Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hernia adalah penonjolan sebagian isi organ atau jaringan melalui

lubang yang abnormal.

Hernia inguinalis adalah salah satu masalah yang paling umum

yang memerlukan penanganan bedah untuk pengobatannya. Namun, yang

mengalami perbaikan penjepitan hernia kadang-kadang terjadi dan ini

telah dilaporkan sebanyak 0,29-2,9% dari semua hernia inguinalis.

Hernia inguinalis adalah masalah umum yang dapat diderita oleh

lebih dari 25% pria selama masa hidup mereka dan sebanyak 2% wanita

mengalami hernia inguinalis. Hernia inguinalis lateralis terlihat sebagai

suatu tonjolan yang hilang timbul apabila pasien menangis, mengejan, atau

berdiri dan biasanya menghilang secara spontan bila pasien dalam keadaan

istirahat dan terlentang. Hernia biasanya berisi usus atau mesenterum, pada

perempuan ovarium dapat mengalami herniasi.

Hernia inguinalis dapat diderita oleh semua umur, tetapi angka

kejadian hernia inguinalis meningkat dengan bertambahnya umur.

Insidensi hernia inguinalis diperkirakan diderita oleh 15% populasi dewasa

dan 1-2% pada anak-anak, pada rentan usia 25-40 tahun insidensinya

mencapai 5-8% dan mencapai 45% pada usia 75 tahun. Tindakan bedah

dalam penyembuhan hernia inguinalis adalah salah satu prosedur yang

1
paling sering dilakukan dan kekambuhan hernia bisa mencapai hingga

15% tergantung pada berbagai faktor.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Kata hernia pada hakekatnya berarti penonjolan suatu kantong

peritoneum, suatu organ atau lemak praperitoneum melalui cacat

kongenital atau akuisita parietes muskuloaponeurotik dinding abdomen

yang normalnya tidak dapat dilewati.

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga

melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan.

Hernia merupakan penonjolan visus atau organ dari posisi

normal ( dari satu ruang ke ruang lain ) melalui pintu yang lemah.

Hernia terjadi pada locus minorus resistensi atau daerah dengan

resistensi rendah.

2.2 ETIOLOGI
 keadaan yang menyebabkan peningkatan tekananintra

abdomen, seperti kehamilan, batuk kronis, pekerjaan

mengangkat benda berat, mengejan saat defekasi dan mengejan

pada miksi, misalnya akibat hipoterapi prostat.


 Kelemahan dinding abdomen karena usia atau sesara

kongenital.

2.3 EPIDEMIOLOGI
Tujuh puluh lima persen dari semua kasus hernia di dinding

abdomen muncul didaerah lipat paha. Hernia indirek lebih banyak

3
daripada hernia direk yaitu 2:1, dimana hernia femoralis lebih

mengambil porsi yang lebih sedikit.


Hernia sisi kanan lebih sering dibandingkan sisi kiri, perbandingan

pria dan wanita hernia indirek adalah 7:1. 25000 untuk hernia

femoralis, 166000 untuk hernia umbilicalis, 97000 hernia post insisi

dan 76000 untuk hernia lainnya.


Hernia femoralis kejadiannya kurang dari 10% dari semua hernia,

tetapi 40% dari itu muncul sebagai kasus emergensi dengan inkaserasi

atau strangulasi. Hernia femoralis lebih sering terjadi pada lansia dan

laki-laki yang pernah menjalani operasi hernia inguinal. Meskipun

kasus hernia femoralis pada pria dan wanita adalah sama, insiden

hernia femoralis dikalangan wanita 4 kali lebih sering.

2.4 FAKTOR RESIKO


 Tekanan intraabdominal yang tinggi. Banyak dialami oleh pasien

yang sering mengejan baik BAK maupun BAB.


 Konstitusi tubuh: orang kurus cenderung terkena hernia karena

jaringan ikatnya yang sedikit, sedangkan orang gemuk juga dapat

terkena hernia karena banyaknya jaringan lemak pada tubuhnya

yang menambah beban kerja jaringan ikat.


 Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan

intraabdominal.
 Penyakit yang melemahkan dinding perut.
 Merokok,
 Diabetes mellitus
 Kehamilan
 Usia
 Gangguan saraf.

2.5 KLASIFIKASI
1. Tipe Hernia menurut kondisi:

4
 Reponibilis: Bisa di masukkan
 Ireponibilis: Tidak bisa dimasukkan
 Inkarserata: Terjadi obstruksi (muntah, konstipasi)
 Strangulata: Terjadi iskemia (nyeri).
2. Berdasarkan tempatnya:
 Hernia inguinalis
Paling sering dan banyak dijumpai, hernia inguinal

dibagi menjadi 2:
 Hernia inguinalis Lateralis (HIL) pintu di

annulus inguinalis internus.


 Hernia inguinalis medialis (HIM) titik

lemahnya terdapat di trigonum hasselbach.


 Hernia femoralis
Pintunya adalah annulus femoralis. Hernia femoralis

ini mirip dengan hernia inguinalis namun

tonjolannya terletak lebih rendah dibandingkan

dengan hernia inguinalis, hernia ini lebih sering

ditemukan pada perempuan (perempuan hamil).


 Hernia Umbilikalis
Kondisi ini terjadi ketika ada usus, lemak yang

mencuat ke dinding rongga perut dekat pusar,

sehingga akan tampak ada tonjolan disekitar pusar.

Hernia ini sering terjadi pada wanita gemuk, ibu

hamil, dan bayi.


 Hernia hiatus
Hernia ini terjadi ketika ada tonjolan pada

diafragma kea rah rongga dada. Tonjolan muncul

karena ada bagian organ dari rongga perut yang naik

ke atas dan melewati celah pada diafragma. Kondisi

ini lebih sering terjadi pada wanita, resiko akan

5
lebih tinggi jika mengalami obesitas dan usia lebih

dari 50 tahun. Hernia ini tidak menimbulkan gejala,

tetapi jika tonjolan sudah membesar akan timbul

gejala seperti nyeri pada dada, perut, sering

bersendawa, naiknya asam lambung, dan sulit

menelan.
 Hernia Obsturatoria
Ini merupakan hernia yang sangat jarang terjadi dan

kebanyakan yang terkena adalah perempuan. Hernia

ini menonjol dari rongga yang ada di panggul

(foramen obturatorius). Pada hernia ini tidak akan

menunjukan adanya tonjolan namun akan

menunjukan adanya gejala seperti ketika terjadi

penyumbatan usus akan menyebabkan mual dan

muntah. Karena tidak terlihat, hernia ini sangat sulit

untuk di diagnose. Ciri khasnya adalah ileus letak

tinggi, dan pasien mengeluh nyeri paha dalam.


 Hernia epigastrica
Terjadi antara pusar dan bagian bawah tulang rusuk

di garis tengah perut, hernia epigastrium biasanya

terdiri dari jaringan lemak dan jarang mengandung

usus. Terjadi di daerah lemah dinding perut, hernia

ini sering menimbulkan rasa sakit dan tidak dapat

didorong kembali ke dalam perut ketika pertama

kali ditemukan.

6
 Hernia semilunoris
Jarang terjadi, dinding depan M. rectus abdominis

lamina anterior vagina m.recti dari dari atass sampai

bawah tidak sampai daerah simpisis. Garis lengkung

yang disebut linea aquartus yang menjadi titik

lemah sehingga usus bisa masuk lewat situ kebawah

lamina posterior.
 Hernia lumbalis
Melalui trigonum lumbale
 Hernia ischiodika
Melalui foramen ischiadicum.

2.6 PATOFISIOLOGI
Terjadi hernia disebabkan oleh dua faktor yang pertama adalah

faktor kongenital yaitu kegagalan penutupan prosesus vaginalis pada

waktu kehamilan uang dapat menyebabkan masuknya isi rongga perut

melalui kanalis inguinalis, faktor yang kedua adalah faktor yang didapat

seperti kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat dan

faktor usia, masuknya isi rongga poerut melalui kanal inguinalis, jika

cukup panjang maka akan menonjol keluar dari annulus externus. Apabila

hernia ini berlanjut tonjolan akan sampai ke skrotum karena kanal

inguinalis berisi tali sperma pada laki-laki, sehingga menyebabkan hernia.

Hernia ada yang dapat kembali secara spontan maupun manual juga ada

yang tidak dapat kembali secara maupun manual akibat terjadi

perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi

hernia tidak dapat dimasukkan kembali.

7
Keadaan ini akan mengakibatkan kesulitan untuk berjalan ataupun

berpindah sehingga aktivitas akan terganggu. Jika terjadi penekanan

terhadap cincin hernia maka isi hernia akan mencekik sehingga terjadi

hernia strangulate yang akan menimbulkan gejala ileus yaitu gejala

obstruksi usus sehingga menyebabkan peredaran darah terganggu yang

akan menyebabkan kurangnya suplai oksigen yang bisa menyebabkan

iskemik. Isi hernia ini akan menjadi nekrosis.


Kalau kantong hernia terdiri atas usus dapat terjadi perforasi yang

akhirnya dapat menimbulkan abses local atau prioritas jika terjadi

hubungan dengan rongga perut. Obstruksi usus juga menyebabkan

penurunan peristaltic usus yang bisa menyebabkan konstipasi. Pada

keadaan strangulate akan timbul gejala ileus yaitu perut kembung, muntah

konstipasi pada strangulate nyeri yang timbul lebih berat dan kontinyu,

daerah benjolan menjadi merah.

2.7 GEJALA KLINIS


Gejala hernia bervariasi, tergantung lokasi dan tingkat keparahan.

Hernia di perut atau selangkangan ditandai dengan munculnya benjolan

atau tonjolan yang dapat hilang ketika berbaring. Namun, benjolan dapat

muncul kembali ketika penderita tertawa, batuk, atau mengejan. Gejala

hernia lainnya adalah:

 Nyeri di area benjolan, terutama ketika mengangkat atau

membawa benda berat.

 Rasa berat dan tidak nyaman di perut, terutama ketika

membungkuk.

8
 Konstipasi.

 Ukuran benjolan semakin membesar seiring berjalannya

waktu.

Hernia hiatus juga ditandai dengan gejala nyeri dada, sulit menelan

(disfagia), dan heartburn, muntah, sulit buang air besar, adanya benjolan

sakit ketika di sentuh dan sulit di dorong masuk.

Hernia femoralis ditandai berupa benjolan di lipat paha, biasanya

pasien datang dengan hernia strangulate. Pada pemeriksaan fisik

ditemukan adaya benjolan dilipat paha bawah ligamentum inguinal, di

medial vena femoralis dan lateral tuberkulum pubikum. Tidak jarang yang

lebih jelas adalah tanda sumbatan usus, sedangkan benjolan di lipat paha

tidak ditemukan, karena kecilnya atau karena penderita gemuk.

2.8.DIAGNOSIS
 Pemeriksaan Fisik
Inspeksi :
o Hernia inguinal :
 Lateral : benjolan di region inguinalis yang berjalan

dari lateral ke medial, tonjolan berbentuk lonjong


 Medialis: tonjolan biasanya terjadi bilateral, berbentuk

bulat.
o Hernia skrotalis: benjolan yang terlihat sampai skrotum yang

merupakan tonjolan lanjutan dari hernia inguinalis lateralis.


o Hernia femoralis: benjolan dibawah ligamentum inguinalis,

bentuk bulat.
o Hernia epigastrika: benjolan di linea alba.
o Hernia umbilikalis: benjolan di umbilical.
Palpasi

9
o Hernia inguinalis: kantong hernia yang kosong kadang dapat

diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dua

permukaan sutera, tanda ini disebut sarung tangan sutera.

Kantong hernia yang berisi mungkin teraba usus, omentum

(seperti karet), atau ovarium. Dalam hal hernia dapat di reposisi

pada waktu jari masih berada dalam annulus externus, pasien

mulai mengedan dan hernia menyentuh ujung jari berarti hernia

inguinalis lateralis dan kalau samping jari yang menyentuh

menandakan hernia inguinalis medialis. Lipat paha dibawah

ligamentum inguinal dan lateral tuberkulum pubikum.


o Hernia femoralis: benjolan lunak dibawah ligamentum

inguinal, nyeri saat ditekan.

Perkusi
Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus

diperkirakan memungkinan hernia strangulate. Hipertimpani,

terdengar pekak.
Auskultasi
o Hiperperistaltik didapatkan pada auskultasi abdomen pada

hernia yang mengalami obstruksi usus (hernia inkarserata).


 Terdapat tiga teknik pemeriksaan sederhana yaitu:
o Pemeriksaan finger test
1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.
2. Dimasukkan lewat skrotum melalui annulus

externus ke kanal inguinal.


3. Penderita disuruh batuk:
 Bila implus diujung jari berarti Hernia

inguinalis lateralis.

10
 Bila impus disamping jari berarti Hernia

inguinalis medialis.
o Pemeriksaan Ziemen test
1. Posisi pasien berbaring, jika ada benjolan masukan

terlebih dahulu (biasanya oleh penderita).


2. Penderita di suruh batuk, bila ada rangsangan pada:
 Jari ke 2: hernia inguinalis lateralis
 Jari ke 3: hernia inguinalis medialis
 Jari ke 5: hernia femoralis.
o Pemeriksaan Thumb test
1. Anukus internus di tekan dengan ibu jari dan

penderita disuruh mengejan


2. Bila keluar benjolan berarti hernia inguinalis

medialis.
3. Bila tidak keluar benjolan berarti hernia inguinalis

lateralis.
 Pemeriksaan Penunjang
Untuk mencari kemungkinan adanya tekanan intra peritoneal

meningkat, sebagai penyebab timbulnya hernia:


o Foto thorax: batuk krnois, asma, tumor paru.
o USG abdomen : asites, tumor abdomen.

2.9.PENATALAKSANAAN
Hampir semua hernia harus diterapi dengan operasi. Karetna

potensinya menimbulkan komplikasi inkarsesari atau strangulasi lebih

berat dibandingkan resiko yang minimal dari operasi hernia.


 Macam-macam operasi:
1. Herniotomy, yaitu: membuang kantong hernia seproximal

mungkin, terutama pada anak-anak karena dasarnya adalah

kongenital tanpa adanya kelemahan dinding perut.

11
2. Herniorraphy, yaitu: herniotomy disertai tindakan bedah untuk

memperkuat dinding perut bagian bawah dibelakang kanalis

inguinalis (hernioplasty).
 Ada 3 macam hernioplasty:
1. Bassini : menjahit conjoint tendon dnegan ligament inguinal

untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis,

funiculus spermatikus tetap berada di kanalis inguinalis.


2. Halstedt: jahitan seperti bassini tetapi funiculus spermaticus

berada diatas aponeurosis MOE dibawah kulit.


3. Fergusson: conjoint tendon dijahitkan pada ligamentum

inguinal diatas funiculus spermatikus, kecuali pada daerah

annulus externus dimana tempat funiculus keluar menuju

skrotum.
Saat ini sering digunakan prolene mesh (mersilen mesh) untuk

menutup atau memperkuat dinding belakang canalis inguinalis.

2.10. KOMPLIKASI
1. Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan kantong hernia,

sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali.


2. Terjadi penekanan cincin hernia , akibatnya makin banyak

usus yang masuk. Cincin hernia menjadi relatife sempit dan

dapat menimbulkan gangguan penyaluran isi usus, keadaan

ini disebut hernia inguinalis lateralis incarcerate.


3. Bila incarcerata dibiarkan, maka timbul odem sehingga

terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis.

Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis strangulate.


4. Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian

menekan pembuluh darah dan kemudian timbul nekrosis.

12
5. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut

kembung, muntan dan konstipasi.


6. Bila isi perut terjepit dapat terjadi : syok, demam, asidosis

metabolic, abses.
2.11.KOMPLIKASI POST OPERASI
1. Hematoma (pada luka atau pada skrotum)
2. Infeksi pada luka operasi
3. Nyeri krnois
4. Nyeri dan pembengkakan testis atau atrofi testis
5. Cedera vena femoralis, n. illionguinalis, n.illiofemoralis, duktus

deferens, atau buli-buli.


2.12. PROGNOSIS
Prognosa tergantung pada keadaan umum penderita serta

ketepatan penanganan. Tapi pada umumnya “Baik” karena

kekambuhan setelah operasi jarang terjadi, kecuali pada hernia

berulang atau hernia yang besar yang memerlukan penggunaan

materi prosthesis. Pada penyakit hernia ini yang penting adalah

mencegah faktor predisposisinya.

BAB III
KESIMPULAN

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga

melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan.

Penyebab hernia keadaan yang menyebabkan peningkatan

tekananintra abdomen, seperti kehamilan, batuk kronis, pekerjaan

mengangkat benda berat, mengejan saat defekasi dan mengejan pada

miksi, misalnya akibat hipoterapi prostat.


Gejala hernia bervariasi, tergantung lokasi dan tingkat keparahan.

Hernia di perut atau selangkangan ditandai dengan munculnya

13
benjolan atau tonjolan yang dapat hilang ketika berbaring. Namun,

benjolan dapat muncul kembali ketika penderita tertawa, batuk, atau

mengejan. Hernia yang paling sering diderita perempuan yaitu hernia

femoralis, hernia hiatus, hernia umbilikalis, hernia obsturatoria.


Untuk penegakkan diagnosis hernia yaitu dari anamnesis,

pemeriksaan fisik sederhana finger test, ziement test, thumb test,

kemudian dilakukan pemeriksaan penjunjang untuk mengetahui

penyebab timbulnya hernia yaitu dengan melakukan foto thorax, USG

abdomen.
Penatalaksanaan Hampir semua hernia harus diterapi dengan

operasi. Karetna potensinya menimbulkan komplikasi inkarsesari atau

strangulasi lebih berat dibandingkan resiko yang minimal dari operasi

hernia.
Prognosa tergantung pada keadaan umum penderita serta ketepatan

penanganan. Tapi pada umumnya “Baik” karena kekambuhan setelah

operasi jarang terjadi.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Lutfi achmad, Thalut Kamardi. 2007. Dinding Perut. Hernia.

Retroperotoneum, dan Omentum. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. EGC .

615-641.

2. http://www.scribd.com/doc/76643006/Hernia

3. http://fitsweb.uchc.edu/student/selectives/Luziett/images/hernia/hesselbac

h.triangle.jpg

4. https://www.slideshare/makalah-hernia-drkoernia-swaoetomo

5. Mansjoer, Suprohaita, W.K. Wardhani, W. Setiowulan.2000. Kapita

Selekta Kedokteran. Edisi III, Jilid II. Jakarta: Penerbit Media

Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 313-317

6. Lesmana, Tommy. 2008. Buku Bedah. Surabaya: Fakultas Kedokteran

Universitas Airlangga

15