Anda di halaman 1dari 5

Kebijakan perpajakan merupakan salah satu instrumen kebijakan fiskal yang berfungsi untuk

pengaturan dalam rangka meraih tujuan bernegara, seperti stabilisasi perekonomian, redistribusi
pendapatan, dan akselerasi pertumbuhan ekonomi (Amir, et al.,; Gemmel, 1998; dalam Amir, 2015).
Oleh karena itu penetapan kebijakan perpajakan harus dipertimbangkan dengan hati-hati.

Tren penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2015 membuat Pemerintah
mencari cara untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan konsumsi. Guna menghadapi kondisi
ini, pemerintah membuat berbagai kebijakan fiskal yang salah satunya melalui kebijakan perpajakan.
Salah satu stimulus yang diberikan Pemerintah di tahun 2016 adalah kenaikan Penghasilan Tidak Kena
Pajak (PTKP). Komisi IX DPR telah menyetujui kenaikan PTKP sebesar 50% dari Rp 36 juta per tahun
atau Rp 3 juta per bulan menjadi Rp 54 juta per tahun atau Rp 4,5 juta per bulan. Kenaikan PTKP ini
mendapat respon positif dari berbagai kalangan, terutama bagi kelompok Wajib Pajak Orang Pribadi
(WPOP) karyawan yang dewasa ini upah minimumnya telah ditetapkan di atas PTKP pada beberapa
daerah. Aturan perubahan PTKP ini bersifat retroaktif atau berlaku surut, artinya mulai 1 Januari 2016,
Wajib Pajak dengan penghasilan dibawah Rp 4,5 juta per bulan tidak lagi dipotong Pajak Penghasilan
Pasal 21 (PPh 21).

PPh Pasal 21 atas karyawan tetap ataupun karyawan tidak tetap, serta tenaga ahli (bukan
pegawai) seperti dokter, konsultan dan profesional lainnya, selama ini memang menjadi salah satu
komponen penyumbang terbesar penerimaan pajak di Indonesia. Secara hukum, ketentuan
pemotongan PPh Pasal 21 memang sudah cukup kuat dan tingkat kepatuhan dalam pemungutannya
sudah relatif bagus, sehingga pembayaran pajak dari sektor ini memberi kontribusi yang cukup besar,
yaitu sebesar Rp 105 triliun yang hampir mencapai 70% dari penerimaan PPh Badan sebesar Rp 155
triliun di tahun 2015. Di sisi lain, WP OP Non Karyawan juga merasakan manfaat atas kenaikan
tersebut. Namun demikian, penerimaan PPh 21 atas WP OP Non Karyawan hanya memiliki porsi
penerimaan yang sangat kecil, yaitu sebesar Rp 6 triliun sehingga dampak yang dirasakan atas
kelompok WP OP Non Karyawan tersebut tidak terlalu besar.

Penghasilan Tidak Kena Pajak merupakan pengurang penghasilan neto individu untuk
menentukan berapa sebenarnya penghasilan kena pajak (PKP) atas individu tersebut. Semakin besar
PTKP, semakin kecil PKP-nya, dan semakin besar take home pay-nya. Sebaliknya, semakin kecil PTKP,
semakin besar PKP-nya, dan semakin kecil take home pay-nya. Sebelumnya, pada tahun 2015
Pemerintah juga menaikkan PTKP sebesar 50% dari Rp 24,3 juta per tahun atau 2,025 juta per bulan
menjadi Rp 36 juta per tahun atau Rp 3 juta per bulan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
nomor 122/PMK.10/2015. Berikut ini sejarah perubahan PTKP di Indonesia:

Sejarah Perubahan PTKP di Indonesia (dalam ribuan rupiah)

Status 1984 1995 2001 2005 2006 2009 2013 2015 2016
WP Sendiri 960 1.728 2.880 12.000 13.200 15.840 24.300 36.000 54.000
Status Kawin 480 864 1.440 1.200 1.200 1.320 2.025 3.000 4.500
Penghasilan
Istri/Lebih dari
1 Pemberi Kerja 960 1.728 2.880 12.000 13.200 15.840 24.300 36.000 54.000
Tanggungan
Maksimal 3 480 864 1.440 1.200 1.200 1.320 2.025 3.000 4.500
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah
cukup aktif memperbaharui kenaikan PTKP untuk disesuaikan dengan tingkat inflasi dan kondisi
perekonomian domestik.

Kebijakan kenaikan PTKP dapat berpengaruh pada potensi penerimaan pajak penghasilan
orang pribadi dan juga jenis pajak lainnya seperti PPN dan PPh Pasal 4 ayat (2). Selain itu, kenaikan
PTKP juga akan berpengaruh pada perekonomian nasional, seperti maksud awal atau tujuan
diberlakukannya kebijakan menaikkan PTKP yaitu untuk melindungi dan/atau meningkatkan daya beli
masyarakat. Selain itu, hal ini juga merupakan salah satu stimulus pajak yang akan mendorong
konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.

Dampak Kenaikan PTKP terhadap Penerimaan Pajak

1. Penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 21

Kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) tentunya akan berpengaruh terhadap
penerimaan pajak, apakah akan menghasilkan potential income atau justru sebaliknya. Di satu sisi,
kenaikan PTKP akan berpengaruh negatif terhadap penerimaan PPh Pasal 21, karena jumlah Wajib
Pajak yang penghasilannya dipotong PPh Pasal 21 akan berkurang dan jumlah pembayaran PPh Pasal
21 juga akan berkurang sehingga menimbulkan potensial loss. Hal ini terlihat dalam grafik berikut yang
menunjukkan terjadinya penurunan penerimaan pajak penghasilan orang pribadi pada tahun 2016,
ketika PTKP baru diterapkan, dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2015, jumlah penerimaan
pajak penghasilan orang pribadi sebesar Rp114.043,99 milyar, lalu jumlah ini turun sebesar 3,86%
menjadi sebesar Rp109.644,00 milyar di tahun 2016.

Namun, penurunan realisasi penerimaan PPh Pasal 21 tidak terlihat ketika terjadi kenaikan
PTKP di tahun-tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2013 dan 2015. Ketika terjadi kenaikan PTKP pada
tahun 2013, penerimaan PPh Pasal 21 meningkat sebesar 13,42% menjadi Rp90.162,95 milyar
dibandingkan tahun 2012 (Rp79.594,57milyar). Begitu juga ketika terjadi kenaikan PTKP pada tahun
2015, penerimaan pajak penghasilan orang pribadi justru meningkat sebesar 10,85% menjadi
Rp114.043,99 milyar dibandingkan tahun 2014 (Rp105.625,44 milyar).

Realisasi Penerimaan PPh Pasal 21

117,764.73
Penerimaan PPh Pasal 21

114,043.99 109,644.00
105,625.44
90,162.95
79,594.57

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Tahun

2. Penerimaan PPN dan PPnBM, PPh 22 Impor, PPh pasal 4 ayat (2)
Di sisi lain, kenaikan PTKP akan memberikan pengaruh positif terhadap penerimaan PPN
maupun pajak lainnya, misalnya PPh Pasal 4 ayat (2), karena adanya peningkatan daya beli atas
konsumsi masyarakat dan daya investasi Wajib Pajak khususnya sektor properti.

Penerimaan PPN dan PPnBM


Penerimaan PPn dan PPnBM (milyar rupiah)

480,721.05
408,829.95 423,710.33 412,213.45
384,718.05
337,582.76

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Tahun

Penerimaan negara dari PPN dan PPnBM hampir selalu naik dari tahun ke tahun. Namun, pada
tahun 2016 ketika kenaikan PTKP diberlakukan justru terjadi penurunan sebesar 2,34% dibandingkan
tahun 2015. Kondisi ini dipengaruhi oleh menurunnya PPN dalam negeri karena rendahnya tingkat
konsumsi dan perlambatan belanja pemerintah. Selain itu juga karena rendahnya tingkat inflasi tahun
2016 yang hanya sebesar 3,02% dan berada di batas bawah sasaran target inflasi Bank Indonesia
sebesar 4±1%. Rendahnya tingkat inflasi tersebut antara lain didorong oleh masih terbatasnya
permintaan domestik. Kondisi ini menunjukkan bahwa penambahan take home pay akibat kenaikan
PTKP masih belum bisa meningkatkan daya beli masyarakat untuk mendorong konsumsi. Hal ini
karena adanya faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi tingkat konsumsi tersebut. Namun
demikian, kebijakan kenaikan PTKP pada tahun-tahun sebelumnya, yakni 2013 dan 2015, memiliki
korelasi yang positif dengan penerimaan PPN dan PPnBM. Secara keseluruhan, tren penerimaan PPN
dan PPnBM cukup positif dengan rata-rata kenaikan sebesar 7,56% selama kurun waktu 2013 s.d.
2017.

Penerimaan PPh Pasal 22 Impor tahun 2012 s.d. 2017


Penerimaan PPh Pasal 22 Impor
penerimaan PPh 22 Impor (milyar 43,157.39
39,453.73 40,249.40
36,331.29 37,977.71
31,610.17
rupiah)

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Tahun

Penerimaan PPh Pasal 22 Impor selama lima tahun terakhir, secara keseluruhan memiliki tren
yang positif dengan rata-rata kenaikan sebesar 6,71%. Kenaikan PTKP yang terjadi pada tahun 2013
dan 2015, berdampak positif terhadap penerimaan PPh Pasal 22 Impor sebagaiman terlihat pada
grafik. Namun, penurunan penerimaan PPh Pasal 22 Impor justru terjadi pada tahun 2016 ketika
terjadi kenaikan PTKP, yaitu sebesar 5,66% dibandingkan tahun 2015. Akan tetapi, setelah itu, pada
tahun 2017 kembali terjadi peningkatan penerimaan PPh Pasal 22 Impor.

Sementara itu, kenaikan PTKP pada tahun 2013 dan 2015 berdampak positif terhadap
penerimaan PPh Pasal 4 ayat (2). Hal ini dapat dilihat dalam grafik yang menunjukkan terjadinya
peningkatan signifikan penerimaan PPh Pasal 4 ayat (2) pada tahun 2013 dan 2015. Akan tetapi,
kebijakan kenaikan PTKP yang diterapkan pada tahun 2016 justru berkorelasi negative dengan
penerimaan PPh Pasal 4 ayat (2). Meskipun ada tambahan daya beli masyarakat karena kenaikan PTKP,
pada tahun 2016 justru terjadi penurunan penerimaan PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar 1,85%
dibandingkan tahun 2015 karena adanya penurunan penerimaan dari Revaluasi Aktiva Tetap dan juga
penurunan penerimaan dari Pengalihan Hak atas Tanah/Bangunan akibat adanya penurunan tarif dari
semula 5% menjadi 2,5%.

Penerimaan PPh Pasal 4 ayat (2)


Penerimaan PPh Pasal 4 ayat (2) (milyar

119,665.59 117,679.21
106,317.38
87,318.12
71,569.83
rupiah)

60,385.78

2012 2013 2014 2015 2016 2017


Tahun

Dampak Kenaikan PTKP Terhadap Perekonomian Nasional


Kebijakan untuk menaikkan PTKP ini akan berimplikasi positif bagi pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Pertama, kenaikan PTKP berpotensi meningkatkan konsumsi dalam negeri. Karena ada
tambahan penghasilan yang sebelumnya dipotong untuk membayar pajak, namun sekarang bisa
dialokasikan untuk konsumsi atau belanja sehari-hari. Setidaknya terdapat tambahan sekitar Rp 16,8
Triliun yang disirkulasikan di perekonomian Indonesia melalui konsumsi Rumah Tangga. Konsumsi
domestik ini memiliki relevansi dengan pertumbuhan ekonomi sehingga salah satu strategi
pemerintah untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi adalah dengan meningkatkan daya beli
masyarakat dalam negeri. Sementara pada kondisi ekonomi global yang sedang melemah, dirasakan
sulit bagi pemerintah untuk mendorong sektor lain seperti ekspor. Hal ini dikarenakan negara-negara
yang menjadi destinasi ekspor Indonesia belum pulih kondisi perekonomiannya.

Kedua, dampak kenaikan take home pay berpotensi meningkatkan tabungan atau saving
masyarakat, uang yang sebelumnya digunakan untuk membayar Pajak Penghasilan bisa ditabung jika
WP memilih untuk tidak membelanjakannya. Peningkatan pola saving ini akan menjadi keuntungan
bagi perbankan untuk dapat memutar kembali uang tersebut dalam bentuk pinjaman kredit usaha
mikro, pembiayaan cicilan kredit properti dan instrumen lainnya yang dapat menggerakkan roda
perekonomian bangsa. Ketiga, kenaikan batas PTKP telah meniadakan kewajiban pelaporan pajak
untuk beberapa WP OP Karyawan yang gajinya tidak melebihi atau sama dengan nilai PTKP. Dengan
demikian, kebijakan ini memberikan perlindungan dan keringanan terhadap masyarakat
berpenghasilan rendah dengan tidak lagi terbebani pemotongan PPh 21.