Anda di halaman 1dari 34

UPAYA MENINGKATKAN

HASIL BELAJAR KIMIA MELALUI PENDEKATAN


KETERAMPILAN PROSES PADA MATERI POKOK REAKSI
OKSIDASI REDUKSI ( REDOKS ) SISWA KELAS X IPA.1
SMAN 1 KEMBANG JANGGUNG
KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
TAHUN AJARAN 2014/2015

Disusun Oleh :

xxxxxxxxxxxx
NIP.xxxxxxxxxxxxxxx

SMAN 1 KEMBANG JANGGUT


Kecamatan Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara

i
HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini ditulis oleh :

Nama : SUHARNO, S.Pd, M.Si


NIP : 19731113 200012 1 002
Pangkat / Golongan :
Instansi : SMAN 1 Kembang Janggut

Kuta Kartanegara,
Kepala Sekolah
SMAN 1 Kembang Janggut Kepala Perpustakaan

xxxxxxxxxxxx cccccccccccc
NIP. xxxxxxxxx NIP. -

ii
ABSTRAK

Permasalahan dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana penerapan


pendekatan keterampilan proses dalam belajar kimia materi pokok reaksi oksidasi
reduksi (redoks) siswa Kelas X IPA.1 SMAN 1 Kembang Janggut kabupaten
Kutai Kartanegara tahun ajaran 2014/2015 ?, dan 2) Apakah melalui pendekatan
keterampilan proses dapat meningkatkan hasil belajar kimia pada materi pokok
reaksi oksidasi reduksi (redoks) siswa Kelas X IPA.1 SMAN 1 Kembang Janggut
kabupaten Kutai Kartanegara tahun ajaran 2014/2015 ?. Sedangkan tujuan
penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui penerapan pendekatan keterampilan
proses dalam proses belajar kimia di SMAN 1 Kembang Janggut kabupaten Kutai
Kartanegara, dan 2) Untuk meningkatkan hasil belajar kimia di SMAN 1
Kembang Janggut kabupaten Kutai Kartanegara dengan pendekatan keterampilan
proses.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus.
Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas X IPA.1
SMAN 1 Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara. Metode analisis data
yang digunakan adalah deskriptif persentase. Pengumpulan data menggunakan tes
uraian untuk mengukur hasil belajar siswa pada aspek kognitif. Sedangkan pada
aspek afektif maupun psikomotorik, serta keterampilan proses yang
dikembangkan menggunakan lembar observasi.
Hasil penelitian dari siklus I sampai siklus II, menunjukkan adanya
peningkatan hasil belajar siswa. Pada aspek afektif terdapat peningkatan dari
63,40 pada siklus I menjadi 80,00 pada siklus II dan aspek psikomotorik
ditunjukkan dengan adanya peningkatan rata-rata dari 63,8 0 pada siklus I menjadi
81,20 pada siklus II. Pada aspek kognitif terdapat peningkatan rata-rata hasil
belajar dari 59,45 pada pra siklus menjadi 71,79 pada siklus I dan 84,20 pada
siklus II, dengan ketuntasan klasikal sebesar 75,00% pada siklus I dan 95,00%
pada siklus II. Sedangkan pada aspek keterampilan proses yang dikembangkan
terdapat peningkatan rata-rata dari 63,06 pada siklus I menjadi 77,56 pada siklus
II.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan
keterampilan proses dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok
reaksi oksidasi reduksi. Oleh karena itu, guru mata pelajaran kimia diharapkan
dapat menerapkan pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan pembelajaran
sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu siswa dalam penguasaan
konsep pada mata pelajaran dan dapat mengembangkan keterampilanketerampilan
proses yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

ii
i
KATA PENGANTAR

Penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang selalu


melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan karya tulis ini tepat waktu, Salawat dan salam penulis
sanjungkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW, yang telah menunjukkan jalan
kebenaran. Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis juga menyampaikan
ungkapan rasa terima kasih kepada pihak-pihak sebagai berikut :
1. Kepala Dinas Pendidikan Kutai Kartanegara
2. Kepala Sekolah SMAN 1 Kembang Janggut
3. Semua pihak yang telah memberikan bantuan baik secara moril
maupun material dalam penyelesaian penelitian Tindakan Kelas ini.
Besar harapan penulis semoga karya ini bermanfaat. Apabila ada
kekurangannya, penulis minta maaf yang sebesar-besarnya.

Penyusun

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ii
ABSTRAK .................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................................. iv
DAFTAR ISI .................................................................................................. v

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................ 5
C. Pembatasan Masalah ............................................................... 5
D. Rumusan Masalah ................................................................... 6
E. Tujuan Penelitian ..................................................................... 7
F. Manfaat Penelitian .................................................................. 7

BAB II : LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS


A. Landasan Teori ......................................................................... 9
B. Hipotesis Tindakan .................................................................. 28

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................. 29
B. Subyek Penelitian .................................................................... 29
C. Metode Penelitian .................................................................... 30
D. Metode Pengumpulan Data ..................................................... 34
E. Teknik Analisis Data ............................................................... 35
F. Indikator Keberhasilan ............................................................ 37

v
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Observasi Awal ........................................................................ 38
B. Hasil Penelitian ....................................................................... 39
C. Pembahasan Hasil Penelitian .................................................. 55
D. Keterbatasan Penelitian ............................................................ 60

BAB V : SIMPULAN, SARAN, DAN PENUTUP


A. Simpulan .................................................................................. 62
B. Saran ........................................................................................ 62
C. Penutup .................................................................................... 63

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 64


LAMPIRAN-LAMPIRAN

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau sains (dalam arti sempit) sebagai
disiplin ilmu terdiri atas physical sciences dan life sciences. Termasuk
physical sciences adalah ilmu-ilmu astronomi, geologi, mineralogi,
meteorologi, fisika, dan kimia, sedangkan life sciences meliputi biologi,
sosiologi, dan fisiologi. Ilmu pengetahuan alam merupakan ilmu yang
berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam atau fenomena secara
sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga
merupakan proses penemuan.
Pendidikan sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung
untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan
memahami alam sekitar secara alamiah. Peran serta guru dalam
pembelajaran sebagai pembimbing dan siswa menemukan sendiri konsep
fakta yang akan dipelajarinya sehingga muncul sikap ilmiah siswa. Guru
tidak mentransfer pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu
siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Proses penemuan sendiri
akan lebih bermanfaat bagi siswa sebagai proses dalam menumbuhkan
kecakapan akademik siswa.
Oleh karena itu salah satu pendekatan dalam pembelajaran sains
adalah menggunakan pendekatan keterampilan proses, sehingga siswa juga
dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik
mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan serta membuat siswa belajar
proses dan produk ilmu pengetahuan sekaligus. Dengan mengembangkan
keterampilan-keterampilan memproseskan perolehan, anak akan mampu
menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta
menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Dengan
demikian keterampilan-keterampilan itu menjadi roda penggerak penemuan

1
dan pengembangan fakta dan konsep serta pertumbuhan dan pengembangan
sikap dan nilai.6 Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses belajar-
mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif.
Dalam mewujudkan peserta didik aktif, maka perlu adanya aktivitas
belajar. Aktivitas belajar ini dapat terwujud jika peserta didik dihadapkan
pada masalah. Muh. Ali menyatakan bahwa siswa harus dituntut untuk
berupaya melakukan pemecahan masalah. Setiap peserta didik yang
menyelesaikan pemecahan masalah maka akan mendapatkan suatu
perubahan atau pengalaman belajar dalam aktivitas belajar yang biasa
dinamakan hasil belajar.
Hakikat belajar sains tentu saja tidak cukup sekedar mengingat dan
memahami konsep yang ditemukan oleh ilmuwan. Akan tetapi yang sangat
penting adalah pembiasaan perilaku ilmuwan dalam menemukan konsep
yang dilakukan melalui percobaan dan penelitian ilmiah. Proses penemuan
konsep yang melibatkan keterampilan-keterampilan yang mendasar melalui
percobaan ilmiah dapat ditingkatkan dan dilaksanakan melalui kegiatan
laboratorium.
Mata pelajaran kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam
atau sains (physical sciences) yang berkaitan dengan cara mencari tahu
tentang alam secara sistematis. Sehingga sains bukan hanya penguasaan
pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja, tetapi juga
merupakan suatu proses penemuan. Proses penemuan yang dimaksud bukan
berarti siswa mengungkapkan penemuan baru, melainkan pengetahuan yang
saat ini belum diketahui.
Berdasarkan observasi awal dan keterangan yang diperoleh dari guru
pengampu mata pelajaran Kimia di SMAN 1 Kembang Janggut diperoleh
informasi bahwa aktivitas dan hasil belajar peserta didik di SMAN 1
Kembang Janggut masih rendah. Secara umum aktivitas dan hasil belajar
pada mata pelajaran kimia masih dibawah rata-rata, khususnya pada materi
reaksi oksidasi-reduksi (Redoks). Hal ini disebabkan karena pembelajaran
kimia di SMAN 1 Kembang Janggut masih sering menggunakan metode

2
ceramah dan latihan mengerjakan soal-soal dengan cepat tanpa memahami
konsep secara mendalam, sehingga aktivitas belajar siswa kurang, siswa juga
kurang mengembangkan keterampilan proses sainsnya untuk menemukan
konsep, dan mengembangkan pengetahuannya, serta kurang terlatih untuk
mengembangkan daya nalarnya untuk mengaplikasikan konsep-konsep yang
dipelajarinya dalam memecahkan permasalahan yang dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran seperti ini berdampak pada situasi kelas menjadi pasif,
pembelajaran membosankan dan pembelajaran menjadi tidak bermakna
karena peserta didik tidak terbawa dalam pengalaman pembelajarannya dan
menyebabkan siswa kurang aktif sehingga berpengaruh pada aktivitas dan
penguasaan konsep masih rendah. Hal ini ditunjukkan dari rata-rata nilai
ulangan harian yang masih di bawah standar ketuntasan belajar yaitu sebesar
59,45 dan ini masih jauh dari KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) di
SMAN 1 Kembang Janggut sebesar 65. Dalam kehidupan sehari-hari
penguasaan konsep kimia sangat dibutuhkan untuk bekal hidup di
masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maka
diperlukan suatu terobosan yang mampu membantu siswa dalam
meningkatkan aktivitas dan menguasai konsep kimia sehingga hasil belajar
kimia dapat ditingkatkan.
Pendekatan keterampilan proses menekankan pada siswa belajar dan
mengelola perolehannya, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat
dipahami dan dapat dipakai sebagai bekal untuk memenuhi kehidupan dalam
masyarakat. Selain itu, pendekatan keterampilan proses mempunyai tujuan
untuk memperoleh pengetahuan yang dapat melatih kemampuankemampuan
intelektual dan merangsang keingintahuan serta dapat memotivasi
kemampuan siswa untuk meningkatkan pengetahuan yang baru diperoleh
serta mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi pada diri siswa.
Dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan keterampilan
proses, siswa akan lebih memahami konsep yang sebenarnya karena mereka
menggunakan pendekatan keterampilan proses yang mereka miliki untuk

3
menemukan konsep dan prinsip. Materi reaksi oksidasi reduksi merupakan
salah konsep yang harus dikuasai oleh siswa Kelas X IPA.1 semester II.
Dalam materi ini siswa sering kali mengalami kesulitan, karena materi ini
terdapat konsep yang abstrak dan sulit dipahami siswa.
Konsep kimia yang dianggap rumit dan abstrak akan lebih mudah
dipahami siswa dengan pembelajaran yang menerapkan pendekatan
keterampilan proses dengan kegiatan praktikum. Karena konsep-konsep
yang rumit dan dianggap abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret,
contoh yang wajar sesuai dengan kondisi yang dihadapi, dengan
mempraktekkan sendiri upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap
kenyataan fisik dan penanganan benda-benda yang benar-benar nyata, akan
menghasilkan pengetahuan yang mudah untuk diingat dan tahan lama.
Dengan penerapan pembelajaran tersebut dalam materi pokok reaksi oksidasi
reduksi diharapkan akan membantu siswa untuk menguasai konsep reaksi
oksidasi, sehingga hasil belajar peserta didik dapat meningkat.
Oleh karena itu pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses
perlu dilaksanakan di SMAN 1 Kembang Janggut yang melibatkan siswa
untuk aktif dalam kegiatan percobaan di laboratorium. Pendekatan
keterampilan proses memungkinkan siswa dapat menumbuhkan sikap ilmiah
untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan yang mendasar, sehingga
dalam proses pembelajaran siswa dapat memahami konsep yang
dipelajarinya. Dengan demikian hasil belajar yang meliputi pengetahuan,
keterampilan dan sikap sebagai tuntutan kompetensi kurikulum yang
dikembangkan saat ini akan tercapai.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis melakukan penelitian tentang
upaya meningkatkan hasil belajar kimia melalui pendekatan keterampilan
proses pada materi pokok reaksi oksidasi reduksi (redoks) siswa Kelas X
IPA.1 SMAN 1 Kembang Janggut kabupaten Kutai Kartanegara tahun ajaran
2014/2015.

4
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah, maka identifikasi masalah
dalam pembelajaran kimia di SMAN 1 Kembang Janggut adalah sebagai
berikut:
1. Guru belum menerapkan pendekatan pembelajaran yang mengarah ke
suatu kegiatan laboratorium yang mengarahkan siswa dalam proses
penyelidikan untuk mendapatkan pengetahuan baru, menumbuhkan sikap
ilmiah dan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan yang
mendasar, sehingga dalam proses pembelajaran siswa tidak dapat
memahami konsep yang dipelajarinya.
2. Rendahnya hasil belajar peserta didik masih dibawah KKM sehingga
perlu ditingkatkan.

C. PEMBATASAN MASALAH
Dari identifikasi masalah di atas peneliti membatasi sasaran penelitian
pada peningkatan hasil belajar siswa SMAN 1 Kembang Janggut Kelas X
IPA.1 semester genap pada materi pokok reaksi oksidasi reduksi tahun ajaran
2014/2015.
Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap penelitian ini, maka
perlu dijelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul sebagai berikut:
1. Hasil belajar adalah segala kemampuan yang dapat dicapai siswa melalui
proses belajar yang berupa pemahaman dan penerapan pengetahuan dan
keterampilan yang berguna bagi siswa dalam kehidupannya sehari-hari
serta sikap dan cara berpikir kritis dan kreatif dalam rangka mewujudkan
manusia yang berkualitas, bertanggung jawab bagi diri sendiri,
masyarakat, bangsa dan negara serta bertanggung jawab kepada Tuhan
Yang Maha Esa.. Menurut Nana Sudjana hasil belajar adalah suatu akibat
dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa
tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes
perbuatan. Hasil belajar adalah kemampuankemampuan yang dimiliki
oleh siswa setelah menerima pengalaman belajar. Hasil belajar adalah

5
hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari
mata pelajaran yang berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Untuk
melihat hasil belajar dilakukan suatu penilaian terhadap siswa yang
bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai suatu materi
atau belum.Pada penilaian hasil belajar yang diukur adalah berupa nilai
akhir atau nilai test formatif yang diperoleh peserta didik pada tiap
siklusnya.
2. Pendekatan keterampilan proses adalah wawasan atau anutan
pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik
yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada
prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Keterampilan proses sains
meliputi: mengamati, menggolongkan atau mengklasifikasikan,
menafsirkan (menginterpretasikan), meramalkan (memprediksi),
menerapkan, merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan.
3. Reaksi reduksi oksidasi (redoks) merupakan salah satu materi pokok
dalam pelajaran kimia Kelas X IPA.1 semester genap Sekolah Menengah
Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA) sesuai kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP). Materi reaksi redoks ini meliputi: perkembangan
konsep reaksi oksidasi dan reduksi, bilangan oksidasi dalam senyawa
atau ion, tata nama menurut IUPAC dan penerapan konsep redoks dalam
kehidupan sehari-hari.

D. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka
perumusan masalah dari skripsi ini adalah:
1. Bagaimana penerapan pendekatan keterampilan proses dalam belajar
kimia materi pokok reaksi oksidasi reduksi (redoks) siswa Kelas X IPA.1
SMAN 1 Kembang Janggut kabupaten Kutai Kartanegara tahun ajaran
2014/2015?
2. Apakah melalui pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan
hasil belajar kimia pada materi pokok reaksi oksidasi reduksi (redoks)

6
siswa Kelas X IPA.1 SMAN 1 Kembang Janggut kabupaten Kutai
Kartanegara tahun ajaran 2014/2015?

E. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan
sebelumnya, tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui penerapan pendekatan keterampilan proses dalam
proses belajar kimia di SMAN 1 Kembang Janggut kabupaten Kutai
Kartanegara.
2. Untuk meningkatkan hasil belajar kimia di SMAN 1 Kembang Janggut
kabupaten Kutai Kartanegara dengan pendekatan keterampilan proses.

F. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat penelitian yang diharapkan setelah menyelesaikan penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Siswa
a. Memberikan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan
bagi siswa dan menghilangkan kejenuhan dalam proses
pembelajaran kimia.
b. Dapat meningkatkan peran aktif siswa dalam pembelajaran dan
menumbuhkembangkan keterampilan proses.
c. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menemukan
konsep-konsep sains kimia, merangsang mereka aktif, kreatif, serta
menumbuhkan sikap positif mereka terhadap bidang studi kimia
yang terkesan sulit.
d. Meningkatkan hasil belajar kimia khususnya pada materi pokok
reaksi oksidasi reduksi (redoks).
2. Bagi guru
a. Memberikan wacana tentang pendekatan keterampilan proses.
b. Dapat memberikan gambaran proses pembelajaran sains sehingga
dapat merangsang dan mengembangkan pembelajaran dengan

7
pendekatan keterampilan proses.
c. Dapat memberikan contoh penggunaan pendekatan keterampilan
proses pada guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
d. Menjadi acuan guru lain dalam melaksanakan pembelajaran kimia
3. Bagi sekolah
Diperolehnya ketepatan implementasi pembelajaran sesuai dengan
tuntutan KTSP sehingga sekolah dapat bertanggung jawab terhadap mutu
pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua, dan
masyarakat pada umumnya, sehingga dengan penelitian ini sekolah akan
berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai
sasaran KTSP.

8
BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. LANDASAN TEORI
1. Pengertian belajar
Belajar sebagai aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia. Ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga
menganjurkan manusia untuk selalu melakukan kegiatan belajar. Kendati
tidak ada ajaran agama yang secara detail membahas tentang belajar,
namun setiap ajaran agama, baik secara eksplisit maupun implisit, telah
menyinggung bahwa belajar adalah aktivitas yang dapat memberikan
kebaikan kepada manusia. Aktivitas belajar ini sangat berkaitan dengan
proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan terhadap pentingnya ilmu.
Para ahli telah menjelaskan pengertian belajar dengan
mengemukakan rumusan atau definisi menurut sudut pandang masing-
masing, baik bentuk rumusan maupun aspek-aspek yang ditekankan dalam
belajar. Namun perlu diketahui bahwa di samping perbedaan terdapat pula
persamaan di antaranya belajar adalah hal yang menyenangkan.
Menurut Cronbach mengartikan belajar dengan “learning is shown
by change in behavior as a result of experiences”. Belajar sebagai suatu
aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman. Belajar menurut Clifford T. Morgan: learning may be defined
as any relatively permanent change in behavior which occur as a result of
experience or practice.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman
individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif,
afektif, dan psikomotor. Belajar selalu berkenaan dengan perubahan-
perubahan pada diri orang yang belajar, baik itu mengarah kepada yang

9
lebih baik atau pun yang kurang baik, dan direncanakan ataupun tidak.
Hal lain yang juga selalu terkait dalam belajar adalah pengalaman,
pengalaman yang berbentuk interaksi dengan orang lain atau
lingkungannya.5 Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar
menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti:
perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berfikir,
keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
Dari beberapa definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan adanya
beberapa ciri-ciri belajar yaitu:
1. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change
behavior). Ini berarti, bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari
tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku, dari yang tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil. Tanpa mengamati
tingkah laku hasil belajar, kita tidak akan dapat mengetahui ada
tidaknya hasil belajar;
2. Perubahan perilaku relatif permanen. Ini berarti, bahwa perubahan
tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap
atau tidak berubah-ubah.
3. Perubahan tingkah laku tidak harus segera diamati pada saat proses
belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat
potensial;
4. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman;
5. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan.
Selain itu, belajar yang memiliki cakupan yang begitu luas dan
komprehensip memiliki prinsip-prinsip belajar, antara lain:
a. Dalam belajar peserta didik harus diusahakan berpartisipasi aktif
meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan
instruksional,
b. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu memiliki struktur, penyajian
yang sederhana sehingga peserta didik mudah menangkap
pengertiannya,

1
0
c. Belajar harus dapat menumbuhkan reinforcement dan motivasi yang
kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional,
d. Belajar itu proses kontinyu maka harus tahap demi tahap menurut
perkembangannya,
e. Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.
2. Hasil belajar
a. Pengertian hasil belajar
Apabila berbicara tentang hasil belajar, maka tidak lepas dari
pembicaraan tentang kegiatan atau pelaksanaan belajar, mengingat
proses belajar mengajar memegang peranan yang sangat penting. Akan
tetapi sering kali guru dihadapkan pada permasalahan yang
mengganggu pembelajaran. Semua permasalahan tersebut dalam
kaitannya dengan proses belajar mengajar haruslah dapat menunjukkan
sampai dimana tercapaianya tingkat keberhasilan suatu tujuan dalam
proses belajar mengajar.
Hasil belajar terdiri dari dua kata yaitu: hasil dan belajar. Hasil
berarti: sesuatu yang diadakan oleh usaha-usaha, sedangkan pengertian
belajar adalah merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha
untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif
menetap. Dengan demikian hasil belajar merupakan kemampuan yang
diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Kemampuan di sini
adalah mampu memahami suatu ilmu pengetahuan yang didapat dari
lingkungan atau orang lain seperti halnya guru.
Menurut Nana Sudjana hasil belajar adalah suatu akibat dari
proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes
yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes
perbuatan. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
oleh siswa setelah menerima pengalaman belajar. Hasil belajar adalah
hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari
mata pelajaran yang berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Untuk
melihat hasil belajar dilakukan suatu penilaian terhadap siswa yang

1
1
bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai suatu materi
atau belum.
Dari berbagai pengertian hasil belajar di atas dapat kita
simpulkan bahwa perbuatan dan hasil belajar dapat dimanifestasikan
dalam wujud: 1) pertambahan materi pengetahuan yang berupa fakta;
informasi, prinsip atau hukum atau kaidah prosedur atau pola kerja atau
teori sistem nilai-nilai dan sebagainya; 2) Penguasaan pola-pola
perilaku kognitif (pengamatan) proses berfikir, mengingat atau
mengenai kembali, perilaku afektif (sikap-sikap apresiasi, penghayatan,
dan sebagainya), prilaku psikomotorik (keterampilanketerampilan
psikomotorik) termasuk yang bersifat ekpresif; 3) Perubahan dalam
sifat-sifat kepribadian yang baik.
b. Aspek-aspek hasil belajar
Tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan
menjadi tiga bidang yakni bidang kognitif (penguasaan intelektual),
bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) serta bidang
psikomotor (kemampuan atau keterampilan bertindak ataupun
berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan membentuk hubungan hirarki.
Sebagai tujuan yang hendak dicapai, ketiganya harus tampak sebagai
hasil belajar siswa di sekolah. Oleh sebab itu ketiga aspek tersebut,
harus dipandang sebagai hasil belajar siswa dari proses pembelajaran.
Hasil belajar tersebut nampak dalam perubahan tingkah laku, secara
teknik dirumuskan dalam sebuah pernyataan verbal melalui tujuan
pengajaran (tujuan instruksional). Dengan perkataan lain rumusan
tujuan pengajaran berisikan hasil belajar yang diharapkan dikuasai
siswa yang mencakup ketiga aspek tersebut.
Berikut ini dikemukakan unsur- unsur yang terdapat dalam
ketiga aspek hasil belajar tersebut.
1. Aspek hasil belajar bidang kognitif
Aspek hasil belajar bidang kognitif meliputi pengetahuan hafalan

1
2
(knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (application), analisis,
sintesis, dan evaluasi.
2. Aspek hasil belajar bidang afektif
Aspek hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah
laku seperti atensi atau perhatian terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar,
menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan lain-lain.
Ada beberapa tingkatan aspek afektif sebagai tujuan dan aspek hasil
belajar. Tingkatan tersebut dimulai dari tingkat yang dasar atau sederhana
sampai tingkatan yang kompleks yaitu:
a) Receiving/attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima
rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang pada siswa, baik dalam
bentuk masalah, situasi, gejala.
b) Responding atau jawaban. Yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap
stimulasi yang datang dari luar.
c) Valuing (penilaian), yakni berkenaan dengan nilai dan kepercayaan
terhadap gej ala atau stimulus tadi.
d) Organisasi, yakni pengembangan nilai sebagai suatu sistem organisasi,
termasuk menentukan hubungan satu nilai yang telah dimilikinya.
e) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai yakni keterpaduan dari semua
sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola
kepribadian dan tingkah lakunya.
3. Aspek hasil belajar bidang psikomotor
Hasil belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan
(skill), kemampuan bertindak individu (seseorang). Ada 6 tingkatan
keterampilan yakni:
a) Gerakan refleks ( ketrampilan pada gerakan yang tidak sadar)
b) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar.
c) Kemampuan perseptual termasuk didalamnya membedakan visual,
membedakan auditif motorik dan lain-lain.
d) Dan kemampuan dibidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan,
ketepatan.

1
3
e) Gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada ketrampilan
yang kompleks.
f) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non diskursif (hubungan
tanpa bahasa, melainkan melalui gerakan).

3. Pendekatan Keterampilan proses


Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran
yang bertujuan mengembangkan sejumlah kemampuan fisik dan mental
sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi pada
diri siswa. Kemampuan-kemampuan fisik dan mental tersebut pada
dasarnya telah dimiliki oleh siswa meskipun masih sederhana dan perlu
dirangsang agar menunjukkan jati dirinya. Dalam pembelajaran, pendekatan
keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan
pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang
bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya
telah ada dalam diri siswa.
Dengan keterampilan proses, siswa berupaya menemukan dan
mengembangkan konsep dalam materi ajaran. Konsep-konsep yang telah
diajarkan tersebut berguna untuk menunjang pengembangan kemampuan
selanjutnya. Interaksi antara kemampuan dan konsep melalui proses belajar
mengajar selanjutnya mengembangkan sikap dan nilai pada diri siswa,
misalnya kreativitas, kritis, ketelitian, dan kemampuan memecahkan
masalah.
a. Tujuan Pendekatan Keterampilan Proses
Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
anak didik menyadari, memahami, dan menguasai rangkaian bentuk
kegiatan yang berhubungan dengan hasil belajar yang telah dicapai
anak didik. Tujuan keterampilan proses adalah mengembangkan
kreativitas anak didik dalam belajar, sehingga anak didik secara aktif
dapat mengembangkan dan menerapkan kemampuan-kemampuannya.14
Secara khusus pendekatan keterampilan proses sebagai sumber

1
4
belajar bertujuan untuk:
1) Menyediakan berbagai macam pilihan komunikasi untuk
menunjang kegiatan kelas
2) Mendorong penggunaan cara-cara pembelajaran baru yang paling
cocok untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban-
kewajiban intruksional
3) Memberikan pelayanan dengan perencanaan produksi, operasional
dan tindakan lanjutan untuk pengembangan sistem intruksional
4) Melaksanakan latihan-latihan untuk para tenaga mengajar
mengenai pengembangan sistem instruksional dan integrasi
teknologi dalam proses belajar mengajar.
Ada beberapa alasan yang melandasi perlunya diterapkan
pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar
sehari-hari:
a. Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak
mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa.
b. Anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika
disertai dengan contoh-contoh yang kongkret, contohcontoh yang wajar sesuai
dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dengan mempraktekkan sendiri
upaya penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik, melalui
penanganan benda-benda yang benar-benar nyata.
c. Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak benar seratus persen,
penemuannya bersifat relatif, tetapi masih tetap terbuka untuk dipertanyakan,
dipersoalkan, dan diperbaiki.
d. Dalam proses belajar mengajar seyogyanya pengembangan konsep tidak
dilepaskan dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik
Kesimpulan tentang pendekatan keterampilan proses adalah:
a. Pendekatan keterampilan proses sebagai wahana penemuan dan
pengembangan fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan bagi diri siswa.
b. Fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan yang ditemukan dan
dikembangkan siswa berperan pula menunjang pengembangan keterampilan

1
5
proses pada diri siswa.
c. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan fakta, konsep,
serta prinsip ilmu pengetahuan, pada akhirnya akan mengembangkan sikap
dan nilai ilmuwan pada diri siswa.
Dengan demikian unsur keterampilan proses, ilmu pengetahuan, serta sikap
dan nilai yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran yang menerapkan pendekatan
keterampilan proses, saling berinteraksi dan berpengaruh satu dengan yang lain.
b. Jenis-jenis Kemampuan Pendekatan Keterampilan Proses
Ada 7 jenis kemampuan yang hendak dikembangkan melalui
pembelajaran berdasarkan pendekatan keterampilan proses, yakni:
1) Mengamati
Melalui kegiatan mengamati, kita belajar tentang dunia sekitar kita
yang fantastis. siswa harus mampu menggunakan alatalat inderanya:
melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasa. Dengan kemampuan
ini, siswa dapat mengumpulkan data atau informasi yang relevan dengan
kepentingan belajarnya. Informasi yang diperoleh dapat menuntut
keingintahuan, mempertanyakan, melakukan, dan melakukan interpretasi
tentang lingkungan kita, dan meneliti lebih lanjut.
2) Menggolongkan atau mengklasifikasikan
Mengklasifikasikan merupakan keterampilan proses untuk memilih
berbagai objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khususnya, sehingga
didapatkan golongan atau kelompok sejenis dari objek peristiwa yang
dimaksud.
Siswa harus terampil mengenal perbedaan dan persamaan atas hasil
pengamatannya terhadap suatu objek, serta mengadakan klasifikasi
berdasarkan ciri khusus, tujuan, atau kepentingan tertentu.
3) Menafsirkan (menginterpretasikan)
Siswa harus memiliki keterampilan menafsirkan fakta, data,
informasi, atau peristiwa. Keterampilan ini diperlukan untuk melakukan
percobaan atau penelitian sederhana.
4) Meramalkan (memprediksi)

1
6
Memprediksi dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat
ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang,
berdasarkan pola atau kecenderungan tertentu, atau hubungan antar fakta,
konsep, dan prinsip dalam ilmu pengetahuan. Siswa harus memiliki
keterampilan menghubungkan data, fakta, dan informasi. Siswa dituntut
terampil mengantisipasi dan meramalkan kegiatan atau peristiwa yang
mungkin terjadi pada masa akan datang.
5) Menerapkan
Siswa harus mampu menerapkan konsep yang telah dipelajari dan
dikuasai ke dalam situasi atau pengalaman baru. Keterampilan itu
digunakan untuk menjelaskan tentang apa yang akan terjadi dan dialami
oleh siswa dalam proses belajarnya.
6) Merencanakan penelitian
Siswa harus mampu menentukan masalah dan variabelvariabel yang
akan diteliti, tujuan, dan ruang lingkup penelitian.
7) Mengkomunikasikan
Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai menyampaikan dan
memperoleh fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk
suara, fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara,
visual, atau suara visual. Dengan mengkomunikasikan Siswa harus mampu
menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis dan
menyampaikan perolehannya, baik proses maupun hasil belajarnya kepada
siswa lain dan peminat lainnya.
Proses belajar mengajar dengan pendekatan keterampilan proses
dipandang sebagai suatu proses yang dialami oleh siswa. Belajar mengajar
tidak hanya menekankan pada materi yang dipelajari, tetapi juga
menekankan proses belajar siswa. Dalam pembelajaran, pengetahuan yang
diperoleh siswa bukan sebagai produk tetapi suatu proses untuk
memperoleh informasi dan mengolah dalam pikiran sesuai dengan langkah-
langkah metode ilmiah.

1
7
4. Materi pokok reaksi oksidasi reduksi (redoks)
a. Konsep Reaksi oksidasi reduksi
Dalam menjelaskan pengertian reaksi reduksi dan oksidasi, ada
tiga konsep yang digunakan, yaitu pengikatan-pelepasan oksigen,
perpindahan elektron, dan perubahan bilangan oksidasi.
1) Reaksi Oksidasi reduksi sebagai reaksi pengikatan dan pelepasan
oksigen
Menurut konsep pengikatan dan pelepasan oksigen, suatu zat
dikatakan mengalami oksidasi jika dalam reaksi zat ini mengikat
oksigen. Sementara itu, suatu zat dikatakan mengalami reaksi
reduksi jika dalam reaksinya zat ini melepaskan oksigen.
Berikut ini adalah contoh-contoh dari reaksi oksidasi dan
reduksi berdasarkan konsep pengikatan dan pelepasan oksigen.
Contoh:
Reaksi oksidasi
a) Oksidasi senyawa logam yang menghasilkan oksida logam
4Fe + 3O2 2Fe2O3
2Mn + O2 2MnO
b) Oksidasi senyawa sulfida menghasilkan oksida unsur logam
penyusunnya
4FeS2 + 11O2 2Fe2O3 + 8SO2
Reaksi reduksi
a) Pemanasan Oksida Logam, misalnya oksida Raksa
2HgO 2Hg + O2
b) Pemanasan kalium per klorat
2KCIO3 2KCI + 3O2
2) Reaksi oksidasi reduksi sebagai pelepasan dan penerimaan elektron
Menurut konsep ini reaksi oksidasi adalah pelepasan
elektron, sedangkan reaksi reduksi adalah penangkapan elektron.
Jadi, reaksi oksidasi dan reduksi tidak harus saling melibatkan oksigen.
Pelepasan dan penangkapan elektron terjadi secara simultan, artinya jika suatu

1
8
spesi melepas elektron berarti ada spesi lain yang menangkap elektron tersebut.
Hal ini berarti dalam setiap reaksi oksidasi pasti dijumpai reaksi reduksi. Reaksi
yang melibatkan reaksi oksidasi reduksi ini selanjutnya disebut reaksi redoks.
Contoh: reaksi antara Cu dan O2 atau antara Cu dan Cl2 dapat dituliskan dengan
persamaan berikut:

3) Oksidasi reduksi sebagai pertambahan dan penurunan bilangan


oksidasi
Reaksi oksidasi adalah reaksi yang mengalami kenaikan
bilangan oksidasi, sedangkan reaksi reduksi adalah reaksi yang
mengalami penurunan bilangan oksidasi.
Contoh:

Zn mengalami oksidasi sebab mengalami kenaikan b.o


(bilangan oksidasi) dari 0 ke +2
Cl2 mengalami reduksi sebab mengalami penurunan b.o
(bilangan oksidasi) dari +2 ke -1
b. Konsep bilangan oksidasi
Pengertian bilangan oksidasi
Bilangan oksidasi adalah bilangan yang menyatakan banyaknya
elektron yang telah dilepaskan atau diterima oleh suatu atom dalam
suatu senyawa. Harga bilangan oksidasi menunjukkan banyaknya
elektron yang dilepaskan atau diterima. Harga bilangan oksidasi dapat

1
9
positif atau negatif. Jika berharga positif berarti atom melepaskan
elektron dan jika berharga negatif artinya atom menerima elektron.
Bilangan oksidasi suatu unsur dalam unsur bebas maupun
senyawanya, dapat ditentukan dengan aturan sebagai berikut:21
No Aturan Contoh
1 Bilangan oksidasi unsur bebas adalah Bilangan oksidasi
nol atom-atom pada Ne,
H2, O2, Cl2, P4, C,
Cu, Fe, dan Na
adalah nol.

2 Bilangan oksidasi ion monoatom sama


Bilangan oksidasi
dengan muatan ionnya
Na+ = + 1, dan
seterusnya.
3 Jumlah bilangan oksidasi untuk semua Jumlah bilangan
atom dalam senyawa adalah nol oksidasi atom Cu
dan atom O dalam
senyawa CuO adalah
nol.

4 Jumlah bilangan oksidasi atom- Jumlah bilangan


atom oksidasi atom O dan
pembentuk ion poliatom sama dengan atom H dalam
muatan ion poliatom tersebut senyawa OH- adalah
-1

5 Bilangan oksidasi unsur-unsur Biloks K dalam KCl,


golongan IA KNO3, dan K2SO4 =
dalam senyawanya adalah + 1, +1
sedangkan
biloks golongan IIA dalam
6 senyawanya
Bilangan oksidasi unsur-unsur Bilangan oksidasi Cl
adalah +2.
golongan dalam NaCl, MgCl2,
VIIA dalam senyawa biner logam FeCl3 = -1
adalah -
7 1.
Bilangan oksidasi hidrogen dalam Bilangan oksidasi H
senyawanya adalah + 1, kecuali dalam dalam H2O, NH3,
hidrida, logam hidrogen dan HCl = +1
mempunyai
bilangan oksidasi -1.

2
0
8 Bilangan oksidasi oksigen dalam Bilangan oksidasi O
senyawanya adalah -2, kecuali dalam dalam H2O = -2
peroksida (biloks oksigen= -1) dan Bilangan oksidasi O
dalam dalam OF2 = +2
senyawa biner dengan flour (biloks
oksigen= +2)

c. Reaksi Autoredoks (reaksi disproporsionasi dan reaksi konproporsionasi)


Reaksi disproporsionasi adalah reaksi redoks yang oksidator dan
reduktornya merupakan zat yang sama.

Sedangkan reaksi konproporsionasi merupakan kebalikan dari reaksi


disproporsionasi, yaitu reaksi redoks yang mana hasil reduksi dan oksidasinya
sama.

Bilangan oksidasi S dalam H2S= -2


Bilangan oksidasi S dalam SO2= +4
Bilangan oksidasi S dalam S= 0
d. Menentukan nama senyawa ionik dan kovalen
1) Penamaan senyawa ion yang unsur logamnya berbiloks lebih dari satu.
Penamaan senyawa yang mengandung unsur logam berbiloks lebih
dari satu macam didasarkan pada sistem stock. Caranya dengan
membubuhkan angka romawi yang sesuai dengan bilangan oksidasi logam
dalam tanda kurung di belakang nama logam dan diikuti dengan nama
unsur nonlogam, lalu diberi akhiran –ida.
Contoh penamaan senyawa dengan unsur logam berbiloks lebih dari
satu.

2
1
Nama Jenis Biloks Jenis Biloks Rumus Nama
Kation Anion Kimia
2+
Fe Fe +2 Cl- -1 FeCl2 Besi (II)
klorida
Cu Cu+ +1 2- -2 SO4sulfat Tembaga(I)
Cu2SO4
Cu Cu2+ +2 -2 CuSO4 Tembaga(II)
sulfat

2) Penamaan senyawa ion poliatomik yang unsur nonlogamnya berbiloks


lebih dari satu
Umumnya senyawa ion poliatomik tersusun atas logam yang
berbiloks satu jenis dan ion poliatomik yang salah satu unsurnya berbiloks
lebih dari satu jenis. Penamaan senyawa seperti ini juga didasarkan pada
sistem stock. Bubuhkan angka Romawi yang sesuai dengan bilangan
oksidasi unsur dalam tanda kurung di belakang nama anion poliatomik.
Contoh penamaan senyawa ion poliatomik berdasarkan sistem
stock.
Rumus Jenis Ion Biloks Nama Nama sistem stock
Kimia Biasa
KCIO K+ +1 Kalium Kalium Klorat (I)
CIO- + 1 (Cl) Hipoklorit
KCIO K+ +1 Kalium Kalium Klorat (V)
3 - +5(Cl) Klorat
CIO3
3) Penamaan senyawa kovalen yang unsur nonlogamnya berbiloks
lebih dari satu
Penamaan senyawa kovalen yang mengandung unsur
nonlogam berbiloks lebih dari satu juga didasarkan pada sistem
stock. Caranya adalah dengan menuliskan unsur nonlogam
bermuatan positif diikuti oleh angka romawi yang sesuai dengan
bilangan oksidasinya dalam tanda kurung, sedangkan unsur

2
2
nonlogam yang bermuatan negatif diletakkan dibelakang dan diberi
akhiran –ida.
Contoh penulisan nama senyawa dengan unsur nonlogam
berbiloks lebih dari satu.
Rumus Kimia Biloks Nonlogam Nama Senyawa
NO +2 Nitrogen (II) oksida
+1 Nitrogen (I) oksida
e. Menyetarakan persamaan redoks
Dua metode sistematik yang digunakan untuk menyeimbangkan
persamaan reaksi redoks adalah metode bilangan oksidasi(oxidation
state method) dan metode ion elektron(ion electron method).
1) Metode bilangan oksidasi
Sebagai contoh adalah reaksi antara kalium permanganat
dengan natrium sulfat. Dengan adanya asam sulfat, akan membentuk
kalium sulfat, mangan (II) sulfat, natrium sulfat dan air.
Penyelesaian untuk reaksi ini mengikuti langkah-langkah sebagai
berikut:23
Langkah I
Kalium permanganat + natrium sulfit + asam sulfat kalium
sulfat + mangan (II) sulfat + natrium sulfat + air
Langkah 2

Langkah 3
Berilah bilangan oksidasi pada tiap unsur dalam persamaan di atas,

Langkah 4
Pilih unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi. Tulis
persamaan parsial dari reaksi oksidasi dan reduksinya.

2
3
Langkah 5
Letakkan koefisien di depan pereaksi dan produk yang mengandung
unsur-unsur itu dalam persamaan reaksi keseluruhan (pada langkah
2) sehingga banyaknya elektron yang dilepaskan dalam reaksi
oksidasi sama dengan banyaknya elektron yang diterima dalam
reaksi reduksi.

Langkah 6
Spesies tersisa seperti H2SO4 dan H2O ditentukan oleh banyaknya mol
spesies yang diperlukan untuk menyeimbangkan persamaan. Dalam
langkah 5 tampak bahwa 8 mol belerang (S) ditunjukkan di sebelah
kanan reaksi yang terdiri atas K2SO4, 2MnSO4, dan 5Na2SO4.
Agar di sebelah kiri juga ada 8 mol belerang(S) maka perlu
dituliskan 3 mol H2SO4, sehingga kesetaraan sementara adalah:

Selanjutnya banyaknya air (H2O) dapat disimpulkan dengan dua


cara yaitu:
(a) Banyaknya atom oksigen total yang ditunjukkan di ruas kiri
persamaan itu ada 35 dan di kanan ada 32, tidak termasuk dari
H2O. Jadi harus ditambah dengan 3 atom O, atau 3 H2O
(b) Banyaknya atom hidrogen yang ditunjukkan di kiri adalah 6 (3
mol H2SO4) jadi harus ditambah dengan 6 atom H (3H2O)
Sehingga persamaan yang seimbang adalah:

2
4
2) Metode ion elektron
Metode ini, reaksi keseluruhan dibagi menjadi dua setengah-reaksi, satu
untuk oksidasi dan satu untuk reduksi. Persamaan untuk kedua setengah-reaksi
ini disetarakan secara terpisah dan kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan
persamaan setara keseluruhannya.
Contoh: Setarakan persamaan yang menunjukkan terjadinya oksidasi ion
Fe2+ menjadi ion Fe3+ oleh ion dikromat (Cr2O72-) dalam medium asam.
Sebagai hasilnya, ion (Cr2O72-) tereduksi menjadi ion-ion Cr3+.
Jawab:
Tahap 1. Tulis persamaan tak setara untuk reaksi ini dalam bentuk ionik.

Tahap 2. Pisahkan persamaan tersebut menjadi dua setengahreaksi

Tahap 3. Setarakan atom yang bukan O dan H di setiap setengahreaksi secara


terpisah.
Setengah-reaksi oksidasi sudah setara untuk atom Fe. Untuk setengah-reaksi
reduksi kita kalikan Cr3+ dengan 2 untuk menyetarakan atom Cr.

Tahap 4. Untuk reaksi dalam medium asam, tambahkan H2O untuk


menyetarakan atom O dan tambahkan H+ untuk menyetarakan atom H.
Karena reaksi berlangsung dalam lingkungan asam kita tambahkan 7 molekul
H2O di sebelah kanan setengah-reaksi reduksi untuk menyetarakan atom O.

Untuk menyetarakan atom H, kita tambahkan 14 ion H+ di sebelah kiri:

Tahap 5. Tambahkan elektron pada salah satu sisi dari setiap setengah -reaksi

2
5
untuk menyetarakan muatan. Jika perlu, samakan jumlah elektron di kedua
setengah-reaksi dengan cara mengalikan satu atau kedua setengah-reaksi dengan
koefisien yang sesuai.
Untuk setengah-reaksi oksidasi kita tuliskan: Fe2+ Fe3++etambahkan satu elektron
di sisi kanan sehingga terdapat satu muatan 2+ pada setiap sisi dari setengah-
reaksi. Dalam setengah reaksi reduksi terdapat total 12 muatan positif pada sisi
kiri dan hanya enam muatan positif di sisi kanan. Jadi, kita tambahkan enam
elektron di sebelah kiri.

Untuk menyamakan banyaknya elektron pada kedua setengahreaksi, kita kalikan


setengah-reaksi oksidasi dengan 6:

Tahap 6. Jumlahkan kedua reaksi setengah-reaksi dan setarakan persamaan akhir


dengan pengamatan. Elektron-elektron di kedua sisi harus saling meniadakan.
Kedua setengah-reaksi dijumlahkan sehingga diperoleh

Elektron pada kedua sisi saling meniadakan, dan kita dapatkan persamaan ionik
yang sudah setara:

f. Reaksi redoks di sekitar kita


Banyak kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang melibatkan reaksi
redoks. Misalnya: perkaratan logam besi, pencucian noda pakaian
menggunakan zat pemutih, dan penyetruman akumulator kendaraan. Selain
itu, reaksi redoks dapat diterapkan diantaranya dalam pemahaman tentang
bahan-bahan pengawet berbahaya, polutan, kembang api, korosi. Selain itu
juga dapat diterapkan dalam pengolahan air limbah, dan juga dimanfaatkan
dalam beberapa kegiatan industri, seperti ekstraksi dan pemurnian logam,
serta daur ulang perak.
1) Perkaratan logam besi

2
6
Kebanyakan logam mempunyai sifat mudah berkarat.
Perkaratan logam merupakan peristiwa oksidasi logam oleh oksigen
dari udara.
Proses perkaratan besi
persamaan reaksi sebagai berikut:

2) Penyetruman akumulator
Akumulator merupakan bagian penting dalam kendaraan
bermotor. Akumulator berfungsi sebagai sumber listrik sehingga
mesin kendaraan dapat menjalankan kendaraan. Akumulator
tersusun atas kutub positif dan negatif. Kutub positif terbuat dari
Timbel (Pb), sedangkan kutub negatifnya terbuat dari Timbel (IV)
oksida. Dikutub negatif (katode) terjadi reaksi oksidasi, sedangkan
di kutub positif (anode) terjadi reaksi reduksi.
Reaksi redoks yang terjadi pada penyetruman akumulator
adalah:

3) Daur ulang perak


Logam perak banyak digunakan dalam berbagai industri,
seperti perkakas, kerajinan, dan perhiasan. Untuk alasan ekonomi
dan lingkungan, banyak industri dan laboratorium kimia yang
melakukan daur ulang. Proses pendaurulangan perak melibatkan

2
7
B. HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis berasal dari kata “Hypo” yang berarti di bawah dan “Thesa”
yang berarti kebenaran. Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat
sementara terhadap permasalahan penelitian sampai akhirnya terbukti melalui
data yang terkumpul. Dalam hal ini peneliti mengajukan hipotesis bahwa
penerapan pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan aktivitas dan
hasil belajar peserta didik pada pelajaran kimia materi pokok reaksi oksidasi
reduksi (redoks).

2
8