Anda di halaman 1dari 49

MAKALAH INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN

“Pengaruh Obat Pada Kehamilan”

Dosen Pembimbing : Sajiman, S.KM., M.Gizi

Siti Mas’odah, S.Pd., M. Gizi

Disusun Oleh :

KELOMPOK 7

ELITRIA SAPITRI P07131216102

FATHIMAH P07131216104

HESTY RETNO SARI P07131216108

MUHAMMAD NUR IHSAN HABIBI P07131216116

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANJARMASIN

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV JURUSAN GIZI

TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-NYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, serta kedepannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Banjarbaru, 16 Maret 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 2
C. Tujuan .................................................................................................. 2

BAB II ISI
A. Proses pada Kehamilan ....................................................................... 3
B. Definisi dari Obat ................................................................................ 3
C. Farmakokinetik pada Kehamilan ........................................................ 4
D. Farmakokinetik Obat Fetomaternal .................................................... 7
E. Kompartemen Plasenta ....................................................................... 9
F. Kompartemen Janin ............................................................................ 11
G. Farmakoterapi pada Janin ................................................................... 16
H. Konseling dan Pemulihan Obat pada Ibu Hamil ................................. 21
I. Contoh Kategori Obat ......................................................................... 22
J. Persyaratan Gizi dalam Kehamilan ..................................................... 23
K. Masalah yang Mempengaruhi Kehamilan .......................................... 28
L. Obat dan Penyakit yang Mempengaruhi Status Gizi .......................... 30
M. Isu Perawatan Akut dalam Kehamilan ................................................ 32
N. Kesalahan Kronis dalam Kehamilan ................................................... 35
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ...................................................................................................... 45

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 46

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Wanita hamil normal adalah individu sehat yang seharusnya hanya
memerlukan suplementasi asam folat untuk memenuhi kebutuhan janin. Obat
adalah suatu produk buatan yang hanya diberikan bila ada indikasi medis,
termasuk yang namanya vitamin. Setiap tenaga kesehatan dan pasien perlu
menimbang secara rasional, apakah perlu memperoleh obat. Sikap berhati-hati
menggunakan obat perlu dimiliki wanita hamil. Sikap itu didasari kenyataan
terpengaruhnya calon bayi bila wanita hamil tersebut menggunakan obat yang
sebagian besar merupakan bahan kimia itu. Namun sikap ini jangan pula
dilanjuti ketakutan menggunakan obat. Kalau memang diperlukan, obat akan
jauh bermanfaat.
Masa Kehamilan dibagi dalam 3 tahap. Tahap pertama disebut trimester
pertama kehamilan (tiga bulan pertama masa kehamilan). Tahap ini
merupakan tahap paling kritis karena pada tahap ini berlangsung proses
pembentukan organ-organ penting bayi. Dalam tahap ini janin sangat peka
terhadap kemungkinan kerusakan yang disebabkan obat, radiasi dan atau
infeksi yang menyerang. Penyebab kerusakan terhadap calon bayi tersebut
disebut teratogen . pemberian obat-obat tertentu boleh jadi akan memberikan
kecacatan lahir.
Pada tahap ini hindarilah pemakaian obat yang tidak perlu dan tidak
diketahui keamanannya. Tahap selanjutnya adalah trimester kedua kehamilan
(bulan keempat sampai dengan bulan keenam masa kehamilan). Organ bayi
sudah terbentuk. Denyut jantung sudah dapat didengar dan tulang belakang
sudah dapat terlihat dengan peralatan radiologi. Beberapa obat boleh jadi akan
mempengaruhi perkembangan si janin yang dimanifestasikan dengan
rendahnya berat badan bayi ketika dilahirkan. Tahap terakhir adalah trimester
ketiga kehamilan (bulan ketujuh hingga bayi dilahirkan). Pada tahap ini resiko
terbesar adalah kesulitan bernafas pada bayi baru lahir. Beberapa obat dapat
mempengaruhi persalinan yang di manifestasikan bayi lahir prematur maupun
calon bayi lebih lama dalam kandungan. Untuk memetakan obat mana yang

1
aman bagi wanita hamil saat ini mengacu kepada percobaan-percobaan
terhadap binatang, dan pengamatan terhadap penggunaan obat ketika
diedarkan. Percobaan yang sanga luas terhadap wanita hamil bagi obat baru
yang akan diedarkan memang tidak ada dan tidak akan pernah ada mengingat
tidak etis menggunakan wanita hamil sebagai obyek penelitian. Sebagai
rujukan yang paling dipercaya kalangan medis untuk sesuatu obat itu aman
atau tidak untuk wanita hamil adalah Pedoman yang disusun US FDA (Badan
POM Amerika Serikat).

B. Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh obat pada kehamilan?

C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Proses pada Kehamilan
2. Untuk Mengetahui Definisi dari Obat
3. Untuk Mengetahui Farmakokinetik pada Kehamilan
4. Untuk Mengetahui Farmakokinetik Obat Fetomaternal
5. Untuk Mengetahui Kompartemen Plasenta
6. Untuk Mengetahui Kompartemen Janin
7. Untuk Mengetahui Farmakoterapi pada Janin
8. Untuk Mengetahui Konseling dan Pemulihan Obat pada Ibu Hamil
9. Untuk Mengetahui Contoh Kategori Obat
10. Untuk Mengetahui Persyaratan gizi dalam kehamilan
11. Untuk Mengetahui Masalah yang Memengaruhi Kehamilan
12. Untuk Mengetahui Obat dan Penyakit yang Memengaruhi Status Gizi
13. Untuk Mengetahui Isu Perawatan Akut dalam Kehamilan
14. Untuk Mengetahui Kesalahan Kronis Dalam Kehamilan

2
BAB II

ISI

A. Proses Kehamilan

Proses kehamilan di dahului oleh proses pembuahan satu sel telur yang
bersatu dengan sel spermatozoa dan hasilnya akan terbentuk zigot. Zigot mulai
membelah diri satu sel menjadi dua sel, dari dua sel menjadi empat sel dan
seterusnya. Pada hari ke empat zigot tersebut menjadi segumpal sel yang sudah
siap untuk menempel / nidasi pada lapisan dalam rongga rahim (endometrium).
Kehamilan dimulai sejak terjadinya proses nidasi ini. Pada hari ketujuh gumpalan
tersebut sudah tersusun menjadi lapisan sel yang mengelilingi suatu ruangan yang
berisi sekelompok sel di bagian dalamnya.
Sebagian besar manusia, proses kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu
(280 hari) dan tidak lebih dari 43 minggu (300 hari). Kehamilan yang berlangsung
antara 20 – 38 minggu disebut kehamilan preterm, sedangkan bila lebih dari 42
minggu disebut kehamilan postterm. Menurut usianya, kehamilan ini dibagi
menjadi 3 yaitu kehamilan trimester pertama 0 – 14 minggu, kehamilan trimester
kedua 14 – 28 minggu dan kehamilan trimester ketiga 28 – 42 minggu.

B. Definisi Obat

Obat adalah suatu zat yang dibuat dengan tujuan untuk mendapatkan efek
pengobatan (terapi) bila diberikan pada individu yang sakit atau memerlukan
pengobatan. Mengingat obat bukan dihasilkan secara alami, tetapi buatan, maka
obat termasuk zat asing yang bila diberikan kepada ibu hamil berpotensi
menimbulkan efek samping pada ibu dan janin yang dikandungnya.

Obat diakui terutama karena manfaat terapeutiknya kendati obat juga sangat
berpotensi untuk membahayakan kesehatan orang yang menggunakannya.
Pemberian obat pada ibu hamil harus dipikirkan efek obat terhadap ibu dan tidak
boleh melupakan pengaruh atau efek samping obat pada janin. Keberadaan obat

3
pada ibu hamil dapat ditinjau dari 3 kompartemen, yaitu kompartemen ibu,
kompartemen plasenta, dan kompartemen fetal.

Pada ibu hamil tumbuh unit fetoplasental dalam uterus. Hormon plasenta
mempengaruhi fungsi traktus digestivus dan motilitas usus. Demikian pula filtrasi
glomerulus meningkat. Resorbsi inhalasi alveoli paru juga terpengaruh. Resorbsi
obat pada usus ibu hamil lebih lama, eliminasi obat lewat ginjal lebih cepat, dan
resorbsi obat inhalasi pada alveoli paru bertambah. Pada awal trimester dua dan
tiga akan terjadi hidraemia, volume darah meningkat sehingga kadar obat relatif
turun. Kadar Albumin relatif menurun sehingga pengikat obat bebas berkurang.
Maka, obat bebas dalam darah ibu meningkat.

Pada unit fetoplasental terjadi pula filtrasi obat. Plasenta sebagai unit semi
permiabel dapat mengurangi atau mengubah obat pada sawar plasenta. Demikian
pula obat yang masuk sirkulasi fetal, kadar/dosis obat dapat berpengaruh baik
ataupun jelek pada organ-organ vital janin. Hal ini dapat meningkatkan kelainan
organ atau pertumbuhan janin intrauterin. Jenis obat, dosis yang tinggi, dan lama
paparannya akan berpengaruh teratogenik pada janin, terutama pada trimester
satu. Untuk itu perlu dipikirkan mengenai farmakokinetik obat pada ibu hamil dan
pengaruhnya terhadap kesejahteraan janin dan efek negatifnya.

C. Farmakokinetik pada Kehamilan

Metabolisme dan kinetika produk obat lebih rumit dalam kehamilan


daripada sebaliknya. Secara umum, konsentrasi efektif suatu obat atau
metabolitnya dipengaruhi oleh hal-hal berikut:

 Serapan, distribusi, metabolisme dan ekskresi oleh ibu (perubahan


selama kehamilan dari beberapa parameter fisiologis yang
mempengaruhi metabolisme bahan kimia dirangkum dalam Tabel
1.2)
 Perjalanan dan metabolisme melalui yolk sac (kantung kuning) dan
plasenta
 Distribusi, metabolisme dan ekskresi oleh embrio atau janin

4
 Penyerapan kembali dan menelan zat oleh yang belum lahir dari
cairan ketuban.

Kehamilan menginduksi banyak perubahan dan adaptasi fisiologis ibu yang


dapat menyebabkan penurunan penting secara klinis dalam konsentrasi darah dari
produk obat tertentu.

Tabel 1.2 Perubahan selama kehamilan pada farmakokinetik dari obat-obatan

Total air tubuh meningkat sebanyak 8 liter selama kehamilan, yang


memberikan peningkatan volume substansial di mana obat-obatan dapat
didistribusikan. Selama kehamilan, penyerapan bahan kimia di usus, kulit, dan
inhalasi berubah karena berkurangnya peristaltik usus dan peningkatan aliran
darah kulit dan paru-paru.

Namun, ini tidak memiliki konsekuensi untuk penggunaan obat-obatan dari


saluran usus. Protein serum yang relevan dengan pengikatan obat mengalami
perubahan konsentrasi yang cukup besar. Albumin, yang mengikat obat-obatan
asam dan bahan kimia (seperti fenitoin dan aspirin), menurun dalam konsentrasi

5
hingga 10 g / l. Implikasi utama dari perubahan ini adalah dalam interpretasi
konsentrasi obat. Peningkatan produksi hormon wanita mengaktifkan enzim di
hati ibu, dan ini dapat mengakibatkan inaktivasi agen obat dan lingkungan yang
dimodifikasi. Aliran plasma ginjal akan hampir dua kali lipat pada trimester
terakhir kehamilan, dan obat-obatan yang dihilangkan tidak berubah oleh ginjal
biasanya dihilangkan lebih cepat; perubahan dalam pembersihan ginjal ini secara
klinis penting hanya dalam beberapa kasus, dan tidak memerlukan adaptasi dosis
obat secara umum (Loebstein 1997). Beberapa obat, seperti antikonvulsan dan
turunan teofilin, dapat mengalami perubahan dalam distribusi dan eliminasi, yang
mengarah pada pengobatan yang tidak efektif karena konsentrasi obat yang tidak
memadai dalam darah (Lander 1984).

Sebagian besar penelitian tentang transfer obat lintas ibu dan embrionik /
hambatan janin berkaitan dengan akhir kehamilan. Sedikit yang diketahui tentang
pengangkutan zat dalam fase awal kehamilan, yang secara morfologis dan
fungsional, kantung kuning dan plasenta berkembang dan berubah dalam
kinerjanya (Miller 2005, Carney 2004, Garbis-Berkvens 1987). Ini bukan masalah
utama dengan dosis tunggal, tetapi menjadi masalah dengan terapi jangka
panjang. Plasenta pada dasarnya adalah penghalang lipid antara ibu dan sirkulasi
embrionik / janin, seperti membran lipid dari saluran pencernaan saluran testinal,
memungkinkan obat-obatan yang larut dalam lemak untuk menyeberang lebih
mudah daripada larut dalam air. Oleh karena itu, produk obat yang diambil secara
oral dan yang diserap dengan baik akan melewati membran plasenta. Obat
melintasi plasenta dengan difusi pasif, dan obat non-ionisasi dengan berat molekul
rendah akan melewati plasenta lebih cepat daripada polar obat. Namun, dengan
waktu yang diberikan, sebagian besar obat akan mencapai jumlah yang hampir
sama konsentrasi di kedua sisi plasenta. Jadi, pandangan yang harus diambil
ketika meresepkan obat selama kehamilan adalah bahwa transfer obat ke janin
tidak dapat dihindari. Sebagian besar obat memiliki yang lebih rendah berat
molekul dari 600-800, dan karena itu akan dapat menyeberang ke plasenta.
Pengecualian penting untuk aturan ini adalah yang terkonjugasi hormon steroid
dan peptida seperti insulin dan hormon pertumbuhan. Namun, molekul yang lebih
besar (mis. Vitamin B12 dan imunoglobulin) melewati plasenta melalui proses

6
spesifik yang dimediasi reseptor. Perlu dicatat bahwa imunoglobulin yang
dimodifikasi dan digunakan sebagai terapi, mis. abciximab, tidak melewati
plasenta tetapi dimetabolisme oleh plasenta karena mereka hanya fragmen Fab
dan tidak memiliki terminal Fc (lihat juga Bab 2.12; Miller 2003).

Pada bulan ketiga kehamilan, hati janin sudah mampu mengaktifkan atau
menonaktifkan zat kimia melalui oksidasi (Juchau 1989). Di kompartemen janin
detoksifikasi obat dan metabolitnya terjadi pada tingkat rendah, tentu saja pada
tingkat pertama setengah dari kehamilan. Aspek ini antara lain - seperti ekskresi
pada cairan ketuban - membuatnya dimengerti bahwa akumulasi zat aktif biologis
mungkin terjadi di kompartemen janin. (Saat itu belum ada) penghalang darah -
otak di janin adalah karakteristik lain yang mungkin penting untuk efek fetotoksik
bahan kimia.

Meskipun perawatan janin masih merupakan pengecualian, yang menarik


adalah dalam kasus pencegahan infeksi vertikal, seperti HIV-1, di waktu sirkulasi
berfungsi dan ekskresi ginjal, antibiotic (penisilin, sefalosporin) dan antiretroviral
terkonsentrasi di kompartemen janin. Efek depot seperti itu juga ditingkatkan
dengan culation produk obat melalui menelan antibiotik yang diekskresikan dalam
cairan ketuban, sehingga berkontribusi terhadap asebagian besar efek terapi. Jelas,
efek ini hilang ketika amniorrhexis awal (pecahnya membran) terjadi (Gonser
1995).

D. Farmakokinetik Obat Fetomaternal


1. Perubahan Pada Traktus Digestivus
a) Motilitas uterus berkurang
b) Peningkatan sekresi mukosa, pH gaster meningkat (± 40 % lebih
tinggi dari pada perempuan tidak hamil)
c) Mual / Muntah akan mempengaruhi dosis obat yang masuk traktus
digestivus
Motilitas usus yang berkurang akan memperlama obat berada di
traktus digestivus. Pengosongan lambung lebih lambat ± 50 %.
Peningkatan pH gaster berakibat bufer asam basa terganggu. Reabsorpsi

7
makanan dan obat akan menurun, sehingga efek tertopoetik obat
berkurang.
Dengan banyaknya mual dan muntah makanan dan minuman yang
masuk ke usus berkurang bahkan tidak ada (hiperemesis gravidarum).
Obat – obat yang masuk sangat sulit apalagi bila formula obat menambah
pH gaster. Komposisi makanan yang merangsang akan menambah cairan
gaster yang dimuntahkan. Oleh karena itu, akan terkondisi suatu keadaan
alkalosis pada darah ibu. Bila tidak ada makanan yang masuk, dan
absorpsi sulit atau berkurang, maka akan diikuti metabolisme lemak dan
protein yang menyebabkan asidosis darah ibu (hiperemesis gravidarum).
2. Pengaruh Pada Paru
Dengan adanya hormon plasenta, terutama progesteron, maka
terjadi vasodilatasi kapilar alveoli. Volume plasma bertambah, curah
jantung bertambah, sirkulasi pulmonal bertambah, maka absorpsi di
alveoli akan bertambah. Oleh karena itu, obat – obat inhalasi perlu
dipikirkan dosisnya, jangan sampai berlebihan.
3. Distribusi Obat
Plasma darah dalam sirkulasi ibu hamil mulai trimester dua akan
bertambah sampai ± 50 – 60 %. Ini berakibat curah jantung meningkat
dan filtrasi glomerulus ginjal meningkat. Volume darah / plasma
meningkat sampai ± 8.000 cc. Tambahan volume darah di plasenta, janin,
dan amnion (± 60 %) dan dalam darah ibu 40 %. Sirkulasi darah
bertambah di plasenta 80 % srta pada miometrium 20 . dengan demikian,
kadar obat dalam sirkulasi ibu, distribusinya dalam organ relatif tidak
sama.
4. Perubahan Kadar Protein Darah
Pada kehamilan produksi albumin dan protein lain pada hepar
sedikit bertambah, tetapi jika dibandingkan dengan meningkatnya volume
plasma (hidrema) kadar albumin menurun, sehingga ada penurunan relatif
(hipo albuminemia fisiologis). Sebagian protein akan berikatan dengan
hormon progesteron, sehingga hanya sebagian albumin yang mengikat
obat. Kesimpulan, kadar obat yang bebas aktif dalam sirkulasi lebih

8
banyak pada ibu hamil dari pada ibu tidak hamil. Dengan demikian,
terjadi peningkatan kadar obat pada ibu hamil. Penurunan kadar obat oleh
karena hidraemia dan peningkatan kadar obat dalam plasma secara logis
kadar obat tidak berkurang pada ibu.
5. Detoksikasi/Eliminasi Obat
a) Hepar
Pada kehamilan fungsi hati terganggu karena munculnya
hormon dari plasenta. Maka, pembentukan protein agak menurun
terutama albumin. Enzim-enzim hepar, protein plasma, dan
imunoglobulin produksinya berkurang. Detoksikasi obat akan
berkurang, kecuali ada obat tertentu yang meningkatkan aktivitas
metabolisme sel hepar akibat rangsangan enzim mikrosom oleh
hormon progesteron. Beberapa jenis obat akan lebih menurunkan
fungsi hepar akibat kompetitif inhibisi dari enzim oksidase serta
mikrosom akibat pengaruh hormon plasenta terutama progesteron dan
estrogen.
b) Ginjal
Aliran darah glomerulus pada kehamilan meningkat 50 %.
Glomerulus filtration rate meningkat . ini akibat dari peningkatan
volume plasma darah dan hormon progesteron. Dengan Glomerulus
filtration Rate (GFR) meningkat, maka ada beberapa jenis obat lebih
cepat diekskresikan, misalnya golongan penisilin dan derivatnya,
beberapa obat jantung (digoksin), dan golongan makrolid.
E. Kompartemen Plasenta

Plasenta merupakan unit yang berfungsi menyalurkan nutrien dari ibu ke


janin. Bila dalam plasma darah ibu terdapat pula obat, maka obat ini akan melalui
mekanisme transfer plasenta (sawar plasenta), membran bioaktif sitoplasmik
lipoprotein sel trofoblas, endotel kapilar vili korialis, dan jaringan pengikat
interstisial vili. Bila di dalam plasma darah ibu mengandung obat, maka obat ini
akan melalui sawar plasenta dengan cara berikut.

a) Secara difusi pasif/aktif

9
b) Secara transportasi aktif dan fasilitatif fagositosis, semi permiabel
membran sel trofoblas, dan mekanisme gradien elektro kimiawi.

Dengan kemampuan tersebut secara semi selektif obat dapat melewati sawar
plasenta. Maka, obat dapat mengalami :

a) Kadar yang sama antara sebelum dan setelah melewati sawar plasenta
b) Kadar obat lebih sedikit setelah melewati sawar plasenta.
1. Metabolisme Detoksikasi dan Sawar Plasenta
Jenis obat, sifat obat, serta berat molekul dapat berbeda cara
melewati sawar plasenta. Obat-obat yang melewati sawar plasenta
mempunyai cara transportasi khusus berikut ini.
a) Obat yang bersifat lipofilik larut dalam lemak akan mudah
menembus membran sel.
b) Obat yang terionisasi akan mengalami hambatan dalam menembus
sawar.
c) Obat yang bersifat basa lemah (pH tinggi) lebih mudah menembus
sawar.
d) Plasenta dapat mengadakan detoksikasi obat dengan
memetabolisasi secara enzimatik, dehidrogenase, oksidasi,
reduksi, hidrolisis, metilasi, atau asetilisasi. Akan tetapi,
kemampuan tersebut tidaklah maksimal sehingga masih banyak
obat yang lolos masuk ke sirkulasi janin.
e) Berat molekul obat yang besar sulit lewat sawar plasenta, hanya
sebagian yang bisa lewat.
2. Keadaan Patologik
Plasenta pada ibu hamil dengan preeklampsia dan solutio plasenta
akan mengalami perubahan sawar plasenta sehingga kadar obat yang
melewati sawar tidak dapat disamakan dengan keadaan yang normal. Efek
obat-obat oksitosik dan nikotin akan memperlambat obat melewati sawar
plasenta yang akan menuju ke janin. Pada pertumbuhan plasenta pasca 3
bulan pertama atau masa plasentasi masih berlangsung. Ada beberapa
pengaruh obat yang menyebabkan kematian jaringan plasenta. Fibrosis
dan yang akan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, struktur janin,

10
bahkan terjadi IUFD atau death conceptus. Kesimpulan, pada periode
embrio sampai plasentasi selesai obat-obat sangat rentan terhadapnya.
3. Transportasi
a) Difusi Pasif
Cara difusi ini tidak perlu energi. Berlangsungnya difusi akan
mengikuti rumus Ficks.
Rumus Ficks: q/t : KA (C2-C1)
D

q/t : kecepatan transfer zat obat


K : konstanta difusi/fisiko kimia dari zat obat
A : Luas membran
D : Ketebalan membran
C2-C1 : Perbedaan konsentrasi antara kedua pihak membran
b) Transportasi Fasilitatif dan Aktif
Obat akan melewati sawar dengan perantaraan :
1) Ada zat pembawa obat melewati sawar plasenta
2) Secara aktif : bila ada perbedaan konsentrasi kedua pihak dari
mebran bioaktifnya.
3) Dengan fagositosis, pinositosis (seperti pada sel-sel mukosa
yang lain) pada sel trofoblas.

F. Kompartemen Janin

Dengan mengingat peran plasenta dalam memfiltrasi atau seleksi obat baik
secara pasif maupun aktif serta banyak sedikitnya kadar obat yang masuk ke
janin, maka perlu dipikirkan kadar obat yang akan berefek atau memberi risiko
pada kesejahteraan janin/pertumbuhan organ janin. Bila obat mempunyai efek
teratogenik pada janin, maka pemberian obat perlu dipertimbangkan. Sangat
jarang pemberian obat untuk janin dengan melalui ibu. Yang paling sering adalah
penggunaan obat untuk ibu, tetapi tanpa terpikirkan masuk ke dalam janin
sehingga dapat merugikan kesejahteraan janin.

11
1. Periode Pertumbuhan Janin yang Dapat Beresiko Dalam Pemberian
Zat
Periode pertumbuhan janin yang dapat berisiko dalam pemberian
zat atau obat pada pertumbuhannya adalah sebagai berikut.
a) Periode embrio 2 minggu pertama sejak konsepsi. Pada periode
ini embrio belum terpengaruh oleh efek obat penyebab
teratogenik.
b) Periode organogenesis yaitu sejak 17 hari sampai lebih kurang 70
hari pascakonsepsi sangat rentan terhadap efek obat, terutama
obat-obat tertentu yang memberi efek negatif atau cacat bawaan
pada pertumbuhan embrio atau janin.
c) Setelah 70 hari pascakonsepsi dimana organogenesis masih
berlangsung walau belum sempurna, obat yang berpengaruh jenis
obatnya tidak terlalu banyak bahkan ada yang mengatakan tidak
berpengaruh.
Namun, periode trimester 2 awal sampai trimester 3 masih ada
obat-obat tertentu yang dapat mempengaruhi fungsi organ-organ atau
retardasi organ vital. Contoh ACE inhibitor pada trimester 2 dan 3 dapat
menimbulkan disfungsi renal janin. Juga obat-obat yang lain atau zat-zat
tertentu berpengaruh pada proses maturasi sistem saraf pusat karena
mielinisasi sistem saraf berlangsung lama bahkan sampai periode
neonatal. Dengan demikian, obat-obat tertentu dapat menimbulkan
adanya serebril palsi, kemunduran pendengaran, dan keterlambatan
mental. Obat-obat yang bisa melewati sawar plasenta dan masuk dalam
sirkulasi janin akan berakibat baik atau jelek pada kesejahteraan janin.
Hal ini terkait dengan metabolisme di dalam janin sendiri terhadap obat
yang masuk. Kemampuan janin di dalam metabolisasi obat sangat
terbatas. Protein mengikat obat pada plasma janin lebih rendah bila
dibandingkan dengan protein plasma ibu hamil. Albumin janin belum
cukup untuk mengikat obat, maka akan terjadi keseimbangan di mana
kadar obat di dalam janin lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadar
obat di dalam plasma ibu. Dalam periode setelah 17 hari pascakonsepsi

12
organ yang telah terbentuk dapat mengadakan detoksikasi atau
memetabolisasi obat walau belum sempurna dan masih minimal. Dengan
demikian, obat yang masuk ke dalam janin dapat tersimpan lama di
dalam sirkulasi janin. Bilamana organ-organ sudah cukup berfungsi, hasil
metabolisme dapat diekskresikan di dalam amnion. Sebagian obat dalam
sirkulasi janin dapat pula kembali ke plasenta dan mengalami detoksikasi
pada plasenta. Bila kadar obat cukup tinggi di dalam sirkulasi janin, obat
akan masuk ke jaringan janin. Bilamana jaringan organ masih belum
sempurna, janin akan terpengaruh pertumbuhannya. Oleh karena itu,
keseimbangan obat dalam plasma ibu dan plasma janin sangat penting
diketahui. Transfer obat yang melewati sawar plasenta digolongkan
sebagai berikut.
Tipe 1
Obat yang seimbang antara kadar di dalam plasma ibu dan di dalam
plasma janin. Berarti terjadi transfer lewat sawar plasenta secara lengkap
sehingga efek terapi tercapai pada ibu dan janin. Dalam hal ini masuknya
obat dan ekskresi obat pada janin sama.
Tipe 2
Obat yang kadar pada plasma janin lebih tinggi daripada di dalam plasma
ibu, artinya terjadi transfer yang baik lewat sawar plasenta, tapi ekskresi
pada janin sangat sedikit.
Tipe 3
Obat yang kadar di dalam plasma janin lebih rendah daripada kadar yang
di dalam plasma ibu, artinya transfer lewat sawar plasenta tidak lengkap.
Pernah terjadi musibah bayi talidomid pada tahun 1993 dimana
bayi-bayi itu mengalami kelainan cacat bawaan tanpa ekstermitas akibat
ibu mengonsumsi talidomid. Untuk menghindari hal ini, dibuat daftar
kategori obat oleh badan pengawas obat Australia (TGA – Therapeutic
Good Administration).
2. Kategori Obat pada Ibu Hamil Berdasarkan Risiko Janin
Berdasarkan FK UGM Yogyakarta

13
Sumber : Pemakaian obat pada kehamilan dan menyusui, Bagian
Farmakologi dan Toksikologi FK UGM Yogyakarta, 2006.

United State Food and Drug Administration (US FDA) juga


menentukan kategori keamanan penggunaan obat selama kehamilan.
Kategori adalah A, B, C, D, dan X.

14
a. Kategori A : Penelitian yang memadai dengan menggunakan
pembanding tidak menunjukkan peningkatan risiko abnormalitas
terhadap janin.
b. Kategori B : Penelitian pada hewan tidak menunjukkan bukti bahwa
obat berbahaya terhadap janin, tetapi belum ada penelitian yang
memadai dengan menggunakan pembanding pada ibu hamil. Atau
penelitian pada hewan menunjukkan efek yang tidak dikehendaki,
tetapi penelitian yang memadai dengan menggunakan pembanding
pada ibu hamil, tidak menunjukkan risiko terhadap janin.
c. Kategori C : Penelitian pada hewan telah menunjukkan efek yang
tidak dikehendaki terhadap janin, tetapi belum ada penelitian yang
memadai dengan menggunakan pembanding ibu hamil. Atau belum
dilakukan penelitian pada hewan dan tidak ada penelitian yang
memadai dengan menggunakan pembanding pada ibu hamil.
d. Kategori D : Terdapat penelitian yang memadai dengan
menggunakan pembanding pada ibu hamil atau pengamatan
menunjukkan risiko bagi janin. Namun, harus dipertimbangkan
manfaat pemberian obat dibandingkan risiko yang dapat
ditimbulkan.
e. Kategori X : Penelitian yang memadai pada ibu hamil dengan
menggunakan pembanding hewan, telah menunjukkan bukti positif
terjadinya abnormalitas janin. Penggunaan obat dengan kategori
risiko ini di kontraindikasikan pada ibu yang sedang hamil atau akan
hamil.

Beberapa Kategori Obat yang Berisiko Pada Masa Kehamilan

15
Sumber : Pusat Informasi Obat Nasional, Badan POM, 2006*

G. Farmakoterapi pada Janin

Pada suatu saat bila diberikan pengobatan kepada janin dengan sengaja obat
diberikan melalui ibu. Misalnya antibiotika, antiaritma, vitamin K, Deksametason,
dan Bethametason dapat melalui sawar plasenta dan masuk dalam sirkulasi janin
dengan baik oleh karena detoksikasi atau metabolisme pada plasenta hanya
sedikit. Kedua obat Deksametason dan Betametason sering digunakan sebagai
perangsang pematangan paru janin. Ada beberapa obat yang masuk di dalam
sirkulasi janin yang seimbang dengan obat dalam sirkulasi ibu dan diekskresikan
dengan baik oleh janin dan masuk ke dalam amnion, misalnya flekainid.

1. Teratogenesis
Penggunaan obat yang dijual bebas selama kehamilan perlu
dipertimbangkan dan diberikan saran yang bersifat retrospektif dimana
penggunaannya dapat memberikan efek negatif dan obat mana yang perlu
diberikan secara hati-hati serta kapan pemberian obat yang paling aman
pada usia janin yang tepat. Teratogenesis adalah defek anatomi,
pertumbuhan pada janin yang dapat meliputi :
a) Defek struktur mayor atau minor organ janin
b) Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)

16
c) Kematian janin (IUFD)
d) Kegagalan implantasi dan pertumbuhan embrio
e) Pengaruh neonatal seperti gangguan neurologik akibat obat-obat
yang mempengaruhi pertumbuhan mielinisasi jaringan saraf atau
pemberian obat-obat yang mempunyai efek karsinogenesis pada
neonatal dan anak.
Moore mendefinisikan teratogenesis sebagai disgenesis organ janin
baik secara struktur maupun fungsi. Teratogenesis bermanifestasi sebagai
gangguan pertumbuhan, kematian janin, pertumbuhan karsinogenesis, dan
malformasi. Teratogenesis atau abnormalitas bervariasi dalam tingkat
kelainan organ ataupun fungsinya, bisa relatif ringan bisa sangat berat,
bahkan tidak terkoreksi. Ada suatu keadaan malformasi yang tidak
terkoreksi serta mengancam jiwa janin. Suatu obat atau bahan kimia
dikatakan teratogenik bila seorang ibu hamil mengonsumsi obat sengaja
atau tidak yang menyebabkan terjadinya abnormalitas struktur janin atau
bayi.
Obat yang menimbulkan atau bersifat teratogenik antara lain
berupa: abnormalitas kromosom, gangguan implantasi, embrio genesis,
konseptus mati, malformasi struktur, IUGR, IUFD, kerusakan saraf
sentral- nervus kranialis, abnormalitas mental, atau retardasi mental.
Obat-obat yang Terbukti Kuat Menimbulkan Efek Teratogenik.

17
2. Kerentanan Janin Terhadap Obat
Tiap individu atau janin mempunyai afinitas yang berbeda-beda
dalam merespons obat. Plasenta sangat berperan dalam penyaluran obat
ke dalam janin. Kelainan plasenta ataupun penyakit pada ibu misalnya
penyakit virus, infeksi kuman, preeklampsia, gagal ginjal, atau penyakit
jantung sangat berpengaruh terhadap penyaluran obat ke janin,
oksigenisasi janin, bahkan detoksikasi obat tidak baik. Dengan demikian,
terjadi afinitas janin menjadi lebih besar.
Demikian pula kondisi genetik atau kromosom sangat berpengaruh
dalam afinitas penyerapan obat serta metabolisme oabt pada janin. Efek
teratogenik pada penelitian hewan uji belum tentu sama dengan efek pada
manusia. Umumnya pada hewan uji dosis rendah obat yang memberikan

18
efek teratogenik akan menimbulkan pula efek teratogenik pada manusia.
Demikian tinggi rendahnya kadar obat yang masuk janin sangat
berpengaruh pada toksisitas pada janin.
Efek obat terhadap janin berbeda-beda bergantung dari periode
kehamilan atau unsur janin intrauterin. United State Food and Drug
Administration (US FDA) melakukan klasifikasi obat berdasarkan
periode kehamilan. Tabel ini memberi gambaran antara kemampuan
menembus plasenta pada periode kehamilan.
Kategori Obat Berdasarkan Periode Kehamilan dan Kemampuan
Menembus Plasenta

Keterangan :
(*) : Berkaitan dengan peningkatan kematian perinatal, perdarahan
neonatus, penurunan berat badan lahir, perpanjangan masa kehamilan
dan persalinan, dan kemunmgkinan teratogenik.
(#) : berkaitan dengan kejadian oligohidramnion, penutupan duktus
arteriosus secara prematur, hipertensi pulmoner pada janin,
nefrotoksisitas pada janin dan perdarahan periventrikular.
3. Waktu Paparan Obat pada Periode Embrio/Janin dan Efek
Teratogenik
Seperti diketahui periode pertumbuhan hasil konsepsi telah terbagi
menjadi beberapa periode. Periode ini mempunyai kerentanan masing-
masing terhadap obat serta reaksi masing-masing organ pada janin

19
berbeda-beda. Di bawah ini dipaparkan obat-obat pada periode
pertumbuhan janin.
Obat yang Kemungkinan Memberi Efek Pada Janin Jika Diberikan
Pada 3 Bulan Pertama Kehamilan.

Obat yang kemungkinan Memberi Efek Pada Janin Jika Diberikan


Setelah 3 Bulan Pertama Kehamilan

20
H. Konseling dan Pemulihan Obat pada Ibu Hamil

Tujuan menghindari atau mengurangi abnormalitas janin.

1. Hindari pemberian obat pada periode pertama janin.


2. Hindari makanan minuman dan zat yang tidak diperlukan oleh
janin dalam pertumbuhan misalnya merokok, alkohol, obat sedatif,
OAD. Atau jamu-jamu tradisional yang belum teruji.
3. Hindari Pemberian oabt polifarmaks, terutama bila pemberian
dalam waktu yang lama.
4. Berikan obat yang telah jelas aman dan mempertimbangkan
keperluan pengetahuan primernya.
5. Pergunakan pedoman pengunaan obat resmi dan daftar obat-oba
yang aman demikian pula pemberian obat=onat terbatas atau yang
tidak diperbolehkan pada ibu hamil.

21
I. Contoh Kategori Obat

CONTOH OBAT KATEGORI A (Nama Generik): Ascorbic Acid (Vitamin


C) *Masuk Kategori C Jika Dosisnya Melebihi US RDA*, Doxylamine,
Ergocalciferol *Masuk Kategori D Jika Dosisnya Melebihi US RDA*, Folic Acid
*Masuk Kategori C Jika Dosisnya Melebihi 0,8 Mg Per Hari*, Pyridoxine
(Vitamin B6), Riboflavin *Masuk Kategori C Jika Dosisnya Melebihi US RDA*.

CONTOH OBAT KATEGORI B (Nama Generik): Acetylcysteine,


Acyclovir, Amiloride *Masuk Kategori D Jika Digunakan Untuk Hipertensi Yang
Diinduksi Oleh Kehamilan*, Ammonium Chloride, Amoxicillin, Amphotericin B,
Ampicillin, Atazanavir, Azatadine, Azelaic Acid, Benzylpenicillin, Bisacodyl,
Ciclacillin, Clotrimazole, Cloxacillin, Clozapine, Colestyramine .

CONTOH OBAT KATEGORI C (Nama Generik): Acetazolamide,


Acetylcholine Chloride, Adenosine, Albendazole, Albumin, Alclometasone,
Allopurinol, Aluminium Hydrochloride, Aminophylline, Amitriptyline,
Amlodipine, Antazoline, Astemizole, Atropin, Bacitracin, Beclometasone,
Belladonna, Isosorbid Dinitrate, Ketoconazole, Ketotifen Fumarate, Magaldrate,
Mefenamic Acid, Methyl Prednisolone.

CONTOH OBAT KATEGORI D (Nama Generik): Amikacin, Amobarbital,


Atenolol, Carbamazepine, Carbimazole, Chlordizepoxide, Cilazapril,
Clonazepam, Diazepam, Doxycycline, Imipramine, Kanamycin, Lorazepam,
Lynestrenol, Meprobamate, Methimazole, Minocycline, Oxazepam,
Oxytetracycline, Tamoxifen, Tetracycline, Uracil, Voriconazole… Dll … Dll.

CONTOH OBAT KATEGORI X (Nama Generik): Acitretin, Alprotadil


*Parenteral*, Atorvastatin, Bicalutamide, Bosentan, Cerivastatin Disodium,
Cetrorelix, Chenodeoxycholic Acid, Chlorotrianisene, Chorionic Gonadotrophin,
Clomifen, Coumarin, Danazol, Desogestrel, Dienestrol, Diethylstilbestrol,
Dihydro Ergotamin, Quinine, Raloxifene, Ribavirin, Rosuvastatin, Simvastatin,
Stanozolol, Tazarotene, Temazepam, Tetosterone, Thalidomide, Triazolam,
Triproretin, Urofolitropin, Warfarin.

22
J. Persyaratan Gizi dalam Kehamilan

Status gizi wanita sebelum kehamilan dan selama kehamilan dapat sangat
memengaruhi kesehatan ibu, janin, dan bayi. Memastikan nutrisi yang tepat
selama kehamilan termasuk menilai kenaikan berat badan ibu, asupan kalori, dan
asupan makanan sepanjang kehamilan. Nutrisi yang direkomendasikan dari
sumber makanan telah dijelaskan (Tabel 1). Kehamilan normal dan diet seimbang
biasanya menyediakan kebutuhan semua nutrisi kecuali zat besi dan folat di mana
suplementasi direkomendasikan. Institute of Medicine merekomendasikan
suplemen multivitamin untuk wanita hamil yang tidak mengkonsumsi makanan
yang cukup (41). Wanita yang mungkin berisiko lebih tinggi mengalami defisiensi
nutrisi termasuk wanita yang mengandung banyak kehamilan, perokok berat,
remaja, vegetarian lengkap, penyalahguna narkoba, dan wanita dengan
pembatasan medis lainnya termasuk intoleransi laktosa (42). Dalam subkelompok
ini, suplementasi multivitamin harian memiliki manfaat yang pasti dan merupakan
bagian dari standar perawatan pranatal. Persyaratan nutrisi spesifik [Tingkat
Dietary Allowance (RDA) yang Disarankan atau tingkat Asupan yang Memadai)
sebagaimana tercantum dalam Intake Referensi Makanan Dietary Institute of
Medicine tercantum dalam Tabel 2 (43–48). Nilai standar dosis ini didasarkan
pada asupan makanan untuk orang Amerika dan Kanada, dan meskipun mereka
memperhitungkan variabilitas populasi, nilai tersebut tidak dimaksudkan untuk
digunakan pada orang dengan penyakit akut atau kronis. Asupan pada atau di atas
RDA / AI memiliki probabilitas rendah yang tidak memadai (48).

1. Asam Folat
Beberapa penelitian telah membuktikan adanya defisiensi
pengesolasian makanan non-formal dalam pencegahan cacat tabung
saraf (NTD) (49,50). Selama dekade terakhir, ada penelitian yang
menunjukkan bahwa suplementasi dengan multivitamin yang diperkaya
asam folat dapat menurunkan risiko cacat di luar NTD, seperti celah
orofasial, defisiensi tungkai, dan kelainan kardiovaskular (51).
Suplementasi multivitamin juga telah dikaitkan dengan pengurangan

23
jumlah bayi berat lahir rendah dan kecil untuk usia kehamilan dan
anemia ibu (42). Meskipun penelitian mungkin melibatkan wanita
dengan asupan nutrisi harian yang tidak mencukupi dari alkohol, mereka
menyarankan rekomendasi yang layak untuk suplemen multivitamin
sebelum dan selama kehamilan pada semua ibu hamil. Folat adalah
vitamin B kompleks yang larut dalam air yang penting dalam sintesis
DNA dan replikasi sel (lihat Bab 18). Kekurangan selama kehamilan
telah lama dikaitkan dengan anemia megaloblastik yang diinduksi
kehamilan dan suplementasi telah terbukti sebagai strategi pengobatan
yang berhasil. Asupan folat yang tidak memadai pada awal kehamilan
juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko NTD (52). Suplementasi
asam folat prakonsepsi pada wanita yang merencanakan kehamilan telah
terbukti mengurangi kejadian dan kambuhnya NTD (52,53). Pemberian
sereal sereal di tahun199 6disebabkan penurunan 32 % untuk prevalensi
peningkatan nilai a-fetoprotein serum ibu, penanda yang digunakan
untuk menskrining NTD terbuka (54) bersama dengan penurunan 25%
dalam prevalensi NTD terbuka (55). Jadi folat bukan hanya nutrisi yang
dibutuhkan untuk mencegah anemia megaloblastik dalam kehamilan
tetapi juga vitamin penting untuk kesehatan reproduksi.
Suplemen folat harus diberikan 3 bulan sebelum konsepsi dan
sepanjang trimester pertama. Karena periode prakonsepsi adalah waktu
yang optimal untuk memastikan konsumsi folat yang memadai, RDA
adalah untuk semua wanita subur untuk mengambil setidaknya 400-800
mg / hari (55a). Jika ibu memiliki anak sebelumnya yang terkena cacat
tabung saraf, suplementasi pada kehamilan berikutnya harus
ditingkatkan menjadi 4 mg / hari (56).
2. Zat Besi
Zat besi sangat penting untuk produksi hemoglobin ibu dan untuk
perkembangan janin-plasenta. Pada kehamilan normal, AKG adalah 30
mg / hari. Penyerapan zat besi sangat tidak efisien dan hanya 10% dari
ini yang akan diserap. Jumlah zat besi yang diserap dari makanan
bersama dengan yang dimobilisasi dari toko ibu tidak cukup untuk

24
memenuhi permintaan ibu dalam kehamilan (57). Karena itu,
suplementasi dianjurkan selama kehamilan. Dari catatan, zat besi
bersaing dengan tembaga dan seng di tempat penyerapan usus dan
penambahan senyawa ini direkomendasikan melalui vitamin prenatal
ketika diperlukan suplemen zat besi.
Studi-studi telah ditunjukkan sampai meningkat dalam peningkatan
pada wanita dengan wanita dengan anemia defisiensi besi (IDA) pada
trimester pertama atau kedua, dengan risiko tergantung pada tingkat
defisiensi hemoglobin (58). Anemia berat (Hb <6 g / dL) telah dikaitkan
dengan penurunan volume cairan ketuban, vasodilatasi otak janin, dan
pola denyut jantung janin yang tidak meyakinkan (59). Untuk ibu hamil
dengan IDA pada trimester kedua atau ketiga, direkomendasikan bahwa
suplemen zat besi tambahan 30-120mg / hari diberikan sampai IDA
terdiagnosis. Penatalaksanaan simpanan dari beberapa IDA, sangat
penting untuk mengobati secara agresif dengan transfusi sel darah
merah, terutama jika ada tanda-tanda hipoksemia janin.
3. Vitamin A
Vitamin A (retinol) adalah vitamin yang larut dalam lemak
(retinoid) yang penting untuk pemeliharaan fungsi visual. RDA untuk
wanita hamil adalah 770mg (700mg pada wanita tidak hamil), yang
sesuai dengan sekitar 2600 IU vitamin A per hari menggunakan unit
dosis sebelumnya. Beta-karoten adalah salah satu dari beberapa
karotenoid yang disintesis tanaman yang sebagian dikonversi menjadi
retinol selama atau setelah penyerapan (60). Ini sering disebut sebagai
pro-vitamin A karotenoid (mis., B-karoten, a-karoten, b-cryptoxanthin).
Meskipun studi-studi kecil telah mengidentifikasi potensi teratogenik
dari retinoid, karotenoid belum terbukti teratogenik (60). Pada manusia,
dosis melebihi 15.000 IU (4500mg) / d sering digunakan untuk
mengobati jerawat (mis., Isotretinoin). Penelitian telah menunjukkan
bahwa kadar retinoid sintetik ini dapat menyebabkan peningkatan 25%
pada anomali janin bawaan (61). 'Embriopati asam retinoat' ini ditandai
dengan kelainan struktur sistem saraf kraniofasial, jantung, timus, dan

25
sistem saraf pusat (cacat kranial-neural-krista). Konsumsi vitamin A
makanan pada tingkat di atas 10.000 IU (3000mg) /hari juga telah
dikaitkan dengan cacat bawaan ini (62), meskipun tidak dalam semua
penelitian (63). Karena diet seimbang menyediakan RDA untuk vitamin
A pada wanita hamil dan menyusui, pendekatan risiko-manfaat akan
menyarankan tidak merekomendasikan suplementasi harian pada
kehamilan normal.

Mikronutrien Konvinan dalam Kehamilan dan Laktasi

Nutrisi Fungsi Sumber umum Kekhawatiran


Tambahan dalam
Kehamilan
Vitamin A Vitamin yang larut Buah kuning Terkait dengan
dalam lemak, dan jingga peningkatan cacat
fungsi utama yang neonatal kranial-neural-
penting crest * pada
peningkatan level
suplementasi (119)
Vitamin B1 Larut dalam air, Susu , biji bijian defisiensi akut pada
terlibat dalam wanita dengan mual
pelepasan energi dan muntah yang parah
dari sel menyebabkan
ensefalopati Wernicke
Vitamin B2 Larut dalam air, Sayur hijau , Defisiensi dapat
terlibat dalam susu, telur , keju meningkatkan risiko
pelepasan energi dan ikan preeklampsia hingga
dari sel hampir lima kali lipat
pada wanita berisiko
tinggi (120)
Vitamin B6 Tidak larut dalam Sayuran Digunakan untuk
air, terlibat glikop, mengobati mual dan
karbohidrat, muntah pada

26
protein, kehamilan; Level
metabolisme, dan rendah yang terkait
sintesis dengan penurunan skor
APGAR (121
Vitamin B12 larut dalam air, Protein hewan Kekurangan diet
terlibat dalam mungkin terlihat dalam
sintesis DNA dan diet vegan; Status
pembelahan sel vitamin B12 yang
rendah mungkin
merupakan faktor risiko
untuk NTD (122)
Vitamin C Larut dalam air, Buah dan Defisiensi terkait
mengurangi sayuran dengan peningkatan
freeradis. risiko untuk PROM dan
Melibatkan preeklampsia (123.124
informasi kolagen.
Penyerapan
Foroptimaliron
Penting
Vitamin D Larut dalam Susu yang Kekurangan terkait
Lemak, terlibat diperkaya, sinar dengan efek negatif
informasi dan UV dibutuhkan pada homeostasis
mineralisasi; untuk vitamin D kalsium dan
Diperlukan Untuk mineralisasi kerangka
penyerapan neonatus (rakhitis
kalsium bawaan, craniotabes,
kadar mineral tulang
yang lebih rendah)
(125)

27
K. Masalah yang Mempengaruhi Kehamilan
1. Saluran Pencernaan

Sembelit biasanya terjadi selama kehamilan. Institusi pendidikan,


latihan fisik, dan peningkatan asupan serat dan cairan makanan. Jika
diperlukan terapi tambahan, berikan serat tambahan atau pelunak tinja.
Garam polietilen glikol, laktulosa, sorbitol, dan magnesium dan natrium
dapat digunakan sebentar. Senna dan bisacodyl dapat digunakan sesekali.
Hindari minyak jarak dan minyak mineral.

Terapi untuk penyakit refluks gastroesofagus meliputi modifikasi


gaya hidup dan pola makan, misalnya, makanan kecil dan sering;
menghindari alkohol, tembakau, dan kafein; penghindaran makanan 3
jam sebelum tidur; dan ketinggian kepala tempat tidur. Jika perlu,
mulailah antasida aluminium, kalsium, atau magnesium; sucralfate; atau
simetidin atau ranitidin. Inhibitor pompa proton adalah opsi jika respons
terhadap reseptor histamin 2 (H2) tidak memadai. Hindari natrium
bikarbonat dan magnesium trisilikat.

Terapi untuk wasir meliputi asupan makanan tinggi serat, asupan


cairan oral yang memadai, dan penggunaan sitz bath. Jika respons tidak
memadai, obat pencahar dan pelunak feses dapat digunakan. Anestesi
topikal, pelindung kulit, dan astringen dapat membantu iritasi dan nyeri.
Hidrokortison topikal dapat mengurangi peradangan dan pruritus.

Perawatan nonfarmakologis untuk mual dan muntah adalah makan


dalam porsi kecil, sering; menghindari makanan berlemak; dan
akupresur. Farmakoterapi dapat termasuk antihistamin (misalnya,
doxylamine), piridoksin, dan antagonis dopamin (misalnya,
metoklopramid). Ondansetron dapat digunakan ketika agen lain gagal,
dan jahe dianggap aman dan efektif. Deksametason dan prednisolon
efektif untuk hiperemesis gravidarum (yaitu mual dan muntah yang parah
yang menyebabkan penurunan berat badan> 5% dari berat prahamil,
dehidrasi, dan ketonuria), tetapi risiko celah mulut meningkat.

28
2. Gestational Diabetes Mellitus
Terapi lini pertama digunakan untuk semua wanita dengan
gestational diabetes mellitus (GDM) termasuk modifikasi diet dan
pembatasan kalori untuk wanita gemuk. Diperlukan swa-monitor glukosa
darah harian. Jika intervensi nutrisi gagal mencapai kadar glukosa plasma
puasa kurang dari 90 hingga 99 mg / dL (5,5,5 mmol / L), konsentrasi
glukosa plasma 1 jam postprandial 140 mg / dL atau kurang (7,8 mmol /
L), atau Level postprandial 2 jam kurang dari 120 hingga 127 mg / dL
(6,7-7 mmol / L), terapi dengan insulin manusia rekombinan harus
dilembagakan; glyburide dapat dianggap sebagai alternatif. Metformin
juga dapat dipertimbangkan, tetapi melintasi plasenta dan kurang diteliti.
3. Hipertensi

Hipertensi (HTN) selama kehamilan meliputi HTN gestasional


(yaitu, HTN tanpa proteinuria yang berkembang setelah kehamilan 20
minggu), preeklampsia (yaitu, HTN dengan proteinuria), HTN kronis
(HTN yang sudah ada sebelumnya atau berkembang sebelum kehamilan
20 minggu), dan preeklamsia terjadi pada HTN kronis. Eclampsia,
darurat medis, adalah preeklampsia dengan kejang. HTN dalam
kehamilan adalah tekanan darah diastolik 90 mm Hg atau lebih
berdasarkan rata-rata dua pengukuran atau lebih dari lengan yang sama.

Untuk wanita yang berisiko mengalami preeklamsia, aspirin dosis


rendah (75-81 mg / hari) setelah kehamilan 12 minggu mengurangi risiko
preeklampsia sebesar 17%. Aspirin juga mengurangi risiko kelahiran
prematur sebesar 8% dan kematian janin dan neonatal sebesar 14%.
Kalsium, 1 hingga 2 g / hari, mengurangi risiko relatif HTN sebesar 30%
dan preeklampsia sebesar 48%. Kalsium, 1 g / hari, cocok untuk semua
wanita hamil.

Terapi obat antihipertensi dibahas kemudian di bawah Penyakit


Kronis pada Kehamilan.

29
Magnesium sulfat digunakan untuk mengurangi risiko
perkembangan preeklamsia menjadi eklampsia dan untuk mengobati
kejang eklampsia. Hindari diazepam dan fenitoin.

4. Abnormalitas Tiroid
Tirotoksikosis transien gestasional biasanya sembuh dengan
kehamilan 20 minggu. Obat antitiroid biasanya tidak diperlukan.
5. Venous Thromboembolisme
Untuk pengobatan tromboemboli akut selama kehamilan, heparin
dengan berat molekul rendah lebih disukai daripada heparin yang tidak
terfraksi. Lanjutkan perawatan selama kehamilan dan selama 6 minggu
setelah melahirkan. Durasi terapi tidak boleh kurang dari 3 bulan. Hindari
warfarin karena dapat menyebabkan perdarahan janin, malformasi hidung,
epifisis menetap, atau anomali SSP.

L. Obat dan Penyakit yang Mempengaruhi Status Gizi


1. Antiepileptik dan Vitamin K
Epilepsi adalah komplikasi neurologis utama umum yang
mempengaruhi sekitar 0,5% dari semua kehamilan (64). Obat antiepilepsi,
seperti fenobarbital, fenitoin, dan karbamazepin, telah terbukti melewati
plasenta dan menginduksi enzim mikrosom hati di hati janin, berpotensi
menginduksi degradasi vitamin K. karena kekurangan vitamin K janin
(65). Karena itu, sudah menjadi praktik umum untuk memberikan
pemberian vitamin K oral prenatal untuk wanita epilepsi hamil yang
menggunakan AED di samping dosis profilaksis yang direkomendasikan
yang diberikan kepada neonatus segera setelah lahir untuk membantu
mencegah penyakit hemoragik pada bayi baru lahir. Diperkirakan bahwa
24-40% wanita dengan epilepsi menerima profilaksis vitamin K selama
bulan terakhir kehamilan (66).
Bukti terbaru tidak mendukung anggapan bahwa bayi baru lahir
dari wanita yang diobati dengan AED berada pada peningkatan risiko
penyakit hemoragik. Vitamin K natalen dapat diresepkan secara
individual dalam keadaan tertentu, seperti persalinan prematur (67);

30
Namun, profilaksis tidak dianggap praktik rutin untuk semua wanita
hamil epilepsi pada AED (67).
2. Antagonis Asam Folat
Ada dua kelompok antagonis folat. Inhibitor dihydrofolate
reductase (DHFR) memindahkan folat dari enzim, menghalangi konversi
folat menjadi metabolit tereduksi yang lebih aktif (68). Aminopterin,
methotrexate, sulfasalazine, pyrimethamine, triamterene, dan
trimethoprim termasuk dalam kelompok ini. Kelompok kedua antagonis
folat dapat mempengaruhi enzim lain dari metabolisme folat,
mengganggu penyerapan folat, atau meningkatkan degradasi folat (69).
Ini termasuk AED terutama seperti carbamazepine, fenitoin, primidon,
dan fenobarbital (lihat Bab 17 dan 18)
Kekhawatiran dengan antagonis asam folat dalam kehamilan
melibatkan kemampuan mereka untuk mengganggu metabolisme folat
dan dengan demikian secara teoritis menempatkan janin pada risiko cacat
terkait dengan defisiensi folat (mis., NTDs). Studi epidemiologis telah
menunjukkan bahwa antagonis asam folat dapat meningkatkan risiko
tidak hanya NTD tetapi juga defek kardiovaskular, sumbing rongga
mulut, dan defek saluran kemih (69). Komponen asam folat multivitamin
dapat mengurangi risiko cacat terkait dengan inhibitor DHFR; Namun,
bukti menunjukkan bahwa suplementasi mungkin tidak melindungi janin
dari risiko yang terkait dengan AED (69). Ini tidak mengherankan karena
telah ada efek toksik janin langsung yang diusulkan untuk obat-obatan
seperti fenitoin dan fenobarbital yang melampaui kemampuan mereka
untuk mempengaruhi kadar folat ibu dan janin (70).
3. Hyperemesis Gravidarum
Mual dan muntah dalam kehamilan (NVP) adalah kondisi medis
paling umum pada kehamilan yang mempengaruhi 50-90% wanita (71).
Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai muntah persisten yang
menyebabkan penurunan berat badan sebelum hamil sebesar 5%
bersamaan dengan ketidakseimbangan elektrolit dan ketonuria dan terjadi

31
pada 1% kehamilan (71). Patogenesis NVP kurang dipahami dan
etiologinya kemungkinan multifaktorial (72).
Setelah ketakutan thalidomide dan penarikan Bendectin1 secara
sukarela di Amerika Serikat pada tahun 1983, penggunaan terapi
antiemetik farmakologis telah digunakan dengan sangat hati-hati oleh
wanita hamil karena kesalahpahaman kontraindikasi pada kehamilan (73).
Namun, Society of Obstetrics and Gynecology of Canada (SOGC) telah
dengan jelas menguraikan rekomendasi dalam pengobatan NVP karena
perawatan dini dapat meningkatkan kualitas hidup, mengurangi rawat
inap dan kunjungan kantor tambahan, dan mengurangi waktu yang hilang
dari pekerjaan (72). Rekomendasi termasuk mulai dengan perubahan pola
makan dan gaya hidup, termasuk makan kecil, sering makan yang terdiri
dari makanan hambar. Obat alternatif seperti suplemen jahe, akupunktur,
dan akupresur juga dapat bermanfaat. Ketika langkah-langkah konservatif
tidak cukup untuk memberikan bantuan, kombinasi doxylamine /
pyridoxine (Diclectin1) harus menjadi standar perawatan karena memiliki
bukti terbesar untuk mendukung kemanjuran dan keamanannya (72).
Penggunaan antagonis histamin reseptor (H1) lainnya (mis.,
Dimenhydrinate, diphenhydramine, hydroxyzine) dianggap aman dalam
kehamilan dan dapat dipertimbangkan dalam pengelolaan episode NVP
akut atau terobosan. Metoclopramide aman dalam pengelolaan NVP;
Namun, bukti untuk kemanjurannya terbatas (72). Ketika NVP refrakter
terhadap farmakoterapi awal yang direkomendasikan, investigasi
penyebab potensial lainnya harus dilakukan (72).

M. Isu Perawatan Akut Dalam Kehamilan


1. Sakit Kepala

Untuk sakit kepala, tegang dan migrain selama kehamilan, terapi lini
pertama bersifat nonfarmakologis, termasuk relaksasi, manajemen stres,
dan biofeedback.

Untuk sakit kepala tegang, asetaminofen atau ibuprofen dapat


digunakan jika perlu. Semua NSAID dikontraindikasikan pada trimester

32
ketiga karena potensi penutupan duktus arteriosus. Hindari aspirin pada
trimester ketiga, karena dapat menyebabkan penutupan ductus arteriosus,
perdarahan ibu dan janin, dan penurunan kontraktilitas uterus. Opioid
jarang digunakan.

Untuk sakit kepala dan migrain, acetaminophen dan ibuprofen dapat


digunakan. Opioid telah digunakan, tetapi dapat menyebabkan mual, dan
penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan penarikan neonatal.
Untuk migrain yang tidak responsif, sumatriptan dapat digunakan.
Ergotamin dan dihidroergotamin dikontraindikasikan. Untuk mual yang
berhubungan dengan migrain, promethazine, prochlorperazine, dan
metoclopramide dapat digunakan.

Untuk wanita hamil dengan sakit kepala parah (biasanya migrain)


yang tidak responsif terhadap pengobatan lain, propranolol, dengan dosis
efektif terendah, dapat digunakan sebagai pengobatan pencegahan.
Alternatif lain termasuk amitriptyline atau nortriptyline, 10 hingga 25 mg
setiap hari melalui mulut.

2. Infeksi Saluran Kemih

Organisme penular utama adalah Escherichia coli, tetapi Proteus


mirabilis, Klebsiella pneumoniae, dan Streptococcus grup B menyebabkan
beberapa infeksi. Bakteriuria yang tidak diobati dapat menyebabkan
pielonefritis, persalinan prematur, preeklampsia, gagal ginjal transien, dan
berat lahir rendah.

Pengobatan bakteriuria asimptomatik diperlukan untuk mengurangi


risiko pielonefritis dan persalinan prematur. Perawatan selama 7 hingga 14
hari adalah umum. Ulangi kultur urin disarankan setiap bulan selama sisa
kehamilan.

Sefaleksin dianggap aman dan efektif untuk bakteriuria asimptomatik.


Resistensi E. coli terhadap ampisilin dan amoksisilin bermasalah.
Nitrofurantoin tidak aktif terhadap Proteus dan tidak boleh digunakan
setelah minggu 37 karena kekhawatiran akan anemia hemolitik pada bayi

33
baru lahir. Obat-obatan yang mengandung sulfur dapat meningkatkan
risiko kernikterus pada bayi baru lahir dan harus dihindari selama minggu-
minggu terakhir kehamilan. Antagonis folat, seperti trimetoprim, relatif
kontraindikasi selama trimester pertama karena hubungannya dengan
malformasi kardiovaskular. Secara regional, peningkatan tingkat resistensi
E. coli terhadap trimethoprim-sulfa membatasi penggunaannya.
Fluoroquinolon dan tetrasiklin dikontraindikasikan.

3. Penyakit Menular Seksual

Farmakoterapi untuk infeksi menular seksual tertentu ditunjukkan


pada Tabel 8.

Komplikasi Chlamydia trachomatis meliputi penyakit radang panggul,


kehamilan ektopik, dan infertilitas. Infeksi klamidia dapat ditularkan saat
lahir ke neonatus dan menyebabkan konjungtivitis dan pneumonia
subakut, demam.

Penisilin adalah obat pilihan untuk sifilis, dan efektif untuk mencegah
penularan ke janin dan mengobati janin yang sudah terinfeksi.

Neisseria gonorrhoeae adalah faktor risiko penyakit radang panggul


dan kelahiran prematur. Gejala pada neonatus (misalnya, rinitis, vaginitis,
uretritis, ophthalmia neonatorum, dan sepsis) biasanya mulai dalam 2
sampai 5 hari setelah kelahiran. Kebutaan dapat terjadi.

Perhatian utama pada herpes genital adalah penularan virus ke


neonatus selama kelahiran. Penggunaan asiklovir pada ibu selama
trimester pertama tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko cacat lahir.
Valacyclovir adalah alternatif. Untuk famciclovir, data keamanan lebih
terbatas.

Vaginosis bakteri adalah faktor risiko pecah ketuban dini, persalinan


prematur, kelahiran prematur, infeksi intraamniotik, dan endometritis
postpartum.

34
Data bertentangan mengenai perawatan wanita berisiko rendah untuk
persalinan prematur.

N. Kesalahan Kronis Dalam Kehamilan


1. Alergi Rhinitis dan Asma

Diagnosis dan penentuan stadium asma selama kehamilan adalah


sama dengan pada wanita tidak hamil, tetapi perlu tindak lanjut lebih
sering. Risiko penggunaan obat untuk janin lebih rendah daripada risiko
asma yang tidak diobati.

Perawatan mengikuti pendekatan enam langkah. Sebagai langkah 1,


semua pasien hamil dengan asma harus memiliki akses ke β2-agonis
inhalasi kerja singkat (albuterol adalah agen yang lebih disukai).

Untuk asma persisten (langkah 2 atau lebih tinggi), kortikosteroid


pengontrol dosis rendah, sedang, atau tinggi sangat mendasar. Budesonide
lebih disukai, tetapi kortikosteroid yang digunakan sebelum kehamilan
dapat dilanjutkan. Agonis β2 kerja panjang aman.

Cromolyn, antagonis reseptor leukotrien, dan teofilin dianggap


sebagai agen alternatif, tetapi tidak disukai. Untuk pasien dengan penyakit
yang paling parah, kortikosteroid sistemik direkomendasikan.

Obat lini pertama untuk rinitis alergi selama kehamilan meliputi


kortikosteroid intranasal, kromolin nasal, dan antihistamin generasi
pertama (misalnya, klorfeniramin dan hidroksizin). Kortikosteroid
intranasal adalah pengobatan yang paling efektif dan memiliki risiko
rendah untuk efek sistemik. Beclomethasone dan budesonide paling
banyak digunakan. Loratadine dan cetirizine tampaknya tidak
meningkatkan risiko janin, tetapi mereka belum banyak diteliti.

Penggunaan dilator hidung eksternal, oxymetazoline topikal jangka


pendek, atau kortikosteroid inhalasi mungkin lebih disukai daripada
dekongestan oral, terutama selama awal kehamilan.

35
2. Diabetes

Insulin adalah obat pilihan untuk pasien dengan diabetes tipe 1 atau 2
selama kehamilan. Ganti wanita yang menerima insulin glargine atau
detemir menjadi insulin NPH. Glyburide dan metformin mungkin
merupakan alternatif tetapi tidak direkomendasikan oleh American
Diabetic Association. Tujuan pemantauan glukosa darah adalah sama
dengan untuk GDM.

3. Epilepsi

Malformasi mayor dua sampai tiga kali lebih besar pada anak-anak
yang lahir dari wanita yang memakai AED daripada mereka yang tidak,
tetapi risiko epilepsi yang tidak diobati pada janin dianggap lebih besar
daripada yang terkait dengan AE.

Malformasi utama dengan terapi asam valproik terkait dengan dosis


dan berkisar antara 6,2% hingga 10,7%. Bila mungkin, hindari asam
valproat selama kehamilan untuk meminimalkan risiko cacat tabung saraf,
celah wajah, dan teratogenisitas kognitif.

Tingkat malformasi mayor yang terkait dengan monoterapi AED lain


adalah 2,9% hingga 3,6%. Politerapi dikaitkan dengan tingkat yang lebih
tinggi.

Karbamazepin dan lamotrigin mungkin merupakan AED paling aman


untuk digunakan pada kehamilan. Fenitoin, lamotrigin, dan karbamazepin
dapat menyebabkan langit-langit mulut sumbing, dan fenobarbital dapat
menyebabkan malformasi jantung.

Terapi obat harus dioptimalkan sebelum konsepsi, dan monoterapi


AED direkomendasikan bila memungkinkan. Jika penarikan obat
direncanakan, harus dilakukan setidaknya 6 bulan sebelum konsepsi.

Semua wanita dengan epilepsi harus mengonsumsi asam folat, 4


hingga 5 mg setiap hari, dimulai sebelum kehamilan dan berlanjut sampai
setidaknya trimester pertama. American Academy of Pediatrics

36
merekomendasikan bahwa semua neonatus menerima vitamin K saat
melahirkan

4. Infeksi Human Immunodeficiency Virus

Wanita hamil yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV)


harus menerima terapi antiretroviral (ARV) untuk mengurangi risiko
penularan HIV perinatal. Terapi ARV dipilih dari yang direkomendasikan
untuk orang dewasa yang tidak hamil (dengan pertimbangan diberikan
pada profil teratogenik dari setiap obat). Wanita yang sudah menggunakan
terapi ARV harus melanjutkan rejimen mereka jika memungkinkan.

Wanita yang memakai efavirenz harus melanjutkannya, karena defek


tuba neural biasanya terjadi pada minggu ke 5 sampai 6 kehamilan, dan
kehamilan sering tidak dikenali pada minggu ke 4 sampai 6.

Untuk perempuan yang belum pernah menggunakan ARV,


penggunaan rejimen kombinasi tiga obat dianjurkan dan biasanya
mengandung dua NRTI (NRTI) dengan lintasan transplasenta yang tinggi
(lebih disukai: zidovudine, lamivudine; alternatif: emtricitabine, tenofovir,
abacavir) bersama dengan protease inhibitor (lebih disukai: atazanavir plus
ritonavir dosis rendah, lopinavir / ritonavir; alternatif: darunavir atau
saquinavir, keduanya dengan ritonavir dosis rendah). Nevirapine,
nonnucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI), dapat digunakan
sebagai alternatif untuk protease inhibitor tetapi dikaitkan dengan ruam
yang parah dan mengancam jiwa atau hepatotoksisitas fatal.

Beberapa wanita yang tidak memerlukan terapi segera dapat memilih


untuk menunda terapi ARV sampai setelah trimester pertama untuk
menghindari potensi teratogenisitas.

Untuk wanita dengan HIV, operasi caesar sebelum persalinan


(biasanya pada usia kehamilan 39 minggu) direkomendasikan untuk
mengurangi risiko penularan HIV perinatal. Jika viral load ibu adalah 400
atau lebih (400 × 103 / L atau lebih) atau tidak diketahui, AZT IV harus
dimulai dengan dosis pemuatan 1 jam (2 mg / kg) diikuti dengan infus

37
berkelanjutan (1 mg) / kg) selama 2 jam (sesar) atau sampai pelahiran
(untuk pelahiran per vaginam). AZT harus tetap diberikan dengan adanya
resistensi terhadap AZT oral. Wanita dengan viral load di bawah 400 (400
× 103 / L atau kurang) di dekat persalinan tidak memerlukan AZT tetapi
harus melanjutkan rejimen ARV mereka.

5. Hipertensi

HTN berat (tekanan darah sistolik [sBP] => 160 mm Hg atau tekanan
darah diastolik [dBP] ≥ 110 mm Hg) dapat menyebabkan komplikasi ibu,
masuk rumah sakit, dan kemungkinan kelahiran prematur. Terapi obat
diindikasikan untuk wanita dengan TD 160/110 mm Hg atau lebih. BP
harus diturunkan maksimal 25% pada menit pertama menjadi 1 jam
dengan pengurangan lebih lanjut hingga di bawah 160/100 mm Hg selama
periode jam. obat yang umum digunakan adalah labetalol dan hidralazin,
tetapi hidralazin menyebabkan lebih banyak efek samping janin.
Nifedipine oral juga bisa digunakan.

Pengobatan HTN nonsevere (sBP 140-159 mm Hg atau dBP 90-109


mm Hg) mengurangi risiko HTN parah hingga 50% tetapi tidak secara
substansial mempengaruhi hasil janin. Di Amerika Serikat, pengobatan
dimulai pada BPs 150-160/100 hingga 110 mm Hg, dengan tujuan BP
kurang dari 150/100 mm Hg. Di Kanada dan Inggris, target sasaran lebih
rendah. Tidak ada bukti yang ada untuk kemanjuran unggul dari satu agen
antihipertensi dibandingkan yang lain, tetapi obat yang biasa digunakan
termasuk labetalol, metildopa, dan penghambat saluran kalsium. β-
Antagonis dapat digunakan kecuali atenolol.

Inhibitor ACE, antagonis reseptor angiotensin, dan inhibitor renin


dikontraindikasikan sepanjang kehamilan. Diuretik tiazid dapat digunakan
pada wanita yang diobati sebelum kehamilan

6. Depresi

Secara umum, monoterapi lebih disukai daripada politerapi bahkan


jika dosis yang lebih tinggi diperlukan. Jika antidepresan digunakan, dosis

38
serendah mungkin harus digunakan untuk waktu sesingkat mungkin untuk
meminimalkan hasil kehamilan janin dan ibu yang merugikan.

Dalam satu penelitian, wanita hamil yang berhenti minum


antidepresan lebih cenderung kambuh daripada wanita yang
menyelesaikan pengobatan.

Inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) tidak dianggap sebagai


teratogen utama. Inhibitor reuptake serotonin / norepinefrin (SNRI) kurang
terdefinisi dengan baik. Penggunaan SSRI dan SNRI pada bagian akhir
kehamilan dikaitkan dengan HTN paru persisten dari sindrom paparan
antidepresan bayi baru lahir dan prenatal (yaitu, jantung, pernapasan,
neurologis, gastrointestinal [GI], dan komplikasi metabolik dari toksisitas
obat atau penarikan terapi obat) ). Antidepresan trisiklik tidak dianggap
sebagai teratogen utama tetapi telah dikaitkan dengan sindrom penarikan
neonatal ketika digunakan pada akhir kehamilan. Sebuah studi
epidemiologi menunjukkan bahwa penggunaan paroxetine pada trimester
pertama dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko 1,5 hingga 2 kali lipat
untuk cacat jantung pada bayi

7. Gangguan Tiroid

Untuk hipotiroidisme, berikan levothyroxine untuk mendapatkan


hormon perangsang tiroid (TSH) 0,1 hingga 2,5, 0,2 hingga 3, dan 0,3
hingga 3 mIU / L pada trimester pertama, kedua, dan ketiga. Ini dapat
dimulai pada 0,1 mg / hari. Wanita yang menerima terapi penggantian
tiroid sebelum kehamilan mungkin memerlukan peningkatan dosis selama
kehamilan. Monitor kadar TSH setiap 4 minggu selama paruh pertama
kehamilan dan setidaknya sekali antara 26 dan 32 minggu kehamilan untuk
memungkinkan titrasi dosis.

Terapi hipertiroidisme meliputi thioamides (yaitu, methimazole,


propylthiouracil [PTU]). Pengurangan dosis dimungkinkan setelah
mencapai kondisi eutiroid. Beberapa mendukung peralihan ke PTU selama
trimester pertama karena potensi risiko dengan methimazole diikuti oleh

39
peralihan berikutnya ke methimazole untuk trimester kedua dan ketiga
untuk mencegah hepatotoksisitas dari PTU. Iodine-131
dikontraindikasikan. Tujuan terapi adalah untuk mencapai konsentrasi
tiroksin bebas di dekat batas atas normal.

40
TABEL 8 Manajemen Penyakit Menular Seksual pada Kehamilan
STI Nama Obat Dosis Pemantauan Komentar
(Nama Merek)
Vaginosis bakteri Direkomendasikan: Tes tindak lanjut tidak Sediaan vagina tidak
Metronidazole (Flagyl)  500 mg melalui mulut diperlukan jika gejala dianjurkan karena risiko
OR dua kali sehari × 7 hari sembuh infeksi saluran genital
 250 mg melalui mulut subklinis subklinis
tiga kali sehari × 7 hari Klindamisin intravaginal
 300 mg melalui mulut selama paruh kedua
Clindamycin (Cleocin) dua kali sehari × 7 hari kehamilan menyebabkan
berat lahir rendah dan infeksi
neonatal
Chancroid Direkomendasikan: 1 g melalui mulut × 1 dosis Periksa kembali setelah 3 Tes untuk HIV ketika
Azithromycin (Zithromax) 250 mg IM × 1 dosis sampai 7 hari; perbaikan chancroid didiagnosis. Jika
ATAU Ceftriaxone ulkus harus terlihat 3 negatif, tes serologis untuk
(Rocephin) hari. Penyembuhan total sifilis dan HIV harus terjadi 3
ATAU tergantung pada ukuran bulan setelah diagnosis
Basis Erythromycin (Ery- 500 mg melalui mulut tiga ulkus chancroid
Tab) kali sehari × 7 hari

41
Chlamydia Direkomendasikan: Uji penyembuhan 3 Koinfeksi gonore biasanya
Azithromycin (Zithromax) 1 g melalui mulut × 1 dosis minggu setelah terapi terjadi; keduanya dirawat
Amoxicillin (Amoxil) 500 mg melalui mulut tiga selesai (kecuali jika pada secara bersamaan. Infeksi
kali sehari × 7 hari trimester pertama, klamidia tidak menunjukkan
Alternatif: Basa kemudian tes ulang gejala pada pria dan wanita.
eritromisin Erythromycin setelah 3 bulan) Wanita di bawah usia 25
ethylsucinate tahun dan mereka yang
berisiko tinggi (mis., banyak
pasangan) harus dites ulang
pada trimester ketiga
Gonorea Direkomendasikan: Karena tingkat infeksi Koinfeksi klamidia sering
Ceftriaxone (Rocephin) 250 mg IM × 1 dosis ulang yang tinggi, ulangi terjadi; keduanya
PLUS Azithromycin 1 g melalui mulut × 1 dosis pengujian untuk gonore 3 diperlakukan secara
(Zithromax) bulan setelah perawatan. bersamaan
400 mg melalui mulut × 1 Untuk rejimen alternatif, Gunakan rejimen alternatif
Alternatif: Cefixime dosis tes ofcure diperlukan hanya jika ceftriaxone tidak
(Suprax) dalam 1 minggu tersedia

PLUS

42
Azithromycin (Zithromax)
Sifilis Direkomendasikan: 2,4 juta unit IM × 1 dosis Evaluasi serologis Untuk kegagalan pengobatan
Primer, sekunder, Benzathine penicillin G nontreponemal pada 6 atau infeksi ulang, gunakan
laten awal (Bicillin L-A) dan 12 bulan obat dan dosis yang sama
tetapi tingkatkan hingga 3
suntikan setiap minggu
kecuali ada neurosifilis.
Tersier, laten Direkomendasikan: 2,4 juta unit IM × 3 dosis evaluasi serologis Gunakan rejimen ini untuk
terlambat Benzathine penicillin G pada interval 1 minggu nontreponemal pada 6, sifilis laten atau laten yang
(Bicillin L-A) 12, dan 24 bulan. tidak diketahui durasinya
Pemeriksaan CSF
mungkin diperlukan
Neurosifilis Direkomendasikan: Tiga hingga empat juta unit Jika peningkatan leukosit Pertimbangkan pengobatan
Aqueous penicillin G IV setiap 4 jam atau IV awal pada CSF, ulangi berulang jika leukosit atau
(Pfizerpen) berkelanjutan × 10-14 hari CSF setiap 6 bulan protein CSF tidak
sampai normalisasi menormalkan setelah 2 tahun
Alternatif: Procaine 2,4 juta unit IM setiap hari ×
penicillin (Wycillin, 10-14 hari Gunakan rejimen alternatif
Pfizerpen-AS) hanya jika kepatuhan dapat

43
500 mg melalui mulut dipastikan
PLUS Probenecid empat kali sehari × 10-14
hari
Trikomoniasis Direkomendasikan: Direkomendasikan: Pertimbangkan Sementara tinidazole adalah
Metronidazole Metronidazole penyaringan ulang pasien alternatif untuk wanita tidak
pada 3 bulan karena hamil, penggunaan yang
tingkat infeksi ulang aman selama kehamilan tidak
yang tinggi dipelajari dengan baik

44
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Proses kehamilan di dahului oleh proses pembuahan satu sel telur yang
bersatu dengan sel spermatozoa dan hasilnya akan terbentuk zigot yang kemudian
akan membelah diri menjadi segumpal sel yang sudah siap untuk menempel /
nidasi pada lapisan dalam rongga rahim (endometrium).
Obat adalah suatu zat yang dibuat dengan tujuan untuk mendapatkan efek
pengobatan (terapi) bila diberikan pada individu yang sakit atau memerlukan
pengobatan.
Pemberian obat dalam masa kehamilan dapat menyebabkan pengaruh
terhadap pertumbuhan janin. Plasma darah yang mengandung obat akan melalui
mekanisme transfer plasenta (sawar plasenta). Hal ini dikarenakan plasenta
merupakan unit yang berfungsi menyalurkan nutrien dari ibu ke janin. Obat-
obatan tertentu yang dikonsumsi dapat memberi efek negatif atau cacat bawaan
pada pertumbuhan embrio atau janin.

45
DAFTAR PUSTAKA

1. Barbara G. Wells, Joseph T. DiPiro, Terry L. Schwinghammer, Cecily V.


DiPiro. Pharmacotherapy Handbook Ninth Edition. 2015
2. Christof Schaefer, Paul Peters, Richard K. Miller. Drugs During
Pregnancy and Lactation. 2007
3. Fauzeea . 2011 . Pengaruh Obat pada Kehamilan .
http://fauzeeasomethingnew.blogspot.com/2011/09/pengaruh-obat-pada-
kehamilan.html . 16 Maret 2019
4. Joseph I. Boullata, Vincent T. Armenti. Handbook of Drug-Nutrient
Interactions . 2010

46