Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) pertama kali ditemukan pada
anak tahun 1983 di Amerika Serikat. Enam tahun kemudian ( 1989 ), AIDS sudah
termasuk penyakit yang mengancam anak di amerika. Di seluruh dunia, AIDS
menyebabkan kematian pada lebih dari 8000 orang setiap hari saat ini, yang
berarti 1 orang setiap 10 detik, karena itu infeksi HIV dianggap sebagai penyebab
kematian tertinggi akibat satu jenis agen infeksius.
Dampak acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) pada anak terus
meningkat, dan saat ini menjadi penyebab pertama kematian anak di Afrika, dan
peringkat keempat penyebab kematian anak di seluruh dunia. Saat ini World
Health Organization (WHO) memperkirakan 2,7 juta anak di dunia telah
meninggal karena AIDS.
AIDS pada anak pertama kali dilaporkan oleh Oleske, Rubbinstein dan
Amman pada tahun 1983 di Amerika serikat. Sejak itu laporan jumlah AIDS pada
anak di Amerika makin lama makin meningkat. Pada bulan Desember di Amerika
dilaporkan 1995 maupun pada anak yang berumur kurang dari 13 tahun menderita
HIV dan pada bulan Maret 1993 terdapat 4480 kasus. Jumlah ini merupakan 1,5
% dan seluruh jumlah kasus AIDS yang dilaporkan di Amerika. Di Eropa sampai
tahun 1988 terdapat 356 anak dengan AIDS. Kasus infeksi HIV terbanyak pada
orang dewasa maupun pada anak – anak tertinggi didunia adalah di Afrika.
Sejak dimulainya epidemi HIV/ AIDS, telah mematikan lebih dan 25 juta
orang, lebih dan 14 juta anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya
karena AIDS. Setiap tahun juga diperkirakan 3 juta orang meninggal karena
AIDS, 500.000 diantaranya adalah anak usia dibawah 15 tahun. Setiap tahun pula
terjadi infeksi baru pada 5 juta orang terutama di negara terbelakang atau
berkembang, dengan angka transmisi sebesar ini maka dari 37,8 juta orang
pengidap infeksi HIV/AIDS pada tahun 2005, terdapat 2,1 juta anak-anak
dibawah 15 tahun. (WHO 1999)

1
Kasus pertama AIDS di Indonesia ditemukan pada tahun 1987 di Bali yaitu
seorang warga negara Belanda. Sebenarnya sebelum itu telah ditemukan kasus
pada bulan Desember 1985 yang secara klinis sangat sesuai dengan diagnosis
AIDS dan hasil tes Elisa 3 (tiga) kali diulang, menyatakan positif, namun hasil
Western Blot yang dilakukan di Amerika Serikat ialah negatif sehingga tidak
dilaporkan sebagai kasus AIDS. Penyebaran HIV di Indonesia meningkat setelah
tahun 1995. Berdasarkan pelaporan kasus HIV/AIDS dari tahun 1987 hingga 31
Desember 2008 terjadi peningkatan signifikan. Setidaknya, 2007 hingga akhir
Desember 2008 tercatat penambahan penderita AIDS sebanyak 2.000 orang.
Angka ini jauh lebih besar dibanding tahun 2005 ke 2006 dan 2006 ke 2007 yang
hanya ratusan. Sedangkan dari keseluruhan penderita, pada akhir 2008, AIDS
sudah merenggut korban meninggal sebanyak 3.362 (20,87 persen), sedangkan
mereka yang hidup adalah 12.748 (79,13 persen) orang. Untuk proporsi
berdasarkan jenis kelamin hingga kini masih banyak diderita oleh kaum laki-laki
yaitu 74,9 persen, dibanding perempuan sebanyak 24,6 persen. Fakta baru tahun
2002 menunjukkan bahwa penularan infeksi HIV di Indonesia telah meluas ke
rumah tangga, sejumlah 251 orang diantara penderita HIV/AIDS di atas adalah
anak-anak dan remaja, dan transmisi perinatal (dari ibu kepada anak) terjadi pada
71 kasus.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah Konsep HIV/AIDS Pada Anak?
2. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan HIV/AIDS?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan mempelajari tentang AIDS
2. Mengetahui Asuhan Keperawatan yang bisa diberikan pada anak yang
menderita AIDS.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang artinya
adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia, sehingga system
kekebalan tubuh manusia dapat menurun tajam bahkan hingga tidak berfungsi
sama sekali.
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome yang
berarti sekumpulan gejala dan penyakit infeksi yang timbul karena menurunnya
atau rusaknya system kekebalan tubuh seseorang.
Rata-rata perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS adalah 2 – 10 tahun. Dan
rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun
demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang bervariasi. Faktor
yang mempengaruhinya adalah daya tahan tubuh untuk melawan HIV (seperti
fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.
AIDS atauAcquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan
gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh vurus yang
disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome
Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.
a. Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan
b. Immune : Sistem kekebalan tubuh
c. Deficiency : Kekurangan
d. Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit
Kerusakan progrwsif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA (
orang dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam
penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan
akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal. AIDS adalah
sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan
tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir ).
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus
yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane

3
C. Smetzler dan Brenda G.Bare ) AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari
infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala
yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi
yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang
terjadi ( Center for Disease Control and Prevention )

2.2 Etiologi
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency
virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan
disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang
diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen
dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV.
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak
ada gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu
likes illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak
ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat
malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi
mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama
kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada
berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria
maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
a. Lelaki homoseksual atau biseks.
b. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
c. Orang yang ketagian obat intravena
d. Partner seks dari penderita AIDS
e. Penerima darah atau produk darah (transfusi).

4
Resiko HIV utama pada anak-anak berdasarkan Depkes (1997) yaitu:
a. Air susu ibu yang merupakan sarana transmisi
b. Pemakaian obat oleh ibunya
c. Pasangan sexual dari ibunya yang memakai obat intravena
d. Daerah asal ibunya yang tingkat infeksi HIV nya tinggi

2.3 Phatofisiologi
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel
yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi
dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus (
HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan
bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi
dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV )
menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian
sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha
mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah
secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan
menurunnya fungsi sel T penolong.
Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat
tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama
waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah
sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster
dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya
penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi
yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh
dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker
atau dimensia AIDS.

5
2.4 Manifestasi Klinis
Masa antara terinfeksi HIV dan timbul gejala-gejala penyakit adalah 6 bulan-
10 tahun. Rata-rata masa inkubasi 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan/5tahun
pada orang dewasa. Tanda-tanda yang di temui pada penderita AIDS antara lain:
1. Gejala yang muncul setelah 2 sampai 6 minggu sesudah virus masuk ke
dalam tubuh: sindrom mononukleosida yaitu demam dengan suhu badan
38 C sampai 40 C dengan pembesaran kelenjar getah benih di leher dan di
ketiak, disertai dengan timbulnya bercak kemerahan pada kulit.
2. Gejala dan tanda yang muncul setelah 6 bulan sampai 5 tahun setelah
infeksi, dapat muncul gejala-gejala kronis : sindrom limfodenopati kronis
yaitu pembesaran getah bening yang terus membesar lebih luas misalnya
di leher, ketiak dan lipat paha. Kemudian sering keluar keringat malam
tanpa penyebab yang jelas. Selanjutnya timbul rasa lemas, penurunan
berat badan sampai kurang 5 kg setiap bulan, batuk kering, diare, bercak-
bercak di kulit, timbul tukak (ulceration), perdarahan, sesak nafas,
kelumpuhan, gangguan penglihatan, kejiwaan terganggu. Gejala ini di
indikasi adanya kerusakan sistem kekebalan tubuh.
3. Pada tahap akhir, orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya rusak
akan menderita AIDS. Pada tahap ini penderita sering di serang penyakit
berbahaya seperti kelainan otak, meningitis, kanker kulit, luka bertukak,
infeksi yang menyebar, tuberkulosis paru (TBC), diare kronik, candidiasis
mulut dan pnemonia.
Menurut Cecily L Betz, anak-anak dengan infeksi HIV yang didapat pada
masa perinatal tampak normal pada saat lahir dan mulai timbul gejala pada 2
tahun pertama kehidupan. Manifestasi klinisnya antara lain :
1. Berat badan lahir rendah
2. Gagal tumbuh
3. Limfadenopati umum
4. Hepatosplenomegali
5. Sinusitis
6. Infeksi saluran pernapasan atas berulang
7. Parotitis

6
8. Diare kronik atau kambuhan
9. Infeksi bakteri dan virus kambuhan
10. Infeksi virus Epstein-Barr persisten
11. Sariawan orofarings
12. Trombositopenia
13. Infeksi bakteri seperti meningitis
14. Pneumonia interstisial kronik.
Lima puluh persen anak-anak dengan infeksi HIV terkena sarafnya yang
memanifestasikan dirinya sebagai ensefalopati progresif, perkembangan yang
terhambat, atau hilangnya perkembangan motoris.

2.5 Komlikasi
1. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia
oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
2. Neurologik
a. Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human
Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan
kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan
isolasi social.
b. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit
kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
c. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan
maranik endokarditis.
d. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human
Immunodeficienci Virus (HIV)
3. Gastrointestinal
a. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma,
dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia,
demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.

7
b. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal,
alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam
atritis.
c. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal
yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri
rectal, gatal-gatal dan siare.
4. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas
pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.
5. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis
karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek
nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
6. Sensorik
a. Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
b. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan
pendengaran dengan efek nyeri.

2.6 Penatalaksanaan
Asuhan ibu: ikuti panduan Center for Disease Control (CDC) untuk
profilaksis antiretrovirus gestasional. Belum ada penyembuhan untuk AIDS,
jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa
dilakukan dengan :
a. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan
pasangan yang tidak terinfeksi.
b. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks
terakhir yang tidak terlindungi.
c. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas
status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.
d. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.

8
e. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terpinya
yaitu :
a) Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi
opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang
aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab
sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
b) Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif
terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik
traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya
<>3. Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500
mm3
c) Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan
menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada
prosesnya. Obat-obat ini adalah :
a. Didanosine
b. Ribavirin
c. Diedoxycytidine
d. Recombinant CD 4 dapat larut
d) Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti
interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan
keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang
pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
e) Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-
makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan
yang mengganggu fungsi imun.

9
f) Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan
mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
1) ELISA
2) Western blot
3) P24 antigen test
4) Kultur HIV
2. Tes untuk deteksi gangguan system imun :
1) Hematokrit.
2) LED
3) CD4 limfosit
4) Rasio CD4/CD limfosit
5) Serum mikroglobulin B2
6) Hemoglobulin

10
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIV/AIDS

3.1 Pengkajian
Pada pengkajian anak HIV positif atau AIDS pada anak rata-rata dimasa
perinatal sekitar usia 9 –17 tahun.
1. Keluhan utama dapat berupa :
a. Demam dan diare yang berkepanjangan
b. Tachipnae
c. Batuk
d. Sesak nafas
e. Hipoksia
2. Kemudian diikuti dengan adanya perubahan :
a. Berat badan dan tinggi badan yang tidak naik
b. Diare lebih dan satu bulan
c. Demam lebih dan satu bulan
d. Mulut dan faring dijumpai bercak putih
e. Limfadenopati yang menyeluruh
f. Infeksi yang berulang (otitis media, faringitis )
g. Batuk yang menetap ( > 1 bulan )
h. Dermatitis yang mnyeluruh
3. Pada riwayat penyakit dahulu adanya riwayat transfusi darah ( dari orang
yang terinfeksi HIV / AIDS ). Pada ibu atau hubungan seksual. Kemudian
pada riwayat penyakit keluarga dapat dimungkinkan :
1) Adanya orang tua yang terinfeksi HIV / AIDS atau penyalahgunaan
obat
2) Adanya riwayat ibu selama hamil terinfeksi HIV ( 50 % TERTULAR )
3) Adanya penularan terjadi pada minggu ke 9 hingga minggu ke 20 dari
kehamilan
4) Adanya penularan pada proses melahirkan
5) Terjadinya kontak darah dan bayi.
6) Adanya penularan setelah lahir dapat terjadi melalui ASI

11
7) Adanya kejanggalan pertumbuhan (failure to thrife )
4. Pada pengkajian faktor resiko anak dan bayi tertular HIV diantaranya :
1) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual
2) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan yang berganti-ganti
3) Bayi yang lahir dan ibu dengan penyalahgunaan obat melalui vena
4) Bayi atau anak yang mendapat tranfusi darah atau produk darah yang
berulang
5) Bayi atau anak yang terpapar dengan alat suntik atau tusuk bekas yang
tidak steril
6) Anak remaja yang berhubungan seksual yang berganti-ganti pasangan
5. Gambaran klinis pada anak nonspesifik seperti :
1) Gagal tumbuh
2) Berat badan menurun
3) Anemia
4) Panas berulang
5) Limpadenopati
6) Hepatosplenomegali
7) Adanya infeksi oportunitis yang merupakan infeksi oleh kuman,
parasit, jamur atau protozoa yang menurunkan fungsi immun pada
immunitas selular seperti adanya kandidiasis pada mulut yang dapat
menyebar ke esofagus, adanya keradangan paru, encelofati dll

3.2 Pemeriksaan Fisik


1. Pemeriksaan Mata
a) Adanya cotton wool spot ( bercak katun wol ) pada retina
b) Retinitis sitomegalovirus
c) Khoroiditis toksoplasma
d) Perivaskulitis pada retina
e) Infeksi pada tepi kelopak mata.
f) Mata merah, perih, gatal, berair, banyak sekret, serta berkerak
g) Lesi pada retina dengan gambaran bercak / eksudat kekuningan,
tunggal / multiple

12
2. Pemeriksaan Mulut
a) Adanya stomatitis gangrenosa
b) Peridontitis
c) Sarkoma kaposi pada mulut dimulai sebagai bercak merah datar
kemudian menjadi biru dan sering pada platum (Bates Barbara 1998 )
3. Pemeriksaan Telinga
a) Adanya otitis media
b) Adanya nyeri
c) Kehilangan pendengaran
4. Sistem pernafasan
a) Adanya batuk yang lama dengan atau tanpa sputum
b) Sesak nafas
c) Tachipnea
d) Hipoksia
e) Nyeri dada
f) Nafas pendek waktu istirahat
g) Gagal nafas
5. Pemeriksaan Sistem Pencernaan
a) Berat badan menurun
b) Anoreksia
c) Nyeri pada saat menelan
d) Kesulitan menelan
e) Bercak putih kekuningan pada mukosa mulut
f) Faringitis
g) Kandidiasis esophagus
h) Kandidiasis mulut
i) Selaput lendir kering
j) Hepatomegali
k) Mual dan muntah
l) Kolitis akibat dan diare kronis
m) Pembesaran limfa

13
6. Pemeriksaan Sistem Kardiovaskular
a) Suhu tubuh meningkat
b) Nadi cepat, tekanan darah meningkat
c) Gejala gagal jantung kongestiv sekuder akibat kardiomiopatikarena
HIV
7. Pemeriksaan Sistem Integumen
a) Adanya varicela ( lesi yang sangat luas vesikel yang besar )
b) Haemorargie
c) Herpes zoster
d) Nyeri panas serta malaise
e) Aczematoid gingrenosum
f) Skabies
8. Pemeriksaan sistem perkemihan
a) Didapatkan air seni yang berkurang
b) Annuria
c) Proteinuria
d) Adanya pembesaran kelenjar parotis
e) Limfadenopati
9. Pemeriksaan Sistem Neurologi
a) Adanya sakit kepala
b) Somnolen
c) Sukar berkonsentrasi
d) Perubahan perilaku
e) Nyeri otot
f) Kejang-kejang
g) Encelopati
h) Gangguan psikomotor
i) Penururnan kesadaran
j) Delirium
k) Meningitis
l) Keterlambatan perkembangan

14
10. Pemeriksaan Sistem Muskuluskeletal
a) Nyeri persendian
b) Letih, gangguan gerak
c) Nyeri otot ( Bates Barbara 1998 )

3.3 Pemeriksaan Laboratorium


Kemudian pada pemeriksaan diagnostik atau laboratorium didapatkan
adanya anemia, leukositopenia, trombositopenia, jumlah sel T4 menurun bila
T4 dibawah 200, fase AIDS normal 1000-2000 permikrositer., tes anti body
anti-HIV ( tes Ellisa ) menunjukan terinfeksi HIV atau tidak, atau dengan
menguji antibodi anti HIV. Tes ini meliputi tes Elisa, Lateks,
Agglutination,dan western blot. Penilaian elisa dan latex menunjukan orang
terinfeksi HIV atau tidak, apabila dikatakan positif harus dibuktikan dengan
tes western blot.
Tes lain adalah dengan menguji antigen HIV yaitu tes antigen P24 (
dengan polymerase chain reaction - PCR ). Kulit dideteksi dengan tes
antibody ( biasanya digunakan pada bayi lahir dengan ibu terjangkit HIV ).

3.4 Diagnosa Keperawatan


Diagnosis atau masalah keperawatan yang terjadi pada anak dengan HIV /
AIDS antara lain :
1) Resiko infeksi
2) Kurang nutrisi
3) Kurangnya volume cairan
4) Gangguan intregitas kulit
5) Perubahan atau gangguan membran mukosa
6) Ketidakefektifan koping keluarga
7) Kurangnya pengetahuan keluarga

15
3.5 Rencana Tindakan Keperawatan
1. Resiko infeksi
Resiko terjadinya infeksi pada anak dengan HIV /AIDS berhubungan
dengan adanya penurunan daya tahan tubuh sekunder AIDS.
a. Tujuan : Meminimalkan resiko terhadap infeksi pada anak
b. Rencana tindakan keperawatan
1) Kaji perubahan tanda-tanda infeksi ( demam, peningkatan nadi,
peningkatan kecepatan nafas, kelemahan tubuh atau letargi )
2) Kaji faktor yang memperburuk terjadinya infeksi seperti usia, status
nutrisi, penyakit kronis lain
3) Monitor tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali, tanda vital merupakan
indikator terjadinya infeksi
4) Monitor sel darah putih dan hitung jenis setiap hari untuk monitor
terjadinya neutropenia
5) Ajarkan dan jelaskan pada keluarga dan pengunjung tentang
pencegahan secara umum ( universal ), untuk menyiapkan keluarga
dan pengunjung memutus rantai penularan
6) Instruksikan ke semua pengunjung dan keluarga untuk cuci tangan
setiap sebelum dan sesudah memasuki ruangan pasien
7) Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian antibiotik, anyiviral,
antijamur,
8) Lindungi individu dan resiko infeksi dengan universal precaution
2. Kurang Nutrisi ( kurang dari kebutuhan )
Nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, diare,
nyeri
a. Tujuan : Kebutuhan nutrisi dan pasien terpenuhi
b. Rencana tindakan keperawatan :
1) Kaji status perubahan nutrisi dengan menimbang berat badan setiap
hari
2) Monitor asupan dan keluaran setiap 8 jam sekali dan turgor kulit
3) Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
4) Rencanakan makanan enternal dan parenteral

16
3. Kurangnya Volume Cairan
Kurangnya volume cairan tubuh pada anak berhubungan dengan adanya
infeksi oportunitis saluran pencernaan ( diare )
a. Tujuan : Volume cairan tubuh dapat terpenuhi
b. Kriteria hasil :
a) Asupan dan keluaran seimbang
b) Kadar elektrolit tubuh dalam batas normal
c) Nadi perifer teraba
d) Penekanan darah perifer kembali dalam waktu kurang dan 3 detik
e) Keluaran urin minimal 1-3 cc/kg BB per jam
c. Rencana tindakan keperawatan
1) Berikan cairan sesuai indikasi dan toleransi
2) Ukur masukan dan keluaran termasuk urin dan tinja
3) Monitor kadar elektrolit dalam tubuh
4) Kaji tanda vital turgor kulit, mukosa membran dan ubun-ubun tiap 4
jam
5) Monitor urin tiap 6-8 jam sesuai dengan kebutuhan
6) Kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai kebutuhan
4. Gangguan intregitas kulit
Gangguan intregitas kulit berhubungan dengan diare yang berkelanjutan (
kontak yang berulang dengan feces yang bersifat asam )
a. Tujuan : Tidak terjadi gangguan intregitas kulit
b. Kriteria hasil : Tidak ada tanda – tanda kulit terganggu serta kulit utuh,
bersih
c. Rencana tindakan keperawatan :
1) Ganti popok dan celana anak apabila basah
2) Bersihkan pantat dan keringkan setiap kali buang air besar
3) Gunakan salep atau lotion
5. Perubahan atau Gangguan Mukosa Membran Mulut
Gangguan mukosa membran mulut berhubungan dengan lesi mukosa
membran dampak dari jamur dan infeksi herpes
a. Tujuan : Tidak terjadi gangguan mukosa mulut

17
b. Kriteria hasil:
a) Mukosa mulut lembab
b) Tidak ada lesi
c) Kebersihan mulut cukup
d) Anak dan orang tua mampu mendemonstrasikan tekhnik kebersihan
mulut
c. Rencana Tindakan Keperawatan
1) Kaji membran mukosa
2) Berikan pengobatan sesuai dengan saran dan dokter
3) Lakukan perawatan mulut tiap 2 jam
4) Gunakan sikat gigi yang lembut
5) Oleskan garam fisiologis tiap 4 jam dan sesudah membersihkan
mulut
6) Kolaborasi pemberian obat profilaksis ( ketokonazol, flukonazol )
selama pengobatan
7) Gunakan antiseptik oral
8) Check up gigi secara teratur
6. Ketidakefektifan Koping Keluarga
Ketidakefektifan koping keluarga berhubungan dengan penyakit menahun
dan progresif
a. Tujuan : Koping keluarga efektif
b. Kriteria hasil :
a) Orang tua mapu mengekspresikan secara verbal tentang rasa takut
b) Orang tua mampu mengambil keputusan yang tepat
c) Orang tua tau cara memecahkan masalah serta menganalisis
kekuatan diri dan dukungan sosial
c. Rencana tindakan keperawatan
1) Konseling keluarga
2) Observasi ekspresi orang tua tentang rasa takut, bersalah, dan
kehilangan
3) Diskusikan dengan orang tua tentang kekuatan diri dan mekanisme
koping dengan mengidentifikasi dukungan sosial

18
4) Libatkan orang tua dalam perawatan anak
5) Monitor interaksi orang tua dan anak
6) Monitor tingkah laku orang
7. Kurang pengetahuan
Kurangnya pengetahuan pada keluarga berhubungan dengan perawatan
anak yang kompleks dirumah
a. Tujuan: Keluarga dapat mengungkapkan atau menjelaskan proses
penyakit, penularan, pencegahan dan perawatan
b. Kriteria hasil :
a) Orang tua mampu menjelaskan secara global tentang diagnosism,
proses penyakit dan kebutuhan home care
b) Orang tua memahami daftar pengobatan, efek samping, dan dosis
obat
c) Orang tua memahami tentang kebutuhan perawatan yang khusus
bagi anak dan mengetahui bagaimana HIV menular
c. Rencana Tindakan keperawatan
1) Kaji pemahaman tentang diagnosis, proses penyakit dan kebutuhan
home care
2) Jelaskan daftar pengobatan, efek samping obat dan dosis
3) Jelaskan dan demonstrasikan cara perawatan khusus
4) Jelaskan cara penularan HIV dan bagaimana cara pencegahannya
5) Anjurkan cara hidup normal pada anak.
3.6 Implementasi
Implementasi dapat dilaksanakan sesuai dengan intervensi setiap diagnosa
yang diangkat dengan memperhatikan kemampuan pasien dalam mentolerir
tindakan yang akan dilakukan.

19
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesempulan
Bayi dan balita dapat tertular HIV selama kehamilan, waktu melahirkan
dan saat menyusui, jika ibunya terinfeksi HIV. Jika tertular pada awal
kehamilan, kemungkinan anak akan melanjut cepat ke AIDS, dan akan
meninggal dalam dua tahun pertama kehidupannya, bila tidak diberi ART.
Namun pada sebagian besar anak dengan HIV, perkembangan penyakit akan
lebih pelan, dan ada harapan mereka dapat tahan hidup tanpa ART selama 8-9
tahun atau lebih.
Pengobatan HIV/AIDS yang ada saat ini dapat dikatakan belum baik,
karena hanya bersifat mensupres virus dan tidak dapat mengeradikasi virus,
sehingga petugas kesehatan baiknya lebih mementingkan upaya pencegahan
daripada pengobatan.
Cara paling efektiv dan efisien untuk menanggulangi infeksi HIV pada
anak secara universal adalah dengan mengurangi penularan dan ibu ke
anaknya (mother-to-child-transmision (MTCT )). Upaya pencegahan
transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan melalui 4 strategi, yaitu :
1. Mencegah penularan HIV pada wanita usia subur
2. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita HIV
3. Mencegah penularan HIV dan ibu HIV hamil ke anak yang akan
dilahirkannya dan memberikan dukungan.
4. Layanan dan perawatan berkesinambungan bagi pengidap HIV
4.2 Saran
Sehat merupakan sebuah keadaan yang sangat berharga, sebab dengan
kondisi fisik yang sehat seseorang mampu menjalankan aktifitas sehari-
harinya tanpa mengalami hambatan. Maka menjaga kesehatan seluruh organ
yang berada didalam tubuh menjadi sangat penting mengingat betapa
berpengaruhnya sistem organ tersebut terhadap kelangsungan hidup serta
aktifitas seseorang.

20