Anda di halaman 1dari 75

+

SPI 102 Dasar Nilai Selain Nilai Pasar

PKP 100+
+ Pendahuluan 2

1.1 Tujuan dari SPI 102 ini adalah mengidentifikasi dan


menjelaskan dasar-dasar nilai selain dari Nilai Pasar
serta menetapkan acuan bagi penerapannya, dan
kemudian, membedakannya dengan Nilai Pasar.
1.2 Meskipun sebagian besar penilaian melibatkan Nilai
Pasar, terdapat keadaan-keadaan yang membutuhkan
dasar penilaian selain Nilai Pasar. Adalah penting baik
bagi Penilai maupun para pengguna jasa penilaian
untuk memahami secara jelas perbedaan antara
penilaian yang berdasarkan Nilai Pasar dan selain Nilai
Pasar, serta dampak (jika ada) yang diakibatkan oleh
perbedaan konsep-konsep tersebut terhadap
penerapannya dalam penilaian.

PKP 100+
+ Pendahuluan 3

1.3 Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dan atau


kerancuan di antara Penilai dan pengguna jasa penilaian
sehubungan dengan penggunaan dan penerapan dasar nilai
selain Nilai Pasar, Penilai yang bertanggung jawab untuk
menerapkan SPI ini, harus memastikan bahwa dasar-dasar
yang tepat telah dipilih dengan menggunakan semua cara
yang wajar untuk meningkatkan pemahaman para pengguna
penilaian, dan menghindari keadaan yang dapat
menyesatkan masyarakat, serta menyatakan estimasi yang
didukung di dalam laporan secara obyektif.

PKP 100+
+ Ruang Lingkup 4

2.1 SPI ini mengemukakan dan menjelaskan dasar penilaian


selain Nilai Pasar untuk penilaian aset dan/atau liabilitas.

PKP 100+
+ Definisi 5

3.1 Nilai Asuransi (Insurable Value)

Nilai Asuransi adalah nilai aset sebagaimana yang diatur


berdasarkan kondisi-kondisi yang dinyatakan di dalam
kontrak atau polis asuransi dan dituangkan dalam definisi
yang jelas dan terinci.

Nilai Asuransi dapat berupa Nilai Pembangunan Kembali


(lihat SPI 102 butir 3.9) atau nilai dalam kondisi apa
adanya (indemnity value).

PKP 100+
+ Definisi 6

3.2 Nilai dalam Penggunaan (Value in Use)


Nilai dalam Penggunaan merupakan nilai yang dimiliki oleh
suatu aset bagi penggunaan tertentu untuk seorang pengguna
tertentu dan oleh karena itu tidak berkaitan dengan Nilai Pasar.
Nilai dalam Penggunaan ini adalah nilai yang diberikan oleh
aset tertentu kepada badan usaha dimana aset tersebut
merupakan bagian dari badan usaha tanpa memperdulikan
penggunaan terbaik dan tertinggi dari aset tersebut, atau
jumlah uang yang dapat diperoleh atas penjualannya.
Definisi akuntansi dari Nilai dalam Penggunaan adalah nilai kini
dari estimasi aliran kas yang diharapkan untuk didapat dari
penggunaan berkelanjutan atas suatu aset dan dari
penjualannya di akhir umur penggunaannya.

PKP 100+
+ Definisi 7

3.3 Nilai Investasi (Investment Value)


3.3.1 Nilai investasi adalah nilai dari aset bagi pemilik atau
calon pemilik untuk investasi individu atau tujuan
operasional.
3.3.2 Nilai ini merupakan dasar nilai yang spesifik dari
entitas. Meskipun nilai dari suatu aset bagi pemilik
mungkin sama dengan jumlah yang dapat direalisasikan
dari penjualan kepada pihak lain, dasar nilai ini
mencerminkan manfaat yang diterima oleh entitas yang
mempunyai aset; dalam hal ini tidak selalu melibatkan
pertukaran hipotetis. Nilai investasi mencerminkan
keadaan dan tujuan keuangan dari entitas yang dinilai.
Hal ini sering digunakan untuk mengukur kinerja
investasi.
PKP 100+
+ Definisi 8

3.4 Nilai Khusus (Special Value)


3.4.1 Nilai Khusus adalah sejumlah uang yang mencerminkan
atribut tertentu dari aset yang hanya berlaku bagi
pembeli khusus dan bukan pasar secara keseluruhan.
3.4.2 Pembeli khusus adalah pembeli tertentu atas suatu aset
tertentu dimana baginya aset memiliki nilai khusus,
karena adanya manfaat yang timbul atas
kepemilikannya, dan tidak tersedia bagi pembeli lain di
pasar.
Jika Penilai memberikan opini Nilai Khusus, maka harus
dilaporkan dan dibedakan dengan jelas dari Nilai
Pasar.

PKP 100+
+ Definisi 9

3.5 Nilai Likuidasi (Liquidation Value)


3.5.1 Nilai Likuidasi adalah sejumlah uang yang mungkin
diterima dari penjualan suatu aset dalam jangka
waktu yang relatif pendek untuk dapat memenuhi
jangka waktu pemasaran dalam definisi Nilai Pasar.
Pada beberapa situasi, Nilai Likuidasi dapat
melibatkan penjual yang tidak berminat menjual,
dan pembeli yang membeli dengan mengetahui
situasi yang tidak menguntungkan penjual.
Definisi di atas berlaku untuk penilaian aset tetap
yang umumnya berlaku dalam konteks jaminan
pembiayaan dan lelang aset.

PKP 100+
+ Definisi 10

3.5.2 Penilai harus menyatakan dasar nilai ini sebagai


indikasi Nilai Likuidasi. Dasar nilai ini seharusnya
hanya dapat diberikan dalam hal terjadinya kredit
macet atau gagal bayar pembiayaan.
3.5.3 Indikasi Nilai Likuidasi untuk Penggunaan Kembali
(Liquidation Value in Place in Use) adalah perkiraan
jumlah uang yang diperhitungkan akan dapat
diperoleh dari suatu transaksi jual beli
properti/fasilitas yang berhenti, dalam waktu yang
terbatas ketika penjual terpaksa untuk menjual dan
sebaliknya pembeli tidak terpaksa untuk membeli,
dengan asumsi seluruh aset/fasilitas akan dijual
secara utuh untuk diteruskan kembali sesuai dengan
penggunaannya.
PKP 100+
+ Definisi 11

3.6 Nilai Pasar untuk Penggunaan yang Ada (Market Value for
the Existing Use)

Nilai Pasar untuk Penggunaan yang Ada adalah Nilai


Pasar dari suatu aset berdasarkan kelanjutan dari
penggunaan yang ada, dengan asumsi bahwa aset
tersebut dapat dijual di pasar terbuka untuk penggunaan
yang ada saat itu, tetapi tetap sesuai dengan definisi Nilai
Pasar tanpa memperhitungkan apakah penggunaan yang
ada menggambarkan penggunaan tertinggi dan terbaik
dari aset tersebut.

PKP 100+
+ Definisi 12

3.7 Nilai Pembangunan Kembali (Reinstatement Value)

Nilai Pembangunan Kembali adalah biaya yang diperlukan


untuk menggantikan, memperbaiki, atau membangun
kembali aset ke kondisi yang secara substansial sama
dengan, tapi tidak lebih baik atau lebih ekstensif dari
kondisi baru.

Nilai ini biasanya digunakan untuk kepentingan asuransi.

PKP 100+
+ Definisi 13

3.8 Nilai Penggantian Wajar

Nilai Penggantian Wajar adalah nilai untuk kepentingan


pemilik yang didasarkan kepada kesetaraan dengan Nilai
Pasar atas suatu Properti, dengan memperhatikan unsur
luar biasa berupa kerugian non fisik yang diakibatkan
adanya pengambilalihan hak atas Properti dimaksud.

PKP 100+
+ Definisi 14

3.9 Nilai Potensial (Potential Value)

Nilai Potensial adalah nilai yang terkait dengan suatu rencana


investasi yang akan menentukan harga maksimum untuk
kepentingan khusus dari investor sebagai adanya kemauan untuk
membayar suatu rencana investasi. Nilai Potensial tidak sama
dengan Nilai Pasar karena adanya asumsi khusus, tetapi SPI ini
tidak membatasi penilai untuk mengeluarkan Nilai Potensial
berdasarkan asumsi khusus. Bagaimanapun, asumsi khusus yang
mendasari Nilai Potensial harus secara jelas dan tegas
dinyatakan dalam laporan penilaian dan setiap referensi yang
dipublikasikan. Laporan tersebut harus memuat sebuah
pernyataan bahwa Nilai Potensial bukan merupakan Nilai Pasar.

PKP 100+
+ Definisi 15

3.10 Nilai Realisasi Bersih (Net Realisable Value)


a) Nilai Realisasi Bersih adalah perkiraan harga jual
suatu aset dalam suatu usaha yang berjalan
sebagaimana biasa, dikurangi biaya penjualan dan
biaya penyelesaian. Dengan demikian, Nilai
Realisasi Bersih adalah sama dengan Nilai Pasar
dikurangi biaya penjualan hanya jika semua
persyaratan definisi Nilai Pasar telah dipenuhi.
Terutama, hal ini mencakup adanya waktu yang
cukup bagi terjadinya transaksi Nilai Pasar. Nilai
Pasar biasanya merupakan jumlah kotor, atau lebih
tepat, "nilai nominal" (face value) sebelum
pengurangan biaya-biaya penjualan.

PKP 100+
+ Definisi 16

b) Bilamana sebuah nilai diambil untuk tanggal yang akan


datang, tanggal yang akan datang tersebut harus
dinyatakan dan opini dituangkan tentang apakah
tanggal tersebut memungkinkan periode yang wajar
untuk pemasaran yang layak dengan
mempertimbangkan sifat dari properti dan kondisi
pasar. Bilamana tanggal yang akan datang tidak
memungkinkan periode yang wajar untuk pemasaran
yang layak, penilai harus menggunakan istilah “Estimasi
Nilai Realisasi Bersih Terbatas”. Bilamana tanggal yang
akan datang memungkinkan periode yang wajar untuk
pemasaran yang layak, digunakan istilah “Estimasi Nilai
Realisasi Bersih” dan pernyataan yang jelas harus
dibuat bahwa hal ini berbeda dengan asumsi Nilai
Pasar.

PKP 100+
+ Definisi 17

c) Nilai Realisasi Bersih akan dihitung sebelum


pembayaran pajak pengalihan aktiva selain dari
biaya dokumentasi penjualan. Bilamana digunakan
jumlah setelah perhitungan pajak, Penilai harus
menambahkan kata-kata “setelah pajak” dan harus
memberikan pernyataan yang jelas tentang dasar-
dasar perhitungan pajak.

PKP 100+
+ Definisi 18

3.11 Nilai Realisasi Bersih Terbatas (Net Restricted Realisable


Value)

Nilai Realisasi Bersih Terbatas adalah Nilai Realisasi Bersih


berdasarkan penyelesaian di masa mendatang dan
tanggal yang akan datang tidak memungkinkan waktu
yang cukup untuk penawaran yang layak dengan
mempertimbangkan sifat properti dan kondisi pasar.

PKP 100+
+ Definisi 19

3.12 Nilai Realisasi Bersih untuk Penggunaan yang Ada sebagai


Kesatuan Operasional (Net Realisation Value for the Existing
Use as an Operational Entity)

a) Nilai Realisasi Bersih untuk Penggunaan yang Ada


sebagai kesatuan operasional adalah perkiraan
harga jual dari suatu aset dalam suatu usaha yang
berjalan normal, dikurangi biaya penjualan dan
biaya penyelesaian dengan asumsi bahwa aset
akan terus digunakan sebagai kesatuan
operasional.

PKP 100+
+ Definisi 20

b) Apabila kondisi atau pembatasan tertentu


diterapkan, Penilai harus menjelaskan bahwa nilai
tersebut adalah Nilai Realisasi Bersih Terbatas untuk
Penggunaan yang Ada sebagai Kesatuan
Operasional dan harus menyatakan pembatasan
yang digunakan di dalam laporan. Pembatasan-
pembatasan tersebut dapat meliputi hal-hal berikut.

PKP 100+
+ Definisi 21

1 Penyelesaian akan terjadi pada satu tanggal


yang akan datang yang ditentukan oleh
pemberi tugas (dan dicatat dalam laporan)
yang tidak memungkinkan periode yang wajar
untuk pemasaran yang layak dengan
mempertimbangkan sifat dari aset dan kondisi
pasar pada saat itu;

2 Rekening atau catatan penjelasannya (atau


bagian darinya) tidak akan tersedia atau tidak
dapat digunakan oleh calon pembeli;

PKP 100+
+ Definisi 22

3 Kegiatan usaha berhenti atau dihentikan;


4 Barang inventaris dan atau mesin dan peralatan
telah dipindahkan atau sebagian dipindahkan.
Dalam kasus demikian, barang-barang yang
dipindahkan tersebut atau pemindahannya harus
dinyatakan;
5. Lisensi, atau perizinan yang dibutuhkan hilang
atau dicabut, atau bermasalah, atau perlu
diperpanjang;
6. Properti yang telah rusak atau dirusak hingga
berada dalam kondisi kerusakan yang serius.

PKP 100+
+ Definisi 23

3.13 Nilai Sekrap (Scrap Value)


Nilai Sekrap adalah perkiraan jumlah uang yang akan
diperoleh dari transaksi jual beli dari bagian-
bagian/material suatu aset (tidak termasuk tanah) dan
tidak untuk suatu kegunaan yang produktif.
3.14 Nilai Sewa (Rental Value)
Nilai Sewa adalah perkiraan jumlah uang yang dapat
diperoleh dari penyewaan suatu aset pada tanggal
penilaian, antara pemilik yang berminat menyewakan dan
penyewa yang berminat menyewa sesuai persyaratan sewa
yang berlaku di antara kedua belah pihak.

PKP 100+
+ Definisi 24

a) Nilai Sewa adalah istilah yang digunakan bila perjanjian


/persyaratan sewa menyewa diketahui, dinyatakan atau
diasumsikan, dan persyaratan tersebut berbeda dengan
persyaratan yang diasumsikan dalam definisi Nilai Sewa
Pasar (lihat di dalam SPI 101 butir 3.6)
b) Pada semua kasus yang Nilai Sewa-nya dilaporkan, Penilai
harus menyatakan persyaratan atau kondisi sewa menyewa
yang faktual atau asumsi sewa-menyewa yang menjadi
dasar penentuan Nilai Sewa.
c) Bilamana sebuah properti dikuasai atas dasar sewa atau
disewakan, Nilai Sewa harus ditentukan berdasarkan
persyaratan sewa menyewa tersebut tanpa penyesuaian
apapun.

PKP 100+
+ Definisi 25

3.15 Nilai Sisa (Salvage Value)

Nilai Sisa adalah nilai suatu properti, tanpa nilai tanah, seperti
jika dijual secara terpisah untuk setiap bagiannya dan tidak lagi
dimanfaatkan untuk penggunaannya saat ini serta tanpa
memperhatikan penyesuaian dan perbaikan khusus.

Nilai tersebut dapat diberikan dengan atau tanpa


memperhitungkan biaya penjualan, dan apabila
memperhitungkan biaya penjualan, hasilnya dihitung dengan
menggunakan konsep nilai realisasi bersih (net realisable value).
Dalam setiap analisis, komponen-komponen yang termasuk atau
tidak termasuk hendaknya diidentifikasi.

PKP 100+
+ Definisi 26

3.16 Nilai Sinergi


Nilai Sinergi adalah nilai yang timbul karena adanya
kombinasi dari dua atau lebih aset atau kepentingan,
dimana nilai gabungan lebih besar dari penjumlahan nilai-
nilai yang terpisah. Jika sinergi hanya berlaku untuk satu
pembeli tertentu maka Nilai Sinergi akan berbeda dengan
Nilai Pasar, karena Nilai Sinergi akan mencerminkan atribut
tertentu dari aset yang hanya memiliki nilai bagi pembeli
tertentu.
Nilai Penggabungan (Marriage Value) merupakan
tambahan nilai di atas nilai hasil penggabungan dua atau
lebih hak atas properti.

PKP 100+
+ Definisi 27

3.17 Nilai Wajar

Nilai Wajar adalah harga yang akan diterima dari


penjualan aset atau dibayarkan untuk pengalihan liabilitas
dalam transaksi yang teratur diantara pelaku pasar pada
tanggal pengukuran.

3.17.1 Definisi Nilai Wajar diatas adalah sesuai dengan


definisi dalam PSAK 68. Dalam SPI ini, definisi Nilai
Wajar untuk tujuan pelaporan keuangan adalah
sesuai dengan persyaratan standar akuntansi yang
berlaku (lihat SPI 201 - Penilaian untuk Pelaporan
Keuangan).

PKP 100+
+ Definisi 28

3.18 Nilai Wajar Khusus

Harga yang diestimasikan dari pengalihan suatu aset atau


liabilitas, untuk pihak yang berbeda pendapat sesuai
dengan kepentingannya.

Selain itu SPI mengakui dasar nilai lain yang berasal dari
Standar Penilaian Internasional (IVS 2017) yaitu:

3.19 Nilai Ekuitabel (Equitable Value)

Harga yang diestimasikan dari pengalihan suatu aset atau


liabilitas, di antara para pihak yang memahami dan
berminat sesuai dengan kepentingannya.

PKP 100+
+ Hubungan dengan Standar Akuntansi 29

4.1 SPI 201 - Penilaian untuk Pelaporan Keuangan harus


dipahami berkaitan dengan standar ini.

4.2 Tujuan pelaporan keuangan sesuai dengan standar


akuntansi internasional adalah untuk menggambarkan
secara wajar hasil operasional dan kondisi keuangan
perusahaan. Jadi, standar akuntansi itu sendiri tidak
ditujukan untuk menilai suatu perusahaan. Untuk rujukan
lebih lanjut, lihat di dalam SPI 201.

4.3 Standar akuntansi memberikan tata cara yang diperlukan


agar penilaian terhadap aktiva tetap (dan aktiva lainnya)
tercermin di dalam catatan dan laporan keuangan
perusahaan. Standar tersebut berlaku terhadap penilaian
pasar yang ada dan dasar lain yang bertumpu pada
PKP 100+ konvensi biaya perolehan.
+ Hubungan dengan Standar Akuntansi 30

4.4 Standar penilaian yang berlaku untuk digunakan dalam


laporan keuangan tercakup dalam SPI 201 (SPI 102
menjelaskan Dasar Penilaian selain Nilai Pasar yang secara
umum tidak berlaku untuk tujuan pelaporan keuangan).
Khususnya, dasar penilaian non pasar yang membahas
alokasi nilai di antara aset aset harus dibedakan dari, dan
tidak dirancukan dengan, estimasi Nilai Pasar.

4.5 Biaya Pengganti Terdepresiasi (Depreciated Replacement


Cost – DRC) merupakan metode penerapan dari
Pendekatan Biaya, yang digunakan untuk menentukan
indikasi nilai dengan menghitung Biaya Reproduksi Baru
atau Biaya Pengganti Baru dari aset dikurangi dengan
penyusutan fisik dan segala bentuk keusangan.
PKP 100+
+ Pernyataan Standar 31

5.1. Sebelum melaksanakan suatu tugas penilaian yang


berkaitan dengan kaidah selain dari Nilai Pasar, seorang
Penilai harus:

a) Mengidentifikasi secara tepat masalah yang akan


ditangani dan memastikan bahwa pelaksanaan tugas
tersebut tidak akan mengakibatkan timbulnya suatu
kesimpulan yang menyesatkan atau tidak sesuai
dengan keadaannya.

b) Memiliki pengetahuan, pengalaman dan kecakapan


yang memadai untuk menyelesaikan tugas sesuai
dengan SPI ini dan prinsip dalam penilaian lainnya
yang diterima secara umum atau sebagai alternatif:

PKP 100+
+ Pernyataan Standar 32

1. Mengungkapkan segala keterbatasannya kepada


pemberi tugas sebelum menerima tugas;

2. Mengambil semua langkah yang diperlukan


secara tepat untuk menyelesaikan tugas secara
profesional dan;

3. Mengungkapkan situasi dan tindakan yang


diambil dalam situasi tersebut di dalam laporan
yang berkenaan dengan penyelesaian jasa
penilaian yang diberikan.

PKP 100+
+ Pernyataan Standar 33

5.2 Dalam mengembangkan suatu estimasi nilai selain dari Nilai Pasar,
seorang Penilai harus berhati-hati, memahami dan menerapkan secara
tepat metode dan teknik yang diperlukan untuk menghasilkan penilaian
yang layak dipercaya.

5.3 Untuk menjamin bahwa tidak ada kerancuan antara Nilai Pasar dan
Selain Nilai Pasar, Penilai harus menjelaskan bahwa penilaian yang
dilaporkan bukan merupakan estimasi Nilai Pasar jika penugasan
dilaksanakan atas dasar selain dari Nilai Pasar.

5.4 Meskipun konsep dan penerapan konsep nilai selain Nilai Pasar
mungkin tepat dalam keadaan tertentu, Penilai harus menjamin bahwa
jika nilai ini hendak digunakan dan dilaporkan, maka nilai ini tidak
dapat ditafsirkan sebagai gambaran Nilai Pasar.

PKP 100+
+ Pembahasan

6.1 Nilai dalam Penggunaan (Lihat butir 3.2) merupakan nilai


non pasar yang diukur dari perspektif pengguna tertentu.
Nilai ini kadang kadang disebut sebagai "nilai bagi
pengguna atau pemilik tertentu". Nilai dalam pertukaran
(Lihat SPI 101 butir 1.2) merupakan nilai yang diakui oleh
suatu pasar dimana pertukaran kepemilikan aset
diperkirakan benar benar terjadi. Pengertian Nilai Pasar
yang sesuai untuk laporan keuangan didasarkan pada
prinsip nilai dalam pertukaran (Value in Exchange), dan
bukan Nilai dalam Penggunaan (Value in Use).
+ Pembahasan

6.2 Merupakan suatu kebetulan jika Nilai dalam Penggunaan suatu aset
sama dengan Nilai Pasar-nya. Nilai dalam Penggunaan suatu aset
cenderung lebih tinggi dari Nilai Pasar jika perusahaan mampu
beroperasi secara lebih efektif dan efisien dan menguntungkan
dibandingkan dengan tipikal perusahaan sejenis. Sebaliknya, Nilai
dalam Penggunaan dapat lebih rendah dari Nilai Pasar apabila
perusahaan tidak menggunakan suatu aset sesuai dengan kapasitas
dan efisiensi maksimumnya.

6.3 Nilai dalam Penggunaan dapat juga menjadi lebih tinggi dari Nilai
Pasar apabila perusahaan memiliki hak hak produksi, kontrak kontrak,
hak hak paten dan lisensi lisensi, keahlian tertentu, goodwill khusus
serta aset tak berwujud lainnya yang tidak dapat dialihkan kepada
pihak lain.
+ Pembahasan

6.4 Konsep Nilai Investasi mengkaitkan properti khusus


dengan investor khusus, kelompok investor, atau badan
usaha dengan kriteria-kriteria dan tujuan-tujuan investasi
yang teridentifikasi. Nilai Investasi suatu aset dapat lebih
tinggi atau lebih rendah dari Nilai Pasar aset. Istilah Nilai
Investasi hendaknya jangan dirancukan dengan Nilai
Pasar properti investasi. Perbedaan antara Nilai Investasi
dari suatu aset dan Nilai Pasar memberi motivasi bagi
pembeli atau penjual untuk memasuki pasar.
+ Pembahasan

6.5 Nilai Khusus mungkin terdapat pada suatu aset


dikarenakan lokasi yang unik, situasi temporer di bawah
kondisi pasar yang luar biasa, atau pembayaran lebih
tinggi oleh seorang pembeli yang mempunyai kepentingan
tertentu (Lihat butir 3.6). Unsur Nilai Khusus dapat
dilaporkan secara terpisah dari Nilai Pasar yang
ditetapkan sesuai dengan SPI ini. Nilai Khusus seharusnya
tidak disatukan ke dalam pernyataan Nilai Pasar, karena
hal ini dapat menyesatkan dan dapat diartikan bahwa
unsur penambahan nilai tersebut bukan merupakan suatu
hal yang khusus.
+ Pembahasan
a) Nilai Khusus dapat muncul bila aset memiliki atribut
yang membuatnya lebih menarik bagi pembeli tertentu
dibandingkan dengan pembeli lain di pasar. Atribut ini
dapat mencakup fisik, fungsi, geografis, karakteristik
ekonomi atau hukum dari suatu aset, seperti properti
yang bersambungan.

b) Nilai Pasar mengabaikan semua elemen dari Nilai


Khusus, karena pada tanggal penilaian diasumsikan
adanya pembeli yang berminat dan bukan adanya
pembeli tertentu yang berminat.

c) Nilai Investasi merupakan salah satu bentuk dari Nilai


Khusus, dikarenakan terdapat unsur khusus yang
menjadi pertimbangan investasi yang berlaku khusus
bagi investor tertentu yang berbeda dengan pasar.
+ Pembahasan

6.6 Nilai Likuidasi sebagaimana dimaksud dalam IVS 2017


seharusnya mempertimbangkan biaya-biaya yang dibutuhkan
untuk mengkondisikan suatu aset menjadi dapat dijual (saleable
condition) dan biaya-biaya terkait aktivitas pelepasan aset.
Nilai Likuidasi dapat ditentukan dengan dua premis nilai yang
berbeda

a) transaksi yang teratur (orderly) dengan periode


pemasaran yang tipikal, atau

b) transaksi yang dipaksakan (forced transaction) dengan


periode pemasaran yang singkat.

Penilai harus menentukan premis nilai yang diasumsikan.


+ Pembahasan
6.7 Nilai Likuidasi dalam penilaian aset tetap sering digunakan dalam
situasi penjual berada di bawah paksaan untuk menjual atau
penjualan paksa (forced sale) sehingga akibatnya waktu pemasaran
yang wajar tidak terpenuhi. Harga yang bisa diperoleh dalam
keadaan ini akan tergantung dari sifat tekanan pada penjual dan
alasan penyebab waktu pemasaran yang layak tidak dapat
dilakukan. Hal ini juga mencerminkan konsekuensi penjual yang tidak
dapat menjual dalam jangka waktu yang layak. Harga yang
diperoleh dalam penjualan paksa tidak dapat diperkirakan secara
realistis, kecuali sifat dan alasan atas keterpaksaan dari penjual
dapat diketahui. Harga yang akan diterima penjual dalam penjualan
paksa mencerminkan keadaan khusus, bukan seperti penjual yang
berminat menjual secara hipotetis yang memenuhi definisi Nilai Pasar.
Harga yang diperoleh dalam penjualan paksa hanya memiliki
keterkaitan secara kebetulan saja dengan Nilai Pasar atau dasar nilai
lainnya. "Penjualan Paksa" adalah deskripsi dari situasi dimana
pertukaran terjadi, dan tidak merupakan dasar nilai.
+ Pembahasan

a) Jika diperlukan indikasi harga berdasar kondisi penjualan


paksa, maka perlu diidentifikasi dengan jelas keterpaksaan
dari penjual, termasuk konsekuensi gagal menjual dalam
periode tertentu dengan membuat asumsi yang sesuai. Jika
keadaan ini tidak diperoleh pada tanggal penilaian, maka
harus diidentifikasikan dengan jelas sebagai asumsi khusus.
+ Pembahasan

b) Penjualan di pasar yang tidak aktif atau kondisi pasar yang


sedang menurun tidak langsung disebut "penjualan paksa"
karena penjual mungkin berharap harga akan lebih baik jika
kondisi membaik. Kecuali bila penjual terpaksa menjual
dalam jangka waktu yang tidak memenuhi periode
pemasaran yang layak, maka penjual merupakan penjual
yang berminat menjual dan memenuhi definisi Nilai Pasar
(lihat SPI 101 butir 3.2 huruf e).

Oleh karena itu Nilai Likuidasi tidak mudah diperkirakan


oleh seorang Penilai karena sifat dan luasnya asumsi yang
bersifat subyektif dan tanpa dasar dalam merumuskan opini
semacam itu, sehingga Penilai harus menggunakan istilah
indikasi Nilai Likuidasi (Lihat butir 3.5 huruf b).
+ Pembahasan

6.8 Pengertian dasar Nilai Likuidasi untuk Penggunaan Kembali


sama dengan Nilai Likuidasi (Nilai Jual Paksa), tetapi dalam
Nilai Likuidasi untuk Penggunaan Kembali penilaian dilakukan
dengan asumsi properti/fasilitas yang ada secara utuh akan
diteruskan kembali sesuai dengan penggunaannya semula.

6.9 Konsep Nilai Pasar untuk Penggunaan yang Ada meninggalkan


asumsi Nilai Pasar mengenai penggunaan tertinggi dan terbaik.
Kegunaan yang utama dari penilaian adalah pada saat
penilai menentukan nilai dari aset yang merupakan bagian
dari usaha yang berkelanjutan. Oleh karena itu adalah tidak
berdasar untuk menggunakan nilai pasar yang
menggambarkan penggunaan selain dari untuk usaha yang
berkelanjutan.
+ Pembahasan
6.10 Nilai Penggantian Wajar diartikan sama dengan Nilai Ganti
Kerugian sebagaimana dimaksud dalam UU No. 2 tahun 2012.

Penilaian untuk keperluan ganti kerugian meliputi:

1. Ganti kerugian fisik (material) tanah dan/atau


bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda-benda
lain yang berkaitan dengan tanah.

2. Ganti kerugian non fisik (immaterial) meliputi antara


lain penggantian terhadap kerugian pelepasan hak
dari pemilik tanah yang akan diberikan dalam bentuk
uang (premium) berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, serta kerugian
lainnya yang dapat dihitung meliputi biaya transaksi,
bunga (kompensasi masa tunggu), kerugian sisa tanah,
dan kerusakan fisik lainnya (bila ada).
+ Pembahasan

6.11 Nilai Realisasi Bersih dapat dianggap lebih realistis jika


dibandingkan dengan Nilai Pasar dalam hal pemberi tugas
bermaksud untuk melepaskan suatu aset. Penilai harus tanggap
bahwa biaya-biaya tidak termasuk kewajiban pajak yang
mungkin timbul dalam pelepasan aset selain dari biaya meterai
atau kewajiban lainnya yang dibebankan dalam dokumentasi
pengalihan hak. Jika pajak akan dibebankan, penggunaan
istilah “nilai realisasi bersih setelah pajak” harus digunakan
dan besarnya pajak serta asumsi-asumsi yang digunakan
dalam perhitungan harus dinyatakan secara jelas. Penilai
disarankan untuk berkomunikasi dengan bagian keuangan dan
konsultan pajak dari pemberi tugas dalam penentuan nilai
setelah pajak.
+ Pembahasan

a. Pada beberapa kasus penjualan suatu aset, asumsi


Nilai Pasar bahwa tempat pertukaran kontrak dan
penyelesaiannya terjadi secara simultan pada tanggal
penilaian mungkin tidak tepat. Dalam kasus seperti ini
adalah tepat menggunakan istilah “estimasi Nilai
Realisasi Bersih” dengan secara berhati-hati
memberikan asumsi waktu pelepasan asetdan
menyatakan secara jelas bahwa ini tidak menyimpang
dari definisi Nilai Pasar. Bila waktu yang akan datang
tidak memberikan jangka waktu yang cukup untuk
pemasaran, “estimasi Nilai Realisasi Bersih Terbatas”
seharusnya digunakan.
+ Pembahasan

6.12 Nilai Realisasi Bersih untuk Penggunaan yang Ada sebagai


Kesatuan Operasional sering diperlukan untuk properti seperti
gedung bioskop dan hotel tempat properti tersebut biasanya
dijual sebagai perusahaan yang beroperasi. Oleh karena itu
adalah tidak berdasar untuk menggunakan asumsi Nilai Pasar
berdasarkan Penggunaan Tertinggi dan Terbaik. Nilai sudah
termasuk biaya penjualan, tetapi tidak memperhitungkan pajak
penjualan selain dari bea meterai dan bea lainnya dalam
dokumentasi pengalihan.
+ Pembahasan

a) Sering kali, dalam hal penilaian diperlukan oleh


pemberi pinjaman, pemberi tugas membatasi asumsi
yang biasa digunakan dalam penentuan Nilai Pasar.
Aturan yang umum adalah pembatasan ini secara jelas
dispesifikasikan dan, jika sesuai, dibandingkan dengan
asumsi Nilai Pasar

b) Waktu yang biasanya dibutuhkan untuk penjualan


bervariasi bergantung pada sifat properti dan kondisi
pasar pada tanggal penilaian
+ Pembahasan

6.13 Dalam beberapa kejadian, opini Nilai Realisasi Bersih Terbatas


dibutuhkan oleh pemberi pinjaman untuk melaksanakan
penilaian properti yang mengasumsikan jangka waktu tertentu
untuk pelepasan properti dan penyesuaian yang dilakukan
untuk biaya penjualan. Jika jangka waktu kurang dari yang
diasumsikan dalam definisi nilai pasar, istilah “nilai realisasi
bersih terbatas” harus digunakan. Laporan harus menyatakan
jangka waktu dan jangka waktu normal yang biasanya
dibutuhkan. Jangka waktu ini akan bervariasi bergantung pada
sifat properti dan kondisi pasar pada tanggal penilaian.
+ Pembahasan

6.14 Nilai Sekrap merupakan nilai dari suatu properti (tidak


termasuk tanah) yang sudah tidak mempunyai nilai ekonomis
lagi, dalam arti keseluruhan ataupun merupakan bagian-
bagian/materialnya, dan umumnya properti berupa mesin dan
peralatan akan dijual berdasarkan berat dan akan dilebur
kembali.

6.15 Istilah Nilai Sewa dibedakan dari “Nilai Sewa Pasar”


berdasarkan kenyataan bahwa istilah sewa ini berbeda
dengan istilah sewa pasar.
+ Pembahasan

6.16 Nilai Sisa (Lihat butir 3.15) biasanya merupakan pernyataan


mengenai harga properti saat ini, selain dari tanah, yang telah
mencapai akhir dari harapan masa manfaat sesuai dengan tujuan
dan fungsinya semula. Konsep Nilai Sisa mengartikan bahwa aset
dinilai atas dasar nilai sisa dan bukan untuk tujuannya semula. Dalam
konteks ini, Nilai Sisa juga dikenal dalam terminologi akuntansi
sebagai jumlah realisasi bersih dari suatu aset yang telah habis masa
manfaatnya.

6.17 Nilai Sisa tidak selalu berarti bahwa suatu aset tidak memiliki lagi
masa manfaat atau kegunaan lebih lanjut. Properti yang telah
dinyatakan usang pada akhir sisa masa manfaat dapat dibangun
kembali, diubah untuk suatu penggunaan yang sama atau berbeda,
atau dapat digunakan sebagai suku cadang bagi properti properti
lain yang masih berjalan. Secara ekstrim nilai sisa dapat mewakili
gambaran mengenai nilai rongsokan, atau nilai untuk daur ulang.
+ Pembahasan

6.18 Nilai Wajar adalah istilah yang digunakan di dalam akuntansi, yang
penting untuk dibedakan dengan Nilai Pasar. Meskipun Nilai Wajar
dan Nilai Pasar dapat memiliki besaran yang sama di dalam kondisi
tertentu, kedua nilai ini memiliki definisi yang berbeda. Sebagai
contoh, estimasi Nilai Wajar mungkin tidak memenuhi persyaratan
Nilai Pasar mengenai adanya pasar bagi properti maupun kondisi
transaksi.
+ Pembahasan

6.19 Nilai Wajar merupakan konsep yang lebih luas dari Nilai Pasar.
Meskipun dalam banyak kasus harga yang wajar antara dua pihak
akan sama dengan yang diperoleh di pasar, akan tetapi terdapat
kasus di mana penilaian dengan Nilai Wajar akan
mempertimbangkan berbagai hal yang diabaikan dalam penilaian
dengan Nilai Pasar, seperti pada Nilai Khusus yang timbul karena
adanya kombinasi kepentingan.

6.20 Nilai Ekuitabel membutuhkan kajian dari harga yang wajar di antara
dua pihak tertentu dan teridentifikasi dengan mempertimbangkan
keuntungan dan kerugian yang akan diperoleh masing-masing pihak
dari transaksi. Sebaliknya, Nilai Pasar umumnya mensyaratkan
diabaikannya keuntungan dan kerugian yang tidak akan tersedia
atau dinikmati oleh pelaku pasar.
+ Pembahasan

6.21 Penggunaan dari Nilai Ekuitabel termasuk:

a) Penentuan harga yang wajar untuk pemegang saham dari


perusahaan tertutup, dimana kepemilikan saham dari dua
pihak tertentu dapat berarti bahwa harga yang wajar di
antara mereka adalah berbeda dengan harga yang akan
terjadi di pasar, dan

b) Penentuan harga yang wajar di antara pemilik sewa dan


penyewa baik untuk transfer permanen dari aset yang
disewakan atau untuk pembatalan dari kewajiban sewa
+ Pembahasan

6.22 Penggunaan Nilai Wajar Khusus

Nilai Wajar Khusus berlaku secara khusus untuk situasi adanya pihak
yang berbeda pendapat (dissenting party) serta diperlakukan tidak
adil atau dalam konteks yudisial, dimana dibutuhkan opini nilai yang
wajar bagi pihak yang berbeda pendapat dengan
mempertimbangkan kelebihan atau kerugian yang akan diperoleh
dari transaksi.

6.23 Properti dapat dinilai atas dasar selain dari Nilai Pasar, atau dapat
berpindah tangan dengan harga yang tidak mencerminkan Nilai
Pasar sebagaimana dijelaskan. Dasar alternatif tersebut bisa
mencerminkan perspektif non pasar dari pemanfaatan atau fungsinya,
atau dari kondisi non pasar dan tidak lazim. Sebagai contoh adalah
Nilai dalam Penggunaan, Nilai Investasi, Nilai Khusus, dan Nilai
Sinergis (Lihat butir 3).
+ Pembahasan

6.24 Premis Nilai (Asumsi penggunaan) menjelaskan situasi


bagaimana aset atau kewajiban digunakan. Berbagai dasar
penilaian akan membutuhkan Premis Nilai tertentu atau
membolehkan pertimbangan dari beberapa Premis Nilai.
Beberapa Premis Nilai yang banyak dijumpai adalah:

a) Penggunaan Tertinggi dan Terbaik (HBU)

b) Penggunaan Saat Ini (Eksisting)

c) Likuidasi secara teratur, dan

d) Jual Paksa
+ Pembahasan

6.25 Premis Nilai – Penggunaan Tertinggi dan Terbaik (HBU)

a) HBU adalah penggunaan yang dari perspektif pelaku pasar


akan menghasilkan nilai tertinggi dari aset. Meskipun konsep
ini terutama diterapkan pada aset non keuangan karena
umumnya aset keuangan tidak memiliki penggunaan
alternatif, terdapat situasi dimana HBU dari aset keuangan
perlu dipertimbangkan.

b) HBU harus secara fisik dimungkinkan (jika sesuai), secara


hukum diijinkan, secara finansial layak dan menghasilkan
nilai tertinggi. Apabila berbeda dengan penggunaan saat
ini, biaya untuk mengkonversi aset menjadi HBU nya akan
berpengaruh terhadap nilai.
+ Pembahasan

c) HBU aset dapat berupa penggunaan saat ini atau


penggunaan yang ada apabila digunakan secara
optimal. Namun demikian, HBU dapat berbeda dari
penggunaan saat ini atau bakan menjadi likuidasi
secara teratur.

d) HBU aset yang dinilai dengan dasar berdiri sendiri


(stand alone) mungkin berbeda dari HBU sebagai
bagian dari sekelompok aset, ketika kontribusinya
kepada nilai dari sekelompok aset tersebut
dipertimbangkan.
+ Pembahasan

e) Penentuan HBU melibatkan pertimbangan berikut:

1. Untuk menentukan apakah suatu penggunaan


secara fisik dimungkinkan, penilai harus
mempertimbangkan penggunaan yang dianggap
paling wajar oleh pelaku pasar

2. Untuk mencerminkan persyaratan yang secara


hukum diijinkan, setiap restriksi legal mengenai
penggunaan aset, misalnya peraturan tata
kota/peruntukan harus dipertimbangkan penilai
termasuk kemungkinan perubahan restriksi
tersebut
+ Pembahasan

3. Persyaratan bahwa penggunaan secara finansial layak


mempertimbangkan apakah penggunaan alternatif yang
secara fisik dimungkinkan dan secara hukum diijinkan
akan menghasilkan pengembalian yang memadai bagi
pelaku pasar tipikal, setelah memperhitungkan biaya
konversi akan melebihi tingkat pengembalian dari
penggunaan yang ada.

6.26 Premis Nilai - Penggunaan Saat Ini (Eksisting)

Adalah cara saat ini dimana aset, kewajiban atau sekelompok aset
dan/atau kewajiban digunakan. Penggunaan saat ini mungkin, tapi
tidak selalu, merupakan Penggunaan Tertinggi dan Terbaik.
+ Pembahasan

6.27 Premis Nilai – Likuidasi Teratur

Menjelaskan nilai dari sekelompok aset yang dapat


direalisasikan dalam penjualan likuidasi, dalam periode waktu
yang wajar untukmendapatkan pembeli (atau beberapa
pembeli), dimana penjual terpaksa untuk menjual secara apa
adanya (as-is, where-is basis)

Periode waktu yang wajar untuk mendapatkan pembeli (atau


beberapa pembeli) dapat bervariasi tergantung kepada jenis
aset dan kondisi pasar
+ Pembahasan

6.28 Premis Nilai – Jual Paksa

a) Istilah Jual Paksa sering digunakan dalam situasi


dimana penjual terpaksa untuk menjual dan sebagai
konsekuensinya, periode pemasaran yang layak tidak
dimungkinkan dan pembeli tidak dapat melaksanakan
uji tuntas yang seharusnya (lihat penjelasan pada butir
6.7).

b) Suatu transaksi Jual Paksa umumnya merefleksikan


harga yang paling dimungkinkan diperoleh dari suatu
properti di bawah kondisi berikut:
+ Pembahasan
1. Pelaksanaan penjualan dalam periode waktu yang singkat

2. Aset tergantung kepada kondisi pasar yang terjadi pada


tanggal penilaian atau asumsi jangka waktu dimana transaksi
akan dilaksanakan

3. Baik penjual maupun pembeli masng-masing bertindak atas


dasar pemahaman yang dimilikinya dan kehati-hatian

4. Penjual dalam keadaan terpaksa menjual

5. Pembeli umumnya termotivasi untuk membeli

6. Kedua belah pihak bertindak untuk kepentingan terbaik mereka

7. Usaha pemasaran yang normal tidak dimungkinkan karena waktu


eksposur yang singkat

8. Pembayaran dilakukan secara tunai


+ Pembahasan

c) Ketika transaksi Jual Paksa yang dapat dikonfirmasi


umumnya akan dikecualikan dari pertimbangan dalam
penilaian dengan dasar Nilai Pasar, adalah sulit untuk
memverifikasi bahwa transaksi bebas ikatan di pasar
adalah suatu transaksi Jual Paksa.

6.29 Faktor Spesifik Entitas

a) Faktor spesifik yang dimiliki oleh pembeli atau penjual


tertentu, tidak boleh digunakan sebagai input data
dalam penilaian berbasis pasar. Contoh faktor spesifik
tertentu diatas, sebagai berikut:
+ Pembahasan
1. Tambahan nilai yang berasal dari penerbitan portofolio
aset sejenis;
2. Sinergi yang unik antara aset dan aset lainnya yang
dimiliki oleh entitas;
3. Hak legalitas atau pembatasan;
4. Manfaat pajak atau beban pajak;
5. Kemampuan untuk mengeksploitasi aset yang unik untuk
entitas tersebut.

b) Untuk menentukan faktor-faktor diatas spesifik atau tidak


pada entitas, ditentukan kasus per kasus. Misalnya, suatu aset
yang secara normal tidak dapat ditransaksikan tersendiri,
karena merupakan bagian dari suatu kelompok aset dimana
sinergi dari aset-aset tersebut akan dimiliki oleh pelaku
pasar bila dipindahkan secara kelompok.
+ Pembahasan

c) Jika rencana penilaian adalah untuk menentukan nilai bagi


pemilik spesifik (Dasar Penilaian Selain Nilai Pasar, al. Nilai
Investasi), faktor spesifik entitas akan tercermin dalam
penilaian aset. Contoh: kondisi dimana nilai bagi pemilik
spesifik diperlukan, seperti mendukung keputusan investasi
dan mengkaji kinerja suatu aset.

6.30 Sinergi

a) Sinergi merujuk kepada manfaat yang terkait dengan


kombinasi aset. Ketika sinergi terjadi, nilai dari sekelompok
aset dan kewajiban adalah lebih besar dari jumlah nilai dari
aset dan kewajiban individual pada saat berdiri sendiri
(stand-alone basis). Sinergi umumnya terkait dengan
pengurangan biaya, dan/atau penambahan pendapatan,
dan/atau pengurangan resiko.
+ Pembahasan

b) Apakah sinergi seharusnya dipertimbangkan dalam


penilaian akan tergantung kepada dasar nilai. Untuk
sebagian besar dasar nilai, hanya sinergi yang tersedia
untuk pelaku pasar lainnya yang umumnya akan
dipertimbangkan (lihat Faktor Spesifik Entitas).

c) Pengkajian apakah sinergi akan tersedia untuk pelaku pasar


lainnya mungkin didasarkan kepada jumlah sinergi daripada
cara tertentu untuk mencapai sinergi tersebut.

6.31 Biaya transaksi

Dasar nilai pada umumnya menggambarkan estimasi harga


pertukaran dari aset tanpa memperhitungkan biaya penjualan dari
penjual atau biaya pembelian dari pembeli dan tanpa penyesuaian
untuk pajak yang harus dibayarkan oleh masing-masing pihak
sebagai akibat langsung dari transaksi
+ Syarat Pengungkapan

7.1 Laporan penilaian tidak boleh menyesatkan. Standar


pelaporan tertentu dapat saja berbeda beda, tetapi
merupakan tanggung jawab Penilai untuk memasukkan
dalam laporan paling sedikit hal hal yang tercantum
dalam butir 5.0 di atas.

Untuk penilaian bukan berdasarkan Nilai Pasar, tujuan


dan penggunaan penilaian hendaknya dilaporkan secara
jelas, dan diungkapkan lengkap termasuk pernyataan
mengenai dasar penilaian, kemungkinan penerapan serta
keterbatasannya.
+ Syarat Pengungkapan

7.2 Setiap laporan penilaian atas dasar selain Nilai Pasar


harus mencantumkan Pernyataan mengenai Kondisi dan
Syarat Pembatas atau pernyataan lain yang sejenis.
Walaupun terdapat ketentuan ini, Penilai tidak
diperbolehkan menggunakan pernyataan mengenai
Kondisi dan Syarat Pembatas untuk membenarkan
penyimpangan dari SPI ini.

7.3 Dalam melaksanakan suatu penilaian atas dasar selain


Nilai Pasar, Penilai tidak diperbolehkan membuat asumsi
yang tidak wajar dilihat dari fakta yang dapat
dipastikan terjadi pada tanggal efektif penilaian. Seluruh
asumsi harus diungkapkan dalam setiap laporan.
+ Syarat Pengungkapan

7.4 Setiap laporan penilaian atas dasar selain dari Nilai


Pasar harus sesuai dengan pedoman sebagaimana yang
ditetapkan dalam SPI ini. Perbedaan definisi harus
dijelaskan antara Nilai Pasar dan jenis nilai lainnya yang
digunakan.

7.5 Setiap laporan penilaian yang dibuat dengan dasar


selain Nilai Pasar harus menyertakan Pernyataan Penilai
bahwa telah dilakukan sesuai dengan SPI.
+ Syarat Pengungkapan

7.6 Jika suatu penilaian dibuat oleh seorang penilai internal,


misalnya Penilai yang dipekerjakan oleh perusahaan yang
memiliki aset, maupun perusahaan akuntansi yang
bertanggung jawab untuk membuat catatan dan atau
laporan keuangan perusahaan, harus ada pengungkapan
khusus dalam laporan penilaian tentang status Penilai dan
hubungannya dengan pemberi tugas.

7.7 Laporan lainnya harus konsisten dengan SPI ini.


+ Ketentuan Penyimpangan

8.1 Jika seorang Penilai diminta untuk melaksanakan suatu tugas di luar
dari SPI ini, Penilai dapat menerima dan melaksanakan jasa penilaian
tersebut dengan syarat:

a) Penilai menentukan bahwa tugas tersebut tidak cenderung


akan menyesatkan perusahaan, para pengguna laporan
atau jasa penilaian, atau masyarakat umum;

b) Penilai memberitahukan kepada Pemberi Tugas bahwa tugas


tersebut menggunakan asumsi khusus atau pengecualian dari
SPI ini yang harus diungkapkan lengkap dalam laporan dan
atau pernyataan kepada Pihak Ketiga yang dibuat oleh
Penilai sebagai hasil dari penugasan yang dilaksanakan;
+ Ketentuan Penyimpangan

c) Penilai perlu mencantumkan suatu kondisi di dalam


syarat (kontrak) penugasan Penilai bahwa asumsi
khusus atau penyimpangan diungkapkan dalam
setiap dokumen yang dipublikasikan yang merujuk
pada opini Penilai.
+ Kutipan dan Tanggal Berlaku

9.1 Standar ini dapat dikutip sebagai SPI 102 - Dasar Nilai
Selain Nilai Pasar.

9.2 SPI 102 ini ditetapkan pada tanggal 1 Agustus 2018 dan
mulai berlaku secara efektif pada tanggal 1 Februari
2019.
TERIMA KASIH

Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI)


Komite Penyusun Standar Penilaian Indonesia (KPSPI)
Jl. Kalibata Raya No. 11-12E, Jakarta Selatan 12740
Telp : 62 21 7949079 – 79181706
Fax : 62 21 7949081
Office 18, Lantai 3 Unit 3F
Jl. TB Simatupang Kav. 18 Jakarta Selatan Indonesia
Email : mappi@cbn.net.id
Website : http://www.mappi.or.id

Anda mungkin juga menyukai