Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak balita merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan

rawan terhadap penyakit. Anak balita harus mendapat perlindungan

untuk mencegah terjadi penyakit yang dapat mengakibatkan

pertumbuhan dan perkembangan menjadi terganggu atau bahkan

dapat menimbulkan kematian. Salah satu penyebab kematian tertinggi

akibat penyakit infeksi pada anak usia balita adalah penyakit

pneumonia (WHO, 2010).

Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru meradang.

Kemampuan kantung-kantung menyerap oksigen menjadi kurang.

Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bisa bekerja.

Penyakit pneumonia bersifat endemik dan merupakan salah satu

penyakit menular yang tersebar hampir di sebagian besar negara

berkembang termasuk Indonesia dan menjadi masalah yang sangat

penting (Misnadiarly, 2008).

Menurut WHO (World Health Organization) angka kematian

balita pada tahun 2013 masih tinggi mencapai 6,3 juta jiwa. Tingginya

angka kematian balita akibat pneumonia mengakibatkan target MDG’s

(Millennium Development Goals) ke-4 yang bertujuan menurunkan

angka kematian anak sebesar 2/3 dari tahun 1990 sampai 2014 tidak

tercapai. Kematian balita tertinggi terjadi di Negara berkembang

sebanyak 92% atau 29.000 balita/hari. Kematian balita sebagian besar

1
2

disebabkan oleh penyakit menular seperti pneumonia (15%), diare

(9%), dan malaria (7%) (WHO, 2015).

Di Indonesia Pneumonia merupakan penyebab kematian balita

ke-2 setelah diare. Jumlah penderita pneumonia pada balita usia 0–4

tahun di Indonesia pada tahun 2014 adalah 657.490 atau 29,47% dan

kematian akibat pneumonia sebanyak 496 jiwa. Berdasarkan laporan

33 provinsi kasus pneumonia yang terjadi pada balita terdapat 3

provinsi dengan cakupan pneumonia tertinggi berturut-turut adalah

provinsi Bangka Belitung sebesar 56,36%, NTB 51,65%, dan

Kalimantan selatan 50,53%. Di NTB sendiri Pneumonia merupakan

penyebab kematian tertinggi pada balita usia 0-5 tahun yakni 29%

(Pusat Data dan Informasi, 2015).

Kabupaten Lombok Timur merupakan kabupaten di provinsi

NTB dengan jumlah penderita pneumonia paling tinggi. Berdasarkan

profil kesehatan NTB tahun 2015, di Lombok Timur terdapat 13.167

(38,7%) kasus pneumonia dengan jumlah kematian balita akibat

pneumonia sebanyak 4 jiwa. Puskesmas Kotaraja merupakan

Puskesmas dengan kejadian pneumonia paling tinggi dari 29

Puskesmas yang ada di Lombok Timur yakni mencapai 1.095 (8,31%)

balita. Puskesmas Kotaraja juga menunjukkan peningkatan kejadian

Pneumonia yang sangat signifikan dalam 2 tahun terakhir. Data yang

diperoleh dari Puskesmas Kotaraja menunjukkan pada tahun 2014

ditemukan 258 kasus pneumonia dan tahun 2015 ditemukan 1.095

kasus pneumonia (Dikes NTB, 2015).


3

Tingginya angka kejadian pneumonia tidak terlepas dari faktor

risiko pneumonia. Faktor risiko yang sudah teridentifikasi meliputi :

status gizi, berat badan lahir rendah, kurangnya pemberian ASI

eksklusif pada enam bulan pertama kehidupan, imunisasi campak dan

kepadatan rumah (UNICEF-WHO, 2006).

Pada tahun 2008, WHO menambahkan faktor risiko pneumonia

lain yang berhubungan dengan host, lingkungan dan agent yang

meliputi malnutrisi (berat badan/usia dengan Z-score ≤2), serta berat

badan lahir rendah (kurang dari 2500 gram), ASI nonekslusif,

kurangnya imunisasi campak, polusi udara di dalam rumah dan

kepadatan rumah. Kemungkinan faktor risiko lain adalah orang tua

merokok, kekurangan Zinc, pengalaman Ibu sebagai pengasuh,

penyakit penyerta misalnya diare, penyakit jantung, asma, pendidikan

ibu, penitipan anak, kelembaban udara, udara dingin, kekurangan

vitamin A, urutan kelahiran dan polusi rumah (Rudan, et al, 2008).

Minimnya kontribusi masyarakat dalam mengurangi faktor risiko

pneumonia dikhawatirkan akan menyebabkan kejadian pneumonia

akan terus meningkat, peningkatan prevalensi pneumonia

membutuhkan penatalaksanaan yang tepat. Penatalaksanaan yang

yang tidak tepat akan menyebabkan rusaknya paru. Kerusakan

jaringan paru menyebabkan kemampuan paru untuk menyerap

oksigen berkurang, kekurangan oksigen dalam kurun waktu yang lama

dapat menyebabkan balita yang terkena pneumonia meninggal dunia

(UNICEF-WHO, 2006)
4

Melihat banyaknya faktor risiko yang berhubungan dengan

kejadian pneumonia dan tingginya angka kematian akibat pneumonia

pada balita, maka strategi penaggulangan pneumonia haruslah

dilakukan guna mencapai tujuan keempat MDG’s. Upaya pencegahan

merupakan komponen strategis pemberantasan pneumonia pada

anak terdiri dari pencegahan melalui imunisasi dan non-imunisasi.

Imunisasi terhadap patogen yang bertanggung jawab terhadap

pneumonia merupakan strategi pencegahan spesifik. Pencegahan

non-imunisasi merupakan pencegahan nonspesifik misalnya

mengatasi berbagai faktor-risiko seperti polusi udara dalam-ruang,

merokok, kebiasaan perilaku tidak sehat/bersih, perbaikan gizi dan

dan lain-lain (Kemenkes RI, 2010).

Berdasarkan banyaknya kasus pneumonia yang ada maka

penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor risiko

kejadian Pneumonia pada Balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja

Puskesmas Kotaraja Kabupaten Lombok Timur.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka

dapat dirumuskan permasalahan yaitu apakah faktor risiko kejadian

pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas

Kotaraja Kabupaten Lombok Timur?.


5

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui faktor risiko pneumonia pada balita usia 0-5 tahun

di wilayah kerja Puskesmas Kotaraja.

2. Tujuan Khusus

a. Identifikasi faktor umur balita terhadap kejadian pneumonia

pada balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas

Kotaraja.

b. Identifikasi faktor jenis kelamin balita terhadap kejadian

pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja

Puskesmas Kotaraja.

c. Identifikasi faktor berat badan lahir terhadap kejadian

pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja

Puskesmas Kotaraja.

d. Identifikasi faktor riwayat pemberian ASI ekslusif terhadap

kejadian pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah

kerja Puskesmas Kotaraja.

e. Identifikasi faktor riwayat pemberian Vitamin A terhadap

kejadian pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah

kerja Puskesmas Kotaraja.

f. Identifikasi faktor riwayat imunisasi terhadap kejadian

pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja

Puskesmas Kotaraja.
6

g. Identifikasi faktor kepadatan hunian rumah terhadap kejadian

pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja

Puskesmas Kotaraja.

h. Identifikasi faktor ventilasi rumah terhadap kejadian

pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja

Puskesmas Kotaraja.

i. Identifikasi faktor pendidikan ibu terhadap kejadian

pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja

Puskesmas Kotaraja.

j. Identifikasi faktor pengetahuan ibu terhadap kejadian

pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di wilayah kerja

Puskesmas Kotaraja.

k. Identifikasi faktor kebiasaan merokok anggota keluarga

terhadap kejadian pneumonia pada balita usia 0-5 tahun di

wilayah kerja Puskesmas Kotaraja.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam

pengembangan ilmu keperawatan anak, khususnya dalam

upaya pencegahan kejadian pneumonia pada balita di bidang

komunitas.
7

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Keluarga/Masyarakat

Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan kesadaran

masyarakat khususnya keluarga dalam memberikan ASI

ekslusif serta mengikuti program kesehatan yang telah

ditetapkan seperti imunisasi dan pemberian vitamin A,

sehingga tingginya kejadian pneumonia dapat diturunkan.

b. Bagi instansi kesehatan

Hasil penelitian diharapkan menjadi bahan pertimbangan

bagi pihak instansi kesehatan untuk meninjau program yang

telah diterapkan guna pencegahan pneumonia pada balita,

sehingga program Imunisasi dan pemberian vitamin A akan

mencakup seluruh balita yang berada di wilayah Kerja

Puskesmas Kotaraja agar tingginya kejadian pneumonia

dapat diturunkan.

c. Bagi Institusi pendidikan

Penelitian ini diharapkan bisa menjadi tambahan literatur

atau informasi tentang faktor risiko pneumonia, sehingga

literatur yang ada di perpustakaan akan lebih lengkap.

d. Bagi peneliti lain

Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu data awal

untuk penelitian selanjutnya misalnya penelitian tentang

hubungan status gizi dan status sosial-ekonomi terhadap

kejadian pneumonia pada balita.