Anda di halaman 1dari 6

PERAREM DESA PAKRAMAN PADANGSAMBIAN

INDIK KRAMA TAMIU, TAMIU BERDOMISILI DAN TAMIU PENGUSAHA

Murdha Citta

Om Swastyastu
Om Awighnam Astu Namo Sidham

Melarapan antuk Asung Kertha Wara Nugrahan Ida Sanghyang Widhi Waca, ring
rahina .........Wuku ..........Tanggal.......Bulan........Warsa Duang Tali Pelakutus sampum prasida
keadegang Pararem Krama Tamiu, Tamiu Berdomisili dan Tamiu Pengusaha ring sawewengkon
Desa Pakraman Padangsambian.
Indik kawentenan krama ring sajeroning desa pakraman patut kawentenin perbedaan
karena perananannya dalam desa pakraman memiliki kekhususan dibandingkan dengan
kedudukan dan peranan desa dinas. Oleh sebab itu perlu dijelaskan mengenai peran an desa
Pakraman dalam penyelenggaraan otonomi pemerintahan desa,yaitu penyelenggaraan
pemerintahan desa oleh desa pakraman serta kedudukan dan wewenang desa pakraman dalam
hubungannya dengan otonomi Pemerintahan Desa. Berdasarkan pada ketentuan peraturan
perundang-undangan Desa Pakraman memiliki tugas dan fungsi yang sama dengan desa dinas
namun secara sosiologis desa pakraman juga memiliki tanggung jawab untuk
mengimplementasikan bidang sosial kemasyarakatan dan menyelenggarakan aktivitas
keagamaan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
Pararem puniki kasurat mangda sida dangan antuk ngelingan mogi riwastu prasida
ngamangguhang karahajengan lan kasukertaning jagat Desa Pakraman Padangsambian.
Om Santhi,Sathi,Santhi Om

PRATAMA SARGAH
PAMIKUKUH LAN PATITIS

Palet 1
Pamikukuh
Pawos 1

1. UUD 1945 Pasal 18 B ayat (2) tentang otonomi Desa dan atau disebut dengan nama lain
2. Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 11470/1159/B.T Pem. tertanggal 27 Pebruari 2002
tentang Penduduk Pendatang di Bali
3. Surat Gubernur Bali Nomor 470/7587/B. Tapen tanggal 14 Nopember 2002 lebih
ditegaskan lagi dengan menyatakan bahwa ” Penduduk pendatang adalah penduduk yang
datang akibat mutasi kepindahan antar Kabupaten/Kota atau Propinsi Bali”
4. Kesepakatan Bersama Gubernur Bali dengan Bupati/Walikota se-Bali Nomor 153 Tahun
2003 tanggal 10 Februari 2003, dengan mempertegas pengertian penduduk pendatang
dipersemit lagi, tidak termasuk mutasi antar Kabupaten/Kota seperti yang pernah
dirumuskan dalam Surat Gubernur Bali Nomor 470/7587/B.Tapen.Dalam pasal 1
Kesepakatan Bersama dinyatakan bahwa ” Penduduk pendatang adalah penduduk yang
datang dari luar Provinsi Bali
5. Keputusan Majelis Utama Desa Pakraman (MDP) Bali Nomor: 050/Kep/Psm-1/MDP
Bali/III/2006, Jumat 3 Maret 2006, tentang Hasil-hasil Pasamuhan Agung I MDP Bali,
menentukan penduduk Provisi Bali dikelompokan menjadi 3(tiga), yaitu Krama Desa,
Krama tamiu dan Tamiu
6. Awig-Awig Desa Pakraman Padangsambian Denpasar
Pararem puniki kasurat mangdane sida dangan antuk ngelingan mewastu kasidan
Mangguh karahajengan lan kasukertan ring Desa Pakraman Padangsambian Puniki .

Om Shantih,Shantih,Shantih Om

BAB I
PENGERTIAN KRAMA DESA
KRAMA TAMIU DAN TAMIU
Pasal 1

Pengertian Krama
a. Krama desa (penduduk beragama Hindu dan mipil atau tercatat sebagai anggota di desa
pakraman);
b. Krama tamiu (penduduk yang beragama Hindu dan tidak mipil atau tidak tercatat sebagai
krama di desa pakraman); dan
c. Tamiu (penduduk selain krama desa pakraman) yang berdomilsili di desa pakraman
Padangsambian.
Masing-masing golongan penduduk tersebut, berlaku swadharma (kewajiban) yang
berbeda terhadap desa pakraman.

Pasal 2
Krama Desa

1. Setiap orang Hindu yang ada di Bali, wajib mipil (tercatat) sebagai krama desa di salah
satu desa pakraman di Bali.
2. Sebagai bukti telah mipil sebagai krama desa, ditandai dengan Kartu Tanda Krama Desa
(KTKD) atau surat keterangan dari kelian banjar dan diketahui bandesa (pucuk pimpinan
desa pakraman) tempat yang bersangkutan mipil.
3. Seseorang yang sudah mipil (tercatat) sebagai krama desa di desa pakraman tertentu,
tidak
wajib lagi menjadi krama desa di desa pakraman lain atau desa pakraman tempatnya
berdomisili, tetapi yang bersangkutan wajib dicatat sebagai krama tamiu.
4. Krama desa, krama tamiu, dan tamiu mempunyai kewajiban yang berbeda terhadap desa
pakraman tempatnya berdomisili.
5. Perbedaan kewajiban tersebut dituangkan dalam awig-awig atau Pararem desa
pakramanPadangsambian
Pasal 3
Krama Tamiu danTamiu

1. Krama tamiu adalah krama yang mipil (tercatat) di salah satu Banjar Pakraman
Padangsambian tapi tidak tercatat sebagai krama desa pakraman
2. Tamiu adalah krama yang hanya berdomisili didesa Pakraman Padangsambian dalam
waktu maksimum 1(satu) tahun dan dapat diperpanjang kembali atas persetujuan Desa
Pakraman Padangsambiam
3. Krama tamiu dan tamiu yang hanya berdomisili di desa pakraman tercatat sebagai krama
dinas
4. Krama tamiu dan tamiu yang berdomisili dan membuka usaha di desa pakraman wajib
mendapat persetujuan Prajuru Desa Pakraman Padangsabian
.

Kewajiban
Krama Tamiu dan Tamiu

Pasal 4.
Krama Tamiu

a. Kewajiban Krama Tamiu


(1) Krama tamiu wajib menciptakan kasukertan desa pakraman bersama-sama krama desa, baik
menyangkut parahyangan (keyakinan Hindu), pawongan (aktivitas kemanusiaan),
maupun palemahan (kelestarian lingkungan alam).
(2). Kewajiban tersebut dituangkan dalam bentuk sikap saling menghormati
disertai pawedalan (urunan) dan ayah-ayahan (wajib kerja) yang dapat diganti dengan uang dan
jumlah keduanya tidak lebih daripada 10% (sepuluh per seratus) daripada
kewajiban krama desa, serta dapat memberikan dana punia (sumbangan sukarela).

Pasal 5
Tamiu

b. Kewajiban Tamiu
(1) Tamiu wajib menciptakan kasukertan desa pakraman bersama-sama krama desa dan krama
tamiu, dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan kemanusiaan dan kelestarian lingkungan
alam, sepanjang tidak terkait langsung dengan parahyangan (keyakinan beragama menurut
ajaran Hindu).
(2) Kewajiban tersebut dituangkan dalam bentuk sikap saling menghormati
disertai pawedalan (urunan) dan ayah-ayahan (wajib kerja) yang dapat diganti dengan uang dan
jumlah keduanya tidak lebih daripada 30% (tiga puluh per seratus) daripada
kewajiban krama desa, serta dapat memberikan dana punia (sumbangan sukarela).
Pasal 6
Krama Tamiu dan Tamiu Pengusaha

1. Krama tamiu dan Tamiu yang berdomisili dan membuka usaha di desa pakraman, selain
dikenakan kewajiban berupa uang yang jumlahnya tidak lebih daripada 30% (tiga puluh per
serataus) dari kewajiban krama desa, juga wajib memberikan kontribusi kepada desa pakraman,
sesuai dengan kegiatan usaha yang dilaksanakan (CSR), untuk kepentingan kemanusiaan dan
kelestarian lingkungan alam, serta kesejahteraan masyarakat sepanjang tidak berkaitan langsung
dengan keyakinan menurut ajaran Hindu.
2. Jenis dan besarnya kontribusi yang wajib diberikan, dituangkan dalam bentuk kesepakatan
tertulis antara tamiu dengan desa pakraman, untuk jangka waktu lima tahun dan sesudahnya
dapat ditinjau dan atau disesuaikan dengan situasi dan kondisi objektif kegiatan usaha yang
dilaksanakan.
3. Selain kontribusi, tamiu bersangkutan juga dapat memberikan dana punia (sumbangan sukarela)
kepada desa pakraman.

Pasal 7

Hak
Krama Tamiu dan Tamiu

Krama tamiu dan tamiu yang berdomisili dan atau membuka usaha di desa pakraman,
berhak mendapatkan panyanggran(bantuan) banjar atau desa pakraman, pada waktu yang
bersangkutan menghadapi kapancabayan (musibah atau malapetaka).

Pasal 8
Sanksi Pelanggaran awig-awig

I Krama Desa Pakraman


Pengenaan Sanksi Adat Kasepekang dan Kanorayang

Kenyataan menunjukkan bahwa setiap kali sanksi adat kasepekang dijatuhkan selalu saja
menuai kontroversi berkepanjangan. Penerapan sanksi tersebut terbukti tidak menyelesaikan
masalah, sebaliknya justru menimbulkan masalah baru, terutama dalam hubungan dengan
penguburan jenazah dan atau penggunaan setra.
Atas dasar kenyataan tersebut maka berdasarkan Hasil Pasamuhan Agung II MDP Bali
tahun 2007, yang dituangkan dalam Keputusan Majelis Utama Desa Pakraman (MDP) Bali
Nomor: 01/Kep/Psm-2/MDP Bali/X/2007, Jumat 12 Oktober 2007, sepanjang mengenai sanksi
adat kasepekang dan kanorayang, ditentukan bahwa ”Penjatuhan sanksi
adat kasepekang dan kanorayang dilarang sementara, sampai adanya rumusan yang memadai
mengenai pengertian dan tata cara menjatuhkan sanksi adat tersebut, yang berlaku bagi semua
desa pakraman di Bali.”
Menindaklanjuti Keputusan MUDP (2007) di atas, maka perlu ditegaskan pengertian
sanksi adat kasepekang dan sanksi adatkanorayang. Yang dimaksud dengan kasepekang (atau
istilah lain) dalam hal ini adalah pemberhentian sementara sebagai anggota banjar dan desa
pakraman, sehingga yang terkena sanksi kasepekang tidak berhak
mendapatkan panyanggran (pelayanan/bantuan) banjar dan desa pakraman yang ditandai dengan
tidak mendapatkan arah-arahan (suaran kulkul). Adapun yang dimaksud
dengan kanorayang (atau istilah lain) adalah diberhentikan permanen sebagai krama banjar dan
desa pakraman, sehingga segala hak yang sebelumnya didapatkan dari banjar dan desa pakraman
menjadi gugur.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka Pasamuhan Agung III Majelis Desa Pakraman
Bali memutuskan hal-hal sebagai berkut.
1. Sanksi kasepekang atau istilah lain yang mengandung arti dan makna sama dengan
pemberhentian sementara sebagai krama desa,dapat dikenakan berdasarkan paruman (rapat)
banjar atau desa pakraman kepada krama desa yang terbukti secara meyakinkan membangkang
(ngatuwel) terhadap awig-awig, pararem, dan kesepakatan banjar atau desa pakraman, setelah
usaha penyelesaian melalui prajuru (kertha desa) yang dilakukan dianggap gagal, dan setelah
beberapa sanksi lain yang juga dikenakan berdasarknanparuman tidak membuahkan hasil.
Sanksi lain yang dimaksud, seperti: (a) peringatan lisan dan tertulis oleh prajuru (pimpinan)
banjar atau desa pakraman; (b) arta danda (denda materi) berdasarkan awig-awig yang berlaku.
2. Selama dalam masa kasepekang, yang besangkutan tidak berhak
mendapatkan panyanggran (pelayanan/bantuan) seluruh anggota banjar dan desa pakraman yang
ditandai dengan tidak mendapatkan suaran kulkul, dalam segala aktivitas yang dilakukan di desa
pakraman setempat, baik dalam suasana suka (syukuran), kasucian (upacara
agama), kalayusekaran (kematian), maupunkapancabayan (tertimpa musibah).
3. Sanksi adat kasepekang berlaku untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) paruman
banjar atau paruman desa pakraman yang mengagendakan pembahasan perihal pengenaan
sanksi kasepekang tersebut.
4. Apabila dalam masa 3 (tiga) paruman tersebut pihak yang dikenakan sanksi kasepekang tidak
memenuhi segala kewajiban yang dibebankan, maka yang bersangkutan dapat diberhentikan
(kanorayang) sebagai krama desa, dan tidak berhak menggunakan segala fasilitas milik desa
pakraman, kecuali yang bersangkutan kembali menjadi krama desa, setelah memenuhi segala
persyaratan sesuai dengan awig-awig yang berlaku.
5. Melarang pengenaan atau penjatuhan sanksi adat kanorayang atau istilah lain yang memiliki arti
dan makna yang sama dengan pemberhentian penuh sebagai krama desa (warga desa), secara
langsung sebelum tahapan-tahapan sanksi lain yang bersifat pembinaan diterapkan.
6. Desa pakraman yang melaksanakan sanksi adat kanorayang secara langsung, dianggap sebagai
desa pakraman bermasalah.

Kewajiban Krama Desa yang Kasepekang


Selama dalam masa kasepekang, pihak yang dikenakan sanksi
adat kasepekang berkewajiban mengadakan pendekatan kepadakrama banjar dan krama desa
yang lainnya melalui prajuru banjar dan atau prajuru desa pakraman secara terus menerus
guna mengupayakan penyelesaian permasalahan yang dihadapi.

Kewajiban Prajuru Desa Pakraman terkait Sanksi Kasepekang


Prajuru banjar dan atau prajuru desa pakraman wajib membina krama desa
yang kasepekang agar bisa kembali melaksanakanswadharma sebagai krama desa; dan
selanjutnya prajuru banjar dan atau prajuru desa pakraman tidak berhak merekomendasikan
kepada penyelenggara pemerintahan untuk mengurangi hak-hak administratif krama desa
yang kasepekang sebagai warga negara.

Hak Krama Desa yang Kasepekang


Selama dalam masa kasepekang, pihak yang dikenakan sanksi kasepekang masih berhak untuk
hal-hal sebagai berikut.
1. Memanfaatkan setra (kuburan) banjar atau desa pakraman untuk melaksanakan upacara
penguburan/pembakaran jenazah atau pitra yadnya tanpa panyanggran banjar dan atau desa
pakraman.
2. Memanfaatkan tempat suci dan fasilitas lain milik banjar atau desa pakraman, seperti
halnya krama desa lainnya, dengan sepengetahuan prajuru banjar dan atau desa pakraman.
3. Memanfaatkan tempat suci untuk tujuan khusus, dilakukan atas seizin prajuru banjar dan
atau prajuru desa pakraman dan dituntun oleh pamangku di tempat suci bersangkutan.

Hak Krama Desa yang Kasepekang


Selama dalam masa kasepekang, pihak yang dikenakan sanksi kasepekang masih berhak untuk
hal-hal sebagai berikut.
4. Memanfaatkan setra (kuburan) banjar atau desa pakraman untuk melaksanakan upacara
penguburan/pembakaran jenazah atau pitra yadnya.
5. Memanfaatkan tempat suci dan fasilitas lain milik banjar atau desa pakraman, seperti
halnya krama desa lainnya.
6. Memanfaatkan tempat suci untuk tujuan khusus, dilakukan atas sepengetahuan prajuru banjar
dan atau prajuru desa pakraman dan dituntun oleh pamangku di tempat suci bersangkutan.

Sanksi Kasepekang Berakhir


Masa kasepekang dianggap selesai sesudah pihak yang dikenakan sanksi memenuhi segala
kewajiban yang dibebankan kepadanya danngaksamaang raga (meminta maaf)
kepada krama banjar dan atau krama desa pakraman melalui prajuru banjar atau prajuru desa
pakraman.

Krama Desa yang Kanorayang


Krama desa kanorayang statusnya sama dengan warga yang bukan krama desa, sehingga
tidak berhak menggunakan segala fasilitas banjar dan atau desa pakraman tanpa
seizin prajuru banjar dan atau prajuru desa pakraman.
Krama desa yang kanorayang dapat kembali menjadi krama desa setelah mengikuti
persyaratan untuk menjadi krama desa baru (mawali tedun makrama) sesuai dengan awig-
awig desa pakraman bersangkutan.