Anda di halaman 1dari 2

Menurut Bengen (2001), penyebaran dan zonasi hutan mangrove tergantung oleh berbagai

faktor lingkungan. Berikut salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia :
1. Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering ditumbuhi
oleh Avicenniasp. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia sp. yang dominan tumbuh pada
lumpur dalam yang kaya bahan organik.
2. Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora sp. Di zona ini
juga dijumpai Bruguiera sp. dan Xylocarpus spp.
3. Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera sp
4. Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa
fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya.
Jenis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-
variasi lingkungan fisik di atas, sehingga memunculkan zona-
zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik yang
mempengaruhi adalah:
1. Jenis tanah
Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda, yang paling umum
adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Akan
tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya, bahkan ada pula
hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut. Substrat yang lain adalah lumpur dengan
kandungan pasir yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang
berdekatan dengan terumbu karang (Bengen, 2001).
2. Terpaan ombak
Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering
harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Tidak seperti bagian
dalamnya yang lebih tenang, yang serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan
langsung dengan aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi sungai. Perbedaannya, salinitas
dibagian ini tidak begitu tinggi, terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Hutan
bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar (Bengen, 2001).
3. Penggenangan oleh air pasang
Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian
yang lainnya, bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Pada pihak lain, bagian-bagian
di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali
dua kali dalam sebulan. Dalam menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini,
secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove, yang biasanya berlapis-lapis mulai dari
bagian terluar yang terpapar gelombang laut, hingga ke pedalaman yang relatif kering (Bengen,
2001).
Bengen, Dietriech G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan
Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan –IPB, Bogor.

Bengen, Dietriech G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan


Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan –IPB, Bogor.

Noor, Y. R., M. Khazali dan INN. Suryadiputra. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia.
Direktorat Jendral PKA dan Wetlands International- Indonesia Program. Bogor.