Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISA BATUAN INDUK

Disusun Oleh :
MUHAMMAD BUDI SETYOPUTRO
111.150.116
PLUG 9

LABORATORIUM GEOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI


JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2018
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Batuan induk atau Source Rock adalah batuan berbutir halus yang mampu
menghasilkan hidrokarbon. Berdasarkan klasifikasi Waples tahun 1985 batuan
induk dibagi menjadi 3 yaitu batuan induk efektif, mungkin batuan induk dan
batuan induk potensial. Suatu batuan dapat dikatak batuan induk jika mempunyai
kuantitas material organik, kualitas menghasilkan hidrokarbon dan kematangan
termal.
Kuantitas material organik dalam batuan induk dapat diukur dengan TOC (
Total Organic Carbon). Material Organik diklasifikasikan menjadi dua tipe yaitu
sapropelic dan humic (Potonie, 1908). Sapropelic menunjukkan hasil dekomposisi
dari lemak, zat organik lipid yang diendapkan dalam lumpur bawah air pada
kondisi oksigen terbatas dan humic menjelaskan tentang hasil pembentukkan
gambut dan yang biasanya diendapkan pada rawa dalam kondisi ada oksigen.
Kualitas ditentukan dengan tipe kerogen yang terkandung dalam material organic,
sedangkan pengertian dari kerogen yaitu komplek molekul organik yang
mengalami polimerisasi tinggi, terdapat di batuan sedimen yang tidak larut dalam
pelarut organik biasa. Kematangan termal diukur dengan reflektansi vitrinit dan
analisi pirolisis.

I.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dilakakukannya praktikum ini adalah memahami dan mengerti
mengenai analisis batuan induk atau source rock. Sedangkan tujuan dari
praktikum ini yaitu praktikan dapat mengetahui adanya potensi batuan induk
dengan menentukkan tipe kerogen dan kematangan batuan induknya.

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 1
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

BAB II
METODE
II.1 Langkah Kerja
1. Pertama, Kajian Pustaka terlebih dahulu
2. Kedua, Siapkan data yang sudah disediakan dan buka data rock eval
pyrolisis dan data analisis kerogen & vitrinit
3. Ketiga, membuat diagram tingkat kematangan dengan parameter Ro vs
kedalaman
4. Setelah itu membuat diagram TOC vs kedalaman.
5. Kemudian, hitung nilai HI, OI,PI dan PY
6. Setelah itu membuat diagram TOC vs PY.
7. Kemudian, mengeplot nilai HI dan OI pada modifikasi diagram Van
Krevelen untuk tipe kerogen.
8. Membuat Diagram Tipe Kerogen dan Kematangan dengan parameter nilai
HI vs TMax (menurut Merril, 1991)
9. Setelah itu, membuat diagram Generasi Tipe Hidrokarbon dan Kerogen
10. Membuat laporan dan kesimpulan

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 2
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

Kajian
pustaka

Menyiapkan Data

Membuat Diagram Tingkat kematangan Ro


vs kedalaman dan TOC vs kedalaman

Menghitung nilai HI, OI,


PI dan PY

Membuat diagram TOC vs Membuat modifikasi Membuat Diagramnilai HI


PY diagram Van Krevelen vs TMax
dengan parameter HI vs OI

Setelah itu menentukkan


tipe-tipe kerogen
berdasarkan beberapa ahli

Membuat laporan dan


kesimpulan

Gambar 1. Diagram Alir Penelitian

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 3
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

BAB III

PEMBAHASAN

III.1. Data Sumur ABI JATIM

Disediakan data berupa Rock Eval Pyrolysis dan Analisa Kerogen dan
Vitrinit Sumur Onshore Lapangan Heimdall seperti di bawah ini:

Tabel 1. Data Rock Eval Pyrolysis

Tabel 2. Data Analisa Kerogen dan Vitrinit

Berdasarkan data di atas didapatkan dua formasi dalam Sumur


Onshore Lapangan Heimdall ini yang akan dilakukan analisa batuan induk.
Adapun kedalaman batuan induk yang akan dianalisa adalah 3000-3100 m
di bawah permukaan bumi. Formasi yang dimaksud adalah Formasi Heather
yang berumur lebih tua dan Formasi Kimmeridge yang berumur lebih muda.
Litologi penyusunnya adalah napal dan gamping untuk Formasi Heather
serta napal dan lempung untuk Formasi Kimmeridge. Selain itu, disediakan
Nama : Muhammad Budi Setyoputro
NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 1
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

data TOC, Tmax, SCI, dan prosentase kerogen pada kedua formasi tersebut
yang siap diolah.

III.2.Analisa Ro% dengan Kedalaman


Tabel 1. Analisa Ro% dengan Kedalaman (Peters & Cassa, 1994)

Gambar 2. Diagram Tingkat Kematangan Batuan Induk (Peters & Cassa, 1994)

Diagram di atas menyatakan bahwa tingkat kematangan berbanding


lurus dengan meningkatnya kedalaman. Dimana semakin dalam tingkat
kematangan akan bertambah tinggi. Pada kedalaman 3005 m masih
termasuk kategori early mature. Kemudian pada kedalaman 3010-3037 m
termasuk kategori peak mature. Pada kedalaman 3038-3085 m termasuk
kategori late mature. Sedangkan pada kedalaman >3085 m digolongkan ke
dalam over mature. Faktor yang menyebabkan hal ini bisa terjadi adalah

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 2
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

terdapatnya overburden di atas dari batuan induk. Semakin tebal overburden


yang mengendap di atas batuan induk maka akan menghasilkan suhu dan
tekanan yang semakin tinggi. Selain itu juga, semakin tinggi kedalaman
semakin tinggi pula suhu yang disebabkan oleh gradien geothermal, maka
pematangan akan terjadi lebih intensif pada kedalaman yang lebih besar.

III.3. Analisa TOC dengan Kedalaman

Tabel 2. Perbandingan Kedalaman dengan TOC

Gambar 3. Grafik Tingkat Kedalaman dengan TOC

Berdasarkan grafik Depth vs TOC, dapat dilihat bahwa TOC tidak


berbanding lurus dengan kedalaman. Pada kedalaman >3030 m, nilai TOC
naik hingga Baik (menurut Peter & Cassa, 1994). Kenaikan ini berlanjut dan

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 3
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

berhenti pada kedalaman 3080 m, di mana pada >3080 m justru nilai TOC
mulai mengalami penurunan.

III.4. Analisa Perbandingan TOC dengan Pyrolysis

Gambar 4. Diagram Hasil Perbandingan TOC dan Pyrolysis

Berdasarkan grafik TOC (Total Organic Carbon) vs PY (Potential Yield),


kualitas batuan induk dapat diperkirakan. Dilihat pada Formasi Kimmeridge
dan Heather, pada Formasi Heather terdapat litologi Napal + Gamping yang
memiliki nilai TOC yang Baik (menurut Peter & Cassa, 1994). Selain itu,
Formasi Heather juga terlihat memiliki nilai Potential Yield yang baik

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 4
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

(Good). Hal ini membuat batuan Napal + Gamping yang terdapat di Formasi
Heather diperkirakan adalah batuan induk yang potensial.

III. 5. Analisa Perbandingan HI dengan OI

Gambar 5. Diagram Tipe Kerogen (Van Krevelen)

Berdasarkan diagram van Krevelen, didapat hasil analisa tipe kerogen


batuan induk dari Formasi Kimmeridge dan Formasi Heather yang dipengaruhi
oleh nilai Hydrogen Index (HI) dan Oxygen Index (OI). Dengan menggunakan
metode langsung ini didapat tipe kerogen termasuk Tipe II/III Menurut klasifikasi
dari Pranyoto (1990).

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 5
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

III. 6. Analisa Perbandingan HI dengan Tmax

Gambar 6. Diagram Tipe Kerogen dan Kematangan (Merrill, 1991)

Berdasarkan diagram HI vs TMax, didapat hasil analisa kematangan dan


tipe hidrokarbon yang dihasilkan oleh batuan induk dari Formasi Kimmeridge dan
Formasi Heather merupakan Tipe II-III (kebanyakan), meski ada pula yang sudah
merupakan Tipe III. Dengan diagram ini juga terlihat bahwa tipe hidrokarbon
yang dihasilkan juga sudah memasuki stadia mature (matang).

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 6
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

III. 7. Analisa Tipe Kerogen (Merrill, 1991)


Tabel 3. Tipe Kerogen (Merrill, 1991)

Berdasarkan klasifikasi tipe kerogen menurut Merrill, 1991


didapatkan tipe-tipe kerogen pada Sumur Onshore Lapangan Heimdall
seperti di atas.

III. 8. Analisa Indeks Warna Spora


Tabel 4. Indeks Warna Spora

Berdasarkan harga SCI (Spore Colour Index) didapatkan


Palynomorph Colour seperti pada tabel di atas. Dari warna di atas, dapat
ditentukan tingkat kematangan batuan induk, dimana orange to yellow

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 7
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

berarti mature, orange berarti optimum oil generation, dan brown berarti
optimum oil generation.

III. 9. Analisa Pantulan Vitrinit (Peters & Cassa, 1994)


Tabel 5. Pantulan Vitrinit

Berdasarkan nilai pantulan vitrinit (Ro) menurut Peters & Cassa, 1994
yang dinyatakan dalam prosentase didapatkan bahwa batuan induk Sumur
Onshore Lapangan Heimdall memiliki beberapa tingkat kematangan, yaitu
early mature, peak mature, late mature, dan post mature. Kemampuan daya
pantul ini merupakan fugsi temperatur artinya dengan perubahan waktu
pemanasan dan temperatur akan menyebabkan warna vitrinit berubah di
bawah sinar pantul.

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 8
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

III. 10. Generasi Tipe Hidrokarbon dan Kerogen


Tabel 6. Data Kerogen dan Vitrinit

Gambar 7. Diagram Segitiga Tipe Kerogen (Dow & O'Connor, 1982)

Dari prosentase tipe kerogen yang setelah dimasukkan ke dalam


digram segitiga (Dow & O’Connor, 1982) didapatkan bahwa jenis
hidrokarbon dari Sumur Onshore Lapangan Heimdall didominasi oleh Wet

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 9
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

Gas, tetapi ada pula beberapa hasil ploting yang mengindikasikan Dry Gas
pada kedalaman 3030-3040 m dan 3050-3060 m.

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 10
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan diatas maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:

a) Formasi Kimmeridge :
1. Formasi Kimmeridge menurut metode langsung, terdiri dari kerogen tipe
II/III
2. Formasi Kimmeridge memiliki tipe material organik tipe II dan tipe III
jika menggunakan metode tak langsung, di mana tipe II lebih
mendominasi.
3. Formasi Kimmeridge setelah dilakukan analisa memiliki kualitas bahan
organik dari fair hingga good berdasarkan TOC dan good berdasarkan
Potential Yield.
4. Formasi Kimmeridge memiliki tingkat kematangan Immature sampai
Mature berdasarkan Tmax pada metode langsung, dan memiliki tingkat
Early Mature hingga Late Mature saat dianalisa dengan metode tidak
langsung berdasarkan % Ro, serta kematangan Mature hingga Optimum
Oil Generation berdasarkan nilai SCI.

b) Formasi Heather :
1. Berdasarkan Formasi Heather menurut metode langsung, terdiri dari
kerogen tipe II/III
2. Formasi Heather memiliki tipe material organik tipe II dan tipe III jika
menggunakan metode tak langsung, di mana tipe II lebih mendominasi.
3. Formasi Heather setelah dilakukan analisa memiliki kualitas bahan
organik good berdasarkan TOC dan good berdasarkan Potential Yield.
4. Formasi Heather memiliki tingkat kematangan Mature sampai Post
Mature berdasarkan Tmax pada metode langsung, dan memiliki tingkat
Late Mature hingga Post Mature saat dianalisa dengan metode tidak
langsung berdasarkan % Ro serta kematangan Optimum Oil Generation
berdasarkan nilai SCI.

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 11
Laboratorium Geologi Minyak dan Gas Bumi

DAFTAR PUSTAKA

Koesoemadinata, R.P., 1980, Geologi Minyak dan Gas Bumi, Edisi kedua, Institut
Teknologi Bandung, Bandung.

Tim dosen. 2018. Buku Panduan Praktikum : Geologi Minyak dan Gas Bumi.
Fakultas Teknologi Mineral, Yogyakarta.

Nama : Muhammad Budi Setyoputro


NIM : 111.150.116
Plug : 9 Page 12