Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINKING ALOUD

PAIR PROLEM SOLVING (TAPPS) TERHADAP MOTIVASI


DAN PRESTASI BELAJAR SISWA
Rizka Aulia Wardhani
Dr. Nurul Ain, M.Pd
Hena Dia Ayu, S, Si., M.Pd., M. Si.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran
Thingking Aloud Pair Problem Solving terhadap motivasi dan prestasi belajar Fisika
siswa yang dilakukan di SMA Negeri 1 Grati pada tahun pelajaran 2018/2019. Jenis
penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan rancangan posttest only control design
group. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIPA dan sampel
penelitian terdiri dari 33 siswa kelas XI MIPA 4 sebagai kelas eksperimen dan 35 siswa
kelas XI MIPA 2 sebagai kelas kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan
adalah purposive sampling. Data didapatkan melalui observasi dan tes kemudian
dianalisis menggunakan uji Anova dua jalur. Penelitian ini menunjukkan bahwa model
TAPSS berpengaruh terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa. Dengan demikan,
disimpulkan bahwa pengunaan model pembelajaran Thingking Aloud Pair Problem
Solving memberikan dampak positif terhadap motivasi dan prestasi belajar Fisika siswa
terlihat dari nilai motivasi dan prestasi belajar fisika siswa lebih tinggi. Model
pembelajaran TAPSS terbukti berpengaruh terhadap motivasi dan prestasi belajar Fisika
siswa.

Kata kunci : Thingking Aloud Pair Problem Solving, Motivasi Belajar dan
Prestasi Belajar Fisika

PENDAHULUAN
Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu fisika secara
langsung maupun tidak langsung juga berkaitan dengan teknologi saat ini. Sejalan
dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka dituntut pula
peningkatan kualitas pembelajaran fisika di sekolah. Pembelajaran fisika merupakan
mata pelajaran yang penting, maka seharusnya pembelajaran fisika dilakukan dengan
cara yang menarik, menyenangkan dan mampu melibatkan siswa turut aktif dalam
pembelajaran. (Putri, Maharani Erika; Syakbaniah; Ratnawulan, 2016). Fisika selalu
dipandang sebagai mata pelajaran yang susah untuk dipelajari, dan membuat siswa
merasa bosan untuk mempelajarinya dikarenakan penuh dengan teori serta rumus yang
harus dihafal (Irawan, 2016).
Menurut Wijayanti (2013) pada umumnya, metode pembelajaran yang diterapkan
oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar fisika adalah metode pembelajaran
konvensional yang lebih banyak mengandalkan ceramah. Dimana guru lebih
memfokuskan diri pada upaya pemindahan pengetahuan ke dalam diri siswa tanpa
memperhatikan bahwa ketika siswa memasuki kelas, siswa mempunyai bekal
kemampuan dan pengetahuan yang tidak sama. Siswa hanya ditempatkan sebagai obyek
sehingga siswa menjadi pasif dan tenggelam ke dalam kondisi belajar yang kurang
merangsang aktivitas belajar yang kurang optimal.
Hal ini menyebabkan siswa kurang termotivasi. Motivasi belajar sendiri diperlukan
sebagai bekal untuk memulai proses pembelajaran. Kamaludin (2017) mengatakan
bahwa motivasi menjadi salah satu faktor psikologis yang memiliki pengaruh besar
dalam menentukan keberhasilan setiap aktivitas manusia, termasuk di dalamnya adalah
aktivitas belajar. Tingginya tingkat motivasi belajar siswa dinilai mampu memberikan
pengaruh positif pada prestasi belajar. Demikian sebaliknya, tingkat motivasi yang
rendah akan menurunkan minat belajar dan secara tidak langsung akan memberikan
dampak yang kurang baik pada prestasi belajarnya.
Prestasi belajar adalah hasil yang didapat setelah proses pembelajaran usai. Prestasi
Belajar berkaita dengan motvasi belajar. Menururt Lestari (2011) prestasi siswa dapat
meningkat jika motivasi dalam belajar dapat menumbuhkan hasrat dan keinginan untuk
belajar yang lebih bermakna. Kegiatan pembelajaran yang telah dipersiapkan guru
diharapkan dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan tujuan yang
ingin diraih.
Problem solving merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam pembelajaran fisika
yang dapat mengaktifkan siswa, mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam
menyelesaikan masalah menimbulkan sikap positif siswa serta meningkatkan motivasi
siswa dalam belajar fisika. Membiasakan siswa dalam merumuskan masalah,
menghadapi dan menyelesaikan soal merupakan salah satu cara untuk mencapai
penguasaan suatu konsep akan menjadi lebih baik. Hal ini sejalan dengan pendapat aliran
Behaviorisme yang menyatakan bahwa untuk mencapai pemahaman yang lebih baik
dapat dilakukan dengan cara mengulang-ulang masalah yang di sampaikan
(Hudojo,1988)
Salah satu tipe model pembelajaran koperatif yang mudah diterapkan untuk
meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa adalah TAPPS Proses pembelajaran
menggunakan model pembelajaran TAPPS dalam kegiatan pembelajaran setiap siswa
mendapat tugas untuk menjadi problem solver dan listener sehingga siswa terlibat aktif
dalam proses pemecahan masalah (Aftina dkk,, 2016). Siswa yang mampu memecahkan
masalah yang diberikan saat pembelajaran berlangsung dapat meningkatkan prestasi
siswa. Penggunaan model pembelajaran TAPPS agar dapat memotivasi siswa dalam
kelompok agar mereka dapat saling membantu dan mendorong satu sama lain dalam
menguasai materi yang disajikan (Apriyani, 2015)
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah pada penelitian ini,
peneliti membahas tentang pengaruh model TAPPS terhadap motivasi dan prestasi
belajar siswa. Sedangkan pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rahmat, M.,
Muhardjito, M., & Zulaikah, S. (2014) yang berjudul Kemampuan pemecahan masalah
melalui strategi pembelajaran thinking aloud pair problem solving siswa kelas X SMA.
Penelitian tersebut membahas tentang pengaruh strategi pembelajaran thinking aloud pair
problem solving berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa
tingkat kemampuan pemecahan masalah siswa mengalami peningkatan.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perbedaan motivasi siswa yang diajar
melalui model pembelajaran Thingking Aloud Pair Problem Solving dengan model
pembelajaran konvesional; (2) mengetahui perbedaan prestasi belajar Fisika siswa yang
diajar melalui model pembelajaran Thingking Aloud Pair Problem Solving dengan
model pembelajaran konvesional; (3) mengetahui interaksi antara model pembelajaran
Thingking Aloud Pair Problem Solving dengan motivasi terhadap prestasi belajar Fisika
siswa yang dilakukan di SMA Negeri 1 Grati pada tahun pelajaran 2018/2019

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan penelitian kuantitatif tipe
eksperimen semu. Penelitian kuasi eksperimen dalam menentukan kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara acak dalam memasukannya (nonrandom
assignment). Desain penelitian yang digunakan adalah post-test control group design.
Dalam rancangaan ini, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diseleksi tanpa
prosedur penempatan acak (without random assignment). Pada dua kelompok tersebut
sama-sama dilakukan posttest dan kelompok yang mendapatkan perlakuan (treatment)
hanya kelompok eksperimen. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel penelitian,
variabel tersebut adalah model TAPPS sebagai variabel bebas dan motivasi dan prestasi
belajar sebagai variabel terikat.
Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI MIPA SMAN 1 Grati yang
berjumlah 5 kelas. Adapun teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu
(Sugiyono, 2013). Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI MIPA 4 dan XI MIPA 2
SMAN 1 Grati. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
metode observasi dan tes. Dengan teknik ini akan diperoleh data yang berupa data nilai
motivasi da prestasi. Tehnik analisis data dalam penelitian ini ada 2 yaitu analisis data
kuantitatif dari nilai siswa dan analisis data kualitatif yang berasal dari observasi.
Analisis data menggunakan uji Anova dua jalur. Semua analisis penelitian ini
menggunakan tingkat signifikansi 5% dan menggunakan Microsoft Excel 2013.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini ada dua jenis data motivasi dan prestasi
belajar pada kelas eksperimen dan kelas kotrol. Data motivasi diperoleh melalui
observasi saat diberi perlakuan terhadap kelas eksperimen dan kelas kontrol sedangkan
data prestasi belajar melalui tes tertulis berupa tes objektif pilihan ganda. Instrumen tes
data prestasi belajar berupa 20 soal pilihan ganda yang memiliki rentang validasi sebesar
0,65-0,387. Rentang nilai reliabilitas soal pada penelitian ini adalah 0,753. Dengan
demikian, instrumen (soal) tersebut bisa digunakan untuk mengukur ketercapaian
prestasi belajar Fisika siswa.

Hasil Dan Pembahasan

1. Hasil Penelitian
a. Hasil Uji Hipotesis
Tabel 1 Hasil Uji Hipotesis
Taraf
Statistik JK db KR Fhitung Ftabel
Signifikan
Antar
1335.7465 1 1335.7465 23.96036967 3,92 0,05
kelompok A
Antar
945.454611 1 945.45461 16.95938712 3,92 0,05
kelompok B
Antar
kelompok 235.881616 1 235.88162 4.231200094 3,92 0,05
AB

b. Data Hasil Motivasi Belajar

MOTIVASI BELAJAR
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
minat kel as eks
perhatia n peri men
konsentras i kela sha
pema kontrol
ma n tekun
Gambar 1. Motivasi Belajar

c. Data Hasil Prestasi

PRESTASI BELAJAR
81.00
80.50
80.00 80.61
79.50
79.00
78.50
78.00
77.50 78
77.00
76.50
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Gambar 2. Prestasi Belajar

2. Pembahasan
a. Pembahasan Uji Hipotesis
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang terdapat pada tabel 1 dapat disimpulkan
bahwa:
1. Pengujian Hipotesis Pertama
Berdasarkan hasil data motivasi belajar siswa pada tabel 4.12 kolom antar
kelompok A diketahui bahwa nilai Fhitung sebesar 23,96 dan Ftabel sebesar 3,92 maka
Fhitung > Ftabel. Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan berdasarkan hasil analisis diatas
yaitu ada perbedaan motivasi belajar antara siswa yang menggunakan model TAPPS
dengan siswa yang menggunakan model Konvensional.
2. Pengujian Hipotesis kedua
Berdasarkan hasil data Prestasi Belajar siswa pada tabel 4.12 kolom antar
kelompok B diketahui diatas yaitu ada perbedaan prestasi belajar siswa antara siswa
yang menggunakan model TAPPS dengan siswa yang menggunakan model
Konvensional bahwa nilai Fhitung sebesar 16,95 dan Ftabel sebesar 3,92 maka Fhitung > Ftabel.
Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan berdasarkan hasil analisis
3. Pengujian Hipotesis ketiga
Berdasarkan hasil data pada tabel 4.13 kolom antar kelompok AB diketahui
bahwa nilai Fhitung sebesar 4,23 dan Ftabel sebesar 3,92 maka Fhitung>Ftabel. Oleh karena itu
dapat diambil kesimpulan berdasarkan hasil analisis diatas yaitu ada interaksi antara
model TAPPS terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa

b. Pembahasan Data Motivasi Belajar


Berdasarkan grafik 1, maka dapat dijabarkan penjelasan tiap aspek motivasi
sebagai berikut.
1. Minat
Grafik 1 menunjukan aspek minat siswa kelas yang diajarkan menggunakan
model TAPPS lebih tinggi dibandingkan kelas yang diajarkan menggunakan model
konvensional. Model TAPPS akan membuat minat siswa akan terlihat dalam
pembelajaran. Penilaian minat siswa pada model TAPPS dilakukan pada fase
pengorganisasia kegiatan pembelajaran. Siswa akan bertanya dan mencatat informasi
pembelajaran yang disampaikan. Dalam pembentukan kelompok, mayoritas siswa
sudah mau bergabung dengan kelompok yag telah dibentuk. Kemudian guru
memberikan peran dan tugas siswa sebagai problem solver dan listener untuk
berdiskusi memecahkan masalah yang diberikan melalui LKS yang dibagikan. Hal ini
akan membuat minat siswa merasa tertantang melakukan peran yang diberikan pada
saat pembelajaran.
2. Perhatian
Grafik 1 menunjukan aspek pehatian pada siswa kelas yang diajarkan
menggunakan model TAPPS lebih tinggi dibandingkan kelas yang diajarkan
menggunakan model konvensional. Penilaian perhatian siswa pada model TAPPS
dilakukan pada fase pemecahan masalah I dan II. Dalam aspek ini, baik problem solver
maupun Listener sama sama diasah perhatiannya ketika menerima tugas masing
masing, hal ni dikarenaka tigas masing masing berbeda. Perlu perhatian yang cukup
utuk dapat mengikuti pembelajaran dengan model TAPPS. Dengan adanya penggunaan
model ini, perhatian anak akan semakin baik untuk meningkatkan motivasi belajar
yang berdampak pada prestasi belajar..
3. Konsentrasi
Konsentrasi sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran khususnya dalam
memecahkan masalah yang melibatkan seluruh alat indra siswa terutama dalam
melakukan percobaan. Grafik 1 menunjukan aspek konsentrasi siswa kelas yang diajar
menggunakan model TAPPS lebih tinggi dibandingkan kelas yang diajarkan dengan
model konvensional. Model TAPPS ini membuat siswa yang berperan sebagai problem
solver memiliki tingkat konsentrasi yang cukup tinggi. Siswa yang berperan sebagai
problemsolver akan berkonsetrasi untuk melakukan pemecahan masalah dari suatu
percobaa maupun permasalahan yang telah diberikan. Model TAPPS juga membuat
siswa yang berperan sebagai listener juga dilatih konsentrasinya. Hal ini terjadi ketika,
listener mendengarkan dan mencatat penjelasan dari problem solver. Ketika dia enggan
mendengarkan dan mencatat penjelasan dari problem solver, maka penjelasan akan
pemecahan masalah tersebut tidak akan terserap dengan baik dan siswa tidak
mengasah konsentrasinya agar memahami penjelasan problem solver.
4. Pemahaman atas materi
Grafik 1 menunjukan aspek pemahaman pada siswa kelas yang diajarkan
menggunakan model TAPPS lebih tinggi dibandingkan kelas yang diajarkan
menggunakan model konvensional. Penilaian pemahaman atas materi siswa pada
model TAPPS dilakukan pada fase pengecekan. Dalam aspek ini, baik problemsolver
maupun listener diminta agar terlibat dalam memecahkan masalah atau melakukan
percobaan dan menyelesaikan berbagai pertanyaan pada LKS. Dengan adanya LKS
yang diberikan oleh guru, problem solver dan listener akan berusaha menyelesaikan
permasalahan sesuai dengan peran masig masing. Pemahaman atas materi juga dapat
terlihat ketika problem solver maupun listener berdiskusi. Ketika problem solver
menyelesaikan pemecahan masalah, pemahaman atas materinya akan terlihat ketika
problem solver dapat menjelaskan pemecahan masalah secara mendetail atau singkat
kepada listener. Hal itu juga berlaku untuk listener, pemahaman atas materi akan
terlihat ketika listener mendengarkan penjelasan pemecahan masalah oleh problem
solver.
5. Tekun
Grafik 1 menunjukan aspek tekun pada siswa kelas yang diajarkan
menggunakan model TAPPS lebih tinggi dibandingkan kelas yang diajarkan
menggunakan model konvensional. Dalam aspek tekun, pengaruh model TAPPS
terhadap kelas yang diberi perlakuan membuat siswa terpicu menyelesaikan LKS yang
telah diberikan oleh guru. Hal ini menyebabkan mereka mempunyai tanggung jawab
untuk menyelesaikan LKS dengan sungguh sungguh dan menjelaskan kepada
pasangan diskusinya yang beperan sebagai listener agar memahami permasalahan yang
telah diselesaikan oleh problem solver. Tingginya aspek tekun disebabkan oleh adanya
batasan waktu yang harus ditaati pada saat penyeleseian masalah sehingga siswa
menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh dan tepat waktu. Hal ini dikarenakan
adanya 2 sesi dalam pembelajaran untuk saling bertukar peran dan menjalankan tugas
mereka masing masing secara tepat waktu. Oleh karena itu anak akan terpicu
Penelitian ini sejalan dengan Penelitian Apriyani (2015). Apriyani (2015)
menyebutkan motivasi belajar yang tinggi menunjukkan bahwa penggunaan
pembelajaran kooperatif tipe TAPPS telah mampu meningkatkan motivasi belajar
siswa. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran kooperatif tipe TAPPS, siswa bekerja
dalam kelompok. Problem solver dan listener saling mendukung untuk memecahkan
permasalahan. Melalui bantuan listener, problem solver dapat menyampaikan semua
pemikiran dan ide untuk memecahkan permasalahan. Dengan demikian, seluruh
anggota kelompok memahami langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah beserta
alasan mengapa memakai langkah seperti itu.
Begitu juga dengan penelitian Pate&Miller (2011) bahwa penelitian yang
dilakukan selama periode pembelajaran yang meningkat dapat memberikan wawasan
tentang efek TAPPS pada hasil lain seperti peningkatan motivasi belajar. Menurut
Buchori, Achmad., Rahmawati, Noviana Dini., Baedowi, Sunan (2015) bahwa pada
model TAPPS di kelas eksperimen siswa menunjukkan ketertarikan terhadap
serangkaian kegiatan pembelajaran yang terdapat.pada proses pembelajaran. Hal ini
membuat siswa tidak mengalami kejenuhan sehingga kemauan peserta didik untuk
belajar semakin besar. Ketertarikan tersebut membuat peserta didik semakin
termotivasi. Dengan antusias dan motivasi siswa yang semakin besar membuat guru
dalam mengelola proses belajar juga semakin baik.
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan
motivasi siswa kelas yang menggunakan model TAPPS dan kelas yang menggunakan
model konvensional. Pada Kelas yang menggunakan model TAPPS aspek yang menonjol
yaitu aspek konsentrasi. Menonjolnya aspek tersebut karena model TAPPS menjadikan
siswa sebagai patokan dalam memecahkan masalah secara leluasa yang mebuat siswa
merasa harus berkonsentrasi dalam memecahkan permasalahan sesuai dengan tugas
masing-masing. Sedangkan kelas yang menggunakan model konvensional, aspek
motivasi yang paling menonjol yaitu aspek pemahaman.
c. Pembahasan Data Prestasi Belajar
Berdasarkan hasil analisis data uji statistik pada grafik 2 diperoleh bahwa ada
perbedaan prestasi belajar Fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran TAPPS
dengan siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Hal ini dibuktikan
dengan hasil analisis yaitu FHitung > FTabel pada taraf signifikansi 0,05. Hal selaras pun
disampaikan pada penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti (2013) bahwa model
pembelajaran TAPPS mampu memberi dampak positif pada peningkatan prestasi belajar
siswa. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, diperoleh sebuah fakta dimana
pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran TAPPS lebih efektif
meningkatkan pretasi belajar dibandingkan metode pembelajaran konvensional .
Pada penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti (2013) mengatakan bahwa
metode pembelajaran TAPPS siswa dibentuk kelompok dan diajak untuk belajar dengan
mementingkan perkembangan individu lewat bimbingan guru baik secara kelompok
maupun individu. Dalam metode pembelajaran TAPPS mampu menciptakan kinerja
kelompok yang aktif dan menyenangkan yang mendorong terjadinya aktivitas siswa
dalam pembelajaran secara optimal. Metode pembelajaran TAPPS menjadikan
pengajaran yang aktif dan menyenangkan baik secara kelompok maupun individu
sehingga mewujudkan pembelajaran bermakna dan dapat mencapai tujuan pembelajaran
yang diharapkan .
Rahmat, Maulidi., Muhardjito, dan Siti Zulaikah (2014) mengatakan bahwa
Pembelajaran dengan model TAPPS dapat membuat prestasi siswa di kelas ekperimen
dari pada prestasi siswa di kelas konvensional karena selain melakukan ekperimen siswa
juga diberikan permasalahan yang dapat melatih siswa dalam berpikir, serta
menghubungkan materi pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari yang
menimbulkan peningkatan prestasi siswa.
Menurut Sukilan (2018) model TAPPS dengan baik dan dilihat dari
aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar
sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi tetapi yang perlu
diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan
mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan
proses belajar mengajar selanjutnya penerapan.
Pembelajaran dengan model TAPPS dapat meningkatkan proses belajar
mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Menurut Pate, M. L.,
Wardlow, G. W., & Johnson, D. M. (2014) bahwa penelitian yang teah dilakukan
menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran TAPPS mungkin menjadi
langkah penting dalam pengembangan keterampilan metakognitif dan prestasi di
kalangan siswa.
Adanya peningkatan prestasi belajar Fisika dapat dipengaruhi oleh suasana
pembelajaran di kelas yang menarik dan lebih mendorong siswa untuk terlibat aktif
sehingga siswa memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Siswa lebih tertarik belajar
dengan menggunakan model TAPPS dikarenakan melalui pembelajaran ini siswa diberi
tempat secara penuh untuk mengeksplor kemampuannya. Siswa juga merasa tertntang
dengan berbagai peran yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan hasil penilaian Junita (2014) adanya perbedaan perolehan skor rata-
rata antara kelas eksperimen dan kelas control. Perbedaan ini diakibatkan oleh
berbedanya perlakuan yang diberikan dalam proses pembelajaran. Penerapan proses
pembelajaran dengan menggunakan model TAPPS memberikan dampak yang lebih baik
terhadap proses memahami masalah yang berkaitan dengan prestasi siswa. Hal ini
dibuktikan dari perolehan skor rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan
dengan kelas kontrol.
Penelitian ini menunjukan model Thingking Aloud Pair Problem Solving
(TAPPS) dapat membuat siswa lebih antusias dalam belajar dan lebih memahami
pelajaran Fisika . Pada saat diberi perlakuan siswa sangat aktif dalam melaksanakan
percobaan dan sangat termotivasi. LKS yang dikembangkanpun membantu siswa dalam
menganalisis bagaimana proses pemecahan masalah yang dapat dilakukan sekaligus
memotivasi siswa dalam mendiskusikan prosess pemecahan masalah tersebut. Hal ini
terdapat beberapa sintak model TAPPS yang berinteraksi terhadap motivasi sekaligus
prestasi belajar siswa.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitia dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
TAPPS berpengaruh terhadap motivasi dan prestasi belajar fisika siswa. Tingkat
keberartian hubungan antara model pembelajaran dengan motivasi dan prestasi belajar
fisika siswa adalah sangat kuat. Model TAPPS mampu membuat siswa termotivasi untuk
belajar sehingga prestasi belajar siswa meningkat.
.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami ucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran Fisika, serta
Siswa Kelas XI MIPA 2 dan MIPA 4 yag telah bersedia menjadi subjek penelitian dalam
penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Aftina, H. dkk. (2016). Efektifitas Model Tapps dan Mmp Berbantuan Geogebra
Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik. Prosiding Seminar
Matematika Dan Pendidikan Matematika.

Apriyani, D. C. N. (2015). Upaya Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar


Mahasiswa Dengan Pembelajaran Kooperatif Tipe Thinking Aloud Pairs
Problem Solving Pada Mata Kuliah Aljabar Linear. Βeta, 8(2), 142–152.

Basuki, Ismet dan Hariyanto, M.S. 2014. Asesmen Pembelajaran. Bandung:


Rosda.

Buchori, A., Rahmawati, N. D., & Baedowi, S. (2015). Pengembangan Mobile


Learning Dengan Model Tapps Pada Materi Barisan Dan Deret Kelas X
Semester I Di Sma Nasima Semarang, (January 2013).
https://doi.org/10.1093/elt/ccs064

Daryanto. (2014). Kurikulum 2013. Yogyakarta: Gaya Media.

Dimyati & Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT RINEKA


CITRA.

Hudojo, H. (1998). Mengajar dan Belajar Matematika. Jakarta: Depdikbud.

Hudojo, H. (1998). Pembelajaran Matematika menurut pandangan


kontruktivistik. (PPS, Ed.). Malang: IKIP Malang.

Indrawati, F. (2013). Pengaruh kemampuan numerik dan cara belajar terhadap


prestasi belajar matematika. Jurnal Formatif, 3(3), 215–223.
Junita, B. A. (2014). Implementasi Think Aloud Pair Problem Solving ( Tapps )
Berbantuan Media Kartu Bergambar Terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa
Jurnal Ilmiah Pendidikan Kimia “Hydrogen,” 3(2), 274–282.

Kamaluddin, M. (2017). Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar


Matematika dan Strategi untuk Meningkatkannya. Seminar Matematika Dan
Pendidikan Matematika, 455–460.

Kemendikbud. (2013). Konsep Pendekatan Scientific. Jakarta: Kementerian


Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Latipah, E. (2010). Strategi Self Regulated Learning dan Prestasi Belajar : Jurnal
Psikologi, 37(1), 110–129. https://doi.org/10.22146/JPSI.7696

Lestari, N. N. S. (2011). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah


(Problembased Learning) Dan Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar
Fisika Bagi Siswa Kelas Vii Smp. Journal Education, 1(1), 1–21.

Musfiqon, DR. HM., M. P., & Nurdyansyah, S.Pd., M. P. (2015). Pendekatan


Pembelajaran SaintifiK. (M. P. Nurdyansyah, Ed.) (1st ed.). Sidoarjo:
Nizamia Learning Center.

Pate, M. L., Wardlow, G. W., & Johnson, D. M. (2004). Effects Of Thinking


Aloud Pair Problem Solving On The Troubleshooting Performance Of
Undergraduate Agriculture Students In A Power Technology Course.
Journal of Agricultural Education, 45(4), 1–11.
https://doi.org/10.5032/jae.2004.04001

Pate, M., & Miller, G. (2011). Effects of Think–Aloud Pair Problem Solving on
Secondary–Level Students’ Performance in Career and Technical Education
Courses. Journal of Agricultural Education, 52(1), 120–131.
https://doi.org/10.5032/jae.2011.01120

Purwaningrum, J. P. (2016). Disposisi Matematis Siswa SD Melalui Model


Pembelajaran Thinking Aloud Pairs Problem Solving. Suska Journal of
Mathematics Education, 2(2), 125–130.

Putri, M. E. P., Syakbaniah, & Ratnawulan. (2016). Pengaruh Lks Terintegrasi


Sistem Gerak Tubuh Manusia Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Dalam
Pembelajaran Kooperatif Tipe Thinking Aloud Pair Problem Solving Di
Kelas Xi Sman 5 Padang. Pillar Of Physic Education, 7(April), 49–56.

Rahmat, M., Muhardjito, M., & Zulaikah, S. (2014). Kemampuan pemecahan


masalah melalui strategi pembelajaran thinking aloud pair problem solving
siswa kelas X SMA. Jurnal Fisika Indonesia, 18(54), 108–112.
https://doi.org/10.1016/j.apenergy.2012.09.040
Sanjaya, W. (2007). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sudjana, Nana. 2011. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukilan. (2018). Peningkatan Prestasi Belajar Matematika melalui Metode


Kooperatif Model TAPPS. JURNAL PENDIDIKAN: Riset & Konseptual,
2(1), 1–7. https://doi.org/S0006-3223(06)01420-X [pii]
10.1016/j.biopsych.2006.10.032

Wartono. (2007). Kemampuan/Keterampilan Dasar Mengajar. Malang:


Universitas Negeri Malang.

Wijayanti, I. (2014). Pengaruh Metode Pembelajaran Tapps ( Thinking Aloud Pair


Problem Solving ) Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas Viii
Mts Negeri Jetis Tahun Ajaran 2013 / 2014.