Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini, perkembangan ilmu farmasi sudah semakin maju.

Banyak sekali macam macam jenis sediaan farmasi yang dikembangkan.

Segala macam penggolongan obat pun sudah semakin diperbaharui

dengan adanya peraturan dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

tahun 2000 yang mengganti penggolongan jenis obat menjadi 5 golongan

saja. Bidang Farmasi juga terus menggembangkan ilmu dalam

menemukan jenis dan khasiat obat obatan. Karena masyakarakat

kita semakin membutuhkan segala jenis obat dengan kerja yang

sesuai di tubuhnya. Kebutuhan obat di kalangan masyarakat sangatlah

penting dan mutlak untuk menunjang kesehatan mereka. Pelayanan farmasi

pun kini semakin baik karena menunjang kepentingan kesehatan

masyarakat. Ilmu yang berkenaan dengan pelayanan farmasi seperti

Farmasetika pun terus mengalami perubahan dan peningkatan

menjadi yang lebih baik. Para mahasiswa pun kini dintuntut untuk

mampu membedakan segala macam jenis sediaan farmasi dan juga mampu

menggolongkan segala jenis obat berdasarkan beberapa aturannya.

Mahasiswa juga dituntut untuk mampu membuat beberapa sediaan

farmasi baik steril maupun non steril untuk menunjang perkerjaan di masa

depan kelak. Mahasiswa juga harus mampu bertindak dengan

1
tanggap dalam membuat sediaan obat, karena para mahasiswa diharapkan

menjadi seorang farmasis atau apoteker yang tanggap, cepat, dan mampu

menolong masyarakat yang membutuhkan obat untuk kesehatannya.

B. Rumusan Masalah

Dengan dibuatnya makalah ini, maka rumusan masalah dari penulisan

makalah ini adalah :

1. Apa definisi obat?

2. Apa peran obat?

3. Apa saja jenis penggolongan obat?

C. Tujuan Penulisan

Dengan adanya makalah ini, maka tujuan penulisan dari penulisan

makalah ini adalah :

1. Mengetahui definisi obat

2. Mengetahui peran obat

3. Mengetahui jenis penggolongan obat

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Obat

Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah

sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau

menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan

diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan

dan kontrasepsi.

Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi

proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas

cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu

agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan

pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat

dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi,

Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia).

Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk

digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau

keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,

penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi

(Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).

3
B. Peran Obat

Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan

dalam pelayanan kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan,

karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi

sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena

penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari

tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Seperti yang telah dituliskan

pada pengertian obat diatas, maka peran obat secara umum adalah sebagai

berikut:

a) Penetapan diagnose

b) Untuk pencegahan penyakit

c) Menyembuhkan penyakit

d) Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan

e) Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu

f) Peningkatan kesehatan

g) Mengurangi rasa sakit

C. Jenis Penggolongan Obat Secara Luas

Berikut ini merupakan penggolongan obat berdasarkan jenisnya

1. Penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja obat

2. Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian

3. Penggolongan obat berdasarkan cara pemakaian

4. Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan

4
5. Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi

6. Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya

D. Jenis Penggolongan Obat Berdasarkan Jenisnya

Penggolongan obat menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

917/Menkes/Per/X /1993 yang kini telah diperbaiki dengan Permenkes RI

Nomor 949/Menkes/Per/ VI/2000 penggolongan obat dimaksudkan untuk

peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan

distribusi. Penggolongan obat ini terdiri dari: obat bebas, obat bebas terbatas,

obat wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika.

1. Obat Bebas

Peratuan daerah Tingkat II tangerang yakni Perda Nomor 12

Tahun1994 tentang izin Pedagang Eceran Obat memuat pengertian obat

bebas adalah obat yang dapat dijual bebas kepada umum tanpa resep

dokter, tidak termasuk dalam daftar narkotika, psikotropika, obat keras,

obat bebas terbatas dan sudah terdaftar di Depkes RI. Contoh : Minyak

Kayu Putih, Tablet Parasetamol, tablet Vitamin C, B Compleks, E dan

Obat batuk hitam Penandaan obat bebas diatur berdasarkan SK Menkes

RI Nomor 2380/A/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk untuk obat

bebas dan untuk obat bebas terbatas. Tanda khusus untuk obat bebas

yaitu bulatan berwarna hijau dengan garis tepi warna hitam, seperti

terlihat pada gambar berikut :

5
Gambar 2.1 (Obat Bebas)

2. Obat Bebas Terbatas

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan obat-

obatan kedalam daftar obat “W” (Waarschuwing) memberikan pengertian

obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan kepada

pemakainya tanpa resep dokter, bila penyerahannya memenuhi

persyaratan sebagai berikut :

a. Obat tersebut hanya boleh dijual dalam bungkusan asli dari pabriknya

atau pembuatnya.

b. Pada penyerahannya oleh pembuat atau penjual harus

mencantumkan tanda peringatan. Tanda peringatan tersebut berwarna

hitam, ukuran panjang 5 cm,lebar 2 cm dan memuat pemberitahuan

berwarna putih sebagai berikut :

6
Gambar 2.2 (Obat Bebas Terbatas)

Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas

terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran

panjang 5 (lima) sentimeter, lebar 2 (dua) sentimeter dan memuat

pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut:

Gambar 2.3 (Tanda Peringatan Obat)

Seharusnya obat jenis ini hanya dapat dijual bebas di toko obat

berizin (dipegang seorang asisten apoteker) serta apotek (yang hanya

boleh beroperasi jika ada apoteker, no pharmacist no service), karena

7
diharapkan pasien memperoleh informasi obat yang memadai saat

membeli obat bebas terbatas.

3. Obat Keras

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang

menetapkan/memasukkan obat-obatan kedalam daftar obat keras,

memberikan pengertian obat keras adalah obat-obat yang ditetapkan

sebagai berikut :

a. Semua obat yang pada bungkus luarnya oleh si pembuat disebutkan

bahwa obat itu hanya boleh diserahkan denagn resep dokter.

b. Semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang nyata-nyata untuk

dipergunakan secara parenteral.

c. Semua obat baru, terkecuali apabila oleh Departemen Kesehatan

telah dinyatakan secara tertulis bahwa obat baru itu tidak

membahayakan kesehatan manusia.

Adapun penandaannya diatur berdasarkan keputusan Menteri

Kesehatan RI No. 02396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus Obat

Keras daftar G adalah “Lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi

berwarna hitam dengan hurup K yang menyentuh garis tepi”, seperti yang

terlihat pada gambar berikut:

8
Gambar 2.4 (Obat Keras)

4. Obat Wajib Apotek

Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan

oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter. Menurut keputusan mentri

kesehatan RI Nomor 347/Menkes/SK/VIII/1990 yang telah diperbaharui

Mentri Kesehatan Nomor 924/Menkes/Per/X/1993 dikeluarkan dengan

pertimbangan sebagai berikut :

a. Pertimbangan utama untuk obat wajib apotek ini sama dengan

pertimbangan obat yang diserahkan tanpa resep dokter, yaitu

meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya

sendiri guna mengatasi masalah kesehatan, dengan meningkatkan

pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional.

b. Pertimbangan yang kedua untuk meningkatkatkan peran apoteker di

apotek dalam pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi serta

pelayanan obat kepada masyarakat

9
c. Pertimbangan ketiga untuk peningkatan penyediaan obat yang

dibutuhkan untuk pengobatan sendiri. Obat yang termasuk kedalam

obat wajib apotek misalnya : obat saluran cerna (antasida), ranitidine,

clindamicin cream dan lain-lain.

Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan

pelayanan kesehatan khususnya akses obat pemerintah mengeluarkan

kebijakan OWA.

OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker

Pengelola Apotek (APA) kepada pasien. Walaupun APA boleh

memberikan obat keras, namun ada persayaratan yang harus dilakukan

dalam penyerahan OWA.

1. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh

diberikan kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep

saja yang termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan 1 tube.

2. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data

pasien (nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita.

3. Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup:

indikasi, kontra-indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan efek

samping obat yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan

bila efek tidak dikehendaki tersebut timbul.

10
Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk

masyarakat, maka obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalah obat

yang diperlukan bagi kebanyakan penyakit yang diderita pasien. Antara

lain: obat antiinflamasi (asam mefenamat), obat alergi kulit (salep

hidrokotison), infeksi kulit dan mata (salep oksitetrasiklin), antialergi

sistemik (CTM), obat KB hormonal.

Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang

dapat diserahkan:

1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak

di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.

2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko

pada kelanjutan penyakit.

3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus

dilakukan oleh tenaga kesehatan.

4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi

di Indonesia.

5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat

dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.

Diantara peraturan mengenai OWA adalah antara lain :

- Permenkes no.919/MENKES/PER/X/1993 tentang criteria OWA

11
- Kepmenkes no.347/MENKES/SK/VII/1990 tentang OWA no.1

- Permenkes no.924/MENKES/PER/X/1993 tentang OWA no.2

- Permenkes no.925/MENKES/PER/X/1993 tentang perubahan

golongan OWA no.1

5. Obat Golongan Narkotika

Pengertian narkotika menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997

tentang narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau

bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat

menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa

nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan kedalam

golongan I, II dan III.

Gambar 2.5 (Obat Golongan Narkotika)

Contoh :

 Tanaman Papaver Somniferum

 Tanaman Koka

12
 Tanaman ganja

 Heroina

 Morfina

 Ovium

 Kodeina

Obat narkotika penggunaannya diawasi dengan ketat sehingga obat

golongan narkotika hanya dapat diperoleh di apotek dengan resep dokter

asli (tidak dapat menggunakan copy resep). Dalam bidang kesehatan,

obat-obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan

analgetik/obat penghilang rasa sakit. Contoh obat narkotika adalah :

codipront (obat batuk), MST (analgetik) dan fentanil (obat bius).

 Obat narkotika golongan I : hanya dapat digunakan untuk kepentingan

ilmu pengetahuan dan dilarang digunakan untuk kepentingan lainnya.

Contoh: Tanaman: Papaver somniferum L. (semua bag. termsk buah &

jerami kec. bijinya), Erythroxylon coca; Cannabis sp. Zat/senyawa :

Heroin

 Obat narkotika golongan II : dapat digunakan untuk kepentingan

pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan.

Distribusi diatur oleh pemerintah. Contoh: Morfin dan garam-gramnya

Petidin

13
 Obat narkotika golongan III : dapat digunakan untuk kepentingan

pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan.

Distribusi diatur oeh pemerintah. Contoh : Codein

6. Obat Psikotropika

Pengertian psikotropika menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997

tentang psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis

bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada

susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas

mental dan perilaku.

Contoh :

 Lisergida

 Amphetamin

 Codein

 Diazepam

 Nitrazepam

 Fenobarbital

Untuk Psikotropika penandaan yang dipergunakan sama dengan

penandaan untuk obat keras, hal ini karena sebelum diundangkannya UU

RI No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika, maka obat-obat psikotropika

termasuk obat keras, hanya saja karena efeknya dapat mengakibatkan

sidroma ketergantungan sehingga dulu disebut Obat Keras Tertentu.

14
Sehingga untuk Psikotropika penandaannya : lingkaran bulat berwarna

merah, dengan huruf K berwarna hitam yang menyentuh garis tepi yang

berwarna hitam.

Psikotropika dibagi menjadi :

 Golongan I : sampai sekarang kegunaannya hanya ditujukan untuk

ilmu pengetahuan, dilarang diproduksi, dan digunakan untuk

pengobatan. Contohnya : metilen dioksi metamfetamin, Lisergid acid

diathylamine (LSD) dan metamfetamin

 Golongan II, III dan IV dapat digunakan untuk pengobatan asalkan

sudah didaftarkan. Contohnya : diazepam, fenobarbital, lorazepam

dan klordiazepoksid.

E. Penggolongan Obat Berdasarkan Mekanisme Kerja

Dibagi menjadi 5 jenis penggolongan antara lain :

a. Obat yang bekerja pada penyebab penyakit, misalnya penyakit akibat

bakteri atau mikroba, contoh antibiotic

b. Obat yang bekerja untuk mencegah kondisi patologis dari penyakit contoh

vaksin, dan serum.

c. Obat yang menghilangkan simtomatik/gejala, meredakan nyeri contoh

analgesic

d. Obat yang bekerja menambah atau mengganti fungsi fungsi zat yang

kurang, contoh vitamin dan hormon.

15
e. Pemberian placebo adalah pemberian obat yang tidak mengandung zat

aktif, khususnya pada pasien normal yang menganggap dirinya dalam

keadaan sakit. contoh aqua pro injeksi dan tablet placebo.Selain itu dapat

dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya, seperti obat

antihipertensi, kardiak, diuretik, hipnotik, sedatif, dan lain lain.

F. Penggolongan Obat Berdasarkan Lokasi Atau Tempat Pemakaian

Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian dibagi

menjadi 2 golongan :

a. Obat dalam yaitu obat obatan yang dikonsumsi peroral, contoh tablet

antibiotik, parasetamol tablet

b. Obat luar yaitu obat obatan yang dipakai secara topikal/tubuh bagian luar,

contoh sulfur, dll

G. Penggolongan Obat Berdasarkan Cara Pemakaian

Dibagi menjadi beberapa bagian, seperti :

a. Oral : obat yang dikonsumsi melalui mulut kedalam saluran cerna, contoh

tablet, kapsul, serbuk, dll

b. Perektal : obat yang dipakai melalui rektum, biasanya digunakan pada

pasien yang tidak bisa menelan, pingsan, atau menghendaki efek cepat

dan terhindar dari pengaruh pH lambung, FFE di hati, maupun enzim-

enzim di dalam tubuh

16
c. Sublingual : pemakaian obat dengan meletakkannya dibawah lidah.,

masuk ke pembuluh darah, efeknya lebih cepat, contoh obat hipertensi :

tablet hisap, hormon-hormon

d. Parenteral : obat yang disuntikkan melalui kulit ke aliran darah. baik

secara intravena, subkutan, intramuskular, intrakardial.

e. Langsung ke organ, contoh intrakardial

f. Melalui selaput perut, contoh intra peritoneal

H. Penggolongan Obat Berdasarkan Efek Yang Ditimbulkan

Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan dibagi menjadi 2 :

a. sistemik : obat/zat aktif yang masuk kedalam peredaran darah.

b. lokal : obat/zat aktif yang hanya berefek/menyebar/mempengaruhi bagian

tertentu tempat obat tersebut berada, seperti pada hidung, mata, kulit, dll

I. Penggolongan Obat Berdasarkan Daya Kerja Atau Terapi

Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi dibagi menjadi 2

golongan :

a. farmakodinamik : obat obat yang bekerja mempengaruhi fisilogis

tubuh, contoh hormon dan vitamin

b. kemoterapi : obat obatan yang bekerja secara kimia untuk membasmi

parasit/bibit penyakit, mempunyai daya kerja k

c. ombinasi.

17
J. Penggolongan Obat Berdasarkan Asal Obat Dan Cara Pembuatannya

Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya

dibagi menjadi 2 :

1. Alamiah : obat obat yang berasal dari alam (tumbuhan, hewan dan

mineral)

- tumbuhan : jamur (antibiotik), kina (kinin), digitalis (glikosida jantung)

dll

- hewan : plasenta, otak menghasilkan serum rabies, kolagen.

- mineral : vaselin, parafin, talkum/silikat, dll

2. Sintetik : merupakan cara pembuatan obat dengan melakukan reaksi-

reaksi kimia. Contohnya minyak gandapura dihasilkan dengan

mereaksikan metanol dan asam salisilat

K. Penggolongan Obat Berdasarkan Golongan Kerja Obat

1. Anti Biotik

Anti biotik adalah obat yang dipergunakan untuk menghambat

pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Obat ini telah digunakan untuk

melawan infeksi berbagai bakteri pada tumbuhan, hewan, dan manusia.

Anti biotik di kategorikan berdasarkan struktur kimia adalah sebagai

berikut :

18
a) Penisilin (Penicillins)

Penisilin atau antibiotik beta-laktam adalah kelas antibiotik yang

merusak dinding sel bakteri saat bakteri sedang dalam proses

reproduksi. Penisilin adalah kelompok agen bakterisida yang terdiri

dari penisilin G, penisilin V, ampisilin, tikarsilin, kloksasilin, oksasilin,

amoksisilin, dan nafsilin. Antibiotik ini digunakan untuk mengobati

infeksi yang berkaitan dengan kulit, gigi, mata, telinga, saluran

pernapasan, dan lain-lain. ). Adapun contoh obat yang termasuk

dalam golongan ini antara lain : Ampisilin dan Amoksisilin.

a) Sefalosporin (Cephalosporins)

Obat golongan ini barkaitan dengan penisilin dan digunakan untuk

mengobati infeksi saluran pencernaan bagian atas (hidung dan

tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, pneumonia, infeksi telinga,

kulit dan jaringan lunak, tulang, dan saluran kemih (kandung kemih

dan ginjal). Sefalosporin terdiri dari beberapa generasi, yaitu :

- Sefalosporin generasi pertama, untuk infeksi saluran kemih

- Sefalosporin generasi kedua, untuk sinusitis

- Sefalosporin generasi ketiga, untk meningitis

Adapun contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain

: Sefradin, Sefaklor, Sefadroksil, Sefaleksin.

19
b) Aminoglikosida (Aminoglycosides)

Jenis anti biotik ini menghambat pembentukan protein bakteri.

Adapun contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain :

amikasin, gentamisin, neomisin sulfat, netilmisin.

c) Makrolid (Macrolides)

Digunakan untuk mengobati infeksi saluran nafas bagian atas

seperti infeksi tenggorokan dan infeksi telinga, infeksi saluran nafas

bagian bawah seperti pneumonia, untuk infeksi kulit dan jaringan

lunak, untuk sifilis, dan efektif untuk penyakit legionnaire (penyakit

yang ditularkan oleh serdadu sewaan). Sering pula digunakan untuk

pasien yang alergi terhadap penisilin. Adapun contoh obat yang

termasu dalam golongan ini antara

lain: Eritromisin, Azitromisin, Klaritromisin.

d) Sulfonamida (Sulfonamides)

Obat ini efektif mengobati infeksi ginjal, namun sayangnya memiliki

efek berbahaya pada ginjal. Untuk mencegah pembentukan Kristal

obat, pasien harus minum sejumlah besar air. Adapun contoh obat

yang termasuk dalam golongan ini antara lain : gantrisin.

e) Fluoroquinolones

Fluoroquinolones adalah satu-satunya kelas antibiotic yang secara

langsung menghentikan sintesis DNA bakteri.

20
f) Tetrasiklin (Tetracyclines)

Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi jenis yang

sama seperti yang diobati penisilin dan juga untuk infeksi lainnya

seperti kolera, demam berbintik Rocky Mountain, syanker,

konjungtivitis mata, dan amubiasis intestinal. Dokter ahli kulit

menggunakannya pula untuk mengobati beberapa jenis

jerawat. Adapun contoh obat yang termasuk dalam golongan ini

antara lain : Tetrasiklin, Klortetrasiklin, Oksitetrasiklin.

g) Polipeptida (Polypeptides)

Polipeptida dianggap cukup beracun sehingga terutama digunakan

pada permukaan kulit saja. Ketika disuntikan ke dalam kulit,

polipeptida bisa menyebabkan efek samping seperti kerusakan ginjal

dan saraf. Adapun contoh obat yang termasuk dalam golongan ini

antara lain : gentamisin dan karbenisilin.

1. Anti Inflamasi

Pengobatan anti inflamasi mempunyai dua tujuan utama yaitu,

meringankan rasa nyeri yang seringkali merupakan gejala awal yang

terlihat dan keluhan utama yang terus menerus dari pasien dan kedua

memperlambat atau membatasi perusakan jaringan (Katzung, 2002).

Berdasarkan mekanisme kerjanya, obata-obat anti inflamasi terbagi ke

dalam golongan steroid dan golongan non-steroid (Anonim, 1993) :

21
a) Obat Anti-inflamasi Nonsteroid

Obat antiinflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih

dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Anti-inflammatory

Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik

(pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti

radang). Contoh : Aspirin

b) Obat antiinflamasi Steroid

Adapun mekanisme kerja obat dari golongan steroid adalah

menghambat enzim fospolifase sehingga menghambat pembentukan

prostaglandin maupun leukotrien. Contoh : hidrokortison,

deksametason, metil prednisolon, kortison asetat, betametason,

triamsinolon, prednison, fluosinolon asetonid, prednisolon, triamsinolon

asetonid dan fluokortolon.

2. Anti Hipertensi

Anti hipertensi digunakan untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas

cardiovascular.

Obat anti hipertensi di bagi menjadi 5 kelompok, yaitu :

a) Obat Diuretik

Diuretik bekerja meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida

sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler.

Contohnya : Hidroklorotiazid

22
b) Obat Penghambat Adrenergik

Penghambat adrenergik atau adrenolitik ialah golongan obat yang

menghambat perangsangan adrenergik. Berdasarkan cara kerjanya

obat ini dibedakan menjadi :

- Menghambat adrenoseptor (adrenoseptor bloker) yaitu obat yang

menduduki adrenoseptor baik alfa (a) maupun beta (b) sehingga

menghalanginya untuk berinteraksi dengan obat adrenergik.

- Menghambat saraf adrenergik yaitu obat yang mengurangi respons

sel efektor terhadap perangsangan saraf adrenergik. Obat ini

bekerja dengan cara menghambat sintesis, penyimpanan, dan

pelepasan neurotransmitter. Obat yang termasuk penghambat

saraf adrenergik adalah guanetidinbetanidin, guanadrel, bretilium,

dan reserpin. Semua obat golongan ini umumnya dipakai sebagai

antihipertensi.

- Menghambat adrenergik sentral atau adrenolitik sentral yaitu obat

yang menghambat perangsangan adrenergik di SSP.

c) Vasolidator

Vasolidator berfungsi untuk mengendurkan otot polos arteri,

menyebabkan mereka untuk membesar dan dengan demikian

mengurangi resistensi terhadap aliran darah. Contoh : hydralazine dan

minoxidil

23
d) Penghambat Angiotensin-Converting Enzime (ACE-inhibitor) dan

Antagonis

1) Reseptor Angiotensin II (Angitensin Receptor Blocker, ARB)

- Angiotensin converting enzyme (ACE) berfungsi untuk

memblokir aksi hormon angiotensin II, yang mempersempit

pembuluh darah. Contoh : captopril, enalapril, perindopril,

ramipril, quinapril dan lisinopril

- Angiotensin receptor blocker berperilaku dengan cara yang

sama seperti ACE inhibitor. Contoh : candesartan, irbesartan,

telmisartan, eprosartan.

2) Antagonis Kalsium

Antagonis Kalsium berfungsi untuk menghambat influx kalsium

pada sel otot polos pembuluh darah dan miokard. Contoh :

nifedipin.

3. Anti Konvulsan

Anti Konvulsan berfungsi untuk mencegah dan mengobati bangkitan

epilepsi (epileptic seizure) dan bangkitan non-epilepsi. Adapun contoh

obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : bromide,

fenobarbital, fenitoin, karbamazepim.

4. Anti Koagulasi

Anti koagulasi digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan

jalan menghambat pembentukan atau menghambat fungsi beberapa

24
faktor pembekuan darah. Antikoagulasi dapat dibagi menjadi 3 kelompok

yaitu :

a) Heparin

Heparin merupakan satu-satunya antikoagulan yang diberikan

secara parenteral dan merupakan obat terpilih bila diperlukan efek

yang cepat misalnya untuk emboli paru-paru dan trombosis vena

dalam. Contoh : Protamin Sulfat

b) Antikoagulasi oral

Terdiri dari derivat 4-hidroksikumarin misalnya : dikumoral, warfarin

dan derivate indan-1,3-dion misalnya : anisindion.

c) Antikoagulasi yang bekerja dengan mengikat ion kalsium

Contoh : Natrium sitrat, Asam oksalat dan senyawa oksalat, dan

natrium edetat.

5. Anti Histamin

Ada manusia histamin merupakan mediator yang penting pada reaksi

alergi tipe segera dan reaksi inflamasi. Berdasarkan mekanisme kerja Anti

histamin digolongkan mejadi 3 kelompok yaitu :

a) Antagonis H1

Antagonis H1 sering pula disebut anti histamin klasik atau anti

histamin H1, adalah senyawa yang dalam kadar rendah dapat

menghambat secara bersaing kerja histamin pada jaringan yang

mengandung reseptor H1. Penggunaan mengurangi gejala alergi

25
karena musim atau cuaca. Antagonis H1 terdiri dari : Difenhidramin

HCl (benadryl), Dimenhidrinat (Dramamim,Antimo), Karbinoksamin

HCl (Clistin), Klorfenoksamin HCl (systral), Klemestin

Fumarat (Tavegyl), Piperinhidrinat (Kolton).

b) Antagonis H2

Antagonis H2 adalah senyawa yang menghambat secara bersaing

interaksi histamin dengan reseptor H2 sehingga dapat menghambat

sekresi asam lambung. Antagonis H2 terdiri dari

:Semitidin (Cimet,Corsamet,Nulcer,Tagamet,Ulcadine),

Ranitidin,HCl (Ranin,Ranatin,Ranatac,Zantac,Zantadin),Famotidin (Fa

cid,Famocid,Gaster Ragastin,Restidin).

6. Psikotropika

Psikotropika adalah obat yang mempengaruhi fungsi perilaku, emosi,

dan pikiran yang biasa digunakan dalam bidang psikiatri atau ilmu

kedokteran jiwa. Berdasarkan penggunaan klinik, psikotropik dapat di

bedakan menjadi 4 golongan:

a) Antipsikosis (major tranquilizer)

Antipsikosis bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun kronik,

suatu gangguan jiwa yang berat.Contoh : Risperidon, Olanzapin,

Zolepin.

26
b) Antiansietas (minor tranquilizer)

Antiansietas berguna untuk pengobatan simtomatik penyakit

psikoneurosis, dan berguna untuk terapi tambahan penyakit somatis.

Contoh : klordiazepoksid, diazepam, oksazepam

c) Anti depresi

Anti depresi digunakan untuk mengobati gangguan yang

heterogen. Contoh: desipramin, nortriptilin

d) Anti mania (mood stabilizer)

Anti mania berfungsi untuk mencegah naik turunnya mood pada

pasien dengan gangguan bipolar. Contoh : karbamazepin, asam

valproat.

7. Anti Jamur atau Anti Fungi

Anti jamur atau anti fungi berfungsi untuk mengobati infeksi yang

disebabkan oleh jamur. Contoh : imidiazol, diazol dan anti biotic polien

L. Penggolongan Obat Tradisional

Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok,

yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Dengan semakin

berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang

membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi

mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Pembuatan sediaan yang lebih

praktis ini belum diiringi dengan perkembangan penelitian sampai dengan uji

klinik.

27
Saat ini obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu ;

a) Jamu (Empirical based herbal medicine)

Jamu adalah bahan atau ramuan bahan tumbuhan, bahan hewan,

bahan mineral, sediaan sarian (galenika) atau campuran dari bahan-

bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan

berdasarkan pengalaman (data empiris). Umumnya, obat tradisional ini

dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur.

Klaim penggunaan jamu sesuai dengan jenis pembuktian tradisional

dan tingkat pembuktiannya yaitu tingkat pembuktian umum dan medium.

Jenis klaim penggunaan harus diawali dengan kata- kata “secara

tradisional digunakan untuk .......” atau sesuai dengan yang disetujui pada

pendaftaran sediaan di BPOM.

Contoh Jamu : Produksi Sido Muncul, Nyonya Meneer, dan Air

Mancur.

b) Obat Herbal Terstandar

OHT adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan

keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan

bakunya telah di standarisasi. Untuk melaksanakan proses ini

membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal,

ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan

maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Contoh OHT : Diabmeneer,

Diapet, Fitogaster, Fitolac, Glucogarp, Hi Stimuno, Irex Max, Kiranti Pegel

28
Linu, Kiranti Sehat Datang Bulan, Kuat Segar, Lelap, Prisidii, Reumakeur,

Sehat Tubuh, Sanggolangit, Stop Diar Plus, Virugon. Kriteria obat herbal

terstandar :

- Aman

- Klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah atau praklinik

- Bahan baku yang digunakan telah terstandar

- Memenuhi persyaratan mutu

c) Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)

Merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat

disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang

telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik

pada manusia. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi

medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan.

Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena

manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah.

Fitofarmaka merupakan obat tradisional yang dapat disejajarkan

dengan obat modern. Proses pembuatannya telah terstandar dan

ditunjang oleh bukti ilmiah sampai uji klinis pada manusia. Oleh karena

itu, dalam pembuatannya diperlukan peralatan berteknologi modern,

tenaga ahli, dan biaya yang tidak sedikit. Contoh Fitofarmaka : Nodiar

(Kimia Farma), Rheumaneer (Nyonya Meneer), Stimuno (Dexa Medica),

Tensigard Agromed (Phapros), X-Gra (Phapros).

29
Kriteria fitofarmaka :

- Aman

- Klaim khasiat dibuktikan berdasarkan ujin klinis

- Menggunakan bahan baku terstandar

- Memenuhi persyaratan mutu

30
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk

digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau

keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,

penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi

(Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).

Adapun beberapa jenis penggolongan obbat adalah:

1. Penggolongan obat secara luas

2. Penggolongan obat berdasarkan jenisnya

3. Penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja

4. Penggolongan obat berdasarkan lokasi atau tempat pemakaian

5. Penggolongan obat berdasarkan cara pemakaian

6. Penggolongan obat berdasarkanefek yang ditimbulkan

7. Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi

8. Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya

9. Penggolongan obat berdasarkan golongan kerja obat

10. Penggolongan obat tradisional

Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan

dalam pelayanan kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan,

31
karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi

sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena

penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari

tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi.

B. Saran

Kesehatan adalah anugerah dari tuhan yang maha kuasa yang harus

dijaga maka dari itu kita harus mensyukurinya dengan cara menjaga

kesehatan kita salah satunya adalah dengan menghindari penggunaan

narkotika, zat psikotropika atau yang sejenis. Dalam pergaulan kita sehari-

hari kita harus bisa memilih lingkungan pergaulan yang sehat untuk kita dan

pandai dalam memilih teman.

Akibat dari kita salah memilih pergaulan kita dapat terjerumus dalam

bahaya narkoba. Jika ada seseorang yang menawarkan narkoba hendaknya

kita langsung menolaknya. Menjaga kesehatan jasmani dan rohani dari

sekarang kelak akan membawa generasi muda yang kuat dan sehat

sehingga dapat bekerja keras untuk negara kita yang tercinta ini.

32
DAFTAR PUSTAKA

Mika Silmin. 2015. Obat Dan Penggolongan Obat. Online


(http://mikasilmin.blogspot.com/2015/11/obat-dan-penggolongan-obat.html).
Diakses 18 Maret 2019.
Beni. 2014. Dunia Mahasiswa Analist Kesehatan. Online
(http://dwianatikada.blogspot.com/2014/08/katapengantar-puji-syukur-
atas.html). Diakses 18 Maret 2019.
Fauzi Btb. 2013. Penggolongan Obat. Online (http://ilmu-
kefarmasian.blogspot.com/2013/03/penggolongan-obat-lengkap.html).
Diakses 18 Maret 2018.

33