Anda di halaman 1dari 17

PERMASALAHAN BEBAN KERJA MENTAL YANG DIHADAPI

TEKNISI PESAWAT C-130 HERCULES SAAT MELAKSANAKAN


PERBAIKAN PESAWAT

Lettu Kal Jatmiko

1.1 Latar Belakang Masalah MK-53 Magetan dunia


Jatim
21 Hawk Lanud 2 awak
Data kecelakaan dalam bidang transportasi udara Novemb 109/209 Supadio meninggal
menunjukkan angka yang meningkat berdasarkan er 2000
data yang diperoleh dari Dinas Perhubungan per 20 C-130 Lhokseuma Seluruh
Desember 2007. Tingkat kecelakaan per 100.000 Desembe Hercules we Aceh penumpang
jam terbang yang terjadi pada tahun 2003 sebesar r 2001 selamat
5% meningkat menjadi 8,6 % pada tahun 2005. 10 A4 Sky Lanud Seluruh
Setelah turun 0,9 % pada tahun 2006 tingkat Februari Hawk Hassanudin awak
kecelakaan ini meningkat menjadi 4,5 % pada 2003 Makassar pesawat
tahun 2007. selamat
1 F-16 Lanud Seluruh
Desembe Fighting Hassanudin awak
r 2004 Falcon Mks selamat
Pulat (1992) menyebutkan bahwa human error 23 Helicopt Perbukitan 14
merupakan salah satu penyebab dalam kecelakan Desembe er Super di kawasan penumpang
pesawat yang terjadi. Human error dapat terjadi r 2004 Puma Wonosobo meninggal
karena beberapa hal, yaitu kebiasaan yang buruk, dunia
kapasitas manusia melebihi kebutuhan kerja, stres 8 Pesawat Sleman 1 awak
yang berlebihan, desain yang tidak memperhatikan Februari Bravo Yogyakarta meninggal
ergonomi, dan kurangnya pelatihan kerja. 2005 2030 dunia
4 Mei Pesawat Lanud Adi Tidak ada
2005 AS-202 Sumarmo korban jiwa
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara Bravo Solo
20 Juli OV 10 Bukit 2 orang
merupakan instansi yang menangani masalah
2005 Bronco Limas meninggal
transportasi udara. Sejumlah kecelakaan juga
Kecamatan dunia
melibatkan armada dari instansi ini. Berdasarkan
Jabung
laporan Departemen Pertahanan Republik
Malang
Indonesia (2006), data kecelakaan pesawat TNI AU
dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005
Tabel 1.1 Tabel Data Kecelakaan Pesawat
mencapai 10 kasus, dengan korban jiwa berjumlah
26 orang. Data tersebut ditampilkan pada tabel 1.1. Milik TNI AU Tahun 2000-2005 (Lanjutan)

Tanggal Jenis Lokasi Korban


Pesawa Kecelakaan
t
Tabel 1.1 Data Kecelakaan Pesawat Milik TNI
21 Juli CN 235 Lanud 4 orang
AU Tahun 2000-2005
2005 Alfa Malikul meninggal
Tanggal Jenis Lokasi Korban 2301 Saleh dunia
Sumber: Dephan, 2006
Pesawat Kecelakaan
28 Maret Jet Lanud 4 awak
2000 Hawk Iswahyudi meninggal
1
Buku petunjuk pelaksana TNI AU (2007) diperbaiki sudah siap terbang dan dalam keadaan
menyebutkan bahwa sasaran terakhir keselamatan serviceable (dapat digunakan). Waktu pelaksanaan
terbang dan kerja adalah terpeliharanya dan kerja lembur adalah selama 5 sampai dengan 6 jam
meningkatnya potensi tempur TNI AU melalui kerja. Apabila terjadi kerusakan pesawat di salah
pembinaan terhadap unsur-unsur personel, materiil, satu satuan kerja di atas maka jam kerja lembur
media, misi dan manajemen. Sehubungan dengan dilaksanakan oleh teknisi-teknisi yang ada dalam
tingkat keselamatan penerbangan diperlukan bidangnya tersebut.
kesamaan pengertian dan tindakan agar tugas-tugas
operasi, pemeliharaan, dan pembinaan dapat
berjalan dengan selamat, aman, lancar dan
Sathar 15 dilengkapi dengan ruangan-ruangan yang
mencapai hasil optimal. Dengan kata lain bahwa
digunakan para teknisi untuk mengurusi segala
pemeliharaan (maintenance) pesawat memegang
urusan yang berhubungan dengan administrasi dan
peranan penting dalam upaya pencegahan
dilengkapi juga dengan gudang tempat menyimpan
kecelakaan penerbangan dan kerja.
spare part pesawat serta memiliki termometer
ruangan. Sathar 15 memiliki teknisi berjumlah 93
orang yang terdiri dari 20 kepala teknisi dan 73
Disebutkan pula dalam buku petunjuk pelaksana anggota teknisi, teknisi-teknisi tersebut juga dibagi
TNI AU (2007) bahwa pemeliharaan pesawat ke dalam masing-masing tim sesuai dengan satuan
merupakan salah satu kontribusi yang sangat besar kerja yang telah disebutkan di atas.
dalam upaya mencegah kecelakaan terbang dan
kerja. Oleh karena itu pemeliharaan pesawat
senantiasa dilakukan oleh TNI AU guna
Berdasarkan jadwal pemeliharaan pesawat Sathar
mengurangi kecelakaan terbang dan kerja.
15 akitifitas pemeliharaan di Sathar ini
diperkirakan mempunyai tekanan kerja yang tinggi.
Hal ini disebabkan karena adanya batas waktu
Satuan Pemeliharaan (Sathar) 15 Depo (deadline) dalam penyelesaian tugas. Kondisi kerja
Pemeliharaan (Depohar) 10 Pangkalan Udara TNI yang dibatasi oleh waktu ini menyebabkan beban
AU Husein Saatranegara Bandung merupakan kerja personel di Sathar 15 ikut meningkat Wickens
salah satu tempat yang menangani pemeliharaan et al. (2004). Batas waktu itu sendiri berubah-ubah
pesawat TNI AU, termasuk perbaikan tingkat berat disesuaikan dengan tingkat kegunaan pesawat TNI
pesawat jenis C-130 Hercules. Sathar 15 AU. Hal ini yang menyebabkan deadline waktu
mempunyai jumlah personel sebanyak 104 orang, penyelesaian perbaikan pesawat di Sathar 15 dapat
yang dibagi dalam 8 satuan kerja (satker), dan berubah setiap saat. Terjadinya perubahan batas
hanggar berkapasitas 4 unit pesawat C-130 waktu perbaikan pesawat dapat menyebabkan
Hercules. Pemeliharaan pesawat di Sathar 15 berubahnya jadwal penyelesaian. Perubahan itu
dibagi ke dalam beberapa satuan kerja, antara lain dapat terjadi selama 1 minggu atau 2 minggu
structure repair, flight control, fuel system, ground sebelum deadline yang telah ditentukan. Para
support equipment, exterior, interior dan teknisi diperkirakan akan menerima beban kerja
pengecatan pesawat. Pemeliharaan pesawat di yang cenderung meningkat ketika deadline
Sathar ini dilaksanakan selama 8 jam kerja, dimulai perbaikan pesawat di Sathar 15 berubah. Pulat
dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 15.00, (1992) menyebutkan bahwa salah satu alasan
sedangkan waktu istirahat berlangsung pada pukul terjadinya human error adalah kondisi dimana
12.00 sampai dengan 13.00. Pelaksanaan jam kerja kapabilitas manusia atau pekerja kurang dari
tambahan dilakukan jika teknisi tidak bisa kebutuhan kerja (job requirement). Dengan kata
menyelesaikan tepat pada waktunya. Jam kerja lain jika beban kerja yang dialami seseorang tinggi
tambahan juga dilaksanakan apabila waktu yang maka resiko terjadinya human error akan
diberikan untuk pengerjaan pesawat memiliki meningkat.
tenggat waktu yang mendesak, misalnya diberikan
waktu pemeliharaan pesawat selama 4 hari sampai
dengan seminggu. Dalam jangka waktu tersebut
Berdasarkan Bridger (1995) dalam Arca (2007)
para teknisi harus dapat menjamin pesawat yang
bahwa dalam tugas-tugas yang bersifat
2
pengendalian (control task), aspek kognitif akan 2. Menentukan satuan kerja yang
lebih mendominasi daripada aspek neuromuscular. menimbulkan beban kerja mental
Dengan demikian dapat diartikan bahwa pada tinggi (sesuai dengan metode NASA-
pengendalian sistem pesawat terbang, aspek TLX) bagi seorang teknisi pesawat C-
kognitifnya akan cukup mendominasi jika 130 Hercules.
dibandingkan terhadap aspek neuromuscular-nya, 3. Membandingkan perbedaan
oleh karena itu penyelidikan terhadap beban kerja beban kerja mental antara kepala
mental akan lebih mendesak dari pada studi beban perwira teknisi dan anggota teknisi.
kerja fisik. Dengan mengetahui beban kerja mental 4. Memperbaiki sistem kerja pada
tersebut maka diharapkan dapat dihasilkan suatu Sathar 15 Depohar10.
rancangan sistem kerja yang memberikan beban
kerja mental yang optimal sehingga aktifitas 1.4 Manfaat Penelitian
pemeliharaan dapat berjalan dengan baik sehingga
resiko kecelakaan pada pesawat terbang dapat Manfaat penelitian ini adalah:
diturunkan. Pelaksanaan pengukuran beban kerja
mental ini menggunakan metode NASA-TLX. 1. Memberikan masukan terhadap
NASA-TLX mempunyai kelebihan memberikan evaluasi perbaikan pesawat C-130
informasi tambahan mengenai tugas atau pekerjaan Hercules di Sathar 15 Depohar 10
dibandingkan dengan SWAT yang terdiri dari skala (segi beban kerja mental teknisi).
sembilan faktor dan NASA-TLX rating dapat 2. Para teknisi pesawat di TNI AU
diperoleh dengan cepat sehingga praktis, dapat mengetahui faktor psikologis yang
diterapkan di lingkungan operasional serta analisa paling mempengaruhi beban kerja
data lebih mudah dibandingkan dengan SWAT mental teknisi pesawat C-130
yang memerlukan program konjoin ( Hancock dan Hercules (mental, fisik, waktu,
Meshkati, 1988). performansi, usaha,frustasi)
3. TNI AU mengetahui permasalahan
1.2 Perumusan Permasalahan
beban kerja mental yang dihadapi
teknisi pesawat C-130 Hercules saat
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada,
melaksanakan perbaikan pesawat.
penelitian ini terfokus pada permasalahan beban
kerja mental teknisi pesawat C-130 Hercules Sathar
4. Hasil penelitian ini dapat menjadi
15 Depohar 10, sehingga dapat dirumuskan referensi dan masukan bagi para
permasalahan yang ada adalah sebagai berikut: teknisi di Sathar-Sathar lainnya di
TNI AU.
1. Apakah terdapat beban kerja
mental yang berlebih bagi teknisi 5. Hasil penelitian ini dapat mengurangi
pesawat C-130 hercules Sathar 15 kecelakaan kerja yang disebabkan
Depohar 10 saat melakukan perbaikan beban kerja mental.
pesawat?
2. Ketika ada beban kerja mental
yang berlebihan, maka pada satuan 1.5 Pembatasan Masalah
kerja apakah hal itu terjadi?
3. Apakah terdapat perbedaan
beban kerja mental antara kepala Batasan masalah dari penelitian ini adalah:
teknisi dengan para anggota teknisi?
1. Perbaikan pesawat yang dilakukan
1.3 Tujuan penelitian sesuai buku petunjuk Technical Order
(TO) di Sathar 15 tentang perbaikan
Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut: pesawat C-130.
1. Mengidentifikasi beban kerja mental 2. Penelitian ini dilakukan terhadap
teknisi pesawat C-130 Sathar 15 teknisi pesawat Sathar 15 Depohar 10
Depohar10 dengan metode NASA- Lanud Husein Sastranegara Bandung.
TLX.
3
3. Metode yang digunakan hanya Pada bab ini dijelaskan tentang kesimpulan dari
dengan NASA-TLX. hasil penelitian ini dan saran-saran yang ditujukan
5. Teknisi Sathar 15 telah pada pihak yang berkaitan dengan permasalahan
mempunyai pengalaman kerja dalam ini.
bidang yang telah dikerjakannya pada
saat ini minimal satu tahun.
6. Teknisi Sathar 15 kondisi fisik
dan mental dalam keadaan sehat
(seperti: tidak sakit, dinyatakan oleh
dokter bahwa pekerja atau teknisi
dalam keadaan sehat ).

1.6 Sistematika Penulisan


BAB II
Tugas akhir ini disusun secara sistematis ke dalam
beberapa bab, yaitu: DASAR TEORI

BAB I PENDAHULUAN 2.1 ERGONOMI


Pada bab ini dijelaskan tentang latar belakang
masalah yang diteliti, perumusan masalah, tujuan Ergonomi berasal dari dua kata yaitu Ergo (kerja)
dan manfaat penelitian serta batasan masalah yang dan Nomos (aturan) Sutalaksana et al. (2006).
digunakan serta sistematika penulisan. Menurut Sutalaksana et al. (2006) ergonomi
didefinisikan sebagai cabang ilmu yang sistematis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA untuk memanfaatkan informasi-informasi
Pada bab ini dijelaskan tentang teori yang berkaitan mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan
dengan ergonomi, beban kerja (workload), baik manusia dalam merancang suatu system kerja
beban kerja fisik dan beban kerja mental. Selain itu sehingga orang dapat hidup dan bekerja dalam
dibahas pula konsep dan metode NASA TLX yang sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang
digunakan dalam pengolahan data. diinginkan melalui pekerjaan itu, dengan efektif,
aman, sehat, nyaman, dan efisien. Ergonomi juga
BAB III METODOLOGI PENELITIAN mempunyai arti sebagai studi yang mempelajari
Bagian ini berisi langkah-langkah yang ditempuh interaksi antara manusia dan objek yang dia
dalam melakukan penelitian yang dilakukan serta gunakan serta lingkungan yang mereka gunakan
metode pengolahan data dan metode analisis yang untuk melaksanakan kegiatannya sehari-hari (Pulat,
digunakan, serta alasan pemilihannya. 1992).

Perkembangan ergonomi sendiri dimulai dari


BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATA sekitar tahun 1880-an pada saat Taylor sebagai
Pada bab ini berisi kumpulan data-data yang bapak ergonomi dunia melakukan studi tentang
berhasil didapatkan baik itu melalui wawancara waktu, gerakan dan perancangan alat militer yang
langsung maupun melalui kuisioner. Kemudian digunakan untuk berbagai operasi militer. Menurut
data-data tersebut diolah dengan menggunakan Sutalaksana et al. (2006) ergonomi diperlukan
NASA-TLX . untuk dukungan dari berbagai disiplin ilmu antara
lain psikologi, antropologi, faal kerja atau fisiologi,
BAB V ANALISA DAN INTERPRETASI DATA biologi, sosiologi, perencanaan kerja, fisika dan
Pada bab ini diuraikan analisis dari hasil lain-lain. Perancangan ergonomi sendiri
pengolahan data yang dikumpulkan dengan metode sebenarnya bertujuan untuk meringankan beban
NASA-TLX. manusia pada saat melaksanakan aktifitas sehari-
hari. Oleh karena itu sekarang ini ergonomi
merupakan ilmu tersendiri yang mempelajari
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
karakteristik dan tingkah laku manusia .
4
Berdasarkan Mc Cormick dan Sanders (1993) bahwa proses kognisi pada manusia
dalam Suhanto (1999) menggunakan pendekatan melalui beberapa tahap, yaitu
dalam ergonomi yang lebih komprehensif. informasi datang melalui indera
Pendekatan tersebut antara lain: (sensor) penerima menuju tahap
1. Fokus utama yaitu perseptual. Setelah melewati proses
mempertimbangkan manusia ini, informasi kemudian melalui
dalam perancangan prosedur proses translasi, yaitu tahap
kerja, benda dan lingkungan perubahan persepsi menjadi aksi.
kerja. Respon ini kemudian diseleksi dan
melewati tahap kontrol gerakan. Tiap
2. Tujuan yaitu meningkatkan tahap tadi selalu memiliki akses pada
efektifitas dan efisiensi dari penyimpanan memori. Karena
pekerjaan dan aktifitas- kemampuan orang untuk memproses
aktifitas yang lain, serta informasi terbatas, maka hal ini akan
meningkatkan nilai-nilai mempengaruhi beban kerja yang
tertentu yang diinginkan dari diterima. Peningkatan beban kerja
pekerjaan tersebut. setelah melewati batas optimal dapat
menyebabkan degradasi dalam
3. Pendekatan Utama yaitu
kinerja. Pada tingkat beban kerja yang
aplikasi sistematik dari
sangat tinggi, informasi penting akan
informasi yang relevan
hilang karena pendangkalan atau
tentang keterbatasan,
pemfokusan perhatian hanya satu
kemampuan, karakteristik
aspek dari pekerjaan sehingga hal ini
perilaku dan motivasi manusia
akan dapat memicu terjadinya human
terhadap desain produk dan
error (Arca, 2007).
prosedur yang digunakan serta
3. Musculoskeletal. Masalah-masalah
lingkungan tempat
muscular dan skeletal sistem masuk
menggunakannya.
dalam kategori ini. Hal ini berkaitan
2.1.1 TIPE –TIPE MASALAH ERGONOMI dengan masalah otot dan tulang
rangka, sistem ini dapat memberikan
Pulat (1992) menjelaskan ada beberapa maslah- efek secara parsial dan dapat
masalah ergonomi yang dibagi dalam banyak memberikan efek secara bersama-
bagian berdasarkan spesifikasi dan pengaruhnya sama pula. Solusi dari masalah ini
terhadap tubuh manusia, antara lain : adalah dengan mendesain kembali
1. Antropometri. Menjelaskan antara tempat kerja dan kerja kita sehingga
masalah ukuran antara fungsi ruang dapat melindungi tubuh kita dari
geometri dan tubuh manusia. masalah tulang belakang dan otot
Antropometri berhubungan dengan rangka ini.
ukuran dari tubuh termasuk berat dan
tinggi. Tempat kerja yang baik dalam
artian sesuai dengan kemampuan dan
keterbatasan manusia dapat diperoleh
apabila ukuran-ukuran dari tempat
kerja tersebut sesuai dengan tubuh
manusia (Sutalaksana et al. 2006).
2. Kognisi. Masalah kognisi timbul dari
proses permintaan informasi yang
berlebihan dan proses permintaan
informasi yang kurang. Keduanya
yang mempunyai memori dalam
jangka waktu panjang dan pendek
dapat ditekan. Dapat dikatakan pula
5
4. Cardiovascular. Cardio adalah jantung digunakan. Manusia hidup tidak terlepas dari alat
serta vascular adalah peredaran yang membantu kita setiap hari sehingga interaksi
darah. Masalah ini menyangkut yang terjadi adalah dapat dipastikan akan terjadi
masalah sirkulasi sistem darah, setiap saat dan setiap waktu. Dengan mengetahui
termasuk jantung. Hasilnya adalah bahwa manusia menjadi salah satu faktor atau
jantung lebih banyak memompa darah komponen sistem manusia dan mesin maka
ke otot dan mengambil oksigen yang diharapkan kita mengetahui fungsi manusia dengan
akan diikat dalam darah di otot. Lebih dengan segala keterbatasannya dalam hubungan
mudahnya adalah bahwa untuk merancang sistem manusia dam mesin yang
cardiovascular lebih menitikberatkan terdiri dari manusia, peralatan, dan lingkungan
pada masalah peredaran darah dalam kerja. Salah satu hal yang dapat menghasilkan
tubuh dan otot kita serta dapat informasi tentang kemampuan manusia dengan
berpengaruh terhadap kelancaran segala keterbatasannya akan dibagi dalam beberapa
sirkulasi system darah kita. hal yang telah dijelaskan Sutalaksana et al.(2006)
sebagai berikut :
5. Psychomotor. Masalah yang timbul dari 1. Penelitian tentang displai
bagian ini lebih menitik beratkan pada
pusat gerak dalam tubuh manusia. Yang dimaksud dengan displai adalah
Pemecahan masalah ergonomi yang bagian dari lingkungan yang
berpengaruh pada tubuh yang mengakomodasikan keadaannya kepada
berhubungan dengan psychomotor manusia. Sebagai contoh adalah indikator
akan lebih baik dipecahkan dengan kecepatan pesawat yang telah ada alatnya
mendefenisikan kembali tempat kerja di pesawat terbang.
yang ada dan kembali mendesain
2. Penelitian mengenai hasil kerja manusia
tempat kerja serta cara kerja kita,
dan proses pengendaliannya.
sehingga dapat memberikan penagruh
baik terhadap tubuh kita. Pada bagian ini meneliti bagaimana
aktivitas-aktivitas manusia ketika bekerja
2.2 MANUSIA SEBAGAI KOMPONEN
dan kemudian mempelajari cara mengukur
MANUSIA DAN MESIN
aktivitas tersebut. Penelitian ini banyak
dipengaruhi oleh Ilmu faal kerja dan
Sutalaksana et al.(2006) menjelaskan bahwa yang
biomekanika.
dimaksud komponen manusia dan mesin adalah
kombinasi antara satu atau beberapa manusia 3. Penelitian tempat kerja
dengan satu atau beberapa mesin dan salah satu
mesin dengan lainnya saling berinteraksi untuk Tempat kerja yang baik dalam artian
menghasilkan keluaran-keluaran berdasarkan sesuai dengan kemampuan dan
masukan-masukan yang diperoleh. Oleh karena itu keterbatasan manusia dapat diperoleh
apabila suatu pekerja berinteraksi dengan bidang apabila ukuran-ukuran dari tempat kerja
kerjanya yang menangani satu bidang teknis seperti tersebut sesuai dengan tubuh manusia.Hal-
menangani mesin pesawat, motor dan lain hal ini dipelajari dalam Antopometri.
sebagainya dapat dikatakan pula hal itu termasuk
interaksi manusia sebagai komponen manusia dan 4. Penelitian tentang lingkungan fisik
mesin (Freivalds dan Niebels 1999). Apabila kita
Yang dimaksud di sini adalah meliputi
perhatikan dengan seksama dalam kehidupan
ruangan dan fasilitas-fasilitas yang biasa
sehari-haripun banyak kita jumpai interaksi
digunakan oleh manusia, serta lingkungan
manusia dengan mesin yang masing-masing
kerja seperti klimat, kebisingan dan
memiliki kelebihan dan kekurangan. Interaksi yang
pencahayaan.
terjadi pada manusia adalah kemampuan manusia
apabila dihadapkan pada suatau mesin maka
mereka mampu untuk menggunakan dan
menyesuaikan diri dengan mesin yang akan 2.3 BEBAN KERJA ( WORKLOAD)

6
Gambar 2.1
Kapasitas Kerja Manusia
Beban kerja (work load) diartikan Hancock dan
Meshkati (1988) sebagai suatu bentuk perkiraan Sumber:
awal yang mewakili beban yang disebabkan oleh Fernando, (1999)
operator untuk mencapai suatu level performansi
tertentu. Selain itu Hancock dan Meshkati (1988) Beban kerja dalam perkembangannya dibagi
menjelaskan pula bahwa beban kerja (work load) menjadi dua, secara garis besar dalam McCormick
diartikan sebagai suatu beban yang dipusatkan pada dan Sanders (1993) dijelaskan bahwa kegiatan-
manusia bukan pada suatu pekerjaan. Beban kerja kegiatan kerja manusia dapat digolongkan menjadi
bukan suatu properti yang melekat tetapi kerja fisik (otot) dan kerja mental (otak).
merupakan suatu yang muncul dari interaksi antara Pemisahan ini tidak dapat dilakukan secara
kebutuhan pekerjaan yang dipengaruhi oleh sempurna, karena terdapat hubungan yang erat
pekerjaan yang ditampilkan. Beban kerja (work antara satu sama lainnya.
load) adalah sejumlah energi yang dikeluarkan dari
suatu sistem kerja yang dilakukan oleh manusia
pada suatu pekerjaan tertentu. Oleh sebab itu beban 2.3.1 BEBAN KERJA MENTAL (MENTAL
kerja lebih ditekankan kepada personal atau WORKLOAD)
manusia yang melakukan suatu pekerjaan pada
suatu waktu tertentu dengan kondisi tertentu pula. 2.3.1.1 Definisi Beban Kerja Mental
Fernando (1999) menjelaskan bahwa pengukuran
Aspek psikologi dalam suatu pekerjaan berubah
beban kerja baik psikologis maupun fisik, secara
setiap saat. Banyak faktor yang mempengaruhi
umum sangat tergantung pada konstruksi
perubahan psikologi tersebut. Faktor-faktor
sumberdaya. Artinya ada suatu tingkat kapabilitas
tersebut dapat berasal dari dalam diri pekerja
dan sikap tertentu (yang terukur) yang dibutuhkan
(internal) atau dari luar diri pekerja/lingkungan
oleh suatu pekerjaan. Dengan demikian beban kerja
(eksternal) (Hancock dan Mesahkati, 1988). Baik
(workload) merupakan persentase tertentu dari
faktor internal maupun eksternal sulit untuk dilihat
sumber daya yang dimiliki, yang digunakan untuk
secara kasat mata, sehingga dalam pengamatan
melakukan serangkaian tugas. Bila kapasitas
hanya dilihat dari hasil pekerjaan atau faktor yang
seseorang dalam melakukan pekerjaan terpakai
dapat diukur secara obyektif, atau pun dari tingkah
sampai 100%, akan mengakibatkan tekanan bagi
laku dan penuturan si pekerja sendiri yang dapat
pekerja, baik secara fisik maupun secara
diidentifikasikan. Selain itu beberapa individu
psikologis. Sebaliknya bila kapasitas sebenarnya,
memiliki kondisi tubuh dan melakukan yang sama,
akan terjadi kapasitas residu. Untuk lebih jelasnya
secara objektif menunjukkan tingkat performansi
lihat gambar 2.1.
yang sama (Susilowati, 1999). Sebagian individu
berpendapat bahwa pekerjaan yang dilakukan
ringan dan tidak menguras otak, sementara individu
lainnya berpendapat sebaliknya. Hal ini yang
Kapasitas untuk mendasari munculnya ide mengenai beban kerja
melakukan mental (Susilowati, 1999).
pekerjaan
2.3.1.2Proporsi
Faktor-Faktor
yang Yang Mempengaruhi
Bebandidibutuhkan
Mental dibutuhkan
untuk melakukan pekerjaan
Menurut MacCormick dan Sanders (1993)
pelaksanakan pengukuran beban kerja mental
memiliki beberapa kriteria, yaitu:
1. Sensitivity
Dalam pengukuran beban kerja mental
seharusnya mencirikan suatu yang berbeda
dalam situasi pekerjaan tertentu.
7
2. Selectivity lama makin cepat hingga pada suatu
saat sukar untuk diikuti oleh mata biasa.
Pengukuran beban mental sebaiknya tidak
2. Pengukuran beban mental secara subyektif
dipengaruhi oleh faktor-faktor selain dari
Pengukuran beban kerja psikologis secara
beban mental itu seperti beban fisik dan
subjektif dapat dilakukan dengan beberapa
emosional.
metode, yaitu :
3. Interference a.NASA-Task Load Index (TLX)
b.Subjective Workload Assesment
Dalam pelaksanaan pengukuran beban Technique (SWAT)
kerja mental hendaknya tidak c.Modified Cooper Harper Scaling (MCH)
mempengaruhi atau menginterupsi kepada Dari beberapa metode tersebut metode yang paling
bebab kerja yang telah diprediksi. banyak digunakan dan terbukti memberikan hasil
yang cukup baik adalah NASA-TLX dan SWAT
4. Reliability (Hancock dan Meshkati, 1988).
Mengukur beban kerja hendaknya dapat
2.3.1.4 Dampak Beban Kerja Mental
dipercaya hasil pengukurannya.
Berlebih
5. Acceptability
Ada beberapa hal yang merupakan hasil dari
Hasil pengukuran beban kerja dapat kelebihan beban mental, seperti yang diterangkan
diterima masyarakat pada umumnya dan oleh Hancock dan Mesahkati (1988), yaitu:
khususnya untuk tempat diambilnya 1. Kebingung
penelitian. an, resiko, frustasi dan kegelisahan.
2. Stres yang
muncul dan berkaitan dengan
2.3.1.3 Pengukuran Beban Kerja Mental kebingungan, frustasi, dan
kegelisahan.
3. Stres yang
tinggi dan intens berkaitan
Pengukuran beban kerja mental atau psikologi
dengan kebingungan, frustasi,
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengukuran
dan kegelisahan. Sehingga stress
beban mental secara objektif dan pengukuran
membutuhkan suatu
beban mental secara subjektif (McCormick dan
pengendalian yang sangat besar.
Sanders, 1993) .

1. Pengukuran beban mental secara objektif Beban usaha mental merupakan indikasi yang
Pengukuran beban kerja psikologis secara memberikan gambaran besarnya kebutuhan mental
objektif dapat dilakukan dengan beberapa dan perhatian untuk menyelesaikan tugas.
metode, yaitu : Susilowati (1999) menjelaskan bahwa dengan
a.Pengukuran denyut jantung beban usaha mental rendah dan performansi
Secara umum, peningkatan denyut cenderung otomatis. Sejalan dengan meningkatnya
jantung berkaitan dengan meningkatnya beban usaha mental maka konsentrasi dan
level pembebanan kerja. ketelitian akan meningkat pula. Usaha mental yang
b.Pengukuran waktu kedipan mata tinggi membutuhkan keseluruhan konsentrasi dan
Secara umum, pekerjaan yang perhatian sesuai dengan kerumitan pekerjaan dan
membutuhkan atensi visual berasosiasi informasi yang harus diproses (Susilowati, 1999).
dengan kedipan mata yang lebih sedikit, Dalam pekerjaan pemeliharaan pesawat menangani
dan durasi kedipan lebih pendek. bebagai komponen yang membutuhkan tingkat
c.Pengukuran dengan metoda lain ketelitian dan pekerja harus mengurangi resiko
Pengukuran dilakukan dengan alat kesalahan dalam pemeliharaan, oleh sebab itu
flicker, berupa alat yang memiliki diperkirakan beban mental yang diterima oleh
sumber cahaya yang berkedip makin pekerja relatif sangat tinggi. Menurut Wickens et
al.(2004) beban kerja mental yang tinggi dapat
8
menyebabkan kejenuhan dan rasa lelah yang untuk memperoleh nilai beban kerja
berlebihan, rasa kelelahan yang terjadi yang sensitif terhadap sumber dan
menyebabkan para pekerja dapat mengantuk. definisi beban kerja yang berbeda,
baik di antara tugas maupun di antara
2.3.1.5 Metode NASA-TLX pemberi peringkat.
3.3. Menentukan prosedur terbaik untuk
Metode NASA-TLX dikembangkan oleh Sandra G.
memperoleh nilai terbaik untuk
Hart dari NASA-Ames Research Center dan
memperoleh nilai numerik untuk
Lowell E. Staveland dari San Jose State University
subskala tersebut.
pada tahun 1981 (Hancock dan Meshkati, 1988).
Metode ini berupa kuesioner dikembangkan 4. Pemilihan Subskala
berdasarkan munculnya kebutuhan pengukuran Ada tiga subskala dalam penelitian, yaitu
subjektif yang lebih mudah namun lebih sensitif skala yang berhubungan dengan tugas, dan
pada pengukuran beban kerja. skala yang berhubungan dengan tingkah
Hancock dan Meshkati (1988) menjelaskan laku (usaha fisik, usaha mental,
beberapa pengembangan metode NASA-TLX yang performansi), skala yang berhubungan
ditulis dalam Susilowati (1999), antara lain: dengan subjek ( frustasi, stres, dan
kelelahan).
1. Keran
gka Konseptual Susilowati (1999) juga menjelaskan beberapa
subskala yang ditulis Hart dan Staveland (1981),
Beban kerja timbul dari interaksi antara
antara lain:
kebutuhan tugas dan pekerjaan, kondisi
kerja, tingkah laku, dan persepsi pekerja 1.
(teknisi). Tujuan kerangka konseptual Skala yang berhubungan dengan tugas
adalah menghindari variabel-variabel yang Peringkat yang diberikan pada kesulitan
tidak berhubungan dengan beban kerja tugas memberikan informasi langsung
subjektif. Dalam kerangka konseptual, terhadap persepsi kebutuhan subjek yang
sumber-sumber yang berbeda dan hal-hal dibedakan oleh tugas. Tekanan waktu
yang dapat mengubah beban kerja dinyatakan sebagai faktor utama dalam
disebutkan satu demi satu dan definisi dan model beban kerja yang
dihubungkan. paling operasional, dikuantitatifkan
2. Infor dengan membandingkan waktu yang
masi yang Diperoleh dari Peringkat diperlukan untuk serangkaian tugas dalam
(Rating) Subjektif eksperimen.

Peringkat subjektif merupakan metode 2.


yang paling sesuai untuk mengukur beban Skala yang berhubungan dengan tingkah
kerja mental dan memberikan indikator laku
yang umumnya paling valid dan sensitif. Faktor usaha fisik memanipulasi
Peringkat subjektif merupakan satu- eksperimen dengan faktor kebutuhan fisik
satunya metode yang memberikan sebagai komponen kerja utama. Hasil
informasi mengenai pengaruh tugas secara eksperimen menunjukkan bahwa faktor
subjektif terhadap pekerja atau teknisi dan usaha fisik memiliki korelasi yang tinggi
menggabungkan pengaruh dari tapi tidak memberi kontribusi yang
kontributor-kontributor beban kerja. signifikan terhadap beban kerja semuanya.
3. Pemb Faktor usaha mental merupaka kontributor
uatan Skala Rating Beban Kerja penting pada beban kerja pada saat jumlah
tugas operasional meningkat karena
3.1. Memilih kumpulan subskala yang
tanggung jawab pekerja berpindah-pindah
paling tepat.
dari pengendalian fisik langsung menjadi
3.2. Menentukan bagaimana pengawasan. Peringkat usaha mental
menggabungkan subskala tersebut berkorelasi dengan peringkat beban kerja
9
keseluruhan dala setiap katagori kerjanya
eksperimen dan merupakan faktor kedua
FRUST Rendah,ti Seberapa tidak aman, putus asa,
yang paling tinggi korelasinya dengan
ATION nggi tersinggung, terganggu,
beban kerja keseluruhan. LEVEL dibandingkan dengan perasaan
3. (FR) aman, puas, nyaman, dan
Skala yang berhubungan dengan subjek kepuasan diri yang dirasakan.

Frustasi merupakan beban kerja ketiga EFFOR Rendah, Seberapa keras kerja mental dan
yang paling relevan. Peringkat frustasi T (EF) tinggi fisik yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan pekerjaan
berkorelasi dengan peringkat beban kerja
keseluruhan secara signifikan pada semua
katagori eksperimen. Peringkat stres
mewakili manipulasi yang mempengaruhi
peringkat beban kerja keseluruhan dan b. Pembobotan
merupakan skala yang paling Pada bagian ini responden diminta untuk
indenpenden. melingkari salah satu dari dua indikator
yang dirasakan lebih dominan
menimbulkan beban kerja mental terhadap
Hancock dan Meshkati (1988) menjelaskan pekerjaan tersebut.
langkah-langkah dalam pengukuran beban kerja
mental dengan menggunakan metode NASA-TLX, Kuesioner NASA-TLX yang diberikan
yaitu: berbentuk perbandingan berpasangan yang
terdiri dari 15 perbandingan berpasangan.
a. Penjelasan indikator beban mental yang Dari kuesioner ini dihitung jumlah tally
akan diukur dari setiap indikator yang dirasakan paling
Indikator tersebut adalah berpengaruh. Jumlah tally ini kemudian
akan menjadi bobot untuk tiap indikator
Tabel 2.1 NASA-TLX beban mental.

c. Pemberian Rating
SKALA RATING KETERANGAN Pada bagian ini responden diminta
MENT Rendah,Ti Seberapa besar aktivitas mental memberi rating terhadap keenam indikator
AL nggi dan perseptual yang dibutuhkan beban mental. Rating yang diberikan
DEMA untuk melihat, mengingat dan adalah subjektif tergantung pada beban
ND mencari. Apakah pekerjaan mental yang dirasakan oleh responden
(MD) tersebut mudah atau sulit,
tersebut. Rating yang diberikan adalah
sederhana atau kompleks, longgar
subjektif tergantung pada beban mental
atau ketat .
yang dirasakan oleh responden tersebut.
PHYSI Rendah, Jumlah aktivitas fisik yang Untuk mendapatkan skor beban mental
CAL Tinggi dibutuhkan (misalnya: NASA-TLX, bobot dan rating untuk
DEMA mendorong, menarik, mengontrol setiap indikator dikalikan kemudian
ND putaran) dijumlahkan dan dibagi 15 (jumlah
(PD)
perbandingan berpasangan).
TEMPO Rendah, Jumlah tekanan yang berkaitan Menurut Hancock dan Meshkati (1988) data dari
RAL tinggi dengan waktu yang dirasakan
tahap pemberian (rating) untuk memperoleh beban
DEMA selama elemen pekerjaan
kerja (mean weighted workload) Hancock dan
ND berlangsung. Apakah pekerjaan
(TD) perlahan atau santai atau cepat Meshkati (1988) adalah sebagai berikut:
dan melelahkan 1. Menghitung produk.
PERFO Tidak Seberapa besar keberhasilan Produk diperoleh dengan cara mengalikan
RMAN tepat, seseorang di dalam pekerjaannya rating dengan bobot faktor untuk masing-
CE (OP) Sempurna dan seberapa puas dengan hasil
masing deskriptor. Dengan demikian

10
dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator melalui tiga deskriptor pada masing-masing tiga
( MD, PD, TD, CE, FR, EF). factor atau dimensi.
(Sheridan dan Simpson, 1979) dalam Susilowati
Produk = rating x bobot faktor...............
(1999) mejelaskan bahwa tiga faktor yang
(2.1)
digunakan dalam SWAT dikembangkan
2. Menghitung Weighted Workload ( WWL). berdasarkan teori untuk mendefinisikan beban kerja
WWL diperoleh dengan cara pilot. Perkembangan terakhir SWAT tidak hanya
menjumlahkan keenam nilai produk. digunakan pada pilot saja tapi dikembangkan
dalam hal yang lebih luas. Tiga faktor menurut
WWL = ......................(2.2) Sheridan dan Simpson (1979) adalah:

1. Beban Waktu (Time Load)


3. Menghitung rata-rata WWL. Menunjukkan jumlah waktu yang
tersedia dalam perencanaan,
Rata-rata WWL diperoleh dengan cara
pelaksanaan dan monitoring tugas.
membagi WWL dengan jumlah bobot
Dimensi beban waktu ini tergantung
total.
dari ketersediaan waktu dan
kemampuan melangkahi (overlap)
dalam menjalankan suatu aktivitas.
skor =
∑( bobot × rating ) Hal ini berkaitan erat dengan analisis
15 batas waktu (timeline analysis) yang
merupakan metoda primer untuk
……………..(2.3) mengetahui apakah subyek dapat
menyelesaikan tugas dalam batas-
batas waktu yang diberikan. Tiga
tingkatan dalam SWAT adalah
4. Interpretasi Hasil Nilai Skor Susilowati (1999):
Berdasarkan penjelasan Hart dan a. Selalu memiliki waktu luang.
Staveland (1981) dalam teori Nasa-TLX, Interupsi dan melakukan secara
skor beban kerja yang didapatkan terbagi bersamaan (overlap) diantara
dalam tiga bagian yaitu pekerjaan menurut aktivitas tidak terjadi atau jarang
para responden tergolong agak berat (di terjadi.
mana nilai > 80 menyatakan beban b. Kadang-kadang memiliki waktu
pekerjaan agak berat, nilai 50-70 luang. Interupsi dan melakuka
menyatakan beban pekerjaan sedang, dan secara bersamaan (overlap)
nilai < 50 menyatakan beban pekerjaan diantara aktivitas sering terjadi.
agak ringan). menyatakan beban c. Tidak memiliki waktu luang.
pekerjaan sedang, dan nilai < 50 Interupsi dan melakukan
menyatakan beban pekerjaan agak ringan). bersamaan diantara akitvitas
sering terjadi.

2. Beban Usaha Mental (Mental Effort


2.3.2.2 SUBJECTIVE WORKLOAD
Load)
ASSESMENT (SWAT)
Memperkirakan seberapa banyak
Hancock dan Meshkati (1988) menjelaskan bahwa
usaha mental dalam perencanaan
metode ini dikembangkan oleh Reid dan Nygren
yang diperlukan untuk melaksanakan
pada Amstrong Aerospace Medical Research
suatu tugas. Dimensi beban usaha
Laboratory pada tahun 1981 dengan dasar metode
mental merupakan indikator besarnya
penskalaan konjoin. SWAT dibuat sedemikian rupa
kebutuhan mental dan perhatian yang
sehimgga tanggapan hanya diberikan dengan
dibutuhkan untuk menyelesaikan

11
suatu aktivitas. Semakin subyek seperti antara lain: motivasi,
meningkatnya beban ini, maka kelelahan, ketakutan, tingkat
konsentrasi dan perhatian yang keahlian, suhu, kebisingan, getaran
dibutuhkan meningkat pula. dan kenyamanan. Sebagian besar dari
Peningkatan ini sejalan dengan faktor-faktor tersebut mempengaruhi
tingkat kerumitan pekerjaan dan performansi subyek secara langsung,
jumlah informasi yang diproses oleh apabila pada tingkatan yang tinggi.
subyek untuk melaksanakan Tingkat spesifik dari beban ini adalah
pekerjaan dengan baik. Aktifitas (Susilowati, 1999):
seperti perhitungan, pembuatan
1. Kebingungan , resiko,dan
keputusan, mengingat informasi, dan
kegelisahan dapat diatasi dengan
penyelesaian maslah merupakan
mudah.
contoh usaha mental. Susilowati
2. Stres yang muncul dan
(1999) menjelaskan deskriptor yang
berkaitan dengan kebingungan,
digunakan adalah sebagai berikut:
frustasi, dan kegelisahan
menambah beban kerja yang
1. Kebutuhan konsentrasi dialami. Kompensasi tambahan
dan usaha mental sadar sangat perlu dilakukan untuk menjaga
kecil.aktivitas yang dilakukan performansi.
hampir otomatis dan tidak 3. Stres yang tinggi dan
membtutuhkan perhatian. intens berkaitan dengan
2. Kebutuhan konsentrasi kebingungan, frustasi, dann
dan usaha mental sadar sedang. kegelisahan. Membutuhkan
Kerumitan aktivitas sedang hinga pengendalian diri yang sangat
tinggi sejalan dengan besar.
ketidakpastian,
ketidakmampuprediksian, dan
keyidakkenalan (unfamilirity).
2.4 UJI – t DUA SAMPEL INDENPENDEN
Perhatian tambahan dibutuhkan.
(Uji menyangkut dua rataan)
3. Kebutuhan konsentrasi
dan usaha mental sadar sangat
besar dan diperlukan sekali.
2.3.2 Uji-t dua sampel indenpenden dari
Aktivitas yang sangat kompleks populasi
dan membutuhkan perhatian
total. Uji–t berpasangan (Samples t Test) digunakan
untuk membandingkan selisih dua purata (mean)
dari dua sampel yang berpasangan dengan asumsi
3. Beban Tekanan Psikologis
data berdistribusi normal (Uyanto, 2006).
(Psychological Stress Load)
Dua sampel acak yang bebas berukuran masing-
masing dan diambil dari dua populasi dengan
Mengukur jumlah resiko,
rataan dan dan variansi dan . Kita tahu
kebingungan, frustasi yang
dihubungkan dengan performansi. bahwa peubah acak
Dimensi ini berkaitan dengan kondisi
yang dapat menyebabkan terjadinya
kebingungan, frustasi dan ketakutan
selama melaksanakan suatu Berdistribusi normal baku. Bila dapat dianggap
pekerjaan. Pada keadaan stres rendah, bahwa , maka statistik di atas
manusia akan cenderung merasa menyusut menjadi
santai. Namun sejalan dengan
meningkatnya stres, maka akan
terjadi pengacauan konsentrasi yang
disebabkan oleh faktor individual
12
sampel dalam menaksir (Walpole dan Myers,
1995). Seperti telah diduga oleh Walpole dan
Myers (1995) tandingan ekapihak menimbulkan
daerah kritis ekasisi.

Kedua statistik di atas merupakan dasar bagi 2.5 Perbaikan Rancangan Sistem Kerja
pengembangan prosedur uji yang menyangkut dua
rataan. Kesamaannya dengan selang kepercayaan
Perbaikan rancangan sistem kerja dilakukan di
dan kemudahan memperluasnya dari kasus uji satu
Sathar 15 ketika diketahui berapa besar beban
rataan menyederhanakan pekerjaan kita. Hipotesis
mental berlebih pada teknisi. Beban mental yang
dwipihak menyangkut dua rataan dapat ditulis
diukur akan menjadi dasar untuk mengembangkan
secara umum sebagai
rancangan sistem kerja yang diperkirakan tepat
6)
bagi para teknisi. Berikut ini akan dibuat beberapa
Distribusi yang digunakan ialah distribusi dari uji
rancangan sistem kerja bagi teknisi di Sathar 15
statistik di bawah . Nilai dan dihitung dan
(Wickens et al. (2004):
untuk dan yang diketahui maka uji
statistiknya berbentuk
1) Menambah spesifikasi pekerjaan untuk
seluruh teknisi di Sathar 15.
2) Menambah jumlah personel dalam satu
tim yang akan memperbaiki pesawat.
3) Memberikan pelatihan kepada seluruh
Dengan daerah kritis dwisisi dalam hal
teknisi sehingga para teknisi akan mampu
tandingannya dwipihak. Yaitu, tolak dan
untuk menangani kasus yang lain di Sathar
mendukung bila z atau z 15.
. Daerah kritis ekasisi digunakan dalam hal 4) Dengan adanya pelatihan kerja serta
tandingan ekapihak. Untuk mempelajari uji statistik menghilangkan spesialisasi pekerjaan
dan meyakinkan bahwa untuk, misalnya maka akan mendapatkan suatu bentuk
, petunjuk yang mendukung pola baru kepada para teknisi ketika
muncul dari nilai z yang besar. Jadi daerah memperbaiki dan memelihara pesawat
kritisnya aman (Walpole dan Myers, 1995). yang rusak.
5) Apabila pesawat yang akan diperbaiki
2.3.3 Uji-t sampel indenpenden dari sampel datang dalam jangka waktu yang
(variansi tidak diketahui) bersamaan serta kerusakan berbeda maka
alokasi teknisi berdasarkan spesialisasi
Dalam uji menyangkut dua rataan keadaan yang pekerjaan. Sedangkan ketika pesawat
lebih umum berlaku ialah keadaan dengan variansi datang dalam jangka waktu bersamaan
tidak diketahui (Walpole dan Myers, 1995). Bila dengan kerusakan yang sama maka akan
peneliti bersedia menganggap bahwa kedua dilakukan sistem perluasan spesialisasi
distribusi normal dan bahwa , maka anggota tim sehingga anggota tim yang
uji-t gabungan (sering disebut uji-t dua sampel) lain dapat menangani kerusakan pada
dapat digunakan. Uji statistik ini berbentuk pesawat yang diperbaiki.

Untuk
Distribusi-t digunakan di sini dan bila hipotesisnya
dwipihak maka hipotesis tidak ditolak bila

Derajat kebebasan untuk distribusi-t adalah sebagai


akibat dari penggabungan informasi dari kedua
13
BAB III 3.2 Observasi

METODOLOGI PENELITIAN Observasi merupakan salah satu langkah awal


untuk melaksanakan suatu penelitian. Observasi
3.1 Tahapan Penelitian dilaksanakan di objek tempat penulis akan
melaksanakan suatu penelitian. Observasi ini juga
Berikut ini diberikan flow chart tahap-tahap yang untuk mengetahui secara mendalam apa yang harus
dilakukan pada penelitian ini: dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini juga akan
memberikan gambaran situasi dan keadaan yang
sesungguhnya terhadap objek penelitian. Observasi
MULAI
yang dilakukan terhadap objek penelitian
dipergunakan sebagai bahan untuk menganalisis
OBSERVASI STUDI LITERATUR
kondisi teknisi objek penelitian. Oleh karena itu
perlu diteliti lebih lanjut berapa besar beban kerja
PERUMUSAN
MASALAH DAN
TUJUAN PENELITIAN
mental dari para teknisi yang berada dalam Sathar
15 dengan melaksanakan observasi.
PENENTUAN
BATASAN
MASALAH
3.3 Studi Literatur
PENENTUAN
METODE
PENELITIAN
Studi literatur dilakukan untuk mengetahui detail-
detail yang diperlukan dalam penelitian yang akan
PENENTUAN
BATASAN
PENELITIAN
dilakukan. Studi pustaka juga dipergunakan untuk
memberi titik acuan perancangan, pelaksanaan dan
PERSIAPAN
PENGAMBILAN
pengembangan penelitian sehingga penelitian yang
DATA
dilakukan menjadi terarah sesuai dengan prosedur
dan mempunyai landasan teori yang kuat. Selain itu
PENGAMBILAN
DATA pada tahap ini juga dilakukan pengumpulan
informasi mengenai topik yang penulis akan teliti
dengan mempelajari dari informasi dan hasil-hasil
PEMEBUATAN
FORM DATA
PENENTUAN
RESPONDEN
penelitian sebelumnya. Studi pustaka dilakukan
RESPONDEN
untuk mendapatkan landasan teori dan kerangka
PENGUMPULAN berpikir agar hasil penelitian yang dibuat dapat
DATA
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan menjadi
PENGOLAHAN penelitian yang berdaya guna.
DATA

3.4 Perumusan Masalah dan Tujuan


ANALISIS
Penelitian
KESIMPULAN DAN
SARAN
Pada tahap ini dilakukan proses pendefinisian
SELESAI
masalah yang muncul pada objek yang dikaji,
kemudian keadaan riil yang ada dirumuskan secara
sistematik berdasarkan hasil studi pendahuluan.
Masalah yang akan dikaji pada penelitian ini adalah
mengenai kepuasan kerja yang ada pada Pangkalan
TNI AU Husein Sastranegara Bandung. Perumusan
permasalahan yang baik akan menjadi arah dan
pembatas yang memudahkan arah dan memperjelas
ruang lingkup penelitian. Perumusan permasalahan
yang baik juga akan sangat menentukan efektivitas
Gambar 3.1 Flow chart Penelitian
penelitian yang dilakukan. Oleh karena itu, untuk
memulai penelitian, permasalahan yang hendak

14
diangkat harus sudah dirumuskan dan tujuan harus Pada tahapan ini segala sesuatu yang dibutuhkan
sudah ditentukan. untuk tahap pengumpulan data dipersiapkan.
Setelah dilakukan perumusan masalah maka akan Persiapan-persiapan yang dilakukan pada tahap ini
didapatkan tujuan peneltian. Tujuan penelitian adalah :
dihasilkan dari permasalahan yang timbul pada
objek penelitian. Adapun tujuan dari penelitian ini 3.7.1 Perekrutan dan Penugasan Pekerja
adalah mengidentifikasikan beban kerja mental Sebagai Objek Penelitian
berlebih teknisi pesawat C-130 Hercules dengan
menggunakan metode NASA-TLX dan mengetahui Hal ini dilakukan agar keputusan yang diambil
perbedaan beban kerja mental antara kepala teknisi dalam memilih dan memberikan rating NASA-
dengan anggota teknisi di Sathar 15. TLX membentuk data yang valid untuk digunakan
sebagai analisis beban kerja mental. Dalam tahap
ini juga pekerja diberikan penjelasan mengenai
prosedur dan hal-hal yang akan dilakuakan dalam
3.5 Penentuan Metode Penelitian pengumpulan data sehingga pada saat dilakukan
pengumpulan data pekerja telah memahami apa
Dalam penelitian ini akan digunakan NASA-TLX.
yang harus dilaksanakan.
Pemilihan alat tersebut didasarkan beberapa
kelebihan NASA-TLX dibandingkan dengan 3.7.2 Persiapan Form Pengambilan Data
metode SWAT. NASA-TLX merupakan metode
yang memiliki lebih banyak dimensi indikator (6 Langkah pertama dalam persiapan pengambilan
dimensi indikator) sehingga menjadikan NASA- data adalah menyiapkan form beban kerja mental.
TLX lebih sensitif karena memberikan kebebasan Sesuai literatur form beban kerja mental NASA-
lebih besar kepada subjek atau responden untuk TLX akan disajikan dalam pengolahan data.
memberikan persepsinya mengenai beban kerja
yang dirasakan(Susilowati, 1999). NASA-TLX 3.8 Pengumpulan Data
juga lebih mudah dan praktis untuk dilakukan oleh
seorang peneliti, sehingga dapat diterapkan di Pengambilan data NASA-TLX dilakukan dengan
tempat operasional mana pun. Metode ini juga cara menyebarkan kuesioner kepada setiap
lebih sederhana karena tidak memerlukan software responden yang diamati sesuai dengan literatur
khusus seperti halnya SWAT. Selain itu, NASA- yang ada. Sebelum mengisi kuesioner penulis
TLX memang memiliki sebuah kekurangan memberikan penjelasan secara menyeluruh kepada
dibandingkan dengan SWAT, di mana dimensi responden tentang cara pengisian kuesioner.
indikator yang digunakan dalam metode NASA- Kuesioner yang berisikan form NASA-TLX
TLX lebih banyak (6 dimensi indikator) sehingga tersebut dapat dilihat pada lampiran. Adapun
akan lebih sulit dimengerti oleh subjek / responden. pengumpulan data terbagi ke dalam beberapa tahap
Akan tetapi kekurangan tersebut dapat diatasi yaitu:
dengan memberikan pengertian sejelas-jelasnya 3.8.1 Pengisian Form Data Pribadi
kepada responden, jika perlu responden dituntun
secara langsung oleh peneliti dalam memberikan Pengisian form data pribadi adalah pekerja
data (Mandagi, 2006). menuliskan data identitas pribadi mereka sebelum
mengisi kuisioner NASA-TLX secara lengkap
3.6 Penentuan Batasan Penelitian sesuai kondisi pada saat itu.

3.8.2 Penentuan Subjek Penelitian


Untuk memfokuskan penelitian maka dibuat
batasan masalah dan ruang lingkup penelitian. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan
Adapun batasan masalah dari penelitian ini telah pengambilan kuisioner NASA-TLX oleh seluruh
dijelaskan secara luas di Bab I. teknisi yang berada di Sathar 15. Jumlah teknisi
yang berada di Sathar 15 berjumlah 93 orang terdiri
dari 20 orang kepala teknisi dan 73 orang anggota
teknisi.
3.7 Persiapan Pengambilan Data

15
3.8.3 Penentuan Lokasi Penelitian Produk = rating x bobot
faktor...............(3.1)
Penulis akan melaksanakan penelitian di
Sathar (Satuan Pemeliharaan) 15 Depohar 10 2. Menghitung Weighted Workload ( WWL).
Lanud Husein Sastranegara Bandung. Penelitiam WWL diperoleh dengan cara
dilaksanakan ke seluruh divisi atau satuan kerja menjumlahkan keenam nilai produk.
yang berada di Sathar 15. Divisi-divisi tersebut
antara lain: divisi titik bekal, divisi structure WWL = ......................
repair, divisi flight control, divisi fuel system, (3.2)
divisi avionic (listrik instrumen), divisi ground 3. Menghitung rata-rata WWL.
support equipment, divisi exterior, divisi interior,
dan divisi pengecatan. Lokasi penelitian Rata-rata WWL diperoleh dengan cara
dilaksanakan di tempat kerja masing-masing satuan membagi WWL dengan jumlah bobot
kerja. total.

3.9 Pengolahan Data


skor _ beban _ ker ja =
∑ ( bobot × rating )
3.9.1 Pengolahan Data NASA-TLX 15

Pengolahan data NASA-TLX dilakukan dengan ……………..(3.3)


cara pemberian bobot ( weights) dan akan
menghasilkan deskriptor-deskriptor berpasangan
4. Menentukan nilai beban kerja
yang digunakan pada metode NASA-TLX, yaitu
sebagai berikut :
Penentuan nilai besarnya beban kerja
KF/KM U/KM P/KF
P/KW U/P mental ini dihitung atau diukur
KW/KMTF/KM U/KF U/KW
TF/P berdasarkan tiap-tiap divisi atau satuan

P/KM KW/KF TF/KF kerja. Nilai beban kerja akan dianalisis


TF/KW TF/U
secara subjektif untuk mengetahui
KM : Kebutuhan Mental (MD)
KF : Kebutuhan Fisik (FD) bagaimana beban kerja yang dialami oleh

KW : Kebutuhan Waktu (TD)


para teknisi. Nilai beban kerja satuan kerja
P : Performansi (OP)
akan dianalisis untuk mengetahui
U : Usaha (EF)
bagaimana beban kerja mental satuan
TF : Tingkat Frustasi (FR)
kerja yang ada dan memberikan solusi
Penghitungan pilihan-pilihan deskriptor
menggunakan kerangka sebagai berikut : serta perancangan yang didasarkan pada

1. Menghitung produk. hasil perhitungan.


Produk diperoleh dengan cara mengalikan 3.9.2 Perbandingan Nilai Beban Kerja
rating dengan bobot faktor untuk masing-
Antara Kepala Teknisi Dengan
masing deskriptor. Dengan demikian Anggota Teknisi
dihasilkan 6 nilai produk untuk 6
deskriptor ( MD, PD, TD, CE, FR, EF).

16
Setelah diketahui nilai beban kerja dari keseluruhan
kepala teknisi dan anggota teknisi maka langkah
selanjutnya adalah membandingkan nilai beban
kerja keduanya. Cara yang diambil untuk
membandingkan keduanya dengan menggunakan
Uji–t Dua Sampel Indenpenden (Independent-
Samples t Test). Penggunaan Uji-t Dua Sampel
Indenpenden adalah sebagai pengembangan
prosedur uji yang menyangkut dua rataan.
Kesamaannya dengan selang kepercayaan dan
kemudahan memperluasnya dari kasus uji
menyangkut satu rataan menyederhanakan
pekerjaan kita (Walpole dan Myers, 1995).
Sehingga dengan membandingkan antara keduanya
diharapkan kita mengetahui perbedaan antara
kepala teknisi dan anggota teknisi.
Ada tiga bentuk hipotesis untuk uji-t dimana
penggunaannya tergantung dari persoalan yang
akan diuji (Uyanto, 2006), antara lain:
a. Bentuk uji hipotesis satu sisi
(one side atau one-tailed test)
untuk sisi bawah (lower tailed).
b. Bentuk ujin hipotesis satu sisi (
one-side atau one-tailed test)
untuk sisi atas (upper tailed).
c. Bentuk uji hipotesis dua sisi
(two-side atau two-tailed test).

3.10 Analisis

Setelah dilakukan pengukuran terhadap responden


yaitu anggota Sathar 15 Depohar 10 Lanud Husein
Sastranegara maka akan diketahui bagaimana
beban kerja yang ada dibandingkan dengan
ketentuan yang telah ditetapkan oleh metode
NASA-TLX. Kemudian dari hasil analisis dapat
diketahui bagaimana langkah kita selanjutnya
untuk memberikan rekomendasi berdasarkan hasil
perhitungan dari responden.

3.11 Kesimpulan dan Saran

Tahap terakhir dari penelitian ini adalah


kesimpulan dari seluruh kegiatan penelitian dan
seluruh hasil dari pengolahan data. Diharapkan dari
hasil penelitian ini dapat menjawab tujuan dari
penelitian.

17