Anda di halaman 1dari 2

Soekarno dalam Polemik

Ahmad Wijayanto

“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak
jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa
tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita,” Soekarno.

Melihat sosok Soekarno tak ayal kita akan melihat seorang tokoh politikus ulung yang dimiliki
negara ini. Bung Karno yang dulu pernah mengganti nama ketika kecil Koesno Sosrodihardjo.
Ayahnya, RM Soemosewoyo ayah angkatnya ini akibat Koesno sering sakit-sakitan. Banyak
yang bilang dalam mitos jawa, salah satu penyebab anak kecil mudah sakit adalah karena terlalu
beratnya arti nama yang diberikan. Bung Karno bukan hanya menjadi politikus ulung tetapi juga
proklamator, pemikir, dan seniman yang tidak bisa dilihat sebelah mata. Kemampuan berfikirnya
mampu memfusikan ilmu pengetahuan barat dengan corak sosio-kultural masyarakat Indonesia
secara umum.

Bung Karno selalu menggembor-gemborkan Nasionalisme. Bahkan sering sekali menggunakan


kata-kata tokoh marxis yang menjadikan dasar pemikirannya selama masa perjuangan. Salah satu
kata yang selalu ia lontarkan adalah marhaenisme. Kata itu memang secara terminologi diambil
dari seorang petani daerah Priangan, Desa Cigereleng, Bandung Selatan.

Jika merujuk KBBI, Marhaenisme memiliki arti 1 paham yang bertujuan memperjuangkan nasib
kaum kecil untuk mendapatkan kebahagiaan hidup; 2 ideologi politik yang tumbuh dan
berkembang di Indonesia berdasarkan keadaan dan keinginan masyarakat Indonesia dengan asas
sosionasional, sosiodemokrasi, gotong royong, kebangsaan, kemerdekaan beragama, dan
kerakyatan

Hal yang paling menarik dari diri Bung Besar ini adalah ia selalu mengaitkan
apapun yang menjadi olah pikirnya dengan corak kebudayaan masyarakat.
Terlebih lagi Jawa. Memikul dan terpikul oleh nature.
Bung karno selalu mengaitkan kehendak alam dalam setiap strategi politiknya. Bahkan
Soerkarno paham betul apa yang dibutuhkan oleh rakyat. Terlihat dengan gaya berpakaian yang
selalu melekat dibadannya. Baju panglima dengan peci hitam dengan tongkat komando yang
selalu menemani beliau dalam setiap perjalanannya. Soekarno sangat jeli melihat mitos yang
bergulir di masyarakat, Ratu Adil. Mitos itulah yang akhirnya digunakan untuk membuat dirinya
mampu menjadi sosok yang dibutuhkan dan mampu menjadi magnet sebagai pengumpul massa
untuknya.

Buah pemikiran Bung Karno yang menjadi polemik bagi bangsa Indonesia dengan gagasannya
tentang NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme).
Bagaimana sebuah gagasan tersebut menjadikan geger kondisi politik Indonesia, bahkan sampai
pula mempengaruhi fluktuasi keadaan kebudayaan di Indonesia. Mari berdiskusi bersama…