Anda di halaman 1dari 10

Konsep Teknologi dan Komunikasi Ilmiah

PEMANFAATAN ABU VULKANIK GUNUNG SINABUNG


MENJADI SOURVENIR

Disusun Oleh :
Kelompok 2
 Nur Zakiah Sitompul (170407012)
 Dea Anggraini Sitorus (170407014)
 Sahrir Sosanta Hasibuan (170407016)
 M. Rizki Mauriza (170407018)

Dosen Pembimbing : Hamidah Harahap, Prof. Dr. Ir. MSc

FAKULTAS TEKNIK
TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017/2018
PEMANFAATAN ABU VULKANIK GUNUNG SINABUNG MENJADI SOURVENIR

ABSTRAK
Untuk mengetahui potensi pemanfaatan abu vulkanik sekaligus dampaknya terhadap lingkungan
maka pada penelitian ini teJah dilakukan penentuan komposisi kimia, baik unsur mayor maupun
minor, dari abu vulkanik gunung Merapi yang diambil bulan Desember 2010-Januari 2011
setelah erupsi selesai. Selain itu, juga dilakukan penentuan pH abu, dan kandungan besi dalam
air di sungai, sumur, maupun bak penampungan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abu
Gunung Merapi mengandung berbagai unsur mayor (AI, Si, Ca, dan Fe), minor (I(, Mg, Mn, Na,
P, S, dan Ti), dan tingkat trace (Au ,As, Ba, Co, Cr, Cu, Mo, Ni, Pb, S, Sb, Sn, Sr, V, Zn, dan Zr),
baik yang memiliki kegunaan yang luas (AI, Si, Ca, Fe, Ti, V, dan Zn), memiliki nilai tinggi
(Au), hingga yang berpotensi memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan (As,
Cr, Cr, Cu, Pb, Ni, dan S). Didasarkan pada kandungan unsur AI, Ca, dan Si dalam abu yang
besar (masing-masing 56%, 4%, dan 18 %) maka sangat dimungkinkan dilakukannya
pemanfaatan abu tersebut sebagai bahan semen atau barang berbahan semen. Informasi tentang
kandungan zat-zat kimia ini diharapkan bermanfaat bagi penelitian dalam bidang teknik sipil,
geologi dan mineral, petemakan, pertanian, maupun perikanan.

BAB 1 PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG
Indonesia terletak di antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Austria. Letak
Indonesia yang sedemikian rupa menjadikan Indonesia daerah yang sangat aktif akan pergeseran
lempeng tektonik. Akibat pergeseran lempeng tektonik, terbentuk banyak gunung berapi. Oleh
karena itu, erupsi gunung berapi merupakan salah satu fenomena yang sering terjadi di
Indonesia, (Setiawati, 2014).
Erupsi gunung Sinabung mengeluarkan abu vulkanik, melepaskan awan panas, serta
mengalirkan lahar, menutupi jalan, rumah-rumah penduduk, lahan pertanian. Abu vulkanik ,
lahar, dan hawa panas berdampak besar bagi 5 kecamatan di sekitar gunung Sinabung
diantaranya kecamatan Teran, simpang 4, Tigan derket, Payung dan Merdeka. Dampak yang
sangat jelas adalah tertutup nya lahan pertanian serta rusaknya tanaman yang ditutupinya.
Tanaman yang mengalami kerusakan bervariasi dimulai dari kerusakan ringan sampai yang
terberat, (Tim Badan Litbang Pertanian. 2014) .
Kelimpahan abu vulkanik di alam mempunyai beberapa dampak positif, sudah menjadi
rahasia umum kalau abu vulkanik dapat menyuburkan tanah. Beberapa waktu setelah terjadinya
erupsi, daerah yang rusak karena abu vulkanik akan menjadi lahan yang subur. Abu vulkanik
mengandung unsure hara yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Dan masih banyak
kegunaan lainnya, (Tim Badan Litbang Pertanian. 2014).
Abu vulkanik merupakan material yang dikeluarkan dari perut bumi ketika terjadi erupsi
gunung berapi. Banyaknya abu vulkanik yang dikeluarkan saat terjadi letusan gunung Sinabung
menjadi isu lingkungan yang penting karena mengganggu keseimbangan lingkungan. Dalam
bidang teknik, penggunaan abu vulkanik sebagai bahan tambahan masih sangat sedikit dan
terbatas, sedangkan gunung berapi yang masih aktif mengeluarkan abu vulkanik sangatlah
banyak. Karena kelimpahan nya ini dikaji pemanfaatan nya sebagai bahan untuk membuat
sourvenir, (Setiawati, 2014).

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana cara pembuatan sourvenir dari abu vulkanik gunung sinabung?


2. Apa komposisi yang terkandung dalam abu vulkanik gunung sinabung?
3. Mengapa abu vulkanik gunung sinabung bisa dijadikan sebagai sourvenir?
4. Apa saja dampak bagi kesehatan yang terkandung dalam abu vulkanik gunung sinabung?

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui dampak abu vulkanik gunung sinabung bagi kesehatan


2. Untuk mempelajari bagaimana pembuatan sourvenir dari abu vulkanik gunung sinabung
3. Untuk mengetahui apa saja zat yang terkandung dalam abu vulkanik
4. Untuk mengurangi polutan bagi masyarakat sekitar

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung di dataran tinggi Kabupaten Karo,
Sumatera Utara, Indonesia. Koordinat puncak Gunung Sinabung adalah 03 o 10’ LU dan 98o 23’
BT dengan puncak tertinggi gunung ini adalah 2.460 meter dari permukaan laut di Sumatera
Utara. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600, (Global Volcanism Program,
2008).

Letusan gunung api berupa padatan dapat disebut sebagai bahan piroklastik (pyro = api,
klastik = bongkahan). Padatan ini berdasarkan diameter partikelnya terbagi atas debu vulkan (<
0.26 mm) yang berupa bahan halus, pasir (0.25 – 4 mm) yang berbentuk tumpul, lapilli atau
‘little stone’ (4 – 32 cm) yang berbentuk bulat hingga persegi dan bom (> 32 mm) yang
bertekstur kasar, (Sinaga, 2015).

Mineral yang paling banyak dalam magma ialah silika (SiO2) dan oksigen, (Sudarmadji
& Hamdi, 2014).

Data BNPB menyebutkan, semenjak letusan akhir Agustus tahun 2010, Gunung Sinabung
meletus beberapa kali, termasuk salah satu letusan terbesar. Dan hingga saat ini, Gunung
Sinabung terus-menerus mengalami erupsi. Hasil dari erupsi Gunung Sinabung tersebut
mengeluarkan kabut asap yang tebal berwarna hitam disertai hujan pasir, dan debu vukanik yang
menutupi ribuan hektar tanaman para petani yang berjarak dibawah radius enam kilometer
tertutup debu tersebut, (Alexander, 2010).

Abu vulkanik adalah fragmen yang berukuran kurang dari 2 mm hingga ukuran debu.
Abu vulkanik atau pasir vulkanik adalah bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke
udara saat terjadi suatu letusan. Jenis-jenis mineral hadir dalam abu vulkanik tergantung pada
kimia magmanya. Unsur yang paling berlimpah ditemukan dalam magma adalah silika (SiO2)
dan oksigen (O2). Letusan basal energi rendah (basal: batuan beku berwarna gelap, berbutir
halus yang merupakan pembekuan lava dari gunung api) menghasilkan abu berwarna gelap khas
yang mengandung 45-55 % silika yang umumnya kaya akan zat besi (Fe) dan magnesium (Mg).
Letusan riolit paling eksplosif menghasilkan abu felsic yang tinggi silika (> 69%), sedangkan
abu jenis lain dengan komposisi menengah (misalnya, andesit atau dasit) memiliki kandungan
silika antara 55-69 %. Berdasarkan penelitian Nakada dan Yoshimoto (2014) menyatakan
kandungan silika dalam abu vulkanik Gunung Sinabung adalah 58,10%. Tingginya kandungan
silika dalam abu vulkanik Gunung Sinabung merupakan suatu hal yang menarik untuk diteliti
lebih lanjut, khususnya tentang pemanfaatan abu vulkanik tersebut sebagai bahan dasar
pembuatan adsorben silika untuk mengikat logam berat timbal, (Sukarman dan Dariah, 2014).5

BAB 3 PEMBAHASAN

Proses Pembuatan Souvenir :


Persiapan Abu Vulkanik

Abu vulkanik yang sudah diambil kemudian diolah agar memudahkan untuk proses selanjutnya.
Pertama abu vulkanik disiram dengan air hingga basah merata kemudian didiamkan selama satu
atau dua hari. Untuk proses penggilingannya pun ada dua cara, yaitu secara manual dan mekanis.
Namun hasil yang bagus biasanya dengan menggunakan proses penggilingan yang manual.

Proses Pembentukan

Untuk membentuk abu vulkanik itu menjadi bentuk yang diiginkan biasanya pengrajin
menggunakan dua cara yaitu secara menggunakan cetakan dan menggunakan alat pemutar.
Dalam pembuatan souvenir biasanya menggunakan cetakan.

Penjemuran

Setelah abu vulkanik terbentuk seperti keinginan, selanjutnya adalah proses penjemuran di
bawah terik matahari. Lamanya waktu penjemuran disesuaikan dengan cuaca dan panas
matahari.

Pembakaran

Setelah gerabah menjadi keras dan benar-benar kering, selanjutnya adalah proses pembakaran.
Gerabah-gerabah/ souvenir dari abu vulkanik itu dikumpulkan dalam suatu tempat atau tungku
pembakaran. Gerabah-gerabah tersebut kemudian dibakar selama beberapa jam hingga benar-
benar mengeras. Proses ini tujuannya adalah agar gerabah menjadi benar-benar keras dan tidak
mudah pecah. Bahan bakar yang digunakan untuk proses pembakaran adalah jerami kering, daun
kelapa kering atau bisa juga kayu bakar.

Penyempurnaan

Ini adalah proses terakhir dalam pembuatan souvenir. Souvenir yang sudah dibakar kemudian
dicat dan didiamkan hingga cat kering, (blog.hadisukirno,2008).
BAB 4 KESIMPULAN

a. Jenis-jenis mineral hadir dalam abu vulkanik tergantung pada kimia magma dari mana itu
meletus . dengan mempertimbangkan bahwa unsur yang paling berlimpah ditemukan dalam
magma adalah silika ( SiO2 ) dan oksigen , berbagai jenis magma yang dihasilkan selama letusan
gunung berapi yang paling sering dijelaskan dengan parameter kandungan silikanya . Letusan
basal energi rendah (basal : batuan beku berwarna gelap, berbutir halus, yg umumnya
merupakan pembekuan lava dr gunung api) menghasilkan abu berwarna gelap khas yang
mengandung ~ 45 – 55 % silika yang umumnya kaya akan zat besi ( Fe ) dan magnesium ( Mg ) .
Letusan riolit paling eksplosif menghasilkan abu felsic yang tinggi silika ( > 69 % ), sedangkan
jenis lain abu dengan komposisi menengah ( misalnya , andesit atau dasit ) memiliki kandungan
silika antara 55-69 % . (bisakimia.com)

b. Berikut ini adalah beberapa bahaya abu vulkanik bagi kesehatan yang perlu anda
waspadai :

Kesehatan Pernapasan
Menghirup debu vulkanik sangat berbahaya bagi kesehatan pernapasan. Material debu yang
masuk ke melalui saluran pernapasan bisa menimbulkan iritasi saluran pernapasan hingga
infeksi, yang dikenal dengan istilah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut).

Mata
Tekstur debu atau abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Debu vulkanik memiliki sudut
kristal yang meruncing atau tajam, sehingga dapat menggores dan menyebabkan iritasi. Selain
berbahaya jika terhirup, debu tersebut juga dapat menyebabkan gangguan pada mata. Selain
menyebabkan iritasi, debu vulkanik juga dapat merusak lapisan kornea pada mata.

Kulit
Material vulkanik, yang mengandung zat-zat berbahaya seperti gas CO, H2S, SO2, juga bisa
menyebabkan gangguan pada kulit. Walaupun kasusnya cukup jarang dan lebih sering terjadi
pada orang dengan tipe kulit sensitif, (webkesehatan.com, 2000).
DAFTAR PUSTAKA

 Alexander, (2010), Waspada Gunung Sinabung, http://www.medanmagazine.com8


 B. I. L. J. Sinaga, M. Sembiring dan A. Lubis, (2015), Dampak Ketebalan Abu Vulkanik
Erupsi Gunung Sinabung Terhadap Sifat Biologi Tanah Dikecamatan Naman Teran
Kabupaten Karo, Jurnal Online Agroekoteknologi, Vol 3, No. 3, ISSN: 2337-6597, 1159-
1163.

 Global Volcanism Program, Sinabung, http://www.volkanosi.edo.com, 2008, diakses


pada tanggal 5 agustus 2016

 Abu Vulkanik. https://bisakimia.com/2014/02/21/semua-tentang-abu-vulkanik/, pada


tanggal 21 Mei 2018 pada pukul 20.00 WIB

 Pembuatan Souvenir. https://blog.hadisukirno.co.id/2008/proses-pembuatan-souvenir /,


pada tanggal 21 Mei 2018 pada pukul 21.05 WIB

 Bahaya Abu Vulkanik Untuk Kesehatan. https://www.webkesehatan.com/2000/bahaya-


abu-vulkanik-untuk-kesehatan/, pada tanggal 21 Mei 2018 pada pukul 20.15 WIB

 Setiawati. 2014. Pemanfaatan Abu Vulkanik Gunung Kelud sebagai Bahan Campuran
pada Beton Polimer

 Sukarman dan Dariah, A., (2014), Tanah Andosol di Indonesia. Karakteristik, Potensi,
Kendala, dan Pengelolaannya untuk Pertanian, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor9

 Sudarmadji dan Hamdi, ,(2014). Pengaruh Penggunaan Abu Vulkanik Sebagai Filer
Terhadap Campuran Aspal Beton Lapis Asphalt Concrete- Wearing Course. Jurnal Teknik
Sipil, Vol. 10, No. 2, ISSN: 1907-6975
 Tim Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2014. Laporan Hasil Kajian dan
Pengembangan pertanian.