Anda di halaman 1dari 42

Laporan Bengkel Semester V

LAPORAN BENGKEL
KUBIKEL & TRAFO DISTRIBUSI

ANGGOTA KELOMPOK :
Muhammad Nur Azikin Akib 321 16 027
Muhammad Fadly 321 16 031
Adyatma Wijaya 321 16 035
Muhammad Fauzan Sudirman 321 16 044
KELAS : 3B D3 Teknik Listrik

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa mahasiswa yang


tersebut namanya di bawah ini benar telah menyelesaikan praktik bengkel semester
V (lima) yaitu praktikum pemasangan dan pengoperasian sistem distribusi.

Nama anggota kelompok :

Muhammad Nur Azikin Akib 321 16 027


Muhammad Fadly 321 16 031
Adyatma Wijaya 321 16 035
Muhammad Fauzan Sudirman 321 16 044

Kelas : 3B D3 Teknik Listrik Judul


Judul : Praktik Pengoperasian Kubikel

Telah selesai melaksanakan praktik bengkel kurang lebih empat pekan,


Pelaksanaan dimulai pada hari Rabu, tanggal 7 November 2018 – 28 November
2018.

Makassar, 26 November 2018


Penanggung Jawab,

Ahmad Rizal Sultan, S.T., M.T.,Ph.D


NIP. 197609212000031001
ABSTRAK

Dalam praktikum bengkel Catu Daya semester V (lima), praktikan


melaksanakan praktik bengkel yaitu “Praktikum Catu Daya” yang terbagi menjadi
3 job yaitu generator set, kubikel, dan pemasangan dan pengoperasian sistem
distribusi dimana setiap job tersebut dikerjakan selama 4 kali pertemuan dan secara
bergantian (rolling). Namun, hingga pekan keempat ini, tim praktikan melakukan
job ketiga yaitu pengoperasian kubikel.
Metode yang digunakan dalam menyelesaikan laporan ini adalah
berdasarkan data yang diperoleh selama bengkel serta dari penjelasan para
pembimbing. Setelah pendataan selesai, maka diadakan pengukuran terhadap
tahanan isolasi dari sistem tersebut.
Tujuan dari bengkel semester V (lima) ini adalah agar praktikan memahami
sistem kerja dari ketiga job tersebut yang merupakan suatu kesatuan (unit distribusi)
yang saling berkaitan dalam operasinya untuk menyalurkan tenaga listrik.
Para praktikan diberikan tenggat waktu dalam mendata dan menganalisis
setiap bagian – bagian dari peralatan job tersebut.
KATA PENGANTAR

Allhamdulillah, puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkat
dan rahmat-Nya, sehingga laporan bengkel ini dapat terselesaikan pada waktu yang telah
ditentukan.
Ucapan terima kasih tak hentinya penyusun haturkan kepada pihak – pihak yang
membantu dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan kegiatan bengkel ini, terutama
para dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk menuntun dan
mendidik penulis dalam proses pembelajaran di bengkel serta pihak – pihak yang ikut
serta membantu dalam kegiatan bengkel.
Penulis mengharapkan agar laporan ini dapat bermanfaat bagi rekan – rekan pembaca.
Pada proses penyusunan laporan lengkap ini penulis sadar masih terdapat beberapa
kesalahan, kekeliruan atau belum sempurna yang tidak diketahui oleh penulis sendiri.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca, sangat penulis harapkan
demi kesempurnaan laporan ini.

Makassar, 26 November 2018

Penulis

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... i
ABSTRAK ......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 2
1.3 Tujuan ................................................................................................... 2
BAB II TEORI DASAR .................................................................................... 3
A. Definisi ................................................................................................. 3
B. Fungsi ................................................................................................... 3
C. Jenis ...................................................................................................... 4
D. Komponen – Komponen ...................................................................... 4
BAB III Pembahasan .......................................................................................... 22
3.1 Alat dan Bahan ....................................................................................... 22
3.2 Single Line Diagram .............................................................................. 23
3.2 Langkah Kerja ........................................................................................ 23
3.2 Analisa ................................................................................................... 26

BAB IV PENUTUP ........................................................................................... 34


7.1 Kesimpulan ........................................................................................... 34
7.2 Saran ...................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Dalam dunia industri terus berkembang dengan pesat sistem-sistem yang

baru dalam bidang kelistrikan, khususnya sistem jaringan listrik, banyak sekali ditawarkan

suatu metode kontrol yang efektif dan mudah untuk diimplementasikan. Perkembangan

yang semakin pesat ini, menuntut seorang mahasiswa khususnya mahasiswa Teknik Listrik

Politeknik Negeri Ujung Pandang untuk dapat lebih mengenal bidang tersebut.

Praktikum Bengkel Listrik Catu Daya merupakan suatu mata kuliah yang

wajib dilakukan oleh setiap mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik

Listrik Politeknik Negeri Ujung Pandang sebagai salah satu persyaratan kelulusan pada

semester V.

Dalam pelajaran ilmu kelistrikan terdapat hubungan timbal balik antara teori

dan praktek. Hubungan timbal balik ini merupakan kaitan yang sangat erat, dimana

pengetahuan yang kita dapatkan dalam teori haruslah kita praktekkan, Karena dengan

praktek akan membantu kita untuk mengetahui dan mengerti serta mampu melaksanakan

pekerjaan dilapangan/industri dengan baik dan benar.

Dalam praktek bengkel mahasiswa dihadapkan pada pekerjaan yang hampir

sama di Industri dengan menerapkan materi yang didapatkan dalam perkuliahan yang

artinya terjadi proses timbal balik antara teori dengan praktek. Mahasisiwa diharapkan

dapat bekerja dengan terampil, disiplin, kreatif dan tekun dalam menyelesaikan Jobnya.

2. Rumusan Masalah
1. Apa fungsi dari setiap peralatan / bahan pada kubikel?
2. Bagaimana cara mengoperasikan kubikel?
3. Bagaimana cara melakukan pengukuran tahanan isolasi dan pembumian?

3. Tujuan

1. Untuk menjelaskan fungsi dari setiap peralatan/bahan pada kubikel.


2. Untuk menjelaskan cara mengoperasikan kubikel.
3. Untuk mengetahui cara melakukan pengukuran tahanan isolasi dan
pembumian.

BAB II
TEORI DASAR

A. Pengertian Kubikel

Kubikel ialah suatu perlengkapan atau peralatan listrik yang berfungsi

sebagai pengendali, penghubung dan pelindung serta membagi tenaga listrik

dari sumber tenaga listrik, Kubikel istilah umum yang mencangkup peralatan

switching dan kombinasinya dengan peralatan kontrol, pengukuran, proteksi dan

peralatan pengatur. Peralatan tersebut dirakit dan saling terkait dengan

perlengkapan, selungkup dan penyangga. Sesuai IEC 298 : 1990

didespesifikasikan sebagai perlengkapan hubung bagi dan kontrol berselungkup

logam rakitan pabrik untuk arus bolak-balik dengan tegangan pengenal diatas 1 kV

sampai dengan dan termasuk 35 kV, untuk pasangan dalam dan pasangan luar ,

dan untuk frekuensi sampai 50 Hz.

Gambar 2.1 Kubikel 20kV

B. Fungsi Kubikel :

 Mengendalikan sirkuit yang dilakukan oleh saklar utama

 Melindungi sirkuit yang dilakukan oleh fase/pelebur

 Membagi sirkuit dilakuan oleh pembagian jurusan/kelompok

(busbar)
C. Jenis Kubikel :

Berdasarkan fungsi/penempatannya, kubikel 20 kV di Gardu Induk antara lain :

a. Kubikel Incoming : berfungsi sebagai penghubung dari sisi sekunder trafo daya

ke busbar 20 kV. Tegangan 20 kV dari sisi sekunder trafo masuk ke dalam busbar

yang berada di dalam kubikel 20 kV.

b. Kubikel Outgoing : sebagai penghubung / penyalur dari busbar ke beban.

c. Kubikel Pemakaian sendiri (Trafo PS) : sebagai penghubung dari busbar ke beban

pemakaian sendiri GI.

d. Kubikel Kopel (bus kopling) : sebagai penghubung antara rel 1 dan rel 2.

e. Kubikel PT / LA : sebagai sarana pengukuran dan proteksi pengaman terhadap

jaringan.

f. Kubikel Bus Riser / Bus Tie (Interface) : sebagai penghubung antar sel.

D. Komponen – Komponen Kubikel

2.1 Komponen dalam Kubikel antara lain :

2.1.1 Busbar

Busbar digunakan untuk mengumpulkan daya listrik dengan tegangan 20 kV serta


membaginya ke tempat-tempat yang diperlukan. Busbar dibuat dari tembaga atau
aluminium dengan bentuk sesuai dengan desain dari masing-masing pabrik. Bentuk fisik
busbar dapat dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2. Busbar

2.1.2 PMS (Pemisah)


Berfungsi sebagai pemutus atau penghubung aliran listrik 20 kv kontak penghubung tidak

Dilengkapi alat peredam busur api sehingga posisi alat kontak ( buka tutup) harus

dilakukan Dalam keadaan tidak berbeda. Bisa terpasang pada sisi kabel incoming gardu

distribusi, Simbol diagram :

Gambar 2.3. Diagram PMS

2.1.3 Earthing Switch

Untuk mengamankan kubikel pada saat tidak bertegangan dengan menghubungkan


terminal kabel ketanah (grounding), sehingga bila ada personil yang bekerja pada kubikel
tersebut terhindar terhadap adanya kesalahan operasi yang menyebabkan kabel terisi
tegangan. PMS tanah ini biasanya mempunyai sistem interlock dengan pintu kubikel dan
mekanik LBS pintu tidak bisa dibuka jika PMS tanah belum masuk, LBS tidak bisa masuk
sebelum PMS tanah dibuka.

2.1.4 Heater
Untuk memanaskan ruang terminal kabel agar kelembabannya terjaga. keadaan ini
diharapkan dapat mengurangi efek corona pada terminal kubikel tersebut, besarnya
tegangan heater 220 V sumber tegangan berasal dari trafo distribusi.
Gambar 2.4 Heater
2.1.5 Transformator Arus (CT)

 Mengkonversi besaran arus pada sistem tenaga listrik dari besaran primer menjadi

besaran sekunder untuk keperluan pengukuran sistem metering dan proteksi

 Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer, sebagai pengamanan

terhadap manusia atau operator yang melakukan pengukuran.

 Standarisasi besaran sekunder, untuk arus nominal 1 Amp dan 5 Amp

Jenis CT yang terpasang pada kubikel 20 kV biasanya:

 Berbentuk cor-coran/cesh resain

Bagian-bagian utama trafo arus, yaitu:


 Kumparan primer
 Kumparan sekunder
 Inti besi
 Terminal primer dan terminal sekunder
 Bentuk Transformator arus / CT yang terdapat di Cubikel ditunjukkan pada gambar
2.4.
Gambar 2.5 Transformator Arus
2.1.6 Transformator Tegangan (PT)

Gambar 2.6 Transformator Tegangan

Transformator Tegangan berfungsi mentransformasikan dari tegangan tinggi ke


tegangan rendah guna pengukuran atau proteksi dan sebagai isolasi antara sisi tegangan
yang diukur atau proteksi dengan alat ukurnya atau proteksinya. Bagian-bagian uatama dari
transformator tegangan yaitu:
 Kumpuran primer
 Kumparan sekunder
 Inti besi
 Terminal primer dan terminal sekunder
2.2 Komponen luar Kubikel antara lain :

2.2.1.1 Kubikel Incoming

Kubikel Incoming berfungsi sebagai penghubung dari sisi sekunder trafo

daya ke busbar 20 kV. Tegangan 20 kV dari sisi sekunder trafo masuk ke dalam

busbar 20 kV yang berada di dalam kubikel 20 kV.


Gambar 2.7 Kubikel Incoming

1. Busbar Compartment

2. Low Voltage Compartment

3. Cable Connection Compartment

4. Disconnecting Switch Compartment

5. Cable Connection Compartment

C. DS interruptor berisi gas SF6 (menggunakan DS chamber)

D. Status Indikasi

 Status indikasi Disconnecting Switch

Untuk mengetahui kondisi membuka atau menutup Disconnecting Switch

 Status indikasi pembumian

Untuk mengetahui kondisi membuka atau menutup earthing switch

 Status indikasi tegangan

Untuk menandai adanya tegangan (20 kv) pada sisi kabel, baik berasal dari

sisi lain kabel tersebut atau berasal dari busbar sebagai akibat alat hubung

dimasukkan lampu indikator menyala dikarenakan adanya arus kapasitif

yang dihasilkan oleh kapasitor pembagi tegangan.


 Pengoperasian pembumian

Lubang untuk membuka atau menutup earthing switch dengan tongkat

pemutar kontak( dalam hal ini untuk pemeliharaan kubikel )

 Pengoperasian Disconnecting Switch

Lubang untuk membuka atau menutup disconnector dengan tongkat

pemutar kontak

E. Capasitive Voltage Divider

F. Panel Depan

G. Jendela Pemeriksaan Koneksi Kabel

2.2.2 Kubikel Metering

Kubikel Metering berfungsi untuk keperluan pengukuran. Kubikel

ini dilengkapi dengan alat pengukuran , seperti amperemeter, voltmeter,

dan wattmeter. Selain itu, kubikel ini juga dilengkapi dengan alat proteksi,

seperti fuse.

Gambar 2.8 Kubikel Metering

1. Low Voltage Compartment

2. Busbar Compartment
A. Busbar

B. Solefuse

C. Jendela Pemeriksaan Koneksi Kabel

D. Panel Depan

E. Voltage Transformer

3. Disconnecting Switch Compartment

 MCB

Untuk menghubungkan dan memutuskan tegangan

 Pengoperasian pembumian

Lubang untuk membuka atau menutup earthing switch dengan tongkat

pemutar kontak( dalam hal ini untuk pemeliharaan kubikel )

 Pengoperasian Disconnecting Switch

Lubang untuk membuka atau menutup disconnector dengan tongkat

pemutar kontak

 Status indikasi Disconnecting Switch

Untuk mengetahui kondisi membuka atau menutup Disconnecting Switch

 Status indikasi pembumian

Untuk mengetahui kondisi membuka atau menutup earthing switch

 Alat ukur Voltmeter & Amperemeter

Untuk mengukur arus dan tegangan listrik

4. Cable Connection Compartment

5. Panel Belakang
2.2.3 Kubikel Outgoing

Kubikel outgoing merupakan kubikel penghubung antara busbar 20 kV yang

berada di dalam kubikel dengan jaringan tegangan menengah.

Gambar 2.9 Kubikel Outgoing

1. Low Voltage Compartment

2. Busbar Compartment

3. Disconnecting Switch Compartment

 Pengoperasian pembumian

Lubang untuk membuka atau menutup earthing switch dengan tongkat

pemutar kontak( dalam hal ini untuk pemeliharaan kubikel )

 Pengoperasian Disconnecting Switch

Lubang untuk membuka atau menutup disconnector dengan tongkat

pemutar kontak

 Status indikasi Disconnecting Switch

Untuk mengetahui kondisi membuka atau menutup Disconnecting Switch

 Status indikasi pembumian

Untuk mengetahui kondisi membuka atau menutup Earthing Switch


 Anak kunci A & B

Untuk operasi energizing dan perawatan pada kubikel

 Status indikasi tegangan

Untuk menandai adanya tegangan (20 kv) pada sisi kabel, baik berasal dari

sisi lain kabel tersebut atau berasal dari busbar sebagai akibat alat hubung

dimasukkan lampu indikator menyala dikarenakan adanya arus kapasitif

yang dihasilkan oleh kapasitor pembagi tegangan.

4. CB Compartment

 Handle atau tuas

Untuk charging spring (Bisa dilihat pada window)

 Indikator untuk melihat charging spring

 Tombol ON/OFF manual

 Name plate

 Rumah kunci C (berkaitan dengan interlock Disconnecting Switch)

 Capasitive Voltage divider ( pembagi tegangan kapasitif )

 Terminal Power Cable

untuk menghubungkan bagian-bagian kubikel yang bertegangan satu

dengan yang lainnya

 Earthing switch Blades

Untuk mengamankan kubikel pada saat tidak bertegangan dengan

menghubungkan terminal kabel ketanah (grounding) sehingga bila ada

personil yang bekerja pada kubikel tersebut terhindar terhadap adanya

kesalahan operasi yang menyebabkan kabel terisi tegangan.

 Cast resin chamber ( Main contact & Arc contact ) yang berisi gas SF6
Gambar 2.10 Cast Resin Chamber

Sebagai pemutus penghubung aliran listrik dan sebagai peredam busur api

pada kubikel jenis LBS atau CB digunakan media minyak, gas SF 6,

vacum atau dengan hembusan udara selain itu memperkecil terjadinya

busur api dilakukan dengan pembukaan dan penutupan kontak pemutus

secara cepat secara mekanis

2.3 Pengaman, Kontrol dan Indikator

2.3.1 Handle Kubikel

Untuk menggerakkan mekanik kubikel, yaitu membuka atau menutup posisi


kontak hubung :PMT, PMS, LBS, pemisah tanah (grounding) atau pengisian pegas
untuk energi membuka/menutup kontak hubung, pada satu kubikel, jumlah handle
yang tersedia bisa satu macam atau lebih.

Gambar 2.11 Handle


2.3.2 Relai dan Metering

Relai arus lebih adalah suatu relai yang bekerja berdasarkan adanya kenaikan
arus yang melebihi suatu nilai pengamanan tertentu dan dalam waktu tertentu,
sehingga rele ini dapat dipakai sebagai pola pengamanan arus lebih. Adapun single
line diagram relay dapat dilihat pada gambar 2.6.

REL
PT

UFR
PMT

OCR GFR REC

KWH A

kV

Gambar 2.12. Single Line Diagram Relay

 Relay Arus Lebih (OCR)


Berfungsi sebagai pengaman terhadap gangguan hubung singkat fasa-fasa pada
penyulang TM.
 Relay Gangguan Tanah (OCR)
Sebagai pengaman terhadap gangguan tanah pada penyulang TM.
 Reclosing Relai
Berfungsi untuk menormalkan kembali SUTM jika terjadi gangguan temporer
 Relay Frekuensi Kurang (UFR)
Berfungsi untuk pelepasan beban pada penyulang, jika terjadi gangguan sistem.
 Ampere Meter
Berfungsi untuk pengukuran arus beban.
 KWH Meter
Berfungsi untuk pengukuran energi disalurkan
 kV meter
Berfungsi untuk pengukutan tegangan.
Instrumen-instrumen yang memerlukan pasukan arus dari sekunder CT adalah: OCR,
GFR, Ampere meter, KWH meter. Sedangkan yang memerlukan pasukan tegangan
dari sekunder PT adalah : OFR, kV meter dan KWH meter.

2.3.3 Lampu Indikator

Untuk menandai adanya tegangan 20 kV pada sisi kabel, baik berasal dari sisi lain
kabel tersebut atau berasal dari busbar sebagai akibat alat hubung dimasukkan, lampu
indikator menyala dikarenakan adanya arus kapasitip yang dihasilkan oleh kapasitor
pembagi tegangan. Kubikel jemis PMT lampu indikator digunakan untuk menandai posisi
alat hubungnya dengan dua warna yang berbeda untuk posisi masuk atau keluar. Sumber
listrik untuk lampu indikator berasal dari sumber arus searah (DC) yang dihubungkan
dengan kontak bantu yang bekerja serempak dengan kerja poros penggerak alat hubung
utama.

2.3.4 Sistem Interlock

Sistem interlock harus dilengkapi untuk mencegah kemungkinan kesalahan atau


kelainan operasi dari peralatan dan untuk menjamin keamanan operasi. Gawai interlock
harus dari jenis mekanis dengan standar pembuatan yang paling tinggi, tak dapat diganggu
gugat dan mempunyai kekuatan mekanis lebih tinggi dari kontrol mekanisnya. Pada
kubikel jenis PMT yang dilengkapi dengan motor listrik sebagai penggerak alat hubung
dan dikontrol dengan sistem kontrol listrik arus searah, maka sistem interlockpun juga
diberlakukan pada sistem kontrol listriknya. Yaitu bila posisi komponen kubikel belum
pada posisi siap dioperasikan, maka sistem kontrol tidak dapat dioperasikan .
Macam- macam sistem interlock pada Kubikel :
Interlock pintu
Pintu Kubikel harus tidak dapat dibuka jika :
 Sakelar utama (sakelar tegangan menengah) dalam keadaan tertutup
 Sakelar pembumian dalam keadaan terbuka.
 Pintu Kubikel harus tidak dapat ditutup jika sakelar pembumian dalam keadaan
terbuka.
Interlock sakelar utama

Sakelar utama (sakelar tegangan menengah) harus tidak dapat dioperasikan jika:
 Pintu Kubikel dalam keadaan terbuka.
 Sakelar pembumian dalam keadaan tertutup.

Interlock sakelar pembumian

 Sakelar pembumian harus tidak dapat ditutup jika sakelar utama dalam keadaan
tertutup
Penguncian

 Perlengkapan penguncian harus disediakan untuk :


 Sakelar pembumian pada posisi terbuka atau tertutup
 Sakelar utama atau pemutusan tenaga pada posisi terbuka
 Pintu Kubikel
2.3.5 Sekering

Pada kubikel terdapat suatu sekering tegangan menengah yang sering disebut
sebagai solefuse. Rating tegangannya bisa mencapai 34 kV, dan mampu bekerja pada arus
31.5 kA. Solefuse ini digunakan untuk melindungi trafo tegangan dari gangguan. Bentuk
Solefuse ditunjukkan pada gambar 2.5.

Gambar 2.13. Solefuse


2.3.6 Pengukuran Tahanan Isolasi Komponen Kubikel

Tahanan isolasi adalah tahanan yang terdapat diantara dua kawat saluran (kabel)
yang diisolasi satu sama lain atau tahanan antara satu kawat saluran dengan tanah (ground).
Pengukuran tahanan isolasi digunakan untuk memeriksa status isolasi rangkaian dan
perlengkapan listrik, sebagai dasar pengendalian keselamatan. Pada kubikel, mengetahui
besarnya tahanan isolasi merupakan hal yang penting untuk menentukan apakah peralatan
tersebut dapat dioperasikan dengan aman. Isolasi yg dimaksud adalah isolasi antara bagian
yang bertegangan dengan bertegangan maupun dengan bagian yang tidak bertegangan
seperti body / ground.
Pada Pengukuran tahanan isolasi trafo dilakukan untuk memperoleh hasil
(nilai/besaran) tahanan isolasi belitan / kumparan trafo tenaga antara bagian yang diberi
tegangan (fasa) terhadap badan (Case) maupun antar belitan primer, dan sekunder. Bentuk
fisik dari alat ukur tahanan isolasi dapat dilihat pada gambar 2.7.

Gambar 2.14. Alat ukur tahanan isolasi pada kubikel (Metrel MI 3200 TeraOhm 10 kV)

2.4 SEPAM PROTECTION AND MEASURING RELAY

2.4.1 Mengenal Sepam 1000+


Sepam 1000+ terletak pada LV Box Compartment pada sisi outgoing kubikel. Berikut
gambar sepam 1000+ dan tombol-tombol yang terdapat pada sepam 1000+
Pengukuran

Grapic LCD Arus


Dsplay gangguan
Relay yang
bekerja

Reset

Passwords Clear
Parameter Setting Lampt Test LCD
Protection setting
Gambar 2.15.Protection and Measuring Relay

2.4.2 Fungsi
SEPAM 1000 + tersedia dalam lima variasi yang meliputi fungsi relay paling
umum pelindung: diantaranya :

1. Substation / Feeder perlindungan: (50/51) Tiga Tahap arus lebih, (50N/51N)


Ground kesalahan (atau netral) dengan menahan diri harmonik dipilih
kedua, (46) ketidakseimbangan / arus lebih urutan negatif, dan (79) recloser
(4 langkah).
2. Transformer perlindungan: elemen arus lebih sama seperti Substation /
perlindungan Feeder kecuali dengan (49 RMS) overload termal, (49/63)
Thermostat / Buchholz, dan opsional (49) pemantauan RTD Suhu;
3. Perlindungan Motor: elemen arus lebih sama seperti Substation /
perlindungan feeder, plus (49 RMS) Thermal overload, (37) Tahap
terpendam, (48/51LR) berlebihan waktu mulai / rotor terkunci, (66)
berlebihan Mulai per jam, dan opsional ( 38/49) pemantauan RTD Suhu;
4. Tegangan jaringan perlindungan (busbar): (27D/47) undervoltage urutan
Positif, (27R) undervoltage remanen, (27) Tahap ke undervoltage Fase, (27s)
Tahap ke undervoltage Netral, (59) Tahap ke fase tegangan lebih, (59N)
perpindahan tegangan netral, (81H) Overfrequency, (81L) Underfrequency.
5. Rugi perlindungan listrik (busbar): tegangan yang sama dan elemen
frekuensi sebagai perlindungan jaringan Tegangan (busbar) plus (81R)
Laju Perubahan frekuensi.

2.4.3 Prinsip Kerja Sepam 1000+


Apabila Ada Arus di sisi primer mengalir melebihi setting di Relay Sepam 1000+,
maka kontak trip No 4 & 5 tertutup. Positif akan mengalir melalui kontak trip ke
Tripping coil, karena di Tripping coil sudah stanby Nol (-), maka tripping coil akan
bekerja. PMT akan trip, dan gangguan pun akan terlepas.

Gambar 2.16. Prinsip kerja sepam Relay 1000+

2.4.3 Standar Penomoran Relay Berdasarkan IEC dan IEEE

7 Rate of Change Relay


1 Master Element 8 Control Power
2 Time Delay Starting or Disconnecting Device
Closing Relay 9 Reversing Device
3 Checking or Interlocking 10 Unit Sequence Switch
Relay 11 Multifunction Device
4 Master Contactor 12 Overspeed Device
5 Stopping Device 13 Synchronous-speed Device
6 Starting Circuit Breaker 14 Underspeed Device
15 Master Element 30 Annunciator Relay
16 Time Delay Starting or 32 Directional Power Relay
Closing Relay 36 Polarity or Polarizing Voltage
17 Checking or Interlocking Devices
Relay 37 Undercurrent or Underpower
18 Master Contactor Relay
19 Stopping Device 38 Bearing Protective Device
20 Starting Circuit Breaker 39 Mechanical Condition
21 Rate of Change Relay Monitor
22 Control Power Disconnecting 40 Field (over/under excitation)
Device Relay
23 Reversing Device 41 Field Circuit Breaker
24 Unit Sequence Switch 42 Running Circuit Breaker
25 Multifunction Device 43 Manual Transfer or Selector
26 Overspeed Device Device
27 Synchronous-speed Device 46 Rev. phase or Phase-Bal.
28 Underspeed Device Current Relay
29 Speed or Frequency- 47 Phase-Seq. or Phase-Bal.
Matching Device Voltage Relay
30 Data Communications Device 48 Incomplete-Sequence Relay
20 Elect. operated valve 49 Machine or Transformer
(solenoid valve) Thermal Relay
21 Distance Relay 50 Instantaneous Overcurrent
23 Temperature Control Device 51 AC Inverse Time Overcurrent
24 Volts per Hertz Relay Relay
25 Synchronizing or Synchronism- 52 AC Circuit Breaker
Check Device 53 Field Excitation Relay
26 Apparatus Thermal Device 55 Power Factor Relay
27 Undervoltage Relay 56 Field Application Relay
59 Overvoltage Relay 78 Phase-Angle Measuring
60 Voltage or Current Balance Relay
Relay 79 AC-Reclosing Relay
62 Time-Delay Stopping or 81 Frequency Relay
Opening Relay 83 Automatic Selective Control
63 Pressure Switch or Transfer Relay
64 Ground Detector Relay 84 Operating Mechanism
65 Governor 85 Pilot Communications,
66 Notching or jogging device Carrier or PilotWire Relay
67 AC Directional Overcurrent 86 Lockout Relay
Relay 87 Differential Protective Relay
68 Blocking or “out of step” 89 Line Switch
Relay 90 Regulating Device
69 Permissive Control Device 91 Voltage Directional Relay
74 Alarm Relay 92 Voltage and Power
75 Position Changing Directional Relay
Mechanism 94 Tripping or Trip-Free Relay
76 DC Overcurrent Relay
BAB III

PEMBAHASAN

A. ALAT DAN BAHAN

1. ALAT

Tabel 3.1 Daftar Alat

NO NAMA ALAT JUMLAH

1. Kabel 1 buah

2. Kunci inggris 1 buah

3. Kabel 3 buah

4. Megger 1 set

5. Tongkat pembuka (lever) 1 buah

6. Obeng 1 set

Tabel 3.2 Perlengkapan K3

NO NAMA ALAT JUMLAH

1. Sepatu safety 1 pasang

2. Baju bengkel 1 set

3. Sarung tangan 20 kV 1 pasang

2. BAHAN

Table 3.3 Daftar Bahan

NO BAHAN JUMLAH

1. Kubikel Schneider 20 kV 1 buah


B. SINGLE LINE DIAGRAM

INCOMING METERING OUTGOING

V
GENSET 380V

380 V
TRAFO
AMF
PLN 380V 20 KV

Gambar 3.1 Single Line Diagram Kubikel 20kV

C. LANGKAH KERJA

1. PENGOPERASIAN KUBIKEL

 Pastikan semua panel (Outgoing, Metering, Incoming) tidak dalam kondisi

grounding dengan memutar earthing switch menggunakan tongkat pemutar

tongkat (lever) yang dimasukkan kedalam pengucian pentanahan berlawanan

dengan arah jarum jam menuju titik 0.


 Menghubungkan semua panel kubikel (Outgoing, Metering, Incoming) dengan

memasukkan tongkat (lever) ke dalam pengunci kemudian memutarnya searah

jarum jam ke titik untuk posisi terhubung (tertutup).

 Setelah semua panel dalam keadaan terhubung atau ON maka selanjutnya pada

panel DM1A (ougoing) putar anak kunci A pada rumah kunci A lalu pindahkan ke

rumah kunci C.

 Selanjutnya pada panel DM1A closing Circuit Breaker yang di lakukan secara

manual menggunakan charging spring dengan menarik tuas berulang kali sampai

muncul indikasi bahwa CB dalam kondisi charging lalu pencet tombol ON untuk

closing CB.

 Kubikel sudah dalam kondisi charging.

2. PENGUKURAN TAHANAN ISOLASI KUBIKEL

 Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

 Melepas scunt kabel fasa pada kubikel di bagian incoming. Pada saat melepasnya

harus hati-hati dikarenakan heater masih aktif dan mengakibatkan panas.

 Menekan tombol power pada alat ukur / megger.

 Mengatur tegangan input pada Megger. Pada pengukuran yang dilakukan tegangan

input yang digunakan 500 V.

 Mengukur tahanan pada setiap komponen di kubikel dengan memasang kabel

probe sesuai dengan prosedur yang akan diukur.

 Kemudian kembali ke langkah dengan mengganti tegangan input menjadi 1000

V.
 Setelah semua pengukuran pada komponen kubikel selesai maka komponen yang

dilepas atau dibuka dipasang kembali.

3. PEMELIHARAAN KUBIKEL

 Melakukan grounding terhadap semua panel kubikel (incoming, metering,

outgoing).

 Memasukkan tongkat (lever) ke dalam pengunci earthing switch untuk memutar

ke posisi grounding dengan memutar tongkat searah jarum jam ke posisi 1.

 Setelah semua panel dalam keadaan ground maka selanjutnya membuka pintu

panel dengan cara mengangkat sembari menarik pintu panel.

 Mengecek keadaan fuse, PMT, transformator metering apakah masi dalam kondisi

baik atau tidak, namun dalam pengecekan harus hati-hati dikarenakan masi

aktifnya heater.

 Setelah selesai perawatan maka menutup pintu panel dengan cara mengangkat

sembari mendorong pintu panel.

 Melepas grounding kubikel dengan cara memasukkan tongkat (lever) ke pengunci

lalu memutar ke arah kiri ke titik 0 sehingga posisi kembali seperti semula.

 Perawatan kubikel telah selesai.


D. ANALISA

3.D.1 Pengenalan Komponen Kubikel

1. Incoming

a. Kabel 3 phasa dari generator

Gambar 3.2 Kabel 3 phasa dari generator

Gambar 3.3 Kubikel incoming

 H21 merupakan lampu tanda Jika tengangan masuk dari generator

 Q1 merupakan Kunci untuk Meng-On kan incoming


 Q2 merupakan kunci untuk menghubungkan kubikel dengan system pembumian,

hal ini dilakukan jika kubikel dalam pemeliharaan

b. Spesifikasi Incoming

Gambar 3.4 Spesifikasi kubikel incoming

2. Metering

a. Trafo Arus

Gambar 3.5 Spesifikasi trafo arus


b. Fuse

Gambar 3.6 Spesifikasi fuse

c. Alat Pengukuran

Voltmeter, Amperemeter, KwH Meter

 Q1 merupakan Kunci untuk Meng-On kan Kubikel

 Q2 merupakan kunci untuk menghubungkan kubikel dengan sistem pembumian,

hal ini dilakukan jika kubikel dalam pemeliharaan

d. Spesifikasi Metering

Pada metering spesifikasinya hampir sama dengan incoming, hanya pada

metering (Ir) nya adalah 100 A

Gambar 3.7 Spesifikasi kubikel metering


3. Outgoing

a. Trafo Tegangan

Gambar 3.8 Spesifikasi trafo tegangan

Gambar 3.9 Anak Kunci A&B

 A adalah kunci untuk memastikan outgoing telah terhubung

 B merupakan Kunci untuk membuka Q1

 C untuk menghubungkan CB

 Q2 merupakan kunci untuk menghubungkan outgoing

 Q1 merupakan kunci untuk menghubungkan kubikel dengan sistem pembumian, hal ini

dilakukan jika kubikel dalam pemeliharaan


b. Spesifikasi outgoing

Gambar 3.10 Spesifikasi kubikel outgoing

3.D.2 Pengukuran Tahanan Isolasi pada Komponen Kubikel

Pada job ini, kami melakukan pengukuran terhadap tahanan isolasi trafo step up 20kV.

Pada job Kubikel dilakukan pengambilan data pada tahanan isolasi trafo step up 20kV baik itu

antara teg.primer-teg.sekunder, teg.sekunder-body, dan teg.primer-body.

Tabel 3.4 Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi pada Kubikel

Sisi Belitan Sisis Teagangan Terminal Nilai Tahanan (MΩ)

Primer Tegangan Rendah R-Body

(220V/380V)

S-Body

T-Body

N-Body

Sekunder R-Body

S-Body

T-Body
Primer- Teg.Rendah- LV-HV

Sekunder Teg.Menengah

Tabel 3.5 Hasil Pengujian Tahanan Isolasi kabel dari Panel ATS/AMF ke Trafo Distribusi

No Pengukuran Nilai tahanan Isolasi (MΩ)

1 R-S

2 R-T

3 S-T

4 R-G

5 S-G

6 T-G

Pada saat melakukan pengukuran tahanan isolasi antara fasa (P) dan netral (N), hal pokok

yang perlu diperhatikan adalah memutus atau membuka semua alat pemakai arus yang

terpasang secara paralel pada saluran tersebut, seperti lampu-lampu, motormotor, voltmeter,

dan sebagainya. Sebaliknya semua alat pemutus seperti : kontak, penyambung-penyambung,

dan sebagainya yang tersambung secara seri harus ditutup.

Di samping digunakan untuk mengetahui keadaan tahanan isolasi, juga untuk

mengetahui kebenaran sambungan yang ada pada instalasi. Jika terjadi sambungan yang salah

atau hubung singkat dapat segera diketahui dan diperbaiki.

Sedangkan untuk pengujian tahanan isolasi antara jaringan instalasi dengan tanah/ground

(G), hal pokok yang perlu diperhatikan adalah memasang semua alat pemakai arus yang
terpasang secara paralel pada saluran tersebut, seperti lampu-lampu, motormotor, voltmeter,

dan sebagainya. Semua alat pemutus seperti : kontak, penyambung-penyambung, dan

sebagainya yang tersambung secara seri harus ditutup.

Saat ingin melakukan pengukuran lebih baik menggunakan daya baterainya saja karena

dapat membangkitkan tegangan tinggi yang lebih stabil. Pada dasarnya pengukuran tahanan

isolasi belitan trafo adalah untuk mengetahui besar nilai kebocoran arus (leakage current)

yang terjadi pada isolasi belitan atau kumparan primer, sekunder atau tertier. Kebocoran arus

yang menembus isolasi peralatan listrik memang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, salah

satu cara meyakinkan bahwa trafo cukup aman untuk diberi tegangan adalah dengan

mengukur tahanan isolasinya.

Kebocoran arus yang memenuhi ketentuan yang ditetapkan akan memberikan jaminan

bagi trafo itu sendiri sehingga terhindar dari kegagalan isolasi. Insulation tester banyak

jenisnya (merk dan type Insulation Tester), masing-masing memiliki spesifikasi yang berbeda

antara yang satu dengan yang lainnya. Mulai dari type sederhana, menengah sampai dengan

yang canggih. Display (tampilannya) juga banyak ragamnya, mulai dari tampilan analog, semi

digital dan digital murni. Pada panel kendali (Front Panel) ada yang sangat sederhana, namun

ada pula yang super canggih. Tapi seluruhnya memiliki prinsip kerja yang sama.

3.D.3 Pemeliharaan Kubikel dan Transformator

 Kubikel diposisikan dalam keadaan netral, semua bagian kubikel dihubungkan dengan

pembumian dan dilakukan pengecekan terhadap bagian- bagian kubikel.

 Setelah kubikel dalam kondisi standby, semua peralatan dalam keadaan terbuka,

termasuk PMT, PMS, DS, CB.


 Dalam mengoperasikan kubikel sebaiknya yang pertama dihubungkan adalah metering,

hal ini disebabkan karena apabila incoming di ON-kan terlebih dahulu akan berbahaya,

dimana pada incoming terdapat tegangan 20 kV.

 Setelah metering dihubungkan, selanjutnya outgoing di hubungkan dengan membuka

kunci B terlebih dahulu sehingga Q1 dapat dihubungkan.

 Dalam menghubungkan Q1 terlebih dahulu dipastikan tidak ada orang yang berada di

jaringan distribusi untuk menghindari bahaya tegangan.

 Pada saat outgoing dan metering sudah terpasang selanjutnya incoming sudah bisa di-

ON-kan. Kunci A digunakan untuk memastikan outgoing telah terhubung.

 Kunci C untuk membuka pengunci CB dengan jaringan distribusi, sehingga pada saat

tombol ON ditekan, maka CB akan ON dan tegangan akan mengalir dari kubikel ke

jaringan distribusi.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Setelah melakukan kegiatan praktikum Bengkel Listrik Catu Daya job kubikel, maka

dapat ditarik beberapa kesimpulan:

1. Kubikel ialah suatu perlengkapan atau peralatan listrik yang berfungsi sebagai
pengendali, penghubung dan pelindung serta membagi tenaga listrik dari sumber
tenaga listrik.
2. Pengukuran tahanan isolasi pada kubikel dan transformator menggunakan alat ukur
insulation tester. Dimana pengukuran dilakukan antara fasa ke fasa, fasa ke netral dan
fasa ke grounding.
3. Pengujian tegangan tembus minyak trafo dilakukan pada suatu alat khusus. Dimana
pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan minyak trafo untuk digunakan.
4. Pemeliharaan kubikel dan transformator digunakan untuk menghindari masalah yang
timbul dari komponen itu sendiri maupun masalah yang timbul akibat kesalahan
manusia.

4.1 Saran

1. Sebaiknya praktikan mengutamakan safety berdasarkan K3 yang telah ditetapkan.

2. Pada saat praktek di bengkel sebaiknya praktikan benar-benar dan memanfaatkan waktu

yang diberikan untuk memahami job yang diberikan mengingat waktu yang diberikan

sangat terbatas.
DAFTAR PUSTAKA

Arman,2017. Kubikel 20 Kv. https://armanbacktrak5.wordpress.com/2017 /02/


12/kubikel-20-kv/ . Diakses pada tanggal 1 Oktober 2018

Bakhtiar,2012. Jobsheet Kubikel Dan Trafo Distribusi. Politeknik Negeri Ujung


Pandang : Makassar.

Bonggas L. Tobing, 2003. Peralatan Tegangan Tinggi. Jakarta.PT Gramedia Pustaka


Utama : Jakarta.

Firda Dwi, 2017. Pemeliharaan Mvmdp(Medium Voltage Main Distribution Panel) /


Kubikel 20 Kv. Politeknik Negeri Bandung : Bandung

Mahardi Andi, 2010. Pemeliharaan Peralatan Hubung Bagi (Kubikel) 20kv Pelanggan
Besar. Universitas Diponegoro : Semarang

PT PLN, 2016. Pengenalan Kubikel 20 Kv Dan Komponen – Komponennya. Jakarta :


Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jawa Bagian Barat