Anda di halaman 1dari 15

HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN PERILAKU

BERISIKO TERHADAP KESEHATAN PADA REMAJA

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan oleh:

DYOTISADDHA REQYRIZENDRI
F.100104011

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2015
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN PERILAKU

BERISIKO TERHADAP KESEHATAN PADA REMAJA

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Muhammadiyah Surakarta

Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh

derajat Sarjana S-1 Psikologi

Oleh:

DYOTISADDHA REQYRIZENDRI
F.100104011

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2015

ii
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DENGAN PERILAKU
BERISIKO TERHADAP KESEHATAN PADA REMAJA

Dyotisaddha Reqyrizendri
Setia Asyanti
dyotisaddha@gmail.com
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Abstraksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan


antara harga diri dan perilaku berisiko terhadap kesehatan pada remaja. Hipotesis
yang diajukan adalah ada hubungan negatif antara harga diri dengan perilaku
berisiko terhadap kesehatan pada remaja. Subjek dalam penelitian ini adalah
siswa-siswi SMA Negeri 1 Ngawi yang berjumlah 120. Teknik pengambilan
sampel yang digunakan adalah random sampling dengan metode cluster. Alat
ukur yang digunakan untuk mengungkap variabel-variabel penelitian adalah: (1)
skala perilaku berisiko terhadap kesehatan dan (2) skala harga diri. Analisis data
dalam penelitian ini menggunakan korelasi product moment. Berdasarkan hasil
analisis data, diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar -0,263; p = 0,002 (p<0,01)
artinya ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara harga diri dengan
perilaku berisiko terhadap kesehatan. Semakin tinggi harga diri maka semakin
rendah perilaku berisiko terhadap kesehatan, sebaliknya semakin rendah harga diri
maka semakin tinggi perilaku berisiko terhadap kesehatan pada remaja. Rerata
empirik variabel perilaku berisiko terhadap kesehatan (RE=23,56) lebih rendah
daripada dengan rerata hipotetik (RH=63), yang berarti pada umumnya siswa
memiliki perilaku berisiko terhadap kesehatan yang sangat rendah. Rerata empirik
variabel harga diri (RE=28,83) lebih tinggi daripada rerata hipotetik (RH=22,5),
yang berarti pada umumnya siswa memliki harga diri yang tinggi. Penelitian ini
dapat disimpulkanada hubungan negatif yang sangat signifikan antara harga diri
dengan perilaku berisiko terhadap kesehatan pada remaja. Peranan harga diri
terhadap perilaku berisiko terhadap kesehatan (SE) sebesar 6,9%. Hal ini berarti
masih terdapat 93,1% faktor lain, selain harga diri yang mempengaruhi perilaku
berisiko terhadapa kesehatan pada remaja.

Kata kunci: perilaku berisiko terhadap kesehatan, harga diri

v
PENGANTAR tahun remaja dan permulaan perilaku
Remaja diartikan sebagai berisiko secara bertahap terjadi pada
masa perkembangan transisi antara usia muda. Berdasarkan skala
masa anak dan masa dewasa yang YRBSS (Youth Risk Behavior
mencakup perubahan biologis, kog- Surveillance System) yang dibuat
nitif dan sosial-emosional, yang oleh CDC (2013), perilaku berisiko
dimulai pada usia 10 sampai 13 terhadap kesehatan merupakan
tahun dan berakhir pada usia 18 perilaku yang saling terkait dan dapat
sampai 22 tahun. Masa remaja dicegah, yang berkontribusi terhadap
bukanlah saat pemberontakan, krisis, penyebab utama angka kesakitan dan
penyakit, dan penyimpangan namun kematian di antara remaja dan
cenderung kepada masa evaluasi, dewasa.
pengambilan keputusan, komitmen, Remaja yang berusia 14
dan mencari tempat di dunia sampai 18 tahun, menunjukkan
(Santrock, 2005). prevalensi yang sangat tinggi dalam
Aristoteles (Santrock, 2005) penggunaan alkohol. 77% remaja
menegaskan bahwa hal terpenting pernah minum minuman beralkohol,
dalam masa remaja adalah pem- dan di antaranya, 17% dari remaja
bentukan kemampuan untuk memi- melaporkan minum alkohol setiap
lih. Kemampuan untuk menentukan hari atau 1-2 kali per minggu
secara mandiri ini merupakan tanda (Brener, 2005, dalam Kim, 2011).
dari kematangan. Aristoteles percaya Departemen Kesehatan Repu-
bahwa pada permulaan masa remaja, blik Indonesia mendefinisikan rema-
individu tidak stabil dan tidak sabar ja berisiko sebagai remaja yang
karena kurang adanya kontrol diri pernah melakukan perilaku yang
yang dibutuhkan untuk menjadi berisiko terhadap kesehatan. Berda-
seseorang yang matang. sarkan hasil penelitian, sebanyak
Masa remaja adalah kunci 55,2% remaja pernah melakukan
tahap perkembangan untuk mem- perilaku berisiko. Secara berurutan,
bentuk kesehatan di masa dewasa, mayoritas pola perilaku berisiko
oleh sebab itu diharapkan remaja In- yang dilakukan adalah merokok,
donesia dapat mengendalikan dirinya minum alkohol, melakukan hubu-
untuk mengurangi perilaku berisiko ngan seksual pranikah, dan penya-
terhadap kesehatan yang dapat lahgunaan narkoba. Hasil analisis
mengakibatkan munculnya berbagai Survey Kesehatan Reproduksi rema-
penyakit atau bahkan kematian. ja Indonesia (SKRRI) 2007 menun-
Remaja diharapkan mampu memilih jukkan peningkatan prevalensi
dan menentukan aktivitas-aktivitas perilaku berisiko baik di kalangan
yang bermanfaat sehingga nantinya remaja laki-laki maupun remaja
dapat tumbuh sebagai dewasa yang perempuan, jika dibandingkan de-
sehat dan berguna bagi dirinya serta ngan hasil SKRRI 2002-2003 (BPS,
masyarakat di sekitarnya. 2003, dalam Lestary, 2011)
Telah dicatat dan didoku- Hasil wawancara yang
mentasikan dengan baik bahwa dilakukan oleh penulis kepada guru
perilaku berisiko terhadap kesehatan di suatu SMA di Ngawi,
sebagian besar dimulai selama tahun- menunjukkan adanya perilaku beri-

1
siko terhadap kesehatan yang muncul dap perilaku merokok dan minum
selama tahun 2013, antara lain alkohol.
merokok (6,6%), menyimpan video Harga diri umumnya diguna-
porno (4,2%), kasus perkelahian kan untuk merujuk kepada evaluasi
(2,8%), dan kasus siswi hamil diluar individu atas dirinyasendiri, terma-
nikah (0,2%). Berdasarkan hasil suk perasaan akan nilai diri
observasi yang dilakukan oleh pene- (Coopersmith, 1967; Rosenberg,
liti, diketahui bahwa beberapa siswa 1979, dalam Wild, 2004). Orang-
tampak mengendarai motor tanpa orang yang memiliki harga diri
mengenakan helm dan berkendara rendah mengalihkannya kepada peri-
dengan kecepatan tinggi. laku berisiko seperti penyalahgunaan
Dalam beberapa tahun ter- zat sebagai cara untuk mengatasi
akhir, telah terjadi pergeseran ke atau melarikan diri dari perasaan
arah penelitian yang didasarkan pada negatif yang terkait dengan harga diri
teori dan praktek yang didukung yang rendah (Baumeister, 1990;
secara empiris, yang mewajibkan Jessor, Van den Bos, Vanderryn ,
perawatan perilaku kesehatan yang Costa, & Turbin, 1995, dalam Wild,
berfokus pada rentang interaksi yang 2004). Obat terlarang dapat mem-
luas dengan perilaku kesehatan yang bantu beberapa remaja untuk menye-
negatif dan kecenderungan psiko- suaikan diri dengan lebih baik
logis pada remaja. Dalam hal ini, dengan lingkungannya. Merokok,
sebuah penelitian yang dilakukan minum-minuman keras, dan meng-
oleh Kim (2011) menunjukkan bah- konsumsi obat terlarang dapat
wa terdapat tiga variabel psikologis mengurangi ketegangan dan frus-
(multidimensional health locus of trasi, menghilangkan kebosanan dan
control, efikasi diri, dan harga diri) rasa lelah, dan dalam beberapa kasus
yang secara signifikan berkorelasi juga dapat membantu remaja mela-
dengan perilaku berisiko terhadap rikan diri dari kenyataan hidup yang
kesehatan. Korelasi yang sudah keras (Santrock, 2005).
teridentifikasi ini memungkinkan
untuk eksplorasi lebih lanjut tentang Dari uraian tersebut dapat
kemungkinan hubungan antara vari- dirumuskan permasalahan sebagai
abel psikologis dan perilaku berisiko berikut: “apakah ada hubungan
terhadap kesehatan. Temuan ini antara harga diri dengan perilaku
didukung oleh penelitian sebelum- berisiko terhadap kesehatan pada
nya. Kim (2001, dalam Kim 2011) remaja?”.
menyatakan bahwa efikasi diri dan
harga diri adalah prediktor signifikan TUJUAN
dari aktivitas fisik dan kesehatan
mental. Baru-baru ini, Georg dan Tujuan dari penelitian ini
rekan-rekannya (Kim 2011) juga adalah:
mendukung hubungan antara perila-
ku berisiko terhadap kesehatan dan 1. Untuk mengetahui bagaimana
variabel psikologis, dan menunjuk- hubungan antara harga diri dan
kan bahwa harga diri dan efikasi diri perilaku berisiko terhadap
memiliki pengaruh signifikan terha- kesehatan pada remaja.

2
2. Untuk mengetahui bagaimana Menurut Green dan
tingkat harga diri subjek Kreuter (Green and Kreuter, 2005
penelitian. dalam Lestary, 2011), ada tiga faktor
3. Untuk mengetahui bagaimana yang menyebabkan atau mem-
tingkat perilaku berisiko terhadap pengaruhi perilaku berisiko pada
kesehatan subjek penelitian. remaja, yaitu:
4. Untuk mengetahui bagaimana a. Faktor predisposing adalah faktor
peranan harga diri terhadap yang melekat atau memotivasi.
perilaku berisiko terhadap b. Faktor enabling adalah faktor
kesehatan. pendukung.
c. Faktor reinforcing adalah fak-tor
LANDASAN TEORI penguat.
Perilaku berisiko terhadap
kesehatan Harga diri
Berdasarkan skala YRBSS Harga diri adalah perasaan
(Youth Risk Behavior Surveillance tentang pandangan diri yang positif,
System) yang dibuat oleh Centers for atau sejauh mana masyarakat me-
Disease Control and Preventionatau nyukai atau tidak menyukai individu
CDC (2013), perilaku berisiko tersebut (Rosenberg, 1982, dalam
terhadap kesehatan merupakan Karren, 2002).
tindakan yang saling terkait dan Menurut Rosenberg (1986,
dapat dicegah, yang berkontribusi dalam Rosenberg, dkk., 1989),
terhadap penyebab utama angka prinsip-prinsip pembentukan harga
kesakitan dan kematian di antara diri antara lain:
remaja dan dewasa. a. Reflected Appraisals (penilaian
Pusat Pengendalian dan yang dipantulkan);
Pencegahan Penyakit (CDC, 2013) b. Self-Comparison atau prinsip
menunjukkan bahwa sebenarnya se- perbandingan sosial;
mua perilaku yang berkontribusi c. Self-Attribution (atribusi diri).
terhadap penyebab utama morbiditas Harga diri, nilai yang individu
dan mortalitas dapat ditempatkan ke tetapkan untuk diri individu itu
dalam enam kategori prioritas peri- senidiri, umumnya didasarkan pada
laku kesehatan berisiko: dua faktor fisik dan tiga faktor
a. perilaku yang berkontribusi psikologis (Rice dalam Karren,
terhadap cedera yang tidak 2002). Faktor fisik yang menentukan
disengaja dan kekerasan; harga diri adalah (a) penampilan
b. perilaku seksual yang berkon- individu (cara individu itu melihat);
tribusi terhadap infeksi HIV, (b) kemampuan fisik individu.
penyakit menular seksual Sedangkan faktor penentu psikologis
lainnya, dan kehamilan yang harga diri adalah (a) bagaimana
tidak diinginkan; individu akan berhasil di sekolah
c. penggunaan tembakau; (kecerdasan yang individu rasakan).
d. alkohol dan penggunaan narko-ba Beberapa individu mendasarkan
lainnya; harga diri lebih pada keberhasilan
e. perilaku makan yang tidak sehat; atletik dan pada pendapat rekannya
f. kurangnya aktivitas fisik. daripada prestasi akademik individu

3
itu sendiri (Crocker & Wolfe, 2001, penelitian yang dilakukan Kim
dalam Bernstein, 2012); (b) seberapa (2011) juga menunjukkan adanya
yakin individu berada dalam situasi hubungan yang signifikan antara
sosial; (c) bagaimana individu harga diri dengan perilaku berisiko
menganggap diri individu itu sendiri. terhadap kesehatan, terutama untuk
penggunaan obat-obatan terlarang.
METODE PENELITIAN Terbuktinya hipotesis sesuai
Sampel dalam penelitian ini dengan teori yang dikemukakan oleh
adalah siswa SMA Negeri 1 Ngawi Rosenberg (1965, dalam Kavas,
sebanyak 120 responden. Metode 2009), bahwa harga diri yang tinggi
pengumpulan data menggunakan menunjukkan perasaan personal
angket dengan alat ukur skala yaitu mengenai self respect (perasaan
skala harga diridan perilaku berisiko menghargai diri sendiri) dan self
terhadap kesehatan. Teknik pengam- worth (kepantasan diri), sedangkan
bilan sampel yang digunakan dalam harga diri yang rendah menyiratkan
penelitian ini adalah cluster random ketidakpuasan diri dan penolakan
sampling. Metode analisis data diri. Sementara harga diri yang tinggi
menggunakan teknik analisis product dapat dikaitkan dengan rasa sejahtera
moment. secara keseluruhan, harga diri yang
rendah mungkin berhubungan
HASIL DAN PEMBAHASAN dengan perilaku berisiko dan hasil
Dari hasil analisis data dapat perkembangan negatif (Connor,
diketahui bahwa ada hubungan Poyrazli, Ferrer-Wreder, Grahame,
negatif yang signifikan antara harga 2004, dalam Kavas, 2009). Beberapa
diri dengan perilaku berisiko terha- teori berpendapat bahwa individu
dap kesehatan pada remaja, dengan dengan harga diri yang rendah
nilai korelasi (r) sebesar -0,263; p = cenderung untuk menerapkan
0,002 (p<0,01). Artinya bahwa perilaku berisiko (Wild, Flisher,
semakin tinggi harga diri remaja Bhana, & Lombard 2004, dalam
maka semakin rendah perilaku Kavas, 2009). Remaja yang merokok
berisiko remaja terhadap kesehatan sering melakukannya sebagai suatu
dan sebaliknya semakin rendah harga alat kompensasi karena mereka telah
diri remaja maka semakin tinggi jauh tertinggal dibanding teman-
perilaku berisiko terhadap kesehatan teman mereka yang berada pada
pada remaja. tingkat yang sama di sekolah, karena
Penelitian sebelumnya juga mereka tidak berpartisipasi dalam
telah menunjukkan hubungan antara kegiatan ekstrakurikuler, atau karena
harga diri dan perilaku berisiko mereka tidak banyak mengambil
terhadap kesehatan seperti merokok kursus akademik yang mendukung
(Kawabata. Cross, Nishioka, & pekerjaan sekolah (Globetti, 1967
Shimai, 1999, dalam Kavas, 2009), dalam Rice, 1978).
minum alkohol (Young, Werch, & Hasil penelitian yang
Bakema, 1989, dalam Kavas, 2009), dilakukan penulis juga sesuai dengan
dan menggunakan obat-obatan teori yang mengatakan bahwa orang-
terlarang (Gordon & Caltahiano, orang yang memiliki harga diri yang
1996, dalam Kavas, 2009). Dalam rendah mengalihkannya kepada

4
perilaku berisiko seperti penyalah- Remaja yang memiliki harga
gunaan zat sebagai cara untuk diri yang rendahakan memandang
mengatasi atau melarikan diri dari dirinya buruk berdasarkan penilaian
perasaan negatif yang terkait dengan yang buruk dari orang lain, merasa
harga diri yang rendah (Baumeister, memiliki lebih banyak kekurangan
1990; Jessor, Van den Bos, dibandingkan dengan orang lain,
Vanderryn, Costa, &Turbin, 1995, serta menilai diri secara keseluruhan
dalam Wild, 2004) karena ini adalah adalah orang yang gagal. Hal ini
satu-satunya alat yang tersedia bagi menyebabkan individu itu mengala-
remaja untuk mengatasi stres (Koval mi stres, merasa tegang, cemas, dan
& Pederson, 1999 dalam Wild, kehilangan motivasi. Remaja ter-
2004). Menurut Coles, 1970 (Rice, sebut juga merasa tidak yakin dengan
1978), mereka yang menggunakan dirinya, menjadi pasif, sehingga
narkoba sebagai pelarian dari tergantung dengan orang lain yang
ketegangan, kecemasan, masalah, selanjutnya membuat remaja merasa
atau kenyataan, atau untuk menebus kehidupannya mengecewakan se-
kekurangan pribadi cenderung meng- hingga putus asa dan kemudian
alami ketergantungan pada narkoba. menarik diri dari lingkungan sosial.
Remaja mudah dipengaruhi oleh Untuk mengatasi perasaan negatif
orang lain melalui “tekanan teman akan kegagalan yang dialami,
sebaya” (McGee & Williams, 2000, individu berusaha melarikan diri
dalam Wild, 2004). Tekanan sosial dengan mengkonsumsi narkoba,
untuk menjadi seperti teman-teman mengkonsumsi alkohol dan merokok
atau menjadi bagian dari kelompok agar dapat diterima oleh teman
sosial adalah motif yang kuat untuk sebaya, melakukan kekerasan supaya
mencoba narkoba (Center for memperoleh
Counseling and Psychological penghormatan/penghargaan dari
Services, 1970 dalam Rice, 1978). orang lain sehingga membuatnya
Teori tersebut menunjukkan bahwa menjadi kesulitan dalam mengenda-
peningkatan harga diri remaja akan likan diri dan menjaga kesehatan
membantu melindungi remaja itu dirinya. Berbeda dengan yang
sendiri dari penerapan perilaku memiliki harga diri yang tinggi,
berisiko. remaja memandang dirinya baik
Jika tingkat harga diri pada karena penilaian yang remaja dapat
remaja tinggi maka hal tersebut akan dari orang lain, merasa memiliki
menekan munculnya perilaku berisi- lebih banyak kelebihan dibandingkan
ko yang terhadap kesehatan sehingga dengan orang lain serta menilai
remaja dapat terhindar dari celaka, dirinya secara keseluruhan adalah
berbagai macam penyakit, atau orang yang berhasil. Memiliki pera-
bahkan kematian. Begitupula seba- saan yang positif akan dirinya
liknya jika harga diri rendah dan membuat remaja mampu menerima
perilaku berisiko terhadap kesehatan dirinya apa adanya, merawat dan
tinggi, maka remaja akan berpotensi menjaga dirinya dengan baik,
mengalami kecelakaan serta muncul memiliki keyakinan diri sehingga
berbagai macam gangguan kesehat- tidak tergantung dengan orang lain.
an. Selanjutnya remaja merasa memiliki

5
kehidupan yang menyenangkan dan Gambaran umum subjek
dapat bergaul dengan baik. Secara penelitian, sebagaimana yang ditun-
keseluruhan subjek merasa puas jukkan oleh data deskriptif subjek
dengan kehidupannya sehingga penelitian, diperoleh hasil bahwa
mampu mengendalikan diri untuk sebagian besar subjek berjenis
menjaga kesehatan diri dan kelamin perempuan dengan prosen-
menghindari hal-hal yang dapat tase 59,2%. Hal inilah yang menjadi
merugikan dirinya seperti merokok, salah satu faktor yang mendukung
mengkonsumsi alkohol atau narkoba. rendahnya perilaku berisiko terhadap
Remaja juga menghindari kekerasan kesehatan subjek penelitian. Sebuah
karena merasa telah dihormati dan penelitian menunjukkan bahwa
diperlakukan selayaknya oleh orang perilaku merokok, minum alkohol,
lain. menggunakan obat-obatan, intimida-
Dari hasil analisis diketahui si siswa lain dan perilaku seksual
bahwa pada kenyataannya harga diri berisiko secara signifikan lebih
(RE = 28,83) subjek penelitian lebih banyak dilakukan oleh siswa laki-
tinggi daripada yang diasumsikan laki daripada siswa perempuan
(RH = 22,5). Jika dimasukkan dalam (Wild, Flisher, Bhana, & Lombard,
kurva normal, harga diri pada subjek 2004).
termasuk dalam kategori tinggi. Jessor (1991) menyatakan
Kondisi ini menunjukkan bahwa bahwa ketidaksetaraan etnis meru-
secara umum subjek memandang pakan salah satu faktor yang
dirinya baik karena penilaian yang mendukung munculnya perilaku
subjek dapat dari orang lain, merasa berisiko terhadap kesehatan. Dalam
memiliki lebih banyak kelebihan penelitian ini diketahui bahwa
dibandingkan dengan orang lain serta sebagian besar subjek berasal dari
menilai dirinya secara keseluruhan suku jawa (94,2%), yang mana suku
adalah orang yang berhasil. ini merupakan suku dengan populasi
Perilaku berisiko terhadap terbesar di Indonesia. Karena di
kesehatan pada subjek penelitian Indonesia tidak terdapat etnis atau
pada kenyataannya (RE=23,56) lebih suku yang direndahkan oleh ling-
rendah daripada yang diasumsikan kungan atau suku lain, subjek tidak
(RH=63). Jika dimasukkan dalam memiliki permasalahan tentang
kurva normal, perilaku berisiko ketidaksetaraan etnis, sehingga sub-
terhadap kesehatan pada subjek jek tidak perlu melarikan diri dari
tergolong sangat rendah. Kondisi ini lingkungan dan melakukan perilaku
dapat diinterpretasikan bahwa subjek berisiko terhadap kesehatan. Hal
secara umum cenderung jarang tersebut juga merupakan salah satu
melakukan hal-hal yang berpotensi faktor yang mendukung rendahnya
menyebabkan cedera dan munculnya perilaku berisiko terhadap kesehatan
penyakit-penyakit tertentu dikarena- pada subjek penelitian.
kan kurangnya aktivitas fisik, Perhitungan Body Mass Index
perilaku makan yang tidak sehat, (BMI) subjek penelitian menun-
perilaku seksual, atau penggunaan jukkan bahwa baik pada subjek laki-
tembakau, alkohol, dan narkoba. laki maupun perempuan, sebagian
besar memiliki proporsi tubuh yang

6
tergolong normal (laki-laki 75,5% Sumbangan efektif harga diri
dan perempuan 60,6%), sehingga terhadap perilaku berisiko terhadap
subjek cenderung untuk tidak kesehatan sebesar 6,9% yang
memiliki keinginan untuk menurun- ditunjukkan oleh koefisien deter-
kan atau menaikkan berat badannya minan (r2) = 0,069. Hal ini berarti
yang berpotensi mengalami gang- masih terdapat 93,1% variabel lain
guan makan, yang merupakan salah yang mempengaruhi perilaku
satu aspek dalam perilaku berisiko berisiko terhadap kesehatan pada
terhadap kesehatan. Selain itu, remaja. Variabel lain yang mem-
subjek juga tidak mengalami pengaruhi tingkat perilaku berisiko
perubahan ukuran, bentuk, penam- terhadap kesehatan pada diluar harga
pilan, serta perubahan fisik yang diri salah satunya adalah efikasi diri.
berhubungan dengan tumbuh kem- Menurut Green dan Kreuter (Green
bang normal yang dapat berpengaruh and Kreuter, 2005 dalam Lestary,
pada rendahnya harga diri seseorang 2011), terdapat 3 faktor yang
(Fitria, Aat, & Hernawati, 2013). mempengaruhi munculnya perilaku
Inilah salah satu alasan yang berisiko pada remaja. Selain harga
mendukung tingginya harga diri pada diri dan efikasi diri yang termasuk
subjek penelitian. dalam faktor predisposing (faktor
Banyaknya program yang yang melekat atau memotivasi),
diselenggarakan oleh BK juga terdapat 2 faktor lain yaitu faktor
menjadi salah satu faktor rendahnya enabling (faktor pendukung) dan
perilaku berisiko terhadap kesehatan faktor reinforcing (fakor penguat).
subjek penelitian. Program-program Hasil penelitian ini menunjukkan
tersebut antara lain Pendidikan Ke- bahwa harga diri memberikan
sehatan Reproduksi Remaja (PKRR), kontribusi terhadap perilaku berisiko
seminar yang membahas tentang terhadap kesehatan meskipun peri-
pergaulan yang sehat dan berpacaran laku berisiko terhadap kesehatan
yang sehat. SMA Negeri 1 Ngawi, juga dipengaruhi oleh variabel-
bekerjasama dengan Dinas Kese- variabel lainnya. Dalam hal ini,
hatan dan Pemerintah Kabu-paten harga diri memilki kontribusi yang
Ngawi, juga menyelenggarakan se- positif terhadap perilaku berisiko
minar mengenai konsumsi rokok, terhadap kesehatan pada siswa SMA
alkohol dan narkoba serta seminar Negeri 1 Ngawi, sehingga semakin
tentang lalu lintas. Seluruh program- tinggi harga diri maka semakin
program tersebut dilakukan oleh rendah perilaku berisiko terhadap
pihak sekolah sebagai upaya mence- kesehatan, sebaliknya semakin ren-
gah siswa-siswi melakukan perilaku- dah harga diri maka semakin tinggi
perilaku yang berisiko terhadap perilaku berisiko terhadap kesehatan.
kesehatannya. Program penyaluran Sehingga hal ini mencerminkan
dan pengembangan bakat dan minat bahwa meningkatkan harga diri
siswa, serta program belajar efektif adalah salah satu cara untuk dapat
yang diselenggarakan pihak BK mengatasi atau mengurangi perilaku
merupakan salah satu faktor yang berisiko terhadap kesehatan.
mendukung tingginya harga diri Keterbatasan dalam penelitian
subjek penelitian. ini antara lain:

7
1. Landasan teori yang digunakan hatan Reproduksi Remaja
dalam penelitian ini sebagian (PKRR), seminar-seminar yang
masih menggunakan rujukan membahas tentang konsumsi
lama. rokok, alkohol, dan narkoba, lalu
2. Oleh karena pengambilan sampel lintas, pergaulan yang sehat, dan
menggunakan teknik cluster, berpacaran yang sehat untuk
peneliti tidak dapat menyamakan mempertahankan rendahnya peri-
jumlah subjek laki-laki dan laku berisiko terhadap kesehatan
perempuan, sehingga dalam siswa. Sekolah juga diharapkan
penelitian ini subjek perempuan tetap menyelenggarakan program
lebih banyak daripada subjek laki- penyaluran bakat dan minat siswa
laki. serta program belajar efektif
3. Sebagian besar subjek penelitian untuk mempertahankan tingginya
berasal dari suku jawa, sehingga harga diri siswa.
hasil penelitian tidak dapat 2. Bagi siswa, diharapkan dapat
digeneralisasikan pada suku-suku mempertahankan perilaku
lain. Selain itu subjek penelitian berisiko terhadap kesehatan yang
juga terbatas pada remaja akhir, rendah dengan mengikuti
sehingga tidak meneliti remaja seminar-seminar tentang perilaku
awal maupun remaja tengah. berisiko terhadap kesehatan
remaja, baik seminar yang
KESIMPULAN DAN SARAN diselenggarakan pihak sekolah
Kesimpulan maupun lembaga lain di luar
1. Ada hubungan negatif yang sekolah. Di samping itu, siswa
sangat signifikan antara harga diri juga diharapkan dapat mengajak
dengan perilaku berisiko terhadap remaja lain dalam komunitasnya,
kesehatan pada remaja. baik komunitas disekolah maupun
2. Tingkat harga diri pada subjek komunitas di luar sekolah, untuk
tergolong tinggi. menghindari perilaku yang
3. Tingkat perilaku berisiko terhadap berisiko terhadap kesehatan pada
kesehatan pada subjek tergolong remaja.
sangat rendah. 3. Bagi peneliti selanjutnya,
4. Peranan atau sumbangan efektif diharapkan dapat meneliti lebih
harga diri terhadap perilaku lanjut mengenai perilaku berisiko
berisiko terhadap kesehatan terhadap kesehatan pada remaja
sebesar 6,9%. Hal ini berarti awal dan remaja akhir, dapat
masih terdapat 93,1% variabel melakukan penelitian serupa yang
lain yang mempengaruhi perilaku melibatkan subjek dari suku-suku
berisiko terhadap kesehatan pada lain selain suku jawa, serta
remaja. melakukan penelitian lebih lanjut
di sekolah lain di Indonesia
Saran dengan jumlah subjek laki-laki
1. Bagi pihak sekolah, diharapkan dan perempuan yang seimbang.
dapat mempertahankan program- Peneliti selanjutnya diharapkan
program yang telah diterapkan juga dapat mengungkap variabel
sekolah seperti Pendidikan Kese- lain, selain harga diri, yang dapat

8
mempengaruhi perilaku berisiko Kavas, A. B. (2009). Self Esteem
terhadap kesehatan. and Health-Risk Behaviors
Among Turkish Late
DAFTAR PUSTAKA Adolescents. Adolesence , 44,
187-198.

Kim, Y. (2011). Adolescent's Health


Bernstein, D. A., Stewart, A. C.,
Behaviours and Its
Penner, L. A., & Roy, E. J.
Associations with
(2012). Psychology. China:
Psychological Variables.
Wadsworth, Cengage
Journal of Public Health , 19,
Learning.
205–209.
Centers for Disease Control and
Lestary, H., & Sugiharti. (2011).
Prevention. (2013).
Perilaku Berisiko Remaja di
Methodology of the Youth
Indonesia Menurut Survey
Risk Behavior Surveillance
Kesehatan Reproduksi
System — 2013. Morbidity
Remaja Remaja Indonesia
and Mortality Weekly Report,
(SKRRI) Tahun 2007. Jurnal
62, 1-18.
Kesehatan Reproduksi , 136-
Fitria, N., Aat, S., & Hernawati, T. 144.
(2013). Laporan
Rice, F. P. (1978). THE
Pendahuluan tentang
ADOLESCENT:
Masalah Psikososial. Jakarta:
Development, Relationship,
salemba Humanika.
and Culture. Boston: Allyn
Jessor, R. (1991). Risk Behavior in and Bacon.
Adolescence: A Psychosocial
Rosenberg, M., Schooler, C., &
Framework for
Schoenbach, C. (1989). Self-
Understanding and Action.
Esteem and Adolescent
Journal of Adolescent Health,
Problems: Modeling
12, 597-605.
Reciprocal Effects. American
Karren, K. J., Hafen, B. Q., Smith, Sociological Review , 54,
N. L., & Frandsen, K. J. 1004-1018.
(2002). Mind/Body Health:
Santrock, J. W. (2005).
The Effect of Attitudes
Perkembangan Remaja.
Emotions and Relationships.
Jakarta: Erlangga.
San Francisco: Benjamin
Cummings. Wild, L. G., Flisher, A. J., Bhana, A.,
& Lombard, C. (2004).

9
Associations among
adolescent risk behaviours.
Journal of Child Psychology
and Psychiatry and Self-
Esteem in Six Domains , 45,
1454-1467.

10