Anda di halaman 1dari 22

KOMPUTERISASI DALAM DOKUMENTASI KEBIDANAN

Komputerisasi

Sistem dokumentasi dengan menggunakan komputer sudah makin luas digunakan di Rumah
sakit dan instruksi pelayanan kesehatan terutama di negara yang telah berkembang. Perawat
adalah pemakai utama sistem yang mengintegrasikan semua sumber informasi ini, serta
memungkinkan semua tenaga kesehatan untuk dapat menggunakan informasi tersebut

Keuntungan:

1. Lebih mudah dibaca


2. Kemungkinan salah/kelupaan lebih sedikit dengan kata lain ketepatan pencatatan
lebih tinggi karena secara otomatis komputer memanggil semua data yang ada bila
ada hal yang tidak sesuai dengan yang terprogram
3. Hemat waktu dan biaya (bila sistem itu sudah berjalan)
4. Pelayanan pasien bisa lebih cepat karena banyak pesanan dapat disampaikan lewat
komputer dan komunikasi antar unit bisa dipantau lewat sarana komputer
5. Meningkatkan komunikasi antar tim petugas kesehatan
6. Lebih memudahkan untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan peningkatan mutu

Kekurangan:

1. Kurang terjaminnya kerahasian pasien


2. Tidak semua institusi dan petugas siap untuk komputerisasi dan perlu latihan khusus
untuk sistem komputerisasi
3. Modal awal sangat tinggi dan menuntut keahlian khusus untuk menciptakan
programnya dan perangkat komputer yang dibutuhkan
4. Ketergantungan kepada alat/teknolohi tinggi
5. Ada perbandingan khusus untuk keperluan alat/unit komputer dan jumlah pasien (10-
15 bed/terminal komputer)

MODEL CPR (COMPUTER BASED PATIENT RECORD) DALAM


DOKUMENTASI KEBIDANAN

Model ini menggunakan sistem komputer dalam melakukan dokumentasi kebidanan. Model
ini berupa segala bentuk catatan dokumentsi terprogram secara jelas sehingga memudahkan
dalam proses penegakan diagnosis dan mengurangi kegiatan pencatatan secara tradisional.
Beberpa pertimbangan dalam penggunaan CPr ini adalah karena jumlah data yang
dikumpulkan tentang kesehata seseorang sangatlah banyak dan metode ini merupakan
penghantaran informasi yang lebih efisien dan efektif.

Dalam aplikasinya, terdapat beberapa keuntungan dan kerugian penggunaan CPR.

Keuntungannya antara lain:

1. Catatan dapat dibaca


2. Catatan selalu siap sedia
3. Produktifitas bidan membaik
4. Mengurangi kerusakan catatan.
5. Menunjang proses asuhan kebidanan.
6. Mengurangi dokumentasi yang berlebihan.
7. Catatan kebidanan terkategorisasi.
8. laporan tercetak secara otomatis
9. Dokumentasi sesuai dengan standar asuhan kebidanan
10. Ketersediaan data
11. Pencegahan kesalahan pemberian obat
12. Mempermudah penetapan biaya.

Sedangkan kerugiannya dapat berupa

1. Biaya tinggi
2. Keterbatasan dalam format pencatatan
3. Kesulitan melepas lembar kerja
4. Masalah keamanan dan kerahasiaan informasi pasien

CONTOH

Tanggal Masalah klien Diidentifikasi oleh keterangan


18/05/2011 KET Dokter

Kehamilan tak Bidan


diinginkan
Perawat
Cemas

teknik model pedokumentasian POR, SOR, CBE, Kardeks dan Komputerisasi

Model Pendokumentasian
Tujuan Pembelajaran

Setelah Mempelajari bab ini, anda diharapkan mampu :


a. Menjelaskan model pendokumentasian POR
b. Menjelaskan model pendokumentasian SOR
c. Menjelaskan model pendokumentasian CBE
d. Menjelaskan model pendokumentasian Kardeks
e. Menjelaskan model pendokumentasian Komputer

Model Pendokumentasian adalah merupakan cara menggunakan dokumentasi dalam


penerapan proses asuhan. Ada beberapa model pendokumentasian yaitu model
pendokumentasian secara POR (Problem Oriented Record), SOR (Source Oriented Record),
CBE (Charting By Exception), Kardeks dan Komputer.

A. POR (PROBLEM ORIENTED RECORD)


Suatu model pendokumentasian sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada masalah
klien, dapat menggunakan multi disiplin dengan mengaplikasikan pendekatan pemecahan
masalah, mengarahkan ide-ide dan pikiran anggota tim. Pendekatan ini pertama kali
dikenalkan oleh dr. Lawrence Weed dari Amerika Serikat. Dalam format aslinya pendekatan
berorientasi masalah ini dibuat untuk memudahkan pendokumentasian dengan catatan
perkembangan yang terintegrasi, dengan sistem ini semua petugas kesehatan mencatat
observasinya dari suatu daftar masalah.
1. Pengertian
Model ini memusatkan data tentang klien dan didokumentasikan dan disusun menurut
masalah klien. Sistem dokumentasi jenis ini mengintegrasikan semua data mengenai masalah
yang dikumpulkan oleh dokter, perawat atau tenaga kesehatan lain yang terlibat dalam
pemberian layanan kepada klien.
2. Komponen
Model dokementasi ini terdiri dari empat komponen yaitu :
a. Data Dasar
1) Data dasar berisi kumpulan dari data atau semua informasi baik subyektif maupun obyektif
yang telah dikaji dari klien ketika pertama kali masuk Rumah Sakit atau pertama kali
diperiksa
2) Data dasar mencakup :
a) Pengkajian keperawatan
b) Riwayat penyakit/ kesehatan
c) Pemeriksaan fisik
d) Pengkajian ahli gizi
e) Data penunjang ( hasil laboratorium)
3) Data dasar yang telah terkumpul selanjutnya digunakan sebagai sarana mengidentifikasi
masalah dan mengembangkan daftar masalah klien
b. Daftar Masalah
Daftar masalah merupakan suatu daftar inventaris masalah yang sudah dinomori menurut
prioritas. Untuk memudahkan mencapainya daftar masalah ini berada didepan dari catatan
medik. Daftar masalah ini bisa mencerminkan keadaan pasien, masalah-masalah ini diberi
nomor sehingga akan memudahkan bila perlu dirujuk ke masalah tertentu dalam catatan
klinik tersebut. Bila masalah sudah teratasi juga diberi catatan dan diberi tanggal kapan
masalah tersebut teratasi juga diberi catatan dan diberi tanggal kapan masalah tersebut
teratasi dan petugas yang mengidentifikasi masalah tersebut untuk pertama kalinya. Dengan
demikian daftar masalah ini berfungsi sebagai indeks maupun gambaran dari klien tersebut.
1) Daftar masalah berisi tentang masalah yang telah teridentifikasi dari data dasar, kemudian
disusun secara kronologis sesuai tanggal identifikasi masalah.
2) Daftar masalah ditulis pertama kali oleh tenaga yang pertama bertemu dengan klien atau
orang yang diberi tanggung jawab.
3) Daftar masalah dapat mencakup masalah fisiologis, psikologis, sosiokultural, spiritual,
tumbuh kembang, ekonomi dan lingkungan.
4) Daftar ini berada pada bagian depan status klien dan tiap masalah diberi tanggal, nomor,
dirumuskan dan dicantumkan nama orang yang menemukan masalah tersebut.
c. Daftar Awal Rencana
Rencana asuhan merupakan hasil yang diharapkan tindak lanjut dikembangkan untuk
masalah yang terindentifikasi. Rencana asuhan harus mencakup instruksi untuk memperoleh
data tambahan, untuk intervensi terapeutik dan penyuluhan untuk pasien. Setiap masalah
yang ada dimaksudkan kebutuhan akan asuhan, dilaksanakan oleh siapa, frekuensi
pelaksanaan dan hasil yang diharapkan, tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Batas
waktu ditentukan untuk evaluasi respon pasien terhadap intervensi maupun kemajuan
terhadap pencapaian tujuan.
1) Rencana asuhan ditulis oleh tenaga yang menyusun daftar masalah. Dokter menulis
instruksinya, sedang perawat atau bidan menulis instruksi menulis instruksi rencana asuhan
2) Perencanaan awal terdiri dari 3 ( tiga ) bagian :
a) Diagnostik
Dokter mengidentifikasi apa pengkajian diagnostik yang perlu dilakukan terlebih dahulu.
Menetapkan prioritas untuk mencegah duplikasi tindakan dan memindahkan pemenuhan
kebutuhan klien. Koordinasi pemeriksaan untuk menegakkan diagnostik sangat penting.
b) Usulan Terapi
Dokter menginstruksikan terapi khusus berdasarkan masalah. Termasuk pengobatan, kegiatan
yang tidak boleh dilakukan, diit, penanganan secara khusus, observasi yqng harus dilakukan.
Jika masalah awal diagnosa kebidanan, bidan dapat menyusun urutan usulan tindakan asuhan
kebidanan
c) Pendidikan klien
Diidentifikasi kebutuhan pendidikan klien bertujuan jangka panjang. Team kesehatan
mengidentifikasi jenis informasi atau keterampilan yang diperlukan oleh klien untuk
beradaptasi terhadap masalah yang berkaitan dengan kesehatan
d. Catatan Perkembangan (Proses Note )
Catatan perkembangan membentuk rangkaian informasi dalam sistem pendekatan
berorientasi masalah. Catatan ini dirancang sesuai dengan format khusus untuk
mendokumentasikan informasi mengenai setiap nomor dan judul masalah yang sudah
terdaftar. Catatan ini menyediakan suatu rekaman kemajuan pasien dalam mengatasi masalah
khusus, perencanaan dan evaluasi. Catatan perkembangan biasanya ditampilkan dalam tiga
bentuk, yaitu flow sheet berisi hasil observasi dan tindakan tertentu, catatan perawat/
keterpaduan memberi tempat untuk evaluasi kondisi pasien dan kemajuan dalam mencapai
tujuan, catatan pulang dan ringkasan asuhan dan memudahkan follow up waktu pasien
pulang.
1) Catatan perkembangan berisikan catatan tentang perkembangan tiap–tiap masalah yang
telah dilakukan tindakan, dan disusun oleh semua anggota yang terlibat dengan
menambahkan catatan perkembangan pada lembar yang sama.
2) Beberapa acuan catatan perkembangan dapat digunakan antara lain :
a) SOAP : Subyektif data, Obyektif Data, Assesment, Plan
b) SOAPIER : SOAP ditambah Intervensi, Evaluasi dan Revisi.
c) PIE : Problem, Intervensi Evaluasi
3. Keuntungan dan Kerugian dalam Penggunaan POR
a. Keuntungan
1). Pencatatan sistem ini berfokus atau lebih menekankan pada masalah klien dan proses
penyelesaian masalah dari pada tugas dokumentasi.
2). Pencatatan tentang kontinuitas atau kesinambungan dari asuhan kebidanan.
3). Evaluasi masalah dan pemecahan masalah didokumentasikan dengan jelas, susunan data
mencerminkan masalah khusus. Data disusun berdasarkan masalah yang spesifik. Keduanya
ini memperlihatkan penggunaan logika untuk pengkajian dan proses yang digunakan dalam
pengobatan pasien.
4). Daftar masalah, setiap judul dan nomor merupakan “checklist“ untuk diagnosa kebidanan
dan untuk masalah klien. Daftar masalah tersebut membantu mengingatkan bidan untuk
masalah-masalah yang meminta perhatian khusus .
5). Daftar masalah bertindak sebagai daftar isi dan mempermudah pencarian data dalam
proses asuhan.
6). Masalah yang membutuhkan intervensi (yang teridentifikasi dalam data dasar)
dibicarakan dalam rencana asuhan.
b. Kerugian
1) Penekanan pada hanya berdasarkan masalah, penyakit, ketidakmampuan dan
ketidakstabilan dapat mengakibatkan pada pendekatan pengobatan dan tindakan yang negatif.
2) Sistem ini sulit digunakan apabila daftar tidak dimulai atau tidak secara terus menerus
diperbaharui dan konsensus mengenai masalah belum disetujui, atau tidak ada batas waktu
untuk evaluasi dan strategi untuk follow up belum disepakati atau terpelihara.
3) Kemungkinan adanya kesulitan jika daftar masalah dilakukan tindakan atau timbulnya
masalah yang baru.
4) Dapat menimbulkan kebingungan jika setiap hal harus masuk dalam daftar masalah.
5) SOAPIER dapat menimbulkan pengulangan yang tidak perlu, jika sering adanya target
evaluasi dan tujuan perkembangan klien sangat lambat.
6) Perawatan yang rutin mungkin diabaikan dalam pencatatan jika flowsheet untuk
pencatatan tidak tersedia.
7) P (dalam SOAP) mungkin terjadi duplikasi dengan rencana tindakan.
8) Tidak ada kepastian mengenai perubahan pencatatan distatus pasien, kejadian yang tidak
diharapkan misalnya pasien jatuh, ketidakpuasan mungkin tidak lengkap pencatatannya.
Dalam praktek catatan serupa mungkin tidak tertulis, bila tidak hubungannya dengan catatan
sebelumnya.
9) Kadang-kadang membingungkan kapan pencatatan dan tanggung jawab untuk follow up.
B. SOR (SOURCE ORIENTED RECORD)
1. Pengertian
Suatu model pendokumentasian sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada sumber
informasi. Model ini menempatkan catatan atas dasar disiplin orang atau sumber yang
mengelola pencatatan. Dokumentasi dibuat dengan cara setiap anggota tim kesehatan
membuat catatan sendiri dari hasil observasi. Kemudian, semua hasil dokumentasi
dikumpulkan jadi satu. Sehingga masing-masing anggota tim kesehatan melaksanakan
kegiatan sendiri tanpa tergantung anggota tim kesehatan yang lain. Misalnya, kumpulan
dokumentasi yang bersumber dari dokter, bidan, perawat, fisioterapi, ahli gizi, dan lain-lain.
Dokter menggunakan lembar untuk mencatat instruksi, lembaran riwayat penyakit dan
perkembangan penyakit. Bidan menggunakan catatan kebidanan, begitu pula disiplin lain
mempunyai catatan masing-masing.
2. Komponen
Catatan berorientasi pada sumber terdiri dari lima komponen yaitu
a. Lembar penerimaan berisi biodata
b. Lembar order dokter
c. Lembar riwayat medik atau penyakit.
d. Catatan bidan
e. Catatan dan laporan khusus
3. Keuntungan dan Kerugian Penggunaan SOR
a. Keuntungan
1) Menyajikan data yang secara berurutan dan mudah diidentifikasi
2) Memudahkan perawat untuk cesara bebas bagaimana informasi akan dicatat.
3) Format Dapat menyederhanakan proses pencatatan masalah, kejadian, perubahan
intervensi dan respon klien atau hasil.
b. Kerugian
1) Potensial terjadinya pengumpulan data yang terfragmentasi, karena tidak berdasarkan
urutan waktu.
2) Kadang-kadang mengalami kesulitan untuk mencari data sebelumhya, tanpa harus
mengulang pada awal.
3) Superficial pencatatan tanpa data yang jelas. Memerlukan pengkajian data dari beberapa
sumber untuk menentukan masalah dan tindakan kepada klien.
4) Memerlukan pengkajian data dari beberapa sumber untuk menentukan masalah dan
tindakan kepada klien.
5) Waktu pemberian asuhan memerlukan waktu yang banyak.
6) Data yang berurutan mungkin menyulitkan dalam interpretasi/analisa.
7) Perlkembangan klien sulit di monitor.
C. CBE (CHARTING BY EXCEPTION )
Dimulai sejak tahun 1983 di St Luke Medikal Center In Milkwankee.
1. Pengertian
Charting by exception adalah sistem dokumentasi yang hanya mencatat secara naratif dari
hasil atau penemuan yang menyimpang dari keadaan normal atau standar.
2. Komponen
CBE mengintegrasikan tiga komponen kunci yaitu :
a. Flowsheet yang berupa kesimpulan penemuan yang penting dan menjabarkan indikator
pengkajian dan penemuan termasuk instruksi dokter dan bidan, grafik, catatan pendidiikan
dan pencatatan pemulangan pasien
b. Dokumentasi dilakukan berdasarkan standar praktik keperawatan , sehingga mengurangi
pencatatan tentansg hal rutin secara berulang kali. Oleh karena itu standar harus cukup
spesifik dan menguraikan praktik keperawatan yang sebenarnya serta harus dilakukan oleh
perawat di bangsal , walaupun ada juga standar khusus yang disusun sesuai unit masing-
masing.
c. Formulir dokumentasi yang diletakkan ditempat tidur pasien
3. Format CBE meliputi :
a. Data dasar (riwayat dan pemriksaan fisik)
b. Intervensi flow sheet
c. Grafik record
d. Catatan bimbingan pasien
e. Catatan pasien pulang
f. Format catatan perawatan (menggunakan format SOAPIER)
g. Daftar diagnosa
h. Diagnosa dengan standar rencana tindakan perawatan dasar
i. Profil perawatan pasien dengan sistem kardeks
4. Keuntungan dan Kerugian metode pendokumentasian CBE
a. Keuntungan
1) Tersusunnya standar minimal untuk pengkajian dan intervensi.
2) Data yang tidak normal nampak jelas.
3) Data yang tidak normal secara mudah ditandai dan dipahami.
4) Data normal atau respon yang diharapkan tidak mengganggu informasi lain.
5) Menghemat waktu karena catatan rutin dan observasi tidak perlu dituliskan.
6) Pencatatan dan duplikasi dapat dikurangi.
7) Data klien dapat dicatat pada format klien secepatnya.
8) Informasi terbaru dapat diletakkan pada tempat tidur klien.
9) Jumlah halaman lebih sedikit digunakan dalam dokumentasi.
10) Rencana tindakan keperawatan disimpan sebagai catatan yang permanen.
b. Kerugian
1) Pencatatan secara narasi sangat singkat. Sangat tergantung pada checklist.
2) Kemungkinan ada pencatatan yang masih kosong atau tidak ada.
3) Pencatatan rutin sering diabaikan.
4) Adanya pencatatan kejadian yang tidak semuanya didokumentasikan.
5) Tidak mengakomodasikan pencatatan disiplin ilmu lain.
6) Dokumentasi proses keperawatan tidak selalu berhubungan dengan adanya suatu kejadian.
D. KARDEKS
1. Pengertian
Model dokumentasi Charting by Exception (CBE) ini dibuat pada tahun 1983 oleh staf
perawat di St. Luke’s Hospitalndi MIdwaukee, Wisconsin. Model ini dianggap dapat
mengatasi masalah pendokumentasian dengan membuat catatan tentang pasien manjadi lebih
nyata, menghemat waktu dan mengakomodir adanya informasi terbaru. Model ini dinilai
lebih efektif dan efisien untuk mengurangi adanya duplikasi dan pengulangan dalam
memasukan data. Merupakan metode pencatatan singkat dan berbeda dari dokumen pada
umumnya.
Model dokumentasi CBE mempunyai beberapa elemen inti, yaitu: lembar alur, dokumentasi
berdasarkan referensi standar praktik, protocol, dan instruksi incidental, data dasar
keperawatan, rencana perawatan berdasarkan diagnosis dan catatan perkembangan SOAP.
Bagi pembaca yang ingin mendapatkan informasi tambahan mengenai model dokumentasi
CBE< dirujuk ke Burke and Murphy (1988, cit. Iyer and Champ, 2005).
2. Komponen
1. Lembar alur
Model dokumentasi CBE menggunakan beberapa jenis format termasuk lembar alur
instruksi dokter/perawat , catatan grafik, catatan penyuluhan dan catatan pemulangan pasien.
Lembar alur keperawatan / instruksi dokter bersifat unik. Bagian depan format digunakan
untuk mendokumentasikan pengkajian fisik serta implementasi instruksi dokter dan perawat.
Pengkajian system tubuh yang spesifik dilakukan berdasarkan kondisi pasien dan protocol.
Bagian belakang lembar alur menggarisbawahi unsur pengkajian fisik yang harus dilengkapi.
Model CBE menggunakan serangkain symbol yang spesifik, antara lain:
√ tanda centang : pengkajian telah diselesaikan dan tidak ada hasil abnormal yang
ditemukan.
* tanda bintang : hasil abnormal yang signifikan ditemukan dan dijelaskan pada
bagian bawah lembar alur.
→ anak panah : status pasien tidak berubah dari data sebelumnya (dari data yang
bertanda bintang).
Lembar alur instruksi dokter/ keperawatan juga digunakan untuk mendokumentasikan
penyelesaian instruksi dokter dan keperawatan yang tidak termasuk dalam standar praktik.
Kolom yang berjudul “Nsg Dx” berisi diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan
intervensi keperawatan tertentu. Daftar diagnosis keperawatan juga digunakan hamper sama
dengan daftar masalah dalam POR SOAP. Singkatan DO dituliskan dalam kolom Nsg Dx
jika instruksi dokter didokumentasikan dalam lembara alur keperawatan / instruksi dokter.
Contoh instruksi keperawatan yang dimasukkan kedalam lembar alur adalah “ bantu
pasien berjalan dari tempat tidur kekursi dua kali sehari.” Penyelesaian instruksi ini
didokumentasikan menggunakan symbol yang sama pada pengkajian, yaitu:
√ tanda centang : pengkajian telah diselesaikan dan tidak ada hasil abnormal yang
ditemukan.
* tanda bintang : hasil abnormal yang signifikan ditemukan dan dijelaskan pada bagian
bawah lembar alur.
→ anak panah : status pasien tidak berubah dari data sebelumnya (dari data yang
bertanda bintang).
Selebihnya, lembar alur juga meliputi catatan penyuluhan pasien dan catatan pemulangan
pasien. Catatan grafik berbeda karena terdapat ruang bagi perawat untuk memeriksa apakah
standar praktik telah diikuti atau tidak.

2. Standar Praktik
Pada model dokumentasi CBE, standar praktik merupakan aspek penting dari praktik
keperawatan yang digunakan di area klinis. Kepatuhan terhadap standar praktik akan
menghilangkan pendokumentasia intervensi keperawatan rutin, seperti perawatan oral,
membantu mengubah posisi, perawatan intravena, perawatan kateter foley, atau perawatan
selang nasogastrik. Tanda centang (√) digunakan untuk mendokumentasikan kelengkapan
standar, dan tanda bintang (*) menunjukan bahwa tidak semua standar profesi sudah diikuti.
Adanya penyimpangan harus dijelaskan dalam catatan perawat.
3. Protokol dan intruksi incidental
Dalam model dokumentasi CBE, protokol / pedoman praktik memperjelas intervensi
keerawatan berkaitan dengan perjalanan klinis yang diharapkan dari populasi pasien tertentu,
seperti pasin preoperative, dan pascaoperatif. Protokol menguraikan intervensi keperawatan,
pengobatan dan frekuensi pengkajian fisik.
Lembar alur keperawatan / interuksi dokter digunakan untuk mendokumentasikan
implementasi protocol. Intruksi incidental digunakan jika intervensi keperawatan diperlukan
untuk melanjutkan intervensi keperawatan khusus yang melewati tenggang waktu jika
diperlukan intervensi keperawatan yang berjangka waktu.
4. Data dasar keperawatan
Data dasar keperawatan mempunyai bagian yang berisi riwayat kesehatan dan pengkajian
fisik. Bagian pengkajian fisik menggunakan parameter normal sama dengan lembar alur
keperawatan / instruksi dokter. Hasil normal setiap system tubuh dicetak dikolom kiri bawah
halaman. Jika hasil pengkajian fisik sitem tubuh normal, perawat harus membari tanda
centang (√) pada kotak yang sesuai. Hasil yang abnormal dijelaskan pada sisi kanan
halaman.
5. Rencana perawatan berdasarkan diagnosis keperawatan
Model dokumentasi CBE menggunakan rencana erawatan yang standar bersifat individu
untuk setiap pasien. Rencana perawatan standar ini berfokus pada diagnosisi keperawatan
yang spesifik dan mencakup factor yang berhubungan atau factor resiko, karakteristik
penjelas, data pengkajian yang mendukung munculnya diagnosis keperawatan, hasil yang
diharapkan dan intervensi.
6. Catatan perkembangan SOAP
Catatan perkembangan didokumentasikan secara teratur dengan metode SOAP atau SOAPIE.
Karena lembar alur keperawatan / instruksi dokterdan lembar alur lainnya terdiri dari banyak
dokumentasi, biasanya muncul dalam catatan perkembangan. Oleh karena itu penggunaan
catatan SOAP dalam system CBE sangat terbatas pada situasi berikut ini (Burke and Murphy,
1988):
a. Ketika diagnosis keperawatan diientifikasi, diingatkan kembali dinonkatifkan atau
diselesaikan.
b. Ketika hasil yang diharapkan dievaluasi.
c. Ketika ringkasan pemulangan dituliskan.
d. Ketika revisi besar terhdah rencana dituliskan.
Dalam metode dokumentasi CBE, bentuk narasi digunakan tersendiri untuk
menggambarkan hasil pemeriksaan normal maupun adanya penemuan abnormal. Bentuk
flowsheet bias digunakan untuk menuliskan hasil pengkajian rutin, sesuai jenis pengkajian
yang dilakukan, misalnya : GI assessment, integumentary assessment. Pada kasus akut atau
klien yang butuh perawatan cukup lama, model pendokumentasi CBE ini bias digunakan.
Data yang bisa didokumentasikan menggunakan model CBE ini antara lain: data dasar
(riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik), intervensi (menggunakan bentuk flowsheet) ,
catatan bimbingan pada klien, catatan pulang (menggunakan format SOAPIER), daftar
diagnosis keperawatan, diagnosis keperawatan disertai rencana keperawatan dan profil
perawatan (menggunakan system KARDEX).
Contoh penggunaan model dokumentasi CBE, adalah:
1. Pengkajian penggunaan sistem respiratori jam 14.00:
Pernafasan normal rata-rata20kali permenit, suara nafas dikedua paru bersih, tidak batuk dan
tidak ada sputum.
Warna kulit merah muda, kulit hangat dan kering, tidak ditemukan gangguan nafas
2. Penemuan signifikan:
3. Jam 10.00 ditemukan adanya ronchi lobus kanan bawah.
Sistem atau model dokumentasi CBE ini mempunyai banyak keuntungan, antara lain:
1. Data terbaru tersedia disamping tempat tidur, siap diakses oleh pemberi perawatan yang
berinteraksi dengan pasien.
2. Keberadaan embar alur menghilangkan kebutuhan akan lembar kerja atau kertas coretan lain
untuk mencatatat informasi tantang pasien. Data segara dicatat dalam catatan permanen.
3. Panduan pada bagian belakang format menjadi referensi yang mudah didapat dan sangat
berguna bagi perawat.
4. Status pasien cenderung mudah dilihat dari lembar alur. Informasi pengakjian diatur
berdasarkan sistem tubuh dan mudah dicari.
5. Hasil yang normal diidentifikasi dengan tepat sehingga terdapat kesepakatan terhadap adanya
pengkajian normal.
6. Bayak menghilangkan catatan naratif berulang tentang perawatan rutin. Referensi tentang
standar praktik dapat menyingkirkan pencatatan naratif informatif.
7. Mudah didapatkan pada pendokumentasian alur klinis dan mengurangi waktu yang
dipergunakan perawat untuk mencatat sebesar 67%.
Ada beberapa kerugian dan masalah yang berkaitan dengan sistem atau model
dokumenasi CBE ini, antara lain:
1. Duplikasi pencatatan terjadi pada model CBE, misalnya diagnosis keperawatan dalam daftar
masalah tertulis juga dalam rencana perawatan. Contoh lain adalah, hasil yang abnormal atau
signifikan dijabarkan dalam lembar alur perawat / dokter. Jika hasil abnormal ini memerlukan
intervensi, maka dalam catatn perkembangan SOAP juga harus ditulis kembali. Bagian data
subjektif dan data objektif pada SOAP memuat lagi infomasi yang ditulis dalam lembar alur.
Akhirnya pengkajian dan perencanaan SOAP bisa sama dengan rencana perawatan.
2. CBE dibuat disemua rumah sakit yang perawatnya yang terdaftar (Register Nurse, RN).
Unsur pengkajian fisik perlu ditinjau berdasarkan lingkup praktik perawat yang telah
mempunyai lisensi praktik (Licensed Practical Nurse, LPN). Beberapa rumah sakit yang
menerapkan sistem CBE sedang tidak semua perawatnya RN, mengubah sisitem pembarian
asuhan keperawatan sedemikian rupa dengan mengakomodasi tanggung jawab RN, untuk
pengkajian. Meskipun LPN bisa ditugaskan untuk merawat pasien, RN harus menyelesaikan
pengkajian fisik dalam 8 atau 24 jam sekali.
3. Implementasi lengkap memerlukan perubahan besar dalam system pendokumentasian
organisasi karena memerlukan perubahan format pada berbagai alat dokumentasi.
4. Memerlukan pendidikan khusus untuk bisa mengimplementasi system CBE. Perawat di St.
Luke mengalami kesulitan untuk belajar mendokumentasikan hanya hasil yang abnormal saja
pada lembar alur keperawatan / instruksi dokter dan kesultan mentaati standar praktik.
5. Sistem CBE berdampak pada masalah penggantian biaya sampai system ini lebih luas
diterima.
6. Dasar hukum CBE masih diperdebatkan. Meskipun pengacara St. Luke telah meninjau
sistem CBE dan menyetujui adanya kepatuhan system terhadap prinsip-prinsip legal(hukum),
namun hakim tetap akan memakai peraturan tentang validitasi dokumentasi unuk setiap
kasus. Pencatatan yang intermiten gagal member tanda bahaya secara continu yang
membutuhkan intervensi dini dari dokter. CBE tidak mendefinisikan kasus dengan jelas,
meskpun standar profesi telah menggambarkan dengan cukup jelas untuk kelangsungan
pemberian perawatan. Tiga hal yang harus diperhatikan dalam penerapan system CBE:
a. Standar untuk pengkajian keperatan dan intervensi harus didevinisikan dengan jelas
b. Kebijakan dan prosedur CBE harus diikuti secara jelas
c. Tidak ada system dokumenasi yang akan melindungi profesi kesehatan dari pengadilan yang
buruk
E. Sistem Komputerisasi
Teknik pendokumentasian dengan komputerisasi adalah system computer yang
berperan dalam menyimpulkan, menyimpan proses, memberikan informasi yang diperlukan
dalam kegiatan pelayanan kebidanan, penelitian dan pendidikan. Secara umum dokumentasi
dengan system komputerisasi mempunyai beberapa keuntungan, antara lain: meningkatkan
pelayanan pada pasien, meningkatkan pengembangan protocol, meningkatkan
penatalaksanaan data dan komunikasi dan meningkatkan proses edukasi dan konseling pada
pasien.
Keuntungan dokumentasi dengan system komputerisasi secara spesifik, antara lain:
akurasi lebih tinggi, menghemat biaya, meningkatkan kepuasan pasien, memperbaiki
komunikasi antar bagian/anggota tim kesehatan, menambah kesempatan untuk belajar,
meneliti dan jaminan kualitas, meningkatkan moral kinerja petugas. Beberapa kelemahan
dokumentasi dengan system komputerisasi, adalah: malfunction, impersonal effect, privacy,
informasi tidak akurat, kosa kata terbatas, penyimpanan bahan cetakan dan biaya yang harus
disediakan cukup besar untuk pengadaan beberapa unit computer.
Aplikasi system komputerisasi dalam system informasi dirumah sakit, meliputi seluruh
kegiatan untuk mendokumentasikan keberadaan pasien sejak pasien masuk rumah sakit
sampai pulang, sejak registrasi pasien, pengkajian data pasien, rencana pengobatan, rencana
perawatan, rencana asuhan dan KIE, pengobatan dan pelaksanaan asuhan, laporan hasil
pengobatan, klasifikasi pasien dan catatan perkembangan pasien.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyediaan system komputerisasi ini, antara
lain: perencanaan perlunya system computer, pemilihan produk, pelatihan petugas pengguna,
pemakaian system computer, keamanan data, legalitas data (perlunya tanda tangan dokter),
kebutuhan perangkat dan evaluasi keuntungan sitem computer bagi pengguna, klien dan
administrasi.
Pencatatan dengan system komputerisasi merupakan salah satu tren yang paling
diminati dalam pendokumentasian asuhan keperawatan termasuk asuhan kebidanan. Banyak
institusi membuat atau membeli system informasi komputerisasi yang menunjang praktik
keperawatan/kebidanan. Berbagai kelompok dalam industry pelayanan kesehatan
menggunakan istilah computer dengan berbagai cara, salah satunya adalah Catatan Pasien
Berbasis Komputer (computer based patient records, CPR).
Penggunaan catatan pasien berbasis computer (CPR)
Pengguna CPR didorong oleh beberapa factor berikut ini:
1. Jumlah data mengenai kondisi kesehatan pasien sangat banyak, harus dikumpulkan,
disimpan dan diorganisasikan dengan system yang lebih efisien daripada system berbasis
kertas. Mencari data dalam catatan pasien merupakan hal yang sangat menghabiskan waktu.
Semakin banyak catatan tersebut, semakin sulit untuk mencari informasi intinya.
2. Pencatatan informasi secara electronic dibuat sedemikian rupa dan tidak dapat dilakukan
oleh system pencatatan berbasis kertas. Semua catatan yang berhubungan dengan aspek
khusus dalam perawatan dapat disusun dan dicetak. System pencatatan berbasis kertas tidak
dapat diorganisasi ulang dengan cara tersebut dan juga tidak dapat digabungkan dengan
catatan dari fasilitas atau institusi lain.
3. Penggunaan CPR dapat berkembang menjadi metode penyampaian informasi yang lebih
efisien dari satu pemberi asuhan kesehatan ke pemberi asuhan kesehatan yang lain. Dalam
metode pendokumentasian manual, pemeriksaan pasien dan pengumpulan data yang
berulang-ulang dapat terjadi jika pasien pindah dari satu fasilitas ke fasilitas lain.
4. Penghematan biaya dan reformasi pelayanan kesehatan mengharuskan dilakukannya
efisiensi manajemen data asuhan kesehatan termasuk asuhan kebidanan.
Prasyarat diberlakukannya CPR
Sedikitnya terdapat 5 kunciutama prasyarat CPR, termasuk hal-hal berikut ini yang
diperlukan untuk menunjang CPR (Adrew, Dick, 1995a cit. Iyer and Champ, 2005):
1. Kamus data klinis. Diperlukan kamus data klinis yang substansial dan fleksibel, yang akan
mendefinisikan semua unsure data untuk informasi klinis yang akan disimpan
2. Tempat penyimpanan data klinis. Harus terdapat tempat penyimpanan data klinis yang
arsitekyurnya dirancang dengan baik, guna memenuhi kebutuhan semua anggota tim pemberi
perawatan kesehatan. Permintaan informasi media mengenai pesien tertentu harus dipenuhi
dalam beberapa detik.
3. Kemampuan input yang fleksibel. Harus tersedia perlengkapan yang tepat (seperti mouse,
keyboard, pengenal suara, touch screen, pen light).
4. Presentasi data yang ergonomis. Presentasi data harus sesuai dengan kebutuhan individu.
5. Dukungan system otomatis. System harus mengantisipasi dan mendukung proses klinis serta
berfikir melalui system pendukung. Hal ini harus mencakup akses ke system ahli, data dasar
pengetahuan, literature medis, umpan balik hasil, dan masukkan kualitas/biaya semua yang
akan digunakan dalam pembuatan keputusan klinis.
Set data minimum dan elemen data kesehatan inti
Banyak hal yang perlu dilakukan sebelum penggunaan CPR meluas. Pembuatan kamus
data klinis, yang sangat berguna di banyak area, termasuk sector pemerintah dan swasta
merupakan bagian dari set data minimum. Set data minimum didefinisikan sebagai
‘rangkaian minimum poin-poin informasi dengan definisi dan katagori yang sama, berkaitan
dengan aspek atau dimensi tertentu dari system pelayanan kesehatan, berguna untuk
memenuhi kebutuhan penting dari berbagai pengguna’ (Mc. Cormick et al, 1997 cit. Iyer and
Champ,2005)
Set data minimum yang paling banyak digunakan di Amerika dan Canada adalah
Uniform Hospital Discharge data set, Financial Uniform Minimum Data Set, dan Long Term
Healt Care Minimum Data Set. Luasnya penggunaan set data tersebut mendorong
dikeluarkannya mandate dari Healt Care Financing Aministration kepada Medicare dan
Medicaid Healt Insurance Portability and Accountability Act 1996, yang mengharuskan
pemakaian set data standar nasional untuk berbagai transaksi layanan kesehatan
administrative dan financial. Pemerintah setempat merekomendasikan sebagai unsure data
untuk pasien yang dirawat dirumah, unit gawat darurat, dan unit rawat jalan (Mc Cornick et
al,1997 cit.Iyer and Champ, 2005).
Pengenalan computer pada fasilitas pelayanan kesehatan
Jika CPR atau rekaman elektronik menampakan visi masa depan pelayanan kesehatan,
maka pencacatan elektronik adalah realita sekarang yang sudah ada difasilitas pelayanan
kesehatan. Untuk mengetahui evolusi rekaman elektronik, seorang harus melihat dulu proses
pengenalan system komputerisasi di sebuah fasilitas pelayanan kesehatan.
Pada umumnya, penggunaan computer pertama kali oleh fasilitas pelayanan kesehatan
adalah untuk melacak penerimaan, pemulangan dan pemindahan pasien. Jenis aplikasi ini
member informasi demografi pasien secara sederhana terkait juga dengan keadaan financial
pasien. Pertengahan tahun 1980an produsen software mulai membuat software yang dapat
digunakan untuk pendokumentasian asuhan keperawatan/kebidanan. Dua puluh tahun
terakhir, semakin banyak produk dikeluarkan oleh produsen untuk memenuhi kebutuhan
industry pelayanan kesehatan.
Pembuatan system komputerisasi disebuah fasilitas pelayanan kesehatan murupakan
sebuah tantangan karena harus bisa diterapkan bersama-sama oleh masing-masing unit
pelayanan. Jika software dan hardware yang dibeli suatu unit berbeda dengan unit yang lain
di sebuah fasilitas pelayanan kesehatan, hal ini hanya akan menimbulkan frustasi dan
keterbatasan pemakaian system. Untuk mengatasi permasalahan ini, umumnya perusahaan
pembuat software akan menggunakan bahasa computer yang sama.
Awal pemakaian fungsi klinis system komputerisasi dirumah sakit, sekedar
mengirimkan hasil pemeriksaan laboraturium atau hasil pemeriksaan lainnya ke unit
perawatan pasien. Beberapa system kompeter memiliki kemampuan aktivasi sinyal, seperti
tanda kedipan pesan masuk pada layar monitor di unit perawatan. Jika hasil pemeriksaan
menunjukkan hasil tidak normal maka bisa segera diatasi.
Hambatan pengenalan system komputerisasi
Keperawatan dan kebidanan sering menjadi unit terakhir yang membeli dan
menggunakan software. Beberapa hambatan untuk mengembangkan dan menggunakan
system komputerisasi. Dalam pelayanan kebidanan/keperawatan antara lain:
1. Bagian administrasi merasa tidak yakin bahwa komputerisasi informasi
kebidanan/keperawatan akan memberikan hasil nyata.
2. Bidan/perawat kurang memiliki kemampuan mengoperasikan system komputerisasi.
3. Unit pelayanan informasi computer kadang merasa terancam untuk berbagi informasi dengan
unit lain dan khawatir kekuatannya akan hilang bila melibatkan orang lain dalam proses
pengambilan keputusan.
4. Dahulu program software hanya sedikit tersedia. Beberapa diantaranya dirancang untuk
perawat atau bidan ahli computer yang tidak memiliki pengalaman keperawatan.
5. Banyak software yang dirancang untuk fungsi tunggal seperti ketenagaan dan penjadwalan,
rencana perawatan/klasifikasi pasien.
6. Kurangnya keseragaman bahasa keperawatan/kebidanan menghambat perkembangan dan
penggunaan system informasi computer
7. Rasa takut termasuk anggapan bahwa komputerisasi terlalu sulit, bahwa teknologi tersebut
akan menggantikan bidan/perawat,bahwa computer akan langsung mengarahkan dan
mendikte asuhan dan bahwa kerahasiaan pasien akan dilanggar.
8. Komputerisasi sangat mahal.hardware,software,pendidikan staf dan computer tambahan
menunjang kontribusi staf untuk mengembangkan system komputerisasi.
Keuntungan dan kerugian dokumentasi terkomputerisasi
Beberapa keuntungan dari dokumentasi terkomputerisasi secara umum adalah sbb:
1. Catatan dapat di baca
2. Catatan yang siap tersedia
3. Produktivitas bidan/perawat membaik
4. Mengurangi kerusakan catatan
5. Menunjang penggunaan proses asuhan kebidanan/keperawatan
6. Mengurangi dokumentasi yang berlebihan
7. Saran, pengingat dan peringatan klinis
8. Catatan keperawatan/kebidanan lebih terorganisasi
9. Laporan tercetak secara otomatis
10. Dokumentasi sesuai standar profesi
11. Peningkatan rekrutment dan retensi tenaga
12. Peningkatan pengetahuan tentang hasil
13. Ketersediaan data
14. Pencegahan kesalahan pemberian obat
15. Mempermudah penetapan biaya
16. Mencetak instruksi pemulangan
Meskipun keuntungan menggunakan lebih banyak daripada kerugiannya, dibeberapa
tempat terdapat masalah berkaitan dengan pemakaian computer untuk dokumentasi. Beberapa
permasalahan dari dokumentasi terkomputerisasi adalah sbb:
1. Keuntungan pencatatan dengan kertas. Pencatatan kertas sudah dikenal, mudah dibawa dan
dapat dibawa ke ruang perawatan pasien, tidak terjadi downtime, fleksibilitas dalam
pencatatan data, memudahkan pencatatan data subjektif dan naratif, dapat dicari dan
diperiksa dengan cepat.
2. Masalah keamanan dan kerahasiaan informasi pasien. Perlunya menjaga privasi, kerahasiaan
dan keamanan catatan medis pasien yang terkomputerisasi

KARDEKS

D. KARDEKS
1. Pengertian
Kardeks merupakan model pendokumentasian yang tradisional dipergunakan di berbagai
sumber mengenai informasi pasien yang disusun dalam suatu buku. Biasa juga disebut
sebagai sistem kartu. Suatu sistem dokumentasi dengan menggunakan serangkaian kartu dan
membuat data penting tentang klien, ringkasan problem klien dan terapinya. Contohnya :
kartu ibu, kartu anak, kartu KB dan lain sebagainya.
2. Komponen
a. Data pasien, meliputi :
1) Nama, alamat, status perkawianan.
2) Tanggal lahir.
3) Social security sumber.
4) Agama dan kepercayaan.
b. Diagnosa Kebidanan, berupa daftar prioritas masalah.
c. Pengobatan sekarang atau yang sedang dilakukan, meliputi :
1) Perawatan dan pengobatan.
2) Diet.
3) Intravenous therapy.
4) Konsultasi.
d. Test Diagnostik, meliputi :
1) Jadwal.
2) Lengkap dengan hasilnya.
e. Kegiatan – kegiatan yang diperbolehkan, berupa kegiatan sehari-hari.
3. Kerugian
a. Diisi tidak lengkap.
b. Tidak cukup tempat atau ruang dalam memasukkan data yang diperlukan.
c. Tidak up to date.
d. Tidak dibaca oleh bidan sebelum mereka memberikan pelayanan atau asuhan.

MODEL PENDOKUMENTASIAN

MODEL PENDOKUMENTASIAN

Tujuan Instruksional
1.Menjelaskan model pendokumentasian POR
2.Menjelaskan model pendokumentasian SOR
3.Menjelaskan model pendokumentasian CBE
4.Menjelaskan model pendokumentasian Kardeks
5.Menjelaskan model pendokumentasian Komputer
A.Problem Oriented Record
Model pendokumentasian ini diperkenalkan oleh Dr. Lawrence Weed at Case Wester Reserve
University in Cleveland Introduced pada tahun 1969, tujuannya adalah memperbaiki
dokumentasi perawatan pasien di klinik dengan memfokuskan semua pendokumentasian
pada masalah pasien. Model pendokumentasian ini mengembangkan model pencatatan dan
pelaporan yang menekankan pada pasien dan segala permasalahannya. Secara menyeluruh,
model pencatatan dan pelaporan ini dikenal dengan nama Problem Oriented Medical Record
(POMR).

Ada empat komponen dasar dari model dokumentasi POR, yaitu:


1.Data dasar
Data dasar adalah alat utama untuk mengumpulkan data pada saat pasien. masuk. Data dasar
yang dikumpulkan meliputi data subjektif dan data objektif. Data subjektif merupakan data
hasil anamnesis kepada pasien, mencakup identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang dan sebelumnya, riwayat penyakit keluarga. Data objektif meliputi data hasil
pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Umumnya
dokter bertanggung jawab melengkapi riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik, sedangkan
bidan/perawat bertanggungjawab pada riwayat dan pengkajian data tentang kondisi pasien
seta pemenuhan kebutuhan pasien.
Data dasar yang diperlukan tergantung dari unit atau jenis asuhan yang akan diberikan,
misalnya data dasar unit kebidanan akan berbeda dengan data dasar unit bedah. Data dasar.
ini bertujuan untuk mengenal masalah pasien dan sebagai dasar untuk bahan perbandingan
dalam menilai kondisi pasien. Data dasar ini akan membantu dokter/bidan/perawat
menentukan prioritas masalah dan membuat rencana asuhan yang tepat.

2.Daftar masalah
Daftar masalah diperoleh dari hasil pengkajian data dasar. Setelah data dasar dikumpulkan
secara lengkap, selanjutnya disusun daftar masalah untuk mengidentifikasi masalah-masalah
pasien. Daftar masalah ini bisa berupa gejala-gejala, kumpulan gejala atau hasil pemeriksaan
laboratoirum/penunjang lain yang abnormal, masalah psikologis atau masalah sosial.
Dalam catatan dokter, dikenal sebagai medical problem/ diagnosis medis, terdiri dari
diagnosis dan komplikasi yang menyertai, tanda/gejala, hasil laboratorium yang patologi,
masalah sosial ekonomi yang berkaitan dengan kesehatan daJam perawatannya. Dalam
dokumentasi kebidanan, daftar masalah ini ditulis sebagai analysis data/assessment, meliputi:
diagnosis kebidanan, masalah, kebutuhan, diagnosis potensial, masalah potensial, dan
kebutuhan tindakan segera. Dalam dokumentasi keperawatan, dafta masalah ditulis sebagai
diagnosis keperawatan. Daftar masalah akan diperbarui apabila muncul masalah baru atau m
asalah lama sudah teratasi.
Masalah yang ada kemungkinan bisa lebih dari satu, sehingga perlu dicatat menurut prioritas
masalah dengan memberi nomor, tanggal pencatatan dan menyebutkan masalahnya. Semua
masalah diberi tanda atau label sesuai dengan situasinya, apakah itu akut, kronik, aktif atau
non aktif. Daftar masalah ini merupakan pedoman untuk menentukan. kebutuhan dan rencana
asuhan bagi pasien. Daftar masalah ini diatur secara sistematis sesuai dengan urutan prioritas
yang berorientasi pada kebutuhan pasien.

3.Rencana awal
Rencana awal dibuat berdasarkan daftar masalah yang telah diidentifikasi. Dokter
mendokumentasikan rencana medis awal setelah anamnesis riwayat penyakit dan
pemeriksaan fisik selesai dilakukan. Dokter mend okumentasikan rencana awal berupa
perencanaan tindakan medis (Medical Plan). Perencanaan tindakan medis ini ditulis pada
setiap daftar masalah, termasuk tes diagnostik, pemberian terapi pencegahan dan pendidikan.
Rencana awal bidan disusun berupa rencana asuhan yang menyeluruh dan didokumentasikan
setelah data dasar dikumpulkan dan analysis data/assessment dirumuskan. Penulisan rencana
awal harus disertai waktu dan nama bidan yang menyusunnya. Pada pendokumentasian
metode SOAP, rencana awal dimasukkan dalam Planning, termasuk di dalamnya catatan
tentang pelaksanaan dan evaluasi terhadap keefektifan asuhan.

4.Catatan perkembangan
Catatan perkembangan adalah semua catatan yang berhubungan dengan keadaan pasien
selama menjalani asuhan. Ada beberapa bentuk pendokumentasian catatan perkembangan ini,
antara lain : Catatan Berkesinambungan ata lembar alur (Flow Sheet), Catatan Naratif (Notes)
dan Catatan Pulang/Catatan Sembuh (Discharge). Catatan Berkesinambungan digunakan
untuk mencatat hasil observasi perawatan secara umum, terutama pada keadaan umum pasien
yang sering mengalami perubahan dengan cepat. Catatan Naratif yang dipergunakan untuk
mendokumentasikan catatan perkembangan pasien, antara lain menggunakan format SOAP
Notes, SOAPIE Notes dan SOAPIER Notes.

B.Source Oriented Record


Source Oriented Record adalah catatan pasien yang berorientasi pada sumber, karena setiap
sumber data mempunyai catatan tersendiri dan terpisah satu dengan yang lain. Sumber data
dalam catatan pasien, antara lain dokter, bidan, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya.
Catatan yang digunakan dalam model ini, umumnya berbentuk naratif dan masih bersifat
tradisional. Karena sifat catatan ini yang terpisah-pisah antara sumber satu dengan sumber
yang lain, maka perkembangan pasien dalam catatan ini menjadi sulit untuk diikuti.
Pada umumnya, catatan model Source Oriented Record ini mempunyai enam bagian. Enam
bagian dalam model dokumentasi SOR adalah : catatan khusus, lembar catatan dokter, lembar
riwayat medik, lembar identitas, catatan keperawatan/kebidanan dan laporan khusus lainnya.

C.Charting by Exception
Model dokumentasi Charting by Exception (CBE) ini dibuat pada tahun 1983 oleh staf
perawat di St. Luke's Hospital di Midwaukee, Wisconsin. Model ini dianggap dapat
mengatasi masalah pendokumentasian dengan membuat catatan tentang pasien menjadi lebih
nyata, menghemat waktu dan mengakomodir adanya informasi terbaru. Model ini dinilai
lebih efektif dan efisien untuk mengurangi adanya duplikasi dan pengulangan dalam
memasukkan data. Merupakan metode pencatatan singkat dan berbeda dari dokumen pada
umumnya.

Sistem atau model dokumentasi CBE ini mempunyai banyak keuntungan, antara lain :
1.Data terbaru tersedia di samping tempat tidur, siap diakses oleh pemberi perawatan yang
berinteraksi dengan pasien.
2.Keberadaan lembar alur menghilangkan kebutuhan akan lembar kerja atau kertas coretan
lain untuk emncatat informasi tentang pasien. Data segera dicatat dalam catatan permanen.
3.Panduan pada bagian belakang format menjadi referensi yang mudah didapat dan sangat
berguna bagi perawat.
4.Status pasien cenderung mudah dilihat melalui lembar alur. Informasi pengkajian diatur
berdasarkan sistem tubuh dan mudah untuk dicari.
5.Hasil yang normal diidentifikasi dengan tepat sehingga terdapat kesepakatan terhadap
adanya pengkajian normal.
6.Banyak menghilangkan catatan naratif berulang tentang perawatan rutin. Referensi
terhadap standar praktik dapat menyingkirkan pencatatan naratif informatif.
7.Mudah diadaptasikan pada pendokumentasian alur klinis dan mengurangi waktu yang
dipergunakan perawat untuk mencatat sebesar 67%.

Ada beberapa kerugian dan masalah yang berkaitan dengan sistem atau model dokumentasi
CBE ini, antara lain :
1.Duplikasi pencatatan terjadi pada model CBE, misalnya diagnosis keperawatan dalam
daftar masalah tertulis juga dalam rencana perawatan. Contoh lain adalah, hasil yang
abnormal atau signifikan dijabarkan dalam lembar alur perawat/dokter. Jika hasil abnormal
ini memerlukan intervensi, maka dalam catatan perkembangan SOAP juga harus ditulis
kembali. Bagian data subjektif dan data objektif pada SOAP memuat lagi informasi yang
ditulis dalam lembar alur. Akhirnya pengkajian dan perencanaan SOAP bisa sama dengan
rencana- perawatan.
2.CBE dibuat di sebuah rumah sakit yang semua perawatnya telah terdaftar (Registered
Nurse, RN). Ursur pengkajian fisik perlu ditinjau berdasarkan lingkup praktik perawat yang
telah mempunyai lisensi praktik (Licensed Practical Nurse, LPN). Beberapa rumah sakit yang
menerapkan sistem CBE sedangkan tidak semua perawatnya RN, mengubah sistem
pemberian asuhan keperawatan sedemikian rupa dengan mengakomodasi tanggung jawab RN
untuk pengkajian. Meskipun LPN bisa ditugaskan untuk merawat pasien, RN tetap harus
menyelesaikan pengkajian fisik dalam 8 atau 24 jam sekali.
3.Implementasi lengkap memerlukan perubahan besar dalam sistem pendokumentasian
organisasi karena memerlukan perubahan format pada berbagai alat dokumentasi
4.Memerlukan pendidikan khusus untuk bisa mengimplementasikan sistem CBE. Perawat di
St. Luke mengalami kesulitan untuk belajar mendokumentasikan hanya hasil yang abnormal
saja pada lembar alur keperawatan/ instruksi dokter dan kesulitan menaati standar praktik
5.Sistem CBE berdampak pada masalah penggantian biaya sampai sistem ini lebih luas
diterima.
6.Dasar hukum CBE masih diperdebatkan. Meskipun pengacara St. Luke telah meninjau
sistem CBE dan menyetujui adanya kepatuhan sistem terhadap prinsip-prinsip legal (hukum),
namun hakim tetap akan memakai peraturan tentang validitasi dokumentasi untuk setiap
kasus. Pencatatan yang intermiten gagal memberi tanda bahaya secara kontinu
yangmembutuhkan intervensi dini dari dokter. CBE tidak mendefinisikan kasus dengan jelas,
meskipun standar profesi telah menggambarkan dengan cukup jelas untuk kelangsungan
pemberian perawatan. Tiga hal yang harus diperhatikan dalam penerapan sistem CBE:
a.Standar untuk pengkajian keperawatan dan intervensi harus didefinisikan dengan jelas
b.Kebijakan dan prosedur CBE harus diikuti secara jelas
c.Tidak ada sistem dokumentasi yang akan melindungi profesi kesehatan dari pengadilan
yang buruk

D.Teknik Tradisional dengan Sistem Kardeks


Teknik pendokumentasian sistem Kardex merupakan sistem pendokumentasian pelayanan
kesehatan tradisional yang dipergunakan di berbagai sumber mengenai informasi pasien dan
disusun dalam suatu buku.
Informasi yang terdapat dalam Kardex, antara lain:
1.Data pasien, meliputi : nama, alamat, status perkawinan, tanggal lahir, pekerjaan, agama
dan kepercayaan.
2.Diagnosis kebidanan : daftar prioritas masalah.
3.Pengobatan sekarang : perawatan dan pengobatan, diit, infus, konsultasi.
4.Tes diagnostik :.tanggal dan hasilnya.
5.Kegiatan/aktivitas pasien sehari-hari yang diperbolehkan.
Model dokumentasi dengan sistem Kardex ini mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
kadang-kadang data tidak diisi dengan lengkap, tidak cukup tempat atau ruang dalam
memasukkan data yang diperlukan, kadang-kadang data yang dimasukkan tidak up to date
dan telah dibaca oleh bidan sebelum mereka memberikan pelayanan/ asuhan.

E.Sistem Komputerisasi
Teknik pendokumentasian dengan komputerisasi adalah sistem komputer yang berperan
dalam menyimpulkan, menyimpan proses, memberikan informasi yang diperlukan dalam
kegiatan pelayanan kebidanan, penelitian clan pendidikan. Secara umum dokumentasi dengan
sistem komputerisasi mempunyai beberapa keuntungan, antara lain: meningkatkan pelayanan
pada pasien, meningkatkan pengembangan protokol, meningkatkan penatalaksanaan data dan
komunikasi dan meningkatkan proses edukasi dan konseling pada pasien.
Keuntungan dokumentasi dengan sistem komputerisasi secara spesifik, antara lain : akurasi
lebih tinggi, menghemat biaya, meningkatkan kepuasan pasien, memperbaiki komunikasi
antar bagian/anggota tim kesehatan, menambah kesempatan untuk belajar, meneiiti dan
jaminan kualitas, meningkatkan moral kinerja petugas. Beberapa kelemahan dokumentasi
dengan sistem komputerisasi, adalah : malfunction, impersonal effect, privacy, informasi
tidak akurat, kosakata terbatas, penyimpanan bahan cetakan dart biaya yang harus disediakan
cukup besar untuk pengadaan beberapa unit komputer.

Hambatan pengenalan sistem komputerisasi


Keperawatan dan kebidanan Bering menjadi unit terakhir yang membeli dan menggunakan
software. Beberapa hambatan urttuk mengembangkan dan menggunakan sistem
komputerisasi dalam pelayanan kebidanan/keperawatan antara lain:
1.Bagian administrasi merasa tidak yakin bahwa komputerisasi informasi
kebidanan/keperawatan akan memberikan hash. nyata.
2.Bidan / perawat kurang memiliki kemampuan mengoperasikan sistem komputerisasi.
Sernua anggota tim kesehatan harus dilibatkan dalam memilih, mengintegrasikan dan
menggunakan teknologi manajemen informasi.
3.Unit pelayanan informasi komputer kadang merasa terancam untuk berbagi informasi
dengan unit lain dan khawatir kekuatannya akan hilang bila melibatkan orang lain dalam
proses pengambilan keputusan. Perlunya menjalin hubungan kerjasama antara bidan/perawat
dengan unit pelayanan informasi komputer.
4.Dahulu program software hanya sedikit tersedia. Beberapa di antaranya dirancang untuk
perawat/bidan ahli komputer yang tidak memiliki pengalaman keperawatan.
5.Banyak software yang dirancang untuk fungsi tunggal seperti ketenagaan dan penjadwalan,
rencana perawatan atau klasifikasi pasien. Sistem informasi keperawatan/kebidanan bisa saja
tidak berhubungan dengan sistem informasi rumah sakit atau program lain di luar fasilitas,
akibatnya akan menghalangi terjadinya pertukaran data di dalam dan di luar orgaiusasi data.
6.Kurangnya keseragaman bahasa keperawatan / kebidanan menghambat perkembangan dan
penggunaan sistem, informasi komputer. Variasi dalam menyebutkan diagnosis, intervensi
dan hasil dapat menimbulkan kebingungan.
7.Rasa takut termasuk anggapan bahwa komputerisasi terlalu sulit, bahwa teknologi tersebut
akan menggantikan bidan/ perawat, bahwa komputer akan langsung mengarahkan dan
mendikte asuhan dan bahwa kerahasiaan pasien akan dilanggar (Bowles, 1997 cit. Iyer and
Champ, 2005).
8.Komputerisasi sangat mahal. Hardware, software, pendidikan staf dan komputer tambahan
menunjang kontribusi staf untuk mengembangkan sistem komputerisasi.

Keuntungan dan kerugian dokumentasi terkomputerisasi


Beberapa keuntungan dari dokumentasi terkomputerisasi secara umum adalah sebagai
berikut:
1.Catatan dapat dibaca. Hasil cetakan komputer dapat dibaca dengan mudah, sehingga
menghilangkan risiko menebak arti tulisan tangan. Bidan tidak perlu lagi menanyakan,
"Bisakah Anda membaca instruksi itu?"
2.Catatan yang siap tersedia. Catatan medis pasien harus selalu siap untuk digunakan dan
waktu yang digunakan untuk mencarinaya harus sesingkat mungkin. Catatan elektronik dapat
digunakan atau ditinjau kembali oleh sejumlah orang sesuai dengan jumlah komputer yang
tersedia.
3.Produktivitas bidan/perazuat membaik. Penelitian menunjukkan bahwa perwat
menghabiskan waktunva sampai 50% untuk mendokumentasikan dan mengkomunikasikan
informasi pasien (Bowles, 1997 cit. Iyer and Chalnp, 2005). Dengan sistem komputerisasi,
tenaga kesehatan termasuk bidan akan mengurangi jumlah waktunya untuk mengerjakan
pekerjaan tertulis, sehingga lebih banyak waktu untuk merawat pasien. Penelitian lain
menyebutkan bahwa, setelah menggunakan sistem komputerisasi perawat menggunakan 40%
waktunya untuk berkomunikasi dengan pasien dan 43% untuk membantu higiene pasien.
Sistem inivrmasi komputer dapat menyimpan entri data secara lebih cepat menggunakan
keystroke, menu atau barcode scanner dibanding pencatatan manual.
4.Mengurangi kerusakan cafatan. Kerusakan catatan modik lebih. sulit terjadi jika
menggunakan sistem kampu*eris.ai. Program software harus berisi cara untuk memperbaiki
entri data yang salah. Proses ini sering diselesaikan dengan cara yang sama seperti pada
pencatatan manual dengan memberikan tanda kurung pada data yang salah, menambah
informasi yang benar clan memberikan alasan terhadap perubahan data, seperti "catatan
salah." Catatan waktu pada program software menunjukkan waktu yang tepat saat data
dimasukkan, sehingga tidak mungkin untuk menggantinya. Lebih jauh lagi, program software
umumnya mempunyai waktu yang terjadwal untuk menyimpan data, sehingga tidak
memungkinkan seseorang untuk menghilangkan data yang masuk setelah data tersebut
disimpan.
5.Menunjang penggunaan proses asuhan kebidnnan/keperawatan. Sistem komputerisasi
memudahkan pengkajian data pasien.
6.Mengurangi dokumentasi yang berlebihan. Dokumentasi terkomputerisasi mendukung
penggunaan yang ekonomis sejak pemasukkan data dengan mengurangi/menghilangkan
catatan yang berlebihan.
7.Saran, pengingat dan peringatan Minis. Penetapan prioritas clan pengambilan keputusan
dapat dipermudah dengan adanya peringatan, saran dan pengingat klinis dalam program
komputer.
8.Catatan keperawatan/kebidanan lebih terorganisasi. Software dapat dirancang agar
dokumentasi dapat diurutkan dan dicetak sedemikian rupa yang tidak mungkin dilakukan
oleh pencatatan manual. Sebagai contoh, bidan dapat meminta semua daftar data yang
menggambarkan kondisi pasien atau mencetak semua catatan penyuluhan.
9.Laporan tercetak secara otomatis. Sistem komputerisasi harus menghasilkan laporan dan
lembar alur yang menghilangkan rutinitas menyalin informasi untuk keperluan tertentu.
10.Dokumentasi sesuai standar profesi.
11.Peningkatan rekrutmen dan retensi fenaga. Komputer cenderung meningkatkan kepuasan
dan semangat kerja, merupakan keuntungan signifikan mencegah keluar masuknya pegawai.
12.Peningkatan pengetahuan tentang hasil.
13.Ketersediaan data.
14.Pencegahan kesalahan pemberian obat.
15.Mempermudah penetapan biaya. Dengan sistem dokumentasi komputer, kemampuan
menetapkan biaya berdasarkan asuhan yang aktual mengalami perbaikan.
16.Mencetak instruksi pemulangan.

Beberapa permasalahan dari dokumentasi terkomputerisasi adalah sebangai berikut:


1.Keuntungan pencatatan dengan kertas. Lima kelebihan utama pencatatan dengan kertas
(Bradley, 1994 cit. Iyer and Champ, 2005): pencatatan kertas sudah dikenal; mudah dibawa
dan dapat dibawa ke ruang perawatan pasien; tidak terjadi downtime; fleksibilitas dalam
pencatatan data, memudahkan pencatatan data subjektif dan naratif; dapat dicari dan
diperiksa dengan cepat. Meskipun demikian, komputer juga cepat dikenal, bisa diletakkan di
samping tempat tidur pasien atau tersedia komputer portable, tersedianya software yang
dirancang khusus untuk menuliskan teks bebas dan kemudahan mencari data dengan kode
tertentu.
2.Masalah keamanan dan kerahasiaan informasi pasien. Perlunya
menjaga privasi, kerahasiaan dan keamanan catatan medis pasien
yang terkomputerisasi.
Privasi, meliputi hak individu untuk emnetukan kapan, kepda siapa
dan seluas apa informasi pribadinya disebarluaskan.
Kerahasiaan, meliputi rasa percaya di antara pemberi perawatan
kesehatan bahwa informasi yang mereka bagi akan dihormati dan
digunakan untuk tujuan tertutup.
Keamanan, meliputi perlindungan informasi dari akses yang
disengaja maupun tidak disengaja oleh orang yang tidak
berwenang, termasuk modifikasi dan perusakan informasi.

Rekomendasi pemilihan sistem komputerisasi


Perubahan yang cepat di bidang pelayanan kesehatan, mengubah beberapa peraturan lama
pemilihan sistem informasi komputer. Menurut Pasternack (1998, cit. Iyer and Champ, 2005),
perubahan peraturan tersebut adalah:
1.Peraturan lama: cari daftar klien yang besar; Peraturan baru: besar bukan berarti lebih baik.
2.Peraturan lama: membeli software dalam jumlah besar; Peratu ran baru: beli software hanya
yang diperlukan saja.
3.Peraturan lama: cari sesuatu yang baru dan populer; Peraturan baru: sesuatu yang sedang
populer tidak berarti akan populer selamanya.
4.Peraturan lama: beli yang terbaik, baru kemudian diintegrasikan; Peraturan baru: tetap
bersama beberapa produsen.
5.Peraturan lama: beli yang tersedia dan biarkan produsen mengurusnya; Peraturan baru: cari
produsen yang akan berbagi risiko dan keuntungan.
6.Peraturan lama: Membeli software yang mahal sebanding dengan fungsi yang tinggi;
Peraturan baru: membeli berdasarkan nilai barang.