Anda di halaman 1dari 39

BAB IV

KALIBRASI ALAT TOTAL STATION

B. Learning outcome : Mampu melakukan kalibrasi alat, prosedur perhitungan, dan


menjelaskan persyaratan penggunaan Total Station
Minggu ke : 5 (lima) dan 6 (enam)

C. Materi
I. Kesalahan yang biasa terjadi pada alat ukur Alat Total Station
Dalam penggunaan total station, akan ditemui beberapa kesalahan yang bisanya
terjadi, kesalahan tersebut bisa dikategorikan dalam tiga hal.
1. Kesalahan yang bersumber dari alat
Tipe kesalahan ini bisa dikategorikan dalam kesalahan yang bersifat tetap, dan
kesalahan yang bersifat sistematik dan bisa direduksi besarnya kesalahan yang
terjadi. Yang termasuk dalam kategori kesalahan yang bersumber dari alat Total
Station ini, antara lain:
i) Kesalahan alat pemusatan (tetap)
ii) Kesalahan alat ukur sudut horisontal dan vertikal (sistematik)
iii) Kesalahan alat ukur jarak (sistematik)
iv) Kesalahan karena tidak tegak lurusnya sumbu vertikal dan sumbu horisontal
(tetap)
v) Kesalahan karena garis bidik yang tidak tegak lurus terhadap sumbu
horisontal (tetap atau sistematik)
vi) Kesalahan karena tidak sejajarnya sumbu horisontal terhadap bidang nivo
(tetap)
vii) Kesalahan-kesalahan lain yang diakibatkan karena kondisi alat baik yang
diakibatkan pemakaian maupun usia.
Kesalahan yang bersifat tetap tersebut, bisa dihilangkan dengan melakukan
koreksi pada fisik alat tersebut. Hal tersebut dilakukan setelah melakukan
serangkaian kegiatan pengecekan sehingga diidentifikasi posisi yang seharusnya.
Sedangkan kesalahan yang bersifat sistematis, bisa direduksi dengan dua cara, yaitu

47
dengan penggunaan metode tertentu pada saat pengukuran data, atau dengan
memberikan koreksi pada data hasil pengukuran.
2. Kesalahan yang bersumber dari operator
Tipe kesalahan ini termasuk pada kesalahan blunder, oleh karenanya susah
untuk direduksi atau dihilangkan. Untuk menghindari ini maka diperlukan
ketelitian baik pada saat melakukan pembidikan target, maupun saat memasukkan
data ke alat pada saat pengukuran, baik pada saat memasukkan nomor titik, kode
titik, tinggi alat, tinggi reflektor, koordinat titik berdiri, maupun koordinat titik
ikatan, dan data lainnya yang sejenis.
3. Kesalahan yang bersumber karena alam
Tipe kesalahan ini termasuk pada kesalahan yang bisa direduksi, dengan
melakukan pengukuran tambahan. Termasuk dalam kesalahan ini adalah, kesalahan
karena refraksi atmosfer, kesalahan karena kelengkungan bumi, kesalahan karena
perbedaan suhu, tekanan, dan kelembaban, serta kesalahan lain yang sejenis.
Pemberian koreksi dari hasil pengukuran tambahan tersebut, akan mereduksi
kesalahan yang terkandung pada data hasil ukuran.

Secara umum, besarnya kesalahan merupakan perbedaan antara data hasil


pengukuran dengan data yang sebenarnya sebagaimana disajikan pada Persamaan
(4.1).
  y   …………………………………………………………………(4.1)
Untuk mengetahui kualitas alat ukur yang kita gunakan dalam pemetaan, maka
sebelum alat tersebut dipakai, sangat dianjurkan untuk melakukan serangkaian
kegiatan pengecekan terlebih dahulu. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi
apakah alat tersebut terdapat kesalahan dalam pengukuran atau tidak, jika ternyata
masih terdapat kesalahan, apakah kesalahan tersebut masih dalam toleransi yang
diijinkan ataukah memang sudah harus dilakukan kalibrasi. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan, dijelaskan sebagai berikut:

48
a. Kesalaah Alat Pemusatan
Alat pemusatan akan memberikan kesalahan baik dalam pengukuran sudut
maupun pengukuran jarak. Kesalahan alat pemusatan ini, baik yang terdapat pada Total
Station itu sendiri maupun alat pemusatan pada prisma/target.

i. Kesalahan pemusatan pada alat Total Station


Setiap kali Total Station didirikan di atas sebuah titik, akan memungkinkan
terjadi kesalahan pemusatan, sehingga posisi alat tersebut tidak berdiri tepat di atas
titik yang sebenarnya. Kesalahan ini bisa jadi diakibatkan karena ketrampilan surveyor
saat melakukan pemusatan dan pemasangan alat (centering), atau karena terjadinya
pergeseran pada kaki tripot baik karena tersentuh, tersenggol, ataupun kurang
kokohnya kaki tripot tersebut berdiri di tanah. Kesalahan yang terjadi bisa
diilustrasikan pada gambar 4.1 berikut:

Gambar 4.1. Ilustrasi kesalahan yang diakibatkan alat pemusatan pada alat Total Station
(Sumber: Ghilani, 2010)

Berdasarkan gambar 4.1 tersebut, diketahui sudut yang sebenarnya adalah 


yang bisa dihitung mengikuti Persamaan (4.2) sebagai berikut:
=( + )−( + )=( − ) + ( +  ) … … … … … … ….(4.2)
Dimana, P1 dan P2 arah target yang sedang diamati ke arah titik backsight dan
foresight. Sedangkan 1 dan 2 adalah besarnya error/kesalahan ke arah target
masing-masing akibat kesalahan pemusatan total station. Besarnya error/kesalahan
yang ditimbulkan disajikan Persamaan (4.3) berikut:
= − … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …(4.3)

49
Analisis kesalahan dalam pengukuran sudut yang diakibatkan oleh salahan alat
pemusatan, bisa diselesaikan dengan pendekatan kesalahan berdasarkan pada
persamaan yang mendasarkan pada posisi x, dan y. jika sumbu x adalah garis yang
dibentuk oleh titik pusat yang sebenarnya kearah titik foresight, dan sumbu y tegak
lurus terhadap sumbu x melewati titik proyeksi sumbu vertikal alat total station, maka
besarnya pergeseran posisi karena kesalahan pemusatan ditunjukkan pada Gambar 4.2.
adapun pergeseran yang terjadi dapat dihitung mengikuti Persamaan 4.4 berikut:
ℎ= −
ℎ= cos( ) − sin( )…………………………. (4.4)
Jika sq = x dan iq = y, maka persamaan terebut bisa dituliskan sebagai mana
diuraikan pada Persamaan 4.5 berikut:
ℎ= cos( ) − sin( )……………………. (5.5)

Gambar 4.2. Efek pergeseran posisi dikarenakan kesalahan pemusatan


(Sumber: Ghilani, 2010)

50
Dari gambar 4.2 tersebut juga bisa didapatkan Persamaan 4.6 dan Persamaan 4.7
berikut:
( ) ( )
= = ……………(4.6)

= ………………….(4.7)

Sehingga besarnya kesalahan yang terjadi bisa dihitung dengan


mensubstitusikan kedua persamaan tersebut pada persamaan 4.3. sehingga dihasilkan
Persamaan 4.8 berikut:
( ) ( )
= ……………..(4.8)

Karena kesalahan/error ini merupakan kesalahan yang bersifat tetap selama


pengukuran pada titik tersebut, maka besarnya kesalahan rata-rata sudut akan sama
dengan besarnya kesalahan pada pengukuran sebuah sudut tunggal. Sehingga bisa
diasumsikan besarnya kesalahan pada arah x akan sama dengan kesalahan pada arah
y, sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 4.3, dan besarnya disajikan pada
Persamaan 4.9 berikut:

Gambar 4.3. besarnya kesalahan pemusatan pada titik berdiri Total Station
= = ………………………(4.9)

Apabila = , bisa didapatkan Persamaan 4.10 berikut:


( ) ( ) ( )
= …………..(4.10)

Untuk menghasilkan besarnya kesalahan yang terjadi, hasil dikalikan dengan

, dimana besarnya  adalah ( ")


=206.264,806.

ii. Kesalahan Alat Pemusatan Target/Prisma


Ketika target/prisma dipasang dan diatur di atas sebuah titik tetap, kemungkinan
akan terjadi kesalahan akibat pemusatan (centering). Hal ini bisa jadi dikarenakan

51
kesalahan operator saat melakukan pemusatan prisma, atau karena kaki tripot tergeser
selama pengukuran, atau juga karena kualitas alat optical plummet yang kurang baik.
Pada saat kalibrasi alat biasanya pergeseran akibat pemusatan ini hanya sebesar 0,001
feet sampai dengan 0,01 feet. Meskipun besarnya kesalahan ini namppak konstan,
akan tetapi arah kesalahnnya akan bervariasi, apalagi dikombinasikan dengan
kesalahan pemusatan pada Total Station yang memiliki karakter yang sama.
Dalam memperkirakan kesalahan jenis ini pada sebuah pengukuran sudut, dapat
dilakukan dengan menganalisis kontribusi kesalahannya pada satu arah tertentu,
segabaimana ditunjukkan pada Gambar 4.4.
Sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 4.4, besarnya kesalahan sudut
karena kesalahan pemusatan tergantung pada posisi target. Jika targetnya berada satu
garis dengan garis bidik, namun letaknya di luar titik pusat, seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 4.4 (a), maka kesalahan pemilahan target tidak berkontribusi pada
kesalahan sudut. Namun, karena target bergerak ke kedua sisi garis penglihatan, maka
nilai kesalahan akan meningkat. Seperti ditunjukkan pada Gambar 4.4 (d), kesalahan
terbesar terjadi ketika target diimbangi tegak lurus terhadap garis bidik. Dengan
memisalkan d untuk mewakili jarak target dari lokasi stasiun yang benar, besarnya
kesalahan maksimum karena ketidakpastian arah yang diakibatkan kesalahan
pemusatan target dijelaskan pada Persamaan 111.
=± (rad) ……………………(4.11)

Dimana e adalah besarnya ketidakpastian dalam arah karena kesalahan


pemusatan target, d jumlah kesalahan pemusatan pada saat pengamatan/pengukuran
sudut (seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.5), dan D adalah jarak dari pusat
instrumen ke target.

52
Gambar 4.4. Kemungkinan letak yang terjadi akibat kesalahan pemusatan
(Sumber: Ghilani, 2010)

Gambar 4.4. Kesalahan dalam pengukuran sudut kerena kesalahan pemusatan target.
(Sumber: Ghilani, 2010)

53
Karena setiap pengamatan sudut harus dilakukan ke kedua arah, maka kontribusi
kesalahan pemusatan target terhadap total kesalahan sudut bisa dihitung dengan
Persamaan 4.12 berikut:

= + ……………….(4.12)

Di mana merupakan kesalahan sudut karena kesalahan pemusatan target,


dan adalah kesalahan pemusatan target di titik 1 dan 2, dan D1 dan D2 adalah jarak
dari instrumen ke target di titik 1 dan 2. Dengan mengasumsikan kemampuan
pemusatan target di atas suatu titik tidak tergantung pada arah tertentu, maka dapat
dikatakan bahwa = = . Hasil akhir dari Persamaan (4.12) tidak memiliki
satuan. Untuk mengubah hasilnya menjadi detik busur, maka harus dikalikan dengan
, dimana besarnya  adalah ( ")
=206.264,806.

iii. Pengecekan kesalahan pemusatan pada alat Total Station dan Target Prisma
Untuk mengetahui alat yang digunakan terdapat kesalahan pada alat
pemusatannya (optical plummet) atau tidak bisa dilakukan pengecekan terlebih dahulu
sebelum dilakukan. Hal ini berlaku pada alat Total Station maupun pada alat prisma
yang menjadi target dalam pengukuran. adapun prosedur pengecekan tersebut
disajikan sebagai berikut:

(a) (b)

Gambar 4.5. Posisi kaki tripot (a) dan kepala tripot (b) pada saat pemasangat
alat Total Station dan target Prisma (sumber: manual Leica TPS800).

54
1) Dirikan alat TS pada tripot dengan posisi stabil, kaki tripot membentuk segitiga
sama sisi dengan panjang sisi yang cukup sehingga alat berdiri kokoh dan tidak
mudah bergerak ketika dilakukan pengoperasian alat, sebagaimana disajikan
Gambar 4.6.a. Agar posisi statif kokoh dan stabil di atas tanah, kaki statif bisa
diinjak sehingga tertanam di tanah. Arah injakan kaki bisa mengikuti gambar 4.6.a
tersebut. Tinggi alat dari titik BM sekitar 1,5 meter.
2) Perhatikan kepala tripot pada saat pemasangan, selalu diusahakan kondisi kepala
tripot mendatar (kurang lebih sejajar bidang nivo), dan lubang tripot tepat di atas
titik Bench Mark (BM), sebagaimana disajikan pada Gambar 4.6.b. Untuk
memastikan lubang tripot tepat diatas titik BM, maka pengamatan secara visual
melalui lubang statif ke arah titik BM bisa dilakukan. Penggunaan batu kecil yang
dijatuhkan dari lubang tripot juga bisa dilakukan dalam hal ini. Jika batu tersebut
jatuh di dekat titik BM maka posisi tersebut sudah cukup ideal untuk pemasangan
alat maupun target.
3) Tepatkan titik BM pada alat pemusatan (optical plummet) yang ada pada alat Total
Station atau Prisma, dengan cara memutar sekrup ABC pada kaki tribrach. Sampai
dengan titik BM tepat berada ti tengah-tengah alat pemusatan.
4) Selanjutnya seimbangkan gelembung pada nivo (nivo kotak dan nivo tabung)
dengan cara menaikkan atau menurunkan kaki-kaki tripot, serta memutar sekrup
ABC sehingga nivo benar-banar seimbang di semua posisi pada saat diputar 360o
(posisi gelembung selalu di tengah), sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar
4.7.

55
Gambar 4.6. Menyeimbangkan gelembung pada nivo alat Total Station dan Prisma
(sumber: manual Leica TPS800, dan manual Nikon DTM302).
5) Lakukan pengecekan alat pemusatan, dengan cara mengamati posisi titik BM pada
alat pemusatan. Sambil tetap mengamati titik BM dari alat pemusatan, putarlah alat
Total Station atau Prisma sehingga memutar 3600 penuh terhadap sumbu I. Selama
berputar, amati posisi titik terhadap lingkaran penanda pada alat pemusatan.
Toleransi pergeseran yang diijinkan maksimal 3mm pada tinggi alat 1,5 meter.

Gambar 4.7. Pengamatan ketidaktepatan pada alat pemusatan (optical plummet)


(Sumber: manual Nikon DTM302).

56
6) Jika titik BM tetap berada pada posisinya (di tengah lingkaran penanda alat
pemusatan), bearti alat pemusatan (optical plummet) dalam kondisi baik. Jika tidak
maka perlu diukur besarnya penyimpangan yang terjadi, dan lakukan koreksi.
Ilustrasi mengenai hal ini disajikan pada Gambar 4.9.

(a) (b)

Gambar 4.8. Ilustrasi ketepatan (a) dan ketidaktepatan (b) yang terjadi pada alat
pemusatan (optical plummet) pada Total Station dan Prisma
(sumber: manual Leica TPS800).
7) Koreksi dapat dilakukan dengan melakukan pengaturan (adjustment) pada sekrup
yang ada di alat pemusatan (optical plummet) sebagaimana yang disajikan pada
gambar 4.10. pemberian koreksi ini dilakukan bertahap (setiap separoh dari nilai
kesalahan). Sangat disarankan kepada mahasiswa untuk tidak melakukan
koreksi ini, kecuali didampingi oleh Laboran atau Dosen pengampu praktikum.

57
Gambar 4.9. ilustrasi koreksi pada alat pemusatan (optical plummet) di Total Station
(sumber: manual Nikon DTM302).
b. Kesalaah Alat Pengukur Bacaan Sudut
Alat ukur sudut pada Total Staion, dipersiapkan untuk melakukan pengukuran
sudut secara teliti. Hal ini bisa dilihat dari kemampuan pembacaan terkecil yang bisa
dilakukan oleh Total Station, maupun kepresisian bacaan sudut yang dituliskan pada
manual alat Total Station tersebut. Biasanya ketelitian pengukuran sudut bergantung
pada ketelitian pembidikan teropongnya. Besarnya kesalahan pembidikan ini biasanya
berkisar antara 1”-5”, baik dalam pengukuran sudut horizontal maupun sudut vertikal.
Dengan diketahuinya kesalahan pengukuran sudut pada Total Station ini adalah ,
maka besarnya kesalahan pengukuran sudut akibat pembidikan ( ) bisa dihitung
dengan mengikuti Persamaan 4.13 berikut:

= √
……………………(4.13)

Pada alat Total Station, kesalahan pembidikan dan pembacaan ini bisanya
tertuliskan pada manual alat tersebut, yang bisa dikenal dengan istilah published DIN
18723 value. Denngan adanya nilai DIN tersebut, maka persamaan 5.13 berubah
menjadi Persamaan 4.14 berikut:
= √
…………………(4.14)

Alat pengukur sudut pada Total Station ini dilengkapi dengan dua sumbu utama,
yaitu sumbu vertikal yang arahnya sama dengan arah gaya berat, dan sumbu horisontal
yang arahnya tegak lurus terhadap sumbu utama. Kebaradaan kedua sumbu tersebut,

58
memungkinkan teropong bisa mengamati objek di segala arah. Untuk melakukan
pengukuran sudut, pada kedua sumbu tersebut dilengkapi dengan alat ukur sudut.
Keberadaan sumbu-sumbu dan posisi alat pengukur sudut pada Total Station,
diilustrasikan pada Gambar 5.11. berikut:

alat pengukur
sudut vertikal

alat pengukur sudut


horisontal
sumbu
vertikal

Gambar 4.10. Ilustrasi sumbu-sumbu pada alat Total Sation dan posisi alat pengukur
sudut horisontal dan alat ukur sudut vertikal.
Gambar tersebut posisi teropong pada kondisi face right (F2).

Dengan kemampuan teropong berputar pada arah horizontal dan vertikal tersebut
menyebabkan alat mampu membaca sudut horizontal dan vertikal pada dua buah posisi.
Posisi pertama apabila alat pembaca sudut vertikal ada di sebelah kiri pengamat. Posisi
ini dikatakan sebagai posisi muka kiri (face left) atau F1. Sedangkan pada saat posisi
alat pembaca sudut vertikal ada di sebelah kanan pengamat, dikatakan sebagai muka
kanan (face right) atau F2. Selisih bacaan piringan horizontal pada kedua posisi tersebut
sebesar 180°, sebagaimana tersaji pada Persamaan 4.15. Sedangkan jumlah bacaan
piringan vertikal pada kedua posisi tersebut adalah 360o sebagai mana diuraikan pada
Persamaan 4.16 berikut:
− = 180° ………………(4.15)
+ = 360°…………..(4.16)

59
Apabila kedua kondisi tersebut tidak terpenuhi, maka dipastikan telah terjadi
kesalahan pada data pengukuran yang dihasilkan oleh alat Total Station tersebut.
Besarnya kesalahan ini harus ditentukan sebelum instrumen digunakan untuk pertama
kalinya, atau sebelum survei teliti dilakukan. Pengecekan besar kesalahan juga harus
dilakukan setelah pengangkutan yang memerlukan jangka waktu lama, maupun pada
kondisi sesudah masa kerja yang lama, dan bila terjadi perubahan suhu lebih dari 10° C.
Disamping kesalahan pembidikan dan ketelitian pembacaan sudut, terdapat dua
kesalahan lain yang terkait dengan alat ukur sudut pada Total Station, yaitu kesalahan
garis bidik (kolimasi) dan kesalahan indeks vertikal. Penjelasan lebih rinci mengenai
jenis kesalahan yang terjadi, cara melakukan pengecekan alat, serta cara menghitung
besarnya kesalahan disajikan pada sub-bab berikut ini.

i. Kesalahan kolimasi
Posisi garis bidik pada alat ukur sudut di Total Station harus selalu tegak lurus
terhadap sumbu putaran teropong. Apabila posisi ini tidak terpenuhi, mengakibatkan
adanya perbedaan antara arah bidikan dan besarnya bacaan pada alat pembaca piringan
horisontal. Kesalahan ini biasa disebut sebagai kesalahan garis bidik atau kesalahan
kolimasi (colimation error). Ilustrasi kesalahan garis bidik (collimation error) disajikan
pada Gambar 4.12.

sumbu
vertikal

Gambar 4.11. Ilustrasi kesalahan garis bidik, dan penyimpangannya pada saat
bacaan face left (F1) dan face right (F2).

60
Sebagaimana yang disajikan pada Gambar 4.12, besarnya penyimpangan garis
bidik terhadap arah yang seharusnya ini bersifat tetap selama pengukuran. Oleh karena
itu dengan menggunakan metode pengamat dua muka (F1 dan F2), besarnya kesalahan
ini bisa dihitung dengan merujuk pada persamaan 4.15, dan Gambar 4.12, sehingga
menjadi Persamaan 4.17 berikut:
° ( )
= …………………(4.17)

Pengaruh kesalahan kolimasi dalam pengukuran sudut horisontal, akan cenderung


meningkat apabila sudut vertikal (sudut terhadap bidang horisontal / helling) semakin
besar. Pengaruh kesalahan kolimasi paling minimum pada saat pengamatan dilakukan
pada bidang horisontal.

ii. Kesalahan indeks vertikal


Pembacaan piringan vertikal pada alat pengukur sudut vertikal di Total Station
menggunakan prinsip sudut zenit, dimana posisi nol (0) piringan ada pada arah vertikal
ke atas. Apabila posisi nol piringan tersebut tidak pada sumbu zenit, maka akan terjadi
kesalahan pengukuran sudut vertikal. Ketidak tepatan posisi nol piringan vertikal pada
sumbu zenit, disebut sebagai kesalahan indeks vertikal. Ilustrasi kesalahan ini disajikan
pada Gambar 4.13. Sebagaimana yang disebutkan pada persamaan 4.16, bahwasannya
jumlah bacaan sudut vertikal pada saat posisi teropong pada kedudukan F1 dan F2
adalah 360o. Oleh karena itu, besarnya kesalahan indeks vertikal yang terjadi bisa
dihitung dengan menggunakan persamaan Persamaan 4.18. berikut:
° ( )
= …………………….(4.18)

61
bacaan piringan
posisi nol bacaan vertikal yang
yang salah salah

bacaan piringan
posisi nol bacaan vertikal yang
yang seharusnya benar

besar kesalahan
indeks vertikal

sumbu
vertikal

Gambar 412. Ilustrasi kesalahan indeks vertikal.

iii. Pengecekan kesalahan kolimasi dan indeks vertikal


Untuk menentukan kesalahan alat pengukur sudut pada Total Station, baik
kesalahan kolimasi maupun kesalahan indeks vertikal, ikuti prosedur berikut ini:
1) Dirikan tripot di atas titik BM, dan pasanglah instrumen Total Station pada kepala
tripot kemudian kunci sekrup utama, yang berada di kepala tripot agar alat kokoh
pada posisinya.
2) Atur agar sumbu I vertikal dan sumbu II horisontal dengan jalan memasukkan
gelembung nivo, sehingga selalu berada di tengah untuk semua posisi ketika alat
diputar terhadap sumbu I. Pengaturan gelembung nivo bisa dengan menggerakkan
kaki tripot naik-turun, atau dengan memutar sekrup ABC, atau kombinasi antara
keduanya.
3) Posisikan agar teropong Total Station pada kedudukan muka kiri (face left atau F1).

62
4) Pastikan kondisi alat Total Station dalam kondisi kokoh, aman, dan kencang.
Kondisi alat juga harus terlindungi dari sinar matahari langsung agar tidak terjadi
pemuaian bagian alat yang tidak merata.
5) Pilih target yang bisa diamati dengan tepat dan baik, dengan jarak alat ke target
maksimal 100 meter, dan sudut elevasi tidak lebih dari 5o. Ilustrasi pembidikan
posisi alat dan target disajikan pada gambar 5.14 berikut:

Gambar 4.13.Ilustrasi pembidikan target dalam pengecekan alat ukur sudut


di Total Station (Sumber: manual Leica TPS800).
6) Tampilkan menu pengukuran dasar (BMS – basic measurement screen) pada
display alat Total Station. Aturlah tampilan pada display tersebut, sehingga muncul
hasil pembacaan piringan horisontal dan piringan vertikal.
7) Arahkan teropong tepat pada target, kemudian baca hasil pembacaan piringan
horisontal dan hasil pembacaan piringan vertikal. Catatlah kedua bacaan piringan
tersebut.

63
8) Putar Total Station 180o pada sumbu I, dan arahkan kembali teropong tepat ke arah
target, sehingga kedudukan teropong saat ini pada muka kanan (face right atau F2).
Ilustrasi perubahan posisi F1 ke F2 disajikan pada gambar berikut:

Gambar 4.14. Ilustrasi perubahan kedudukan teropong, dari F1 ke F2


(Sumber: manual Leica TPS800).
9) Baca dan catatlah hasil pembacaan piringan horisontal dan hasil pembacaan
piringan vertikal.
10) Lakukan pengecekan hitungan mengikuti persamaan 4.15 dan 4.16. Apabila kondisi
tersebut terpenuhi, maka alat pengukur sudut dalam kondisi layak pakai, baik untuk
kolimasi maupun indeks vertikalnya.
11) Jika hasil pengecekan ternyata kondisi kedua persamaan tersebut tidak terpenuhi,
akan tetapi besar kesalahan masih di bawah ketelitian bacaan alat maka kesalahan
terebut masih dalam toleransi. Apabila sudah melebihi ketelitian bacaan alat ukur
sudut, maka Total Station tersebut perlu dilakukan kalibrasi.
12) Fungsi kalibrasi untuk alat pengukur sudut yang ada pada Total Sation biasanya
pada menu ”Calibrate” atau ”Adjust”.
13) Dalam melakukan prosedur kalibrasi ini, minimal dilakukan pada dua buah target.
Target pertama berada pada posisi horisontal, dan target kedua pada posisi sudut

64
helling sekitar 30o. Kedua target tersebut berada pada jarak sekitar 30 meter dari
alat. Ilustrasi posisi target terhadap alat ditampilkan pada gambar berikut:

Gambar 4.15. ilustrasi posisi target dalam kalibrasi alat pembacaan sudut
horisontal dan vertikal (Sumber: manual Trimble M3).
14) Ikuti prosedur kalibrasi yang ada pada menu-menu tersebut, dan hasil akhirnya akan
didapatkan besaran ”kesalahan vertikal” dan ”kesalahan horisontal”. Mungkin
kalibrasi akan dilakukan berulang (jika memang diperlukan), sampai dengan
besarnya kesalahan vertikal dan kesalahan horisontal lebih kecil dari ketelitian
bacaan sudut Total Station tersebut.

c. Kesalahan Alat Pengukur Jarak


Pengukuran jarak dalam Total Station dilakukan dengan memanfaatkan
gelombang elektromagnetik. Ada tiga jenis gelombang yang sementara ini digunakan
dalam pengukuran jarak, yaitu: gelombang infra merah, gelombang sinar tampak, dan
gelombang mikro. Gelombang sinar tampak dalam hal ini berupa sinar LASER (Light
Amplification by Stimulated Emission of Radiation), yaitu gelombang sinar tampak yang
diperkuat pada saat dipancarkan. Gelombang elektromagnetik tersebut dipancarkan
dalam media udara, yang kita ketahui memiliki suhu, kelembaban, dan tekanan yang
berubah-ubah. Oleh karena itu, sangat dimungkinkan setiap pengukuran jarak terjadi
kesalahan data hasil ukuran. Kesalahan tersebut perlu untuk dicek, apakah kesalahan
yang terjadi masih dalam toleransi ataukah tidak, sehingga alat Total Station tersebut
masih mampu memberikan data yang dapat dipercaya.

65
Kesalahan yang mempengaruhi pengukuran TS dapat dibagi menjadi dua
komponen internal dan eksternal. Yang termasuk dalam kesalahan internal adalah:
kesalahan nol (zerro error), kesalahan skala (scale error), kesalahan siklik (cyclic
error), dan pengukuran fasa (phase measurement error). Kesalahan nol, kesalahan
skala, dan kesalahan siklik diklasifikasikan ke dalam kesalahan sistematis. Hal ini
dikarenakan kesalahan ini bisa direduksi dengan menggunakan metode perhitungan dan
pengukuran tertentu. Sementara kesalahan pengukuran fasa disebut sebagai kesalahan
acak, yang sudah untuk direduksi.
Kesalahan nol adalah kesalahan sistematis yang konstan, sehingga berapapun
jarak yang diukur akan memberikan besar kesalahan kesalahan yang tetap. Kesalahan
skala adalah kesalahan sistematis tambahan, yang besarnya akan selalu berubah
sebanding dengan panjangnya jarak yang diukur. Sedangkan kesalahan siklik adalah
kesalahan sistematis periodik, yang besarnya akan bertambah secara periodik sesuai
rentang pengukuran jarak tertentu.
Kesalahan eksternal terutama disebabkan oleh perbedaan suhu dan tekanan di
atmosfer yang menyebabkan adanya refraksi (pembiasan), dan kesalahan karena
kelengkungan bumi. Kesalahan tipe ini juga bisa direduksi dengan memberikan besaran
koreksi pada data hasil pengukuran jarak. Penjelasan rinci mengenai hal ini akan
disajjikan dalam pembahasan selanjutnya.
Secara umum, evaluasi kesalahan nol, kesalahan skala, dan kesalahan siklik
merupakan tujuan dari proses kalibrasi jarak pada alat Total Station. Dalam beberapa
pekerjaan terkait dengan kalibrasi, ketiga kesalahan tersebut secara simultan bisa
diselesaikan dengan sebuah sistem persamaan linier yang memiliki dua buah parameter
(sebuah konstanta penambah dan sebuah konstanta pengali). Persamaan tersebut akan
bisa diaplikasikan secara tepat jika pengukuran dilakukan pada serangkaian titik-titik
yang membentuk sebuah garis lurus. Hal ini dikarenakan persamaan yang digunakan
hanya terdiri dari dua parameter dalam sebuah persamaan linier, sebagaimana disajikan
pada Persamaan 4.19. berikut:
= + ∗ ………………..(4.19)
Dalam hal ini, D merupakan ketelitian ukuran jarak, dalam satuan milimeter
(mm); a merupakan konstanta penambah, dalam satuan milimeter (mm); b adalah

66
konstanta pengali, dalam satuan part per million (ppm); dan D merupakan jarak terukur,
dalam satuan milimeter (mm).
Untuk menghitung besarnya kesalahan skala, dan sekaligus kesalahan nol (secara
simultan), diperlukan serangkaian garis basis yang memiliki panjang dan urutan yang
tertentu. Biasanya dalam kondisi seperti ini akan digunakan serangkaian titik tetap yang
terpasang secara permanen dan selalu dipelihara keberadaannya, baik mengenai kondisi
fisiknya, maupun dalam hal data jarak yang sebenarnya. Contoh pilar tetap yang
digunakan dalam pekerjaan ini disajikan pada Gambar 4.17. berikut:

Gambar 4.16. Pilar Bench Mark permanen dan standar JUPEM yang digunakan untuk
proses kalibrasi alat ukur jarak pada Total Station di Perak-Malaysia.
Akan tetapi dalam pengecekan kesalahan nol (zero error) saja (secara terpisah),
panjangnya garis basis tidak disyaratkan untuk diketahui. Hal ini dapat dicapai dengan
mengukur jarak antara beberapa titik dalam sebuah garis lurus, seperti yang

67
diilustrasikan pada Gambar 4.18. Apabila tidak terdapat BM yang permanen dan
termonitor dengan baik panjang jarak antar pilar, maka penentuan kesalahan skala dan
kesalahan nol secara simultan (kalibrasi alat ukur jarak pada Total Station) juga bisa
dilakukan pada serangkaian titik dalam sebuah garis lurus sebagaimana dimaksud pada
gambar 4.18 tersebut. Ukuran panjang setiap garis basis (x1, x2, x3, x4, x5, dan x6) dan
besarnya kesalahan nol (zero error) harus dihitung terlebih dahulu secara teliti dengan
menggunakan metode hitung perataan (adjustment computation). Diasumsikan dengan
perhitungan tersebut, akan dihasilkan data ukuran jarak yang terbebas dari kesalahan.
Dan dipastikan pula dalam pembuatan garis basis tersebut titik-titik yang ada benar-
benar dalam kondisi lurus.

x1 x2 x3 x4 x5 x6

l1
l2
l3
l4
l5
l6
l7
l8
l9
l10
l11
l12
l13
l14
1 l15
l16
l17
l18
l19
l20
l21

Gambar 4.17. Ilustrasi pengukuran jarak dalam rangka kalibrasi alat ukur jarak pada
Total Station.

i. Pengecekan kesalahan pengukuran jarak


Yang dimaksudkan dalam kesalahan pengukuran jarak dalam hal ini adalah
kesalahan nol atau zero error. Kesalahan nol adalah kesalahan sistematik yang hampir
konstan yang dapat muncul dari sejumlah sumber kesalahan, beberapa sumber
kesalahan terlihat jelas dan yang lainnya tidak begitu jelas. Intinya, kesalahan seperti itu

68
akan muncul jika panjang garis secara geometris (yang ditandai dengan jarak antara
sumbu I alat Total Station dan sumbu I target Prisma), tidak sama persis dengan jalur
elektro-optik yang diukur oleh gelombang elektromagnetik.
Kesalahan seperti itu mungkin akan tampak jelas, ketika pengukuran dilakukan
dengan menggunakan dua buah prisma reflektor yang memiliki konstanta prisma
berbeda, kemudian saat pengukuran saling dipertukarkan. Kesalahan jenis ini juga dapat
muncul setelah alat Total Station diperbaiki, sehingga telah mengalami perubahan pada
jalur elektro-optik internal yang ada di dalam alat Total Station. Kesalahan nol juga
mencakup kesalahan yang diakibatkan oleh tidak termodelkannya offset pusat elektris
(electrical center) pada total station dan tidak termodelkannya offset pada prisma.
Untuk mengetahui besarnya kesalahan nol pada alat Total Station, bisa dilakukan
prosedur pengecekan sederhana sebagai berikut:
1) Tentukan penggal jarak PQ yang jarak memiliki jarak sekitar 100 meter di
lapangan. Tentukan titik R yang posisinya berada di antara kedua titik tersebut, dan
ketiga titik tersebut benar-benar membentuk sebuah garis lurus. Untuk memastikan
kelurusan titik-titik tersebut, bisa dibantu dengan benang silang teropong pada saat
melakukan pelurusannya. Titik-titik tersebut terletak pada tempat yang relatif datar.
Ilustrasi penempatan titik tersebut disajikan pada Gambar 5.19.

Gambar 4.18. Penempatan titik-titik dalam pengecekan kesalahan nol


(sumber: manual Trimble M3).

69
2) Dirikan alat TS pada titik P, dan dirikan sebuah prisma standar pada titk Q. Pastikan
sumbu I vertikal dan tepat di atas titik kedua titik tersebut, serta kondisi nivo tabung
seimbang pada semua posisi ketika alat dan target diputar 360o.
3) Hidupkan instrumen sehingga pada layar tampil menu pengukuran jarak atau mode
Basic Measurement Screen (BMS). Untuk memberikan data ukuran yang teliti,
dilakukan pengecekan pada menu pengaturan satuan jarak, sehingga satuan (unit)
pengukuran jarak adalah satuan meter, dan hasil ukuran jarak yang dihasilkan
sampai dengan 3 digit di belakang koma (mode fine atau precise).
4) Masukkan konstanta prisma yang benar pada menu yang sesuai di Total Sation.
Untuk memastikan besarnya konstanta prisma yang benar, bisa diukur jarak 10
meter menggunakan pita ukur, kemudian masukkan konstanta prisma yang tertulis
pada papan target di prisma (biasanya 0 mm, –30 mm, atau + 30 mm) di menu Total
Station. Apabila ternyata jarak yang terukur tidak sama dengan 10 meter, maka
besarnya konstanta prisma bisa dirubah di menu Total Station, atau posisi prisma
bisa diputar ke arah sebaliknya.
5) Tekan tombol pengukuran jarak (measure), untuk melakukan pengukuran jarak.
Dalam hal ini yang terukur adalah jarak miring (slope distant), akan tetapi oleh
Total Station bisa menghitungkan jarak datarnya dengan mengkombinasikan
terhadap data pengukuran sudut vertikal. Untuk mendapatkan data pengukuran
yang baik, lakukan pengukuran sebanyak 5 kali pada setiap penggal jarak (untuk
mendapatkan data rata-rata dan standar deviasi nya).
6) Lakukan pengukuran untuk penggal jarak PQ, PR, dan QR. Selanjutnya hitunglah
jarak rata-rata pada setiap penggal jarak tersebut.
7) Hitung nilai kesalahan pengukuran jarak (zero error) pada alat Total Station
tersebut menggunakan Persamaan 4.20. berikut:
= −( + ) ………………(4.20)
8) Apabila pada manual alat dituliskan ketelitian pengukuran jarak  3mm + 3ppm*D,
maka nilai k tidak boleh lebih besar dari 3mm (dalam jarak 100 meter). Apabila
nilai k lebih besar dari 3mm berarti alat tersebut perlu untuk dikalibrasi.

70
Untuk mengetahui besarnya kesalahan nol pada alat Total Station yang lebih teliti,
bisa dilakukan prosedur pengecekan dengan mengaplikasikan perhitungan kuadrat
terkecil (least square adjutment), yang prosedurnya dijabarkan sebagai berikut:
1) Penentuan kesalahan pengukuran jaral atau kesalahan nol (zero error) juga bisa
dilakukan dengan melakukan pengamatan sebagaimana diilustrasikan pada Gambar
4.18. dari pengamatan seperti itu akan didapatkan lebih banyak data pengukuran
penggal jarak. Jumlah penggal jarak juga bisa dimodifikasi (baik dalam hal jumlah
titik, maupun panjang jarak antar garis basis) sesuai kebutuhan dan panjang medan
pengukuran yang ada.
2) Apabila merujuk pada titik permanen BM JUPEM yang ada di Perak-Malaysia
berjumlah 10 titik. Yang ditunjukkan dari gambar 4.18 hanya menggunakan 7 buah
titik dari 10 buah titik yang ada. Atau kita bisa mendesain hanya 4 buah titik saja.
Misalkan titik A, B, C, dan D yang jarak totalnya dilapangan hanya 60 meter saja,
dan jarak masing-masing penggal AB, BC, dan CD, adalah 10m, 20m, dan 30m
pada sebuah garis yang benar-benar lurus.
3) Akan tetapi pada yang diuraikan dalam uraian ini desain pengukuran jarak untuk
penentuan zero error ini disajikan pada Gambar 4.20. Sekilas gambar 4.20 dengan
gambar 4.18 nampak sama, akan tetapi kedua gambar tersebut berbeda pada
pendefinisan parameter jarak yang akan dihitung. Hal ini sengaja dilakukan untuk
menunjukkan bahwa desain perhitungan bisa dilakukan mengikuti kondisi yang ada
pada kedua gambar tersebut.

71
x
x 6
x 5
x 4
x 3
x 2
1
P P P P P P P
1 2 3 4 5 6 7

l
1
l
2 l
3 l
4 l
5 l
l 6
7 l
8 l
9 l
10 l
11
l
12 l
13 l
14
l
l 15
16 l
17 l
18
l
19 l
20
l
21

Gambar 4.19. desain pengukuran dan perhitungan


kesalahan pengukuran jarak (zero error)
4) Lakukan pengukuran sebanyak 5 kali pada setiap penggal jarak, sebenarnya
pengukuran minimal 2 kali, sehingga setiap penggal jarak bisa didapatkan data rata-
rata dan standar deviasi nya.
5) Perhitungan besarnya kesalahan nol (zero error) bisa dengan menerapkan cara
aljabar sederhana dengan mencari nilai rata-rata sehingga didapatkan Persamaan
4.21. berikut:
= −( − )

= −( − )

… …

= −( − )


= ………………(4.21)

72
6) Dengan menerapkan aaturan penyelesaian metode kuadrat terkecil, dengan metode
parameter akan menghasilkan informasi berikut:
a) Unsur-unsur dari model tersebut adalah sebagai berikut:
b) Jumlah pengamatan jarak (n) = sebanyak 21, yaitu l1 sampai dengan l21
c) Banyaknya parameter yang dihitung (u) = 6 +1, yaitu x1, x2, x3, x4, x5, x6, dan zo
d) Jumlah persamaan yang terbentuk (r) = n = 21
7) Besaran panjangan AB, BC, dan CD, serta kesalahan pengukuran jarak (zero error)
bisa ditentukan dengan mengikuti prinsip hitung kuadrat terkecil metode parameter
sebagaimana disajikan persamaan berikut:
l1  v1  x1  z o

l2  v2  x2  z o

l 3  v3  x3  z o

l4  v4  x4  z o

l 5  v5  x5  z o

l6  v6  x6  z o

l 7  v7  x 2  x1  z o

l8  v8  x3  x1  z o

l 9  v9  x 4  x1  z o

l10  v10  x5  x1  z o

l11  v11  x6  x1  z o

l12  v12  x3  x 2  z o

l13  v13  x 4  x 2  z o

l14  v14  x5  x 2  z o

73
l15  v15  x6  x 2  z o

l16  v16  x 4  x3  z o

l17  v17  x5  x3  z o

l18  v18  x6  x3  z o

l19  v19  x5  x 4  z o

l 20  v 20  x6  x 4  z o

l 21  v 21  x6  x5  z o

8) Dalam bentuk matriks, persamaan tersebut bisa disajikan sebagai Persamaan 4.22
dan Persamaan 4.23 berikut:
V  L  A X …………….(4.22)
21,1 21,1 21, 7 7 ,1

 v1   l1   1 0 0 0 0 0  1
v  l   0 1  1
 2  2  0 0 0 0  x1 
 v 3   l 3   ... ... ... ... ... ... ...  x 
       2
 v 4   l 4   1 1 0 0 0 0  1  x3 
 v5  +  l 5  =   1 0  
1 0 0 0  1  x 4  …………(4.23)
     
 v6   l 6   ... ... ... ... ... ... ...   x5 
 v   l   0 1  
1 0 ... 0  1  x6 
 7  7  
 ...   ...   ... ... ...  z 
... ... ... ...  o
v  l   0 0 0 1  1
 21   21   0 1

9) Selanjutnya hitunglah besarnya parameter-parameter yang akan dihitung pada


Matriks X mengikuti Persamaan 4.24. Hitung pula besarnnya ketelitian setiap
parameter yang ditunjukkan dengan besaran standar deviasi dari hasil perhitungan
tersebut mengikuti Persamaan 5.25 .
^
X  ( AT PA) 1 AT PL …………………(4.24)

74
^ 2
 X   o ( AT PA) 1 ……………..(4.25)
^ 2
 o  (V T PV ) / n  u …………..(4.26)
10) Dalam hal ini, P merupakan matriks bobot;  o2 adalah varian apriori; X
^ 2
merupakan matriks varian-kovarian dari parameter;  o adalah varian aposteori; n
merupakan jumlah pengamatan; dan u adalah jumlah parameter yang tidak
diketahui.
11) Besarnya matriks P ditentukan berdasarkan standar deviasi setiap pengukuran
penggal jarak yang dilakukan oleh Total Station. Sehingga bisa didapatkan matriks
P sebagaimana yang disajikan pada persamaan berikut:

 1 2 0 0 0 0 
  l1 
 0 1 2 0 0 0 
 l 2 
P=  2 
o  0 0 1 2 0 0  …………(4.27)
l3
 ... ... ... ... ... 
 
 0 0 0 0 1 2 
  l 21
12) Untuk mempercepat proses perhitungan, atau dikarenakan kurangnya data
pengukuran beberapa penggal jarak, atau beberapa alasan lain, maka besarnya
ketelitian (standar deviasi) setiap ukuran penggal jarak bisa diasumsikan sama.
Sehingga matriks P dalam perhitungan sering/bisa diganti dengan matrisk identitas.

ii. Pengecekan konstanta penambah dan konstanta pengali


Nilai kesalahan pengukuran jarak (zero error) telah dihitung dari perhitungan
sebelumnya. Berdasarkan hasil perhitungan zero error tersebut, selanjutnya besarnya
kesalahan dikoreksikan untuk semua panjang jarak yang diukur, sehingga didapatkan
data jarak yang benar. Kalibrasi alat ukur jarak diperlukan untuk memastikan bahwa
data jarak hasil ukuran Total Statiun tersebut bisa dipercaya dan memberikan nilai yang
benar. Sebenarnya kalibrasi dilakukan tidak hanya untuk alat Total Station saja, akan
tetapi juga untuk reflektor yang digunakan. Dengan digunakannya reflektor yang

75
berbeda-beda akan bisa diketahui pengaruh reflektor kesalahan pengukuran jarak.
Target tersebut bisa dibuat beberpa versi, baik dari sisi bahan maupun warnanya,
sebagaimana yang disajikan pada gambar 4.21. berikut:

material warna hitam material warna putih material warna merah

material bahan beton Material bahan kayu material bahan keramik


Gambar 4.20. Contoh bahan dan warna target yang dirubah untuk mengetahui
besar dan pengaruhnya dalam penentuan kesalahan pengukuran jarak.
Penentuan besarnya konstanta pengali dan konstanta penambah pada alat ukur
Total Station merupakan suatu tahapan penting dalam prosedur kalibrasi alat pengukur
jarak. Pada tahap ini kesalahan yang ada dalam pengukuran jarak bisa dimodelkan.
Sebagaimana diuraikan pada penjelasan sub-bab sebelumnya, kesalahan dalam
pengukuran jarak terdiri dari kesalahan nol (zero error), kesalahan skala (scale error),
dan kesalahan siklik (cyclic error).
Zero error termasuk dalam tipe kesalahan sistematik. Setiap jarak yang diukur
menggunakan total station pasti mengandung kesalahan ini. Secara umum hal ini
diakibatkan oleh tiga faktor utama: (1) electrical delays, geometric detours, dan
eccentricities pada alat total station; (2) perbedaan posisi pusat eletronis dan pusat
mekanis total station; (3) perbedaan pusat optik dan pusat mekanis pada prisma/target.
Oleh karena adanya kesalahan ini, maka diperlukan sebuah konstanta penambah untuk
mengkoreksi kesalahan pengukuran jarak pada alat total station.

76
Kesalahan skala (scale error) termasuk kesalahan sistematis. Kesalahan skala ini
merupakan sebuah kesalahan yang proporsional dan berbanding lurus dengan panjang
jarak yang diukur. Ini bisa muncul dari: (1) variasi modulasi frekuensi pada alat total
station; (2) pola pemancaran dan penerimaan yang tidak homogen dari dioda pemancar
dan penerima; (3) kondisi atmosfer yang tidak termodelkan; dan (4) kesalahan dalam
pengumpulan dan penggunaan data atmosfer (suhu, kelembaban, dan tekanan).
Kesalahan siklik (cyclic error) termasuk dalam tipe kesalahan sistematik yang
periodik. Kesalahan siklik merupakan sebuah fungsi pengukuran fase gelombang secara
internal di dalam total station. Kesalahan pengukuran fase tersebut disebabkan
pembagian yang tidak benar pada perbedaan sinyal gelombang yang dipancarkan dan
yang diterima. Kesalahan siklik biasanya berpola sinosida, dengan panjang gelombang
sama dengan satuan panjang dari total station. Satuan panjang tersebut sama dengan
satu setengan kali panjang gelombang modulasi dari total station. Sebagai sebuah
kesalahan yang bersifat siklik, maka dia akan berulang setiap satuan panjang terntentu
dalam pengukuran jarak, yang tanda dan besarnya tergantung pada panjang pengukuran.
Besarnya kesalahan siklik biasanya meningkat sebanding dengan usia pakai dari total
station.
Ketelitian pengukuran jarak pada total station secara umum disajikan dalam
persamaan 4.19. Berdasarkan persamaan terbut, maka dalam melakukan kalibrasi total
station untuk menentukan besarnya konstanta penambah dan konstanta pengali
persamaan tersbut menjadi Persamaan 4.26. Masukan data yang digunakan adalah jarak
hasil pengukuran (Do) dan data jarak garis basis pilar kalibrasi yang sebenarnya (Dp).
( Do  D p )  V Do  a * D p  b ………………..(4.26)

Dengan merujuk pada persamaan 4.26 tersebut, maka dalam bentuk persamaan
matriks dan memasukkan data hasil pengukuran jarak setiap penggal jarak yang ada,
didapatkan Persamaan 4.27 berikut:
 ( Do1  Dp1 )   v1   Dp1 1 
 ( Do  Dp )   v   Dp 1 
 2 2   2  2 
 ( Do3  Dp3 )  +  v3  =  Dp 3 1  * a  …………..(4.27)
      b 
 ( Do4  Dp 4 )   v 4   Dp 4 1   
 ...   ...   ... ...
     
 Do21  Dp 21 ) v 21   Dp 21 1 

77
Apabila pengukuran tidak dilakukan pada pilar BM standar yang digunakan untuk
kalibrasi, maka besarnya Do bisa digantikan dengan panjang jarak utama (yang menjadi
parameter) dalam proses perhitungan zero error menggunakan metode least square
adjustment. Adapun jarak penggal jarak selain jarak-jarak utama bisa dihitung
menggunakan jarak-jarak utama tersebut dengan saling menambahkan atau
mengurangkan.
Dengan mengikuti persamaan 4.24 sampai dengan persamaan 4.26 akan bisa
didapatkan besarnya konstanta penambah dan konstanta pengali dari total station yang
digunakan, serta ketelitian hasil hitungan tersebut.

iii. Koreksi atmosfer (koreksi kecepatan gelombang elektromagnetik)


Pengukuran jarak pada total station dilakukan dengan menggunakan gelombang
elektromagnetik. Salah satunya yang paling sering digunakan adalah gelombang
inframerah (yang dicirikan dengan penggunaal prisma sebagai target ukuran). Karena
media rambat gelombang tersebut adalah atmosfer, yang kita ketahui mengalami
kondisi fisik yang berubah-ubah, maka kecepatan gelombang elektromagnetik terebut
juga akan bervariasi dan dinamis.
Kecepatan gelombang elektromagnetik yang diketahui adalah kecepatan
gelombang pada media rambat berupa ruang hampa. Akan tetapi akibat dari media
rambat yang berupa atmosfer yang sangat dinamis maka kecepatan gelombang
elektromagnetik akan mengalami kelambatan atau bahkan bisa juga mengalamu
peningkatan kecepatan. Besarnya rasio kecepatan gelombang elektromagnetik tersebut
disajikan pada Persamaan 4.28. berikut:
= …………….(4.28)

Dimana n adalah besarnya koreksi kecepatan gelombang elektromagnetik, Co


adalah kecepatan gelombang suara pada media ruang hampa; dan C adalah kecepatan
gelombang suara di atmosfer. Besarnya koreksi kecepatan gelombang elektromagnetik
tersebut akan sangat dipengaruhi oleh besarnya suhu dan tekanan yang terjadi di
atmosfer. Biasanya besaran koreksi ini kecil, oleh karena itu bisanya menggunakan
satuan ppm.

78
Dalam penggunaan gelombang inframerah, setiap terjadi variasi suhu 1° Celcius,
akan mempengaruhi perubahan jarak sebesar 1 ppm. Perubahan 1 ppm tersebut berarti
terjadinya perbedaan 1 milimeter untuk setiap pengukuran jarak sejauh 1 Kilometer.
Untuk tekanan udara, akan terjadi perbedaan jarak ukuran sebesar 1 ppm apabila terjadi
variasi tekanan udara sebesar 3,6 hPa. Oleh karena itu, kondisi suhu dan tekanan udara
di atmosfir harus selalu diukur dengan teliti untuk mendapatkan hasil pengukuran jarak
yang benar. 1 hPa setara dengan 0.750 mmHg. Koreksi ppm ini tidak perlu diterapkan
apabila nilai ppm hasil hitungan masih di bawah 5 ppm dan jaraknya kurang dari 200
meter. Selanjutnya besarnya jarak terkoreksi bisa dihitung dengan menggunakan
Persamaan 4.29.

= …………….(4.29)

Keterangan: S adalah jarak terkoreksi; Su merupakan data hasil pengukuran, dan


n adalah koreksi kecepatan gelombang elektromagnetik. Besarnya n juga bisa dilihat
pada grafik koreksi suhu dan tekanan pada gambar 4.22. berikut:

79
Gambar 4.21. Besarnya koreksi yang diberikan karena pengaruh suhu dan
tekanan atmosfer (sumber: manual Sokkia SET6ES)
Dalam pengukuran yang dilakukan pada jarak yang cukup panjang, kemungkinan
akan terjadi perbedaan suhu dan tekanan antara titik berdiri total station dan titik berdiri
prisma. Apabila kondisi ini terjadi, maka pengukuran suhu dan tekanan harus dilakukan
pada kedua titik/lokasi tersebut dan bersarnya koreksi kecepatan gelombang

80
elektromagnetik ditentukan berdasarkan hasil rata-rata pengukuran suhu dan tekanan di
kedua lokasi.

iv. Koreksi karena kelengkungan bumi dan refraksi atmosfer.


Pengukuran pada area yang jauh tidak bisa lagi dipandang sebagai pengukuran
pada bidang datar. Karena mengingat bumi yang berbentuk menyerupai ellipsoid.
Sebagaimana kita ketahui kondisi kerapatan udara di atmosfer akan berbeda-beda.
Perbedaan kerapatan udara tersebut yang diakibatkan adanya perbedaan suhu dan
tekanan di atmosfer akan menimbulkan efek refraksi jalannya gelombang
elektromagnetik. Kondisi ini menyebabkan jarak ukuran menjadi lebih panjang dari
jarak yang sebenarnya. Efek dari kesalahan ini harus dihilangkan dengan menerapkan
koreksi pada data hasil pengukuran jarak horisontal dan jarak vertikal dan menggunakan
konstanta refraksi atmosfer sebesar 0,424. Gambaran kesalahan akibat kelengkungan
bumi dan refraksi atmosfer disajikan pada gambar 4.23 berikut:

Gambar 4.22. Besarnya kesalahan pada jarak datar dan jarak vertikal akibat kesalahan
kelengkungan bumi dan refraksi atmosfer (sumber: manual Sokkia SET6ES)
Dari gambar 4.23. besarnya jarak miring (S) merupakan jarak miring hasil koreksi
kesalahan kecepatan gelombang elektromagnetik (kesalahan atmosfer). Z merupakan
sudut vertikal hasil pembacaan total station (sudut zenith). K adalah konstanta refraksi

81
atmosfer (sebesar 0,142). Radius kelengkungan bumi (R) secara umum sebesar 6,372 x
106 meter.
Pada kondisi normal besarnya jarak datar dan jarak vertikal bisa ditentukan
dengan Persamaan 4.30 dan Persamaan 4.31.
= sin( ) ……………..(4.30)
= cos( ) ………………(4.31)
Besarnya jarak terkoreksi baik untuk jarak datar maupun jarak vertikal bisa
ditentukan mengikuti Persamaan 4.32. dan Persamaan 4.33. berikut:

= ∗ sin( ) − ∗ ∗ sin( ) ∗ cos( ) ……..(4.32)

= ∗ cos( ) − ∗ ∗ ( ) ………….(4.33)

Secara umum, apabila pengukuran jarak dilakukan pada sudut zenith 70o,
besarnya selisih jarak terkoreksi pada jarak-jarak tertentu disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.1. Besarnya kesalahan pengukuran jarak karena faktor kelengkungan bumi dan
refraksi atmosfer (Sumber: manual Sokkia SET6ES)
Jarak miring hasil 500 m
100 m 300 m
koreksi atmosfer

H’ – H (m) -0,0005 -0,004 -0,012

V’ – V (m) 0,0006 0,005 0,015

D. Contoh Soal/Pertanyaan dan Jawaban


1. An angle is observed six times by an operator with a total station instrument having a
published DIN 18723 value for the pointing and reading error of  5”. What is the
estimated error in the angle due to the pointing and reading error?
2. An observer’s estimated ability at centering targets over a station is + 0.003 ft. For a
particular angle observation, the backsight and foresight distances from the instrument
station to the targets are approximately 250 ft and 450 ft, respectively. What is the
angular error due to the error in target centering?

82
3. An observer centers the instrument to within + 0.005 ft of a station for an angle with
backsight and foresight distances of 250 ft and 450 ft, respectively. The angle observed
is 50o. What is the error in the angle due to the instrument centering error?
4. A distance of 453.87 ft is observed using an EDM with a manufacturer’s specified
accuracy of + (5 mm + 10 ppm). The instrument is centered over the station with an
estimated error of + 0.003 ft, and the reflector, which is mounted on a handheld prism
pole, is centered with an estimated error of + 0.01 ft. What is the error in the distance?
What is the E95 value?
5. Jawaban dari pertanyaan tersebut akan disampaikan di kelas secara langsung, sebagai
bagian dari kegiatan kelas.
E. Soal/Pertanyaan
1. Berdasarkan data hasil pengukuran sebagaimana tersaji pada tabel berikut,
tentukanlah besarnya kesalahan zero error, konstanta penambah, dan konstanta
pengali dari alat total station yang digunakan.

Baselines observed distance Published


Obs.
Parameter
# distance
from to mean std. dev.

5.004
1 P1 P2 x1+zo 5.003 0.000
10.002
2 P1 P3 x2+zo 10.001 0.001
49.002
3 P1 P4 x3+zo 49.000 0.001
125.000
4 P1 P6 x4+zo 124.999 0.001
201.002
5 P1 P8 x5+zo 200.999 0.001
300.008
6 P1 P10 x6+zo 300.005 0.001
4.999
7 P2 P3 x2-x1+zo 4.997 0.001
43.998
8 P2 P4 x3-x1+zo 43.996 0.000

83
119.996
9 P2 P6 x4-x1+zo 119.993 0.001
195.998
10 P2 P8 x5-x1+zo 195.997 0.001
295.004
11 P2 P10 x6-x1+zo 295.003 0.001
39.000
12 P3 P4 x3-x2+zo 38.998 0.000
114.998
13 P3 P6 x4-x2+zo 114.997 0.000
191.000
14 P3 P8 x5-x2+zo 190.999 0.001
290.005
15 P3 P10 x6-x2+zo 290.006 0.000
75.998
16 P4 P6 x4-x3+zo 75.997 0.001
152.000
17 P4 P8 x5-x3+zo 152.000 0.002
251.006
18 P4 P10 x6-x3+zo 251.007 0.001
76.002
19 P6 P8 x5-x4+zo 76.001 0.001
175.008
20 P6 P10 x6-x4+zo 175.005 0.000
99.006
21 P8 P10 x6-x5+zo 99.004 0.001
2. Didapatkan data pengukuran beberapa titik sebagaimana disajikan pada tabel
berikut, tentukanlah berapa kesalahan kolimasi dan kesalahan indeks vertikal pada
total station yang digunakan?

Posisi Teropong Face Left (F1) Posisi Teropong Face Right (F2)
Target
Piringan Hz Piringan Vt Piringan Hz Piringan Vt

A 338o15’43” 271o05’04” 158o15’41” 88o55’13”

B 254o50’49” 269o48’05” 74o50’46” 90o12’03”

84
C 180o43’01” 270o38’00” 00o43’04” 89o22’14”

D 157o36’36” 271o22’28” 337o36’37” 89o39’09”

E 301o25’25” 270o21’12” 121o25’24” 89o39’09”

F. Pustaka
Ghilani, Charles D. dan Wolf, Paul R., 2006, Adjustment Computations Spatial Data
Analysis, fourth edition, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey-US.

Kavanagh, Barry F., dan Mastin, Tom B., 2014, Surveying: principles and applications,
nineth edition, Pearson, Inc., New Jersey-US.

Schofield, W. dan Breach, M., 2007, Engineering Surveying, sixth edition, Butterworth-
Heinemann, Elsevier Ltd., Oxford-UK.

Leica Geosystems, 2008, Leica TPS800 Series User Manual, Version 4.0 English, Leica
Geosystems AG, Heerbrugg-Switzerland.

Trimble Navigation, 2010, Trimble M3 DR Series Total Station, Version 1.00 Revision B,
Nikon-Trimble Co. Ltd., Ohio-US.

Trimble Navigation, 2009, Total Station DTM-322 Instruction Manual, Version A 1.0.0
Part Number C232E, Nikon-Trimble Co., Ltd., Ohio-US.

Sokkia Corporation, 2003, SET6ES Electronic Total Station Operator’s Manual, Sokkia
Corporation Ltd., Overland Park, Kansas-US.

85