Anda di halaman 1dari 21

Etika dan Kepribadian

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Etika dan Kepribadian

a. Etika
Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos
sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat
tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap,
cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.

Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh
Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata),
etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat
kebiasaan (K.Bertens, 2000).
Biasanya bila kita mengalami kesulitan untuk memahami arti sebuah kata maka kita akan
mencari arti kata tersebut dalam kamus. Tetapi ternyata tidak semua kamus mencantumkan
arti dari sebuah kata secara lengkap. Hal tersebut dapat kita lihat dari perbandingan yang
dilakukan oleh K. Bertens terhadap arti kata ‘etika’ yang terdapat dalam Kamus Bahasa
Indonesia yang lama dengan Kamus Bahasa Indonesia yang baru. Dalam Kamus Bahasa
Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953 – mengutip dari Bertens,2000), etika
mempunyai arti sebagai : “ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)”. Sedangkan
kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1988 – mengutip dari Bertens 2000), mempunyai arti :
1. Nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam
mengatur tingkah lakunya.
Misalnya, jika orang berbicara tentang etika orang Jawa, etika agama Budha, etika Protestan
dan sebagainya, maka yang dimaksudkan etika di sini bukan etika sebagai ilmu melainkan
etika sebagai sistem nilai. Sistem nilai ini bisaberfungsi dalam hidup manusia perorangan
maupun pada taraf sosial.

2. Kumpulan asas atau nilai moral.


Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Contoh : Kode Etik Jurnalistik
3. Ilmu tentang yang baik atau buruk.
Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai
tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan
sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis.
Etika di sini sama artinya dengan filsafat moral.
St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis
(practical philosophy).
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan
kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak
jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk
mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika
memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah
etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku
manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku
manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik
dan buruk terhadap perbuatan manusia.
Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi
penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika).
Etika terbagi atas 2 jenis, yaitu :
1. Etika Filosofis
Ada dua hal yang perlu diingat berkaitan dengan etika teologis. Pertama, etika teologis bukan
hanya milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya
masing-masing. Kedua, etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum, karena itu
banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum, dan dapat
dimengerti setelah memahami etika secara umum.
Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari
presuposisi-presuposisi teologis. Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika
filosofis dan etika teologis. Di dalam etika Kristen, misalnya, etika teologis adalah etika yang
bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi tentang Allah atau Yang Ilahi, serta memandang
kesusilaan bersumber dari dalam kepercayaan terhadap Allah atau Yang Ilahi. Karena itu,
etika teologis disebut juga oleh Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris. Etika
teologis Kristen memiliki objek yang sama dengan etika secara umum, yaitu tingkah laku
manusia. Akan tetapi, tujuan yang hendak dicapainya sedikit berbeda, yaitu mencari apa yang
seharusnya dilakukan manusia, dalam hal baik atau buruk, sesuai dengan kehendak Allah.
Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan
menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, antara agama yang satu dengan
yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika teologisnya.

2. Etika Teologis
Terdapat perdebatan mengenai posisi etika filosofis dan etika teologis di dalam ranah etika.
Sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika ini, ada tiga jawaban menonjol yang
dikemukakan mengenai pertanyaan di atas, yaitu :
• Revisionisme
Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430) yang menyatakan bahwa etika teologis
bertugas untuk merevisi, yaitu mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.
• Sintesis
Jawaban ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyintesiskan etika
filosofis dan etika teologis sedemikian rupa, hingga kedua jenis etika ini, dengan
mempertahankan identitas masing-masing, menjadi suatu entitas baru. Hasilnya adalah etika
filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi
lapisan atas yang bersifat khusus.

• Diaparalelisme
Jawaban ini diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika
teologis dan etika filosofis sebagai gejala-gejala yang sejajar. Hal tersebut dapat
diumpamakan seperti sepasang rel kereta api yang sejajar.
Mengenai pandangan-pandangan di atas, ada beberapa keberatan. Mengenai pandangan
Augustinus, dapat dilihat dengan jelas bahwa etika filosofis tidak dihormati setingkat dengan
etika teologis. Terhadap pandangan Thomas Aquinas, kritik yang dilancarkan juga sama yaitu
belum dihormatinya etika filosofis yang setara dengan etika teologis, walaupun kedudukan
etika filosofis telah diperkuat. Terakhir, terhadap pandangan Schleiermacher, diberikan kritik
bahwa meskipun keduanya telah dianggap setingkat namun belum ada pertemuan di antara
mereka.
Ada pendapat lain yang menyatakan perlunya suatu hubungan yang dialogis antara keduanya.
Dengan hubungan dialogis ini maka relasi keduanya dapat terjalin dan bukan hanya saling
menatap dari dua horizon yang paralel saja. Selanjutnya diharapkan dari hubungan yang
dialogis ini dapat dicapai suatu tujuan bersama yang mulia, yaitu membantu manusia dalam
bagaimana ia seharusnya hidup.
Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis:
Terdapat perdebatan mengenai posisi etika filosofis dan etika teologis di dalam ranah etika.
Sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika ini, ada tiga jawaban menonjol yang
dikemukakan mengenai pertanyaan di atas, yaitu:
• Revisionisme
Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430) yang menyatakan bahwa etika teologis
bertugas untuk merevisi, yaitu mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.
• Sintesis
Jawaban ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyintesiskan etika
filosofis dan etika teologis sedemikian rupa, hingga kedua jenis etika ini, dengan
mempertahankan identitas masing-masing, menjadi suatu entitas baru. Hasilnya adalah etika
filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi
lapisan atas yang bersifat khusus.
• Diaparalelisme
Jawaban ini diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika
teologis dan etika filosofis sebagai gejala-gejala yang sejajar. Hal tersebut dapat
diumpamakan seperti sepasang rel kereta api yang sejajar.
Mengenai pandangan-pandangan di atas, ada beberapa keberatan. Mengenai pandangan
Augustinus, dapat dilihat dengan jelas bahwa etika filosofis tidak dihormati setingkat dengan
etika teologis. Terhadap pandangan Thomas Aquinas, kritik yang dilancarkan juga sama yaitu
belum dihormatinya etika filosofis yang setara dengan etika teologis, walaupun kedudukan
etika filosofis telah diperkuat. Terakhir, terhadap pandangan Schleiermacher, diberikan kritik
bahwa meskipun keduanya telah dianggap setingkat namun belum ada pertemuan di antara
mereka.
Ada pendapat lain yang menyatakan perlunya suatu hubungan yang dialogis antara keduanya.
Dengan hubungan dialogis ini maka relasi keduanya dapat terjalin dan bukan hanya saling
menatap dari dua horizon yang paralel saja. Selanjutnya diharapkan dari hubungan yang
dialogis ini dapat dicapai suatu tujuan bersama yang mulia, yaitu membantu manusia dalam
bagaimana ia seharusnya hidup.

b. Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi
dengan individu lain
Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang
ditunjukkan oleh seseorang.
• Kepribadian menurut pengertian sehari-hari
Disamping itu kepribadian sering diartikan dengan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu,
seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang
supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut,
dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”.
• Kepribadian menurut psikologi
Berdasarkan penjelasan Gordon Allport tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian
sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan
sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit
Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.

Teori kepribadian psikodinamika :


Teori psikodinamika berfokus pada pergerakan energi psikologis di dalam manusia, dalam
bentuk kelekatan, konflik, dan motivasi.
Teori Freud
Sigmund Freud berpendapat bahwa kepribadian terdiri dari tiga sistem utama: id, ego, dan
superego. Setiap tindakan kita merupakan hasil interaksi dan keseimbangan antara ketiga
sistem tersebut.
Teori Jung
Carl Jung pada awalnya adalah salah satu sahabat terdekat Freud dan anggota lingkaran
koleganya, tetapi pertemanan mereka berakhir dalam pertengkaran tentang ketidaksadaran.
Menurut Jung, di samping ketidaksadaran individual, manusia memiliki ketidaksadaran
kolektif yang mencakup ingatan universal, simbol-simbol, gambaran tertentu, dan tema-tema
yang disebutya sebagai arketipe.

Faktor-faktor penentu kepribadian


• Faktor Keturunan
Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah, gender,
temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis adalah
karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial,
dipengaruhi oleh siapa orang tua dari individu tersebut, yaitu komposisi biologis, psikologis,
dan psikologis bawaan dari individu.
Terdapat tiga dasar penelitian yang berbeda yang memberikan sejumlah kredibilitas terhadap
argumen bahwa faktor keturunan memiliki peran penting dalam menentukan kepribadian
seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari perilaku dan temperamen
anak-anak. Dasar kedua berfokus pada anak-anak kembar yang dipisahkan sejak lahir. Dasar
ketiga meneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam berbagai situasi
Penelitian terhadap anak-anak memberikan dukungan yang kuat terhadap pengaruh dari
faktor keturunan. Bukti menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti perasaan malu, rasa takut, dan
agresif dapat dikaitkan dengan karakteristik genetis bawaan. Temuan ini mengemukakan
bahwa beberapa sifat kepribadian mungkin dihasilkan dari kode genetis sama yang
memperanguhi faktor-faktor seperti tinggi badan dan warna rambut.
Para peneliti telah mempelajari lebih dari 100 pasangan kembar identik yang dipisahkan sejak
lahir dan dibesarkan secara terpisah. Ternyata peneliti menemukan kesamaan untuk hampir
setiap ciri perilaku, ini menandakan bahwa bagian variasi yang signifikan di antara anak-anak
kembar ternyata terkait dengan faktor genetis. Penelitian ini juga memberi kesan bahwa
lingkungan pengasuhan tidak begitu memengaruhi perkembangan kepribadian atau dengan
kata lain, kepribadian dari seorang kembar identik yang dibesarkan di keluarga yang berbeda
ternyata lebih mirip dengan pasangan kembarnya dibandingkan kepribadian seorang kembar
identik dengan saudara-saudara kandungnya yang dibesarkan bersama-sama.
• Faktor Lingkungan
Faktor lain yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah
lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan
kelompok sosial; dan pengaruh-pengaruh lain yang seorang manusia dapat alami. Faktor
lingkungan ini memiliki peran dalam membentuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh,
budaya membentuk norma, sikap, dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi yang
secara intens berakar di suatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh pada kultur
yang lain. Misalnya, orang-orang Amerika Utara memiliki semangat ketekunan, keberhasilan,
kompetisi, kebebasan, dan etika kerja Protestan yang terus tertanam dalam diri mereka
melalui buku, sistem sekolah, keluarga, dan teman, sehingga orang-orang tersebut cenderung
ambisius dan agresif bila dibandingkan dengan individu yang dibesarkan dalam budaya yang
menekankan hidup bersama individu lain, kerja sama, serta memprioritaskan keluarga
daripada pekerjaan dan karier.

Sifat-Sifat Kepribadian
Berbagai penelitian awal mengenai struktur kepribadian berkisar di seputar upaya untuk
mengidentifikasikan dan menamai karakteristik permanen yang menjelaskan perilaku
individu seseorang. Karakteristik yang umumnya melekat dalam diri seorang individu adalah
malu, agresif, patuh, malas, ambisius, setia, dan takut. Karakteristik-karakteristik tersebut jika
ditunjukkan dalam berbagai situasi, disebut sifat-sifat kepribadian. Sifat kepribadian menjadi
suatu hal yang mendapat perhatian cukup besar karena para peneliti telah lama meyakini
bahwa sifat-sifat kepribadian dapat membantu proses seleksi karyawan, menyesuaikan bidang
pekerjaan dengan individu, dan memandu keputusan pengembangan karier.

BAB II
CONTOH-CONTOH MATERI

PENYIMPANGAN INDIVIDU

KORUPSI

Korupsi adalah perilaku menyimpang yang di lakukan secara individu, namun dapat
juga di lakukan secara berkelompok atau terorganisir, akan tetapi pada umummnya korupsi
dilakukan secara individual, karena factor iming-iming materi yang akan didapatkannya
sehingga peyimpangan ini di lakukan secara individual.
Untuk memberantas sang koruptor perlu adanya sanksi yang cukup keras, untuk sang
koruptor, dan memang harus ada kesadaran dari dalam.

HUBUNGAN SEKS DI LUAR NIKAH

Hubungan seks di luar nikah pada zaman sekarang ini rata-rata dilakukan pada usia
dibawah umur atau masih menginjak bangku sekolah.
Pengawasan orang tua merupakan factor yang paling mempengaruhi penyimpangan tersebut,
karena dengan adanya pengawasan dari orng tua terhadap perilaku keseharian anak-anaknya
maka hal-hal tersebut bisa terhindari.
Perlu juga adanya sosialisasi atau pemahaman yang lebih mendalam, tetang hubungan sex,
sehingga para pelajar mengetahui dampak negative dan positif dari perbuatan tersebut, Dan
hal” tersebut dapat terhindari.

PENYIMPANGAN KELOMPOK
TAWURAN
Tawuran pelajar sudah marak di lakukan para remaja untuk menyelesaikan sebuah
masalah, mungkin ini merupakan factor-faktor media social (TV) yang selalu menampilkan
tayangan-tayangan tawuran para mahasiswa atau antar warga, sehingga para remaja tersebut
mengukuti hal-hal tersebut untuk mnyelesaikan masalahnya pula.
Ini sudah jelas-jelas merupakan penyimpanghan social selain karena factor lingkungan juga
karena factor pengawasan guru-guru sekolah.
Untuk menyadarkan kembali para remaja yang terlibat tawuran tersebut. Perlu dilakukan
sosialisasi di sekolah. Dan perlu juga ada sanksi tegas dari pihak sekolah, sebagai peringatn
kepada mereka.

ARAK-ARAKAN PELAJAR

Sudah menjadi tradisi di kalangan para pelajar, setelah lulus sekolah mereka melakukan arak-
arakan di jalan sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas, mengapa hal ini di kategorikan
juga sebagai penyimpangan ? karena adanya tindakan yang teroganisir yang dapat
menimbulkan masalah dalam masyarakat.

BAB III
KESIMPULAN

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos
sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat
tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap,
cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.
Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh
Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata),
etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat
kebiasaan (K.Bertens, 2000).
Biasanya bila kita mengalami kesulitan untuk memahami arti sebuah kata maka kita akan
mencari arti kata tersebut dalam kamus. Tetapi ternyata tidak semua kamus mencantumkan
arti dari sebuah kata secara lengkap. Hal tersebut dapat kita lihat dari perbandingan yang
dilakukan oleh K. Bertens terhadap arti kata ‘etika’ yang terdapat dalam Kamus Bahasa
Indonesia yang lama dengan Kamus Bahasa Indonesia yang baru. Dalam Kamus Bahasa
Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953 – mengutip dari Bertens,2000), etika
mempunyai arti sebagai : “ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)”. Sedangkan
kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1988 – mengutip dari Bertens 2000),
Kepribadian adalah keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi
dengan individu lain
Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang
ditunjukkan oleh seseorang.
Sapta Pesona Pariwisata

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Beberapa tahun yang lalu industri pariwisata di Indonesia sempat mengalami kenaikan yang
signifikan jika dibandingkan dengan industri pariwisata sekarang, memang secara kuantitas
jumlah wisatawan terus meningkat, namun seharusnya sudah lebih jauh dari itu. Pada
program Visit Indonesia Year 1991 dahulu dikampanyekan program Sapta Pesona. Hal
tersebut menunjukkan hasil yang memuaskan terbukti dengan terlampuinya target kunjungan
wisata. Pada tahun 1991 badak bercula satu binatang khas daerah Ujung Kulon, Jawa Barat
digunakan sebagai maskot tahun kunjungan Indonesia 1991 (Visit Indonesia Year 1991). Ini
merupakan kampanye promosi pariwisata Indonesia ke seluruh dunia oleh Departemen
Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (sekarang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata).
Pada program Visit Indonesia 2008 sekarang ini agaknya patut diingatkan kampanye yang
sama, agar program pembangunan pariwisata Indonesia dapat berjalan dengan baik dan dapat
menunjukkan hasil yang nyata bagi pembangunan nasional serta tidak dijalankan dengan
setengah hati oleh segenap lapisan elemen bangsa. Tujuan diselenggarakan program Sapta
Pesona adalah untuk meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab segenap lapisan
masyarakat, baik pemerintah, swasta maupun masyarakat luas untuk mampu bertindak dan
mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

B. Rumusan masalah
1. Apa definisi sapta pesona?
2. Apa tujuan dan manfaat sapta pesona?
3. Bagaimana cara menumbuhkan sapta pesona?
C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui apa definisi sapta pesona
2. Mengetahui apa tujuan dan manfaat sapta pesona
3. Mengetahui bagaimana cara menumbuhkan sapta pesona
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI SAPTA PESONA

Sadar Wisata dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep yang menggambarkan


partisipasi dan dukungan segenap komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya
iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu wilayah dan
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sapta Pesona merupakan jabaran konsep
Sadar Wisata yang terkait dengan dukungan dan peran masyarakat sebagai tuan rumah dalam
upaya untuk menciptakan lingkungan dan suasana kondusif yang mampu mendorong tumbuh
dan berkembangnya industri pariwisata melalui perwujudan tujuh unsur dalam Sapta Pesona
tersebut.
Logo Sapta Pesona berbentuk matahari tersenyum yang menggambarkan
semangat hidup dan kegembiraan. Tujuh sudut pancaran sinar yang tersusun rapi di sekeliling
matahari menggambarkan unsur-unsur Sapta Pesona yang terdiri dari : unsur aman, tertib,
bersih, sejuk, indah, ramah dan kenangan.

1. AMAN
Pengertian Suatu kondisi lingkungan di destinasi pariwisata atau daerah tujuan wisata yang
memberikan rasa tenang, bebas dari rasa takut dan kecemasan bagi wisatawan dalam
melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut.
Bentuk aksi yang perlu diwujudkan antara lain :

 Tidak menganggu kenyamanan wisatawan


 Menolong dan melindungi wisatawan
 Menunjukkan sifat bersahabat terhadap wisatawan
 Memelihara keamanan lingkungan
 Membantu memberi informasi kepada wisatawan
 Menjaga lingkungan yang bebas dari bahaya penyakit menular
 Meminimalkan resiko kecelakaan dalam penggunaan fasilitas publik

2. TERTIB
Pengertian kondisi lingkungan dan pelayanan di destinasi pariwisata/daerah tujuan wisata
yang mencerminkan sikap disiplin yang tinggi serta kualitas fisik dan layanan yang konsisten
dan teratur serta efisien sehingga memberikan rasa nyaman dan kepastian bagi wisatawan
dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah tersebut.
Bentuk aksi yang perlu diwujudkan antara lain:

 Mewujudkan budaya antri


 Memelihara lingkungan dengan mentaati peraturan yang berlaku
 Disiplin waktu/tepat waktu
 Serba jelas, teratur, rapi dan lancar

3. BERSIH
Suatu kondisi lingkungan serta kualitas produk dan pelayanan di destinasi pariwisata/daerah
tujuan wisata yang mencerminkan keadaan yang sehat/hygienik sehingga memberikan rasa
nyaman dan senang bagi wisatawan dalam melakukan perjalanan atau kunjungan ke daerah
tersebut.
Bentuk aksi yang perlu diwujudkan antara lain :

 Tidak membuang sampah sembarangan


 Menjaga kebersihan lingkungan objek wisata
 Menjaga lingkungan yang bebas dari polusi udara
 Menyiapkan sajian makanan dan minuman yang higienis
 Menyiapkan perlengkapan penyajian makanan dan minuman yang bersih
 Pakaian dan penampilan petugas bersih dan rapi.

4. SEJUK
Suatu kondisi di destinasi pariwisata/daerah tujuan wisata yang mencerminkan keadaan yang
sejuk dan teduh yang akan memberikan perasaan nyaman bagi wisatawan dalam melakukan
kunjungannya ke daerah tersebut.
Bentuk aksi yang perlu diwujudkan antara lain :

 Melaksanakan penghijauan dengan menanam pohon


 Memelihara penghijauan di lingkungan objek wisata
 Menjaga kondisi sejuk dalam berbagai area di daerah tujuan wisata
5. INDAH
Suatu kondisi di daerah tujuan wisata yang mencerminkan keadaan yang indah dan menarik
dan memberikan kesan yang mendalam bagi wisatawan sehingga mewujudkan potensi
kunjungan ulang serta mendorong promosi ke pasar wisatawan yang lebih luas
Bentuk Aksi yang perlu diwujudkan antara lain :

 Menjaga objek wisata dalam tatanan yang estetik, alami dan harmoni
 Menata lingkungan secara teratur

Menjaga keindahan vegetasi, tanaman hias dan peneduh.


6. RAMAH
Suatu kondisi lingkungan yang bersumber dari sikap masyarakat di destinasi pariwisata yang
mencerminkan suasana yang akrab dan terbuka.
Bentuk Aksi yang perlu diwujudkan :

 Bersikap sebagai tuan rumah yang baik serta selalu membantu wisatawan
 Memberi informasi tentang adat istiadat secara sopan
 Menunjukkan sikap menghargai dan toleransi terhadap wisatawan
 Memberikan senyum yang tulus

7. KENANGAN
Suatu bentuk pengalaman yang berkesan di destinasi pariwisata yang akan memberikan rasa
senang dan kenangan yang indah bagi wisatawan.

 Bentuk aksi yang perlu diwujudkan :


 Menggali dan mengangkat keunikan budaya local
 Menyajikan makanan dan minuman khas lokal yang bersih dan sehat
 Menyediakan cinderamata yang menarik, unik/khas serta mudah dibawa

B. TUJUAN DAN MANFAAT SAPTA PESONA

Sadar wisata merupakan bagian akar pohon pariwisata, dalam artian bahwa sadar wisata
menjadi dasar atau fondasi yang kuat sehingga pohon pariwisata tumbuh dengan kuat. Sadar
wisata juga merupakan kekuatan dalam unit-unit kerja yang menduung organisasi pariwisata.
Pesona adalah merupakan kebijakan dalam dunia pariwisata tanah air. Melalui Sapta Pesona,
diharapkan terwujudkan suasana kebersamaan semua pihak untuk terciptanya lingkungan
alam dan budaya budaya luhur bangsa. Dahulu masyarakat mengenal Kelompok Sadar
Wisata dan merasakan pentingnya program tersebut. Program ini menggambarkan partisipasi
dan dukungan segenap masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi
berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi wilayah.
Sapta Pesona bertujuan; (1) meningkatkan pemahaman segenap komponen masyarakat untuk
menjadi tuan rumah yang baik dalam mewujudkan iklim yang kondusif bagi tumbuh dan
berkembangnya pariwisata serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (2) Menggerakkan
dan memotivasi kemampuan serta kesempatan masyarakat sebagai wisatawan untuk
menggali dan mencintai tanah air.

Cara menumbuhkan sapta pesona ada berbagai macam, diantaranya adalah:

a. Harus ada kesadaran akan adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban

Kita harus selalu sadar bahwa setiap perilaku kita dalam bergaul dengan wisatawan di daerah
wisata apa pasti akan menimbulkan hak dan kewajiban masing- masing yang harus dijalankan
dengan seimbang dan selaras.

b. Membanngun sistem keamanan yang kuat

Sistem keamanan bisa dibangun dan direncanakan mulai dari hal yang kecil dan dari lingkup
yang kecil juga, misalnya sikap disiplin dalam berbagai hal

c. Ketaatan pada hukum

Taat pada hukum artinya bahwa negara kita adalah negara hukum dan kita harus menjunjung
tinggi dan menjaga sistem hukum yang ada agar keberadaannya mampu melindungi hak dan
kewajiban wisatawan

d. Disiplin dalam melakukan segala sesuatu

Setiap warga masyarakat diharapkan mampu disiplin baik secara individu maupun dalam
interaksi dengan orang lain terutama wisatawan dimanapun sehingga akan menumbuhkan
rasa saling menghargai yang secara tidak langsung memberikan rasa aman bagi wisatawan
A. Manfaat sapta pesona
Sapta pesona memberikan manfaat yang beraneka ragam, diantaranya:

a. Menumbuhkan citra positif bagi daerah tujuan wisata


b. Keinginan berkunjung bagi wisatawan semakin besar
c. Terciptanya keharmonisan dan keteraturan
d. Terbentuknya masyarakat yang berbudaya baik
e. Mencegah terjadinya konflik
f. Meningkatkan rasa saling percay

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sapta Pesona merupakan penjabaran dari konsep sadar wisata yang terkait dengan
dukungan dan peran masyarakat sebagai tuan rumah atau penyelenggara pariwisata dalam
upayanya menciptakan lingkungan yang mendukung dan suasana yang kondusif agar mampu
mendorong tumbuh dan berkembangnya industri pariwisata melalui perwujudan tujuh unsur
yang terdapat dalam sapta pesona
B. Saran
Kita harus wajib menjadi daerah tujuan wisata yang mampu memberikan nilai nilai dari tujuh
unsur sapta pesna wisata

DAFTAR PUSTAKA
Diakses dari http://id.wikipedia.org pada tanggal 17 desember 2010
Caniago, Yasmen. 2010. Konsep Dasar Wisata dan Sapta Pesona. Diakses dari
http://wisatakandi.blogspot.com pada tanggal 17 desember 2010.
Ichsan. 2008. Makna Logo Sapta Pesona. Diakses dari http://tunas63.wordpress.com pada tanggal 17
desember 2010.
Saksono, Arie. 2009. Sapta Pesona dan Citra Destinasi. Dikses dari
http://ariesaksono.wordpress.com pada tanggal 17 desember 2010.
Tata Cara Makan (Table Manner)
Tata Cara Makan (Table Manner) adalah aturan etiket yang digunakan saat makan dan
juga mencakup penggunaan yang tepat dari peralatan. Budaya yang berbeda mengamati
aturan yang berbeda untuk cara makan. Setiap keluarga atau kelompok menetapkan standar
sendiri untuk bagaimana ketat aturan ini harus ditegakkan.

Ketika Anda melakukan perjalanan ke beberapa negara di dunia, Anda mungkin menemukan
bahwa dalam beberapa kebudayaan, etiket makan sangat jauh berbeda dari Anda. Berikut
adalah beberapa ulasan menganai Tata Cara Makan / Table Manner di beberapa negara.

Etika Sopan Santun di Meja Makan

Jika mampu menunjukkan sopan santun di meja makan, sebenarnya secara tidak langsung
menunjukkan kualitas pergaulan, intelektualitas dan etika pergaulan seseorang. Etika makan
tidak dibentuk secara tiba-tiba. Kualitas etika makan harus dilakukan sejak usia anak dan
remaja. Dengan kebiasaan sehari-hari dengan melakukan etika makan yang baik maka
merupakan proses pembelajaran yang sangat baik. Bila etika makan dibentuk secara instan
maka akan menghasilkan kualitas etika makan yang canggung dan tidak luwes. Bila
seseorang diundang di sebuah restoran terkenal atau jamuan makan malam resmi dengan
meja makan yang sudah di setting sedemikian rupa harus mengikuti aturan etika makan yang
baik.
Aturan Dasar Etika Makan

Setiap negara memiliki aturan meja makan yang berbeda-beda. Namun, ada beberapa aturan
dasar yang terdapat di setiap etika makan, yaitu :

1. Makan dengan mulut yang tertutup saat mengunyah makanan.


2. Berbicara dengan volume suara yang rendah.
3. Tutupi mulut saat batuk atau bersin.
4. Jangan menyandarkan punggung di sandaran kursi.
5. Jangan menimbulkan suara saat mengunyah makanan.
6. Jangan memainkan makanan dengan peralatan makan.
7. Jangan mengejek atau memberitahu seseorang bahwa dia memiliki etika makan yang
buruk.
8. Jangan bersedekap di meja makan.
9. Selalu meminta ijin ke empunya acara saat akan meninggalkan meja makan.
10. Jangan menatap mata orang lain saat dia sedang makan.
11. Jangan berbicara di telepon di meja makan. Meminta ijinlah saat Anda benar benar
harus menjawab telepon, dan meminta maaflah saat kembali.
12. Jangan menimbulkan suara saat memakan sup.
13. Letakkan garpu di sebelah kiri dan garpu disebelah kanan bersama-sama di arah jam 5
di atas piring dengan bagian pisau yang tajam menghadap ke dalam. Ini menandakan
bahwa Anda telah selesai makan.
14. Lap yang disediakan di atas meja tidak boleh digunakan.
15. Jangan menghilangkan ingus dengan lap tangan. Lap yang disiapkan untuk Anda
hanya untuk membersihkan mulut bila kotor.
16. Jangan mengambil makanan dari piring orang lain dan jangan memintanya juga.
17. Telan semua makanan yang ada di mulut sebelum minum.
18. Jangan menggunakan tangan saat mengambil makanan yang tersisa di dalam mulut,
gunakan tusuk gigi.
19. Usahakan untuk mencicipi semua makanan yang disediakan.
20. Tawarkan ke orang di sebelah Anda saat Anda akan menuangkan minuman ke gelas
Anda.
21. Sisakan makanan sedikit bila Anda tidak ingin atau tidak sanggup menghabiskan
makanan.
22. Tunggu ada aba-aba untuk mulai memakan makanan yang dihidangkan.
23. Menambahkan bumbu setelah mencicipi makanan dianggap kasar dan menghina koki.
24. Kecuali di restoran, jangan minta untuk menyingkirkan sisa makanan Anda kecuali
acara makan sudah selesai dan jangan pernah melakukan bila diundang ke acara
formal.
25. Jangan lupakan satu hal yang umum. Jangan lupa untuk selalu mengatakan ‘tolong’
dan ‘terima kasih’ setiap kali Anda meminta bantuan.

Beberapa etika umum yang harus dilakukan adalah:

 Bila pelayan tidak memberikan Anda duduk, Duduk dan tariklah bangku dengan dua
tangan.
 Bukalah serbet atau napkin dengan wajar taruh di pangkuan Anda.
 Jika sudah siap memesan menu, lihat daftar menu dengan wajar, jangan terlalu lama.
Segera menunjuk menu yang Anda pilih. Setelah itu biasanya pelayan mempersilakan
Anda mencicipi menu pembuka atau Appetizer.

Jamuan formal terdiri dari beberapa menu

 Hidangan Pembuka (Appetizer).


 Sebelum hidangan pembuka disajikan biasanya diatas meja disediakan roti sebagai
panganan, Anda bisa makan roti ini dengan tangan. Hidangan pembuka biasanya juga
terdiri dari dua macam, Hot Appetizer dan Cold Appetizer.
 Hot Appetizer biasanya Sup. Aduklah sup itu perlahan, jangan dipangku ditangan
Anda, biarkan tetap diatas meja. Jangan sekali-kali meniup sup. Gunakan sendok sup
yang sudah disediakan, biasanya lebih kecil.
 Cold Appetizer bisa berupa salad, ambil garpu di tangan kiri dan pisau di tangan
kanan, sekali lagi pilihlah alat makan yang disediakan, biasanya lebih kecil dari alat
makan hidangan utama. Janagn ragu-ragu mengelap mulut Anda bila ada sisa
makanan disana. Jangan mengelap dengan satu tangan.

Hidangan Utama (Main Course)

Bila hidangan utama sudah tiba, jangan salah kalau Anda sedang diundang jamuan makan ala
internasional, umumnya ada dua cara menyantap hidangan utama. Hidangan utama sering
berupa daging, steik atau sea food. Bila menggunakan ala Amerika biasanya daging dipotong
lebih dahulu baru disantap menggunakan sendok dengan tangan kanan. Cara Eropa lain lagi,
biasanya langsung dipotong dengan pisau di tangan kanan lalau memakan dengan garpu di
tangan kiri.

Hidangan Penutup (Dessert)

Puas menyantap hidangan utama, saatnya Anda menikmati hidangan penutup. Hidangan
penutup umumnya berupa makanan atau minuman dingin, seperti cocktail, ice cream atau jus.
Jangan makan hidangan penutup langsung setelah Anda menghabiskan makanan utama.
Berilah waktu untuk perut Anda. Setelah dirasa cukup dan hidangan penutup sudah siap,
amkaan Anda bisa menyantapnya.

Bila hidangan penutup Anda berupa minuman yang ada hiasan diatasnya. Makanlah
hiasannya atau sisihkan terlebih dahulu. Baru minum isinya.
A. Serbet
B. Piring utama
C. Mangkok sop dan tatakannya
D. Piring roti dan mentega dengan pisau roti
E. Gelas air
F. Anggur putih
G. Anggur merah
H. Garpu ikan
I. Garpu utama
J. Garpu salad
K. Pisau utama
L. Pisau ikan
M. Sendok sop
N. Sendok makanan pencuci mulut dan garpu kue

Perhatikan bahwa posisi garpu salad (J) disarankan untuk diletakkan disebelah kiri garpu
utama (I). Bagaimanapun juga untuk jamuan resmi garpu utama digunakan sebelum garpu
salad, karena itu sebaiknya para tamu menunggu hidangan utamanya sebelum mengambil
salad.

Apa yang harus dilakukan? Kapan memulai makan?

Tidak seperti dengan nasehat orang tua, para pakar etiket malah menganjurkan untuk
memulai makan tanpa harus selalu menunggu orang lain – mulailah makan saat makanan
hangat disajikan. Untuk makanan dingin atau buffets, tunggulah hingga tuan rumah
mempersilakan makan, dan tunggu pula hingga tamu utamanya mulai mengambil makanan.

Makanan yang dapat dipegang dengan tangan:

 Roti: break slices of bread, rolls and muffins in half or into small pieces by hand
before buttering.
 Daging : jika potongan dagingnya tebal, makanlah dengan menggunakan pisau dan
garpu. Jika garing, pecahkan dengan garpu dan makanlah dengan tangan.
 Makan dengan tangan: Ikuti pedoman tuan rumah. Jika makanan tersebut disajikan
dalam piring, ambil dan letakkan pada piring Anda sebelum memakannya.
 Makanan yang biasanya langsung dimakan dengan tangan: jagung pada ikan tongkol,
tulang iga, lobster, kepiting dan tiram dengan cangkang terbuka, sayap ayam dan
tulang (untuk situasi tidak resmi), sandwiches, beberapa jenis buah tertentu, buah
zaitun, seledri, roti dan kue kering.

Membuang makanan yang terselip dari mulut:

1. Serpihan buah zaitun: keluarkan dengan hati-hati ke telapak tangan sebelum


membuangnya ke piring.
2. Tulang ayam: gunakan garpu untuk membuang ke piring.
3. Duri ikan: buanglah dengan jari.
4. Bagian yang lebih besar: tulang atau makanan yang tidak ingin anda makan keluarkan
dengan hati-hati dan tersembunyi ke dalam serbet makan hingga tidak diketahui orang
lain.

Tata Cara Untuk Minum :

1. MUG (gelas agak besar tanpa kaki) yang digunakan untuk minum kopi, teh atau
minuman panas lainnya, biasanya digunakan pada acara tak resmi. Tatakan biasanya
disertakan untuk meletakkan sendok kecil, bahkan kadang tidak disediakan sama
sekali. Bila disertai tatakan/lepek, biasanya sendok diletakkan dengan posisi
menghadap ke bawah atau di sisi piring mentega atau piring makan. Jangan lupa
mengeluarkan sendok dari mug pada waktu akan minum.
2. Letakkan teh celup yang sudah dicelupkan ke dalam cangkir yang berisi air panas
pada piring alas/tatakan cangkir.
3. Sebelum mereguk es teh manis, es kopi susu, atau jus, jangan lupa singkirkan sendok
pengaduk yang berbentuk panjang. Letakkan di tatakan setelah selesai mengaduk
minuman. Bila tak tersedia, jangan lupa memintanya.
4. Bila kopi atau teh tumpah, tanyakan apakah bisa mengganti tatakan. Bila tidak
memungkinkan, gunakan serbet atau tisu untuk membersihkannya. Hal ini untuk
menghidari tumpahan yang lebih banyak atau mengenai baju Anda.
5. Jika disuguhi minuman dengan gelas yang biasa digunakan untuk anggur merah,
pegang kaki gelas. Untuk anggur putih, pegang badan gelas untuk menjaga
kedinginan minuman tersebut. Bila di gelas minuman terdapat hiasan buah seperti
stroberi, ceri, dan lainnya tapi Anda tidak ingin memakannya, boleh disingkirkan.
6. Sebaiknya jangan meniup minuman yang panas untuk mendinginkannya. Agar cepat
dingin, Anda bisa mengaduk minuman secara perlahan atau tunggu sampai panasnya
berkurang.
PUBLIC SPEAKING
Ketika akan memulai berbicara di depan umum, baik sebagai MC, Presenter atau apa saja
yang menuntut kita berbicara di depan umum, kita biasanya berpikir “Apakah aku harus
menggebu-gebu atau pelan-pelan?” “Dimanakah aku harus berdiri?” “Bagaimanakah gerakan
yang harus aku lakukan?” “Harus cepat atau pelankah aku akan berbicara?” “Bagaimana
kalau aku berbuat kesalahan?” “Kapan aku harus berhenti?” dan lain sebagainya. Pertanyaan
ini muncul biasanya dari ketidakpercayaan diri. Kepercayaan diri dalam berbicara di depan
umum memang tergantung dari kebiasaan. Meskipun demikian, mengetahui bagaimana kita
menampilkan diri akan membantu kita memperoleh kepercayaan diri.
Berbicara di depan umum menuntut pembicara menampilkan dirinya dengan baik karena
pada kesempatan itulah dirinya menjadi pusat perhatian. Pertanyaan yang kemudian muncul
adalah: Bagaimanakah penampilan yang baik itu?
Penampilan yang baik dalam presentasi, berpidato, atau memimpin acara adalah penampilan
yang dapat membuat hadirin dapat menangkap pikiran-pikiran yang dikemukakan pembicara
dengan jelas, menarik dan tidak “mengganggu” hadirin dalam memahami apa yang
disampaikan pembicara. Seandainya pembicara bergumam, tidak berdiri dengan tenang,
melihat ke luar jendela, atau berbicara monoton, maka pastilah apa yang ingin disampaikan
pembicara sulit ditangkap hadirin. Hadirin juga akan sulit menangkap misi yang disampaikan
jika penyampaiannya terlalu berlebih-lebihan baik dengan gerakan-gerakan dan suara yang
sangat dramatis.
Sebagaian besar hadirin akan lebih menyukai penyampaian yang mengkombinasikan antara
unsur-unsur penyampaian yang formal dan yang biasa dilakukan dalam bercakap-cakap, yaitu
langsung, spontan, dan antusias.

Metode Penyampaian
Metode penyampaian merupakan faktor yang penting dalam presentasi, pidato, atau pembawa
acara. Ada empat cara penyampaian yaitu:
 berbicara dengan membaca naskah
 berbicara berdasar hafalan teks yang disiapkan
 berbicara tanpa persiapan
 berbicara dengan catatan pokok pembicaraan
Berbicara dengan membaca naskah, biasanya dilakukan pada upacara-upcara yang sangat
resmi atau karena waktu yang sangat berharga. Dengan demikian ketepatan dari kata per kata
menjadi kunci utama. Meskipun demikian, cara penyampaian haruslah diusahakan wajar
seperti percakapan biasa. Karena sifatnya yang resmi seorang MC, misalnya, membaca dari
teks yang sudah disiapkan. Makin resmi suatu acara, maka makin besar tuntutan seorang MC
untuk ketepatan berbicaranya.
Berbicara berdasar hafalan tidak banyak dilakukan orang lagi. Dalam memakai metode ini
speaker harus betul-betul hafal dan harus nampak wajar seperti berkomunikasi.
Berbicara dengan tanpa persiapan biasanya dilakukan dalam pertemuan bisnis, menjawab
pertanyaan, dll. Kelemahan metode ini adalah dalam masalah strukturnya, karena
mengorganisasi apa yang diucapkan dalam waktu yang mendesak memang cukup sulit.
Berbicara dengan catatan kecil, outline, atau pokok-pokok pembicaraan saja, memberikan
kondisi yang komunikatif. Memang terlihat sulit tetapi metode ini adalah metode yang paling
mudah dalam menciptakan output yang baik karena metode ini memungkinkan kita
mengorganisasikan pikiran kita, menciptakan suasana yang lebih formal, dapat beradaptasi
dengan keadaan, tidak kaku.
Ekspresi Suara
Setiap orang mempunyai karakter suara yang berbeda-beda dan masing-masing memberi
keunikannya sendiri-sendiri. Meskipun pembicara memberikan ciri-ciri khasnya ada kriteria
umum yang disukai orang dan menarik. Jadi dapat dikatakan bahwa salah satu aspek dari
keberhasilan berbicara di depan umum adalah suara kita. Ekspresi suara harus diperhatikan
oleh pembicara adalah:

1. Volume. Pada masa sekarang ini loud speaker sangat membantu penampilan suara
kita sehingga kita tidak terlalu sulit menyesuaikan suara kita.
2. Intonasi. Mengutarakan apa yang ada dalam pikiran kita tidaklah hanya
memperhatikan kata-kata yang meluncur dari mulut kita saja. Intonasi adalah faktor
yang sangat penting dalam menjalin komunikasi dengan hadirin. Dari intonasilah
pembicara akan nampak kaku, tidak percaya diri, sombong, malas, seperti anak-anak,
senang, bosan, dinamis, menyenangkan dsb.
3. Ritme atau tempo bicara. Kecepatan berbicara seseorang merupakan hal yang
penting dalam berpidato. Agar efektif, pembicara haruslah menyesuaikan ritme
berbicaranya dengan hadirin, suasana yang ingin diciptakan, dan kata-kata yang ingin
ditekankan, dan materi yang disampaikan.
4. Pause. Meskipun pause atau berhenti ketika berbicara tidak nampak penting, tetapi
faktor ini yang dapat memberikan kesan mampu dan tidaknya seseorang berbicara.
Tidak ada orang yang berbicara tanpa berhenti, seseorang pasti berhenti tetapi yang
menjadi masalah adalah pembicara haruslah tahu kapan dia dapat berhenti. Yang
penting diingat adalah mengusahakan menghilangkan filler ketika berhenti.
Meskipun yang tersulit dalam public speaking adalah menghilangkan filler tetapi jika
terus berlatih filler tersebut akan hilang.
5. Artikulasi. Artikulasi sangat dipengaruhi oleh budaya suatu daerah. Artikulasi dalam
berpidato atau presentasi tidaklah seketat artikulasi dalam ke-MC-an. Meskipun
demikian, pembicara harus memperhatikan artikulasinya karena menunjukkan
kejelasan dan kerapian berbicara.

Aspek Non-Verbal
(Ekspresi Wajah dan Bahasa Tubuh)

“Men trust their ears less than their eyes” kata ahli sejarah Yunani, Herodotus,
kurang lebih 2400 tahun yang lalu. Disini dapat berarti bahwa seandainya gerak-gerik tubuh
tidak sesuai dengan apa yang dikatakan maka orang akan lebih percaya bahasa tubuhnya
daripada kata-katanya.
Presenter pemula biasanya bingung dan cemas bagaimana dia akan membawakan
dirinya. Dia terutama akan bingung dimana dia akan menaruh tangannya. Yang sering terjadi
adalah dia akan menaruh tangannya disaku. Orang boleh-boleh saja merasa nervous tetapi dia
tidak dapat menampakkan kenervousan tersebut. Pembicara haruslah nampak tenang, percaya
diri dan gaya. Jadi pembicara tidaklah hanya cukup tahu apa yang hendak dikatakannya tetapi
juga tahu bagaimana dia mengungkapkannya.

Penampilan non-verbal ditunjukkan dengan penampilan:


1. Penampilan Busana,
Yang termasuk aksesoris, sepatu, rambut. Aspek non verbal ini dan dapat disebut dengan
“bahasa’ artifactual. Meskipun sifatnya semu dan seolah-olah bukan merupakan bagian dari
diri pembicara, tetapi pengaruh terhadap hadirin begitu besar. Yang paling penting dalam
masalah berbusana ini, kita tahu kapan dan dalam kesempatan apa kita berbicara karena
busana selalu harus menyesuaikan kesempatannya, waktu, hadirin, dan kesan yang ingin kita
dapatkan dengan busana tersebut.
Dalam berbusana, seseorang haruslah tahu prinsip berbusana untuk berbicara di depan umum
adalah “common sense” dan “achieving good taste”. Dalam meraih kesan tersebut orang
haruslah nampak: (1) percaya diri; (2) enak atau nyaman; (3) terkendali (kita memakai
busana bukan busana memakai kita).
Dari ketiga prinsip tersebut dapat kita simpulkan bahwa penampilan busana kita haruslah
dapat memperjelas apa yang hendak disampaikan dan bukan sebaliknya membuat bingung
hadirin.
2. Gerakan Tubuh dan Tangan.
Gerakan tubuh dan tangan haruslah dapat membuat hadirin lebih jelas menangkap maksud si
pembicara. Pembicara melakukan “moving”; “acting” hanyalah semata-mata untuk
memperjelas apa yang dikatakannya. Dengan demikian gerakan yang terlalu berlebihan akan
sangat mengganggu penampilannya. Sebaliknya, gerakan yang monoton atau tidak ada
gerakan sama sekali akan membuat hadirin mengantuk.
Perasaan nervous sering mendorong seseorang menggerakkan tubuh dan wajahnya secara
tidak wajar. Perasaan ini mendorong orang kadang terlihat overacting dan sebaliknya terlihat
minder. Gerakan tubuh dan tangan haruslah nampak anggun, wajar dan spontan, serta dapat
membantu memperjelas dan menekankan ide yang ingin disampaikan serta sesuai dengan
hadirin.

3. Kontak Mata
Kira-kira 75% dari komuniksi non verbal dilakukan dengan wajah kita. Jika penting kita
belajar menggunakan otot-otot wajah kita untuk mengungkapkan apa yang kita kehendaki
dengan tepat. Bola mata memang tidak mengekspresikan emosi, tetapi dengan memanipulasi
bola mata dan wajah sekelilingnya, terutama kelompok mata atas dan alis, kita dapat
menangkap pesan-pesan non verbal yang disampaikan. Begitu pentingnya kontak mata,
sehingga ada pepatah mengatakan bahwa mata adalah “jendela jiwa kita’.
Cara yang tercepat untuk menciptakan komunikasi dengan pendengar adalah lihatlah mata
mereka dengan bersahabat. Idealnya berbicara di depan publik 80% sampai 90% dari waktu
pembicaraan, haruslah melihat audience. Akan tetapi, tidaklah cukup hanya dengan melihat
saja, melainkan bagaimana cara memandang itupun sangat penting. Pandangan yang kosong
meskipun melihat mata lawan bicara, juga hampir sama jeleknya dengan tidak melakukan
kontak mata sama sekali. Demikian juga pandangan mata yang dingin, kaku, dan sombong.
Mata harus memancarkan rasa percaya diri, kesungguhan, jujur dan bersahabat. Mata harus
mengatakan “saya senang berbicara di depan anda; saya benar-benar jujur dengan apa yang
saya katakan dan saya ingin andapun demikian”.

Melatih Teknik Berbicara di Depan Umum

1. Latihlah berbicara dengan membaca outline. Berbicaralah dengan keras dan melihat
apakah setelah outline itu disampaikan dalam bentuk pidato menjadi terlalu pendek
atau terlalu panjang. Apakah point-point utamanya sudah jelas?
2. Apakah point-point pendukungnya jelas, meyakinkan, menarik? Apakah pendahuluan
dan penutupnya sudah nampak? Ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kita
dapat memperbaiki pidato kita sedikit demi sedikit.
3. Persiapkan outline apa yang akan dibicarakan dengna memperbaiki outline yang
sudah dibuat sebelumnya. Pastikan bahwa outline tersebut sesingkat mungkin, dan
dapat dibaca dengan jelas kata demi kata.
4. Latihlah pidato anda dengan keras beberapa kali. Jangan khawatir anda membuat
kesalahan. Yang penting adalah konsentrasikan diri anda pada ide utama dan jangan
menghafal kata demi kata.

Kemudian mulailah dengan memulas dan memperbaiki penampilan berpidato. Latihlah di


depan kaca untuk melihat kontak mata anda. Juga seandainya memungkinkan latihlah dengan
merekamnya untuk melihat ekspresi suara anda. Anda akan dapat manfaat jika ada orang lain
yang dapat memberi komentar.

Memang untuk mendapatkan hasil yang maksimal hilangkanlah rasa malu, segan dan gengsi
karena berbicara di depan umum adalah ketrampilan biasa dan seni dan bukan suatu ilmu
yang hanya dipelajari tanpa dipraktekan.
Berbicara di depan umum sama seperti naik sepeda yang akan menjadi terbiasa karena
volume berbicara yang bertambah. Latihanlah yang kemudian menjadi kunci utamanya.
Latihan bahasa tubuh dan ekspresi wajah adalah seperti memasak makanan.
Kita haruslah mencampur dengan komposisi yang tepat dan memasaknya dengan baik.

Anda mungkin juga menyukai