Anda di halaman 1dari 41

CBD

SEORANG ANAK LAKI-LAKI 7 BULAN DENGAN


BRONKOPNEUMONIA, DOWN SYNDROME DAN STATUS GIZI BAIK
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Di RSUD Sunan Kalijaga Demak

Disusun oleh:
Hevatika Farma Mulianto
01.210.6181

Pembimbing:
dr. Budi Nur Cahyani, Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2015
HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Hevatika Farma Mulianto


NIM : 01.210.6181
Fakultas : Kedokteran
Universitas : Universitas Islam Sultan Agung ( UNISSULA )
Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian : Ilmu Kesehatan Anak
Judul : Seorang Anak Laki-Laki 7 Bulan dengan Bronkopneumonia,
Down Syndrome dan Status Gizi Baik

Demak, September 2015


Mengetahui dan Menyetujui
Pembimbing Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Sunan Kalijaga Kab. Demak

Pembimbing,

dr. Budi Nur Cahyani, Sp. A


PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH


Pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah di berbagai negara
terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, dan merupakan penyebab
kematian utama pada balita. Hasil penelitian yang dilakukan Departemen
Kesehatan mendapatkan pneumonia penyebab kejadian dan kematian tertinggi
pada balita. Berbagai mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, antara lain
virus dan bakteri. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko untuk
terjadinya dan beratnya pneumonia antara lain adalah defek anatomi bawaan,
defisit imunologi, polusi, GE, aspirasi, dlL
Pneumonia adalah infeksi akut perenkim paru yang meliputi alveolus dan
jaringan interstitiil, yang ditandai oleh demam, batuk, sesak (peningkatan
frekuensi pernafasan), nafas cuping hidung, retraksi dinding dada dan kadang-
kadang sianosis. Pneumococcus merupakan penyebab utama pneumonia.
Pneumococcus dengan serotipe 1 sampai 8 menyebabkan pneumonia pada orang
dewasa lebih dari 80%, sedangkan pada anak ditemukan tipe 14, 1, 6 dan 9.
Angka kejadian tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 4 tahun dan megurang
dengan meningkatnya umur. Pneumonia lobaris hampir selalu disebabkan oleh
pneumococus, ditemukan pada orang dewasa dan anak besar, sedangkan
bronkopneumonia lebih sering dijumpai pada anak kecil dan bayi.
Pneumonia sendiri dapat dibagi menjadi pneumonia kongenital dan
aquired. Pneumonia kongenital terjadi akibat infeksi intrauterin akibat inhalasi
liquor amnion yang septik. Gejala waktu lahir menyerupai asfiksia neonatorum,
penyakit membran hialin atau perdarahan intrakranial. Kelainan ini sulit
didiagnosis dengan tepat. Penting sekali untuk mengetahui peristiwa yang terjadi
pada saat kehamilan dan kelahiran yaitu, apakah ada kemungkinan terjadinya
infeksi. Gejala yang mungkin ditemukan ialah apnue neonatal atau gejala seperti
penyakit membran hialin. Diagnosis ditegakan setelah pemeriksaan radiologis
thorak. Pneumonia kongenital harus dicurigai bila terdapat ketuban pecah lama,
air ketuban keruh, bau, dan bila terdapat kesulitan pernafasan pada saat bayi lahir.
Tanda klinis pada pemeriksaan paru, misalnya ronki tidak selamanya ada.

Bronchopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran napas bagian


atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39 – 400 C
dan mungkin disertai kejang demam yang tinggi. Anak megalami kegelisahan,
kecemasan, dispnoe pernapasan. Kerusakan pernapasan diwujudkan dalam bentuk
napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung, retraksi pada daerah
supraclavikular, ruang-ruang intercostal, sianosis sekitar mulut dan hidung,
kadang-kadang disertai muntah dan diare. Pada awalnya batuk jarang ditemukan
tetapi dapat dijumpai pada perjalanan penyakit lebih lanjut, mula-mula batuk
kering kemudian menjadi produktif.

Pada bronkopneumonia, pemeriksaan fisik tergantung dari pada luas


daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada
auskultasi mungkin terdengar ronki basah nyaring halus – sedang. Bila sarang
bronkopneumonia menjadi satu (konfluens), mungkin pada perkusi terdengar
keredupan dan suara pernapasan pada auskultasi terdengar mengeras. Pada
stadium resolusi, ronki terengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya penyembuhan
dapat terjadi sesudah 2 – 3 minggu.
BAB I
STATUS PASIEN

IDENTITAS PENDERITA
I. Nama penderita : An. H
Umur/tgl lahir : 7 bulan
Jenis kelamin : Laki-Laki
No.CM :
Alamat : Bakalrejo

II. Nama ayah : Tn. AW


Umur : 25 th
Pekerjaan : Satpam

III. Nama ibu : Ny. U


Umur : 22 th
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

A. DATA DASAR
1. Anamnesis ( Alloanamnesis )
Alloanamnesis dengan Ibu penderita dilakukan pada tanggal 26
Agustus 2015 di bangsal Dahlia dan didukung dengan catatan medis.
Keluhan Utama : Sesak nafas
Keluhan Tambahan : Demam, batuk, pilek

Riwayat Penyakit Sekarang :


Sebelum Masuk RS
2 hari pasien demam. Demam terus menerus naik turun, tidak
kejang, tidak menggigil. Demam turun saat diberi obat penurun panas,
namun beberapa jam kemudian demam naik lagi. Ibu pasien mengaku
bahwa pasien juga batuk dan didapatkan suara grok-grok dan pilek.
Batuk berdarah dan berkeringat dimalam hari disangkal oleh ibu
pasien. Riwayat kontak dengan orang yang batuk lama, penderita TB
paru atau yang sedang melakukan pengobatan 6 bulan dalam waktu
dekat ini disangkal. Anak tidak muntah. Riwayat anak terpapar oleh
asap rokok, debu dan udara dingin disangkal. BAB dan BAK lancar.
1 hari batuk semakin sering, anak menjadi rewel dan susah tidur.
Timbul sesak nafas yang bertambah parah, pasien masih demam naik
turun, batuk grok-grok, gelisah dan rewel. Ibu mengaku saat itu tidak
terdengar adanya suara “ngik-ngik” dan tidak didapatkan kebiruan
pada wajah dan ekstremitas. Pasien akhirnya dibawa ke RSUD Sunan
Kalijaga oleh orangtuanya, dan setelah di periksa oleh dokter di IGD
pasien disarankan untuk mondok.
Setelah Masuk RS
1 hari setelah masuk rumah sakit, demam sudah turun, pilek dan
batuk masih terdengar grok-grok. Masih terlihat sesak tapi sudah
berkurang, pernafasan cepat dan dangkal, kebiruan pada wajah dan
ekstremitas tidak ada.
Riwayat Penyakit Dahulu :
 Riwayat pernah sakit panas, batuk, pilek 1 bulan yang lalu

Riwayat Penyakit Keluarga :


 Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti ini
sebelumnya yaitu sesak, demam, batuk,dan pilek.

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien tinggal bersama bapak dan ibu. Bapak bekerja sebagai satpam
sedangkan ibu sebagai ibu rumah tangga. Pengobatan ditanggung oleh
Jamkesmas.
Kesan ekonomi : Kurang
Riwayat Persalinan dan Kehamilan :
Anak Laki - Laki lahir dari ibu G1 P1 A0 hamil 37 minggu, lahir
secara Spontan, anak lahir langsung menangis, berat badan lahir 3300
gram, panjang badan ibu lupa, lingkar kepala saat lahir ibu lupa dan
lingkar dada saat lahir ibu lupa.
Riwayat Pemeliharaan Postnatal :
Pemeliharaan postnatal dilakukan di rumah dan anak dalam keadaan
sehat.
Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan Anak
Pertumbuhan :
Berat badan lahir 3300 gram, panjang badan lahir lupa, berat badan
sekarang 5,5 kg, panjang badan sekarang 60 cm.
Perkembangan :
i. tersenyum spontan ibu lupa
ii. tengkurap dan angkat kepala ibu lupa
iii. duduk belum bisa
Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan umur.

Riwayat Makan dan Minum Anak :


i. 0 – 5 bulan :
- ASI ekslusif,
ii. 5 - 6 bulan :
- ASI semau anak,
- Susu formula SGM 1 dengan frekuensi 2-4x sehari
(diberikan 3 sendok takar dengan air 90 cc) habis
diminum (1 sendok takar SGM 1 = 30 cc),
Kualitas kurang baik

Kuantitas baik
Riwayat Imunisasi :
BCG : 1x umur ibu lupa
DPT : frekuensi dan umur ibu lupa
Polio : frekuensi dan umur ibu lupa
Hepatitis B : frekuensi dan umur ibu lupa
Kesan :Imunisasi dasar belum lengkap berdasarkan
informasi dari ibu pasien tanpa disertai bukti KMS.
Riwayat Keluarga Berencana :
Ibu penderita menggunakan KB suntik

2. Pemeriksaan Fisik
Tanggal 26 Agustus 2015
Anak Laki-laki, berat badan 5,5 kg, panjang badan 60 cm
Kesan umum : Sadar, sesak nafas, lemas dan rewel.
Tanda vital
Nadi : 138 x / menit, isi dan tegangan cukup
Laju nafas : 42 x / menit
Suhu : 38,4° C ( axilla )
Pemeriksaan Khusus
Data Antropometri :
Anak laki-laki, usia 7 bulan
Berat badan : 5,5 kg
Panjang badan : 60 cm
Pemeriksaan status gizi ( Z score ) :
WAZ

HAZ
WHZ

Kesan : Berat badan normal, Tinggi badan pendek, Status gizi kurang

Status Internus
 Kepala : Microsefal (38cm), UUB datar, daerah oksipital
mendatar (+)
 Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut.
 Kulit : Tidak Sianosis, Ptechie (-)
 Mata : Oedem Palpebra (-/-) Konjungtiva Anemis (-/-)
Sklera Ikterik (-/-) mata cowong (-/-) , jarak epikantus melebar,
sudut mata miring ke atas lateral (+)
 Hidung : Epistaksis (-), Nafas Cuping Hidung ( -/-), Secret
(-)
 Telinga : Discharge ( -), low set ear (+/+)
 Mulut : Gusi Berdarah (-), Bibir Kering (-), Bibir Pucat (-),
Lidah Kotor (-), makroglosi (+)
 Leher : Simetris, Tidak Ada Pembesaran Kelenjar Limfe,
pendek
 Tenggorok : Faring Hiperemis (+)
 Dinding thorax :
 Paru - Paru
 Inspeksi : simetris dalam keadaan statis maupun
dinamis, retraksi suprasternal dan epigastrial (-),
intercostalis (-).
 Statis : Hemithorax dextra dan sinistra simetris
 Dinamis : Hemithorax dextra dan sinistra simetris
 Palpasi : stem fremitus dextra sama dengan sinistra
 Perkusi : Sonor di seluruh lapangan paru
 Auskultasi :
 Suara dasar : Vesikuler (+/+)
 Suara tambahan : Ronkhi basah halus nyaring (+/+),
Wheezing (-/-)
Kesan : terdengar suara ronkhi basah halus di seluruh lapang
paru.
 Jantung
 Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : ictus cordis teraba di sela iga V. linea
midclavicula sinistra, kuat angkat, teraba
 Perkusi : Redup
 Batas atas : ICS II linea parasternalis
sinistra
 Batas pinggang : ICS III linea parasternal
sinistra
 Batas kanan bawah : ICS IV linea sternalis dextra
 Batas kiri bawah : ICS V 2 cm medial linea
mid clavicula sinistra
 Auskultasi : suara jantung I dan II normal, gallop (-),
bising (-)
Kesan : konfigurasi jantung dalam batas normal

 Abdomen
 Inspeksi : Datar, simetris
 Auskultasi : Peristaltik (+) normal
 Perkusi : Timpani(+), pekak alih(-), pekak sisi(-)
 Palpasi : Supel, nyeri tekan epigastrium (-), defance
muskular (-), tugor normal, Hepar dan Lien tidak teraba
 Alat kelamin : Laki-laki, tidak ada kelainan
 Anorektal : Dalam batas normal
 Ekstremitas : Superior Inferior
Akral dingin -/- -/-
Akral sianosis -/- -/-
Oedem -/- -/-
Pelebaran vena -/- -/-
Capillary refill < 2” < 2”
 Kulit : Turgor kembali cepat
3. Pemeriksaan Penunjang
 Darah Rutin (25 Agustus 2015)
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 10,7 gr/dl 11,1-14,1 gr/dl
Hematokrit 32,4 % 31 – 41 %
Lekosit 38.670 6000 – 17.500 /ul
Trombosit 441.000 150 – 450 x 103/ul

Kesan : Leukositosis
Kesan: Curiga gambaran edem pulmonum
Curiga efusi pleura dupleks
DIAGNOSA BANDING
- Bronkopneumonia
- Bronkiolitis
- Asma
- Gizi Kurang
- Down Syndrome
DIAGNOSA KERJA
- Bronkopneumonia
- Gizi Kurang
- Down Syndrome
PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam
EDUKASI
 Jika anak demam, segera beri obat penurun panas dan kompres, jika
demam tidak turun segera bawa anak ke pelayanan kesehatan terdekat.
 Jika anak mengalami sesak napas segera dibawa ke pelayanan
kesehatan terdekat.
 Hati-hati dalam memberikan makanan dan minuman kepada anak.
Jangan terburu-buru, jangan sambil berbaring untuk menghindari agar
tidak tersedak.
 Hindarkan anak dari orang yang sedang batuk dan juga perokok.
Waktu/ Hari ke 1Hari ke 2 perawatan Hari ke 3 perawatan
Tanggal perawatan
26/8/2015 27/8/2015 28/8/2015
Keluhan Sesak (+) <, batuk Sesak (+) <, batuk Sesak (-), batuk (+)<,
(+), pilek (-), (+), pilek (-), demam pilek (-), demam (-)
Demam (-) (-)
Keadaan Sadar, sesak <, Sadar, sesak<<, Sadar, sesak<<,
Umum lemas rewel, lemas lemas
TTV:
Nadi 138x/menit 120x/menit 110x/menit
RR 36 x/menit 34 x/menit 32 x/menit
Suhu 37,5 0C 36,0 0C 36,6 0C
PF - Hidung : nafas - Hidung : nafas - Hidung : nafas
cuping hidung (- cuping hidung (-/-), cuping hidung (-/-),
/-), sekret (-/-). sekret (+/+) sekret (+/+)
- Thorax : retraksi - Thorax : retraksi (- - Thorax : retraksi (-);
(-); suprasternal, ); suprasternal, suprasternal,
intercostal, intercostal, intercostal,
epigastrial, rh epigastrial, rh (-/-), epigastrial,rh (+/+),
(+/+), wh (-/-). wh (-/-). wh (-/-).
- Akral Dingin :(-) - Akral Dingin : (-) - Akral Dingin : (-)
Hb:13,0 gr/dl
Laborato Ht :39 %
rium Leukosit: - Fisioterapi
Darah 9.100/mm5 Nebul 3x
Trombosit: Sucion (+)
369.000/mm5
RO : curiga
gambaran edem
pulmonum
curiga efusi
pleura dupleks
Asses: Bronkhopneumon Bronkhopneumonia Bronkhopneumonia
ia
Terapi Inj. Ampisilin Inj. Ampisilin
sulbactam 2 x300 sulbactam 2 x300
Inj. Inj. Dexametasone
Dexametasone 3x1/3 A
3x1/3 A Inj. Sanmol 4 x 60
Inj. Sanmol 4 x mg
60 mg Nebulizer 3x1
Nebulizer 3x1 Ventolin ½
Ventolin ½ Fulmicort ½
Fulmicort ½ Nacl 0,9 % 3cc
Nacl 0,9 % 3cc

Program Evaluasi KU dan Evaluasi KU dan Boleh pulang


TTV TTV Kontrol + fisioterapi
Fisioterapi PD+IR
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

BRONCHOPNEUMONIA
Bronchopneumonia merupakan salah satu bagian dari penyakit
Pneumonia. Bronchopneumonia adalah suatu infeksi saluran pernafasan
akut bagian bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronkus /
bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak yang disebabkan
oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda
asing.
FAKTOR RESIKO
Terdapat beberapa factor resiko yang menyebabkan tingginya angka
mortalitas pada anak balita di Negara berkembang. Factor resiko tersebut
asalah: pneumoni yang terjadi masa bayi, berat badan lahir rendah (BBLR),
tidak mendapat imunisasi, tidak mendapat ASI yang adekuat, malnutrisi,
defisiensi vitamin A, tingginya prevalens kolonisasi bakteri pathogen di
nasofaring, dan tingginya pajanan terhadap polusi udara (polusi industri atau
asap rokok)
ETIOLOGI
Berbagai bentuk klinis pneumonia sering kali di klasifikasikan
berdasarkan pembagian serta penyebaran anatomis dan etiologinya.
1. Berdasarkan anatominya pneumonia di bagi atas :
a. Pneumonia Lobaris
b. Pneumonia Lobularis (Bronchopneumonia)
c. Pneuminia Interstitialis (Bronkiolitis)
2. Berdasarkan etiologinya dibagi atas :
a. Bakteri : Diplococcus pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus
hemolyticus, Streptococcus aureus, Hemophilus influenza, Bacillus
friedlander, Mycobacterium tuberculosis
b. Virus : Respiratory syncytial virus, Virus influenza, adenovirus, Virus
sitomegalik
Virus penyebab pneumonia yang paling lazim adalah virus
respiratori sinsitial, virus para influenza, virus influenza, virus adeno,
virus cytomegalo virus. virus respiratori sinsitial yang paling sering
menyebabkan pneumonia terutama pada bayi. Pneumonia virus paling
sering terjadi pada bulan-bulan musim dingin. Angka serangan puncak
untuk pneumonia virus adalah 2-3 tahun dan menurun untuk sesudahnya.
c. Jamur : Histoplasma capsulatum, Cryptococcus neoformis,
Blastomyces dermalitides, Coccidiodes limmitis, Aspergylus
species, Candida albicans.
d. Aspirasi : Makanan, kerosene (bensin, minyak tanah), cairan amnion,
benda asing.
e. Pneumonia hipostatik
Disebabkan oleh tidur terlentang terlalu lama, misalnya pada anak
yang sakit dengan kesadaran menurun, penyakit lain yang harus istirahat di
tempat tidur yang lama sehingga terjadi kongesti pada paru belakang
bawah. Kuman yang tadinya komensal berkembang biak menjadi patogen
dan menimbulkan radang. Oleh karena itu pada anak yang menderita
penyakit dan memerlukan istirahat panjang seperti tifoid harus diubah –
ubah posisi tidurnya.
f. Sindrom Loeffler (Etiologi oleh larva A. Lumbricoedes.)
Secara klinis biasa, berbagai etiologi ini sukar dibedakan. Untuk
pengobatan tepat, pengetahuan tentang penyebab pneumonia perlu sekali,
sehingga pembagian etiologis lebih rasional dari pada pembagian anatomis.
Pneumokokus merupakan penyebab utama pneumonia.
Pneumokokus dengan serotipe 1 sampai 8 menyebabkan pneumonia pada
orang dewasa lebih dari 80 % sedangkan pada anak ditemukan tipe 14, 1, 6
dan 9.5
Angka kejadian tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 4 tahun
dan berkurang dengan meningkatnya umur. 4
Usia Etiologi yang sering Etiologi yang jarang
Bakteri Bakteri

E. colli Bakteri Anaerob

Streptococcus Grup B Streptococcus Grup D

Lahir sampai 20 hari Listeria monocytogenes Haemophillus influenza

Streptococcus pneumonia

Ureaplasma Urealyticum

Virus

Virus cytomegalo

Virus Herpes Simplex

Bakteri Bakteri

ChlamydiaTrachomatis Bordetella pertussis

Streptococcus pneumonia Haemophillus influenza


tipe B

Virus Moraxella catarrhalis


3 minggu sampai 3
bulan Virus Adeno Staphylococcus Aureus

Virus Influenza Ureaplasma Urealyticum

Virus Parainfluenza 1,2,3 Virus

Respiratory Syncytial Virus Virus cytomegalo

Bakteri Bakteri

Chlamydia pneumonia Haemophillus influenza


Mycoplasma pneumonia Moraxella catarrhalis

Streptococcus pneumonia Neisseria meningitidis

4 bulan sampai 5 tahun Virus Staphylococcus Aureus

Virus Adeno Virus

Virus Influenza Virus Varicella zoster

Virus Parainfluenza 1,2,3

Respiratory Syncytial Virus

Virus Rhino

Bakteri Bakteri

Chlamydia pneumonia Haemophillus influenza

Streptococcus pneumonia Legionella sp

Mycoplasma pneumonia Staphylococcus Aureus

Virus

5 tahun sampai remaja Virus Adeno

Virus Epstein-barr

Virus Influenza

Virus Parainfluenza

Virus Rhino

Respiratory Syncytial
Virus
PATOGENESIS
Mikroorganisme masuk ke dalam paru melalui jalan nafas secara percikan
(droplet), proses radang pneumonia dapat dibagi atas 4 stadium, yaitu 7:
1. Stadium kongesti (4-12 jam pertama)
Kapiler melebar dan kongesti serta di dalam alveolus terdapat eksudat
jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa neutrofil dan makrofag.
2. Stadium hepatisasi merah (48 jam berikutnya)
Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak mengandung
udara, warna menjadi merah. Dalam alveolus didapatkan fibrin, leukosit
netrofil, eksudat dan banyak sekali eritrosit dan kuman. Stadium ini
berlangsung sangat pendek.
3. Stadium hepatisasi kelabu (3-8 hari)
Lobus masih tetap padat dan warna merah menjadi pucat kelabu.
Permukaan pleura suram karena diliputi oleh fibrin. Alveolus terisi fibrin
dan leukosit, tempat terjadi fagositosis pneumokokus. Kapiler tidak lagi
kongestif.
4. Stadium resolusi (8-11 hari)
Eksudat berkurang. Dalam alveolus makrofag bertambah dan leukosit
mengalami nekrosis dan degenerasi lemak. Fibrin diresorbsi dan
menghilang. Secara patologi anatomis bronkopneumonia berbeda dari
pneumonia lobaris dalam hal lokalisasi sebagai bercak – bercak dengan
distribusi yang tidak teratur. Dengan pengobatan antibiotika urutan
stadium khas ini tidak terlihat.

GEJALA KLINIS
Bronchopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran napas
bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai
39 – 400 C dan mungkin disertai kejang demam yang tinggi. Anak megalami
kegelisahan, kecemasan, dispnoe pernapasan. Kerusakan pernapasan
diwujudkan dalam bentuk napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping
hidung, retraksi pada daerah supraclavikular, ruang-ruang intercostal,
sianosis sekitar mulut dan hidung, kadang-kadang disertai muntah dan diare.
Pada awalnya batuk jarang ditemukan tetapi dapat dijumpai pada perjalanan
penyakit lebih lanjut, mula-mula batuk kering kemudian menjadi produktif.
Pada bronkopneumonia, pemeriksaan fisik tergantung dari pada luas
daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan.
Pada auskultasi mungkin terdengar ronki basah nyaring halus – sedang.
Bila sarang bronkopneumonia menjadi satu (konfluens), mungkin
pada perkusi terdengar keredupan dan suara pernapasan pada auskultasi
terdengar mengeras. Pada stadium resolusi, ronki terengar lagi. Tanpa
pengobatan biasanya penyembuhan dapat terjadi sesudah 2 – 3 minggu.
Gejala klinik pada bronkopneumonia juga dapat dibagi berdasarkan usia
penderita.

1. Neonatus
Pneumonia pada neonatus jarang menimbulkan gejala batuk. Biasanya
gejala yang muncul adalah adanya apnea, takipnea, sianosis, retraksi pada
pernapasan, muntah, lethargi, tidak mau minum dan merintih. Merintih pada
neonatus disebabkan oleh pendekatan dari pita suara untuk mengusahakan
peningkatan tekanan positif akhir ekspirasi dan menjaga agar jalan napas
bawah tetap terbuka. Merintih menandakan adanya penyakit pada saluran
napas bagian bawah. Retraksi muncul karena usaha untuk meningkatkan
tekanan intrathoraks untuk mengkompesasi menurunnya compliance paru.
2. Bayi sampai usia 1 tahun
Merintih lebih jarang muncul, namun takipnea dan retraksi sering muncul
dan mungkin diikuti dengan batuk persisten, sumbatan, demam, iritabilitas,
nafsu makan yang menurun, demam menggigil serta gejala gastrointestinal
seperti muntah dan diare.

3. Balita usia pra sekolah


Gejala yang sering muncul adalah demam dan batuk, baik produktif ataupun
nonproduktif, takipnea, dan sumbatan. Terdapat juga muntah setelah batuk.
4. Anak dan remaja
Pada kelompok usia ini gejala yang sering muncul adalah demam, batuk,
sumbatan, nyeri dada, dehidrasi dan letargi. Dapat juga muncul gejala
ekstrapulmonal seperti nyeri perut dan muntah pada penderita pneumonia
paru lobus inferior, nuchal rigidity pada penderita pneumonia paru kanan
lobus superior.

PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda klinis seperti pekak perkusi,
suara napas melemah dan ronki . Akan tetapi, pada neonatus dan bayi kecil,
gejala dan tanda pneumonia lebih beragam dan tidak selalu jelas terlihat. Pada
perkusi dan auskultasi paru umumnya tidak ditemukan kelainan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Darah perifer lengkap

Pada pneumonia virus atau mikoplasma ditentukan leukosit dalam


batas normal atau sedikit meningkat. Akan tetapi pada pneumonia bakteri
didapatkan leukositosis yang berkisar antara 15.000 – 40.000/mm3 dengan
predominan PMN. Leukopenia menunjukkan prognosis yang buruk , yaitu
kurang dari 5000/mm3. Leukositosis hebat, yaitu lebih dari 30.000/mm3
hampir selalu menunjukkan adanya infeksi bakteri, sering ditemuakn pada
keadaan bakteriemi dan risiko terjadinya komplikasi lebih tinggi. Pada
infeksi Chlamydia pneumoniae kadang-kadang ditemukan eosinofilia.
Efusi pleura merupakan cairan eksudat dengan sel PMN berkisar antara
300 - 100.000/mm3, protein lebih dari 2,5g/dl dan glukosa relatif lebih
rendah dari glukosa darah. Kadang-kadang terdapat anemia ringan dan
LED yang meningkat. Secara umum, hasil pemeriksaan darah perifer
lengkap dan LED tidak dapat membedakan antara infeksi virus dan infeksi
bakteri secara pasti6.
2. C-Reactive Protein

C-Reactive Protein adalah suatu protein fase akut yang disintesis


oleh hepatosit, Sebagai respon inflamasi atau infeksi jaringan,produksi
CRP distimulasi secara cepat oleh sitokin terutama IL-6 dan tumor
necrosis factor. Meskipun fungsi pastinya belum diketahui CRP sangat
mungkin berperan dalam opsonisasi mikroorganisme atau sel yang
rusak.Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnostik untuk
membedakan antara faktor infeksi dan non-infeksi, infeksi virus dan
bakteri atau infeksi bakteri superfisialis dan profunda. Kadar CRP
biasanya lebih rendah pada infeksi virus dan bakteri superfisialis daripada
bakteri profunda. CRP kadang-kadang digunakan untuk evaluasi respon
terhadap antibiotik. Suatu penelitian melaporkan bahwa CRP cukup
sensitif tidak hanya untuk mendiagnosis empiema torasis, tetapi juga untuk
memantau respon pengobatan. Dengan pengobatan antibiotik , kadar CRP
turun secara meyakinkan pada hari pertama pengobatan.

3. Uji Serologis

Uji serologis untuk membedakan antigen dan antibodi pada infeksi


bakteri tipik mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang rendah. Akan
tetapi infeksi Streptococcus grup A dapat dikonfirmasi dengan
peningkatan titer antibodi seperti anti-streptolisin O, sterptozim atau anti-
Dnase B. Peningkatan titer juga berarti adanya infeksi terdahulu. Untuk
konfirmasi diperlukan serum fase akut dan serum fase konvalesen.

Secara umum uji serologis tidak terlalu bermanfaat dalam


mendiagnosis infeksi bakteri tipik. Akan tetapi unutk mendeteksi bakteri
atipik seperti Mycoplasma dan Chlamidia serta beberapa virus seperti
RSV, Sitomegalo, Campak, Parainfluenza 1,2,3, Influenza A dan B dan
adeno peningkatan antibodi IgM dan IgG dapat mengkonfirmasi diagnosis.
4. Pemeriksaan Mikrobiologis

Pemeriksaan mikrobiologis untuk mendiagnosis pneumonia anak


tidak rutin dilakukan kecuali pada pneumonia berat yang dirawat di RS.
Untuk pemeriksaan mikrobiologis, spesimen dapat berasal dari usap
tenggorok, sekret nasofaring, bilasan bronkus, darah, pungsi pleura atau
aspirasi paru. Diagnosis dikatakan definitif bila kuman ditemukan dari
darah, pleura atau aspirasi paru. Kecuali pada masa neonatus, kejadian
bakteriemia sangat rendah sehingga kultur darah jarang yang positif. Pada
anak besar dan remaja spesimen untuk pemeriksaan dapat berasal dari
sputum, baik untuk pewarnaan Gram maupun untuk kultur. Spesimen yang
memenuhi syarat adalah yang mengandung lebih dari 25 leukosit dan
kurang dari 40 sel epitel/lapang pembesaran kecil. Spesimen dari
nasofaring kurang bermanfaat karena tingginya kuman yang berkolonisasi
di nasofaring.

Pemeriksaan PCR perlu dilakukan di laboratorium yang canggih,


disamping itu tidak selalu menentukan diagnosis yang pasti sehingga
jarang dilakukan6.

5. Pemeriksaan Rontgen Toraks

Foto rontgen toraks pada pneumonia ringan tidak rutin dilakukan,


hanya direkomendasikan pada pneumonia berat yang dirawat. Kelainan
foto rontgen toraks tidak selalu berhubungan dengan gambaran klinis.
Kadang-kadang bercak-bercak sudah ditemukan pada gambaran radiologis
sebelum timbul gejala klinis. Akan tetapi, resolusi inflitrat sering
memerlukan waktu yang lebih lama setelah gejala klinis menghilang. Pada
pasien dengan penumonia tanpa komplikasi ulangan foto rontgen toraks
tidak diperlukan. Ulangan foto rontgen toraks diperlukan apabila gejala
klinis menetap, penyakit memburuk atau untuk tindak lanjut.

Umumnya pemeriksaan yang diperlukan untuk mendiagnosis


pneumonia di IGD hanyalah foto rontgen toraks posisi AP. Tambahan foto
rontgen lateral tidak meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas penegakkan
diagnosis pneumonia pada anak. Foto rontgen toraks AP dan lateral hanya
dilakukan pada pasien dengan tanda dan gejala klinik distres pernapasan
seperti takipnea, batuk dan ronki, dengan atau tanpa suara napas yang
melemah.

Secara umum gambaran foto rontgen toraks sebagai berikut :

1. Infiltrat interstitial, ditandai dengan corakan bronkovaskular, peribronchial


cuffing, dan hiperaerasi

2. Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram.


Konsolidasi dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris
atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk
sferis, berbatas yang tidak terlalu tegas, dan menyerupai lesi tumor paru,
dikenal sebagai round pneumonia.

3. Bronkopneumonia ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua


paru, berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah
perifer paru disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.

Gambaran foto rontgen pada pneumonia anak meliputi infiltrat ringan pada
satu paru hingga konsolidasi luas pada kedua paru. Pada suatu penelitian
ditemukan bahwa lesi pneumonia pada anak banyak ditemukan pada paru
kanan, terutama lobus bawah, maka hal itu menjadi prediktor perjalanan
penyakit yang lebih berat dengan risiko pleuritis lebih meningkat6.
Gambar konsolidasi pada lobus inferior paru dextra

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan : Gejala klinis, Pemeriksaan fisik,
Pemeriksaan laboratorium dan gambaran radiologis.
Diagnosis etiologik berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan
atau/ serologis merupakan dasar terapi yang optimal. Akan tetapi, penemuan
bakteri penyebab tidak selalu mudah karena memerlukan laboratorium
penunjang yang memadai. Oleh karena itu, pneumonia pada anak
didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan keterlibatan
sistem respiratori serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adalah
adanya demam, sianosis, dan lebih dari satu gejala respiratori sebagai
berikut6 :
Takipnea, batuk, napas cuping hidung, retraksi, ronki dan suara napas
melemah.
Akibat tingginya angka morbiditas dan mortalitas pnemonia pada
balita,maka dalam upaya penanggulangannya WHO mengembangkan
pedoman diagnosis dan tata laksana yang sederhana. Pedoman ini terutama
ditujukan untuk pelaksana Pelayanan Kesehatan Primer, dan sebagai
pendidikan kesehatan masyarakat di negara berkembang. Tujuannya ialah
menyederhanakan kriterai diagnosis berdasarkan gejala klinis yang langsung
dapat dideteksi; menetapkan klasifikasi penyakit, dan menentukan dasar
pemakaian antibiotik. Gejala klinis sederhana tersebut dapat meliputi napas
cepat, sesak napas, dan berbagai tanda bahaya agar anak dapat ,langsung
dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan. Napas cepat dinilai dengan
menghitung frekuensi napas selama satu menit penuh ketika bayi dalam
keadaan tenang. Sesak napas dilihat dengan adanya tarikan dinding dada
bagian bawah kedalam ketika menarik napas (retraksi epigastrium). Tanda
bahaya pada anak berusia 2 bulan-5 tahun adalah tidak dapat minum,
kejang, kesadaran menurun, stridor, dan gizi buruk; tanda bahaya untuk bayi
berusia dibawah 2 bulan adalah malas minum, kejang, kesadaran menurun,
stridor,mengi dan demam atau terasa dingin.
Frekuensi pernapasan (hitung napas selama 1 menit ketika anak
tenang). Napas cepat :

 Umur < 2 bulan : > 60 kali/menit

 Umur 2-11 bulan : > 50 kali/menit

 Umur 1-5 tahun : > 40 kali/menit

 Umur > 5 tahun : > 30 kali/menit

Berikut ini adalah klasifikasi pneumonia berdasarkan gejala tersebut


:

Hubungan antara diagnosis klinis dan klasifikasi – pneumonia (MTBS)


Diagnosis ( Klinis ) Klasifikasi (MTBS)
Pneumonia berat ( Rawat jalan ): Penyakit sangat berat (
 Tanpa gejala hipoksemia Pneumonia Berat )
 Dengan gejala hipoksemia
 Dengan komplikasi
Pneumonia ringan ( rawat jalan ) Pneumonia
Infeksi respiratorik akut atas Batuk : bukan pneumonia
Bayi dan anak berusia 2 bulan – 5 tahun :
Pneumonia berat

1. Bila ada sesak napas

2. Harus dirawat dan diberikan antibiotik

Pneumonia

1. Bila tidak ada sesak napas

2. Ada napas cepat dengan laju napas :

a. >50x/menit untuk usia 2 bulan – 1 tahun


b. >40x/menit untuk anak >1 – 5 tahun
3. Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral

Bukan pneumonia

1. Bila tidak ada napas cepat dan sesak napas

2. Tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, hanya pengobatan


simptomatis seperti penurun panas.

Bayi berusia dibawah 2 bulan :

Pada bayi berusia bibawah 2 bulan, perjalanan penyakitnya lebih


bervariasi, mudah terjadi komplikasi dan sering menyebabkan kematian.

Klasifikasi pneumonia pada kelompok usia ini adalah sebagai berikut :

1. Pneumonia
 Bila ada napas cepat (>60x/menit) atau sesak napas
 Harus dirawat dan diberikan antibiotik

2. Bukan pneumonia
 Tidak ada napas cepat atau sesak napas
 Tidak perlu dirawat, cukup diberikan pengobatan simptomatis6
PENGOBATAN
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap.
Indikasi perawatan terutama berdasarkan berat ringannya penyakit,
misalnya toksis, distres pernapasan, tidak mau makan/minum atau ada
penyakit dasar yang lain, komplikasi dan terutama mempertimbangkan usia
pasien. Neonatus dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis pneumonia
harus dirawat inap.
Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal
dengan antibiotik yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif
meliputi pemberian cairan intravena, terapi oksigen dan koreksi terhadap
gangguan keseimbangan asam-basa, elektrolit dan gula darah. Untuk nyeri
dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik. Suplementasi vitamin A
tidak terbukti efektif. Penyakit penyerta harus ditanggulangi dengan
adekuat, komplikasi yang mungkin terjadi harus dipantau dan diatasi.
Penggunaan antibiotik yang tepat merupakan kunci utama
keberhasilan pengobatan. Terapi antibiotik harus segera diberikan pada anak
dengan pneumonia yang diduga disebabkan oleh bakteri.
Identifikasi dini mikroorganisme penyebab tidak dapat dilakukan
karena tidak tersedianya uji mikrobiologis cepat. Oleh karena itu,antibiotik
dipilih berdasarkan pengalaman empiris sesuai pola kuman tersering yaitu
streptococcus pneumonia dan haemophilus pneumoniae. Umumnya
pemilihan antibiotik empiris didasarkan pada kemungkinan etologi
penyebab dengan mempertimbangkan usia dan keadaan klinis pasien serta
faktor epidemiologis.
Pemberian antibiotic sesuai dengan kelompok umur:

1. Usia <3 bulan :

 Penisilin (ampisilin 50-100 mg/kgBB/hari, i.m/i.v, terbagi dalam 4


dosis) +

 Aminoglikosida (gentamisin 5-7 mg/kgBB/hari, i.m/i.v , terbagi


dalam 2 dosis)
2. Usia >3 bulan:

o Ampisilin + Kloramfenikol (50-100 mg/kgBB/hari i.v terbagi


dalam 3-4 dosis) merupakan obat pilihan utama.

o Bila keadaan pasien berat atau terdapat empiema, antibiotic pilihan


adalah golongan sefalosporin. Antibiotic parenteral diberikan
sampai 48-72 jam setelah panas turun, dilanjutkan dengan
pemberian per oral selama 7-10 hari.

o Bila diduga penyebab pneumonisnya adala S aureus, kloksasilin 50


mg/kgbb/hari i.v terbagi dalam 4 dosis dapat segera di berikan.
Bila alergi terhadap penisilin dapat diberikan cefazolin,
klindamicin atau vancomycin. Lama pengobatan untuk stafilokok
adalah 3-4 mgg.
o Dilakukan teapi bedah bila ditemukan komplikasi pneumothoraks
atau pneumomediastinum. Pemberiaan terapi suportif dapat berupa
pemberian oksigen sesuai derajat sesaknya. Tunda pemberian
nutrisi secara oral bila anak masih sesak dan mulai dengan nutrisi
parenteral. Bila terjadi atelektasis diperlukan rujukkan ke
rehabilitasi medic.

KOMPLIKASI
Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis,
perikarditis purulenta, pneumotoraks, atau infeksi ekstrapulmonar seperti
menigitis purulenta. Empiema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya
nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga
pleura. Empiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada
pneumonia bakteri.
Ilten F, dkk melaporkan mengenai komplikasi miokarditis (tekanan
sistolik ventrikel kanan meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan gagal
jantung) yang cukup tinggi pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan.
Oleh karena miokarditis merupaakn keadaan yang fatal, maka dianjurkan
untuk melakukan deteksi dengan teknik noninvasif seperti EKG,
ekokardiografi dan pemeriksaan enzim.

PROGNOSIS
Dengan pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat yang dimulai
secara dini pada perjalanan penyakit tersebut maka mortalitas selam masa
bayi dan mas kanak-kanak dapat di turunkan sampai kurang 1 % dan sesuai
dengan kenyataan ini morbiditas yang berlangsung lama juga menjadi
rendah.
Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang
terlambat menunjukkan mortalitas tang lebih tinggi.

PENCEGAHAN
a. Perbaikan sosial ekonomi: perumahan, sanitasi, nutrisi, hygienene
b. Imunisasi: terhadap infeksi lain, kadang menurunkan pula pneumonia
c. Bila ada faktor predisposisi: pengobatan dini dan adekuat, bila mungkin
menjauhkan infeksi.
d. Vaksin khusus: pneumococcus dengan vaksin 23-valent pneumococcal,
haemophillus influenza dengan vaksin konjugat h. Influenza memiliki
jadwal yang rutin diberikan pada anak-anak, atau dengan rifampin
prophylaxis untuk yang beresiko tinggi terkena.
I. SINDROM DOWN
A. PENGERTIAN
Down syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan
fisik dan mental anak oleh karena abnormalitas perkembangan
kromosom. Kromosom terbentuk akibat kegagalan sepasang
kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21 pada berkas q22 gen
SLC5A3, yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang
cukup khas.

B. ETIOLOGI
Kromosom adalah merupakan serat-serat khusus yang terdapat
didalam setiap sel didalam badan manusia dimana terdapat bahan-
bagan genetik yang menentukan sifat-sifat seseorang. Sebagai
perbandingan, bayi normal dilahirkan dengan jumlah 46 kromosom
(23 pasang) yaitu hanya sepasang kromosom 21 (2 kromosom 21).
Sedangkan bayi dengan penyakit down syndrom terjadi disebabkan
oleh kelebihan kromosom 21 dimana 3 kromosom 21 menjadikan
jumlah kesemua kromosom ialah 47 kromosom.

C. PATOFISIOLOGI
Angka kejadian sindroma down adalah 1 : 800 kelahiran. Dan usia ibu
pada saat hamil merupakan faktor resiko yang penting untuk
menentukan kemungkinan bayi lahir dengan sindroma down, yaitu :

 Usia ibu 35 tahun : 1/385


 Usia ibu 40 tahun : 1/106
 Usia ibu 45 tahun : 1/30
Adanya ekstra kromosom nomor 21 memberikan pengaruh pada
banyak sistem organ, sehingga membentuk spektrum fenotip sindroma
down yang luas, antara lain :
1. Adanya kromosom 21q 22.3 menyebabkan :
a. Keterlambatan mental
b. Gambaran wajah khas (Mongolism)
c. Anomali jari tangan
d. Kelainan jantung bawaan
2. Adanya kromosom 21q 22.1-q 22.2 menyebabkan :
a. Kelainan susunan saraf pusat (keterlambatan mental)
b. Kelainan jantung bawaan.

D. MANIFESTASI KLINIS
 Gangguan pendengaran, penglihatan dan bicara (artikulasi)
 Obesitas
 Keterlambatan motorik, kognitif, bahasa dan kemampuan
bersosialisasi
 Perubahan tingkah laku dan kesulitan belajar
Masalah artikulasi, meningkatnya kecemasan (17,6%), autism,
ADHD, kelainan obsesif kompulsif, sindroma tourette dan depresi.

E. PEMERIKSAAN
 Anamnesis :
o Riwayat sering menderita ISPA
o Muntah sekunder karena atresia duodenal dan gangguan
buang air besar karena Hirschsprung’s Disease
o Kejang (5-10%), pada bayi terbanyak berupa spasme
infantil dan pada anak besar bersifat tonik klonik.
 Pemeriksaan fisik :
o Gangguan mental dari sedang sampai dengan berat dengan
IQ 20-85
o Hipotoni yang berkurang dengan bertambahnya usia
o Brakisefali, mikrosefali, ubun-ubun melebar dan terlambat
menutup
o Fisura palpebra yang miring (slanting), lipatan epikantus
bilateral, gangguan refraksi, strabismus, nistagmus dan
katarak kongenital
o Tulang hidung hipoplastik dan flat nasal bridge
o Lidah yang cenderung menjulur, fisura pada lidah, anak
bernafas dengan mulut, berliur, agenesis dan malformasi
gigi
o Telinga kecil, over folded helix, gangguan pendengaran
(66-89%) mencapai > 15-20 db.
o Kelainan jantung bawaan (40-50%), berupa aritmia dan
palpitasi
o Jari tangan pendek-pendek dan gemuk, form finger line,
hiperekstensi persendingan jari tangan.
 Pemeriksaan laboratorium :
o Studi sitogenetik : Karyotyping penderita dan orang tua
penderia (untuk kepentingan konseling genetik)
o Pemeriksaan lainnya :
 Fluorescence In Situ Hybridization (FISH) :
digunakan untuk mendeteksi Trisomi 21 secara
cepat, baik pada masa prenatal maupun masa
neonatal.
 Thyroid-stimulating hormone (TSH) and Thyroxine
(T4) : untuk menilai fungsi kelenjar tiroid.
Dilakukan segera setelah lahir dan berkala setiap
tahun.
 Pemeriksaan radiologi :
X-foto kepala : brakisefali, mikrosefali, hipoplastik tulang-tulang
wajah dan sinus

X-foto tangan : hipoplastik tulang falangs tengah


 Pemeriksaan lainnya :
EKG : untuk mendeteksi kemungkinan kelaian jantung bawaan

ABR : untuk menentukan derajad gangguan pendengaran/ketulian

DDST : untuk deteksi dini gangguan tumbuh kembang

F. TATALAKSANA
Tidak ada pengobatan untuk memperbaiki sindroma down. Prinsip
pengobatan medis digunakan untuk memperbaiki kualitas hidup dan
memperpanjang usia penderita dengan cara :

 Pencegahan terhadap infeksi


 Rehabilitasi medis
 Alat bantu pendengaran bila didapatkan gangguan pendengaran
 Pengobatan dan pelatihan perilaku dilakukan jika ada kelainan
psikiatri
 Hormon tiroid diberikan bila didapatkan tanda-tanda hipotiriod,
untuk mencegah terjadinya deteorisasi intelektual dan
memperbaiki kemampuan individual
G. PROGNOSIS
Kematian biasanya disebabkan kelainan jantung bawaan. Adanya
penurunan kadar IgG menyebabkan penderita rentan terhadap infeksi.
Dengan penatalaksaanan multidisiplin penderita diharapkan dapat
mandiri dan tidak tergantung dari orang lain.
BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien anak H usia 7 bulan dengan riwayat penyakit sekarang panas 2 hari
disertai batuk dan pilek, tidak mimisan, gusi tidak berdarah, sesak nafas, tidak
ada bintik-bintik merah di kulit, perut tidak sakit, makan dan minum kurang dari
biasanya, badan tidak menggigil, buang air besar normal dan buang air kecil
normal. Kemudian dibawa orang tua ke IGD Rumah Sakit Sunan Kalijaga
Demak.
Dari data abnormalitas diatas dapat dibuat diagnosis kerja yaitu : ISPA
bagian bawah. Terdapat 4 diagnosis banding yaitu: Asma bronkial, Bronkhitis,
Bronkhiolitis, Bronchopneumonia. Dari pemeriksaan fisik tidak di dapatkan
wheezing, ronki basah kasar, perkusi thorak yang hipersonor, sehingga diagnosa
asma bronkhial dapat disingkirkan. Diagnosa bronkhitis juga dapat disingkirkan
karena tidak dapat ditemukan suara nafas yang kasar dan ronki basah yang kasar.
Diagnosis Bronkhiolitis juga dapat disingkirkan, karena suhu tubuh anak
yang tinggi ( bronkhiolitis subfibril), perkusi yang sonor ( bronkiolitis
hipersonor), tidak adanya mengi (wheezing).
Pada pasien anak H dinyatakan menderita Bronchopneumonia, karena
pasien pada pemeriksaan didapatkan batuk, panas, sesak nafas, adanya ronki
basah halus pada pemeriksaan fisik thorak.
Selama menjalani perawatan dirumah sakit pasien mengalami peningkatan
kesehatan diantaranya, sudah tidak sesak, nafsu makan bertambah, panasnya juga
sudah menurun, pasien juga di monitoring KU dan TTV.
Pasien diberi edukasi yaitu
Di RS
 Tirah baring
 Minum obat teratur.
 Makan makanan yang bergizi
Di rumah :
 Jika panas, minum obat penurun panas, jika panas tidak turun, segera bawa ke
pelayanan kesehatan
 Edukasi kepada orang tua agar anak makan makanan bergizi yaitu ASI
ekslusif
 Jaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
BAB V
KESIMPULAN

1. Bronchopneumonia adalah suatu infeksi saluran pernafasan akut bagian


bawah dari parenkim paru yang melibatkan bronkus / bronkiolus yang berupa
distribusi berbentuk bercak-bercak yang disebabkan oleh bermacam-macam
etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.
2. Pneumococcus merupakan penyebab utama pneumonia. Pneumococcus
dengan serotipe 1 sampai 8 menyebabkan pneumonia pada orang dewasa
lebih dari 80%, sedangkan pada anak ditemukan tipe 14, 1, 6 dan 9.
3. Bronchopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran napas bagian
atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39 –
400C dan mungkin disertai kejang demam yang tinggi. Anak megalami
kegelisahan, kecemasan, dispnoe pernapasan. Kerusakan pernapasan
diwujudkan dalam bentuk napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping
hidung, retraksi pada daerah supraclavikular, ruang-ruang intercostal,
sianosis sekitar mulut dan hidung, kadang-kadang disertai muntah dan diare.
Pada awalnya batuk jarang ditemukan tetapi dapat dijumpai pada perjalanan
penyakit lebih lanjut, mula-mula batuk kering kemudian menjadi produktif.
4. Pengobatan bronchopneumoni : O2, Anti biotik, Anti piretik bila panas, Bed
rest
5. Prognosisnya dengan pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat yang
dimulai secara dini pada perjalanan penyakit tersebut maka mortalitas selam
masa bayi dan mas kanak-kanak dapat di turunkan sampai kurang 1 % dan
sesuai dengan kenyataan ini morbiditas yang berlangsung lama juga menjadi
rendah
DAFTAR PUSTAKA

1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah kesehatan Anak, Jilid 3,
bagian Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta 1997
2. Mansjoer A, Wardhani WI, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2,
Penerbit Media Aesculapius FK UI, Jakarta 2000
3. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Standard Pelayanan Medik Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatra Utara / Rumah Sakit H. Adam Malik,
Medan 1995
4. M. Rachman, M.T. Darddjat, Segi-segi Praktis Ilmu Kesehatan Anak,
Edisi 2, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 1986
5. Hanifah M., editor. Pulmonologi Pneumonia. Pediatricia. Edisi 2;
Jakarta.2005. Hal IV.2-IV.4.
6. Sectish T. Pneumonia. In: Behrman M., Kliegman S., editors. Nelson
Textbook of Pediatric. 17th edition. Wisconsin. Elsevier.2004. p. 1432-
1435.
7. Bennet N.J. Pneumonia . Emedicine [online];2010 [updated 2010 February
26; cited 2010 March 20] [5 screens]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/967822-overview
8. Bronkhopneumonia. Wordpress.com [online]; 2009 [updated 2010
February 11; cited 2010 March 21] [8 pages]. available from:
http://ifan050285.wordpress.com/2010/02/12/bronchopneumonia/
9. Jauhari N. Pneumonia lobaris. Medicine computer [online];2007 [updated
2009 Maret 18; cited2010 Maret 21] [6 halaman]. Available from:
http://medicom.blogdetik.com/2009/03/18/pneumonia-lobaris/#more-631
10. Said M. Pneumonia. Dalam: Supriyatno B., Rahajoe N., editors. Buku
Ajar Respirologi Anak.
11. Wahidiyat Iskandar, dkk. 1991, Diagnosis Fisik Pada Anak, Fakultas
kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta
12. WHO. 2009. Buku Saku Pelayanan Kesahatan Anak di Rumah Sakit,
Jakarta.
13. IDAI. 2013. Menuju Tumbuh Kembang Anak Yang Optimal, Materi
Program Online Symposium Ikatan Dokter Anak Indonesia