua musuh jahat tersebut kalah dan kemudian


ke­rajaan­nya hancur.
Dalam tiga poin penting mendatang, tuhan Yahudi menjadi
identik dengan tuhan Musa. Poin pertama dan yang paling me­nentu­
kan adalah bahwa ia dikenal sebagai tuhan yang esa, yang mem­
buat manusia tidak memikirkan tuhan-tuhan lain. Monoteisme
Ikhnaton ditanggapi dengan serius oleh semua orang; dan memang,
me­reka menjadi sangat bergantung terhadap gagasan tersebut sam­
pai menjadikannya prinsip hidup intelektual mereka dan meng­ganti
semua kepentingan lain. Masyarakat dan para pendeta yang saat
itu mendominasi sebagian gagasan tersebut sama-sama se­tuju pada
poin pertama. Namun demikian, dalam pembatasan aktivitas­nya
untuk menyembah tuhan dengan adat-istiadat, para pendeta me­
nyadari bahwa mereka berseberangan dengan ke­cenderung­an kuat
masya­rakat yang berupaya menghidupkan kem­bali dua doktrin lain
Musa mengenai tuhannya. Para pendeta tidak lelah menyuarakan
bahwa Tuhan tidak berkenan dengan upacara-upacara ataupun pe­
ngorbanan dan tidak meminta apa pun ke­cuali kepercayaan ter­
hadap-Nya serta hidup dalam kebenaran dan keadilan. Ketika
bangsa Yahudi memuja kesederhanaan dan ke­suci­an hidup mereka
di gurun pasir, sudah pasti mereka sedang berada di dalam pengaruh
ideal Musa.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Inilah waktunya mengajukan pertanyaan apakah kita perlu


menelaah pengaruh Musa pada gagasan akhir Yahudi mengenai
tuhan mereka, dan apakah tidak cukup untuk menganggap bahwa
per­kembangan spiritualitas akan terus terjadi selama berabad-abad
dan sepanjang hidup berbudaya bangsa Yahudi. Mengenai penjelas­
an yang akan mengakhiri semua rekaan kita ini, saya akan membuat

- 83 -
Moses and Monotheism

dua komentar. Pertama, penjelasan tersebut tidak menjelaskan apa


pun. Kondisi yang sama tidak melahirkan monoteisme pada masya­
rakat Yunani yang memang dianugerahi banyak hal dan yang meng­
hasil­kan awal dari pikiran filosofis. Di Mesir, sepemahaman kami,
monoteisme telah berkembang sebagai efek penyokong imperialis­
me; tuhan adalah refleksi seorang Firaun yang secara otokratis me­
mimpin sebuah kekaisaran dunia. Dengan adanya bangsa Yahudi,
kondisi politik menjadi sangat tidak menguntungkan untuk se­
buah perkembangan yang jauh dari gagasan tuhan universal yang
eksklusif dan dekat dengan gagasan pemerintah universal. Lantas,
dari mana bangsa kecil yang tidak mampu ini memiliki keberanian
un­tuk menyatakan diri bahwa mereka adalah anak yang paling di­
sukai Tuhan? Pertanyaan mengenai asal-muasal monoteisme di
kalang­an bangsa Yahudi belum dapat terjawab; dan kita harus puas
de­ngan jawaban yang ada bahwa monoteisme merupakan ekspresi
tinggi­nya tingkat intelektual agama tertentu. Kita paham bahwa
tingkat intelektual tidak dapat dimengerti maupun diketahui.
Maka, penjelasan tersebut sebenarnya tidak boleh disebut sebuah
pen­jelasan sampai penjelasan-penjelasan lain dinyatakan gagal.6
Lebih jauh lagi, terdapat fakta bahwa laporan dan sejarah
Yahudi sendiri menunjukkan secara empatis dan tanpa kontradiksi
bah­wa gagasan Tuhan Esa diberikan oleh Musa kepada umatnya.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Jika ada yang mempertanyakan keakuratan pernyataan ini, per­


tanya­an tersebut harus ditujukan kepada para pendeta yang me­
nulis­kan kembali teks Alkitab, yang terlalu menganggap sumbernya

6 Pertimbangan yang sama masih valid bagi kasus luar biasa dari William
Shakespeare dari Stratford.

- 84 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

me­mang berasal dari Musa sendiri. Institusi dan juga aturan ritual
yang jelas baru dibuat dikatakan sebagai hukum Musa, jelas un­tuk
mengukuhkan otoritas mereka. Hal ini memang dapat me­nimbul­
kan kecurigaan, namun gagasan tersebut hampir tidak dapat kita
gunakan. Motif lebih mendalam dari deklarasi yang berlebih­
an tersebut sangat jelas. Dalam laporan yang mereka tulis, para
pendeta ingin membangun keberlanjutan periode hidup Musa di
masa hidup mereka. Mereka berupaya menyangkal hal yang telah
kami sebut sebagai ciri paling mencolok sejarah keagamaan Yahudi,
yaitu adanya rentang waktu antara pemberian hukum oleh Musa
dan pendirian agama Yahudi—rentang waktu yang awalnya diisi
de­ngan pemujaan terhadap Yahweh dan baru secara perlahan ter­
tutupi. Laporan para pendeta menyangkal urut-urutan peristiwa ini
dengan segala upaya dan kekuatan, meskipun kebenaran sejarah­
nya sangat tidak diragukan. Hal ini dikarenakan selama masa pe­
melihara­an teks Alkitab masih ada saja pernyataan yang dapat mem­
bukti­kannya. Laporan versi pendeta memiliki tujuan yang mirip
dengan kecenderungan yang mengagungkan tuhan baru, Yahweh,
sebagai Tuhan Patriarki. Jika kita mempertimbangkan motif Kode
Imamat ini, akan sulit bagi kita untuk percaya bahwa me­mang
Musa yang memberikan gagasan monoteis kepada umat Yahudinya.
Seharusnya, lebih mudah bagi kita untuk menyetujui hal ini karena
http://facebook.com/indonesiapustaka

kita dapat menyebutkan dari mana gagasan tersebut di­dapat­kan


Musa—sesuatu yang jelas telah dilupakan para pendeta Yahudi.
Lantas, seseorang dapat bertanya, apa keuntungan yang kita
dapatkan dari menelaah monoteisme Yahudi dari Mesir? Masalah ini
dapat dijawab dengan memandang beberapa langkah ke belakang;
se­belumnya, kita tidak tahu lebih banyak mengenai asal-usul gagas­

- 85 -
Moses and Monotheism

an monoteis ini. Jawabannya: hal ini bukanlah merupakan per­


tanya­an mengenai keuntungan, melainkan penelitian. Mungkin
juga kita akan mempelajari sesuatu dengan menjelaskan proses se­
sungguh­nya.

2. Periode Latensi dan Tradisi

Saya yakin bahwa gagasan Tuhan Yang Esa juga penekanan


pada permintaan etis atas nama Tuhan serta penolakan segala ben­tuk
sihir memang merupakan doktrin Musa. Doktrin tersebut awal­nya
tidak memiliki kesempatan untuk berkembang, namun me­nemu­
kan kesempatan tersebut setelah waktu yang lama dan akhirnya ber­
jaya. Bagaimana penjelasan atas keberhasilan yang terulur ini dan di
mana kita dapat menemukan fenomena yang mirip?
Refleksi kami berikutnya menyebutkan bahwa mereka se­
ring berhadapan dalam dunia yang sangat berbeda dan mereka
mungkin hadir dalam bentuk beragam yang kurang lebih mudah
di­mengerti. Mari kita mengambil contoh dari teori ilmiah baru,
misal­nya doktrin Darwin mengenai evolusi. Awalnya, teori tersebut
men­ dapat­kan penolakan besar dan diperdebatkan secara sengit
se­
lama berabad-abad; namun, hanya butuh waktu selama satu
http://facebook.com/indonesiapustaka

generasi sampai teori tersebut diakui sebagai langkah besar menuju


kebenaran. Darwin sendiri mendapat penghargaan dengan dikubur
di Westminster Abbey. Kasus seperti ini tidak menyisakan teka-teki.
Kebenaran yang baru telah membangkitkan perlawanan afektif.
Per­lawanan tersebut dapat ditopang oleh pendapat-pendapat yang

- 86 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

ber­tentangan dengan bukti doktrin yang tidak menyenangkan ter­


sebut. Persaingan opini bertahan selama beberapa waktu. Sejak
awal, manusia terbagi menjadi pengikut doktrin dan penolak
doktrin, namun jumlah pengikut doktrin dan juga pengaruhnya
di dunia meningkat dengan stabil sampai akhirnya mendapatkan
ke­kuasa­an. Sepanjang konflik, tidak ada seorang pun yang lupa
akan hal yang dipermasalahkan. Kita hampir tidak akan terkejut
jika me­nemu­kan bahwa keseluruhan proses memerlukan waktu
yang cukup panjang; mungkin kita tidak cukup mengapresiasi fakta
bah­wa kita juga memiliki kepentingan menyangkut manifestasi
psikologi massa. Tidak sulit untuk menemukan anologi penuh me­
ngenai hal tersebut di dalam kehidupan mental seseorang. Da­lam
kasus tersebut, seseorang dapat mendengar suatu hal baru, de­ngan
bukti tertentu, yang terpaksa diterimanya; namun, hal ter­sebut me­
ngontradiksi banyak keinginannya dan menyinggung ke­percaya­an
tinggi yang ia peluk. Setelah itu, ia akan ragu dan mencari alasan
untuk meragukan materi baru tersebut; ia akan berjuang selama
be­berapa waktu sampai akhirnya ia mengakui: “Semua ini benar,
meski­ pun menurut saya sulit diterima dan terasa menyakitkan
jika saya diminta memercayai hal tersebut.” Hal yang kita pelajari
dari proses ini adalah diperlukannya waktu agar karya intelektual
Ego dapat mengatasi bantahan yang dibentuk oleh perasaan kuat.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Meski­pun demikian, kasus ini tidak begitu serupa dengan kasus


yang sedang berusaha kita jelaskan.
Contoh berikut juga kelihatannya hanya memiliki sedikit
per­beda­an dengan masalah yang sedang kita hadapi. Mungkin saja
seseorang selamat dan terlihat tidak terluka dari tempat ia me­nyaksi­
kan kecelakaan yang mengejutkan, contohnya tabrakan kereta api.

- 87 -
Moses and Monotheism

Dalam jangka waktu beberapa minggu, orang tersebut merasakan


gejala fisik dan motor yang serius. Gejala tersebut hanya dapat kita
hubungkan dengan keterkejutannya atau apa pun yang terjadi pada
waktu kecelakaan. Ia menderita “gangguan traumatis”. Gangguan
ini sulit untuk dapat dimengerti dan merupakan fakta asing. Waktu
yang terbentang antara peristiwa kecelakaan dan kemunculan
gejala tersebut dikenal sebagai “periode inkubasi”, sebuah istilah
mengenai penyakit menular patologi. Sebagai bahan pemikiran,
kami mengamati bahwa terlepas dari perbedaan fundamental dari
kedua kasus—kasus gangguan traumatis dan Monoteisme Yahudi—
terdapat korespondensi pada satu poin. Hal tersebut merupakan
ciri yang disebut sebagai latensi. Terdapat dasar yang kuat jika kita
berpikir bahwa di dalam sejarah agama Yahudi terbentang jarak
waktu yang lama antara perpisahan dari agama Musa dengan suatu
masa ketika bangsa tersebut tidak memiliki gagasan monoteis,
tidak mempraktikkan ajarannya dan tidak menekankan sisi etisnya.
Karena itu, kita harus bersiap akan adanya kemungkinan bahwa
solusi masalah ini harus dicari dalam situasi psikologis spesial.
Lebih dari sekali saya telah menelusuri peristiwa yang terjadi di
Qadeš ketika dua komponen bangsa Yahudi nantinya digabungkan
di dalam kisah penerimaan agama baru. Karena orang-orang ter­
sebut pernah berada di Mesir, kenangan mengenai peristiwa eksodus
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan sosok Musa masih sangat kuat dan jelas sampai-sampai ke­
nangan tersebut memaksa untuk diperhitungkan di dalam sejarah
awal bangsa Yahudi. Di antara mereka mungkin ada keturunan
dari orang-orang yang pernah mengenal Musa dan beberapa dari
mereka masih menganggap diri mereka orang Mesir juga memiliki
nama Mesir. Meskipun demikian, mereka memiliki alasan yang baik

- 88 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

untuk “membungkam” kenangan mengenai nasib yang menimpa


pemimpin dan pemberi hukum mereka. Bagi pihak yang satunya
dari suku tersebut, motif utamanya adalah untuk mengagungkan
Tuhan baru mereka dan menyangkal bahwa Dia adalah sosok asing.
Kedua pihak sama-sama berupaya menyangkal bahwa pernah ada
agama beserta ajarannya yang muncul terlebih dahulu. Hal ini
melandasi datangnya kompromi pertama dan kemudian mungkin
segera dijadikan kompromi tertulis. Orang-orang dari Mesir mem­
bawa seni menulis dari Mesir dan juga ketertarikan terhadap
sejarah menulis. Meskipun demikian, terdapat jarak waktu tertentu
sebelum sejarawan akhirnya mengembangkan ideal kebenaran
objektif. Pada awalnya, mereka menuliskan laporannya berdasarkan
kebutuhan dan kecenderungan mereka pada saat itu dengan sa­
dar, seakan-akan mereka tidak mengerti apa arti pemalsuan. Se­
bagai akibatnya, sebuah perbedaan mulai berkembang di antara
versi tertulis dan lisan menyangkut hal yang sama. Materi yang
telah dihapuskan atau ditukar di dalam versi tertulis mungkin saja
dipertahankan dan tidak diubah di dalam tradisinya. Tradisi men­
cakup komponen tambahan dan juga kontradiksi dari sejarah ter­
tulis. Jika dibandingkan, tradisi lisan kurang berisiko mengalami
distorsi. Mungkin sebagian tradisi lisan benar-benar bebas dari
distorsi dan lebih apa adanya dibandingkan dengan laporan tertulis.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Meskipun demikian, akurasinya dirusak oleh sifatnya yang kurang


jelas dan kurang fleksibel dibandingkan dengan teks tertulis karena
ia terekspos banyak perubahan dan distorsi. Hal ini terjadi sebab
tradisi tertulis tersebut diturunkan dari satu generasi ke generasi lain
secara lisan. Tradisi yang demikian ini mungkin memiliki ujung atau
hasil yang berbeda. Yang paling mungkin terjadi adalah popularitas

- 89 -
Moses and Monotheism

tradisi lisan dikalahkan oleh versi tertulis, sampai-sampai ia menjadi


semakin tidak terlihat dan akhirnya terlupakan. Nasib lain yang
mungkin terjadi adalah bahwa tradisi itu sendiri berakhir dengan
menjadi laporan tertulis. Masih ada beberapa kemungkinan yang
akan disebutkan kemudian.
Fenomena periode latensi di dalam sejarah agama Yahudi
dapat dijelaskan sebagai berikut: fakta yang berusaha dibungkam
dengan sengaja oleh apa yang disebut sejarah tertulis resmi itu se­
sungguhnya tidak pernah hilang. Pengetahuan mengenai fakta
ter­sebut bertahan di dalam tradisi lisan yang dijaga oleh rakyat.
Menurut E. Sellin, bahkan terdapat tradisi mengenai akhir hidup
Musa yang sangat bertentangan dengan laporan resmi dan justru
lebih dekat dengan kenyataan. Hal yang sama dapat kita perkirakan
terjadi terhadap kepercayaan lain yang sepertinya telah menemui
akhirnya dalam masa yang sama seperti Musa. Doktrin agama Musa
pada waktu itu tidak dapat diterima oleh sebagian besar orang yang
hidup pada zaman tersebut.
Di sini, kita menemukan fakta yang luar biasa. Tradisi ini bukan­
nya melemah seiring waktu, melainkan justru berkembang men­jadi
lebih kuat dalam beberapa abad. Tradisi tersebut dikodifikasi men­
jadi laporan resmi dan pada akhirnya membuktikan bahwa dirinya
cukup kuat untuk memengaruhi pemikiran dan aktivitas manusia.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Meskipun demikian, kondisi yang memungkinkan terjadinya per­


kembangan tersebut jauh dari kata jelas bagi pemahaman kita.
Fakta ini memang aneh, sangat aneh, sehingga kami merasa
perlu mempelajarinya lagi. Orang Yahudi telah meninggalkan
agama Aton yang diberikan oleh Musa dan telah berpaling ke pe­
muja­an tuhan lain yang sedikit berbeda dibandingkan Baal dari suku

- 90 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

tetangga. Semua upaya penerapan distorsi di kemudian hari tidak


berhasil menyembunyikan fakta memalukan ini. Kendati demi­
kian, agama Musa tidak hilang tanpa meninggalkan jejak; kenangan
semacam itu bertahan, namun tradisi lisannya mungkin ter­sembunyi
dan dibelokkan dari yang asli. Tradisi masa lalu inilah yang terus
bekerja di balik layar, sampai secara perlahan ia semakin men­dapat­
kan kekuatan di dalam pemikiran manusia dan pada akhir­nya berhasil
men­transformasikan Tuhan Yahweh menjadi Tuhan yang disembah
Musa serta membangun kehidupan baru untuk agama yang telah
dibentuk Musa berabad-abad lalu dan telah ditinggalkan. Bukanlah
sebuah konsepsi yang familiar jika se­buah tradisi yang terbengkalai
memiliki pengaruh kuat terhadap ke­hidup­an spiritual manusia. Kita
menemukan diri kita berada di dalam domain psikologi kelompok
yang asing bagi kita. Kita harus men­coba menemukan analogi dan
juga fakta yang mirip de­ngan kasus ini, bahkan di disiplin ilmu lain.
Saya yakin kita akan me­nemu­kannya.
Ketika waktunya tiba bagi agama Musa untuk kembali, orang-
orang Yunani memiliki harta karun yang luar biasa besar berisi
legenda dan mitos kesatria. Dipercaya bahwa manusia pada abad
ke­sembilan dan kedelapan sebelum Masehi menyaksikan karya-
karya epik Homer yang mendasarkan materinya dari mitos-mitos
yang rumit tersebut. Dengan pengetahuan psikologis kita saat ini,
http://facebook.com/indonesiapustaka

kita dapat mengajukan pertanyaan jauh sebelum Schliemann dan


Evans: dari mana bangsa Yunani mendapatkan semua materi mitos
dan legenda yang kemudian ditransformasikan oleh Homer dan para
pelakon drama Attic menjadi karya seni yang abadi? Jawabannya
adalah sebagai berikut: di dalam sejarah awal bangsa Yunani, bangsa
tersebut mungkin telah melalui periode kecemerlangan dari sisi

- 91 -
Moses and Monotheism

luar dan budaya yang telah sangat berkembang, yang kemudian


berakhir dalam kehancuran, seperti yang diceritakan oleh sejarah.
Tradisi samarnya tetap hidup di dalam legenda-legenda tersebut.
Penelitian arkeologis pada masa ini telah mengonfirmasi gagasan
tersebut, penelitian yang jika dilakukan lebih awal pasti akan di­
anggap terlalu berani. Penelitian tersebut telah menemukan bukti
budaya Minoan-Mycenaean yang sangat besar, yang mungkin telah
berakhir di daratan besar Yunani pada tahun 1250 SM. Sejarawan
Yunani pada periode lebih lanjut hampir tidak merujuk penelitian
tersebut. Terdapat kata-kata yang menerangkan bahwa ada saat
bangsa Kreta menguasai lautan, dan terdapat penyebutan nama
Raja Minos dan istana serta labirinnya; namun hanya itu. Tidak ada
yang tersisa dari zaman agung tersebut kecuali tradisi yang dijaga
oleh para penulis hebat.
Masyarakat lain juga memiliki cerita rakyat seperti itu, misal­
nya bangsa India, Finlandia, dan Jerman. Adalah tugas sejarawan
literatur untuk meneliti apakah kondisi yang sama seperti bangsa
Yunani terjadi di ketiga tempat itu juga. Saya pikir investigasi
yang demikian akan memiliki hasil yang positif. Kondisi yang
telah kita buat spesifik mengenai asal mula cerita rakyat adalah
se­bagai berikut: terdapat sebuah periode dalam sejarah awal yang
di kemudian hari dianggap penting, signifikan, berlebihan, dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

mung­kin selalu heroik; namun, peristiwa yang demikian terjadi


jauh di masa lalu sehingga generasi setelahnya hanya mengetahui
peristiwa tersebut dari tradisi lisan yang tidak jelas dan tidak
lengkap. Keterkejutan dirasakan di sini karena epik dalam bentuk
literatur seharusnya sudah musnah jauh-jauh hari. Materi masa lalu
di­guna­kan dan selama peristiwa-peristiwa yang terjadi setelahnya

- 92 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

berhubungan dengan hal tersebut, sejarah dapat menggeser posisi


tradisi. Tindakan heroik paling berani pada masa kita tidak lagi
mampu menginspirasi dan menciptakan sebuah epik; Alexander
Agung sendiri telah menyebutkan bahwa ia tidak akan memiliki
seorang Homer yang dapat merayakan hidupnya di dalam epik.
Masa lampau memiliki daya tarik besar terhadap imajinasi,
terkadang secara misterius. Semakin sering umat manusia merasa
tidak puas dengan masa kini—dan ini cukup sering terjadi—
mereka akan melihat kembali masa lalu dan berharap mereka dapat
me­menangkan keyakinan di dalam mimpi masa keemasan yang
tidak terlupakan.7 Mungkin manusia masih berdiri di bawah sihir
masa kecilnya, yang di situ kenangan yang tidak terlepas dari bias
di­anggap­nya sebagai kebahagiaan murni. Kenangan masa lalu yang
tidak lengkap maupun tidak jelas, kenangan yang kita sebut tradisi,
adalah insentif besar bagi para seniman. Mereka akan merasa bebas
untuk mengisi kekosongan dalam kenangan tersebut berdasarkan
perintah imajinasinya sendiri. Mereka akan membentuk gambaran
yang sedang mereka coba bentuk kembali berdasarkan tujuan me­
reka sendiri. Kita hampir dapat berkata bahwa semakin sebuah
tradisi itu terbayang, maka semakin sesuailah tradisi tersebut un­
tuk memenuhi kebutuhan sang penyair. Karena itu, kita tidak
akan terkejut dengan nilai tradisi di dalam puisi. Analogi yang kita
http://facebook.com/indonesiapustaka

temukan dari ketergantungan syair epik pada kondisi yang tepat

7 Situasi ini mendasari karya Macaulay yang berjudul “Lays of Ancient


Rome.” Ia memberikan asumsi mengenai sebagian penyair yang
sayangnya kecewa dengan kontes kejam partai politik pada masanya,
serta mempertentangkan mereka dengan persatuan dan patriotisme
nenek moyang mereka.

- 93 -
Moses and Monotheism

akan mem­buat kita lebih dapat menerima gagasan asing: oleh bangsa
Yahudi, tradisi Musa diubah menjadi pemujaan terhadap Yahweh
dengan dasar yang sama dengan agama Musa. Meskipun demikian,
kedua kasus tersebut sangat berbeda dalam hal lain. Satu kasus
meng­hasil­kan syair, kasus yang lain menghasilkan sebuah agama;
dan kita berasumsi bahwa kasus yang menghasilkan agama—di
bawah stimulus tradisi—dibentuk ulang dengan keyakinan yang
tentu saja tidak dapat diciptakan sebuah syair. Maka, masalah yang
se­dang kita hadapi saat ini lebih belum tuntas. Ia mendorong kita
untuk mencari analogi yang lebih baik.

3. Analogi

Satu-satunya analogi yang sangat sesuai dengan proses luar


biasa di dalam sejarah agama Yahudi akan ditemukan pada domain
yang terlihat jauh dari masalah yang kita hadapi. Meskipun demi­
kian, analogi tersebut sangat lengkap dan dapat menjangkau ma­
salah identitas. Di sini pula, kami menemukan fenomena latensi,
yaitu kemunculan manifestasi yang tidak dapat dijelaskan te­tapi
yang harus dijelaskan, serta pengalaman yang terlupakan. Kami pun
me­nemukan karakteristik kompulsif yang lebih kuat dari­pada pe­
http://facebook.com/indonesiapustaka

mikiran logis dan yang berhubungan sangat erat dengan kehidupan


fisik; hal tersebut merupakan sifat yang tidak berhubungan dengan
asal mula syair epik.
Analogi ini bertemu dengan psikopatologi pada munculnya
kelainan mental manusia: psikopatologi adalah disiplin yang ter­

- 94 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

masuk psikologi individu, sedangkan fenomena keagamaan sudah


pasti harus dianggap sebagai psikologi kelompok. Kita akan melihat
bahwa analogi ini tidak begitu mengejutkan sebagaimana ia terlihat
untuk kali pertama; hal tersebut memang merupakan sifat dari
suatu aksioma.
Kesan yang kita dapatkan di awal dan kita lupakan kemudian,
kesan yang saya katakan sebagai hal penting bagi etiologi kelainan
mental itu disebut traumata. Masih merupakan pertanyaan apakah
etiologi kelainan jiwa secara umum dapat dikatakan sebagai etilogi
traumatis. Untuk menyanggahnya, sebuah trauma tidak selalu tam­
pak dalam riwayat awal individu dengan kelainan jiwa. Sering sekali
kita harus merasa cukup bahwa tidak ada gejala apapun selain reaksi
tidak biasa terhadap pengalaman dan permintaan individu; banyak
orang mengatasi kedua hal tersebut dengan cara lain yang kita
anggap normal. Saat kita tidak dapat menemukan penjelasan lain
me­ngenai penyakit mental di samping penyakit turun-temurun
atau dan disposisi konstitusional, kita tergoda untuk mengatakan
bah­wa penyakit tersebut tidak terjadi tiba-tiba, tetapi berkembang
se­cara perlahan.
Meskipun demikian, ada dua poin yang moncolok di dalam
hubungan ini. Poin pertama adalah bahwa asal mula penyakit
mental selalu dapat ditelusuri dari pengalaman masa kecil.8 Poin
http://facebook.com/indonesiapustaka

ke­dua adalah sebagai berikut: tidak salah untuk berkata bahwa ada
beberapa kasus yang disebut kasus traumatis karena efek awalnya

8 Inilah mengapa tidak masuk akal untuk bersikeras bahwa psikoanalisis


dipraktikkan jika periode awal hidup seseorang tidak diikutsertakan
dalam investigasi; meskipun demikian, klaim ini telah dipertahankan
bertahun-tahun.

- 95 -
Moses and Monotheism

yang kuat jelas dapat ditelusuri sejak masa kecil. Kedua poin ter­
sebut tidak dapat disusun secara normal sehingga kita merasa ter­
dorong untuk mengatakan: jika hal ini atau hal itu tidak terjadi,
tidak akan ada penyakit mental. Tujuan kita akan tercapai bahkan
jika kita harus membatasi analogi tersebut dengan kasus-kasus
traumatis ini. Meskipun demikian, jarak di antara dua poin terlihat
dapat dijembatani. Penggabungan kedua kondisi etiologis ke dalam
satu konsepsi cukup dimungkinkan; semuanya bergantung pada
apa yang didefinisikan sebagai traumatis. Jika kita berasumsi bahwa
karakter traumatis didapatkan hanya dalam konsekuensi elemen
kuantitatif pengalaman, maka kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa dengan satu konstitusi, suatu hal dapat menghasilkan trauma
sedangkan dengan konstitusi lain trauma tersebut tidak muncul.
Maksudnya, jika di dalam pengalaman terdapat reaksi patologis tidak
biasa, kesalahannya terletak pada tuntutan yang terlalu banyak me­
ngenai kepribadian. Karena itu, kita memiliki konsepsi penggaris,
hal yang disebut sebagai rangkaian saling melengkapi, di mana dua
faktor melebur untuk melengkapi etiologi ini. Sebuah kekurangan
di dalam satu faktor dapat dikompensasi dengan kelebihan di faktor
lain. Secara umum, kedua faktor tersebut bekerja bersama dan hanya
pada ujungnya kita dapat membicarakan motivasinya. Konsekuensi
dari penalaran ini adalah kita dapat mengabaikan perbedaan antara
http://facebook.com/indonesiapustaka

etiologi traumatis dan nontraumatis serta menganggapnya sebagai


sesuatu yang tidak penting bagi analogi kita.
Terlepas dari adanya risiko pengulangan, mungkin akan ber­
guna jika kita mengelompokkan fakta-fakta mengenai analogi
yang se­dang kita bicarakan: Penelitian ini menunjukkan bahwa hal
yang kita sebut fenomena atau gejala penyakit mental merupakan

- 96 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

kon­sekuensi dari pengalaman tertentu yang kita anggap sebagai


traumata etiologis. Kami berharap dapat menegaskan karakteristik
umum dari pengalaman dan gejala kelainan mental tersebut, meski­
pun dalam bentuk skematik kasar.
Mari kita telaah lebih jauh. Semua traumata tersebut berasal
dari masa kecil, sampai sekitar umur lima tahun. Anak yang mulai
dapat berbicara merupakan kasus yang sangat menarik. Setelah itu,
periode antara dua sampai empat tahun juga adalah masa yang paling
penting. Kami tidak dapat menyebutkan dengan yakin seberapa
cepat sensitivitas terhadap traumata dimulai setelah kelahiran.
Lazimnya, pengalaman tersebut sepenuhnya dilupakan dan
tidak diingat lagi. Pengalaman-pengalaman itu berasal dari periode
infantile amnesia yang sering diinterupsi oleh memori yang ter­
fragmentasi dan terisolasi, hal yang biasa disebut “screen memories”
atau “ingatan-ingatan sekat”.
Memori tersebut berhubungan dengan kesan sang anak ter­
hadap sifat seksual dan agresif dan juga cedera dini pada diri sendiri
(cedera pada narsisme). Kami harus tambahkan bahwa anak pada
usia dini belum bisa membedakan dengan cukup jelas antara tinda­
kan seksual dan tindakan yang murni agresif seperti yang dapat
mereka lakukan di kemudian hari; (kesalahan pengertian “sadisme”
me­ngenai tindakan seksual termasuk ke dalam konteks ini). Me­
http://facebook.com/indonesiapustaka

mang sangat mengejutkan bahwa ternyata faktor seksual lebih me­


nonjol dan teori mengenainya harus dipertimbangkan.
Tiga poin ini (peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam lima
tahun pertama masa kecil, fakta bahwa sang anak melupakannya,
dan karakteristik seksualitas dan agresivitas) saling berkaitan dan
me­me­ngaruhi. Traumata merupakan pengalaman atau persepsi

- 97 -
Moses and Monotheism

tubuh, terutama yang dapat didengar atau dilihat; maka, jika bukan
pe­ng­alaman, traumata adalah kesan. Hal yang menghubungkan
tiga poin tersebut dibangun secara teoretis oleh karya analitis; ia
dapat memberikan penjelasan mengenai pengalaman yang ter­lupa­
kan, atau mampu menghadirkan kembali pengalaman yang telah
ter­lupakan tersebut ke dalam memori. Berbanding terbalik de­ngan
pendapat populer, teori ini menyebutkan bahwa kehidupan sek­sual
manusia menunjukkan perkembangan dini. Perkembangan ter­sebut
berakhir pada sekitar umur lima tahun. Setelah itu, datang­lah hal
yang dikenal sebagai periode latensi yang terjadi sam­pai pubertas.
Pada periode tersebut, kita tidak dapat menemui per­kembangan
seksual lebih jauh; sebaliknya, banyak hal yang telah di­ capai
mengalami regresi. Teori ini dikonfirmasi oleh penelitian anatomis
mengai pertumbuhan genitalia internal. Teori tersebut ber­anggapan
bahwa manusia berasal dari spesies hewan yang telah matang secara
seksual pada umur lima tahun. Teori tersebut juga me­nimbulkan
kecurigaan bahwa penangguhan kehidupan seksual sangat ber­pe­
ngaruh terhadap transisi menuju kemanusiaan. Manusia ter­lihat
seperti satu-satunya hewan dengan periode latensi dan seksualitas
yang terlambat. Penelitian terhadap primata, yang se­penge­tahuan
saya belum pernah dilakukan, akan membuahkan hasil yang tidak
berguna bagi teori ini. Jelas merupakan hal yang signifikan secara
http://facebook.com/indonesiapustaka

psikis bahwa periode infantile amnesia ini terjadi pada waktu yang
sama dengan perkembangan seksualitas dini. Mung­kin peristiwa
tersebut adalah kondisi yang diperlukan bagi timbul­nya kelainan
mental, yang sepertinya hanya terjadi pada manusia. Kelainan
ter­sebut merupakan kondisi yang terlihat sebagai yang telah ber­

- 98 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

adaptasi dari masa lampau dan mempertahankan diri, seperti


bagian tertentu tubuh kita.
Ciri-ciri apa yang dimiliki semua gejela kelainan mental? Kita
dapat menjawabnya dengan dua poin penting. Trauma memiliki
dua efek, positif dan negatif. Efek positifnya mencakup upaya untuk
sembuh dari trauma, untuk mengingat pengalaman yang ter­lupa­
kan, atau lebih hebat lagi, untuk membuat pengalaman ter­sebut
sekali lagi dirasakan karena diulangi. Jika pengalaman ter­ sebut
merupakan hubungan afektif dini, ia akan muncul kembali dalam
bentuk hubungan analogis dengan orang lain. Upaya-upaya ini
disimpulkan di dalam istilah “fiksasi terhadap trauma” dan “peng­
ulangan-pemaksaan”. Efeknya dapat dianggap berada di da­lam hal
yang disebut Ego normal dan dalam bentuk tendensi konstan sebagai
sifat yang tidak dapat berubah, meskipun—atau lebih tepatnya,
karena—penyebab asli atau asal-muasalnya telah ter­lupa­kan. Maka,
se­seorang yang melalui masa kecilnya dengan “fiksasi seorang ibu”
ber­lebihan dan setelahnya melupakan kesan ter­sebut mungkin se­
umur hidupnya akan mencari seorang wanita yang dapat ia andal­
kan, yang akan menyuapinya dan peduli pada­nya. Kehidupan sek­
sual seorang perempuan yang telah dirayu saat kecil nantinya bisa
saja berorientasi kepada pelecehan yang sama se­cara terus-menerus.
Maka, untuk dapat memahami masalah ke­lainan mental, kita harus
http://facebook.com/indonesiapustaka

me­nyelami rahasia pembentukkan karakter secara umum.


Reaksi negatif berujung pada tujuan sebaliknya; dan dalam
reaksi negatif, tidak ada yang harus diingat atau diulangi mengenai
traumata yang terlupakan tersebut. Traumata tersebut dapat di­
kelompok­kan bersama-sama sebagai reaksi defensif. Mereka me­ng­
ekspresi­kan diri mereka dengan menghindari masalah, ke­cenderung­

- 99 -
Moses and Monotheism

an yang dapat berkulminasi menjadi kekangan ataupun fobia.


Se­sungguh­nya reaksi negatif tersebut merepresentasikan fiksasi pada
trauma seperti halnya reaksi positif, namun reaksi negatif mengikuti
ke­cenderungan yang bertentangan. Gejala kelainan mental dibentuk
oleh kompromi yang dikontribusikan oleh efek positif dan negatif;
ter­kadang satu komponen atau yang lain mendominasi. Kedua
reaksi yang bertentangan tersebut menghasilkan konflik yang tidak
dapat diselesaikan subjek sebagaimana aturannya.
Poin yang kedua adalah sebagai berikut. Semua fenomena ini,
gejalanya, dan juga batasan kepribadian serta perubahan karakter
yang terus-menerus, menunjukkan karakteristik kompulsif; hal-hal
ter­sebut memiliki intensitas psikis yang besar. Mereka mem­per­
lihat­kan independensi yang sangat tinggi dari proses-proses psikis
yang diadaptasi berdasarkan permintaan di dunia nyata dan juga
me­­matuhi hukum pemikiran logis. Mereka tidak dipengaruhi oleh
realitas luar, setidaknya biasanya tidak terpengaruh. Mereka tidak
mem­per­hati­kan keadaan sesungguhnya, atau padanan mentalnya,
se­hingga dapat dengan mudah menjadi oposisi aktif dari salah satu
reaksi. Mereka merupakan sebuah negara di dalam negara, pihak
yang tidak dapat ditembus, serta tidak berguna bagi kesejahteraan
umum; namun, mereka dapat berhasil mengalahkan pesaingnya,
komponen yang dianggap normal, dan memaksanya mengikuti
http://facebook.com/indonesiapustaka

mereka. Jika hal ini terjadi, maka kedaulatan realitas psikis internal
telah dibangun di atas realitas dunia luar; jalan menuju kegilaan
ter­­buka. Bahkan jika hal ini tidak terjadi, konflik ini secara praktis
sangat penting. Keterpaksaan, atau bahkan ketidakmampuan se­se­
orang yang didominasi oleh gangguan mental dalam menghadapi
ke­hidupan merupakan faktor yang sangat penting pada kehidupan

- 100 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

manusia. Gangguan mental tersebut dapat dianggap sebagai ekspresi


langsung dari “fiksasi” terhadap periode awal masa kecil mereka.
Di samping itu, bagaimana pula dengan latensi, sebuah per­
tanyaan yang memang menarik dan berhubungan dengan analogi
kita? Sebuah trauma masa kecil dapat segera diikuti oleh kelainan
mental pada usia muda; hal ini dibentuk oleh upaya pertahanan diri
yang diiringi dengan pembentukan gejala tersebut. Kelainan mental
ter­sebut dapat terjadi dalam waktu yang lama dan menyebabkan
ganggu­an cukup besar atau justru tidak terobservasi dan diabaikan.
Per­tahanan diri mendapatkan posisi yang diuntungkan dalam ke­
lainan mental yang demikian; dalam situasi apa pun, perubahan ke­
pribadian akan tetap ada seperti luka lama. Kelainan mental masa
kecil jarang ada yang berlanjut tanpa interval sampai menjadi ke­
lainan mental pada masa dewasa. Lebih banyak kelainan mental yang
diikuti oleh periode perkembangan yang tidak terinterupsi, se­­buah
proses yang dimungkinkan atau difasilitasi oleh latensi fisiologis. Baru
di kemudian hari perubahan tersebut muncul, yang menghasilkan
kelainan mental sebagai efek tertunda dari trauma. Hal ini terjadi di
antara pubertas atau setelahnya. Dalam kasus pertama, perubahan
tersebut terjadi karena naluri yang di­per­kuat dengan kedewasaan
fisik; ia dapat sekali lagi melakukan per­tempuran yang awalnya tidak
ia menangkan. Pada kasus kedua, kelainan mental dihasilkan dalam
http://facebook.com/indonesiapustaka

waktu yang lebih lama karena reaksi dan perubahan kepribadian


yang ditimbulkan oleh mekanisme pertahanan diri terbukti berperan
sebagai penghambat dalam menyelesaikan masalah-masalah baru
dalam kehidupan. Se­bagai akibatnya, konflik besar timbul di antara
kebutuhan dunia luar dan kebutuhan ego yang berusaha keras mem­
per­tahankan organisasi yang telah dikembangkannya dengan sulit

- 101 -
Moses and Monotheism

dalam per­ juangan­nya mempertahankan diri. Fenomena latensi


berada di dalam ga­nggu­an mental antara reaksi pertama terhadap
trauma dan ke­muncul­an penyakit yang dianggap tipikal. Penyakit
ter­sebut da­pat juga di­anggap sebagai usaha penyembuhan, sebuah
upaya un­tuk men­damai­kan ego yang terpecah-pecah karena trauma
dan me­nyatu­kan­nya kembali menjadi kesatuan kuat yang dapat
ber­­hadapan dengan dunia luar. Namun demikian, upaya tersebut
jarang berhasil kecuali bantuan analitis didapatkan, dan meskipun
demi­kian, keberhasilan juga tidak selalu terjadi. Sering pula hal ter­
sebut akhir­nya menghancurkan dan merusak ego berkeping-keping.
Di samping itu, upaya tersebut juga dapat menyebabkan ego di­
kuasai oleh bagiannya yang telah terpisah dan kemudian di­dominasi
oleh trauma.
Untuk meyakinkan pembaca atas kebenaran pernyataan kami,
di­perlukan diskusi menyeluruh mengenai beberapa riwayat ganggu­
an mental. Meskipun demikian, sulitnya permasalahan ter­sebut da­
pat menyebabkan diskusi yang tidak berurutan dan berisiko meng­
hancur­ kan karakter di dalam tulisan ini. Diskusi ter­ sebut akan
men­jadi risalah mengenai gangguan mental dan bah­kan me­nekan­
kan kebenarannya hanya pada kaum minoritas yang men­curahkan
hidup­nya untuk meneliti dan mempraktikkan psikoanalisis. Ka­
rena saya sedang berbicara kepada audiens yang besar, saya hanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

me­minta para pembaca untuk meminjamkan ke­per­caya­an­nya se­


mentara kepada penjelasan singkat yang baru saja di­baca; saya, dalam
kapasitas saya, setuju bahwa pembaca harus me­nerima potong­an
diskusi yang saya berikan hanya jika teori yang men­dasari­nya ter­
nyata benar.

- 102 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

Meskipun demikian, saya dapat mencoba menghubungkannya


dengan satu kasus yang akan menunjukkan dengan jelas banyak ke­
anehan gangguan mental yang telah saya sebutkan di atas. Tentu
saja, satu kasus tidak dapat menampilkan segalanya; jadi kita tidak
boleh kecewa jika isi satu kasus tersebut terlihat jauh dari analogi
yang sedang kita cari.
Contoh yang akan dipaparkan seringnya terjadi pada keluarga
dengan ekonomi menengah ke bawah. Anak kecil yang tidur de­
ngan orangtuanya di dalam ruangan yang sama memiliki cukup
ke­sempatan dan bahkan secara reguler dapat mengamati hubungan
sek­sual pada umur yang sangat muda, bahkan sebelum ia dapat
ber­bicara. Ia mengamati dan mendengarkan banyak hal. Dalam
ganggu­an mental yang terjadi padanya di kemudian hari setelah air
mani per­tamanya keluar, gangguan tidur adalah gejala awal dan yang
paling sering terjadi. Ia menjadi sangat sensitif terhadap suara-suara
pada malam hari, dan sekali ia terbangun, ia tidak dapat kembali
tidur. Gangguan ini adalah gejala yang benar-benar kompromis: di
satu sisi, hal tersebut adalah ekspresi pertahanan dirinya terhadap
peng­amatan nokturnalnya, di sisi lain, gangguan itu merupakan
upaya untuk membangkitkan kembali kesadaran dirinya yang da­
pat membuatnya mendengarkan suara-suara tersebut.
Dituntun pada kejantanan agresifnya sejak dini oleh peng­
http://facebook.com/indonesiapustaka

amatan-pengamatan itu, anak tersebut mulai merangsang penisnya


dengan sentuhan dan melakukan tindakan-tindakan seksual kecil
ter­hadap ibunya. Ia menempatkan dirinya sebagai ayahnya karena
ke­miripan dengannya. Hal tersebut terjadi sampai akhirnya sang
ibu melarang dirinya menyentuh penisnya dan mengancam jika ia
akan menceritakan hal tersebut kepada sang ayah, yang dikatakan

- 103 -
Moses and Monotheism

akan mengambil organ tersebut. Ancaman kebiri ini memiliki efek


yang traumatis pada sang anak. Ia melepaskan aktivitas seksualnya
dan karakternya mengalami perubahan. Alih-alih mengidentikkan
dirinya dengan sang ayah, ia mulai merasa takut terhadap ayahnya,
kemudian mengadopsi sikap pasif terhadapnya, dan dengan ke­tidak­
patuh­an yang terkadang dilakukan, ia memancing ayahnya untuk
meng­hukum­nya secara fisik. Hukuman ini memiliki pengaruh sek­
sual signifikan terhadap sang anak dan dengan hal tersebut, ia dapat
meng­identikkan dirinya dengan sang ibu yang diperlakukan dengan
buruk. Ia mulai semakin bergantung dengan ibunya seakan-akan ia
tidak dapat hidup tanpa cintanya, bahkan untuk sekejap, karena
hal tersebut merupakan caranya mempertahankan diri dari bahaya
ancam­an kebiri dari ayahnya. Periode latensi dihabiskan dengan
modifikasi Oedipus kompleks ini; periode tersebut tetap bebas dari
gangguan-gangguan yang dapat diamati. Anak tersebut kemudian
men­jadi anak berprestasi dan berhasil di sekolah.
Sejauh ini, kita telah mempelajari efek langsung dari trauma
dan mengonfirmasi adanya periode latensi.
Munculnya pubertas membawa wujud gangguan mental dan
gejala utama kedua, impotensi seksual. Sang anak telah ke­hilang­
an semua sensitivitas di penisnya, ia juga tidak pernah men­coba
me­nyentuh­nya dan tidak berani mendekati seorang wanita se­cara
http://facebook.com/indonesiapustaka

seksual. Aktivitas seksualnya hanya terbatas pada onani psikis de­


ngan fantasi sadistis-masokistis yang dapat dengan mudah di­anggap
sebagai konsekuensi dari observasi dini terhadap per­ setubuh­ an
orangtuanya. Dorongan kejantanan yang dibawa oleh pubertas
ber­ubah men­jadi rasa benci dan pertentangan yang besar terhadap
sang ayah. Hubungan negatif yang ekstrem ini, sampai-sampai me­

- 104 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

ngorban­kan keinginannya sendiri, adalah alasan kegagalan sang anak


di dunia dan konfliknya dengan orang lain. Ia tidak dapat mem­biar­
kan dirinya berhasil dalam profesinya karena ayahnya itulah yang
me­maksanya melakukannya. Ia tidak memiliki teman dan selalu me­
miliki hubungan buruk dengan atasannya.
Terbebani dengan gejala-gejala dan ketidakmampuan ini,
akhir­nya ia menemukan seorang istri setelah kematian ayahnya. Se­
telah itu, karakternya muncul, sifat yang membuat hidup dengan­
nya sangat sulit. Ia memiliki kepribadian yang benar-benar egois,
semena-mena, dan brutal; ia selalu merasa ingin mengganggu dan
me­nekan orang lain. Ia merupakan duplikat dari ayahnya, duplikat
dari gambaran ayah yang ia bentuk dalam ingatannya; ia telah me­
muncul­kan kembali identifikasi-diri ayah yang telah ia adopsi saat
kecil untuk motif seksual. Dalam bagian gangguan mental ini,
kita dapat melihat kemunculan kembali sifat yang telah ditekan,
yang—bersamaan dengan efek langsung dari trauma dan fenomena
latensi—telah kami deskripsikan sebagai sebagian gejala inti dari
ganggu­an mental.

4. Penerapan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Trauma awal—Pertahanan diri—Latensi—Menjangkitnya


ganggu­an mental—Kemunculan kembali bagian dari materi yang
ter­tekan: ini adalah formula yang kami tarik dari perkembangan
ganggu­an mental. Sekarang, saya akan mengundang para pembaca
un­tuk mengambil satu langkah ke depan dan berasumsi bahwa da­

- 105 -
Moses and Monotheism

lam sejarah umat manusia, suatu hal terjadi dengan cara yang mirip
de­ngan peristiwa dalam kehidupan individu. Dapat dikatakan
bah­wa umat manusia secara keseluruhan juga melalui konflik sifat
agresif seksual yang meninggalkan jejak permanen, namun sebagian
besar sifat tersebut ditepis dan dilupakan; di kemudian hari, setelah
periode latensi yang lama, sifat ini bangkit kembali dan membentuk
fenomena yang mirip dengan gejala gangguan mental dalam hal
struktur dan kecenderungan.
Saya yakin, saya pernah menilik proses-proses ini dan ingin
mem­per­lihatkan bahwa konsekuensi proses tersebut—fenomena
yang memiliki kemiripan besar dengan gejala gangguan mental—
merupakan fenomena agama. Karena tidak lagi diragukan setelah
penemuan teori evolusi bahwa umat manusia memiliki masa pra-
sejarah, dan karena sejarah tersebut tidak diketahui (atau dapat
disebut terlupakan), kesimpulan tersebut hampir memiliki efek
signifikan dari aksioma. Jika kita harus mengakui bahwa traumata
yang efektif dan terlupakan berhubungan dengan kehidupan
di dalam keluarga manusia di mana pun, kita harus benar-benar
menyambut informasi ini sebagai hadiah yang tidak diduga dan
tidak dapat diantisipasi dari diskusi sebelumnya.
Saya telah memegang teguh gagasan ini seperempat abad lalu
di dalam buku saya “Totem and Taboo” (1912), dan hanya perlu
http://facebook.com/indonesiapustaka

meng­ulang hal yang telah saya katakan. Argumen ini dimulai dari
gagasan Charles Darwin dan didukung oleh gagasan Atkinson.
Argumen tersebut mengatakan bahwa di zaman purba, manusia
hidup dalam kelompok-kelompok kecil, setiap kelompok bergerak
di bawah dominasi seorang pria kuat. Meskipun begitu, hal ini
tidak diketahui pasti; tidak ada kontak yang dibangun dengan

- 106 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

data geologis. Ada kemungkinan besar bahwa umat manusia tidak


terlalu ahli dalam hal seni berbicara. Sebuah bagian penting dari
gagasan ini menyebutkan bahwa semua manusia purba, termasuk
nenek moyang kita melalui nasib yang akan saya jelaskan sekarang.
Kisah ini diceritakan dengan sangat singkat, seakan-akan hal
yang dalam kenyataannya memerlukan waktu berabad-abad—dan
selama jangka waktu tersebut terulang berkali-kali—hanya terjadi
sekali. Pria yang kuat itu merupakan tuan dan ayah dari seluruh
anggota kelompok: kekuasaannya tidak terbatas, kekuasaan yang
ia gunakan dengan brutal. Semua wanita adalah propertinya: istri-
istri dan anak-anak perempuan di kelompoknya dan mungkin juga
perempuan yang diculik dari kelompok-kelompok lain. Anak laki-
laki memiliki nasib yang sulit; jika mereka memancing rasa cemburu
ayahnya, mereka dapat dibunuh atau dikebiri atau diusir. Mereka
dipaksa tinggal di dalam kelompok kecil dan memperistri wanita
yang diculik dari kelompok lain. Lantas, salah satu atau anak laki-
laki lain mungkin berhasil mendapatkan situasi yang mirip dengan
situasi sang ayah di kelompok utamanya. Posisi yang diuntungkan
ter­sebut datang secara alamiah: yaitu anak laki-laki termuda yang
di­lindungi oleh cinta ibunya. Ia dapat diuntungkan dengan usia
ayahnya yang sudah tua dan kemudian menggantikannya setelah
kematian sang ayah. Sebuah gema mengenai pengusiran anak laki-
http://facebook.com/indonesiapustaka

laki tertua dan juga posisi menguntungkan yang dimiliki anak laki-
laki bungsu terdapat di dalam banyak mitos dan dongeng.
Langkah menentukan selanjutnya untuk mengubah jenis
organisasi sosial pertama ini terdapat dalam gagasan berikut. Saudara
laki-laki yang telah diusir dan hidup bersama di dalam kelompok
kemudian bersatu, mengalahkan sang ayah dan—menurut budaya

- 107 -
Moses and Monotheism

saat itu—menyantap seluruh bagian tubuhnya. Praktik kanibalisme


ini tidak mengejutkan kami; praktik tersebut dipertahankan sampai
beberapa lama. Meskipun demikian, poin pentingnya adalah bahwa
kami mengatributkan perasaan dan emosi yang sama kepada orang-
orang purba tersebut dengan hal yang telah kita jelaskan pada masa
lalu kepada anak-anak kita menggunakan penelitian psikoanalisis.
Para putra tersebut tidak hanya membenci dan takut kepada sang
ayah, tetapi juga menghormatinya sebagai contoh untuk diikuti;
faktanya, setiap anak ingin menempatkan dirinya di posisi sang
ayah. Aksi kanibal ini kemudian dapat dipahami sebagai upaya
untuk memperkuat identifikasi mereka kepada sang ayah dengan
meng­ambil bagian dari diri ayahnya.
Adalah dugaan yang kuat bahwa setelah sang ayah dibunuh,
datang suatu masa saat para putranya bertengkar sendiri mem­
perebut­kan takhta yang ingin dimiliki sendiri. Mereka akhirnya
me­mahami bahwa pertengkaran tersebut berbahaya dan sia-sia.
Pe­mahaman yang sulit didapatkan ini beserta dengan memori
pem­bebasan yang mereka capai bersama dan ketergantungan yang
tumbuh di antara mereka saat pengasingan memicu persatuan di
antara mereka, sejenis kontrak sosial. Karena itu, munculah bentuk
per­tama organisasi sosial yang didampingi oleh penolakan gratifikasi
naluriah; dikenalnya kewajiban bersama; dideklarasikannya ke­suci­
http://facebook.com/indonesiapustaka

an institusi, hal yang tidak dapat dilanggar. Singkatnya, hal-hal


ter­sebut adalah permulaan moralitas dan hukum. Setiap anak ke­
mudi­an me­lepaskan tujuannya untuk menempati posisi sang ayah
dan me­miliki sang ibu dan saudara perempuannya. Dengan ini,
hal tabu seperti inses dan hukum eksogami muncul. Sebagian ke­
kuasa­an yang kosong karena kematian sang ayah diwariskan kepada

- 108 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

para anggota perempuan; masa matriarki terbangun. Kenangan me­


ngenai sang ayah hidup pada masa “kelompok para putra” ini. Se­
ekor hewan kuat, yang mungkin pada awalnya juga ditakuti, di­jadi­
kan pengganti. Pilihan itu mungkin terlihat aneh bagi kita, na­mun
jurang pemisah yang di kemudian hari diciptakan oleh manusia di
antara dirinya dan hewan tidak dimiliki manusia purba. Jurang ter­
sebut juga tidak didapat pada anak-anak kita, yang rasa takut­nya
ter­hadap hewan telah dapat kita jelaskan sebagai rasa takut terhadap
sang ayah. Perasaan terhadap hewan totem tersebut me­nunjuk­kan
ambivalensi asli dari perasaan terhadap sosok ayah. Di satu sisi,
totem tersebut merupakan simbol nenek moyang dan arwah pe­
lindung dari suku; totem tersebut harus dipuja dan dilindungi.
Di sisi lain, sebuah tradisi yang sama juga dialami totem tersebut,
hal yang juga dialami oleh sosok ayah masa purba. Ia dibunuh dan
disantap bersama-sama oleh para putra tersebut. (Jamuan makan
Totem, menurut Robertson Smith) Hari besar tersebut se­sungguh­
nya adalah peringatan atas kemenangan sang anak atas ayahnya.
Dari penjelasan ini, apa hubungannya dengan agama?
Totemisme—yang mengganti pemujaan dan ambivalensi terhadap
sosok ayah—me­nunjuk­kan­nya dengan perjamuan makan totem,
ser­ta adanya festival-festival peringatan hari besar dan aturan yang
jika dilanggar konsekuensinya adalah hukuman mati. Saya me­
http://facebook.com/indonesiapustaka

nyimpul­kan bahwa totemisme yang seperti ini dapat dipandang se­


bagai kemunculan awal agama dalam sejarah umat manusia dan hal
ter­sebut menggambarkan hubungan erat yang ada sejak permulaan
waktu antara institusi sosial dan kewajiban moral. Perkembangan
agama lebih jauh hanya dapat sedikit dibahas di sini. Tanpa dapat di­
sangkal, perkembangan agama tersebut berjalan paralel dengan per­

- 109 -
Moses and Monotheism

kembang­an budaya umat manusia dan perubahan dalam struktur


institusi sosial manusia.
Langkah berikutnya dari totemisme adalah memanusiakan
benda yang disembah. Dewa yang berbentuk manusia tidak
di­
sembunyi­ kan bahwa asalnya dari totem. Dewa tersebut
mengambil tempat yang sebelumnya diisi oleh hewan. Dewa masih
direpresentasikan sebagai seekor hewan atau setidaknya memiliki
wujud seperti hewan. Totem tersebut merupakan pendamping dewa
yang tidak dapat disingkirkan, atau, terkadang, mitos menceritakan
bahwa dewa menaklukkan hewan yang sesungguhnya adalah pen­
dahulunya. Sulit untuk memperkirakan waktu kemunculan dewi-
dewi agung, kemungkinan sebelum para dewa. Para dewi tersebut
di­
sembah lebih lama dibanding para dewa. Saat itu, revolusi
sosial besar terjadi. Matriarki diikuti oleh restitusi orde patriarkal.
Dewa-dewa tersebut tidak pernah berhasil dalam meneruskan ke­
mahakuasaan sosok ayah purba. Mereka berjumlah terlalu banyak
dan tinggal di kelompok yang lebih besar daripada kelompok yang
asli; mereka akrab antara satu sama lain dan dibatasi oleh institusi
sosial. Kemungkinan para dewi dibentuk ketika matriarki dibatasi
untuk menggantikan dewi yang turun takhta. Para dewa awalnya
muncul sebagai putra yang ada di sisi para dewi; baru setelahnya
dewa-dewa tersebut menyerupai sosok ayah. Para dewa politeisme
http://facebook.com/indonesiapustaka

merefleksikan kondisi masa patriarkal. Jumlahnya sangat banyak,


mereka harus berbagi kekuasaan, dan terkadang para dewa tersebut
mematuhi dewa yang posisinya lebih tinggi. Meskipun demikian,
langkah selanjutnya menuntun kita pada topik yang menarik;
kembalinya satu-satunya dewa dengan kekuatan yang tidak terbatas.

- 110 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

Saya harus mengakui bahwa survei sejarah memiliki banyak


celah dan dalam banyak poin harus dikonfirmasi lebih lanjut.
Namun demikian, siapa pun yang mendeklarasikan rekonstruksi
kami mengenai sejarah masa purba sebagai hal yang fantastis,
benar-benar menganggap enteng kekayaan dan kekuatan bukti yang
membentuk rekonstruksi ini. Sebuah bagian besar dari masa lalu,
yang di dalam penelitian ini akan disulam menjadi utuh, dibuktikan
secara historis atau bahkan memperlihatkan jejaknya sampai hari
ini: seperti hak-hak matriarki, totemisme, dan kelompok para putra.
Bagian yang lain telah bertahan dalam bentuk replika yang persis.
Jadi, lebih dari satu peneliti terkejut dengan kemiripan yang luar
biasa antara upacara Komuni Kristiani—yang di situ para pemeluk
agama Kristiani secara simbolis menggunakan darah dan daging
Tuhannya—dan perjamuan makan Totem, yang menghasilkan
makna sesungguhnya. Sejumlah besar kelangsungan hidup sejarah
awal yang terlupakan tersebut dipertahankan di dalam legenda dan
dongeng rakyat; dan penelitian analitis kehidupan mental anak telah
menghasilkan sebuah kemunculan kembali yang tidak terduga.
Hal ini terjadi karena celah pengetahuannya terisi oleh informasi
mengenai masa purba. Untuk lebih memahami hubungan penting
sosok ayah dan anak, saya hanya perlu mengutip fobia terhadap
hewan, ketakutan bahwa dirinya akan dimakan oleh ayahnya (hal
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang terdengar aneh bagi orang dewasa), dan ancaman kebiri. Tidak
ada hal yang dibuat-buat dalam penjelasan kami, tidak ada hal yang
tidak memiliki dasar yang baik.
Mari kita asumsikan bahwa penjelasan yang kami berikan
mengenai sejarah masa purba sepenuhnya kredibel. Lantas, dua unsur
dapat ditemukan di dalam upacara dan doktrin keagamaan: di satu

- 111 -
Moses and Monotheism

sisi, fiksasi terhadap sejarah keluarga dan kelangsungan hidupnya;


di sisi lain, diceritakannya kembali masa lalu dan kemunculan
kembali hal yang telah lama terlupakan. Unsur kedua itulah yang
sampai sekarang luput dari perhatian dan tidak dipahami. Maka,
unsur tersebut akan digambarkan di sini setidaknya dengan satu
contoh yang baik.
Sangatlah layak untuk memperhatikan bahwa setiap kenangan
terlupakan yang muncul kembali dari masa lalu muncul dengan
kekuatan yang besar. Hal tersebut menghasilkan pengaruh yang
benar-benar kuat di antara umat manusia dan menggunakan klaim
yang tidak dapat ditolak—klaim yang membuat semua sanggahan
menjadi tidak berdaya, sangat mirip dengan ungkapan credo quia
absurdum, atau “saya memercayainya karena hal itu konyol”.
Karakteristik aneh ini hanya dapat dimengerti jika dibandingkan
dengan delusi dalam kasus psikotis. Telah lama diketahui bahwa
delusi berisi potongan kebenaran terlupakan yang saat muncul
kembali mengalami distorsi dan salah dimengerti. Setelah itu,
kepercayaan yang ditekankan dan berhubungan dengan delusi
tersebut muncul dari inti kebenaran ini dan menyebar dalam
kekeliruan yang meliputinya. Inti kebenaran yang kita sebut
kebenaran sejarah tersebut juga harus dibenarkan oleh doktrin
berbagai agama. Betul bahwa doktrin-doktrin tersebut diilhami
http://facebook.com/indonesiapustaka

oleh karakter gejala psikotis, namun sebagai fenomena massal,


doktrin dapat terlepas dari kutukan isolasi.
Tidak ada bagian lain dari sejarah keagamaan yang betul-betul
jelas seperti dibentuknya monoteisme oleh orang-orang Yahudi
dan kelanjutannya menjadi agama Kristiani jika kita mengabaikan
perkembangan totem hewan menjadi dewa berwujud manusia

- 112 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

beserta pendampingnya (yang berwujud hewan), perkembangan


yang dapat ditelusuri tanpa celah dan dapat dimengerti dengan
mudah. (Masing-masing dari keempat penyebar agama Kristiani
tersebut masih memiliki wujud hewan yang mereka sukai) Jika kita
saat ini mengakui bahwa pemerintahan kekaisaran Firaun adalah
alasan eksternal dari munculnya gagasan monoteis, kita akan melihat
bahwa setelah masa latensi yang berlangsung cukup lama, gagasan
tersebut—dengan diambil seakar-akarnya dan ditanamkan kepada
masyarakat lain—sangat dipuja sebagai hal paling berharga yang
mereka miliki, serta dalam porsinya mempertahankan kehidupan
mereka dengan memberikan perasaan bangga bahwa mereka adalah
orang-orang terpilih. Hal tersebut merupakan kepercayaan nenek
moyang pada masa lalu; dan harapan untuk mendapatkan imbalan,
pembedaan, dan akhirnya kedaulatan di dunia adalah hal yang
menyertainya. Fantasi dan harapan yang dilepaskan oleh orang-
orang Yahudi sejak dahulu kala masih bertahan dalam kepercayaan
musuh-musuhnya sebagai kepercayaan atas konspirasi “Elders
of Zion”. Mari kita pikirkan di bab berikutnya betapa anehnya
agama monoteis yang dipinjam dari Mesir dapat memengaruhi
orang Yahudi, bagaimana agama tersebut membentuk karekter
abadi mereka melalui kebencian terhadap sihir dan mistisisme
serta mendorong mereka dalam spiritualitas agar dapat menjadi
http://facebook.com/indonesiapustaka

orang yang taat. Manusia yang bahagia karena merasa memiliki


kebenaran dan merupakan orang-orang yang terpilih akhirnya
menghargai seluruh pencapaian intelektual dan etis. Saya juga akan
menunjukkan bagaimana nasib mereka yang menyedihkan, juga
kekecewaan yang diberikan oleh kenyataan, dapat memperkuat
kecenderungan-kecenderungan yang ada. Meskipun demikian,

- 113 -
Moses and Monotheism

pada saat ini, kita akan membahas perkembangan historis mereka


ke arah yang berbeda.
Restorasi sosok ayah sebagai pemimpin di masa purba dan
hak-hak sejarahnya menandai kemajuan pesat, namun hal tersebut
bukanlah akhir. Bagian lain dari tragedi prasejarah juga harus
diungkap. Tidaklah mudah mengatakan bagaimana proses ini
digerakkan. Kelihatannya perasaan bersalah yang terus berkembang
mengisi hati orang Yahudi dan mungkin juga seluruh umat pada
masa itu. Perasaan tersebut muncul sebelum kembalinya materi
yang sebelumnya disembunyikan. Hal ini terus terjadi sampai
seorang Yahudi yang juga merupakan seorang provokator politis-
agamis membuat sebuah doktrin yang jika digabungkan dengan
agama Kristiani maka menjadi terlihat terpisah dari agama Yahudi.
Paul, seorang Yahudi Roma dari Tarsus, memiliki perasaan bersalah
tersebut dan menelusurinya sampai sumbernya di masa purba.
Perasaan tersebut ia sebut sebagai dosa asli, hal yang merupakan
tindakan kriminal terhadap Tuhan yang dapat ditebus hanya
dengan kematian. Kematian turun ke dunia melalui dosa asli
tersebut. Pada kenyataannya, tindak kriminal terhadap tuhan yang
dapat ditebus dengan kematian tersebut merupakan pembunuhan
sosok ayah yang kemudian dituhankan. Meskipun demikian,
pembunuhan itu sendiri tidak diingat; sebagai gantinya terdapat
http://facebook.com/indonesiapustaka

sebuah ilusi penebusan dosa dan itulah mengapa ilusi tersebut


dapat diterima dalam bentuk kitab penyelamatan (Evangel). Putra
Bapa yang tidak bersalah mengorbankan dirinya—dan kemudian
mengambil alih rasa bersalah manusia. Mengapa seorang Putra
harus menebus dosa pembunuhan terhadap sang Bapa? Mungkin
tradisi Oriental dan misteri Yunani telah menanamkan pengaruhnya

- 114 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

pada pembentukan ilusi penyelamatan ini. Inti dari hal tersebut


terlihat sebagai kontribusi Paul sendiri. Ia adalah seorang pria yang
memang memiliki anugerah untuk agama. Jejak-jejak gelap masa
lalunya teronggok di dalam jiwanya, siap untuk muncul ke dalam
kesadarannya.
Bahwa sang penebus mengorbankan dirinya yang tidak ber­
salah jelas merupakan distorsi yang tendensius, tidak dapat dijelas­
kan dengan pemikiran logis. Bagaimana bisa seorang pria yang
tidak bersalah mengambil alih rasa bersalah seorang pembunuh
dengan membiarkan dirinya dibunuh? Dalam realitas sejarah, tidak
ada kontradiksi seperti itu. Sang “penebus” tidak mungkin tidak
ber­salah, ia pasti orang yang paling merasa bersalah, pemimpin dari
kelompok para putra yang telah mengalahkan sosok sang Ayah.
Apakah memang ada sebuah pemberontakan dan adanya seorang
pemimpin masih belum dapat dipastikan menurut saya. Cukup
mungkin, memang, namun kita juga harus mempertimbangkan
bahwa setiap anggota kelompok tersebut pasti berharap untuk me­
lakukan perbuatan itu sendiri sehingga dapat membuat diri mereka
menempati posisi spesial sebagai pengganti identifikasi dengan
sosok ayah yang ia lepaskan ketika ia masuk ke dalam kelompok ter­
sebut. Jika pemimpin yang disebutkan itu tidak ada dalam sejarah,
maka Yesus adalah pewaris ilusi mereka yang belum tercapai; jika
http://facebook.com/indonesiapustaka

seorang pemimpin tersebut ada, maka Yesus adalah penerus dan


reinkarnasinya. Meskipun demikian, tidaklah penting apakah yang
kita bahas sekarang adalah sebuah ilusi atau kembalinya realitas
yang terlupakan. Terdapat asal-muasal konsepsi seorang pahlawan:
ia adalah seseorang yang memberontak terhadap ayahnya dan mem­

- 115 -
Moses and Monotheism

bunuh­nya dalam penyamaran atau wujud lain.9 Dalam hal ini, kita
juga dapat menemukan sumber asli “rasa bersalah yang tragis” dari si
pahlawan dalam drama, rasa bersalah yang sulit untuk ditunjukkan.
Kita hampir tidak dapat meragukan bahwa di dalam tragedi Yunani,
sang pahlawan dan kelompoknya merepresentasikan pahlawan
pemberontakan dan kisah para putra yang sama, serta tidak dapat
di­sangkal bahwa pada abad pertengahan, pertunjukan-pertunjukan
mulai menampilkan kisah Yesus yang disalib.
Saya telah menyebutkan bahwa upacara Kristiani dalam
Komuni Suci—yang di situ pemeluk kepercayaannya merupakan
darah daging dari Sang Penebus—mengulangi hal yang sama seperti
yang ada pada perjamuan Totem yang lalu; memang demikian ada­
nya, hanya saja dengan cara yang lembut dan penyayang, bukan
de­ngan cara yang agresif. Meskipun begitu, ambivalensi yang men­
dominasi hubungan ayah-anak tersebut terlihat dengan jelas pada
hasil akhir inovasi agama. Berniat untuk berdamai dengan sang
ayah yang dituhankan, putranya justru digulingkan dari posisinya
dan di­kesamping­kan. Agama Musa memang merupakan agama
sang Bapa; Kristiani merupakan agama sang Putra. Tuhan yang
lama, sang Ayah, berada di posisi kedua; Yesus, sang Putra, berdiri
di posisi Tuhan, seperti hal yang diinginkan setiap putra pada masa-
masa kegelapan. Dengan mengembangkan agama Yahudi lebih
http://facebook.com/indonesiapustaka

jauh, Paul menjadi penghancur agama tersebut. Keberhasilannya

9 Ernest Jones menarik perhatian saya mengenai kemungkinan bahwa


Dewa Mithra yang membantai sang Banteng, direpresentasikan oleh
pemimpin ini, orang yang diagung-agungkan karena perbuatannya.
Sangatlah diketahui berapa lama pemujaan terhadap Mithra
bersinggungan dengan kemenangan akhir Kristiani.

- 116 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

se­bagi­an besar terjadi karena melalui gagasan penyelamatan, ia me­


nyemat­kan ruh dari perasaan bersalah. Hal tersebut juga dikarena­
kan ia menyerah mengenai gagasan orang-orang terpilih dan tanda-
tanda jelasnya, tradisi khitan. Inilah cara agama baru tersebut dapat
merengkuh semua orang dan menjadi universal. Meskipun langkah
tersebut ditempuh karena rasa dendam Paul terhadap pihak yang
berseberangan, yang inovasinya ditemukan di antara orang Yahudi,
satu karakteristik dari agama Aton yang lama (universalitas) di­ben­
tuk kembali; sebuah batasan telah diruntuhkan, hal yang terjadi
ketika ia berpindah ke karir barunya: orang-orang Yahudi.
Dalam beberapa hal, agama baru tersebut merupakan regresi
jika dibandingkan dengan agama Yahudi yang lebih tua. Hal ini
terjadi secara reguler ketika sebuah kelompok baru dari level budaya
yang rendah memengaruhi sebuah invasi atau dimasukkan ke dalam
budaya yang lebih tua. Agama Kristiani tidak memiliki spiritualitas
se­tinggi tingkat yang dicapai agama Yahudi. Kristiani tidak lagi
sungguh-sungguh monoteis karena agama tersebut mengambil ber­
bagai ritual simbolis dari situasi di sekelilingnya, mengagungkan
kembali Ibu Tuhan dan menempatkan banyak tuhan politeisme di
dalam penyamaran yang mudah dikenali meskipun berada di po­
sisi bawah. Yang paling penting, Kristiani tidak dapat dimasuki
takhayul, magis, dan elemen mistis—seperti halnya agama Aton
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan Musa—yang menghambat perkembangan spiritual dalam dua


milenia mendatang.
Kemenangan Kristiani adalah kemenangan pendeta-pendeta
Amon terhadap Dewa Ikhnaton setelah interval satu milenium
dan lebih dari setengah daerah yang lebih besar. Namun demikian,
Kristiani menandai sebuah kemajuan dalam sejarah keagamaan: hal

- 117 -
Moses and Monotheism

tersebut menyangkut kembalinya sesuatu yang dipendam. Mulai


dari saat itu, agama Yahudi dapat dibilang hanya merupakan sebuah
fosil.
Cukup layak bagi kita untuk memahami mengapa gagasan
monoteis meninggalkan kesan yang mendalam bagi orang-orang
Yahudi dan mengapa mereka sangat patuh terhadap hal tersebut.
Saya yakin bahwa pertanyaan tersebut dapat terjawab. Perbuatan
baik dan buruk pada masa lampau serta pembunuhan sosok Bapa
dibawa kepada orang-orang Yahudi, karena takdir berbicara bahwa
mereka harus mengulangi peristiwa-peristiwa tersebut pada Musa,
pengganti sosok ayah yang berpengaruh. Hal tersebut merupakan
tindakan langsung dan bukan hanya tindakan mengingat, sesuatu
yang sering terjadi di dalam penelitian analitis menyangkut gang­
gu­an mental. Orang-orang Yahudi merespons doktrin Musa, yang
se­harus­nya menjadi stimulus bagi memori mereka, dengan cara me­
nyangkal perbuatan mereka. Mereka tidak mendapatkan kemajuan
yang berarti mengenai Bapa yang agung dan memblokir jalan
menuju hal tersebut sampai suatu saat Paul mulai melanjutkan
penelitiannya mengenai sejarah masa lampau. Hampir tidak mung­
kin merupakan suatu kebetulan bahwa kematian tragis seorang
sosok agung menjadi poin awal pendirian agama baru oleh Paul.
Orang tersebut adalah pria yang dipercaya oleh sejumlah kecil
http://facebook.com/indonesiapustaka

pengikut di Judea sebagai Putra Bapa dan sebagai Mesias yang di­
janjikan, dan yang di kemudian hari mengambil alih beberapa kisah
masa kecil yang diatributkan terhadap Musa. Meskipun demi­kian,
dalam kenyataannya kita hampir tidak memiliki penge­ tahuan
yang pasti mengenai Yesus daripada yang kita miliki mengenai
Musa. Kita tidak tahu jika ia benar-benar merupakan pria agung

- 118 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

yang digambarkan oleh Alkitab atau bukan fakta dan situasi yang
meliputi kematiannya itulah yang merupakan faktor penentu
dalam pen­capaian posisi pentingnya. Paul yang menjadi rasulnya
juga bahkan tidak mengenal sosok itu secara personal.
Pembunuhan Musa oleh umatnya—yang ditemukan oleh
Sellin dalam jejak-jejak tradisi dan yang anehnya diasumsikan oleh
Goethe10 muda tanpa bukti apa pun, menjadi bagian penting dari
penalar­an kita, sebuah penghubung penting antara hal terlupakan
pada masa lampau dan kemunculannya kembali dalam bentuk
agama yang monoteis.11 Merupakan gagasan menarik bahwa rasa
ber­salah mengenai pembunuhan Musa dapat menjadi stimulus ilusi
Yesus, yang akan datang kembali dan menjanjikan penyelamatan
bagi umat­nya serta kemerdekaan di seluruh dunia. Jika Musa adalah
Mesias yang pertama, Yesus adalah pengganti dan penerusnya. Be­
rikut­nya, dengan hak tertentu Paul dapat berkata kepada umatnya,
“Lihatlah, Mesias benar-benar telah datang. Ia memang di­bunuh di
depan mata kalian.” Lantas, ada pula kebenaran historis me­ngenai
ke­lahiran kembali Yesus, karena ia merupakan sosok Musa yang
di­bangkit­kan kembali dan kembalinya sosok Bapa dari kelompok
primitif di masa lalu. Ia adalah Putra yang diangkat dan me­nempati
posisi sang Ayah.
Orang-orang Yahudi malang yang dengan keras kepalanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

masih tetap menyangkal pembunuhan “ayah” mereka telah sepenuh


hati menebusnya selama berabad-abad. Mereka terus-menerus men­

10 Israel in der Wüte, Bd. VII dari Edisi Weimar, S. 170.


11 Dalam hubungan tersebut, bandingkanlah eksposisi terkenal dalam
The Golden Bough, Bagian III, “Tuhan yang Sekarat,” 1911.

- 119 -
Moses and Monotheism

dengar kritik yang berbunyi: kalian membunuh Tuhan kami. Kritik


ter­sebut memang benar jika diinterpretasi dengan benar. Dikatakan
dengan acuan terhadap sejarah keagamaan, bahwa: kalian tidak
akan mengakui bahwa kalian membunuh Tuhan (Tuhan yang paling
awal, sosok ayah masa lampau, dan wujud-wujud reinkarnasinya).
Pen­ jelasan ini harus ditambahkan: “Memang betul bahwa kita
semua melakukannya, namun kita mengakuinya, dan sejak saat itu
kita telah disucikan.”
Tidak semua tuduhan yang digunakan antisemitisme untuk
mem­buru keturunan Yahudi didasarkan pada fondasi yang baik.
Tentu saja seharusnya ada lebih dari satu alasan bagi fenomena yang
seintens dan sekuat kebencian populer terhadap bangsa Yahudi. Ber­
bagai alasan dapat diakui: beberapa alasan yang butuh interpretasi
tersebut muncul dari pertimbangan yang jelas; beberapa alasan lain
berada jauh di sumber-sumber rahasia yang dapat dianggap sebagai
motif spesifik. Yang pertama mencakup alasan paling sesat, yaitu
kebencian karena mereka adalah orang asing. Hal ini terjadi karena
di banyak tempat saat ini, di bawah payung antisemitisme, bangsa
Yahudi adalah konstituen tertua populasi atau datang sebelum pen­
duduk yang sekarang. Hal ini memang terjadi, contohnya adalah
kota Cologne—tempat bangsa Yahudi datang dengan bangsa Roma­
wi—sebelum tempat tersebut dikolonisasi oleh suku-suku Jerman.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Ter­dapat alasan lain yang lebih kuat mengenai anti­semitisme: se­


bagai contoh, situasi tempat yang sebagian besar ditinggali bangsa
Yahudi sebagai minoritas di antara bangsa lain, karena rasa solidaritas
kelompok memerlukan kesatuan pendapat untuk menentang kaum
minoritas dari luar; berbagai kelemahan kaum minoritas juga
meng­undang pengucilan. Meskipun demikian, dua keanehan yang

- 120 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

dimiliki bangsa Yahudi tidak dapat dimaafkan. Keanehan yang per­


tama adalah bahwa dalam banyak hal, mereka memang berbeda
dari “inangnya”. Memang tidak begitu fundamental, karena me­
reka bukan dari ras Asia melainkan sebagian besar terdiri atas sisa-
sisa bangsa Mediterania dan juga mewarisi budayanya. Mereka
tetap berbeda, meskipun terkadang sulit menyebutkan dalam hal
apa perbedaan tersebut ada—terutama dari orang-orang Nordik,
dan intoleransi ras anehnya dapat muncul dengan lebih kuat ke­
tika melihat perbedaan kecil daripada perbedaan fundamental.
Ke­aneh­an kedua lebih memiliki efek yang lebih kuat lagi: bangsa
Yahudi kebal terhadap penindasan, bahkan penganiayaan paling
ke­jam sekali pun tidak berhasil memusnahkan mereka. Sebaliknya,
mereka menunjukkan kapasitas mereka dalam memegang teguh
hidup praktis mereka sendiri, sementara ketika mereka dilibatkan,
mereka memberikan kontribusi berharga bagi peradaban yang ada.
Alasan lebih mendalam akan adanya antisemitisme berakar
sampai ke masa lampau; alasan tersebut datang dari alam bawah
sadar dan saya cukup siap untuk mendengar bahwa apa yang akan
saya katakan awalnya terdengar luar biasa. Saya berani untuk me­
ngata­kan bahwa rasa cemburu yang dipancing bangsa Yahudi ter­
hadap bangsa lain juga disebabkan oleh anggapan mereka bahwa
me­reka adalah putra-putra pertama dan kesayangan Tuhan, sosok
http://facebook.com/indonesiapustaka

Bapa yang belum dapat dikalahkan oleh tuhan yang lain, seakan-
akan sosok tersebut diasumsikan seperti demikian. Lebih jauh lagi,
di antara tradisi yang digunakan bangsa Yahudi untuk menandai
posisi mereka yang jauh, tradisi khitan membuat mereka memiliki
ke­san yang tidak dapat diterima dan aneh bagi bangsa lain. Pen­jelas­
an akan hal tersebut mungkin adalah karena tradisi tersebut meng­

- 121 -
Moses and Monotheism

ingat­kan mereka pada gagasan kebiri yang ditakuti dan hal-hal dari
masa lampau yang mereka ingin lupakan. Lantas, ada pula alasan
anti­semitisme yang paling baru. Kita tidak boleh lupa bahwa seluruh
manusia yang sekarang ahli dalam praktik antisemitisme menjadi
umat Kristiani relatif baru-baru ini, terkadang dipaksa dengan
ancam­an hukuman kejam. Kita dapat berkata bahwa orang-orang
tersebut “dikristenkan dengan buruk”; di bawah lapisan Kristiani,
mereka masih merupakan sosok yang mirip dengan nenek moyang
mereka, politeis yang barbar. Mereka belum dapat mengatasi ke­
benci­an mereka terhadap agama baru yang dipaksakan terhadap
mereka dan mereka pun telah memperlihatkannya semenjak awal
ketika kepercayaan Kristiani menemui mereka. Fakta bahwa Alkitab
men­ceritakan sebuah kisah yang dipercaya oleh bangsa Yahudi dan
se­sungguhnya hanya berisi mengenai bangsa Yahudi telah men­
dukung proyeksi tersebut. Kebencian terhadap agama Yahudi berada
di bawah kebencian terhadap agama Kristiani, tidaklah me­ngejut­kan
bahwa di dalam revolusi Nasional-Sosialis Jerman, hubung­an erat
dari agama monoteis ini mengekspresikan dengan jelas per­lakuan
buruk terhadap keduanya.

5. Kesulitan
http://facebook.com/indonesiapustaka

Bab sebelumnya kemungkinan telah berhasil membangun


analogi antara proses gangguan mental dan peristiwa keagamaan;
bab ter­sebut juga berhasil menunjukkan asal-muasal tidak terduga
dari peristiwa keagamaan. Dalam terjemahan dari psikologi

- 122 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

individu ke dalam psikologi kelompok ini, muncullah dua kesulitan


yang berbeda sifat dan pengaruhnya. Perbedaan tersebut harus kita
telaah saat ini. Yang pertama, kita hanya mendiskusikan satu kasus
fenomenologi lengkap dari agama dan belum membahas hal lain.
Penulis dengan sangat menyesal harus mengakui bahwa ia tidak
dapat memberikan lebih dari satu sampel, bahwa ia tidak memiliki
pengetahuan ahli yang dibutuhkan untuk melengkapi investigasi
ini. Pengetahuan terbatas ini mungkin mungkin akan membuatnya
dapat menambahkan bahwa pendirian agama Muhammad bagian­
nya terlihat seperti pengulangan singkat dari agama Yahudi, agama
Muhammad muncul ketika sedang menirukannya. Terdapat alasan
untuk memercayai bahwa nabi tersebut sesungguhnya berniat me­
nerima agama Yahudi sepenuhnya untuk dirinya dan umatnya. Di­
dapatkan­nya kembali seorang sosok ayah dari masa lampau di Arab
meng­hasil­kan peningkatan kepercayaan diri yang luar biasa, hal yang
mem­bawa keberhasilan dunia kepada mereka, namun keberhasilan
ter­sebut memang habis dengan sendirinya. Allah membuktikan
bahwa ia lebih dari berterima kasih kepada orang-orang terpilihnya
dari­pada Yahweh. Meskipun demikian, perkembangan di dalam
se­buah agama baru kemudian segera berhenti, mungkin karena
kurangnya sifat mendalam seperti di dalam agama Yahudi, yang di­
hasil­kan dari pembunuhan pendirinya. Hal yang kelihatannya me­
http://facebook.com/indonesiapustaka

rupa­kan agama rasionalis Timur pada intinya adalah kultus nenek


moyang; karenanya, perkembangannya cepat berhenti pada tahap
awal rekonstruksi masa lalu. Jika kita menemukan bahwa satu-
satunya isi agama pada orang-orang primitif di masa kita adalah
penyembahan terhadap sosok tertinggi, maka kita dapat meng­
interpretasi­kan hal tersebut hanya sebagai hal yang semakin lemah

- 123 -
Moses and Monotheism

dalam perkembangan agama, dan dari hal tersebut kita dapat meng­
ambil garis paralel dengan kasus-kasus gangguan mental besar yang
tidak terhitung jumlahnya, hal yang dapat kita temukan di psikologi
klinis. Tidak ada perkembangan lebih lanjut di mana pun yang
tidak kita mengerti. Kita harus menganggap bakat individu orang-
orang tersebut adalah hal yang menyebabkannya, arah yang diambil
per­buatan mereka dan kondisi sosial umumnya. Di samping itu,
me­rupa­kan hal yang baik jika di dalam penelitian analitis kita dapat
merasa cukup dengan menjelaskan hal yang ada dan tidak mencoba
men­jelaskan hal yang belum terjadi.
Kesulitan yang kedua pada penerjemahan ke dalam psikologi
kelompok adalah kesulitan yang jauh lebih signifikan, karena ia
meng­hadir­kan masalah baru mengenai sifat yang penting. Muncullah
per­tanyaan berikut: tradisi aktif kehidupan kelompok masih diper­
tahan­kan dalam bentuk apa? Pertanyaan ini tidak muncul mengenai
individu karena masalah yang ada sekarang berada pada jejak-jejak
memori masa lalu dalam alam bawah sadar. Mari kita kembali pada
contoh historis kita. Kompromi yang terjadi di Qadeš menurut kami
di­dasarkan pada tradisi kuat yang terus ada pada orang-orang yang
baru kembali dari Mesir. Tidak ada masalah mengenai hal ini. Kami
ber­pendapat bahwa tradisi tersebut dipertahankan oleh memori
mengenai komunikasi oral yang diturunkan dari nenek moyang
http://facebook.com/indonesiapustaka

hanya dua atau tiga generasi lalu. Nenek moyang dari tiga generasi
lalu ikut berpartisipasi dan merupakan saksi mata dari peristiwa-
peristiwa yang sedang dibicarakan. Namun demikian, dapatkah
kita memercayai hal yang sama pada abad-abad selanjutnya bahwa
tradisi selalu didasarkan pada pengetahuan yang dikomunikasikan
dengan cara normal yang telah diturunkan dari nenek moyang ke

- 124 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

keturunannya? Orang yang menyimpan pengetahuan tersebut


dan meneruskannya dari mulut ke mulut sudah tidak dapat kita
ketahui lagi sekarang, tidak seperti kasus sebelumnya. Menurut
Sellin, tradisi pembunuhan Musa selalu ada di antara para pendeta,
sampai akhirnya tradisi tersebut dicatat secara tertulis, hal yang me­
mungkin­kan Sellin untuk menuhankannya. Kendati begitu, tradisi
ter­­sebut juga tidak diketahui orang banyak dan bukan me­rupa­kan
penge­tahuan umum. Lantas, apakah bentuk transmisi ini cukup
untuk menjelaskan efeknya? Dapatkah kita mengatakan bah­wa pe­
nge­tahuan memiliki kemampuan untuk menangkap imajinasi orang
banyak dalam waktu yang sangat panjang ketika me­reka mem­
pelajari­nya? Hal yang lebih terlihat adalah seakan-akan ter­dapat se­
suatu pada imajinasi orang banyak, hal yang serupa de­ngan pe­nge­
tahuan ini yang muncul seketika setelah disebutkan.
Akan menjadi lebih sulit lagi untuk mendapatkan kesimpulan
ketika kita beralih ke kasus analogis pada masa lampau. Dalam
waktu ribuan abad, sudah pastilah akan terlupakan bahwa sosok
bapa memiliki kualitas yang telah kami sebutkan dan nasib yang ia
temui. Kita juga tidak dapat menebak tradisi lisannya seperti yang
kita lakukan mengenai Musa. Maka, dalam artian apa kita dapat
mempertanyakan tradisi? Dalam bentuk apa tradisi tersebut hidup?
Untuk membantu pembaca yang tidak berkehendak atau tidak
http://facebook.com/indonesiapustaka

siap untuk terjun ke dalam masalah psikologi yang berbelit-belit,


saya akan menempatkan hasil investigasi berikut di permulaan.
Saya memegang teguh kepercayaan saya bahwa kecocokan antara
individu dan kelompok pada poin ini hampir lengkap. Kelompok
juga mem­per­tahan­kan kesan masa lampau dalam jejak-jejak me­
mori bawah sadar.

- 125 -
Moses and Monotheism

Kasus mengenai individu terlihat cukup jelas. Memori tersebut


dapat menelusuri peristiwa-peristiwa lampau yang ia pertahankan,
namun ia mempertahankannya dalam kondisi psikologi khusus.
Kita dapat mengatakan bahwa individu selalu mengetahui hal ter­
sebut, seperti halnya kita memahami materi yang terbungkam. Kita
telah membentuk konsepsi tertentu—dan konsepsi tersebut dapat
dengan mudah dibuktikan dengan analisis—mengenai bagai­mana
sesuatu terlupakan dan bagaimana setelah jangka waktu ter­tentu,
konsepsi tersebut dapat muncul kembali. Materi yang ter­lupa­kan
tersebut tidak musnah, hanya “terbungkam”; jejak-jejaknya dapat
ditemukan di dalam memori dalam keadaan asli dan tidak diubah,
tetapi mereka diisolasi oleh “counter-cathexes”. Mereka tidak dapat
menjalin kontak dengan proses intelektual lain; jejak tersebut
berada pada alam bawah sadar, tidak dapat diakses oleh kesadaran.
Hal tersebut mungkin saja terjadi, tetapi tidak perlu terjadi. Represi
juga dapat terjadi dan hal ini adalah kasus yang akan kita teliti.
Materi yang terbungkam ini mempertahankan daya dorongnya
untuk masuk ke dalam alam kesadaran. Materi tersebut berhasil
men­capai tujuannya ketika tiga kondisi terpenuhi. (1) Ketika ke­
kuatan counter-cathexis diminimalisasi oleh penyakit yang beraksi
pada ego itu sendiri atau melalui distribusi cathexis berbeda di dalam
ego, seperti yang sering terjadi saat tidur. (2) Ketika insting-insting
http://facebook.com/indonesiapustaka

pada materi yang terbungkam diperkuat. Proses yang terjadi saat


pubertas menunjukkan contoh terbaik mengenai hal ini. (3) Ketika
peristiwa yang baru terjadi membangkitkan kesan atau pengalaman
yang sangat mirip dengan materi yang terbungkam tersebut sehingga
mereka memiliki kekuatan untuk membangkitkan materi tersebut.
Maka, materi yang baru diperkuat oleh energi laten materi yang

- 126 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

ter­bung­kam dan materi yang terbungkam memproduksi efeknya di


balik materi yang baru dengan bantuannya.
Tidak ada dari ketiga kasus tersebut yang memberikan ke­ber­
hasilan pada materi yang terbungkam dalam mencapai kesadaran
yang tidak terganggu atau tanpa perubahan. Prosesnya selalu melalui
distorsi yang membawa saksi akan resistansi yang tidak sepenuhnya
diselesaikan dan yang diturunkan dari counter-cathexis, atau saksi
akan pengaruh pengalaman yang terjadi baru-baru ini yang dapat
meng­ubah sesuatu, ataupun saksi akan kedua hal tersebut.
Sebagai pembeda, kita telah menggunakan perbedaan di
antara proses psikis sadar dan bawah sadar. Materi yang terbungkam
adalah proses bawah sadar. Jika kalimat ini dapat dibalik, hal ter­
sebut akan menjadi simplifikasi yang menggembirakan; hal ini
dalam arti bahwa perbedaan kualitas “sadar” dan “tidak sadar”
ter­sebut identik dengan perbedaannya: dimiliki oleh ego ataupun
materi yang terbungkam. Fakta bahwa kehidupan mental kita
mem­ bawa materi bawah sadar yang terisolasi adalah hal yang
baru dan cukup penting. Dalam kenyataannya, segala hal terlihat
lebih kompleks. Memang, semua materi yang terbungkam berada
di alam bawah sadar, namun tidaklah benar jika dikatakan bahwa
semua hal yang dimiliki oleh ego berada dalam kesadaran. Kita tahu
bah­wa kesadaran adalah kualitas singkat yang hanya sebentar sesuai
http://facebook.com/indonesiapustaka

dengan proses psikis. Inilah mengapa untuk mencapai tujuan kita


saat ini, kita harus mengganti kata “sadar” dengan “mampu untuk
sadar,” dan kami menyebut kualitas ini “pra-sadar.” Maka, kita
dapat me­ngata­kan­nya dengan lebih tepat: ego pada intinya adalah
proses pra-sadar (mirip dengan sifat sadar), namun sebagian dari
ego adalah hal yang berada pada alam bawah sadar.

- 127 -
Moses and Monotheism

Kalimat terakhir tersebut mengajarkan pada kita bahwa kualitas


yang telah kita bahas sejauh ini tidak cukup untuk me­nunjuk­kan
jalan dalam kegelapan kehidupan mental. Kita harus mem­per­kenal­
kan pembeda lain, hal yang tidak lagi kualitatif, namun topografis,
dan—yang meminjamkan nilai khusus pada pembeda tersebut—
yang juga genetis. Kali ini, kita akan membedakan satu area dari
kehidupan mental kita, hal yang kita pandang sebagai aparatus
yang dibentuk dari beberapa hierarki, distrik, atau provinsi. Satu
area yang kita sebut sebagai “ego sesungguhnya” itu kita bedakan
dengan area lain yang kita sebut “id.” Id adalah area yang lebih tua;
ego telah berkembang dari hal tersebut melalui pengaruh dunia luar
seperti kulit pohon tumbuh di sekeliling pohon. Seperti yang telah
kita sebutkan, ego berkorespon dengan dunia pra-sadar; sebagian
darinya tetap berada di alam bawah sadar. Proses psikis di dalam “id”
menaati hukum yang cukup berbeda; jalannya proses tersebut dan
pengaruh yang mereka miliki terhadap satu sama lain berbeda dari
hal yang berada di dalam ego. Temuan mengenai perbedaan inilah
yang telah menuntun kita pada pemahaman dan konfirmasinya.
Materi yang terbungkam harus dipandang sebagai hal yang
ber­ada di dalam id dan menaati mekanismenya; hal tersebut ber­
beda dari id hanya dalam hal asal-muasalnya. Pembeda ini ter­jadi
pada periode awal, sedangkan ego berkembang dari id. Setelah itu,
http://facebook.com/indonesiapustaka

ego mengambil sebagian dari id dan membawanya ke dalam level


pra-sadar; bagian lain tidak ikut terpengaruhi dan tetap berada di
dalam id sebagai entitas “bawah sadar.” Namun demikian, pada per­
kembangan lebih lanjut dari ego, kesan dan proses psikis tertentu
di dalam­nya ditolak oleh mekanisme pertahanan diri; kesan dan
proses psikis tersebut dilepaskan dari karakter pra-sadar mereka se­

- 128 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

hingga status mereka turun kembali sebagai bagian kecil dari id.
Karena itu, hal ini adalah “materi yang terbungkam” di dalam id.
Dalam hubungannya dengan relasi di antara dua provinsi mental
yang kita asumsikan, di satu sisi, proses bawah sadar di dalam id
dapat ditingkatkan menjadi level pra-sadar dan digabungkan di
dalam ego, serta di sisi lain, materi pra-sadar di dalam ego dapat
ber­gerak ke arah berlawanan dan kembali ke dalam id. Kita tidak
akan berurusan dengan gagasan bahwa distrik lain, “super-ego”
nanti­nya dibatasi di dalam ego.
Semua hal ini mungkin jauh dari kata sederhana, namun jika
kita telah terbiasa dengan konsepsi topografis yang tidak biasa di
dalam aparatus mental ini, tidak akan ada kesulitan yang ber­arti.
Saya akan menambahkan bahwa topografi psikis yang saya kem­
bang­kan di sini tidak berhubungan dengan anatomi otak, hanya
ada satu poin yang di situ topografi tersebut melebar ke dalam
anatomi otak. Ketidakpuasan mengenai konsepsi ini—yang saya
pahami sejelas apa yang juga dipahami orang lain—berakar pada
ke­masa­bodohan kita terhadap sifat dinamis proses mental. Kita
me­nyadari bahwa hal yang membedakan gagasan sadar dan pra-
sadar serta bawah sadar tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah
modifikasi, atau mungkin juga distribusi lain, dari energi psikis. Kita
ber­bicara mengenai cathexes dan hypercathexes, namun di luar hal ini
http://facebook.com/indonesiapustaka

kita tidak memiliki pengetahuan lengkap dan bahkan permulaan


un­tuk menghasilkan hipotesis yang berguna. Mengenai fenomena
ke­sadar­an, setidaknya kita dapat mengatakan bahwa sesungguhnya
hal ter­sebut diambil dari persepsi. Semua persepsi yang muncul
dari stimuli auditori dan visual yang menyakitkan dan taktil ke­
mungkin­an besar adalah persepsi sadar. Proses berpikir, dan hal

- 129 -
Moses and Monotheism

yang mungkin analogis terhadapnya di dalam id, adalah betul-betul


proses bawah sadar. Proses tersebut mendapatkan jalurnya menuju
ke­sadaran melalui hubungannya dengan jejak memori mengenai
persepsi melalui sentuhan dan telinga, via fungsi berbicara. Pada
hewan, yang kurang dapat berkomunikasi secara lisan, hubungan
ter­sebut pasti lebih sederhana.
Entah kesan mengenai traumata awal—hal yang memulai
diskusi kita—tidak dipindahkan ke dalam level pra-sadar, atau
segera diarahkan ke dalam id melalui represi. Residu memori
mereka berada di alam bawah sadar dan beroperasi dari id. Kita
yakin dapat mengikuti apa yang akan terjadi pada memori tersebut
selama mereka berurusan dengan pengalaman personal. Meskipun
demi­kian, sebuah komplikasi baru muncul ketika kita menyadari
bah­wa mungkin saja di dalam kehidupan mental individu, tidak
hanya terdapat pengalaman yang ia alami sendiri, tetapi juga apa
yang ia bawa semenjak lahir, fragmen dari asal filogenetis, warisan
arkaik. Lantas, pertanyaan ini muncul: hal apa yang membawa
warisan ini, apa isinya, dan apa fakta yang ada mengenainya?
Jawaban pertama dan paling pasti adalah warisan tersebut
mengandung disposisi tertentu, seperti hal yang dimiliki semua
makhluk hidup: kemampuan dan tendensi untuk mengikuti arah
per­kembangan tertentu, dan untuk bereaksi dengan cara tertentu
http://facebook.com/indonesiapustaka

terhadap kesan dan stimuli tertentu pula. Karena pengalaman


menunjukkan bahwa individu memiliki perbedaan dalam hal
ini, warisan arkaik kita mengandung perbedaan-perbedaan ter­
sebut; mereka merepresentasikan hal yang dikenal sebagai unsur
kon­stitusional di dalam individu. Karena semua umat manusia
melalui pengalaman yang sama, setidaknya pada tahun-tahun awal

- 130 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

mereka hidup, mereka juga bereaksi terhadap kesan dan stimuli ter­
sebut dengan cara yang sama, dan inilah alasan keraguan muncul
mengenai apakah reaksi ini beserta perbedaan individu masing-
masing tidak boleh dianggap sebagai bagian dari warisan arkaik ter­
sebut. Keraguan ini harus ditolak; fakta kesamaan ini tidak mem­
per­kaya pengetahuan kita mengenai warisan arkaik.
Sementara itu, penelitian analitis telah mendapatkan beberapa
hasil yang memberi kita sesuatu untuk dipikirkan. Pertama-tama,
ter­dapat universalitas mengenai simbolisme berbicara. Anak-anak
kita sangat mahir dan terlihat cukup natural melakukan substitusi
simbolis dari satu objek melalui objek lain—hal yang sama juga
ber­laku untuk tindakan. Kita tidak dapat menelusuri bagaimana
mereka mempelajari hal tersebut dan harus mengakui bahwa dalam
banyak kasus, mempelajari hal tersebut adalah hal yang mustahil.
Penge­ tahuan asli itulah yang nantinya dilupakan oleh orang
dewasa. Orang dewasa menggunakan simbolisme yang sama di
da­lam mimpi-mimpinya, namun ia tidak memahami simbolisme
ter­sebut kecuali diinterpretasi oleh analis, dan bahkan ia akan me­
rasa benci untuk memahami terjemahan tersebut. Ketika ia telah
menggunakan salah satu dari frasa berbicara umum yang di situ
simbolisme ini terkristalisasi, ia harus mengakui bahwa makna se­
sungguh­ nya telah hilang dari hal tersebut. Simbolisme bahkan
http://facebook.com/indonesiapustaka

tidak meng­hiraukan perbedaan dalam bahasa; investigasi mungkin


akan me­nunjukkan bahwa hal tersebut terdapat di mana-mana dan
ter­jadi pada semua orang. Kemudian, kelihatannya terdapat sebuah
kasus pasti mengenai warisan arkaik dari masa ketika kemampuan
ber­bicara sedang berkembang, meskipun beberapa orang mungkin
me­milih penjelasan lain: mereka mungkin berkata bahwa hal ter­

- 131 -
Moses and Monotheism

sebut adalah hubungan-pemikiran di antara gagasan yang dibentuk


saat perkembangan historis kemampuan berbicara terjadi dan yang
harus diulangi setiap saat individu melalui perkembangan ter­sebut.
Hal ini akan menjadi kasus pewarisan disposisi-pemikiran se­bagai­
mana manusia mewarisi disposisi instingtif; jadi, ia tidak akan
mem­berikan kontribusi baru bagi masalah kita.
Namun demikian, penelitian analitis juga telah memperjelas
hal-hal lain yang di luar segala hal yang telah kita diskusikan sejauh
ini. Dalam mempelajari reaksi terhadap traumata awal, kita sering
terkejut bahwa reaksi tersebut bukan benar-benar pengalaman yang
individu tersebut alami sendiri, melainkan melenceng dengan pen­
jelasan tertentu. Reaksi tersebut merupakan reaksi terhadap peristiwa
genetis dan pada umumnya dapat dijelaskan melalui pe­ngaruh
genetis. Perilaku anak dengan gangguan mental terhadap orang­
tua­nya ketika berada di bawah pengaruh Oedipus dan ketakutan
terhadap ancaman kebiri merupakan perilaku yang sangat syarat
de­ngan reaksi. Reaksi tersebut terlihat tidak beralasan jika dilihat
se­
cara individu dan hanya dapat dimengerti secara filogenetis,
dalam hubungannya dengan pengalaman generasi yang lebih awal.
Akan cukup layak untuk mengumpulkan dan memublikasikan
materi yang mendasari pernyataan saya. Faktanya, bagi saya hal itu
cukup meyakinkan untuk membuat saya menyelami lebih dalam
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan mengatakan bahwa warisan arkaik umat manusia tidak hanya


men­cakup disposisi, tetapi juga isi ideasional, jejak memori dari pe­
ngalaman generasi terdahulu. Dalam arti ini, luas dan pentingnya
warisan arkaik dapat diperjelas sampai tahap yang sangat tinggi.
Setelah memikirkannya kembali, saya harus mengakui bahwa
saya mengemukakan pendapat seakan-akan tidak ada pertanyaan

- 132 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

sebelumnya mengenai adanya warisan jejak memori mengenai hal


yang dialami nenek moyang kita, dalam batas tertentu terlepas dari
komunikasi langsung dan pengaruh pendidikan dengan cara men­
contoh. Ketika saya berbicara mengenai tradisi kuno yang masih
hidup di tengah manusia, juga mengenai pembentukan karakter
nasional, hal yang saya pikirkan adalah tradisi yang diwariskan—
dan bukan tradisi yang dipertahankan dengan ucapan. Setidaknya
saya tidak membedakan dua hal tersebut dan tidak cukup mengerti
me­ngenai langkah berani yang saya ambil karena mengabaikan per­
bedaan ini. Situasi ini dipersulit dengan sikap ilmu biologis saat
ini yang menolak gagasan bahwa kualitas yang diperoleh kemudian
di­waris­kan ke keturunan. Saya mengakui, dengan kerendahan hati,
bahwa terlepas dari semuanya, saya tidak dapat membayangkan per­
kembang­an biologis terjadi tanpa mempertimbangkan faktor ini.
Memang benar bahwa dua kasus tersebut tidak cukup sama; karena
kasus yang pertama adalah pertanyaan mengenai kualitas yang di­
per­oleh dan sulit untuk dibuat; sedangkan yang kedua adalah jejak
memori ekspresi eksternal, sesuatu yang hampir konkret. Namun
demikian, mungkin kita pada intinya tidak dapat membayangkan
satu kasus tersebut hadir tanpa yang lain. Jika kita menerima ke­
beradaan jejak memori yang berkelanjutan tersebut pada warisan
arkaik kita, maka kita telah menjembatani jurang di antara psikologi
http://facebook.com/indonesiapustaka

individu dan psikologi kelompok, dan dapat memperlakukan se­


seorang seperti mereka memiliki gangguan mental. Meskipun kita
mungkin mengakui bahwa sejauh ini kita tidak memiliki bukti
me­ngenai jejak memori pada warisan arkaik kita, bukti yang lebih
kuat daripada potongan memori yang ditimbulkan oleh penelitian
analitis—hal yang memerlukan penurunan dari filogenesis, namun

- 133 -
Moses and Monotheism

bukti ini bagi saya cukup meyakinkan untuk mendalilkan situasi


yang ada. Jika segala sesuatu berbeda dari hal yang ada sekarang,
kita tidak akan dapat melangkah lebih jauh lagi, baik dalam psiko­
analisis maupun dalam psikologi kelompok. Ini adalah hal yang
besar namun tidak dapat dihindari.
Dalam menyusun gagasan ini, kami juga melakukan hal lain.
Kami meminimalisasi jurang yang terlalu dalam, jurang di antara
manusia dan hewan yang diciptakan oleh arogansi manusia pada
masa lampau. Jika hal yang disebut naluri hewani—hal yang sedari
awal mem­buat hewan beradaptasi di kondisi baru hidupnya seakan-
akan mereka sudah hidup lebih lama dari yang sesungguhnya—di­
gunakan untuk membuat penjelasan. Penjelasan tersebut pastilah
seperti ini: pada lingkungan hidup baru mereka, mereka mengingat
kembali pengalaman yang serupa, yaitu pengalaman yang mereka
simpan di memori mereka mengenai apa yang dialami nenek
moyang­nya. Pada manusia, seharusnya hal ini juga tidak begitu
ber­beda. Warisan arkaik manusia—meskipun berbeda level dan
karakter­nya—serupa dengan naluri hewan.
Setelah mempertimbangkan hal ini, saya tidak ragu untuk
me­ngata­kan bahwa manusia selalu tahu bahwa suatu ketika mereka
me­miliki sosok ayah masa lampau dan membunuhnya.
Dua pertanyaan yang lebih jauh harus dapat dijawab di sini.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Pertama, di bawah kondisi seperti apakah memori dapat masuk


ke dalam warisan arkaik? Kedua, dalam situasi apakah ia menjadi
aktif, yaitu saat ia dapat mempenetrasi dari kondisi bawah sadarnya
di dalam id menjadi kondisi sadar? Jawaban dari pertanyaan per­
tama mudah untuk diformulasikan: hal itu terjadi ketika pe­
ngalaman tersebut cukup penting atau cukup banyak terulang,

- 134 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

atau­pun keduanya. Pada pembunuhan sosok ayah, kedua kondisi


itu ter­penuhi. Untuk pertanyaan kedua, saya akan berkata bahwa:
mungkin terdapat sejumlah pengaruh yang tidak perlu diketahui;
peristiwa yang terjadi dengan spontan juga mungkin dapat men­
jadi analogi hal yang terjadi pada beberapa kasus gangguan men­
tal. Meskipun demikian, kebangkitan jejak memori melalui pe­
ngulang­ an peristiwa sudah pasti merupakan hal yang sangat
penting. Pembunuhan Musa, dan nantinya pembunuhan yudisial
Yesus, juga merupakan pengulangan sehingga peristiwa-peristiwa
ini berperan sebagai agen penyebab. Pembentukan monoteisme ter­
lihat tidak mungkin terjadi tanpa peristiwa yang disebutkan di atas.
Kami teringat akan kata-kata seorang penyair:

“Segala hal dalam lagu yang tak berujung


Sepanjang usia harus langsung ditenggelamkan.”12

Saya akan mengakhiri diskusi ini dengan pernyataan yang


mem­beri­kan argumentasi psikologis. Sebuah tradisi yang didasar­
kan hanya pada komunikasi lisan tidak dapat menciptakan karakter
obsesif yang termasuk ke dalam fenomena keagamaan. Hal tersebut
http://facebook.com/indonesiapustaka

akan didengarkan, disanggah, dan mungkin ditolak seperti berita-


berita lain; karakter tersebut tidak akan dapat dibebaskan dari ke­
kangan pemikiran logis. Ia harus mengalami derita represi dahulu,

12 Schiller: The Gods of Greece (terjemahan Bahasa Inggris oleh E. A.


Bowring).

- 135 -
Moses and Monotheism

kondisi bawah sadar, sebelum ia dapat menghasilkan efek kuat


pada kebangkitan kembali dan memaksa orang banyak berada di
bawah sihirnya, seperti yang telah kita observasi pada tradisi ke­
agamaan yang kita kagumi namun tanpa kita mengerti. Inilah hal
yang memberatkan timbangan ke sisi keyakinan bahwa peristiwa-
peristiwa di atas memang terjadi seperti yang saya coba gambarkan
atau setidaknya sangat dekat dengan penjelasan saya.

Sesi II
1. Ikhtisar

Bagian berikut dari tulisan ini tidak dapat ditampilkan di


muka dunia tanpa penjelasan panjang dan permintaan maaf. Hal
ini dikarenakan bahwa bagian ini tidak lain dan tidak bukan adalah
pengulangan yang persis dan terkadang harfiah dari bagian pertama
dalam esai ini. Sejumlah investigasi kritis telah diringkas dan ada
pula tambahan yang membahas mengenai masalah bagaimana dan
me­ngapa karakter bangsa Yahudi berkembang sebagaimana ia ber­
kembang. Saya mengerti bahwa cara penyampaian subjek saya tidak
mujarab dan tidak artistik. Saya sendiri tidak dapat menerimanya
http://facebook.com/indonesiapustaka

sepenuh hati. Mengapa saya tidak menghindarinya saja? Jawabannya


mudah saya temukan, namun cukup sulit untuk saya akui. Saya
belum dapat menghapus jejak bagaimana buku ini akhirnya dapat
ditulis, cara tersebut adalah cara yang tidak biasa.

- 136 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

Sesungguhnya buku ini telah ditulis dua kali. Yang pertama


terjadi beberapa tahun lalu di Wina, tempat saya tidak yakin buku
ini mungkin akan saya publikasikan. Saya memutuskan untuk me­
nyingkir­kan drafnya, namun hal tersebut menghantui saya seperti
hantu perawan dan saya akhirnya setuju untuk memublikasikan
dua bagian dari buku ini secara independen di dalam periodikal
Imago. Kedua bagian tersebut adalah poin pemula psikonalisis dari
ke­seluruhan buku: “Musa, Seorang Berkebangsaan Mesir” dan esai
sejarah yang dibangun di atasnya, “Jika Musa adalah Seorang Ber­
kebangsaan Mesir”. Sisanya, seperti yang saya pikirkan, se­lama­nya
saya tahan dari keseluruhan buku tersebut—bagian yang mungkin
me­nyinggung dan berbahaya—yaitu, penerapan teori saya dalam
pem­bentukan monoteisme dan interpretasi saya mengenai agama.
Pada Maret 1938, datanglah invasi Jerman yang tidak diduga. Invasi
tersebut memaksa saya meninggalkan rumah, namun juga mem­
bebas­kan saya dari ketakutan bahwa publikasi buku tersebut dapat
me­nyebabkan psikoanalisis menjadi dilarang di sebuah negara yang
masih mengizinkan praktiknya. Tidak lama setelah saya sampai di
Inggris, saya tergoda untuk membuat pengetahuan yang saya tahan
dapat diakses tanpa batas oleh seluruh dunia. Jadi, saya mulai me­
nulis­kan kembali bagian ketiga esai saya untuk melengkapi dua
bagian yang telah dipublikasikan. Hal ini tentu saja membuat pe­
http://facebook.com/indonesiapustaka

ngelempo­kan kembali diperlukan terhadap materi yang ada, meski­


pun hanya sebagian. Namun demikian, pada penyuntingan kedua
ini, saya tidak berhasil memuat semua materinya. Di sisi lain, saya
tidak dapat memutuskan untuk menghilangkan dua kontribusi se­
belum­nya secara bersamaan dan inilah bagaimana sebuah keputusan
datang untuk menambahkan keseluruhan versi pertama ke dalam

- 137 -
Moses and Monotheism

versi kedua tanpa perubahan, sebuah keputusan yang memiliki ke­


lemahan akan pengulangan yang banyak.
Saya mungkin merasa tenang jika merefleksikan bahwa
masalah yang sedang saya bahas adalah masalah yang sangat baru
dan signifikan—cukup terlepas dari apakah penyajian saya benar
atau tidak—sehingga harus dianggap sebagai kelemahan kecil saja
jika pembaca menemui materi yang sama dua kali. Ada hal yang
harus dikatakan lebih dari sekali dan tidak cukup sering diulang.
Meski­pun demikian, keputusan harus dikembalikan kepada para
pem­ baca, apakah mereka ingin berlama-lama berkutat dengan
satu subjek atau kembali ke permasalahan umumnya. Sebuah ke­
simpulan tidak boleh ditekankan dari fakta bahwa subjek yang
sama didiskusikan dua kali di dalam buku yang sama. Dengan me­
lakukan­nya, seorang penulis menunjukkan bahwa dirinya adalah
penulis yang kikuk dan harus menerima konsekuensinya. Hanya
saja, kekuatan kreatif seorang penulis sayangnya tidak selalu dapat
meng­ikuti niat baiknya. Sebuah karya berkembang sebagaimana ia
ingin berkembang dan terkadang ia menantang penulisnya sendiri
se­bagai karya yang independen, bahkan asing.
http://facebook.com/indonesiapustaka

2. Orang-orang Israel

Prosedur yang kita gunakan saat ini adalah mengambil materi


lama yang masih terlihat berguna, membuang hal yang tidak pas,
dan meng­gabung­kan bagian-bagian individu berdasarkan ke­mung­
kin­an psikologis mereka. Jika cukup jelas di benak kita bahwa pro­

- 138 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

sedur seperti itu tidak cukup mampu memberikan rasa aman dalam
me­nemukan kebenaran, maka kita cukup berhak untuk ber­tanya me­
ngapa upaya seperti itu diambil. Untuk menjawab per­tanyaan itu,
saya harus mengutip hasil penelitian. Jika kita me­ngurangi se­cara
substansial tuntutan tinggi yang timbul pada investigasi historis dan
psikologis, kemungkinan kita dapat me­nyelesaikan ma­salah yang selalu
terlihat layak diperhatikan dan yang memaksa kita mengobservasi
mereka lagi, sebagai konsekuensi peristiwa yang terjadi tidak lama ini.
Kita paham bahwa dari semua bangsa yang tinggal pada masa lampau
di dataran Mediterania, bangsa Yahudi mungkin adalah satu-satunya
yang masih bertahan sampai se­karang dalam nama dan mungkin juga
sifatnya. Dengan ke­kuatan resistansi yang tidak dapat dicontohkan,
bangsa Yahudi telah me­nentang ketidakberuntungan dan perbuatan
buruk ter­hadapnya, mereka mengembangkan kepribadian khusus
dan, secara ke­betul­an, membuat bangsa-bangsa lain sangat membenci
mereka. Dari mana resistansi Yahudi tersebut datang dan bagaimana
karak­ter­nya dihubungkan dengan nasib mereka adalah dua hal yang
ingin di­pahami semua orang.
Kita dapat mulai dari satu kepribadian bangsa Yahudi yang
mengatur hubungan mereka dengan orang lain. Tidak diragukan
bah­wa bangsa ini memiliki penilaian baik terhadap diri mereka
sen­diri, mereka berpikir diri mereka lebih terhormat, lebih tinggi,
http://facebook.com/indonesiapustaka

dan superior dibandingkan bangsa lain yang juga terpisah oleh ba­
nyak tradisi mereka.13 Dengan hal ini, mereka digerakkan oleh ke­

13 Hinaan yang sering ditujukan pada mereka pada masa lampau


bahwa mereka adalah penyandang kusta (cf. Manetho) harus dibaca
sebagai sebuah proyeksi: “Mereka menjauhi kami seakan-akan kami
adalah penyandang kusta.”

- 139 -
Moses and Monotheism

percayaan khusus dalam hidup, hal tersebut merupakan sesuatu


yang dianugerahkan oleh bakat berharga yang mereka miliki; se­
macam optimisme. Orang yang agamis akan menyebutnya ke­per­
cayaan terhadap Tuhan.
Kita paham mengenai dasar atas sikap mereka itu dan hal
yang men­jadi harta berharga mereka. Bangsa Yahudi benar-benar
me­­mercayai bahwa mereka adalah orang-orang terpilih Tuhan;
mereka membuat diri mereka tetap dekat dengan Tuhan, dan
hal inilah yang membuat mereka bangga serta percaya diri. Ber­
dasar­kan laporan yang patut dipercaya, bangsa Yahudi pada masa
Helenis berlaku seperti halnya bangsa Yahudi pada masa ini. Maka,
karakter Yahudi pada saat itu juga sudah seperti karakter Yahudi
saat ini. Sementara itu, bangsa Yunani, salah satu bangsa yang
tinggal bersama mereka, menanggapi kualitas Yahudi seperti hal­
nya tanggapan bangsa “inang” pada masa ini. Mereka bereaksi se­
akan-akan mereka juga percaya pilihan yang diambil bangsa Israel
untuk diri mereka sendiri. Ketika satu anak mengaku bahwa ia
adalah anak kesayangan sosok ayahnya yang menyeramkan, kita
tidak akan terkejut bahwa saudara-saudaranya yang lain akan me­
rasa cemburu. Hal yang dapat terjadi karena rasa cemburu ini di­­
tunjuk­kan dengan jelas pada legenda Yahudi mengenai Yusuf dan
para pengikutnya. Peristiwa selanjutnya dalam sejarah dunia ter­
http://facebook.com/indonesiapustaka

lihat mendukung arogansi Yahudi ini, karena nantinya Tuhan se­


tuju untuk mengirimkan kepada umatnya seorang Mesias dan
Penebus. Tuhan juga memilih-Nya di antara orang-orang Yahudi
lain. Bangsa lain kemudian tidak akan memiliki alasan untuk
ber­kata: “Mereka memang benar; mereka adalah orang-orang
pilih­an Tuhan.” Alih-alih melakukan itu, hal yang terjadi adalah

- 140 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

penyelamatan Yesus Kristus menyebabkan kebencian yang justru


lebih kuat terhadap bangsa Yahudi, sedangkan bangsa Yahudi
sen­diri tidak mendapatkan keuntungan dari bukti kedua bahwa
mereka merupakan orang-orang terpilih karena bukti-bukti itu
tidak menyangkut sang Penebus.
Dengan kekuatan pernyataan kita sebelumnya, kita dapat ber­
kata bahwa Musa sendirilah yang membuat bangsa Yahudi memiliki
kepribadian ini, kepribadian yang sangat signifikan bagi mereka
pada semua masa. Musa memperkuat rasa kepercayaan diri mereka
dengan meyakinkan mereka bahwa mereka itulah orang-orang
terpilih Tuhan; Musa memberi pengakuan bahwa bangsa Yahudi
adalah bangsa yang suci dan Musa juga menanamkan kewajiban
bahwa mereka harus menjauhi orang lain. Bukan karena orang lain
kurang memiliki kepercayaan diri. Saat itu, seperti halnya saat ini,
setiap negara berpikir bahwa diri mereka lebih tinggi daripada negara
lain. Namun demikian, kepercayaan diri bangsa Yahudi timbul
me­lalui hal yang ditanamkan Musa di dalam agama; hal tersebut
men­jadi bagian kepercayaan agamis mereka. Dengan hubungan
yang sangat dekat dengan Tuhannya, mereka mendapatkan sebuah
bagian dari kemuliaan Tuhan. Kita pun tahu bahwa di balik Tuhan
yang memilih bangsa Yahudi dan mengantarkan mereka dari Mesir,
berdirilah sosok Musa yang melakukan semua perbuatan itu, ber­
http://facebook.com/indonesiapustaka

pura-pura menyampaikan perintah Tuhan. Karena itu, kami be­rani


mengatakan hal ini: hanya ada satu sosok: Musa itulah yang men­
citakan bangsa Yahudi. Kepadanya itulah orang-orang Yahudi ber­
utang semangat dalam menyokong hidup; namun juga karena­nya
itulah mereka mengalami banyak perlakuan buruk.

- 141 -
Moses and Monotheism

3. Sosok yang Agung

Bagaimana mungkin satu orang dapat mengembangkan hal


yang luar biasa efektif itu, bahwa ia dapat menghasilkan individu
yang memiliki sifat acuh dan juga keluarga dalam satu bangsa, ia juga
dapat memberikan bangsa tersebut karakter pasti dan menentukan
nasib mereka selama bermilenium-milenium ke depan? Bukankah
asumsi demikian merupakan sebuah regresi ke masa yang di
dalamnya terdapat kemampuan berpikir menghasilkan mitos dan
pemujaan terhadap sosok pahlawan, yang di situ penelitan sejarah
hanya menghabiskan waktu untuk menarasikan tanggal dan sejarah
kehidupan individu tertentu, seperti penguasa atau penakluk? Masa
modern lebih cenderung untuk menelusuri peristiwa bersejarah
umat manusia ke dalam faktor-faktor yang lebih tersembunyi,
umum, dan impersonal—seperti pengaruh yang dipaksakan situasi
ekonomi, perubahan suplai makanan, kemajuan dalam penggunana
materi dan alat, migrasi yang disebabkan oleh peningkatan
populasi, dan perubahan iklim. Dalam faktor-faktor ini, individu
tidak memiliki bagian lain selain contoh atau perwakilan tendensi
kelompok yang menghasilkan ekspresi dan yang menemukan
ekspresi tersebut seakan-akan secara kebetulan.
Hal Ini merupakan sudut pandang yang diterima, namun
http://facebook.com/indonesiapustaka

juga mengingatkan kita akan perbedaan antara sifat aparatus


berpikir kita dan ketertiban dunia yang kita coba untuk mengerti.
Kebutuhan imperatif kita akan sebab-akibat terpenuhi ketika
setiap proses memiliki satu penyebab yang dapat dibuktikan. Pada
kenyataannya, hal ini hampir tidak demikian di luar diri kita; setiap
peristiwa terlihat terlalu ditentukan dan ternyata merupakan efek

- 142 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

dari beberapa penyebab yang bersatu. Karena terintimidasi oleh


komplikasi peristiwa yang tidak terhitung, penelitian mengambil
bagian di dalam satu rangkaian peristiwa yang berhadapan dengan
peristiwa lain, menetapkan perbedaan yang sesungguhnya tidak ada
dan yang dibuat hanya dengan memisah-misahkan hubungan yang
lebih komprehensif.14
Jika investigasi dari satu kasus tertentu menunjukkan pengaruh
luar biasa dari kepribadian satu orang, hati nurani kita tidak boleh
menyalahkan diri kita bahwa dengan menerima kesimpulan ini kita
telah berurusan dengan doktrin akan pentingnya faktor impersonal
umum tersebut. Faktanya, sudah pasti terdapat ruang untuk kedua
hal tersebut. Pada pembentukan monoteisme, kita tidak dapat me­
nunjuk pada faktor eksternal lain di samping faktor yang telah kita
sebutkan, yaitu bahwa perkembangan ini berhubungan dengan
dijalinnya hubungan lebih dekat antarnegara yang berbeda dan juga
keberadaan kekaisaran agung.
Oleh karena itu, kita akan menyisakan tempat untuk “sosok
agung” tersebut di dalam rangkaian, atau lebih tepatnya di dalam
jaring­an penyebab atau penentunya. Mungkin akan berguna juga
un­tuk mempertanyakan kondisi yang mendasari pemberian pre­
dikat tersebut kepada seseorang. Kita mungkin akan terkejut bahwa
http://facebook.com/indonesiapustaka

14 Saya akan melindungi diri saya sendiri dari kesalahpahaman yang


mungkin muncul. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bah­
wa dunia ini sangat membingungkan dan setiap gagasan pasti
akan mendekati kebenaran di satu titik. Tidak, pemikiran kita telah
mempertahankan kebebasan pembuatan dependensi dan hubungan
yang tidak memiliki padanan dalam kenyataan. Hal tersebut sudah
pasti menilai kebebasan dengan sangat tinggi karena cukup banyak
meng­gunakan kebebasan tersebut—di dalam maupun di luar ilmu pe­
nge­tahuan.

- 143 -
Moses and Monotheism

ternyata tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Formulasi


pertama—formulasi yang akan mendefinisikan “agung” sebagai
manusia dengan kualitas yang kita junjung tinggi—dari sudut
pandang mana pun jelas tidak pas. Sebagai contoh, kecantikan dan
kekuatan otot—hal yang mungkin dicemburui oleh banyak orang—
tidak sesuai untuk mendefinisikan “keagungan”. Mungkin harus
ada kualitas mental yang ada serta perbedaan psikis dan intelek.
Dalam contoh yang terakhir, kami memiliki keraguan: seseorang
dengan pengetahuan luar biasa mengenai satu bidang tertentu
tidak akan disebut sosok agung tanpa alasan lebih mendalam. Kita
jelas tidak bisa menerapkan predikat tersebut untuk seorang ahli
catur atau ahli instrumen musik, dan tidak juga untuk seniman
atau ilmuwan ternama. Dalam kasus tersebut, seharusnya cukup
bagi kita untuk berkata: ia adalah penulis, pelukis, ahli matematika
atau fisikawan yang hebat, atau juga pionir dalam bidang tertentu,
namun kita akan berhenti sebelum menyebutnya sosok yang
agung. Ketika mengatakan bahwa Goethe, Leonardo da Vinci, dan
Beethoven adalah sosok-sosok agung, maka hal lain seharusnya
juga membuat kita melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar
kagum terhadap karya mewah mereka. Jika bukan karena contoh
seperti itu, kita pasti menganggap bahwa predikat “sosok agung”
diberikan kepada seseorang berdasarkan tindakannya—sebagai
http://facebook.com/indonesiapustaka

contoh yaitu para penakluk, jenderal, serta penguasa—dan predikat


tersebut digunakan untuk memberi penghargaan atas pencapaian
dan kuatnya pengaruh mereka. Meskipun demikian, definisi ini
tidak memuaskan dan sangat bertentangan dengan ketidaksetujuan
kami mengenai banyaknya sosok tidak berguna yang tidak dapat
disangkal memiliki pengaruh besar pada masa hidup mereka dan

- 144 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

masa setelahnya. Keberhasilan juga tidak dapat dipilih sebagai


penanda keagungan—jika kita mempertimbangkan banyaknya
sosok agung yang tidak mencapai keberhasilannya dan justru me­
ninggal setelah menemui ketidakberuntungan.
Maka, kita saat ini harus mengakui bahwa tidaklah berguna
untuk mencari definisi jelas dari konsep “sosok agung”. Istilah tersebut
seperti­
nya digunakan cukup bebas, istilah yang dianugerahkan
tanpa pertimbangan jelas dan diberikan pada perkembangan ku­
alitas manusia tertentu yang lebih dari normal: hal ini kita lakukan
dengan mempertahankan makna harfiah sebenarnya dari kata “ke­
agungan”. Kita juga dapat mengingat bahwa bukan sifat dari sosok
agung juga yang menimbulkan rasa penasaran kita atas kualitas apa
yang membuatnya dapat memengaruhi orang-orang pada masa
hidup­nya. Saya mengusulkan untuk memperpendek investigasi ka­
rena kita semakin terancam untuk menjauh dari tujuan kita.
Mari kita sepakati bahwa sosok agung memiliki pengaruh pada
orang-orang di masa hidupnya dengan dua cara: melalui ke­pribadi­
an­nya dan melalui gagasan yang ia pegang. Gagasan ini mungkin
mem­beri penekanan pada harapan-harapan lama orang banyak atau
me­nuntun harapan tersebut pada tujuan baru, mungkin juga me­
mancing banyak orang dengan cara lain. Terkadang—dan hal ini
sudah pasti merupakan efek yang lebih primitif—kepribadian itu
http://facebook.com/indonesiapustaka

sendiri memberikan pengaruh dan gagasan memainkan bagian yang


lebih lebih kecil. Kami tidak memiliki keraguan mengenai alasan
sosok agung menjadi sosok penting. Kita tahu bahwa sebagian besar
manusia memiliki kebutuhan besar akan pemimpin yang dapat
mereka kagumi, patuhi, dan yang mendominasi, serta bahkan yang
mem­ perlakukan mereka dengan buruk. Kita telah mempelajari

- 145 -
Moses and Monotheism

bahwa dari psikologi individu itulah kebutuhan kelompok ini


datang. Adalah perasaan rindu terhadap sosok ayah yang ada di
dalam diri kita masing-masing semenjak kecil, sosok ayah yang
katanya telah dikalahkan oleh sang pahlawan dalam legenda. Saat
ini, kita mulai memahami bahwa semua ciri yang kita berikan
kepada sosok agung adalah kepribadian sosok ayah sehingga dalam
keserupaannya terdapat inti dari seorang sosok agung, keserupaan
yang sejauh ini telah menuntun kita ke arah yang salah. Ketegasan
pemikiran, kekuatan niat, dan pengaruh perbuatannya merupakan
gambaran sosok ayah; terutama, kepercayaan terhadap diri mereka
sendiri dan independensi sosok agung tersebut: yaitu kepercayaan
kuat bahwa mereka melakukan hal yang benar, sesuatu yang
mungkin masuk ke definisi kejam. Sosok seperti itu harus dikagumi,
mungkin dapat dipercayai namun mungkin saja ditakuti. Sebuah
petunjuk harus dari kata itu sendiri; siapa lagi selain sosok ayah
yang ada pada masa kecil tokoh agung tersebut?
Sudah pasti gambaran sosok ayah itulah yang ada di dalam
diri Musa yang mengatakan kepada bangsa Yahudi bahwa mereka
adalah putra-putra kesayangannya. Konsepsi mengenai satu Tuhan
Maha Kuasa yang kekal tetap luar biasa bagi mereka; Sosok yang
berpikir bahwa bangsa Yahudi layak untuk berhubungan dengan-
Nya, berjanji untuk mengurusi mereka jika mereka tetap taat me­
http://facebook.com/indonesiapustaka

nyembah-Nya. Mungkin tidak mudah bagi mereka untuk me­


misahkan gambaran Musa dengan gambaran Tuhannya, dan naluri
mereka benar dalam hal ini, karena Musa mungkin saja meng­
gabung­kan karakter Tuhan dalam kepribadiannya seperti sikapnya
yang mudah marah dan keras kepala. Ketika bangsa Yahudi mem­
bunuh sosok agung ini, mereka hanya mengulangi perbuatan jahat

- 146 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

yang dalam masa purba menyerupai sebuah hukum yang ditujukan


untuk melengserkan rajanya yang disembah dan yang—seperti
yang kita tahu—diambil dari prototipe yang lebih lama.15
Ketika di satu sisi sosok agung telah naik menjadi sosok yang
disembah, waktunya mengingat bahwa di sisi lain sosok ayah juga
pernah menjadi seorang anak. Gagasan keagamaan agung di tempat
Musa berdiri, seperti yang telah kita sebutkan, bukanlah gagas­an­nya
sendiri; ia mengambilnya dari Ikhnaton. Sementara itu, Ikhnaton—
yang keagungannya sebagai pendiri sebuah keyakinan dapat di­
buktikan tanpa ragu—mengikuti isyarat melalui ibunya atau isyarat
yang sampai ke dalam dirinya dengan cara lain dari suatu tempat di
Timur yang jauh.
Kami tidak dapat menelusuri jaringannya lebih jauh. Jika
argumen yang ada sejauh ini benar, gagasan monoteisme pasti kem­
bali seperti bumerang ke dalam negara asalnya. Terlihat tidak ber­
guna untuk mencoba meyakinkan manfaat apa yang terdapat di diri
individu dalam penyebaran sebuah gagasan baru. Telah jelas bahwa
banyak individu yang mengambil bagian dalam perkembangan
mono­teisme dan berkontribusi terhadapnya. Di sisi lain, tidaklah
benar untuk memutuskan rantai sebab-akibat dengan Musa dan
meng­abaikan apa yang telah dicapai penerus-penerusnya, rasul-
rasul Yahudi. Monoteisme tidak berakar di Mesir. Kegagalan yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

sama mengenai penyebaran agama mungkin terjadi di Israel setelah


orang-orangnya membuang agama merepotkan dan penuh kepura-
puraan yang dipaksakan kepada mereka. Meskipun demikian, dari
kelompok orang-orang Yahudi itu muncul lagi dan lagi orang-

15 Frazer. Loc. cit., p. 192.

- 147 -
Moses and Monotheism

orang yang memberikan warna baru terhadap tradisi yang mulai


pudar, memperbarui peringatan dan permintaan Musa, serta tidak
ber­henti sampai di situ, mereka terus berusaha sampai hal yang
telah hilang dapat dibangun kembali. Dengan upaya yang terus-
me­nerus selama berabad-abad dan melalui dua reformasi besar—se­
belum dan sesudah pengasingan ke Babel—terjadi perubahan pe­
nyembah­an dari Tuhan Yahweh yang populer menjadi Tuhan yang
di­paksa­kan Musa terhadap bangsa Yahudi. Bukti kesesuaian psikis
khusus di dalam benak bangsa Yahudi itulah yang dapat mengajak
banyak orang yang siap membawa beban agama Musa dengan
imbalan kepercayaan bahwa mereka adalah orang-orang terpilih
dan mungkin akan mendapatkan keuntungan dari hal tersebut.

4. Kemajuan dalam Spiritualitas

Untuk mencapai efek psikis yang bertahan lama dalam masya­


rakat, jelas tidak cukup dengan hanya meyakinkan mereka bahwa
mereka dipilih Tuhan secara khusus. Jaminan ini harus dibuktikan
jika mereka memeluk kepercayaan tersebut dan mengambil ke­
simpul­an darinya. Dalam agama Musa, peristiwa eksodus adalah
http://facebook.com/indonesiapustaka

bukti­nya; Tuhan, atau Musa atas nama Tuhan, tidak lelah me­
nyebut­ kan bukti yang menguntungkan dirinya ini. Perjamuan
Paskah dibuat untuk memperingati peristiwa ini, atau lebih ke arah
per­jamuan lama yang dipenuhi oleh kenangan ini. Namun demi­
kian, hal itu hanya merupakan kenangan. Peristiwa eksodus itu

- 148 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

sendiri terjadi di masa lalu yang kurang dapat diingat. Pada waktu
itu, tanda-tanda yang mendukung adanya Tuhan tidaklah banyak;
bangsa Israel dapat lebih memilih untuk tidak memercayainya.
Orang-orang masa lampau biasanya menggulingkan atau bahkan
meng­hukum dewa-dewanya jika mereka tidak memenuhi ke­wajib­
an­nya dengan memberikan mereka kemenangan, keber­untung­an,
dan kenyamanan. Raja-raja sering diperlakukan sama dengan para
dewa di masa apa pun; identitas kuno raja dan tuhan, yaitu asal
mereka yang sama, menjadi bukti nyata. Orang modern juga terbiasa
me­nyingkirkan raja-rajanya jika kemegahan pemerintahannya di­
rusak dengan kekalahan yang dibarengi dengan hilangnya tanah ke­
kuasaan dan uang. Mengapa bangsa Israel menaati Tuhannya lebih
kuat lagi saat diperlakukan lebih buruk oleh-Nya?—hal tersebut
adalah pertanyaan yang harus kita biarkan terbuka untuk saat ini.
Mungkin akan menstimulasi kita untuk menyelidiki apakah
agama Musa tidak memberikan pengikutnya apa pun kecuali ber­
tambahnya kepercayaan diri mereka bahwa mereka adalah orang-
orang “terpilih”. Unsur berikutnya lebih mudah ditemukan. Agama
ter­sebut juga memberikan bangsa Yahudi gagasan lebih mewah
me­ngenai Tuhannya atau, lebih tepatnya, gagasan mengenai Tuhan
yang lebih luhur. Siapa pun yang memercayai Tuhan tersebut juga
ikut berkontribusi dalam keagungannya, sehingga merasa lebih
http://facebook.com/indonesiapustaka

tinggi dari orang lain. Hal ini mungkin tidak terlihat jelas bagi
orang-orang yang tidak memeluk agama, namun mungkin da­pat
diilustrasikan dengan simile kepercayaan diri tinggi yang di­miliki
seorang berkebangsaan Inggris di tanah asing dan dapat di­buat
resah oleh pemberontakan, sebuah kepercayaan diri yang ti­dak
dimiliki sepenuhnya di beberapa negara kecil. Orang Inggris meng­

- 149 -
Moses and Monotheism

andal­kan pemerintahnya untuk mengirimkan kapal perang jika


sehelai rambutnya disentuh dan hal ini juga sangat diketahui oleh
para pemberontak, sedangkan sebuah negara kecil bahkan tidak
memiliki kapal perang. Rasa bangga akan kehebatan kekaisaran
Inggris kemudian berakar dalam rasa aman dan perlindungan lebih
besar yang dapat dinikmati oleh orang Inggris. Hal serupa mungkin
juga berlaku pada gagasan Tuhan yang maha agung dan rasa bangga
akan keagungan Tuhan juga timbul karena kepercayaan bahwa me­
reka telah “dipilih” oleh Tuhan, karena manusia hampir tidak ber­
asumsi untuk mendampingi Tuhan dalam mengatur dunia.
Di antara doktrin agama Musa, salah satunya dirasa lebih
penting dari yang awalnya terlihat. Doktrin tersebut merupakan
larangan membuat gambar Tuhan, yang berarti pemaksaan untuk
me­nyembah Tuhan yang tidak terlihat. Saya beranggapan bahwa
dalam poin ini, Musa telah mempraktikkan doktrin yang lebih
ketat dari agama Aton. Mungkin ia bermaksud menjadi konsisten.
Tuhan­ nya tidak memiliki nama maupun pengakuan. Larangan
tersebut mungkin merupakan antisipasi baru terhadap malpraktik
ilmu hitam. Meski demikian, jika larangan ini diterima, hal tersebut
akan menghasilkan pengaruh yang besar. Karena hal tersebut me­
nandai persepsi akal yang membawahi gagasan abstrak, ia merupa­
kan kemenangan spiritualitas atas akal sehat; lebih tepatnya se­buah
http://facebook.com/indonesiapustaka

penolakan naluriah16 yang dibarengi oleh konsekuensi psikologis­


nya.
Untuk membuat lebih kredibel hal yang pada pandangan

16 [Saya menggunakan istilah (Triebverzicht) sebagai singkatan “me­


ninggal­kan kepuasaan dari perbuatan naluriah”. Trans.]

- 150 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

pertama tidak meyakinkan, kita harus mempertimbangkan proses-


proses lain dengan karakter serupa dalam perkembangan budaya
manusia. Proses paling awal, dan mungkin paling penting, hanya
dapat kita perkirakan hanya dari garis batas yang kurang jelas di
masa lampau. Efeknya yang mengejutkan membuat kita perlu me­
nyimpulkan bahwa hal tersebut terjadi. Dalam masa kecil kita, masa
dewasa kita, dan dalam gangguan mental yang terjadi pada masa
dewasa serta orang primitif, kami menemukan fenomena mental
yang kami sebut sebagai kepercayaan terhadap “kemahakuasaan
pemikiran”. Kami menilainya sebagai over-estimasi dari pengaruh
yang dapat dipraktikkan oleh bagian mental kita—dalam hal ini,
bagi­an yang intelek—kepada dunia luar dengan mengubahnya.
Segala bentuk sihir, pendahulu ilmu pengetahuan, pada dasarnya
di­bangun di atas premis ini. Seluruh keajaiban kata-kata berasal dari
sini, begitu pula dengan keyakinan terhadap kekuatan yang ber­
hubung­an dengan ilmu pengetahuan dan cara pengucapan sebuah
nama. Kami menganggap bahwa “kemahakuasaan pemikiran” ada­
lah ekspresi bangga manusia karena perkembangan bahasa, yang
juga telah membawa perkembangan intelektualitas yang luar biasa.
Pada saat itu, terbukalah alam spiritualitas yang di situ konsepsi,
memori, dan penalaran menjadi sangat penting, berbeda dengan
aktivitas psikis lebih rendah yang berhubungan dengan persepsi
http://facebook.com/indonesiapustaka

langsung organ perasa. Hal itu sudah pasti merupakan salah satu
tahap paling penting dalam menjadi manusia.
Proses lain di kemudian hari tampil di hadapan kita dalam
bentuk yang jauh lebih jelas. Di bawah pengaruh kondisi eksternal
yang tidak pasti—kondisi yang tidak perlu kita bahas di sini dan
yang sebagian juga tidak diketahui—hal tersebut terjadi ketika

- 151 -
Moses and Monotheism

struktur matriarkat masyarakat diganti dengan patriarkat. Ini jelas


me­munculkan revolusi hukum yang sedang berlaku. Gema dari
revolusi tersebut bagi saya masih dapat didengar dalam Oresteia
Aeschylos. Perpindahan dari sosok ibu ke sosok ayah ini menandai
terutama kemenangan spiritualitas dari akal sehat, yang kita sebut
selangkah di depan dalam budaya, karena atribut keibuan dibuktikan
dengan akal sehat sedangkan atribut keayahan merupakan sebuah
dugaan yang didasarkan pada penalaran dan premis. Pernyataan
yang mendukung proses berpikir ini—dan yang mengangkatnya
di atas persepsi akal—terbukti merupakan langkah yang memiliki
kon­sekuensi serius.
Pada suatu waktu di antara dua peristiwa tersebut, saya telah
menyebutkan peristiwa lain yang menunjukkan hubungan lebih
dekat dengan kejadian-kejadian yang telah kita teliti dalam sejarah
keyakinan. Manusia sadar bahwa ia dihadapkan dengan penerimaan
kekuatan “spiritual”. kekuatan yang tidak dapat diterima oleh akal,
lebih tepatnya oleh penglihatan, namun memiliki efek yang tidak
di­
ragu­ kan, bahkan teramat sangat kuat. Jika kita memercayai
bahasa, gerakan udaralah yang memberikan gambaran spiritualitas,
karena roh atau spirit meminjam namanya dari embusan angin
(animus, spiritus, Ibrani: ruach = asap). Gagasan mengenai roh
ter­lahir sebagai prinsip spiritual di dalam individu. Observasi me­
http://facebook.com/indonesiapustaka

nemukan bahwa embusan napas adalah hal yang mencegah ke­


matian pada umat manusia; bahkan sampai saat ini, kita berkata
bahwa orang yang sudah meninggal mengembuskan napas terakhir.
Sekarang alam roh telah terbuka bagi manusia dan ia siap untuk
meng­anugerahkan segala yang ada di alam ini dengan jiwa yang ia
temu­kan di dalam dirinya sendiri. Seluruh dunia menjadi bergerak

- 152 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

dan ilmu pengetahuan yang datang cukup lama setelahnya cukup


ber­kontribusi dalam meruntuhkan situasi yang ada dan masih me­
lakukannya sampai saat ini.
Melalui larangan Musa, Tuhan diangkat ke dalam spiritualitas
lebih tinggi; pintu terbuka bagi perubahan lebih jauh mengenai
gagasan Tuhan yang akan kita bicarakan nanti. Saat ini, efeknya
yang lain akan memenuhi diri kita. Segala kemajuan spiritualitas
meng­ hasil­kan peningkatan kepercayaan diri, membuat orang-
orang tersebut bangga bahwa mereka merasa lebih tinggi daripada
orang-orang yang masih mendekam dalam penjara akal sehat. Kita
tahu bahwa Musa telah memberikan bangsa Yahudi rasa bangga
karena merupakan orang-orang pilihan Tuhan. Dengan membuat
Tuhan menjadi zat yang tidak terlihat, sebuah kontribusi baru dan
ber­harga diberikan kepada umatnya dalam bentuk rahasia yang
tidak ternilai. Bangsa Yahudi menjaga ketertarikan mereka terhadap
hal-hal spiritual. Ketidakberuntungan politik negara mengajarkan
mereka untuk menghargai satu-satunya hal yang mereka miliki:
catatan tertulis mereka, dengan nilai aslinya. Segera setelah gereja
di Yerusalem dihancurkan Titus, Pendeta Yahudi Jochanaan ben
Sakkai meminta izin untuk membuka sekolah pertama mengenai
ajaran Taurat di Jabne. Sejak itu, hanyalah kitab suci dan kajiannya
yang menyatukan umat yang terpencar-pencar.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Banyak hal yang diketahui dan diterima secara umum. Saya


hanya ingin menambahkan bahwa semua perkembangan dan
karakte­ristik bangsa Yahudi dimulai oleh larangan Musa untuk me­
nyembah Tuhan dalam bentuk yang terlihat.
Pilihan yang selama dua ribu tahun telah diberikan bangsa
Yahudi terhadap upaya spiritual tentu saja membuahkan hasil; hal

- 153 -
Moses and Monotheism

tersebut ikut membangun tanggul yang menahan brutalitas dan


ke­kerasan yang biasanya ditemukan ketika perkembangan atletis
me­rupakan ideal masyarakat. Perkembangan selaras dari aktivitas
spiritual dan fisik—seperti yang dicapai oleh bangsa Yunani—
tidak dicapai bangsa Yahudi dalam konflik ini. Keputusan mereka
se­tidak­nya dibuat untuk menguntungkan hal yang lebih penting
secara budaya.

5. Penolakan dan Kepuasan17

Sama sekali tidak jelas mengapa kemajuan spiritualitas dan ke­


munduruan akal sehat dapat meningkatkan kepercayaan diri se­se­
orang dan juga negaranya. Hal ini terlihat mendahului standar nilai
pasti dan orang atau institusi lain yang menganut paham ini. Untuk
men­jelaskannya, kami menggunakan analogi dalam psikologi indi­
vidu yang telah kami mengerti.
Ketika id membuat permintaan naluriah akan sifat erotis atau
agresif pada umat manusia, respons paling sederhana dan alamiah dari
ego—yang mengatur saraf-saraf untuk berpikir dan menggerakan
otot—adalah untuk memuaskannya dengan tindakan. Kepuasan
http://facebook.com/indonesiapustaka

naluriah ini dirasakan sebagai kenikmatan oleh ego, jika tidak


sampai tahap itu, naluri tidak diragukan lagi akan menjadi sumber
ke­
tidak­ nyamanan. Ego mungkin dapat menjauhkan kepuasan
naluriah karena hambatan eksternal, yaitu ketika ia menyadari

17 (Lihat catatan kaki pada p. 178)

- 154 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

bahwa perbuatan yang akan dilakukan akan menghasilkan bahaya


yang serius untuk ego. Penarikan diri dari kepuasan ini, sebuah
“penolakan naluriah” karena rintangan eksternal—seperti yang telah
kami sebutkan, demi kepatuhan prinsip-kenyataan—tidak pernah
terasa menyenangkan. Penolakan naluriah akan menghasilkan ke­
tegangan yang menyakitkan dan berlangsung lama jika kita tidak
berhasil meminimalisasi kuatnya dorongan naluriah itu sendiri
melalui pemindahan energi. Namun demikian, penolakan naluriah
ini juga dapat dipaksakan kepada kita oleh motif lain yang kita sebut
motif internal. Dalam perkembangan individu, sebagian rin­tang­an
dari dunia luar diinternalisasi; sebuah standar diciptakan di dalam
ego yang menentang bagian mental lain dengan observasi, kritik,
dan larangan. Kami menyebut standar baru ini super-ego. Dari
sini, sebelum bergerak untuk untuk memuaskan naluri, ego harus
mempertimbangkan bukan hanya bahaya dari dunia luar, melainkan
juga penolakan dari super-ego, dan kemudian lebih banyak hal yang
membuatnya tidak memuaskan naluri tersebut. Hanya saja, ketika
penolakan naluriah karena alasan ekternal hanya terasa menyakitkan,
penolakan karena alasan internal—atas kepatuhan terhadap perintah
super-ego—memiliki efek yang efektif. Di samping rasa sakit yang
tidak terhindarkan, hal tersebut mem­bawa rasa senang di dalam
ego—seakan-akan sebagai pengganti ke­puasan. Ego merasa bahagia;
http://facebook.com/indonesiapustaka

ia bangga atas penolakan tersebut se­ bagai pencapaian berharga.


Kami rasa kami dapat mengikuti mekanis­me dari timbulnya rasa
senang ini. Super-ego adalah penerus dan wakil dari orang tua
(dan pendidik) yang mengarahkan perilaku individu pada masa
kecil; super-ego meneruskan fungsi ini hampir tanpa perubahan. Ia
membuat ego dalam posisi bergantung dan merasakan tekanan secara

- 155 -
Moses and Monotheism

terus-menerus. Ego sangat ingin—seperti yang terjadi pada masa


kecil—untuk mendapatkan cinta dari tuannya dan ia menganggap
peng­hargaan tuannya sebagai rasa lega dan puas, celaan tuannya
dirasa sebagai tusukan hati nurani. Ketika ego telah mengorbankan
dirinya untuk super-ego dengan menolak kepuasan naluriah, ia
berharap untuk mendapatkan lebih banyak rasa cinta. Rasa ketika
cinta itu didapat dianggap sebagai rasa bangga. Pada saat otoritas
ini belum diinternalisasi sebagai super-ego, hubungan di antara
ancaman kehilangan rasa cinta dan per­mintaan naluriah akan tetap
sama. Perasaan aman dan puas di­hasilkan jika setelah terlepas dari
orang tua, ketika seseorang me­laku­kan penolakan naluriah. Perasaan
senang ini dapat menjadi karakter narsisistik akan rasa bangga setelah
otoritas itu sendiri telah men­jadi bagian ego.
Bagaimana penjelasan mengenai kepuasan karena penolakan
naluriah ini dapat membantu kita memahami proses yang ingin
kita kaji, yaitu peningkatan kepercayaan diri yang menyertai ke­
maju­ an spiritualitas? Bantuan itu terlihat sangat kecil karena
situasi­nya di sini sangat berbeda. Tidak ada penolakan naluriah
dan tidak ada orang kedua atau standar lebih tinggi yang akan di­
untung­ kan oleh pengorbanan tersebut. Pernyataan kedua akan
segera terlihat meragukan. Kita dapat berkata: sosok agung adalah
sosok berkuasa, dan demi sosok tersebut, upaya dilakukan; dan
http://facebook.com/indonesiapustaka

karena sosok agung mencapai posisi ini sebagai pengganti ayah,


kita tidak perlu terkejut jika ia memainkan peran super-ego dalam
psikologi kelompok. Karenanya, hal ini akan menguntungkan Musa
dalam hubungannya dengan bangsa Yahudi. Namun demikian,
dalam poin lain tidak ditemukan analogi yang tepat. Kemajuan
spiritualitas termasuk memutuskan sesuatu dengan menolak per­

- 156 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

sepsi akal demi apa yang disebut proses intelek lebih tinggi, yaitu
memori, refleksi, dan pemikiran. Contohnya adalah keputusan
bah­wa posisi ayah lebih tinggi daripada posisi ibu meskipun posisi
ayah tidak dapat dibuktikan secara akal sehat seperti posisi ibu.
Inilah mengapa seorang anak harus membawa nama ayahnya dan
mewarisi sifat ayahnya. Contoh lain yaitu: Tuhan kami Mahaagung
dan Maha Kuasa, meskipun Dia tidak kasat mata seperti badai
dan jiwa. Menolak dorongan naluriah seksual atau agresif terlihat
ber­beda dari hal ini. Pada banyak contoh mengenai kemajuan
spiritualitas—sebagai contoh, dalam menangnya hak sosok ayah—
kita tidak dapat mengetahui otoritas yang memberikan batasan
hal yang harus dinilai lebih tinggi. Dalam kasus ini, otoritas ter­
sebut pasti bukan sosok ayah sendiri, karena hanya kemajuan
spiritualitas itulah yang mengangkatnya pada posisi berkuasa.
Kita pun dihadapkan pada fenomena bahwa selama umat manusia
mengalami perkembangan, dunia akal sehat akan berangsur-angsur
dikuasai oleh spiritualitas dan umat manusia merasa bangga serta
bahagia akan setiap langkah kemajuan. Meskipun demikian,
alasan hal ini terjadi tidak diketahui. Namun demikian, tetap saja
di kemudian hari spiritualitas itu sendiri dikalahkan sepenuhnya
oleh fenomena emosional misterius akan keyakinan. Hal ini adalah
gambaran dari istilah terkenal credo quia absurdum, dan siapapun
http://facebook.com/indonesiapustaka

yang memahaminya akan menganggapnya sebagai pencapaian ter­


tinggi. Mungkin hal yang umum bagi semua situasi psikologis ini
adalah sesuatu lain. Mungkin umat manusia hanya menyatakan
bah­wa pencapaian lebih tinggi adalah hal yang lebih sulit didapat,
dan rasa bangganya akan hal itu hanyalah narsisisme yang diperberat
dengan perasaan bahwa ia telah mengatasi kesulitan.

- 157 -
Moses and Monotheism

Berbagai pertimbangan ini jelas tidak begitu menghasilkan


sesuatu yang memuaskan dan seseorang dapat berpikir bahwa
mereka tidak berurusan dengan investigasi kita mengenai apa
yang membentuk karakter orang Yahudi. Hal tersebut hanya
akan menjadi keuntungan kami. Kendati demikian, pemikiran
ini membuat apa yang berhubungan dengan masalah kita terlihat
karena fakta yang akan menyita perhatian kita lebih ekstensif lagi
nantinya. Agama yang dimulai dengan larangan membuat gambar
Tuhan telah berkembang selama berabad-abad menjadi agama yang
mem­praktikkan penolakan naluriah. Agama tersebut tidak me­
nuntut umatnya menjauhkan diri dari aktivitas seksual; ia merasa
cukup dengan pembatasan kebebasan seksual. Namun demikian,
Tuhan menjadi sosok yang benar-benar jauh dari seksualitas dan
terangkat ke posisi ideal dengan kesempurnaan etis. Etis berarti
pembatasan kepuasan naluriah. Para rasul tidak lelah mengatakan
bahwa Tuhan tidak meminta apa pun dari umat-Nya kecuali hidup
yang adil dan saleh: yaitu, menjauhkan diri dari semua impuls
kepuasan, yang dianggap sebagai hal keji oleh standar moral kita
saat ini. Bahkan nasihat untuk memercayai Tuhan terlihat surut jika
dibandingkan dengan keseriusan tuntutan etis tersebut. Penolakan
naluriah kemudian memainkan bagian penting dalam agama,
meski­pun hal tersebut tidak terdapat dari permulaan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Pembuatan pernyataanlah yang seharusnya menghindari


kesalahpahaman. Meskipun penolakan naluriah—dan etika yang
didasarkan pada hal tersebut—mungkin tidak terlihat berhubungan
dengan inti keagamaan, mereka secara genetis tetap sangat ber­
dekatan dengan agama. Totemisme, bentuk awal agama yang kita
tahu, mencakup sejumlah aturan dan larangan yang berperan se­

- 158 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

bagai bagian penting sistemnya. Aturan dan larangan tersebut tidak


berarti apa-apa, hanya merupakan sebuah penolakan naluriah.
Terdapat penyembahan terhadap Totem yang melarang umatnya
untuk membunuh atau melukai wujud Totem itu; eksogami,
penolakan terhadap sosok ibu dan saudara perempuan yang sangat
di­ingin­kan di dalam kawanan; pemberian hak-hak yang sama kepada
semua anggota kelompok para putra, seperti pembatasan dorong­an
untuk menyelesaikan persaingan dengan tindak kekerasan. De­ngan
aturan-aturan ini, kita harus membedakan permulaan moral dan
aturan sosial. Tidak luput dari perhatian kami bahwa di sini, dua
motivasi berbeda memainkan peranannya. Kedua larang­an yang
pertama bekerja ke arah apa yang diharapkan sosok ayah yang di­
bunuh; kedua larangan tersebut mempertahankan ke­inginan sosok
ayah. Aturan ketiga atas hak-hak sejajar tidak mem­per­timbang­
kan keinginan sosok ayah. Pertimbangannya terdapat di dalam
kebutuhan untuk mempertahankan secara permanen tata masya­
rakat baru yang dibentuk setelah kematian sosok ayah. Jika hal ter­
sebut tidak dilakukan, reversi ke arah situasi awal tidak akan dapat
dihindarkan. Hukum sosial menjadi terpisah dari hukum lain yang
diambil langsung dari konteks keagamaan.
Dalam perkembangan singkat individu manusia, peristiwa-
perisitwa paling penting dari proses tersebut diulangi. Otoritas
http://facebook.com/indonesiapustaka

orangtua jugalah—terutama otoritas ayah yang berkuasa dan mem­


ber­laku­kan hukuman—yang menuntut penolakan naluriah bagi
anaknya dan menentukan apa yang diperbolehkan dan apa yang
di­larang. Apa yang disebut “baik” dan “nakal” oleh anak tersebut
nanti­nya akan menjadi perbuatan baik dan buruk ketika masyarakat
dan super-ego mengambil alih peran orangtua. Namun begitu,

- 159 -
Moses and Monotheism

masih sama juga: penolakan naluriah melalui adanya otoritaslah


yang mengganti dan meneruskan otoritas sosok ayah.
Pandangan kita terhadap masalah ini menjadi lebih dalam
lagi ketika kita mengkaji konsepsi aneh kesucian. Apakah hal yang
benar-benar kita anggap “sakral” dibandingkan dengan hal yang
sangat kita hormati dan akui sebagai hal penting dan signifikan? Di
satu sisi, hubungan di antara hal yang sakral dan agamis tidak dapat
disangkal; hubungan itu sangat ditekankan dan jelas. Segala sesuatu
yang berhubungan dengan agama adalah sakral; ia merupakan
inti kesucian. Di sisi yang lain lagi, penilaian kami terganggu oleh
banyaknya upaya untuk menyatakan kesucian seorang karakter
dengan banyak hal, orang, institusi, dan prosedur lain yang kurang
begitu berhubungan dengan agama. Upaya-upaya ini terkadang
jelas tendensius. Mari kita bergerak dari ciri larangan yang sangat
menaati keyakinan. Hal yang suci sudah pasti sesuatu yang tidak
boleh disentuh. Sebuah larangan lain yang suci memiliki pengaruh
yang sangat kuat, namun sesungguhnya ia tidak memiliki motivasi
rasional. Mengapa berhubungan seksual dengan anak atau saudara
perempuan merupakan kejahatan yang lebih besar dibandingkan
segala jenis hubungan seksual lain? Ketika kami meminta sebuah
penjelasan, pasti kami akan diberitahu bahwa perasaan kita akan
melarang perbuatan tersebut. Namun demikian, penjelasan yang
http://facebook.com/indonesiapustaka

ada hanya berisi bahwa larangan harus dianggap terbukti, sehingga


kami tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.
Kami dapat dengan mudah membuktikan bahwa penjelasan
tersebut merupakan ilusi. Hal yang dianggap menyinggung perasaan
kita pernah menjadi tradisi umum—kita dapat menyebutnya

- 160 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

tradisi suci—pada keluarga penguasa Mesir Kuno dan masyarakat


lain. Setiap Firaun menjadikan saudara perempuannya sebagai istri
utamanya dan pengikut Firaun serta para Ptolemi Yunani tidak
ragu mengikuti contoh ini. Sejauh ini, kami sepertinya dapat me­
mahami bahwa inses—dalam hal ini di antara saudara laki-laki
dan perempuan—merupakan sebuah prerogatif yang dilarang bagi
manusia biasa dan hanya diperbolehkan bagi raja yang mewakili
tuhan di dunia. Dunia mitos Yunani dan Jerman juga bukan pe­
ngecualian dari hubungan inses ini. Kita dapat beranggapan bahwa
kecemasan akan “keluarga” bangsawan tinggi merupakan sisa-sisa
hak kuno itu dan kami menyadari bahwa karena konsekuensi
per­kawinan dalam satu keluarga berlangsung selama bergenerasi-
generasi dalam lingkungan sosial tertinggi, penguasa-penguasa
Eropa pada saat ini merupakan satu keluarga.
Rujukan pada hubungan inses para dewa, raja, dan pahlawan
dapat membantu kita mengeliminasi upaya penjelasan lain, yaitu,
bahwa seseorang mungkin menjelaskan bahaya inses secara biologis
dan menyederhanakannya kepada pengetahuan naluriah bahaya
perkawinan satu keluarga. Hanya saja, tidaklah pasti bahwa memang
terdapat bahaya perkawinan satu keluarga; apalagi ketika masya­
rakat primitif mengetahui dan melawannya. Ketidakpastian dalam
menentukan hubungan yang diizinkan dan dilarang adalah argumen
http://facebook.com/indonesiapustaka

lain yang menentang penjelasan bahwa bahayanya hu­bung­an inses


didasari oleh “perasaan alamiah”.
Rekonstruksi kami mengenai masa prasejarah memberikan
penjelasan lain kepada kita. Hukum eksogami—yang ekspresi
negatif­nya merupakan ketakutan akan inses—merupakan kehendak

- 161 -
Moses and Monotheism

sosok ayah dan peran tersebut diteruskan setelah pembunuhan ter­


jadi. Maka, kekuatan pengaruhnya dan ketidakmungkinan motivasi
rasionalnya merupakan nilai kesuciannya. Saya harus meng­antisipasi
dengan percaya diri bahwa kajian semua kasus lain me­ ngenai
larangan suci akan menuntun kita pada hasil yang sama seperti
bahayanya inses: hal yang suci sebenarnya tidak berarti apa pun,
hanya kehendak sosok ayah yang dipertahankan dari masa lalu. Hal
ini juga akan menjelaskan ambivalensi kata tersebut yang—hingga
kini masih tidak dapat dijelaskan—mengekspresikan konsepsi
kesucian. Ambivalensi inilah yang mengatur hubungan de­ ngan
sosok ayah. “Sacer” tidak hanya berarti “suci” atau “di­berkati”, tetapi
juga sesuatu yang dapat kita terjemahkan menjadi “ter­kutuk” atau
“memuakkan” (auri sacra fames). Namun demikian, ke­hendak sosok
ayah bukanlah hanya sesuatu yang tidak boleh di­sentuh, yang harus
dijunjung tinggi, melainkan juga sesuatu yang membuat kita gemetar
karena ia mengharuskan penolakan naluriah yang menyakitkan.
Ketika kami mengetahui bahwa Musa menyucikan kaumnya
dengan memperkenalkan tradisi khitan, kami memahami makna
tersembunyi di balik kepura-puraan ini. Khitan adalah pengganti
simbolis dari kebiri, sebuah hukuman yang diberikan seorang ayah
pada anak laki-lakinya pada masa lalu dengan kekuasaannya; dan
siapa saja yang menerima simbol ini me­nunjukkan bahwa ia siap
http://facebook.com/indonesiapustaka

menaati kehendak sang ayah, meski taruh­an­nya adalah pengorbanan


diri yang menyakitkan.
Kembali ke etika: kita dapat menyimpulkan bahwa sebagian
aturannya dijelaskan secara rasional oleh kebutuhan untuk me­nan­
dai hak-hak masyarakat untuk individu, hak-hak individu ke­pada
masya­rakat, dan hak-hak individu terhadap individu lain. Namun

- 162 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

begitu, hal yang terlihat misterius, berlebihan, dan jelas mistis


karak­ter­nya dibentuk oleh hubungannya dengan agama, hal yang
ber­asal dari kehendak sosok ayah.

6. Kebenaran dalam Agama

Betapa irinya kami yang hampir tidak memiliki keyakinan


kepada mereka yang yakin akan keberadaan Kekuasaan Tertinggi,
dan karena-Nya dunia ini tidak berarti apa-apa karena Dia Sendiri
adalah pencipta segalanya! Betapa komprehensif, mendetail, dan
pasti doktrin-doktrin para pemeluk agama dibandingkan dengan
upaya keras namun payah mereka dalam menjelaskan doktrin
tersebut. Roh Tuhan, yang merupakan kesempurnaan etis ideal,
telah menanamkan pengetahuan mengenai ideal ini dan pada
saat yang bersamaan dorongan untuk mencapai ideal tersebut
di dalam jiwa manusia. Manusia langsung dapat membedakan
apa yang baik dan terhormat serta apa yang rendah dan hina.
Kehidupan emosional mereka diukur dengan jarak di antara
dirinya dan idealnya. Akan memberikan mereka kepuasan yang
tinggi ketika mereka mendekatkan diri—dalam perihelion—
http://facebook.com/indonesiapustaka

pada ideal tersebut; dan mereka akan terkena hukuman berat jika
mereka—di aphelion—menjauh dari idealnya. Semua doktrin ini
dibangun dengan sangat sederhana dan tidak tergoyahkan. Kita
hanya akan menyesalinya jika pengalaman hidup tertentu dan
pengamatan terhadap dunia memberikan bukti yang membuat
kita sulit menerima hipotesis keberadaan Sang Mahakuasa. Seakan-

- 163 -
Moses and Monotheism

akan dunia sendiri tidak memiliki cukup masalah, kita dihadapkan


dengan tugas menemukan bagaimana orang-orang yang percaya
adanya Tuhan mulai memercayainya dan dari mana kepercayaan
itu memiliki kekuatan besar yang membuatnya mengalahkan
penalaran dan ilmu pengetahuan.18
Mari kita kembali ke masalah lebih sederhana yang me­
nyibuk­kan kita sejauh ini. Tulisan kami ini berfungsi untuk men­
jelas­kan dari mana datangnya karakter aneh bangsa Yahudi yang ke­
mungkinan besar merupakan hal yang membuat mereka bertahan
hingga saat ini. Kami paham bahwa Musa menciptakan karakter
mereka dengan memberikan sebuah agama yang meningkatkan ke­
percayaan diri mereka sampai tahap tertentu dan membuat mereka
yakin bahwa diri mereka sendiri lebih tinggi dari orang lain. Mereka
bertahan dengan mengasingkan diri dari bangsa lain. Percampuran
darah hanya menghasilkan perbedaan kecil, karena yang tetap me­
nyatukan mereka adalah suatu ideal—hal yang sama-sama mereka
miliki, yaitu nilai intelektual dan emosional tertentu. Agama
Musa memiliki efek ini karena (1) agama tersebut mengizinkan
umat­nya berbagi konsepsi barunya mengenai Tuhan, (2) karena
agama tersebut menekankan bahwa umatnya telah “terpilih” oleh
Tuhan yang agung ini dan ditakdirkan untuk menikmati bukti ke­
istimewa­an mereka, dan (3) karena agama tersebut memaksa umat­
http://facebook.com/indonesiapustaka

nya memercayai kemajuan spiritualitas yang cukup signifikan dan


mem­buka jalan bagi mereka untuk menghargai karya intelektual
dan penolakan naluriah lebih jauh.

18 (Sebuah kutipan dari teks di Faust “Verachte nur Vernunft und


Wissenschaft.” Terjemahan.)

- 164 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

Inilah kesimpulan yang telah kita dapatkan, namun, meskipun


saya tidak ingin menarik kembali ucapan saya sebelumnya, saya
tidak dapat menyangkal perasaan bahwa penjelasan saya tidak se­
mua­­nya memuaskan. Penyebabnya tidak sesuai dengan hasilnya.
Fakta yang sedang kita coba jelaskan terlihat tidak selaras dengan
segala yang telah kita kemukakan dan jelaskan. Mungkinkah semua
investigasi kita sejauh ini belum menemukan keseluruhan motivasi,
namun hanya lapisan superfisial, dan yang di baliknya tersembunyi
komponen sangat signifikan lain? Setelah mempertimbangkan be­
tapa sangat membingungkannya semua hubungan sebab-akibat da­
lam kehidupan dan sejarah, kita seharusnya lebih siap untuk meng­
hadapi­nya.
Jalan menuju motivasi lebih mendalam ini dimulai dari pem­
bahasan tertentu yang kita diskusikan sebelumnya. Pengaruh agama
Musa tidak terjadi secara langsung, tetapi tidak langsung. Ini tidak
berarti bahwa agama tersebut tidak menghasilkan efeknya sendiri.
Perlu waktu yang lama dan berabad-abad untuk mencapainya; dan
tidak perlu dibuktikan sejauh apa perkembangan karakter umatnya
ter­sebut dicapai. Namun demikian, modifikasi kami merujuk pada
fakta yang telah kami ambil dari sejarah agama Yahudi atau lebih
tepat­nya bagi beberapa orang, sejarah yang telah diperkenalkan
kepada kami. Kami menyebutkan bahwa bangsa Yahudi melepaskan
http://facebook.com/indonesiapustaka

agama Musa setelah waktu tertentu; apakah mereka melepaskannya


sama sekali atau masih mempertahankan beberapa ajarannya, tidak
bisa kami jelaskan. Dalam menerima anggapan bahwa selama
periode panjang peperangan untuk Kanaan, dan pergelutan dengan
orang-orang yang telah menetap di sana, agama Yahweh tidak
begitu berbeda dari penyembahan Baalim lain—kami berdiri pada

- 165 -
Moses and Monotheism

dasar historis—terlepas dari upaya tendensius penyembahan untuk


menutupi situasi yang memalukan tersebut. Namun begitu, agama
Musa belum mati. Sebuah jenis memori akan agama tersebut telah
bertahan, tertutupi, dan mengalami distorsi, namun mungkin di­
dukung oleh anggota individu kasta Pendeta melalui tulisan-tulisan
kuno. Tradisi masa lalu inilah yang terus melancarkan pengaruhnya
dari balik layar; ia kemudian perlahan semakin mendapat kekuatan
dari pikiran masyarakatnya dan pada akhirnya berhasil mengubah
tuhan Yahweh menjadi Tuhan yang disembah oleh Musa dan yang
meng­ hidupkan kembali agama Musa yang telah dibentuk dan
ditinggalkan berabad-abad lalu.
Dalam bab awal buku ini, kita telah mendiskusikan hipotesis
yang terlihat tidak terhindarkan jika kita mencoba memahami bahwa
pencapaian yang seperti itu dapat dimengerti jika dihubungkan
dengan tradisi.

7. Kembalinya Hal yang Tertahan

Ada beberapa proses serupa di antara proses-proses yang di­


per­kenalkan kepada kita oleh investigasi analitis kehidupan mental.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Be­berapa dari mereka disebut patologis; sisanya diangap varietas


normal. Hal ini sedikit berpengaruh karena batas-batas di antara
ke­
duanya tidak didefinisikan dengan jelas dan mekanismenya
sampai tahap tertentu masih sama. Jauh lebih lebih penting untuk
mem­pertimbangkan apakah perubahan tersebut berlangsung di ego

- 166 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

itu sendiri atau ia dianggap sebagai proses asing; dalam kasus yang
kedua, perubahan tersebut disebut gejala. Dari banyaknya materi
yang saya susun, saya akan memilih kasus-kasus yang berhubungan
dengan pembentukan karakter.
Seorang gadis kecil telah berkembang menjadi sosok yang sangat
berbeda dengan ibunya; ia telah mengembangkan kualitas yang ia
tidak dapatkan pada diri ibunya dan menghindari semua kualitas
yang mengingatkannya pada ibunya. Kita dapat tambahkan bahwa
pada tahun-tahun awal, ia telah mengidentifikasikan dirinya dengan
ibunya—seperti semua anak perempuan lain—dan sekarang ia
sangat menolak identifikasi tersebut. Namun demikian, ketika anak
ini menikah dan menjadi seorang istri dan ibu, secara mengejutkan
ia akan menjadi semakin mirip seperti sosok ibu yang dipikirnya
berlawanan dengan dirinya, sampai akhirnya identifikasi yang
telah ia kalahkan kemudian sekali lagi mendapatkan kemenangan
telak. Hal yang sama terjadi pada anak laki-laki, bahkan Goethe
yang agung, yang di dalam periode Sturm und Drang-nya benar-
benar tidak menghormati ayahnya yang berlagak pintar dan kaku.
Hasil ini akan lebih mencengangkan karena perbedaan di antara
kedua orang tersebut lebih terlihat jelas. Pria muda, yang nasibnya
ditentukan oleh pertumbuhan diri di bawah pengawasan ayahnya
yang tidak berguna, awalnya menjadi pria yang serbabisa, dapat
http://facebook.com/indonesiapustaka

dipercaya dan terhormat. Dalam prima kehidupannya, karakternya


berubah dan sejak itu ia bersikap seakan-akan ia telah mencontoh
ayahnya. Supaya kita tidak lepas dari topik kita, kita harus ingat
bahwa pada awal proses perkembangan, selalu ada identifikasi
dengan sosok ayah sejak masa kecil. Hal ini kemudian ditolak,
bahkan secara berlebihan, namun pada akhirnya muncul kembali.

- 167 -
Moses and Monotheism

Telah lama berlalu sejak kita semua tahu bahwa pengalaman


yang terjadi pada lima tahun kanak-kanak pertama memiliki
pengaruh paling besar dalam kehidupan kita, pengaruh yang di
kemudian hari ditentang oleh peristiwa yang ada. Banyak yang
dapat dibahas mengenai betapa pengalaman-pengalaman awal ini
me­ngalahkan segala upaya modifikasi yang dilakukan pada masa
dewasa, namun hal ini tidak akan relevan dengan topik kita. Meski­
pun begitu, mungkin tidak banyak diketahui bahwa pengaruh
obsesif yang terkuat datang dari pengalaman yang dimiliki seorang
anak saat kita berpikir bahwa kemampuan psikisnya belum mampu
menerima pengalaman tersebut. Fakta itu sendiri tidak diragukan,
namun terlihat sangat aneh ketika kita mungkin mencoba mem­
buatnya lebih mudah dimengerti dengan menggunakan simile;
proses tersebut dapat dibandingkan dengan sebuah film foto yang
dapat dikembangkan dan dibuat menjadi foto setelah interval yang
sebentar atau lama. Saya ingin menunjukkan bahwa seorang penulis
imajinatif, dengan keberanian yang dimiliki penulis sejenisnya,
menghasilkan temuan menggelisahkan ini sebelum saya dapat me­
nemukannya. E.T.A. Hoffmann pernah menjelaskan kekayaan
figur-figur imajinatif yang menawarkan diri mereka untuk dijadikan
cerita dengan gambar dan kesan yang berubah dengan cepat—
gambar dan kesan yang telah Hoffmann terima saat ia pergi dengan
http://facebook.com/indonesiapustaka

kereta pos—bertahan selama beberapa minggu—ketika ia masih


bayi dan menyusu ibunya. Hal yang dialami oleh seorang anak dan
tidak ia mengerti ketika ia mencapai umur dua tahun, mungkin
tidak dapat ia ingat lagi, kecuali di mimpinya. Hanya melalui psiko­
analisis ia dapat mengingat peristiwa-peristiwa tersebut. Pada tahun-
tahun berikutnya, peristiwa-peristiwa tersebut dapat masuk ke ke­

- 168 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

hidupannya dengan impuls obsesif, langsung menjadi sikapnya,


dan memaksanya menyukai atau tidak menyukai manusia, serta
sering memutuskan pilihan objek cintanya dengan pilihan yang
sering­nya tidak dapat dijelaskan secara rasional. Kedua poin yang
me­nyentuh masalah yang kita hadapi saat ini tidak dapat disangkal.
Poin pertama adalah jauhnya jarak waktu,19 yang dianggap sebagai
faktor penentu. Contohnya yaitu pada kondisi memori khusus, di
situ pengalaman-pengalaman masa kecil ini kita kategorikan sebagai
pe­ngalaman “bawah sadar”. Kita ingin menemukan sebuah analogi
dengan kondisi mental yang dianggap berasal dari tradisi ketika ia
aktif di dalam kehidupan emosional mental sebuah masyarakat.
Memang tidak mudah untuk memperkenalkan konsepsi bawah
sadar kepada psikologi kelompok.
Kontribusi terhadap fenomena yang sedang terus-menerus
kita cari dibentuk oleh mekanisme yang menuntun pada gangguan
mental. Di sini, pengalaman masa kecil yang menentukan hidup
kita mem­beri­kan pengaruh yang bertahan lama, namun dalam ka­
sus ini, penekanannya bukan pada waktu, melainkan pada proses
yang menentang peristiwa itu, reaksi yang menentangnya. Se­cara
skematis, memang demikian adanya. Sebagai konsekuensi pe­
ngalam­an tertentu, muncullah permintaan naluriah yang meng­
ingin­kan ke­puas­an. Ego menolak perasaan itu, entah karena ia lum­
http://facebook.com/indonesiapustaka

19 Seorang penyair mungkin berbicara kepada kita. Untuk menjelaskan


kasih sayang yang ia bayangkan
Ach du warst in abgelebten Zeiten
Meine Schwester oder meine Frau.
Goethe, Vol. IV dari Edisi Weimar, p. 97.
(Karena dalam kehidupan sebelumnya, kita berdua telah memiliki
Engkau, Cinta, yaitu saudara perempuan saya atau istri saya.)

- 169 -
Moses and Monotheism

puh di­sebab­kan oleh membuncahnya dorongan itu atau karena ia


me­lihat­nya sebagai bahaya. Alasan pertama ini merupakan alasan
yang se­­sungguhnya; namun keduanya berakhir dengan ter­hindar­
kan­ nya situasi bahaya tersebut. Ego bertahan untuk melawan
bahaya tersebut de­ngan penolakan. Rangsangan ini kemudian di­
cegah dengan ber­bagai cara; hasutannya—dengan pengamatan dan
persepsinya—ke­mudian terlupakan. Namun demikian, hal ini tidak
meng­hentikan proses tersebut; entah naluri menjaga kekuatannya
atau ia akan me­nambah kekuatan tersebut, atau juga ia terbangun
kembali karena situasi baru. Ia memperbarui klaimnya—karena
kepuasan normal ter­sebut dihalangi oleh hal yang kita sebut jaringan
luka penolakan—dan pada poin lemah tertentu menambah akses
ke hal yang disebut ke­puasan pengganti, yang kemudian terlihat
se­
bagai gejala, tanpa per­ setujuan dan pemahaman ego. Semua
fenomena pembentukan gejala cukup dapat dideskripsikan sebagai
“kembalinya hal yang ter­tahan”. Karakter pembeda dari fenomena
ter­sebut terdapat pada distorsi ekstensif yang telah dialami unsur-
unsur yang kembali, di­banding­kan dengan bentuk asli mereka.
Mungkin sanggahan akan di­ajukan bahwa dalam kelompok fakta
ter­akhir ini, kita telah terlalu jauh menyimpang dari kesamaan ter­
hadap tradisi. Hanya saja, kita tidak boleh menyesalinya jika kajian
ini menuntun kita lebih dekat pada masalah-masalah penolakan
http://facebook.com/indonesiapustaka

naluriah.

- 170 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

8. Kebenaran Sejarah

Kita telah membuat semua penyimpangan psikologis untuk


membuat gagasan yang lebih kredibel mengenai agama Musa
yang mempraktikkan pengaruhnya pada bangsa Yahudi hanya saat
agama tersebut menjadi tradisi. Kita hampir tidak mencapai apa
pun selain kemungkinan. Namun demikian, mari kita berasumsi
bahwa kita telah berhasil membuktikan hal ini secara konklusif;
kesannya masih tetap ada bahwa kita hanya telah memuaskan
faktor kualitatif dalam kajian ini, sementara kuantitatifnya tidak.
Untuk semua hal yang berhubungan dengan penciptaan agama—
dan jelas mengenai agama Yahudi—terdapat sesuatu yang istimewa,
yang sejauh ini belum kita bahas dalam penjelasan kita. Unsur lain
juga harus mengambil bagian di dalamnya: elemen yang memiliki
beberapa analogi dan tidak ada yang menyamai, sesuatu yang unik
dan sesuai dengan hasil yang berkembang darinya, sesuatu seperti
agama itu sendiri.
Marilah kita lihat apakah kita dapat mendekati subjek kita
dari sisi sebaliknya. Kita paham bahwa orang primitif memerlukan
Tuhan sebagai pencipta alam semesta, sebagai ketua sukunya, dan
seseorang yang akan menjaganya. Tuhan ini menempati posisinya
di balik sosok ayah yang telah meninggal, yang tradisinya masih
http://facebook.com/indonesiapustaka

berhubungan dengan orang tersebut. Manusia pada masa lebih


modern—contohnya pada saat ini—juga bersikap serupa. Ia tetap
kekanak-kanakan dan memerlukan perlindungan, bahkan ketika
ia telah benar-benar dewasa; ia merasa tidak dapat melepaskan
sokongan Tuhannya. Banyak hal yang tidak terbantahkan, namun
tidak mudah untuk mengerti alasan mengapa hanya harus ada

- 171 -
Moses and Monotheism

satu Tuhan, mengapa hanya perubahan dari henoteisme ke mono­


teisme yang mendapatkan efek yang teramat sangat besar dan
pen­ting. Memang, seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya,
pe­meluk kepercayaan itu juga berpartisipasi membangun ke­
agungan Tuhannya dan semakin agung Tuhannya, semakin pasti
per­lindungan yang dapat dicurahkan. Akan tetapi, kekuatan Tuhan
tidak memberi kita asumsi bahwa ia adalah Tuhan satu-satunya:
banyak orang hanya mengagungkan tuhannya jika ia lebih kuat di­
banding tuhan-tuhan kecil lain; ia tidak kurang agung karena ada
tuhan-tuhan lain selain Dia. Hal itu juga berarti mengorbankan
hubungan dekat umat dan Tuhannya jika Tuhan menjadi universal
dan adil terhadap semua negara dan bangsa. Seseorang harus ber­
bagi Tuhannya dengan orang asing dan harus rela bahwa orang
asing itu juga disayangi oleh Tuhan. Sebuah poin dapat dibuat bah­
wa konsepsi Tuhan Yang Esa menandai kemajuan spiritualitas yang
satu langkah di depan; namun, poin ini tidak dapat diestimasi ter­
lalu tinggi.
Pemeluk agama sejati tahu betul cara mengisi jurang motivasi
ini. Ia berkata bahwa gagasan Tuhan Yang Esa memiliki efek besar
pada umat manusia karena sebagian kebenaran yang tersembunyi
selama waktu yang lama, akhirnya muncul dan menghapuskan
semua hal di hadapannya. Kami harus mengakui bahwa pada akhir­
http://facebook.com/indonesiapustaka

nya kami memiliki sebuah unsur dari tata kehidupan yang sesuai
dengan keagungan subjeknya serta keberhasilan pengaruhnya.
Saya juga harus menerima solusi ini. Namun demikian, saya
memiliki perasaan waswas. Argumen keagamaan didasarkan pada
premis optimistis dan idealistis. Kecerdasan manusia tidak muncul
untuk menerima unsur kebenaran, pemikiran manusia juga tidak

- 172 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

menunjukkan kesiapan untuk menerima kebenaran itu. Sebaliknya,


merupakan pengetahuan umum bahwa kecerdasan manusia sangat
mudah melakukan kesalahan tanpa kita curigai sama sekali dan
bahwa tidak ada yang lebih mudah dipercayai—terlepas dari ke­
benaran­nya—di samping hal yang sesuai dengan keinginan dan ilusi
kita. Inilah mengapa persetujuan kami perlu dimodifikasi. Saya juga
harus memberikan pengakuan bahwa hal tersebut mengandung
kebenaran; bukan kebenaran materi, melainkan kebenaran sejarah.
Saya akan menggunakan hak untuk membetulkan distorsi tertentu
yang kebenaran ini mengalami kemunculannya kembali. Dapat
dikatakan bahwa: Saya tidak percaya bahwa Tuhan Mahakuasa dan
Maha Esa “ada” pada saat ini, tetapi saya percaya bahwa pada masa
lampau ada satu orang yang terlihat besar dan yang—setelah di­
angkat menjadi tuhan—muncul kembali ke ingatan orang-orang.
Dugaan kita adalah bahwa agama Musa ditinggalkan serta
cukup terlupakan dan bahwa nantinya ia memaksakan dirinya se­
bagai sosok dianggap manusia sebagai tradisi. Saya membuat asumsi
bahwa proses ini adalah pengulangan dari proses yang telah ter­jadi.
Ketika Musa memberikan umatnya konsepsi Tuhan yang Maha Esa,
hal tersebut sama sekali bukan gagasan baru, karena yang dimaksud
adalah pembangkitan kembali pengalaman umat manusia pada ma­
sa purba yang telah sangat lama hilang dari ingatan sadar manusia.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Meski begitu, pengalaman ini merupakan pe­ngalaman yang pen­


ting dan telah menghasilkan, atau setidaknya mem­per­siap­kan, per­
ubahan sangat besar dalam kehidupan manusia. Saya tidak dapat
menghalangi pemikiran saya bahwa perubahan tersebut pasti me­
ninggalkan jejak permanen dalam jiwa manusia—sesuatu yang da­
pat di­bandingkan dengan tradisi.

- 173 -
Moses and Monotheism

Psikoanalisis individu telah mengajarkan kita bahwa kesan


paling awal—yang diterima saat anak belum dapat berbicara—me­
mani­festasi­kan dirinya dalam cara yang obsesif, meski kesan itu
sen­diri tidak diingat dengan sadar. Kita merasa bahwa hal yang
sama juga terjadi pada pengalaman paling awal umat manusia. Satu
contoh hasil dari hal ini adalah kemunculan konsepsi satu Tuhan
agung. Hal tersebut pastinya dikenal sebagai sebuah memori yang
me­mang mengalami distorsi, namun tetap sebuah memori. Ia me­
miliki kualitas obsesif; yang memang harus dipercayai. Selama
distorsi itu terjadi, hal tersebut dapat disebut delusi; karena ia mem­
bawa sesuatu dari masa lalu, hal tersebut harus disebut kebenaran.
Delusi psikiatri juga berisi partikel kebenaran; keyakinan pasien
berasal dari hal ini dan menyebar ke pemalsuan delusi yang me­
ngelilinginya.
Halaman-halaman selanjutnya berisi pengulangan yang
hampir tidak diubah dari hal yang telah saya sebutkan di bagian
per­tama. Pada 1912, di buku saya, Totem and Taboo, saya mencoba
me­rekonstruksi situasi kuno yang menghasilkan semua efek ini.
Dalam buku tersebut, saya menggunakan refleksi teoretis tertentu
daru Charles Darwin, Atkinson, dan terutama Robertson Smith.
Saya menggabungkannya dengan temuan dan saran dari praktik
psiko­analisis. Dari Darwin, saya meminjam hipotesis bahwa bahwa
http://facebook.com/indonesiapustaka

manusia tinggal di kelompok-kelompok kecil; setiap kelompok ter­


sebut berdiri di bawah kekuasaan pemimpin pria yang lebih tua. Ia
memerintah dengan semena-mena, mengambil semua wanita, dan
mem­pekerjakan atau membunuh semua pria muda, termasuk anak
laki-lakinya sendiri. Dari Atkinson, saya menerima saran bahwa
sistem patriarkat berakhir karena pemberontakan anak laki-lakinya,

- 174 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

yang bersatu untuk melawan, menggulingkan, dan bersama-sama


me­ nyantap tubuh ayahnya. Mengikuti teori totem Robertson
Smith, saya memiliki gagasan bahwa kelompok yang sebelumnya
di­perintah oleh sosok ayah, kemudian diteruskan oleh sebuah klan
para putra yang totemistis. Agar dapat hidup dalam kedamaian de­
ngan satu sama lain, para putra tersebut meninggalkan para wanita
yang menyebabkan mereka membunuh sang ayah dan setuju untuk
mem­praktikkan eksogami. Kekuatan sang ayah dipatahkan dan ke­
luarganya menganut sistem matriarki. Ambivalensi para anak laki-
laki terhadap sang ayah tetap hidup selama perkembangan lebih
lanjut. Alih-alih sosok ayah, hewan tertentu diangkat sebagai totem;
ia berperan sebagai nenek moyang dan roh pelindung mereka, tidak
ada seorang pun yang dapat melukai atau membunuhnya. Akan
te­tapi, setiap tahun seluruh klan mengadakan perjamuan makan
yang di situ hal yang dianggap totem tersebut dipotong-potong dan
di­santap. Tidak ada yang boleh tidak hadir dalam perjamuan ter­
sebut; hal itu merupakan pengulangan pembunuhan terhadap ayah,
yang di situlah tata sosial, hukum moral, dan agamanya memiliki
awal mula. Korespondesi perjamuan totem (menurut deskripsi
Robertson Smith) dengan Komuni Kristian telah mengejutkan
banyak penulis sebelum saya.
Saya masih menaati rangkaian pemikiran ini. Saya sering
http://facebook.com/indonesiapustaka

dimaki dengan keji karena tidak mengubah opini saya pada edisi-
edisi baru buku saya, karena banyak etnologis baru tanpa terkecuali
membuang teori Robertson Smith dan mengganti sebagiannya
dengan teori lain yang sangat berbeda. Saya akan menjawab bahwa
hal yang dianggap sebagai kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan
ini sangat saya ketahui. Akan tetapi, saya belum juga yakin akan

- 175 -
Moses and Monotheism

kebenarannya maupun kesalahan Robertson Smith. Kontradiksi


tidak selalu berupa sangkalan; teori baru bukan berarti menghasilkan
kemajuan. Meskipun demikian, saya bukan seorang etnologis,
melainkan seorang psikoanalis. Merupakan hak saya untuk memilih
data etnologis apa yang akan membantu saya dalam melakukan
kajian analitis saya. Tulisan Robertson Smith yang sangat berbakat
memberikan saya poin kontak berharga dengan materi analisis
psikologis dan saran penggunaannya. Saya tidak dapat mengatakan
hal yang sama mengenai tulisan orang-orang yang menentangnya.

9. Perkembangan Sejarah

Saya tidak dapat mengulang kembali isi Totem and Taboo,


namun saya harus mencoba membuat laporan mengenai interval
panjang yang terdapat di antara peristiwa yang kami duga ter­
jadi pada masa lampau dan kemenangan monoteisme di masa
historis. Setelah kombinasi klan para putra, matriarki, eksogami,
dan totemisme dibentuk, muncullah perkembangan yang dapat di­
deskripsi­kan sebagai “kembalinya hal yang tertahan” dengan per­
lahan. Istilah “tertahan” di sini digunakan bukan dalam konteks
http://facebook.com/indonesiapustaka

teknis. Yang saya maksud adalah sesuatu dari masa lalu, yang telah
hilang dan dikalahkan dalam kehidupan sebuah masyarakat, saya
akan meng­anggap hal tersebut sejajar dengan materi yang tertahan
dalam kehidupan mental individu. Kami belum dapat menjelaskan
ben­tuk psikologis apa yang terbentuk saat periode kegelapan terjadi.

- 176 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

Tidaklah mudah untuk menerjemahkan konsep psikologi individu


men­jadi psikologi kelompok dan saya yakin banyak hasil akan
dicapai dengan memperkenalkan konsep dari sebuah alam bawah
sadar “kolektif ”—karena isi dari alam bawah sadar memang sudah
kolektif, sebuah hal yang umumnya dimiliki umat manusia. Jadi,
sementara penggunaan analogi pasti akan membantu kita. Proses
yang kita pelajari pada kehidupan sebuah masyarakat sangat mirip
dengan proses yang kita kenal dari psikopatologi, namun mereka
tetap tidak sama. Kita harus menyimpulkan bahwa residu mental
masa lampau telah menjadi sebuah warisan yang hanya perlu di­
bangkit­kan oleh setiap generasi baru, tidak didapatkan lagi. Kita
mung­ kin dapat memberikan contoh menggunakan simbolisme
ber­bicara, yang pastinya seperti bawaan lahir. Simbolisme tersebut
ber­asal dari masa perkembangan berbicara dan dikenal oleh semua
anak tanpa instruksi spesifik. Hal yang sama terjadi pada semua
bang­sa terlepas dari perbedaan bahasa. Apa yang masih kurang pasti
bagi kita dapat kita peroleh dari hasil lain investigasi psikoanalisis.
Kita paham bahwa anak-anak kita dalam beberapa hubungan yang
signifikan tidak bereaksi sebagaimana pengalaman mereka, hal yang
kita antisipasi; mereka bereaksi secara naluriah, seperti hewan; hal
ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan warisan filogenetis.
Kembalinya hal yang tertahan terjadi dengan perlahan; hal
http://facebook.com/indonesiapustaka

tersebut jelas tidak terjadi secara spontan, namun di bawah pengaruh


semua perubahan pada kondisi kehidupan yang banyak terjadi
selama sejarah peradaban. Saya di sini tidak dapat memberikan
survei mengenai kondisi yang menentukan juga tidak bisa mem­
berikan lebih banyak enumerasi mengenai tahapan-tahapan proses
kembalinya hal yang tertahan tersebut. Sosok ayah kembali menjadi

- 177 -
Moses and Monotheism

kepala keluarga, namun ia tidak lagi mahakuasa seperti sosok ayah


kelompok pada masa purba. Dalam tahap transisi yang mudah
dilihat, hewan totem digantikan oleh tuhan. Tuhan, dalam wujud
manusia, awalnya masih berkepala hewan; nantinya ia tidak ingin
meng­gunakan wujud hewan yang sama. Nantinya juga, hewan ter­
sebut menjadi suci baginya dan menjadi kawan favoritnya, jika
tidak, ia dipercaya membunuh hewan itu, ketika ia menambahkan
nama hewan tersebut pada namanya. Di antara hewan totem dan
tuhan, seorang pahlawan muncul; hal ini sering terjadi pada tahap
awal penuhanan. Gagasan Sosok Maha Tinggi terlihat muncul
lebih awal; pada mulanya, gagasan tersebut agak berbayang dan
sama sekali tidak berhubungan dengan hal yang dilakukan umat
manusia sehari-hari. Ketika suku-suku dan masyarakat bersatu
men­jadi kesatuan lebih besar, sosok-sosok tuhan juga menjadi lebih
tertata menjadi keluarga-keluarga dan dalam hierarki. Seringnya,
salah satu dari mereka diangkat menjadi pemimpin tuhan lain dan
umat manusia. Langkah berikutnya untuk menyembah hanya satu
Tuhan diambil dengan ragu-ragu hingga pada akhirnya keputusan
ter­sebut dibuat untuk menyerahkan semua kekuasan kepada hanya
satu Tuhan, dengan tidak membuat tuhan-tuhan lain yang berada
di sampingnya menderita. Setelah itu, baru kekuasaan sosok ayah
ma­sa lalu dipulihkan; perasaan-perasaan yang ia miliki kemudian
http://facebook.com/indonesiapustaka

da­pat terulang.
Efek pertama dari pertemuan kembali dengan hal yang
telah lama dirindukan oleh umat manusia benar-benar luar biasa
dan persis seperti yang digambarkan tradisi pemberian hukum di
Gunung Sinai. Terdapat kekaguman, rasa takjub, dan perasaan ber­
terima kasih ketika orang-orang menemukan rasa cinta ter­hadap

- 178 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

diri mereka di mata Tuhan: agama Musa hanya mengenal pe­rasa­an


positif ini dari Sang Bapa. Keyakinan bahwa kekuatan-Nya tidak
terbendung, ketaatan terhadap kehendak-Nya, sama persis seperti
apa yang dilakukan anak laki-laki yang tidak berdaya dan ter­
intimidasi oleh sosok ayah di dalam kelompok yang telah di­sebut­
kan; keyakinan dan ketaatan tersebut memang dapat benar-benar
dimengerti dengan transformasi ke dalam lingkungan sosial primitif
dan kekanak-kanakan. Perasaan kekanak-kekanakan jauh lebih
intens dan sangat mendalam dibandingkan dengan perasaan orang
dewasa; hanya ekstasi yang berupa agama yang dapat membawa
kembali intensitas tersebut. Selanjutnya, kebaktian terhadap Tuhan
me­rupakan respons pertama dari kembalinya sosok Bapa Agung.
Arah yang dituju agama Bapa tersebut memang sudah ditetap­
kan, namun perkembangannya belum langsung selesai. Ambivalensi
terdapat pada inti hubungan ayah-anak dalam agama ini; hal
tersebut harus terjadi sehingga seiring berjalannya waktu, ke­bencian
harus digerakkan. Sampai di masa lampau anak-anak laki-lakinya
membunuh sosok ayah yang mereka kagumi dan takuti. Dalam agama
Musa sendiri, tidak ada ruang bagi ekspresi lang­sung akan kebencian
terhadap sosok ayah yang berujung pada pem­bunuhannya. Hanya
reaksi kuat akan hal tersebut yang dapat me­munculkan dirinya: rasa
bersalah karena kebencian itu, rasa ber­salah karena ia telah berdosa
http://facebook.com/indonesiapustaka

kepada Tuhan dan terus melakukan dosa. Perasaan bersalah ini, yang
dipertahankan dengan sangat oleh para Rasul, dan yang nantinya
menjadi bagian penting dari sis­tem agama itu sendiri, memiliki
motivasi superfisial lain yang de­ngan cerdik menutupi asal mula
perasaan tersebut. Orang-orang itu menemui masa sulit; harapan
yang didasarkan pada gagasan mereka disayangi Tuhan dipenuhi

- 179 -
Moses and Monotheism

dengan lambat; tidaklah lagi mudah untuk menaati ilusi bahwa


mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Tuhan. Jika mereka
ingin tetap bahagia, maka rasa bersalah karena mereka sendiri adalah
pendosa menyambut dalih mengenai kekejaman Tuhan. Mereka
tidak berhak atas apa pun dan pantas dihukum oleh-Nya karena
mereka tidak menaati hukum­ nya; keinginan untuk memuaskan
perasaan bersalah ini, yang terasa tidak dapat dipuaskan—hal ini
datang dari hati yang lebih dalam—membuat mereka mengubah
ajaran agama menjadi lebih ketat, lebih sulit, dan juga lebih picik.
Dalam sebuah pertapaan moral baru, bangsa Yahudi terus-menerus
memaksa diri mereka sendiri meningkatkan penolakan naluriah dan
kemudian mereka men­capai tahap etis—setidaknya dalam doktrin
dan ajaran—yang tetap tidak dapat dicapai oleh bangsa kuno lain.
Banyak orang Yahudi menganggap aspirasi ini sebagai karakteristik
utama kedua dan pencapaian terbesar kedua dari agama mereka.
Pengamatan kami dimaksudkan untuk memperlihatkan bagaimana
hal tersebut ber­ hubungan dengan karakteristik dan pencapaian
yang pertama, konsepsi mengenai Tuhan Yang Maha Esa. Akan
tetapi, asal mula etika dalam perasaan bersalah ini, karena rasa benci
yang tertahan ter­hadap Tuhan, tidak dapat terbantahkan. Hal ini
membawa karakteristik bahwa ia tidak pernah disimpulkan dan
tidak akan bisa, hal yang kita kenal dalam pembentukan reaksi dari
http://facebook.com/indonesiapustaka

gangguan mental obsesional.


Perkembangannya lebih jauh melampaui agama Yahudi.
Unsur-unsur lain yang muncul kembali dimainkan oleh sosok ayah
pada masa lampau dan sama sekali tidak dapat didamaikan dengan
agama Musa. Perasaan bersalah pada masa itu tidak lagi dibatasi
kepada bangsa Yahudi; perasaan tersebut terjadi pada semua bangsa

- 180 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

Mediterania sebagai perasaan tidak nyaman yang samar, sebuah


firasat akan nasib buruk yang tidak seorang pun tahu alasannya.
Sejarah modern berbicara mengenai perkembangan budaya lampau.
Saya mnduga bahwa hal itu hanya menahan beberapa sebab yang
menambah kejengkelan semua orang. Jelasnya, bentuk penindasan
tersebut dimulai dari bangsa Yahudi. Meskipun gagasan tersebut
telah dibangun dari banyak petunjuk sugestif dari berbagai suku,
merupakan seorang Yahudi, Saul dari Tarsus, yang sebagai penduduk
Roma dikenal sebagai Paul, yang membuat persepsi: “karena kami
membunuh Tuhan sang Bapa-lah kami menjadi sangat sedih.”
Cukup jelas bagi kita mengapa ia dapat memahami kebenaran ini
dalam wujud delusi kabar gembira: “kami semua telah merasakan
semua jenis rasa bersalah karena salah satu dari kami mengorbankan
nyawanya untuk menebus rasa bersalah kami.” Dalam formulasi ini,
pembunuhan tuhan sudah jelas tidak disebutkan, namun sebuah
tindakkan kriminal yang harus ditebus dengan sebuah kematian
hanya berarti pembunuhan. Lebih jauh lagi, hubungan di antara
delusi dan kebenaran historis dibangun dengan jaminan bahwa
orang yang mengorbankan dirinya tersebut adalah Anak dari Bapa.
Kekuatan keyakinan baru yang diambil dari sumbernya dalam
kebenaran sejarah ini membuatnya mampu menghadapi semua
rintangan; perasaan menjadi orang terpilih membawa keyakinan
http://facebook.com/indonesiapustaka

bahwa mereka akan diselamatkan. Fakta mengenai pembunuhan


terhadap ayah yang diulang tersebut menghadirkan memori umat
manusia untuk mengatasi rintangan lebih besar daripada rintangan
yang mengandung inti monoteisme; ia harus mengalami distorsi
yang lebih ekstensif. Tindak kriminal yang tidak dapat disebutkan

- 181 -
Moses and Monotheism

tersebut digantikan dengan prinsip konsepsi yang agak kurang jelas


mengenai dosa yang sesungguhnya.
Dosa dan penyelematan yang sesungguhnya melalui pe­ngor­
ban­an diri menjadi dasar agama baru yang didirikan oleh Paul.
Pertanyaan mengenai apakah ada pemimpin dan pelaksana pem­
bunuhan di antara kumpulan para putra yang memberontak ter­
hadap ayahnya, atau apakah ada seorang sosok diciptakan oleh para
penyair yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai para pahlawan
dan kemudian digabungkan ke dalam tradisi, tetap belum terjawab.
Setelah doktrin Kristiani meluluhlantakkan penjara agama Yahudi,
ia menyerap konstituen dari banyak sumber lain, menolak banyak
ciri monoteisme murni dan mengadopsi banyak ritual tertentu dari
bangsa Mediterania lain. Seakan-akan Mesir datang untuk mem­
balas­kan dendamnya pada pewaris Ikhnaton. Cara agama baru
ter­
sebut datang untuk berhubungan dengan ambivalensi pada
hubungan ayah-anak tersebut perlu diperhatikan. Doktrin utama­
nya jelas adalah rekonsiliasi dengan Tuhan, sang Bapa, menebus
ke­salahan yang telah dilakukan terhadap-Nya; namun, sisi lain
hubungan tersebut memanifestasikan dirinya pada diri sang Anak—
yang memikul rasa bersalah tersebut di bahunya—yang menjadi
Tuhan di sisi sang Bapa dan sesungguhnya juga di posisi sang Bapa.
Kristiani yang tadinya agama Bapa menjadi agama sang Anak. Ia
http://facebook.com/indonesiapustaka

tidak dapat berlari dari takdirnya yang harus menggeser posisi sang
Bapa.
Hanya sebagian bangsa Yahudi yang mau menerima doktrin
baru tersebut. Mereka yang menolak memeluknya masih disebut
bangsa Yahudi. Melalui keputusan ini, mereka benar-benar lebih di­
kucilkan dari seisi dunia daripada sebelumnya. Mereka harus me­rasa­

- 182 -
Bagian III. Musa, Pengikut, dan Agama Monoteis

kan tuduhan dari komunitas keagamaan baru tersebut—yang berisi


bangsa Mesir, Yunani, Suriah, Romawi, dan juga Jerman—bahwa
mereka telah membunuh Tuhan. Secara utuh, tuduhan tersebut
ber­bunyi: “mereka tidak mau mengakui bahwa mereka membunuh
Tuhan, sedangkan kami mengakuinya dan membersihkan diri dari
rasa bersalah tersebut.” Terasa mudah untuk memahami kebenaran
apa yang ada di balik tuduhan tersebut. Mengapa bangsa Yahudi
tidak dapat berpartisipasi dalam kemajuan yang di situ pengakuan
diri terhadap pembunuhan Tuhan ini diucapkan (terlepas dari
semua distorsi yang dialaminya)? Hal ini dapat menjadi subjek
investigasi khusus. Melalui hal ini, bangsa Yahudi memikul rasa
ber­salah yang tragis. Mereka dibuat sangat menderita karenanya.
Kajian kami mungkin telah memperjelas pertanyaan bagai­
mana bangsa Yahudi mendapatkan kualitas yang mencirikan
mereka. Masalah bagaimana mereka dapat bertahan hingga saat
ini se­bagai sebuah entitas terbukti tidak mudah untuk dipecahkan.
Namun demikian, kita tidak dapat menuntut atau mengharapkan
jawaban mendetail akan teka-teki itu. Hal yang dapat saya berikan
adalah kontribusi kecil dan hal yang harus dihargai terlepas dari
batasan-batasan penting yang telah saya sebutkan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

- 183 -
http://facebook.com/indonesiapustaka
Glosarium

Afek—berkenaan dengan dasar-dasar perasaan dari emosi.


Ambivalensi—adanya perasaan yang bertentangan, terutama cinta
dan benci.
Amnesia—hilangnya ingatan.
Cathexis—proses yang di dalamnya gagasan dan sikap mental di­
tumpuk yang akan berperan sebagai emosi.
Etiologi—sebab-akibat, terutama mengenai penyakit.
Filogenetis—berhubungan dengan perkembangan ras.
Gangguan Mental Obsesional—sebuah gangguan mental yang di­
ciri­kan dengan pengganti-gantian dari gagasan obsesif (kom­
pulsif ) dan keraguan.
Imago—sebuah periodikal dari Jerman yang dicurahkan untuk pe­
nerapan nonmedis dari psikoanalisis.
Masokisme—mendapatkan kepuasan seksual dengan menerima
pen­deritaan.
http://facebook.com/indonesiapustaka

Naluriah—berhubungan dengan naluri.


Onani—aktivitas auto-erotis, contoh paling umumnya adalah
mastur­basi.
Pembentukan Reaksi—perkembangan sebuah kepribadian yang
terus menyembunyikan kepribadian lain, biasanya me­nyem­
bunyi­kan kepribadian yang benar-benar bertentangan.

- 185 -
Moses and Monotheism

Pengulangan-pemaksaan—kecenderungan untuk mengulang, yang


menurut Freud adalah karakteristik paling fundamental dari
pikiran.
Regresi—kembalinya kehidupan mental yang lebih awal.
Represi—penahanan gagasan yang tidak bisa diterima di alam
sadar, i.e. dalam “alam bawah sadar”.
Sadisme—mendapatkan kepuasan seksual dengan membuat pa­
sang­an­nya merasakan penderitaan.
Super-ego—bagian pikiran yang bertugas untuk mengkritik dirinya
sendiri, hal yang membangun hati nurani.
Trauma—kerusakan secara fisik atau mental.
http://facebook.com/indonesiapustaka

- 186 -