Anda di halaman 1dari 7

Nama Anggota Kelompok 5

No Nama NPM
1.
2.
3.
4.

DIKSI DAN PEMBENTUKAN KATA

A. Pengertian Diksi
Diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata, gaya bahasa, ungkapan-ungkapan pengarang untuk
mengungkapkan sebuah cerita.
Dalam KBBI (2002 : 264) diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam
penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang
diharapkan. Dari pernyataan itu tampak bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi
kegiatan berbahasanya, termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan.
Agar menghasilkan cerita yang menarik, diksi atau pemilihan kata harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
1. Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan gagasan.
2. Pengarang harus memiliki kemampuan dalam membedakan secara tepat nuansa-nuansa
makna, sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan
bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembaca
3. Menguasai berbagai macam kosakata dan mempu memanfaatkan kata-kata tersebut
menjadi kalimat yang jelas, efektif, dan efisien.
Contoh paragraf:
1. Hari ini aku pergi ke pantai bersama dengan teman-temanku. Udara di sana sangat sejuk.
Kami bermain bola air sampai tak terasa hari sudah sore. Kami pun pulang tak lama
kemudian.
2. Liburan kali ini aku dan teman-temanku berencana untuk pergi ke pantai. Kami sangat
senang ketika hari itu tiba. Begitu sampai disana kami sudah disambut oleh semilir angin
yang tak heti-hentinya bertiup. Ombak yang berkejar-kejaran juga seolah tak mau kalah
untuk menyambut kedatangan kami. Kami menghabiskan waktu sepanjang hari di sana.
Kami pulang dengan hati yang senang.
Kedua paragraf diatas memiliki makna yang sama, tetapi dalam pemilihan kata atau diksi, paragraf
kedua lebih menarik bagi pembaca karena enak dibaca dan tidak membosankan.

B. Syarat-Syarat Pemilihan Kata

1. Makna Denotatif dan Konotatif


Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna
yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang terkandung sebuah kata
secara objektif. Makna denotatif sering disebut makna konseptual. Misalnya, kata makan yang
bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah dan ditelan.
Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap
pribadi dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan pada
makna konotatif berarti untung atau pukul. Makna konotatif selalu berubah dari zaman ke zaman.
Contoh lainnya misalnya kamar kecil dapat bermakna konotatif jamban, sedangkan makna
denotative adalah kamar yang kecil.
2. Makna Umum dan Makna Khusus
Makna umum adalah makna yang acuannya lebih luas. Makna khusus adalah makna yang
acuannya lebih sempit atau khusus. Misalnya ikan termasuk makna umum, sedangkan makna
khusus dari ikan adalah mujair, lele, gurami, gabus, koi. Contoh lainnya misalnya lele dapat
menjadi makna umum, jika makna khususnya adalah lele lokal, lele dumbo.
3. Kata Konkrit dan Kata Abstrak
Kata konkrit adalah kata yang acuannya dapat diserap oleh pancaindra. Misalnya meja, rumah,
mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Sedangkan kata abstrak adalah kata yang acuannya sulit
diserap oleh pancaindra. Misalnya perdamaian, gagasan. Kegunaan kata abstrak untuk
mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak dapat membedakan secara halus antara gagasan yang
bersifat teknis dan khusus. Pemakaian kata abstrak yang banyak pada suatu karangan akan
menjadikan karangan tersebut tidak jelas dalam menyampikan gagasan penulis.
4. Sinonim
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tapi
bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.
Misalnya kata cermat dan cerdik yang keduanya bersinonim, tetapi keduanya tidaklah sama persis.
5. Antonim
Antonim adalah suatu kata yang artinya berlawanan satu sama lain. Antonim disebut juga dengan
lawan kata.
Contoh:

Keras Lembek
Naik Turun
Kaya Miskin
Laki-Laki Perempuan
Atas Bawah
Surga Neraka

6. Homonim
Homonim adalah suatu kata yang memiliki makna yang berbeda, lafal yang sama, dan ejaannya
sama.
Contoh:
 Bu Andi bisa membuat program perangkat lunak komputer dengan berbagai bahasa
pemrograman (bisa = mampu).
 Bisa ular itu ditampung ke dalam bejana untuk diteliti (bisa = racun).

7. Homofon
Homofon adalah suatu kata yang memiliki makna yang berbeda, lafal yang sama, dan ejaannya
berbeda.
Contoh:
 Guci itu adalah peninggalan masa kerajaan kutai (masa = waktu)
Kasus tabrakan yang menghebohkan itu dimuat di media massa(massa = masyarakat
umum)
8. Homograf
Homograf adalah suatu kata yang memiliki makna yang berbeda, lafal yang beda, dan ejaannya
sama.
Contoh
 Bapak dia seorang pejabat teras pemerintahan yang menjadi tersangka korupsi (teras=
pejabat tinggi).
 Kami tidur di teras karena kunci rumah dibawa oleh Andi (teras = bagian rumah).

9. Polisemi
Polisemi adalah suatu kata yang memiliki banyak pengertian.
Contoh:
 Kepala desa
 Kepala surat

10. Hipernim
Hipernim adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain. Kata hipernim dapat menjadi kata
umum dari penyebutan kata-kata lainnya.
Contoh:

Hantu, ikan, kue


11. Hiponim
Hiponim adalah kata-kata yang terwakili artinya oleh kata hipernim.
Contoh :
 Pocong, kantong wewe, sundel bolong, kuntilanak, pastur buntung, tuyul, genderuwo, dan
lain-lain.
 Lumba-lumba,tenggiri,hiu,nila,mujair,sepat,dan lain-lain.
 Bolu, apem, nastar nenas, biskuit, bika ambon, serabi, tete, cucur, lapis, bolu kukus, dan
lain-lain.

12. Kata Ilmiah dan Kata Popular


Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang dapat diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa digunakan oleh kaum pelajar dalam berkomunikasi
maupun dalam tulisan-tulisan ilmiah seperti karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis,
desertasi. Selain itu digunakan pada acara-acara resmi. Kata popular adalah kata yang biasa
digunakan dalam komunikasi sehari-hari masyarakat umum.
Berikut adalah contoh dari kata-kata tersebut.
Kata Ilmiah Kata Populer
Analogi Kiasan
Final Akhir
Diskriminasi Perbedaan Perlakuan
Prediksi Ramalan
Kontradiksi Pertentangan
Format Ukuran
Anarki Kekacauan
Biodata Biografi Singkat
Bibliografi Daftar Pustaka
C. Pembentukan Kata
Terdapat dua cara dalam pembentukan kata, yaitu dari luar dan dari dalam bahasa Indonesia.
Pembentukan dari dalam yaitu terbetuknya kata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan
dari luar melalui proses serapan.
1. Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata
Pada sub bab ini akan disebutkan kesalahan dalam pembentukkan kata, yang sering ditemukan
dalam bahasa lisan maupun tulis.
a. Penghilangan awalan meng-
b. Penghilangan awalan ber-
c. Peluluhan bunyi /c/
d. Penyengauan kata dasar
e. Bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/ yang tidak luluh
f. Awalan ke- yang keliru pemakaian akhiran –ir
g. Padanan yang tidak serasi
h. Pemakaian kata depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada, dan terhadap
i. Penggunaan kesimpulan, keputusan, penalaran, dan pemukiman
j. Penggunaan kata yang hemat
k. Analogi
l. Bentuk jamak dalam bahasa Indonesia

2. Definisi
Definisi adalah suatu pernyataan yang menerangkan pengertian suatu hal atau konsep istilah
tertentu. Dalam hal membuat definisi hal yang tidak boleh dilakukan adalah mengulang kata yang
kita definisikan.
Contoh definisi:
Majas personifikasi adalah kiasan yang menggambarkan binatang, tumbuhan dan benda-benda
mati seakan hidup selayaknya manusia, seolah punya maksud, sifat, perasaan dan kegiatan seperti
manusia. Definisi terdiri dari:
a. Definisi nominalis
Definisi nominalis adalah menjelaskan sebuah kata dengan kata lain yang lebih umum dimengerti.
Biasanya digunakan untuk membuka suatu pembicaraan atau diskusi.
b. Definisi realis
Definisi realis adalah penjelasan tentang isi yang terkandung dalam sebuah istilah, bukan hanya
menjelaskan tentang istilah. Definisi realis terbagi atas :
 Definisi esensial, yaitu penjelasan dengan cara menguraikan perbedaan antara penjelasan
dengan cara menunjukkan bagian-bagian suatu benda (definisi analitik) dengan penjelasan
dengan cara menunjukkan isi dari suatu term yang terdiri atas genus dan diferensia (definisi
konotatif).
 Definisi diskriptif, yaitu pejelasan dengan cara menunjukkan sifat-sifat khusus yang
menyertai hal tersebut dengan penjelasan dengan cara menyatakan bagaimana suatu hal
terjadi.

c. Definisi praktis
Definisi praktis adalah penjelasan tentang suatu hal yang dijelaskan dari segi kegunaan atau tujuan.
Definisi praktis terbagi atas tiga macam, yaitu :
 Definisi operasional, yaitu penjelasan dengan cara menegaskan langkah-langkah pengujian
serta menunjukkan bagaimana hasil yang dapat diamati.
 Definisi fungsional, yaitu penjelasan sesuatu hal dengan cara menunjukkan kegunaan dan
tujuannya.
 Definisi persuasif, yaitu penjelasan dengan cara merumuskan suatu pernyataan yang dapat
mempengaruhi orang lain, bersifat membujuk orang lain.

3. Kata Serapan
Kata serapan adalah kata yang diadopsi dari bahasa asing yang sesuai dari EYD. Kata serapan
merupakan bagian perkembangan bahasa Indonesia. Kosa kata bahasa Indonesia banyak yang
menyerap dari bahasa asing. Bahasa-bahasa asing yang diserap kedalam bahasa Indonesia antara
lain bahasa Sansekerta, Arab, Belanda, Inggris dan Tionghoa. Penyerapan kata kedalam bahasa
Indonesia meliputi dua unsur, yaitu:
 Keteraturan bahasa(analogi), dikatakan analogi jika kata tersebut memiliki bunyi yang
sesuai antara ejaan dan pelafalannya.
 Penyimpangan atau ketidakteraturan bahasa(anomali), dikatakan anomali apabila kata
tersebut tidak sesuai antara ejaan dan pelafalannya.

4. Analogi
Karena analogi adalah keteraturan bahasa, tentu saja lebih banyak berkaitan dengan kaidah-kaidah
bahasa, baik dalam bentuk fonologi, sistem ejaan, atau struktur bahasa. Beberapa kata yang sudah
sesuai dengan sistem fonologi, baik melalui proses penyesuaian maupun tidak, misalnya:
Bahasa Indonesia Bahasa Aslinya
Aksi Action (Bahasa Inggris)
Bait Bait (Bahasa Arab)
Boling Bowling (Bahasa Inggris)
Dansa Dance (Bahasa Inggris)
Derajat Darrojah (Bahasa Arab)
Ekologi Ecology (Bahasa Inggris)
Fajar Fajr (Bahasa Arab)
Insan Al-Insan (Bahasa Arab)

Menurut taraf integrasinya unsur pinjaman dari bahasa asing dapat dibagi dua golongan. Pertama
unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia. Unsur pertama ini
digunakan dalam bahasa Indonesia, tetapi penulisan dan pengucapannya masih mengikuti aturan
bahasa asing. Unsur yang kedua kata pinjaman yang penulisan dan pengucapannya telah
disesuaikan ke dalam bahasa Indonesia.
5. Anomali
Bahasa Indonesia Bahasa Aslinya
Bank Bank (Bahasa Inggris)
Intern Intern (Bahasa Inggris)
Qur’an Qur’an (Bahasa Arab)
Jum’at Jum’at (Bahasa Arab)

Beberapa kata diatas merupakan kata yang mengandung unsur anomali. Bila diamati lafal yang
kita keluarkan dari mulut dengan ejaan yang tertera, tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
yaitu bank=(nk), jum’at=(’).
Sedangkan kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia secara utuh tanpa mengalami
perubahan penulisan memiliki kemungkinan untuk dibaca bagaimana aslinya, sehingga timbul
anomali dan fonologi, seperti contoh berikut.
Bahasa Indonesia Bahasa Aslinya
Expose Expose
Export Export
Exodus Exodus
Kadang-kadang kata tidak hanya satu morfem, ada juga yang terdiri dari dua morfem atau lebih,
sehingga penyerapannya dilakukan secara utuh, misalnya
Bahasa Indonesia Bahasa Aslinya
Federalisme Federalism (Bahasa Inggris)
Bilingual Bilingual (Bahasa Inggris)
Dedikasi Dedication (Bahasa Inggris)
Edukasi Education (Bahasa Inggris)
DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys. 1985. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.


Moeliono, Anton M. 1982 “Diksi atau Pilihan Kata: Suatu Spesifikasi di dalam kosa kata” Dalam
Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia. Jilid III. Nomor 3. Jakarta: Bharata.
http://dinamika.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/28102008121137_PAPER_BAHASA_INDO
NESIA1_fix.doc
http://www.google.co.id/search?hl=id&cr=countryID&q=pilihan+kata+dalam+ bahasa+indonesi
a&star=10&sa
http://riakapuas.blogspot.com/2012/04/diksi-pembentukan-kata.html