Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi Wasa
sehingga laporan tahunan program upaya kesehatan kerja di UPT Puskesmas Klungkung I ini dapat
tersusun. Laporan ini disusun agar dapat melaksanakan upaya kesehatan Promotif, Preventif, Kuratif dan
Rehabilitatif secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan terhadap seluruh kegiatan yang
berkaitan dengan upaya kesehatan kerja yang dilaksanakan di UPT Puskesmas Klungkung I tahun 2014.

Laporan tahunan ini merupakan salah satu fungsi manajemen Puskesmas untuk pedoman dalam
melaksanakan dan mengevaluasi terhadap keberhasilan program puskesmas. Diharapkan dengan adanya
laporan tahunan ini dapat meningkatkan hasil kerja program UKK sehingga dapat terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang optimal

Bersama ini kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pemegang program dan pihak yang
terlibat langsung dalam pelaksanan program upaya kesehatan kerja. Kami menyadari bahwa laporan
yang kami susun masih banyak kekurangannya sehingga kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangununtuk perbaika dimasa yang akan datang. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.

Gelgel, 5 Januari 2015

I Gede Predangga

Nip.19860809 200902 1 002

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) adalah unit fungsional pelayanan kesehatan terdepan
sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota yang melaksanakan upaya
penyuluhan, pencegahan dan penanganan kasus-kasus penyakit di wilayah kerjanya, secara terpadu dan
terkoordinasi.
Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) puskesmas mempunyai tanggung jawab untuk menyelenggarakan
program pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dan mempunyai kewajiban memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat termasuk kepada masyarakat pekerja (Depkes RI, 2004).

Tujuan upaya pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah mendukung tercapainya
tujuan pembangunan kesehatan nasional, yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya, agar terwujud derajat
kesehatan yang setinggi tingginya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Puskesmas harus menyelenggarakan 3 (tiga) fungsi yaitu : (1)
sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, (2) sebagai pusat pemberdayaan
masyarakat, dan (3) sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

Program kesehatan kerja merupakan suatu upaya pemberian perlindungan kesehatan dan
keselamatan kerja bagi masyarakat pekerja yang bertujuan untuk memeliharan dan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat pekerja, mencegah timbulnya gangguan kesehatan, melindungi pekerja
dari bahaya kesehatan serta menempatkan pekerja di lingkungan kerja yang sesuai dengan kemampuan
fisik dan psikis pekerja. Upaya kesehatan kerja mencakup kegiatan pelayanan, pendidikan dan pelatihan
serta penelitian di bidang kesehatan melalui upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit
termasuk pengendalian faktor resiko, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan termasuk
pemulihan kapasitas kerja (Depkes RI, 2005).

Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas


menyatakan bahwa puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
bertanggungjawab dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Mengingat
tingginya risiko kesehatan dan keselamatan kerja bagi pekerja dan adanya amanat dalam Undang-

2
Undang untuk menerapkan kesehatan kerja di tempat kerja, maka perlu dilaksanakannya Upaya
Kesehatan Kerja di wilayah kerja Puskesmas Klungkung I.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gambaran Umum Wilayah

Puskesmas Klungkung I terletak di Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung.


Didirikan tahun 1974 dan beroperasi mulai bulan April 1975. Wilayah kerja Puskesmas Klungkung I
meliputi 3 kelurahan yaitu kelurahan Semarapura Kauh, Kelurahan Semarapura Klod, Kelurahan
Semarapura Klod Kangin dan terdiri dari 7 desa yaitu : Desa Gelgel, Tojan, Satra, Kamasan, Tangkas,
Jumpai Desa/Kelurahan gelgel serta terdiri dari 35 dusun/lingkungan dengan luas wilayah 15.322 km 2
dengan jarak tempuh rata-rata 5 – 10 menit dari desa ke Puskesmas.

Puskesmas Klungkung I mewilayahi daerah perkotaan maupun pedesaan yang merupakan daerah
dataran rendah dengan batas wilayah sebagai berikut :

 Utara : Kelurahan Semarapura Kaja


 Timur : Kecamatan Dawan
 Barat : Kecamatan Banjarangkan
 Selatan : Lautan Indonesia

Jarak Puskesmas Klungkung I dari pusat kota Semarapura ± 5 Km dan seluruh wilayah bisa
terjangkau dengan kendaraan.

4
2.2 KONDISI DEMOGRAFI

Jumlah penduduk Puskesmas Klungkung I tahun 2015 sesuai dengan data Kecamatan
Klungkung Dalam Angka adalah 36.298 jiwa terdiri dari 17.906 jiwa laki-laki dan 18.398 Jiwa

Gambar 2.2 Jumlah Penduduk Per Desa /Kelurahan Di Wilayah UPT.Puskesmas Klungkung I
Tahun 2015

Sumber: Kecamatan Klungkung dalam angka tahun 2015 BPS Kabupaten Klungkung

Jumlah penduduk tertinggi di wilayah UPT.Puskesmas Klungkung I terdapat di Kelurahan


Semarapura Klod Kangin, hal ini dikarenakan kelurahan ini merupakan daerah perkotaan.Dimana pada

tempat ini  adalah   suatu   sistem   jaringan   kehidupan   manusia   yang   ditandai   dengan   adanya   kepadatan

penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan materialistis. Bentang budaya yang

ditimbulkan oleh unsur­unsur alami dan non alami dengan gejala pemusatan penduduk yang cukup padat

dan   besar   dengan   corak   kehidupan   yang   bersifat   heterogen   dan   meterialis.

Kelurahan ini dapat digolongkan menjadi daerah perkotaan karena adanya   gejala pemusatan penduduk

yang merupakan perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur­unsur fisiografis, sosial, ekonomi,

dan   kultur  .Penduduk yang heterogren dan wilayah yang didatangi oleh berbagai pendatang
menimbulkan berbagai tantangan dalam mewujudkan masyarakat yang sehat.Seperti halnya dalam

5
pelayanan posyandu ,hal ini dikarenakan mobilitas penduduk yang sangat tinggi.Dengan heterogenya
penduduk permasalahan kesehatan jauh lebih komplek.

Tabel 2.2 Data jenis jumlah penduduk berdasarkan Jenis kelamin

Jumlah Penduduk

Desa/Kelurahan Jmlh KK Laki Perempuan

Sp.Kauh 564 1145 1226

Sp.Klod 1469 2943 3037

Sp.Klod Kangin 1874 3582 3578

Tojan 704 1524 1556

Satra 311 715 745

Gelgel 1214 2544 2669

Kamasan 1095 2231 2346

Kp.Gelgel 327 591 591

Tangkas 822 1643 1634

Jumpai 450 988 1016

Jumlah Total 8830 17906 18398

Gambar 2.3 Ratio UPT.Puskesmas Klungkung I berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2015

6
Laki-laki: 49% Perempuan: 51%

Dari diagram dapat dilihat Presentase jumlah laki-laki adalah 49 % sedangkan jumlah perempuan
sebesar 51% dari jumlah total penduduk. Jumlah sex ratio laki-laki terhadap 100 perempuan di Wilayah
UPT.Puskesmas Klungkung I adalah 97 . Artinya setiap ada 100 orang perempuan ada 97 laki-laki. Dari hal
tersebut diatas Jenis kelamin perempuan lebih tinggi dari jenis kelamin laki-laki Sehingga risiko masalah
kesehatan seperti AKI,dan jenis kebutuhan pelayanan kesehatan yang diperlukan seperti untuk Ibu dan
anak, Imunisasi,GIZI, Kesehatan Lingkungan dan Promosi kesehatan untuk ber-Prilaku Hidup bersih dan
Sehat

2.3 Sumber Daya Kesehatan

a. Sumber Daya Fisik


Puskesmas Klungkung I terdiri dari 1 Puskesmas Induk, 7 buah Puskesmas Pembantu, 10 Desa
Siaga. Disamping itu ada beberapa fasilitas kesehatan yang ada diwilayah kerja Puskesmas Klungkung I
seperti 1 buah RSUD, 1 buah Rumah Sakit Swasta, 1 buah klinik swasta, 14 buah Dokter praktek swasta
yaitu 8 Dokter umum dan 7 orang Dokter Ahli, 17 Bidan praktek swasta, 1 buah klinik bersalin, 3 orang
Dokter gigi praktek swasta, 1 buah Puskesmas Keliling serta 39 buah Posyandu. Dan sarana pendidikan
yang ada adalah SD sebanyak 15 sekolah, SMP sebanyak 3 sekolah, SMA 5 sekolah dan TK sebanyak 14
sekolah

7
b. Sumber Daya Tenaga Kesehatan
Kondisi tenaga Puskesmas Klungkung I adalah sebagai berikut :

I Jenis Tenaga Jumlah Keterangan

1 Dokter umum : 4 orang 2 Orang Dokter Tubel, dan 1 PTT

2 Dokter Gigi : 3 orang 1 Orang PTT

3 Sarjana Farmasi : 1 Orang

4 Sarjana/Sarjana Muda

 SKM : 2 orang

 Akper : 11 orang

 AKL : 1 orang

 AKZI : 1

 AKG : 1

5 Bidan : 24 orang 9 orang PTT, 2 Orang Kontrak

6 Perawat Kes.(SPK) : 2 orang

7 Perawat Gigi (SPRG) : 2 orang

8 Sanitarian (SPPH) : 1 orang

9 Pembantu Ahli Gizi : -

10 Tenaga Laboratorium : 2 orang

11 Pengelola obat/Farmasi (SMF) : 1 orang

12 Pekarya Kesehatan : 0 orang

13 Lain-lain SMA : 2 1 JMD

14 Sopir : 1

8
3.Sumber dana

Sumber dana yang dikelola oleh UPT.Puskesmas Klungkung I untuk kegiatan operasional(Pelaksanaan
Pelayanan Kesehatan)dan kegiatan rutin(manajemen dan biaya rutin)diperoleh dari:DPA (dokumen
Pengguna Anggaran),BOK(Bantuan Operasional Kesehatan) Dan jamkesmas

4.Sumber daya masyarakat

Sumber daya masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Klungkung I antara lain10 buah desa
siaga,39 posyandu balita,10 buah posyandu lansia,kader desa siaga,kader posyandu serta kader
jumantik.

5. Pelayanan Usaha kesehatan Kerja

A. Definisi

Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas, beban,lingkungan kerja agar
setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di
sekelilinnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal (Undang-undang Kesehatan Tahun
1992). Konsep dari upaya kesehatan kerja ini adalah mengidentifikasi permasalahan,mengevaluasi dan
dilanjutkan dengan tindakan pengendalian. Sasaran kesehatan kerja adalah manusia dan meliputi aspek
kesehatan dari pekerja itu sendiri. (Ferry efendi.2009)

Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan atau kedokteran beserta prakteknya
yang bertujuan agar pekerja memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik atau
mental maupun sosial dalam usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit akibat kerja,
gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lapangan kerja, serta
penyakit-penyakit umum (Suma’mur, 1995). Kesehatan kerja adalah adanya jaminan kesehatan pada saat
melakukan pekerjaan. Menurut WHO/ILO (1995), kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan
pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua
jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi
pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan
kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan
dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada
manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya. Ciri pokoknya adalah preventif
(pencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan kesehatan). Oleh sebab itu, dalam kesehatan kerja

9
pedomannya ialah: “penyakit dan kecelakaan akibat kerja dapat dicegah”. Dari aspek ekonomi,
penyelenggaraan kesehatan kerja bagi suatu perusahaan adalah sangat menguntungkan karena tujuan
akhir dari kesehatan kerja ialah meningkatkan produktifitas seoptimal mungkin. Berdasarkan defenisi
tersebut diatas, kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan diri sendiri dan masyarakat disekelilingnya agar diperoleh produktifitas kerja yang
optimal sejalan dengan perlindungan tenaga kerja (Depkes RI, 1991)

B. Tujuan Penerapan Kesehatan kerja

Tujuan kesehatan kerja dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan-kecelakaan akibat kerja.

2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja.

3. Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan produktivitas tenaga kerja.

4. Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan semangat kerja.

5. Perlindungan bagi masyarakat sekitar lingkungan kerja agar terhindar dari bahaya-bahaya
pencemaran yang ditimbulkan oleh perusahaan

6. Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-
produk perusahaan. (Suma’mur,1995).

C. Penyakit Akibat Kerja

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No:PER-01/MEN/1981 tentang Kewajiban Melapor


Penyakit Akibat Kerja bahwa yang dimaksud dengan penyakit akibat kerja (PAK) adalah setiap penyakit
yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Beberapa ciri penyakit akibat kerja adalah
dipengaruhi oleh populasi pekerja, disebabkan oleh penyakit spesifik, ditentukan oleh pemajanan
ditempat kerja, ada atau tidaknya kompetensi, contohnya adalah keracunan timbal (Pb), asbesitosis, dan
silikosis (B.Sugeng.2003). Penyakit akibat kerja dibedakan menjadi empat kategori oleh WHO yaitu :

10
1. Penyakit akibat pekerjaan itu sendiri saja, contoh Pneumoconiosis.

2. Penyakit yang salah satu sebabnya berasal dari pekerjaan. Contoh Karsinoma Bronkhogenik.

3. Penyakit yang tidak hanya disebabkan oleh pekerjaan tapi juga penyakit-penyakit lainnya dan
pekerjaan termasuk salah satu di dalamnya. Contohnya Bronkhitis Kronis.

4. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan memperberat penyakit itu sendiri. Contoh penyakit
asma.

D. Jenis Penyakit Akibat Kerja

Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: PER-01/MEN/1981 dicantumkan 30
jenis penyakit, sedangkan pada Keputusan Presiden RI Nomor 22/1993 tentang Penyakit yang
Timbul Karena Hubungan Kerja memuat jenis penyakit yang sama dengan tambahan penyakit yang
disebabkan bahan kimia lainnya termasuk bahan obat. Jenis-jenis penyakit akibat kerja tersebut
adalah sebagai berikut ini.

1. Pneumokoniosis disebabkan oleh debu mineral pembetukan jarigan parut (silikosis, antara
kosilikosis, asbestosis) dan silikotuberkolosis yang silikosisnya merupakan faktor utama penyebab
cacat atau kematian.

2. Penyakit paru dan saluran pernapasan (bronkoplumoner) yang disebabkan oleh debu logam
keras.

3. Penyakit paru dan saluran pernapasan (Bronkoplumoner) atau byssinosis yang disebabkan oleh
debu kapas, vlas, henep (serat yang diperoleh dari batang tanaman Cannabis sativa) dan sisal
(serat yang diperoleh dari tumbuhan agavi sisalana,biasanya dibuat tali

4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang yang dikenal
yang berada dalam proses pekerjaan.

5. Alviolisis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik

6. Penyakit yang disebabkan oleh berilium (Be) atau persenyawaannya beracun.

7. Penyakit yang disebabkan oleh kadmium (Cd) atau persenyawaannya beracun

8. Penyakit yang disebabkan oleh fosforus (P) atau persenyawaannya beracun

11
9. Penyakit yang disebabkan oleh Kromium (Cr) atau persenyawaannya beracun

10. Penyakit yang disebabkan oleh Mangan (Mn) atau persenyawaannya beracun

11. Penyakit yang disebabkan oleh Arsenik (As) atau persenyawaannya beracun

12. Penyakit yang disebabkan oleh Raksa atau Merkurium (Hg) atau persenyawaannya beracun

13. Penyakit yang disebabkan oleh Timbel atau Plumbum (Pb) atau persenyawaannya beracun

14. Penyakit yang disebabkan oleh Flourin (F) atau persenyawaannya beracun

15. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida

16. Penyakit yang disebabkan oleh derivat halogen dari persenyawaan hidrokarbon alifatik atau
aromatik yng beracun.

17. Penyakit yang disebabkan oleh benzena atau homolognya yang beracun

18. Penyakit yang disebabkan oleh derivatnetro dan amina dari benzena atau homolognya yang
beracun.

19. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat laiinya.

20. Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol atau keton

21. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab afiksia atau keracunan seperti
karonmonoksida, hidrogen sianida, hidrogen sulfida atau derifatnya yang beracun, amoniak,
seng, braso, nikel.

22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan

23. Penyakit yang disebabkan oleh kelainan mekanik

24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan tinggi

25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi eletronik dan mengion.

26. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi, biologis.

12
27. Kanker kulit epiteiloma primer yang disebabkan oleh ter, pic, bitumen, minyak mineral,
antrasena atau persenyawaan, produk, dan residu dari zat-zat tersebut.

E. Faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja

Faktor penyakit akibat kerja pun bisa dibedakan menjadi beberapa kategori tergantung dari bahan
pekerjaannya, lingkungan pekerjaannya dan proses serta cara kerjanya. Ada lima kategori
faktor penyebab penyakit akibat kerja, yakni sebagai berikut:

1. Golongan Fisik

Ini disebabkan oleh penerangan lampu yang kurang bagus, vibrasi, tekanan yang sangat tinggi, suhu yang
terlalu panas atau dingin, radiasi dan suara bising.

2. Golongan kimiawi

Ini disebabkan karena bahan kimiawi yang mungkin mengkontaminasi pekerjaan itu sendiri atau berasal
dari bahan pekerjaan tersebut. Sebagai contoh bahan kimiawi tersebut berasal dari gas, larutan,
debu, uap, awan atau kabut.

3. Golongan biologis

Hal ini disebabkan karena jamur, virus dan bakteri.

4. Golongan fisiologis

Hal ini bisa disebabkan oleh cara kerja dan penataan tempat kerja.

5. Golongan psikososial

Hal ini disebabkan karena lingkungan pekerjaan itu sendiri seperti stres pada saat bekerja.

6. Undang-Undang Kesehatan Kerja

UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami
perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Dalam pasal 86 UU No.13 tahun
2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan
atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat
dan martabat serta nilai-nilai agama.

13
Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah peraturan perundangan-
undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti peraturan sebelumnya yaitu
Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilai sudah tidak memadai menghadapi kemajuan
dan perkembangan yang ada.

Peraturan tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang ruang
lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di darat, didalam tanah, permukaan air, di dalam air
maupun udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.Undang-undang
tersebut juga mengatur syarat-syarat keselamatan kerja dimulai dari perencanaan, pembuatan,
pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan
penyimpanan bahan, barang produk tekhnis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat
menimbulkan bahaya kecelakaan.

Pasal 164, ayat :

(1) Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari
gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh
pekerjaan.

(2) Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pekerja di sektor formal dan
informal.

(3) Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi setiap orang selain pekerja
yang berada di lingkungan tempat kerja.

(4) Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku juga bagi kesehatan
pada lingkungan tentara nasional Indonesia baik darat, laut, maupun udara serta kepolisian
Republik Indonesia.

(5) Pemerintah menetapkan standar kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

(6) Pengelola tempat kerja wajib menaati standar kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
dan menjamin lingkungan kerja yang sehat serta
bertanggung jawab atas terjadinya kecelakaan kerja.

(7) Pengelola tempat kerja wajib bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan
kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

14
Pasal 165

(1) Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya
pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja.

(2) Pekerja wajib menciptakan dan menjaga kesehatan tempat kerja yang sehat dan menaati peraturan
yangberlaku di tempat kerja.

(3) Dalam penyeleksian pemilihan calon pegawai pada perusahaan/instansi, hasil pemeriksaan kesehatan
secara fisik dan mental digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan
ketentuanperaturan perundang-undangan.

Pasal 166

(1) Majikan atau pengusaha wajib menjamin kesehatan pekerja melalui upaya pencegahan, peningkatan,
pengobatan dan pemulihan serta wajib menanggung
seluruh biaya pemeliharaan kesehatan pekerja.

(2) Majikan atau pengusaha menanggung biaya atas gangguan kesehatan akibat kerja yang diderita oleh
pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(3) Pemerintah memberikan dorongan dan bantuan untuk perlindungan pekerja sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2)

7. Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Kerja

Penyakit akibat kerja yang diderita tenaga kerja merupakan suatu kecelakaan yang harus dilaporkan
untuk mendapatkan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja terhadap penyakit akibat kerja
didalam system manajemen kesehatan kerja. Upaya pencegahan kecelakaan kerja :

15
1. Pendekatan manusia

Pencegahan kecelakaan dipandang dari aspek manusianya harus berawal pada hari pertama kerja. Setiap
karyawan harus mengetahui fungsi, jabatan, pekerjaan, dan tanggung jawab. Selain itu juga harus
dipegang prinsip bahwa kesalahan utama pada manusia adalah kurang bergairah, kurang terampil,
kurang tepat, terganggu emosi, dan lain-lain (Andi, 2001). Dengan demikian manajemen harus
menyeleksi calon karyawan dan mengadakan pelatihan agar dapat kualitas sesuai dengan
pekerjaannya. Misalnya, agar mendapat pekerjaan yang :

 Terampil, harus diberikan pelatihan yang cukup.

 Sesuai, dengan pimpinan yang benar.

 Bergairah, dengan seleksi yang cukup dan sesuai.

 Berhati-hati dengan seleksi dan latihan yang cukup.

 Tahu, dengan pendidikan yang cukup dan sesuai.

 Sikap positif, dengan menciptakan hubungan yang baik.

2. Beban kerja

Beban kerja yang diberikan pada setiap pegawai harus disesuaikan dengan kemampuan setiap pekerja,
agar tidak terjadi kelebihan dan kekurangan beban kerja. Sehingga dapat menguragi gairah dalam
bekerja.

3. Shift kerja

Permasalahan pada system shift adalah pekerja kesulitan untuk beradaptasi dengan system shift.
Misalnya, hanya bekerja pada shift malam. Oleh karena itu, pihak manajemen berperan dalam
menentukan shift, agar setiap pekerja memperoleh jam istirahat yang cukup dalam menjalankan
sistem shift.

16
4. Jam kerja

Lama kerja yang baik adalah 40 jam/minggu atau 8 jam/hari. Apabila tuntutan pekerjaan mengharuskan
untuk bekerja lebih dari jam kerja maka pihak manajemen harus memberikan kompensasi untuk
kelebihan jam kerja.

5. Pendekatan lingkungan

Lingkungan sangat berpengaruh dalam terjadinya kecelakaan. Sehingga pendekatan lingkungan


diharapkan dapat menghilangkan, mengendalikan bahaya-bahaya yang mungkin dapat timbul.
Bahaya tersebut dapat berupa listrik, mekanik, fisik dan kimia. Pendekatan lingkungan dapat
dilakukan dengan pemakaian alat pelindung diri, penerangan yang cukup, pengendalian
temperatur, manajemen kebisingan dan lain-lain.

6. Pendekatan manajemen

Manajemen merupakan sarung ilmu yang mencakup aspek sosial dan eksak sehingga tidak terlepas dari
tanggung jawab kesehatan dan keselamatan kerja. Oleh karena itu, manajemen harus menyadari :

 Adanya biaya pencegahan.

 Kerugian akibat kecelakaan menimpa karyawan dan peralatan.

 Terdapat selisih yang signifikan antara biaya pencegahan dan kerugian akibat kecelakaan kerja.

 Kecelakaan kerja selalu menyangkut manusia, peralatan dan proses.

 Manusia merupakan faktor dominan dalam setiap kecelakaan.

17
BAB III

PEMBAHASAN
3.1 LAPORAN HASIL KEGIATAN

UPT Puskesmas Klungkung 1 sebagai puskesmas induk di wilayah kabupaten klungkung


membawahi 10 Desa yang terdiri dari Desa Tangkas, Satra, Tojan, Kamasan, Jumpai, Gelgel,
Kampung Gelgel, Kelurahan Semarapura Kauh, Kelurahan Semarapura Klod Kangin serta Kelurahan
Semarapura Kangin. Berdasarkan dari usaha yang terdapat diwilayah Puskesmas Klungkung I,
tidak semua usaha memiliki pekerja dalam jumlah banyak, dan sebagian besar usaha yang ada
adalah usaha kecil. Maka dari itu, pelaksanaan POS UKK dan kader UKK pun tidak dapat berjalan
dengan maksimal. Pelaksanaan program UKK ini bekerja sama lintas program salah satunya adalah
program pusling dalam rangka pengobatan demi tercipta derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat umumnya serta para pekerja secara khusus. Berikut ini merupakan rekapitulasi data
laporan Bulanan Kesehatan Pekerja (LBKP) mulai dari bulan Januari sampai Desember 2014.

NO URAIAN JUMLAH KETERANGAN


Total jumlah pekerja yang diperiksa 1094
1 Pekerja Sakit yang dilayani 1094
orang
2 Kasus penyakit umum pada pekerja 764
Kasus diduga penyakit akibat kerja pada
3 191
pekerja
4 Kasus penyakit akibat kerja pada pekerja 0
Kasus kecelakaan akibat kerja pada
5 0
pekerja

18
Tabel berikut merupakan daftar 5 besar penyakit yang ditemukan pada program UKK mulai bulan
Januari sampai dengan Desember 2014 diantaranya

NO NAMA PENYAKIT JUMLAH

1 Infeksi Saluran Pernafasan Atas 88 kasus

2 Penyakit gangguan muskuloskeletal dan sendi 75 kasus

3 Penyakit gangguan Lambung / Pencernaan 55 kasus

4 Penyakit Mata ( Konjungtivitis) 46 kasus

5 Penyakit Kulit Allergi 29 kasus

JUMLAH

Berpedoman pada gambaran 5 penyakit terbesar ditabel serta belum ditemukan adanya kasus
kecelakaan kerja, maka dapat dilihat bahwa Penyakit ISPA menempati urutan pertama sebanyak 500
kasus. Banyaknya kasus ini disebabkan oleh beberapa faktor pokok antara lain

a) Partikel-partikelbesi yang terhirup selama aktifitas kerja


b) Debudi lingkungan kerja

c) StatusGizi yang kurang baik

19
BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Di dalam kesehatan kerja pedomannya ialah penyakit dan kecelakaan akibat kerja yang dapat
dicegah, sehingga upaya pokok kesehatan kerja ialah pencegahan kecelakaan akibat kerja, dan pokok
yang kedua adalah promosi (peningkatan) kesehatan masyarakat pekerja dalam rangka peningkatan
produktivitas kerja. Maka dari itu program UKK ini merupakan upaya penyerasian kapasitas kerja, beban
kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara maksimal tanpa membahayakan
dirinya sendiri maupun lingkungan, sehingga diperoleh produktifitas kerja yang optimal. Pelaksanaan
UKK bukan saja merupakan pemenuhan hak asasi pekerja, tetapi juga berperanan besar dalam investasi
atau pembangunan suatu bangsa.

SARAN

Untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal khususnya pada para pekerja diharapkan
agar para pekerja menggunakan APD (alat pelindung diri) untuk keselamatan kerja mereka.
Pemakaian alat APD bisa dimodifikasi, seperti pemakaian masker bisa diganti dengan syal atau kain.

20
LAMPIRAN

21