Anda di halaman 1dari 56

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SMA

NEGERI 1 LAHUSA PADA MATERI POKOK TATA NAMA

SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK SEDERHANA

MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN INQUIRY

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Disusun Oleh :

Titi Dewi Jayati Telaumbanua,S.Pd

NIP. 19860723201402 2 002

SMAN 1 LAHUSA

KABUPATEN NIAS SELATAN


HALAMAN PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini ditulis oleh :

Nama : Titi Dewi Jayati Telaumbanua, S.Pd

NIP : 190723 201402 2 002

Pangkat / Golongan : Penata Muda / III-a

Instansi : SMAN 1 Lahusa

Hiliabolata, April 2019

Kepala Sekolah

SMAN 1 Kembang Janggut Kepala Perpustakaan

HUWUNI BAENE, S.Pd SARIHATI HAREFA, S.Pd.K

NIP. 19801210 200903 1 002 NIP.-

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Karena dengan izin dan anugrahNya, penulis dapat menyusun dan menyelesaikan PTK

ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan PTK yang berjudul ”Penerapan

Pendekatan Inquiry Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik

Dalam Pembelajaran Kimia Pada Materi Pokok Tata Nama Senyawa Organik Dan

Anorganik Sederhana Kelas X IPA.1 SMA Negeri 1 Lahusa”, tidak mampu peneliti

selesaikan dengan baik tanpa bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Tanpa

mengurangi rasa hormat, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang

telah penulis sebutkan di atas, penulis merasa tidak dapat memberikan apa-apa kecuali

ucapan terima kasih yang tulus semoga Tuhan membalas semua kebaikan mereka

dengan balasan sebaik-baiknya.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa PTK ini masih jauh dari sempurna, baik

dari segi bahasa, isi, maupun analisisnya. Kritik dan saran sangat penulis harapkan demi

kesempurnaan PTK ini. Semoga PTK ini dapat memberikan manfaat bagi penulis

khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i

HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii

KATA PENGANTAR ..................................................................................... v

DAFTAR ISI………………… ........................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................... 3

C. Penegasan Istilah ..................................................................... 3

D. Tujuan Penelitian ...................................................................... 5

E. Manfaat Penelitian .................................................................... 5

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Landasan Teori .......................................................................................................


6
1. Pendekatan Pembelajaran 6
2. Pendekatan Inquiry ..........................................................................................
6
3. Belajar .............................................................................................................
9
a. Pengertian Belajar ...................................................................................................
9
b. Hasil Belajar ...........................................................................................................
11
c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 13
4. Tata Nama Senyawa Organik dan anorganik Sederhana 15
a. Tata Nama Senyawa Anorganik...............................................................................
15
b. Tata Nama Senyawa Organik ..................................................................................
15
5. Pembelajaran dengan Pendekatan Inquiry dalam 22

Meningkatkan
B. Hasil Belajar
Hipotesis Tindakan Peserta Didik .................................................................
.......................................................................................
22

iv
BAB III METODE PENELITIAN
24
A. Subyek Penelitian ...................................................................................................
B. Lokasi Penelitian ....................................................................................................
24
C. Kolaborator .............................................................................................................
24
D. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ...............................................................................
24
E. Desain Penelitian ....................................................................................................
25
F. Metode Pengumpulan Data .....................................................................................
30
G. Analisis Data ..........................................................................................................
30
H. Indikator Keberhasilan ...........................................................................................
31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian ..............................................................................


1. Persiapan Penelitian ....................................................................................................................
32
32
2. Kondisi Sebelum Penelitian ..................................................32

3. Perlakuan Penelitian ...............................................................35

B. Hasil Penelitian .......................................................................... 35

C. Pembahasan .............................................................................. 43

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................. 53

B. Saran .......................................................................................... 53

C. Penutup ...................................................................................... 54

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 55

LAMPIRAN

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang

sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang

dengan lingkungan. Menurut Clifford T. Morgan, “Learning is any relatively

permanent change in behavior that is the result of past experience” artinya, Belajar

adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan pengalaman masa

lalu.

Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan

tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik

perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun

yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan

kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan

pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh

peserta didik sebagai anak didik. Penggunaan metode dan strategi pembelajaran yang

kurang tepat dan menonton dalam proses belajar mengajar membuat materi pelajaran

yang disampaikan oleh guru sulit untuk dicerna oleh peserta didik. Sehingga peserta

didik menganggap materi yang disampaikan hanya sekedar informasi, akibatnya

pengetahuan itu tidak bermakna dalam kehidupan sehari-hari.

Guru merupakan komponen pengajar yang memegang peranan penting dan

6
utama, karena keberhasilan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh faktor guru.

Tugas guru adalah menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik melalui

interaksi komunikasi dalam proses belajar mengajar yang dilakukannya. Keberhasilan

guru dalam menyampaikan materi sangat tergantung pada kelancaran interaksi

komunikasi antara guru dengan peserta didiknya. Ketidaklancaran komunikasi

membawa akibat terhadap pesan yang diberikan guru. Belajar merupakan usaha untuk

mengubah tingkah laku dalam berpikir, bersikap dan berbuat. Supaya tujuan belajar

dapat optimal, maka diperlukan penerapan strategi belajar mengajar yang tepat. Agar

proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal, maka guru perlu membuat strategi,

yaitu “strategi belajar mengajar”. Kata strategi sendiri dapat diartikan sebagai suatu

rencana kegiatan yang dirancang secara seksama untuk mencapai tujuan. Strategi

belajar mengajar atau strategi pembelajaran adalah suatu rencana kegiatan pembelajaran

yang dirancang secara seksama sesuai dengan tuntutan kurikulum sekolah untuk

mencapai hasil belajar peserta didik yang optimal.

Belajar mengajar adalah suatu istilah yang mengandung makna kegiatan interaksi

antara guru dan peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dikatakan

belajar mengajar karena dalam interaksi tersebut akan terjadi pengaruh timbal balik,

artinya bukan hanya peserta didik yang belajar dari gurunya tetapi guru juga akan

banyak belajar dari kegiatan itu. Dengan kata lain guru dan peserta didik adalah dua

komponen yang menentukan dalam kegiatan belajar mengajar. Di dalam proses belajar

mengajar, guru harus memiliki strategi, agar peserta didik dapat belajar secara efektif

dan efisisen, mengena pada tujuan yang diharapkan.8 Metode

mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar peserta

7
didik.

Mata pelajaran kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam atau sains

(physical science) yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara

sistematis. Salah satu pendekatan ilmiah untuk memperoleh pengetahuan dapat

dilakukan dengan cara menyelidikinya sendiri. Pendekatan dengan cara penyelidikan

dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama “Inquiry”. Pada pendekatan ini apa yang

kita peroleh sebagian besar didasarkan oleh hasil usaha kita sendiri atas dasar-dasar

yang kita miliki. Pengajaran melalui pendekatan inquiry seperti ini tentunya akan

membawa dampak besar bagi perkembangan mental yang positif bagi peserta didik.

Sebab melalui pengajaran ini peserta didik mempunyai kesempatan yang luas untuk

mencari dan menemukan sendiri apa yang dibutuhkan.

Pendekatan inquiry merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakkan

dasar dan mengembangkan cara berfikir ilmiah. Pendekatan ini menempatkan peserta

didik lebih banyak belajar sendiri, mengemukakan kekreatifan dalam memecahkan

masalah. Peserta didik betul-betul ditempatkan sebagai subyek yang belajar. Peran guru

dalam pendekatan inquiry adalah pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Tugas

utama guru adalah memilih masalah yang perlu dilontarkan kepada kelas untuk

dipecahkan oleh peserta didik sendiri.

Dalam materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana, peserta

didik dapat mendiskusikan dan menamai antara senyawa organik dan anorganik

sederhana. Dengan pendekatan inqury peserta didiklah yang diberi kesempatan untuk

mencari dan menemukan sendiri konsepkonsep tentang penamaan tata nama senyawa

organik dan anorganik sederhana. Karena dengan pendekatan inquiry guru hanya

8
berperan sebagai fasilitator, motivator, dan menciptakan suasana kondusif.

Dengan mempertimbangkan latar belakang tersebut, maka peneliti merasa

terdorong melakukan penelitian dengan judul : Penerapan Pendekatan Inquiry Sebagai

Upaya Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Dalam Pembelajaran Kimia

Pada Materi Pokok Tata Nama Senyawa Organik Dan Anorganik Sederhana Kelas X

MIA.1 SMA Negeri 1 Lahusa.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Bagaimana upaya meningkatan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran

kimia dengan pendekatan Inquiry pada materi pokok tata nama senyawa organik dan

anorganik sederhana Kelas X Mia.1 SMAN 1 Lahusa tahun ajaran 2019/2020?

C. Batasan Masalah

Dari identifikasi masalah di atas peneliti membatasi sasaran penelitian pada

peningkatan hasil belajar siswa SMAN 1 Lahusa Kelas X MIA.1 semester ganjil pada

materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana Kelas X Mia.1

SMAN 1 Lahusa tahun ajaran 2019/2020?

Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap penelitian ini, maka perlu

dijelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul sebagai berikut:

1. Upaya

Upaya adalah sebagai usaha, akal, ihtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan

persoalan, mencari jalan keluar dan sebagainya.

2. Peningkatan

Peningkatan adalah sebagai proses, cara perbuatan meningkatkan (usaha kegiatan dan

9
sebagainya). Meningkatkan adalah menaikkan, mempertinggi, memperhebat (derajat,

tarap dan sebagainya).

3. Pendekatan Inquiry

Pendekatan Inquiry adalah pendekatan yang mempersiapkan peserta didik pada situasi

untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar mencari jawabannya sendiri.

Pendekatan inquiry merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakkan dasar

dan mengembangkan cara berpikir ilmiah. Pendekatan ini menempatkan peserta didik

lebih banyak belajar sendiri dan mengembangkan kekreatifan peserta didik dalam

memecahkan masalah. Peserta didik betul-betul ditempatkan sebagai subjek belajar.

4. Hasil belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.

Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. Pelaku aktif dalam belajar adalah peserta

didik. Hasil belajar juga merupakan hasil proses belajar, atau proses pembelajaran.

Pelaku aktif pembelajaran adalah guru. Hasil belajar yang dinilai dalam penelitian ini

adalah aspek kognitif.

5. Tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana

Materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana adalah menentukan

tata nama senyawa anorganik, penamaan senyawa biner, penamaan senyawa poliatom,

tata nama senyawa organik.

Jadi tegasnya dalam judul penelitian ini, peneliti akan meningkatkan hasil

belajar peserta didik dengan pendekatan inquiry pada materi pokok tata nama senyawa

organik dan anorganik sederhana kelas X IPA.1 SMAN 1 Kembang Janggut

D. Tujuan Penelitian

10
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar

peserta didik kelas X IPA.1 SMAN 1 Kembang Janggut dengan pendekatan Inquiry

pada materi pokok tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi peserta didik

a. Dapat meningkatkan peran aktif peserta didik dalam pembelajaran dengan pendekatan

Inquiry.

b. Memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik dalam menemukan tata nama

senyawa organik dan anorganik sederhana serta menumbuhkan sikap positif mereka

terhadap bidang studi kimia

2. Bagi guru

a. Memberikan wacana tentang pendekatan Inquiry

b. Sebagai bahan pertimbangan guru dalam pembuatan program pembelajaran

c. Dapat memberikan gambaran proses pembelajaran sains sehingga dapat merangsang

dan mengembangkan pembelajaran dengan pendekatan Inquiry

3. Bagi sekolah

a. Memberikan landasan dan argumentasi bagi kebijaksanaan yang akan diambil guna

meningkatkan mutu hasil belajar

b. Memberikan kontribusi yang baik dalam peningkatan pembelajaran untuk semua

pelajaran

4. Bagi peneliti

Menambah pengetahuan khususnya di bidang pendidikan, yaitu penerapan

11
pendekatan dalam pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Dalam penelitian ini

peneliti menerapkan pendekatan inquiry..

12
BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Landasan Teori

1. Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan adalah suatu rencana tentang cara-cara pendayagunaan dan

penggunaan potensi dan sarana yang ada untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi

(pengajaran). Dalam pendekatan terdapat metode belajar mengajar, yaitu cara atau jalan

untuk mencapai tujuan pengajaran. Antara metode dan pendekatan dibedakan,

pendekatan lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode

lebih menekankan pada teknik pelaksanaannya.

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsurunsur

manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi

mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran juga berarti meningkatkan kemampuan-

kemampuan kognitif, afektif, dan keterampilan peserta didik. Dengan menghadapi

sejumlah pembelajar, berbagai pesan yang terkandung dalam bahan ajar, peningkatan

kemampuan pembelajar, dan pemerolehan pengalaman, maka setiap guru memerlukan

pengetahuan tentang pendekatan pembelajaran.

Pendekatan pembelajaran dapat berarti anutan pembelajaran yang berusaha

meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta

didik dalam pengolahan pesan sehingga tercapai sasaran belajar. Penerapan pendekatan

dalam proses belajar mengajar diarahkan untuk mengembangkan kemampuan-

kemampuan dasar dalam diri peserta didik supaya mampu menemukan dan mengelola

13
perolehannya.

2. Pendekatan Inquiry

Inquiry berasal dari bahasa Inggris “inquiry”, yang secara harfiah berarti

penyelidikan. Carin dan Sund (1975) mengemukakan bahwa inquiry adalah the process

of investigating a problem. Pendekatan inquiry merupakan pendekatan mengajar yang

berusaha meletakkan dasar dan mengembangkan cara berpikir ilmiah. Pendekatan ini

menempatkan peserta didik lebih banyak belajar sendiri dan mengembangkan

kekreatifan peserta didik dalam memecahkan masalah. Peserta didik betul-betul

ditempatkan sebagai subjek belajar. Peranan guru dalam pendekatan inquiry adalah

pembimbing belajar dan fasilitator belajar. Sehingga tugas utama bagi guru adalah

mempersiapkan strategi pembelajaran inquiry.

Strategi pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang

menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan

menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berfikir itu

sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan peserta didik.

Sedangkan peranan guru dalam pendekatan inquiry adalah sebagai pembimbing dan

fasilitator. Sasaran utama kegiatan kegiatan pembelajaran Inquiry adalah keterlibatan

siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar.

Pendekatan inquiry di dalam kelas dapat berhasil apabila guru memperhatikan

kriteria sebagai berikut:

a. Membentuk kelompok - kelompok dengan memperhatikan keseimbangan aspek

akademik dan aspek sosial

b. Menjelaskan tugas dan menyediakan umpan balik kepada kelompok dengan cara yang

14
responsif dan tepat waktu

c. Intervensi untuk meyakinkan terjadinya interaksi antara pribadi secara sehat dan

terdapat dalam kemajuan pelaksanaan tugas

d. Melakukan evaluasi dengan berbagai cara untuk menilai kemajuan berbagai kelompok

dan hasil yang dicapai

Pendekatan inquiry dalam mengajar termasuk pendekatan modern yang sangat

didambakan untuk dilaksanakan disetiap sekolah. Adapun tuduhan bahwa sekolah

menciptakan kultur bisu, tidak akan terjadi apabila pendekatan ini digunakan. Hal ini

dikarenakan:

a. Dengan diterapkannya pendekatan inquiry dalam proses belajar mengajar seorang guru

tidak lagi menjadi sumber informasi yang secara tradisional bisa diberitahukan atau

diceramahkan saja, tetapi peserta didik diperkenankan untuk belajar sendiri sesuai

dengan potensinya.

b. Pembelajaran dengan pendekatan inquiry peserta didik melakukan suatu proses mental

intelektual dan sosial emosional yang tinggi dan kadar kreatifan peserta didik dalam

belajar akan cukup tinggi pula.

Tujuan diterapkannya pendekatan inquiry dalam pembelajaran adalah

mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau

mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan

demikian, dalam pendekatan inquiry peserta didik memiliki keunggulan yang dapat

dikemukakan sebagai berikut:

a. Peserta didik tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran,

akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang

15
dimilikinya.

b. Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang

baru.

c. Mendorong peserta didik untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap

obyektif, jujur dan terbuka.

d. Situasi belajar lebih merangsang.

Pendekatan inquiry menurut Sund and Trowbridge (1973) dibedakan menjadi tiga

macam, yaitu:

a. Inquiry terbimbing (guide inquiry); peserta didik memperoleh pedoman sesuai dengan

yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan

yang membimbing. Pendekatan ini digunakan terutama bagi para peserta didik yang

belum berpengalaman belajar dengan metode inquiry, dalam hal ini guru memberikan

bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Pada tahap awal bimbingan lebih banyak

diberikan, dan sedikit demi sedikit dikurangi, sesuai dengan perkembangan pengalaman

peserta didik. Dalam pelaksanaannya sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru.

Peserta didik tidak merumuskan permasalahan. Petunjuk yang cukup luas tentang

bagaimana menyusun dan mencatat data diberikan oleh guru.

b. Inquiry bebas (free inquiry); pada inquiry bebas peserta didik melakukan penelitian

sendiri bagaikan seorang ilmuan. Pada pengajaran ini peserta didik harus dapat

mengidentifikasikan dan merumuskan berbagai topik permasalahan yang hendak

diselidiki. Metodenya adalah inquiry role approach yang melibatkan pesrta didik dalam

kelompok tertentu, setiap anggota kelompok memiliki tugas sebagai koordinator

kelompok, pembimbing teknis, pencatat data, dan pengevaluasi proses.

16
c. Inquiry bebas yang dimodifikasi (modified free inquiry); pada inquiry ini guru

memberikan permasalahan atau problem dan kemudian peserta didik diminta untuk

memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur

penelitian.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan inquiry terbimbing,

karena peserta didik di SMAN 1 Lahusa belum berpengalaman melakukan

pembelajaran dengan pendekatan inquiry, sehingga peserta didik masih memerlukan

bimbingan dari guru selama dalam pembelajarannya. Dalam tahap awal pembelajaran

bimbingan lebih banyak diberikan, dan sedikit demi sedikit dikurangi. Hal ini dilakukan

sesuai dengan kemampuan peserta didik.

3. Belajar

a. Pengertian Belajar

Sebagai landasan penguraian mengenai apa yang dimaksud dengan belajar,

terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi:

1) Skinner berpendapat bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar,

maka responnya akan menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tak belajar maka

responnya menurun.

2) Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahwa: “Belajar

terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi peserta

didik sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia

mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”

3) Menurut Piaget, pengetahuan dibentuk oleh individu, sebab individu melakukan

interaksi terus menerus dengan lingkungan.

17
Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu

terjadi di dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Belajar juga merupakan

suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan

tetapi lebih luas lagi dari itu, yakni mengalami.

Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja

memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi peserta didiklah yang harus aktif

membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri. Belajar menurut teori

konstruktivisme adalah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian

hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat

fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia

harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Belajar merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh

suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan belajar yang

terprogram dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan

instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil

dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-

tujuan instruksional.

Proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai suatu rangkaian interaksi antara

peserta didik dan guru dalam rangka mencapai tujuan. Peserta didik perlu dibiasakan

untuk memcahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Guru tidak

akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada peserta didik. Peserta didik harus

mengkostruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, belajar merupakan suatu

18
proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi

dengan lingkungannya.

Sebelum melakukan proses belajar mengajar seorang guru menentukan

pendekatan yang akan digunakan agar tujuan pembelajaran yang telah disusun dapat

tercapai. Pemilihan suatu pendekatan tentu harus disesuaikan dengan tujuan

pembelajaran dengan sifat materi yang akan menjadi objek pembelajaran.

b. Hasil Belajar

Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia hasil belajar adalah

penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran,

lazimnya ditunjukkan dengan

nilai tes atau angka yang diberikan guru. Berikut ini beberapa pengertian tentang hasil

belajar atau prestasi belajar, antara lain: Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, hasil

belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau

kapasitas yang dimiliki seseorang.

Menurut Nana Sudjana, Hasil belajar adalah kemampuankemampuan yang

dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar

merupakan kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Hasil

belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.

Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari

sisi peserta didik, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses

belajar. Hasil belajar, untuk sebagian adalah berkat tindak guru, suatu pencapaian tujuan

pengajaran.

19
Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku pada peserta didik.

Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang

kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Hasil belajar merupakan suatu parameter yang dapat digunakan dalam

menentukan berhasil atau tidaknya tujuan suatu pendidikan yang telah dilaksanakan

dalam satuan pendidikan. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan

pendidikan, baik kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil

belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah,

yaitu:

1) Ranah kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni

pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

2) Ranah afektif

Berkenaan dengan sikap dan nilai. Pada ranah afektif terdapat beberapa jenis

kategori, yaitu: penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.

3) Ranah psikomotorik

Ranah psikomotorik ini merupakan ranah yang berkenaan dengan hasil belajar

keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranak psikomotorik, yakni

gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau

ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah

itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena

berkaitan dengan kemampuan para peserta didik dalam menguasai bahan pengajaran.

20
Jadi, hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar

setelah mengalami aktivitas belajar. Tingkah laku sebagai pengertian yang luas

mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan sebagai hasil proses

dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengertian, pemahaman,

keterampilan, kecakapan serta aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.

Hasil belajar yang dinilai dalam penelitian ini adalah ranah kognitif. Hasil belajar

kognitif diperoleh dari tes evaluasi tiap akhir siklus.

Ranah kognitif (Bloom, dkk) terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut:

1) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan

tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa,

pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau metode.

2) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang

dipelajari.

3) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi

masalah yang nyata dan baru.

4) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian

sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.

5) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.

6) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal

berdasarkan kriteria tertentu.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan atas

dua kategori yaitu faktor internal dan faktor eksternal 1) Faktor internal

21
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam individu dan dapat

mempengaruhi hasil belajar individu, seperti:

a) Faktor fisiologis

Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi

fisik individu.

b) Faktor psikologis

Faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi

proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar

adalah motivasi, minat, dan sikap.

Faktor fisiologis seperti kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan

pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, jika kondisi lemah akan

menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Maka perlu ada usaha untuk

menjaga kondisi fisik, karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Faktor psikologis seperti motivasi, minat, dan sikap juga sangat berpengaruh terhadap

hasil belajar. Motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, motivasilah

yang mendorong peserta didik ingin melakukan kegiatan belajar. Minat juga memberi

pengaruh terhadap hasil belajar, karena jika peserta didik tidak mempunyai minat, maka

tidak semangat belajar. Dalam proses belajar, sikap juga mempengaruhi hasil belajar

karena sikap gejala internal yang bereaksi relatif tetap terhadap objek baik positif

maupun negatif

2) Faktor-faktor eksternal

Faktor eksternal yang mempengaruhi has il belajar dapat digolongkan menjadi

dua golongan yaitu:

22
a) Lingkungan sosial

(1) Lingkungan sosial sekolah seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas.

(2) Lingkungan sosial masyarakat, kondisi lingkungan sosial masyarakat tempat tinggal

peserta didik akan mempengaruhi belajar peserta didik.

(3) Lingkungan sosial keluarga, hubungan antara anggota keluarga, orang tua, kakak, atau

adik yang harmonis akan membantu peserta didik melakukan aktivitas belajar dengan

baik.

b) Lingkungan non sosial

(1) Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara disekitarnya.

(2) Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam,

pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar. Kedua, software seperti

kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah.

(3) Faktor materi pelajaran, guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap

aktivitas belajar peserta didik.

Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik, karena

pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang

kondusif. Lingkungan sosial seperti sosial sekolah, sosial masyarakat, dan juga keluarga

dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar. Hubungan yang harmonis antara

ketiganya dapat menjadi motivasi bagi peserta didik untuk belajar lebih baik di sekolah,

begitupun juga lingkungan nonsosial seperti kondisi lingkungan yang tidak mendukung

juga akan mempengaruhi proses belajar peserta didik.

4. Tata Nama Senyawa Organik dan Anorganik Sederhana

Komunikasi diantara para ilmuwan adalah hal yang esensial. Tanpa komunikasi

23
tidak ada artinya sama sekali penelitian-penelitian yang telah dilakukan. Untuk ahli

kimia, komunikasi yang terpenting adalah penjelasan tentang penggunaan bahan kimia

dalam penelitian-penelitian dan untuk ini kita membutuhkan suatu cara memberi nama

senyawa kimia. Pada penelitian ini akan dipelajari bagaimana menulis rumus kimia

(formula) untuk bermacam-macam senyawa kimia dan selanjutnya akan dijelaskan

bagaimana terbentuknya senyawa tersebut.

a. Tata Nama Senyawa Anorganik

1) Penamaan senyawa biner

Persenyawaan kimia biner terdiri dari dua macam unsur. Senyawa biner dapat

terbentuk dari unsur logam dan unsur nonlogam, atau terbentuk dari unsur-unsur

nonlogam.

Misalnya, senyawa NaCl, SrO, Al2S3, Mg3P2

a) Tata nama senyawa biner yang terbentuk dari unsur logam dan nonlogam (Biner Ionik)

Persenyawaan kimia biner terdiri dari atom-atom dari dua macam unsur yang

berbeda. Jika yang satu logam, maka unsur lainnya adalah bukan logam. Maka

penamaannya adalah:

(1) Senyawa yang unsur logamnya memiliki satu bilangan oksidasi (yaitu atom unsur

golongan IA, IIA, dan IIIA), nama logam ditulis terlebih dahulu diikuti dengan nama

nonlogam, dan diberi akhiran ida.

Contoh :

NaCl = natrium klorida

KH = kalium hidrida

Na2O = natrium oksida

24
Li3N = litium nitrida

Na2S = natrium sulfida

Al2S3 = aluminium sulfida

(2) Senyawa yang unsur logamnya memiliki bilangan oksidasi lebih dari satu, muatan

logamnya dituliskan menggunakan angka romawi dalam tanda kurung.

Contoh:

FeSO4 = besi (II) sulfat

FeCl3 = besi(III) klorida

CuCl = tembaga(I) klorida

CuCl2 = tembaga(II) klorida

SnO = timah(II) oksida

Fe2O3 = besi(III) oksida

b) Tata nama senyawa biner yang terbentuk dari unsur-unsur nonlogam (Biner Kovalen)

Untuk memberi nama senyawa yang mengandung dua komponen yang terdiri dari dua

nonlogam (binary compound), maka dipakai dengan aturan sebagai berikut:

(1) Nama nonlogam yang memiliki bilangan oksidasi positif dituliskan terlebih dahulu.

Bilangan oksidasinya ditulis dengan menggunakan angka Romawi dalam tanda kurung.

Kemudian, diikuti dengan nama nonlogam yang memiliki biloks negatif dengan

menambahkan akhiran ida.

Contoh :

N2O = nitrogen(I) oksida

NO = nitrogen(II) oksida

SO3 = belerang(VI) oksida

25
SO2 = belerang(IV) oksida

PCl5 = fosfor(V) klorida

P2O5 = fosfor(V) oksida

(2) Jumlah unsur pertama ditulis terlebih dahulu, diikuti dengan nama unsur nonlogam

pertama. Kemudian, menuliskan jumlah unsur kedua, diikuti dengan nama unsur

nonlogam kedua dengan diberi akhiran ida. Jumlah unsur dinyatakan dalam bahasa

Yunani sebagai berikut:

1 = mono

2 = di

3 = tri

4 = tetra

5 = penta

6 = heksa

7 = hepta

8 = okta

9 = nona

10 = deka

Contoh :

N2O = dinitrogen oksida

NO = nitrogen oksida

P2O3 = difosfor trioksida

CCl4 = karbon tetraklorida

SO2 = belerang dioksida

26
SO3 = belerang trioksida

2) Penamaan senyawa poliatom

Senyawa poliatom adalah senyawa yang disusun oleh lebih dari dua jenis unsur.

Pada umumnya, anion suatu senyawa poliatom terbentuk dari dua jenis atom yang

berbeda. Nama

kation disebut lebih dahulu, diikuti nama anion. Anion poliatom yang mengandung

oksigen sebagai atom pusatnya dan memiliki biloks besar, diberi akhiran at. Adapun

anion poliatom yang memiliki bilangan oksidasi lebih kecil diberi akhiran it.

Contoh :

K2SO4 = kalium sulfat

K2SO3 = kalium sulfit

Na3PO4 = natrium fosfat

Na3PO3 = natrium fosfit

3) Tata Nama Asam dan Basa

Teori asam-basa yang paling sederhana pada awalnya dikemukakan oleh Svante

Arrhenius pada 1884. Menurut teori Arrhenius, asam adalah spesies yang mengandung

ion-ion hidrogen, H+ atau H3O+, dan basa mengandung ion-ion hidroksida, OH-.

Pendekatan yang lebih umum untuk asam dan basa diusulkan secara terpisah oleh

ahli kimia Denmark J. N. Bronsted dan ahli kimia Inggris T. M. Lowry. Definisi asam-

basa dari Bronsted-Lowry adalah swebagai berikut:

Asam adalah suatu zat yang memberikan proton (ion hidrogen H+) pada zat lain.

Basa adalah suatu zat yang menerima proton dari asam.

a) Tata Nama Asam

27
Senyawa asam dapat melepaskan ion hidrigen (H+) ketika dilarutkan dalam air.

Senyawa asam terdiri atas molekul biner (HCl, HF, HBr, dan H2S) dan molekul

poliatom (HNO2, HNO3, H2SO3, dan H2SO4). Senyawa asam memiliki penamaan

khusus, yaitu senyawa asam biner diberi nama dengan menyebut asam sebagai

pengganti hidrogen. Kemudian, menyebut nama atom berikutnya dengan diakhiri kata

ida.

Contoh: HF (asam fluorida), HCl (asam klorida), HBr (asam bromida), HI (asam

iodida), dan H2S (asam sulfida).

Adapun asam poliatom, terbentuk dari oksida nonlogam (oksida asam) yang

bereaksi dengan air.

Contoh:

N2O3 + H2O ĺ 2HNO2 (bilangan oksidasi N = +3)

N2O5 + H2O ĺ 2HNO3 (bilangan oksidasi N = +5)

SO3 + H2O ĺ H2SO4 (bilangan oksidasi S = +6)

P2O3 + 3H2O ĺ 2H3PO3 (bilangan oksidasi P = +3)

P2O5 + 3H2O ĺ 2H3PO4 (bilangan oksidasi P = +5) Asam yang mengandung

unsur nonlogam dengan bilangan oksidasi kecil diberi akhiran it. Adapun asam yang

mengandung unsur nonlogam dengan bilangan oksidasi besar diberi akhiran at. Contoh

rumus molekul dan tata nama asam dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Beberapa Rumus Molekul dan Tata Nama Asam

Rumus Bilangan Oksidasi Nama

Molekul
HNO2 Logam
N = +3 Asam nitrit
HNO3 N = +5 Asam nitrat

28
H2SO3 S = +4 Asam sulfit
H2SO4 S = +6 Asam sulfat

b) Tata Nama Basa

Senyawa basa termasuk senyawa poliatom yang terbentuk dari oksida logam

(oksida basa) dengan air.

Contoh :

Na2O + H2O ĺ 2NaOH

K2O + H2O ĺ 2KOH

BaO + H2O ĺ Ba(OH)2

Penamaan senyawa basa, yaitu dengan cara menyebut nama logamnya,

diikuti dengan kata hidroksida. Contoh penulisan senyawa basa dapat dilihat pada Tabel

2.2. Tabel 2.2 Tata Nama Senyawa Basa

Basa Nama
LiOH Litium hidroksida
NaOH Natrium hidroksida
Mg(OH)2 Magnesium hidroksida
Ba(OH)2 Barium hidroksida
Al(OH)3 Aluminium hidroksida

b. Tata Nama Senyawa Organik

Senyawa organik jauh lebih banyak dan lebih kompleks dibandingkan dengan

senyawa anorganik. Oleh sebab itu, diperlukan penggolongan senyawa karbon secara

sistematika selain nama lazim (nama trivial), yaitu berdasarkan kekhasan senyawa-

senyawanya. Misalnya senyawa-senyawa organik yang hanya terdiri dari unsur karbon

29
(C) dan hidrogen disebut senyawa hidrokarbon. Senyawa hidrokarbon juga masih

diklasifikasikan. Salah satu pengklasifikasian tersebut adalah pembagian senyawa

menjadi alkana, alkena, dan alkuna. Pembagian senyawa tersebut didasarkan pada ada

tidaknya ikatan rangkap dalam senyawa hidrokarbon. Senyawa-senyawa alkana

memiliki beberapa nama tergantung jumlah atom karbon yang terdapat pada senyawa

tersebut. Pada Tabel 2.3 berikut dijelaskan nama-nama senyawa alkana yang sederhana:

Tabel 2.3 Nama-nama Senyawa Alkana

Jumlah atom C Rumus Senyawa Nama


1 CH4 Metana
2 C2H6 Etana
3 C3H8 Propana
4 C4H10 Butana
5 C5H12 Pentana
6 C6H14 Heksana
7 C7H16 Heptana
8 C8H18 Oktana
9 C9H20 Nonana
10 C10H22 Dekana

Tata nama IUPAC untuk senyawa yang lain didasarkan pada tata nama alkana

dengan jumlah atom C yang bersesuaian dengan mengubah akhiran sesuai dengan nama

masing-masing senyawa. Perbandingan nama-nama senyawa organik sederhana dapat

dilihat pada Tabel 2.4.

30
Tabel 2.4 Perbandingan Nama-nama Senyawa Organik Sederhana

Jumlah Nama Nama Nama Nama

1 C
Atom Metana
Alkana -
Alkena -
Alkuna Metanol
Alkohol
2 Etana Etena Etuna Etanol
3 Propana Propena Propuna Propanol
4 Butana Butena Butuna Butanol
5 Pentana Pentena Pentuna Pentanol
6 Heksana Heksena Heksuna Heksanol
7 Heptana Heptena Heptuna Heptanol
8 Oktana Oktena Oktuna Oktanol
9 Nonana Nonena Nonuna Nonanol
10 Dekana Dekena Dekuna Dekanol

5. Pembelajaran dengan Pendekatan Inquiry dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta

didik

Salah satu komponen dalam proses pembelajaran kimia adalah penerapan suatu

pendekatan dalam pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara

efektif dan efisien. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat

memberikan nilai tambah pengetahuan atau informasi baru pada peserta didik,

sedangkan pembelajaran yang efisien adalah pembelajaran yang dengan pemanfaatan

daya yang tidak terlalu boros tetapi mendapatkan hasil yang maksimal.

Dengan menggunakan pendekatan pembelajaran inquiry, diharapkan peserta

didik sendiri yang harus aktif menemukan dan mentransfer atau membangun

pengetahuan yang akan menjadi miliknya. Peran guru dalam mengajar lebih sebagai

mediator dan fasilitator. Sehingga pembelajaran dengan pendekatan inquiry akan lebih

31
membekas dalam ingatan peserta didik.

B. HIPOTESIS TINDAKAN

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,

di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.

Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang

relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui

pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoretis

terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik.

Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah yang diteliti

yang dirumuskan atas dasar terkaan atau conjecture peneliti. Jawaban sementara ini

selanjutnya akan diuji dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian, dan hasil

pengujian itu adalah kesimpulan dan/atau generalisasi yang juga merupakan temuan-

temuan penelitian yang bersangkutan.

Berdasarkan pada paparan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Melalui pembelajaran kimia dengan pendekatan Inquiry maka hasil belajar peserta didik

kelas X MIA.1 SMAN 1 Lahusa pada materi pokok Tata nama senyawa organik dan

anorganik sederhana dapat ditingkatkan.

32
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Subjek Penelitian

Penelitian ini di lakukan di SMA Negeri 1 Lahusa. Subjek pelaku tindakan

adalah guru kimia kelas SMA Negeri 1 Lahusa dan peneliti menjadi pengamat.

Sedangkan subjek penerima tindakan adalah peserta didik kelas X MIA 1 SMA Negeri

1 Lahusa SMA Negeri 1 Lahusa yang berjumlah 20 peserta didik.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti adalah SMA Negeri 1

Lahusa berada di kabupaten Nias Selatan.

C. Kolaborator

Salah satu ciri PTK adalah kolaborasi (kerja sama) antara praktisi dan peneliti

dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang

akhirnya melahirkan kesamaan tindakan. Dalam pelaksanan tindakan di dalam kelas,

maka kerjasama (kolaborasi) antara guru dengan peneliti menjadi hal yang sangat

penting. Melalui kerjasama, mereka secara bersama menggali dan mengkaji

permasalahan nyata yang dihadapi guru dan peserta didik di sekolah.

Dalam pelaksanaannya peneliti akan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran

kimia. Guru mata pelajaran sebagai pelaku penelitian dan peneliti menjadi pengamat.

Pada pelaksanaannya terdapat beberapa kegiatan yang terangkum dalam beberapa

siklus.

33
D. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober - 4

November 2020. Rancangan pelaksanaan penelitian tindakan kelas tertera dalam Tabel

3.1 berikut:

Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian


Waktu (Minggu) ke -
No Rencana Kegiatan
2 3 4 5 1 2 3 4

1 Observasi Awal X

2 Persiapan
a. Menyusun konsep pelaksanaan
X
pembelajaran
b. Menyusun instrument penelitian
X

c. Menyepakati jadwal dan tugas


X
penelitian
d. Diskusi konsep pelaksaan penelitian
X X

3 Pelaksanaan
a. Mempersiapkan bahan
X
pembelajaran
b. Pelaksanaan Siklus I X
X
c. Melakukan refleksi tindakan siklus I
X

d. Pelaksanaan Siklus II X X
e. Melakukan refleksi tidakan siklus II
X

4 Pembuatan Laporan
a. Menyusun konsep laporan
X
penelitian
b. Penyelesaian laporan X

34
E. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau dalam

bahasa Inggris sering disebut Classroom Action Research, disingkat CAR

Penelitian tindakan kelas adalah riset tindakan (action research) yang dilakukan

dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. PTK

merupakan proses pengkajian berdaur dari berbagai kegiatan pembelajaran. PTK

menawarkan peluang sebagai strategi pengembangan kinerja melalui pemecahan

masalah-masalah pembelajaran (teaching-learning problems solving), sebab

pendekatan penelitian ini menempatkan guru sebagai peneliti sekaligus sebagai

agen perubahan. Penelitian tindakan kelas ini didasarkan atas empat konsep

pokok yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan

refleksi (reflection).

1. Perencanaan (planning)

Perencanaan yaitu merencanakan waktu penelitian dan menyusun instrumen

penelitian yang meliputi kisi-kisi dan butir soal. Rencana pelaksanaan pembelajaran

(RPP), lembar kerja Peserta Didik (LKPD) dan observasi kerja peserta didik.

2. Pelaksanaan

Pelaksanaan yaitu melakukan penelitian tindakan kelas sesuai dengan rencana

yang sudah ditetapkan dan prosedur yang akan diterapkan. Pada tahap ini dilaksanakan

pendekatan inquiry dalam pembelajaran kimia dengan langkah-langkah yang sesuai

dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan para peserta didik mengikuti

pembelajaran dengan panduan lembar kerja Peserta Didik (LKPD).

35
3. Pengamatan

Pengamatan yaitu urutan tentang hasil pengamatan dan penafsiran data

mengenai proses dan hasil tindakan yang telah diperoleh. Pengamatan dilaksanakan

pada saat proses pembelajaran berlangsung. Tujuan pengamatan ini adalah untuk

mengamati dan menilai kinerja peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran di

kelas.

4. Analisis dan refleksi

Tahap ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan

yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, dan kemudian dilakukan

evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.

Dalam tahap ini diuraikan tentang hasil observasi dan evaluasi yang berkaitan

dengan proses pelaksanaan. Data yang berupa hasil belajar dan kinerja peserta didik

dalam mengikuti proses ini dianalisis. Hasil refleksi kegiatan digunakan untuk

mengkaji pencapaian tujuan penelitian, yakni mengetahui peningkatan hasil belajar

peserta didik.

Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil

pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi,

maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang

meliputi kegiatan perencanaan ulang. Tindakan ulang dan pengamatan ulang

sehingga permasalahan dapat teratasi.Prosedur penelitian tersebut secara garis besar

dapat dijelaskan dengan Gambar 3.1 berikut.

36
Pengamatan Pengumpulan Data I

Gambar 3.1 Bagan Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas Dalam

pelaksanaannya peneliti akan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran. Guru mata

pelajaran sebagai pelaku penelitian dan peneliti menjadi pengamat. Pada

pelaksanaannya terdapat beberapa kegiatan yang terangkum dalam beberapa siklus.

Adapun siklus yang akan dilaksanakan adalah siklus I, dan siklus II yang akan

dijabarkan sebagai berikut.

6. Siklus I

a. Perencanaan (Planning)

Dalam tahap perancanaan peneliti bersama kolaborator mempersiapkan.

1) Peneliti mempersiapkan materi yang akan diajarkan.

2) Peneliti menyiapkan RPP yang akan dipakai dalam proses penelitian.

3) Peneliti menyiapkan materi yang akan didiskusikan sebagai sumber belajar dan

LKS sebagai reverensi.

4) Peneliti menyiapkan instrument penelitian, pendokumentasian, dan evaluasi.

b. Pelaksanaan (Action)

Tahap pelaksanaan dilaksanakan di dalam kelas dengan melakukan kegiatan

pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun. Adapun pembelajaran pada

37
materi tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana adalah sebagai berikut.

1) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran tata nama senyawa organik dan anorganik

sederhana, memotivasi peserta didik terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah.

2) Guru mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah

tersebut dan membagi LKS yang telah disediakan.

3) Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi tata nama senyawa

organik dan anorganik sederhana dari LKS yang telah disiapkan untuk melaksanakan

penemuan dan pemecahan masalahnya.

4) Guru membantu peserta didik merencanakan dan menyiapkan resume tentang tata nama

senyawa organik dan anorganik sederhana.

5) Guru dan peserta didik melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka

dan proses-proses yang mereka lakukan.

c. Pengamatan ( Observing)

Peneliti dan kolaborator melakukan pengamatan.

1) Selama proses pembelajaran untuk mengetahui keaktifan siswa dalam melakukan

kegiatan .

2) Pemahaman konsep dan hasil/ tes akhir.

3) Keberhasilan dan hambatan yang dialami dalam proses pembelajaran yang belum

sesuai dengan harapan penelitian. d. Refleksi (Reflecting)

Dalam tahap ini merupakan kegiatan menganalisa, mensintesa dari hasil

38
pengamatan selama proses pembelajaran pada siklus I berlangsung dan diadakan

ulangan harian yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar baik

39
secara individu maupun klasikal.

Bila ternyata pada tahap ini seluruh peserta didik belum

mencapai standar ketuntasan minimal, maka langsung dilanjutkan

dengan siklus II.

7. Siklus II

Pada siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I dengan

memperhatikan

40
hasil observasi, hasil diskusi dengan kolaborator, serta hasil belajar peserta didik juga

mengetahui ketuntasan belajar peserta didik secara individu maupun klasikal, maka

peneliti bersama kolaborator merencanakan proses pembelajaran selanjutnya. Adapun

langkah - langkah pada siklus II adalah sebagai berikut.

a. Perencanaan

Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus

II dengan melakukan revisi sesuai dengan hasil refleksi siklus I. b.

Pelaksanaan Tindakan

Peserta didik melaksanakan kegiatan belajar sesuai dengan perencanaan

pembelajaran yang telah ditentukan. Pada siklus II pelaksanaan pembelajaran perlu

dimodifikasi, sehingga diharapkan akan lebih memberi motivasi dan semangat peserta

didik dalam belajar.

c. Pengamatan ( Observasi )

Guru dan kolaborator melakukan pengamatan yang sama pada siklus I.

41
d. Refleksi

Refleksi pada siklus kedua ini dilakukan untuk melakukan penyempurnaan

pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiry yang diharapkan dapat

meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok tata nama senyawa

organik dan anorganik sederhana kelas X MAN 1 Pati tahun ajaran 2010/1011.

F. Metode Pengumpulan Data

1. Tes

Instrumen yang berupa tes dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dasar

dan pencapaian atau prestasi.53 Metode ini digunakan untuk memperoleh data hasil

belajar peserta didik yang bersumber dari serentetan pernyataan-pernyataan atau latihan

soal. Tes yang digunakan adalah ulangan dengan bentuk soal essay dengan jumlah

soalnya 10 butir yang diberikan setiap akhir siklus. Tes ini bertujuan untuk mengetahui

hasil belajar peserta didik setelah dilakukan pembelajaran dengan pendekatan

inquiry.

2. Metode dokumentasi

42
Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang- barang tertulis.

Dalam metode dokumentasi peneliti menyelidiki benda- benda tertulis.54

Metode ini digunakan untuk mendapatkan daftar peserta didik dan nilai mata

pelajaran kimia pada kelas X.

3. Metode observasi

Observasi adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek

dengan menggunakan alat indra.55 Metode ini digunakan dalam rangka mengamati

proses belajar mengajar, termasuk sistem dan metode pembelajaran yang digunakan

dan kelengkapan sarana prasarana serta pengaturan kelas dan hal-hal lain yang

berkaitan dengan penelitian.

G. Analisis Data

Penelitian ini mengunakan metode deskriptif analitis dengan menggunakan daftar

nilai kognitif peserta didik. Selanjutnya, data tersebut diperoleh pada tiap siklus

dianalisis secara deskriptif dengan menghitung percentages correction. Menurut

Sugiyono deskriptif analitis adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data

dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum

43
atau generalisasi.56 Untuk mengetahui hasil belajar peserta didik, digunakan daftar

nilai kognitif. Dalam menganalisis data digunakan rumus sebagai berikut:

Hasil belajar kognitif peserta didik dihitung sebagai berikut

Nilai

Rata-rata hasil belajar peserta didik dihitung sebagai berikut:

Keterangan:

X = Nilai rata-rata hasil belajar XX = Jumlah nilai seluruh

peserta didik N = Banyaknya peserta didik 57

Ketuntasan belajar klasikal peserta didik dihitung sebagai berikut: T n1

P = x 100%

Tn

Keterangan:

P = Prosentase ketuntasan belajar klasikal

£n1 = Jumlah peserta didik yang tuntas belajar (nilai > 6,5)

44
£n = Jumlah seluruh peserta didik

H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini

adalah:

1. Meningkatnya hasil belajar peserta didik kelas X MAN 1 Pati pada materi pokok

tata nama senyawa organik dan anorganik sederhana.

2. Tercapainya ketuntasan belajar klasikal yang menurut guru mata pelajaran

dapat dilihat pada nilai belajar peserta didik minimal 85% peserta didik mendapat nilai

lebih besar atau sama

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SIKLUS II

45
Mata Pelajaran : KIMIA

Kelas/Semester: X/1

Materi Pokok : Tata Nama Senyawa Organik dan Anorganik Sederhana

Alokasi Waktu : 5 x 45 Menit

A. Standar Kompetensi

Memahami hukum-hukum dasar kimia dan

penerapannya dalam perhitungan kimia

(stoikiometri)

B. Kompetensi Dasar

Mendeskripsikan tata nama senyawa

anorganik dan organik sederhana serta persamaan reaksinya

C. Indikator

1) Menuliskan nama senyawa organik

sederhana

2) Menuliskan tata nama senyawa asam

46
70

3) Menuliskan tata nama senyawa basa

D. Tujuan Pelajaran

Peserta didik dapat mendeskripsikan tata nama senyawa anorganik dan organik

sederhana

E. Materi Pembelajaran

Tata nama senyawa

47
71

F. Metoda Pembelajaran

Diskusi, Informasi, Tanya jawab

G. Strategi Pembelajaran
No Proses Waktu
Pembelajaran
1 2 3
1 Pertemuan Ke-1
a. Kegiatan Awal:
1)Salam, Mengabsen peserta didik 10 menit
2)Membangun semangat peserta
didik
3)Guru menyampaikan tujuan
3
1
b. Kegiatan Inti:
1)Guru menjelaskan tentang sub 5 menit
materi yang akan disampaikan
antara lain: menuliskan senyawa
organik sederhana, tata nama
senyawa asam dan basa
2)Guru membagi kelompok
diskusi
3)Guru membimbing peserta didik
untuk diskusi 45 menit
4)Peserta didik diberi kesempatan
untuk belajar sendiri sesuai
dengan potensinya
5)Peserta didik dibimbing untuk
mengembangkan kemampuan berfikir secara
sistematis, logis,
1)Tanya jawab
2)Penugasan untuk minggu depan
3)Penutup

20 menit

10 menit

2 Pertemuan ke-2 48
a. Kegiatan Awal:
1) Salam, mengabsen siswa
72

2) Menanyakan tentang materi 5 menit

yang sudah diajarkan minggu

yang lalu

Keg1i)aGtaunruInmtie: minta siwa untuk

menyampaikan materi diskusi

2)minggu yang lalu pekerjaan

rum Guru memberikan

b. ah pada siswa

3) Evaluasi
1 2 3
1)Guru menyampaikan bahwa 35 menit
3 Pertemuan ke-3
minggu depan akan diadakan tes

evaluasi
a. b. Kegiatan Awal: 10 menit
2) Penutup
1)Salam, mengabsen

2)Guru mengkondisikan kelas

Kegiatan Inti:

1)Guru meminta peserta didik

mengumpulkan pekerjaan rumah


c.
2)minggu lalu i soal evaluasi
5 menit
peserGuru membag

c. 3)ta didik mengawasi peserta

didik m Guru kan soal evaluasi 5 menit

Kegia engerja

tan Akhir:
49
5 menit

1)Guru meminta pekerjaan siswa 60 menit


H Alat/ Sumber Belajar

Buku kimia kelas X, LKS

I. Penilaian

1)Teknik = Penugasan individu

2) Bentuk Instrumen = Tes

50
73

3) Instrumen = Terlampir

Guru Mata

Pelajaran Kimia

Pati, 5

Oktober

51
Herlina Ummi

NIP: 19630927 NIM:06371100

52
53
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan

Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1999

Ali, Mohammad, Strategi Penelitian Pendidikan, Bandung: Angkasa, 1993

, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru

Algensindo, 2002

Arikunto, Suharsimi, dkk, Penelitian Tindakan Kelas,

54
Jakarta: Bumi Aksara, 2008

, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik), Edisi

Revisi, Jakarta: Rineka Cipta, 2006

Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: Rajawali

Pers, 2009

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan

Pembelajaran, Yogyakarta: Arruz Media, 2008

Brady, James E, Kimia Universitas Asas & Unsur, Terj.

Sukmariah Maun dkk, Jakarta: Binarupa

Aksara, 1999

Departemen Agama, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Kudus: Mubarokatan

Toyyibah, 2006

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 1999

Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bina

55
1