Anda di halaman 1dari 9

59

LAMPIRAN 5

SATUAN ACARA PENYULUHAN

BIDANG STUDI : ILMU KEPERAWATAN KELUARGA


Topik : Penyuluhan tentang Tuberkulosis
Sub topik : Penyuluhan tentang Tuberkulosis
Sasaran : Keluarga dan post penderita TB
Tempat : Rumah penderita di Desa Kidul Pasar Kecamatan Rambipuji
Hari/Tanggal : Sabtu , 09 Maret 2019
Waktu : 1 x 20 menit

A. TUJUAN
1. Tujuan instruksional Umum (TIU)
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan agar masyarakat dapat
mengetahui tentang penyakit TB, memahami bagaimana proses penularan dan
gejala penyakit TB sehingga dapat menjaga kesehatan dan lingkungan sekitar.

2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Setelah dilakukan penyuluhan, masyarakat mampu:
a. Memahami pengertian Tuberculosis Paru
b. Mengetahui tanda-tanda penyakit Tuberculosis Paru
c. Mengetahui cara penularan Tuberculosis Paru
d. Mengetahui pencegahan Tuberculosis Paru
e. Mengetahui pengobatan Tuberculosis Paru

B. MATERI (Terlampir)
Materi yang akan di sampaikan:
1. Pengertian Tuberculosis Paru
2. Tanda-tanda penyakit Tuberculosis Paru
60

3. Cara penularan Tuberculosis Paru


4. Pencegahan Tuberculosis Paru
5. Pengobatan Tuberculosis Paru

C. PESERTA
1. Eks. Penderita TB
2. Orang yang tinggal satu rumah dengan penderita

D. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab

E. MEDIA PENYULUHAN
1. Leaflet
61

F. KEGIATAN PENYULUHAN
No. Waktu Kegiatan Peserta
1. 10 Kegiatan membuka penyuluhan a. Menjawab salam
Menit Mengucap salam b. Mengenal petugas
Memperkenalkan diri penyuluhan
c. Menggali pengetahuan c. Mengemukakan pendapat
tentang tubercolosis paru sesuai dengan apa yang
d. Menjelaskan tujuan yang akan diketahui
dicapai berkaitan dengan materi
penyuluhan yang akan disampaikand. Menyimak dengan seksama
2. 40 Kegiatan inti a. Mendengar dengan seksama
menit a. Menjelaskan b. Menyimak dengan seksama
pengertian tuberculosis paru c.
b. Menyebutkan tanda dan gejala Masyarakat mendengarkan
tubercolosis paru penjelasan
c. Menyebutkan cara pencegahan d. Masyarakat menyimak
tuberculosis paru penjelasan
d. Menyebutkan penatalaksanaan
e. Masyarakat menyimak
tuberculosis paru penjelasan
e. Mendemonstrasikan cara f. Masyarakat menyimak
pencegahan tubercolosis paru penjelasan.
f. Memberikan reinforcemen positif g. Menerima reinforcemen
atas jawabanmasyarakat diberikan.
3. 10 Kegiatan menutup penyuluhan a.
menit a. Mengajukan pertanyaan sebagai Masyarakat menjawab
evaluasi pertanyaan yang diberikan
b. Mengucapkan salam penutup. b. Menjawab salam.

G. EVALUASI
1. Evaluasi proses
a. Keluarga mengikuti kegiatan penyuluhan dari awal hingga akhir
acara penyuluhan
62

b. Penyaji dapat memberikan materi dan menjawab pertanyaan


masyarakat dengan baik
c. Penyuluhan dapat berjalan sesuai dengan waktu yang ditentukan
d. Proses penyuluhan dapat berlangsung dengan baik dan lancer

2. Evaluasi hasil
a. Masyarakat tahu dan memahami sehingga menerapkan dalam
praktiknya individu maupun kelompok seperti materi yang telah
disampaikan dalam penyuluhan
b. Masyarakat akan membagikan pengetahuannya yang telah di dapat
dalam penyuluhan kepada masyarakat yang lainya

H. REFERENSI
Bruner & suddarth. (2002). Keperawatan medical bedah, vol 1. Jakarta EGC.
63

LAMPIRAN 6

MATERI PENYULUHAN TUBERKULOSIS PARU

A. Pengertian
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan
oleh Mycobacterium tubeculosis.

B. Tanda-tanda Tuberkulosis
Sebagian besar seseorang yang terinfeksi menunjukan demam tingkat rendah,
keletihan, anoreksia, penurunan berat badan, berkeringat malam, neyri dada, dan
batuk menetap. Batuk pada awalnya mungkin nonproduktif, tetapi dapat
berkembang ke arah pembentukan sputum mukopurulen dengan hemoptisis.
1. Gejala respiratorik, meliputi:
a) Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan
yang paling sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat non
produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila
sudah ada kerusakan jaringan
b) Batuk Darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin
tampak berupa garis atau bercak-bercak darak, gumpalan
darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk
darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat
ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya
pembuluh darah yang pecah.
c) Sesak Napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas
atau karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura,
pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d) Nyeri Dada
64

Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang


ringan. Gejala ini timbul apabila sistem persarafan di pleura
terkena.
2. Gejala Sistemik, Meliputi:
a) Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan
malam hari mirip demam influenza, hilang timbul dan makin lama
makin panjang serangannya sedang masa bebas serangan makin
pendek.
b) Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat
badan sertamalaise.Timbulnya gejala biasanya gradual dalam
beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan akut dengan batuk,
panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai
gejala pneumonia.
3. Test Diagnostik Foto thorax PA dengan atau tanpa literal merupakan
pemeriksaan radiology standar. Jenis pemeriksaan radiology lain hanya
atas indikasi Top foto, oblik, tomogram dan lain-lain.
a) Karakteristik radiology yang menunjang diagnostik antara lain :
1) Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru
2) Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler)
3) Kelainan yang bilateral, terutama bila terdapat di lapangan
atas paru
4) Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa
minggu
5) Bayangan bilier
b) Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum) ;
Ditemukannya kuman micobakterium TBC dari dahak penderita
memastikan diagnosis tuberculosis paru.Pemeriksaan biasanya lebih
sensitive daripada sediaan apus (mikroskopis). Pengambilan dahak
65

yang benar sangat penting untuk mendapatkan hasil yang sebaik-


baiknya. Pada pemeriksaan pertama. sebaiknya 3 kali pemeriksaan
dahak. Uji resistensi harus dilakukan apabila ada dugaan resistensi
terhadap pengobatan.Pemeriksaan sputum adalah diagnostik yang
terpenting dalam prograrn pemberantasan TBC paru di Indonesia.

C. Cara penularan Tuberkulosis Paru


Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei
yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiapkali
penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan
umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara
dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati
dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai
beberapa jam. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan Tuberkulosis pada
individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara dan panjang waktu
individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi tersebut di samping daya
tahan tubuh yang bersangkutan.
Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering), M.
tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan
luka terbuka pada kulit (lebih jarang).

D. Pencegahan tubektiolus paru


1.Vaksinai BCG untuk balita
2.Laksanakan PHBS di rumah
3.Selalu menjemur kasur dibawah terik matahari
4.Gunakan etika batuk yang benar
66

E. Pengobatan tubektiuolis paru


Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga
mencegah kematian, mencegsah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT
serta memutuskan matarantai penularan.
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan)
dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat
utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan
rekomendasi WHO adalah Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan
Etambutol. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin, Kuinolon,
Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat, derivat Rifampisin/INH.
Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu
berdasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil pemeriksaan
bakteriologik, hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Di samping
itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal
sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang
direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu:

1. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam


penanggulangan TB.
2. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang
pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat
dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut.
3. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan
langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan
pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari.
4. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup.
5. Pencatatan dan pelaporan yang baku.
67