Anda di halaman 1dari 24

Diet Pada Tindakan Bedah

yuksehat.info.
Diet Pra-bedah. Pengaruh pembedahan terhadap metabolisme pascabedah
bergantung berat rigannya pembedahan, keadaan gizi pasien prabedah, dan pengaruh
pembedahan terhadap kemampuan pasien untuk mencerna dan mengabsorpsi zat-zat gizi.
Setelah pembedahan sering terjadi peningkatan ekskresi nitrogen dan natrium yang
dapat berlangsung selama 5-7 hari atau lebih pascabedah. Peningkatan ekskresi kalsium
terjadi setelah operasi besar, trauma kerangka tubuh, atau setelah lama tidak bergerak
(imobilisasi). Demam meningkatkan kebutuhan energi, sedangkan luka dan pendarahan
meningkatkan kebutuhan protein, zat besi, dan vitamin C. Cairan yang hilang perlu diganti.
A. Diet Pra-Bedah
Diet Pra-Bedah adalah pengaturan makan yang diberikan kepada pasien yang akan
menjalani pembedahan. Pemberian Diet Pra-Bedah tergantung pada:
1. Keadaan umum pasien, apakah normal atau tidak dalam hai status gizi, gula darah,
tekanan darah, ritme jantung, denyut nadi, fungsi ginjal dan suhu tubuh.
2. Macam Pembedahan
a. Bedah minor atau bedah kecil, seperti tindakan insisi, eksrirpasi, dan sirkumsisi
atau khitan.
b. Bedah mayor atau bedah besar, yang dibedakan dalam bedah pada saluran cerna
(lambung, usus halus, dan usus besar) dan bedah di luar saluran cerna (jantung,
ginjal, paru, saluran kemih. tulang, dan sebagainya).
3. Sifat Operasi:
a. Segera dalam keadaan darurat atau cito, sehingga pasien tidak sempat diberi
Diet Pra-Bedah
b. Berencana atau efektif. Pasien disiapkan dengan pemberian DietPra-Bedah
sesuai status gizi dan macarn pembedahan
4. Macam penyakit
a. Penyakit utama yang membutuhkan pembedahan adalah penyakit saluran cerna,
jantung, ginjal, saluran pernapasan dan tulang
b. Penyakit penyerta yang dialami’, misalnya penyakit diabetes melitus, jantung,
dan hipertensi‘
B. Tujuan Diet
Tuiuan Diet Pra-Bedah adalah untuk mengusahakan agar status gizi pasien dalam
keadaan optimal pada saat pembedahan, sehingga tersedia cadangan untuk mengatasi
stres dan penyembuhan luka.
C. Syarat Diet
Syarat-syarat Diet Pra-Bedah adalah:
1. Energi
a. Bagi pasien dengan status gizi kurang diberikan sebanyak 40-45 kkal/kg BB
kebutuhan normal
b. Bagi pasien dengan status gizi baik diberikan sebanyak 10-25% dibawah
kebutuhan normal
c. Bagi pasien dengan status gizi baik diberikan sesuai dengan kebutuhan energi
normal ditambah faktor stres sebesar 15% dari AMB (Angka Metabolisme
Basah)
d. Bagi pasien dengan penyakit tertentu energi diberikan sesuai dengan
penyakitnya
2. Protein
a. Bagi Pasien dengan status gizi kurang, anemia, albumin rendah (< 2,5 mg/dl)
diberikan protein tinggi 1,5-2,0 g/kg BB
b. Bagi pasien dengan status gizi baik atau kegemukan diberikan protein normal
0,8-1 g/kg BB
c. Pasien dengan penyakit tertentu diberikan sesuai dengan penyakitnya
3. Lemak cukup, yait 15-25% dari kebutuhan energi total. Bagi pasien penyakit
tertentu diberikan sesuai dengan penyakitnya
4. Karbohidrat cukup, sebagai sisa dari kebutuhan energi total untuk menghindari
hipermetabolisme. Bagi pasien dengan penyakit tertentu, karbohidrat diberikan
sesuai .dengan penyakitnya.
5. Vitamin cukup, terutama vitamin B, C, dan K. Bila perlu ditambahkan dalam bentuk
suplemen.
6. Mineral cukup. Bila perlu ditambahkan dalam bentuk suplemen.
7. Rendah sisa agar mudah dilakukan pembersihan saluran cerna arau klisma,
sehingga tidak mengganggu proses pembedahan (tidak buang air besar atau kecil di
meja operasi).
D. Jenis Indikasi dan Lama Pemberian Diet
Sesuai dengan jenis dan sifat pembedahan, Diet Pra-Bedah diberikan dengan indikasi
sebagai berikur:
1. Prabedah Darurat atau-Cito
Sebelum pembedahan tidak diberikan diet tertentu.
2. Prabedah Berencana atau Efektif
a. Prabedah minor atau kecil efektif seperti tonsilektomi tidak membutuhkan diet
khusus. Pasien dipuasakan 44 jam sebelum pembedahan. Sedangkan pada
pasien yang akan menjalani apendiktomi, herniatomi, hemoroidektomi, dan
sebagainya diberikan Diet Sisa Rendah sehari sebelumnya.
b. Prabedah mayor atau besar efektif seperti:
1) Prabedah Besar Saluran Cerna diberikan Diet Sisa Rendah selama 4-5 hari,
dengan tahapan:
a) hari ke-4 sebelum pembedahan diberi Makanan Lunak
b) hari ke-3 sebelum pembedahan diberi Makanan Saring.
c) hari ke-2 dan I hari sebelum pembedahan diberi Formula Enreral Sisa
Rendah,
2) Prabedah Besar di luar saluran cerna diberi Formula Enteral Sisa Rendah
selama 2-1 hari. Pemberian makanan rerakhir pada prabedah besar
dilakukan 12-18 jam sebelum pembedahan, sedangkan minum terakhir 8 jam
sebelumnya.
E. Bahan Makanan Sehari dan Nilai Gizi
Bahan makanan sehari dan nilai gizi dapat dilihat pada Makanan Lunak, Makanan
saring dan Makanan Cair
F. Pembagian Bahan Makanan Sehari
Pembagian bahan makanan sehari dapat dilihat padaMakanan Lunak, Makanan Saring,
dan Makanan Cair
G. Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan
Bahan makanan yang dianiurkan dan tidak dianjurkan dapat dilihat pada Makanan
Lunak, Makanan Saring, dan Makanan Cair.
H. Contoh Menu Sehari
Contoh menu sehari dapat dilihat pada menu Makanan Lunak, Makanan Saring, dan
Makanan Cair
I. Cara Memesan Makanan
Diet pra-Bedah Makanan Lunak/Saring/Cair Oral/Formula Enteral (DPBML/ Ms/MCO/
MFE)

SUMBER : anonymous. Diet pra bedah (online) (http://yuksehat.info/diet-pra-bedah/.


didownload pada minggu, 18 desember 2011).
Diet Pasca Operasi
Pengaruh operasi terhadap metabolism pasca-operasi tergantung berat ringannya operasi,
keadaan gizi pasien pasca-operasi, dan pengaruh operasi terhadap kemampuan pasien
untuk mencerna dan mengabsorpsi zat-zat gizi.
Setelah operasi sering terjadi peningkatan ekskresi nitrogen dan natrium yang dapat
berlangsung selama 5-7 hari atau lebih pasca-operasi. Peningkatan ekskresi kalsium terjadi
setelah operasi besar, trauma kerangka tubuh, atau setelah lama tidak bergerak
(imobilisasi). Demam meningkatkan kebutuhan energi, sedangkan luka dan perdarahan
meningkatkan kebutuhan protein, zat besi, dan vitamin C. Cairan yang hilang perlu diganti.
Diet Pasca-operasi adalah makanan yang diberikan kepada pasien setelah menjalani
pembedahan. Pengaturan makanan sesudah pembedahan tergantung pada macam
pembedahan dan jenis penyakit penyerta.
Tujuan diet pasca-operasi adalah untuk mengupayakan agar status gizi pasien segera
kembali normal untuk mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan daya tahan
tubuh pasien, dengan cara sebagai berikut :
1. Memberikan kebutuhan dasar (cairan, energi, protein)
2. Mengganti kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi lain
3. Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan
4. Mencegah dan menghentikan perdarahan

Diet yang disarankan adalah :


1. Mengandung cukup energi, protein, lemak, dan zat-zat gizi
2. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan penderita
3. Menghindari makanan yang merangsang (pedas, asam, dll)
4. Suhu makanan lebih baik bersuhu dingin
5. Pembagian porsi makanan sehari diberikan sesuai dengan kemampuan dan kebiasaan
makan penderita.
Syarat diet pasca-operasi adalah memberikan makanan secara bertahap mulai dari bentuk
cair, saring, lunak, dan biasa. Pemberian makanan dari tahap ke tahap tergantung pada
macam pembedahan dan keadaan pasien, seperti :
1. Pasca-operasi kecil
Makanan diusahakan secepat mungkin kembali seperti biasa atau normal
2. Pasca-operasi besar
Makanan diberikan secara berhati-hati disesuaikan dengan kemampuan pasien untuk
menerimanya.

Jenis Diet dan Indikasi Pemberian


a. Diet Pasca-Bedah I (DPB I)
Diet ini diberikan kepada semua pasien pascabedah :
1. Pasca-bedah kecil : setelah sadar dan rasa mual hilang
2. Pasca-bedah besar : setelah sadar dan rasa mual hilang serta ada tanda-tanda usus mulai
bekerja
Cara Memberikan Makanan
Selama 6 jam sesudah operasi, makanan yang diberikan berupa air putih, the manis, atau
cairan lain seperti pada makanan cair jernih. Makanan ini diberikan dalam waktu sesingkat
mungkin, karena kurang dalam semua zat gizi. Selain itu diberikan makanan parenteral
sesuai kebutuhan.

b. Diet Pasca-Bedah II (PDB II)


Diet pasca-bedah II diberikan kepada pasien pascabedah besar saluran cerna atau sebagai
perpindahan dari Diet Pasca Bedah I
Cara Memberikan Makanan
Makanan diberikan dalam bentuk cair kental, berupa kaldu jernih, sirup, sari buah, sup,
susu, dan puding rata-rata 8-10 kali sehari selama pasien tidak tidur. Jumlah cairan yang
diberikan tergantung keadaan dan kondisi pasien. Selain itu dapat diberikan makanan
parenteral bila diperlukan. DPB II diberikan untuk waktu sesingkat mungkin karena zat
gizinya kurang. Makanan yang tidak boleh diberikan pada diet pasca-bedah II adalah air
jeruk dan minuman yang mengandung karbondioksida.
c. Diet Pasca-Bedah III
Diet Pasca-Bedah III diberikan kepada pasien pascabedah besar saluran cerna atau sebagai
perpindahan dari diet pasca-bedah II.
Cara Memberikan Makanan
Makanan yang diberikan berupa makanan saring ditambah susu dan biscuit. Cairan
hendaknya tidak melebihi 2000 ml sehari. Selain itu dapat memberikan makanan
parenteral bila diperlukan. Makanan yang tidak dianjurkan adalah makanan dengan bumbu
tajam dan minuman yang mengandung karbondioksida.

d. Diet Pasca-Bedah IV
Diet Pasca-Bedah IV diberikan kepada :
1. Pasien pasca bedah kecil, setelah diet pasca-bedah I
2. Pasien pascabedah besar, setelah diet Pasca-Bedah III
Cara Memberikan Makanan
Makanan diberikan berupa makanan lunak yang dibagi dalam 3 kali makanan lengkap dan
1 kali makanan selingan..

Diet Pasca-Bedah lewat Pipa Lambung


Diet Pasca-Bedah lewat Pipa Lambung adalah pemberian makanan bagi pasien dalam
keadaan khusus, seperti koma, terbakar, gangguan psikis, di mana makanan harus
diberikan lewat pipa lambung atau enteral atau Naso Gastric Tube (NGT).
Cara Memberikan Makanan
Makanan diberikan sebagai makanan cair kental penuh, 1 kkal/ml, sebanyak 250 ml tiap 3
jam bila tidak tidur. Makanan diharapkan dapat merangsang peristaltic lambung.
Diet Pasca-Bedah lewat Pipa Jejunum
Diet Pasca-Bedah lewat Pipa Jejunum adalah pemberian makanan bagi pasien yang tidak
dapat menerima makanan melalui oral atau pipa lambung. Makanan diberikan langsung ke
jejunum atau Jejunum Feeding Fistula (JFF).
Cara Memberikan Makanan
Makanan diberikan sebagai makanan cair yang tidak memerlukan pencernaan lambung
dan tidak merangsang jejunum secara mekanis maupun osmotis. Cairan diberikan tetes
demi tetes secara perlahan, agar tidak terjadi diare atau kejang. Diet ini diberikan dalam
waktu singkat karena kurang energi, protein, vitamin, dan zat besinya.
Bahan makanan sehari diet pasca-bedah lewat jejunum adalah: susu bubuk 80 g; dekstrin
maltose 20 g; air kapur (USP) 420 ml; air ml.

Tips Perawatan Pasca-Operasi


Secara umum, untuk mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan kondisi pasien
setelah operasi, maka perlu diperhatikan beberapa tips di bawah ini :
•Makan makanan bergizi
•Konsumsi makanan (lauk pauk) berprotein tinggi, seperti : daging, telur, ayam, ikan.
•Minum sedikitnya 8-10 gelas sehari
•Usahakan cukup istirahat
•Mobilisasi bertahap hingga dapat beraktivitas seperti biasa
•Kontrol secara teratue untuk evaluasi luka operasi dan pemeriksaan kondisi tubuh
•Minum obat sesuai anjuran dokter.

Contoh Diet Pasca-Operasi


Diet Pasca-Operasi Amandel
Biasanya setelah operasi pasien boleh makan makanan cair atau es krim. Makanan cair
dapat berupa susu, tatapi tidak boleh terlalu panas. Makanan dalam suhu dingin lebih baik
karena dapat mempercepat berhentinya perdarahan. Setelah tahap makanan cair, dapat
diberikan makanan dalam bentuk saring bertahap ke makanan lunak dan kembali seperti
semasa sehat, sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan.
Contoh Menu
PAGI
Bubur Sumsum
Orak-Arik Tahu
Telur Rebus Setengah Matang

Pukul 10.00
Puding caramel atau es krim
Siang
Bubur Saring
Gadon daging
orak-arik tahu
Sup Makaroni
Jus Pepaya

Pukul 16.00
Puding Saus Peach

Sore
Bubur Saring
Ayam Giling BUmbu
Tahu kukus
Sup Oyong Variasi

SUMBER : oleh Nuy di 18:02 Jumat, 19 Desember 2008, Diet Pasca Operasi (online)
(http://nuy2008.blogspot.com/2008/12/diet-pasca-operasi_19.html, didownload pada
minggu, 18 desember 2011).
Kamis, 18 Desember 2008
Gizi Pasca Operasi

GIZI PASCA OPERASI


PENDAHULUAN
Operasi (perioperatif) merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh yang mencakup
fase praoperatif, intraoperatif dan pascaoperatif (postoperatif) yang pada umumnya merupakan
suatu peristiwa kompleks yang menegangkan bagi individu yang bersangkutan. Berikut adalah
beberapa tipe pembedahan:
1. Menurut Fungsinya (tujuannya):
Diagnostik (biopsi, laparotomi eksplorasi)
Kuratif atau ablatif (tumor, appendiktomi)
Reparatif yaitu memperbaiki luka multiple
Rekonstruktif atau kosmetik (mammoplasti, perbaikan wajah)
Paliatif yaitu menghilangkan nyeri, memperbaiki masalah (gastrostomi-ketidakmampuan
menelan)
Transplantasi yaitu penanaman organ tubuh untuk menggantikan organ atau struktur tubuh yang
malfungsi (cangkok ginjal, kornea).
2. Menurut tingkat Urgensinya:
Kedaruratan
Klien membutuhkan perhatian dengan segera, gangguan yang diakibatkannya diperkirakan dapat
mengancam jiwa (kematian atau kecacatan fisik), tidak dapat ditunda.
Contoh:
· perdarahan hebat
· luka tembak atau tusuk
· luka bakar luas
· obstruksi kandung kemih atau usus
· fraktur tulang tengkorak
Urgen
Klien membutuhkan perhatian segera, dilaksanakan dalam 24-30 jam.
Contoh:
· infeksi kandung kemih akut
· batu ginjal atau batu pada uretra
Diperlukan
Klien harus menjalani pembedahan, direncanakan dalam beberapa minggu atau bulan.
Contoh:
· Katarak
· gangguan tiroid
· hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih
Elektif
Klien harus dioperasi ketika diperlukan, tidak terlalu membahayakan jika tidak dilakukan.
Contoh:
· hernia simpel
· perbaikan vagina
· perbaikan skar/cikatrik/jaringan parut
Pilihan
Keputusan operasi atau tidaknya tergantung kepada klien (pilihan pribadi klien).
Contoh: bedah kosmetik.
3. Menurut Luas atau Tingkat Resiko:
Mayor
Operasi yang melibatkan organ tubuh secara luas dan mempunyai tingkat resiko yang tinggi
terhadap kelangsungan hidup klien.
Contoh: bypass arteri koroner.
Minor
Operasi pada sebagian kecil dari tubuh yang mempunyai resiko komplikasi lebih kecil
dibandingkan dengan operasi mayor.
Contoh: Katarak, operasi plastik pada wajah.

Pengobatan secara diet terhadap pasien pembedahan bergantung pada jenis pembedahan.
Pengobatan melalui diet dilakukan secara individu dan berdasarkan macam oeprasi. Misalnya
pasien operasi lambung (bedah mayor) memperoleh program diet yang berbeda dengan program
diet yang diberikan kepada pasien amputasi lengan.
Asupan gizi pasca bedah yang cukup, dapat menunjukkan indikasi pemberian makanan secara
oral pada 24 samapi 48 jam pertama setelah operasi dapat mepercepat muntah akibat operasi.
Selama periode pertengahan pasca bedah, keseimbangan elektrolit dan cairan dapat
dipertahankan melalui pembuluh darah, jaringan subkutan, dan suntikan melalui dubur. Suntikan
melalui dubur dapat juga digunakan untuk pemberian obat penenang.
DEFENISI DIET PASCA BEDAH
Pengobatan melalui diet sebelum dan setelah operasi atau pembedahan adalah hal yang sangat
penting dalam kesuksesan operasi tersebut, sama pentingnya dengan keselamatan dan
kenyamanan pasien. Diet Pasca Bedah atau opearsi adalah makanan yang diberikan kepada
pasien setelah menjalani pembedahan. Pengaturan makanan sesudah pembedahan tergantung
pada macam operasi atau pembedahan dan jenis penyakit penyerta. Waktu ketidakmampuan
pasien setelah operasi atau pembedahan dapat diperpendek melalui pemberian zat gizi yang
cukup. Hal yang juga harus diperhatikan dalam pemberian diet pasca operasi untuk mencapai
hasil yang optimal adalah mengenai karakter individu pasien.
TUJUAN DIET PASCA BEDAH
Tujuan Diet Pasca Bedah adalah untuk mengupayakan agar status gizi pasien segera kembali
normal untuk mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien,
dengan cara sebagai berikut:
1. Memberikan kebutuhan dasar (cairan, energi, protein),
2. Mengganti kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi lain,
3. Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan.
SYARAT DIET PASCA BEDAH
Syarat Diet Pasca Bedah adalah memberikan makanan secara bertahap mulai dari ebntuk cair,
saring, lunak dan biasa. Pemberian makanan dari tahap ke tahap tergantung dari macam
pembedahan dan keadaan pasien, seperti:
1. Pasca bedah minor →makanan diusahakan secepat mungkin kembali seperti biasa atau
normal.
2. Pasca bedah mayor →makanan diberikan secara hati-hati disesuaikan dengan kemampuan
pasien untuk menerimanya.
PENGATURAN UMUM DIET PASCA BEDAH
Kebanyakan operasi memberikan Diet Pasca Bedah harian yang dipesan untuk pasiennya.
Beberapa dokter membuat formula porgram diet mereka sendiri, yang dilakukan berdasarkan
percobaan. Ada beberapa prinsip umum yang dapat digunakan dalam Diet Pasca Bedah. Pada
umumnya, pemenuhan zat gizi pasien akan mengurangi waktu pemulihan atau penyembuhan,
infeksi, dan komplikasi.
Protein.
Jika program diet mengandung protein, tubuh harus menyediakannya sendiri. Sekitar 150
gram/hari diberikan kepada pasien setelah operasi. Segera setelah luka atau penyakit, malnutrisi,
khususnya yang kehilangan protein, hampir selalu terjadi. Ini merupakan hasil dari sebuah
peningkatan kerusakan jaringan atau mengurangi asupan makanan karena ketidakmampuan atau
ketidaksukaan pasien untuk mengkonsumsi makanan yang sebenarnya dia butuhkan.
Jika tidak terdapat karbohidrat yang cukup dalam diet, protein akan dipecah melalui proses
metabolik untuk mengganti karbohidrat yang kurang. Jika terdapat pengurangan atau pelepasan
yang terjadi di peritonitis atau luka terbuka, kemungkinan sebanyak 50 gram protein akan hilang
dalam sehari. Kemungkinan terdapat kehilangan protein dikarenakan pendarahan atau
pengeluaran dari ginjal. Penipisan atau kehabisan protein dalam tubuh merupakan hal yang
serius, dapat menyebabkan edema, mencegah penyembuhan luka, membuat hati bekerja lebih
keras dalam menghancurkan racun, mengganggu regenerasi hemoglobin, mencegah permulaan
aktivitas gastrointestinal, dan menunda pengembalian kekuatan otot. Hal inilah yang
menyebabkan pasien pasca bedah menjadi lemah.
Protein Hidrolisat (protein sebelum dicerna) secara frekuensi digunakan sebagai suplemen dalam
diet untuk kasus pemulihan sesudah operasi. Mereka tidak mempunyai keuntungan gizi yang
utuh, seluruh protein dan keberadaannya hanya diindikasikan pada kasus penyakit pankreas
dimana saluran pencernaan tidak mampu mencerna seluruh protein atau pemberian makan secara
parenteral.
Kandungan Protein dalam Perencanaan Menu Makan Sehari
Waktu Makan

Menu
Kandungan Protein dalam gram
(1)
100 gram
(2)
125 gram
(3)
150 gram
Sarapan
Jus buah, jeruk ½ gelas
0.5
0.5
0.5

Sereal ½ gelas
2.5
2.5
2.5

Susu whole milk ½ gelas


4.2
4.2
4.2

Susu cair non lemak 2 sdm


-
6.0
6.0

Telur 1 btr
6.5
6.5
6.5

Roti (putih atau gandum) 1 helai


2.5
2.5
2.5

Mentega atau margarin (dioles)


-
-
-

Whole milk
8.5
8.5
8.5
Makan Siang
Daging, unggas, ikan atau keju
15.2
15.2
15.2

Salad dressing ½ gelas


0.5
0.5
0.5
Waktu
Makan

Menu
Kandungan Protein dalam gram
(1)
100 gram
(2)
125 gram
(3)
150 gram

Sayuran hijau atau kuning yang diolah ½ gelas


2.0
2.0
2.0

Roti (putih atau gandum) 1 helai


2.5
2.5
2.5

Mentega atau margarine (dioles)

Buah pencuci mulut


0.5
0.5
0.5

Whole milk 1 gelas


8.5
8.5
8.5

Susu kering tanpa lemak 2 sdm


-
6.0
6.0
Selingan Siang
Whole milk 1 gelas
-
8.5
8.5

Susu kering tanpa lemak 2 sdm


-
-
6.0
Kraker 2 keping
-
-
2.5
Makan Malam
Daging, unggas, ikan atau keju
22.8
22.8
22.8

Sayuran yang dimasak ½ gelas


2.0
2.0
2.0

Kentang
2.0
2.0
2.0

Susu kering tanpa lemak 2 sdm


-
0.6
0.6

Roti (putih atau gandum) 1 helai


2.5
2.5
2.5

Puding
4.5
4.5
4.5

Susu kering tanpa lemak 2 sdm


-
-
6.0

Whole milk
8.5
8.5
8.5
Selingan Malam
Whole milk 1 gelas
8.5
8.5
8.5

Susu kering tanpa lemak 2 sdm


-
-
6.0
Total gram protein
104.7
131.2
151.7
Sumber: Krause 1961
Jika kalori dibutuhkan untuk menjaga berat badan tetap normal, konsentrasi makanan dapat
ditambah dengan gula, jeli, kecap dan salad dressing.
Vitamin.
Dewasa ini, asam askorbat merupakan satu-satunya zat gizi yang jika kekurangan dalam tubuh,
maka akan mengakibatkan penundaan dan mencegah penyembuhan luka. Kekurangan vitamin K
menunjukkan kekurangan protrombin di dalam darah yang dihasilkan akibat penggumpalan.
Oleh karena itu, vitamin dibutuhkan dalam diet pasca operasi. Vitamin B kompleks, khususnya
Thiamin adalah hal yang penting untuk dipertimbangkan. Dalam hal pembedahan, vitamin A
dapat mengganggu proses epitalisasi yang normal.
Cairan.
Secara langsung setelah operasi, setiap pasien seharusnya memperoleh asupan cairan yang cukup
untuk memelihara keseimbangan cairan di dalam tubuh. Pada saat itu, pasien mengalami
kesulitan memasukkan air dalam jumlah banyak melalui mulutnya, dan cairan akan diatur oleh
proses proctoclysis atau oleh suntikan pada pembuluh darah atau jaringan subkutan.
Makanan.
Makanan yang dikenalkan pada kondisi setelah oeprasi atau bedah bergantung pada kondisi
sistem gastrointestinal pasien. Untuk dapat memakan semua protein yang dibutuhkan, pangan
sumber protein kualitas tinggi dalam jumlah banyak seperti susu, daging dan telur, adalah perlu.
Ketika kebutuhan sejumlah makanan tidak dapat dipenuhi, protein dalam bentuk hidrolisat atau
ikatan protein lainnya, yang juga dihasilkan dari mineral, vitamin dan kalori, harus diperoleh.
Cara Diet yang Rutin
a. Parenteral Feeding
Perlindungan terhadap penyakit menyerang pengurangan zat gizi harus dimulai selama 24 jam
pertama setelah bedah mayor. Seluruh transfusi darah dalam prosedur ruitn. Setelah transfusi
darah selesai, direkomendasikan bahwa 15% dekstrosa dalam air dengan ditambah vitamin,
ditambah 5% protein hidrolisat dalam 5 sampai 10% dalam larutan dekstrosa yang diatur.
Persiapan ini dapat memenuhi cairan yang dibutuhkan sama seperti kebutuhan kalori dan protein.
Pemenuhan zat gizi secara parenteral dilakukan untuk waktu yang lama yakni 3 sampai 4 hari,
kuantitas pemenuhan semua zat gizi esensial harus disuplai dalam cairan parenteral, dimulai
sejak hari pertama setelah operasi. Contoh sederhana:
b. Formula Pemenuhan Parenteral Feeding
700cc 15% glukosa dalam larutan (setelah 24 jam pertama, ditambah 2.23 gram KCl jika
pengeluaran urine normal) dan 2cc campuran vitamin parenteral ditambah 2000cc dari 5%
protein hidrolisat dalam 5% larutan glukosa. Formula ini akan mensuplai:
Air 2700cc
Asam amino 100 gram
Kalori non protein 1220
Total kallori 1620
NaCl 6 gram
Kalium 30 mEq
Asam askorbat 300 mg
Thiamin HCl 5 mg
Riboflavin 5 mg
Niacinamide 100 mg
Kalsium Pantotenat 20 mg
Piridoksin 2 mg

c. Oral Feeding
Meskipun sebaiknya menghindari puasa seketika setelah operasi, tetapi hal ini penting untuk
tidak meningkatkan jumlah dietnya secara cepat. Diet sebaiknya bertambah secara perlahan.
Tidak menggembungkan cairan, seperti teh, air jahe, dan air daging adalah pangan pertama yang
diperbolehkan. Susu dan jus jeruk dapat menjadikan perut pasien kembung, sehingga harus
dihindari pada hari kedua sampai hari ketiga setelah operasi atau bedah.
Diet rutin khususnya untuk bedah mayor, menempatkan pasien pada kondisi terbatas atau diet
bersih dari cairan pada hari kedua setelah operasi, kemudian diperbolehkan diet cair penuh pada
hari ketiga sampai hari keempat setelah operasi. Biasanya pada hari keempat sampai hari kelima
diet yang diberikan adalah diet lunak, dan hari kelima sampai keenam setelah operasi dapat
diberikan diet biasa. Berdasarkan Rekomendasi Kebutuhan Makan Harian, orang sehat mungkin
melebihi 100% (kecuali kalori) dengan intik protein, terutama penyimpanan tinggi (150
gram/hari).
Macam – macam Diet Pasca Bedah
a. Diet Untuk Bedah Kantung Empedu dan Kombinasi dengan Abdomino-Perineal
Bedah pada kantung empedu yang dikombinasikan dengan Abdomino-Perineal, oral feeding
biasanya diberikan di awal. Berikut adalah sebuah contoh jadwal diet yang sederhana:
Hari pertama (hari saat operasi): dipenuhi kebutuhan transfusi dan formula infus yang cukup.
Hari kedua : ditambah sejumlah kecil cairan (teh, gelatin, dan air jahe) tanpa susu atau jus buah.
Hari ketiga : cairan, termasuk susu skim dan jus buah boleh diberikan. Pemberian makanan
pembuluh darah melalui infus dilanjutkan, kecuali glukosa dalam air, ditambah vitamin dapat
digantikan dengan bagian dari larutan garam.
Hari keempat : sejumlah kecil campuran cairan yang mengandung tinggi protein boleh
ditambahkan. Pada hari ini 1 liter protein hidrolisat dapat dihilangkan dari pemberian makanan
bagi pembuluh darah.
Hari kelima : jumlah makanan boleh ditingkatkan, setidaknya 70-100 gram. Protein harus
tersedia dalam oral feeding. Pemberian vitamin secara oral sudah bisa diberikan. Pemberian
makan pembuluh darah melalui infus dapat dihentikan.
Hari keenam : Diet makanan biasa sudah bisa diberikan kepada pasien.
Beberapa pasien yang kantung empedunya dioperasi, mungkin lebih merasa nyaman dengan diet
rendah lemak untuk beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan setelah operasi.
b. Diet Pasca Operasi Anus/Dubur
Operasi dubur hampir sama dengan hemorrhoidectomy, pemberian makan biasanya dilakukan
dalam waktu 24 jam atau sesegera mungkin, bergantung pada anastesi yang telah diatur.
Pengaturan pasca operasi beragam. Beberapa pembedah lebih suka memberi diet rendah serat,
dengan sisa yang terbatas untuk mengurangi pergerakan isi perut. Hal lain yang diperbolehkan
diet normal dan menambah defekasi yang dibantu dengan minyak mineral. Penggunaan jangka
panjang minyak mineral dapat mengurangi karena menganggu penyerapan beberapa mineral dan
vitamin.
c. Diet Pasca Operasi Umum
Diet yang ditentukan untuk pasien yang mempunyai riwayat bedah tulang atau gigi, atau yang
telah mengalami kecelakaan kecil, dapat diberi lebih dulu program diet yang lebih cepat
dibandingkan dengan program diet pasca operasi gastrointestinal. Secara bertahap, pasien dapat
mengkonsumsi diet berupa cairan penuh pada hari kedua setelah operasi, diet makanan lunak
pada hari ketiga, dan diet makanan biasa pada hari keempat. Kondisi pasien menentukan diet
yang akan dikonsumsi. Yang perlu diperhatikan adalah diet tersebut harus dapat memenuhi
kebutuhan kalori dan protein. Vitamin secara bertahap diberikan sebagai suplemen.
d. Diet Pasca Operasi Mulut dan atau Esofagus
Setelah operasi mulut atau esofagus, pemberian makanan secara parenteral yang biasanya
diberikan pada pasien di awal, dengan pemberian makan dengan menggunakan tabung. Sejak
pasien tinggal di rumah sakit untuk jangka waktu yang cukup lama, yang paling utama adalah
formula diet yang akan diberikan harus memenuhi kebutuhan semua zat gizi. Kebutuhan cairan
dapat dipenuhi secara oral, jenisnya dapat diperoleh dengan mengencerkan makanan padat,
seperti kentang, daging cincang, sayuran dan buah dengan cara diblender atau disaring dan
ditambahkan cairan.
e. Diet Pasca Patah Tulang dan Trauma Lainnya
Pasien yang patah tulang memerlukan peningkatan pemecahan protein dalam pemberian asupan
gizi yang baik bagi individu, yang dapat diperburuk kondisinya hingga menjadi tidak dapat
bergerak, hanya mampu beraktivitas di atas kasur saja. Kehilangan protein (kehilangan nitrogen)
dibarengi dengan kehilangan kalium, fosfor dan sulfur. Perkembangan osteoporosis bertepatan
dengan kehilangan kalsium yang dapat menyebabkan si penderita tidak dapat bergerak.
Pengaturan diet patah tulang: Protein, kalori dan semua zat gizi yang dibutuhkan diperoleh dalam
jumlah bebas. Dibutuhkan sekitar 50 gram protein ditambah 3000 kalori kalori non protein.
Pemindahan cairan dan elektrolit juga dibutuhkan. Jika pasien tidak mampu makan tetapi
membutuhkan sejumlah makanan yang tinggi protein dan tinggi kalori, maka minuman bisa
diberikan diantara waktu makan.
Penyembuhan patah tulang yang kurang baik ketika jaringan telah habis. Protein bebas dalam
diet menyokong kalsium dalam tulang dan membentuk tulang yang baik.
Metode Pemberian Makan Buatan
a. Tube Feeding.
Tube Feeding merupakan metode yang paling sering digunakan dalamdiet pasca bedah. Ketika
pasien tidak mampu untuk makan melalui mulut setelah melewati operasi, kecelakaan, pingsan,
kasrinoma pada esofagus, kebutuhan zat gizi harus disuplai dalam bentuk makanan cair yang
dapat diisi di dalam tabung. Zat gizi yang tinggi kalori dikombinasikan dengan makanan yang
memungkinkan dimasukkan ke dalam tabung, dapat menyuplai 115 gram protein, 180 gram
lemak, 230 gram karbohidrat, dan 3000 kalori.
Jumlah pemberian makan diatur berdasarkan resep dari ahli diet. Penambahan kalori dapat
dilakukan melalui penambahan minyak, laktosa, atau emulsi lemak. Penambahan protein dapat
diperoleh dari protein konsentrat. Mensubstitusi whole milk untuk krim akan menurunkan
kandungan lemak dan kalori. Untuk mengurangi lemak, susu skim dapat mengganti whole milk
dan krim.
Tube Feeding biasanya dilakukan melalui saluran hidung. Ketika keberlangsungan esofagus
yang normal tidak dapat utuh, gastrostomy dan pipa dimasukkan cairan yang mengandung zat
gizi ke dalam tubuh secara aman menuju dinding perut. Cairan tersebut mengalir ke dalam
lambung melalui rongga. Pasien membutuhkan dukungan yang besar untuk mengatur kondisi ini.
Saat pemberian zat gizi, suster akan sangat membantu dalam memberikan kenyamanan saat
makan dengan cara seperti ini.
b. Rectal Feeding
Pemberian makan kepada pasien melalui rektum akan membatasi kualitas dan kuantitas makanan
yang diberikan. Makanan tidak dapat melewati katup ileocecal dengan diserap melalui usus
besar. Karena usus besar merupakan tempat penyimpanan utama dan bukan merupakan organ
pencernaan dan penyerapan zat gizi (kecuali cairan dan garam). Pada Rectal Feeding sedikit
seklai protein yang dapat terserap datau bahkan tidak tercerna dan terserap, dan kemungkinan
lemak dan karbohidrat tidak digunakan.
c. Transfusi Darah
Seluruh transfusi darah memiliki peran yang penting terhadap pemberian makan pasca bedah
mayor dengan kehilangan darah terlalu banyak, seperti dalam kasus hipertiriod, bebrapa
pendarahan, discrasia, dan keracunan akibat kekurangan oksigen dalam eritrosit (keracunan
akibat karbonmonoksida).
Plasa atyau serum darah lebih mudah dugunakan dalam transfusi darah, disimpan dan
dikombinasikan tanpa penggumpalan seluruh darah. Jika pendarahan terjadi dan masih terdapat
kekurangan oksigen yang akan membawa zat gizi ke dalam darah, sel darah merah akan
bertambah jumlahnya dalam semua pembentukan darah atau suspensi sel. Plasma atau serum
darah tidak tepat untuk anemia akibat pendarahan.
Diposkan oleh diNa S.Gz di 20:18
http://ritongadina.blogspot.com/2008/12/gizi-pasca-operasi.html
Diet Pasca Bedah II (DPB II)
yuksehat.info.Diet Pasca Bedah II (DPB II). Diet Pasca Bedah II diberikan kepada pasien
pascabedah besar saluran cerna atau sebagai perpindahan dari Diet Pasca-Bedah I

Cara Memberikan Makanan Makanan

Makanan diberikan dalam bentuk cair kental, berupa kaldu jernih, sirup, sari buah, sup, susu, dan
puding rara-rara 8-10 kali sehari selama pasien tidak tidur. Jumlah cairan yang diberikan
tergantung keadaan dan kondisi pasien. Selain itu dapat diberikan Makanan Parenteral bila
diperlukan. DPB II diberikan untuk waktu sesingkat mungkin karena zat gizinya kurang.

Bahan Makanan Sehari dan Nilai Gizi

Bahan makanan sehari dan nilai gizi Diet Pasca-Bedah II dapat dilihat pada Makanan Cair
Kental dengan pemberian secara berangsur dimulai 50 ml/jam.

Makanan yang Tidak Diperbolehkan

Makanan yang ridak diperbolehkan pada Diet Pasca-Bedah II adalah air jeruk dan minuman
yang mengandung karbondioksida.

http://yuksehat.info/diet-pasca-bedah-ii-dpb-ii/

Diet Pasca Bedah I (DPB I)


yuksehat.info.Diet Pasca Bedah I (DPB I). Diet ini diberikan kepada semua pasien pascabedah:

a. Pascabedah Kecil: Setelah sadar atau rasa mual hilang.

b. Pascabedah Besar: Setelah sadar dan rasa mual hilang serta ada tanda-tanda usus sudah
mulai bekerja

Cara Memberikan Makanan

Selama 6 jam sesudah pembedahan, makanan yang diberikan berupa, air putih, teh manis atau
cairan lain seperti pada Makanan Cair Jernih. Makanan ini diberikan dalam waktu sesngkat
mungkin, karena kurang dalam semua zat gizi. Selain itu diberikan Makanan Parenteral sesuai
kebutuhan.

Bahan Makanan Sehari dan Nilai Gizi

Bahan makanan sehari dan nilai gizi dapat dilihat pada Diet Makanan Cair Jernih. Makanan ini
diberikan secara bercahap sesuai kemampuan dan kondisi pasien, mulai dari 30 ml/jam.
Cara Memesan Diet

Diet Pasca Bedah I (DPB I)

Diet Pasca Bedah IV (DPB IV)


yuksehat.info.Diet Pasca Bedah IV (DPB IV). Diet Pasca Bedah IV diberikan kepada :

a. Pasien pasca bedah kecil, setelah Diet Pasca-Bedah I

b. Pasien pasca bedah besar, setelah Diet Pasca-Bedah III

Cara Memberikan Makanan

Makanan diberikan berupa Makanan Lunak yang dibagi dalam 3 kali makanan lengkap dan 1
kali makanan selingan.

Bahan Makanan Sehari dan Nilai Gizi

Bahan makanan sehari dan nilai dapat dilihat pada Makanan Lunak. Apabila makanan pokok
dalam bentuk bubur atau tim tidak habis, sebagai pengganti diberikan makanan selingan pukull
16.00 dan 22.00 berupa 2 buah biskuit atau 1 porsi puding dan 1 gelas susu.

Makanan yang Tidak Dianjurkan

Makanan yang tidak dianjurkan untuk Diet Pasca-Bedah IV adalah makanan dengan bumbu
tajam dan minuman yang mengandung karbondioksida (CO2).

Cara Memesan Diet

Diet Pasca-Bedah IV (DPB IV)

Diet Pasca Bedah


Diet Pasca-Bedah adalah makanan yang diberikan kepada pasien setelah menjalani pembedahan.
Pengaturan makanan sesudah pembedahan tergantung pada macam pembedahan dan jenis
penyakit penyerta (Lihat Diet Pra-Bedah).

Tujuan

Tujuan Diet Pasca-Bedah adalah untuk mengupayakan agar status gizi pasien segera kembali
normal untuk mempercepat penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dengan
cara sebagai berikut :

(1) Memberikan kebutuhan dasar (cairan, energi, protein)

(2) Mengganti kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi lain

(3) Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan

Syarat Diet

Syarat Diet Pasca-Bedah adalah memberikan makanan secara benahap mulai dari bentuk cair,
saring, Iunak, dan biasa. Pemberian makanan dari tahap ke tahap tergantung pada macam
pembedahan dan keadaan pasien seperti:

1. Pascabedah Kecil.

Makanan diusahakan secepat mungkin kembaii seperti biasa atau normal.

2. Pascabedah Besar

Makanan diberikan secara berhati-hati disesuaikan dengan kemampuan pasien untuk


menerimanya
Diet Pasca Bedah III (DPB III)
yuksehat.info.Diet Pasca Bedah III (DPB III). Diet Pasca-Bedah III diberikan kepada pasien
pascabecah besar saluran cerna atau sebagai perpindahan dari Diet Pasca-Bedah II.

Cara Memberikan Makanan

Makanan yang diberikan berupa Makanan Saring ditambah susu dan biskuit. Cairan hendaknya
tidak melebihi 2000 ml sehari. Selain itu dapat diberikan Makanan Parenteral bila diperlukan.

Makanan yang Tidak Dianjurkan

Makanan yang tidak dianjurkan untuk Diet Pasca-Bedah III adalah makanan dengan bumbu
tajam dan minuman yang mengandung karbondioksida.

Bahan Makanan Sehari dan Nilai Gizi

Bahan makanan sehari dan nilai gizi Diet Pasca Bedah III dapat dilihat pada Makanan saring
ditambah dengan :

Pukul 16.00

- Susu 1 gelas

- Gula Pasir 20 gram

Pukul 22.00

Biskuit 30 gram

Nilai Gizi Tambahan

Energi 337 kkal

Protein 8 gram

Lemak 12 gram

Karbohidrat 50 gram

Kalsium 246 mg

Besi 1 mg

Vitamin A 392 RE
Tiamin 0,1 mg

Vitamin C 1,5 mg

Cara Memesan Diet

Diet Pasca-Bedah III (DPB III)