Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

PENYAKIT FILARIASIS

Oleh:

1. Arroyan mi’azd (14.401.16.008)


2. Indah dwi erika wati (14.401.16.041)

AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN

KRIKILAN – GLENMORE – BANYUWANGI

2017
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi satu atau dua cacing jenis falaria yaitu
Wucheria bancrofti atau Brugia malayi. Cacing filarial ini termasuk family Filaridae,
yang bentuknya langsing dan ditemukan didalam system peredaran darah limfe, otot,
jaringan ikat atau rongga serosa pada vertebrata (Sudoyo, 2010,p. 2931).
Didaerah endemik 80 % penduduk biasa mengalami infeksi tetapi hanya sekitar 10 –
20 % populasi yang menunjukkan gejala klinis infeksi parasit ini tersebar didaerah tropis
dan subtropis seperti afrika, Asia, Pasifik selatan (Kunoli, 2015, hal. 199).
Penyakit filariasis ini terjadi melalui gigitan nyamukmengandung larva infektif. Larva
akan terdeposit dikulit,terpindah ke pembulu limfa berkembang menjadi cacing dewasa
selama 6 sampai 12 bulan, dan menyebabkan kerusakan dan pembesaran pembulu limfe
(Nurarif, 2015, hal. 144).
Perlu adanya pendidikan dan pencegahan serta pengenalan penyakit kaki gajah
diwilayah masing – masing sangatlah penting untuk memutus mata rantai penularan
penyakit ini. Membersihkan lingkungan sekitar adalah hal penting untuk mencegahan
terjadinya perkembangan nyamuk diwilayah tersebut (Padila,2013,p. 418).

B. Batasan Masalah
Masalah pada studi kasus ini dibatasi pada asuhan keperawatan klien yang mengalami
filariasis.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah bagaimana asuhan
keperawatan pada pasien filariasis.

D. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami konsep dan melaksanakan Asuhan Keperawatan
pada pasien dengan penyakit filariasis.
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang definisi penyakit filariasis
b. Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang Etiologi penyakit filariasis
c. Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang Tanda dan Gejala penyakit
filariasis
d. Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang Patofisiologi penyakit
filariasis
e. Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang Klasifikasi penyakit
filariasis

1
f. Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang Komplikasi penyakit
filariasis
g. Mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang Konsep Asuhan
Keperawatan penyakit filariasis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi

2
Filariasis atau lebih dikenal elephantiasis (kaki gajah) adalah penyakit akibat
nematode yang seperti cacing yaitu wuchereria bancrofti. Brugia malayi dan brugia
timon yang dikenal sebagai filaria. Infeksi ini biasanya terjadi pada saat kanak-kanak
dan manifestasi yang dapat terlihat mucul belakangan, menetap dan menimbulkan
ketidak mampuan menetap (Nurarif, 2015, hal. 144).
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit nematode yang
tersebar dindonesia. Walaupun penyakit ini jarang menyebabkan kematian, tetapi
dapat menurunkan produktifitas penderitanya karena timbulnya gangguan fisik
penyakit ini jarang terjasi pada anak karena manifestasi klinisnya timbul bertahun-
tahun kemudian setelah infeksi gejala pembengkakan kaki muncul karena sumbatan
mikrofilaria pada pembulu limfe yang biasanya terjadi pada usia diatas 30 tahun
setelah terpapar parasit selama bertahun – tahun. Oleh karena itu filariasis sering juga
disebut kaki gajah. Akibat paling vatal bagi penderita adalah kecacatan permanen
yang sangat mengganggu produktifitas (Kunoli, 2012, hal. 199).

2. Etiologi
Wuchereria bancrofti merupakan cacing dewasa berwarna putih, kecil seperti
benang. Cacing jantan berukuran 40 mm x 0,1 mm, sedangkan cacing betina
berukuran dua kali cacing jantan yaitu 80-100 mm x 0,2-0,3 mm. Manusia merupakan
satu-satunya hospes yang diketahui. Penularannya melalui proboscis (labela) sewaktu
gigitan nyamuk yang mengandung larva inefektif. Larva akan terdeposit di kulit,
berpindah kepembuluh limfa berkembang menjadi cacing dewasa selama 6-12 bulan,
dan menyebabkan kerusakan dan pembesaran pembuluh limfe. Filariasis dewasa
hidup beberapa tahun di tubuh manusia. Selama periode tersebut filarial berkembang
menghasilkan jutaan microfilaria (umur 3-36 bulan) yang belummasak, beredar di
daerah perifer dan dapat dihisap oleh nyamuk yang kemudian menularkan kemanusia
lain (Nurarif, 2015, hal. 144).
Cacing panjang halus seperti benang yaitu: filariasis yang disebabkan oleh
Wuchereria Bancrofti, (filariasis Bancrofti), filariasis yang disebabkan oleh brugia
malayi (filariasis malayi, filariasis brugia), filariasis yang disebabkan oleh brugia
timori (filariasis timoreal) (Kunoli, 2010, hal. 200).

3. Tanda dan Gejala


a. Gejala tampak setelah 3 bulan infeksi
b. Umumnya masa tunas 8-12 bulan

3
c. Fase akut menimbulkan peradangan seperti limfangitis, limfadenitis,
funikulitis, epididymitis dan orkitis
d. Gejala dari limfadenitis nyeri local, keras didaerah limfe, demam, sakit kepala
e. Fase akut dapat sembuh sepontan setelah beberapa hari dan beberapa kasus
mengalami dan badan, mual, lesu dan tidak nafsu makan kekambuhan tidak
teratur selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelum sembuh
f. Fase kronik terjadi dengan gejala hidrocel, kiluria, limfedema, dan
elephantiasis (Nurarif, 2015, p. 144).
ADL ditandai dengan demam tinggi, peradangan limfe (limfangitis dan
limfadenitis), serta edema local yang bersifat sementara. Limfangitis ini
bersifat retrograde, menyebar secara perifer dari KGB menuju arah sentral.
Sepanjang perjalanan ini, KGB regional akan ikut membesar atau sekedar
memerah dan meradang (Padila, 2013,p. 412).

4. Patofisiologi
Perubahan patologiutama disebabkan oleh kerusakan pembulu getah bening
akibat inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa, bukan oleh mikrofilaria.
Cacing dewasa hidup dipembuluh getah bening aferen atau sinus kelenjar getah
bening dan menyebabkan pelebaran pembulu getah bening dan penebalan dinding
pembuluh.Infiltrasi sel plasma, eosinofil, dan magrofag didalam dan sekitar pembuluh
getah bening yang mengalami inflamasi bersama dengan proliferasi sel endotel dan
jaringan penunjang, menyebabkan berliku-likunya sistem limfatik dan kerusakan atau
inkompetensi katup pembuluh getah bening (Sudoyo, 2010, p. 2931).
Limfedema dan perubahan kronik akibat statis bersama edema keras terjadi pada
kulit yang mendasari. Perubahan – perubahan yang terjadi akibat filasriasis ini
disebabkan oleh efek langsung dari cacicng ini dan oleh respon imun peang
menyebabkan pejamu terhadap parasit. Respon imun ini dipercaya menyebabkan
proses granulomatosa dan proliferasi yang menyebabkan obstruksi total getah benin
(Sudoyo, 2010, p. 2932).

4
Anemia

Pathway
Mengisap microfilaria Metamorphosis microfilaria Membentuk larva
daridarah/ jaring didalamhorpesperantarasera rabditiform
olehseranganpenghisapdarah ngga( nyamuk)

Larva Penularan larva


Menujupembuluhdarahd infektifkedalamkulith
masukkedalamtubuhlewatlukagi
ankelenjarlimfe ospesbaru, melalui
gitan
proboscis
Kerusakangetahbening
gigitannyamuk
Menjadicacingdewasa

Proses inflamasi
Microfilaria Nyeri
berkembangbiakdanmeninggal Demam
Penekanansyarafolehgranulasimi
Menembusdindingpembul krofilaria
Hipertermi
uhlimfe

Proses penyakit
Menuju pembuluh darah / terbawa Penyumbatansaluran destruksi gangguan
saluran limfe kedalam aliran syaraf

Stadium menahun
Salah satunyamenujukeginjal Kandungan protein dalam
Granulasi yang saluran limfe
proliverativesertaterbentukvarisessaluranli

Terbentukjaringanikatdankolagendisal
urkanlimfe yang terinfeksi
hematuria proteinuria
Semakinmembesar (elephantiasis)

Gangguan eliminasi urine

5
Gangguan citra tubuh Gangguanaktivitas Perubahanpada status
kesehatan

Hambatan mobilitas fisik Fungsi peran tergantung pada orang


lain

Resiko ketidak berdayaan

(Nurarif, 2015, hal. 148)

5. Klasifikasi
1. Filariasis malayi
Filariasi malayi disebakan oleh disebabkan oleh brugiamalayi.
Periodisitasmikrofilaria B. Malayi adalah periodik nokturna, sub perodik
nokturna, atau non periodik. Perodisitasmikrofilaria yang bersarung dan
berbentuk kasini, tidak senyata periodisitas W.Bansofti. Sebagai hospes
sementara adalah nyamuk mansomia, anopeles, amigeres. Dalam tubuh nyamuk
mikrofilaria tumbuh menjadi larva impektif dalam waktu 6-12 hari. Ada peneliti
yang menyebutkan bahwa masa pertumbuhanya di dalam nyamuk kurang lebih
10 hari dan pada manusia kurang lebih 3 bulan. Didalam tubuh manusia dan
nyamuk perkembangan parasit ini juga sama dengan perkembangan W. Bansoft
(Sudoyo, 2010,hal. 2936).
2. Filariasis timori
Filariasis timori disebabkan oleh pilariatipetimori. filaria tipe ini terdapat di
timor, pulau rote, flores, dan beberapa pulau disekitarnya. Cacing dewasa hidup
di dalam saluran dan dikelenjar limfe. Pagetornya adalah anopeles barberostis.
Mikro filarianya menyerupai mikro filaria brugiamalayi, yaitu lekuk badanya
patah-patah dan susunan intinya tidak teratur, perbedaanya terletak dalam: 1.
Panjang kepala = 3 x lebar kepala; 2. Ekornya mempunyai 2 inti tambahan, yang
ukuranya lebih kecil daripada inti-inti lainya dan letaknya lebih berjauhan bila

6
dibandingkan dengan letak inti tambahan B. Malayi; 3. Sarungnya tidak
mengambil warna pulasan gamesa; ukuranya lebih panjang dari pada mikrofilaria
berugi amalayi. Mikrofilaria bersifat periodik nokturna (Sudoyo, 2010,hal.
2936).

6. Komplikasi
Jika tidak ditangan dengan serius penyakit ini dapat menimbulkan Hidrokel
membesar, adapun dapat menimbulkan penyakit berupa infeksi.
1. Hidrokel yang besar sehingga menekan pembuluh darah
2. Indikasi kosmetik
3. Hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan sehari – hari.
4. Chyluria (terdapat lemak pada urine)
5. TPE (topical pulmonary eosinifilia)
6. Hematuria
7. Kelumpuhan saraf (Sudoyo, 2010,hal 2934).

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Identitas
Penyakit filariasis biasanya sering menyerang pada pria dan wanita yang
berumur diatas 30 tahun (Kunoli, 2012,hal 199).
b. Status kesehatan saat ini
1) Keluhan utama
Pasien mengalami keluhan mudah lelah, intoleransi aktivitas, perubahan
pola tidur (Kunoli, 2012,hal 203).
Alasan MRS
Pasien mengalami kelemahan otot, menurunnya masa otot, respon
fisiologi aktivitas (perubahan TD, frekuensi jantung) (Kunoli, 2012, hal
203).
Riwayat penyakit sekarang
Klien mengeluh nyeri disertai bengkak pada kaki yang terkena, nyeri
terasa seperti tertusuk-tusuk, nyeri timbul setiap saat dan skala nyeri
sedang sampai berat. Bengkak awalnya muncul dari telapak kaki sampai
ke tungkai kaki bawah. Pasien sulit berjalan yang disebabkan oleh
pembengkakantungkai kaki. Demam naik turun dan buang air kecil
berwarna putih susu (Kunoli, 2012,hal 203).
c. Riwayat Kesehatan Terdahulu
1) Riwayat penyakit sebelumnya
Pasien biasanya belum pernah mengalami penyakit filariasis sebelumnya
(Padila, 2013,hal 412).
2) Riwayat penyakit keluarga
Pada keluarga tidak ada yang mengalami penyakit filariasis
(Padila,2013,hal 412).

7
3) Riwayat pengobatan
Pada pengobatan masal (program pengendalian filariasis)pemberian DEC
dosis standar tidak dianjurkan lagi mengingat efek sampingnya. Untuk itu,
DEC diberikan dengan dosis lebih rendah (6 mg/kgBB), dengan jangka
waktu pemberian yang lebih lamam mencapai dosis total yang sama
misalnya dalam bentuk garam DEC 0,2 – 0,4% selama 9-12 bulan. Atau
pemberian obat dilakukan seminggu sekali, atau dosis tunggal setiap 6
bulan atau setiap tahun (Sudoyo, 2010,hal 2935).

d. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
a. Kesadaran
Kesadaran Pada manifestasi akut dapat ditemukan adanya limfangitis
dan limfadenitis yang berlangsung 3 – 15 hari, dan dapat terjadi
beberapa kali dalam setahun (zainuddin, 2014,hal 36).
b. Tanda – tanda vital
Pasien dengan penyakit filariasis perubahan tekanan darah, menurunnya
volume nadi perifer, perpanjangan pengisian kapiler (Kunoli, 2012,hal
203).
2. Body system
a. Sistem pernafasan
Penyakit filariasis terjadi pernapasan pendek : dispnea nokturnal
paroksismal; batuk dengan/tanpa sputum kental dan banyak
(M.Farid Aziz, 2014,hal 116).
b. Sistem kardiovaskular
ictus cordis tidak terlihat dan tidak kuat angkat, Perubahan TD,
menurunnya volume nadi perifer, perpanjangan pengisian kapiler
(Kunoli, 2012,hal 203).
c. Sistem pensyarafan
Kaki bengkak dan reflek tidak normal (Sudoyo, 2010,hal 2932).
d. Sistem perkemihan
Pembengkakan pada daerah skrotalis (Kunoli, 2012,hal 203).
e. Sistem percernaan
Pasien mengalami anoreksia dan permeabilitas cairan (Kunoli,
2012,hal 203).
f. Sistem integument
warna kulit normal dan mengalami gangguan pada ekstemitas yang
terkena kaki gajah, tekstur kulit mengalami bengkak, gatal, lesi,
bernanah pada kaki yang terkena (Kunoli, 2012,hal 203).
g. Sistem muskuloskeletal

8
Terdapat edema pada kaki yang terkena dan kelemahan otot
(Kunoli, 2012,hal 203).
h. Sistem endokrin
Ditemukan adanya limfangitis dan limfadenitis yang berlangsung 3
– 15 hari, dan dapat terjadi beberapa kali dalam setahun (zainuddin,
2014,hal 36).
i. Sistem reproduksi
Menurunnya libido (Kunoli, 2012,hal 203).
j. Sistem pengindraan
Kerusakan status indra praba (Kunoli, 2012,hal 203).
k. Sistem imun
Mengalami demam pada filariasis karena adanya inflamasi yang
berawal dari kelenjar getah (Sudoyo, 2010,hal 2932).
3. Pemeriksaan Penunjang
1. Penyakit kaki gajah ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan
mikroskopis darah , sampai saaat ini hal tersebut masih dirasakan sulit
dilakukan karena microfilaria hanya muncul dan menampilkan diri
dalam darah pada waktu malam hari selama beberapa jam saja
(nocturnal periodicity) (Nurarif, 2015,p. 144).
2. Selainitu, berbagai method pemeriksaan juga dilakukan untuk
mendiagnosa penyakit kaki gajah. Diantaranya ialah dengan system
yang dikenal sebagai penjaringan membran, metode konsentrasikan
dan teknik pengendapan (Nurarif, 2015,p. 144).
3. Metode pemeriksaan yang mendekati kearah diagnose dan diakui oleh
WHO dengan pemeriksaan system “tes kartu”, hal ini sangatlah
sederhana dan peka untuk mendeteksi penyebaran parasit (larva).
Yaitu dengan mengambil sample darah system tusukan jari droplests
diwaktu kapan pun, tidak harus dimalamh ari (Nurarif, 2015, p. 144).
4. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan filariasis bergantung kepada keadaan klinis dan beratnya
penyakit.
Terapi medikamentosa
a. Diethycarbamazine citrate (DEC)
WHO merekomendasikan pemberian DEC dengan dosis 6 mg/kgBB
untuk 12 hari berturut-turut. Di Indonesia, dosis 6 mg/kgBB
memberikan efek samping yang berat, sehingga pemberian DEC
dilakukan bedasarkan usia dan dikombinasi dengan albendazol.
b. Ivermectin
Obat ini merupakan antibiotik semisintetik golongan makrolid yang
berfungsi sebagai agent mikrofilarisidal poten. Dosis tunggal 200-

9
400µg/kg dapat menurunkan microfilaria dalam darah tepi untuk
waktu 6-24 bulan. Obat belum digunakan di Indonesia.
c. Albendazol
Obat ini digunakan untuk pengobatan cacing intestine selam
bertahun-tahun dan baru-baru ini di coba digunakan sebagai anti-
filaria. Albendazole hanya mempunyai sedikit efek untuk
mikrofilaremia dan antigenaemia jika digunakan sendiri. Dosis
tunggal 400 mg dikombinasi dengan DEC atau intermectin efektif
menghancurkan microfilaria
d. Pemberian benzopyrenes, termasuk flavonoids dan coumarin dapat
menjadi terapi tambahan.
e. Pembedahan
Tindakan bedah pada limfadema bersifat paliatif, indikasi tindakan
bedah adalah jika tidakterdapat perbaikan dengan terapi konservatif,
limfadema sangat besar sehingga mengganggu aktivitas dan
pekerjaan dan menyebabkan tidak berhasilnya terapi konsevatif
(Nurarif, 2015, p. 145).

b. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri (M.Wilkinson, 2013, p. 537)
Nyeri kronis
- Definisi: Pengalaman sensoris dan emosi yang tidak menyenangkan ,
akibat kerusakan jaringan aktual atau pontensial atau digambarkan
dengan istilah kerusakan (International Association For the Study of
Pain); awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan
sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat
diramalkan dan durasinya lebih dari 6 bulan (M.Wilkinson, 2013, p.
537).
- Batasan karakteristik:
Mengungkapkan secara verbal atau dengan isyarat atau menunjukkan
bukti sebagai berikut
a. Subjektif
Depresi
Keletihan
Takut kembali cedera
b. Objektif
Perubahan kemampuan untuk meneruskan aktivitas sebelumnya
Anoreksia
Atrofi kelompok otot yang terlibat
Perubahan pola tidur
Wajah topeng

10
Perilaku melindungi
Iritabilitas
Perilaku protektif yang dapat diamati
Penurunan interaksi dengan orang lain
Gelisah
Berfokus pada diri sendiri
Respons yang dimediasi oleh saraf simpatis (misalnya, suhu, dingin,
perubahan posisi tubuh, dan hipersensitivitas)
Perubahan berat badan (M.Wilkinson, 2013, hal. 537).
- Faktor yang berhubungan
Ketunadayaan fisik atau psikososial kronis (misalnya, kanker
metastasis, cedera neurologis, dan arthritis) (M.Wilkinson, 2013,
hal. 537).
b. Hipertermi
- Definisi: Peningkatan suhu tubuh diatas rentang normal (M.Wilkinson,
2013, p. 394).
- Batasan karakteristik:
a. Objektif
Kulit merah
Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal
(Frekuensi napas meningkat)
Kejang atau konvulsi
(kulit) teraba hangat
Takikardia
Takipnea (M.Wilkinson, 2013, p. 394)
- Faktor berhubungan:
Dehidrasi
Penyakit atau trauma
Ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk berkeringat
Pakaian yang tidak tepat
Peningkatan laju metabolisme
Obat atau anestesia
Terpajan pada lingkungan yang panas (jangka panjang)
Aktivitas yang berlebihan (M.Wilkinson, 2013, hal. 395).
c. Gangguan eliminasi urine
- Definisi: Pola fungsi perkemihan yang memadai untuk memenuhi
kebutuhan eliminasi dan dapat ditingkatkan (M.Wilkinson, 2013, p.
841).
- Batasan karakteristik:
a. Subjektif
Mengungkapkan keinginan untuk meningkat eliminasi urine
b. Objektif
Jumlah haluaran urine dalam batas normal
Asupan cairan adekuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
Mengatur posisi diri untuk mengosongkan kandung kemih
Berat jenis urine dalam batas normal
Urine kuning kecokelatan
Urine tidak berbau (M.Wilkinson, 2013, hal. 841).

11
d. Gangguan citra tubuh
Definisi : Konfusi pada gambaran mental fisik diri seseorang (M.Wilkinson,
2013, p. 69).
Batasan karakteristik :
a. Subjektif
Depersonalisasi bagian (tubuh) atau kehilangan melalui kata
gantiretral
Penakanan pada kekuatan yang tersisa dan pencapaian yang tertinggi
Rasa takut terhadap penolakan atau reaksi dari orang lain
Berfokus pada kekuatan, fungsi atau penampilan dimasa lalu
Fokus pada perubahan atau kehilangan
Menolak untuk memverifikasi perubahan aktual
Mengungkapkan secara verbal perubahan gaya hidup
b. Objektif
Perubahan aktual pada struktur atau fungsi (tubuh)
Perilaku menghindari, membantau, atau mencari tau tentang tubuh
individu
Perubahan pada kemampuan untuk memperkirakan hubungan spasial
tubuh terhadap lingkungan
Perubahan dalam keterlibatan sosial
Kehilangan bagian tubuh
Tidak melihat pada bagian tubuh
Tidak menyentuh bagian tubuh
Trauma terhadap bagian tubuh yang tidak berfungsi (M.Wilkinson,
2013, p. 69).
Faktor yang berhubungan :
Biofisik (misalnya,penyakit kronis, defek kongenital, dan kehamilan)
Kognitif atau persepsi (misalnya, nyeri kronis)
Kultural atau spiritual
Perubahan perkembangan
Penyakit (M.Wilkinson, 2013, hal. 70).
e. Hambatan Mobilitas Fisik
Definisi : Keterbatasan gerak fisik tubuh atau satu ekstremitas atau lebih
dengan maksud tertentu dan mandiri (M.Wilkinson, 2013, p. 472).
Batasan karakteristik :
a. Subjektif
Laporan tentang nyeri atau ketidaknyamanan pada saat melakukan
gerakan ; keengganan untuk bergerak.
b. Objektif
Keterbatasan rentang gerak ; keterbatasan kemampuan untuk
melakukan keterampilan motorik halus atau kasar ; kesulitan untuk
berputar
Gerak lambat ; gerakan tersentak-sentak atau tidak terkoordinasi,
tremor yang disebabkan oleh gerakan ; penurunan waktu reaksi (lebih
lambat)

12
Ketidakstabilan postural ; perubahan gaya berjalan
Memulai perubahan gerak ( misalnya, peningkatan perhatian pada
aktivitas lain, perilaku pengendalian, fokus pada dissabilitas atau
aktivitas sebelum mengalami penyakit ) (M.Wilkinson, 2013, p. 472).
Faktor yang berhubungan :
Gaya hidup kurang gerak : intoleran aktivitas ; keadaan tidak digunakan ;
dekondisi; penurunan daya tahan ; keterbatasan daya tahan kardiovaskular;
Penurunan kekuatan otot atau masa pengendalian ; kekujatan sendi ;
kontraktur ; kehilangan integritas struktur tulang
Nyeriketidak nyamanan
Gangguan neurtomuskularatau muskuloskeletal
Gangguan sensori persepsi atau koknitif ; keterlambatan pertimbangan
Kondisi mood tertekan; ansietas
Malnutrisi ; perubahan metabolisme selular ; indeks masa tubuh ( body
mass index, bmi ) diatas persentil 75 sesuai usia (M.Wilkinson, 2013, p.
473).
c. Intervensi
a. Nyeri
Nyeri kronis
1. Tujuan :
Menunjukkan nyeri efek merusak, yang dibuktikan oleh indikator
sebagai berikut (sebutkan 1-5: ekstrem, berat, sedang, ringan, atau
tidak ada):
1. Gangguan performa peran atau gangguan hubungan interpersonal
2. Gangguan konsentrasi
3. Gangguan perawatan diri
4. Gangguan pola tidur
5. Kehilangan selera makan
Memperlihatkan tingkat nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai
berikut (sebutkan 1-5: ekstrem, berat, sedang, ringan, atau tidak ada) :
b. Ekspresi nyeri pada wajah
c. Gelisah atau tidak tenang
d. Ketegangan otot
e. Kehilangan selera makan
f. Episode nyeri yang lama (M.Wilkinson, 2013, p. 538).
2. Kriteria hasil :
Pasien akan :
Menyatakan secara verbal pengetahuan tentang secara alternatif untuk
redakan nyeri
Melaporkan bahwa tingkat nyeri pasien dipertahankan pada atau
kurang (pada skala nyeri 0-10)
Tetap produktif ditempat kerja atau sekolah (M.Wilkinson, 2013, p.
539).
3. Intervensi (NIC)

13
Aktivitas keperawatan
a) Kaji dan dokumentasikan efek jangka panjang penggunaan obat
b) Penatalaksanaa nyeri (NIC):
Pantau tingkat kepuasan pasien terhadap manajemen nyeri pada
interval tertentu (M.Wilkinson, 2013, p. 540).
Penyuluhan untuk Pasien / Keluarga
a) Beritahu pasien bahwa peredaan nyeri secara total tidak akan
dapat dicapai (M.Wilkinson, 2013, p. 540).
Aktifitas Kolaboratif
a) Adakan pertemuan multidisipliner untuk merencanakan
asuhan perawatan pasien
b) Pertimbangkan rujukan untuk pasien, keluarga, dan orang
terdekat pasien ke kelompok pendukung atau sumber –
sumber lain, bila perlu (M.Wilkinson, 2013, p. 540).

b. Hipertermia
1) Tujuan: Pasien akan menunjukkan Termoregulasi,yang dibuktikan oleh
indikator gangguan sebagai berikut (sebutkan 1-5 : gangguan ekstrem, berat,
sedang, ringan atau tidak ada gangguan) :
1. Peningkatan suhu kulit
2. Hipertemia
3. Dehidrasi
4. Mengantuk
Pasien akan menunjukkan Termoregulasi,yang dibuktikan oleh indikator
gangguan sebagai berikut (sebutkan 1-5 : gangguan ekstrem, berat, sedang,
ringan atau tidak ada gangguan) :
1. Berkeringat saat panas
2. Denyut nadi radialis
3. Frekuensi pernapasan (M.Wilkinson, 2013, p. 394).
2) Kriteria hasil :
Pasien dan Keluarga akan :
Menunjukkan metode yang tepat untuk mengukur suhu
Menjelaskan tindakan untuk mencegah atau meminimalkan peningkatan suhu
tubuh
Melaporkan tanda dan gejala dini Hipertermia
Bayi akan :
Tidak mengalami gawat napas, gelisah, atau letargi
Menggunakan sikap tubuh yang dapat mengurangi panas (M.Wilkinson, 2013,
p. 391).

14
3) Intervensi (NIC)
Aktifitas Keperawatan
a) Kaji ketepatan jenis pakaian yang digunakan,sesuai dengan suhu lingkungan
b) Pantau hidrasi (misalnya, turgor kulit, kelembapan membran mukosa)
(M.Wilkinson, 2013, p. 392).
Penyuluhan untuk Pasien / Keluarga
a) Ajarkan pasien / keluarga dalam mengukur suhu untuk mencegah dan
mengenali secara dini hipertermia (misalnya, sengatan panas, dan keletihan
akibat panas)
b) Ajarkan indekasi keletihan akibat panas dan tindakan kedaruratan yang
diperlukan,jika perlu (M.Wilkinson, 2013, p. 393).
Aktifitas Kolaboratif
a) Berikan obat antipiretik,jika perlu
b) Gunakan matras dingin dan mandi air hangat untuk mengatasi gangguan suhu
tubuh, jika perlu (M.Wilkinson, 2013, p. 393).
c. Gangguan eliminasi urine
1) Tujuan: menunjukkan eliminasi urine, yang membuktikan oleh indikator
berikut (sebutkan 1-5 : gangguan ekstern, berat, sedang, ringan, atau tidak ada
gangguan):
1. Identifikasi dorongan berkemih
2. Mengosongkan kandung kemih secara tuntas
3. pola eliminasi
4. Asuhan cairan adekuat (M.Wilkinson, 2013, p. 842).
2) Kriteria hasil:
Pasien akan:
Mendeskripsikan rencana untuk meningkatkan fungsi perkemihan
Memiliki urine residu pasca-berkemih >100-200 ml
Tetap terbebas dari infeksi saluran kemih
Memiliki asupan haluaran urine 24 jam yang seimbang
Melaporkan jumlah dan karakteristik urine yang normal
Menunjukkan pengetahuan yang adekuat tentang obat yang memengaruhi
fungsi perkemihan
Mengalami eliminasi urine normal (M.Wilkinson, 2013, p. 842).
3) Intervensi (NIC)
Aktivitas keperawatan
a) Identifikasi dan dokumentasikan pola pengosongan kandung kemih
b) Kumpulkan data tentang penggunaan obat resep dan obat nonresep
Penyuluhan untuk Pasien / Keluarga
a) Beri informasi tentang fungsi perkemihan normal
b) Beri informasi tentang kebutuhan cairan, berkemih, teratur, ddl
(M.Wilkinson, 2013, p. 843).

d. Gangguan Citra Tubuh


1) Tujuan :

15
a) Gangguan citra tubuh berkurang yang dibuktikan oleh selalu
menunjukkan adaptasi dengan ketunadayaan Fisik, penyesuaian
Psikososial: Perubahan Hidup, Citra Tubuh positif, tidak mengalami
keterlambatan dalam perkembangan Anak, dan Harga diri positif
b) Menunjukkan Citra Tubuh, yang dibuktikan oleh indikator (M.Wilkinson,
2013, p. 71).
2) Kriteria hasil :
Pasien akan :
a) Mengidentifikasi kekuatan personal
b) Mengenali dampak situasi pada hubungan personal dan gaya hidup
c) Mengenali perubahan aktual pada penampilan tubuh
d) Menunjukkan penerimaan penampilan
e) Menggambarkan perubahan aktual pada fungsi tubuh (M.Wilkinson,
2013, p. 71).
3) Intervensi (NIC)
Aktifitas keperawatan
a) Kajian dan dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien
terhadap tubuh pasien
b) Identifikasi mekanisme koping yang biasa digunakan pasien
(M.Wilkinson, 2013, p. 73).
Penyuluhan untuk Pasien / Keluarga.
a) Ajarkan tentang cara merawat dan perawat diri, termasuk komplikasi
kondisi medis (M.Wilkinson, 2013, p. 73).
Aktivitas Kolaboratif
a) Rujukan kelayanan sosial untuk merencanakan perawatan dengan
pasien dan keluarga
b) Rujukan pasien untuk mendapat terapi fisik untuk latihan kekuatan dan
fleksibilitas, membantu dalam perpindahan tempat dan ambulasi, atau
pengguanaan prostesis
c) Tawarkan untuk menghubungi sumber-sumber komunikasi yang
tersedia untuk pasien / keluarga
d) Rujuk ke tim interdisipliner untuk klien yang memiliki kebutuhan
kompleks (misalnya, komplikasi pembedahan) (M.Wilkinson, 2013,
hal. 73).
e. Hambatan mobilitas Fisik
1) Tujuan : memperhatikan mobilitas, yang dibuktikan oleh indikator
berikut (sebutkan 1-5 : gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, atau
tidak mengalami gangguan) :
Keseimbangan
Koordinasi
Performa posisi tubuh
Pergerakan sendi dan otot

16
Berjalan
Bergerak dengan mudah (M.Wilkinson, 2013, p. 475).
2) Kriteria hasil :
Pasien akan :
Memperlihatkan penggunaan alat bantu secara benar dengan
pengawasan
Meminta bantuan untuk aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri
dengan alat bantu
Menyangga berat badan
Berjalan dengan menggunakan langkah-langkah yg benar
Berpindah ke kursi atau kursi roda
Menggunakan kursi roda secara efektif (wilkinson, 2013, hal. 475).
3) Intervensi (NIC)
Aktivitas Keperawatan
a) Kaji kebutuhan terhadap bantuan pelayanan kesehatan dirumah
dan kebutuhan terhadap peralatan pengobatan yang tahan lama
b) Ajarkan pasien tentang dan pantau penggunaan alat bantu
mobilitas
c) Ajarkan dan bantu pasien dalam proses berpindah
d) Rujuk keahli terapi fisik untuk program latihan
e) Berikan penguatan positif selama aktivitas
f) Bantu pasien untuk menggunakan alas kaki anti selip yang
mendukung untuk berjalan (M.Wilkinson, 2013, hal. 476).

17
DAFTAR PUSTAKA

amin huda nurarif, s. (2015). nic-noc jilid 2. jogjakarta: mediaction jogya.

Aru W. Sudoyo. (2010). ILMU PENYAKIT DALAM. Jakarta: InternaPublishing.

Firdaus J.Kunoli,SKM,M.Kes. (2012). Asuhan Keperawatan Penyakit Tropis . jakarta: CV.


TRANS INFO MEDIA.

Kunoli. (2012). Asuhan Keperawatan Penyakit Tropis. jakarta: CV.TRANS INFO MEDIA.

M.Wilkinson. (2013). BUKU SAKU Diagnosis Keperawatan EDISI 9. Jakarta: EGC.

Nurarif, A. H. (2015). Nanda NIC-NOC panduan penyusunan asuhan keperawatan


profesional. jogjakarta: Mediaction jojga.

Sudoyo. (2010). ILMU PENYAKIT DALAM. Jakarta: InternaPublishing.

18