Anda di halaman 1dari 6

Modul Pelatihan

Disiplin Kerja
Pendahuluan
Disiplin sangat penting untuk pertumbuhan organisasi, digunakan terutama untuk
memotivasi pegawai agar dapat mendisiplinkan diri dalam melaksanakan pekerjaan baik
secara perorangan maupun kelompok. Disamping itu disiplin bermanfaat mendidik pegawai
untuk mematuhi dan menyenangi peraturan, prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga
dapat menghasilkan kinerja yang baik.
Sebagaimana diketahui, organisasi terdiri dari banyak pegawai yang masing-
masing mungkin saja bergerak menuju arah yang berbeda dengan arah yang akan dituju
organisasi, jika mereka tidak mengerti akan “rambu” organisasi. Sebagaimana di dalam
perjalanan lalu-lintas, akan sangat bahaya jika kita semua mengabaikan lampu merah, yang
apabila tidak mengindahkannya akan menghadapi risiko serius terjadinya tabrakan mobil.
Pada dasarnya, seluruh proses perkembangan hidup manusia berusaha agar terhindar dari
masalah dan kecelakaan, yang kesemuanya dipelajari tahap-demi tahap melalui peraturan
atau standar. Dengan kata lain, kita mafhum bahwa akan banyak ditemui kesulitan jika kita
sering mengabaikan peraturan. Maka salah satu cara untuk menjaga standar atau peraturan
yang berlaku di dalam suatu organisasi adalah melalui pemberlakuan disiplin kerja.
Untuk bisa menjalankan kedisiplinan dalam organisasi itu membutuhkan sanksi
indisipliner. Sanksi indisipliner itu dilakukan untuk mengarahkan dan memperbaiki perilaku
pegawai atau anggota organisasi tersebut bukan dimaksudkan untuk menyakiti individu.
Tindakan indisipliner hanya dilakukan pada pegawai yang tidak dapat mendisiplinkan diri,
menentang/tidak dapat mematuhi peraturan/prosedur organisasi. Melemahnya disiplin kerja
akan mempengaruhi moral pegawai maupun pelayanan secara langsung. Oleh karena itu
tindakan koreksi dan pencegahan terhadap melemahnya peraturan harus segera diatasi oleh
semua komponen yang terlibat dalam organisasi.

Pengertian
 Disiplin berasal dari akar kata “disciple“ yang berarti belajar.
Disiplin merupakan arahan untuk melatih dan membentuk seseorang melakukan
sesuatu menjadi lebih baik.
Modul Pelatihan

 Disiplin adalah suatu proses yang dapat menumbuhkan perasaan seseorang untuk
mempertahankan dan meningkatkan tujuan organisasi secara obyektif, melalui
kepatuhannya menjalankan peraturan organisasi.
Dalam konteks organisasi dikenal dua pendekatan umum didalam mempraktekkan
disiplin, yaitu disiplin pereventif dan disiplin korektif. Disiplin preventif adalah tindakan
yang dilakukan untuk mendorong para pekerja mentaati standar atau peraturan organisasi
agar tidak terjadi pelanggaran. Pendekatan dengan cara ini dimaksudkan untuk mendorong
para pekerja memiliki disiplin diri. Melalui cara ini para pekerja diharapkan menegakkan
disiplin diri tanpa harus terlalu dipaksa oleh pemimpin mereka, maka tim kerja yang telah
memilki disiplin diri secara sadar merupakan sumber kebanggaan bagi suatu organisasi.
Dalam hal ini pemimpin tetap memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk menciptakan
iklim organisasi dalam rangka pendisiplinan preventif, yaitu berusaha agar para pekerja
mengetahui dan mematuhi standar dengan mengikut sertakan mereka dalam penyusunan
standar atau peraturan organisasi. Dengan demikian para pekerja lebih mungkin mendukung
standar atau peraturan yang turut mereka susun. Begitu juga para pekerja akan mengetahui
alasan dibalik standar dan pengetahuan yang ditetapkan dimana hal tersebut masuk akal bagi
mereka. Pada prinsipnya, pendisiplinan preventif adalah suatu sistem yang saling
berkaitan, yang mana pemimpin melakukan suatu kerja sama dengan semua bagian dalam
sistem untuk mengembangkan bentuk-bentuk pola pendisiplinan.
Adapun pendisiplinan korektif adalah tindakan yang dilakukan setelah terjadinya
pelanggaran terhadap suatu peraturan atau standar. Tindakan ini dimaksudkan untuk
mencegah pelanggaran lebih lanjut, sehingga tindakan dimasa yang akan datang akan sesuai
dengan standar atau peraturan organisasi. Tindakan korektif dapat berupa jenis hukuman
tertentu yang biasa disebut dengan tindakan disipliner. Misalnya adalah suatu bentuk surat
peringatan sampai ke pengskoran tanpa dibayar upah, yang bertujuan memperbaiki perilaku
pelanggar, mencegah orang lain melakukan tindakan yang serupa dan mempertahankan
standar organisasi secara konsisten dan efektif. Tujuan tindakan disipliner tentunya adalah
positif, yaitu memperbaiki perilaku dimasa yang akan datang dan tidak semata-mata
menghukum perilaku masa lalu. Tindakan disipliner yang paling akhir adalah bentuk
pemecatan, berupa pemberhentian pekerja dari organisasi karena alasan tertentu. Adanya
proses pemecatan dalam organisasi tidak serta merta dianggap sebagai adanya kegagalan
Modul Pelatihan

pemimpin dalam membina para pekerja. Secara realistik tidak ada pemimpin dan pekerja
yang sempurna, artinya terdapat sejumlah masalah tertentu yang tidak selalu dapat
ditanggulangi, betapapun pemimpin telah berusaha keras ke arah itu. Dalam hal ini, terdapat
batasan dan toleransi dari organisasi untuk mempertahankan para pekerja yang berprestasi
tidak baik, ada kalanya lebih baik para pekerja pindah kerja ke organisasi yang lain,
disamping prestasi pekerja itu dapat menimbulkan dampak negatif bagi pekerja lainnya. Juga
timbulnya akibat sampingan yang tidak diinginkan seperti reaksi emosional, mangkir,
dan pengunduran diri mendadak serta terpaksa bekerja dalam tekanan.
Dalam menerapkan kedua jenis disiplin tersebut, yaitu disiplin preventif dan korektif,
seyogyanya para pemimpin harus pandai dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai
dengan tingkat kematangan para pekerja. Pada satu sisi pemimpin bisa saja memberi
kesempatan bagi para pekerja untuk bekerja sendiri dengan memberikan delegasi, namun
apabila diwaktu yang lain prestasi pekerja itu menurun maka pemimpin dapat menempuh
gaya kepemimpinan partisipatif. Apabila pemimpin telah bersikap suportif dan tidak direktif,
namun prestasi para pekerja menurun, maka seorang pemimpin perlu beralih ke cara yang
lebih persuasif dengan komunikasi dua arah, meski tidak menginggalkan cara direktif sama
sekali. Begitu juga para pemimpin yang tengah menerapkan tugas dengan gaya relasional,
namun prestasi pekerja menurun, maka para pemimpin dapat menempuh cara pemberitahuan
atau teguran dangan mengurangi sebagian perilaku suportif dan meningkatkan gaya arahan
atau supervisi.

Prinsip – Prinsip Disiplin


1. Pemimpin mempunyai perilaku positif
Untuk dapat menjalankan disiplin yang baik dan benar, seorang pemimpin harus dapat
menjadi role model/panutan bagi bawahannya. Oleh karena itu seorang pimpinan harus dapat
mempertahankan perilaku yang positif sesuai dengan harapan staf.
2. Penelitian yang Cermat
Dampak dari tindakan indisipliner cukup serius, pimpinan harus memahami akibatnya. Data
dikumpulkan secara faktual, dapatkan informasi dari staf yang lain, tanyakan secara pribadi
rangkaian pelanggaran yang telah dilakukan, analisa, dan bila perlu minta pendapat dari
pimpinan lainnya.
Modul Pelatihan

3. Kesegeraan
Pimpinan harus peka terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh bawahan sesegera mungkin
dan harus diatasi dengan cara yang bijaksana. Karena, bila dibiarkan menjadi kronis,
pelaksanaan disiplin yang akan ditegakkan dapat dianggap lemah, tidak jelas, dan akan
mempengaruhi hubungan kerja dalam organisasi tersebut.
4. Lindungi Kerahasiaan (privacy)
Tindakan indisipliner akan mempengaruhi ego staf, oleh karena itu akan lebih baik apabila
permasalahan didiskusikan secara pribadi, pada ruangan tersendiri dengan suasana yang
santai dan tenang. Kerahasiaan harus tetap dijaga karena mungkin dapat mempengaruhi masa
depannya.
5. Fokus pada Masalah
Pimpinan harus dapat melakukan penekanan pada kesalahan yang dilakukan bawahan dan
bukan pada pribadinya, kemukakan bahwa kesalahan yang dilakukan tidak dapat dibenarkan.
6. Peraturan Dijalankan Secara Konsisten
Peraturan dijalankan secara konsisten, tanpa pilih kasih. Setiap pegawai yang bersalah harus
dibina sehingga mereka tidak merasa dihukum dan dapat menerima sanksi yang dilakukan
secara wajar.
7. Fleksibel
Tindakan disipliner ditetapkan apabila seluruh informasi tentang pegawai telah dianalisa dan
dipertimbangkan. Hal yang menjadi pertimbangan antara lain adalah tingkat kesalahannya,
prestasi pekerjaan yang lalu, tingkat kemampuannya dan pengaruhnya terhadap organisasi.
8. Mengandung Nasihat
Jelaskan secara bijaksana bahwa pelanggaran yang dilakukan tidak dapat diterima. File
pegawai yang berisi catatan khusus dapat digunakan sebagai acuan, sehingga mereka dapat
memahami kesalahannya.
9. Tindakan Konstruktif
Pimpinan harus yakin bahwa bawahan telah memahami perilakunya bertentangan dengan
tujuan organisasi dan jelaskan kembali pentingnya peraturan untuk staf maupun organisasi.
Upayakan agar staf dapat merubah perilakunya sehingga tindakan indisipliner tidak terulang
lagi.
Modul Pelatihan

10. Follow Up (Evaluasi)


Pimpinan harus secara cermat mengawasi dan menetapkan apakah perilaku bawahan sudah
berubah. Apabila perilaku bawahan tidak berubah, pimpinan harus melihat kembali
penyebabnya dan mengevaluasi kembali batasan akhir tindakan indisipliner.

Tindakan Indisipliner
Bimbingan Teguran Secara Lisan

Skors Teguran Secara Tertulis

TEGURAN SECARA LISAN


Teguran secara lisan terbatas dalam hal mengingatkan perawat untuk kesalahan
yang kecil dan baru pertama kali dilakukan. Sebagai suatu tindakan koreksi, biasanya
teguran dilakukan secara pribadi dengan cara yang bersahabat dengan tetap
memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan.

TEGURAN SECARA TERTULIS


Teguran secara tertulis dilakukan apabila pelanggaran diulangi kembali, tidak menunjukan
perbaikan atau pelanggarannya cukup serius. Dalam teguran secara tertulis, harus
dicantumkan nama pegawai, nama pimpinan, permasalahannya, rencana perbaikan, dan
batas waktu perbaikan serta konsekwensi nya apabila pelanggaran diulangi. Bawahan
harus membaca dan memahami sanksi yang diberikan dan disepakati bersama. Dokumen
dimasukan ke dalam file pribadi pegawai dan tembusannya diberikan kepada yang
bersangkutan. Sanksi biasanya disesuaikan dengan kebijakan institusi atau organisasi
setempat.

KEPUTUSAN TERAKHIR/SKORS
Keputusan terakhir atau terminasi dilakukan karena pimpinan melihat bahwa kesalahan
yang dilakukan oleh bawahan sudah sangat serius dan selama batas waktu perbaikan
perilaku bawahan tidak memperlihatkan perubahan. Keputusan terakhir biasanya dilakukan
Modul Pelatihan

dengan melibatkan pimpinan organisasi/Departemen. Keputusan terakhir /skors dapat


dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada tingkat kesalahannya maupun kebijakan
dari institusi / organisasi. Antara lain adalah : Penurunan pangkat, mutasi, penundaan
kenaikan pangkat / berkala, penurunan insentif, tidak diperkenankan bekerja untuk jangka
waktu pendek , jangka waktu panjang, atau akhirnya diberhentikan / dikeluarkan.

Anda mungkin juga menyukai