Anda di halaman 1dari 83

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

DI PT SEMEN PADANG

PERANAN LENSA CEMBUNG TERHADAP PANCARAN CAHAYA PADA ALAT

DUST EMISI DI INDARUNG V

DESTI LAILA KURNIA

140340003

PROGRAM STUDI FISIKA

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur berkat rahmat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Keerja Lapangan dipabrik Indarung V
PT. Semen Padang dimulai tanggal 17 Juli 2017 sampai 01 September 2017.

Laporan ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
menyelesaikan mata kuliah Praktek Kerja Lapangan Jurusan Fisika Program Studi Fisika,
Universitas Negeri Padang tahun 2017.
Banyak hal dan pengaalaman baru yang penulis dapatkan selama pelaksanaan Praktek
Kerja Lapangan ini, disamping menambah pengetahuan dan wawasan juga menambah
pengalaman bekerja pada suatu instansi sebagai wahana adaptasi terhadap kondisi lapangan kerja
sebenarnya dikemudian hari.
Dalam menyelesaikan laporan ini, penulis banyak mendapat bantuan dan dorongan dari
berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya dalam
penulisan laporan Praktek kerja Lapangan ini.
2. Kepada kedua orang tua yang selalu mendoakan dan mendukung setiap langkah yang
penulis tempuh dalam pendidikan.
3. Bapak Nuralib, ST selaku Kepala Biro Jaminan Kualitas dan Pelayanan Teknis
Laboratorium Quality Ansurance PT Semen padang
4. Buk Sisri Handayani, selaku Kepala Bidang Kualitas Bahan Jaminan Kualitas dan
Pelayanan Teknis Laboratorium Quality Ansurance PT Semen padang
5. Bapak Darwas, selaku Kepala Urusan Lab Bahan Penunjang Jaminan Kualitas dan
Pelayanan Teknis Laboratorium Quality Ansurance PT Semen padang
6. Bapak Sadri Hedusman, A.Md.T selaku Pembimbing Lapangan di Jaminan Kualitas dan
Pelayanan Teknis Laboratorium Quality Ansurance
7. Seluruh Karyawan Jaminan Kualitas dan Pelayanan Teknis Laboratorium Quality
Ansurance PT Semen padang, khususnya area Lab Bahan Penunjang Jaminan Kualitas
dan Pelayanan Teknis bang Derry, bang Riski serta karyawan yang tidak dapat

i
disebutkan namanya satu persatu, terima kasih banyak karena telah menerima penulis di
kantor PLI Indarung V khususnya Automasi serta meluangkan waktunya untuk
membimbing dan berbagi ilmunya kepada penulis.
8. Teman teman seperjuangan Kerja Praktek di PT. Semen Padang (Vitria, Nila, dan Ilfan).
Semoga setiap pengalaman dan ilmu yang kita dapatkan dapat bermanfaat di masa depan.
9. Seluruh pihak yang membantu dalam pelaksanaan kerja praktek di PT. Semen Padang
dan menyelesaikan laporan kerja praktek di Automasi Pemeliharaan Listrik dan
Instrumen Indarung V PT. Semen Padang.

Penulis menyadari bahwa Laporan Praktek Kerja Lapangan ini bukanlah tanpa
kelemahan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
laporan ini lebih baik di masa depan.
Akhir kata, semoga para pembaca laporan praktek kerja lapangan ini bermanfaat bagi
pembacanya.
Padang, Agustus 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR…………………………………………………………….……………..i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….iii

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………………………iv

DAFTAR TABEL……………………………………………………………………………….v

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang……………………………………………………………..………………….1

1.2 Tujuan…………………………………………………………………………………………3

1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan………………………………………………………………4

1.4 Batasan Masalah…………………………………………………………………..…………..4

1.5 Metodologi Penulisan…………………………………………………………………..……..4

1.6 Sistematika Penulisan……………………………………………………………….…….…..5

BAB II TINJAUAN PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Singkat PT. Semen Padang………………………………………………..………….7

2.2 Visi dan Misi Perusahaan………………………………………………………………..…….9

2.3 Struktur Organisasi PT. Semen Padang………………………………………………..…….10

2.4 Produksi PT. Semen Padang………………………………..…………………..……………13

2.5 Jenis Semen…………………………………………………………………………………..23

BAB III SISTEM KELISTRIKKAN PT. SEMEN PADANG

3.1 Sistem Kelistrikakan PT. Semen Padang…………………………………………………….29

3.2 Sistem Instrumentasi PT. semen Padang…………………………………………………….38

iii
BAB IV PERANAN LENSA CEMBUNG TERHADAP PANCARAN CAHAYA PADA

ALAT DUST EMISI DI INDARUNG V

4.1 Dust Emisi Menggunakan Durag D-R 290……………..…………………………………...40

4.2 Penyelarasan Transceiver Dengan Receiver…..……………………………………………..52

4.3 Super Wide Band Diode…………..…………………………………………………………58

4.4 Cahaya…………………………………………………………………………………….....57

4.5 Sensor Photoelement…………………………………………………………………….…..66

4.6 Optik………………………………………………………………………………...……….67

4.7 Lensa Cembung………………………...……………………………………………………70

4.8 Prinsip Pengukuran Transmisi Dan Opacity………………………………………………...80

4.9 Prinsip Pengukuran Kepadatan (Density)………………………………………………..….82

4.10 Peran Lensa Cembung pada Alat……………………………………………..……………88

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan…………………...……………………………………………………………...91

5.2 Saran…………………………………………………………………………………………92

DFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………93

LAMPIRAN

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Proses Basah……………………………….…………..……………………………….…..13

Gambar 2.2 Proses Kering…………………………………….…………………………………….…..14

Gambar 2.3 : Penambangan batu silica……………………………………………………………..….16


Gambar 2.4 : Produksi Raw Mill………………………………………………………….…………..…18
Gambar 2.5 : Pembakaran Pada Kiln………………………………………………………….…….…20

Gambar 2.6 : Semen Mill…………………………………………………………………..………….….21

Gambar 2.7 : Proses Pengepackan Semen……………………………………………………….…….22

Gambar 2.8 : Diagram Proses Pembuatan Semen………………………………………….….……..23

Gambar 3.1.Skema Energi Listrik PT. Semen Padang…………………………………………….….30


Gambar 3.2.Skema Energi Listrik Pembangkit Sendiri PT. Semen Padang……………...……….33

Gambar 4.1 : Transceiver dan Reflektor DURAG D-R 290 di Indarung V……………………….41

Gambar 4.2 : Bagian-bagian dari Komponen Sistem DURAG D-R 290……………………...……41

Gambar 4.3 : Display Stack yang terukur pada parameter sistem……………….…………………42

Gambar 4.4 : Tempat letaknya Transceiver dari bagian luar………...……………………………..43

Gambar 4.5 : Transceiver bagian dalam………………………………………………….……………44

Gambar 4.6 : Cermin pada reflector…………………………………………………………………….45

Gambar 4.7 : Purge Air Unit……………………………………………………………………………..46

Gambar 4.8 : Optics Diagram D-R 290…………………………………………………..…………….48

v
Gambar 4.9 : Keselarasan transceiver terhadap reflector……….…………………………………..52

Gambar 4.10 : Prinsip pemancaran cahaya ……………………………………………….………….52

Gambar 4.11 : Superlumenanscens LED……………………………………………………………….54

Gambar 4.12 : Cahaya yang terlihat dari celah Transceiver………………………………………..59

Gambar 4.13 : Photoelement pada DURAG D-R 290…………………………………………..……66

Gambar 4.14 : Pembiasan pada lensa cembung tebal dan lensa cembung tipis………………….69

Gambar 4.15 : Berkas cahaya yang dibiaskan mengumpul di satu titik……………………………70

Gambar 4.16 : Jarak benda lebih besar 2F2………………………………...…………………………71

Gambar 4.17 : Benda diletakkan diantara 2F2 dan F2……………….……………………………….71

Gambar 4.18 : Benda diletakkan dititik F2……………………………………………………………..72

Gambar 4.19 : Benda diletakkan diantara F2 objek dan pusat lensa……………………………….73

Gambar 4.20 : Lensa cembung ganda, cembung datar, dan cembung cekung…………………….74

Gambar 4.21 : Pemantulan cahaya terhadap lensa cembung…………………………………….…77

Gambar 4.22 : Grafik hubungan transmisi dan density………………………………………………80

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 : List KebutuhanListrik PT. Semen Padang………………………………………………………………………….….29


Tabel 4.1 : Panjang gelombang, Frekuensi, dan Tingkat Energi Foton untuk warna pada

Spektrum cahaya tampak……………………………………………………………………..58

Tabel 4.2 : Indeks bias pada medium yang berbeda……………………..……………………………67

Tabel 4.3: Nilai Opacity dan Density di Indarung V pada Bulan Juni………….…………….……80

Tabel 4.4 : Nilai cahaya transmisi yang kembali dan koefisien medium dari nilai opacity dan
density……………………………………………...…………………………………………88

vii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah salah satu mata kuliah yang terdapat

pada program studi Fisika Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Alam Universitas Negeri Padang (FMIPA UNP). Melalui mata kuliah ini diharapkan

mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan, etos kerja serta terlatih untuk

menghadapi masalah yang terdapat dilapangan baik itu masalah dibidang ilmu

pengetahuan yang dimiliki maupun masalah dibidang pekerjaan.

PKL dilakukan pada instansi-instansi atau perusahaan yang berbadan hukum

resmi, yang telah direkomendasikan oleh Ketua Jurusan Fisika dan dekan FMIPA.

Instansi atau perusahaan yang dipilih harus sesuai dengan kelompok bidang kajian

mahasiswa yang bersangkutan. Hal ini bertujuan untuk memperkuat konsep serta

dapat mengaplikasikan secara nyata teori-teori yang telah diperoleh di perguruan

tinggi. Untuk itu Universitas Ngeri padang khusunya Jurusan Fisika dengan Program

Studi Fisika mengirimkan mahasiswa yang telah memiliki persyaratan untuk

melakukan Paktek Kerja Lapangan.

Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan di PT. Semen Padang. Dimana sebagai

salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, khususnya di Sumatera yang bergerak

dalam pembuatan semen, PT. Semen Padang telah ikut memberikan kesempatan

1
dalam memajukan pendidikan dalam pengembangan para pelajar atau mahasiswa

yang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan.

Pada kesempatan ini, Praktek Kerja Lapangan dilaksankan di Biro

Pemeliharaan Listrik dan Instrumentasi Indarung (PLI) V PT. Semen Padang.

Penempatan ini ditempatkan oleh perusahaan. Disini mahasiswa dapat melihat,

mengamati, mempelajari dan dapat merasakan dunia pekerjaan serta dapat

mengaplikasikan ilmu yang didapat di perguruan tinggi secara langsung di lapangan.

Biro Pemeliharaan Listrik dan Instrumentasi Indarung V PT. Semen Padang memiliki

satu sistem pengukuran dan pengontrolan yang lengkap dalam melaksanakan aktivitas

perusahaan. Yang mana setiap aktivitas sistem tersebut selalu dalam pengawasan

yang maksimal demi kelancaran produksi perusahaan.

Di Biro pemeliharaan Listrik dan Instrumen Indarung V ini terdapat alat yang

mampu mendeteksi dan memonitoring konsentrasi debu dari hasil pembakaran yang

sisalurkan memalui cerobong pengeluaran, alat tersebut ialah Dust Emisi. Di PLI

Indarung V alay Dust Emisi ini menggunakan tipe DURAG D-R 290.

Dust Emisi (DURAG D-R 290) ini mampu mendeteksi banyaknya konsentrasi

debu hasil pembakaran yang terkontaminasi dengan udara pada cerebong keluaran.

Pada dasarnya alat ini banyak menggunakan prinsip optic serta kemampuan sensor

yang telah dikonversikan untuk menghitung banyak density dan opacitinya. Oleh

karena itu, penulis tertarik mengangkat judul laporan praktek kerja lapangan ini yaitu

“Pengaruh Sprektrum Terhadap Benda Translusen Pada Dust Emisi Menggunakan

DURAG D-R 290 di Indarung V ” .

2
1.2 Tujuan

Tujuan dilaksanakannya Praktek Industri (PI) di PT. Semen Padang adalah.

1. Tujuan Umum

a. Mengenali dan mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman langsung,

guna melengkapi pengetahuan teoritis yang telah diperoleh sebelumnya di

bangku perkuliahan agar menjadi pengetahuan yang lengkap dan utuh.

b. Mengetahui profil PT. Semen Padang serta proses kerja apa saja yang terjadi

di PT Semen Padang tersebut.

c. Mengetahui proses pembuatan semen, alat yang digunakan untuk proses

pembuatan semen, sistem kerja peralatan produksi, pengunaan alat-alat

pengujian, dan pengendalian kualitas selama proses produksi berlangsung di

Pabrik Indarung V PT. Semen Padang .

d. Mengetahui mekanisme ataupun system kerja secara keseluruhan serta dapat

terlibat secara langsung bersama pekerja lapangan di PT Semen Padang.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui secara umum mengenai alat Dust Emisi.

b. Mengetahui kegunaan dari alat tersebut.

c. Mengetahui secara langsung prinsip kerja Dust Emisi.

d. Serta mengetahui bagaiman pengaruh spektrum cahaya terhadap benda translusen

seperti debu.

1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

3
Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan pada :

Waktu : 17 Juli 2017 s/d 01 September 2017

Tempat : Pemeliharaan Listrik dan Instrumen Indarung V

PT. Semen Padang (Khususnya di Bagian Automasi)

1.4 Batasan Masalah

Batasan Masalah yang di ambil oleh penulis, yaitu :

a) Membahas mengenai prinsip pemantulan cahaya terhadap lensa

cembung dan pendeteksiannya melalui sensor LDR yang digunakan

oleh alat Dust Emisi (DURAG D-R 290).

b) Membahas mengenai besar spectrum yang digunakan oleh suatu

sumber cahaya yang berasal dari Super Wide Band Diode.

1.5 Metodologi Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan laporan Praktek Kerja

Lapangan ini adalah:

a. Studi literatur, yaitu dengan melakukan pembelajaran dari buku-buku

ataupun instruksi manual yang terkait dengan masalah yang dibahas.

b. Tinjauan lapangan, yaitu melakukan pengamatan dan pengambilan data

terhadap objek yang diteliti.

c. Diskusi.

d. Pembahasan.

e. Menyimpulkan hasil pembahasan yang berupa laporan.

4
1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika yang digunakan dalam penulisan laporan praktek kerja lapangan ini

adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Berisi tentang latar belakang pelaksanaan Pengalaman

Lapangan Industri, tujuan pelaksanaan, tempat dan waktu

pelaksanaan, batasan masalah, metedologi penulisan, dan

sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN UMUM PT. SEMEN PADANG

Berisi tentang sejarah PT. Semen Padang, perkembangan

kapasitas produksi, kegiatan operasi PT. Semen Padang,

mencakup kegiatan eksplorasi dan produksi, sarana penunjang

operasi, misi perusahaan dan struktur organisasi PT. Semen

Padang.

BAB III SISTEM KELISTRIKAN DAN INSTRUMENTASI PT.

SEMEN PADANG

Sistem Kelistrikan PT. Semen Padang, Sistem Instrumentasi

PT. Semen Padang

5
BAB IV PEMBAHASAN

Berisi pembahasan tentang Dust Emisi menggunakan tipe

DURAG D-R 290, teori pendukung, prinsip kerja, dan pengaruh

spectrum terhadap benda translusen.

BAB V PENUTUP

Berisi kesimpulan dan saran dari dari penulisan Laporan

Praktek Kerja Lapangan, agar dapat dijadikan sebagai bahan

pertimbangan dalam upaya peningkatan dan pengembangan di

masa yang akan datang.

6
BAB III

SISTEM KELISTRIKAN DAN INSTRUMENTASI

PT. SEMEN PADANG

3.1 Sistem Kelistrikan PT. Semen Padang

PT. Semen Padang yang terdiri dari lima pabrik dan pertambangan, dalam

operasionalnya menggunakan energi listrik yang cukup besar. Sebagian besar

energi listrik tersebut digunakan untuk proses produksi. Selain itu juga digunakan

untuk penerangan dan kantor pusat.

Total energi listrik yang dibutuhkan oleh PT. Semen Padang sekitar 91,2

MW yang terdiri dari 1,2 MW untuk operasional non pabrik dan sekitar 90,0 MW

untuk operasional pabrik.

No Pabrik Daya (MW)

1 Pabrik Indarung I 2,1

2 Pabrik Indarung II 12

3 Pabrik Indarung III 13,2

4 Pabrik Indarung IV 26,4

5 Pabrik Indarung V 34,5

6 Tambang 1,8

7 Non Pabrik 1,2

Total 91,2
Tabel 3.1.List KebutuhanListrik PT. Semen Padang
Energi listrik yang dikonsumsi oleh PT. Semen Padang pada awalnya

disuplai oleh pembangkit sendiri berupa PLTA dan PLTD. Seiring dengan

perkembangan pabrik dan kemajuan teknologi, maka kebutuhan tenaga listrik

meningkat dengan cepat yang tidak dapat dipenuhi oleh pembangkit sendiri.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut, maka PT. Semen Padang

melakukan kerja sama (kontrak) dengan PT. PLN (Persero).

a. Perusahaan Listrik Negara (PLN)

Konsumsi daya listrik PT. Semen Padang yang dikontrak dari PLN saat

ini sebesar 90 MVA digunakan untuk menjalankan peralatan pada Pabrik

Indarung II, III, IV, V kebutuhan tambang dan kebutuhan non pabrik. Untuk itu

PLN mensuplai tenaga listrik dari Ombilin dan Solok I yang disalurkan melalui

transmisi tegangan tinggi 150 kV.

Untuk keandalan sistem, maka suplai tersebut telah diinterkoneksikan

agar suplai tidak terputus jika terjadi gangguan pada salah satu suplai tenaga

tersebut. Untuk memudahkan pelayanan listrik pada PT. Semen Padang, maka

PLN mendirikan dua gardu induk, yaitu :

Gambar 3.1.Skema Energi Listrik PT. Semen Padang

30
1) Gardu Induk Indarung (GI Indarung)/GI PLN

GI Indarung digunakan untuk mensuplai kebutuhan daya listrik

pada Pabrik Indarung II sampai dengan Pabrik Indarung IV (kecuali Kiln

Ind IV) dan tambang. GI Indarung memiliki kapasitas terpasang sebesar

2x30 MVA yang berasal dari saluran transmisi 150 kV dan 2x220 MVA

dari saluran transmisi 20 kV digunakan sebagai cadangan atau back up

bilamana kapasitas terpasang 2x30 MVA dari saluran transmisi 150 kV

mengalami gangguan. Sebelum didistribusikan tegangan listrik sebesar

150 kV dariGI Indarung diturunkan menjadi 6,3 kV dengan menggunakan

trafo step down 150 kv/6,3 kV untuk kapasitas terpasang 2x30 MVA dan

20 kV/6,3 kV untuk kapasitas terpasang 2x30 MVA. Untuk

mendistribusikan energi listrik tersebut GI Indarung memiliki 13 feeder,

yaitu :

 Feeder I Lime Stone Crusher

 Feeder II Silica Crusher

 Feeder III Raw Mill Indarung II

 Feeder IV Raw Mill Indarung III

 Feeder V Cement Mill Indarung II

 Feeder VI Cement Mill Indarung III

 Feeder VII Raw Mill Indarung IV

 Feeder VIII Spart

 Feeder IX Kiln Indarung III

31
 Feeder X Cement Mill Indarung IV

 Feeder XI Kiln Indarung II

 Feeder XII Indarung I, Tambang

 Feeder XIII Pada Panel PLTD II

2) Gardu Induk PT. Semen Padang (GI PTSP)

GI PT. Semen Padang memiliki kapasitas terpasang sebesar 3x30

MVA yang berasal dari saluran transmisi 150 kV. GI PT SP hanya

digunakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik Pabrik Indarung V,

yaitu meliputi Raw Mill & Coal Mill Dept, Kiln Dept, dan Cement Mill

Dept dan Tambang. Seperti halnya GI Indarung, sebelum didistribusikan

tegangan listrik sebesar 150 kV dariGI PTSP diturunkan menjadi 6,3 kV

menggunakan trafo step down 150 kV/6,3 kV dengan kapasitas 3x30

MVA.

Pengaturan tegangan listrik dilakukan dengan sistem OLTC (On

Load Tap Changer) secara otomatis maupun secara manual, yang

bertujuan untuk menstabilkan tegangan 6,3 kV yang keluar dari sisi

sekunder trafo. Untuk mendistribusikan tenaga listrik tersebut, GI PTSP

memiliki 12 feeder, yaitu :

 Feeder XIV Raw Mill 158

 Feeder XVVertical Mill I 348.1

32
 Feeder XVI Vertical Mill I 348.2

 Feeder XVII LS dan SS to Storage 5TB1

 Feeder XVIII ESP Dept. 428

 Feeder XIX CCR dan Kiln Dept. 731

 Feeder XX Cooler Dept. 448

 Feeder XXI Raw Mill R4

 Feeder XXII Coal Mill Dept. 468

 Feeder XXIII Cement Mill I Dept. 548.1

 Feeder XXIV Cement Mill II Dept. 548.2

 Feeder XXV Cement Silos Dept. 628

b. Pembangkit Sendiri

Sumber tenaga listrik sendiri yang dimiliki oleh PT. Semen Padang hanya

menyediakan kebutuhan listrik bagi Kiln Dept. Indarung IV, Kantor Pusat,

Rumah Sakit, Emergency/Inching Kiln Dept. Indarung II/III dan Kiln Dept.

Indarung V. Sedangkan kebutuhan listrik untuk unit-unit lainnya, seperti Raw

Mill dan kebutuhan pabrik diambil dari PLN. Berdasarkan tenaga

pembangkitnya, maka pembangkit sendiri yang dimiliki oleh PT. Semen

Padang terdiri dari :


PLTA 4 Unit
Kuranji
Generator Set

Rasak Bunga 2 Unit


P.S 24,3 Generator Set
MW
6 Unit
PLTD I
Generator Set
PLTD
3 Unit
PLTD II
Generator Set
33
Gambar 3.2.Skema Energi Listrik Pembangkit Sendiri PT. Semen Padang

1) Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

a) PLTA Rasak Bunga

PLTA Rasak Bunga memperoleh sumber air dari Sungai Lubuk

Peraku dan Sungai air Baling. Kedua sumber air ini bertemu pada

Dam Air Baling untuk diarahkan ke kanal yang panjangnya sekitar

1,5 km menuju bak penampungan sebagai tempat pengendapan

pasir dan kerikil. Kemudian dari bak penampungan ini air tersebut

diteruskan ke rumah pembangkit (Power House) terdiri dari turbin

dan generator. PLTA Rasak Bunga memiliki dua generator dengan

kapasitas terpasang 2x690 kVA dengan tegangan yang dibangkitkan

3 kV.

b) PLTA Batu Busuk/Kuranji

PLTA Kuranji memperoleh sumber air dari Sungai Padang

Jernih dan Sungai Padang Keruh yang bertemu pada Dam Patamuan

untuk diarahkan ke kanal yang panjangnya sekitar 3,2 km menuju

bak penampungan. PLTA Kuranji memiliki 4 generator dengan

kapasitas terpasang 3x690 kVA dengan tegangan yang dibangkitkan

3 kV dan 1x5000 kVA dengan tegangan yang dibangkitkan 6 kV.

34
2) Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD)

PLTD adalah suatu cara untuk membangkitkan tenaga listrik,

dimana generatornya mendapatkan energi mekanik dari mesin diesel.

Energi ini diperoleh dari pembakaran bahan bakar/minyak diesel. Bahan

bakar yang digunakan adalah solar, dengan pemakaian sebanyak 80

ton/hari.

Mesin diesel yang digunakan ada 2 tipe, yaitu :

a. Type L (In-Line Engine)

b. Type V (Vee Engine)

Prinsip kerja kedua tipe ini hampir sama, hanya saja terdapat

perbedaan pada konstruksinya. Pada Type L, silindernya disusun sebaris

dan masing-masing silinder berdiri tegak pada tiap barisnya. Sementara

itu, pada mesin diesel Type V silindernya disusun dua buah tiap baris

dengan susunan membentuk huruf V.

Berikut ini adalah keuntungan mesin diesel Type V dibandingkan

dengan Type L :

a. Ukurannya lebih kecil

b. Daya yang dihasilkan lebih besar

c. Getaran (vibrasi) lebih rendah

PT. Semen Padang memiliki dua buah Pembangkit Listrik Tenaga

Diesel, yaitu:

35
a) PLTD (Pabrik Indarung I)

PLTD I menggunakan mesin diesel Type L, yang terdiri dari

enam unit generator dengan kapasitas terpasang 3x640 kVA, 1x2000

kVA dan 2x3000 kVA, dengan tegangan yang dibangkitkan sebesar 3

kV.

b) PLTD (Pabrik Indarung II)

PLTD II menggunakan mesin diesel Type V, yang terdiri dari

tiga unit generator dengan kapasitas terpasang 3x6250 kVA dan

tegangan yang dibangkitkan sebesar 6,3 kV.

Unit PLTD di PT. Semen Padang ini, di-start dengan cara kompresi

udara. Teknis kerja yang digunakan adalah antara 15 – 30 kg/cm2. Start

mesin diesel ini menggunakan rangkaian pembantu yang memanfaatkan

energi listrik dari PLTA. Tenaga listrik yang dibangkitkan oleh PLTA

dan PLTD dikirim dan dikumpulkan pada rel utama Indarung I dan rel

utama Indarung II sebelum didistribusikan ke beban.

c. Pendistribusian Energi Listrik ke Beban

Secara umum tegangan suplai untuk keperluan pabrik dibagi atas 2, yaitu:

1) Tegangan Tinggi (High Tension)

Yaitu tegangan yang dihasilkan oleh pembangkit, baik pembangkit

sendiri maupun dari PLN.

2) Tegangan Rendah (Low Tension)

36
Untuk melayani beban digunakan bus bar tegangan tinggi dan

tegangan rendah. Bus bar yang digunakan untuk melayani beban terbuat

dari tembaga dengan bentuk lempengan yang dipasang sepanjang HTDB,

MDB dan MCC serta dilengkapi oleh isolator.

a) HTDB (High Tension Distribution Board)

Untuk melayani beban bertegangan tinggi berupa trafo dan

motor, maka pada masing-masing departemen digunakan HTDB 6,3

kV yang tersusun atas beberapa cubicle yang dilengkapi dengan

peralatan proteksi baik incoming maupun beban.

b) MDB (Main Distribution Board)

Beban bertegangan rendah sebesar 380 V dilayani melalui

MDB dengan suplai dari HTDB yang diturunkan melalui trafo 6,3

kV/380 V. Beban dari MDB adalah berupa MCC dan motor

bertegangan rendah dengan kapasitas daya 75 kW sampai dengan

315 kW. MDB terdiri dari beberapa section yang berisikan

peralatan proteksi untuk beban, baik motor maupun MCC.

c) MCC (Motor Control Centre)

MCC digunakan untuk melayani beban berupa motor dengan

daya kecil dari 90 kW, welding dan penerangan. MCC terdiri dari

beberapa komponen yang berisikan peralatan proteksi untuk

masing-masing beban.

37
Sementara itu, untuk menghubungkan dan memutuskan suplai

tegangan ke beban digunakan CB (Circuit Breaker). Jenis yang

banyak digunakan adalah jenis OCB, VCB dan SF6. Oil, Vacum

dan SF6 merupakan sarana yang digunakan untuk meredam spark

(loncatan bunga api) yang terjadi saat CB memutuskan arus yang

tinggi.

3.2 Sistem Instrumentasi PT. Semen Padang

Sistem instrumentasi tidak terlepas dari masalah pengontrolan. Sistem

kontrol merupakan perlengkapan yang sangat penting dalam proses produksi

modern. Keberadaan sistem kontrol dalam proses produksi berpengaruh langsung

terhadap kualitas dan kuantitas produksi. Dengan adanya sistem kontrol, kondisi

peralatan di lapangan dapat dimonitor sehingga apabila terjadi gangguan, sistem

kontrol akan mengindikasikan gangguan tersebut pada Operating Station. Dengan

demikian, sistem kontrol dapat menjaga agar proses produksi dapat berjalan

secara optimal.

Secara garis besar, sistem kontrol di PT. Semen Padang dibagi atas 2 :

a. Sistem Kontrol Manual (Individual System Control)

Pada sistem ini belum dikenal pengendalian alat secara terpadu/terpusat

pada satu tempat. Sistem ini menggunakan rangkaian kontrol yang sederhana.

Masing-masing peralatan dioperasikan secara manual oleh operator lapangan.

38
b. Sistem Kontrol Otomatis

Pada sistem ini, semua peralatan di dalam pabrik dikontrol oleh satu

ruang pusat pengendali atau Central Control Room (CCR). Pengontrolan

dilakukan dengan menggunakan interlocking system. Suatu alat yang

diinterlock dapat berjalan apabila telah memenuhi syarat operasi yang benar.

Persyaratan ini meliputi alat-alat yang mendukung peralatan yang diinterlock.

Sistem interlocking yang digunakan di pabrik ada 2 macam :

1) Operasional Interlock

Yaitu interlocking yang terjadi dalam proses. Jika ada gangguan

dalam aliran proses, maka seluruh peralatan utama dalam proses akan

berhenti.

2) Safety Interlock

Yaitu interlocking yang digunakan untuk mengamankan peralatan

dari kerusakan terutama gangguan panas pada bearing, winding

temperatur dan vibrasi pada peralatan. Jika gangguan yang timbul

melewati batas setting maka peralatan tersebut akan berhenti dan

peralatan yang juga akan berhenti akibat adanya operasional interlock.

39
BAB IV

PERANAN LENSA CEMBUNG TERHADAP PANCARAN CAHAYA PADA

ALAT DUST EMISI DI INDARUNG V

4.1 DUST EMISI Menggunakan DURAG D-R 290

4.1.1 Pengertian Dust Emisi

Dust emisi terbagi atas dua kata yaitu “Dust” dan “Emisi”. Debu (Dust)

adalah partikel padat yang berukuran sangat kecil yang dibawa oleh udara. Partikel-

partikel kecil ini dibentuk oleh suatu proses disintegrasi atau fraktur seperti

penggilingan, penghancuran atau pemukulan, terhadap benda padat. Selain itu debu

juga didefenisikan sebagai padatan halus yang tersuspensi diudara yang tidak

mengalami perubahan secara kimia ataupun fisika dari bahan padatan asli.

Sedangkan “Emisi” adalah zat, energy atau komponen lain yang dihasilkan

dari suatu kegiatan yang masuk atau dimasukkannya kedalam udara yang mempunyai

potensi sebagai unsur pencemaran. Jadi Dust Emisi adalah sisa atau buangan hasil

pembakaran yang berbentuk partikel-partiel padat yang berukuran sangat kecil yang

dibawa oleh udara. Dust Emisi ini berfungsi untuk membaca berapa banyak debu

yang keluar berdasarkan hasil pembakaran yang dikeluarkan melalui cerobong

keluaran.

Di Indarung V Dust Emisi ini mengguanakan tipe DURAG D-R 290, seperti

pada gambar

40
Reflector

Transceiver

Gambar 4.1 : Transceiver dan Reflektor DURAG D-R 290 di Indarung v

4.1.2 Bagian-bagian dari Dust Emisi (DURAG D-R 290)

Gambar 4.2 : Bagian-bagian dari Komponen Sistem DURAG D-R 290

41
1. Control unit, D-R 290 AZ (stack display) Or D-R 290 AW (evaluation unit)

Terdiri dari sisipan elektronik (D-R 209 AZ) yang terpasang pada terminal

(D-R 290 AZ). Berfungsi sebagai power supplay untuk transceiver dan mendisplay

unit dari nilai yang terukur pada parameter sistem. Tampilan ini dikirimkan melalui

transceiver menuju ruang control. Ini berfungsi untuk mengoperasikan sistem tanpa

DR 290 AZG dan hanya mengontrol unit ruang display (Control Room Display

Unit).

Gambar 4.3 : Display Stack yang terukur pada parameter sistem

2. Transceiver, D-R 290 MK

Transceiver atau pemancaran cahaya D-R 290 MK merupakan bagian yang

dapat mentransmisikan cahaya ke reflector dan menerima cahaya dari reflector.

Transceiver D-R 290 MK ini berisi sumber cahaya Super Wide Band Diode menuju

detector.

42
Gambar 4.4 : Tempat letaknya Transceiver dari bagian luar

Gambar 4.5 : Transceiver bagian dalam

Transceiver terdiri dari beberapa bagian, yaitu ;

43
a. Sumber cahaya.

Sumber cahaya ini berasal dari Super Wide Band Diode atau

Superluminanscent Light Emitting Diode.

b. Lensa splinter yang menggunakan lensa cembug.

Lensa cembung ini akan menyerap cahaya yang datang di satu titik dan akan

di biaskan menuju cermin pada reflector.

c. Comparison Normal.

Merupakan pembanding cahaya yang di pantulkan dengan cahaya yang

kembali yang akan dibandingkan dengan hasil detector dari photoelement.

d. Photoelement

Merupakan pendeteksi cahaya transmisi yang kembali dan cahaya yang

kembali akan dibandingkan dengan cahaya yang dipnatulkan.

e. Main Circuit Board

Merupakan rangkaian mengubah tahanan dari sensor photoelement menjadi

arus listrik dengan menggunakan tranduser. Tranduser merupakan bagian

untuk besaran fisiska/kimia menjadi besaran listrik sehingga dapat dianalisa

dengan rangkaian listrik tertentu.

3. Reflector, D-R 290 R1 or R2

Reflector ini akan memantulkan secara otomatis cahaya yang mengenai

cermin. Ini berarti cahaya menyentuh reflector dikembalikan sejajar dengan cahaya

yang masuk (kembali ke transceiver). Reflektor R1 berasal dari bahan schotchlite

(sejenis bahan plstik yang cukup lentur) dan digunakan untuk jarak suatu sambungan

44
kesambungan yang lain hingga jarak 7,4 ft(2.25 m). Reflector R2 adalah sebuah kaca

yang biasa digunakan dari jarak 5,7 ft (1,75 m) sampai 46 ft (14 m). Pada reflector

terdapat cermin yang dapat mementulkan cahaya yang diterimanya.

Cermin pada
reflektor

Gambar 4.6 : Cermin pada reflektor

4. Mountig flange, D-R 280 E

Digunakan untuk memonitori didalam cerobong. Pada keadaan yang berbeda

digunakan flens yang berbeda dengan menyesuaikan pada flens (sambungan) yang

tersedia.

5. Purge Air Unit, D-R 290 GN

Purge air unit atau unit pembersih udara, sejenis blower sentripugal, dengan

satu digunakan dibagian transceiver dari stack dan yang satu di sisi reflector. Bila

lebih besar dari flens stack standar yang digunakan blower yang lebih besar bisa

diguakan. Biasanya blower ini dipasang dibawah transceiver atau reflector digunakan

untuk membersihkan kaca atau kalibrasi pada transceiver dan reflector.

45
Gambar 4.7 : Purge Air Unit

6. Costumer Supplied or Data longger System

Tempat perekaman data yang telah diubah dalam bentuk grafik dan biasanya

digunakan untuk merekam data telah terukur.

7. Weather Protective Covers for Measurement Head and Reflector

Ini merupakan kotak besar dengan penutup yang bersegel untuk melindungi

tumpukan komponen opacity dari cuaca. Biasanya system udara pembersih dipasang

di bagian bawah transceiver atau reflector untuk sistem bantuan suatu sistem.

46
8. Weater Hood for Purge Air System

Untuk membersihkan system udara. Ini sebagai pilihan untuk digunakan.

9. Fail Safe Shutter 280 MA

Jika dalam keadaan normal jendela akan menutup saat kehilangan daya atau

kehilangan udara bersih. Ini akan mencegah kerusakan dari tumpukan gas kesistem

opacity.

10. Fail-safe Shutter electronics D-SK 290 AE

Ini adalah bagian untuk pembersihan aliran udara dan untuk menjalankan

motor yang berfungsi untuk membuka dan menutup katup lensa saat diinstruksikan.

4.1.3 Prinsip Kerja Dust Emisi (DURAG D-R 290)

Transceiver memancarkan berkas cahaya yang berasal dari Super Wide

Band Diode, sejenis diode yang prinsipnya hampir serupa dengan diode laser.

Pemancaran cahaya yang diberikan oleh Super Wide Band Diode atau

superluminescent LED ini berupa cahaya lurus yang hanya berfokus pada satu titik.

Pada titik tersebut terdapat suatu lensa cembung yang dapat menyerap cahaya menuju

titik fokus dan berkas cahaya tersebut mengumpul dititik fokus karena lensa cembung

juga disebut dengan lensa konvergen yaitu lensa positif yang dapat mengumpulkan

cahaya.

47
Berkas cahaya yang melewati tumpukan atau saluran dipantulkan ke

reflektor. Sinar cahaya yang dipantulkan akan kembali dan jumlah cahaya yang

kembali akan dideteksi oleh photoelement. Partikel debu yang dilewati akan

menyerap dan menyebarkan sinar cahaya yang ditransmisikan sehingga cahaya yang

dikembalikan akan kurang dari pada cahaya yang ditransmisikan.

Gambar 4.8 : Optics Diagram D-R 290

D-R 290 beroperasi sesuai dengan prinsip auto collimation (mengumpulkan

cahaya secara automatis). Sinar cahaya melalaui jalur pengukuran dua kali. Sistem ini

mengukur dan mengevaluasi pengurangan sinar yang disebabkan oleh debu di jalur

pengukur.

48
Dua fitur utama yang memisahkan DURAG D-R 290 dari desainnya adalah

Super Wide Band Diode dan desain optik detektor tunggal.

Super Wide Band Diode dengan respon spektral 400 nm sampai 700 nm

dimodulasi tanpa bagian yang bergerak. Modulasi ini mencegah pengaruh dari

sumber cahaya lainnya seperti sinar matahari. Sumber cahaya meminimalkan efek

perubahan ukuran partikel saat mengukur konsentrasi debu. Kalibrasi filter yang

biasanya digunakan diukur pada kisaran 400 nm sampai 700 nm. Sumber cahaya

spektrum yang luas akan memberi pengukuran filter ini lebih akurat bila

dibandingkan dengan sistem LED pita sempit. Optik digunakan untuk memastikan

sinar yang homogen. Cahaya ini kemudian dipecah oleh Beam splitter untuk

membentuk cahaya pengukuran dan cahaya perbandingan. Sinar cahaya pengukuran

melewati partikel debu, memancarkankan cahayanya ke cermin pada reflektor, dari

cermin reflector ini akan dipantulkan kembali menuju lensa dan akan dideteksi oleh

photoelement.

Karena dasar untuk semua monitor opacity adalah pengukuran transmisi

(jumlah cahaya yang diterima dibagi dengan jumlah cahaya yang ditransmisikan),

sangat penting agar tidak cahaya yang diterima saja diukur secara akurat, tapi juga

cahaya yang ditransmisikan. Setiap 2 menit jalur cahaya pengukuran ditutup dan

hanya jalur cahaya perbandingan yang dilalui. Perbandingan sinar cahaya diukur

untuk menentukan jumlah cahaya yang ditransmisikan. Jalur cahaya perbandingan ini

menggunakan sumber cahaya yang sama dengan jalur cahaya yang diukur, melewati

beam splitter (pemecah cahaya), dan diukur dengan detektor yang sama yang

49
digunakan untuk mengukur sinar dari reflektor pengukuran. Dengan menggunakan

desain optik ini, terjadi perubahan jumlah cahaya dari sumbernya, kontaminasi dari

pecahan cahaya didetektor akan mempengaruhi kedua jalur cahaya (perbandingan dan

pengukuran) dengan jumlah yang sama dan tidak ada kesalahan yang akan diterjadi

pada pengukuran opacity.

Siklus kendali dimulai secara berkala untuk memastikan pengoperasian

sistem yang tepat. Selama siklus ini, DURAG D-R 290 secara otomatis mengukur

dan menampilkan data dari hasil pengukuran. Jika perlu, nilai yang diukur

selanjutnya akan diperbaiki untuk diperiksa sesuai dengan nilai yang diharapkan. Jika

koreksi melebihi nilai yang telah ditentukan, sinyal alarm akan muncul.

Pemancaran cahaya dari Super wide Band Diode atau suprlumenansce LED dapat

diilustrasikan sebagai berikut :

Penyimpanan besar cahaya


yang dipancarkan awal

R
e
f
l
Photoelement e
Cerobong
c
Keluaran
t
o
r

SWBD atau SLED

Lensa Cembung

50
51
4.2 PENYELARASAN TRANSCEIVER DENGAN RECEIVER

Transceiver dan reflektor saling sejajar dengan memutar stelan pada

masing-masing flens atau sambungan. Namun ini tidak dapat dilakukan saat sistem

terhubung dan sistem opacity sedang berjalan. Hal ini disebabkan karena kesejajaran

penglihatan ditransceiver menggunakan cahaya dari SLED yang tidak akan

beroperasi sampai sistem dinyalakan. Setelah sistem dinyalakan dan kalibrasi (yang

dimulai secara otomatis saat power-up), system dapat beroperasi.

Untuk menyelaraskan transceiver, melalui kesejajaran penglihatan di

transceiver. Pastikankan cahaya yang mengenai reflektor terlihat sejajar lurus dengan

transceiver. Kemudian dengan mengeratkan pada flens transceiver, gerakkan

transceiver pada arah horizontal dan vertikal sampai ke reflektor berpusat pada flens

dari sisi kesejajaran. Penyesuaian harus dikuatkan pada ke titik bahwa transceiver

atau reflektor.

Fokus hanya perlu disesuaikan dengan panjang jalur dari sambung ke

sambungan. Untuk menyelaraskan reflektor, lepaskan kaiatan pertama dari reflektor

dan buka dari sambungan udara pembersih bawah tabung bagian dalam sambungan

udara pembersih dan lihat cahaya dari transceiver. Sesuaikan letak reflector

berdasarkan penglihatan dari celah atau lubang kecil pada transceiver. Pada alat ini

reflector bersifat auto collimating atau dapat mengumpulkan cahaya secara automatis.

Sehingga secara automatis reflector akan sejajar dengan transceiver.

52
Gambar 4.9 : Keselarasan transceiver terhadap reflektor

Transceiver dan reflektor dipasang saling berhadapan. Menggunuakan

prinsip auto collimation (penyerapan sinar secara automatis), sinar akan melintasi

jarak yang akan diukur dua kali.

Sinar cahaya kehilangan intensitas terhadap konsentrasi partikel udara.

Sinar cahaya memiliki diameter lebih besar dari permukaan reflektor. Hal ini

membuat keselarasan lebih mudah dan mengurangi kesalahan pengukuran disebabkan

oleh kemungkinan pergeseran akibat panas pada flens pemasangan transceiver atau

reflektor.

53
Gambar 4.10 : Prinsip pemancaran cahaya

4.3 SUPER WIDE BAND DIODE

4.3.1 Pengertian Super Wide Band Diode

Super Wide Band Diode ini merupakan jenis dioda pemancar cahaya

superluminescent yang hampir serupa dengan dioda laser, yang didasarkan pada

sambungan pn yang digerakkan secara elektrik bila bias maju maka menjadi aktif dan

menghasilkan emisi yang diperkuat pada rentang panjang gelombang yang luas.

Panjang gelombang puncak dan intensitas SLED bergantung pada komposisi bahan

aktif dan pada level injeksi saat ini. SLED dirancang untuk memiliki amplifikasi lolos

tunggal yang tinggi. Keunikan dari dioda superluminescent LED (SLED) adalah

kombinasi antara laser diode daya output dan kecerahan dengan spektrum optik

seperti LED yang luas. Kombinasi semacam itu bertujuan untuk menghasilkan daya

optic yang tinggi.

54
Super Wide Band Diode dengan respon spektral sepanjang 400 nm sampai

700 nm dengan sensitifitas 555 nm untuk mata manusia dan dimodulasi tanpa bagian

yang bergerak. Modulasi ini mencegah pengaruh dari sumber cahaya lainnya seperti

sinar matahari.

Gamba 4.11 : Superlumenanscens LED

4.3.2 Prinsip Kerja Super Wide Band Diode

Bila tegangan maju listrik diberikan, arus injeksi di wilayah aktif SLED

aktif. Seperti kebanyakan perangkat semikonduktor, SLED terdiri dari bagian positif

(p-doped) dan bagian negatif (n-doped). Arus listrik akan mengalir dari p-section ke

n-section dan melintasi daerah aktif yang terjepit di antara p dan n-section. Selama

proses ini, cahaya dihasilkan melalui pembawa muatan positif (lubang) dan negatif

(elektron) dan kemudian diperkuat sepanjang gelombang SLED.

55
Sambungan pn dari bahan semikonduktor dari SLED dirancang sedemikian

rupa sehingga elektron dapat memiliki banyak kemungkinan keadaan (pita energi)

dengan energi yang berbeda. Oleh karena itu, rekombinasi elektron menghasilkan

cahaya dengan berbagai frekuensi optik, yaitu cahaya broadband (cahaya dengan

frekuensi yang luas).

Dari segi daya keluaran, kinerja SLED bisa jadi dijelaskan relatif baik

dengan model sederhana yang tidak memperhitungkan efek spektral dan

mempertimbangkan distribusi densitas pembawa yang seragam di daerah aktif SLED.

Jumlah atau paket energi terkecil yang dapat dipancarkan atau diserap oleh

atom atau patikel dapat membentuk radiasi elektromagnetik disebut kuantum. Energi

foton berbanding lurus dengan frekuensi cahaya.

E  h.v
Pada DURAG D-R 290 ini, sumber cahaya yang digunakan oleh transceiver

berasal dari Super Wide Band Diode atau Seperluminanscens LED. SLED ini

memancarkan cahaya dengan panjang gelombang antara 400 nm sampai 700 nm

dengan sensitivitas 555 nm yang berada di tentang warna hijau. SLED ini akan

memancarkan cahaya seperti prinsip laser yang hanya terfokus pada satu titik.

Nilai khas untuk modul SLED adalah untuk BW antara 5 nm dan 100 nm

dengan panjang gelombang pusat yang mencakup kisaran antara 400 nm dan 700 nm.

56
Riak spektral adalah ukuran variasi densitas daya spektral yang dapat

diamati untuk perubahan panjang gelombang. Modulasi intensitas SLED dapat

dengan mudah dicapai melalui modulasi langsung arus bias.

Super Wide Band Diode atau Superluminancescent LED (SLED) dapat

merespon spektral 400 nm sampai 700 nm dimodulasi tanpa bagian yang bergerak.

Modulasi ini mencegah pengaruh dari sumber cahaya lain seperti sinar matahari.

Sumber cahaya meminimalkan efek perubahan ukuran partikel saat mengukur

konsentrasi debu. Kalibrasi filter yang biasanya digunakan diukur pada kisaran 400

nm sampai 700 nm.

4.3.3 Panjang Koheren SLED

SLED adalah sumber optik dengan bandwidth optik yang cukup lebar.

SLED berbeda dengan laser, yang memiliki spektrum yang sangat sempit, dan

sumber cahaya putih, yang menghasilkan lebar spektral yang jauh lebih besar.

Karakteristik ini terutama merefleksikan dalam koherensi yang rendah dari

sumbernya (yang merupakan kemampuan terbatas gelombang cahaya yang

dipancarkan untuk mempertahankan fasa dari waktu ke waktu). SLED mungkin

menunjukkan tingkat koherensi spasial yang tinggi, yang berarti dapat digabungkan

secara efisien menjadi serat optik single-mode. Panjang koherensi, Lc, adalah

kuantitas yang sering digunakan untuk mengkarakterisasi koherensi sumber cahaya.

Hal ini terkait dengan perbedaan jalur antara kedua bagian interferometer optik

dimana gelombang cahaya masih mampu menghasilkan pola interferensi. Untuk

sumber yang memiliki distribusi spektral Gaussian, nilai Lc berbanding terbalik

57
dengan lebar spektral, BW, sehingga lebar penuh pada setengah maksimum (FWHM)

dari kerapatan spektral daya dapat dikaitkan dengan Lc melalui persamaan

2
Lc 
BW
Dimana: λ = panjang gelombang pusat dari radiasi yang dipancarkan

BW = lebar spektral

4.4 CAHAYA

4.4.1 Pengertian Cahaya

Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang memiliki kecepatan

sebesar 3x108 m/s. Cahaya juga merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik

dalam rentang panjang gelombang yang tampak oleh mata manusia. Mata manusia

hanya dapat menerima panjang gelombang dengan rentang 400 nm sampai 700 nm,

tetapi ada juga mata manusia mampu menerima panjang gelombang 380 nm sampai

780 nm (atau dalam frekuensi 790-400 terahertz). Mata yang telah beradaptasi

dengan cahaya biasanya memiliki sensitivitas maksimum di sekitar 555 nm,

diwilayah hijau dari spektrum optik. Radiasi elektromagnetik diluar jangkauan

panjang gelombang optik pada spektrum cahaya tampak seperti pada gangar dibawah

58
Tabel 4.1 : Panjang gelombang, Frekuensi, dan Tingkat Energi Foton untuk warna

pada Spektrum cahaya tampak

*catatan

1 nm = 0,0000000001 m

Panjang gelombang cahaya berbanding terbalik dengan frekuensi, artinya

semakin besar panjang gelombang maka semakin rendah frekuensi cahaya, maka

warna merah memiliki energi lebih rendah dari pada warna ungu.

Gelombang elektromagnetik tercipta dari perpaduan antara kuat medan

listrik dan kuat medan magnet yang saling tegak lurus. Gelombang elektromaknetik

terdiri dari deretan berbagai jenis gelombang dengan kelajuan sama seperti kelajuan

cahaya diruang hampa tetapi dengan frekuensi yang berbeda-beda. Gelombang

elektromagnetik mempunyai rentang frekuensi yang cukup lebar. Kelompok

gelombang elektromagnetik dengan frekuensi berbeda-beda ini membentuk Spektrum

59
Gelombang Elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik juga termasuk gelombang

transversal yang ditunjukkan dengan peristiwa polarsasi.

Pada DURAG D-R 290 cahaya yang berasal dari Super Wide Band Diode

akan memancarkan cahayanya mengenai lensa dan diteruskan menuju reflektor.

Pancaran cahayanya seperti pada gambar dibawah ini,

Cahaya yang
terlihat dari celah
transceiver

Gambar 4.12 : Cahaya yang terlihat dari celah Transceiver

Sinar cahaya memiliki diameter lebih besar dari permukaan reflektor. Hal

ini membuat keselarasan lebih mudah dan mengurangi kesalahan pengukuran

disebabkan oleh kemungkinan pergeseran akibat panas pada sambungan pemasangan

transceiver atau reflektor.

Sifat-sifat cahaya, yaitu :

a. Menembus benda bening

b. Merambat lurus

c. Cahaya dapat diuraikan

60
d. Cahaya dapat dipantulkan

e. Cahaya dapat dibiaskan

Sifat gelombang cahaya yang paling sering ditemui adalah pemantulan

cahaya. Pemantulan cahaya ada dua macam, yaitu pemantulan teratur dan pemantulan

baur. Pemantulan baur tejadi pada permukaan pantul yang tidak rata. Sedangkan

pemantulan teratur terjadi pada permukaan pantul yang mendatar atau rata.

Pemantulan cahaya pada refletor ini termasuk pemantulan teratur, fiman cahaya

mengenai cermin dengan bidang pantul yang rata dan akan terpantul kembali menuju

transceiver.

Hukum Snellius tentang pemantulan ialah :

a. Sinar datang, sinar pantul dan garis normal terletak pada satu bidang datar.

b. Sudut datang sama dengan sudut pantul.

c. Sinar datang dari medium yang kurang rapat ke medium yang lebih rapat

dibiaskan mendekati garis normal.

Persamaan dari Hukum Snellius :

n1 sin i = n2 sin r

61
Cahaya dapat menembus benda dibagi atas 3, yaitu :

 Benda bening atau transparan, adalah benda yang dapat ditembus atau

dilewati cahaya penuh sebanyak cahaya yang dipancarkan hanya dipengaruhi

oleh indeks bisa suatu benda tersebut. Contohnya kaca, air, atau plastik.

 Benda Translusens, adalah benda yang hanya dapat meneruskan atau

ditembus oleh sebagian cahaya yang diterimanya. Contohnya partikel debu,

asap, kertas, dll.

 Opaqu, adalah sejenis benda gelap yang tidak dapat ditembus oleh cahaya

sama sekali. Contohnya kayu, batu, dll.

4.4.2 Intensitas Cahaya

Intensitas cahaya atau luminous intensity adalah jumlah energi radiasi yang

dipancarkan sebagai cahaya kesuatu jurusan tertentu. Satuan dari intensitas

cahaya adalah Candela. Satu candela adalah intensitas cahaya yang memancarkan

radiasi monokromatik pada frekuensi 540x1012 Hertz dengan intensitas radiasi

F
sebesar 1/683 watt per steradian. Yang dapat dirumuskan dengan I  (cd)

Dimana : F = Flux cahaya

 = Sudut ruang

Flux cahaya adalah jumlah cahaya yang dipancarkan oleh suatu sumber

cahaya setiap detik, satuannya lumen (lm).

62
Intensitas penerangan adalah flux cahaya yang jatuh pada bidang setiap m2

satuannya adalah lux (lx) dan lambang E.

1 lux = 1 lumen per m2

1 watt cahaya sama dengan panjang gelomban 555 nm sama dengan flux 680

lumen

Intensitas penerangan dirumuskan dengan :

F
E
A
Diman F = flux cahaya

A = luas penampang suatu bidang

Hubungan Intensitas penerangan dengan intensitas cahaya diberikan dengan

persamaan :

I
E
R2

Dan diperoleh persamaan intensitas cahaya sebesar I  E.R


2

Dimana E = Intensitas penerangan

R2 = jarak sumber cahaya kebidang

Pada DURAG D-R 290 ini menggunakan sumber cahaya Super Wide Band

Diode, yang mana Super Wide Band Diode ini memancarkan cahaya dengan

panjang gelombang 400-700 nm dengan sensitivita sebesar 555 nm atau berada

pada wilayah spektrum berwarna hijau.

63
Panjang gelombang 555 nm memiliki flux cahaya sebesar 680 lumen, dari

data ini kita dapat menghitung besar intensitas yang dipancarkan oleh cahaya

tersebut sebesar :

I  E.R 2

F
Cari besar intensitas penerangan terlebih dahulu : E 
A
A = luas penampang suatu bidang, dimana bidang tempat pemancaran cahaya dari

sumber cahaya ini berbentuk tabung, jadi A  r


2

Misalnya : Panjang gelombang 555 nm dengan flux cahaya 680 lumen, dan jari-

jari tabung 4,5 m. Maka dapat dihutung intensitas cahayanya, yaitu

A  r 2
22
 .(4,5m) 2
7

 63,64m 2

F
E
A

680lm
E
63,64m 2

 10,68lux

I  E.R 2

 10,68(4,5m) 2

64
 216,27 Cd

Jadi besar intensitas cahaya yang di pancarkan oleh Super Wibe Band Diode adalah

216,27 Cd

Energi photon (Ep) setiap warna dalam spektrum bernilai :

hc
E p  hf 

Keterangan :

h = konstanta Planck (6,63x10-34 J/s)

c = kecepatan cahaya (2,99x108 m/s)

 = Panjang gelombang (m)

f = frekuensi (Hz)

Contohnya pada alat ini menggunakan sumber cahaya yang berasal dari super wide

band diode dengan panjang gelombang 555 nm. Energi photon (Ep) yang dibutuhkan

adalah.......

hc
Jawab : E p  hf 

6,63x10 34 J / s.2,99 x108 m / s


  0,0357 x1017 J
555nm

Pada alat ini akan mendeteksi intensitas cahaya dengan menggunakan photoelement

65
4.5 SENSOR PHOTOELEMENT

4.5.2 Pengertian Sensor Photoelement

Photoelemen atau disebut juga dengan Detector foton merupakan bagian

dari fotodetector yang telah dikenal selama ini. Berdasarkan tipenya dibagi menjadi

dua yaitu detector foton dan detector panas.

Detector foton mendeteksi cahaya berdasarkan pada prinsip quantum

photoelectric effect yaitu foton mengeksitasi carrier sehingga menghasilkan

photocurrent. Photoelectric effect didasarkan pada energi foton hv dengan mengacu

pada panjang gelombang λ yang berkaitan dengan energi transisi (ΔE).

Untuk membuat foton dapat mengeksitasi carrier, energy foton harus lebih

besar dari energi transisi (hv > ΔE). Pada devais semikonduktor, energi transisi ΔE

merupakan bagian energi dari semikonduktor, sehingga untuk memanipulasi

semikonduktor tersebut dapat dilakukan dengan memanipulasi energi dari

semikonduktor dan memilih material semikonduktor tertentu.

66
Photoelement

Gambar 4.13 : Photoelement pada DURAG D-R 290

4.5.2 Fungsi Photoelement

Photoelement ini berfungsi untuk mendeteksi cahaya yang ditransmisikan

dan cahaya yang kembali, sehingga photoelement dapat membandingkan cahaya yang

ditransmisikan dengan cahaya yang yang kembali untuk dideteksi dan dikonversikan

dalam bentuk arus listrik.

4.5.3 Prinsip Kerja Photoelement atau Fotodetektor

Prinsip kerja photoelement atau fotodetektor adalah mendeteksi gelombang

cahaya yang datang dan mengubahnya menjadi isyarat informasi yang dikirim dalam

bentuk arus listrik. Arus listrik tersebut kemudian diperkuat untuk selanjutnya diolah

sehingga diperoleh kembali isyarat informasi yang dikirimkan. Pada efekfotoelektrik

luar, electron dibebaskan dari permukaan suatu logam pada saat menyerap tenaga dari

aliran foton yang datang.

67
4.5.4 Main Circuit Board

Main Circuit Board merupakan suatu rangkaian yang dapat mengubah dan

mengontrol tahanan dari Photoelement menjadi arus listrik dengan

menggunakan tranduser. Tranduser merupakan piranti yang dapat mengubah

suatu energi ke energi lain atau suatu satuan ke satuan lain. Pada DURAG D-

R 290 ini, tranduser berperen mengubah tahanan dari sensor photoelement

menjadi arus listrik. Bagian masukkan dari tranduser disebut sensor, yang

dapat mengindra suatu kuntitas tertentu dan mengubahnya menjadi bentuk

energy yang lain.

Gambar : Main Circuit Board pada DURAG D-R 290

Blok diagram dari photoelement ke keluaran yang telah dikonversi dan

dikirim menuju system.

Transduser

Sensor I/O
photoelemen
t
4.6 OPTIK

68
4.6.4 Pengertian Optik

Optik adalah cabang fisika yang menggambarkan perilaku dan sifat cahaya

serta interaksi cahaya dengan materi. Bidang optik biasanya menggambarkan sifat

cahaya tampak, sinar inframerah atau ultraviolet, tetapi sebagian cahaya adalah

gelombang elektromagnetik, fenomena yang sama juga terjadi dalam bentuk sinar-x,

gelombang mikro, gelombang radio dan lainnya. Optik berhubungan langsung

dengan kecepatan cahaya. Dalam ruang bebas dengan kecepatan cahaya, c = 3x108

m/s. Ketika memasuki medium tertentu gelombang dengan kecepatan v, yang

merupakan karakteristik dari bahan dan kurang dari cahaya besarnya kecepatan

sendiri (c). Perbandingan kecepatan cahaya dalam ruang hampa dengan kecepatan

cahaya dalam medium adalah indeks bias bahan n sebagai berikut :

c
n
v

Jenis Mediun Indesk Bias

Udara 1,0003

Air 1,33

Kaca 1,46

Garam Dapur (NaCl) 2,42

Tabel 4.2 : Indeks bias pada medium yang berbeda

*Catatan : Hanya untuk cahaya yang panjang gelombang 590 nm

Salah satu bagian dari optik adalah lensa. Lensa adalah bidang bening yang

dibatasi oleh dua permukaan, minimal salah satu dari permukaan tersebut merupakan

69
bidang lengkung. Pada lensa dapat terjadi pembiasan cahaya. Pembiasan cahaya pada

lensa ini terjadi karena adanya penyerapan dan pemantulan kembali dari cahaya yang

diserap tersebut. Pemantulan cahaya ini dapat terjadi berdasarkan jenis lensa yang

digunakan. Lensa terdiri dari dua jenis, yaitu lensa cekung dan lensa cembung. Pada

DURAG 290 ini, prinsip pemantulan cahayanya menggunakan lensa cembung.

4.7 LENSA CEMBUNG

4.7.1 Pengertian Lensa Cembung

Lensa cembung adalah lensa yang bagian tengahnya lebih tebal sedangkan

bagian tepinya lebih tipis. Lensa cembung biasanya berbentuk lingkaran dan terbuat

dari kaca atau plastik sehingga lensa mempunyai indeks bias lebih besar dari pada

indeks bias udara. Lensa cembung bersifat nyata, diperkecil, dan tebalik yang berada

dititik fokus. Lensa cembung mempunyai 2 bidang batas yang masing-masing

mampu membiaskan cahaya. Bidang batas sebuah lensa cembung dapat keduanya

lengkung atau satu bidang batas lengkung dan yang lainnya datar. Bila tiga berkas

sinar sejajar yang keluar dari kotak cahaya dikenakan pada lensa cembung, berkas

sinar tersebut dibiaskan oleh lensa dan berpotongan pada sebuah titik. Titik tersebut

dinamakan titik fokus (titik api) diberi tanda F.

Besar pembiasan cahaya pada suatu lensa tergantung pada indeks bias bahan

lensa dan lengkungan permukaan lensa, sedangkan indeks bias tergantung pada cepat

rambat cahaya dalam bahan lensa tersebut. Seperti yang ditunjukkan pada gambar,

lensa cembung tebal akan membiasakan cahaya lebih besar dari pada lensa cembung

70
tipis. Panjang fokus lensa cembung tebal lebih pendek dari pada panjang lensa

cembung tipis.

Gambar 4.14 : Pembiasan pada lensa cembung tebal dan lensa cembung tipis

Lensa cembung dapat membentuk bayangan nyata dan bayangan maya.

Bayangan maya sebenarnya tidak ada tetapi seolah-olah ada karena mata manusia

melihat berkas cahaya bergerak lurus sehingga otak manusia menyimpulkan bahwa

bayangan tersebut ada. Jika diletakkan sebuah layar pada titik dimana diperkirakan

terdapat bayangan maya maka tidak tampak bayangan maya pada layar. Sebaliknya

bayangan nyata benar-benar ada. Jika diletakkan sebuah layar pada titik dimana

diperkirakan terdapat bayangan nyata maka bayangan tampak atau terlihat pada layar

tersebut. Pembentukan bayangan benda oleh lensa cembung telah dijelaskan dengan

sumbu utama pada lensa.

71
4.7.2 Titik Fokus Lensa Cembung

Seperti pada gambar dibawah ini, sumbu utama lensa adalah garis yang

berwarna biru. Berkas cahaya datang mengenai permukaan lensa yang bentuknya

cembung dan berkas cahaya tersebut dibiaskan oleh lensa cembung. Pembiasan

cahaya oleh lensa cembung mematuhi hukum pembiasan cahaya. Semua berkas

cahaya datang dibiaskan lensa cembung menuju titik fokus F2 dan berkas cahaya

tersebut mengumpul ditik fokus karena lensa cembung juga disebut dengan lensa

konvergen. Karena semua berkas cahaya berpotongan pada titik fokus F2 maka bisa

dikatakan bahwa titik fokus F2 adalah letak bayangan dari benda yang berjarak sangat

jauh. Bila berkas cahaya ynag dibiaskan lensa cembung brasal dari matahari maka

bayang matahari hanya tampak titik fokus.

Gambar 4.15 : Berkas cahaya yang dibiaskan mengumpul di satu titik

Titik fokus yang berada didepan lensa cembung disebut titik fokus maya,

sedangakan titik fokus yang berada dibelakang lensa cembung disebut fokus titik

sejati. Sinar-sinar dibiaskan sebagai fokus aktif (diberi lambang F1) dan titik fokus

lainnya ditetapkan sebagai fokus pasif (diberi lambang F2).

Ada 3 jalannya sinar-sinar istimewa pada lensa cembung yakni sebagai

berikut :

72
a. Sinar yang datang sejajar dengan sumbu utama akan dibiaskan melalui titik fokus

F1 belakang lensa.

b. Sinar datang menuju titik fokus didepan lensa F2 akan dibiaskan sesejajar sumbu

utama.

c. Sinar yang datang melewati pusat optik lensa diteruskan, tidak dibiaskan.

Berikut adalah pembentukan bayangan pada lensa cembung untuk berbagai posisi

benda:

a. Jarak benda lebih besar 2F2

Jarak benda lebih besar 2F2, dengan menggunakan sinar istemewa lensa

cembung diperoleh bayangan yang bersifat nyata, terbalik, diperkecil, dan

letak bayangannya diantara F1 dan 2F1 ditunjukkan seperti gambar

Gambar 4.16 : Jarak benda lebih besar 2F2

b. Benda diletakkan diantara 2F2 dan F2

Jarak benda lebih besar dari pada panjang fokus lensa cembung (s > f).

Dengan menggunakan sinar istimewa lensa cembung diperoleh bayangan

yang bersifat nyata, terbalik, diperbesar, dan letak bayangannya diluar 2F1

ditunjukkanseperti gambar

73
Gambar 4.17 : Benda diletakkan diantara 2F2 dan F2

c. Benda diletakkan dititik F2

Jarak benda sama dengan panjang fokus lensa cembbung (s = f). Degan

menggunakan sinar istimewa lensa cembung diperoleh bayangan yang

bersifat maya ditakhingga yang ditunjukkan oleh gambar

Gambar 4.18 : Benda diletakkan dititik F2

d. Benda diletakkan diantara F2 objek dan pusat lensa

Jarak benda lebih kecil dari pada panjang fokus lensa cembung (s<f). Dengan

menggunakan sinar istimewa lensa cembung diperoleh bayangan yang bersifat

maya, tegak, diperbesar, dan terletak didepan lensa seperti pada gambar

74
Gambar 4.19 : Benda diletakkan diantara F2 objek dan pusat lensa

-Maya artinya berkas cahaya tidak melewati bayangan

-Tegak atau tidak terbalik

-Semakin jauh benda dari lensa cembung, ukuran bayangan semakin besar

-Semakin jauh bayangan dari lensa cembung, bayangan semakin jauh dari lensa

cembung

Pada DURAG D-R 290 bayangan yang yang terbentuk bersifat nyata,

terbalik, diperkecil dan letak bayangan diantara f1 dan 2f1 dengan pembentukan

bayangan pada lensa cembung berada di jarak benda yang lebih besar dari pada 2f2.

Lensa cembung terdiri dari beberapa bentuk, yaitu :

1. Cembung-cembung atau Bikonvek

Yaitu lensa cembung yang kedua permukaannya berbentuk bidang cembung. Lensa

cembung-cembung ini memiliki kekuatan lensa positif (konvergen) yang cukup besar

sehingga dapat membakar kertas, karena energi cahaya yang masuk kedalam lensa

dikumpulkan pada satu titik, pada titik itu energinya sangat besar.

2. Cembung-datar atau Plankonveks

Yaitu lensa cembung yang salah satu permukaannya berbentuk bidang datar.

75
3. Cembung cekung atau Konkaf

Yaitu lensa cembung yang salah satu permukaannya berbentuk bidang cembung

sedangkan bidang lain berbentuk bidang cekung. Lensa cembung-cekung ini

memiliki kekuatan lensa negatif (Divergen) yang tidak dapat membakar kertas,

karena energi cahay yang masuk kedalam lensa disebarkan, sehingga tidak

mengumpulkan energinya.

Gambar 4.20 : Lensa cembung ganda, cembung datar, dan cembung cekung

Lensa Pada DURAG D-R 290

Pada DURAG D-R 290 ini menggunakan lensa cembung dengan jenis lensa

cembung-cembung atau Bikonveks. Lensa ini akan menangkap cahaya yang

diberikan dan dikumpulkan disatu titik, lensa cembung-cembung atau bikonveks ini

lebih besar menyerap cahaya. Sifat kedua lensanya yang cembung dapat menyerap

energi yang cukup besar.

76
Dari transceiver pemancaran cahaya, cahaya akan ditembakkan ke lensa

cembung tersebut, lensa cembung dapat membiaskan cahaya, dan meneruskannya ke

reflector, direflector terdapat cermin yang tersusun saling berhadapan disetiap bagian

sehingga mengfokuskan cahaya yang datang ke satu titik, dari reflektor ini cahaya

akan di pantulkan kembali menuju lensa tempat pemantulan cahaya awalnya, cahaya

yang kembali setelah melewati cerobong keluaran tersebut akan dideteksi oleh

photoelement. Sebelum dideteksi langsung oleh photoelement, cahaya akan melalui

lensa kecil yang berperan untuk menggumpulkan cahaya, cahaya yang dikumpulkan

di satu titik ini akan dibiaskan menuju photoelement, dan akan dideteksi besar

intensitas cahayanya. Cahaya yang kembali tidak akan sama dengan cahaya yang

dipancarkan, hal ini disebabkan oleh adanya partikel debu yang menyebarkan cahaya

yang melaluinya. Pada saat cahaya menyinari benda translusens seperti debu, cahaya

hanya dapat diteruskan sebagian karena karakteristik dari benda translusen ini yaitu

hanya hapat meneruskan sebagian cahaya yang diterimanya. Oleh sebab itu cahaya

yang kembali akan berkurang intensitasnya. Cahaya yang telah dideteksi oleh

photoelement ini akan dikonversikan kedalam bentuk persentase untuk mengetahui

besar opacity tersebut. Bayangan yang di bentuk dari lensa pada DURAG D-R 290

yaitu nyata, terbalik, diperkecil. Selain itu juga akan diubah dalam bentuk isyarat

informasi dalam bentuk sinyal listrik. Sinyal-sinyallistrik ini akan diperkuat sehingga

menbentuk arus listrik. Arus ini akan di kirim kesistem untuk ditampilkan dimonitor.

77
Rumus Lensa Cembung :

1 n 1 1
 ( k  1)(  )
f nu R1 R2

Dimana: nu adalah indeks bias udara atau air

R1 dan R2 adalah kelengkungan dari lensa cembung

Contoh :

Indeks bias kaca dan indeks bias udara berturut-turut yaitu 1,46 dan 1,0003. Dimana

dianggap kelengkungan pada lensa cembung sebesar 0,8 mm . Hitung jarak fokus dari

lensa cembung tersebut!

Jawab :

nu = 1,0003

nk = 1,46

R1 dan R2 = 0,8 mm

F = ??

1 n 1 1
 ( k  1)(  )
f nu R1 R2

1,46 1 1
(  1)(  )
1,0003 0,8 0,8

1
 1,1475mm
f
f  0,872mm

78
Jadi jarak focus untuk lensa cembung dengan kelengkungan 30ͦ adalah 49,01.

Untuk rumus mencari jarak bayangan pada lensa cembung :

1 1 1
 
f s s'
Keterangan :

f = fokus lensa cembung

s = jarak benda

s’ = jarak bayangan

Persamaan diatas didapatkan dari perhitungan tegak bayangan (s’) jika

benda diletakkan disuatu jarak tertentu (s) dari lensa dapat diturunkan berdasarkan

gambar

Gambar 4.21 : Pemantulan cahaya terhadap lensa cembung

Segitiga I sebangun dengan segitiga III, ambil tangen sudut yang bersilang didepan

didapatkan :

79
h h'

s s ' ………………………….. (1)
Segitiga II sebangun dengan segitiga IV, ambil tangen sudut yang bersilang

didapatkan :

h h'
 …………………..………..(2)
f s' f
Bagi persamaan I dengan persaman II, menjadi :

f s ' f
 ……..……………………(3)
s s'
Sederhanakan persamaan menjadi :

1 1 1
 
f s s ' …………………………..(4)

4.8 PRINSIP PENGUKURAN TRANSMISI DAN OPACITY

Rasio cahaya yang dikembalikan ke cahaya yang ditransmisikan dapat

mengurangi satu transmisi. Satu minus transmisi disebut sebagai opacity. Untuk

pengukuran konsentrasi debu kepadatan optik digunakan karena konsentrasi debu

linier terhadap nilai densitas optik. Log dari 1 dibagi dengan transmisi memberikan

densitas optik. Monitor opacity Durag D-R 290 didesain untuk memanfaatkan prinsip

transmisi cahaya.

Jika cahaya menyinari tumpukan asap atau saluran pembuangan debu, sinar

lampu ini akan menjadi lebih lemah seperti debu kepadatan meningkat.

80
Transmisi adalah rasio intensitas cahaya yang diterima (I) dibandingkan

dengan intensitas cahaya ditransmisikan (I0).

I
………………….. (1)
I0

Hubungan antara sinar yang diiradiasi dan cahaya yang diterima diberikan
sebagai nilai persen, seperti yang ditunjukkan pada

I
x100%  T …………………………(2)
I0

Mengurangkan pengukuran transmisi dari satu memberikan nilai opacity.

Opacity adalah defaultnya mode pengukuran D-R 290, karena ini menghasilkan

sinyal yang semakin kuat pada detektor sebagai kerapatan debu berkurang.

I
100%  x100%  OP ………………….(3)
I0

Gambar 4.22 : Grafik hubungan transmisi dan density

81
Dari grafik diatas dapat dilihat hubungan opacity dengan transmisi, yaitu

Semakin besar transmisi maka semakin kecil opacity.

Pada DURAG D-R 290 ini, tiap 2 menit akan malakukan kalibrasi dengan

cara menutup lensa pada transceiver dan menutup cermin pantulan pada reflector.

4.9 PRINSIP PENGUKURAN KEPADATAN (DENSITY)

Jika seberkas cahaya menyinari saluran gas buang atau jalur ekstraksi debu,

intensitas cahaya akan menipis konsentrasi debu C meningkat. Hilangnya intensitas

cahaya ini disebabkan oleh penyerapan dan difraksi, secar. Umumnya, intensitas

cahaya menurun secara eksponensial sebagai panjang L.

I  I 0e  KLC
Dalam menghitung intensitas debu terukur, I0 adalah konstanta untuk

intensitas cahaya yang dipancarkan dan L adalah nilai dari panjang jalur yang diukur.

K adalah nilai dari konstan medium yang dilalui. Secara umum, konsentrasi debu (mg

/ m3) memiliki hubungan linier dengan konstanta medium yang dilalui. Banyak

parameter yang digunakan yaitu ukuran partikulat, komposisi partikel, berat spesifik,

nilai indeks, dan konstanta absorpsi untuk cahaya yang digunakan.

Untuk dapat menentukan nilai atau jumlah konsentrasi dari debu yang

berada dicerobong keluaran, dapat digunakan persamaan :

82
I0
ln( )
C I
K .L
Keterangan :

C = Konsentrasi debu

I0 = Emisi cahaya yang dipancarkan

I = Cahaya penerima

L = Jarak

K = Koefisien debu

Berdasarkan persamaan yang telah dijabarkan diatas, kita dapat menghitung

besar energi cahaya yang dipancarkan oleh SLED menuju optic yaitu lensa cembung

yang digunakan dan dapat dihitung cahaya transmisi yang kembali. Dengan demikian

besar opacity dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

I
100%  x100%  OP
I0

Dan konsentrasi dari debu atau density dapat dihitung dengan menggunakan

persamaan :

I0
ln( )
C I
K .L

83
Data nilai opacity dan density berdasarkan pengukuran di Indarung V pada 01 Juni

2017 sampai 15 Juni 2017 :

Date 5J1P01N3A02 5J1P01N3A01


(EP OPACITY (MAIN EP DUST
MONITORING %) DENSITY)
01-06-2017 14.88 42.39
02-06-2017 15.49 44.29
03-06-2017 15.23 43.33
04-06-2017 14.70 42.35
05-06-2017 6.93 7.32
06-06-2017 13.52 37.81
07-06-2017 13.49 37.79
08-06-2017 10.62 28.69
09-06-2017 8.95 23.50
10-06-2017 10.87 29.20
11-06-2017 7.87 20.68
12-06-2017 6.65 15.20
13-06-2017 9.19 24.26
14-06-2017 19.34 50.09
15-06-2017 10.51 28.49
16-06-2017 9.09 24.02
17-06-2017 9.07 24.04
18-06-2017 8.32 19.64
19-06-2017 8.69 22.73
20-06-2017 7.47 19.03
21-06-2017 8.40 21.72
22-06-2017 9.56 25.47
23-06-2017 9.85 26.31
24-06-2017 8.74 23.01
25-06-2017 9.07 15.89
26-06-2017 7.39 18.66
27-06-2017 8.37 21.85
28-06-2017 7.56 19.23
29-06-2017 9.61 25.68
30-06-2017 10.66 29.31
01-07-2017 9.51 25.41
02-07-2017 11.46 31.99

84
03-07-2017 11.33 31.48
04-07-2017 9.00 23.72
05-07-2017 9.99 26.92
06-07-2017 9.89 26.47
07-07-2017 12.91 36.13
08-07-2017 13.15 26.15
09-07-2017 9.42 24.58
10-07-2017 13.95 39.74
11-07-2017 14.98 40.03
12-07-2017 18.53 55.87
13-07-2017 14.23 40.68
14-07-2017 20.35 50.53
15-07-2017 12.79 36.46
Average 11.15 29.51
Maximum 20.35 55.87
Minimum 6.65 7.32
Summary 501.58 1,328.14

Tabel 4.3 : Nilai Opacity dan Density di Indarung V bulan Juni

Contoh Soal :

1. Berdasarkan data pengukuran suatu alat Dustemisi nilai opacity dan density yang

didapatkan diRaw Mill Indarung V berturut-turut adalah 14,88% dan 42,39

mg/m2. Tentukan besar transmisi cahaya yang kembali dan konstanta debu (K),

jika diketahui intensitas cahaya yang dipancarkan sebesar 216,27 Cd dan diameter

cerobong keluaran sejauh 4,5 m!

Diketahui: Op = 14,88%

OD = 42,39 mg/m2

I0 = 216,27 Cd

Tanya : I =?

85
K=?

I
Jawab : 100%  x100%  OP
I0

I
100%  x100%  14,88%
216,27Cd

I
x100%  100%  14,88%
216,27Cd

I .100%
 85,22%
216,27Cd

I .100%  18408,902%

18408,902%
I
100%

I  184,04Cd

I0
ln( )
C I
K .L

ln( 216,27
)
184,04
42,39mg / m  2

K .4,5m
0.1613
42,39mg / m 2 
4,5m.K

K  8,4 x10 4

Jadi nilai Intensitas cahaya yang ditransmisikan kembali sebesar 184,04 Cd dan nilai

konstanta medium yang dapat dilalui debu adalah 8,4x10-4.

86
Berdasarkan perhitungan seperti yang dilakukan diatas, dengan intensitas

cahaya yang dipancarkan konstan sebesar 216,27 Cd dan panjang diameter cerong

keluaran sebesar 4,5 m, didapatkan nilai Intensitas cahaya yang ditransmisikan dan

nilai konstanta medium yang dapat dilalui debu dengan beberapa contoh data berikut

ialah:

Opacity (%) Intensitas Cahaya Density (mg/m2) Konstanta


kembali (Cd) medium yang
dilalui (K)
14.88 184.04 42.39 8.4x10-4
6.93 201.28 7.32 2.1x10-4

15.23 183.332 43.33 8.4x10-4

14.70 184.47 42.35 8.3x10-4

19.34 174.44 50.09 9.5x104

15.49 182.769 44.29 8.3x10-4

Tabel 4.4 : Nilai cahaya transmisi yang kembali dan koefisien medium dari
nilai opacity dan density

Jadi, dari data yang telah dihitung dapat diketahui bahwa semakin besar

opacity yang terukur maka cahaya transmisi yang kembali semakin kecil. Begitu pula

untuk density, semakin besar yang terukur maka semakin besar pula konstanta

medium yang dilalui.

4.10 PERANAN LENSA CEMBUNG PADA ALAT

87
Untuk alat ini, DURAG D-R 290 menggunakan lensa cembung sebagai

pengumpul cahaya yang yang dipancarkan oleh Super Wide Band Diode, dan cahaya

yang dikumpulkan akan diteruskan menuju cermin pada reflector, cahya yang

kembali dari reflector akan kembali menuju transceiver. Pada saat cahaya kembali

cahaya akan mengalami penyebaran yang disebabkan oleh adanya partikel debu,

cahaya yang tersebar ini akan dikumpulkan kembali oleh lensa cembung sebelum

dideteksi oleh photoelement.

Selain peran lensa cembung pada alat ini untuk mengumpulkan cahaya, lensa

cembung juga berperan untuk memperdekat sensor photoelement dengan pemancar

Sled, sehingga rugi intensitas cahaya bisa dikurangi. Jarak sensor pendeteksi ini akan

diperdekat dengan menentukan tingkat kelengkungan dari lensa cembung. Seperti

pada alat Dust Emisi di Raw Mill dengan menggunakan DURAG D-R 290, diameter

cerobong keluaran sebesar 4,5 m. Cahaya akan melalui cerobong keluaran sebanyak

dua kali untuk kembali menuju receiver, sehingga jarak yang ditempuh oleh cahaya

sebesar 9 m. Dibayangkan bahwa lensa cembung dengan sensor photoelement sangat

berdekatan sehingga dengan mudah photoelement mendeteksi cahaya yang kembali.

Anggap diinginkan jarak antara photoelement dengan SLED sebesar 1 mm. Dari

jarak tersebut kita dapat menggunakan lensa cembung dengan kelengkungan 0.22975

mm. Hal ini didapatkan dari penguraian berikut ini :

Diketahui : Jarak lempuh cahaya (s) = 9 m

Jarak SLED dengan photoelemen yang diharapkan (s’) = 1 mm

88
Dari jarak yang diketahui terdsebut, kita dapat menentukan besar focus pada lensa
cembung.

1 1 1
 
f s s'

1 1 1
 
f 9m 1mm

1 1  9000

f 9m

1 9001

f 9m

9m
f   0,001m  1mm
9001

Untuk menentukan kelengkungan dari lensa cembung ini, dapat digunakan


persamaan:

1 n 1 1
 ( k  1)(  )
f nu R1 R2

1 1,46 1 1
(  1)(  )
f 1,0003 R1 R2

Anggap kelengkungan R1=R2=R, sehingga

1 1,46 1 1
(  1)(  )
f 1,0003 R R

1 1,46 1
(  1)( )
1mm 1,0003 2R

1 1
 (0,4595)( )
1mm 2R

89
1 0,4595

1mm 2R
2 R  0,4595mm

0,4595mm
R  0,22975mm
2
Jadi, kelengkungan lensa cembung pada alat ini sebesar 0,22975mm, dengan indeks
bias kaca lensa cembung sebesar 1,46 dan indeks bias udara yang dilalui cahaya
sebasar 1,0003.

90
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah diatas dapat disimpulkan bahwa:

1. PT Semen Padang merupakan suatu perusahaan yang mana bergerak dibidang

industri dan pertambangan guna memproduksi suatu produk yaitu semen.

2. Di Indarung V terdapat alat Dust Emisi sebagai pendeteksi opacity dan density

yang keluar melaui cerobong pembuangan. Pada alat ini terdapat transceiver

(sumber cahaya) dan reflector (pemantul cahaya).

3. Dust Emisi yang berguna untuk mendeteksi banyaknya debu yang keluar dari

hasil pembakaran. Alat ini berkerja dengan prinsip pemancaran sinar dengan

menggunakan sumber cahaya yang berasal dari Super Wide Band Diode.

Cahaya ini akan dipancarkan menuju satu titik focus lensa dengan

menggunakan lensa cembung, cahaya yang dipancarkan ke lensa ini akan

dibiaskan menuju cermin pada reflector dan akan dipantulkan menuju lensa

kembali. Cahaya yang kembali ini akan dideteksi oleh photoelement. Cahaya

yang dipancarkan akan berbeda dengan cahaya transmisi yang kembali, hal ini

disebabkan karena adanya pengaruh konsentrasi debu yang dilalui cahaya

sebelum dideteksi oleh photoelement. Cahaya yang kembali akan dideteksi oleh

photoelement dan dikonversi dalam bentuk sinyal listrik yang akan dikirim

kesistem.

91
4. Lensa sangat berperan dalam pemantulan dan pembiasan cahaya, terutama lensa

cembung. Prinsipnya lensa cembung menyerap cahaya pada satu titik dan akan

memancarkannya pada satu titik pula. Semakin tebal kelengkungan lensa

cembung maka jarak pancaran cahayanya akan semakin pendek, begitu pula

sebaliknya semakin tipis atau semakin kecil kelengkungan lensa cembung maka

jarak pancaran cahayanya akan semakin jauh. Lensa cembung bersifat nyata,

diperkecil dan terbalik.

5. Jadi pengaruh spectrum terhadap benda translusen yaitu :

a. Semakin banyak konsentrasi bedu atau density pada cerobong keluaran

maka cahaya transmisi yang kembali akan semakin kecil.

b. Semakin besar jarak tempuh cahaya atau semakin besar diameter suatu

cerobong keluaran, maka kadar debu yang terkandung akan semakin

besar pula dan menyebabkan semakin kecil cahaya transmisi yang

kembali.

c. Besar spectrum yang dipancarkan oleh Super Wide Band Dioda bernilai

konstan karena tergantung pada bahan dan pangang gelombangnya.

B. SARAN

Setelah melakukan praktek kerja lapangan ini,penulis menyarankan

bahwa :

1. Kebersamaan dan kekeluargaan dalam lingkungan perusahaan agar

senantiasa dipertahankan dan ditingkatkan.

92
2. Pembenahan dan peremajaan fasilitas perusahaan agar karyawan

dapat terus termotivasi dalam bekerja dan beraktifitas.

3. Semakin membuka peluang bagi para pelajar yang ingin

menambah dan menggali ilmu baik itu dalam bentuk teori maupun

langsung prakteknya.

DAFTAR PUSTAKA

Durag.2002.DURAG D-R 290-Dust and Opacity Monitor Installation and operation.

93
Durag.Inc.1355 Mendota Heights Road. Suite. 200. Mendota Heights,MN 55120.
Website: www.durag.com

file:///E:/DURAG/-/D-R//290.html diakses pada tanggal 13 agustus 2017

Mengenal debu (dust) dan pengendaliannya-dust-control/. Diakses 28 Juli 2017 pukul


09.11 WIB pada http://www.mengenalpengendaliandebu.com

PT Semen Padang.2017.PT Semen Padang.Diakses 20 Agustus 2017 pukul 14.22


WIB pada http://www.semenpadang.co.id/

file:///E:/Prinsip/-/kerja//lensa-cembung.html diakses pada tanggal 11 agustus 2017

file:///C:/Users/desti/Downloads/dustemisi/bagia%20dan%20Fungsinya%20_%20Ma
tra%20pendidikan.htm

file:///E:/Prinsip/-/kerja//Photodetektor.html diakses pada tanggal 11 agustus 2017

file:///E:/Sifat/-/sifat cahaya//.html diakses pada tanggal 11 agustus 2017

file:///E:/cahaya/-/tampak//spektral-cahaya.html diakses pada tanggal 11 agustus 2017

septiantarie ♦ juli 28, 2012.


file:///C:/Users/desti/Downloads/SuperWideBandDiode/Prinsip%20Kerja%20pada%
20_%20karya%20guru%20biologi.htm

94
30