Anda di halaman 1dari 12

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI


LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI
FORMULASI SEDIAAN STERIL
SEMESTER VI - 2019

Zat aktif : Atropine Sulfate


Sediaan : Tetes Mata
Jumlah Sediaan : 10 mL/botol
Metode Pembuatan : Aseptis

1. FORMULA
R/ Atropine Sulfate 1%
Sodium Chloride 0,9 % 0,7 %
Benzalkonium Chloride 0,02 %
Disodium edetas 0,05 %
Aqua Pro Injeksi ad 10 mL

2. KEGUNAAN ZAT DALAM FORMULA


Tabel 2.1 Kegunaan Zat dalam Formula
Zat Kegunaan
Atropine Sulfate Zat aktif
Sodium Chloride 0,9 % Pengisotonis
Benzalkonium Chloride Pengawet
Disodium Edetas Pengkhelat
Aqua Pro Injeksi Pembawa

3. ALASAN PEMILIHAN FORMULA


3.1 Atropine Sulfate
Dalam formula ini Atropine Sulfate berfungsi sebagai zat aktif yang
berkhasiat untuk memperbesar pupil mata dan melemaskan otot-otot mata.

1
2

3.2 Disodium Edetas


Dalam formula ini Disodium Edetas berfungsi sebagai zat
pengkhelat untuk mengikat ion-ion logam yang berasal dari wadah gelas
yang digunakan, terutama pada saat proses pembuatan, logam terrsebut
memungkinkan terjadi reaksi katalis hidrolisis zat aktif menjadi tidak stabil.
3.3 Sodium Chloride 0,9 %
Dalam formula ini Sodium Chloride 0,9 % berfungsi sebagai
pengisotonis karena tonisitas larutan bersifat hipotonis sehingga diperlukan
penambahan Sodium Chloride 0,9 % agar larutan bersifat isotonis.
3.4 Benzalkonium Chloride
Dalam formula ini Benzalkonium Chloride berfungsi sebagai
pengawet untuk menghidarkan pertumbuhan atau membunuh
mikroorganisme yang mengkontaminasi sediaan.
3.5 Aqua Pro Injeksi
Dalam formula ini Aqua Pro Injeksi berfungsi sebagai pelarut
dalam sediaan tetes mata.

4. MONOGRAFI
4.1 Zat Aktif

Gambar 4.1. Struktur Kimia Acidum Folicum


Nama Zat : Atropine Sulfate
Berat Molekul : 695
Pemerian : Putih atau hampir putih, bubuk kristal atau
kristal tidak berwarna.
Kelarutan : Sangat larut dalam air, bebas larut dalam
etanol 96%.
pH : 4.5 – 6.2
Titik lebur : 116oC
3

(British Pharmacopoeia. Volume 1 & 2. 2009)


4.2 Zat tambahan
4.2.1 Sodium Chloride
Rumus Molekul : NaCl
Bobot Molekul : 58,44
Pemerian : Serbuk kristal putih atau berbentuk
kristal tidak berwarna, memiliki rasa
asin. Kisi kristalnya adalah struktur
berpusat muka kubik. Sodium
Chloride padat tidak akan mengalami
kristalisasi meskipun dibawah 0°C,
mungkin akan mengkristal apabila
dalam bentuk dihidrat.
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam
2,7 bagian air mendidih dan dalam
lebih kurang 10 bagian gliserol P,
sukar larut dalam etanol (95%) P.
pH : 6,7-7,3.
Titik Didih : 1465° C
Stabilitas : Larutan Sodium Chloride berair
stabil namun dapat menyebabkan
pemisahan partikel kaca dari
beberapa jenis wadah kaca. Larutan
berair dapat disterilkan dengan
autoklaf atau filtrasi. Bahan padat
stabil dan harus disimpan dalam
wadah tertutup rapat, di tempat yang
sejuk dan kering. Telah ditunjukkan
bahwa karakteristik pemadatan dan
sifat mekanik tablet dipengaruhi oleh
relatif kelembaban kondisi
penyimpanan dimana Sodium
Chloride disimpan.
Penyimpanan : Disimpan ditempat tertutup dan
kering.
4

(Handbook of Pharmaceutical Excipients


Edisi V: Hal. 673)
4.2.2 Disodium Edetas
Bobot Molekul : 372,2
Pemerian : Kristal putih, tidak berbau, sedikit
asam.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam kloroform
dan eter, sedikit larut dalam etanol
(95%), larut dalam 1:11 bagian air.
Titik Leleh : 252ºC
pH : 4,3 – 4,7
OTT : Dinatrium edetas bersifat asam
lemah, menggusur karbon dioksida
dari karbonat dan bereaksi dengan
logam membentuk hidrogen, agen
pengoksidasi, basa kuat, ion logam,
dan logam campuran.
(Handbook of Pharmaceutical Excipients
Edisi VI: Hal. 242-244)

4.2.3 Benzalkoniun Chloride


Rumus Molekul : [C6H5CH2N(CH3)2R]C1
Pemerian : Gel kental atau potongan seperti
gelatin putih atau kekuningan.
Biasanya berbau aromatik lemah.
Larutan dalam air berasa pahit, jika
dikocok sangat berbusa dan biasanya
sedikit alkali.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan
dalam etanol; bentuk anhidrat mudah
larut dalam benzen dan agak sukar
larut dalam eter.
Titik Lebur : 40oC
(Farmakope Indonesia Edisi IV, 1995: Hal 158)
4.2.4 Aqua Pro Injeksi
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak
berbau.
5

Penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal, botol


kaca atau plastik, tidak lebih besar
dari 1 liter.
(Farmakope Indonesia Edisi V, 2014: Hal 64)

5. PERHITUNGAN
5.1 Perhitungan Konsentrasi Zat
Tabel 5.1 Perhitugan Konsentrasi Zat
Zat Perhitungan Konsentrasi C ΔTB atau E

Atropine Sulfate = 1 gram/ 100 mL 1% 0,07

Benzalkonium
= 0,02 gram/ 100 mL 0,02% 0,09
Chloride

Disodium Edetas = 0,05 gram/ 100 mL 0,05% 0,13

5.2 Perhitungan Tonisitas


Tabel 5.2 Perhitungan Tonisitas
Perhitungan Tonisitas
Zat
a = ΔTB x C
Atropine Sulfate 0,07 x 1 = 0,07
Benzalkonium Chloride 0,09 x 0,02 = 0,018
Disodium Edetas 0,17 x 0,05 = 0,065
a total 0,0783

W = = 0,766 gram/ 100 mL

Isotonis = 0,9 – 0,766 = 0,134 gram/ 100 mL


Hipotonis = 0,9 – 0,134 = 0,766 gram/100 mL = 76,6 mg/10 mL
5.3 Perhitungan Vial
Vial = (n x c) + 2 mL
= (1 x 10,5) + 2 mL
= 12,5 mL
= 13 mL

6. PENIMBANGAN
Tabel 6.1 Penimbangan Bahan
6

Jumlah per Jumlah yang diperlukan untuk 1 batch


Nama Bahan Baku
1 unit (13 mL)

Atropine Sulfate 100 mg


Sodium Chloride
0,9% 76,7 mg
Benzalkonium
Chlorid 0,002 mL

Disodium Edetas 5 mL
Aqua Pro Injection ad 10 mL ad 13 mL

7. PROSEDUR
7.1 Prosedur Kerja
Pada pembuatan sediaan tetes mata dengan zat aktif Atropine
Sulfate, pertama disiapkan Laminar Air Flow (LAF), alat dan bahan. Semua
perlakuan dilakukan di dalam LAF. Atropine Sulfate dilarutkan dalam 2 mL
Aqua Pro Injection dan Sodium Chloride 0,1 N dilarutkan dalam 2 mL Aqua
pro injection. Larutan Atropine Sulfate dan larutan Sodium Chloride 0.1 N
dicampur. Selanjutnya ditambahkan larutan Benzalkonium Chlorid ke dalam
campuran sebelumnya, dikocok ad homogen dan ditambahkan dengan
larutan Disodium Edetas, dikocok ad homogen. Campuran larutan tersebut
ditambahkan Aqua Pro Injection ad 13 mL, dikocok ad homogen.
Kemudian di cek pH ad 3,5-6. Setelah itu dimasukkan ke dalam vial 10 mL
menggunakan spuit dan bakteri filter. Sediaan siap dikemas.

7.2 Prosedur Evaluasi


7.2.1 Uji Kejernihan
Wadah kemasan akhir diperiksa satu persatu dengan
menyinari wadah dari samping dengan latar belakang hitam untuk
menyelidiki pengotor berwarna putih dan latar belakang putih
untuk menyelidiki pengotor berwarna (Lachman, dkk. 1994).
7.2.2 Uji Penampilan Fisik Wadah
Pemeriksaan dilakukan secara visual dengan diperhatikan
bentuk wadah yang digunakan pada sediaan yang sudah jadi
(Lachman, dkk. 1994).
7

7.2.3 Uji Keseragaman Volume


Sediaan diletakkan pada permukaan yang rata secara
sejajar lalu dilihat keseragaman volume secara visual (Lachman,
dkk. 1994).

8. DATA PENGAMATAN
Tabel 8.1 Hasil Evaluasi Sediaan
Jenis Evaluasi Penilaian
Kejernihan Jernih
Penampilan fisik wadah Baik
Jumlah sediaan 1 vial
Volume 10 mL

9. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan steril obat tetes mata menggunakan
zat aktif Atropine Sulfate dengan konsentrasi 1% dan volume sediaan 10 mL.
Tetes mata Atropine Sulfate ini biasa digunakan untuk memperbesar pupil mata
dan melemaskan otot-otot mata.
Pembuatan sediaan obat tetes mata Atropin Sulfat dibuat dengan
menggunakan pelarut Aqua Pro Injeksi. Menurut Farmakope Indonesia, Atropine
Sulfate sangat mudah larut dalam air, sehingga pembuatannya juga lebih stabil
dengan pelarut tersebut. Pembawa air yang digunakan pun Aqua Pro Injeksi. Pada
formulasinya, ditambahkan zat tambahan Sodium Chlorid, yang berfungsi sebagai
pengisotonis sediaan tersebut. Setelah dilakukan perhitungan tonisitas, obat tetes
mata tidak memenuhi persyaratan yaitu hipotonis, maka perlu ditambahkan
Sodium Chlorid. Syarat sediaan tetes mata adalah isotonis dan isohidris. Isotonis
adalah tekanan yang dihasilkan sediaan tersebut sama dengan tekanan dalam
cairan tubuh. Sedangkan isohidris adalah kondisi suatu larutan zat yang pH nya
sesuai dengan pH fisiologis tubuh sekitar 7,4.
Pada proses pembuatan sediaan ini, pertama Atropine Sulfate dan Sodium
Chlorid masing-masing dilarutkan terlebih dahulu ke dalam 2 mL Aqua Pro
Injeksi dan keduanya dicampur. Setelah itu ditambahkan larutan Benzalkonium
Chlorid ke dalam campuran larutan sebelumnya. Benzalkonium Chlorid
8

digunakan sebagai pengawet. Karena sediaan tetes mata dipakai berulang kali dan
rentan terkontaminasi oleh mikroba, sehingga perlu ditambahkan pengawet untuk
menjaga stabilitas sediaan tersebut. Pengawet yang sesuai untuk sediaan tetes
mata hendaknya memiliki sifat bakteriostatik dan fungistatik, tidak mengiritasi
terhadap mata, kompatibel dengan bahan aktif dan zat tambahan lain yang
dipakai, tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi, serta dapat
mempertahankan aktivitasnya pada kondisi normal penggunaan sediaan.
Setelah ditambahkan pengawet, kemudian ditambahkan larutan Disodium
edetas. Disodium edetas ditambahkan dalam formula ini karena zat aktif Atropine
Sulfate OTT dengan senyawa alkali, dan Benzalkonium Chlorid merupakan
senyawa alkali yang dapat mempengaruhi aktivitas dari zat aktif tersebut. Setelah
itu ditambahkan Aqua Pro Injeksi hingga 13 mL.
Pada larutan sediaan dilakukan uji pH untuk melihat kestabilan suatu
sediaan tersebut, karena menurut Formularium Nasional Indonesia, sediaan tetes
mata Atropine Sulfate ini stabil dalam rentang pH 3,5-6 dan sediaan tetes mata
Atropin Sulfate ini telah memenuhi syarat yakni memiliki pH 4.
Dalam pembuatan sediaan tetes mata perlu dilakukan penyaringan dengan
menggunakan kertas saring yang bertujuan untuk menyaring partikel-partikel
yang berukuran besar sehingga pada saat disaring dengan bakteri filter tidak akan
terjadi penyumbatan. Setelah disaring dengan kertas saring selanjutnya disaring
dengan menggunakan bakteri filter berukuran 0.45 µm. Penyaringan ini berfungsi
untuk menyaring partikel-partikel yang tidak bisa tersaring oleh kertas saring dan
juga untuk menyaring mikroba yang mungkin terdapat pada larutan yang terbawa
dari udara ataupun dari alat-alat yang digunakan. Larutan yang telah disaring
kemudian dimasukkan ke dalam wadah tetes mata sebanyak 10 mL. Seluruh
proses pengerjaan dilakukan menggunakan metode sterilisasi secara aseptis di
Laminar Air Flow (LAF) yang bertujuan agar proses pengerjaan ini benar-benar
steril dan sediaan yang dibuat dapat terhindar dari adanya pirogen. LAF ini
merupakan alat yang memiliki pola pengaturan dan penyaring aliran udara secara
kontinyu melewati tempat kerja, sehingga tempat kerja tersebut bebas dari debu
dan spora-spora yang mungkin jatuh ke dalam sediaan. Selain aliran tersebut,
9

LAF memiliki sinar UV yang berfungsi untuk mensterilkan udara dengan


membunuh bakteri melalui mutasi gen.
Setelah sediaan selesai dibuat, dilakukan evaluasi sediaan yaitu evaluasi
kejernihan dan uji penampilan fisik wadah. Berdasarkan hasil evaluasi kejernihan
didapatkan hasil bahwa sediaan menunjukkan kejernihan yang sangat baik, artinya
tidak ada partikel-partikel di dalamnya. Uji penampilan fisik wadah sediaan tetes
mata juga cukup baik, dikarenakan wadah tersebut keadaannya baik secara fisik
dan tidak terdapat kebocoran.

10. KESIMPULAN
Sediaan steril tetes mata Atropine Sulfate yang telah dibuat dengan teknik
sterilisasi aseptis menggunakan Laminar Air Flow (LAF) dinyatakan cukup baik.
Hal ini didasarkan atas hasil pengujian evaluasi yaitu uji kejernihan dan
penampilan fisik wadah.

DAFTAR PUSTAKA

British Pharmacopoeia. 2009. British Pharmacopoeia. Volume 1 & 2. London:


The British Pharmacopoeia Commission.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi 4.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia Edisi 5.


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
10

Lachman dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta: UI Press.
Priyambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Yogayakarta : Global
Pustaka Utama.

Raymond C Rowe, dkk. 2009. Handbook of Pharmaceutical Exipien Sixtth


Edition. London: Pharmaceutical Press.

Raymond C Rowe, dkk. 2009. Handbook of Pharmaceutical Exipien Fifth


Edition. London: Pharmaceutical Press.

11. LAMPIRAN
11.1 Kemasan Primer
11

11.2 Kemasan Sekunder

11.3 Brosur
12

11.4 Label