Anda di halaman 1dari 10

BULUH YANG PATAH TERKULAI TIDAK

AKAN DIPUTUSKANNYA
Matius 12:15b-21
15b Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. 16 Ia dengan keras melarang
mereka memberitahukan siapa Dia, 17 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 18
"Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan
menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. 19 Ia tidak akan
berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. 20 Buluh
yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan di-padamkan-
Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. 21 Dan pa-da-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."

Walaupun banyak mujizat yang terus Yesus lakukan namun Ia melarang dengan keras agar mereka tidak
memberitahukan tentang siapa Dia. Dalam naskah asli Yunani hanya dikatakan: “membuat Dia menjadi
nyata”. Boleh jadi Yesus melarang mujizat-Nya diumumkan supaya jangan fungsi-Nya sebagai “tabib
ajaib” saja, Yesus tidak mau selalu dikerumuni orang sakit karena hal ini dapat menjadi halangan dalam
tugas-Nya yang penting sebagai pengkhotbah dan sebagai pengajar murid-murid-Nya. Kemung-kinan juga
ada alasan tambahan bagi Yesus yaitu bahwa pada waktu itu Ia mau sedikit bersembunyi dari musuh-
musuh-Nya (ayat 15a). Dalam hal ini kelihatannya Matius mengutip Yesaya 42:1-4 (dalam bentuk yang
sedikit lebih bebas) untuk memperlihatkan bahwa cara bekerja Yesus adalah cara yang tenang dan kadang-
kadang agak tersembunyi dan hal ini sesuai dengan nubuat dalam PL.

Tetapi Matius mengatakan: “lihatlah, cara Yesus adalah persis sama sama dengan cara hamba Tuhan di
Yesaya 42:1-4. Hamba Tuhan itu adalah oknum yang dipilih dan dikasihi oleh Tuhan, dan yang dipenuhi
dengan Roh Kudus, sebagaimana halnya pada Yesus; pada pembaptisan di sungai Yordan, Yesus menerima
Roh Kudus dan suara dari surga menyebut-Nya orang yang dikasihi Allah.

Dalam Yesaya 42 dikatakan bahwa hamba Tuhan menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa, hamba Tuhan
tidak akan berteriak dan memperdengarkan suaranya di jalan, yang berarti bahwa hamba Tuhan tidak akan
tampil ke muka dengan kekerasan. Nubuat inilah yang dipenuhi dalam Yesus. Yesus bekerja dengan terang.
Ia tidak memakai kekerasan bahkan kadang-kadang menyingkir ka-rena musuh-musuh-Nya (Mat 12:15a).
Dan Ia tidak mencari per-bantahan yang hebat dengan orang Farisi.

Dalam Yesaya 42:3 dikatakan bahwa hamba Tuhan akan penuh kasih; Ia tidak akan mematahkan buluh
yang patah terkulai dan tidak akan memadamkan sumbu yang pudar nyalanya. Di dunia ini menurut J. J. de
Heer orang yang lemah seringkali menyerupai buluh yang patah terkulai dibiarkan saja. Namun nubuat
Yesaya digenapi dan dipenuhi secara lengkap di dalam diri Yesus. Betapa besar perhatian dan kasih Yesus
terhadap orang yang lemah, orang sakit dan orang yang berdosa, yang sudah seperti “buluh yang patah
terkulai”. Sifat itu selalu nyata pada Yesus. Misalnya pada waktu Petrus tiba-tiba diliputi ketakutan dan
menyangkal Yesus, tetapi kemudian menangis tersedu-sedu karena menyesal, namun Yesus tidak
membuang Petrus melainkan membangunnya. Begitulah sifat Yesus sampai sekarang ini.
Ada satu kenyataan yang tak dapat dipungkiri oleh orang percaya di mana pun, yang berada dibawah
kolong langit ini, yakni bahwa mereka masih dapat mengalami berbagai kesulitan dalam hidup mereka.
Orang percaya sesaleh apapun suatu saat bisa saja diijinkan Allah mengalami kekurangan, dicurangi orang
lain, difitnah, kele-mahan tubuh atau sakit, kehilangan orang yang disayangi, kepahitan, kekecewaan,
kuatir, dan kemalangan. Gambaran ini se-jajar dengan apa yang diumpamakan dengan istilah “buluh yang
patah terkulai” atau “sumbuh yang pudar nyalanya”.

Di Israel, “buluh” mirip dengan pohon yang batangnya memiliki ruang. Para gembala seringkali
mengambil batangnya dan di-buatlah sebuah seruling sederhana yang memberikan penghiburan tatkala
mereka kesepian berada di tengahpadang dalam tugas penggembalaannya. Karena batang dari buluh itu
tidak begitu kokoh maka dapat saja menjadi patah. Dan ketika patah, gembala tersebut tidak
memutuskannya atau membaginya menjadi dua (ada perasaan sayang yang tercipta karena ikatan batin),
tetapi malah menyambungnya dengan mengganjalnya menggunakan buluh yang lain. Sumbu pun
mengalami hal yang sama. Ketika ia mulai redup, maka ia tidak dipadamkan tetapi terus dipergunakan
dengan terus menambahnya dengan ujung sumbu baru.

Pengertian bagian ini sesuai dengan Yes 42:4, dimana dikatakan bahwa Hamba Tuhan tidak akan menjadi
pudar, sampai Ia menegakkan hukum di bumi. Hal ini akan dipenuhi dalam Kristus. Walaupun Kristus
bekerja dengan tenang, tanpa kehebohan, dan banyak orang berusaha untuk membungkam-Nya, namun
pada akhirnya Ia berhasil dan akan menjadikan hukum Allah menang di dunia.

Dalam penerapan terhadap manusia maka nas ini hendak mengatakan kepada kita bahwa “sekalipun kita
mengalami kemalangan” seperti nasib “buluh yang patah terkulai” tetapi Allah tidak akan membiarkan
kemalangan tersebut “menghancurkan kehidupan orang percaya” sejajar dengan ungkapan “tidak akan
diputuskan-Nya”. Memang setiap orang percaya masih memiliki kemungkinan untuk “patah terkulai” tetapi
Allah tidak akan membiarkannya sampai “putus” atau “diputuskan”.

Daniel Zacharias
education from womb to tomb
Konsep Hamba Tuhan dalam Yesaya 42:1-4
Konsep Hamba Tuhan dalam

Yesaya 42:1-4

PENDAHULUAN
1
Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku
ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. 2Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan
suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. 3Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu
yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. 4 Ia sendiri tidak
akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau
mengharapkan pengajarannya.

Dalam kitab Yesaya dari pasal 40-55 yang juga dikenal dengan kitab Deutero Yesaya adalah kitab yang berasal
dari masa pembuangan orang-orang Yehuda di Babylon, kira-kira tahun 540 sM. Mereka dalam keadaan hancur
tanpa harapan. Yesaya memberitakan bahwa tidak lama lagi Allah membebaskan umat-Nya dan membawa mereka
pulang ke Yerusalem, untuk memulai hidup baru.

Tentang penulisan kitab Deutero Yesaya ini, Deutero Yesaya sezaman dengan Cyrus (Yes 45:1-8) raja Persia
yang merebut Babylon dan menawan orang-orang Yehuda untuk pergi ke tanah air mereka, dan nubuatnya dimulai
sebelum penaklukan Babel tahun 539 sM. Nabi adalah seorang yang ikut di pembuangan. Kerena itu tempat inilah
yang menjadi prioritas tugas pemberitaan nabi Deutero Yesaya, sekitar Babel dan Palestina. Dengan demikian
Kaiser membedakan antara periode pembuangan di Babel (pasal 40-48) dengan periode kembalinya Israel ke
Palestina (pasal 49-55).1[1]

Dalam Deutro Yesaya ini, sangat banyak berbicara mengenai “Hamba Tuhan”. Empat perikop nyanyian Ebed
Yahweh (hamba Tuhan), teristimewa dalam “Nyanyian-nyanyian Hamba Tuhan” yaitu Yesaya 42:1-4; 49:1-7; 50:4-9;
52:13-53:12 merupakan bagian penting dan aktual dengan pemberitaan nabi Deutero Yesaya. Isi nyanyian hamba
TUHAN adalah: hamba sebagai utusan Allah, yang setia bahkan rela menderita untuk tugas penyelamatan bagi
umat Israel. Keselamatan itulah yang ditekankan dalam pemberitaan Deutero Yesaya.

Istilah db,[,“Ebed” (kata benda) berasal dari kata kerja “Eved” yang berfungsi sebagai alat pekerjaan. Ebed
berarti hamba, artinya seorang hamba bekerja untuk orang lain.2[2] Tugas hamba adalah melayani dan melakukan
segala kehendak tuannya. Dalam keagamaan Israel, istilah Ebed menggambarkan kerendahan diri manusia ciptaan
di hadapan Allah. Berarti kata Ebed berbeda dengan budak. Dalam nyanyian Ebed Yahwe, Allah menyebut hamba
dengan sebutan, hambaKu, yang menunjukkan kedekatan antara hamba dengan Yahweh (bdk. 41:2; 49:1,2,: 50:4;
53:10-12). Pertanyaan tentang siapakah hamba Tuhan itu masih merupakan masalah yang belum terjawab sampai
sekarang. Ada beberapa interpretasi, yaitu3[3] :
1. Interpretasi “individuil” atau perorangan. Ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa hamba TUHAN itu ialah
seorang pribadi saja, misalnya : raja Cyrus, atau nabi Yeremia, dst.

2. Interpretasi “kolektip” atau kelompok. Ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa hamba TUHAN itu adalah
personifikasi bangsa Israel.

3. Interpretasi “sisa Israel”. Ada juga beberapa ahli yang berpendapat bahwa hamba TUHAN itu adalah sisa Israel yang
tetap setia kepada Yahweh juga dalam masa pembuangan di Babylon.

Menurut Ackroyd, secara tradisi dalam interpretasi Yahudi, hamba Tuhan digambarkan sebagai Israel.4[4]
Kemudian diikuti oleh pendapat ahli, bahwa hamba Tuhan yang dimaksud ialah sisa Israel yang tetap setia.5[5]
Dalam pasal 42:1-4 ini, hamba Tuhan dipanggil oleh Allah dan kedapadanya diberikan Roh Allah, untuk menyatakan
jP'Þv.mi mispat kepada bangsa-bangsa (ayat 1,3,4).6[6] Dalam perikop ini, Allah memperkenalkan hambaNya sama
dengan pelantikan seorang raja. Istilah jP'Þv.mi mispat berasal dari ruangan pengadilan, yaitu segala sesuatu yang
ditentukan hakim. Tetapi bagi bangsa Israel hukum itu berasal dari Allah sendiri. Nabi itu percaya dengan pasti
bahwa Yahwe yaitu Allah tidak akan meninggalkan bangsaNya. Yahweh tidak memerintah atas seluruh semesta
alam saja, tetapi juga atas segala bangsa. Inti dari kata mispat adalah anugerah dan kasih Allah. Jadi, tugas hamba
adalah dengan penuh setia menyatakan mispat tersebut kepada bangsa Israel di Babel dan juga kepada bangsa-
bangsa lain (bersifat universal).

Kebanyakan penafsir modern berpendirian bahwa ayat 1-4 merupakan pokok, dan ayat 5-9 dilihatnya sebagai
pelengkap yang susah tafsirannya. Dalam ayat 1-4 ini, firman ini menyerupai firman pelantikan seorang raja :
sebagaimana Allah memilih Saul sebagai kepala bangsaNya dan memperkenalkan dia kepada Samuel, agar diurapi
dan dilantik sebagai pemerintah yang sah, demikianlah hamba Tuhan itu diresmikan di depan saksi-saksi, dan
jabatannya ditentukan.7[7]

Beberapa penafsir misalnya Koole, berpendapat bahwa ayat 1-9 merupakan satu bagian karena mempunyai
hubungan formal. Bagian pertama kata “lihat” ayat 5-9 sebenarnya berdiri sendiri, dan tidak ada relasi dengan ayat
1-4 karena kedua bagian ini menggunakan bahasa yang berbeda. Ayat 5-9 dimulai dengan kalimat “Aku ini adalah
Yahweh” dan dialamatkan kepada orang kedua tunggal : “Aku telah memanggil engkau dengan maksud
penyelamatan, “Aku telah memegang tanganmu”. Sementara ayat 1-4 ditujukan kepada orang banyak.8[8]
Ada tiga tugas penting dari hamba dalam Yesaya 42:1-4, yaitu : Ia menimbulkan keadilan bagi bangsa-bangsa
(ayat 1c); Ia membawa keadilan dalam kebenaran (3c); sampai ia menegakkan keadilan di bumi (4b).9[9] Kita akan
membahas ayat demi ayat agar lebih jelas.

PENAFSIRAN

Ayat 1 “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihanKu, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah
menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.” Kalimat “Lihat itu hambaKu”
nyanyian ini menunjuk kepada hamba Tuhan. Allah memperkenalkan hambaNya, hampir sama dengan pelantikan
raja Saul (1 Sam 9:15-17). Roh TUHAN juga memenuhi raja tersebut yaitu “roh hikmat dan penegrtian, roh nasihat
dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN” (Yes 11:2). Allah memperkenalkan hambaNya dengan
perkataan yang menyerupai pelantikan seorang raja; tetapi dalam pemilihan hamba tidak ditemukan adanya saksi-
saksi yang dapat meresmikan hamba tersebut di dalam jabatannya sebagaimana seorang raja (bdg. 1 Sam 16:12
dengan II Sam 2:4; 5:3).10[10]

Hubungan Allah kepada hambaNya itu diuraikan lebih lanjut dari tiga segi11[11] :

a. Ia memegang hambaNya untuk menguatkannya (bnd Kel 17:12; Mzm 41:13; 63:9; 49:2,5).

b. Ia memilihnya untuk menjalankan maksudNya, sama seperti Israel dipilihNya (bnd 41:8).

c. “JiwaKu berkenan kepadanya”; alasan pemilihan itu hanya terdapat pada diri TUHAN; jiwa dipakai di sini sebagai
ganti diri Aku (demikian terjemahan LAI), entah sebagai pengalimatan bahasa tinggi, entah sebagai tanda bahwa
secara pribadi Allah menyenanginya.

Hamba dalam perikop ini berdiri antara raja dan nabi, dengan satu jabatan baru, yakni hamba Tuhan.

Kata ayci(Ay Yosi diterjemahkan secara harafiah berarti “membawa keluar” tetapi LAI menuliskan kata yosi
tersebut dengan kata “menyatakan”. Saya tidak tahu pasti peredaksian oleh LAI menggunakan kata tersebut tetapi
pengertian sebenarnya adalah “membawa keluar”. Kata yosi menunjukkan bahwa mispat yang dibawa oleh hamba
itu tidak hanya kepada Israel, tetapi dibawa ke luar, yaitu kepada bangsa-bangsa lain. Jadi kata yosi tidak hanya
digunakan untuk menghibur orang-orang yang berada di pembuangan saja tetapi bagi semua bagsa-bangsa.

Ayat 2 “Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan.” Kata
q[;Þc.yI sa’ak, sering sekali menunjukkan teriakan yang dapat juga diartikan sebagai penderitaan sebagai seorang
hamba Tuhan yang tidak pernah mengeluh akan penderitaannya. Hal yang dimaksudkan untuk menjelaskan tentang
tugas kehambaan dalam ayat ini jelas tidaklah mencerminkan tugas seorang hamba untuk berteriak atau dengan
suara yang besar memberitakan firman TUHAN. Hal ini berbeda dengan cara seorang raja dalam memberitahukan
keputusan-keputusannya kepada rakyatnya yaitu dengan membuat undang-undang dan mengumumkannya di
depan masyarakat umum.12[12] Tetapi hamba TUHAN yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah hamba yang
memberitakan mispat kepada orang-orang tidak dengan terpaksa, dapat kita lihat lebih jelas di dalam uraian
tentang ayat yang ke-3.

Ayat 3 “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan
dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.” Dalam ayat ini, tugas hamba TUHAN adalah
mengurus buluh yang telah dirusak atau patah dengan perawatan yang sungguh-sungguh dan memelihara sumbu
yang suram. Artinya bahwa hamba Tuhan bekerja untuk memelihara kepercayaan yang teguh kepada Tuhan, dan
memberi harapan bagi orang-orang pada masa pembuangan, serta memberitakan bahwa Yahweh akan datang
untuk memelihara alam semesta ini.13[13] Dalam ayat ini kata tm,Þa/l, Le’emet diartikan dengan suatu
kesungguhan. Kata itu memperlihatkan integritas seorang hamba Tuhan dalam menjalankan tugasnya yaitu dengan
kesungguhan sekaligus solidaritas hamba terhadap umat Tuhan. “Buluh yang telah rusak” dan “sumbu yang suram”,
melambangkan kehancuran Yerusalem dan Israel yang telah kehilangan kepercayaan. Oleh sebab itulah tugas
seoang hamba TUHAN adalah memulihkan Israel sebagai umat Allah kembali.

Ayat 4 “Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di
bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.” Dalam ayat ini, kesetiaan yang telah dijelaskan hamba TUHAN
dalam ayat 3 lebih diperjelas lagi. Kesetian hamba TUHAN itu tidak akan pudar dan hilang walaupun tantangan
dihadapi ia tidak akan mundur sampai tujuannya tersebut tercapai. Jadi, pernyataan ini memberi kesan bahwa
tugas hamba tersebut diiringi dengan penderitaannya yang sangat menyedihkan.14[14] Hamba walaupun dalam
penderitaan dan hambatan yang berat, dia tidak akan gagal dalam tugasnya karena dia bersandar kepada Yahweh.
Jadi hamba TUHAN adalah orang yang rela menderita dalam memberitakan mispat TUHAN demi keselamatan Israel
dan semua bangsa.

Von Rad sendiri memakai konsep hamba TUHAN di dalam Deotero Yesaya digambarkan dengan Musa (Kel
18:18). Musa dipanggil menjadi hamba TUHAN selama 40 tahun. Deutero Yesaya menggambarkan hamba TUHAN
sebagai seorang yang berada di antara Israel dan Yahweh, yang berdiri di tempat orang-orang berdosa (53:12),
bahkan pada akhirnya menderita demi keselamatan orang lain (Israel).15[15]

Penekanan Deutero Yesaya relevan dengan kehidupan Israel di masa pembuangan Babel yang di mana telah
kehilangan kepercayaan kepada Yahweh sebagai pencipta dan penebus Israel, akibatnya Israel semakin jauh dari
Yahweh. Yahweh ingin memulihkan hubunganNya dengan bangsa Israel tersebut melalui hambaNya yaitu hamba
TUHAN. Ia memanggil hambaNya untuk menghibur dan mewujudkan keselamatan bagi Israel. Dia yang akan
memulihkan Israel yang telah hancur. Oleh seba itulah diperlukan sebuah pengurbanan, penderitaan dan
solodaritas yang tinggi.

Thema teologi yang telah diuraikan di atas tersebut tujuannya ada dua, yakni : (1) agar Israel dan bangsa-
bangsa lain merasakan damai sejahtera daripada Allah, mengalami mendamaian yang telah diberikan oleh Yahweh.
(2) Yahweh dipahami sebagai yang satu-satunya pencipta, penyelamat dan yang berkuasa atas ciptaanNya.
Penderitaan hamba tersebut juga merupakan penderitaan Israel di pembuangan, itulah sebabnya Israel juga dapat
disebutkan sebagai hamba Tuhan. Dengan demikian, makna penderitaan Ebed Yahweh dalam Deutero Yesaya
adalah agar orang lain mengalami damai sejahtera Allah dan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya TUHAN
yang berkuasa atas alam semesta.

RELEVANSI KONSEP KEHAMBAAN DALAM YESAYA 42:1-4 TERHADAP PERKEMBANGAN JEMAAT GEREJA MASA
KINI

Relevansi kehambaan di dalam Yesaya 42:1-4 ini bagi perkembangan jemaat gereja pada masa kini adalah
bahwa hamba TUHAN adalah wakil Allah untuk menyatakan firman TUHAN dan membawa terang terhadap
manusia. Seorang hamba haruslah memiliki sebuah kaharisma atau figur sebagai seorang yang benar-benar
mencirikan bahwa dia adalah hamba TUHAN. Hamba TUHAN adalah orang yang benar-benar telah dipilih Allah,
diutus Allah, dan Allah telah memperlengkapi dia dengan Roh Tuhan untuk melakukan tugas yang telah diberikan
TUHAN kepadanya yaitu menyatakan damai sejahtera dari Allah. Jadi, tugas kehambaan sebagai hamba TUHAN
adalah merupakan sebuah anugerah dari TUHAN. Gereja harus sungguh-sungguh melakukan tugas penggilan ini
dengan bersandarkan pada pertolongan TUHAN.

Hamba TUHAN itu ditujukan bukan saja adalah tugas seorang nabi (di dalam PL), seorang pendeta (di dalam
gereja), ataupun para majelis-majelis jemaat gereja saja, tetapi tugas kehambaan TUHAN itu juga ditujukan kepada
seluruh umat manusia. Baiklah kita semua umat manusia mau dan sadar akan tugas kehambaan TUHAN itu
merupakan tanggungjawab kita yaitu melakukannya dengan tidak ada rasa terpaksa, penuh kesabaran, setia, rela
menderita demi kemuliaan TUHAN, dan taat dalam panggilannya. Orang seperti inilah yang sedang dibutuhkan oleh
gereja masa kini.

PERENUNGAN

Hamba TUHAN merupakan suatu dasar hubungan yang baru antara Allah dengan manusia. hubungan ini
dapat diambil dari bahasa hukum (hukum atau keputusan hakim, pengajaran atau ketetapan hukum, perjanjian)
sama dengan hubungan antara TUHAN dengan bangsa Israel. Hamba TUHAN itu mirip dengan Musa, yaitu
pengantar peranjian antara Allah dan bangsa Israel (Kel 19:34), hakim dan pemberi hukum yang utama (Kel
18:16,20; Kel 21:1; Ul 5:2). Namun dalam nats ini, hamba itu ternyata melebihi Musa di mana jabatannya ditujukan
kepada segala bangsa dan di dalam dirinya TUHAN dapat dikenal oleh manusia.

Orang Yahudi sendiri menyamakan hamba itu dengan Israel di mana Israel adalah umat pilihan Allah yang
akan mengagungkan nama TUHAN di depan segenap manusia. Hanya Israellah umat yang setia menjadi saksi-saksi
Allah di depan bangsa-bangsa (43:10), seperti penggenapan janji Allah kepada Abraham bahwa olehnya semua
kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kej 12:3). Selain itu banyak orang-orang Israel yang hidup setia kepada
hukum Allah dan mati syahid karena itu. Mereka yakin bahwa kesaksian mereka itu harus kita hormati.16[16]
Di lain pihak, para penginjil Perjanjian Baru berpendapat bahwa Yesus Kristuslah hamba TUHAN yang
dilukiskan di dalam Yesaya 42:1-4 ini. Banyak perkataan dan tindakan Yesus sendiri yang sangat cocok atau sesuai
dengan apa yang ada di dalam Yesaya 42:1-4 ini. Seperti pada saat Yesus dibabtiskan, Allah melengkapiNya dengan
Roh kudus (sesuai dengan Yes 42:1c) dan berfirman : “AnakKu Engkau” (sesuai dengan Mzm 2:7), “kepadaMu Aku
berkenan” (sesuai dengan Yes 42:1). Selain itu Yesus juga menyebutkan dirinya terang dunia (Yoh 8:12).

Sesuai dengan Kitab Injil inilah umat Kristen juga melihat bahwa Tuhan Yesus yang merupakan perwujudan
yang sebenarnya dari hamba Tuhan itu. Hamba itu datang untuk memenuhi harapan Tuhan sehingga umat Kristen
harus hidup setia kepada Tuhan, rela berkorban demi kemuliaan Tuhan (sama halnya seperti Tuhan Yesus), dan
mau hidup melayani demi nama hamba TUHAN itu yaitu Yesus Kristus sang terang dunia.

KEPUSTAKAAN

Kaiser, Otto

Introductiom To The Old Testament, Oxford : Basil Blackwell, 1984

Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I : A-L, Jakarta : Yayasan Kominikasi Bina Kasih/OMMF

Blommendaal, J.

Pengantar Kepada Perjanjian Lama, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009

Ackroyd, Peter R.

Israel Under Babylon and Persia, (Oxford : University Press), 1970

Barth, Claire dkk

Tafsiran Alkitab : Kitab Yesaya Pasal 40-55, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2011

Koole, J.L.

Isaiah 40-48, Part 3 (Nederlands : Kok Pharors Publishing House, 1997

Westermann, Claus

Isaiah 40-66, Philadelphia : The Westminter Press 1969

Rad, Von

Old Testament Theology Vol. 2, London: SCM Press Ltd 1965

17[1] Otto Kaiser, Introductiom To The Old Testament, Oxford : Basil Blackwell, 1984 hal. 265
18[2] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I : A-L, Jakarta : Yayasan Kominikasi Bina Kasih/OMMF, 1962 hal. 360

19[3] J. Blommendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2009, Hal. 114

20[4] Peter R. Ackroyd, Israel Under Babylon and Persia, (Oxford : University Press, 1970), Hal. 139

21[5] J. Blommendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, Hal. 144

22[6] J. Blommendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, Hal. 113

23[7] Marie-Claire Barth-Frommel, Tafsiran Alkitab : Kitab Yesaya Pasal 40-55, BPK Gunung Mulia, Jakarta 2011, Hal.
115

24[8] J.L. Koole, Isaiah 40-48, Part 3 (Nederlands : Kok Pharors Publishing House, 1997, Hal. 208

25[9] Claus Westermann, Isaiah 40-66, Philadelphia : The Westminter Press 1969, Hal. 95

26[10] Marie-Claire Barth-Frommel, Tafsiran Alkitab : Kitab Yesaya Pasal 40-55, Hal. 117

27[11] Marie-Claire Barth-Frommel, Tafsiran Alkitab : Kitab Yesaya Pasal 40-55, Hal. 117

28[12] Claus Westerman, Isaiah 40-66, Hal. 96


29[13] Marie-Claire Barth-Frommel, Tafsiran Alkitab : Kitab Yesaya Pasal 40-55, Hal. 119

30[14] Claus Westerman, Isaiah 40-66, Hal. 96

31[15] Von Rad, Old Testament Theology Vol. 2, London : SCM Press Ltd 1965, Hal. 21

32[16] Marie-Claire Barth-Frommel, Tafsiran Alkitab : Kitab Yesaya Pasal 40-55, Hal. 120