Anda di halaman 1dari 40

Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah

2019
Kabupaten Banjarnegara
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Sampah


Menurut UU No 18 Tahun 2008, Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari
manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sedangkan pengertian
sampah menurut Depkes RI, 1994 adalah bahan-bahan yang tidak berguna, tidak
digunakan ataupun yang terbuang. Jadi dapat dikatakan bahwa sampah adalah sisa
kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat dan tidak
digunakan lagi atau dibuang.

2.2 Klasifikasi Dan Komposisi Sampah


Berdasarkan karakteristiknya, sampah padat dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa macam sampah sebagai berikut ini:
1. Sampah organik
Sampah organik adalah sampah yang mengandung senyawa-senyawa
organik dan tersusun oleh unsur-unsur karbon, hidrogen dan oksigen. Sampah
organik memiliki sifat mudah didegradasi oleh mikroba contohnya : daun-
daunan, kayu, kertas, karton, tulang, sisa-sisa makanan, sayur, buah.
2. Sampah anorganik
Sampah anorganik adalah sampah yang mengandung senyawa bukan
organik dan tidak dapat didegradasi oleh mikroba. Contoh sampah jenis ini
adalah kaleng, plastik, besi dan logam lainnya, gelas, mika, dan sebagainya
(Hadiwiyoto,1983).

Berdasarkan jenisnya sampah dikelompokkan menjadi :


1. “Garbage” yaitu sampah yang berasal dari sisa pengolahan, sisa pemasakan,
atau sisa makanan yang telah membusuk, tetapi masih dapat digunakan
sebagai bahan makanan oleh organisme lainnya, seperti insekta. Binatang
pengerat (rodentia) dan berbagai “scavenger”. Sampah jenis ini biasanya
bersumber dari “domestic refuse” atau industri pengolahan makanan.

MAHARDIKA
21080116130044 II-1
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
2. “Rubbish” yaitu sampah sisa pengolahan yang tidak mudah membusuk dan
dapat pula dibagi atas dua golongan, yaitu :
a. Sampah yang tidak mudah membusuk, tetapi mudah terbakar, seperti
kayu, bahan plastik, kain, bahan sistetik.
b. Sampah yang tidak mudah membusuk dan tidak mudah terbakar, seperti
metal, kaca, keramik, dan tulang hewan.
3. “Ashes” dan “Cinder”, yaitu berbagai jenis abu dan arang yang berasal
dari kegiatan pembakaran.
4. “Dead Animal”, yaitu sampah yang berasal dari bangkai hewan, dapat
berupa bangkai hewan peliharaan (domestic animal) maupun hewan liar
(wild animal).
5. “Street sweeping”, yaitu sampah atau kotoran yang berserakan di
sepanjang jalan, seperti sisa-sisa pembungkus dan sisa makanan, kertas,
daun, kayu, dan sebagainya.
6. “Industrial waste” merupakan sampah yang berasal dari kegiatan industri,
sampah jenis ini biasanya lebih homogen bila dibandingkan dengan
sampah jenis lainnya (Bahar, 1986).

2.3 Sumber Sampah


Ada beberapa kategori sumber sampah yang dapat digunakan sebagai
acuan, yaitu:
1. Sumber sampah dari daerah perumahan
Sumber sampah dari daerah perumahan dibagi atas :
a. Perumahan masyarakat berpenghasilan tinggi (High income)
b. Perumahan masyarakat berpenghasilan menengah (Middle income)
c. Perumahan masyarakat berpenghasilan rendah (Low income)
2. Sumber sampah dari daerah komersil
Daerah komersiil biasanya terdiri dari daerah perniagaan/
perdagangan. Yang termasuk daerah komersiil yaitu pasar, pertokoan, hotel,
restoran, bioskop, industri, dan lain-lain.
3. Sumber sampah dari fasilitas umum

MAHARDIKA
21080116130044 II-2
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
Fasilitas umum yaitu sarana/ prasarana perkotaan yang dipergunakan
untuk kepentingan umum. Yang termasuk dalam kategori fasilitas umum yaitu
perkantoran, sekolah, rumah sakit, apotik, gedung olahraga, museum, taman,
jalan, saluran/ sungai dan lain-lain.
4. Sumber sampah dari fasilitas sosial
Fasilitas sosial yaitu sarana/ prasarana perkotaan yang digunakan
untuk kepentingan sosial atau bersifat sosial. Fasilitas sosial meliputi panti-
panti sosial (panti asuhan dll), tempat-tempat ibadah (masjid, gereja dll)
5. Sumber-sumber lain
Sumber-sumber lain merupakan pengembangan sumber sampah sesuai
dengan kondisi kotanya atau peruntukan tata guna lahannya. Sebagai contoh
sampah yang berasal dari tempat pemotongan hewan atau limbah pertanian
ataupun buangan dari instalasi pengolahan air limbah (sludge), dengan catatan
bahwa sampah atau limbah tersebut adalah bersifat padat dan bukan kategori
sampah B3 (Darmasetiawan, 2004).

2.4 Timbulan Sampah


2.4.1 Pengertian
Timbulan sampah adalah banyaknya sampah yang timbul dari masyarakat
dalam satuan volume maupun berat per kapita per hari, atau per luas bangunan,
atau per panjang jalan (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Badan
Penelitian dan Pengembangan Teknologi Permukiman, 2000).

2.4.2 Besar timbulan


Penentukan besaran timbulan sampah suatu kota harus berdasarkan
sampling (pengambilan contoh sampah) dengan metode yang memadai baik
jumlah sampel, lokasi pengambilan contoh, waktu dan lain-lain. Apabila tidak
memungkinkan dilakukan pengambilan contoh sampah tersebut maka dilakukan
pendekatan lain yaitu menggunakan data hasil penelitian yang ada.

MAHARDIKA
21080116130044 II-3
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
Tabel 2.1 Besaran Timbulan Sampah Berdasarkan Klasifikasi Kota
Volume Berat
Klasifikasi Kota
(L/orang/hari) (kg/orang/hari)
Kota sedang 2.75 – 3.25 0.70 – 0.80
Kota kecil 2.5 – 2.75 0.625 – 0.70
Sumber: SK SNI S-04-1993-03

Sampah yang timbul pada umumnya lebih sedikit jumlahnya dari pada
jumlah sampah yang ada.Hal ini dikarenakan adanya pemulung dan lapak atau
masih adanya tanah terbuka yang masih dapat menyerap dan tertinggal di tempat
tersebut dengan keadaaan seimbang, kemudian mengurai secara alami.

2.4.3 Faktor Yang Mempengaruhi Timbulan Sampah


Faktor-faktor yang mempengaruhi kuantitas timbulan sampah adalah:
1. Jenis bangunan yang ada
2. Tingkat aktifitas
3. Iklim
4. Musim
5. Letak geografis
6. Letak topografis
7. Kepadatan penduduk dan jumlah penduduk
8. Periode sosial ekonomi
9. Tingkat teknologi
(Ditjen Cipta Karya, 1999).

2.5 Pengelolaan Sampah


Menurut UU No. 18/2008 Tentang Pengelolaan Sampah, pengelolaan
sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan
yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah, Pasal 1 ayat (5). Pengelolaan
sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas
lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya (Pasal 4).

MAHARDIKA
21080116130044 II-4
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
Pada dasarnya pengelolaan sampah ada 2 macam, yaitu
pengelolaan/penanganan sampah setempat (individu) dan pengelolaan sampah
terpusat untuk suatu lingkungan pemukiman atau kota.
a. Penanganan Setempat
Penanganan setempat dimaksudkan penanganan yang dilaksanakan
sendiri oleh penghasil sampah dengan menanam dalam galian tanah
pekarangannya atau dengan cara lain yang masih dapat dibenarkan. Hal ini
dimungkinkan bila daya dukung lingkungan masih cukup tinggi misalnya
tersedianya lahan, kepadatan penduduk yang rendah, dll.
b. Pengelolaan Terpusat
Pengelolaan persampahan secara terpusat adalah suatu proses atau
kegiatan penanganan sampah yang terkoordinir untuk melayani suatu
wilayah/kota. Pengelolaan sampah secara terpusat mempunyai kompleksitas
yang besar karena cakupan berbagai aspek yang terkait. Aspek – aspek
tersebut dikelompokkan dalam 5 aspek utama, yakni aspek institusi, hukum,
teknis operasional, pembiayaan dan retribusi serta aspek peran serta
masyarakat ( pplp-dinciptakaru.jatengprov.go.id, 2015).

2.5.1 Aspek Pengelolaan Sampah


1. Aspek Teknis Operasional
Pola operasional penanganan sampah dari sumber sampai TPA
dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengumpulan, pemindahan,
pengolahan, pengangkutan dan pembuangan akhir.
a. Pewadahan
a) Wadah sampah individual (disumber) disediakan oleh setiap penghasil
sampah sendiri sedangkan wadah komunal dan pejalan kaki
disediakan oleh pengelola dan atau swasta. spesifikasi wadah
sedemikian rupa sehingga memudahkan operasionalnya, tidak
permanen dan higienis. Akan lebih baik apabila ada pemisahan wadah
untuk sampah basah dan sampah kering

MAHARDIKA
21080116130044 II-5
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
b) Pengosongan sampah dari wadah individual dilakukan paling lama 2
hari sekali sedangkan untuk wadah komunal harus dilakukan setiap
hari
b. Pengumpulan
a) Pengumpulan sampah dari sumber dapat dilakukan secara langsung
dengan alat angkut (untuk sumber sampah besar atau daerah yang
memiliki kemiringan lahan cukup tinggi) atau tidak langsung dengan
menggunakan gerobak (untuk daerah teratur) dan secara komunal oleh
mayarakat sendiri (untuk daerah tidak teratur)
b) Penyapuan jalan diperlukan pada daerah pusat kota seperti ruas jalan
protokol, pusat perdagangan, taman kota dan lain-lain
c. Pemindahan
a) Pemindahan sampah dari alat pengumpul (gerobak) ke alat angkut
(truk) dilakukan di trasnfer depo atau container untuk meningkatkan
efisiensi pengangkutan
b) Lokasi pemindahan haru dekat dengan daerah pelayanan atau radius ±
500 m
c) Pemindahan skala kota ke stasiun transfer diperlukan bila jarak ke
lokasi TPA lebih besar dari 25 km
d. Pengolahan
a) Pengolahan sampah dimaksudkan untuk mengurangi volume sampah
yang harus dibuang ke TPA serta meningkatkan efisiensi
penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan
b) Teknologi pengolahan sampah dapat dilakukan melalui pembuatan
kompos, pembakaran sampah secara aman (bebas COx, SOx, NOx
dan dioxin), pemanfaatan gas metan dan daur ulang sampah. Khusus
pemanfaatana gas metan TPA (landfill gas), dapat masuk dalam CDM
(clean developmant mechanism) karena secara significan dapat
mengurangi emisi gas rumah kaca yang berpengaruh pada iklim
global.
c) Skala pengolahan sampah mulai dari individual, komunal (kawasan),
skala kota dan skala regional.

MAHARDIKA
21080116130044 II-6
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
d) Penerapan teknologi pengolahan harus memperhatikan aspek
lingkungan, dana, SDM dan kemudahan operasional
e. Pembuangan akhir
a) Pemilihan lokasi TPA harus mengacu pada SNI 03-3241-1994 tentang
Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA. Agar keberadaan TPA tidak
mencemari lingkungan, maka jarak TPA ke badan air penerima >
100m, ke perumahan terdekat > 500 m, ke airport 1500 m (untuk
pesawat propeler) dan 3000 m (untuk pesawat jet). Selain itu muka air
tanah harus > 4 m, jenis tanah lempung dengan nilai K < 10-6 cm/det.
b) Metode pembuangan akhir minimal harus dilakukan dengan controlled
landfill (untuk kota sedang dan kecil) dan sanitary landfill (untuk kota
besar dan metropolitan) dengan “sistem sel”
c) Prasarana dasar minimal yang harus disediakan adalah jalan masuk,
drainase keliling dan pagar pengaman (dapat berfungsi sebagai buffer
zone)
d) Fasilitas perlindungan lingkungan yang harus disediakan meliputi
lapisan dasar kedap air, jaringan pengumpul lindi, pengolahan lindi
dan ventilasi gas / flaring atau landfill gas extraction untuk mngurangi
emisi gas.
e) Fasilitas operasional yang harus disediakan berupa alat berat
(buldozer, excavator, loader dan atau landfill compactor) dan stok
tanah penutup
f) Penutupan tanah harus dilakukan secara harian atau minimal secara
berkala dengan ketebalan 20 - 30 cm
g) Penyemprotan insektisida harus dilakukan apabila penutupan sampah
tidak dapat dilakukan secara harian
h) Penutupan tanah akhir harus dilakukan sesuai dengan peruntukan
lahan bekas TPA
i) Kegiatan pemantauan lingkungan harus tetap dilakukan meskipun
TPA telah ditutup terutama untuk gas dan efluen leachate, karena
proses dekomposisi sampah menjadi gas dan leahate masih terus
terjadi sampai 25 tahun setelah penutupan TPA

MAHARDIKA
21080116130044 II-7
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
j) Manajemen pengelolaan TPA perlu dikendalikan secara cermat dan
membutuhkan tenaga terdidik yang memadai.
k) Lahan bekas TPA direkomendasikan untuk digunakan sebagai lahan
terbuka hijau.
2. Aspek Institusi
a) Penyelenggara pembangunan prasarana dan sarana persampahan dapat
dilakukan secara sendiri atau terpadu oleh Pemerintah Daerah,
BUMN/BUMD, Swasta dan masyarakat
b) Bentuk institusi dan struktur organisasi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, secara umum bentuk institusi yang ada adalah perusahaan daerah
kebersihan (PDK), dinas kebersihan (DK), dinas kebersihan dan
pertamanan (DKP), seksi kebersihan dan lain-lain. Struktur organisasi
sebaiknya mencerminkan kegiatan utama penangan sampah dari sumber
sampei TPA termasuk memiliki bagian perencaan, retribusi, penyuluhan
dan lain-lain.
c) Instansi pengelola persampahan sebaiknya memiliki pola kerja sama
dengan instansi terkait termasuk PLN (untuk kerjasama penarikan
retribusi) dan kerja sama antar kota untuk pola penangangan sampah
secara regional dan kerja sama dengan masyarakat atau perguruan tinggi.
d) SDM sebaiknya memiliki keahlian bidang persampahan baik melalui
pendidikan formal (ada staf yang memiliki latar belakang pendidikan
teknik lingkungan, ekonomi, ahli manajemen dll) dan training bidang
persampahan.
e) Kegiatan pengelolaan sampah yang tidak dapat dilaksanakan oleh
masyarakat, menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah.
f) Kegiatan sosialisasi atau penyuluhan harus dilaksanakan secara terpadu
dan terus menerus dengan melibatkan instansi terkait, LSM dan perguruan
tinggi.
3. Aspek Pembiayaan
a. Sumber Pembiayaan
a) Pengelolaan persampahan dapat dibiayai dari swadaya masyarakat,
investasi swasta dan APBN / APBD

MAHARDIKA
21080116130044 II-8
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
b) Tata cara pembiayaan mengikuti ketentuan yang berlaku
c) Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan pembangunan
prasarana dan sarana persampahan dalam bentuk dana maupun aset
kepada masyarakat
d) Pembiayaan penyediaan dan pemeliharaan pewadahan individual
menjadi tanggung jawab penghasil sampah
b. Tarif Retribusi
a) Biaya untuk penyediaan prasarana dan sarana pengumpulan serta
pengelolaannya yang dilakukan oleh masyarakat sendiri dikenakan
pada anggota masyarakat yang mendapat pelayanan dalam bentuk
iuran (besarnya ditentukan melalui musyawarah dan mufakat) dan
dikordinasikan dengan pihak instansi pengelola persampahan
b) Biaya untuk pengelolaan persampahan yang dilakukan oleh
Pemerintah Daerah atau swasta untuk kepentingan masyarakat
dibebankan kepada masyarakat dalam bentuk retribusi kebersihan.
Biaya pengelolaan tersebut meliputi biaya investasi dan biaya operasi
dan pemeliharaan
c) Penentuan tarif retribusi disusun berdasarkan asas keterjangkauan
/willingness to pay (secara umum kemampuan masyarakat membayar
retribusi adalah 1 -2 % dari income) dan subsidi silang dari
masyarakat berpenghasilan tinggi ke masyarakat berpenghasilan
rendah dan dari sektor komersial ke non komersial tanpa
meninggalkan prinsip ekonomi / cost recovery (minimal 80 %, 20 %
merupakan subsidi Pemerintah kota/kab untuk pembersihan fasilitas
umum).
d) Mekanisme penarikan retribusi selain dilakukan langsung oleh
instansi pengelola juga dapat dilakukan melalui kerjasama dengan
PLN, PDAM, RT/RW dan lain-lain sesuai dengan kondisi daerah
pelayanan.
4. Aspek Hukum
a) Undang-Undang (UU) yang berkaitan dengan persampahan adalah UU No
7 / 2004 tentang Sumber Daya Air, UU No 32/2004 tentang Otonomi

MAHARDIKA
21080116130044 II-9
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
Daerah, UU No 33 / 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah, UU No 23/1997 tentang Pokok-Pokok Lingkungan Hidup, UU No
24 /1992 tentang Penataan Ruang, UU No 23/1992 tentang Kesehatan, UU
No 2/1992 Perumahan dan Permukiman
b) Peraturan Pemerintah (PP) yang berkaitan dengan masalah persampahan
adalah PP tentang Badan Layanan Umum, PP No 16 / 2005 tentang
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum , PP No.27 tahun 1999
tentang Amdal, PP No. 18 jo 85/1999 tentang Limbah B3 dan PP 16/2005
tentang Pengembangan Sistem penyediaan Air Minum
c) Agenda 21 berkaitan dengan program optimaalisasi minimalisasi limbah
secara bertahap sampai tahun 2020, Kyoto Protocol tentang CDM (clean
development mechanism), MDGs tentang upaya pencapaian target
pengurangan jumlah orang miskin dan akses terhadap air minum dan
sanitasi (target 10 dan 11)
d) SNI yang berkaitan dengan pedoman persampahan adalah SNI 19-2454-
1991 tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, SNI
tentang Spesifikasi Controlled Landfill, SK SNI S-04-1992-03 tentang
Spesifikasi Timbulan Sampah Kota Sedang dan Kota Kecil, SNI 03-3242-
1994 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah Permukiman, SNI 03-3241-
1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA, SNI 19-3964-1994 tentang
Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi
Sampah.
e) Pengaturan penyelenggaraan pembangunan bidang persampahan dilakukan
melalui peraturan daerah (perda) yang pada umumnya terdiri dari perda
pembentukan institusi, ketentuan umum kebersihan dan retribusi. Selain
itu juga diperlukan perda yang mengatur mengenai peran serta swasta,
penanganan limbah B3 / rumah sakit dan lain-lain.
5. Aspek Peran Serta Masyarakat dan Kemitraan
a. Peran Serta Masyarakat
a) Peran aktif masyarakat dalam penyelenggaraan prasarana dan sarana
persampahan diperlukan sejak dari perencanaan sampai dengan
operasi dan pemeliharaan

MAHARDIKA
21080116130044 II-10
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
b) Peran serta masyarakat berkaitan dengan penyelenggaraan prasarana
dan sarana persampahan dapat berupa usulan, saran, pertimbangan,
keberatan individual maupun skala kawasan.
c) Peningkatan peran serta masyarakat dapat dilakukan melalui
pendidikan formal sejak dini, penyuluhan yang intenssif, terpadu dan
terus menerus serta diterapkannya sistem insentif dan disinsentif
d) Masyarakat bertanggung jawab atas penyediaan dan pemeliharaan
fasilitas pewadahan dan atau meyelenggarakan pengumpulan /
pengolahan sampah.
b. Kemitraan
a) Pemerintah memberikan peluang kepada pihak swasta untuk
menyelenggarakan pembangunan dan pengelolaan prasarana dan
sarana persampahan serta dapat menciptakan iklim investasi yang
kondusif
b) Kemitraan dapat dilakukan terhadap sebagian atau seluruh kegiatan
sistem pembangunan persampahan, termasuk melakukan upaya
pengendalian pencemaran lingkungan.
c) Pola kemitraan dapat dilakukan melalui studi kelayakan dengan
memperhatikan keterjangkauan masyarakat, kemampuan Pemda,
peluang usaha dan keuntungan swasta.

2.6 Pembuangan Akhir Sampah


2.6.1 Metode Pemilihan TPA
A. Metode SNI 19-3241-1994
Metode SNI 19-3241-1994 ini menggunakan sistem penilaian dan
pembobotan berdasarkan :
1. Kriteria kelayakan regional
No. Parameter Nilai
1. Kemiringan lereng
a. 0-15 % 1
b. > 15 % 0
2. Kondisi geologi
a. Tidak berada di zona sesar aktif 1

MAHARDIKA
21080116130044 II-11
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
b. Berada di zona sesar aktif 0
3. Jarak terhadap badan air
c. > 300 m 1
d. < 300 m 0
4. Jarak terhadap permukiman
a. > 1500 m 1
b. < 1500 m 0
5. Kawasan budidaya pertanian
a. > 150 m dari kawasan budaya 1
b. < 150 m dari kawasan budaya 0
6. Kawasan lindung
a. Di luar kawasan lindung 1
b. Di dalam kawasan lindung 0
7. Jarak terhadap lapangan terbang
a. > 3000 m 1
b. < 3000 m 0
8. Jarak terhadap perbatasan daerah
a. > 1000 m 1
b. < 1000 m 0
Sumber : SNI 19-3241-1994

2. Kriteria kelayakan penyisihan


No. Parameter Bobot Nilai
1. Tanah (diatas muka air tanah) 5
Harga kelulusan < 10^-9 cm/det 10
Harga kelulusan 10^-9 - 10^-6 cm/det 7
Harga kelulusan >10^-6 cm/det, TOLAK 5
kecuali ada masukan teknologi
2. Air Tanah 5
≥ 10 m dengan kelulusan < 10^-6 cm/det 10
< 10 m dengan kelulusan < 10^-6 cm/det 8
≥ 10 m dengan kelulusan < 10^-6 - 10^-4
3
cm/det
< 10 m dengan kelulusan < 10^-6 - 10^-4
1
cm/det
3. Sistem aliran air tanah 3
Discharge area/lokal 10
Recharge area dan discharge area lokal 5
Recharge area regional dan lokal 1
4. Kaitan dengan pemanfaatan air tanah 3
Kemungkinan pemanfaatan rendah dengan
10
batas hidrolis

MAHARDIKA
21080116130044 II-12
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
Diproyeksikan untuk dimanfaatkan dengan
5
batas hidrolis
Diproyeksikan untuk dimanfaatkan tanpa
1
batas hidrolis
5. Bahaya Banjir 2
Tidak ada bahaya banjir 10
Kemungkinan banjir > 25 tahunan 5
Kemungkinan bajir < 25 tahunan, TOLAK
6. Tanah penutup 4
Tanah penutup cukup 10
Tanah penutup cukup sampai 1/2 umur
5
pakai
Tanah penutup tidak ada 1
7. Intensitas hujan 3
Dibawah 500 mm pertahun 10
Antara 500 mm sampai 1000 mm pertahun 5
Diatas 1000 mm pertahun 1
8. Jalan menuju lokasi 5
Datar dengan kondisi baik 10
Datar dengan kondisi buruk 5
Naik/turun 1
9. Transport sampah (satu jalan) 5
Kurang dari 15 menit dari centroid sampah 10
Antara 16 menit - 30 menit dari centroid
8
sampah
Antara 31 menit - 60 menit dari centroid
3
sampah
Lebih dari 60 menit dari centroid sampah 1
10. Jalan Masuk 4
Truk sampah tidak melalui daerah
10
pemukiman
Truk sampah melalui daerah pemukiman 5
berkepadatan sedang (≤ 300 jiwa/ha)
Truk sampah melalui daerah pemukiman 1
berkepadatan sedang (≥300 jiwa/ha)
11. Lalu Lintas 3
Terletak 500 dari jalan umum 10
Terletak < 500 m pada lalu lintas rendah 8
Terletak < 500 m pada lalu lintas sedang 3
Terletak < 500 m pada lalu lintas tinggi 1

MAHARDIKA
21080116130044 II-13
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
12. Tata guna lahan 5
Mempunyai dampak sedikit terhadap tata
guna tanah sekitar 10
Mempunyai dampak sedang terhadap tata
guna tanah sekitar 5
Mempunyai dampak besar terhadap tata
guna tanah sekitar 1
13. Pertanian 3
Berlokasi di lahan tidak produktif 10
Tidak ada dampak terhadap pertanian
5
sekitar
Ada pengaruh negatif terhadap pertanian
1
sekitar
Berlokasi di tanah pertanian produktif 1
14. Daerah lindung / cagar alam 2
Tidak ada daerah lindung/ cagar alam di
10
sekitarnya
Terdapat daerah lindung/ cagar alam di
sekitarnya yang tidak terkena dampak 5
negatif
Terdapat daerah lindung/ cagar alam di
sekitarnya yang terkena dampak negatif 1
15. Biologis 3
Nilai habitat yang rendah 10
Nilai habitat yang tinggi 5
Habitat kritis 1
16. Kebisingan dan bau 2
Terdapat zona penyangga 10
Terdapat zona penyangga yang terbatas 5
Tidak terdapat penyangga 1
17. Estetika 3
Operasi penimbunan tidak terlihat dari luar 10
Operasi penimbunan sedikit terlihat dari
5
luar
Operasi penimbunan terlihat dari luar 1

3. Kriteria Penetapan
Kriteria penetapan yaitu kriteria yang digunakan oleh Instansi yang
berwenang untuk menyetujui dan menetapkan lokasi terpilih sesuai dengan

MAHARDIKA
21080116130044 II-14
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
kebijaksanaan instansi yang berwenang setempat dan ketentuan yang
berlaku.

B. Metode Le Grand
Metode “numerical rating” menurut Le Grand yang telah dimodifikasi
oleh Knight, telah digunakan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan, guna
evaluasi pendahuluan dari lokasi pembuangan limbah di Indonesia.
Parameter utama yang digunakan dalam analisis ini adalah:
1. Jarak antara lokasi (sumber pencemaran) dengan sumber air minum;
2. Kedalaman muka air tanah terhadap dasar lahan-urug;
3. Kemiringan hidrolis air tanah dan arah alirannya dalam hubungan dengan
pusat sumber air minum atau aliran air sungai;
4. Permeabilitas tanah dan batuan;
5. Sifat-sifat tanah dan batuan dalam meredam pencemaran;
6. Jenis limbah yang akan diurug di sarana tersebut.

Metode Le Grand ini terdiri dari 4 langkah, yaitu:


Langkah 1: deskripsi hidrogeologis lokasi
Langkah 2: derajat keseriusan masalah
Langkah 3: gabungan tahap 1 dan tahap 2
Langkah 4: penilaian setelah perbaikan

C. Metode Hagerty

Evaluasi dengan metode ini mengandalkan pada tiga karakteristik umum


dari sebuah lahan, yaitu:
a. Potensi infiltrasi air eksternal ke dalam sub-permukaan,
b. Potensi transportasi cemaran menuju air tanah,
c. Mekanisme lain yang berkaitan dengan transportasi cemaran ke luar.

Pertimbangan yang digunakan dalam sistem pembobotan ini adalah:


a) Parameter-parameter yang langsung berpengaruh pada transmisi cemaran
dianggap sebagai parameter dengan prioritas pertama, misalnya potensi

MAHARDIKA
21080116130044 II-15
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
infiltrasi, potensi bocornya dasar lahan-urug, dan kecepatan air tanah. Nilai
maksimum adalah 20 SRP (satuan rangking prioritas).
b) Parameter-parameter yang mempengaruhi transportasi cemaran setelah
terjadinya kontak dengan air dianggap sebagai prioritas kedua, seperti
kapasitas penyaringan dan kapasitas sorpsi. Nilai maksimum adalah 15 SRP.
c) Parameter-parameter yang mewakili kondisi awal dari air tanah dikenal
sebagai prioritas ketiga. Nilai maksimum adalah 10 SRP. (E. Damanhuri,
2008)

2.6.2 Metode Pembuangan Akhir Sampah


Berdasarkan tipe lahan urug di TPA, ada 3 sistem pembuangan akhir
sampah, yaitu :
1. Sistem Open Dumping
Sistem Open Dumping merupakan sistem yang tertua yang dikenal
manusia dalam pembuangan sampah, dimana sampah hanya
dibuang/ditimbun di suatu tempat tanpa dilakukan penutupan dengan tanah.
Dengan sistem ini, TPA menjadi sumber pencemar dengan jangkauan lokal
dan global. Di tingkat lokal TPA merupakan sumber lindi yang mencemari
badan air dan air tanah serta menghasilkan sumber asap dan bau. Di tingkat
global TPA menghasilkan gas yang menyebabkan pemanasan global dan
perubahan iklim (Bebassari, 2004).
Kelebihan dan kelemahan sistem open dumping adalah sebagai berikut :
1) Kebaikan Sistem Open Dumping :
a. Biaya penanganannya relatif murah.
b. Dapat menampung berbagai jenis sampah.
c. Memanfaatkan lahan yang tidak digunakan.
d. Dalam waktu lama dapat menyuburkan lahan tersebut.
2) Kelemahan Sistem Open Dumping :
a. Mudahnya berkembang hama tikus, insekta, mikroorganisme.
b. Pencemaran air karena lindi yang dihasilkan.
c. Penurunan nilai estetika lingkungan, karena sampah dibiarkan begitu
saja (Bahar ,1986).

MAHARDIKA
21080116130044 II-16
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
2. Sistem Controlled Landfill
Prinsip pembuangan akhir dengan sistem ini yaitu penutupan sampah
dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPA penuh dengan timbulan sampah
yang dipadatkan atau setelah mencapai tahap (periode) tertentu. Proses
perataan dan pemadatan sampah tetap dilakukan untuk memudahkan
pembongkaran sampah serta penggunaan TPA semaksimal mungkin. Sistem
ini sebenarnya tidak termasuk sistem sanitary landfill, tapi merupakan
perbaikan dari sistem open dumping. Untuk menghindari perkembangan
vektor penyakit seperti lalat sebaiknya dilakukan penyemprotan dengan
pestisida dan sedapat mungkin lokasinya jauh dari pemukiman.
Langkah yang dilaksanakan dalam pengelolaan akhir sampah sistem
controlled landfill adalah :
1) Penyiapan lahan Tempat Pembuangan Akhir.
a. Pembuatan petak Tempat Pembuangan Akhir.
b. Pekerjaan penggalian dan pengurugan tanah.
2) Pemusnahan Sampah
a. Pembuangan sampah yang diturunkan dari truk sampah ke lahan
yang telah disediakan.
b. Penyebaran sampah dengan tenaga manusia atau alat lainnya.
c. Pemadatan sampah dengan alat-alat berat.
d. Pekerjaan pelapisan akhir sampah dengan tanah penutup.
Menurut Bahar (1986), kebaikan dan kelemahan sistem controlled
landfill adalah :
1) Kebaikan Sistem Controlled Landfill :
a. Mudah dilaksanakan karena menggunakan metode yang sederhana
b. Lahan yang tersedia tidak memerlukan konstruksi.
c. Murah dalam operasi dan pemeliharaan karena sistem dan peralatan
yang digunakan tidak terlalu kompleks.
d. Tidak menimbulkan dampak negatif bagi estetika kota karena
sampah tidak tersebar sembarangan.

MAHARDIKA
21080116130044 II-17
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
e. Tidak mengakibatkan dampak negatif bagi kesehatan lingkungan
karena gangguan bau sampah dan penyebaran vektor penyakit dapat
dihindari dengan adanya tanah penutup.
2) Kelemahan Sistem Controlled Landfill :
a. Memerlukan luas lahan yang cukup besar untuk lokasi Tempat
Pembuangan Akhir.
b. Memerlukan anggaran biaya khusus untuk pembayaran tenaga
operasional serta operasi dan pemeliharaan peralatan.
c. Kurang memperhatikan segi perlindungan kualitas lingkungan
karena air luruhan hasil dekomposisi sampah (lindi) tidak mengalami
pengolahan karena belum adanya penanganan khusus untuk lindi dan
gas hasil dekomposisi sampah.
3. Sistem Sanitary Landfill
Pada sistem ini sampah ditutup dengan lapisan tanah pada setiap akhir
hari operasi, sehingga setelah operasi berakhir tidak akan terlihat adanya
timbunan sampah.
Kelebihan dan kelemahan sistem sanitary landfill adalah sebagai
berikut :
1) Kebaikan Sanitary Landfill :
a. Sistem ini sangat fleksibel dalam penanganan saat terjadi fluktuasi
dalam jumlah timbulan sampah.
b. Mampu menerima segala jenis sampah sehingga mengurangi
pekerjaan pemisahan awal sampah.
c. Memberikan dampak positif bagi estetika kota, yang mungkin timbul
akibat adanya sampah dapat dieliminasi.
d. Adanya penanganan khusus untuk lindi dan gas hasil dekomposisi
sampah agar tidak mencemari lingkungan.
e. Luas lahan yang dibutuhkan untuk sistem sanitary landfill lebih kecil
dari pada sistem open dumping karena pengurangan volume akibat
pemadatan.
2) Kekurangan Sistem Sanitary Landfill :

MAHARDIKA
21080116130044 II-18
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
a. Metode yang diterapkan cukup komplek, sehingga memerlukan
peralatan dan konstruksi khusus.
b. Biaya pembangunan awal cukup mahal (Bahar ,1986).
Sanitary landfill dapat ditingkatkan lagi menjadi :
1) Improved Sanitary Landfill
Sistem ini merupakan pengembangan dari sistem sanitary landfill,
dimana seluruh leachate yang dihasilkan akan dikumpulkan dan
ditampung pada instalasi pengolahan lindi agar dapat dibuang dengan
aman. Sebelum lokasi TPA digunakan, seluruh permukaannya dibuat
kedap air dengan memberi lapisan tanah liat setebal ± 60 cm atau ditutup
dengan lembaran karet atau plastik khusus.Pada bagian dasar dipasang
sistem perpipaan untuk menampung dan menyalurkan lindi ke bangunan
pengolahan air kotor atau lindi.
2) Semi Aerobic Sanitary Landfill
Sistem ini merupakan pengembangan dari teknik Improved
Sanitary Landfill, dimana dilakukan usaha untuk mempercepat proses
dekomposisi (penguraian) sampah dengan menambahkan oksigen (udara)
ke dalam timbunan sampah (Dinas Pekerjaan Umum, 1992).

2.6.3 Lahan Urug


2.6.2.1 Gambaran Umum Lahan Urug
Pengertian awal berkenaan dengan landfill/lahan urug sebagai berikut :
1. Landfill
Yaitu fasilitas fisik yang digunakan untuk penimbunan sisa limbah
padat ke dalam permukaan tanah. Landfill merupakan penimbunan akhir
sampah yang akan diberikan tanah penutup setiap akhir pengoperasian, untuk
meminimasi dampak negatif kesehatan masyarakat dan lingkungan. Sanitary
landfill didefinisikan sebagai manajemen limbah padat (Tchobagnoglous,
1993 ).
2. Sel/ Cell
Sel merupakan volume sampah pada lahan urug selama satu periode
operasi (satu hari operasi). Sel meliputi penyimpanan limbah padat dan tanah

MAHARDIKA
21080116130044 II-19
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
penutup di sekitarnya. Tahap penutup harian biasanya berupa 6-12 inci tanah
asal atau material alternatif seperti kompos. Tujuan tanah penutup adalah
untuk mengontrol sampah berterbangan, mencegah tikus, lalat dan vektor
penyakit pada lahan urug dan mengontrol masuknya air ke dalam lahan urug
(Tchobagnoglous, 1993 ).

Gambar 2.1 Sel Pada Sanitary Landfill


Sumber : US ARMY, 1994

3) Lift
Yaitu lapisan sel lengkap yang menyelimuti area aktif pada lahan
urug. Landfill terdiri dari beberapa lift. Terasering sering digunakan bila
ketinggian lahan urug mencapai 50-75 ft, hal ini untuk menjaga kestabilan
kemiringan lahan urug, penempatan saluran drainase, penempatan pipa
recovery gas. Final lift meliputi lapisan tanah penutup. Tanah penutup akhir
diaplikasikan pada seluruh permukaan setelah pengoperasian lahan urug
selesai. Umumnya terdiri dari multi lapisan tanah dan geomembran yang
dirancang untuk meningkatkan permukaan drainase, penerimaan perkolasi air
dan mendukung vegetasi permukaan (Tchobagnoglous, 1993 ).
4. Lindi
Lindi merupakan hasil perkolasi air hujan, run-off yang tak terkontrol
dan air irigasi yang terkontrol di lahan urug. Lindi sering terkumpul pada
pertengahan titik pada lahan urug. Lindi mengandung bermacam turunan
senyawa kimia dari pelarutan penyimpanan sampah pada lahan urug dan hasil
reaksi kimia dan biokimia yang terjadi di lahan urug (US ARMY, 1994).
5. Gas

MAHARDIKA
21080116130044 II-20
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
Gas yang dihasilkan di lahan urug merupakan campuran gas-gas hasil
pementukan sampah organik, terdiri dari gas metana (CH4), karbon dioksida
(CO2), nitrogen, oksigen, amonia dan sisa senyawa organik, produk utama
dekomposisi anaerobik dari fraksi organic biodegradable sampah rumah
tangga di lahan urug (Tchobagnoglous, 1993 ).
6. Liners
Yaitu material (buatan atau alami) yang digunakan sebagai saluran
pada sisi dasar lahan urug. Terdiri dari lapisan padatan tanah liat dan
geomembran untuk mencegah perpindahan lindi dan gas. Fasilitas penunjang
lingkungan meliputi liners, pengumpul lindi, pengumpul gas, dan tanah
penutup harian (Tchobagnoglous, 1993 ).

Gambar 2.2 Susunan Sel Suatu Lahan Urug


Sumber : Darmasetiawan, 2004

Pemantauan lingkungan meliputi aktifitas pengumpulan dan analisa air


untuk mengetahui pergerakan lindi dan gas pada lahan urug. Landfill closure
merupakan langkah-langkah yang dapat diambil untuk menutup dan
mengamankan lahan urug saat operasi pengisian telah selesai. Postclosure adalah
aktifitas monitoring dan pemeliharaan lahan urug yang telah selesai masa pakai
(Tchobagnoglous, 1993 ).

MAHARDIKA
21080116130044 II-21
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
2.6.2.2 Jenis Lahan Urug
Berdasarkan kondisi site yang ada, lahan urug saniter dibagi menjadi:
1. Metode area
Metode ini digunakan untuk lahan dengan letak muka air tanah yang
dekat dengan permukaan tanah. Lapisan penutup harian dan lapisan penutup
akhir mengambil tanah dari lokasi lain di luar lahan urug saniter.Ciri metode
area :
a. Diterapkan pada site yang relatif datar.
b. Sel-sel sampah dibatasi oleh tanah penutup.
c. Setelah pengurugan akan membentuk slope.

Gambar 2.3 Sanitary Landfill Metode Area


Sumber : US ARMY, 1994

2. Metode slope/ramp
Merupakan aplikasi dari metode area, hanya lapisan tanah penutup
diambil dari lahan urug tersebut.Ciri metode slope/ramp :
a. Sebagian tanah digali, sampah diurug pada tanah.
b. Tanah penutup diambil dari tanah galian.
c. Setelah lapisan pertama selesai, operasi berikutnya seperti metode area.

3. Metode parit/trench
Metode ini digunakan untuk lahan dengan kedalaman yang cukup
untuk penutupan sampah dengan menggunakan tanah yang tersedia disana,
serta muka air tanah yang cukup jauh dengan permukaan tanah. Lapisan dasar
lahan urug saniter dilapisi dengan lapisan sintetik membran dengan

MAHARDIKA
21080116130044 II-22
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
permeabilitas rendah, untuk meminimisasi mobilisasi air lindi dan gas methan
yang terbentuk.Ciri metode parit / trench :
a. Site yang ada digali, sampah ditebarkan dalam galian, dipadatkan dan
ditutup harian.
b. Digunakan bila air tanah cukup rendah sehingga zona non aerasi di
bawah landfill cukup tinggi (≥ 1,5 meter).
c. Dapat digunakan untuk daerah datar atau sedikit bergelombang.
d. Operasi selanjutnya seperti metode area.

Gambar 2.4 Sanitary Landfill Metode Parit/Trench


Sumber : US ARMY, 1994

4. Metode pitt/canyon/quarry
Metode ini menggunakan lahan dengan jurang yang terbentuk secara
alami, metode ini sedikit menyulitkan pada upaya meminimisasi air hujan
yang akan masuk ke dalam lahan urug saniter.

Gambar 2.5 Sanitary Landfill Metode Pitt/Canyon/Quarry


Sumber : Darmasetiawan, 2004

2.7 Teknik Operasional TPA ( Sanitary Landfill)


2.7.1 Metode Pembuangan
Metode pembuangan akhir sampah pada dasarnya harus memenuhi prinsip
teknis berwawasan lingkungan sebagai berikut :

MAHARDIKA
21080116130044 II-23
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
1. Di kota raya dan besar harus direncanakan sesuai metode lahan urug saniter
(sanitary landfill).
2. Harus ada pengendalian lindi, yang terbentuk dari proses dekomposisi
sampah tidak mencemari tanah, air tanah, ataupun badan air yang ada.
3. Harus ada pengendalian gas dan bau hasil dekomposisi sampah, agar tidak
mencemari udara, menyebabkan kebakaran atau bahaya asap dan
menyebabkan efek rumah kaca.
4. Harus ada pengendalian vektor penyakit.

2.7.2 Operasi Sanitary Landfill


1. Pembongkaran sampah.
Pembongkaran sampah dari kendaraan pengangkut harus dilakukan
pada lokasi yang ditentukan. Untuk kelancaran pembongkaran diperlukan
pengaturan rute kendaraan dilokasi pembongkaran(Tchobagnoglous, 1993).
2. Perataan dan pemadatan sampah
Perataan dan pemadatan sampah dilakukan lapis demi lapis, dengan
ketabalan perlapis antara 0,6-0,9 m. Tinggi sel biasanya sekitar 5 m atau
lebih. Limbah ditempatkan pada sel awal diselingi pemadatan dengan alat
berat standar, hingga ke permukaan. Penyimpanan sampah saat periode
operasi akan membentuk sel individu. Penyimpanan sampah melalui
pengumpulan dan transfer kendaraan akan menghasilkan 18-24 lapisan
padatan. Ketinggian bervariasi antara 20-30 cm. Lama muka kerja tergantung
pada kondisi lokasi dan ukuran operasi. Muka kerja adalah wilayah lahan
urug dimana sampah dibongkar, diletakkan dan dipadatkan selama waktu
operasi. Lebar sel bervariasi dari 3-9 m, tergantung pada desain dan kapasitas
lahan urug. Semua permukaan sel ditutupi dengan lapisan tanah tipis 0,2-0,3
m atau material lain yang sesuai pada setiap akhir operasi dipadatkan untuk
mengisi seluruh rongga sel-sel tersebut (Tchobagnoglous, 1993).
3. Penutupan sampah dengan tanah.
Pada akhir hari operasi timbunan sampah yang ada dan sudah
dipadatkan, ditutup dengan lapisan tanah setebal +15 cm padat. Penimbunan
sampah pada hari berikutnya dilakukan pada bagian lain, demikian

MAHARDIKA
21080116130044 II-24
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
seterusnya. Setelah lokasi penuh, bagian permukaan timbunan sampah yang
sudah ditutup tanah secara harian, secara keseluruhan ditutup dengan lapisan
tanah (penutup akhir) setebal +50 cm padat.
Setelah satu persatu lift telah dipakai, recovery gas horizontal trench
dapat digali pada permukaan. Galian trench dapat diisi dengan kerikil, pipa
plastik berlubang yang dipasang pada trench. Gas lahan urug disalurkan
melalui pipa dimana dihasilkan gas. Tumpukan lift di tempatkan diatas yang
lain hingga tingkat desain akhir tercapai. Tergantung pada kedalaman lahan
urug, fasilitas pengumpul lindi tambahan dapat di tumpukan lift. Penutup
akhir didesain untuk mengontrol erosi. Sumur ekstraksi gas vertikal dipasang
melalui permukaan lahan urug yang telah selesai. Sistem ekstraksi gas saling
berhubungan, gas ekstraksi dapat menyala atau menjalar menuju fasilitas
energi recovery (Tchobagnoglous, 1993).
Pada sanitary landfill dibutuhkan pengontrolan per bagian.Untuk itu
dibutuhkan upaya-upaya seperti (Darmasetiawan, 2004) :
a. Pengurangan masuknya air eksternal pada area penimbunan, misalnya
dengan pengaturan limpasan melalui drainase.
b. Pengintegrasian antara tanah penutup dan penutup final.
c. Pengendalian erosi permukaan.
d. Pencegahan pengaliran air tanah dari sekitarnya menuju timbunan.
e. Pengurangan atau pencegahan pencemaran air tanah, misalnya dengan
pemasangan lapisan dasar yang terintegrasi.
f. Pengumpulan dan pengolahan lindi.
g. Pengontrolan emisi gas dengan perlengkapan penangkap gas,
h. Pencegahan bau, kebakaran dan ledakan dengan pengadaan ventilasi dan
aplikasi lahan penutup.

2.7.3 Perencanaan Kebutuhan Luas Lahan dan Kapasitas Tempat


Pembuangan Akhir (TPA) Sanitary Landfill
Perhitungan lahan untuk lahan urug akan mencakup perhitungan produksi
sampah dan kapasitas TPA. Produksi sampah ditentukan antara lain oleh jumlah
penduduk, laju generasi sampah (generation rate). Kapasitas lokasi TPA

MAHARDIKA
21080116130044 II-25
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
tergantung pada luas lokasi, kedalaman atau ketebalan lapisan yang direncanakan,
laju generasi sampah, densitas sampah sebelum dipadatkan dan persentase
pengurangan volume setelah dipadatkan.
Daya tampung tersebut dipengaruhi oleh metode lahan urug yang
digunakan, kedalaman dasar TPA, ketinggian timbunan, volume sampah yang
dibuang, kepadatan sampah dan kemampuan pengurangan volume sampah di
sumber.
1. Perhitungan awal kebutuhan lahan TPA per tahun
V  300
L  0,70  1,15 ………………………………………………. (2-1)
T
Keterangan :
L = luas lahan yang dibutuhkan setiap tahun (m3)
V = volume sampah yang telah dipadatkan (m3/hari)
=AxE ……………………………………………….. (2-2)
A = volume sampah yang akan dibuang
E = tingkat pemadatan (kg/m3), rata-rata 600 kg/m3
T = ketinggian timbunan yang direncanakan (m), 15% rasio tanah penutup

2. Kebutuhan luas lahan


H=LxIxJ ………………………………………………. (2-3)
Keterangan :
H = luas total lahan (m3)
L = luas lahan setahun
I = umur lahan (tahun)
J = ratio luas lahan total dengan luas lahan efektif 1,2.

Untuk perhitungan kebutuhan lahan untuk sanitary landfill dapat


digunakan rumus sebagai berikut :
R p 
V  1    Cv ………………………………………………… (2-4)
D  100 
CN
A ………………………………………………….(2-5)
d
Keterangan :

MAHARDIKA
21080116130044 II-26
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
V = Volume sampah padat dan tanah penutup (m3/org/tahun)
R = Laju generasi sampah perorang pertahun (kg/org/tahun)
D = Densitas (kepadatan) sampah sebelum dipadatkan (kg/m3)
P = Persentase pengurangan volume karena pemadatan dengan alat berat
3-5 kali lintasan (50%-75%).
Cv = Volume tanah penutup (m3/org/tahun)
A = Luas TPA yang diperlukan pertahun (m2/ tahun)
N = Jumlah penduduk yang dilayani (orang)
d = Tinggi atau kedalaman sampah padat dan tanah penutup (m)

3. Penentuan Volume Nominal Lahan Urug


Kapasitas volume nominal dari lokasi usulan lahan urug ditentukan
melalui timbulan awal beberapa jenis lahan urug, dapat menentukan kriteria
desain.Langkah berikutnya menentukan area permukaan untuk tiap lift.
Volume nominal lahan urug ditentukan dengan mengalikan area rata-rata
antara dua kontur berdekatan dengan tinggi lift dan menjumlahkan
keseluruhan volume lift. Jika tanah penutup dari tempat lain, perhitungan
kapasitas harus dikurangi oleh faktor untuk menghitung volume yang terpakai
oleh tanah penutup.
Kapasitas total aktual lahan urug bergantung pada berat spesifik
sampah yang masuk lahan urug, kompaksi sampah akibat tekanan berlebihan,
dan kehilangan massa karena dekomposisi biologi (Departemen Pekerjaan
Umum dalam Hairunnisa, 2004).

4. Pengaruh Pemadatan Komponen Sampah


Densitas sampah bervariasi akibat mode operasi lahan urug,
pemadatan komponen sampah, persentase distribusi komponen. Jika limbah
disebar dengan lapisan tipis dan pemadatan melawan permukaan miring, nilai
pemadatan tinggi dapat tercapai. Dengan pemadatan minimal, berat spesifik
akan berkurang dari pemadatan dari kendaraan pengumpul. Berat spesifik
bervariasi antara 550-1200 lb/yd3, tergantung pada tingkat pemadatan sampah
(Departemen Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa, 2004).

MAHARDIKA
21080116130044 II-27
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
5. Pengaruh Bahan Tanah atau Lapisan Penutup
Penutup harian, terdiri dari 6 inci–1 ft tanah, diaplikasikan pada muka
kerja lahan urug pada tiap akhir operasi. Penutup sementara adalah lapisan
tebal dari material tanah penutup harian diaplikasikan ke area lahan urug yang
tidak dipakai beberapa waktu. Tanah penutup akhir biasanya antara 3-6 ft dan
meliputi lapisan tanah liat padat, dengan lapisan lain untuk meningkatkan
drainase dan mendukung tanaman permukaan. Biasanya, penutup harian dan
sementara dinyatakan dengan sampah : rasio tanah, artinya volume sampah
per unit volume tanah penutup. Biasanya berkisar antara 4:1 hingga 10:1.
Perbandingan sampah : rasio tanah dapat diperkirakan dengan
perkiraan geometri dari sel lahan urug. Sel biasanya jajarangenjang, dengan
tanah penutup 3 dari 6 sisi. Permukaan area tergantung pada slope muka kerja
lahan urug, volume sel, tinggi lift, lebar terasiring. Slope muka kerja berkisar
antara 2:1-3:1. Volume sel dapat dihitung dengan membagi massa rata-rata
material tersimpan per hari dengan densitas rata-rata lift. Tinggi lift dan lebar
sel harus dipilih untuk mendapatkan perbandingan sampah : rasio tanah yang
rendah. Volume penutup harian harus dihitung untuk ketinggian lift dan lebar
sel berbeda, angka penyimpanan sampah maksimum dan minimum
(Departemen Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa, 2004).

6. Pengaruh Dekomposisi Sampah dan Ketinggian Beban Lebih


Pengurangan massa karena dekomposisi biologi menghasilkan
pengurangan volume, yang ada untuk pengisian sampah baru. Penilaian awal
kapasitas lokasi, hanya pemadatan karena pertimbangan beban
berlebih.Desain lahan urug selanjutnya, pengurangan sampah karena
dekomposisi harus dipertimbangkan (Tchobanoglous, 1993).
p
SWP  SW1  ………………………………………… (2-6)
a b p
Keterangan :
SWp = berat spesifik sampah pada tekanan P, lb/yr3
SW1 = berat spesifik sampah pemadatan awal, lb/yr3
P = beban tekanan, lb/in2

MAHARDIKA
21080116130044 II-28
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
a = konstanta empiris, (lb/in2)(lb/in2)
b = konstanta empiris, yd3/lb

2.7.4 Rencana Tapak


Dalam penentuan rencana tapak untuk lahan urug saniter, harus
memperhatikan beberapa hal :
1. Pemanfaatan lahan dibuat seoptimal mungkin sehingga tidak ada sisa lahan
yang tidak termanfaatkan.
2. Lokasi TPA harus terlindung dari jalan umum yang melintas TPA. Hal ini
dapat dilakukan dengan menempatkan pagar hidup disekeliling TPA,
sekaligus dapat berfungsi sebagai zona penyangga.
3. Penempatan kolam pengolahan lindi dibuat sedemikian rupa sehingga lindi
sedapat mungkin mengalir secara gravitasi.
4. Penempatan jalan operasi harus disesuaikan dengan sel penimbunan, sehingga
semua tumpukan sampah dapat dijangkau dengan mudah oleh truk dan alat
besar.

2.8 Perencanaan Sarana dan Prasarana TPA


2.8.1 Fasilitas Umum
1. Jalan masuk
Jalan masuk TPA harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Dapat dilalui kendaraan truk sampah dari 2 arah.
b. Lebar jalan 8 m, kemiringan permukaan jalan 2-3% kearah saluran
drainase, tipe jalan kelas 3 dan mampu menahan beban perlintasan
dengan tekanan gandar 10 ton dan kecepatan kendaraan 30 km/jam
(sesuai dengan ketentuan Ditjen Bina Marga).
c. Perkerasan jalan berupa aspal atau adukan beton. Panjang jalan masuk
sekitar 2-3 km dari jalan besar atau jalan utama. Jalan dilengkapi dengan
rambu-rambu lalu lintas utnuk menjaga ketertiban lalu lintas kendaraan
(Departemen Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa, 2004).

MAHARDIKA
21080116130044 II-29
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
2. Jalan operasi
Jalan ini diperuntukkan pengangkutan sampah dari pintu masuk area
landfill menuju sel-sel sampah. Jalan ini sifatnya sementara dan sesudah
selesai pembentukan suatu jalan ini akan menjadi sel baru berikutnya.
Jalan operasi yang dibutuhkan dalam pengoperasian TPA terdiri dari 2
jenis, yaitu:
1. Jalan operasi penimbunan sampah, jenis jalan bersifat temporer, setiap
saat dapat ditimbun dengan sampah.
2. Jalan penghubung antar fasilitas, yaitu kantor, pos jaga, bengkel, tempat
parkir, tempat cuci kendaraan. Jenis jalan bersifat permanen.
3. Ruangan atau landasan maneuver (Departemen Pekerjaan Umum dalam
Hairunnisa, 2004).

3. Bangunan Penunjang
Bangunan penunjang ini adalah sebagai pusat pengendalian kegiatan
di TPA baik teknis maupun administrasi, fasilitas menunjang keamanan
pekerja ataupun fasilitas yang ada di dalam TPA (Departemen Pekerjaan
Umum dalam Hairunnisa, 2004).

4. Drainase
Drainase TPA berfungsi untuk mengurangi volume air hujan yang
jatuh pada area timbunan sampah sehingga juga mengurangi jumlah lindi
yang terbentuk serta mencegah penyebarannya keluar lokasi TPA. Ketentuan
teknis drainase TPA ini adalah sebagai berikut:
a. Jenis drainase dapat berupa drainase permanen disekeliling TPA meliputi
jalan utama, disekeliling timbunan terakhir, daerah kantor, gudang,
bengkel, tempat cuci berfungsi mengalirkan air dari luar TPA agar tidak
melintasi TPA. Selain itu saluran ini juga mengalirkan limpasan air hujan
dari dari dalam TPA agar keluar dari TPA sebanyak mungkin sehingga
mencegah peresapan ke bawah yang akan menimbulkan terjadinya lindi.
Drainase sementara dibuat secara lokal pada zone yang akan
dioperasikan yaitu saluran disekotar pembentukan sel-sel menuju ke arah

MAHARDIKA
21080116130044 II-30
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
saluran drainase tetap (Departemen Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa,
2004).
b. Kapasitas saluran dihitung dengan persamaan manning.

Q  1  A  R 3 S 2
2 1
................................................... (2-7)
n
Keterangan :
Q = debit aliran air hujan (m3/detik)
A = luas penampang basah saluran (m2)
R = jari-jari hidrolis (m)
S = kemiringan
N = konstanta
c. Pengukuran besarnya debit dihitung dengan persamaan sebagai berikut
D = 0,2785 C . I . A (m3/det) ................................................... (2-8)
Keterangan :
Q = debit aliran air hujan (m3/detik)
C = angka pengaliran
I = intensitas hujan maksimum (mm/jam)
A = luas daerah aliran (km2)

Gambar potongan melintang drainase dapat dilihat pada gambar 2.7.

Gambar 2.6 Potongan Melintang Drainase


Sumber : Darmasetiawan, 2004
5. Pagar
Pagar berfungsi untuk menjaga keamanan TPA dapat berupa pagar
tanaman sehingga sekaligus dapat juga berfungsi sebagai daerah penyangga
setebal 5 m untuk mengurangi atau mencegah dampak negatif yang terjadi

MAHARDIKA
21080116130044 II-31
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
dalam TPA seperti keluarnya sampah dari TPA ataupun mencegah
pemandangan yang kurang menyenangkan (Departemen Pekerjaan Umum
dalam Hairunnisa, 2004).

6. Pagar Kerja
Pagar kerja merupakan pagar portabel yang dipasang disekitar pembuatan
sel untuk mencegah atau mengurangi kecepatan angin yang dapat
menyebarkan sampah ringan dalam lokasi atau bahkan keluar lokasi
(Departemen Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa, 2004).

7. Papan nama
Papan nama berisi nama TPA, pengelola, jenis sampah dan waktu
kerja (Departemen Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa, 2004).

2.8.2 Fasilitas Perlindungan Lingkungan


1. Pembentukan dasar TPA
a. Lapisan dasar TPA harus kedap air sehingga lindi terhambat meresap
kedalam tanah dan tidak tercemari air tanah. Koefisien permeabilitas
lapisan dasar TPA harus lebih kecil dari 10-6 cm/detik.
b. Pelapisan dasar kedap air dapat dilakukan dengan cara melapisi dasar
TPA dengan tanah lempung yang dipadatkan (30 cm x 2) atau
geomembrane setebal 5 mm.
c. Dasar TPA harus dilengkapi saluran pipa pengumpul lindi dan
kemiringan minimal 2% ke arah saluran pengumpul maupun penampung
lindi.
d. Pembentukan dasar TPA harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan
urutan zona atau blok dengan urutan pertama sedekat mungkin ke kolam
pengolah lindi.

2. Sel
Ketebalan timbunan sampah padat pada sistem lahan urug, setiap
lapisnya direkomendasikan ketebalannya 0,6 m. Ketebalan yang lebih kecil
akan menyebabkan kebutuhan tanah untuk lapisan penutup menjadi lebih

MAHARDIKA
21080116130044 II-32
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
besar. Ketebalan lapisan yang lebih besar akan menyebabkan pemadatan
dengan alat berat (compactor atau buldozer) menjadi kurang efektif, kecuali
residu dari hasil pembakaran, tiap lapis dapat lebih tebal.
Ketebalan lapisan tanah penutup, ketebalan lapisan tanah penutup
timbulan sampah +20 cm, sedangkan ketebalan lapisan tanah penutup terakhir
pada bagian permukaan adalah +50 cm.
Timbulan sampah berlapis, lapisan pertama sebaiknya dibiarkan
selama 3 bulan, baru ditimbun dengan lapisan sampah berikutnya
(Departemen Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa, 2004).

3. Saluran Pengumpul Lindi


Fasilitas ini dimaksudkan agar lindi yang dihasilkan oleh sanitary
landfill tidak mencemari lingkungan disekitar TPA.

4. Ventilasi gas
Ventilasi gas yang berfungsi untuk mengalirkan dan mengurangi
akumulasi tekanan gas.

5. Tanah Penutup
a. Jenis tanah penutup adalah jenis tanah yang tidak kedap air.
b. Periode penutupan tanah harus disesuaikan dengan metode
pembuangannya, untuk lahan urug saniter penutupan tanah dilakukan
setiap hari.
c. Tahapan penutupan tanah untuk lahan urug saniter terdiri dari penutupan
tanah harian (setebal 15-20 cm), penutupan antara (setebal 30-40 cm) dan
penutupan tanah akhir (setebal 50-100 cm, tergantung rencana
peruntukan bekas TPA nantinya)
d. Kemiringan tanah penutup harian harus cukup untuk dapat mengalirkan
air hujan keluar dari atas lapisan penutup tersebut.
e. Kemiringan tanah penutup akhir hendaknya mempunyai grading dengan
kemiringan tidak lebih dari 30 derajat (perbandingan 1:3) untuk
menghindari terjadinya erosi.

MAHARDIKA
21080116130044 II-33
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
f. Diatas tanah penutup akhir harus dilapisi dengan tanah media tanam (top
soil/vegetable earth)

Dalam kondisi sulit mendapatkan tanah penutup, dapat digunakan


reruntukan bangunan, sampah lama atau kompos, debu sapuan jalan, hasil
pembersihan saluran sebagai pengganti tanah penutup.

Gambar 2.7 Penutupan Lapisan Tanah


Sumber : Darmasetiawan, 2004

6. Daerah penyangga/ Zone penyangga


Daerah penyangga dapat berfungsi untuk mengurangi dampah negatif
yang ditimbulkan oleh kegiatan pembuangan akhir sampah terhadap
lingkungan sekitar. Daerah penyangga ini dapat berupa jalur hijau atau pagar
tanaman disekeliling TPA, dengan ketentuan sebagai berikut (Departemen
Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa, 2004) :
a. Jenis tanaman adalah tanaman tinggi dikombinasi dengan tanaman perdu
yang mudah tumbuh dari rimbun.
b. Kerapatan pohon adalah 2-5 m untuk tanaman keras.
c. Lebar jalur hijau minimal.

MAHARDIKA
21080116130044 II-34
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
7. Sumur uji
Sumur uji ini berfungsi untuk memantau kemungkinan terjadinya
pencemaran lindi terhadap air tanah disekitar TPA dengan ketentuan sebagai
berikut :
a. Lokasi sumur uji harus terletak pada area pos jaga (sebelum lokasi
penimbunan sampah, dilokasi sekitar penimbunan dan pada lokasi setelah
penimbunan.
b. Penempatan lokasi harus tidak pada daerah yang akan tertimbun sampah.
c. Kedalaman sumur 20-25 m dengan luas 1 m2 (Departemen Pekerjaan
Umum dalam Hairunnisa, 2004).

8. Alat besar
Pilihan jenis alat berat adalah :
a. Bulldozer, Merupakan peralatan yang sangat baik untuk operasi perataan,
pengurugan dan pemadatan dengan berkekuatan 120-140 HP.
b. Landfill compactor. Sangat baik digunakan untuk pemadatan timbunan
sampah pada lokasi datar.
c. Wheel atau track loader. Dapat digunakan untuk operasi penggalian,
perataan, pengurugan dan pemadatan (terutama tipe crawl)
d. Excavator. untuk mengambil tanah penutup. Dengan kekuatan 130 HP.
e. Scrapper. Baik untuk lapisan pengurugan dengan tanah dan perataan.
f. Dragline. Dapat digunakan untuk penggalian tanah dan pengurugan,
memperbesar kapasitas lahan urug dengan penggalian, membuat saluran
dan mengumpulkan tanah urugan (Departemen Pekerjaan Umum dalam
Hairunnisa, 2004).
Proses pembuangan atau penimbunan dan pemadatan sampah
memerlukan berbagai peralatan sebagai berikut:
a. Peralatan pengangkutan dalam lokasi. Biasanya untuk keperluan ini
digunakan loader dan lori yang digunakan khusus mengarahkan sampah
dari truk ke lokasi sel-sel sampah.
b. Peralatan pemadatan. Peralataan pemadatan dapat digunakan compactor
ataupun crawler dari dozer atau loader.

MAHARDIKA
21080116130044 II-35
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
c. Peralatan penyiapan tanah dan tanah penutup. Peralatan ini dapat
menggunakan loader, dozer, atau dragline(Departemen Pekerjaan Umum
dalam Hairunnisa, 2004).

Tabel 2.2 Kebutuhan Peralatan Rata-Rata untuk Sanitary Landfill


Jumlah Sampah Harian Peralatan
Perlengkapan
Penduduk Ton Jumlah Jenis Ukuran lb
0-15.000 0-40 1 Tractor, 10.000- Dozer blade front and
Crawler 30.000 loader (1to2 yr) Trash
atau blade
Rubber-tired
Scraper,
dragline,
water truck
15.000- 40-130 1 Tractor, 30.000- Dozer blade front and
50.000 Crawler 60.000 loader (2to4 yr)
atau Bullclam Trash blade
Rubber-tired
Scraper,
dragline,
water truck
50.000- 130-260 1-2 Tractor, > 30.000 Dozer blade front and
100.000 Crawler loader (2to5 yr)
atau Bullclam Trash blade
Rubber-tired
Scraper,
dragline,
water truck
>100.000 >260 >2 Tractor, > 45.000 Dozer blade front and
Crawler loader. Bullclam
atau Trash blade
Rubber-tired
Sumber : Tchobanoglous, 1993

MAHARDIKA
21080116130044 II-36
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
Tabel 2.3 Rekomendasi dan Pilihan Accesories Peralatan
Dozers Loaders Landfill
Perlengkapan
Crawler Wheel Track Wheel compactor
Dozer blade Oa O - - O
U-blade O O - - O
b
Landfill blade R R O O R
Hydraulic controls R R R R R
Rippers O - O - -
Engine screens R R R R R
Radiator guards-hinged R R R R R
Cab or helmet air conditioning O O O O O
Ballast weights O O R R R
Multipurpose fan - - R R -
General-purpose bucket - - O O -
Reversible fan R R R R R
Steel-guarded tires - R - R -
Lift-arm extentions - - O O -
Cleaner bars - - - - R
Roll bars R R R R R
Backing warning system R R R R R
Sumber : Tchobanoglous, 1993
Keterangan :
O = option
R = Recommended

2.8.3 Fasilitas Penunjang


1. Jembatan timbang
Jembatan timbang berfungsi untuk menghitung berat sampah yang
masuk ke TPA dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Lokasi jembatan timbang harus dekat dengan kantor/pos jaga dan terletak
pada jalan masuk TPA.
b. Jembatan timbang harus dapat menahan beban minimal 5 ton.
c. Lebar jembatan timbang minimal 3,5 m.
Dengan mengetahui berat sampah yang dibuang maka bisa ditentukan
dengan pasti berapa rupiah pembuang sampah harus membayar biaya ke
petugas TPA.

MAHARDIKA
21080116130044 II-37
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
Dengan adanya jembatan timbang bisa diketahui lebih pasti berapa
jumlah sampah yang dibuang ke TPA tiap hari, dengan demikian bisa
ditentukan berapa lama TPA tersebut bisa digunakan. Juga dapat mengetahui
angka yang sebenarnya dari tingkat pelayanan sistem pengolahan sampah.
Dari jembatan timbang ini pula bisa diikuti peningkatan volume
timbulan sampah dari tahun ke tahun (Departemen Pekerjaan Umum dalam
Hairunnisa, 2004).
2. Air bersih
Fasilitas air bersih akan digunakan terutama untuk kebutuhan kantor,
pencucian kendaraan (truk dan alat berat), maupun fasilitas TPA lainnya.
Penyediaan air bersih ini dapat dilakukan dengan sumur bor dan pompa.
3. Tempat cuci kendaraan
Tempat cuci ini terdiri dari penyediaan air pencuci, lantai kerja yang
keras dan kedap dilengkapi dengan saluran pembuang.
4. Bengkel
Bengkel berfungsi untuk menyimpan dan atau memperbaiki kendaraan
atau alat berat yang rusak, luas bangunan yang akan direncanakan harus dapat
menampung 3 kendaraan.(Departemen Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa,
2004).
5. Perlengkapan lainnya
Perlengkapan penunjang lainnya seperti halnya truk tangki, grader,
penyediaan alat kebakaran, alat kantor, penerangan, telekomunikasi dan
sebagainya.
Penerapan metode operasi adalah untuk menyelaraskan kegiatan
dalam lokasi TPA terhadap kondisi setempat, sehingga secara teknis dapat
membantu menekan jumlah biaya yang diperlukan. (Departemen Pekerjaan
Umum dalam Hairunnisa, 2004).
a. Metode Penimbunan
Metode penimbunan sampah di dalam sanitary landfill dapat
merupakan perataan, penggundukan atau modifikasi keduanya terhadap
lokasi TPA.Hal ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama

MAHARDIKA
21080116130044 II-38
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
lokasi TPA itu sendiri kemudian kapasitas yang diinginkan serta
penggunaan bekas TPA setelah TPA tersebut penuh.
b. Metode pembuatan sel
Dalam pembuatan sel dapat digunakan metode luas (area
method), metode parit (trech method) atau modifikasi terhadap kedua
metode tersebut.Hal ini erat kaitannya dengan kondisi tanah dalam
lokasi, topografi muka air tanah serta ketersediaan tanah penutup sel.
c. Dimensi sel
Kedalaman sel yang terpilih hendaknya mempermudah
pengerjaan penutupan sel serta pemadatannya.Hal ini dipertimbangkan
terhadap efektifitas penggunaan alat (dozer, loader, ataupun
dragline).Adapun panjang sel tergantung jumlah sampah harian.
d. Tanah penutup
e. Polusi Udara
Polusi udara dalam bentuk debu pada waktu kemarau dapat
diatasi dengan penyiraman air pada rute harian kendaraan dalam
lokasi.Didalam TPA dilarang melakukan pembakaran, jika hal ini terjadi
dengan tidak sengaja dapat dipadamkan dengan penimbunan tanah
penutup, penggunaan bahan kimia ataupun dengan penyiraman
air.Adapun polusi udara akibat timbulnya gas-gas hasil dekomposisi
sampah didalam sel dapat dicegah dengan gas controller dan gas burner
yang dipasang pada lokasi-lokasi yang tepat.Adapun polusi udara dalam
bentuk bau dapat dicegah dengan penggunaan lapisan penutup yang
kedap udara dan menutupnya jika terjadi keretakan akibat menurunnya
sel ataupun mengeringnya lapisan penutup.
f. Polusi Air
Untuk menjaga tidak terjadinya polusi komponen kimiawi
ataupun bakteri dalam air maka diperlukan pengoperasian pengolahan
limbah ataupun memanipulasi lindi yang terjadi sehingga tidak menyebar
keluar lokasi, jika terjadi penyebaran hal ini diharapkan kualitasnya telah
turun sesuai dengan baku mutu badan air penerimanya (Departemen
Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa, 2004).

MAHARDIKA
21080116130044 II-39
Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
2019
Kabupaten Banjarnegara
g. Vektor control
Untuk mengatasi pertumbuhan serangga merugikan yang tidak
diinginkan dapat dilakukan pemberantasan dengan insektisida secara
periodik.
h. Pengoperasian dimusim hujan
Untuk kelancaran pengoperasian dimusim hujan perlu diadakan
pengoperasian tambahan seperti pencucian roda truk agar tidak terjadi
pengotoran jalan raya, penyediaan sirtu untuk penanggulangan jalan
sementara serta genangan pada parit jika dipilih metode parit
(Departemen Pekerjaan Umum dalam Hairunnisa, 2004).

MAHARDIKA
21080116130044 II-40