Anda di halaman 1dari 10

ARTIKEL KEWARNEGARAAN

Peran serta masyarakat dalam menangkal radikalisme

Disusun oleh:
Michael Waas
472016024

PROGRAM STUDI GIZI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2018
Peran serta masyarakat dalam menangkal radikalisme
Sistem pertahanan negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta melibatkan
seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta di persiapkan secara dini
oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk
menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala
macam ancaman ( UU No.3 Tahun 2002 tentang pertahanan negara )

Pergerakan pada komunitas yang mengangkat senjata dan memberikan pengaruh


terhadap masyarakat melalui brand washed dapat memberikan dampak negative terhadap
stabilitas nasional. Upaya menentang terorisme tak ubahnya berperang melawan kelompok
gerilya dengan lawan dan strategi lawan yang tak jelas. Meskipun membedakan terorisme dan
gerilya, substansi aktivitas yang dilakukan untuk kedua istilah itu mengarah pada hal yang sama,
pencapaian tujuan politik. Kata teroris dan terorisme kemudian hadir tak lebih sebagai
simplifikasi agar terdapat obyek yang diperangi dalam menentang kejahatan terhadap
kemanusiaan. Namun demikian, kekhawatiran terus saja disepadankan dengan upaya perlawanan
terhadap aktivitas terorisme dengan pertanyaan tentang kapan berakhir, mereka di mana dan apa
lagi yang akan terjadi?. Problematika tersebut merupakan tantangan bagi semua elemen dalam
rangka mencegah terjadi instabilitas pada masyarakat. Paradigma terorisme dan radikalisme4
yang berkembang di masyarakat tidak dapat terelakan sebagai akibat dari kemajuan.

teknologi, salah satu yang menonjol adalah upaya propaganda tidakan terorisme dan
radikalisme dalam masyarakat. Dalam pandangan Muladi,5 bahwa terorisme merupakan
kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang membutuhkan pula penanganan dengan
mendayagunakan cara-cara luar biasa (extraordinary measure) karena berbagai hal: 1. Terorisme
merupakan perbuatan bahaya terbesar (the greatest danger) terhadap hak asasi manusia, dalam
hal ini hak asasi manusia untuk hidup (the righat to life) dan hak asasi manusia untuk bebas dari
rasa takut. 2. Target terorisme bersifat random atau indiscriminate yang cenderung
mengorbankan orang-orang tidak bersalah. 3. Kemungkinan digunakan senjata-senjata pemusnah
massal dengan memanfaatkan teknologi modern. Kemungkinan kerjasama antara organisasi
teroris dengan baik yang bersifat nasional maupun internasional. 4. Dapat membahayakan
perdamaian dan keamanan internasional. Terorisme sebagai kejahatan yang bersifat luar biasa
dan merupakan suatu kegiatan yang dapat bersifat nasional dan internasional sebagai akar
kejahatannya, maka diperlukan adanya penanganan yang bersifat signifikan dan peran dari
seluruh elemen masyarakat. Pada aspek lain, bahwa aksi terorisme di Indonesia saat ini memang
tengah menurun sejak awal tahun 2000-an. Namun akar terorisme, yaitu radikalisme agama,
tetap tumbuh subur dan mendapatkan posisi di sebagian masyarakat. Selain radikalisme agama,
aksi teror juga masih berisiko muncul akibat gesekan-gesekan lainnya, seperti anti persatuan,
separatisme, dan lain-lain. Oleh karena imunitas harus senantiasa mengingat bahwa kita hidup di
Indonesia, negeri yang terdiri dari keberagaman. Jika kita tidak bersikap tenggang rasa dan
berpikiran terbuka, maka akar-akar radikalisme pun dapat leluasa masuk memengaruhi kita.
Pemerintah juga perlu untuk menjadi lokomotif dalam pembangunan persatuan dan
kesejahteraan bangsa guna menghindarkan negeri ini dari ancaman radikalisme yang
memanfaatkan celah-celah ketidak adilan.6 Hal ini harus menjadi perhatian seluruh elemen
dengan realitas yang ada di masyarakat. Dalam kajian menganalisis berkaitan dengan bagaimana
sinergi seluruh elemen dalam pencegahan terorisem dan radikalisme? Dengan tujuan
mengesplorasi bentuk pencegahan terhadap terorisme dan radikalisme.

Instabilitas nasional sebagai akibat dari lahirnya gerakan-gerakan terorisme dan


radikalisme memberikan dampak bagi keberlangsungan sosial, ekonomi dan budaya dalam
masyarakat. Problem utama yang timbul akibat dari kejahatan teroris adalah kekacuan sosial,
ekonomi dan politik dalam masyarakat. Dalam kondisi saat ini, gejala radikalisme agama tidak
pernah berhenti dalam rentang perjalanan sejarah umat Islam hingga sekarang. Bahkan, wacana
tentang hubungan agama dan radikalisme belakangan semakin menguat seiring dengan
munculnya berbagai tindakan kekerasan dan lahirnya gerakan-gerakan radikal, khususnya pasca
peristiwa 9 September 2001 di New York, Washington DC, dan Philadelphia, yang kemudian
diikuti pengeboman di Bali (12/10/2002 dan 1/10/2005), Madrid (11/3/2004), London
(7/7/2005), dan terakhir di Paris (13/10/2015).7 Artinya bahwa kejahatan terorisme dapat terjadi
dalam komunitas masyarakat mana pun dan diawali dengan berkembangnya paham radikal
dalam masyarakat, sehingga dapat meresahkan. Pemahaman yang berakibat kepada konflik
sering muncul di masyarakat, terutama berkaitan dengan memaksakan munculnya pemahaman
yang sama terhadap ajaran agama sama halnya dengan meniadakan agama itu sendiri karena
sikap tersebut akan menimbulkan konflik berkepanjangan. Masing-masing pemeluk agama akan
menafikan kebenaran agama yang dianut oleh orang lain dan hal ini bertentangan dengan nilai
kemanusiaan. Dalam sejarah telah terbukti bahwa sikap ekslusif memunculkan pertentangan atau
bahkan peperangan antar umat beragama.8Oleh karena itu, paradigma terhadap agama perlu
diluruskan, seperti ketika memahami Islam atau pemeluk agama lainnya, maka yang harus
menjadi dasar bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin yang membawa kedamaian dan
begitu juga dengan pemahaman dalam agama lainnya.

Dampak paling nyata dari terjadinya radikalisme adalah terbentuknya politisasi di dalam
agama, di mana agama memang sangat sensitif sifatnya, paling mudah membakar fanatisme,
menjadi kipas paling kencang untuk melakukan berbagai tindakan yang sangat keras, baik di
dalam kehidupan sosial antar individu maupun kelompok, sehingga terbentuklah apa yang
dinamakan kelompok Islam radikal.9 Ajaran Tuhan yang tertuang dalam kitab suci termasuk
ajaran dakwah, jihad dan amar makruf nahi munkar adalah netral. Gergen berpandangan bahwa
agama banyak mengandung aturan-aturan yang merupakan hasil konstruksi para pemikir dan
pemeluk agama, sebagai konsekuensi dari ajaran dalam kitab suci yang bersifat dasar, hanya
memuat pokok-pokok ajaran dan tidak bersifat rinci.10 Oleh karena itu dalam memahami agama
harus didasarkan kepada nilai-nilai toleransi terhadap perbedaan berkeyakinan, sehingga tidak
menimbulkan kepercayaan yang melahirkan akar terorisme dan radikalisme dalam beragama.
Hal ini perlu dibangun dalam pemahaman beragama dengan peran dan sinergi seluruh elemen.
Deradikalisasi bukanlah hal baru bagi Indonesia. Dalam konteks gerakan Islam radikal,
deradikalisasi terhadap eks NII, Komando Jihad, Mujahidin Kanyamaya, Laskar Jihad, dan lain-
lain, merupakan contoh dan pembelajaran bagi kinerja deradikalisasi yang saat ini gencar
dilakukan.11 Deredekalisme merupakan upaya mendeteksi secara dini, menangkal sejak awal,
dan menyasar berbagai lapisan potensial dengan beragam bentuk dan varian yang relevan bagi
masing-masing kelompok

yang menjadi sasaran. Tujuan utama dari deradikalisasi, bukan hanya mengikis
radikalisme, memberantas potensi terorisme tapi yang utama adalah mengokohkan keyakinan
masyarakat bahwa terorisme memberikan dampak yang buruk bagi stabilitas nasional bahkan
dapat memberikan citra Negara yang buruk bagi dunia Internasional. Di era globalisasi sekarang
ini, aksi radikalisme bukan hanya ditujukan untuk merubah tatanan pada suatu daerah atau
negara saja tetapi sudah ditujukan untuk merubah tatanan dunia hingga ke akarakarnya secara
massif. Itulah nampaknya yang menjadikan Musthafa Muhammad Ath-Thahan mengatakan
bahwa radikalisme telah menjadi fenomena internasional. Ia mengungkapkan bahwa dalam
dataran aksi, kaum radikalis memiliki beberapa asumsi dan yang paling pokok adalah asumsi
bahwa mereka memonopoli kebenaran, berfikir dogmatik, menolak perbedaan atau pluralitas,
menggunakan idiom atau terminologi-terminologi yang kasar seperti khianat, kufur, kafir, dan
lainnya. Hal tersebut memberikan dampak yang negative bagi kehidupan sosial masyarakat.
Dalam rangka mewujudkan tujuan nasional, diperlukan penegakan hukum secara konsisten dan
berkesinambungan untuk melindungi warga negaranya dari setiap gangguan dan ancaman atau
tindakan destruktif, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Tindak pidana
terorisme merupakan kejahatan internasional yang membahayakan keamanan dan perdamaian
dunia serta merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, terutama hak untuk hidup.
Rangkaian tindak pidana terorisme yang terjadi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
telah mengakibatkan hilangnya nyawa tanpa memandang korban, ketakutan masyarakat secara
luas, dan kerugian harta benda sehingga berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi,
politik, dan hubungan internasional. Upaya pemberantasan tindak pidana terorisme selama ini
dilakukan secara konvensional, yakni dengan menghukum para pelaku tindak pidana terorisme.
Untuk dapat mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme secara maksimal, perlu diikuti
upaya lain dengan menggunakan sistem dan mekanisme penelusuran aliran dana karena tindak
pidana terorisme tidak mungkin dapat dilakukan tanpa didukung oleh tersedianya dana untuk
kegiatan terorisme tersebut. Pendanaan terorisme bersifat lintas negara sehingga upaya
pencegahan dan pemberantasan dilakukan dengan melibatkan Penyedia Jasa Keuangan, aparat
penegak hukum, dan kerja sama internasional untuk mendeteksi adanya suatu aliran dana yang
digunakan atau diduga digunakan untuk pendanaan kegiatan terorisme. Dengan adanya upaya
tersebut, maka meminimalisir celah-celah terorisme.

 Upaya pencegahan radikalisme

Paradigma pembangunan Negara adalah mencapai kesejahteraan bagi masyarakatnya


sesuai dengan amanat konstitusi UUD NRI 1945. Salah satu penyebab munculnya radikalisme
agama adalah pemahaman tentang ajaran agama yang sempit. Hal itu dapat tejadi ketika
informasi yang diperoleh oleh seseorang atau sekelompok orang berasal dari sumber-sumber
yang keliru. Radikalisme dapat memicu tindakantindakan teror. Orang yang terlanjur teracuni
dengan ideologi tersebut cenderung membenarkan perbuatannya meskipun merugikan,
meresahkan dan menyakiti orang lain seperti menghina, mengkafirkan (takfiri), melukai fisik,
atau bahkan menghilangkan nyawa dengan alasan memperjuangkan nilai dan prinsip yang benar
sesuai versi mereka.Dalam paradigma yang mereka bangun berdasarkan pemahaman mereka,
maka menimbulkan kerusakan pada tatanan kehidupan sosial masyarakat. Praktek kejahatan
terorisme, maka dapat dilihat dari jenis terorisme, diantaranya ada dua, yaitu: Pertama, State
Terrorism yakni instrumen kebijakan suatu rejim penguasa dan negara. Dalam dunia politik,
istilah terorisme sering kehilangan makna yang sebenarnya dan menjadi bagian dari retorika
yang menyakitkan antara politikus yang bertikai. Seseorang atau kelompok yang sedang bertikai
biasanya menuduh lawan politiknya dengan melakukan teror, dan apabila tujuan teror ini
berhasil, maka mereka tidak ragu untuk melakukan secara berulang tindakan teror terhadap
lawan. Akibatnya, “sekali seseorang itu dituduh teroris maka orang yang menuduh dan yang lain
merasa memiliki kebebasan untuk menyerang dan menghukumnya dengan tindakan keras dan
menyakitkan.” Penggunaan istilah terorisme, sebagai alat teror politik, sekarang menjadi praktik
yang menggejala dan sangat tidak menyenangkan dilihat dari sudut pandang moral dan hukum.
Kedua, Non-State Terrorism16 yakni bentuk perlawanan terhadap perlakuan politik, sosial,
maupun ekonomi yang tidak adil dan represif yang menimpa seseorang atau kelompok orang.
Dengan hal tersebut merupakan upaya pemberatasan terorisme. Antropisitas radikalisme dapat
dilakukan melalui Jalur Peran Pemerintah,Peran Institusi Keagamaan dan Pendidikan, Peran
Masyarakat Sipil.Peran-peran tersebut dapat mencegah upaya terorisme dan radikalisme dengan
penjelasan sebagai berikut:

1. Peran Pemerintah

Apa peran pemerintah? Harus ada pembedaan soal peran (kebijakan) pemerintah yang
berkaitan dengan (1) ekstremisme keagamaan dan (2) kekerasan yang muncul karena
ekstremisme (religious extremism based violence). Untuk yang pertama, kebijakan pemerintah
dalam menanggulangi ekstremisme keagamaan (religious extremism) dipandang relatif. Secara
umum, kebijakan pemerintah tentang pengurangan kekerasan sudah nampak jelas karena kita
punya UU anti terorisme. Namun untuk ekstremisme keagamaan belum bisa dikatakan jelas
karena jika ekstremisme belum mewujud menjadi tindakan statusnya tidak bisa diapa-apakan
oleh hukum kita. Sebetulnya ada mekanisme yang bisa digunakan untuk menanggulangi masalah
ekstremisme keagamaan lewat hate speech (kebencian) tapi hukum kita belum mengatur masalah
itu secara khusus. Meskipun belum berupa tindakan, namun ujaran kebencian ini yang sering kita
jumpai dimana-mana. Kita lumrah menemukan di banyak pengajian, tabligh akbar, media sosial
dan bahkan di TV-TV yang memuatkan ujaran kebencian atas pihak lain. Selain itu, keberadaan
BNPT19 sebagai organ pemerintah yang fokus kepada penanganan teroris sebagai alat Negara
yang harus menangkal kejahatan teroris dan penyebaran paham radikal .

2. Institusi keagamaan dan pendidikan

Apa yang diharapkan dari mereka untuk berperan? Sesuai dengan wataknya, institusi
keagamaan dan pendidikan tidak bisa dituntut di luar proporsi mereka. Jika mereka berperan
dalam menanggulangi dampak ekstremisme keagamaan maka sifatnya itu adalah sukarela dalam
mendukung kebijakan pemerintah dalam menanggulangi dampak ekstrimisme keagamaan.
Institusi keagamaan seperti pesantren dan sekolah-sekolah agama bisa berperan dalam
menanggulangi dampak ekstremisme keagamaan melalui pemberian materi pembelajaran agama
yang mengutamakan gagasan-gagasan Islam yang rahmatal lil alamin dan toleran. Meskipun
lembaga seperti pesantren itu adalah lembaga pengajaran agama, namun sepanjang sejarah kita,
pesantrenpesantren di Indonesia pada ghalibnya adalah lembaga yang sangat toleran dan terbuka.
Dalam memegang agama, mereka bukan ekstrem namun pious (taqwa). Ketaqwaan sangat
berbeda dengan ekstrem, ia lebih individual dan banding komunal. Sementara ekstremisme
keagamaan itu lebih bersifat komunal dibandingkan individual. Pesantren kita dalam memegang
agama bersifat tengahtengah sebagaimana anjuran populer, khayr al-umur awsatuhu.
Penyemaian pendidikan keagamaan yang demikian ini adalah sumbangan terbesar yang
diberikan oleh pesantren.

3. Masyarakat sipil

Masyarakat Sipil yang di maksud di sini adalah kelompok masyarakat yang bukan
merupakan bagian dari negara (the state) dan juga bukan bagian dari lembaga bisnis dan
ekonomi (the economical). Contoh dari Masyarakat Sipil adalah ormas semacam NU,
Muhammadiyah di samping juga LSM-LSM. Esposito, seorang pakar tentang Islam, melakukan
elaborasi mengenai istilah “fundamentalisme” dengan mengasosiasikan dengan tiga hal sebagai
berikut: Pertama, dikatakan beraliran fundamentalis, apabila mereka menyerukan panggilan
untuk kembali ke ajaran agama yang mendasar atau fonadasi agama yang murni; Kedua,
pemahaman dan persepsi tentang fundamentalisme sangat dipengaruhi ole kelompok Protestan
Amerika, yaitu sebuah gerakan Protestan abad ke-20 yang menekankan penafsiran Injil secara
literal yang fundamental bagi kehidupan ajaran agama Kristen; Ketiga, istilah fundamentalisme
dan anti Amerika. Esposito, kemudian berpendapat bahwa istilah fundamentalisme ini sangat
bermuatan politis Kristen dan stereotype Barat, serta mengindikasikan ancaman monolitik yang
tidak eksis.22 Oleh karena itu, Esposito tidak sependapat dengan kalangan Barat, mengenai
istilah “fundamentalisme Islam”, ia lebih cenderung untuk memakai istilah “revivalisme Islam”
atau “aktivisme Islam” yang menurutnya tidak berat sebelah dan memiliki akar dalam tradisi
Islam.23 Oleh karena itu, peran dunia pendidikan24 diperlukan dalam membangun pemahaman
di masyarakat, sehingga tidak salah dalam memberikan pemahaman keagamaan. Selain itu,
berdasarkan Pasal 11, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2013 Tentang
Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme maka upaya pencegahan
tindak pidana pendanaan terorisme dilakukan melalui:

a. Penerapan prinsip mengenali Pengguna Jasa Keuangan

b. Pelaporan dan pengawasan kepatuhan PJK

c. Pengawasan kegiatan pengiriman uang melalui sistem transfer atau pengiriman


uang melalui sistem lainnya dan

d. Pengawasan pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain ke dalam


atau ke luar daerah pabean Indonesia. Secara kelembagaan bahwa berdasarkan Pasal 41,
UndangUndang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dimana dalam mencegah dan
memberantas tindak pidana pendanaan terorisme, instansi penegak hukum, PPATK, dan
lembaga lain yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
pendanaan terorisme dapat melakukan kerja sama, baik dalam lingkup nasional maupun
internasional. Selain itu, dalam Pasal 41, dimana dalam mencegah dan memberantas
tindak pidana pendanaan terorisme, instansi penegak hukum, PPATK, dan lembaga lain
yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme
dapat melakukan kerja sama, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Dengan
kerjasama yang dibangun secara sistematis, maka akan menekan terjadinya tidak pidana
terorisme dan radikalisme.
 Referensi

Abu Rokhmad, Radikalisme Islam Dan Upaya Deradikalisasi Paham Radikal, Jurnal
Walisongo, Volume 20, Nomor 1, Mei 2012.

Ahmad Asrori, RADIKALISME DI INDONESIA: Antara Historisitas dan Antropisitas,


Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume 9, Nomor 2, Desember 2015.

Anzar Abdullah, Gerakan Radikalisme Dalam Islam: Perspektif Historis, Jurnal Addin,
Vol. 10, No. 1, Februari 2016Dede Rodin, ISLAM DAN RADIKALISME: Telaah atas Ayat-
ayat “Kekerasan” dalam al-Qur’an, Jurnal Addin, Vol. 10, No. 1, Februari 2016.

Emna Laisa, Islam Dan Radikalisme, Jurnal Islamuna Volume 1 Nomor 1 Juni 2014.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan


Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Terorisme.

Republik Indonesia UU No. 9 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan


Tindak Pidana Pendanaan Terorisme.