Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK LISTRIK

SAKLAR TUKAR

Disusun Oleh :
Kartika Indira Putri (051604010)
Ilmi Amalia Sholikha (0516040101)
Indra Adi Ramana (0516040112)

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak pertama kali ditemukannya listrik oleh seorang ilmuan
berkebangsaan Yunani yang bernama Thales. Kemudian listrik pun terus
berkembang sampai akhirnya seperti sekarang ini. Bisa dikatakan listrik turut
ikut membantu dalam perkembangan zaman karena hampir setiap teknologi
yang ada sekarang ini digerakkan oleh listrik.
Seiring dengan perkembangan teknologi dewasa ini,maka kita dituntut
untuk bisa mengikuti perkembangannya.Dalam kehidupan sehari – hari kita
tidak pernah lepas dengan namanya Listrik. Listrik sudah menjadi kebutuhan
pokok,seperti kita tahu bahwa dalam segala bentuk kebutuhan rumah tangga
sudah tidak terlepas dari namanya Energi listrik,untuk itu dalam rangka untuk
kenyamanan dan keamanan perlu adanya system pemasangan dan pengamanan
yang baik.
Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering mendengar kata saklar.
Saklar sering kita jumpai dirumah kiita ataupun di kosan kita saat ini. Saklar
merupakan salah satu komponen listrik yang berfungsi untuk memutuskan dan
menghubungkan arus listrik, terutama pada rangkaian yang dihubungkan
dengan hambatan berupa lampu. Adapun jenis–jenis saklar itu sendiri yaitu
saklar tunggal, saklar ganda dan reversing switch.
1.2 Tujuan
Kemampuan yang akan dimiliki oleh mahasiswa setelah memahami isi
modul ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa mampu dapat merencanakan, memasang, memperbaiki dan
mengetes rangkaian instalasi penerangan saklar tukar
2. Mahasiswa mampu menggunakan alat ukur instalasi listrik sesuai dengan
standar Keselamatan kerja.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Dasar Teori


Saklar adalah komponen listrik yang berfungsi sebagai pemutus dan
penyambung arus listrik dari sumber arus ke beban listrik pada rangkaian listrik
tertutup. Fungsi saklar dalam instalasi listrik penerangan untuk memutuskan
dan menghubungkan arus listrik dari sumber ke beban. Di dalam saklar
dilengkapi dengan pegas yang dapat memutuskan rangkaian dalam waktu yang
sangat singkat, dengan cepatnya pemutusan ini kemungkinan timbulnya busur
api antara kontak (tuas) saklar menjadi lebih kecil.
Saklar yang digunakan pada umumnya jenis saklar tunggal, saklar seri dan
saklar tukar (hotel) jenis inbow (terpendam dalam tembok).

Gambar 2.1 Macam-macam saklar


Saklar yang digunakan :
• Saklar tunggal
Saklar ini tidak lagi memerlukan penjelasan. Ini suatu cara yang termudah
untuk menghubungkan/memutuskan suatu hantaran.
• Saklar seri/deret
Saklar seri ini gunanya untuk memutuskan dan menghubungkan dua buah
kelompok lampu secara bergantian. Misalnya: Lampu yang terdapat pada
ruangan tamu dan lampu yang terdapat pada taman dapat hidup sendiri-sendiri
atau seluruhnya dihidupkan pada waktu bersamaan.
• Saklar tukar/hotel
Saklar tukar atau saklar dua arah mempunyai 3 kutub yaitu kutub input dan dua
kutub output. Adapun sistem pengaturan saklar dua arah dengan buah lampu
ini bertujuan untuk mengoperasikan dua buah lampu secara bergantian. Saklar
tukar/hotel ini digunkaan apabila kita menghendaki melayani satu lampu dari
dua tempat atau lampu menyala secara berurutan. Misalnya: Pada lorong-
lorong dalam kamar yang dua pintu dan tangga pada rumah bertingkat, maka
kita pakai dua buah saklar tukar.

Aturan pemasangan saklar :


1. Tinggi pemasangan ± 150 cm di atas lantai.
2. Dekat dengan pintu dan mudah dicapai tangan/sesuai kondisi tempat.
3. Arah posisi kontak (tuas) saklar seragam bila pemasangan lebih dari satu.
Pada bagian ini akan dipelajari system instalasi penerangan dengan
menggunakan dua buah saklar tukar dan satu buah lampu pijar dan dilengkapi
dengan satu buah kotak-kontak.
Saklar tukar dalam instalasi penerangan pada umumnya digunakan
minimal sebanyak dua buah untuk mengoperasikan satu buah atau beberapa
lampu secara bersamaan, baik lampu pijar maupun lampu tabung dari dua
tempat.

2.1.1. MCB 1 Fasa


MCB (Miniature Circuit Breaker) adalah komponen dalam instalasi
listrik rumah yang mempunyai peran sangat penting. Miniature Circuit
Breaker (MCB) berfungsi sebagai peralatan pengaman terhadap
gangguan hubung singkat dan beban lebih yang mana akan
memutuskan secara otomatis apabila melebihi dari arus nominalnya.
Dasar pemilihan rating arus MCB yang ingin dipakai di perumahan
tentu disesuaikan dengan besarnya langganan daya listrik PLN yang
terpasang. Karena PLN sendiri menetapkan besar langganan listrik
perumahan sesuai rating arus dari MCB yang diproduksi untuk pasar
dalam negeri.
Ada beberapa type MCB yaitu yang 1 Phase ,2 phase dan 3 Phase.
Elemen penting MCB yaitu :
- Terminal trip (Bimetal)
- Elektromagnetik trip (coil)
- Pemadam busur api
- Mekanisme pemutusan
Sifat dari MCB adalah :
• Arus beban dapat diputuskan bila panas yang ditimbulkan melebihi
dari panas yang di izinkan
• Arus hubung singkat dapat diputuskan tanpa adanya perlambatan
• Setelah dilakukan perbaikan , maka MCB dapat digunakan
kembali
Beberapa kegunaan MCB :
 Membatasi Penggunaan Listrik

 Mematikan listrik apabila terjadi hubungan singkat ( Korslet )

 Mengamankan Instalasi Listrik

 Membagi rumah menjadi beberapa bagian listrik, sehingga lebih
mudah untuk mendeteksi kerusakan instalasi listrik

2.1.2. Sekering
Fuse atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan sekering adalah
komponen yang berfungsi sebagai pengaman dalam rangkaian
elektronika maupun perangkat listrik. Fuse (sekering) pada dasarnya
terdiri dari sebuah kawat halus pendek yang akan meleleh dan terputus
jika dialiri oleh arus listrik yang berlebihan ataupun terjadinya
hubungan arus pendek (short circuit) dalam sebuah peralatan listrik /
elektronika. Dengan putusnya fuse (sekering) tersebut, arus listrik yang
berlebihan tersebut tidak dapat masuk ke dalam rangkaian elektronika
sehingga tidak merusak komponen-komponen yang terdapat dalam
rangkaian elektronika yang bersangkutan.
Fuse (sekering) terdiri dari 2 terminal dan biasanya dipasang secara
seri dengan rangkaian elektronika / listrik yang akan dilindunginya
sehingga apabila fuse (sekering) tersebut terputus maka akan terjadi
“Open Circuit” yang memutuskan hubungan aliran listrik agar arus
listrik tidak dapat mengalir masuk ke dalam rangkaian yang
dilindunginya.
Berikut ini adalah simbol fuse (sekring) dan posisi pemasangan fuse
secara umum:

Gambar 2.2 Gambar simbol fuse


Bentuk fuse (sekering) yang paling sering ditemukan adalah
berbentuk tabung (silinder) dan pisau (Blade Type). Fuse yang
berbentuk tabung atau silinder sering ditemukan di peralatan listrik
rumah tangga sedangkan fuse yang berbentuk pisau (blade) lebih sering
digunakan di bidang otomotif (kendaraan bermotor).
Nilai fuse biasanya tertera pada badan fuse itu sendiri ataupun diukir
pada terminal fuse, nilai fuse diantaranya terdiri dari arus listrik (dalam
satuan Ampere (A) ataupun miliAmpere (mA) dan tegangan (dalam
satuan Volt (V) ataupun miliVolt (mV). Dalam rangkaian eletronika
maupun listrik, fuse atau sekering ini sering dilambangkan dengan
huruf “F”.
2.1.3 Stop Kontak
Stop kontak merupakan material instalasi listrik yang berfungsi
sebagai muara penghubung antara arus listrik dengan peralatan listrik.
Di bawah ini adalah gambar stop kontak out bow yang dipasang di luar
tebok (tidak ditanam di dalam tembok) dan memiliki beberapa colokan
sehingga sering disebut terminal.
Stop kontak, sebagian mengatakan outlet, merupakan komponen
listrik yang berfungsi sebagi muara hubungan antara alat listrik dengan
aliran listrik. Agar alat listrik terhubung dengan stop kontak, maka
diperlukan kabel dan steker atau colokan yang nantinya akan
ditancapkan pada stop kontak.
Berdasarkan bentuk serta fungsinya, stop kontak dibedakan menjadi
dua macam, yaitu:
 Stop kontak kecil, merupakan stop kontak dengan dua lubang
(kanal) yang berfungsi untuk menyalurkan listrik pada daya
rendah ke alat-alat listrik melalui steker yang juga berjenis kecil.

 Stop kontak besar, juga merupakan stop kontak dengan dua kanal
AC yang dilengkapi dengan lempeng logam pada sisi atas dan
bawah kanal AC yang berfungsi sebagai ground.sakelar jenis ini
biasanya digunakan untuk daya yang lebih besar.
Sedangkan berdasarkan tempat pemasangannya. Dikenal dua jenis
stop kontak, yaitu:
• Stop kontak in bow, merupakan stop kontak yang dipasang didalam
tembok.
• Stop kontak out bow, yang dipasang diluar tembok atau hanya
diletakkan dipermukaan tembok pada saat berfungsi sebagai stop
kontak portable.
Fungsi kotak kontak (stop kontak) dalam instalasi listrik sebagai alat
penghubung beban dengan sumber listrik. serta berfungsi untuk
menyediakan sumber tegangan listrik pada beban yang tidak tetap atau
beban yang dapat dipindah-pindah.
Aturan pemasangan stop kontak :
1. Tinggi pemasangan ± 150 cm di atas lantai, apabila kurang dari 150
cm harus dilengkapi tutup.
2. Mudah dicapai tangan.
3. Di pasang sedemikian rupa, sehingga penghantar netralnya berada
disebelah kanan atau di sebelah bawah.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat Dan Bahan


Tabel 3.1 Daftar Alat dan Bahan
Jumlah
No Nama Spesifikasi Angka Huruf Satuan Ket.
1. KWH meter 220V/50Hz/450VA 1 Satu Buah
2. MCB 1 phasa 6 A 1 Satu Buah
3. Saklar tukar MK, setara 1 Satu Buah
4. Kotak-kontak 220V / 6 A 2 Dua Buah
5. Lampu pijar 25 W / TL 1x20 W 2 Dua Buah
6. Kotak penghubung MK, setara 2 Dua Buah
7. Kotak saklar / MK, setara 3 Tiga Buah
kotak-kontak
8. Pipa PVC 3/4", maspion 2 Dua Lonjor
9. Klem pipa PVC 3/4", maspion 28 Dua puluh Buah
delapan
10. Sekrup 5/8" 28 Dua puluh Buah
delapan
11. Tool set 1 Satu Box
12. AVO meter Sanwa, setara 1 Satu Buah
13 Kabel NYA,NYM

3.2 Prosedur Keselamatan


1 Perhatikan setiap langkah kerja yang akan saudara kerjakan semua harus
sesuai dengan SOP (standart operasi prosedur)
2 Sebelum merangkai pastikan power dalam keadaan off atau mati
3 Periksa semua peralatan dan komponen dalam keadaan aman digunakan.
4. Dalam melakukan pekerjaan rangkaian dilarang bercanda dan bercakap
yang tidak ada hubungannya dengan modul praktikum.
5 sebelum mencoba pastikan dicek terlebih dahulu dengan
menghubungi instruktur bengkel/ laboratoriun.
3.3 Langkah Kerja
1. Rangkailah peralatan yang tersedia seperti pada gambar diagram garis
ganda dan power supply dalam keadaan terbuka.
2. Cek kembali hubungan terminal masing-masing peralatan dan sambungan
apakah sudah baik dengan peralatan ukur AVO meter.
3. Sebelum power supply di on - kan, yakinkan bahwa rangkaian sudah benar
dengan menanyakan pada instruktur.

3.4 Gambar Kerja


BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Percobaan

Tabel 4.1 Hasil Pengukuran


No. Hubungan Instalasi Hasil Pengukuran

Semua sakelar OFF

1. L1 terhadap N 0
2. L1 terhadap PE 0
3. N terhadap PE 0
Semua Sakelar ON S1(on)S2(off) S2(on)S1(off)

4. L1 tehadap N 1 1
5. L1 terhadap PE 0 0
6. N terhadap PE 0 0
7. L1 terhadap sakelar 1 1
8. Sakelar terhadap lampu 1 1
9. Lampu terhadap N 1 1
Catatan : 0 = tidak ada hubungan
1 = ada hubungan

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran


No. Hubungan Instalasi Hasil Pengukuran (V)
1. L1 tehadap N 222,7
2. L1 terhadap PE 107,6

3. N terhadap PE 77,2
4. Kotak-kontak 1 223,4
5. Kotak-kontak 2 223,2
4.2 Analisa Data
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, pengukuran yang
dilakukan tanpa menggunakan tegangan, pada saat semua saklar dalam
keadaan mati, hubungan antara L dan N, N dan PE, serta L dan PE (tanah) tidak
terdeteksi atau tidak ada arus. Sedangkan hubungan pada saat saklar 1 on saklar
2 off, atau sebaliknya, dapat dilihat pada tabel hasil percobaan. Setelah
mngetahui hubungan pada saat tanpa tegangan, selanjutnya mengukur
tegangan yang ada pada instalasi yaitu pada L terhadap N, l terhadap PE, N
terhadap PE, dan masing-masing kotak-kontak.
Pada praktikum saklar tukar ini, kami merangkai instalasi listrik yang
menggunakan 2 saklar, 2 buah lampu doff, dan 2 kotak-kontak yang dirangakai
sesuai dengan gambar diagram yang ada. Apabila saklar 1 di ON kan maka
lampu akan hidup, apabila saklar 2 di offkan maka lampu akan mati. Dalam
rangkaian ini kita bisa menghidupkan dan mematikan lampu pada setiap
saklar.
Dalam hal ini saklar tukar dapat digunakan dalam pemecahan masalah
karena saklar tukar hanya men-switch arus listrik dari satu kutub ke kutub
lainnya, sehingga arus tetap mengalir tanpa ada rangkaian terbuka. Jenis saklar
ini berbeda dengan saklar tunggal karena saklar tunggal memutuskan arus yang
mengakibatkan rangkaian terbuka sehingga lampu tidak menyala.
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum dan analisis data yang kami laksanakan dapat


disimpulkan bahwa :
1 Pemasangan instalasi harus sesuai dengan standart PUIL 2000 serta
memperhatikan K3 dalam pemasangan

2 Sebelum melaksanakan pemasangan instalasi harus menentukan rancangan


instalasi dengan menggambar single line, pengawatan dan gambar pemipaan
dari instalasi yang akan dipasang dan sebelum pemasangan harus memeriksa
kompenen yang akan digunakan.

3 Saklar tukar berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan satu buah lampu
dari dua tempat berbeda secara bergantian atau bersamaan, sehingga
memudahkan pengguna untuk mengontrol lampu di jarak yang jauh.

4 Cara kerja dari instalasi ini sebagai berikut :

a) Ketika kedua tuas saklar tidak dalam kondisi OFF Maka lampu tidak
menyala.

b) Ketika tuas 1 saklar tukar ditekan maka lampu akan menyala

c) Saat lampu dalam keadaan menyala ,dapat langsung dimatikan dengan tuas
2 saklar tukar yang berada di tempat yang berbeda dan sebaliknya

d) Ketika kedua saklar dalam kondisi ON maka lampu akan mati.


DAFTAR PUSTAKA

• Antonius Lipsmeir, Adolf Teml, Friedrich Tabellenbuch. Electrotechnic


Electronic.1989. Bronner and Daentler K G. Germany
• Horst Dieter, Tolle Erhard Vop. Technical Drawing for Electrical Engineering.
GTZ GmbH. Germany
• Michael Neidle, Ir. Sahat Pakpahan. Teknologi Instalasi Listrik. Lembaga
Penerbangan dan Amerika Serikat (LAPAN).1989. Erlangga. Jakarta
• P. Van Harten, E setiawan. Instalasi Listrik Arus Kuat 2.1985. Bina Cipta.
Bandung.
• PUIL 2000. Persyaraan Umum Instalasi Listrik Indonesia. 1987. LIPI. Jakarta
TUGAS PENDAHULUAN

SOAL !
1. Peraturan-peraturan apa yang harus diperhatikan untuk pemasangan stop kontak
berdasar standar ? (sebutkan standar yg digunakan)
2. Persyaratan pemasangan grounding sesuai standar ! sebutkan dasar persyaratan
yang digunakan
3. Sebutkan jenis-jenis saklar kotak yang anda ketahui ? sebutkan keluarannya!
4. Sebutkan syarat pemasangan saklar dan stop kontak pada kamar mandi ?
5. Ketentuan-ketentuan umum apa yang berlaku mengenai pemasangan kotak-
kontak dinding ?

JAWABAN !
1. Aturan pemasangan stop kontak :
a. PUIL2000
2. Menurut PUIL 2000 berikut ini persyaratan untuk grounding :
a. Pemasangan dan susunan elektrode bumi :
1. Untuk memilih macam elektrode bumi yang akan dipakai, harus
diperhatikan terlebih dahulu kondisi setempat, sifat tanah, dan resistans
pembumian yang diperkenankan.
2. Permukaan elektrode bumi harus berhubungan baik dengan tanah
sekitarnya. Batu dan kerikil yang langsung mengenai elektrode bumi
memperbesar resistans pembumian.
3. Jika keadaan tanah mengizinkan, elektrode pita harus ditanam sedalam
0,5 sampai 1 meter.
4. Elektrode batang dimasukkan tegak lurus ke dalam tanah dan panjangnya
disesuaikan dengan resistans pembumian yang diperlukan (lihat Tabel 3.18-
2)
5. Elektrode pelat ditanam tegak lurus dalam tanah; ukurannya disesuaikan
dengan resistans pembumian yang diperlukan (lihat Tabel 3.18-2)
b. Penghantar bumi
1. Berdasarkan kekuatan mekanis, luas penampang minimum penghantar
bumi harus sebagai berikut :
a. Untuk penghantar yang terlindung kokoh secara mekanis, 1,5 mm2
tembaga atau 2,5 mm2 alumunium.
b. Untuk penghantar yang tidak terlindung kokoh secara mekanis 4
mm2 tembaga atau pita baja yang tebalnya 2,5 mm, dan luas
penampangnya 50 mm2.
2. Penghantar aluminium tanpa perlindungan mekanis tidak
diperkenankan dipakai sebagai penghantar bumi.
3. Penghantar bumi harus dilindungi jika menembus langit-langit atau
dinding, atau berada di tempat dengan bahaya kerusakan mekanis.
4. Penghantar bumi harus diberi tanda sesuai dengan 7.2
5. Pada penghantar bumi harus dipasang sambungan yang dapat dilepas
untuk keperluan pengujian resistans pembumian, pada tempat yang
mudah dicapai, dan sedapat mungkin memanfaatkan sambungan yang
karena susunan instalasinya memang harus ada.
6. Sambungan penghantar bumi dengan elektrode bumi harus kuat secara
mekanis dan menjamin hubungan listrik dengan baik, misalnya dengan
menggunakan las, klem, atau baut kunci yang tidak mudah lepas. Klem
pada elektrode pipa harus menggunakan baut dengan diameter minimal
10 mm.
7. Sambungan dalam tanah harus dilindungi terhadap korosi.
8. Penghantar bumi di atas tanah harus memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
a. Mudah terlihat dan jika tertutup harus mudah dicapai;
b. Harus dilindungi dari bahaya mekanis atau kimiawi;
c. Tidak boleh ada sakelar atau sambungan yang mudah di lepas tanpa
menggunakan gawai khusus;
d. Penghantar bumi untuk kapasitor peredam interferensi radio harus
diisolasi sama seperti penghantar fase dan harus dipasang dengan
cara yang sama pula, jika arus yangdialirkan melebihi 3,5 mA.
9. Sambungan dan hubungan antara penghantar bumi utama, penghantar
bumi, dan semua cabangnya satu sama lain harus dilaksanakan
demikian rupa sehingga terjaminlah hubungan listrik yang baik, dapat
diandalkan dan tahan lama.
3. Jenis saklar kontak menurut PUIL 2000
a. sakelar cabang : sakelar untuk menghubungkan dan memisahkan
masing-masing cabang.
b. sakelar keluar : sakelar pada PHB di sisi tenaga listrik keluar dari PHB
tersebut.
c. sakelar masuk : sakelar pada PHB di sisi tenaga listrik masuk ke PHB
tersebut.
d. sakelar pemisah : sakelar untuk memisahkan atau menghubungkan sirkit
dalam keadaan tidak atau hampir tidak berbeban (lihat definisi pemutus
sirkit). (disconnector)
e. sakelar pemisah pengaman : sarana pengamanan untuk memisahkan
sirkit perlengkapan listrik dari jaringan sumber dengan menggunakan
transformator pemisah atau motor generator, pemisahan dimaksudkan
untuk mencegah timbulnya tegangan sentuh yang terlalu tinggi pada
BKT perlengkapan yang diamankan, bila terjadi kegagalan isolasi
dalam perlengkapan tersebut. (protective disconnector)
f. sakelar utama : sakelar masuk dan keluar pada PHB utama instalasi atau
PHB utama subinstalasi.
4. Aturan pemasangan saklar dan stop kontak menurut PUIL 2000 :
a. Aturan pemasangan saklar :
1. Tinggi pemasangan ± 150 cm di atas lantai.
2. Dekat dengan pintu dan mudah dicapai tangan/sesuai kondisi
tempat.
3. Arah posisi kontak (tuas) saklar seragam bila pemasangan lebih dari
satu.
b. Aturan pemasangan stop kontak :
1. Tinggi pemasangan ± 150 cm di atas lantai, apabila kurang dari 150
cm harus dilengkapi tutup.
2. Mudah dicapai tangan.
3. Di pasang sedemikian rupa, sehingga penghantar netralnya berada
disebelah kanan atau di sebelah bawah.
4. Dalam Zone 0, 1 dan 2, dan juga dalam Zone 3 kamar mandi dengan
bak mandi dan pancuran, PHB serta lengkapannya tidak boleh
dipasang;
5. Dalam Zone 3, pemasangan kotak kontak hanya diizinkan jika:
a. Setiap kotak kontak dilengkapi dengan transformator pemisah
(lihat 3.11.2.1), atau
b. Disuplai dengan tegangan ekstra rendah (lihat 3.3.1), atau
c. Diproteksi dengan GPAS dengan arus operasi sisa tidak
melebihi 30 mA
6. Setiap sakelar dan kotak kontak harus berjarak minimum 0,60 m dari
lubang pintu untuk kotak pancuran air yang dirakit terlebih dahulu.
5. Ketentuan – ketentuan pemasangan stop kontak :
a. Tinggi pemasangan ± 150 cm di atas lantai, apabila kurang dari 150 cm
harus dilengkapi tutup.
b. Mudah dicapai tangan.
c. Di pasang sedemikian rupa, sehingga penghantar netralnya berada
disebelah kanan atau di sebelah bawah.