Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Proses terwujudnya sebuah kesehatan nasional pastinya turut di
dukung dari berbagai elemen yang melengkapi berjalanya proses tersebut.
Salah satunya adalah rumah sakit.
Kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan oleh
masyarakat dalam kehidupan, dengan memiliki hidup yang sehat sesorang
dapat menjalani dan melakukan aktifitasnya dengan baik. Untuk
meningkatkan kesehatan selain upaya yang dilakukan oleh diri sendiri dalam
menjaga kesehatan, dibutuhkan juga adanya upaya yang menunjang pelayanan
kesehatan lainya seperti, rumah sakit, puskesmas, apotek, dan lainya guna
meningkatkan kesehatan pasien.
Menurut WHO (World Health Organization), Rumah Sakit adalah
bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi
menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit
(kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah
sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat
penelitian medik.
Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit,
yang dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Oleh karena itu dalam mencapai pemenuhan kemampuan calon para
tenaga ahli dan tenaga pelayanan kesehatan, khususnya di bidang farmasi
seperti yang diharapkan. Maka setiap perguruan tinggi khususnya Universitas
Negeri Gorontalo, merealisasikan program pendidikan yang telah di gariskan
pada kurikulum jurusan farmasi agar pada setiap mahasiswa tingkat III di
wujudkan untuk melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) atau magang, di

1
beberapa tempat pelayanan kesehatan salah satunya di Rumah Sakit Siti
Khadijah Kota Gorontalo. Praktek kerja lapangan (PKL) sangat membantu
mahasiswa tingkat III sebagai calon sarjana farmasi untuk menambah
pengetahuan serta mengenal lebih jauh kegiatan kefarmasian dan kegiatan lain
yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan khususnya dibidang farmasi
di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Siti Khadijah Kota Gorontalo. Hal tersebut
mencakup pengelolaan mulai dari perencanaan, pengelolaan, pengadaan,
penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada pasien,
farmasi klinik, sampai dengan pengendalian semua perbekalan kesehatan yang
beredar dan digunakan di rumah sakit.
Dengan praktek kerja lapangan ini diharapkan nantinya dapat
memahami tugas dan tanggung jawab sebagai sarjana farmasi di Rumah sakit,
Puskesmas, Apotek dan instalasi-instalasi lainyya.
I.2 Tujuan Praktek Kerja Lapangan
I.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari praktek kerja lapangan adalah untuk memberikan
gambaran secara nyata kepada mahasiswa mengenai kegiatan pelayanan
kesehatan, dan farmasi klinik di rumah sakit.
I.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui dan memahami tentang kegiatan pelayanan resep di Rumah
Sakit Ibu dan Anak Siti Khadija Kota Gorontalo
2. Mengetahui dan memahami tentang pengelolaan obat di Rumah Sakit Ibu
dan Anak Siti Khadija Kota Gorontalo
3. Mendapatkan pengalaman langsung tentang kegiatan pelayanan kesehtan
di rumah sakit dan mengaplikasikan ilmu yang telah di pelajari selama
perkuliahan melalui kegiatan yang ada di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti
Khadijah Kota Gorontalo
4. Mengetahui peran dan fungsi sarjana farmasi di rumah Sakit Ibu dan Anak
Siti Khadija Kota Gorontalo.

2
I.3 Manfaat Praktek Kerja Lapangan
1. Menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat
selama perkuliahan
2. Melatih kemampuan dan keterampilan mahasiswa dalam keterkaitanya
antara teori dan praktek
3. Menumbuhkan sikap propesional yang diperlukan mahasiswa dalam
memasuki lapangan kerja dibidang farmasi

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Landasan Teori
II.1.1 Pengertian Rumah Sakit
Menurut WHO (World Health Organization), Rumah Sakit adalah
bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi
menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit
(kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah
sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat
penelitian medik.
Berdasarkan undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
yang dimaksudkan dengan Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
II.1.2 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
Rumah Sakit mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang
bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya
pelayanan kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan
mengutamakan penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi
dan terpadu dengan peningkatan dan pencegahan serta pelaksanaan upaya
rujukan (Wijono, 1997)
Menurut Suryanti (2002), Untuk menyelenggarakan fungsinya, maka
rumah sakit menyelenggarakan kegiatan:
a. Pelayanan medis.
b. Pelayanan dan asuhan keperawatan.
c. Pelayanan penunjang medis dan nonmedis.
d. Pelayanan kesehatan kemasyarakatan dan rujukan.
e. Pendidikan, penelitian dan pengembangan.

4
f. Administrasi umum dan keuangan.
Sedangkan menurut undang-undang No. 44 tahun 2009 tentang rumah
sakit, fungsi rumah sakit adalah:
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
dengan standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan
medis.
c. Penyelenggaaan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam
rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta pengaplikasian
teknologi dalam bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang
kesehatan.
II.1.3 Klasifikasi Rumah Sakit
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.340/Menkes/Per/III/2010, rumah sakit dapat diklasifikasikan berdasarkan
kepemilikan, jenis pelayanan, dan kelas.
1. Berdasarkan kepemilikan.
Rumah sakit yang termasuk ke dalam jenis ini adalah rumah sakit
pemerintah (pusat, provinsi, dan kabupaten), Rumah Sakit Badan Usaha
Milik Negara (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/ ABRI), dan
Rumah Sakit yang modalnya dimiliki oleh Badan Usaha Milik Swasta
(BUMS) ataupun Rumah Sakit milik luar Negeri atau Penanaman Modal
Asing (PMA).
2. Berdasarkan Jenis Pelayanan.
Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah rumah sakit umum, rumah
sakit jiwa, dan rumah sakit khusus (misalnya rumah sakit jantung, ibu dan
anak, rumah sakit mata, dan lain-lain).

5
3. Berdasarkan Kelas.
Rumah sakit berdasarkan kelasnya dibedakan atas rumah sakit kelas
A, B, kelas C, kelas D.
a. Rumah sakit umum kelas A, adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik
luas dan subspesialistik luas.
b. Rumah sakit umum kelas B, adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik sekurang-
kurangnya sebelas spesialistik dan subspesialistik terbatas.
c. Rumah sakit umum kelas C, adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik
dasar.
d. Rumah sakit umum kelas D, adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik dasar.
4. Berdasarkan Afiliasi Pendidikan, Terdiri Atas 2 Jenis Yaitu:
1. Rumah Sakit Pendidikan, yaitu Rumah Sakit yang menyelenggarakan
program latihan untuk berbagai profesi.
Rumah Sakit Pendidikan FKUI (Fakultas Kedokteran
Universitas Negeri Gorontalo) adalah rumah sakit terkemuka seperti
RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) yang merupakan Pusat
Rujukan Nasional, RS Jantung Harapan Kita yang merupakan Pusat
Jantung Nasional, RS Persahabatan yang merupakan Pusat Respirasi
Nasional, RS Dharmais yang merupakan Pusat Kanker Nasional, dan
RS Sulianto Saroso yang merupakan Pusat Infeksi.
2. Rumah Sakit Non Pendidikan, yaitu Rumah Sakit yang tidak
menyelenggarakan program latihan untuk berbagai profesi dan tidak
memiliki hubungan kerjasama dengan universitas.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 44 tahun
2009, menyatakan bahwa rumah sakit pendidikan merupakan rumah

6
sakit yang menyelenggarakan pendidikan dan penelitian secara terpadu
dalam bidang pendidikan profesi kedokteran, pendidikan kedokteran
berkelanjutan, dan pendidikan tenaga kesehatan lainnya. Rumah sakit
dapat ditetapkan menjadi rumah sakit pendidikan setelah memenuhi
persyaratan dan standar rumah sakit pendidikan yang ditetapkan oleh
menteri setelah berkoordinasi dengan menteri yang membidangi
urusan pendidikan.
II.1.4 Pelayanan Kefarmasian
Sesuai dengan Permenkes Nomor 58 Tahun 2014 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit bahwa pelayanan Farmasi Rumah
Sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan
Rumah Sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan
obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi
semua lapisan masyarakat. Farmasi Rumah Sakit bertanggung jawab terhadap
semua perbekalan farmasi yang beredar di Rumah Sakit tersebut.
Pelayanan diselenggarakan dan diatur demi berlangsungnya pelayanan
farmasi yang efisien dan bermutu, Berdasarkan fasilitas yang ada dan standar
pelayanan keprofesian yang bersifat umum, adanya bagan organisasi yang
menggambarkan uraian tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab serta
hubungan koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan farmasi yang
ditetapkan oleh pimpinan Rumah Sakit.
Adapun tujuan dan fungsi pelayanan farmasi di rumah sakit menurut
keputusan menteri kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Tujuan pelayanan farmasi di rumah sakit, yaitu:
a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan
biasa maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan
pasien maupun fasilitas yang tersedia

7
b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan
prosedur kefarmasian dan etika profesi
c. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai
obat
d. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku
e. Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah
dan evaluasi
f. Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, dan
evaluasi pelayanan
g. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metode
2. Fungsi pelayanan farmasi di rumah sakit, yaitu :
a. Pengelolaan perbekalan farmasi :
− Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit
− Merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal
− Mengadakan perbekalan farmasi berpedoman pada perencanaan
yang telah dibuat sesuai ketentuan yang berlaku
− Memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan di rumah sakit
− Menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan
ketentuan yang berlaku
− Menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan
persyaratan kefarmasian
− Mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di
rumah sakit.
b. Pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat kesehatan
- Mengkaji instruksi pengobatan/resep pasien
- Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat
dan alat kesehatan

8
- Mencegah dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan obat dan
alat kesehatan
- Memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat
kesehatan
- Memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien/keluarga
- Memberi konseling kepada pasien/keluarga
- Melakukan pencampuran obat suntik
- Melakukan penyiapan nutrisi parenteral
- Melakukan perencanaan kebutuhan, melakukan penanganan obat
kanker
- Melakukan penentuan kadar obat dalam darah
- Melakukan pencatatan setiap kegiatan
- Melaporkan setiap kegiatan.
II.2 Pengelolaan Perbekalan Farmasi Di Rumah Sakit
Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang
menjamin seluruh rangkaian kegiatan perbekalan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan ketentuan yang
berlaku serta memastikan kualitas, manfaat, dan keamanannya. Pengelolaan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan
suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan, perencanaan kebutuhan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pemusnahan dan
penarikan, pengendalian, dan administrasi yang diperlukan bagi kegiatan
Pelayanan Kefarmasian.
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai harus dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir dan
menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali
biaya. Dalam ketentuan Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Nomor 44 Tahun
2009 tentang Rumah Sakit menyatakan bahwa Pengelolaan Alat Kesehatan,

9
Sediaan Farmasi, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit harus
dilakukan oleh Instalasi Farmasi sistem satu pintu. Alat Kesehatan yang
dikelola oleh Instalasi Farmasi sistem satu pintu berupa alat medis habis
pakai/peralatan non elektromedik, antara lain alat kontrasepsi (IUD), alat pacu
jantung, implan, dan stent.
Sistem satu pintu adalah satu kebijakan kefarmasian termasuk
pembuatan formularium, pengadaan, dan pendistribusian Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang bertujuan untuk
mengutamakan kepentingan pasien melalui Instalasi Farmasi. Dengan
demikian semua Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai yang beredar di Rumah Sakit merupakan tanggung jawab Instalasi
Farmasi, sehingga tidak ada pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang dilaksanakan selain oleh
Instalasi Farmasi.
Dengan kebijakan pengelolaan sistem satu pintu, Instalasi Farmasi
sebagai satu-satunya penyelenggara Pelayanan Kefarmasian, sehingga Rumah
Sakit akan mendapatkan manfaat dalam hal:
1. Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian penggunaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
2. Standarisasi Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai;
3. Penjaminan mutu Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai;
4. Pengendalian harga Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai;
5. Pemantauan terapi Obat
6. Penurunan risiko kesalahan terkait penggunaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (keselamatan pasien);

10
7. kemudahan akses data Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai yang akurat;
8. peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit dan citra Rumah Sakit; dan
9. peningkatan pendapatan Rumah Sakit dan peningkatan kesejahteraan
pegawai.
Rumah Sakit harus menyusun kebijakan terkait manajemen pengunaan
Obat yang efektif. Kebijakan tersebut harus ditinjau ulang sekurang-
kurangnya sekali setahun. Peninjauan ulang sangat membantu Rumah Sakit
memahami kebutuhan dan prioritas dari perbaikan sistem mutu dan
keselamatan penggunaan Obat yang berkelanjutan.
Rumah Sakit perlu mengembangkan kebijakan pengelolaan Obat
untuk meningkatkan keamanan, khususnya Obat yang perlu diwaspadai (high-
alert medication). High-alert medication adalah Obat yang harus diwaspadai
karena sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel event)
dan Obat yang berisiko tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang Tidak
Diinginkan (ROTD). Kelompok Obat high-alert diantaranya:
1. Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan
Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA).
2. Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2meq/ml atau yang
lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%, dan
magnesium sulfat =50% atau lebih pekat).
3. Obat-Obat sitostatika
Alur pengelolaan sediaan farmasi meliputi empat fungsi dasar, yaitu
seleksi (selection), perencanaan dan pengadaan (procurement), distribusi dan
penyimpanan (distribution) dan (storage), serta penggunaan (use) yang
meliputi monitoring dan evaluasi (monitoring) dan (evaluation) yang
memerlukan dukungan dari organisasi (organization), pendanaan (financing),
pengelolaan informasi (information management) dan pengembangan sumber
daya manusia (human resources) (Quick dkk., 1997).

11
Menurut Permenkes RI No 58 tahun 2014, pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai merupakan proses yang
berkesinambungan yang dimulai dari pemilihan dan, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian, pemusnahan dan penarikan, pengendalian dan
administrasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan kefarmasian. Kegiatan
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
meliputi:
II.2.1 Pemilihan
Menurut Permenkes RI Nomor 58 tahun 2014 Pemilihan adalah
kegiatan untuk menetapkan jenis sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan
medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan. Pemilihan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai ini berdasarkan:
a) Formularium dan standar pengobatan/pedoman diagnosa dan terapi.
b) Standar sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang
telah ditetapkan
c) Pola penyakit
d) Efektifitas dan keamanan
e) Pengobatan berbasis bukti
f) Mutu
g) Harga
h) Ketersediaan di pasaran
Formularium Rumah Sakit disusun mengacu kepada Formularium
Nasional. Formularium Rumah Sakit merupakan daftar Obat yang disepakati
staf medis, disusun oleh Komite/Tim Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh
Pimpinan Rumah Sakit (Permenkes RI No. 72, 2016).
Formularium Rumah Sakit harus tersedia untuk semua penulis Resep,
pemberi Obat, dan penyedia Obat di Rumah Sakit. Evaluasi terhadap
Formularium Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan revisi sesuai
kebijakan dan kebutuhan Rumah Sakit (Permenkes RI No. 72, 2016).

12
Penyusunan dan revisi Formularium Rumah Sakit dikembangkan
berdasarkan pertimbangan terapetik dan ekonomi dari penggunaan Obat agar
dihasilkan Formularium Rumah Sakit yang selalu mutakhir dan dapat
memenuhi kebutuhan pengobatan yang rasional.
Tahapan proses penyusunan Formularium Rumah Sakit:
a) membuat rekapitulasi usulan Obat dari masing-masing Staf Medik
Fungsional (SMF) berdasarkan standar terapi atau standar pelayanan
medik;
b) mengelompokkan usulan Obat berdasarkan kelas terapi;
c) membahas usulan tersebut dalam rapat Komite/Tim Farmasi dan Terapi,
jika diperlukan dapat meminta masukan dari pakar;
d) mengembalikan rancangan hasil pembahasan Komite/Tim Farmasi dan
Terapi, dikembalikan ke masing-masing SMF untuk mendapatkan umpan
balik;
e) membahas hasil umpan balik dari masing-masing SMF;
f) menetapkan daftar Obat yang masuk ke dalam Formularium Rumah Sakit;
g) menyusun kebijakan dan pedoman untuk implementasi; dan
h) melakukan edukasi mengenai Formularium Rumah Sakit kepada staf dan
melakukan monitoring.
Kriteria pemilihan Obat untuk masuk Formularium Rumah Sakit:
a) mengutamakan penggunaan Obat generik;
b) memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling
menguntungkan penderita;
c) mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas;
d) praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan;
e) praktis dalam penggunaan dan penyerahan;
f) menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien;
g) memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi
berdasarkan biaya langsung dan tidak lansung; dan

13
h) Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence
based medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan dengan harga
yang terjangkau.
Dalam rangka meningkatkan kepatuhan terhadap formularium Rumah
Sakit, maka Rumah Sakit harus mempunyai kebijakan terkait dengan
penambahan atau pengurangan Obat dalam Formularium Rumah Sakit dengan
mempertimbangkan indikasi penggunaaan, efektivitas, risiko.
II.2.2 Perencanaan
Perencanaan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah dan
periode pengadaan sediaan farmasi, alat kesahatan dan bahan medis habis
pakai sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin terpenuhinya
kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien (Permenkes RI No. 72,
2016).
Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan Obat dengan
menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar
perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi,
kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi dan disesuaikan dengan
anggaran yang tersedia.
Pedoman perencanaan harus mempertimbangkan:
a) Anggaran yang tersedia;
b) Penetapan prioritas;
c) Sisa persediaan;
d) Data pemakaian periode yang lalu;
e) Waktu tunggu pemesanan; dan
f) Rencana pengembangan.
II.2.3 Pengadaan Sediaan Farmasi
Pengadaan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk
merealisasikan perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus
menjamin ketersediaan, jumlah, dan waktu yang tepat dengan harga yang

14
terjangkau dan sesuai standar mutu. Pengadaan merupakan kegiatan yang
berkesinambungan dimulai dari pemilihan, penentuan jumlah yang
dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan dana, pemilihan metode
pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan spesifikasi kontrak, pemantauan
proses pengadaan, dan pembayaran (Permenkes RI No. 72, 2016).
Untuk memastikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai sesuai dengan mutu dan spesifikasi yang dipersyaratkan
maka jika proses pengadaan dilaksanakan oleh bagian lain di luar Instalasi
Farmasi harus melibatkan tenaga kefarmasian (Permenkes RI No. 72, 2016).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai antara lain:
a) Bahan baku Obat harus disertai Sertifikat Analisa.
b) Bahan berbahaya harus menyertakan Material Safety Data Sheet (MSDS).
c) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai harus
mempunyai Nomor Izin Edar.
d) Masa kadaluarsa (expired date) minimal 2 (dua) tahun kecuali untuk
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai tertentu
(vaksin, reagensia, dan lain-lain), atau pada kondisi tertentu yang dapat
dipertanggung jawabkan.
Rumah Sakit harus memiliki mekanisme yang mencegah kekosongan
stok Obat yang secara normal tersedia di Rumah Sakit dan mendapatkan Obat
saat Instalasi Farmasi tutup. Pengadaan dapat dilakukan melalui:
a) Pembelian
Untuk Rumah Sakit pemerintah pembelian Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai harus sesuai dengan ketentuan
pengadaan barang dan jasa yang berlaku.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelian adalah:
1) Kriteria Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai, yang meliputi kriteria umum dan kriteria mutu Obat.

15
2) Persyaratan pemasok.
3) Penentuan waktu pengadaan dan kedatangan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
4) Pemantauan rencana pengadaan sesuai jenis, jumlah dan waktu.
b) Produksi sediaan farmasi
Instalasi Farmasi dapat memproduksi sediaan tertentu apabila:
1) Sediaan Farmasi tidak ada di pasaran;
2) Sediaan Farmasi lebih murah jika diproduksi sendiri;
3) Sediaan Farmasi dengan formula khusus;
4) Sediaan Farmasi dengan kemasan yang lebih kecil/repacking;
5) Sediaan Farmasi untuk penelitian; dan
6) Sediaan Farmasi yang tidak stabil dalam penyimpanan/harus dibuat
baru (recenter paratus).
Sediaan yang dibuat di Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan
mutu dan terbatas hanya untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di Rumah
Sakit tersebut.
II.2.4 Sumbangan/Dropping/Hibah
Instalasi Farmasi harus melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap
penerimaan dan penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai sumbangan/dropping/ hibah (Permenkes RI No. 72, 2016).
Seluruh kegiatan penerimaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai dengan cara sumbangan/dropping/hibah harus
disertai dokumen administrasi yang lengkap dan jelas. Agar penyediaan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dapat
membantu pelayanan kesehatan, maka jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai harus sesuai dengan kebutuhan pasien di
Rumah Sakit. Instalasi Farmasi dapat memberikan rekomendasi kepada
pimpinan Rumah Sakit untuk mengembalikan atau menolak
sumbangan/dropping/hibah Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan

16
Medis Habis Pakai yang tidak bermanfaat bagi kepentingan pasien Rumah
Sakit (Permenkes RI No. 72, 2016).
II.2.5 Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam
kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Semua
dokumen terkait penerimaan barang harus tersimpan dengan baik (Permenkes
RI No. 58, 2014).
II.2.6 Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan dan memelihara dengan cara
menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai
aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat.
Menurut Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan (2010), tujuan
penyimpanan adalah:
a) Memelihara mutu sediaan farmasi
b) Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab
c) Menjaga ketersediaan
d) Memudahkan pencarian dan pengawasan
Menurut peraturan Menteri kesehatan Nomor 58 tahun 2014 tentang
Standar pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit bahwa untuk menjamin
kualitas dan keamanan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai harus sesuai dengan persyaratan kefarmasian yang meliputi persyaratan
stabilitas dan keamanan, sanitasi, cahaya, kelembaban dan ventilasi.
Komponen yang harus di perhatikan dalam penyimpanan antara lain:
a) Obat dan bahan kimia yang digunakan untuk mempersiapkan obat diberi
label yang secara jelas terbaca memuat nama, tanggal pertama kemasan
dibuka, tanggal kadaluwarsa dan peringatan khusus.
b) Elektrolit konsentrasi tinggi tidak disimpan di unit perawatan kecuali
untuk kebutuhan klinis yang penting.

17
c) Elektrolit konsentrasi tinggi yang disimpan pada unit perawatan pasien
dilengkapi dengan pengaman, harus diberi label yang jelas dan disimpan
pada area yang dibatasi ketat (restricted) untuk mencegah penatalaksanaan
yang kurang hati-hati.
d) Sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang dibawa
oleh pasien harus disimpan secara khusus dan dapat diidentifikasi. Sistem
penyimpanan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai yang harus disimpan terpisah yaitu. Bahan yang mudah terbakar,
disimpan dalam ruang tahan api dan diberi tanda khusus bahan berbahaya.
Menurut Suliyanto dkk., 2011 Syarat penyimpanan bahan yang mudah
terbakar:
1) Ruang dingin dan berventilasi
2) Jauh dari sumber panas atau api
3) Tersedia alat pemadam kebakaran
Metode penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi,bentuk
sediaan, dan jenis sediaan farmasi, alat kesehatan, danbahan medis habis pakai
dan disusun secara alfabetis dengan menerapkan prinsip First Expired First
Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO) disertai sistem informasi
manajemen. Penyimpanan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai yang penampilan dan penamaan yang mirip (LASA, Look Alike
Sound Alike) tidak ditempatkan berdekatan dan harus diberi penandaan khusus
untuk mencegah terjadinya kesalahan pengambilan Obat. Rumah Sakit harus
dapat menyediakan lokasi penyimpanan obat emergensi untuk kondisi
kegawat daruratan. Tempat penyimpanan harus mudah diakses dan terhindar
dari penyalahgunaan dan pencurian. Pengelolaan obat emergensi harus
menjamin:
a) Jumlah dan jenis obat sesuai dengan daftar obat emergensi yang telah
ditetapkan.
b) Tidak boleh bercampur dengan persediaan obat untuk kebutuhan lain.

18
c) Bila dipakai untuk keperluan emergensiharus segera diganti.
d) Dicek secara berkala apakah ada yang kadaluwarsa.
e) Dilarang untuk dipinjam untuk kebutuhan lain.
Indikator penyimpanan obat terbagi sebagai berikut (Pudjaningsih,
1996):
a) Persentase kecocokan antara barang dan stok komputer atau kartu stok
b) Turn Over Ratio (TOR), Menurut Eko & Djokopranoto (2003), Turn Over
Ratio (TOR) adalah rasio antara pengeluaran/penggunaan/penjualan dan
persediaan. Makin tinggi Turn Over Ratio (TOR) berarti makin cepart
perputaran persediaan, yang berarti pula pemanfaatan investasi makin
tinggi atau makin efisien. Makin rendah Turn Over Ratio (TOR) berarti
perputaran modal atau investasi makin lambat dan makin tidak efisien.
c) Sistem penataan gudang
d) Persentase nilai obat yang kadaluarsa atau rusak
e) Persentase stok mati
f) Persentase nilai stok akhir obat
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan barang :
1) Desain gudang
2) Prosedur penyimpanan
3) Lokasi gudang
4) Pemakaian alat bantu
5) Jenis barang
Selain ditentukan oleh besarnya ruangan gudang, kapasitas gudang juga
ditentukan oleh tata letak (layout) ruangan. Gudang dengan desain layout
yang tidak teratur dan tidak rapi menunjukkan ketidakefisienan pengaturan.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan pengaturan barang yang didesain sesuai
dengan arus masuk barang barang yakni slow moving (barang yang
perputarannya lambat) atau fast moving (barang yang perputarannya cepat)
(Apple, 1990).

19
II.2.7 Pendistribusian
Pendistribusian adalah kegiatan dalam rangka menyalurkan atau
menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien dengan tetap
menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketepatan waktu. Rumah Sakit
harus menentukan sistem distribusi yang dapat menjamin terlaksananya
pengawasan dan pengendalian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan
medis habis pakai di unit pelayanan (Permenkes RI No. 72, 2016).
Sistem distribusi di unit pelayanan dapat dilakukan dengan cara:
a) Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan (floor stock)
1) Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai untuk persediaan di ruang rawat disiapkan dan dikelola
oleh Instalasi Farmasi.
2) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang
disimpan di ruang rawat harus dalam jenis dan jumlah yang sangat
dibutuhkan.
3) Dalam kondisi sementara dimana tidak ada petugas farmasi yang
mengelola (di atas jam kerja) maka pendistribusiannya didelegasikan
kepada penanggung jawab ruangan.
4) Setiap hari dilakukan serah terima kembali pengelolaan obat floor
stock kepada petugas farmasi dari penanggung jawab ruangan.
5) Apoteker harus menyediakan informasi, peringatan dan kemungkinan
interaksi Obat pada setiap jenis Obat yang disediakan di floor stock.
b) Sistem Resep Perorangan
Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai berdasarkan Resep perorangan/pasien rawat jalan dan rawat
inap melalui Instalasi Farmasi.
Beberapa keuntungan penerapan sistem resep perorangan yaitu:
1) Semua resep atau pesanan obat individu dapat diskrining oleh apoteker

20
2) Ada kesempatan berinteraksi professional antara apoteker, dokter, dan
perawat.
3) Memungkinkan pengendalian yang lebih dekat terhadap perbekalan
farmasi yang dikelola
4) Proses penagihan biaya obat menjadi lebih muda
Beberapa kekurangan penerapan sistem resep perorangan yaitu:
1) Berpotensi terlambatnya sediaan obat sampai ke ruang penderita,
terutama bila pelayanannya secara sentralisasi
2) Jumlah kebutuhan personil meningkat
3) Menyita waktu perawat untuk menyiapkan obat tiap pasien pada saat
konsumsi obat
4) Berpotensi terjadu kesalahan obat karena kurangnya pemeriksaan pada
saat penyiapan konsumsi.
c) Sistim Unit Dosis
Pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai berdasarkan Resep perorangan yang disiapkan dalam unit
dosis tunggal atau ganda, untuk penggunaan satu kali dosis/pasien. Sistem
unit dosis ini digunakan untuk pasien rawat inap.
Beberapa keuntungan sistim unit dosis yaitu:
1) Pasien menerima pelayanan 24 jam sehari dan pasien hanya membayar
obat yang dikonsumsi.
2) Perawat tinggal menyerahkan obat yang sudah disiapkan dalam
kemasan untuk sekali konsumsi, sehingga perawat dapat fokus pada
tugas utamanya dalam merawat pasien.
3) Kesalahan obat dapat diminimalisir karena resep atau order obat
diskrining oleh apoteker dan petugas yang menyerahkan obat kepada
pasien dapat melakukan pengecekan ulang sebelum obat diserahkan.
4) Tidak terjadi duplikasi permintaan obat yang berlebihan
5) Menghindari kerugian biaya obat yang tidak terbayar oleh pasien

21
6) Menghindari pencurian dan pemborosan obat
Beberapa keuntungan sistim unit dosis yaitu:
1) Biaya pengemasan perdosis
2) Membutuhkan tenaga sumber daya manusia yang banyak
3) Biaya lebih mahal
d) Sistim Kombinasi
Sistem pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai bagi pasien rawat inap dengan menggunakan
kombinasi a + b atau b + c atau a + c.
Sistem distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) sangat dianjurkan
untuk pasien rawat inap mengingat dengan sistem ini tingkat kesalahan
pemberian Obat dapat diminimalkan sampai kurang dari 5% dibandingkan
dengan sistem floor stock atau Resep individu yang mencapai 18%.
Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau
oleh pasien dengan mempertimbangkan:
1) Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada; dan
2) Metode sentralisasi atau desentralisasi
II.2.8 Pemusnahan dan Penarikan
Pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan
medis habis pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara
yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
(Permenkes RI No. 72, 2016).
Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan
dengan cara yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku (Permenkes RI No. 72, 2016).
Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan
peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan
perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi

22
sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall) dengan tetap memberikan
laporan kepada Kepala BPOM (Permenkes RI No. 72, 2016).
Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan
terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh Menteri (Permenkes RI No.
72, 2016).
Pemusnahan dilakukan untuk Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai bila:
a) Produk tidak memenuhi persyaratan mutu;
b) Telah kadaluwarsa;
c) Tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan
atau kepentingan ilmu pengetahuan; dan/atau
d) Dicabut izin edarnya.
Tahapan pemusnahan terdiri dari:
a) Membuat daftar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai yang akan dimusnahkan;
b) Menyiapkan Berita Acara Pemusnahan;
c) Mengkordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak
terkait;
d) Menyiapkan tempat pemusnahan; dan
e) Melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan
serta peraturan yang berlaku.
II.2.9 Pengendalian
Pengendalian dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan
penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
Pengendalian penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai dapat dilakukan oleh Instalasi Farmasi harus bersama
dengan Komite/Tim Farmasi dan Terapi di Rumah Sakit (Permenkes RI No.
72, 2016).

23
Tujuan pengendalian persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai adalah untuk:
a) Penggunaan Obat sesuai dengan Formularium Rumah Sakit;
b) Penggunaan Obat sesuai dengan diagnosis dan terapi; dan
c) Memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan dan
kekurangan/kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, dan kehilangan serta
pengembalian pesanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai.
Cara untuk mengendalikan persediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai adalah:
a) Melakukan evaluasi persediaan yang jarang digunakan (slow moving);
b) Melakukan evaluasi persediaan yang tidak digunakan dalam waktu tiga
bulan berturut-turut (death stock);
c) Stok opname yang dilakukan secara periodik dan berkala.
II.2.10 Administrasi
Administrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan untuk
memudahkan penelusuran kegiatan yang sudah berlalu (Permenkes RI No. 72,
2016).
Kegiatan administrasi terdiri dari:
a) Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian,
pengendalian persediaan, pengembalian, pemusnahan dan penarikan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan Instalasi Farmasi dalam
periode waktu tertentu (bulanan, triwulanan, semester atau pertahun)
(Permenkes RI No. 72, 2016).

24
Jenis-jenis pelaporan yang dibuat menyesuaikan dengan peraturan
yang berlaku. Pencatatan dilakukan untuk:
1) Persyaratan Kementerian Kesehatan/BPOM;
2) Dasar akreditasi Rumah Sakit;
3) Dasar audit Rumah Sakit; dan
4) Dokumentasi farmasi.
Pelaporan dilakukan sebagai :
1) Komunikasi antara level manajemen;
2) Penyiapan laporan tahunan yang komprehensif mengenai kegiatan di
Instalasi Farmasi; dan
3) Laporan tahunan.
b) Administrasi Keuangan
Apabila Instalasi Farmasi harus mengelola keuangan maka perlu
menyelenggarakan administrasi keuangan.
Administrasi keuangan merupakan pengaturan anggaran,
pengendalian dan analisa biaya, pengumpulan informasi keuangan,
penyiapan laporan, penggunaan laporan yang berkaitan dengan semua
kegiatan Pelayanan Kefarmasian secara rutin atau tidak rutin dalam
periode bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan (Permenkes RI No.
72, 2016).
c) Administrasi Penghapusan
Administrasi penghapusan merupakan kegiatan penyelesaian
terhadap Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang tidak terpakai karena kadaluwarsa, rusak, mutu tidak memenuhi
standar dengan cara membuat usulan penghapusan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai kepada pihak terkait sesuai
dengan prosedur yang berlaku (Permenkes RI No. 72, 2016).

25
II.3 Manajemen Risiko Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai
Manajemen risiko merupakan aktivitas Pelayanan Kefarmasian yang
dilakukan untuk identifikasi, evaluasi, dan menurunkan risiko terjadinya
kecelakaan pada pasien, tenaga kesehatan dan keluarga pasien, serta risiko
kehilangan dalam suatu organisasi (Permenkes RI No. 72, 2016).
Manajemen risiko pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai dilakukan melalui beberapa langkah yaitu:
1. Menentukan konteks manajemen risiko pada proses pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
2. Mengidentifikasi Risiko
Beberapa risiko yang berpotensi terjadi dalam pengelolaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai antara lain:
a. Ketidaktepatan perencanaan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai selama periode tertentu;
b. Pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai tidak melalui jalur resmi;
c. Pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai yang belum/tidak teregistrasi;
d. Keterlambatan pemenuhan kebutuhan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai;
e. Kesalahan pemesanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai seperti spesifikasi (merek, dosis, bentuk sediaan)
dan kuantitas;
f. Ketidaktepatan pengalokasian dana yang berdampak terhadap
pemenuhan/ketersediaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai;
g. Ketidaktepatan penyimpanan yang berpotensi terjadinya kerusakan
dan kesalahan dalam pemberian;

26
h. Kehilangan fisik yang tidak mampu telusur;
i. Pemberian label yang tidak jelas atau tidak lengkap; dan
j. Kesalahan dalam pendistribusian.
3. Menganalisa Risiko
Analisa risiko dapat dilakukan kualitatif, semi kuantitatif, dan
kuantitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan memberikan deskripsi
dari risiko yang terjadi. Pendekatan kuantitatif memberikan paparan secara
statistik berdasarkan data sesungguhnya.
4. Mengevaluasi Risiko
Membandingkan risiko yang telah dianalisis dengan kebijakan
pimpinan Rumah Sakit (contoh peraturan perundang-undangan, Standar
Operasional Prosedur, Surat Keputusan Direktur) serta menentukan
prioritas masalah yang harus segera diatasi. Evaluasi dapat dilakukan
dengan pengukuran berdasarkan target yang telah disepakati.
5 Mengatasi Risiko
Mengatasi risiko dilakukan dengan cara:
a. Melakukan sosialisasi terhadap kebijakan pimpinan Rumah Sakit;
b. Mengidentifikasi pilihan tindakan untuk mengatasi risiko;
c. Menetapkan kemungkinan pilihan (cost benefit analysis);
d. Menganalisa risiko yang mungkin masih ada; dan
e. Mengimplementasikan rencana tindakan, meliputi menghindari risiko,
mengurangi risiko, memindahkan risiko, menahan risiko, dan
mengendalikan risiko.
II.4 Pelayanan Farmasi Klinik
Pelayanan farmasi klinik di rumah sakit merupakan pelayanan
langsung yang diberikan Apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan
outcome terapi dan meminimalkan risiko terjadinya efek samping karena
Obat, untuk tujuan keselamatan pasien (patient safety) sehingga kualitas hidup
pasien (quality of life) terjamin (Permenkes RI No. 72, 2016).

27
II.4.1 Pengkajian dan pelayanan Resep
Pengkajian Resep dilakukan untuk menganalisa adanya masalah
terkait Obat, bila ditemukan masalah terkait Obat harus dikonsultasikan
kepada dokter penulis Resep. Apoteker harus melakukan pengkajian Resep
sesuai persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis
baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
Persyaratan administrasi meliputi:
a. Nama, umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan pasien.
b. Nama, nomor ijin, alamat dan paraf dokter;
c. Ruangan/unit asal Resep.
Persyaratan farmasetik meliputi, nama Obat, bentuk dan kekuatan
sediaan, dosis dan Jumlah Obat, stabilitas; dan aturan dan cara penggunaan.
Persyaratan klinis meliputi, ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan
Obat, duplikasi pengobatan, alergi dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki
(ROTD), kontraindikasi dan interaksi Obat.
Pelayanan Resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan,
penyiapan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
termasuk peracikan Obat, pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian
informasi. Pada setiap tahap alur pelayanan Resep dilakukan upaya
pencegahan terjadinya kesalahan pemberian Obat (medication error).
II.4.2 Penelusuran riwayat penggunaan Obat
Penelusuran riwayat penggunaan Obat merupakan proses untuk
mendapatkan informasi mengenai seluruh Obat/Sediaan Farmasi lain yang
pernah dan sedang digunakan, riwayat pengobatan dapat diperoleh dari
wawancara atau data rekam medik/pencatatan penggunaan Obat pasien
(Permenkes RI No. 72, 2016).

28
Tahapan penelusuran riwayat penggunaan Obat:
a. Membandingkan riwayat penggunaan Obat dengan data rekam
medik/pencatatan penggunaan Obat untuk mengetahui perbedaan
informasi penggunaan Obat;
b. Melakukan verifikasi riwayat penggunaan Obat yang diberikan oleh
tenaga kesehatan lain dan memberikan informasi tambahan jika
diperlukan;
c. Mendokumentasikan adanya alergi dan Reaksi Obat yang Tidak
Dikehendaki (ROTD);
d. Mengidentifikasi potensi terjadinya interaksi Obat;
e. Melakukan penilaian terhadap kepatuhan pasien dalam menggunakan
Obat;
f. Melakukan penilaian rasionalitas Obat yang diresepkan;
g. Melakukan penilaian terhadap pemahaman pasien terhadap Obat yang
digunakan;
h. Melakukan penilaian adanya bukti penyalahgunaan Obat;
i. Melakukan penilaian terhadap teknik penggunaan Obat;
j. Memeriksa adanya kebutuhan pasien terhadap Obat dan alat bantu
kepatuhan minum Obat (concordance aids);
k. Mendokumentasikan Obat yang digunakan pasien sendiri tanpa
sepengetahuan dokter; dan
l. Mengidentifikasi terapi lain, misalnya suplemen dan pengobatan alternatif
yang mungkin digunakan oleh pasien.
Informasi yang harus didapatkan:
1. Nama Obat (termasuk Obat non Resep), dosis, bentuk sediaan, frekuensi
penggunaan, indikasi dan lama penggunaan Obat;
2. Reaksi Obat yang tidak dikehendaki termasuk riwayat alergi; dan
3. Kepatuhan terhadap regimen penggunaan Obat (jumlah Obat yang tersisa).

29
II.4.3 Rekonsiliasi Obat
Rekonsiliasi Obat merupakan proses membandingkan instruksi
pengobatan dengan Obat yang telah didapat pasien. Rekonsiliasi dilakukan
untuk mencegah terjadinya kesalahan Obat (medication error) seperti Obat
tidak diberikan, duplikasi, kesalahan dosis atau interaksi Obat. Kesalahan
Obat (medication error) rentan terjadi pada pemindahan pasien dari satu
Rumah Sakit ke Rumah Sakit lain, antar ruang perawatan, serta pada pasien
yang keluar dari Rumah Sakit ke layanan kesehatan primer dan sebaliknya
(Permenkes RI No. 72, 2016).
Tujuan dilakukannya rekonsiliasi Obat adalah:
a. Memastikan informasi yang akurat tentang Obat yang digunakan pasien;
b. Mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terdokumentasinya instruksi
dokter; dan
c. Mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terbacanya instruksi dokter.
Tahap proses rekonsiliasi Obat yaitu:
a. Pengumpulan data
Mencatat data dan memverifikasi Obat yang sedang dan akan
digunakan pasien, meliputi nama Obat, dosis, frekuensi, rute, Obat mulai
diberikan, diganti, dilanjutkan dan dihentikan, riwayat alergi pasien serta
efek samping Obat yang pernah terjadi. Khusus untuk data alergi dan efek
samping Obat, dicatat tanggal kejadian, Obat yang menyebabkan
terjadinya reaksi alergi dan efek samping, efek yang terjadi, dan tingkat
keparahan.
Data riwayat penggunaan Obat didapatkan dari pasien, keluarga
pasien, daftar Obat pasien, Obat yang ada pada pasien, dan rekam
medik/medication chart. Data Obat yang dapat digunakan tidak lebih dari
3 (tiga) bulan sebelumnya.
Semua Obat yang digunakan oleh pasien baik Resep maupun Obat
bebas termasuk herbal harus dilakukan proses rekonsiliasi.

30
b. Komparasi
Petugas kesehatan membandingkan data Obat yang pernah, sedang
dan akan digunakan. Discrepancy atau ketidakcocokan adalah bilamana
ditemukan ketidakcocokan/perbedaan diantara data-data tersebut.
Ketidakcocokan dapat pula terjadi bila ada Obat yang hilang, berbeda,
ditambahkan atau diganti tanpa ada penjelasan yang didokumentasikan
pada rekam medik pasien. Ketidakcocokan ini dapat bersifat disengaja
(intentional) oleh dokter pada saat penulisan Resep maupun tidak
disengaja (unintentional) dimana dokter tidak tahu adanya perbedaan pada
saat menuliskan Resep.
c. Melakukan konfirmasi kepada dokter jika menemukan ketidaksesuaian
dokumentasi.
Bila ada ketidaksesuaian, maka dokter harus dihubungi kurang dari
24 jam. Hal lain yang harus dilakukan oleh Apoteker adalah:
1) Menentukan bahwa adanya perbedaan tersebut disengaja atau tidak
disengaja;
2) Mendokumentasikan alasan penghentian, penundaan, atau pengganti;
dan
3) Memberikan tanda tangan, tanggal, dan waktu dilakukannya
rekonsilliasi Obat.
d. Komunikasi
Melakukan komunikasi dengan pasien dan/atau keluarga pasien
atau perawat mengenai perubahan terapi yang terjadi. Apoteker
bertanggung jawab terhadap informasi Obat yang diberikan.
II.4.4 Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan dan
pemberian informasi, rekomendasi Obat yang independen, akurat, tidak bias,
terkini dan komprehensif yang dilakukan oleh Apoteker kepada dokter,

31
Apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien dan pihak lain di
luar Rumah Sakit (Permenkes RI No. 72, 2016).
PIO bertujuan untuk:
a. Menyediakan informasi mengenai Obat kepada pasien dan tenaga
kesehatan di lingkungan Rumah Sakit dan pihak lain di luar Rumah Sakit;
b. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan yang berhubungan
dengan Obat/Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai, terutama bagi Komite/Tim Farmasi dan Terapi;
c. Menunjang penggunaan Obat yang rasional.
Kegiatan PIO meliputi:
a. Menjawab pertanyaan;
b. Menerbitkan buletin, leaflet, poster, newsletter;
c. Menyediakan informasi bagi Tim Farmasi dan Terapi sehubungan dengan
penyusunan Formularium Rumah Sakit;
d. Bersama dengan Tim Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS)
melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap;
e. Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kefarmasian dan tenaga
kesehatan lainnya; dan
f. Melakukan penelitian.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam PIO:
1) Sumber daya manusia;
2) Tempat; dan
3) Perlengkapan.
II.4.5 Konseling
Konseling Obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran
terkait terapi Obat dari Apoteker (konselor) kepada pasien dan/atau
keluarganya. Konseling untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap di semua
fasilitas kesehatan dapat dilakukan atas inisitatif Apoteker, rujukan dokter,
keinginan pasien atau keluarganya. Pemberian konseling yang efektif

32
memerlukan kepercayaan pasien dan/atau keluarga terhadap Apoteker
(Permenkes RI No. 72, 2016).
Pemberian konseling Obat bertujuan untuk mengoptimalkan hasil
terapi, meminimalkan risiko reaksi Obat yang tidak dikehendaki (ROTD), dan
meningkatkan cost-effectiveness yang pada akhirnya meningkatkan keamanan
penggunaan Obat bagi pasien (patient safety) (Permenkes RI No. 72, 2016).
Secara khusus konseling Obat ditujukan untuk:
a) Meningkatkan hubungan kepercayaan antara Apoteker dan pasien;
b) Menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien;
c) Membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan Obat;
d) Membantu pasien untuk mengatur dan menyesuaikan penggunaan Obat
dengan penyakitnya;
e) Meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan;
f) Mencegah atau meminimalkan masalah terkait Obat;
g) Meningkatkan kemampuan pasien memecahkan masalahnya dalam hal
terapi;
h) Mengerti permasalahan dalam pengambilan keputusan; dan
i) Membimbing dan mendidik pasien dalam penggunaan Obat sehingga
dapat mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan
pasien.
Kegiatan dalam konseling Obat meliputi:
a) Membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien;
b) Mengidentifikasi tingkat pemahaman pasien tentang penggunaan Obat
melalui Three Prime Questions.
Dari pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut :
1) Apa yang telah dokter katakana tentang obat anda?
2) Apa yang dokter jelaskan tentang harapan setelah minum obat ini?
3) Bagaimana penjelasan dokter tentang cara minum obat ini?

33
c) Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada
pasien untuk mengeksplorasi masalah penggunaan Obat;
d) Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah
pengunaan Obat;
e) Melakukan verifikasi akhir dalam rangka mengecek pemahaman pasien;
dan
f) Dokumentasi.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam konseling Obat:
a) Kriteria Pasien:
1) Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi ginjal, ibu
hamil dan menyusui);
2) Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM,
epilepsi, dan lain-lain);
3) Pasien yang menggunakan obat-obatan dengan instruksi khusus
(penggunaan kortiksteroid dengan tappering down/off);
4) Pasien yang menggunakan Obat dengan indeks terapi sempit
(digoksin, phenytoin);
5) Pasien yang menggunakan banyak Obat (polifarmasi); dan
6) Pasien yang mempunyai riwayat kepatuhan rendah.
b) Sarana dan Peralatan:
1) Ruangan atau tempat konseling; dan
2) Alat bantu konseling (kartu pasien/catatan konseling).
II.4.6 Visite
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang
dilakukan Apoteker secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan untuk
mengamati kondisi klinis pasien secara langsung, dan mengkaji masalah
terkait Obat, memantau terapi Obat dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki,
meningkatkan terapi Obat yang rasional, dan menyajikan informasi Obat
kepada dokter, pasien serta profesional kesehatan lainnya. Visite juga dapat

34
dilakukan pada pasien yang sudah keluar Rumah Sakit baik atas permintaan
pasien maupun sesuai dengan program Rumah Sakit yang biasa disebut
dengan Pelayanan Kefarmasian di rumah (Home Pharmacy Care). Sebelum
melakukan kegiatan visite Apoteker harus mempersiapkan diri dengan
mengumpulkan informasi mengenai kondisi pasien dan memeriksa terapi
Obat dari rekam medik atau sumber lain (Permenkes RI No. 72, 2016).
II.4.7 Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang
mencakup kegiatan untuk memastikan terapi Obat yang aman, efektif dan
rasional bagi pasien (Permenkes RI No. 72, 2016).
Tujuan Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah meningkatkan
efektivitas terapi dan meminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak
Dikehendaki (ROTD) (Permenkes RI No. 72, 2016).
Kegiatan dalam PTO meliputi:
a) Pengkajian pemilihan Obat, dosis, cara pemberian Obat, respons terapi,
Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD);
b) Pemberian rekomendasi penyelesaian masalah terkait Obat; dan
c) Pemantauan efektivitas dan efek samping terapi Obat.
Tahapan PTO:
a) Pengumpulan data pasien;
b) Identifikasi masalah terkait Obat;
c) Rekomendasi penyelesaian masalah terkait Obat;
d) Pemantauan; dan
e) Tindak lanjut.
Faktor yang harus diperhatikan:
a) Kemampuan penelusuran informasi dan penilaian kritis terhadap bukti
terkini dan terpercaya (Evidence Best Medicine);
b) Kerahasiaan informasi; dan
c) Kerjasama dengan tim kesehatan lain (dokter dan perawat).

35
II.4.8 Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan
pemantauan setiap respon terhadap Obat yang tidak dikehendaki, yang terjadi
pada dosis lazim yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis,
diagnosa dan terapi. Efek Samping Obat adalah reaksi Obat yang tidak
dikehendaki yang terkait dengan kerja farmakologi (Permenkes RI No. 72,
2016).
Monitoring Efek Samping Obat bertujuan:
a) Menemukan Efek Samping Obat (ESO) sedini mungkin terutama yang
berat, tidak dikenal, frekuensinya jarang;
b) Menentukan frekuensi dan insidensi ESO yang sudah dikenal dan yang
baru saja ditemukan;
c) Mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan atau
mempengaruhi angka kejadian dan hebatnya ESO;
d) Meminimalkan risiko kejadian reaksi Obat yang idak dikehendaki; dan
e) Mencegah terulangnya kejadian reaksi Obat yang tidak dikehendaki.
Kegiatan pemantauan dan pelaporan ESO:
a) Mendeteksi adanya kejadian reaksi Obat yang tidak dikehendaki (ESO);
b) Mengidentifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai risiko tinggi
mengalami ESO;
c) Mengevaluasi laporan ESO dengan algoritme Naranjo;
d) Mendiskusikan dan mendokumentasikan ESO di Tim/Sub Komite/Tim
Farmasi dan Terapi;
e) Melaporkan ke Pusat Monitoring Efek Samping Obat Nasional.
Faktor yang perlu diperhatikan:
a) Kerjasama dengan Komite/Tim Farmasi dan Terapi dan ruang rawat; dan
b) Ketersediaan formulir Monitoring Efek Samping Obat.

36
II.4.9 Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
merupakan program evaluasi penggunaan Obat yang terstruktur dan
berkesinambungan secara kualitatif dan kuantitatif (Permenkes RI No. 72,
2016).
Tujuan EPO yaitu:
a) Mendapatkan gambaran keadaan saat ini atas pola penggunaan Obat
b) Membandingkan pola penggunaan Obat pada periode waktu tertentu
c) Memberikan masukan untuk perbaikan penggunaan Obat
d) Menilai pengaruh intervensi atas pola penggunaan Obat.
II.4.10 Dispensing Sediaan Steril
Dispensing Sediaan Steril Dispensing sediaan steril harus dilakukan di
Instalasi Farmasi dengan teknik aseptik untuk menjamin sterilitas dan
stabilitas produk dan melindungi petugas dari paparan zat berbahaya serta
menghindari terjadinya kesalahan pemberian Obat (Permenkes RI No. 72, 2016).
Dispensing sediaan steril bertujuan:
a. Menjamin agar pasien menerima Obat sesuai dengan dosis yang
dibutuhkan
b. Menjamin sterilitas dan stabilitas produk
c. Melindungi petugas dari paparan zat berbahaya
d. Menghindari terjadinya kesalahan pemberian Obat
II.4.11 Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD )
Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD) Pemantauan Kadar
Obat dalam Darah (PKOD) merupakan interpretasi hasil pemeriksaan kadar
Obat tertentu atas permintaan dari dokter yang merawat karena indeks terapi
yang sempit atau atas usulan dari Apoteker kepada dokter (Permenkes RI No.
72, 2016).

37
BAB III
URAIAN KHUSUS RUMAH SAKIT
III.1 Profile Rumah Sakit
III.1.1 Visi dan Misi Rumah Sakit
a. Visi
Menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak yang Terkemuka dan
Bernuansa Islam di Provinsi Gorontalo
b. Misi
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak secara
profesional, adil, penuh keikhlasan dan keramahan , menghargai hak
hidup dan peduli kepada yang lemah.
2. Melakukan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pelayanan
dan keselamatan pasien
3. Membangun Sumber Daya Manusia yang profesional ,punya integritas
tinggi dan berjiwa Islami.
4. Menciptakan lingkungan rumah sakit yang bersih, indah, nyaman, dan
aman bagi pasien, keluarga, pengunjung dan staf rumah sakit.
III.1.2 Sejarah Berdirinya rumah sakit
RSIA Sitti Khadijah awalnya yaitu pada tahun 1970 masih merupakan
klinik ibu dan anak yang menempati gedung asrama muhammadiyah. Pada
tahun 1972 oleh pimpinan Muhammadiyah dan aisyiyah dan disponsori oleh
seorang dokter ahli kebidanan yaitu Dr. Asnawi, Klinik tersebut dijadikan
Rumah Bersalin Sitti Khadijah melalui surat keputusan Gubernur Sulawesi
Utara No. 235 a/KPTS/1972.
Pada bukan september 2007 Rumah Bersalin Sitti Khadijah
dikembangkan menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak Sitti Khadijah melalui
surat keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo No.
200/Dikes/3105/IX/2007 tanggal 26 september 2007 yang sudah dilengkapi
dengan ruangan anak, sebuah Laboratorium dan sebuah Apotik. Pada bulan

38
November 2009 bangunan RSIA Sitti Khadijah dibongkar total dan dibangun
gedung baru berstruktur 3 lantai permanen. Pada bulan Februari 2012 gedung
baru RSIA Sitti Khadijah mulai dimanfaatkan walaupun baru lantai 1 dan
lantai 2. lantai 3 masih di upayakan penyelesaiannya. Tetapi sekarang lantai 3
sudah digunakan dan sekarang sudah bertambah 1 lantai lagi sehingga
menjadi 4 lantai permanen yang sudah digunakan semua.
Sejak berdirinya Rumah Bersalin Sitti Khadijah Kota Gorontalo
sampai sekarang sudah menjadi RSIA Sitti Khadijah pengelolanya telah
beberapa kali mengalami perubahan kepemimpinan sebagai berikut:
Dr. Asnawi Kumali (Data Hilang)
Dr. Boekoesoe (Data Hilang)
Dr. M.D Ilahude (Data Hilang)
Dr. A.L Hiola (Data Hilang)
Dr. Yuslan Edy Pedianto, Sp. OG (Data Hilang)
Dr. Teuku Mirza, Sp. OG (Data Hilang)
Dr. H. Elson Djakaria, Sp. OG (Tahun 1998)

39
III.1.3 Struktur Organisasi Rumah Sakit

BPH

DIREKTUR

Dr. H. Elson Djakaria, Sp.


OG

KOMITE MEDIK KOMITE PERAWATAN S.P.I

Dr. Nikartin Pakaya, Sp. A Ismail Umar, S.Kep. Ns Dr. Hj Yana Yanti Suleman, SH

WADIR OPERASIONAL WADIR PELAYANAN

Dr. Hj. Dharma Bhalango, M.Kes Dr. Zulaika F. Asikin, M.Kes

SUPERVISOR SUPERVISOR UMUM, SUPERVISOR MEDIK SUPERVISOR


KEUANGAN SDM & RUMAH & KEPERAWATAN PENUNJANG
TANGGA

Rosmiati Aday, Bsc Radinal, S. Farm dr. Taufiqurrahman Latief Dirk A. Simbayan, B. Sc

UPF, SMF,
& SKF

40
III.1.4 Struktur Organisasi Apotik
APOTEKER PENANGGUNG JAWAB

Tria Anisa Spaer S.Farm.,Apt

KEPALA ADMINISTRASI

Zuhria Tuamato

ADMINISTRASI

Sri Susanti Abdul

APOTEKER TENAGA TEKNISI TENAGA TEKNISI TENAGA TEKNISI


FARMASI FARMASI FARMASI

Iin Anggriani Padji


Nurnaningsih Rauf
Nursanti Taha S.Si.,Apt Amd.Farm Asdinar S.Farm Amd.Farm

41
III.2 Pelayanan di apotik rumah sakit sitti khadijah
Pelayanan di apotik rumah sakit sitti khadijah dilakukan oleh apoteker,
tenaga kefarmasian dan tenaga administrasi. Setiap penyerahan obat, pasien
selalu mendapat konseling atau informasi obat seperti indikasi, aturan pakai
dan sebagainya.
III.3 Tugas Dan Fungsi Rumah Sakit
Rumah Sakit Sitti Khadijah mempunyai tugas untuk memberikan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Untuk menjalankan tugas
sebagaimana mestinya, Rumah Sakit mempunyai fungsi :
1. Melaksanakan pelayanan medis sesuai dengan standar pelayanan rumah
sakit.
2. Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan
3. Melaksanakan pelayanan bersalin dan operasi sesar
4. Melaksanakan pelayanan poli anak
5. Melaksanakan pelayanan imunisasi
6. Melaksanakan pelayanan rawat jalan
7. Melaksanakan pelayanan rawat inap
8. Melaksanakan pelayanan administratif
III.4 Pengelolaan Sediaan
Pengelolaan sediaan obat dan alkes di rumah sakit sitti khadijah
sebagai berikut:
III.4.1 Perencanaan
Proses pengadaan sediaan obat dan alkes di rumah sakit sitti khadijah meliputi
surat pesanan (SP) yang didasarkan pada sisa atau stok persediaan obat dan
alkes serta jumlah konsumsi obat dan penggunaan alkes terhadap pasien yang
artinya apabila obat atau alkes tersebut sering digunaakan maka dilakukan
persediaan obat dan alkes yang lebih banyak.

42
III.4.2 Pengadaan
Pengadaan perbekalan farmasi di Rumah Sakit Sitti Khadijah dilakukan sesuai
dengan kebutuhan atau persediaan yang ada di apotek. Alur perencanaan
diawali dari penyiapan surat pesanan kemudian menghubungi pihak PBF
untuk melakukan pemesanan.
III.4.3 Penerimaan
Pada saat barang diterima, harus dilakukan pengecekan terlebih dahulu agar
tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti salah kirim, faktur yang
tidak sesuai dengan jumlah barang, kondisi fisik obat baik kemasan primer
dan sekunder, nomor bact dan tanggal expair sehingga tidak ada pihak yang
dirugikan terutama pihak instalasi farmasi rumah sakit.
III.4.4 Penyimpanan
Barang yang sudah diterima disimpan di gudang farmasi. Penyimpanan
dilakukan berdasarkan abjad, bentuk sediaan dan dipisahkan berdasarkan suhu
penyimpanannya.dan untuk obat golongan narkotik dan psikotropika disimpan
dalam lemari kayu yang terdiri dari dua puntu.
III.4.5 Pendistribusian
Obat didistribusikan dari instalasi farmasi ke apotik kemudian diserahkan
langsung kepasien atau keluarga pasien berdasarkan resep dokter. Penyerahan
obat di apotik sitti khadijah dilakukan oleh apoteker, asisten apoteker dan
tenaga kefarmasian lainnya tetapi dalam pengawasan apoteker. Selain itu
pasien yang menerima obat diberikan konseling atau informasi mengenai obat
yang di konsumsinya.
III.4.6 Pencatatan dan pelaporan
Pencatatan dilakukan secara manual yaitu dengan mencatat kartu stok setiap
obat atau alkes yang masuk dan keluar selalu dicatat dalam kartu stok.
Sedangkan untuk pelaporan obat narkotik dan psikotropika dilakukan setiap
bulan kedinas kesehata dan Badan POM

43
III.4.7 Pengembalian
Pengembalian dilakukan jika ada obat yang mendekati masa kadaluarsa.
Pengembalian tergantung dari kesepakatan atau perjanjian sebelumnya yang
dibuat antara pihak PBF dan pihak instalasi.
III.4.8 Pemusnahan
Obat-obat yang telah expair date di apotik rumah sakit sitti khadijah akan
dilakukan pemusnahan.
Berdasarkan penjelasan diatas pengelolaan sediaan obat dan alkes di rumah
sakit sitti khadijah sudah berjalan dengan baik.

44
BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1 Pengolahan Farmasi di RSIA SITTI KHADIJAH
Rumah sakit adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan secara merata dengan mengutamakan upaya
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan, yang dilaksanakan secara
serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit dalam suatu tatanan rujukan, serta dapat dimanfaatkan untuk
pendidikan tenaga dan penelitian. Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan dirumah sakit adalah pelayanan farmasi (Depkes RI. 2009).
Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah suatu departemen atau unit
bagian di suatu rumah sakit yang berada di bawah pimpinan seorang apoteker
dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kompeten secara
profesional, dan merupakan tempat atau fasilitas penyelenggaraan yang
bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian yang
ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar dan Amalia, 2004).
Kegiatan pada instalasi ini terdiri dari pelayanan farmasi minimal yang
meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan perbekalan farmasi,
dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan rawat jalan,
pengendalian mutu, pengendalian distribusi pelayanan umum dan spesialis,
pelayanan langsung pada pasien serta pelayanan klinis yang merupakan
program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar dan Amalia, 2004).
Pengolahan sediaan farmasi di Rumah Sakit Ibu Anak Sitti Khadijah
harus berdasarkan Permenkes RI No. 73 Tahun 2016 mulai dari perencanaan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, penarikan, pengendalian,
administrasi, dan pendistribusian.

45
Menurut Depkes tahun 2006 perencanaan adalah suatu proses kegiatan
yang urut yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan dalam rangka
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam membuat perencanaan perlu
diperhatikan pola penyakit dan alat-alat kesehatan yang sering digunakan. Jika
berdasarkan pola penyakit obat yang sering direncanakan merupakan obat-
obat yang sering diresepkan oleh dokter.
Pengadaan merupakan proses penyediaan obat yang dibutuhkan di
Rumah Sakit dan untuk unit pelayanan kesehatan lainnya yang diperoleh dari
pemasok eksternal melalui pembelian dari manufaktur, distributor, atau
pedagang besar farmasi. Proses pengadaan di Rumah Sakit Ibu Anak Sitti
Khadijah meliputi tahap-tahap yaitu persiapan pengumpulan data-data obat
dari bagian penerimaan resep, obat bebas maupun dari gudang. Selanjutnya
dilakukan pemesanan menggunakan surat pesanan (SP) untuk setiap supplier.
Surat pesanan minimal dibuat 2 rangkap dan ditandatangani oleh Apoteker
Pengelola Apotek (APA) dengan mencantumkan nama dan nomor SP serta
cap apotek. Surat pesanan pembelian narkotik dibuat 5 rangkap, 1 lembar
merupakan arsip untuk administrasi apotek dan 4 lembar dikirim ke Pedagang
Besar Farmasi (PBF). Untuk surat pesanan psikotropika dibuat 3 rangkap ,
satu lembar asli untuk Pedagang Besar Farmasi (PBF) dan dua lembar untuk
arsip apotek. Didasarkan pada sisa persediaan barang atau obat dan jumlah
konsumsi obat tersebut maka dilakukan persediaan obat yang lebih banyak
lagi dari pada obat yang jarang digunakan (Permenkes RI No. 72, 2016).
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam
surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Proses penerimaan barang
di apotek Rumah Sakit Ibu Anak Sitti Khadijah dilakukan pengecekan jumlah
barang apakah fisik sesuai dengan yang di faktur, kemudian di cek pula dari
obat antibiotik yang diterima (Permenkes RI No. 72, 2016).

46
Perbekalan farmasi yang telah disimpan dalam rak-rak obat yang ada
di dalam ruangan apotek secara alpha bets dan kartu stok langsung diisi.
Penyimpanan dilakukan berdasarkan penggolongan bentuk sediaan meliputi
tablet atau kapsul, sirup, obat tetes, salep atau krim, dan alat kesehatan.
Berdasarkan jenis obat, meliputi obat generic, obat bebas, obat keras, obat
narkotik, dan obat psikotropika. Berdasarkan sifat kimia obat meliputi
penyimpanan obat pada suhu dingin seperti suppositoria dan penyimpanan
pada suhu kamar. Setiap obat memiliki kartu stok yang dipergunakan untuk
mencatat keluar masuknya obat sehingga memudahkan pengontrolan terhadap
persediaan obat dan kebutuhan obat tersebut (Hdw, Hartono, 2003).
Setelah obat diterima, penyimpanan obat di apotek Rumah Sakit Ibu
Anak menggunakan metode susuai abjad untuk obat-obat paten dan generik.
selain itu, di apotek ini juga menggunakan metode pengeluaran obat yakni
FIFO (First In First Out) yaitu barang yang masuk pertaman dan yang
dikeluarkan pertama dan FEFO (First Exp. First Out) yaitu barang yang
mempunyai tanggal kadarluarsa dekat itu yang pertama dikeluarkan
(Permenkes RI No. 72, 2016).
Pemusnahan obat merupakan kegiatan penyelesaian terhadap obat-
obatan yang tidak terpakai karena kadaluarsa, rusak, ataupun mutunya sudah
tidak memenuhi standar. Proses pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak
harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan bentuk sediaan. Pemusnahan obat
kadaluwarsa atau rusak yang mengandung narkotik atau psikotropik dilakukan
oleh apoteker dan disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Pemusnahan obat selain narkotik dan psikotropika dilakukan oleh apoteker
dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki surat izin praktek
atau surat izin kerja (Permenkes RI No. 72, 2016).
Ada juga penarikan yang dilakukan sebelum proses pemusnahan yang
dilakukan di Rumah Sakit Ibu Anak Sitti Khadijah, maka proses penarikan
yang dilakukan di rumah sakit terlebih dahulu dilakukan identifikasi

47
perbekalan farmasi, yang ditarik dari penyimpana perbekalan farmasi adalah
yang rusak dan atau sudah lewat waktu tanggal kadaluwarsa, penarikan
dilakukan dari semua lingkungan rumah sakit, baik yang berada di bangsal,
unit penunjang hingga bagian-bagian lain yang didalamnya mengelola
perbekalan farmasi termasuk didalamnya di bagian farmasi itu sendiri, dibuat
daftar perbekalan farmasi apa saja dengan jumlah dan keterangan lain
seperlunya.
Pengendalian persediaan adalah suatu kegiatan untuk memastikan
tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan program yang
telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan
obat di unit pelayanan kesehatan. Tujuan pengendalian untuk menghindari
terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan, kadaluarsa,
kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian persedian dilakukan
menggunakan kartu stok. Kartu stok sekurang-kurangnya memuat nama obat,
tanggal kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran, dan sisa
persediaan (Permenkes RI No. 72, 2016).
Administrasi adalah tertib dalam pencatatan sekaligus
pendokumentasian segala proses pengelolaan perbekalan farmasi yang
dilakukan berkesinambungan, terus menerus, sehingga akan memudahkan
dalam pemeriksanaan, penelusuran, dan penyusunan laporan – laporan
pengelolaan farmasi. Stadar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit tentang
administrasi meliputi pencatatan pelaporan yang dilakukan untuk Kementrian
kesehatan via dinas kesehatan Badan Pengawasan Obat dan Makanan
(BPOM). Administrasi keuangan yang diberikan kepercayaan, wewenang dan
tanggung jawab mengelola sumber daya keuangan. Administrasi penghapusan
adalah proses yang dilakukan setelah data-data secara fisik maupun data
perbekalan farmasi telah dinyatakan dimusnahkan sehingga data yang
tertinggal dihapuskan dari kepemilikan (Permenkes RI No. 72, 2016).

48
Pendistribusian adalah kegiatan menyalurkan atau menyerahkan
sediaan farmasi dan alat kesehatan dari tempat penyimpanan sampai kepada
unit pelayanan pasien. Pada pendistribusian di rumah sakit obat
didistribusikan dari instalasi farmasi ke apotek kemudian diserahkan kepada
pasien rawat inap maupun rawat jalan yang berdasarkan resep dokter. Pada
penyerahan obat diapotek tersebut dilakukan oleh apoteker, selain itu pasien
yang menerima obat diberikan konseling oleh apoteker mengenai obatnya
(Permenkes RI No. 72, 2016).
IV.2 Pengolaan Resep
Pengolaan resep diapotek Rumah Sakit Ibu Anak Sitti Khadijah sudah
dilakukan dengan baik sesuai alur pelayanan yang telah ditetapkan untuk
pasien rawat inap dan rawat jalan. Pengolaan resep berupa :
1. Penerimaan Resep
Setelah menerima resep, dilakukan pemeriksaan kelengkapan
administrasi resep (nama dokter, nomor surat izin praktek, alamat praktek
dokter, paraf dokter, tanggal penulisan resep, nama obat, jumlah obat, cara
penggunaan, nama pasien, umur pasien, dan jenis kelamin pasien). Setelah
itu, dilanjutkan pemeriksaan kesesuain farmasetik, yaitu bentuk sediaan,
dosis, lama penggunaan obat.
2. Peracikan Obat
Setelah memeriksa resep dan jika ada resep peracikan obat, maka
hal-hal yang harus dilakukan yaitu mengambil obat yang dibutuhkan pada
rak penyimpanan, dengan memperhatikan nama obat, tanggal kadaluwarsa
dan keadaan fisik obat. Selanjutnya meracik obat apabila bentuk sediaan
obat harus diracik dahulu. Selanjutnya diberikan etiket warna putih untuk
obat oral dan etiket warna biru untuk obat luar, serta menempelkan label
“kocok dahulu” pada sediaan obat dalam bentuk larutan. Setelah itu
dimasukan obat kedalam wadah yang sesuai dan terpisah untuk obat yang
berbeda.

49
3. Penyerahan Obat
Setelah peracikan obat dilakukan pemeriksaan kembali mengenai
penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah
obat sebelum obat diserahkan kepada pasien. Setelah itu memastikan yang
menerima obat adalah pasien atau keluarganya dan memberikan informasi
cara penggunaan obat dan manfaat obat.
IV.3 Pelayanan Informasi Obat
Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
Apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak,
dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek
penggunaan obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat.
Informasi mengenai obat termasuk obat resep, obat bebas, dan herbal.
Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan metode
pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik, dan alternative, efikasi,
keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek samping, interaksi,
stabilitas, ketersediaan dan harga (Permenkes RI No. 72, 2016).
IV.4 Pelayanan Farmasi Klinik
Menurut Siregar (2004) farmasi klinis didefinisikan sebagai suatu
keahlian khas ilmu kesehatan yang bertanggung jawab untuk memastikan
penggunaan obat yang aman dan sesuai dengan kebutuhan pasien, melalui
penerapan pengetahuan dan berbagai fungsi terspesialisasi dalam perawatan
pasien yang memerlukan pendidikan khusus dan atau pelatihan yang
terstruktur.
Menurut Permenkes RI Nomor 72 Tahun 2016, pelayanan farmasi
klinik merupakan bagian dari Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan
bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan Sediaan farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dengan maksud mencapai hasil
yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pada pelayanan farmasi
klinik meliputi pengkajian resep yaitu proses pengkajian terhadap penulisan

50
resep oleh tenaga kefarmasian yang dimulai dari seleksi persyaratan
administrasi, farmasetik dan klinis baik resep rawat jalan maupun rawat inap.
Pada persyaratan administrasi meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin,
berat badan, nama dokter, nomor surat izin praktik (SIP), alamat, nomor
telepon, paraf dan tanggal penulisan resep. Sedangkan pada persyaratan
farmasetik harus meliputi bentuk sediaan, kekuatan sediaan dan stabilitas
sediaan. Pada persyaratan klinis harus meliputi ketepatan indikasi, dosis obat,
aturan cara pemakaian dan lama penggunaan obat. Jika ditemukan adanya
ketidaksesuaian dari hasil pengkajian resep maka apoteker harus
menghubungi dokter penulis resep.
Rekonsiliasi obat merupakan proses membandingkan instruksi
pengobatan dengan obat yang telah didapat pasien. Rekonsiliasi dilakukan
untuk mencegah terjadinya medication error seperti obat tidak diberikan,
duplikasi, kesalahan dosisi atau interaksi obat. Medication error sering terjadi
pada pemindahan pasien dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, antar ruang
perawatan, serta pada pasien yang keluar dari rumah sakit ke layanan
kesehatan primer dan sebaliknya. Tujuan dilakukan rekonsiliasi obat adalah
untuk memastikan informasi yang akurat tentang obat yang digunakan,
mengidentifikasi ketidak sesuaian akibat tidak terdokumentasinya instruksi
dokter, dan mengidentifikasi ketidak sesuaian akibat tidak terbacanya
instruksi dokter.
Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
Apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak,
dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek
penggunaan obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat.
Informasi mengenai obat termasuk obat resep, obat bebas, dan herbal.
Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan metode
pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik, dan alternative, efikasi,

51
keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek samping, interaksi,
stabilitas, ketersediaan dan harga (Permenkes RI No. 72, 2016).
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang
dilakukan apoteker secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan untuk
mengamati kondisi klinis pasien secara langsung, dan mengkaji masalah
terkait obat, memantau terapi obat dan reaksi obat yang tidak dikehendaki,
meningkatkan terapi obat yang rasional, dan menyajikan informasi obat
kepada dokter, pasien serta profesional kesehatan lainnya.
Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang
mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif dan
rasional bagi pasien. Tujuan PTO adalah meningkatkan efektivitas terapi dan
meminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD).
Kegiatan dalam pemantauan terapi obat meliputi Pengkajian pemilihan obat,
dosis, cara pemberian obat, respon terapi, dan reaksi obat yang tidak
dikehendaki, serta Pemantauan efektivitas dan efek samping terapi obat.
Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan
pemantauan setiap respon terhadap obat yang tidak dikehendaki, yang terjadi
pada dosis lazim yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis,
diagnosa dan terapi. Efek samping obat adalah reaksi obat yang tidak
dikehendaki yang terkait dengan kerja farmakologi. Monitoring efek samping
obat dilakukan bertujuan untuk meminimalkan resiko kejadian reaksi obat
yang tidak dikehendaki.
Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) merupakan program evaluasi
penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan secara kualitatif dan
kuantitatif. Evaluasi penggunaan obat bertujuan untuk mendapatkan gambaran
keadaan saat ini atas pola penggunaan obat, membandingkan pola penggunaan
obat pada periode waktu tertentu, memberikan masukan untuk perbaikan
penggunaan obat dan menilai pengaruh intervensi atas pola penggunaan obat.

52
Kegiatan dalam evaluasi penggunaan obat meliputi evaluasi penggunaan obat
secara kualitatif dan kuantitatif.
Dispensing merupakan proses sejak diterimanya resep sampai obat
diberikan kepada pasien diikuti dengan pemberian informasi yang memadai.
Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi obat.
Untuk menyiapkan obat yang dibutuhkan pada permintaan resep,
memberikan etiket putih apabila obat oral dan warna biru obat luar. Setelah itu
memasukan obat pada plastik obat yang telah disediakan.
Setelah penyiapan, dilakukan penyerahan obat kepada pasien. pada
saat penyerahan harus dilakukan pemeriksaan kembali penulisan nama pasien
pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah kesesuaian antara
penulisan etiket dengan resep. Menyerahkan obat yang disertai pemberian
informasi obat.

53
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktek kerja lapangan yang telah kami lakukan
mahasiswa dapat mengetahui dan memahami secara langsung kegiatan dan
pelayanan resep, pengelolaan obat dan mahasiswa dapat mengetahui fungsih
dan peran sarjana farmasi di rumah sakit siti khadija kota gorontalo. Terdapat
beberapa perbedaan antara teori dan praktek dilapangan. Teori tidak bias
diaplikasikan secara sempurnah dikarenakan keterbatasan tenaga kefarmasian
dan waktu pelayanan, melainkan di sediakan dengan waktu dan kondisi yang
ada.
V.2 Saran
V.2.1 Untuk Rumah sakit
a. Lebih diperhatikan lagi tata letak dan tanggal kadaluwarsa obat, agar obat
tidak melebihi tanggal kadaluwarsa.
b. Diharapkan pelayanan informasi obat kepada pasien lebih ditingkatkan
lagi.
c. Lebih diperhatikan lagi tata letak obat agar tidak salah memberikan obat
kepada pasien
d. Diharapkan dapat menata rapi tempat penyimpanan obat, terutama
Gudang obat
V.2.1 Untuk Tenaga Teknis Kefarmasian
a. Sarana dan prasarana yang mendukung pelayanan kefarmsian hendaknya
dilengkapi untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien
b. Diharapkan agar menata rapi apotek, terutama lemari obat
c. Pelayanan informasi obat (PIO) sebaiiknya dilaksanakan sebaik mungkin
agar tidak terjadi kesalahan penggunaan obat oleh pasien.

54
V.2.3 Untuk Mahasiswa PKL
a. Meningkatkan dan memperbarui pengetahuan tentang kefarmasian
b. Menambah perbekalan kosa kata ilmiah terkait ilmu-ilmu farmasi
c. Meningkatkan pengetahuan tentang pelayanan informasi obat

55