Anda di halaman 1dari 10

MANGIFERIN

Ayu Nurrain Aditama (1800023271)


Winahyu Safitri (1800023272)

Novi Indri Yani (1800023273)

Doni Wiguna (1800023275)


Liza Purnama (1800023277)
Stefana Alfinda Heby Ega A. (1800023278)
Lenny Aldiana Wati (1800023279)
Mei Lina Indrihapsari (1815023239)

Fakultas Farmasi
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
2019
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga
dan sahabat-sahabatnya yang telah memperjuangkan agama Islam. Dan dalam penyusunan
makalah ini kami sadar bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka dari itu kami
mengharapkan kritikan positif, sehingga bisa diperbaiki seperlunya.
Akhirnya kami tetap berharap semoga makalah ini menjadi butir-butir amalan kami dan
bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi seluruh pembaca. Aamiin Yaa Robbal
‘Alamin.

Tim penyusun

i
DAFTAR ISI
Halaman judul
Kata Pengantar..............................................................................................................i
Daftar isi.......................................................................................................................ii

Bab I Pendahuluan
a. Latar Belakang..................................................................................................1
b. Rumusan Masalah.............................................................................................1
c. Tujuan...............................................................................................................1
d. Manfaat Penulis................................................................................................1
Bab II Pembahasan Senyawa Mangiferin
a. Struktur ............................................................................................................2
b. Tanaman Penghasil...........................................................................................2
c. Khasiat atau kegunaan.....................................................................................3
d. Sifat Fisika Kimia Senyawa.............................................................................4
e. Cara Ekstraksi..................................................................................................4
f. Fraksinasi dan Isolasi Mangiferin....................................................................5
g. Identifikasi Dengan Uji Tabung......................................................................6
h. Identifikasi Dengan KLT.................................................................................6
Daftar pustaka..............................................................................................................7

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mangga adalah tanaman asli dari India. Kini, tanaman ini tersebar di berbagai penjuru
dunia termasuk Indonesia. Tanaman Mangga dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah dan
berhawa panas. Akan tetapi, ada juga yang dapat tumbuh di daerah yang memiliki ketinggian
hingga 600 meter di atas permukaan laut (Rukmana,1997).
Produk utama dari tanaman mangga adalah buahnya yang biasanya dikonsumsi dalam
bentuk segar maupun berbagai produk olahannya. Tetapi selain buah, komponen lainnya yang
juga berperan penting adalah daun mangga yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat
alternatif. Daun mangga dilaporkan memiliki kandungan alkaloid, senyawa fenol, saponin,
kaumarin, tanin, flavonoid, triterponoid, steroid, dan glikosid yang berfungsi sebagai senyawa
antimikrobia yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri (Masibo dan He, 2009).
Kandungan terbesar dari daun mangga adalah mangiferin yang telah diteliti oleh
beberapa peneliti memiliki fungsi antara lain sebagai antioksidan, analgesik, antidiabetes, anti
inflammatory, antitumor, antimikrobia, dan peningkat stamina atau daya tahan tubuh
(Jutiviboonsuk dan Sardsaengjun, 2010).

B. Rumusan Masalah
Bagiamana struktur, sifat senyawa kimia fisika, cara identifikasi, cara ekstraksi, cara
frkasinasi dan isolasi hingga khasiat pada senyawa mangiferin.

C. Tujuan
Mengetahui uraian tentang senyawa mangiferin yang berkhasiat bagi tubuh manusia
dan cara identifikasinya.

D. Manfaat Penulis
Makalah ini bermanfaat sebagai bahan informasi mengenai senyawa mangiferin bagi
para pembaca.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Struktur Senyawa Mangiferin

Formula : C19H18O11
Berat molekul : 422.3396
Titik didih : 842.7°C at 760 mmHg

B. Tanaman Penghasil

Tumbuhan mangga (Mangifera indica L.) menurut perkiraan para ahli berasal
dari daerah sekitar Bombay dan daerah di sekitar kaki gunung Himalaya, kemudian menyebar
keluar daerah, diantaranya Amerika Latin, benua Afrika, juga negara-negara di kawasan Asia
Tenggara, seperti Vietnam, Philipina, dan Indonesia.

Klasifikasi Mangga :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatopyhta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Anancardiales
Famili : Anacardiaceae
Genus : Mangifera
Species : Mangifera indica Linn

Mangga (Mangifera indica) termasuk dalam familia Anacardiaceae, dengan genus


Mangifera.
2
Sebagian besar pohon buah mangga termasuk dalam spesies Mangifera indica (Bally,
2006). Mangga asli Indonesia yang kemungkinan berasal dari kalimantan adalah
mangga kebemben atau mangga kweni (Mangifera odorata) (Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, 2008).

Daun mangga memiliki kandungan diantaranya alkaloid, flavonoid, tanin,steroid, asam


fenolik, ester fenolik, flavonol dan mangiferin (C-glucoxanthones). Mangiferin, C19H18O11
(1,3,6,7-tetrahydroxyxanthone-C2-β-Dglucoside) merupakan kandungan terbesar dalam
ekstrak daun mangga (Leeprechanon and Jutiviboonsuk, 2010; Alshammaa, 2016). Mangiferin
(C-glukosidaxanthone) telah dilaporkan terdapat di daun, buah, kulit batang, kayu dan akar
tanaman mangga (Shah et al., 2010) . Xanthon merupakan kelompok terbatas polifenol yang
secara biosintesis terkait dengan flavonoid. Flavonoid adalah kelompok polifenol tanaman
yang paling umum dan tersebar luas, yang diklasifikasikan sebagai flavon, flavonol, isoflavon
anthocyanin, dan xanthon yang merupakan jenis flavonoid khusus yang juga tersebar luas di
tanaman (Sun et al., 2009)

C. Khasiat Atau Kegunaan

Bagian tubuh dari pohon mangga hampir seluruhnya dapat dimanfaatkan untuk
kesehatan mulai dari getah, kulit batang, daun, buah muda maupun buah masak. Getah mangga
pada bagian kulit batang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk penyakit luar,
seperti kudis dan gatal-gatal, sedangkan penyakit rematik dapat diobati menggunakan kulit
batangnya. Selain untuk manisan, buah manga muda juga berkhasiat untuk mengobati beberapa
penyakit seperti diare, dan wasir, kemudian untuk buah mangga yang masih hijau di India
digunakan sebagai obat pencegah pendarahan, pembentukan sel-sel baru, dan empedu (Aksara,
Musa, & Alio, 2013). Selain itu, daun mangga juga memiliki khasiat sebagai antimikroba,
dimana ekstrak dari daun mangga diketahui mengandung senyawa tanin, alkaloid, saponin,
flavonoid, dan juga senyawa mangiferin. Senyawa mangiferin yaitu golongan xanton dan
phenol, yang dapat dimanfaatkan sebagai senyawa antimikroba (Khaerunnisa, Priani, &
Lestari, 2015). Menurut beberapa peneliti, terdapat beberapa fungsi lain dari senyawa
mangiferin yaitu sabagai antioksidan, anti inflamasi, analgesik, dan peningkat daya tahan tubuh
(Syah, Suwendar, & Mulqie, 2015). Kandungan mangiferin pada bagian daun mangga kurang
lebih sekitar 7% (Fernández-Ponce, Casas, Mantell, & Ossa, 2013).
3
Skrining fitokimia tanaman mangga menunjukkan adanya kandungan alkaloid,
flavonoid, tanin, steroid (Alshammaa, 2016) asam fenolik, ester fenolik, dan mangiferin (C-
glucoxanthones) dalam daun mangga. Kandungan terbesar ekstrak daun mangga adalah
mangiferin yang telah diteliti oleh beberapa peneliti memiliki khasiat antara lain sebagai
antidiabetes, antioksidan, antitumor, immunodulator, aktivitas antiviral, anti-inflamasi,
analgesik, dan antipiretik (Singh et al., 2009; Jutiviboonsuk and Sardsaengjun, 2010).
Penelitian Dar et al. (2005) menunjukkan bahwa mangiferin signifikan mengurangi jumlah
geliat pada tikus yang diinduksi asam asetat maupun yang diuji menggunakan hot plate.
Mangiferin efektif memblok aktivasi sel mikroglia dengan menghambat sintesis enzim COX-
2 sehingga menurunkan produksi prostaglandin yang merupakan mediator nyeri (Bhatia et al.,
2008).

D. Sifat Fisika Kimia


Mangiferin merupakan senyawa senyawa polihidroksi gugus hidroksil, maka juga
bersifat polar sehingga dapat larut dalan pelarut polar seperti air, butanol,dimetil
sulfoksida,dimetil formamida. Di samping itu dengan adanya gugus glikosida yang terikat pada
gugus mangiferin sehingga cenderung menyebabkan flavonoid glikosida ini mudah larut
dalam air. Pemisahan senyawa golongan flavonoid berdasarkan sifat kelarutan dalam berbagai
macam pelarut dengan polaritas yang meningkat adalah sebagai berikut :
1. Flavonoid bebas dan aglikon dalam eter,
2. Glikosida dalam etil asetat
3. Leukoantosianin dalam butanol dan amil alkohol

E. CARA EKSTRAKSI

Mangiferin merupakan senyawa xanton C-glikosida. Pada senyawa tersebut satu atau
lebih gugus akseptor xanton berikatan dengan suatu gula (Ehianeta et al., 2016). Xanton yang
ditemukan pada tumbuhan umumnya bersifat polar, sesuai dengan hukum kelarutan like
dissolves like, artinya kelarutan akan terjadi apabila suatu senyawa memiliki kepolaran yang
sama (Kurniawan, 2012). Air merupakan senyawa polar dan dapat melarutkan senyawa yang
bersifat polar dan semi polar, sehingga diharapkan dapat menyari senyawa mangiferin daun
manga.
4
Metode yang dilakukan adalah infudasi dengan pelarut air. Pembuatan infusa atau
direbus merupakan pembuatan obat yang umum dilakukan dimasyarakat.
Menurut penelitian Acosta et al. (2016) kelarutan mangiferin meningkat dengan adanya
peningkatan
suhu dari pelarut yang salah satunya adalah air, sehingga pembuatan infusa daun mangga
diharapkan dapat menyari lebih banyak senyawa mangiferin yang terkandung dalam daun
manga.

F. FRAKSINASI DAN ISOLASI


Ekstrak metanol yang telah di uji fitokimianya di analisis dengan menggunakan
kromatografi lapis tipis sampai diperoleh pola pemisahan untuk melihat pola noda (kandungan
senyawa). Ekstrak metanol sebanyak 3 gr dipisahkan dengan kromatografi kolom dengan fasa
diam silica gel GF60 dan di elusi berturut-turut. Kemudian hasil pemisahan di analisis dengan
kromatografi lapis tipis untuk melihat pola noda yang sama untuk digabungkan. Hasil
kromatografi kolom mempunyai harga Rf(rate of flow) dan noda yang sama, dikumpulkan
sehingga diperoleh fraksi-fraksi utama. Kemudian dilanjutkan dengan identifikasi senyawa
hasil isolat dengan menggunakan alat UV-VIS dan IR.
Fraksinasi dilakukan dengan cara ekstrak metanol dilarutkan dalam metanol : air (4:1)
dan diaduk sampai semua ekstrak larut. Selanjutnya campuran dimasukkan ke dalam corong
pisah kapasitas 250 mL dan dilakukan fraksinasi menggunakan pelarut n-heksana. Residu
metanol-air yang diperoleh kemudian difraksinasi menggunakan pelarut etil asetat hingga
diperoleh residu metanol-air kembali. Residu metanol-air kemudian ditambahkan 100 mL n-
butanol dalam corong pisah. Campuran dikocok selama 2-3 menit dan dibiarkan hingga
terbentuk dua lapisan yaitu fraksi n-butanol dan fraksi metanol- air. Kedua lapisan tersebut
dipisahkan. Residu metanol-air yang diperoleh difraksinasi kembali menggunakan n-butanol
sebanyak tiga kali dengan langkah yang sama seperti sebelumnya. Selanjutnya fraksin-butanol
yang diperoleh diuapkan pelarutnya dengan rotary evaporatorpada temperatur 800°C dan
putaran 60 rpm serta dialiri gas nitrogen. Fraksi n-butanol yang diperoleh ditimbang dan
dihitung nilai rendemen.
Uji kemurnian dilakukan dengan kromatografi lapis tipis menggunakan beberapa
macam eluen. Jika isolat tetap menunjukkan pola noda tunggal, maka dilakukan uji kemurnian
dengan menggunakan KLT 1 dan 2 dimensi.
5
G. IDENTIFIKASI DENGAN UJI TABUNG

Ekstrak daun mangga diambil 1 mg dan dimasukkan kedalam tabung reaksi diuapkan
sampai kering. Kemudian dilarutkan dalam 1-2 mL metanol panas 50 %. Setelah itu ditambah
logam mg dan 4-5 tetes HCL pekat. Hasil positif jika terbentuk larutan berwarna merah atau
jingga yang terbentuk menunjukkan adanya flavonoid.

H. IDENTIFIKASI DENGAN KLT DAN KROMATOGRAMNYA


Uji kualitatif aktivitas antioksidan ekstrak secara KLT dengan fase gerak yang sesuai
menggunakan penampak bercak DPPH 0,2 % dalam metanol. Komponen antioksidan di dalam
ekstrak yang bereaksi positif terhadap pereaksi DPPH di dalam ekstrak ditunjukkan bercak
yang berwarna kuning dengan latar belakang ungu. Hasil uji kualitatif aktivitas antioksidan
ekstrak dengan penampak bercak DPPH dapat dilihat pada Gambar 2.

6
DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.ums.ac.id/55427/3/BAB%20I.pdf

http://etheses.uin-malang.ac.id/3206/1/11630032.pdf

http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/vektorp/article/download/7525/5198

https://e-journal.unair.ac.id/JKR/article/download/3690/3133

http://ejurnal.stikes-bth.ac.id/index.php/P3M_JKBTH/article/view/161/152

http://repository.unpas.ac.id/32520/3/3.%20BAB%201%20SARAH%20BELLARANI%2C%2013302019
3.pdf

http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/75980/Hidayah%20Dwi%20Renggani%20-
1.pdf?sequence=1

http://www.chemnet.com/cas/my/4773-96-0/mangiferin-from-mangifera-indica-leaves.html

https://www.scribd.com/doc/243957591/Isolasi-Mangiferin-Dari-Daun-Mangga

http://www.molbase.com/en/msds_4773-96-0-moldata-3670.html