Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH KEPERAWATAN KOMUNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AGREGAT REMAJA

Dibuat Oleh :

Denok Budiutami 1807010


Dian Ayu Juniar K 1807011
Dwi Susanti 1807012
Dyah puspita M 1807013
Eka Mustika Suryanti 1807014
Elsa Yuliani 1807015
Endang Poncowati 1807016
Erna Puspitarini 1807017
Hasib Sa’Dullah 1807018

PROGRAM S1 KEPERAWATAN TRANSFER


STIKES KARYA HUSADA SEMARANG
2018/2019

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat kasih dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kami tentang
“Asuhan Keperawatan pada Agregat Usia Remaja”. Kami menyelesaikan makalah
ini untuk memenuhi tugas mata kuliah KEPERAWATAN KOMUNITAS II. Kami
percaya di balik semua jerih lelah kami, ada upah yang sepadan. Dan tentu saja,
upah itu adalah pengetahuan.
Kami juga ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah
membantu kami dalam pembuatan makalah ini dan berbagai sumber yang telah
kami pakai sebagai data dan juga informasi pada makalah ini. Dengan segala
kelebihan dan kekurangan dalam makalah ini kiranya pembaca dapat
memahaminya. Dan saran-dan kritik yang membangun sangat kami terima untuk
perbaikan kedepannya.
Dengan menyelesaikan makalah ini,kami mengharapkan banyak maanfaat
yang dapat dipetik dari makalah ini. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih.

Semarang, Maret 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................i

KATA PENGANTAR..........................................................................................ii

DAFTAR ISI........................................................................................................iii

BAB 1 PENDAHULUAN....................................................................................1

1.1 Latar Belakang..............................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................1

1.3 Tujuan Penulisan...........................................................................................2

1.4 Metode Penulisan...........................................................................................2

BAB 2 LANDASAN TEORI...............................................................................3

2.1 Perkembangan Remaja.................................................................................3

2.1.1 Perkembangan Moral............................................................................5

2.1.2 Perkembangan Spiritual........................................................................6

2.1.3 Perkembangan Psikososial....................................................................6

2.2 Masalah Kesehatan Pada Remaja dan Peran Perawat Komunitas dalam
Mengatasi Masalah..............................................................................................8

2.2.1 Merokok................................................................................................9

2.2.2 Kehamilan Remaja................................................................................9

2.2.3 Penyakit Menular Seksual.....................................................................10

2.2.4 Penyalahgunaan Zat..............................................................................11

2.3 Tingkatan Pencegahan..................................................................................11

2.3.1 Pencegahan Primer................................................................................11

2.3.2 Pencegahan Sekunder............................................................................12

2.3.3 Pencegahan Tersier................................................................................12

BAB 3 PEMBAHASAN......................................................................................13

3.1 Kasus Pemicu.................................................................................................13

iii
3.2 Asuhan Keperawatan....................................................................................13

3.2.1 Survey Hasil................................................................................................13

3.2.1.3 Winshield Survey......................................................................................14

3.2.3 Analisa Data................................................................................................21

BAB 4 PENUTUP................................................................................................27

4.1 Kesimpulan....................................................................................................27

4.2 Saran...............................................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................v

iv
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa.
Remaja menurut WHO, remaja adalah seseorang yang berusia 12 sampai 24
tahun. Sedangkan menurut Menteri Kesehatan RI (2010), batas usia remaja
adalah antara 10 sampai 19 tahun dan belum kawin. Seorang remaja akan
diberikan tanggung jawab yang lebih besar dari kedua orang tuanya agar
semakin mempelajari dunia dewasa dan perlahan meninggalkan jiwa kekanak-
kanakannya. Remaja yang baik akan mulai mengaktualkan dirinya di dunia
sosial. Namun, tidak sedikit remaja melakukan hal-hal ekstrem untuk menarik
perhatian lingkungannya. Setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan
akan mengalami perkembangan moral, spiritual, dan psikososial, begitu juga
pada remaja.
Masa remaja merupakan masa di mana individu yang sedang mencari
identitas dirinya. Namun, jika remaja tidak dapat menyelesaikan tugas
perkembangannya dengan baik maka akan membuat remaja merasa
kebingungan akan perannya. Saat masa inilah remaja sangat rentan mengalami
masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan sosial dan kesehatan.
Terdapat berbagai masalah kesehatan di usia remaja yang saat ini marak
terjadi di komunitas masyarakat (Wong, 2008), yaitu merokok, kehamilan
remaja, penularan penyakit menular seksual, dan penyalahgunaan zat. Hal-hal
tersebut bisa diatasi dengan melakukan berbagai macam pencegahan. Perawat
berperan dalam menanggulangi permasalahan-permasalahn tersebut sesuai
tingkatan pencegahan baik pencegahan primer, sekunder, dan tersier.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan penjelasan latar belakang, penulis dapat merumuskan
beberapa masalah yang meliputi:
1. Bagaimana tahap pertumbuhan dan perkembangan remaja?
2. Bagaimana karakteristik remaja?
3. Apa saja masalah kesehatan yang terjadi pada remaja?
4. Bagaimana peran perawat komunitas dalam menanggulangi masalah?
5. Bagaimana pengkajian yang dilakukan terkait kasus?

1
6. Bagaimana asuhan keperawatan komunitas terkait kasus?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan
karakteristik remaja, tahapan pertumbuhan dan perkembangan remaja,
masalah yang sering dialami oleh remaja serta peran perawat komunitas dalam
menangani masalah, dan asuhan keperawatan yang tepat pada setting agregat
remaja.

1.4 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan makalah ini yaitu pada BAB I, penulis
memaparkan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, sistematika,
dan metode penulisan. Pada BAB II, penulis menjelaskan mengenai tinjauan
pustaka mengenai karakteristik remaja, masalah pada remaja, serta peran
perawat komunitas. BAB III, penulis menjelaskan analisis kasus dan asuhan
keperawatan komunitas yang tepat dengan setting agregat remaja. Bab IV
berisi kesimpulan dan saran penulis.

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Perkembangan Remaja


Remaja merupakan tahapan seseorang yang berada di antara fase anak
dan dewasa. Hal ini ditandai dengan perubahan fisik, perilaku, kognitif,
biologis, dan emosional. Seorang remaja akan diberikan tanggungjawab yang

2
lebih besar dari kedua orang tuanya agar semakin mempelajari dunia dewasa
dan perlahan meninggalkan jiwa kekanak-kanakannya. Remaja yang baik
akan mulai mengaktualkan dirinya di dunia sosial. Selain itu, remaja mulai
mengenal dan memahami lawan jenisnya dan timbul rasa ingin diperhatikan
oleh lingkungan. Tidak sedikit remaja melakukan hal-hal ekstrim untuk
menarik perhatian lingkungannya.
Pada remaja, terjadi perubahan fisik dan kognitif yang sangat cepat.
Arti kata kognitif dalah penalaran, penilaian, penangkapan makna, imajinasi,
persepsi. Pengertian kognitif secara umun mencakup aktivitas menilai,
menduga, memperkirakan, membayangkan, menyangka, memperhatikan,
melihat, mengamati. Menurut Piaget (1952) dalam Djiwandono (2005)
definisi kognitif adalah kemampuan berfikir individu yang terdiri atas
kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasikan,
menganalisa/mensintesis, mengevaluasi dan menciptakan. Pengertian kognitif
atau teori perkembangan kognitif Piaget menggambarkan tahapan anak dalam
beradaptasi dan mengintepretasikan berbagai objek, kejadian, dan realitas di
sekitarnya yang terdiri atas tahapan sensorik-motorik, pra operasional,
operasional konkrit, dn operasional formal.
Tujuan aspek kognitif adalah meningkatkan kemampuan intelektual
seseorang mulai dari kemampuan sederhana seperti mengingat hingga
kemampuan kompleks untuk menggabungkan sejumlah prosedur, metode,
gagasan, ide untuk memecahkan suatu masalah. Enam aspek kognitif menurut
Blomm yaitu: Pengetahuan (Knowledge), Pemahaman (Comprehension),
Penerapan (Application), Analisis (Analysis),
Penilainan/penghargaan/evaluasi dan Kreasi (Kyle,2008)
Pemikiran remaja tentang suatu hal telah memiliki batasan-batasannya
tersendiri. Remaja menuangkan konsep yang didapat dalam dunia pendidikan
formal dan melakukannya pada pengalaman pribadinya. Mereka menilai,
pengalaman dengan masalah yang kompleks, tuntutan dari pengajaran formal,
dan tukar menukar ide yang berlawanan dengan kelompok remaja, diperlukan
untuk perkembangan berpikir secara operasional. Remaja yang sudah
mengenal batasan-batasan pemikirnnya tersebut dan mampu mengatasi

3
kelemahannya dengan berpikir secara operasinal berarti sudah mencapai
tingkat berpikir orang dewasa.
Menurut Piaget dalam Djiwandono (2005), tahapan perkembangan
kognitif pada remaja adalah operasional formal. Remaja tidak serta-merta
menerima informasi secara pasif. Sebenarnya mereka mencari kebenaran
informasi tersebut dengan berbagai kemampuan mereka. Setelah itu mereka
akan membuat konsep dari informasi tersebut yang diyakini paling benar.
Konsep tersebut akan selalu dipahami dan dijadikan pedoman dalam
mengembangan informasi lainnya. peran orangtua dalam hal ini adalah
menanamkan banyak informasi penting kepada anak sejak dini agar saat
remaja mereka sudah tidak kebingungan dalam mengembangkan kognitif
mereka (Nursalam, 2007)
Pembatasan usia bagi remaja memang tidak dapat dipastikan. Seorang
dikataka remaja saat sudah mulai timbul perubahan fisik menjadi pubertas.
Namun pada teori Piaget, perkembangan kognitif seorang remaja berkembang
antara usia 14 tahun hingga 18 tahun. Secara umum, semakin tinggi tingkat
kognitif seseorang, semakin teratur dan semakin abstrak pula cara
berpikirnya. Dengan adanya teori ini, menunjukkan bahwa pengajar di tingkat
sekolah menengah pertama harus mampu memunculkan keabstrakan yang
dimiliki muridnya agar perkembangan kognitif dapat berkembang dengan baik
(Arvin, 2000).
Pada awal tahap operasional formal, remaja berpikir sangat egois,
idealis, tertantang dengan berbagai hal baru dan khawatir jika tidak bisa
melakukannya dan merubahnya. Hal ini menyebabkan remaja lebih merasa
hebat. Pada dasarnya remaja harus memikirkan cara paling bijak dan benar,
jika tidak maka remaja akan mudah frustasi dan mencoba hal-hal yang tidak
baik. Remaja yang mampu mengendalikan pikirannya dengan baik memiliki
banyak support sistem yang terus mengajarkan tentang kebaikan. Support
sistem tersebut berada pada orang tua, lingkungan,budaya, agama dan
komunitas yang diikutinya (Kyle, 2008).

2.1.1 Perkembangan Moral


Perkembangan seorang individu dimulai pada masa anak-anak
awal, namun akan membentuk sebagai kepribadian pada masa remaja.

4
Remaja menggunakan pertimbangannya sendiri untuk menilai peraturan
dan tidak lagi menggunakan peraturan hanya untuk menghindari
hukuman seperti pada masa anak-anak. Remaja berbeda dengan anak
pada tahap usia sebelumnya dalam hal penerimaan keputusan. Anak pada
tahap usia sebelum remaja hanya dapat menerima sudut pandang orang
dewasa, sedangkan seorang remaja harus mengganti seperangkat moral
dan nilai mereka sendiri untuk memperoleh otoritas dari orang dewasa.
Saat prinsip yang lama tidak lagi diikuti, tetapi nilai yang baru belum
muncul, remaja akan mencari peraturan moral yang sesuai dengan jati
diri mereka dan mengatur tingkah laku mereka, terutama dalam
menghadapi tekanan yang kuat untuk melanggar keyakinan yang lama.
Keputusan mereka yang melibatkan dilema moral harus berdasarkan
pada prinsip-prinsip moral awal yang ditanamkan dalam diri mereka
sebagai sumber untuk mengevaluasi tuntutan situasi dan merencanakan
serangkaian tindakan yang konsisten dengan ide mereka.
Masa remaja akhir dicirikan dengan suatu pertanyaan serius
mengenai nilai moral yang telah ada dan keterkaitannya terhadap
masyarakat dan individu. Remaja dengan mudah dapat mengambil peran
lain. Mereka memahami tugas dan kewajiban berdasarkan hak timbal
balik dengan orang lain, dan juga memahami konsep keadilan yang
tampak dalam penetapan hukuman terhadap kesalahan dan perbaikan
atau penggantian apa yang telah dirusak akibat tindakan yang salah.
Namun demikian, mereka mempertanyakan peraturan-peraturan moral
yang telah ditetapkan sebagai akibat dari observasi remaja bahwa suatu
peraturan secara verbal berasal dari orang dewasa tetapi mereka tidak
mematuhi peraturan tersebut. Remaja memahami bahwa peraturan
sebenarnya merupakan suatu persetujuan bersama yang dapat disesuaikan
dengan situasi dan tidak bersifat absolut.

2.1.2 Perkembangan Spiritual


Menurut Fowler dalam Kozier (2009), remaja atau individu
dewasa muda mencapai tahap sintetik-konvensional perkembangan
spiritual. Saat menghadapi berbagai kelompok di masyarakat, remaja

5
terpapar dengan berbagai jenis pendapat, keyakinan, dan perilaku terkait
masalah agama. Menurut Kozier (2009), remaja dapat menyelesaikan
perbedaan dengan cara memutuskan bahwa perbedaan adalah hal yang
salah atau mengelompokkan perbedaan. (misalnya seorang teman tidak
dapat pergi hangout pada setiap malam jumat karna menghadiri acara
keagamaan, namun teman tersebut dapat melakukan kegiatan bersama
pada harilain). Remaja sering percaya bahwa berbagai keyakinan dan
praktik keagamaan lebih memiliki kesamaan daripada perbedaan. Pada
tahap ini, remaja berfokus pada persoalan interpersonal, bukan
konseptual.
Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal tetapi
melakukan ibadah secara individual dengan privasi dalam kamar mereka
sendiri. Mereka mungkin memerlukan eksplorasi terhadap konsep
keberadaan Tuhan. Membandingkan agama mereka dengan agama orang
lain dapat menyebabkan mereka mempertanyakan kepercayaaan mereka
sendiri tetapi pada akhirnya akan menghasilkan perumusan dan
penguatan spiritualitas mereka.

2.1.3 Perkembangan Psikososial


Masa remaja terdiri atas tiga subfase yang jelas, yaitu remaja
awal atau early adolescence (11-14 tahun), remaja pertengahan atau
middle adolescence (15-17 tahun), dan remaja akhir atau late adolescence
(18-20 tahun) (Wong, 2001).
Remaja awal (early adolescence) biasanya masih terheran-heran
dengan perubahan fisik yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Pada tahap
remaja awal terdapat tekanan untuk memiliki suatu kelompok dan
memiliki hubungan persahabatan dengan teman sesame jenis. Remaja
menganggap memiliki sebuah kelompok adalah hal yang penting karena
mereka merasa menjadi bagian dari kelompok dan kelompok dapat
memberi mereka rasa status. Remaja akan mulai mencocokan cara dan
minat berpenampilan sesuai dengan kelompoknya dan cemas terhadap
penampilan fisiknya. Menjadi individu yang berbeda mengakibatkan
remaja tidak diterima oleh kelompoknya. Pada tahap remaja awal, remaja

6
akan menyatakan kebebasan dan merasa sebagai seorang individu, bukan
hanya sebagai seorang anggota keluarga. Proses perkembangan identitas
pribadi ini memakan waktu dan penuh dengan periode kebingungan,
depresi, dan keputusasaan. Dampak negatif proses perkembangan
identitas tersebut adalah perilaku memberontak, kasar dan melawan.
Pada tahap ini, remaja mulai menentukan batasan ketergantungan dari
orang tua dan berusaha mandiri (Wong, 2001).
Remaja pertengahan (middle adolescence) biasanya merasa
senang jika banyak teman yang menyukainya. Remaja cenderung
mencintai dirinya sendiri dan menyukai teman yang mempunyai sifat-
sifat yang sama dengan dirinya. Remaja ingin menghabiskan waktu lebih
banyak dengan teman-temannya daripada dengan keluarga, mulai
berpacaran, dan menolak campur tangan orang tua dalam
mengendalikannya. Remaja pada tahap ini terus-menerus bereksperimen
untuk mendapatkan diri yang dirasakan nyaman bagi mereka. Hal ini
dapat dilihat dari cara berpakaian dan penampilan seperti baju, gaya
rambut, dan lain-lain yang berubah-ubah. Hal yang postif dari remaja
pertengahan adalah lebih tenang, sabar, toleransi, dapat menerima
pendapat orang lain walaupun berbeda dengan pendapatnya, lebih
bersosialisasi, tidak lagi pemalu, belajar berpikir independen dan
membuat keputusan sendiri, dan ingin tahu banyak hal. Pada tahap ini
merupakan titik rendah dalam hubungan orang tua-anak. Terdapat konflik
besar mengenai kemandirian remaja dengan orang tua (Wong, 2001).
Remaja akhir (late adoliescence) merupakan masa konsolidasi
menuju periode dewasa dan ditandai dengan minat yang makin mantap
terhadap fungsi-fungsi intelek, terbentuk identitas sesksual yang tidak
akan berubah lagi, egosentris (terlalu memusatkan perhatian pada diri
sendiri) diganti dengan keseimbangan Antara kepentingan diri sendiri.
Remaja lebih mampu mengendalikan emosinya. Mereka amou
menghadapi masalah dengan tenang dan rasional, dan walaupun masih
mengalami periode depresi, perasaan mereka lebih kuat dan mulai
menunjukkan emosi yang lebih matang. Remaja akan belajar mengatasi

7
stress yang dihadapinya, dan biasanya lebih suka mengatasinya dengan
pergi bersama teman dibandingkan dengan keluarganya. Rasa takut dan
stressor yang umum terjadi pada remaja adalah hubungan dengan lawan
jenis, kecenderungan atau perasaan homoseksual, dan kemampuan untuk
menerima peran orang dewasa (Muscari, 2001) Remaja juga akan
cenderung menggeluti masalah sosial politik bahakan agama. Pada tahap
ini remaja akan memiliki pasangan yang lebih serius dan banyak
mengahabiskan waktu dengan mereka. Jika terdapat kecemasan dan
ketidakpaastian masa depan, maka hal tersebut dapat merusak harga diri
dan keyakinan diri remaja tersebut. Pada tahap ini, pemisahan emosional
dan fisik dari orang tua telah dilakukan daan tercapainnya kemandirian
remaja jika berasal dari keluarga dengan konflik yang minimal (Wong,
2001).

2.2 Masalah Kesehatan Pada Remaja dan Peran Perawat Komunitas dalam
Mengatasi Masalah
Perubahan psikologis yang terjadi pada remaja meliputi intelektual,
kehidupan emosi, dan kehidupan sosial. WHO mendefinisikan remaja sebagai
perkembangan dari saat timbulnya tanda seks sekunder hingga tercapainya
maturasi seksual dan reproduksi, suatu proses pencapaian mental dan
identitas dewasa, serta peralihan dari ketergantungan sosioekonomi menjadi
mandiri. Terdapat berbagai masalah kesehatan di usia remaja yang saat ini
marak terjadi di komunitas masyarakat (Wong, 2008).
2.2.1 Merokok
Bahaya merokok pada setiap tingkat usia tidak diragukan lagi;
namun demikian, pendekatan pencegahan terhadap remaja yang merokok
sangat penting. Merokok di kalangan remaja merupakan perilaku
kompleks yang tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor penyebab. Dampak
yang paling berbahaya dari merokok adalah terjadinya adiksi seumur
hidup. Sekitar 90% dari semua pengguna tembakau mulai merokok
ketika mereka masih anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun
(Office of Smoking and Health, 1996 dalam Wong, 2008). Selain itu,
hasil riset menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara penggunaan

8
tembakau, penggunaan alkohol dan obat-obatan lain, dan perilaku
berisiko tinggi (Willard dan Schoenborn, 1995 dalam Wong, 2008).
Banyak penyebab yang membuat para remaja mulai merokok, yaitu
karena meniru sifat orang dewasa, tekanan dari sebaya, dan meniru sifat
orang yang terkenal yang biasanya merokok.
Program paling efektif yang dilakukan oleh perawat adalah
program komunitas luas yang melibatkan orangtua, teman sebaya, media
cetak, dan organisasi masyarakat. Dua area fokus program antirokok
adalah program mengajak teman sebaya untuk menekankan akibat-akibat
dari merokok dan menggunakan media, seperti film, untuk pencegahan
merokok.
2.2.2 Kehamilan Remaja
Aktivitas seksual remaja dapat menyebabkan berbagai masalah
kesehatan yang serius. Remaja yang aktif secara seksual rentan
mengalami hamil di luar nikah dan tertular penyakit menular seksual.
Pada tahun 1995 lebih dari satu dari lima remaja putri yang aktif secara
seksual mengalami kehamilan (Kaufmann dkk, 1998 dalam Wong, 2008).
Remaja yang hamil dan bayinya berisiko tinggi mengalami morbiditas,
mortalitas, kemiskinan, dan residivisme. Selain itu, penelitian juga
memperlihatkan bahwa kehamilan di usia muda (usia kurang dari 20
tahun) sering kali berkaitan dengan munculnya kanker rahim. Hal ini
berkaitan erat dengan belum sempurnanya perkembangan dinding uterus.
Kehamilan yang tidak diinginkan dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
antara lain kurangnya pengetahuan mengenai proses terjadinya
kehamilan dan metode pencegahan kehamilan, akibat terjadinya tindak
pemerkosaan, dan kegagalan alat kontrasepsi. Perawat dapat
menganjurkan kepada orangtua untuk melakukan pengawasan terhadap
perilaku anak dengan menanyakan aktivitas harian mereka.

2.2.3 Penyakit Menular Seksual


Remaja yang aktif secara seksual berisiko tinggi tertular PMS.
Secara fisiologis, serviks remaja putri memiliki ektropion (eversi kanalis
serviks uteri) yang besar, terdiri atas sel-sel epitelial kolumnar yang jauh
lebih rentan tertular PMS, terutama HPV dan klamidia. Faktor perilaku

9
juga berpengaruh dalam meningkatkan risiko, faktor tersebut antara lain
memulai hubungan seksual pada usia dini, prevalensi yang tinggi di
antara pasangan seksual, dan penggunaan pelindung atau kontrasepsi
yang tidak konsisten. Sebagai contoh, kebanyakan infeksi HIV yang
didiagnosis di masyarakat usia 20-an tahun ternyata diperoleh ketika
remaja (Centers for Disease Control and Prevention, 1996 dalam Wong,
2008).
Tanggung jawab keperawatan meliputi semua aspek pendidikan,
kerahasiaan, pencegahan, dan penanganan PMS. Pendidikan seks pada
remaja harus terdiri atas informasi tentang PMS, termasuk gejala, dan
penanganannya. Usaha pencegahan primer untuk mencegah PMS, yaitu
mendorong untuk tidak melakukan hubungan seksual, mendorong
menggunakan kondom, dan vaksinasi hepatitis B. Selain itu, terdapat
pencegahan sekunder yang dapat dilakukan perawat, yaitu dengan
membantu mengidentifikasi kasus secara dini dan merujuk remaja untuk
menerima pengobatan. Perawat juga terlibat dalam pencegahan tersier
dengan menurunkan efek-efek medis dan psikologis akibat PMS,
menghubungi kelompok pendukung untuk remaja yang terinfeksi HIV,
virus herpes simpleks, dan HPV, dan dengan membantu remaja yang
hamil dalam memperoleh skrining serta pengobatan yang adekuat.
2.2.4 Penyalahgunaan Zat
Pemakaian zat, terutama obat-obatan oleh anak-anak dan remaja
untuk mengakibatkan perubahan status kesadaran diyakini dapat
merefleksikan perubahan yang terjadi dalam hidup mereka dan stres yang
ditimbulkan oleh perubahan tersebut. Secara tidak langsung, narkoba dan
alkohol biasanya terkait erat dengan pergaulan seksual bebas.
Penyalahgunaan obat adalah pemakaian teratur obat-obatan selain untuk
tujuan pengobatan dan sampai tingkat penyalahgunaan yang
menyebabkan cedera fisik atau psikologik pada pengguna dan/atau
merusak masyarakat. Pada akhirnya, remaja dapat ketagihan terhadap
narkotik dengan atau tanpa kebergantungan secara fisik, dan seseorang
mungkin secara fisik bergantung pada narkotik tanpa merasa ketagihan.
Beberapa jenis penyalahgunaan obat dapat berupa alkohol, kokain,

10
narkotik (meliputi opiat seperti heroin, morfin, fentanil, hidromorfon, dan
kodein), depresan dan stimulan sistem saraf pusat, dan obat-obatan yang
memengaruhi pikiran (halusinogen). Perawat sekolah dan perawat yang
bekerja di komunitas berperan penting dalam mengidentifikasi keluarga
dengan masalah penyalahgunaan zat. Identifikasi awal pada keluarga
dengan masalah penyalahgunaan zat adalah hal penting untuk mencegah
penyalahgunaan zat pada anak-anak dan remaja (Werner, Joffe, dan
Graham, 1999 dalam Wong, 2008).

2.3 Tingkatan Pencegahan


Pelaksanaan kegiatan komunitas berfokus pada tiga tingkat
pencegahan (Anderson & McFarlene, 1985), yaitu:
2.3.1 Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah pencegahan sebelum sakit atau
disfungsi dan diaplikasikan ke populasi sehat pada umumnya, mencakup
pada kegiatan kesehatan secara umum dan perlindungan khusus terhadap
suatu penyakit. Misalnya, kegiatan penyuluhan gizi, imunisasi, stimulasi,
dan bimbingan dini dalam kesehatan keluarga.
2.3.2 Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah kegiatan yang dilakukan pada saat
terjadinya perubahan derajat kesehatan masyarakat dan ditemukannya
masalah kesehatan. Pencegahan sekunder ini menekankan pada diagnosis
dini dan intervensi yang tepat untuk menghambat proses penyakit atau
kelainan sehingga memperpendek waktu sakit dan tingkat keparahan.
Misalnya, mengkaji dan memberi intervensi segera terhadap tumbuh
kembang anak usia bayi sampai balita.
2.3.3 Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah kegiatan yang menekankan pada
pengembalian individu pada tingkat fungsinya secara optimal dari
ketidakmampuan keluarga. Pencegahan ini dimulai ketika terjadinya
kecacatan atau ketidakmampuan yang menetap bertujuan untuk
mengembalikan ke fungsi semula dan menghambat proses penyakit.

11
BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Kasus Pemicu


Sebagian besar remaja yang ada di Pedurungan Kidul gang VII RT 001 RW
003 Kecamatan Pedurungan , Kelurahan Pedurungan kidul berdasarkan hasil
survey dengan ketua RT setempat didapatkan bahwa 5 keluarga memiliki
status ekonomi menengah ke bawah dan banyak remaja yang putus sekolah
dengan alasan tidak punya dana yang cukup, malas belajar, serta merasa tidak
mampu menerima pelajaran di sekolah. Remaja ini sehari-hari menonton TV,
bergadang sampai malam, memiliki kebiasaan merokok , dan remaja
sebenarnya berkeinginan ingin berhenti merokok, tetapi karena sudah terbiasa
merokok berangapan bahwa jika tidak merokok merasa mulutnya tidak enak
dan merasa ada yang kurang. banyak diantara mereka yang telah memiliki
pacar atau teman dekat. Ada 3 orang remaja yang mengatakan pernah
melakukan hubungan seksual dengan pacar mereka, dengan alasan ingin
coba-coba, mendapatkan pengalaman baru, ataupun ingin menguji kadar cinta
pasangannya. Mereka menyatakan melakukan hubungan seksual setelah
mencoba-coba Minum-minuman Keras. Terdapat 1 remaja perempuan yang
hamil, namun remaja tersebut menggugurkan kandungan dengan alasan takut
dikucilkan masyarakat, malu, dan tidak memiliki dana yang cukup untuk

12
menghidupi bayi mereka nanti. Remaja tersebut bercerita bahwa pada saat
dinyatakan hamil dia langsung melakukan tindakan abortus dengan oknum
petugas kesehatan, namun usaha tersebut gagal dan remaja ini akhirnya
dinikahi pacarnya oleh orangtuanya.

3.2 Asuhan Keperawatan


3.2.1 Survei Hasil :
1. Lokasi : Pedurungan Kidul gang VII RT 001 RW 003
2. Jumlah : 14 Remaja (9 remaja laki-laki dan remaja perempuan 5)
3. Dari 9 remaja laki-laki terdapat 4 orang yang merokok dan 2 orang
minum-minuman keras dan merokok serta 3 orang merokok, minum-
minuman keras dan pernah berhubungan seksual. Pada remaja
perempuan ada 4 orang yang pernah melakukan hubungan seksual tetapi
tidak hamil dan 1 perempuan melakukan hubungan seksual dengan
pacaranya sehingga perempuan hamil dan ingin melakukan aborsi.

3.2.2 Winshield Survey

No. I.Inti Komunitas Observasi Data


1. Warga Pedurungan Kidul Terdapat seorang remaja hamil
gang VII RT 001 RW 003 yang hanya berada di dalam
Nilai dan Keyakinan secara umum rumah mengurung diri dan
menganggap hamil di merasa malu karena hal yang
luar nikah adalah sesuatu dilakukannya .
hal yang memalukan
II.Subsistem
1. Pelayanan Kesehatan Sudah pernah Dari 9 remaja laki-laki terdapat
dan Sosial sebelumnya dilakukan
4 orang yang merokok dan 2
penyuluhan mengenai
rokok dan seks bebas. orang minum-minuman keras
dan merokok serta 3 orang
merokok, minum-minuman
keras dan pernah berhubungan
seksual. Pada remaja
perempuan ada 4 orang yang
pernah melakukan hubungan
seksual tetapi tidak hamil dan 1
perempuan melakukan
hubungan seksual dengan

13
pacaranya sehingga perempuan
hamil dan ingin melakukan
aborsi.

2. Didapatkan 5 keluarga di - Remaja yang mengaku


pedurungan kidul gang putus sekolah dengan
VII RT 001 RW 003 alasan keterbatasan dana
memiliki status ekonomi - Remaja yang hamil yang
Ekonomi menengah ke bawah mengaku melakukan
aborsi/ mengugurkan
kandungannya karena tidak
punya cukup dana
menghidupi bayinya
3. Pendidikan dianggap - Beberapa pelajar mengaku
suatu hal yang belum putus sekolah dengan
penting bagi masa depan alasan
Pendidikan para remaja o Malas belajar
o Merasa tidak mampu
menerima pelajaran
o Kurang dana
4. Bentuk rekreasi yang Remaja di pedurungan kidul
dilakukan remaja gang VII RT 001 RW 003
pedurungan kidul gang sering menonton TV, mengaku
Rekreasi VII RT 001 RW 003 memiliki pacar dan pernah
masih kurang memiliki melakukan hubungan seksual
manfaat yang positif bagi dengan pacar mereka.
kesehatan mereka.
5. - Adanya sekolah dasar - Adanya sekolah dasar dan
dan TK TK
- Jumlah kepadatan - Jumlah kepadatan
penduduk sangat penduduk sangat pendat
pendat dengan dengan perumahan yang
perumahan yang berdekatan.
berdekatan. - Kegiatan di pedurungan
- Kegiatan di kidul gang VII RT 001 RW
Lingkungan Fisik pedurungan kidul 003 adanya tahlilan .
gang VII RT 001 RW
003 adanya tahlilan .
- Kesehatan
lingkungan cukup
bersih ditandai
dengan setiap rumah
memilki tempat
sampah tersendiri.
6. Politik dan pedurungan kidul gang pedurungan kidul gang VII RT
Pemerintahan VII RT 001 RW 003 001 RW 003 hasil survey

14
menggunakan Bpjs yang dengan RT setempat bahwa di
kurang mampu. ada yang menggunakan bpjs
dan tidak menggunkan bpjs.
7. Yang berpengaruh di Yang berpengaruh di
Komunikasi lingkungan setempat lingkungan setempat RT/RW.
RT/RW.
8. - Sarana dan - Ronda setiap malam
transportasi di - Sarana transportasi motor
Keamanan dan lingkungan tersebut dan mobil
Transportasi menggunkan
kendaraan bermotor
dan mobil.
No. III.Persepsi Obesevasi Data
9. Remaja di pedurungan Remaja di pedurungan kidul
kidul gang VII RT 001 gang VII RT 001 RW 003
RW 003 memiliki mengaku
kebiasaan yang kurang o Sering menonton TV
baik bagi kesehatan o Begadang
o Melakukan hubungan
- Remaja masih seksual
merokok dan minum- o Minum-minuman Keras
minuman keras - Beberapa remaja yang
- hamil di luar nikah melakukan hubungan
dan aborsi di remaja seksual mengaku karena
Persepsi putri pedurungan o Coba-coba
kidul gang VII RT o Dapat pengalaman baru
001 RW 003 o Menguji kadar cinta
pasangannya

- satu remaja putri hamil di


luar nikah
- 1 orang melakukan
aborsi/menggurukan
kandungannya namun gagal
tindakan yang ingin
dilakukannya.

15
CHECK LIST WINSHIELD SURVEY

Lokasi pengamatan : Pedurungan kidul VII RT 001/RW 003


Tanggal pengkajian: 09-03-2019
Kelompok :
Anggota:
Denok Budiutami 1807010
Dian Ayu Juniar K 1807011
Dwi Susanti 1807012
Dyah puspita M 1807013
Eka Mustika Suryanti 1807014
Elsa Yuliani 1807015
Endang Poncowati 1807016
Erna Puspitarini 1807017
Hasib Sa’Dullah 1807018

Detail Temuan Penilian


0 1 2
Tipe perkampungan/ Didapatkan hasil 2
perdesaan pengamatan di
1. Perumahan pedurungan kidul VII
2. Semi usaha RW RT adanya
3. Lingkungan perumahan dengan
usaha/bisnis jumlah 35 dan usaha
yang ada seperti toko
jual makanan dan salon.
Lingkungan lumayan
bersih.
Lingkungan tempat tinggal Rumah terpisah anatara 2
1. Rumah tunggal satu dengan yang lain
(terpisah anatara rumah meskipun jarak sangat
yang satu dengan yang dekat . di pedurungan
lain) kidul terdapat adanya

16
2. Satu rumah untuk lebih kos-kosan dan
dari 1 KK kontrakan.
3. Asrma
4. Dan lain-lain
Umur area perumahan Dipedurungan kidul juga 2
1. Bangunan baru bangunan lama dan
2. Bangunan lama terpelihara dengan baik
terpelihara dengan baik dan ada juga bangunan
3. Bangunan banyak yang yang rusak sebagian.
rusak
Karakteristik social kultural Untuk variasi umur 1
1. Variasi umur penduduk penduduk berbagai
2. Ras dan etnik group macam usia terbilang
3. Pekerja/pengangguran dari 0-75 tahun.
4. Siswa sekolah/droup Berbagai macam ras dan
out etnik ada jawa,
5. Tanda-tanda punya Kalimantan ,
harapan Sumatra.sebagian ada
yang bekerja dan
pengangguran.
Lingkungan Halaman jalan lumayan 2
1. Tampakan umum bersih dan ada sebagian
a) Halaman , rumah yang memilki
jalan,pekarangan pekarangan dan tanaman
b) Tanaman rumah. Tidak ada patung
c) Patung, tanda- dan tanda tanda seni.
tanda seni Dekat dengan jalan
d) Jalan umum umum.
2. Bahaya lingkungan Di pedurungan kidul
a) Polusi udara setiap rumah memilki
b) Sampah tempat sampah untuk
c) Area bermain yang membuang sampah dan
berbahaya berhubung ditempat

17
d) Penerangan jalan tersebut tidak memiliki
e) Alat pemadam area bermain. Untuk
kebakaran penerangan jalan setiap
f) Lalu lintas rumah ada.jenis
g) Polisi/anggota transportasi yang
pengaman/penyebra digunakan kebanyakan
ngan jalan untuk sepeda motor dan mobil.
anak sekolah Didaerah pedurungan
h) Jenis transportasi kidul tidak ada
yang digunakan kegaduhan dan
3. Stressor lingkungan keramaian. Tidak adanya
a) Kegaduhan/ tanda criminal. Untuk 1
keramaian/ kebiasaan merokok
kemacetan banyak sekali khususnya
b) Tanda-tanda yang para remaja yang berusia
menyebabkan 10 tahun-18 tahun sudah
banyak angka banyak mengkonsumsi
criminal rokok tersebut.
c) Tanda-tanda
penggunaan bahan
terlarang
d) Tanda-tanda
adanya kemiskinan
e) Kebiasaan
merokok
a.
Pelayanan Kesehatan - Tidak terdapat rumah 1
1. Fasilitas kesehatan sakit dipedurungan
a. Rumah sakit kidul gang VII
b. Klinik - Terdapat klinik
dipedurungan berada
2. Sumber pelayanan ditepi jalan raya.
kesehatan pertama

18
a. Puskesmas - Tidak terdapat
b. Nursing center puskesmas, bidan
c. Praktek dokter dan perawat praktik
swasta di pedurungan kidul
d. Bidan praktek gang VII
mandiri
e. Praktek mandiri
perawat
f. Batra
Keterangan:
0: tidak diamati, tidak terdapat dokumentasi
1: diamati,dokumentasi tidak lengkap
2: diamati, dokumentasi lengkap

19
3.2.3 Analisa Data

No . Hari/Tanggal Data Pengkajian Diagnosa NOC NIC

1. 11/03/2019 DS : remaja laki-laki Perilaku kesehatan Setelah dilakukan 1. Modifikasi Perilaku


mengatakan bahwa memiliki cenderung berisiko tindakan keperawatan
selama 2 minggu a. Identifikasi masalah
kebiasaan merokok , dan berhubungan dengan pasien terkait dengan
diharapkan perilaku masalah perilaku
remaja sebenarnya persepsi negatif terhadap kesehatan remaja baik b. Pilah-pilah perilaku
berkeinginan ingin berhenti strategi pelayanan dengan kriteria hasil menjadi bagian kecil
sebagai berikut : untuk dirubah menjadi
merokok, tetapi karena sudah kesehatan yang unit prilaku yang
terbiasa merokok ditawarkan 1. Kepercayaan terukur (misalnya
mengenai kesehatan : berhenti merokok :
berangapan bahwa jika tidak jumlah rokok yang
kontrol yang diterima
merokok merasa mulutnya dihisap )
a. Menerima tanggung c. Tentukan apakah
tidak enak dan merasa ada target perilaku yang
jawab terkait
yang kurang. dengan keputusan telah diidentifikasi
kesehatan dengan perlu untuk
DO: kurangnya kemampuan skala 4 ditingkatkan
b. Meminta untuk diturunkan atau
untuk mengubah gaya terlibat dalam dipelajari
hidup/perilaku dalam cara keputusan d. Berikan penguatan
kesehatan dengan positif pada jadwal
mengubah gaya hidup skala 4 yang ditentukan terus
merokok c. Keyakinan bahwa menerus atau

1
tindakan sendiri berselang untuk
yang mengontrol perilaku-perilaku yang
hasil kesehatan diinginkan.
d. Kesediaan untuk e. Dokumentasikan dan
memiliki keinginan komunikasi kan
untuk hidup saat ini proses dokumentasi ,
dengan skala 4 untuk penanganan tim,
Keterangan : sesuai dengan
Skala 1 : Sangat lemah kebutuhan.
Skala 2 : Lemah
Skala 3 : Sedang
Skala 4 : Kuat
Skala 5 : sangat Kuat

2. Keseimbangan gaya
hidup
a. Mengenali 2. Pendidikan kesehatan
kebutuhan untuk
menyeimbangkan a. Rumuskan tujuan dalam
aktivitas-aktivitas program pendidikan
hidup dengan kesehatan
skala 4 b. Tekankan manfaat
b. Membatasi kesehatan positif yang
aktivitas yang langsung atau jngka
berkontribusi pendek yang bisa
untuk perasaan diterima perilaku gaya
terbebani dengan hidup positif dari pada
skala 4 menekankan manfaat

2
c. Menggunakan jangka panjang atau
managemen waktu efek negatif dari
dalam rutinitas ketidakpatuhan.
harian dengan c. Gunakan peer leaders
skala 4 (pemimpin kelompok ),
d. Ikut dalam guru dan kelompok
aktivitas yang pendukung dalam
meningkatkan mengimplementasikan
pengembangan program bagi kelompok
diri dengan skala yang kecil
4 kemungkinannya untuk
Keterangan : mau mendengarkan
profesional kesehatan
Skala 1 : Tidak pernah atau orang dewasa
dilakukan (misalnya remaja)
d. Libatkan individu,
Skala 2 : jarang keluarga dan kelompok
dilakukan dalam perencanaan dan
rencana implementasi
Skala 3 : Kadang-kadang gaya hidup atau
dilakukan modifikasi perilaku
e. Rencanakan tindak
Skala 4 : Sering lanjut jangka panjang
dilakukan untuk memperkuat
perilaku kesehatan atau
Skala 5 : Dilakukan adaptasi terhadap gaya
secara konsisten hidup

3
2. 11/03/2019 DS: Ketidakefektifan koping Setelah dilakukan 1. Dukungan pengambilan
tindakan keperawatan keputusan
berhubungan dengan
- Remaja perempuan selama 2 minggu a. Tentukan apakah
kurang percaya diri terdapat perbedaan
mengatakan berkeinginan diharapkan koping
antara pandangan
dalam kemampuan individu remaja baik
menggugurkan kandungan pasien dan pandangan
mengatasi masalah dengan kriteria hasil penyedia perawatan
dengan alasan takut sebagai berikut : kesehatan mengenai
dikucilkan masyarakat, malu, kondisi pasien
1. Koping b. Bantu pasien untuk
dan tidak memiliki dana a. Menyatakan mengklarifikasi nilai
perasaan akan dan harapan yang
yang cukup untuk
kontol diri dengan mungkin akan
menghidupi bayi mereka skala 4 membantu dalam
b. Melaporkan membuat piliahan
nanti.
pengurangan dalam hidupnya
stress skala 4 c. Bantu pasien
- Remaja perempuan c. Menyatakan mengidentifikasi
tersebut bercerita bahwa penerimaan keuntungan dan
terhadap situasi kerugian dari setiap
pada saat dinyatakan hamil dengan skala 4 alternatif pilihan
dia langsung melakukan d. Adaptasi d. Fasilitasi pengambilan
perubahan hidup keputusan kolaboratif
tindakan abortus dengan dengan skala 4 e. Jadikan sebagai
oknum petugas kesehatan, e. Menggunakan penghubung antara
strategi koping pasien dan penyedia
namun usaha tersebut gagal yang efektif

4
dan remaja ini akhirnya Keterangan : pelayanan kesehatan
yang lain.
dinikahi pacarnya oleh Skala 1 : Tidak pernah
orangtuanya. menunjukan

DO: Skala 2 : Jarang


menunjukan
- Ketidakmampuan
Skala 3 : Kadang-kadang
memenuhi kebutuhan dasar menunjukan

- Ketidakmampuan dalam Skala 4 : Sering


menunjukan
mengatasi masalah yang
dialami Skala 5 : Secara
konsisten menunjukan
-ketidakmampuan dalam
menghadapi situasi 2. Tingkat stress
a. Kegelisahan 2. Peningkatan koping
dengan skala 5 a. Bantu pasien untuk
b. Depresi dengan menyelesaikan
skala 5 masalah dengan
c. Kecemasan cara yang
dengan skala 5 konstuktif
d. Pikiran menyakiti b. Berikan penilaian
(orang lain) mengenai dampak
dengan skala 5 dari situasi

5
Keterangan : kehidupan pasien
terhadap peran dan
Skala 1 : Berat hubungan yang ada
c. Cari jalan untuk
Skala 2 : Besar memahami
persfektif pasien
Skala 3 : Sedang terhadap situasi
yang penuh stress
Skala 4 : Ringan
d. Dukung
Skala 5 : Tidak ada penggunaan
sumber-sumber
spiritual, jika di
inginkan
e. Dukung
keterlibatan
keluarga dengan
cara yang tepat
f. Dukung pasien
untuk
mengevaluasi
perilakunya sendiri.

3.2.4. IMPLEMENTASI

No Hari/ No. Jam Implementasi Evaluasi Paraf


Tgl Dx

6
1. 12/03/ 1 08:30 Mengidentifikasi masalah pasien terkait dengan S : Remaja mengatakan masih belum Kel 2
masalah perilaku
2019 berhenti merokok dan minum-minuman

O : Remaja tampak masih membawa rokok

A: Masalah belum teratasi

P: lanjutkan Intervensi

Memilih perilaku menjadi bagian kecil untuk dirubah S : Remaja mengatakan mau mengurangi
09:00 menjadi unit prilaku yang terukur (berhenti porsi rokok dan minum-minuman
merokok : jumlah rokok yang dihisap )
O : Klien tampak bersungguh-sungguh
mau mengurangi porsi rokok dan minum-
minuman

A: Masalah belum teratasi

P: lanjutkan Intervensi

7
10:30 S : Remaja mengatakan ingin merubah
Menentukan apakah target perilaku yang telah
diidentifikasi perlu untuk ditingkatkan diturunkan perilaku (berhenti merokok) serta minum-
atau dipelajari minum

O : Remaja sangat antusias merubah


perilaku yang buruk

A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan Intervensi

11:00 Memberikan penguatan positif pada jadwal yang S : Remaja mengatakan sangat senang bisa
ditentukan terus menerus atau berselang untuk mengurangi konsumsi minum-minuman
perilaku-perilaku yang diinginkan.
dan merkok

O : Remaja tampak senang ketika


diberikan respon positif

A: Masalah belum teratasi

8
P: Lanjutkan Intervensi

11:30 S:-

Mendokumentasikan dan komunikasi kan proses O : mencatat masalah yang ada dalam
dokumentasi , untuk penanganan tim, sesuai dengan komunitas
kebutuhan.
A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan Intervensi

12:00
S:-

Merumuskan tujuan dalam program pendidikan O : Memberikan pendidikan kesehatan


kesehatan
tentang bahaya rokok dan minum-
minuman

A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan Intervensi

9
12:30

S : Remaja mengatakan memahami dan


mengerti apa yang disampaikan oleh
Menekankan manfaat kesehatan positif yang perawat
langsung atau jangka pendek yang bisa diterima
perilaku gaya hidup positif dari pada menekankan
O : Remaja tampak memahami dan
manfaat jangka panjang atau efek negatif dari
ketidakpatuhan. mengerti mengenai manfaat kesehatan

A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan Intervensi

13:00

S : Ketua RT mengatakan bersedia untuk


membantu tenaga kesehatan untuk bisa
masuk dalam masyarakat
Menggunakan peer leaders (pemimpin kelompok ),
guru dan kelompok pendukung dalam O : Remaja mulai menerapakan program
mengimplementasikan program bagi kelompok yang
kecil kemungkinannya untuk mau mendengarkan yang sudah dibagi perkelompok mengenai
profesional kesehatan atau orang dewasa (misalnya kesehatan
remaja)

10
A: masalah belum teratasi

13:30 P: Lanjutkan Intervensi

S:-

O : Merencanakan perkumpulan remaja


seperti pengajian bersama.
Merencanakan tindak lanjut jangka panjang untuk
memperkuat perilaku kesehatan atau adaptasi Merencanakan aktivitas Olahraga seperti
terhadap gaya hidup volly, sepak bola dll

A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan Intervensi

2 13/03/ 2 08:30 Menentukan apakah terdapat perbedaan antara S : Remaja mengatakan pandangan pasien
pandangan pasien dan pandangan penyedia
2019 terhadap yang dialaminya takut dicemooh
perawatan kesehatan mengenai kondisi pasien
oleh masyarakat dan dikucilkan.
Pandangan penyedia perawatan kesehatan
tidak memberikan penanganan secara

11
langsung dikarenakan takut melanggar
kode etik keperawatan mengenai hal
tersebut.

O:

-Remaja perempuan tampak tertekan

-Remaja tampak cemas

-Remaja tampak murung

A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan Intervensi

Membantu pasien untuk mengklarifikasi nilai dan S : Remaja perempuan mengatakan malu
harapan yang mungkin akan membantu dalam
09:00 atas tindakan nya yang telah dilakukan dan
membuat pilihan dalam hidupnya
berharap dengan mengaborsi semua
masalah selesai dan tidak ingin melakukan

12
hal yang sama.

O : Remaja perempuan tampak


mendengarkan apa yang dibicarakan oleh
perawat

A: Masalah belum teratasi

P: Lanjutkan Intervensi

S : remaja perempuan mengatakan sudah


09:30 mengerti keuntungan dan kerugian atas
Membantu pasien mengidentifikasi keuntungan dan pilihan yang diambil
kerugian dari setiap alternatif pilihan
O:

-Remaja perempuan tampak memahami


tentang keuntungan dan kerugian dari
pilihan yang diambil.

-Remaja dapat menjelaskan kerugian dan

13
keuntungan terhadap tindakan arbosi
tersebut.

A: Masalah belum teratasi

P:Lanjutkan Intervensi

10:00
S : Remaja mengatakan situasi kehidupan
Memberikan penilaian mengenai dampak dari situasi setelah ingin arbosi makin suram dan
kehidupan pasien terhadap peran dan hubungan yang hubungan dengan orangtua tidak harmonis
ada
Remaja mengatakan situasi kehidupan saat
merokok biasa aja dan bahagia hubungan
dengan orangtua baik dikarenkan orangtua
tidak tau kalau merkok.

O : Remaja perempuan tidak melakukan


abortus karena pihak keluarga melarang
dan menikahkan remaja perempuan dengan
pacarnya.

14
A: Masalah belum teratasi

10:30 P:Lanjutkan Intervensi

S : Remaja perempuan mengatakan sudah


lebih tenang setelah mendekatkan diri dan
Mendukung penggunaan sumber-sumber spiritual,
jika di inginkan berserah diri pada Allah dengan berdoa.

O : Remaja perempuan tampak lebih


tenang

A: Masalah teratasi

11:00 P: Hentikan Intervensi

S : Keluarga mengatakan menerima


kondisi remaja dan mendukung dalam
Mendukung keterlibatan keluarga dengan cara yang merawat kandungan.
tepat
O : Keluarga tampak memotivasi remaja

15
perempuan agar tetap merawat kandungan

A: Masalah teratasi

11:30 P:Hentikan Intervensi

S : Remaja mengatakan menyesal dengan


tindakan nya yang melakukan hubungan
seksual diluar nikah dan ingin melakukan
aborsi dan akan menerima untuk merawat
Mendukung pasien untuk mengevaluasi perilakunya
kandungan nya serta menerima peran baru
sendiri.
menjadi seorang istri dan calon ibu.

Remaja mengatakan ingin berhenti merkok


dan sudah mengetahui dampak yang akan
terjadi bila seterusnya tetap mengkonsumi
rokok.

O:

-Remaja perempuan tampak sudah bisa

16
menerima kondisi nya.

-Remaja mau berhentii merkok

A: Masalah teratasi

P: Hentikan Intervensi

17
BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Masa remaja adalah masa dimana pencarian jati diri dimulai. Di masa ini
remaja sangat mudah untuk dipengaruhi oleh lingkungan atau orang sekitarnya.
Remaja yang mendapat pengaruh baik akan mulai mengaktualkan dirinya di dunia
sosial. Namun, tidak sedikit remaja melakukan hal-hal ekstrem untuk menarik
perhatian lingkungannya.
Masalah kesehatan yang terjadi pada remaja antara lain merokok,
kehamilan remaja, penyakit menular seksual, penyalahgunaan obat dan lain
sebagainya. Oleh karena itu penting sekali pengawasan dari orang terdekat serta
pemilihan teman yang baik agar dapat memberi hal positif. Biasanya remaja
melakukan hal-hal negatif untuk coba-coba tanpa mengetahui akibat dari
perbuatannya. Perawat disini perlu untuk memberikan penjelasan terkait gaya
hidup dan kesehatan remaja, dan bekerja sama dengan orang tua dalam melakukan
pengawasan terhadap anak mereka, serta dapat melakukan modifikasi lingkungan
agar memberi dampak positif bagi agregat remaja disekitar.

4.2 Saran
Dalam melakukan perannya, penting sekali perawat melakukan pengkajian
dengan teliti sebelum melakukan pelaksanaan. Selain itu perawat juga harus tahu
betul karakteristik remaja agar dapat melakukan strategi perencanaan yang matang
dengan tingkat keberhasilan tinggi. Kemudian setelah dilakukan tindakan perlu
melakukan evaluasi dan pengawasan bertahap untuk melihat keberhasilan
program yang dilakukan.

1
DAFTAR PUSTAKA

Adjie, J. M. S. (2013). The2nd Adolescent Health National Symposium: Current


Challenges in Management. Diakses dari http://idai.or.id/public-
articles/seputar-kesehatan-anak/kesehatan-reproduksi-remaja-dalam-
aspek-sosial.html
Allender, Judith A., & Spardley, Barbara W. (2004). Communiti health nursing:
Promoting and protecting the public’s health 6th ed. Lippincott:
Philadelphia.
Anderson, E., & McFarlane, J. (2011). Community as partner: Theory and
practice in nursing (6th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer
Health / Lippincott Williams & Wilkins.
Bartz, Claudia C. Dkk. 2013. Community Nursing (ICNP). Switzerland: ICN
Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (Eds.).
(2013). Nursing intervention clasification (NIC) (6 ed.). USA:
Elsevier.
Depsos RI. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia tentang Kesejahteraan
Sosial. Jakarta: Departemen Sosial RI.
Effendi, F. & Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori
dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Golbourt, Uri., & Medaline, Jack H. Characteristics of smokers, non-smokers
and ex-smokers among 10,000 adults males in Israel: Physiologic,
biochemical and genetic characteristics. Retvieved from
http://aje.oxfordjournals.org/
International, N. (2014). Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi. (T.
H. Herdman, Ed., M. Sumarwati, & N. B. Subekti, Trans.) Jakarta:
EGC.
J, Japuntich S., et all. (2011). Smoker characteristics and smoking-cessation
milestones. Retrieved from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (Eds.). (2013).
Nursing Outcome Clasification (5 ed.). USA: Elsevier.
NANDA. (2012). Nursing Diagnosis. UK: Blackwell Publishing

v
R, Secker W., et all (2008). Community interventions for reducing smoking
among adults (review). Retrieved from
http://www.ncsct.co.uk/usr/pub/community-interventions-for-
reducing-smoking-among-adults.pdf
Wong, D. L., Marilyn H., David W., Marilyn L. W., & Patricia S. (2008). Buku
Ajar Keperawatan Pediatrik Vol.1. Jakarta: EGC.

vi
vii