Anda di halaman 1dari 15

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Sintesis Kimia Anorganik dengan judul


percobaan “ Heksaaminkobalt (III) Triklorida “ yang disusun oleh :

Nama : Deska Harsela Haris


Nim : 091314021
Kelas/klpok : B/III

Telah diperiksa dan dikoreksi oleh asisten dan koordinator asisten maka
dinyatakan diterima.

Makassar Juni 2012


Koordinator Asisten Asisten

(Kurnia Ramadhani, S.Si) (Nurfiansyah, S.Si)

Mengetahui
Dosen Penanggungjawab

(Dra. Hj. Mealati Masri, M.Si)


A. JUDUL PERCOBAAN
Judul percobaan ini adalah Heksaaminkobalt (III) Triklorida
B. TUJUAN PERCOBAANi
1. Untuk mengetahuintesis kristal Heksaaminkobalt (III) Triklorida
2. Untuk mengetahui warna, bentuk dan ukuran dari kristal heksaaminakobalt
(III) Triklorida.
C. LANDASAN TEORI
Kristal adalah suatu padatan dimana molekul atom, atau ion penyusunnya
tersusun dalam suatu pola tertentu. (Fachry, 2008: 11). Susunan atom,molekul,
atau ion dalam padatan kristal adalah sedemikian rupa sehingga gaya tarik-
menarik antar molekul pada keadaan maksimumnya. Gaya yang menyebabkan
kestabilan kristal dapat berupa gaya ion, ikatan kovalen, gaya van der waals,
ikatan hidrogen atau kombinasi gaya-gaya ini (Chang, 2003:378).
Pembentukan partikel padatan didalam sebuah fasa homogen. Atau di
sebut kristalisasi merupakan pembentukan Partikel padatan yang dapat terjadi
dari fasa uap, seperti pada proses pembentukan kristal salju atau sebagai
pemadatan suatu cairan pada titik lelehnya atau sebagai kristalisasi dalam suatu
larutan (cair). (Fachry, 2008: 9).
Kristalisasi adalah proses perubahan struktur material dari fasa amorf
menjadi kristal. Kristalisasi merupakan proses pembentukan kristal yang terjadi
pada saat pembekuan yaitu perubahan dari fasa cair ke fasa padat. Mekanisme
kristalisasi dapat terjadi melalui dua tahap, yaitu pengintian dan pertumbuhan
kristal. Kristalisasi dapat terjadi dengan pengerjaan dingin maupun pengerjaan
panas. Sebagai akibat dari pengerjaan dingin adalah sifat kekerasan, kekuatan
tarik dan tahanan listrik akan naik, sedangkan keuletan akan menurun
(Munawaroh, 2012: 28).
Salah satu sifat penting kristal yang perlu diperhatikan adalah ukuran
kristal individual dan keseragaman ukuranya (Sebagai kristal bulk). Untuk alasan
inilah distribusi ukuran kristal (Crystal Size Distribution, CSD) harus selalu
dikontrol Supersaturasi merupakan suatu kondisidimana konsentrasi padatan
(solute), dalam suatu larutan melebihi konsentrasi jenuh larutan tersebut,maka
pada kondisi inilah kristal pertama kali terbentuk. ada 4 metode untuk
membangkitkansupersaturasi, yaitu : Pengubahan suhu, penguapan solven, reaksi
kimia, dan pengubahan komposisisolven (Fachry, 2008: 10).
Keadaan cair, atom-atom tidak memiliki susunan yang teratur dan mudah
bergerak. Dengan berkurangnya suhu, maka energi atom semakin rendah,
sehingga atom sulit bergerak, selanjutnya atom mulai mengatur kedudukannya
relatif terhadap atom lain. Hal ini terjadi pada daerah relatif dingin yang
merupakan daerah awal terjadinya inti kristal. Proses pengintian selanjutnya
terjadi pertumbuhan kristal yang berlangsung dari suhu rendah ke suhu yang lebih
tinggi. Energi termal yang terus meningkat dapat mengakibatkan pertumbuhan
kristal yang terus menerus hingga transformasi akhir, yaitu amorf menjadi kristal.
(Munawaroh, 2012: 28).
Kobalt adalah logam berwarna abu-abu seperti baja dan bersifat sedikit
magnetis. Ia melebur pada 1490oC. Logam ini mudah melarut dalam asam-asam
mineral encer.
Co + 2 H+ Co2+ + H2
Pelarutan dalam asam nitrat disertai dengan pembentukan nitrogen oksida.
3Co + 2 HNO3 + 6 H+ 3Co2+ + 2NO + 4H2O
Dalam larutan air, kobalt secara normal terdapat sebagai ion kobalt (II), Co2+,
kadang-kadang khususnya dalam kompleks-kompleks dijumpai ion kobalt (III),
Co3+, kedua ion ini masing-masing ditutrunkan dari oksida CoO dan Co2O3.
Oksida kobalt (II)-kobalt (III), CO3O4, juga diketahui dalam larutan air senyawa-
senyawa kobalt (II), terdapat ion Co2+ yang merah. Senyawa-senyawa kobalt (II)
yang tak berhidrat atau tak berdisosiasi, berwarna biru. Jika dosiasi dari senyawa-
senyawa kobalt ditekan, warna larutan berangsur-angsur berubah menjadi biru.
Ion kobalt(III), Co3+, tida k stabil, tetapi ko pleks-kompleksnya stabil, baik dalam
larutan maupun dalam bentuk kering. Kompleks-kompleks kobalt (II) dapat
dioksidasikan dengan mudah menjadi kompleks-kompleks kobalt (III) (Svehla,
1985:276).
Semua senyawa kompleks kobalt (III) mengadopsi geometri oktahedron,
misalnya ion heksaaminakobalt (III), [Co(NH3)6]3+, dan heksasianokobaltat (III),
[Co(CN)6]3-. Ion kompleks heksanitrokobaltat (III) [Co(NO2)6]3-, yang
berwarnakuning dan biasanya dibuat sebagai garam natrium, menunjukkan sifat
yang tak lazim. Seperti lazimnya garam-garam alkali, Na3[Co(NO2)6] larut dalam
air, tetapi garam kaliumnya sangat sukar larut dalam air, demikian juga garam-
garam rubidium maupun sesiumnya. Hal ini dikaitkan dengan ukuran ion relatif.
Ion kalium mempunyai ukuran relatif jauh lebih dekat dengan ukuran anion
kompleksnya, sehingga kristalnya mempunyai energi kisi yang lebih tinggi dan
kelarutan lebih rendah. Sifat ini merupakan salah satu reaksi Petunjuk kulaitatif
adanya ion kalium:
3K+(aq) + [Co(NO2)63+ (aq) K3[CO(NO2)6](s)
(Sugiyarto, 2001 :254).
Ligan bidentat potensial dengan dua donor nitrogen atom, sangat penting
secara farmakologis karena itu digunakan dalam sintesis obat-obatan seperti
antihistamin dan anti-inflamasi [5]. 2-ampy juga terbukti memiliki pengaruh besar
pada formasi molibdat logam transisi di mana ia bertindak sebagai buffer dan
dengan demikian membentuk kompleks yang lebih lemah dengan logam transisi
Kobalt (II) kompleks dengan O- dan N donor ligan telah dipelajari secara luas dan
ditemukan memiliki sifat yang beragam [1, 7, 20, 30, 32]. Beberapa komplek telah
terbukti memiliki sifat antitumor [33], serta aktivitas antimikroba terhadap
mikroba yang resisten strain [12, 34, 35] (Yuoh, 2015:1-2)
Kobalt merupakan suatu logam yang mempunyai karakteristik unik dan
dibutuhkan untuk berbagai keperluan industri dan militer [1]. Kobalt termasuk
dalam logam sekunder seperti As, Sb, dan Cd yang didapat karena hasil
sampingan proses pengolahan logam utama dari bijih logam diantaranya Cu, Ni
dan Zn (Wulansari, 2015:2).
Seperti pada ion-ion besi, perbedaan ligan mengakibatkan perbedaan harga
potensial reduksi yang sangat signifikan, sehingga hal ini mempengaruhi
kestabilan tingkat oksidasi ion kompleks yang bersangkutan. Sebagai contoh
yaitu:
[Co(H2O)6]3+(aq) + e- [Co(H2O)6]2+(aq) E0 = +1,82 V
[Co(NH3)6]3+(aq) + e- [Co(NH3)6]2+(aq) E0 = +0,10 V
Nilai potensial reduksi ion [Co(NH3)6]2+( +0,10 V) jauh lebih rendah daripada
nilai potensial reduksi oksigen (+1,23 V)
O2(g)+ 4 H3O+(aq) + 4e- 6 H20(l)
Oleh karena itu, oksigen sangat potensial sebagai oksidator yang baik terhadap ion
[Co(NH3)6]2+ menurut reaksi:
4[Co(NH3)6]2+(aq) + O2(g) + 2 H2O(l) 4[Co(NH3)6]3+(aq) + 4 OH-(aq)
(Sugiyarto, 2001 :254).
Menurut Teori Koordinasi Werner sangat sederhana. Teori ini dapat
dinyatakan dalam bentuk postulat sebagai berikut;
1. Sebuah ion memiliki dua jenis valensi, yaitu valensi primer (valensi dapat
terionisasi) dan valensi sekunder (valensi tidak dapat terionisasi).
2. Jumlah valensi sekunder suatu ion adalah tertentu, misalnya;
ion Pt4+, Co3+, Ti3+, Fe3+ bervalensi sekunder 6 (enam)
ion Pd2+, Pt2+, Cu2+, Ni2+ bervalensi 4 (empat)
ion Cu+, Ag+, Au+, Hg+ bervalensi 2 (dua)
3. Valensi sekunder harus dipenuhi oleh anion atau molekul netral yang
memiliki pasangan elektron bebas (seperti halide, sianida, ammonia, amin
dan air).
4. Dalam sebuah senyawa, valensi sekunder harus dipenuhi secara sempurna.
Setelah valensi sekunder terpenuhi kemudian valensi primer baru dipenuhi
oleh anion jika membentuk kompleks kation dan begitu seterusnya.
5. Valensi sekunder memiliki ruangan dan bentuk geometri tertentu. Valensi
sekunder 4 dari ion nikel berbentuk tetrahedral, dari ion tembaga brbentuk
bujursangkar dan valensi sekunder 6 dari kobalt atau kromium berbentuk
oktahedral.
Dengan menggunakan postulat ini, Werner telah dapat menjelaskan perbedaan
sifat dari kompleks kobalt (III) klorida dan ammonia yang direaksikan larutan
AgNO3 kobal (III) dipandang memiliki valensi sekunder 6.
Kompleks Nama Warna Mol AgCl Daya Rumus Kompleks
hantar
CoCl3.6NH3 Luteo Kuning 3 431,6 [Co(NH3)6]3+.3Cl
-
CoCl3.5NH3 Purpureo Purple 2 261,3 [Co(NH3)5Cl
]2+.2Cl-
CoCl3.4NH3 Praseo Hijau 1 - [Co(NH3)4
Cl2]+.Cl-
CoCl3.3NH3 Violeo violet 0 - [Co(NH3)3 Cl3]
(Majid, 2011: 5)
D. ALAT DAN BAHAN
1. Alat-alat
a. Gelas arloji (2 buah)
b. Gelas kimia 100 mL (1 buah)
c. Gelas kimia 250 mL (1 buah)
d. Gelas kimia 500 mL (1 buah)
e. Gelas ukur 10 mL (1 buah)
f. Gelas ukur 100 mL (1 buah)
g. Hot plate (1 buah)
h. Corong buchner
i. Labu isap 500 mL (1 buah)
j. Pipet volume (1 buah)
k. Ball Pipet (1 buah)
l. Corong (1 buah)
m. Neraca analitik (1 buah)
n. Spatula (1 buah)
o. Pipet tetes( 3 buah)
p. Pinset (2 buah)
q. Botol semprot(1 buah)
r. Pompa vakum (1 buah)
s. Termometer (1 buah)
2. Bahan-bahan yang digunakan :
a. CoSO4.7H2O (Kobalt sulfat heptahidrat)
b. Ammonium klorida (NH4Cl)
c. Ammmonium hidroksida pekat (NH4OH)
d. Timbal dioksida (PbO2)
e. Asam klorida pekat (HCl)
f. Arang aktif
g. Etanol 95% (C2H5OH)
h. Lakmus merah dan biru
i. Aquadest (H2O)
j. Kertas saring whatman
k. Es batu
E. PROSEDUR KERJA
1. Melarutkan 5,6 gram CoSO4 dan 5,5 gram NH4Cl kedalam 25 ml air dalam
gelas piala 250 ml. Mengaduk larutan tersebut.
2. Mengamati apa yang terjadi dan mencatat warna larutan.
3. Menambahkan 10 ml NH4OH pekat (lakukan dalam lemari asam), 2,4 gram
PbO2 dan 0,5 gram arang aktif. Membiarkan pengaduk gelas di dalam gelas
piala.
4. Menutup gelas piala dengan gelas arloji, hati-hati campuran dipanaskan
sampai mencapai titik didih yang ditandai dengan terbentuknya gelembung
udara.
5. Mendinginkan larutan sampai suhu kamar (menggunakan air dingin dalam
sebuah gelas piala) dan kemudian mendinginkan lagi sampai 10oC
(menggunakan air es).
6. Menyaring kristal yang terbentuk dengan menggunakan corong buchner.
Membilas gelas piala dengan 3 ml air es dan cairannya dipakai untuk
mencuci kristal.Membuang filtratnya.
7. Memindahkan kertas saring beserta isinya kedalam gelas piala semula.
Membilas residu dengan 5 ml air, lalu menambhakan lagi air sampai
volume menjadi 75 ml.
8. Menambahkan 1,5 ml HCl pekat dan aduk. Memeriksa apakah larutannya
asam (menggunakan kertas lakmus), jika tidak menambahkan lagi sedikit
HCl pekat.
9. Memanaskan larutan sampai hampir mendidih yang tidak ditandai dengan
terbentuknya gelembung udara.
10. Menyaring larutan panas ini melalui corong uchner dan capat pindahkan
filtrtanya ke sebuah gelas piala bersih.
11. Menambahkan perlahan-lahan 30 ml HCl pekat dengan terus diaduk dan
membiarkan larutan menjadi dingin pada suhu kamar.
12. Menyaring kristalnya dengan corong buchner. Menghilangkan air yang
tertinggal dengan dua kali pencucian dengan etanol 95%.
13. Mengeringkan kristal dengan menggunakan pompa vakum.
14. Mengeringkan kristal pada gelas arloji yang diletakkan diatas gelas piala
berisi air yang di didihkan. Menyebar kristal secara merata.
15. Menimbang kristal beserta kertas saring dan mengamati warnanya.
16. Mengamati bentuk kristalnya dengan menggunakan mikroskop.
F. HASIL PENGAMATAN
5,6 gram CoSO4 (merah bata) + 5,5 gram NH4Cl (putih) + aquadest
larutan merah anggur + 10 ml NH4OH pekat (tidak berwarna) + 2,4
gram PbO2 larutan hitam kemerahan + 0,5 gram arang aktif(hitam)
𝑑𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔
larutan hitam kental 10𝑜𝐶
larutan hitam kental endapan berwarna
𝑑𝑖𝑐𝑢𝑐𝑖 3 𝑚𝑙 𝑎𝑖𝑟 𝑒𝑠
hitam → endapan berwarna hitam + kertas saring (didalam gelas
piala) kertas saring + endapan hitam 5 ml air + 75 ml air
𝑑𝑖𝑎𝑑𝑢𝑘
larutan hitam + 1,5 ml HCl (p) larutan merah bata (lakmus
𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑎𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔
asam/pH asam) 5−10 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡
larutan hitam 𝑐𝑜𝑟𝑜𝑛𝑔 𝑏𝑢𝑐ℎ𝑛𝑒𝑟
filtrat merah muda +

30 mL HCl pekat(tidak berwarna) Larutan merah muda, kristal putih,


𝑑𝑖𝑑𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑠𝑢ℎ𝑢 𝑘𝑎𝑚𝑎𝑟 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎𝑟𝑖𝑛𝑔
→ larutan merah muda,kristal putih → kristal
𝑑𝑖𝑐𝑢𝑐𝑖 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑡𝑖𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔
putih 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑒𝑡𝑎𝑛𝑜𝑙 95 %
kristal putih kristal putih

0,2 g [Co(NH3)6]Cl3
G. ANALISIS DATA
Dik : m [Co(H2O)6]SO4 = 5,6 gram Mr = 280.93 gram/mol
m NH4Cl = 5,5 gram Mr = 53,5 gram/mol
massa jenis H2O = 1 g/mL
Volume H2O = 25 mL
Mr H2O = 18 g/mL
Massa jenis NH3 = 0,91 g/mL
Volume NH3 = 10 mL
Mr NH3 = 17 g/mL
m PbO2 = 2,4 gram Mr = 239,2 gram/mol
ρ NH4OH = 0,91 g/ml Mr = 35 gram/mol
Mr HCl = 36,5 g/mL
massa jenis HCl = 1,19 g/mol
Volume HCl = 30 mL
Massa [Co(NH3)6]Cl3 = 0,2 gram
Dit : % rendemen = ........................?
Penyelesaian :
𝑔𝑟𝑎𝑚 5,8 𝑔𝑟𝑎𝑚
mol [Co(H2O)6]SO4.H2O = 𝑀𝑟
= 280,93 𝑔/𝑚𝑜𝑙 = 0,0199 mol
𝑔𝑟𝑎𝑚 5,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
mol NH4Cl = 𝑀𝑟
= 53,5 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 1,0280 mol

massa H2O = massa jenis H2O x Volume H2O


= 1 g/mL x 25 mL
= 25 gram
𝑔𝑟𝑎𝑚 25 𝑔𝑟𝑎𝑚
mol H2O = 𝑀𝑟
= 18𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 =1,3889 mol

[Co(H2O)6]SO4.H2O + 6NH4Cl + H2O [Co(NH3)6]SO4+ SO4 + 8H2O +4Cl-


m: 0,0199 mol 6,1680 mol 0,26 mol - - - -
b : 0,0199 mol 0,0199 mol 0,0199 mol 0,0199 0,0199 0,1592 0,0786
s : - 6,1481 mol 1,3690 mol 0,0199 0,0199 0,1592 0,0786
massa NH3 = massa jenis NH3 x volume NH3
= 0,91 g/mL X 10 mL
= 9,1 g
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑁𝐻3
Mol NH3 = 𝑀𝑟
9,1 9𝑟𝑎𝑚
= 17 𝑔/𝑚𝑜𝑙 = 0,5353 mol

[Co(NH3)6]Cl2 + NH2 Co(NH3)6]Cl2


m : 0,0199 0,5353 -
b : 0,0199 0,0199 0,0199
s : - - 0,0199
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑃𝑏𝑂2
Mol PbO2 = 𝑀𝑟
2,4 9𝑟𝑎𝑚
= 239,2 𝑔/𝑚𝑜𝑙 = 0,0100 mol

Massa HCl = massa jenis HCl X volume HCl


= 1,19 g/mL X 30 mL
= 35,7 g
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐻𝐶𝑙
Mol HCl = 𝑀𝑟
35,7 9𝑟𝑎𝑚
= 36,5 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑜𝑙 = 0,9781 mol
[Co(NH3)6]Cl2 + PbO2 + HCl [Co(NH3)6]Cl3 + Pb2++ H++O2
Oksidasi : Co2+ Co3+ +e- x2

Reduksi : Pb4+ + 2e- Pb2+ x1

2Co2+ 2Co3+ +2e-


Pb4+ +2e- Pb2+
2Co2+ + Pb4+ 2Co3+ + Pb2+
2Co2+ + Pb4+ 2Co3+ + Pb2+
m : 0,0199 0,0099 - -
b : 0,0199 0.0099 0,0199 0,0099
s : 0,01 mol - 0,0199 0,0099
massa teori [Co(NH3)6]Cl3 = mol [Co(NH3)6]Cl3 X Mr ) [Co(NH3)6]Cl3
= 0,0199 mol x 267,43 gram/mol
= 5,3218 gram
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑒𝑘
% rendemen = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖
x 100 %
0,2 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 5,3218 𝑔𝑟𝑎𝑚 x 100 %

= 0,0376 x 100%
=3,76 %
H. PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui cara mensintesis
heksaaminkobalt (III) triklorida disintesis dari kobalt sulfat heptahidrat,
ammonium klorida dan ammonium hidroksida/ammonia, serta untuk mengetahui
warna dan bentuk dari kristal heksaaminkobalt (III) triklorida.
Langkah pertama yang dilakukan pada percobaan ini yaitu melarutkan
kobalt sulfat heptahidrat dan ammonium klorida dalam aquadest. kobalt sulfat
heptahidrat berfungsi sebagai pendonor atom pusat Co2+ sedangkan ammonium
klorida berfungsi sebagai pendonor anion klorida (Cl-) dan ligan netral (NH3).
Kemudian diaduk untuk memepercepat proses pelarutan. Setelah zat-zat tersebut
bercampur maka akan menghasilkan larutan berwarna merah anggur. Adapun
persamaan reaksinya yaitu:
[Co(H2O)6]SO4.H2O+ 6NH4Cl + H2O [Co(NH3)6]SO4+ SO42- + 8H2O +6 H+4Cl-
Selanjutnya menambahkan NH4OH pekat yaitu NH3 dan H2O, yang
berfungsi sebagai penyedia ligan netral (NH3). Lalu ditambahkan timbal dioksida
(PbO2) yang berfungsi untuk mengoksidasi Co2+ menjadi Co3+. Kemudian
ditambahakan arang aktif yang berfungsi untuk mengikat oksigen yang dilepaskan
dari PbO2 dengan persamaan reaksi pada saat penambahan ammonia yaitu:
[Co(NH3)6]Cl2 + NH3 Co(NH3)6]Cl2
Dibiarkan batang pengaduk di dalam gelas piala agar uap air keluar sehingga
ligan-ligan yang kosong tidak diisi oleh H2O tetapi oleh NH3.
Gelas Piala ditutup dengan gelas arloji dan dipanaskan sampai hampir
Mendidih. Hal ini dimaksudkan agar NH3 tidak lepas dan pada saat pemanasan
tidak boleh mendidih sempurna karena apabila mendidih maka NH3 yang
diharapkan sebagai ligan akan keluar.
Kemudian didinginkan larutan sampai suhu kamar dengan menggunakan
air dingin lalu didinginkan lagi dengan menggunakan air es. Hal ini dimaksudkan
agar larutan yang panas tidak serta merta langsung didinginkan dengan air es.
Tetapi penurunan suhunya secara bertahap. Sehingga gelas piala tidak pecah
apabila dari suhu panas langsung tiba-tibake suhu dingin. Pendinginan bertujuan
untuk mempercepat terbentuknya kristal. Selanjutnya kristal disaring yang
terbentuk dengan menggunakan corong buchner, karena secara tekhnis
penyaringan dengan metode ini lebih cepat. Lalu gelas piala dibilas dengan air es
agar sisa-sisa kristal yang tidak ikut tersaring dapat tersaring, sehingga tidak ada
kristal yang tidak terikutr. Digunakanair es karena larutan yang disaring
sebelumnya dalam kondisi dingin sehingga yang digunakan juga untuk
melarutkan sisa kristal yang tidak terikat pada saat penyaringan juga air yang
dalam kondisi dingin. Setelah itu dibuang filtratnya karena yag diinginkan dalam
hal ini yaitu kristalnya /residu.
Langkah selanjutnya yaitu memindahkan kertas saring beserta kristalnya
ke dalam gelas piala semula. Membilas residu dengan air lalu ditambahkan lagi air
sampaiu volumenya menjadi 75 mL agar semua kristal yang telah disaring
melarut. Lalu ditambahkan HCl pekat untuk mengasamkan larutan tersebut karena
apabila larutan netral maka saat terjadi hidrolisis, satu atau lebih ligan NH3 akan
diganti dengan H2O. Untuk mengecek keasaman larutan maka digunakan kertas
lakmus diaman lakmus biru akan menjadi merah sedangkan lakmus merah tetap
merah, yang menandakan bahwa larutan tersebut telah asam.
Larutan dipanaskan sampai hampir mendidih karena apabila mendidih
maka NH3 yang diharapkan sebagai ligan akan lepas, selanjutnya larutan tersebut
disaring panas untuk mempermudah proses penyaringan karena pada keadaan
panas pori-pori dari kertas saring membesar sehingga larutan dengan mudahnya
tersaring tanpa memerlukan waktu yang lama, kemudian memindahkan filtratnya
dalam gelas piala bersih.
Setelah itu menambahkan perlahan-lahan HCl pekat untuk penyeimbang
anion klorida (Cl-). Dalam hal ini digunakan HCl pekat dan bukan HCl encer
karena dalam HCl encer lebih banyak terkadung H2O sehinggfa bisa terjadi
hidrolisis dan dapat terhidrolisis menjadi ion-ion pembentuknya. Hal ini
berdasarkan deret spektrokimia dimana ligan NH3 lebih kuat dari ligan H2O.
Sehingga H2O dapat menggantikan NH3 tetapi NH3 tidak dapat digeser oleh H2O.
Kemudian dibiarkan larutan menjadi dingin pada suhu kamar untuk
memperbanyak pembentukan kristal.
Kristal tersebut disaring dengan corong buchner karena secara tekhnis
penyaringan dengan metode ini lebih cepat. Air yang tertinggal pada kristal
dihilangkan dengan menggunakan etanol 95 % karena sifat etanol yang mudah
menguap dan mengikat air. Kristal dikeringkan dengan menggunakan pompa
vakum untuk mempercepat proses pengeringan karena dalam hal ini uap akan
terisap dengan bantuan pompa vakum. Pengeringan sempurna kristal dilakukan
pada gelas arloji yang diletakkan di atas gelas piala berisi air yang didihkan
dengan bantuan uap panas dari air yang dididihkan tersebut selanjutnya kristal
tersebut ditimbang dan diperoleh sebesar 0,2 gram, tetapi warna dari kristal yang
tidak diperoleh tidak sesuai dengan teori yaitu warna orang kekuningan. Adapun
persamaan rekasi terbentuknya kristal heksaaminkobalt (III) triklorida yaitu:
2[Co(NH3)6]Cl2 + PbO2 + HCl 2[Co(NH3)6]Cl3 + Pb2++ 2H++O2
Kristal yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan yaitu berwarna putih. Hal
ini terjadi karena PbO2 yang digunakan boleh tereduksi menjadi PbO. Oleh
karena itu, heksaaminkobalt (III)tidak teroksidasi menjadi heksaaminkobalt (III)
sehingga larutan yang diperoleh pada penyaringan berwarna merah muda yang
menandakan bahwa larutan tersebut masih dalam bentuk Co2+. Dengan demikian
Pb2+ yang terdapat dalam larutan tersebut bereaksi dengan penambahan Hci pekat
menjadi PbCl2 yang berwarna putih. Berdasarkan perhitungan yang diperoleh
rendemen sebesar 3,74 %.

Gambar Pada Mikroskop


Bentuk kisi kristal [Co(NH3)6]Cl3 yaitu monoklin sedangkan bentuk
geometrinya yaitu oktahedral

Monoklin octahedral

I. PENUTUP
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa:
a. Kesimpulan
1. [Co(NH3)6]Cl3 dapat disintesis dari kobalt sulfat heptahidrat,
ammonium klorida dan ammonium hidroksida dimana mula-mula
terbentuk ion heksaaminkobalt (III) kemudian dioksidasi oleh timbal
dioksida menjadi ion heksaaminkobalt (III).
2. Kristal yang diperoleh sebanyak 0,2 gram dengan rendemen sebesar
3,74% dan berwarna putih dengan kisi kristal berbentuk monoklin dan
bentuk geometrinya oktahedral.
b. Saran
Disarankan kepad praktikan selanjutnya agar lebih memperhatikan PbO2
yang digunakan karena apabila PbO2 telah teresuksi lebih dahulu maka ion
heksaaminkobalt (II) tidak dapat teroksidasi menjadi ion heksaaminkobalt (III).

DAFTAR PUSTAKA

Chang,R. 2003. Kimia Dasar: Konsep-Konsep Kimia Inti Edisi Ketiga Jilid I.
Jakarta: Erlangga

Petrucci, R.H.1985. Kimia Dasar: Prinsip dan Terapan Modern Edisi keempat
Jilid 3. Jakarta : Erlangga

Sugiyarto, K.H.. 2001. Kimia Anorganik II :Dasar-Dasar Kimia Anorganik


Logam. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas
Negeri Yogyakarta.

Sukardjo. 1992. Kimia Koordinasi Edisi Revisi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Svehla,G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan


Semimikro.Edisi Kelima Bagian I.Jakarta PT Kalman Media Pusaka.
Jakarta
Tim Dosen Kimia Anorganik. 2009. Penuntun Praktikum Sintesis Kimia
Anorganik. Laboratorium Kimia UNM Makassar.

JAWABAN PERTANYAAN

1. [Co(NH3)6]Cl2 + PbO2 + HCl [Co(NH3)6]Cl3 + Pb2++ H++O2


Oksidasi : Co2+ Co3+ +e- x2

Reduksi : Pb4+ + 2e- Pb2+ x1

2Co2+ 2Co3+ +2e-


Pb4+ +2e- Pb2+
2Co2+ + Pb4+ 2Co3+ + Pb2+
2. Senyawa koordinasi [Co(NH3)6]Cl3 lebih mudah larut dengan HCl encer
daripada HCl pekat karenadalam HCl encer lebih banyak terkadang
terkandung H2O. Sehingga bila terjadi hidrolisis maka ligan NH3 dapat
diganti dengan H2O. Selain itu juga apabila dengan HCl encer maka
[Co(NH3)6]Cl3 dapat terionisasi menjadi ion-ion pembentuknya.
3. Hasil Yang diperoleh sebesar 3,76 %

Anda mungkin juga menyukai