Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dry eye syndrome (sindroma mata kering) adalah penyakit multifaktorial gejala akibat
berkurangnya air mata yang ditandai dengan ketidakstabilan produksi dan fungsi dari lapisan
air mata sehingga terjadi gangguan pada permukaan mata1.
Sindroma mata kering merupakan salah satu gangguan yang sering pada mata,
persentase insidensanya sekitar 10-30% dari populasi, terutama pada orang yang usianya lebih
dari 40 tahun dan 90% terjadi pada wanita. Penyakit ini pada ras Hispanik dan Asia lebih
banyak dibandingkan ras Caucasian. Sekitar 5 miliyar penduduk Amerika berumur diatas 50
tahun menderita dry eye syndrome dan 25% diantaranya mengalami ketidaknormalan pada
permukaan mata2. Beberapa Negara di Asia seperti Taiwan, Korea, Jepang memiliki masing-
masing insidensi pasien mata kering sebesar 33,7% dari 2038 partisipan3, 33,2% dari 1654
partisipan4, dan 21,6% pasien wanita serta 12,5% laki-laki dari 3294 partisipan 5. Sedangkan di
Indonesia pada tahun 2001 tercatat jumlah pasien sindroma mata kering berumur <21 tahun
sebesar 27,5%, 21-29 tahun 19,2%, dan ≥60 tahun sebanyak 30,0% dari sejumlah 1.058
penderita6.
Peningkatan angka terjadinya sindroma mata kering disebabkan oleh adanya
peningkatan polusi, penggunaan obat-obatan tertentu seperti obat alergi dan obat hipertensi,
peningkatan pengguna lensa kontak dan peningkatan penggunaan komputer 7. Selain itu,
penyakit ini terjadi karena hipofungsi dari kelenjar lakrimalis yang bisa disebabkan oleh
kongenital (aplasia kelenjar lakrimal), didapat dari penyakit sistemik (sindrom Sjogren),
infeksi (trachoma), cedera (pengangkatan kel.lacrimal), medikasi (atropin), neurogenik–
neuroparalitik (facial nervus palsy), defisiensi musin, kelainan palpebra, kelainan konjungtiva
dan proptosis8.
Pasien dengan mata kering paling sering mengeluh tentang sensasi gatal atau berpasir
(benda asing). Gejala umum lainnya adalah gatal, sekresi mukus berlebihan, tidak mampu
menghasilkan air mata, sensasi terbakar, fotosensitivitas, merah, sakit, dan sulit
menggerakkan palpebra9. Ciri yang paling khas pada pemeriksaan slitlamp adalah terputus
atau tiadanya meniskus air mata di tepian palpebra inferior. Pada konjungtiva bulbi tidak
tampak kilauan yang normal dan mungkin menebal, edema dan hiperemik7.
Oleh sebab itu penulis ingin memahami lebih dalam mengenai sindrom mata kering
untuk diagnose yang tepat dan penatalaksanaan awal sebagai dokter umum di masyarakat.
selain sebagai tugas telaah ilmiah sebagai syarat untuk menjalani kegiatan kepanitraan madya
1
di KSM Ilmmu Penyakit Mata, telaah ilmiah ini juga diharapkan dapat digunakan pembaca
untuk menambah ilmu, khususnya mengenai sindrom mata kering.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem lakrimalis ?
2. Apa definisi, etiologi, gejala, pathogenesis, klasifikasi, penegakan diagnosis,
tatalaksana, progonosis, dan komplikasi sindroma mata kering ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi system lakrimalis
2. Untuk mengetahui definisi, etiologi, gejala, pathogenesis, klasifikasi, penegakan
diagnosis, tatalaksana, progonosis, dan komplikasi sindroma mata kering
1.4 Manfaat Penulisan
a. Manfaat ilmiah
Tugas ilmiah ini dapat menjadi bekal untuk praktek klinis di masyarakat bagi dokter
muda, serta pemenuhan tugas dalam kepanitraan klinik madya.
b. Manfaat umum
Sebagai tambahan wawasan umum tentang sindroma mata kering sehingga dapat
dilakukan pencegahan dini.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Kompleks lakrimalis terdiri atas glandula lakrimalis, glandulae lakrimalis aksesorius,
kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus nasolakrimalis8,10.
Glandula lakrimalis terdiri atas struktur dibawah ini:
1. Bagian orbita
Berbentuk kenari yang teretak didalam foss lakrimalis di segmen temporal atas anterior
dari orbita, dipisahkan dari bagian palpebra oleh kornu lateralis dari muskulus levator
palpebrae. Untuk mencapai bagian ini dari kelenjar secara bedah, harus diiris kulit,
muskulus orbikuaris okuli, dan septum orbitale.8,10
2. Bagian Palpebrae
Bagian palpebrae yang lebih kecil terletak tepat di atas segmen temporal dari forniks
konjungtivae superior. Duktus sekretorius lakrimalis, yang bermuara kira-kira sepuluh
lubang kecil, menghubungkan bagian orbital dan palpebrae glandula lakrimalis dengan
forniks konjungtivae superior. Pembuangan bagian palpebrae dari kelenjar memutuskan
semua saluran penghubung dan dengan demikian mencegah kelenjar itu bersekresi.
Glandula lakrimalis aksesori (glandula Krause dan Wolfring) terletak di dalam substansia
propia di konjungtiva palpebrae8,10.
Air mata mengalir dari lakuna lakrimalis melalui punktum superior dan inferior dan
kanalikuli ke sakus lakrimalis, yang terletak di dalam fossa lakrimalis. Duktus
nasolakrimalis berlanjut kebawah dari sakus dan bermuara ke dalam meatus inferior dari
rongga nasal, lateral terhadap turbinatum inferior. Air mata diarahkan kedalam punktum
oleh isapan kapiler, gaya berat dan kedipan mata. Kekuatan gabungan dari ketiga hal
tersebut membuat otot Horner yang merupakan perluasan muskulus orbikularis okuli ke
titik di belakang sakus lakrimalis seperti memompa aliran air mata terus ke bawah melalui
duktus nasolakrimalis menuju ke dalam hidung8,10.
3. Pembuluh Darah dan Limfe
Pasokan darah dari glandula lakrimalis bersal dari arteria lakrimalis. Vena yang mengalir
pergi dari kelenjar bergabung dengan vena oftalmika. Drenase lime menyatu dengan
pembuluh limfe konjungtiva untuk mengalir ke dalam limfonodus pra-aurikula8,10.
4. Persarafan
Pasokan saraf ke glandula lakrimalis adalah melalui:
a) Nervus lakrimalis (sensoris), merupakan persarafan kelenjar utama berasal dari nucleus
lakrimalis pons melalui nervus intermedius dan menempuh jaras rumit cabang
maxillaris nervus trigeminus.

3
b) Nervus petrosus superfisialis magna (sekretoris), yang datang dari nukleus salivarius
superior.
c) Nervus simpatis yang menyertai arteria lakrimalis dan nervus lakrimalis8,10.

Gambar 2. 1 Anatomi Mata (AAO section 7 page 262, 2017)

2.2 Fisiologi Sistem Lakrimasi


1. Apparatus Lakrimalis
Sistem apparatus lakrimalis terdiri atas struktur-sruktur yang memproduksi dan
mendrainase air mata. Komponen sekresi meliputi kelenjar yang menghasilkan berbagai unsur

4
pembentuk cairan air mata dan disebarkan oleh kedipan mata di atas permukaan mata.
Kanalikuli, saccus lakrimalis, dan duktulus nasolakrimais merupakan unsur eksresi sistem ini,
yang mecurahkan sekret kedalam hidung11.
2. Sistem Sekresi Air Mata
Volume terbesar air mata dihasilkan oleh kelenjar air mata utama yang terletak di fossa
glandula lakrimalis di kuadran temporal atas orbita. Kelenjar lakrimal yang berbentuk kenari
adalah kelenjar serosa dengan bentuk sebesar 20 x 12 x 5 mm, strukturnya unik terdiri dari
jaringan epitel dan limfoid. Fungsi kelenjar ini diatur oleh saraf sekretomomotorik yang
berasal dari superior salivary pontine nucleus. Kelenjar ini dibagi oleh kornu lateral
aponeurosis levator menjadi lobus orbita yang lebih besar dan lobus palpebra lebih kecil,
masing-masing bergabung menjadi sistem duktulusnya dan bermuara ke dalam fornix
temporal superior. Lobus palpebra dapat dilihat dengan membalikkan palpebra superior.
Denervasi adalah konsekuensi yang terjadi dari neuroma akustik dan tumor lain di sudut
cerebellopontin10,11.
Kelenjar lakrimal tambahan, meskipun hanya sepersepuluh dari massa utama,
mempunyai peran penting. Kelenjar Krause dan Wolfring identik dengan kelenjar utama
namun tidak memiliki sistem saluran. Kelenjar-kelenjar ini terletak di dalam konjungtiva,
terutama di fornix superior. Sel goblet uniseluler, yang juga tersebar di konjungtiva,
menghasilkan glikoprotein dalam bentuk musin. Modifikasi kelenjar sebasea meibom dan zeis
di tepian palpebra memberi lipid pada air mata. Kelenjar Moll adalah modifikasi kelenjar
keringat yang juga ikut membentuk film air mata11.
Sekresi dari kelenjar lakrimal utama dipicu oleh emosi atau iritasi fisik dan menyebabkan
air mata mengalir berlimpah melewati tepian palpebra (epiphora). Kelenjar aksesorius dikenal
sebagai “pensekresi dasar”. Sekret yang dihasilkan cukup untuk memelihara kornea. Tetapi
hilangnya sel goblet berakibat mengeringnya kornea, meskipun banyak air mata dari kelenjar
lakrimal8,10,11.
3. Sistem Eksresi Air Mata
Sistem sekresi air mata terdiri atas punctum, kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus
nasolakrimalis. Setiap berkedip, palpebra menutup seperti ritsleting mulai di lateral,
menyebarkan air mata secara merata di atas kornea, dan menyalurkannya ke sistem eksresi
pada aspek medial palpebra. Dalam keadaan normal, air mata dihasilkan dengan kecepatan
yang sesuai dengan penguapannya, dan itulah sebabnya hanya sedikit yang sampai ke sistem
eksresi11. Bila memenuhi sakus konjungtivae air mata akan memasuki puncta sebagian karena
sedotan kapiler. Dengan menutupnya mata, bagian khusus orbikularis pra-tarsal yang
mengelilingi ampula mengencang untuk mencegahnya keluar. Bersamaan waktu, palpebra
5
ditarik ke arah krista lakrimalis posterior, dan traksi fascia mengelilingi sakus lakrimalis
berakibat memendeknya kanalikulus dan menimbulkan tekanan negatif di dalam sakus. Kerja
pompa dinamik ini menarik air mata kedalam sakus yang kemudian berjalan melalui duktus
nasolakrimalis karena pengaruh gaya berat dan elastisitas jaringan, ke dalam meatus inferior
hidung. Lipatan-lipatan mirip katup dari epitel pelapis sakus cenderung menghambat aliran
balik air mata dan udara. Yang paling berkembang di antara lipatan ini adalah katup Hasner di
ujung distal duktus nasolakrimalis. Strukrur ini penting karena bila tidak berlubang pada bayi,
menjadi penyebab obstruksi kongenital dan darkosistitis menahun11,12.
Secara terus menerus air mata diisi ulang dengan cara mengedipkan mata13. Pada saat
mata terbuka, lapisan air mata (aquous) akan berkurang akibat dari evaporasi serta aliran
keluar melalui pungtum dan duktus nasolakrimal. Apabila mata mulai terasa kering dan terjadi
dry spot pada kornea, mata akan terasa perih, menimbulkan rangsangan pada saraf sensoris
dan terjadi refleks mengedip sehingga lapisan air mata terbentuk lagi dan seterusnya14.
4. Air Mata
Air mata membentuk lapisan tipis setebal 7-10µm yang menutupi epitel kornea dan
konjungtiva. Fungsi lapisan ultra-tipis ini adalah (1) membuat kornea menjadi permukaan
optic yang licin dengan meniadakan ketidakteraturan minimal di permukaan epitel, (2)
membasahi dan melindungi permukaan epitel kornea dan konjungtiva yang lembut, (3)
menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan pembilasan mekanik dab efek
antimikroba, (4) menyediakan berbagai substansi nutrient dan oksigenasi yang diperlukan
kornea, (5) membantu sebagai media refraksi dengan indeks refraksi 1,3368.
Lapisan air mata terdiri dari tiga lapisan8,12:
1. Lapisan superfisial atau film lipid. Lipid monomolekuler ini dapat dihasilkan oleh
kelenjar-kelenjar kecil di pinggir kelopak mata yaitu kelenjar meibom. Lipid ini berguna
untuk melicinkan permukaan mata, menghambat penguapan air mata, dan membentuk
sawar kedap air saat palpebra tertutup.
2. Lapisan intermediat atau aqueosa. Lapisan ini sering disebut sebagai air mata. Lapisan ini
dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar kecil yang tersebar di konjungtiva yaitu kelenjar lakrimal
mayor dan minor. Lapisan ini mengandung substansi larut-air (garam dan protein) dan
berfungsi untuk membersihkan mata serta mengeluarkan benda-benda asing atau iritan.
3. Lapisan inner atau paling dalam merupakan lendir atau musin yang terdiri atas
glikoprotein dan melapisi sel-sel epitel kornea serta konjungtiva. Membrane sel epitel
terdiri atas lipoprotein dan bersifat relative hidrofobik. Musin disekresi oleh kelenjar
lakrimalis dan sel goblet konjungtiva. Musin terdiri dari bermacam jenis glikoprotein yang
berperan untuk mencegah perlekatan dan interaksi dari mikroba, debris dan sel-sel

6
inflamasi terhadap sel epitel. Musin juga berperan memberikan viskositas sehingga dapat
melindungi epitel kornea dari kerusakan karena kedipan mata berulang. Selain itu, musin
juga mencegah lapisan air mata membentuk gumpalan pada kornea dan memastikan
bahwa lapisan air mata melembabkan seluruh permukaan kornea dan konjungtiva (Foster
et al., 2013). Tanpa lapisan ini, air mata tidak akan menempel ke mata. Musin diabsorbsi
sebagian oleh membrane sel epitel kornea dan mikrovili pada sel epitel permukaan. Hal
ini menghasilkan permukaan yang hidrofilik baru untuk lapisan akueosa sehingga bagian
yang dibasahi tersebar merata dengan cara menurunkan tegangan permukaan. Air mata
diproduksi berlebihan jika mata terangsang oleh benda asing atau jika seseorang sedang
emosi, seperti menangis.

Gambar 2. 2 Fisiologi aliran air mata dan lapisan air mata.


5. Komposisi Air Mata
Produksinya kira-kira 1,2 μl per menit dengan volume air mata normal total diperkirkan 7
± 2 µL pada setiap mata.. Tebal lapisan air mata diukur dengan interferometri adalah 6,0 μm ±
2,4 μm pada mata normal dan menurun menjadi 2,0μm ±1,5 μm pada pasien dry eye13.
Albumin merupakan 60% dari protein total dalam air mata. Globulin lan lisozim berjumlah
sama banyak pada bagian sisanya. Terdapat immunoglobulin IgA, IgG, dan IgE. Yang paling
banyak adalah IgA yang berbeda dari IgA serum, dimana bukan berasal dari transudat serum
saja, namun diproduksi sel-sel plasma yang ada di dalam kelenjar lakrimal. Pada keadaan
alergi tertentu, seperti konjungtivitis vernal, konsentrasi IgE dalam cairan air mata meningkat.
Lisozim air mata merupakan 21-25% dari protein total dan bekerja secara sinergis dengan
gamma globulin dan faktor anti bakteri non lisozim lain merupakan mekanisme pertahanan
penting terhadap infeksi. Enzim air mata lain juga berperan dalam diagnosis keadaan klinik
tertentu, misal esei hexoseaminidase untuk diagnosis penyakit tay-sachs8.
K+, Na +, Cl – terdapat dalam konsentrasi lebih tinggi dalam air mata dari dalam plasma.
Air mata juga mengandung sedikit glukosa (5 mg/dL) dan urea (0.04 mg/dL), dan perubahan
dalam konsentrasi darah diikuti perubahan konsentrasi glukosa dan urea air mata. pH rata-rata
7
air mata adalah 7.35, meski ad variasi normal yang besar (5.20-8.35). dalam keadaan normal,
cairan air mata adalah isotonik. Osmolalitas film air mata bervariasi dari 295 sampai 309
mosm/L8.

Gambar 2. 3 Komponen air mata.


2.3 Definisi
Sindrom mata kering, atau keratoconjunctivitis sicca (KCS) adalah penyakit mata dimana
jumlah atau kualitas produksi air mata berkurang atau penguapan air mata film meningkat 8.
Terjemahan dari "keratoconjunctivitis sicca" dari bahasa Latin adalah "kekeringan kornea dan
konjungtiva"11.

Gambar 2. 4 Mata dengan dry eye syndrome.

2.4 Etiologi
Banyak diantara penyebab sindrom mata kering mempengaruhi lebih dari satu komponen
film air mata atau berakibat perubahan permukaan mata yang secara sekunder menyebabkan
film air mata menjadi tidak stabil. Ciri histopatologik termasuk timbulnya bintik-bintik kering
pada kornea dan epitel konjungtiva, pembentukan filamen, hilangnya sel goblet konjungtiva,
pembesaran abnormal sel epitel non-goblet, peningkatan stratifikasi sel, dan penambahan
keratinasi8,9,11.

8
A. Kondisi ditandai hipofungsi kelenjar lakrimal
1. Kongenital
a. Dysautonomia familier (sindrom Riley-Day)
b. Aplasia kelenjar lakrimal (alakrima kongenital)
c. Aplasia nervus trigeminus
d. Dysplasia ektodermal
2. Didapat
a. Penyakit sistemik
1) Sindrom sjorgen
2) Sklerosis sistemik progresif
3) Sarkoidosis
4) Leukimia, limfoma
5) Amiloidosis
6) Hemokromatosis
b. Infeksi
1) Trachoma
2) Parotitis epidemica
c. Cedera
1) Pengangkatan kelenjar lakrimal
2) Iradiasi
3) Luka bakar kimiawi
d. Medikasi
1) Antihistamin
2) Antimuskarinik: atropin, skopolamin
3) Anestetika umum: halothane, nitrous oxide
4) Beta-adregenik blocker: timolol, practolol
e. Neurogenik-neuroparalitik (fasial nerve palsy)
B. Kondisi ditandai defisiensi musin
1. Avitaminosis A
2. Sindrom steven-johnson
3. Pemfigoid okuler
4. Konjungtivitis menahun
5. Luka bakar kimiawi
6. Medikasi-antihistamin, agen muskarin, agen Beta-adregenic blocker
C. Kondisi ditandai defisiensi lipid:
1. Parut tepian palpebra
2. Blepharitis
D. Penyebaran defektif film air mata disebabkan:
1. Kelainan palpebra
a. Defek, coloboma
b. Ektropion atau entropion
c. Keratinasi tepian palpebra
d. Berkedip berkurang atau tidak ada
1) Gangguan neurologik
2) Hipertiroid
3) Lensa kontak
4) Obat
5) Keratitis herpes simpleks
6) Lepra
e. Lagophthalmus
1) Lagophthalmus nocturna
2) Hipertiroidi
9
3) Lepra
2. Kelainan konjungtiva
a. Pterygium
b. Symblepharon
3. Proptosis8,9,11
2.5 Epidemiologi
Mata kering merupakan salah satu gangguan yang sering pada mata, persentase
insidenisanya sekitar 10-30% dari populasi, terutama pada orang yang usianya lebih dari 40
tahun dan 90% terjadi pada wanita. Frekuensi insidensia sindrom mata kering lebih banyak
terjadi pada ras Hispanic dan Asia dibandingkan dengan ras kaukasius15.

10
2.6 Klasifikasi

Gambar 2.5 Bagan Klasifikasi Sindroma Mata Kering berdasarkan Penyebabnya 16.
Berdasarkan National Eye Institute / Industry Workshop (1995), dry eye syndrome
diklasifikasikan menjadi dua yaitu Aqueous Deficient Dry Eye (ADDE) dan Evaporative Dry
Eye (EDE). Pada ADDE terjadi gangguan fungsi lakrimal sehingga mengakibatkan suatu
pengurangan arus dan volume cairan mata. Pada kondisi ini air mata menguap dengan cepat.
Pada pasien dry eye syndrome tipe ADDE ditemukan 10% dan EDE sebanyak 35% sedangkan
sisanya adalah campuran atau golongan yang tidak dikenali17,18,19.
1. Mata Kering Defisiensi Aqueous (MKDA) atau Aqueous Deficient Dry Eye (ADDE)16,19
Kegagalan sekresi air mata lakrimal ini akibat disfungsi kelenjar lakrimal asinar atau
penurunan volume sekresi air mata. Keadaan ini menyebabkan hiperosmolaritas karena
evaporasi tetap berlangsung normal. Hiperosmolaritas menstimulasi mediator inflamasi (IL-
1α, IL-1β, TNF α, matriks metaloproteinase 9, MAP kinase, dan NFkβ pathway). MKDA
dikelompokkan menjadi dua sub-kelas, yaitu mata kering sindrom Sjogren (MKSS) dan mata
kering bukan sindrom Sjogren (MKBSS).
MKSS merupakan penyakit autoimun yang menyerang kelenjar lakrimal, kelenjar saliva,
dan beberapa organ lain. Infiltrasi sel T pada kelenjar saliva dan lakrimal menyebabkan
kematian sel asinar dan duktus serta hiposekresi air mata atau saliva. Aktivasi mediator
inflamasi memicu ekspresi autoantigen di permukaan sel epitel (fodrin, Ro, dan La) dan
retensi sel T CD4 dan CD8.
MKBSS merupakan kelompok MKDA akibat disfungsi kelenjar lakrimal yang bukan
bagian dari autoimun sistemik. Keadaan yang paling sering ditemukan adalah mata kering
berkaitan dengan usia. Defisiensi kelenjar lakrimal juga dapat terjadi akibat penyakit lain
seperti sarkoidosis, AIDS, Graft vs Host Disease (GVHD) atau keadaan obstruksi ductus

11
kelenjar lakrimal akibat trakoma juga berperan dalam MKBSS.1,4 Pada Beave Dam study
ditemukan angka kejadian mata kering pasien DM 18,1% dibandingkan dengan pasien non-
DM (14,1%).
2. Mata Kering Evaporasi (MKE)16,19
MKE terjadi akibat kehilangan air mata di permukaan mata, sedangkan kelenjar lakrimasi
berfungsi normal. Keadaan ini dapat dipengaruhi oleh faktor intrinsic (struktur kelopak mata)
dan ekstrinsik (penyakit permukaan mata atau pengaruh obat topikal), keterkaitan kedua
factor masih sulit dibedakan.
Berdasarkan International Dry eye Workshop (2007), dry eye syndrome dibagi menjadi tiga
berdasarkan gejalanya yaitu ringan (mild), sedang (moderate) dan berat (severe)19. Pada kasus
ringan (mild), gejala yang muncul adalah scratchiness, terbakar, atau menyengat, dan
pengaburan ringan ketika lapisan air mata terganggu. Pada kasus sedang (moderate) ditandai
dengan ketidak nyamanan mata, dan ketajaman mata secara visual terganggu. Sedangkan pada
kasus berat (severe) keadaan mata kering semakin parah, lapisan air mata cepat terputus,
lapisan air mata mengalami debris, kelopak mata terlihat lebih meniskus, meningkatnya
mukosa dalam air mata, pewarnaan kornea dan konjungtiva, filament mengalami keratitis dan
kehilangan corneal cluster2.
2.7 Manifestasi Klinis dan Penegakan Diagnosa
Pasien dengan mata kering paling sering mengeluh tentang sensasi gatal atau berpasir
(benda asing). Gejala umum lainnya adalah gatal, sekresi mukus berlebihan, tidak mampu
menghasilkan air mata, sensasi terbakar, fotosensitivitas, merah, sakit, dan sulit
menggerakkan palpebra8,16. Pada kebanyakan pasien, ciri paling luar biasa pada pemeriksaan
mata adaah tampilan yang normal. Ciri yang paling khas pada pemeriksaan slitlamp adalah
terputus atau tiadanya meniskus air mata di tepian palpebra inferior. Benang-benang mukus
kental kekuning-kuningan terkadang terlihat dalam fornix conjungtivae inferior. Pada
konjungtiva bulbi tidak tampak kilauan yang normal dan mungkin menebal, beredema dan
hiperemik8,16.
Epitel kornea terlihat bertitik halus pada fissura interpalpebra. Sel-sel epitel konjungtiva
dan kornea yang rusak terpulas dengan bengal rose 1% dan defek pada epitel kornea terpulas
dengan fluorescein. Pada tahap lanjut keratokonjungtivitis sicca tampak filamen-filamen
dimana satu ujung setiap filamen melekat pada epitel kornea dan ujung lain bergerak bebas.
Pada pasien dengan sindrom sjorgen, kerokan dari konjungtiva menunjukkan peningkatan
jumlah sel goblet. Pembesaran kelenjar lakrimal kadang-kadang terjadi pada sindrom
sjorgen8,16.

12
Berdasarkan gejala klinis diatas dry eye syndrome didiagnosis dengan gejala klinis,
anamnesis yang lengkap tentang keluhan pasien, usia, pekerjaan, penyakit serta pemakaian
obat-obatan yang mungkin dapat menjadi penyebab. Pemeriksaan klinis segmen anterior mata
termasuk kelopak mata, sistem lakrimal, konjungtiva, epitel kornea, serta tekanan intraokuler.
Pemeriksaan khusus lainnya penting dilakukan untuk menilai fungsi air mata secara kualitas
maupun kuantitas seperti14:
A. Tes Schirmer8,16,20
Tes ini dilakukan dengan mengeringkan film air mata dan memasukkan strip Schirmer
(kertas saring Whatman No. 41 dengan ukuran kertas filter schirmer 30 x 5 mm) ke dalam cul
de sac konjungtiva inferior pada batas sepertiga tengah dan temporal dari palpebra inferior.
Bagian basah yang terpapar diukur 5 menit setelah dimasukkan. Panjang bagian basah kurang
dari 10 mm tanpa anestesi dianggap abnormal.
Bila dilakukan tanpa anestesi, tes ini mengukur fungsi kelenjar lakrimal utama, yang
aktivitas sekresinya dirangsang oleh iritasi kertas saring itu. Tes Schirmer yang dilakukan
setelah anestesi topikal (tetracaine 0.5%) mengukur fungsi kelenjar lakrimal tambahan
(pensekresi basa). Kurang dari 5 mm dalam 5 menit adalah abnormal.
Tes Schirmer adalah tes saringan bagi penilaian produksi air mata. Dijumpai hasil false
positive dan false negative. Hasil rendah kadang-kadang dijumpai pada orang normal, dan tes
normal dijumpai pada mata kering terutama yang sekunder terhadap defisiensi musin. Jika tes
ini dilakukan tanpa anestesi topikal, dinamakan tes Schirmer I untuk mengukur refleks sekresi
air mata. Namun, jika dilakukan dengan menggunakan anestesi topikal, dinamakan tes
Schirmer II, untuk mengukur sekresi basal air mata21.

Gambar 2. 6 Test Schrimer untuk Sindroma Mata Kering

B. Tear film break-up time8,16


Pengukuran tear film break-up time berguna untuk memperkirakan kandungan musin
dalam cairan air mata. Kekurangan musin mungkin tidak mempengaruhi tes Schirmer namun
dapat berakibat tidak stabilnya film air mata. Hal ini menyebabkan lapisan itu mudah pecah.
Bintik-bitik kering atau dry spot terbentuk dalam film air mata, sehingga memaparkan epitel

13
kornea atau konjungtiva. Proses ini pada akhirnya merusak sel-sel epitel, yang dapat dipulas
dengan bengal rose. Sel-sel epitel yang rusak dilepaskan kornea, meninggalkan daerah-daerah
kecil yang dapat dipulas dengan flourescein.
Tear film break-up time dapat diukur dengan meletakkan secarik keras berflourescein pada
konjungtiva bulbi dan meminta pasien berkedip. Film air mata kemudian diperiksa dengan
bantuan saringan cobalt pada slitlamp, sementara pasien diminta agar tidak berkedip. Waktu
sampai munculnya titik-titik kering yang pertama dalam lapisan flourescein kornea adalah
tear film break-up time. Biasanya waktu ini lebih dari 15 detik, namun akan berkurang nyata
oleh anestetika lokal, manipulasi mata, atau dengan menahan palpebra agar tetap terbuka.
Waktu ini lebih pendek pada mata dengan defisiensi aqueos pada air mata dan selalu lebih
pendek dari normalnya pada mata dengan defisiensi musin8,16,18.

Gambar 2. 7 Test Tear Film Break-Up Time

C. Tes Ferning Mata


Sebuah tes sederhana dan murah untuk meneliti mukus konjungtiva dilakukan dengan
mengeringkan kerokan konjungtiva di atas kaca obyek bersih. Arborisasi atau percabangan
seperti pohon (ferning) tampak secara mikroskopik pada mata normal. Pada pasien
konjungtivitis yang menimbulkan parut (pemphigoid mata, sindrom stevens johnson, parut
konjungtiva difus), arborisasi berkurang atau hilang8,16,18.
D. Sitologi Impresi
Sitologi impresi adalah cara menghitung densitas sel goblet pada permukaan konjungtiva.
Pada orang normal, populasi sel goblet paling tinggi di kuadran infra-nasal. Hilangnya sel
goblet ditemukan pada kasus keratokonjungtivitis sicca, trachoma, pemphigoid ocular
cicatrix, sindrom stevens johnson, dan avitaminosis A.

14
E. Pemulasan Flourescein
Menyentuh konjungtiva dengan secarik kertas kering berflourescein adalah indikator baik
untuk derajat basahnya mata, dan meniskus air mata mudah terlihat. Flourescein akan
memulas daerah-daerah erosi dan terluka selain defek mikroskopik pada epitel kornea8,16,20.

Gambar 2. 8 Gambaran Kesurakan Epitel Kornea pada Uji Fluorescein (tampak terpulah hijaupada
pemeriksaan lampu biru dengan slitlamp)

F. Pemulasan Bengal Rose dan Hijau Lissamine


Bengal rose lebih sensitif dari flourescein, namun sama sesnsitifnya dengan hijau
lissamine. Pewarna ini akan memulas semua sel epitel non-vital yang mengering dari
konjungtiva dan sedikit kornea. Bengal rose lebih sering menimbulkan irritasi dibandingkan
perwarna fluorescein dan hijau lissamine8,16,20.

Gambar 2. 9 Pewarnaan Bengal Rose (A. Terpulas merah) dan Lissamine Green (B. Terpulas hijau)
pada epitel konjungtiva yang mengalami kematian.

G. Penguji Kadar Lisozim Air Mata


Penurunan konsentrasi lisozim air mata umumnya terjadi pad awal perjalanan sindrom
Sjorgen dan berguna untuk mendiagnosis penyakit ini. Air mata ditampung pada kertas
Schirmer dan diuji kadarnya. Cara paling umum adalah pengujian secara spektrofotometri8,18.
H. Osmolalitas Air Mata
Hiperosmollitas air mata telah dilaporkan pada keratokonjungtivitis sicca dan pemakaian
kontak lens dan diduga sebagai akibat berkurangnya sensitivitas kornea. Laporan-laporan
menyebutkan bahwa hiperosmolalitas adalah tes paling spesifik bagi keratokonjungtivitis
sicca. Keadaan ini bahkan dapat ditemukan pada pasien dengan Schirmer normal dan
pemulasan bengal rose normal8,18.
I. Lactoferrin
15
Lactoferrin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien dengan hiposekresi kelenjar
lakrimal. Kotak penguji dapat dibeli dipasaran8,18.
2.8 Terapi
Pasien harus mengerti bahwa mata kering adalah keadaan menahun dan pemulihan total
sukar terjadi, kecuali pada kasus ringan, saat perubahan epitel pada kornea dan konjungtiva
masih reversibel8. Air mata buatan adalah terapi yang kini dianut. Salep berguna sebagai
pelumas jangka panjang, terutama saat tidur. Bantuan tambahan diperoleh dengan memakai
pelembab, kacamata pelembab bilik, atau kacamata berenang9.

Gambar 2. 10 Rencana Tatatalaksana pada Sindroma Mata Kering sesuai dengan Target Terapi. 16

Tabel 2. 1 Kategori terapi dry eye syndrome berdasarkan International Dry Eye Workshop 22
Macam Terapi Perlakuan
Lingkungan/Eksogen Edukasi dan modifikasi lingkungan
Mengeliminasi efek pengobatan topikal atau sistemik
Pengobatan Topikal Air mata buatan (artificial tears), gel/salep
Antiinflamasi (siklosporin dan kortikosteroid topikal)
Agen mukolitik
Serum autologous
Pengobatan Sistemik Asam lemak omega 3 (dapat meningkatkan resiko kanker
prostat pada laki-laki)
Tetrasiklin (untuk disfungsi kelenjar meibomian, rosacea)
Antiinflamasi sistemik
Secretagogues
Pembedahan Pemasangan sumbat punktum
Pemasangan sumbat punktum secara permanen
Penjahitan sepertiga kelopak mata (tarsorafi)
Perbaikan posisi kelopak mata
Selaput lendir, kelenjar saliva dan
pencangkokan selaput amniotic
Lainnya Terapi pada kelopak mata (kompres air hangat)
Kontak lensa
Kacamata moisture chamber

16
Fungsi utama pengobatan ini adalah penggantian cairan. Musin dipertahankan sebagai
prinsip utamanya. Beberapa tahun terakhir ditambahkan polimer larut air dengan berat
molekul tinggi pada air mata buatan, sebagai usaha memperbaiki dan memperpanjang lama
pelembaban permukaan.agen mukomimetik lain termasuk Na-hialuronat dan larutan dari
serum pasien sendiri sebagai tetesan mata. Jika mukus itu kental, seperti pada sindrom
Sjorgen, agen mukolitik (mis, acetylcystein 10%) dapat menolong8,9,16.
 Topikal cyclosporine A
 Topikal corticosteroids
 Topikal/sistemik omega-3 fatty acids: Omega-3 fatty acids menghambat sintesis dari
mediator lemak dan memblok produksi dari IL-1 and TNF-alpha. Pasien dengan
kelebihan lipid dalam air mata memerlukan instruksi spesifik untuk menghilangkan
lipid dari tepian palpebrae. Mungkin diperlukan antibiotika topikal atau sistemik.
Vitamin A topikal mungkin berguna untuk memulihkan metaplasia permukaan mata.
Semua pengawet kimiawi dalam air mata buatan akan menginduksi sejumlah toksisitas
kornea. Benzalkonium chlorida adalah peparat umum yang paling merusak. Pasien yang
memerlukan beberapa kali penetesan sebaiknya memakai larutan tanpa bahan pengawet.
Bahan pengawet dapat pula menimbulkan reaksi idiosinkrasi. Ini paling serius dengan
timerosal8.
Penyebab tersering mata kering adalah terkena infeksi. Blepharitis menahun sering
terdapat dan harus diobati dengan memperhatikan higiene dan memakai antibiotika topikal.
Acne rosacea sering terdapat bersamaan dengan keratokonjungtivitis sicca, dan pengobatan
dengan tetrasklin sistemik ada manfaatnya8,916.
Tindakan bedah pada mata kering adalah pemasangan sumbatan pada punktum yang
bersifat temporer (kolagen) atau untuk waktu lebih lama (silikon), untuk menahan sekret air
mata. Penutupan puncta dan kanalikuli secara permanen dapat dilakukan dengn terapi termal
(panas), kauter listrik atau dengan laser8,9,16.
2.9 Prognosis
Keratoconjunctivitis sicca biasanya merupakan masalah kronis. Prognosisnya
menunjukkan varian yang cukup besar, tergantung pada tingkat keparahan kondisinya.
Kebanyakan orang memiliki kasus ringan hingga sedang, dan dapat diobati sesuai dengan
keluhan menggunakan pelumas atau lubrikasi15.
Ketika gejala mata kering parah, mereka dapat mengganggu kualitas hidup. Beberapa
orang terkadang merasakan penglihatan mereka kabur atau iritasi parah hingga mereka
kesulitan menjaga mata terbuka atau mungkin tidak dapat bekerja atau mengemudi15.
2.10 Komplikasi

17
Pada awal perjalanan keratokonjungtivitis sicca, penglihatan sedikit terganggu. Dengan
memburuknya keadaan, ketidaknyamanan sangat menggangu. Pada kasus lanjut, dapat timbul
ulkus kornea, penipisan kornea, dan perforasi. Kadang-kadang terjadi infeksi bakteri
sekunder, dan berakibat parut dan vaskularisasi pada kornea, yang sangat menurunkan
penglihatan. Terapi dini dapat mencegah komplikasi-komplikasi ini8,16.

18
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Sindrom mata kering adalah suatu gangguan pada permukaan mata yang ditandai
dengan ketidakstabilan produksi dan fungsi dari lapisan air mata. Angka kejadian Sindroma
Mata Kering ini lebih banyak pada wanita dan cenderung meningkat sesuai dengan
peningkatan usia. Pasien dengan mata kering paling sering mengeluh tentang sensasi gatal
atau berpasir (benda asing). Gejala umum lainnya adalah gatal, sekresi mukus berlebihan,
tidak mampu menghasilkan air mata, sensasi terbakar, fotosensitivitas, merah, sakit, dan sulit
menggerakkan palpebra. Pada kebanyakan pasien, ciri paling luar biasa pada pemeriksaan
mata adaah tampilan yang nyata-nyata normal. Ciri yang paling khas pada pemeriksaan
slitlamp adalah terputus atau tiadanya meniskus air mata di tepian palpebra inferior.
Penegakan diagnossia pada sindroma mata kering berdasarkan dari anamnesis,
pemeriksaan visus, slitlamp, pemeriksaan penunjang khusus lainnya seperti test schrimer, test
tear film break-up time, test ferning, test pewarnaan, dll. Air mata buatan adalah terapi yang
paling direkomendasikan saat ini. Salep berguna sebagai pelumas jangka panjang, terutama
saat tidur. Bantuan tambahan diperoleh dengan memakai pelembab, kacamata pelembab bilik,
atau kacamata berenang. Secara umum, prognosis untuk ketajaman visual pada pasien dengan
sindrom mata kering baik. Pada kasus lanjut, dapat timbul ulkus kornea, penipisan kornea,
dan perforasi. Kadang-kadang terjadi infeksi bakteri sekunder, dan berakibat parut dan
vaskularisasi pada kornea, yang sangat menurunkan penglihatan. Terapi dini dapat mencegah
komplikasi pada penyakit ini.

3.2 Saran
Bagi penulis
Penulis diharapkan selalu menambah pengetahuannya tentang kelainan system
lakrimasi mata.
Bagi akademisi
Dalam makalah ini hanya dibahas sebagian kecil dari penjelasan tentang kelainan
system lakrimasi mata, makalah ini bisa digunakan sebagai pelengkap dan penunjang
untuk referensi.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Alkozi Hanan Awad, Colligris Basilio, Pintor Jesus. Recent Developments on Dry Eye
Disease Treatment Compounds. USA. Elsevier B.V. on behalf of Saudi Ophthalmological
Society, King Saudi University. www.sciencedirect.com. p. 19. 2013.
2. Catania Louis J., Scott Clifford A., Larkin Michael, Melton Ron, Semes Leo P., Shovlin
Joseph P., Heath David A., Adamczyk Diane T., Amos John F., Mathie Brian E., Miller
Stephen C. Care of the Patient with Ocular Surface Disorders. the AOA Board of Trustees.
American Optometric Association 243 N. Lindbergh Blvd., St. Louis, MO 63141-7881. p.
8 – 85. 2011.
3. Lin PY, Tsai SY, Cheng CY, Liu JH, Chou P, Hsu WM. Prevalence of Dry Eye Among an
Elderly Chinese Population in Taiwan: The Shihpai Eye Study. Ophthalmology. Taiwan. p.
109–1101. 2003.
4. Han S, Hyon J, Woo S, Lee J, Kim T, Kim K. Prevalence of Dry Eye Disease in an Elderly
Korean Population. Arch Ophthalmol. 2011.
5. Uchino M, Nishiwaki Y, Michikawa T, Shirakawa K Kuwahara E, Yamada M, Dogru M,
Schaumberg DA Kawakita T, Takebayashi T, Tsubota K. Prevalence and risk factors of dry
eye disease in Japan Koumi study. Ophthalmology 118(12):2361–2367 doi:
10.1016/j.ophtha.2011.05.029. Jepang. 2011.
6. Lee AJ, Lee J, Saw S-M, Gazzard G, Koh D, Widjaja D, Tan DTH. Prevalence and Risk
Factors Associated with Dry Eye Symptoms: A Population Based Study in Indonesia. Br J
Ophthalmol 86. p.1347 – 1351 Korea. p. 633–638. 2002.
7. Moss S, dkk. Prevalence and risk factor for dry eye syndrome, American medical
association. New York :2000
8. Paul Riordan-Eva, John P. Withcher. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Edisis 17.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2015. Hal.125
9. Kanski J Jack. Clinical Ophthalmology. Sixth Edition. Elsevier. London :2007
10. Richard Snell. Anatomi Klinis Manusia. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2016.
11. Guyton AC, Hall JE, “text Book of Medical Physiology” Edisi ke-10,. WB Saunders:
Philadelphia, USA; 2000. 651-653.
12. Sjamsubdiono, Trisnowati Taib Saleh, Moestidjab, Eddyanto. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Mata. Surabaya :Airlangga University Press. 2013.
13. Hosaka E., Kawamorita T., Ogasawara Y., 2011. Interferometry in the evaluation of
precorneal tear film thickness in dry eye. Am J Ophthalmol. p. 18 – 23
14. Asyari Fatma. 2007. Dry Eye Syndrome (Sindroma Mata Kering). Volume 20 Number 4.
Indonesia. Dexa Media. p. 162 – 166.
15. "Keratoconjunctivitis, Sicca". eMedicine. WebMD, Inc. January 27, 2010. Archived from
the original on March 7, 2010. Retrieved September 3, 2010.
16. Elvira, Victor Nugraha Wijaya. Penyakit Mata Kering. CDK Edisi Suplemen, Kalbe.
2018.
17. Bruce James, Chris Chew, Anthony Bron. Lecture Notes Oftalmologi. Edisi 9. Erlangga.
Jakarta :2005
18. Dry Eye Workshop Committe (DEWS). Report of the dry eye workshop. Ocul Surf. April
2007.
19. Lemp Michael A., Baudouin Christophe, Baum Jules, Dogru Murat, Foulks Gary N.,
Kinoshita Shigeru, Laibson Peter, McCulley James, Murube Juan, Pflugfelder Stephen C.,
Rolando Mauriz io, Toda Ikuko. The Definition and Classification of Dre Eye Disease :
Report of the Definition and Classification Subcommittee of the International Dry Eye
Workshop (2007). Volume 5 No. 2. Washington. Ethis Communications, Inc. The Ocular
Surface ISSN: 1542-0124 www.theocularsurface.com. p. 75 – 88. 2007.

20
20. Sidarta Ilyas. Dasar Teknik Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata. Edisi Kedua. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
21. Weisenthal Robert W., Natalie A. Afshari, Charles S. Bouchard, Kathryn A. Colby, David
S. Rooutman, Elmer Y. Tu, Denise de Freitas. Clinical Approach to Ocular Surface
Disorders, in External Disease and Cornea. San Fransisco. American Academy of
Ophthalmology. p. 45 - 79. 2014.
22. Coleman Anne L., Emptage Nicholas P., Collins Nancy, Mizuiri Doris, Ravetto Jessica,
Lum Flora C. Dry Eye Syndrome. USA. American Academy of Ophthalmology. p. 4 – 30.
2013.

21