Anda di halaman 1dari 17

5

GASTROENTERITIS

A. DEFINISI

Gastroenteritis adalah peradangan pada mukosa membrane lambung dan

usus halus yang ditandai dengan gejala diare, mual, muntah, dan demam

ringan disertai hilangnya nafsu makan dan rasa tidak enak diperut.

Diare akut adalah diare yang timbul secara mendadak dan bisa

berlangsung terus sampai beberapa hari dan biasanya kurang dari 2 minggu

yang disebabkan oleh infeksi usus.

B. Epidemiologi

Gastroenteritis akut merupakan salah satu penyakit yang sangat sering

ditemui. Penyakit ini lebih sering mengenai anak-anak. Anak-anak di Negara

berkembang lebih beresiko, penyakit ini mengenai 3-5 milyar anak setiapo

tahun dan menyebabkan sekitar 1,5-2,5 juta kematian per tahun atau

merupakan 12% dari seluruh penyebab kematian pada anak-anak usia

dibawah 5 tahun.

Secara umum di Negara berkembang memiliki angka rawat inap yang

lebih tinggi dibandingkan dengan Negara maju. Ini dimungkinkan

berdasarkan fakta bahwa anak-anak di Negara maju memiliki status gizi dan

layanan kesehatan primer yang lebih baik.


5

Di Indonesia pada tahun 2010 diare dan gastroenteritis oleh penyebab

infeksi tertentu masih menduduki peringkat pertama penyakit terbanyak pada

pasien rawat inap di Indonesia yaitu sebanyak 96.278 kasus dengan angka

kematian (case Fatality Rate/CFR) sebesar 1,92%.

C. ETIOLOGI

Penyakit gastroenteritis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Faktor infeksi

 Virus

Sejak tahun 1940-an, virus sudah dicurigai sebagai penyebab

penting dari gastroenteritis , beberapa virus yang sering

menyebabkan gastroenteritis adalah:

 Rotavirus

Rotavirus adalah virus yang paling sering menyebabkan diare

yang parah pada anak-anak, di Amerika serikat. Hamper semua

anak pernah terinfeksi virus ini pada usia 3-5 tahun . virus ini

tercatat menyebabkan sekitar 1/3 kasus diare yang dirawat inap

dan menyebabkan 500.000 kematian didunia setiap tahun.

 Enteric adenovirus

Virus ini menyebabkan 2-12% episode diare pada anak.

Human adenovirus merupakan anggota keluarga Adenovirus


5

dan merupakan virus DNA tanpa kapsul, diameter 70mm. Ada

4 genus yaitu Mastadenovirus, Aviadenovirus, Atadenovirus,

dan Siadenovirus. Serotipe enteric yang paling sering

berhubungan dengan gastroenteritis adalah Adenovirus 40 dan

41, sama dengan gastroenteritis yang disebabkan oleh

rotavirus, lesi yang dihasilkan oleh serotipe 40 dan 41 pada

eritrosit menyebabkan atrofi vili dan hiperplasia kripta sebagai

respon kompensasi, dengan akibat malabsorpsi dan kehilangan

cairan.

 Astrovirus

Virus ini menyebabkan 2-10% kasus gastroenteritis ringan

sampai sedang pada anak-anak . Astrovirus dilaporkan sebagai

virus bulat kecil dengan diameter 28mm dengan tampilan

seperti bintang bila dilihat dengan mikroskop electron.

 Human calcivirus

Infeksi human calcivirus sangat sering terjadi pada orang

dewasa dan seriung menimbulkan wabah.

 Virus lain

Terdapat juga beberapa virus lain yang dapat menyebabkan

penyakit gastroenterirtis seperti virus torovirus. Virus ini

berhubungan dengan terjadinya diare akut dan persisten pada


5

anak, dan mungkin merupakan penyebab diare nosocomial

yang penting. Selain itu ada juga virus coronavirus, virus ini

dihubungkan dengan diare pada manusia untuk pertama

kalinya pada tahun 1975. Virus lainnya seperti picorbinavirus.

Virus ini diidentifikasikan untuk pertama kalinya oleh Pereira

et al. pada tahun 1988.

 Bakteri

Infeksi bakteri menyebabkan 10-20% kasus gastroenteritis.

Bakteri yang paling sering menjadi penyebab gastroenteritis

adalah salmonella species, campylobacter species, shigella

species dan Yersina species. Beberapa bakteri yang dapat

menyebabkan gastroenteritis adalah:

 Salmonella

Infeksi salmonella kebanyakan melalui makanan atau minuman

yang tercemar kuman salmonella. Sekitar 40000 kasus

salmonella gastroenteritis dilaporkan setiap tahun. Salmonella

mencapai usus melalui proses pencernaan. Asam lambung

bersifat letal terhadap organisme ini tapi sejumlah besar bakteri

dapat menghadapinya cengan mekanisme pertahanan .

 Shigella
5

Shigella tertentu melekat pada tempat perlekatan pada

permukaan sel mukosa usus. Organisme ini menembus sel dan

berproliferasi. Multipikasi intraepitel merusak sel dan

mengakibatkan ulserasi mukosa usus. Invasi epitelium

menyebabkan respon inflamasi. Pada dasar lesi ulserasi, erosi

pembuluh darah mungkin menyebabkan perdarahan .

 Campylobacter

Campylobacter memanfaatkan mobilitas dan kemotaksis untuk

menelusuri permukaan epitel salkuran cerna, tampak

menghasilkan adhesi dan sitotoksin dan memiliki kemampuan

untuk bertahan hidup pada makrofag, monosit dan sel epitel

tetapi terutama dalam vakuola.

 E-coli

Walaupun umumnya tidak berbahaya, tetapi beberapa jenis

dapat menyebabkan gastroenteritis. E-coli yang menyebabkan

diare dibagi dalam 3 golongan, yaitu:

1) Enteropathogenic (EPEC)

2) Enterotoxigenic (ETEK)

3) Enteroinvasive (EIEC)

 Parasit dan protozoa


5

Giardia lamblia adalah infeksi protozoa yang paling sering

menyebabkan gastroenteriris. Protozoa yang lain mencakup

cryptosporidium dan entamoeba hystolitica.

2. Faktor makanan

 Malabsorpsi

1) Malabsorpsi karbohidrat

2) Malabsorpi lemak : terutama long chain triglyceride

3) Malabsorpsi protein : asam amino, B laktoglobulin

4) Malabsorpsi vitamin dan mineral

 Keracunan makanan

Makanan yang beracun (mengandung toksin bakteri)

merupakan salah satu penyebab terjadinya diare. Ketika

enterotoksin terdapat pada makanan yang dimakan, masa

inkubasi sekitar satu sampai enam jam. Ada dua bakteri yang

sering menyebabkan keracunan makanan yang disebabkan

adanya toksin, yaitu:

1) Staphylococcus

Hamper selalu S. aureus, bakteri ini menghasilkan

enterotoksin yang tahan panas, kebanyakan pasien

mengalami mual muntah yang berat.

2) Bacillus cereus
5

D. PATOFISIOLOGI

Penyebaran pathogen dikarenakan makanan dan minuman yang

terkontaminasi. Mekanisme dasar penyebab terjadinya diare adalah

Gangguan osmotic (makanan tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan

osmotic meningkat sehingga menyebabkan pergeseran air dan elektrolit ke

dalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare).

Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin didinding

usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare.

Gangguan moltilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan

hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan

elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis

metabolic dan hipokal emi). Gangguan gizi (intake kurang, output berlebih),

hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.

E. TANDA DAN GEJALA

Mula- mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh

biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul

diare (tinja cair). Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi

dan tinja semakin lama semakin asam sebagai akibat dari makin banyaknya

asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus

selama diare.
5

Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat

disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan

keseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan

banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Berat badan

turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun menjadi cekung, selaput

lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.

Berdasarkan gejala klinis yang sering ditemukan adalah:

 Diare

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk

cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja

lebih banyak dari biasanya, lebih dari 200 gram atau 200ml

dalam 24 jam.

Pada kasus gastroenteritis diare secara umum terjadi karena

adanya peningkatan sekresi air dan elektrolit.

 Mual dan muntah

Muntah diartikan sebagai adanya pengeluaran paksa dari isi

lambung melalui mulut. Pusat muntah mengontrol dan

mengintegrasikan terjadinya muntah. Lokasinya terletak pada

formasio retikularis lateral medulla oblongata yang berdekatan

dengan pusat-pusat lain yang meregulasi pernafasan ,

vasomotor, dan fungsi otonom lain. Pusat-pusat ini juga


5

memiliki peranan dalam terjadinya muntah . stimuli emetic

dapat ditransmisikan langsung ke pusat muntah ataupun

melalui chemoreceptor trigger zone.

Muntah dikoorduinasikan oleh batang otak dan dipengaruhi

oleh respon dari usus , faring, dan dinding torakoabdominal.

Mekanisme yang mendasari mual itu sendiri belum

sepenuhnya diketahui, tetapi diduga terdapat peranan korteks

serebri karena mual itu sendiri membutuhkan keadaan persepsi

sadar.

 Nyeri perut

Banyak penderita yang mengeluhkan sakit perut. Rasa sakit

perut banyak jenisnya. Hal yang perlu ditanyakan adalah

apakah nyeri perut yang timbul ada hubungannya dengan

makanan, apakah timbulnya terus menerus, adakah penjalaran

ke tempat lain, bagaimana sifat nyerinya dan lain-lain. Lokasi

dan kualitas nyeri perut dari berbagai organ akan berbeda,

misalnya pada lambung dan duodenum akan timbul nyeri yang

berhubungan dengan makanan dan berpusat pada garis tengah

epigastrium atau pada usus halus akan timbul nyeri disekitar

umbilicus yang mungkiun dapat menjalar ke punggung bagian

tengah bila rangsangannya sampai berat. Bila pada usus besar


5

maka nyeri yang timbul disebabkan kelainan pada kolon jarang

bertempat diperut bawah.

 Demam

Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi

menjadi:

 Dehidrasi ringan (bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%)

gejala berupa:

 Keadaan umum baik dan sadar

 Mata normal dan air mata tidak ada

 Mulut dan lidah basah

 Tidak merasa haus dan bisa minum

 Turgor kulit normal (cubitan kulit cepat kembali)

 Dehidrasi sedang (bila terjadi penurunan berat badan 5-10%)

dengan gejala berupa:

 Kencing sedikit, nafsu makan berkurang,

 Gelisah dan mengantuk, aktifitas menurun

 Mata dan ubun-ubun cekung

 Mulut dan lidah kering

 Nadi lebih cepat dari normal

 Turgor kurang (cubitan kulit lambat kembali)


5

 Dehidrasi berat (bila terjadi penurunan berat badan >10%)

dengan gejala berupa :

 Tidak kencing dan tidak ada nafsu makan

 Sangat lemah hingga kesadaran menurun

 Mata dan ubun-ubun sangat cekung

 Bibir dan lidah sangat kering

 Nadi sangat cepat

F. PENEGAKAN DIAGNOSA

1. Anamnesa

Curiga terjadinya gastroenteritis apabila terjadi perubahan tiba-

tiba, konsistensi tinja menjadi lebih berair, dan/atau muntah yang

terjadi tiba-tiba.

Pada anak biasanya diare berlangsung selama 5-7 hari. Muntah

biasanya berlangsung selama 1-2 hari, dan kebanyakan berhenti

dalam 3 hari.

2. Pemeriksaan fisik

Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat

berguna dalam menentukan keparahan penyakit. Status volume

dinila dengan menilai perubahan pada tekanan darah dan nadi,


5

temperature tubuh dan tanda toksisitas. Pemeriksaan abdomen

yang seksama juga merupakan hal yang penting dilakukan.

3. Pemeriksaan penunjang

 Pemeriksaan tinja

Pemeriksaan tinja yang dilakukan adalah pemeriksaan

makroskopik dan mikroskopik, biakan kuman, tes resistensi

terhadap berbagai antibiotika, pH dan kadar gula, jika diduga

ada intoleransi laktosa.

 Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah yang dilakukan mencakup pemeriksaan

darah lengkap, pemeriksaan elektrolit, pH dan cadangan alkali,

pemeriksaan kadar ureum.

G. PENATALAKSANAAN

Menurut kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksanaan diare pada balita

adalah LINTAS DIARE (lima langkah tuntaskan diare), yang

didukung oleh, ikatan dokter anak Indonesia dengan rekomendasi

WHO. Rehidrasi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi diare tetapi

memperbaiki kondisi usus serta mempercepat

penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah anak kekurangan

gizi akibat diare juga menjadi cara untuk mengiobati diare.


5

1. Terapi cairan

Ada 2 jenis cairan yaitu:

 Cairan rehidrasi oral yang mengandung NaCl, KCL,

NaHCO3 dan glukosa, yang dikenal dengan nama oralit

Dosis kebutuhan oralit:

o <1 tahun : 50-100 ml tiap BAB

o 1-5 tahun : 100-200 ml tiap BAB

o >5 tahun :200-300 ml tiap BAB

 Cairan rehidrasi parenteral (CRP) cairan ringer laktat

sebagai cairan rehidrasi parenteral tunggal. Selama

pemberian cairan ini, setiap jam perlu dilakukan evaluasi

jumlah cairan yang keluar bersama tinja dan muntah dan

tanda-tanda dehidrasi.

 Pemberian Zinc

Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi

lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi

buang air besar, mengurangi volume tinja, serta

menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan

berikutnya.

Dosis pemberian zinc pada balita:

o <6 bulan : 10mg/hari selama 10 hari

o >6 bulan : 20mg/hari selama 10 hari


5

 Pemberian ASI dan diet rendah serat tinggi protein

Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk pemberian

gizi pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan

tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang

masih meminum ASI harus lebih sering diberi ASI, anak yang

meminum susu formula (dengan kandungan yang mudah

diserap dan dicerna oleh usus) juga diberikan lebih sering dari

biasanya.

 Pemberian antibiotic

o E-Coli: Kortimakzole= 6 mg/kgBB/hari

o Giardia Lamblia : Metronidazole = 15 mg/kgBB/hari

o Vibrio Cholera : Tetrasiklin 25-50 mg/kgBB/dalam 4

dosis

o Amoebiasis : Metronidazole 30-50 mg/kgBB/hari

o Shigella Disentri : cefixime 10-15 mg/kgBB/hari

 Edukasi dengan orang tua

Ibu atau pengasugh yang berhubungan erat dengan balita harus

diberi nasihat tentang:

o Cara memberikan cairan dan obat dirumah

o Kapan harus membawa kembali balita ke petugas

kesehatan bila:

 Diare lebih sering


5

 Muntah berulang

 Sangat haus

 Makan/minum sedikit

 Timbul demam

 Tinja berdarah

 Tidak membaik dalam 3 hari

 Menggunakan air bersih yang cukup

 Mencuci tangan

 Membuang tinja bayi dengan benar

H. KOMPLIKASI

1. Dehidrasi

Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi:

 Dehidrasi ringan (bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%)

gejala berupa:

o Keadaan umum baik dan sadar

o Mata normal dan air mata tidak ada

o Mulut dan lidah basah

o Tidak merasa haus dan bisa minum

o Turgor kulit normal (cubitan kulit cepat kembali)


5

 Dehidrasi sedang (bila terjadi penurunan berat badan 5-10%)

dengan gejala berupa:

o Kencing sedikit, nafsu makan berkurang

o Gelisah dan mengantuk, aktifitas menurun

o Mata dan ubun-ubun cekung

o Mulut dan lidah kering

o Nadi lebih cepat dari normal

o Turgor kurang (cubitan kulit lambat kembali)

 Dehidrasi berat (bila terjadi penurunan berat badan >10%)

dengan gejala berupa:

o Tidak kencing dan tidak ada nafsu makan

o Sangat lemah hingga kesadaran menurun

o Mata dan ubun-ubun sangat cekung

o Bibir dan lidah sangat kering

o Nadi sangat cepat


5

DAFTAR PUSTAKA

1. Juffrie, Mohammad 2011. Buku ajar gastroenterologi-Hepatologi. Jilid 1.

UKK Gastroenterologi-Hepatologi IDAI.

2. Wahdiyat, Iskandar. 2007. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI.

3. Garna, Herry. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak.

Edisi ke-3 jakarta : FKUP.

4. Kementrian Kesehatan RI. 2011. Panduan sosialisasi tatalaksana diare pada

balita. Jakarta : Ditjen PP dan PL (kementrian kesehatan republic Indonesia,

2011).