Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

Asuhan Keperawatan pada Narapidana

Dosen Pembimbing
Ns. Uji Kawuryan, M.Kep

Disusun Oleh :
Dian Puspita
Christoforus Pratama
Indra Romario
Roy Sandi

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN NON REG


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH PONTIANAK
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkat
dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan
Keperawatan pada Narapidana”. Dalam penulisan makalah ini penulis banyak
mendapatkan bantuan, saran, dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga makalah ini
dapat terselesaikan. Maka pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima
kasih yang setulus-tulusnya kepada dosen pembimbing ibu Ns. Uji Kawuryan,
M.Kep. Keluargaku tercinta yang telah banyak memberikan doa, motivasi dan
dukungan. Rekan-rekan seangkatan dan seperjuangan serta semua pihak yang telah
memberikan masukan dan dukungan dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
demi kesempurnaan makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa/i STIK
Muhammadiyah dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Pontianak, Februari 2019

Kelompok 3

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1

A.Latar Belakang ....................................................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................................................................. 3

C. Tujuan .................................................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 4

A.Pengertian .............................................................................................................................. 4

B. Etiologi ................................................................................................................................... 4

C. Masalah Kesehatan Narapidana ............................................................................................. 7

D.Klasifikasi .............................................................................................................................. 8

E. Penatalaksanaan ..................................................................................................................... 9

BAB III TINJAUAN KASUS ................................................................................................. 12

A.Konsep Askep pada Narapidana .......................................................................................... 12

B. Asuhan Keperawatan pada Narapidana ............................................................................... 16

BAB IV .................................................................................................................................... 26

PENUTUP................................................................................................................................ 26

A.Kesimpulan .......................................................................................................................... 26

B. Saran .................................................................................................................................... 26

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 27

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kunci keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup adalah ketika seseorang mampu
mempertahankan kondisi fisik, mental dan emosionalnya dalam suatu kondisi yang
optimal melalui pengendalian diri, peningkatan aktualisasi diri serta selalu menggunakan
mekanisme koping yang efektif dalam menyelesaikan masalah. Setiap individu memiliki
kekuatan, martabat, tumbuh kembang, kemandirian dan merealisasikan diri, potensi untuk
berubah, kesatuan yang utuh mulai dari bio psiko sosial dan spiritual, perilaku yang
berarti, serta persepsi, pikiran, perasaan dan gerak. Keseluruhannya merupakan suatu
rangkaian yang tidak terpisahkan (Jaya, 2015).
Menurut WHO kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada gangguan jiwa, melainkan
mengandung berbagai karakteristik yang positif yang menggambarkan keselarasan dan
keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan kepribadiannya.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 tentang
kesehatan jiwa dalam pasal 1 menyebutkan bahwa kesehatan jiwa adalah kondisi dimana
seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga
individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja
secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk kelompoknya.
Kesehatan jiwa adalah suatu keadaan sejahtera dikaitkan dengan kebahagiaan,
kegembiraan, kepuasan, pencapaian, optimisme, atau harapan. Kesehatan jiwa melibatkan
sejumlah kriteria yang terdapat dalam suatu rentang. Kriteria sehat jiwa yaitu, sikap positif
terhadap diri sendiri, berkembang aktualisasi diri dan ketahanan diri, integrasi, otonomi,
persepsi sesuai realitas, dan penguasaan lingkungan (Stuart, 2017).
Gangguan jiwa adalah pola perilaku atau psikologis yang ditunjukkan oleh individu
yang menyebabkan distres, disfungsi, dan menurunkan kualitas kehidupan. Hal ini
mencerminkan disfungsi psikobiologis dan bukan sebagai akibat dari penyimpangan sosial
atau konflik dengan masyarakat (Stuart, 2017).
Menurut Purnama, Yani, & Titin (2016) mengatakan gangguan jiwa adalah seseorang
yang terganggu dari segi mental dan tidak bisa menggunakan pikirannya secara normal.

1
2

Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di LAPAS


(Lembaga Permasyarakat). Narapidana bukan saja objek melainkan subjek yang tidak
berbeda dari manusia lainnya yang sewaktu-waktu dapat melakukan kesalahan atau
kekilafan yang dapat dikenakan pidana, sehingga tidak harus diberantas. Oleh karenanya,
yang harus diberantas adalah factor, factor yang dapat menyebabkan narapidana berbuat
hal-hal yang bertentangan dengan hokum, kesusilaan, agama, atau kewajiban- kewajiban
sosial lain yang dapat dikarenakan pidana (Malinda, Anggun 2016:26).
Seseorang yang terpaksa tinggal di lembaga pemasyarakatan karena menjalani
hukuman akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. Mereka akan mengalami kesulitan
untuk menyesuaikan kehidupannya di lembaga pemasyarakatan, tetapi mereka harus tetap
mengikuti aturan-aturan yang berlaku di lembaga pemasyarakatan. Selain itu, mereka juga
harus terpisah dari keluarganya, kehilangan barang dan jasa, kehilangan kebebasan untuk
tinggal diluar, atau kehilangan pola seksualitasnya. Hal tersebut akan menyebabkan
seseorang mendapatkan tekanan karena hidup di dalam lembaga pemasyarakatan yang
mengakibatkan mereka menjadi stres. Jika seseorang sudah mengalami stres berat, ia akan
beresiko untuk membahayakan diri sendiri maupun orang lain bahkan dapat terjadi
percobaan bunuh diri.
Stres merupakan hal yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Stres juga
merupakan tanggapan atau reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban atasnya
yang bersifat non spesifik. Namun, di samping itu stres dapat juga merupakan faktor
pencetus, penyebab sekaligus akibat dari suatu gangguan atau penyakit. Faktor-faktor
psikososial cukup mempunyai arti bagi terjadinya stres pada diri seseorang. Kehidupan
narapidana di lembaga pemasyarakatan juga selalu dijaga oleh petugas. Seluruh aktivitas
akan selalu diawasi oleh para petugas sehingga mereka merasa kesulitan untuk beraktivitas
dan selalu merasa dicurigai karena dipantau oleh petugas. Para narapidana ini merasa
dirinya tidak berguna ketika hidup di lembaga pemasyarakatan karena tidak dapat berbuat
apa-apa. Mereka juga memikirkan kehidupan setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan.
Mereka berpikir bahwa dirinya sudah dianggap penjahat oleh orang-orang sekitar sehingga
tidak mau untuk bersosialisasi dengan komunitas. Mereka juga akan merasa dirinya sulit
mendapatkan pekerjaan karena masa lalunya yang pernah ditahan di lembaga
pemasyarakatan dan sudah dianggap penjahat. Ini dapat mengakibatkan mereka merasa
dirinya tidak berguna lagi sehingga akan berdampak pada psikologisnya berupa penurunan
harga diri.
3

Stres dan harga diri rendah sangat berhubungan dan harus segera ditangani. Apabila
stres dan harga diri rendah sudah terjadi pada seorang individu, ini akan mempengaruhi
seseorang dalam berpikir dan akan mempengaruhi terhadap koping individu tersebut
sehingga menjadi tidak efektif. Bila kondisi seorang individu dengan stres dan harga diri
tidak ditangani lebih lanjut, akan menyebabkan individu tersebut tidak mau bergaul
dengan orang lain, yang menyebabkan mereka asik dengan dunia dan pikirannya sendiri
sehingga dapat muncul risiko perilaku kekerasan. Selain dapat membahayakan diri sendiri,
lingkungan, maupun orang lain juga dapat terjadi percobaan bunuh diri pada individu yang
mengalami stres dan harga diri rendah.
Perawat sebagai profesi yang berorientasi pada manusia mempuyai andil dalam
memberikan pelayanan kesehatan di LP dalam bentuk “Correctional setting” . perawat
memberikan pelayanan secara menyeluruh. Warga binaan memiliki hak untuk
mendapatkan kesejahteraan kesehatan baik fisik mauapun mental selama masa pembinaan.
Namun hal tersebut kurang mendapatkan perhatian. Kenyataannya banyak narapidana
yang mengalami gangguan psikologis seperti cemas, stress, depresi dari ringan sampai
berat (Butler, dkk. 2005).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pada narapidana ?
2. Apa faktor penyebab pada narapidana ?
3. Bagaimana klasifikasi pada narapidana
4. Apa masalah kesehatan pada narapidana
5. Bagaimana penatalaksanaan gangguan jiwa pada narapidana?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada narapidana ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pada narapidana
2. Untuk mengetahui faktor penyebab pada narapidana
3. Untuk mengetahui klasifikasi pada narapidana
4. Untuk mengetahui masalah kesehatan pada narapidana
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan gangguan jiwa pada narapidana?
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada narapidana
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Narapidana adalah orang-orang sedang menjalani sanksi kurungan atau sanksi
lainnya, menurut perundang- undangan. Pengertian narapidana menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia adalah orang hukuman (orang yang sedang menjalani hukuman karena
tindak pidana) atau terhukum.
Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di lembaga
pemasyarakatan, yaitu seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum (UU No.12 Tahun 1995). Narapidana yang diterima
atau masuk kedalam lembaga pemasyarakatan maupun rumah tahanan negara wajib
dilapor yang prosesnya meliputi: pencatatan putusan pengadilan, jati diri ,barang dan
uang yang dibawa, pemeriksaan kesehatan, pembuatan pasphoto, pengambilan sidik jari
dan pembuatan berita acara serah terima terpidana. Setiap narapidana mempunyai hak dan
kewajiban yang sudah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Narapidana yang
ditahan dirutan dengan cara tertentu menurut Undang-Undang No. 8 tahun 1981 tentang
hukum acara pidana (KUHAP) pasal 1 dilakukan selama proses penyidikan, penuntutan
dan pemeriksaan untuk disidangkan di pengadilan.Pihak-Pihak yang menahan adalah
Penyidik, Penuntut Umum, Hakim dan mahkamah agung. Pada pasal 21 KUHAP
Penahanan hanya dapat dilakukan terhadap tersangka yang melakukan tindak pidana
termasuk pencurian. Batas waktu penahanan bervariasi sejak ditahan sampai dengan 110
hari sesuai kasus dan ketentuan yang berlaku.

B. Etiologi
Faktor-faktor penyebab kejahatan sehingga sesorang menjadi narapidana adalah:
a. Faktor ekonomi
1. Sistem Ekonomi
Sistem ekonomi baru dengan produksi besar-besaran, persaingan
bebas, menghidupkan konsumsi dengan jalan periklanan, cara

4
5

penjualan modern dan lain-lain, yaitu menimbulkan keinginan untuk


memiliki barang dan sekaligus mempersiapkan suatu dasar untuk
kesempatan melakukan penipuan-penipuan.
2. Pendapatan
Dalam keadaan krisis dengan banyak pengangguran dan gangguan
ekonomi nasional, upah para pekerja bukan lagi merupakan indeks
keadaan ekonomi pada umumnya. Maka dari itu perubahan-perubahan
harga pasar (market fluctuations) harus diperhatikan.
3. Pengangguran
Di antara faktor-faktor baik secara langsung atau tidak, mempengaruhi
terjadinya kriminalitas, terutama dalam waktu- waktu krisis,
pengangguran dianggap paling penting. Bekerja terlalu muda, tak ada
pengharapan maju, pengangguran berkala yang tetap, pengangguran
biasa, berpindahnya pekerjaan dari satu tempat ke tempat yang lain,
perubahan gaji sehingga tidak mungkin membuat anggaran belanja,
kurangnya libur, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengangguran
adalah faktor yang paling penting.
b. Faktor Mental
1. Agama
Kepercayaan hanya dapat berlaku sebagai suatu anti krimogemis bila
dihubungkan dengan pengertian dan perasaan moral yang telah
meresap secara menyeluruh. Meskipun adanya faktor-faktor negatif ,
memang merupakan fakta bahwa norma- norma etis yang secara teratur
diajarkan oleh bimbingan agama dan khususnya bersambung pada
keyakinan keagamaan yang sungguh, membangunkan secara khusus
dorongan-dorongan yang kuat untuk melawan kecenderungan-
kecenderungan kriminal.
2. Bacaan dan film
Sering orang beranggapan bahwa bacaan jelek merupakan faktor
krimogenik yang kuat, mulai dengan roman-roman dari abad ke-18,
lalu dengan cerita-cerita dan gambar-gambar erotis dan pornografi,
buku-buku picisan lain dan akhirnya cerita- cerita detektif dengan
penjahat sebagai pahlawannya, penuh dengan kejadian berdarah.
Pengaruh crimogenis yang lebih langsung dari bacaan demikian ialah
6

gambaran suatu kejahatan tertentu dapat berpengaruh langsung dan


suatu cara teknis tertentu kemudian dapat dipraktekkan oleh si
pembaca. Harian- harian yang mengenai bacaan dan kejahatan pada
umumnya juga dapat berasal dari koran-koran. Di samping bacaan-
bacaan tersebut di atas, film (termasuk TV) dianggap menyebabkan
pertumbuhan kriminalitas tertutama kenakalan remaja akhir- akhir ini.
c. Faktor Pribadi
1. Umur
Meskipun umur penting sebagai faktor penyebab kejahatan, baik secara
yuridis maupun kriminal dan sampai suatu batas tertentu berhubungan
dengan faktor-faktor seks/kelamin dan bangsa, tapi faktor-faktor
tersebut pada akhirnya merupakan pengertian- pengertian netral bagi
kriminologi. Artinya hanya dalam kerjasamanya dengan faktor-faktor
lingkungan mereka baru memperoleh arti bagi kriminologi.
Kecenderungan untuk berbuat antisocial bertambah selama masih
sekolah dan memuncak antara umur 20 dan 25, menurun perlahan-
lahan sampai umur 40, lalu meluncur dengan cepat untuk berhenti
sama sekali pada hari tua. Kurve/garisnya tidak berbeda pada garis
aktivitas lain yang tergantung dari irama kehidupan manusia.
2. Alkohol
Dianggap faktor penting dalam mengakibatkan kriminalitas, seperti
pelanggaran lalu lintas, kejahatan dilakukan dengan kekerasan,
pengemisan, kejahatan seks, dan penimbulan pembakaran, walaupun
alcohol merupakan faktor yang kuat, masih juga merupakan tanda
tanya, sampai berapa jauh pengaruhnya.
3. Perang
Memang sebagai akibat perang dan karena keadaan lingkungan,
seringkali terjadi bahwa orang yang tadinya patuh terhadap hukum,
melakukan kriminalitas. Kesimpulannya yaitu sesudah perang, ada
krisis-krisis, perpindahan rakyat ke lain lingkungan, terjadi inflasi dan
revolusi ekonomi. Di samping kemungkinan orang jadi kasar karena
perang, kepemilikan senjata api menambah bahaya akan terjadinya
perbuatan-perbuatan kriminal.
7

C. Masalah Kesehatan Narapidana


a. Kesehatan Mental
Menurut data dari Bureau of justice, 1999 kira-kira 285.000 tahanan
dilembaga pemasyarakatan mengalami gangguan jiwa. Penyakit jiwa yang
sering dijumpai adalah skozofrenia, bipolar affective disorder dan personality
disorder. Karena banyak yang mengalami ganguan kesehatan jiwa maka
pemerintah harus menyediakan pelayanan kesehatan mental.
b. Kesehatan fisik
Perawatan kesehatan yang paling penting adalah penyakit kronis dan penyakit
menular seperti HIV, Hepatitis dan Tuberculosis.
1. HIV
Angka kejadian HIV diantara para narapidana diperkiraan 6 kali lebih
tinggi daripada populasi umum. Tingginya angka infeksi HIV ini
berkaian dengan perilaku yang beresiko tinggi seperti penggunaan
obat-obaan, sexual intercourse yang tidak aman dan pemakaian tato.
Pendekatan yang dilakukan utnuk menekan angka kejadian yaitu
dengan dilakukannya penegaan dan program pendidikan kesehatan
mengenai HIV dan AIDS.
2. Hepatitis
Hepatitis B dan C meningkat lebih tinggi dariopada populasi umum
walaupun data yang ada belum lengkap. Hal ini berkaitan dengan
penggunaan obat-obat lewat suntikan, tato, imigran dari daerah dengan
insiden hepatitis B dan C tinggi. National Commision on Correctional
Healt Care (NCCHC) menyarankan agar dilakukan skrining pada
semua tahanan dan jika diindikasikan maka harus segera diberikan
pengobatan. NCCHC juga merekomendasikan pendidikan bagi semua
staf dan tahanan mengenai cara penyebaran, pencegahan, pengobatan
dan kemajuan penyakit.
3. Tuberculosis
Angka TB tiga kali lebih besar di LP dibanding populasi umum. Hal
ini terkait dengan kepadatan penjara dan ventilasi yang buruk, yang
mempengaruhi penyebaran penyakit. Pada tahun 196, lembaga yang
menangani tuberculosis yaitu CC merekomendasikan pencegahan dan
pengontrolan TB di lembaga pemasyarakatan yaitu:
8

1) Diadakannya skrining TB bagi semua staf dan tahanan


2) Diadakan penegahan transmisi penyakit dan diberikan
pengobatan yang sesuai
3) Monitoring dan evaluasi skrining

D. Klasifikasi
Berdasarkan populasi narapidana yang mempunyai masalah kesehatan pada lembaga
pemasyarakatan, yaitu :
a. Wanita
Masalah kesehatan yang ada mungkin lebih komplek misalnya tahanan wanita
yang dalam keadaan hamil, meninggalkan anak dalam pengasuhan orang lain
(terpisah dari anak), korban penganiayaan dan kekerasan social,
penyalahgunaan obat terlarang. Tetapi pelayanan kesehatan yang selama ini
diberikan belum cukup maksimal untuk memenuhi kebutuhan mereka seperti
pemeriksaan ginekologi untuk wanita hamil dan korban kekerasan seksual.
NCCHC menawarkan ketentuan-ketentuan berikut untuk pemenuhan
pelayanan kesehatan :
1. LP memberikan pelayanan lengkap secara rutin termasuk pemeriksaan
ginekologi secara koprehensif.
2. Pelayanan kesehatan komprehensif meliputi kesehatan reproduksi,
korban dari penipuan, konseling berkaitan dengan peran sebagai orang
tua dan pemakaian obat- obatan dan alcohol.
b. Remaja
Meningkatnya jumlah remaja yang terlibat tindak kriminal membuat mereka
harus ikut dihukum dan ditahan seperti orang dewasa. Hal ini akan menghalagi
pemenuhan kebutuan untuk berkembang seperti perkembangan fisik, emosi
dan nutrisi yang dibutuhkan. Para remaja ini akan mempunyai masalah-
masalah kesehatan seperti kekerasan seksual, penyerangan oleh tahanan lain
atau tindakan bunuh diri. Disini perawat harus memantau tingkat
perkembangan dan pengalaman mereka dan perlu waspada bahwa pada usia
ini paling rentan terkena masalah kesehatan.
9

E. Penatalaksanaan
a. Psikoterapi
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang
lain, penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak
mengasingkan diri lagi karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk
kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau
latihan bersama. (Maramis,2005,hal.231).
b. Keperawatan
Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok
stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi
aktivitas kelompok stimulasi realita dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi
(Keliat dan Akemat,2005,hal.13). Dari empat jenis terapi aktivitas kelompok
diatas yang paling relevan dilakukan pada individu dengan gangguan konsep
diri harga diri rendah adalah terapi aktivitas kelompok stimulasi
persepsi.Terapi aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi
yang mengunakan aktivitas sebagai stimulasi dan terkait dengan pengalaman
atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok, hasil diskusi kelompok
dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.(Keliat
dan Akemat,2005).
c. Terapi kerja
Terapi kerja atau terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan
partisipasi seseorang untuk melaksanakan tugas tertentu yang telah ditetapkan.
Terapi ini berfokus pada pengenalan kemampuan yang masih ada pada
seseorang, pemeliharaan dan peningkatan bertujuan untuk membentuk
seseorang agar mandiri, tidak tergantung pada pertolongan orang lain (Riyadi
dan Purwanto, 2009).
1. Terapi kerja pada narapidana laki laki
1) Pelatih binatang
Bekerja sebagai pelatih sekaligus merawat binatang- binatang
dianggap dapat membantu narapidana untuk mendapatkan
terapi secara psikologis dan menjadi lebih terlatih secara
emosional. Binatang yang dilatih tidak hanya binatang
peliharaan, namun juga binatang yang ditinggalkan atau
dibuang oleh pemiliknya. Diharapkan nantinya binatang-
10

binatang ini juga dapat berguna di masyarakat, sama seperti


narapidana yang mendapatkan pelatihan untuk dapat diterima
dan bekerja dengan masyarakat lainnya.
2) Bidang kuliner
Dapur yang ada di penjara juga dapat dimanfaatkan sebagai
pelatihan memasak bagi para narapidana. Meskipun ada yang
mendapatkan pekerjaan sederhana seperti membuka kaleng,
banyak pula yang mendapatkan pelatihan memasak secara
khusus, mulai dari membuat menu hingga menyusun anggaran.
Beberapa penjara juga bekerja sama dengan restoran lokal
untuk memberi pelatihan ini. Selain itu, dengan pekerja di
dapur, mereka tidak perlu banyak berinteraksi dengan
masyarakat yang mungkin memandang negatif.
3) Konseling
Meskipun Anda mungkin tidak berencana untuk
berkonsultasi pada mantan penjahat, namun di penjara,
narapidana diberikan pengetahuan mengenai rehabilitasi dan
terapi konseling. Hal ini dikarenakan narapidana memiliki
pengalaman yang membuat mereka lebih mengerti mengenai
tindak kejahatan.
Dengan pelatihan ini, mereka diharapkan untuk dapat
memberikan konseling dengan lebih baik kepada orang-orang
yang bermasalah berdasarkan pengalaman pribadi mereka serta
pelatihan yang mereka terima.
2. Terapi kerja pada anak
1) Keterampilan
Agar narapidana anak menjadi terampil dan juga sebagai bekal
baginya setelah kembali kemasyarakat nantinya, kepada mereka
di berikan latihan kerja. Pemberian latihan kerja ini dapat
dilakukan oleh lembaga pemasyarakatan sedangkan tempat
penentuan kerja dan jenis pekerjaan yang akan diberikan
kepada narapidana ditetapkan oleh Tim Pengamat
Pemasyarakatan. Latihan kerja ini berupa latihan kerja di
11

bidang pertanian, Perkebunan, Pengelasan, Penjahitan dan lain


sebagainya.
3. Terapi kerja pada narapidana perempuan
Program pembentukan perilaku wirausaha narapidana di Lapas IIB
Sleman dilaksanakan melalui pembinaan soft kill dan hard skill dengan
pendekatan perilaku wirusaha. Pembinaan soft skill yang dilaksanakan
yaitu pembinaan intelektual, pembinaan kerohanian dan pembinaan
rekreatif. Pembinaan hard skill yang dilaksanakan yaitu pembinaan
keterampilan dan kemandirian melalui bimbingan kerja.Ketrampilan
khusus yang di latihkan pada naraidana perempuan berupa ketrampilan
hidup seperti pertukangan kayu, kerajinan sapu, las listrik, batik tulis,
kerajinan sangkar burung,perkebunan, dan pembuatan souvenir.
BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Konsep Askep pada Narapidana


a. Pengkajian
1. Identitas klien
1) Nama
2) Umur
3) Jenis kelamin
4) Tanggal dirawat
5) Tanggal pengkajian
6) Nomor rekam medis
2. Faktor predisposisi
1) Genetik
2) Neurobiologis : penurunan volume otak dan perubahan sistem
neurotransmiter.
3) Teori virus dan infeksi
3. Faktor presipitasi
1) Biologis
2) Sosial kutural
3) Psikologis
4. Penilaian terhadap stress
5. Sumber koping
1) Disonasi kognitif ( gangguan jiwa aktif )
2) Pencapaian wawasan
3) Kognitif yang konstan
4) Bergerak menuju prestasi kerja
6. Mekanisme koping
1) Regresi( berhubungan dengan masalah dalam proses informasi dan
pengeluaran sejumlah besar tenaga dalam upaya mengelola
anxietas)

12
13

2) Proyeksi ( upaya untuk menjelaskan presepsi yang


membingungkan dengan menetapkan tanggung jawab kepada
orang lain)
3) Menarik diri
4) Pengingkaran

b. Diagnosa keperawatan yang muncul pada narapidana


1. Harga Diri Rendah

c. Harga Diri Rendah


Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh
dengan menganalisis seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. (Gail.
W. Stuart, 2007).
Tanda dan gejala dari HDR meliputi DS dan DO yaitu :
DS:
1. Mengejek dan mengkritik diri.
2. Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri
sendiri.
3. Menunda keputusan.
4. Merusak diri: harga diri rendah menyokong klien untuk mengakhiri
hidup.
5. Perasaan tidak mampu.
6. Pandangan hidup yang pesimitis.
7. Tidak menerima pujian.
8. Penurunan produktivitas.
9. Penolakan tehadap kemampuan diri.
DO :
1. Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi, gangguan
penggunaan zat.
2. Kurang memperhatikan perawatan diri.
3. Berpakaian tidak rapi.
4. Berkurang selera makan.
5. Tidak berani menatap lawan bicara.
6. Lebih banyak menunduk.
14

7. Bicara lambat dengan nada suara lemah.


8. Merusak atau melukai orang lain.
9. Sulit bergaul.
10. Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas.
11. Menarik diri dari realitas, cemas, panic, cemburu, curiga dan
halusinasi.
Dalam HDR juga terdapat faktor predisposisi yaitu:
1. Faktor yang mempengaruhi harga diri
2. Faktor yang mempengaruhi peran.
3. Faktor yang mempengaruhi identitas diri.
4. Faktor biologis
Faktor presipitasi dalam HDR yang mana stressor pencetus dapat
berasal dari internal dan eksternal, yaitu:
1. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan peristiwa yang mengancam kehidupan.
2. Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang
diharapkan dan individu mengalaminya sebagai frustasi.
Rentang Respon

Pohon masalah yang muncul menurut Fajariyah (2012) :


15

d. Intervensi keperawatan
Diagnosa 1. Harga Diri Rendah
Tujuan umum: klien tidak terjadi gangguan interaksi sosial, bisa berhubungan
dengan orang lain dan lingkungan.
Tujuan khusus:
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan
diri,
2.1 Jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,
3.1 Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
4.1 Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan
perasaannya
5.1 Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
6.1 Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang
berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong
dirinya sendiri
2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki
Tindakan :
2.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2.2 Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien,
2.3 Utamakan memberi pujian yang realistis
2.4 Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
4.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
4.2 Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang
ke rumah
4) Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
4.1 Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap
hari sesuai kemampuan
16

4.2 Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien


4.3 Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

5) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan


Tindakan :
5.1 Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5.2 Beri pujian atas keberhasilan klien
5.3 Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
6.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat
klien
6.2 Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
6.3 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
6.4 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

B. Asuhan Keperawatan pada Narapidana

Tanggal Pengkajian : 18 Februari 2019


Tanggal Masuk : 18 Oktober 2018
Ruang : Rajawali

a. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Tn. A
Umur : 24 Tahun
Alamat : Singkawang
Status Perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Melayu / Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Tidak ada
Penanggung Jawab
17

Nama : Ny. P
Hubungan dengan Klien : Ibu Kandung
Alamat : Singkawang

2. Alasan Masuk
Dua bulan sebelum masuk lapas klien melakukan tindakan pencurian.

3. Faktor Predisposisi
1) Klien belum pernah melakukan kejahatan sebelumnya.
2) Klien dan keluarga memiliki ekonomi yang susah
3) Klien mempunyai pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu
ketika sekolah selalu di bully.

4. Pemeriksaan Fisik
1) Tanda – tanda vital
1.1 Tekanan darah : 130/80 mmHg
1.2 Nadi : 84 x/menit
1.3 Suhu : 36,5 ºC
1.4 Pernafasan : 26 x/menit
2) Ukuran
2.1 Tinggi badan : 169 cm
2.2 Berat badan : 62 Kg
3) Kondisi Fisik
Klien tidak mengeluh sakit apa – apa, tidak ada kelainan fisik.

5. Psikososial
1) Konsep Diri
1.1 Citra Tubuh : Klien mengatakan bagian tubuh yang paling disukai
adalah mata karena bisa melihat.
1.2 Identitas : Klien mengatakan anak ke-2 dari 3 bersaudara.
1.3 Peran : Klien mengatakan di dalam keluarganya atau dirumah
sebagai anak.
1.4 Ideal diri : Klien mengatakan merasa takut jika keluar dari lapas
18

1.5 Harga diri : Klien mengatakan malu berhadapan langsung dengan orang
lain selain ibu dan adiknya,klien merasa tidak pantas jika berada diantara
orang lain, kurang interaksi social karena statusnya sebagai narapidana.
Masalah Keperawatan : Harga diri rendah
2) Hubungan Sosial
2.1 Orang yang dekat dengan klien adalah ibu dan adiknya.
2.2 Peran serta kelompok / masyarakat : sebelum klien masuk lapas
sering keluyuran tidak jelas
3) Spiritual
Klien mengatakan jarang sholat dalam 5x sehari, akan tetapi selama di
lapas pasien sering sholat.
4) Status Mental
4.1 Penampilan : Penampilan klien kurang rapi, rambut jarang disisir,
klien menggunakan baju yang disediakan di lapas.
4.2 Pembicaraan : Klien berbicara lambat tetapi dapat tercapai dan dapat
dipahami.
4.3 Aktivitas Motorik : Klien lebih banyak menunduk, aktivitas klien
menyesuaikan.
4.4 Alam perasaan : Klien mengatakan merasa malu jika masa tahanan
nya sudah selesai karena takut tidak diterima oleh masyarakat
4.5 Afek : Klien tidak sesuai dalam berfikir, bicara klien lambat
4.6 Interaksi selama wawancara : Kontak mata kurang karena
menunduk,sesekali klien menengadah,selalu menjawab jika ditanya.
4.7 Persepsi : Halusinasi saat pengkajian tidak ditemukan.
4.8 Pola Fikir : Tidak ada waham.
4.9 Tingkat kesadaran : Klien sadar hari, tanggal dan waktu saat
pengkajian, hari jum’at tanggal 18 Februari 2019 jam 16.30
WIB,hari berikutnya juga klien sadar hari sabtu tanggal 19 Februari
2019.
4.10 Memori : Daya ingat jangka panjang klien masih ingat masa
lalunya.
4.11 Tingkat konsentrasi dan berhitung : Klien berhitung lancar, contoh
20 – 15= 5
19

4.12 Kemampuan Penilaian : Klien mampu menilai antara masuk


kamar setelah makan atau membiarkan kursi tidak rapi, klien
memilih membereskan kursi.
4.13 Daya Tilik Diri : Klien tahu dan sadar bahwa dirinya dirumah
sakit jiwa.

6. Pola Fungsional Kesehatan


1) Makan
Klien makan 3x sehari, pagi, siang, sore, minum ± 6 gelas / hari, mandiri.
2) BAB / BAK
Klien BAB 1x sehari, BAK ± 4x sehari, mandiri.
3) Mandi
Klien mandi 2x sehari, pagi dan sore, gosok gigi setiap kali mandi,
mandiri.
4) Berpakaian / berhias
Klien mampu berpakaian sendiri tanpa bantuan orang lain.
5) Istirahat dan Tidur
Klien lebih banyak tiduran, tidur siang 12.30 WIB15.00 WIB,tidur malam
jam 20.00WIB 04.30 WIB.
6) Penggunaan obat
Klien minum obat 3x sehari setelah makan. Haloperidol 2x5 mg,
trihexiperidine 2x2 mg.
7) Pemeliharaan Kesehatan
Klien sudah pernah periksa di RSJD Soedjarwadi Klaten tetapi rawat
jalan.
8) Kegiatan di Dalam Rumah
Klien dirumah membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah

7. Mekanisme Koping
1) Klien mampu berbicara dengan orang lain,terlihat malu
2) Klien mampu menjaga kebersihan diri sendiri
3) Klien mampu jika ada masalah tidak menceritakan kepada orang lain,lebih
suka diam.
Masalah Keperawatan : Koping Individu Tidak Efektif.
20

8. Masalah Psikososial dan Lingkungan


1) Masalah berhubungan dengan lingkungan : Klien menarik diri dari
lingkungan
2) Masalah dengan kesehatan (-)
3) Masalah dengan perumahan :Klien tinggal dengan kedua orang tua dan 2
saudaranya.
4) Masalah dengan Ekonomi : Kebutuhan klien dipenuhi oleh ibunya akan
tetapi ekonomi keluarganya sulit.

9. Aspek Medik
1) Diagnosa Medis : Schizofrenia
2) Terapi
 Haloperidol 2x5 mg
 Trihexiperidine 2x2 mg
3) Masalah Keperawatan
3.1 Harga Diri Rendah
3.2 Menarik Diri
3.3 Koping Individu Tidak Efektif
4) Pohon Masalah

Menarik Diri

Harga diri rendah

Koping individu tidak efektif

b. Analisa Data
No Data Etiologi Problem

1. Ds : Koping Individu Harga Diri Rendah


o Klien mengatakan Tidak Efektif
teman berkurang
21

semenjak di lapas
o Klien malu dengan
teman karena klien
merasa tidak pantas
diantara mereka
o Klien mengatakan malu
untuk jika keluar dari
lapas karena statusnya
sebagai napi

Do :
o Klien tampak malu saat
berbicara

c. Diagnosa Keperawatan
1. Harga diri rendah b/d koping individu tidak efektif

d. Intervensi
No Dx.Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Intervensi

1. Harga Diri Rendah TUM


berhubungan Klien dapat Klien mampu 1. Lakukan pendekatan
dengan Koping melakukan duduk dengan baik, menerima
Individu Tidak keputusan yang berdampingan klien apa adanya dan
Efektif efektif untuk dengan bersikap empati
mengendalikan perawat 2. Cepat mengendalikan
situasi Klien mampu perasaan dan reaksi
kehidupan berbincang - perawatan diri sendiri
yang demikian bincang misalnya rasa marah
menurunkan dengan ,empati.
perasaan perawat 3. Sediakan waktu untuk
22

rendah diri Klien mampu berdiskusi dan bina


TUK 1 merespon hubungan yang sopan.
Klien dapat tindakan 4. Berikan kesempatan
menbina perawat kepada klien untuk
hubungan merespon.
terapeutik
dengan perawat
TUK 2 Klien dapat 1. Tunjukan emosional
Klien dapat mengungkapk yang sesuai
mengenali dan an 2. Gunakan tekhnik
mengekspresik perasaannya komunikasi terapeutik
an emosinya Klien mampu terbuka,
mengenali 3. Bantu klien
emosinya dan mengekspresikan
dapat perasaannya
mengekspresi 4. Bantu klien
kannya mengidentifikasikan
situasi kehidupan yang
tidak berada dalam
kemampuan dan
mengontrolnya
5. Dorong untuk
menyatakan secara
verbal perasaan –
perasaan yang
berhubungan dengan
ketidak mampuannya.
23

TUK 3 Klien dapat 1. Diskusikan masalah


Klien dapat mengidentifik yang dihadapi klien
memodifikasi asi pemikiran dengan memintanya
pola kognitif yang negatif untuk menyimpulkannya
yang negative Klien dpat 2. Identifikasi pemikiran
menurunkan negatif klien dan bantu
penilaian untuk menurunkan
yang melalui interupsi dan
negatifpada substitusi
dirinya. 3. Evaluasi ketetapan
persepsi logika dan
kesimpulan yang dibuat
klien
4. Kurangi penilaian klien
yang negatif terhadap
dirinya
5. Bantu klien menerima
nilai yang dimilikinya
atau perilakunya atau
perubahan yang terjadi
pada dirinya.
TUK 4 Klien 1. Libatkan klien dalam
Klien dapat mampu menetapkan tujuan yang
berpartisipasi menentukan ingin dicapai
dalam kebutuhan 2. Motivasi klien untuk
mengambil untuk membuat jadwal
keputusan yang perawatan aktivitas perawatan
berkenan pada dirinya dirinya
dengan Klien dapat 3. Berikan privasi sesuai
perawatan berpartisipasi kebutuhan yang
dirinya dalam ditentukan
pengambilan 4. Berikan reinsforcement
keputusan posotif tentang
24

pencapaian kegiatan
yang telah sesuai dengan
keputusan yang
ditentukannya

e. Implementasi dan Evaluasi


Tanggal No Implementasi Evaluasi
/ Jam
18 1. Bina hubungan saling S :
Februari percaya dengan : Klien menjawab salam dan
2019 Menyapa klien dengan mengatakan selamat
Jam ramah pagi,menyebutkan nama dan
12.30 Memperkenalkan diri alamat
dengan sopan O:
Menanyakan nama -Klien mau berjabat tangan
lengkap serta alamat -Klien mau duduk berdampingan
klien dengan perawat
Menunjukan sikap -Klien mau mengutarakan
empati, jujur dan masalahnya
menempati janji A : SP 1 tercapai
Menanyakan masalah P :
yang dihadapi  Lanjutkan SP 2 adakan
kontrak waktu
pertemuan berikutnya.
 Anjurkan klien untuk
dapat menyapa perawat
jika bertemu dan
percaya jika perawat
akan membantu
masalah yang dihadapi
19 2. Bina hubungan terapeutik S :
Februari dengan perawat dengan : Klien mau duduk berdampingan
25

2019 Pendekatan dengan dengan perawat


Jam baik ,menerima klien O :
15.30 apa adanya - Klien mampu berbincang – bincang
Mengidentifikasi dengan perawat
perasaan dan reaksi -Klien mampu merespon tindakan
perawatan diri sendiri perawat.
Menyediakan waktu A : SP 2 tercapai
untuk bina hubungan P :
yang sopan  Lanjutkan SP 3 adakan
Menberikan kontrak waktu pertemuan
kesempatan untuk berikutnya.
merespon
 Anjurkan klien mampu
berkomunikasi,mampu
memulai berbicara dan
tidak janggung.
20 3. Mengidentifikasi S:
Februari kemampuan dan aspek Klien mengatakan cara penilaian
2019 positif yang dimiliki positif tidak boleh berfikir jelek
Jam dengan : terhadap orang lain,sopan santun dan
17.00 Membantu ramah yang diutamakan.
mengidentifikasi O:
dengan aspek yang Klien dapat mengungkapkan
positif perasaannya
Mendorong agar A : SP 3 teratasi sebagian
berpenilaian positif P:
Membantu  lanjutkan SP 1 keluarga
mengungkapkan
perasaannya  Anjurkan klien untuk
mempertahankan hubungan
saling percaya berinteraksi
secara terarah.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di lembaga
pemasyarakatan, yaitu seseorang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum (UU No.12 Tahun 1995). Seseorang yang terpaksa
tinggal di lembaga pemasyarakatan karena menjalani hukuman akan mempengaruhi
kondisi psikologisnya. Mereka akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan
kehidupannya di lembaga pemasyarakatan, tetapi mereka harus tetap mengikuti aturan-
aturan yang berlaku di lembaga pemasyarakatan. Selain itu, mereka juga harus terpisah
dari keluarganya, kehilangan barang dan jasa, kehilangan kebebasan untuk tinggal diluar,
atau kehilangan pola seksualitasnya.
Faktor-faktor yang menyebabkan seorang menjadi narapidana adalah faktor ekonomi,
faktor mental, dan faktor pribadi. Masalah kesehatan yang muncul pada narapidana yang
berada di lapas yaitu kesehatan mental dan fisik. Kebanyakan masalah kesehatan terjadi
pada narapidana wanita dan remaja karena adanya koping tidak efektif. Penatalaksanaan
pada narapidana yang mengalami gangguan jiwa yaitu terapi psikoterapi, keperawatan,
terapi kerja.
Perawat sebagai profesi yang berorientasi pada manusia mempuyai andil dalam
memberikan pelayanan kesehatan berupa asuhan keperawatan kepada semua masyarakat
bahkan narapidana sekalipun, karena banyak narapidana yang mengalami gangguan
psikologis seperti cemas, stress, depresi dari ringan sampai berat (Butler, dkk. 2005).

B. Saran
Sebagai tenaga profesional tindakan perawat dalam penangan masalah keperawatan
khusunya pada narapidana harus memiliki pengetahuan yang luas dan tindakan yang
dilakukan harus rasional sesuai gejala penyakit dan asuhan keperawatan hendaknya
diberikan secara komprehensif, biopsikososial cultural dan spiritual.

26
DAFTAR PUSTAKA

Syafaat, Rachmad. 2002. Dagang Manusia-Kajian Trafficking Terhadap Perempuan


dan Anak di Jawa Timur . Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama.
Sumardi. Mulyanto. 1982. Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok . Jakarta: Rajawali.
Halfiah. Fikri. (2009). Perdagangan Manusia. .
http://kubil.blogspot.com/2009/06/perdagangan- manusia.html.
Karundeng, Narwasti Vike.2005.Sosialisasi Penyadaran Isu Trafiking : APA ITU
TRAFIKING.[terhubung berkala] http://osdir.com/ml/culture.region.
indonesia.ppi- india/2005-03/msg01095.html(24 Februari 2011)