Anda di halaman 1dari 11

A.

Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)


Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) adalah skema bantuan (pinjaman)
yang diberikan Bank Indonesia kepada bank-bank yang mengalami masalah
likuiditas pada saat terjadinya krisis moneter 1998 di Indonesia. Skema ini
dilakukan berdasarkan perjanjian Indonesia dengan IMF dalam mengatasi masalah
krisis. Pada bulan Desember 1998, BI telah menyalurkan BLBI sebesar Rp 147,7
triliun kepada 48 bank. Audit BPK terhadap penggunaan dana BLBI oleh ke-48
bank tersebut menyimpulkan telah terjadi indikasi penyimpangan sebesar Rp 138
triliun. Penerima dana BLBI antara lain :

No Penerima Bank
1 Agus Anwar Bank Pelita
2 Hashim Djojohadukusomo Bank Papan Sejahtera Bank Pelita
Istimarat
3 Samadikun Hartono Bank Modern
4 Kaharuddin Ongko Bank Umum Nasional
5 Ulung Bursa Bank Lautan Berlian
6 Atang Latief Bank Indonesia Raya
7 Lidia Muchtar Bank Tamara
8 Omar Putihrai Bank Tamara
9 Adisaputra Januardy Bank Namura Yasonta
10 James Januardy Bank Namura Yasonta
11 Marimutu Sinivasan Bank Putera Multikarsa
12 Santosa Sumali Bank Metropolitan Bank Bahari
13 Fadel Muhammad Bank Intan
14 Baringin MH Bank Namura Internusa
15 Joseph Januardy Bank Namura Internusa
16 Trijono Gondokusomo Bank Putera Surya Perkasa
17 Hengky Wijaya Bank Tata
18 Tony Tanjung Bank Tata
19 I Gde Dermawan Bank Aken
20 Made Sudiarta Bank Aken
21 Tarunojo Nusa Wijaya Bank Umum Servitia
22 David Nusa Wijaya Bank Umum Servitia

B. Penyebab Kasus BLBI


Berawal dari krisis ekonomi yang menerpa negara-negara di Asia
tahun 1997. Satu per satu mata uang negara-negara di Asia merosot
nilainya. Kemajuan perekonomian negara-negara di Asia yang banyak
dipuji oleh banyak pihak sebelumnya, menjadi angin kosong belaka. Persis
sebelum krisis ekonomi, Bank Dunia pada 1997 menerbitkan laporan
berjudul "The Asian Miracle" yang menunjukkan kisah sukses
pembangunan di Asia. Ternyata kesuksesan pembangunan ekonomi di
negara-negara Asia tersebut tidak berarti banyak karena pada
kenyataannya, negara-negara tersebut tidak berdaya menghadapi spekulan
mata uang yang tinggi dan berujung pada krisis ekonomi. Menyusul
jatuhnya mata uang Baht, Thailand, nilai rupiah ikut merosot. Untuk
mengatasi pelemahan rupiah, Bank Indonesia kemudian memperluas
rentang intervensi kurs jual dan kurs beli rupiah, dari Rp. 192 (8%),
menjadi Rp. 304 (12%). Guna mengurangi tekanan terhadap rupiah, Bank
Indonesia mulai melakukan pengetatan likuiditas dengan menaikkan suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari 6% menjadi 14%. Akibat
kondisi ini bank-bank umum kemudian meminta bantuan BI sebagai
lender of the last resort. Ini merujuk pada kewajiban BI untuk
memberikan bantuan kepada bank dalam situasi darurat. Dana talangan
yang dikucurkan oleh BI ini yang dikenal dengan BLBI.

Sesehat apa pun sebuah bank, apabila uang dari masyarakat ditarik
serentak tentu tidak akan sanggup memenuhinya. Penyimpangan BLBI
dimulai saat BI berikan dispensasi kepada bank-bank umum untuk
mengikuti kliring, meski rekening gironya di BI bersaldo debet. ),
Dispensasi diberikan ke semua bank tanpa melakukan pre-audit utk
mengetahui apakah bank itu benar-benar butuh bantuan likuiditas & sehat.
Akibatnya, banyak bank yang tidak mampu mengembalikan BLBI.
C. Kronologi Kasus

1. 11 Juli 1997: Pemerintah RI memperluas rentang intervensi kurs dari


192 (8%) menjadi 304 (12%), melakukan pengetatan likuiditas dan
pembelian surat berharga pasar uang, serta menerapkan kebijakan uang
ketat.
2. 14 Agustus 1997: Pemerintah melepas sistem kurs mengambang
terkendali (free floating). Masyarakat panik, lalu berbelanja dolar dlm
jumlah sangat besar. Setelah dana pemerintah ditarik ke BI, tingkat
suku bunga & deposito melonjak drastis krn bank berebut dana rakyat.
3. 1 September 1997: BI menurunkan suku bunga SBI sebanyak 3 kali.
Berkembang isu di masyarakat mengenai beberapa bank besar yg
mengalami kalah kliring dan rugi dalam transaksi valas. Kepercayaan
masyarakat terhadap bank nasional mulai goyah. Terjadi rush kecil-
kecilan.
4. 3 September 1997: Sidang Kabinet Terbatas Bid. Ekonomi, Keuangan
& Pembangunan, Produksi & Distribusi berlangsung di Bina Graha,
dipimpin langsung Soeharto. Hasilnya: pemerintah akan bantu bank
sehat yg alami kesulitan likuiditas. Bank 'sakit', akan
dimerger/likuidasi. Belakangan, kredit ini disebut bantuan likuiditas
Bank Indonesia (BLBI).
5. 1 November 1997: 16 bank dilikuidasi.
6. 26 Desember 1997: Gubernur BI Soedradjad Djiwandono
melayangkan surat ke Soeharto, memberitahukan kondisi perbankan
nasional yang terus alami saldo debit akibat tekanan penarikan dana
nasabah. Soedradjad usul: "mengganti saldo debit dengan Surat
Berharga Pasar Uang (SBPU) Khusus
7. 27 Desember 1997: Surat Gubernur BI dijawab surat nomor R-
183/M.Sesneg/12/1997, ditandatangani Mensesneg Moerdiono. Isinya,
Presiden menyetujui saran direksi BI utk mengganti saldo debit bank
dengan SBPU Khusus agar tidak banyak bank yg tutup dan dinyatakan
bangkrut.
8. 10 April 1998: Menkeu diminta untuk mengalihkan tagihan BLBI
kepada BPPN dengan batas waktu pelaksanaan 22 April 1998.
9. Mei 1998: BLBI yg dikucurkan ke 23 bank capai Rp 164 triliun, dana
penjamin antarbank Rp 54 triliun, biaya rekapitalisasi Rp 103 triliun.
Adapun penerima terbesar (hampir dua pertiga dari jumlah
keseluruhan) hanya empat bank. Yakni BDNI Rp 37,039 triliun; BCA
Rp 26,596 triliun; Danamon Rp 23,046 triliun; dan BUN Rp 12,067
triliun.
10. 4 Juni 1998: Pemerintah diminta membayar seluruh tagihan kredit
perdagangan (L/C) bank-bank dalam negeri oleh Kesepakatan
Frankfurt. Ini merupakan prasyarat agar L/C yang diterbitkan oleh
bank dalam negeri bisa diterima dunia internasional. Pemerintah
terpaksa memakai dana BLBI senilai US$ 1,2 miliar (sekitar Rp 18
triliun pada kurs Rp 14 ribu waktu itu).

D. Kasus Korupsi BLBI dan Penanganannya


Dana BLBI banyak yang diselewengkan oleh penerimanya. Proses
penyalurannya pun banyak yang melalui penyimpangan-penyimpangan.
Beberapa mantan direktur BI telah menjadi terpidana kasus
penyelewengan dana BLBI, antara lain Paul Sutopo Tjokronegoro, Hendro
Budiyanto, dan Heru Supratomo.

1. Bank Ficorinvest: mantan presdir Ficorinvest, Supari


Dhirdjoprawiro dan S. Soemeri divonis hukuman 1,5 tahun penjara
oleh PN Jakarta Selatan pada tanggal 13 Agustus 2003. Saat ini
masih bebas karena mengajukan kasasi.
2. Bank Umum Servitia: dirut Servitia, David Nusa Wijaya divonis 8
tahun penjara oleh MA pada tanggal 23 Juli 2003, sempat
melarikan diri ke AS namun tertangkap di sana.
3. Bank Harapan Sentosa: Hendra Rahardja dihukum seumur hidup,
namun melarikan diri ke Australia dan meninggal di sana, Eko Adi
Putranto dan Sherly Konjogian, divonis 20 tahun, namun juga
melarikan diri ke Australia.
4. Bank Surya: Bambang Sutrisno dan Adrian Kiki Ariawan,
dihukum seumur hidup, namun melarikan diri ke Singapura
5. Bank Modern: Samadikun Hartono, divonis 4 tahun, melarikan
diri.
6. Bank Pelita: Agus Anwar, dalam proses pengadilan, namun sudah
melarikan diri.
7. Bank Umum Nasional: Sjamsul Nursalim, penyidikan dihentikan.
8. Bank Asia Pacific (Aspac): Hendrawan Haryono, mantan wakil
dirut Aspac divonis 1 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan.
9. Bank Indonesia Raya (Bank Bira): Atang Latif, melarikan diri ke
Singapura sebelum kasusnya disidangkan

E. Analisa Hukum Kasus BLBI

Ada beberapa bentuk perilaku menyimpang dalam kaitannya dengan


BLBI yang dapat diklasifikasikan sebagai tindak pidana, di antaranya:

1. Saldo debet

Penyimpangan dalam penyaluran BLBI dimulai dengan diberikannya


dispensasi oleh BI kepada bank untuk tetap mengikuti kliring, melakukan
penarikan tunai, dan transfer dana ke cabang-cabang bank yang bersangkutan
meskipun rekening gironya dibank BI bersaldo debet. Memasuki masa krisis
pada Agustus 1997, BI memberikan dispensasi tanpa meneyebutkan batas
jumlah dan batas waktu yang tegas. Hal ini tercermin dalam keputusan rapat
direksi BI pada tnggal 15 Agustus 1997 yang dijadikan acuan direksi dan
pengawasan bank dalam menyalurkan BLBI.
Setelah keluarnya keputusan rapat direksi tersebut, pemberian
dispensasi atau izin ikut serta kliring, melakukan pengambilan tunai dan
melakukan transfer dana kecabang-cabang walaupun rekening giro bank
bersaldo debet, teus diberikan kepad bank, walaupun tidak ada permintaan
dari bank yang bersangkutan. Berdsarkan SE BI No. 14/8/UPPB Tanggal 10
September 1981 yang merupakan penjabaran dari keputusan direksi BI No
14/35/Kep/DIR/UPPB Tanggal 10 September 1981, kewenangan untuk
melakukan sanksi stop krliring berada pada penyelenggara kliring yaitu BI dan
bank yang ditunjuk oleh BI.

2. Fasilitas Diskonto (Fasdis)

Kebijakan pemberian Fasdis I dan ii untuk mengkonversi saldo debet


rekening giro bank di BI tersebut ternyata tidak sesuai dengan ketentuan BI
mengenai Fasdis, yaitu Surat Keputusan Direksi BI No.21/54/KEP/DIR
Tanggal 17 Oktober 1988 jo No.23/KEP/DIR Tanggal 28 Februari 1991.
Dalam keputusan ini dinyatakan bahwa fasdis I disediakan dalam rangka
memberikan fasilitas untuk memperlancar pengaturan dana sehari-hari dengan
jumlah maksimum sebesar 5% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam rupiah.
Sedangkan Fasdis II disediakan untuk menaggulangi kesulitan likuiditas
sementara sebagai akibat ketidaksesuaian pendanaan (mismatch) dalam rangka
pemberian kredit jangka menengah/panjang dengan jumla maksimum sebesar
3% dari DPK dalam rupiah.

Dengan demikian menurut ketentuan tersebut, penyediaan Fasdis I dan


II oleh BI kepada bank seharusnya bukan untuk mengkonversi saldo debet
rekening giro bank di BI.

Pada saat Fasdis ii jatuh tempo bank tetap tidak mampu menyediakan
dana yang cukup pada rekening gironya di BI, bahkan rekening gironya
bersaldo negatif sehingga pada saat ini BI membebani rekening giro tersebut
sebagai pelunasan Fasdis II, jumlah saldo debet bank menjadi semakin besar.
Terhadap hal ini BI tidak melakukan sita jaminan dan/atau
mengeksekusi jaminan kebendaan Fasdis II yang telah diikat secara notarill.
Sehingga Fasdis yang diberikan tetapi tidak dilunasi, sementara jaminan yang
telah diikat secara notarill dikembalikan kepada bank/pemilik bank.

3. Fasilitas Surat Berharga Pasar Uang Khusus (FSBPUK)

Direksi BI menerbitkan surat No.30/50/DIR/UK yang berisi


ketentuan antara lain sebagai berikut:

a. FSBPUK hanya diberikan kepada bank yang dikatagorikan solven


(CAR 2%)
b. Bank harus menyerahkan jaminan berupa asas
bank/pemilik/pengurus sebesar 50% dari FSBPUK yang
diterimanya. Bank juga diminta menyerahkan saham-saham bank
yang dimiliki oleh pemegang saham dengan ketentuan untuk bank
yang telah go publik harus menyerahkan seluruh saham pendiri,
sedangkan untuk bank yang belum go publik adalah semua
sahamnya.

Namun dalam pelaksanaannya pemberian FSBPUK tetap


dilakukan oleh BI walaupun :

a. Bank mempunyai CAR kurang dari 2%


b. Promes nasabah yang disrahkan oleh bank kepada BI lebih kecil
dari FSBPUK yang diterimanya.
c. Promes nasabah yang diserahkan bank, tidak di – endors oleh bank
yang bersangkutan.
d. Jaminan berupa asset bank/pemilik/pengurus yang diserahkan BI
tidak mencapai 50% dari FSBPUK yang diterimanya.
e. Sebagian saham Bank penerima FSBPUK belum dapat diserahkan
kepada BI.
f. Bank tidak melaksanakan program rehabilitasi yang telah
disepakati bersama dengan BI.
g. Bank tetap membiarkan rekening gironya dibank BI bersaldo
debet, lebih dari lima hari berturut-turut.

4. Dana Talangan Valas

Tunggakan trade finance perbankan nasional yang semakin meningkat


mengakibatakn perbankan internasional menutup credit line-nya kepada
perbankan nasional, yang berarti perbankan internasional tidak bersedia
mengkonfirmasi letter of credit (LOC) yang dibuka oleh perbankan Indonesia,
meskipun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan program penjaminan
Pemerintah ( blanket guarantee)

Untuk mengatasi masalah itu, pemerintah indonesia melakukan


berbagai perundingan dengan ppihak perbankan internasional di Frankfurt
yang menghasilkan Frankfurt Agreement dimana dicapai kesepakatan
mengenai penyelesaian tunggakan trade finance dan interbank debt yang
diikuti dengan penjaminan oleh BI atas credit line yang diberikan,
restrukturisasi utang luar negeri perbankan nasional melalui program
exchange offer dan dibentuknya Indonesian Debt Restrukturing Agency
(INDRA).

Dalam pelaksanaannya, BI telah memberikan penafsiran yang


berlebihan terhadap hal-hal yang telah disepakati dalam Frankfurt Agreement
dan kurang memperhatikan prosedur-prosedur yang menjamin prinsip kehati-
hatian dalam pemberian dan talangan valas yakni :

a. Tidak melakukan prosedur verifikasi dan konfirmasi yang memadai


sebelum melaksanakan pembayaran dana talangan valas.
b. Melakukan pengikatan jaminan yang tidak sepenuhnya dapat
menjamin pengambilan dana talanga valas dari bank debitur dalam
negeri yang mendapat penjaminan dana talangan.
c. Melakukan pembayaran yang menyalahi ketentuan, yakni membayar
kewajiban bank yang seharusnya tidak perlu ditalangi oleh BI.
Bedasarkan uraian diatas terbukti bahwa BI melanggar hukum tindak
pidana, yaitu

1. tidak konsisten dalam melaksanakan peraturan-peraturan yang


sudah dibuatnya dan yang sudah disetujui oleh presiden.
2. Kelalaian terhadap seleksi penerimaan dana BLBI yang
menyebabkan kerugian negara.
3. Kelalaian terhadap pengawasan dana yang menyebabkan
penyimpangan dana/ korupsi sebesar 138 T.

Dari uraian pelanggaran tersebut, penyelesaian kasus BLBI sudah


ditangani dengan berbagai versi yang disesuaikan dengan kebutuhan
penyelesaian kasus. Kepolisian menyelesaikan kasus BLBI dengan
menggunakan instrument perbankan. Kasus BLBI juga ditangani
kejaksaan dengan mengacu pada UU no.3 Tahun 1971,karena kasus ini
terjadi sebelum lahirnya UU No 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan
tindak pidana korupsi.BLBI juga ditangani dengan mendasar pada
instruksi presiden No 8 Tahun 2002 Dan UU No 25 tahun 2000 tentang
PROPENAS.Disamping itu ada beberapa kasus BLBI yang
penyelesaiannya ditangani oleh departemen keuangan.

Sampai saat ini masih terdapat beda pendapat khususnya


penafsiran pasal 9 dan pasal 68 UU tentang KPK.berdasarkan keputusan
MK, KPK hanya berwenang melanjutkan dan mengambil alih
penyelidikan,penyidikan dan penuntutan perkara korupsi yang belum
selesai dilakukan oleh lembaga penegak hukum lainnya. Tetapi tidak
terhadap perkara korupsi masa lalu.

Terlepas dari persoalan pro dan kontra, Sudah semestinya KPK


mengambil alih kasus yang sudah merugikan negara triliyunan rupiah,
selain itu kasus ini juga sudah penangannya menghabiskan waktu lebih
dari 1 dekade,maka penangannya tidak cukup dengan cara yang biasa
harus dengan cara yang lebih tegas dan secara aktif mengusut tuntas kasus
ini.

F. Kasus BLBI yang menyangkut BCA tahun 2014.


Diketahui pada tahun 1998 silam, BCA pernah dinyatakan sebagai
Bank Take Over (BTO) karena mengalami kerugian fiskal sebesar Rp
29,17 triliun. Langkah rekapitulasi juga sudah pernah dilakukan sehingga
pemerintah saat itu menguasai 92,8 persen saham BCA.

Dengan jual beli tersebut maka hasil recovery dan penjualan atau
restrukturisasi kredit terkait, telah menjadi milik BPPN sepenuhnya dan
bukan lagi melekat di BCA.

Sesuai Pasal 6 ayat (3) UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak


Penghasilan, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 117 Tahun 1999 dan
Keputusan Gubernur Bank Indonesia Nomor 31 Tahun 1999, BCA dapat
menggunakan kerugian fiskal tersebut sebagai kompensasi kerugian (tax
loss carry forward) yang berlaku selama 5 tahun.

Artinya, BCA dapat menggunakan kompensasi kerugian tersebut


terhadap keuntungan yang diperoleh mulai dari 1999 hingga 2003 dalam
menghitung kewajiban pajaknya.

Langkah BCA kemudian masuk pantauan Ditjen Pajak. Pada 6


September 1999 dan 18 September 2002, Dirjen Pajak melakukan
pemeriksaan. Hasilnya, ada beberapa koreksi-koreksi terutama terkait
dengan penjualan aset/pinjaman yang terafiliasi atau macet kepada BPPN.

Atas hasil koreksi tersebut, pihak BCA menerima dan sebagian lagi
diajukan keberatan kepada Kantor Pajak. Dari keberatan yang diajukan,
sebagian telah mendapatkan persetujuan dari Dirjen Pajak dan sebagian
lagi tidak memperoleh persetujuan. Dari bagian yang tidak disetujui untuk
tahun pajak 1998, pihak BCA telah mengajukan banding ke Pengadilan
Pajak. Dan, pengadilan telah menerima banding tersebut. Selanjutnya,
Dirjen Pajak telah menerbitkan penetapan sebagai pelaksanaan putusan
pengadilan tersebut, sehingga tax loss carry forward Bank BCA menjadi
Rp 22,2 triliun dari posisi semula Rp 29,17 trilliun.

Setelah digunakan sebagai Kompensasi Kerugian, pada akhir 2003 BCA


masih memiliki sisa tax loss carry forward sebesar Rp 7,81 triliun. Sisa
tersebut tidak dapat digunakan lagi setelah tahun 2003 karena melebihi
waktu 5 tahun. Namun pihak BCA pada waktu itu tidak menyampaikan
apakah tax loss carry forward sebesar Rp 7,81 triliun itu sudah
diselesaikan atau belum.
BCA juga diduga telah melakukan penggelapan pajak atas transaksi
penjualan kredit bermasalah. Akibat aksi ini ditengarai negara mengalami
kerugian sebesar Rp 5,5 triliun dalam tiga tahun.
Kasus ini dipicu setelah muncul kebijakan dari Dirjen Pajak pada
waktu itu Hadi Poernomo pada 2004 lalu. Kala itu, Hadi menyetujui
permohonan BCA untuk mengesahkan transaksi penjualan triliunan rupiah
kredit bermasalah dengan harga Rp 10 juta saja.

Selain melakukan transaksi penjualan kredit bermasalah dan


penghapusan pajak, pemerintah juga selalu menganakemaskan BCA dari
jerat hukum. Salah satunya soal kasus BLBI yang ada di BCA tidak pernah
tersentuh. Artinya, pemerintah selalu melindungi bank tersebut. Atas
tindakan tersebut, diduga pemerintah mengalami kerugian cukup
besar.Jadi, bukan hanya penghapusan pajak saja yang terjadi di BCA.
Tapi, kerugian negara akibat menyelamatkan BCA pun nilainya cukup
besar.