Anda di halaman 1dari 8

PSAK 57: PROVISI, LIABILITAS KONTINJENSI, DAN ASET KONTIJENSI

DEFINISI
Pernyataan ini merupakan adopsi dari IAS 37 Provisions, Contingent Liabilities, and
Contigent Assets. Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur pengakuan dan pengukuran
provisi, liabilitas kontinjensi dan aset kontinjensi serta memastikan informasi yang memadai
telah diungkap dalam catatan atas laporan keuangan agar para pengguna dapat memahami
sifat, waktu, dan jumlah yang terkait dengan informasi tersebut (IAI, 2018). Pernyataan ini
diterapkan oleh semua entitas dalam akuntansinya, kecuali yang timbul dari kontrak
eksekutori, kecuali jika kontrak tersebut bersifat memberatkan; dan hal-hal yang telah
dicakup dalam pernyataan lain (IAI, 2018 par. 1). Kontrak eksekutori adalah kontrak yang
kedua belah pihak terkaitnya belum melaksanakan kewajiban kontrak atau telah
melaksanakan sebagian kewajiban mereka dengan proporsi yang sama (IAI, 2018 par. 3).
PROVISI
Provisi adalah liabilitas yang waktu dan jumlahnya belum pasti (IAI, 2018 par. 10).
Provisi diakui jika entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat
konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu; kemungkinan besar penyelesaian kewajiban
tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi; dan
estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban ter sebut dapat dibuat (IAI, 2018 par. 14).
Dalam peristiwa yang jarang terjadi, tidak dapat ditentukan secara jelas apakah terdapat
kewajiban kini. Dalam hal ini, peristiwa masa lalu dianggap menimbulkan kewajiban kini
jika, setelah mempertimbangkan selurult bukti tersedia, terdapat kemungkinan lebih besar
daripada tidak terjadi bahwa kewajiban kini muncul pada akhir periode pelaporan (IAI, 2018
par. 15). Atas dasar bukti tersebut jika kemungkinan lebih besar daripada tidak terjadi bahwa
kewajiban kini telah ada pada akhir periode pelaporan, maka entitas mengakui provisi (jika
kriteria pengakuan provisi terpenuhi); dan jika kemungkinan lebih besar daripada tidak
terjadi bahwa kewajiban kini belum ada pada akhir periode pelaporan, maka entitas
mengungkapkan liabilitas kontinjensi. Pengungkapan tidak diperlukan jika arus keluar
sumber daya yang mengandung manfaat ekonomik kemungkinannya kecil (IAI, 2018 par.
16).
Peristiwa masa lalu yang menimbulkan kewajiban kini disebut peristiwa mengikat.
Dalam peristiwa yang mengikat, entitas tidak mempunyai alternatif realistis selain
menyelesaikan kewajiban yang timbul dari peristiwa tersebut. Ini akan terjadi hanya jika
penyelesaian kewajiban dipaksakan oleh hukum; atau dalam kasus kewajiban konstruktif
suatu peristiwa (mungkin berupa tindakan entitas) menciptakan ekspektasi yang valid pada
pihak lain bahwa entitas akan bertanggung jawab terhadap kewajiban tersebut (IAI, 2018 par.
17). Entitas tidak mengakui provisi untuk biaya yang diperlukan untuk operasi di masa
depan. Liabilitas yang diakui dalarn laporan posisi keuangan entitas hanyalah liabilitas yang
telah ada pada akhir periode pelaporan (IAI, 2018 par. 18). Provisi diakui hanya untuk
kewajiban yang timbul dari peristiwa masa lalu yang terpisah dari tindakan entitas di masa
depan (yaitu tindakan bisnis entitas di masa depan). Sebaliknya, seperti karena desakan bisnis
atau ketentuan.hukum, entitas mungkin bermaksud atau harus mengeluarkan biaya tertentu
sehingga dapat beroperasi dengan cara tertentu di masa depan. Karena entitas dapat
menghindari pengeluaran biaya di masa depan melaIui tindakan di masa depan. Oleh karena
itu, provisi tidak diakui (IAI, 2018 par. 19).
Suatu peristiwa mungkin tidak segera menimbulkan kewajiban konstruktif. Namun di
kemudian hari peristiwa tersebut dapat menirnbulkan kewajiban konstruktif karena
perubahan peraturan perundang-undangan atau tindakan entitas (IAI, 2018 par. 21). Ketika
rancangan peraturan perundang-undangan sedang dalam proses penyelesaian, kewajiban
dianggap timbul hanya pada saat timbul keyakinan bahwa peraturan perundang-undangan
tersebut akan diberlakukan sesuai dengan rancangannya (IAI, 2018 par. 22).
LIABILITAS KONTINJENSI
Liabilitas kontinjensi adalah kewajiban potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu
dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa
di masa depan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas; atau kewajiban kini yang
timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu, tetapi tidak diakui karena tidak terdapat
kemungkinan entitas mengeluarkan sumber daya yang mengandung manfaat ekonomik untuk
menyelesaikan kewajibannya; atau jumlah kewajiban tersebut tidak dapat diukur secara andal
(IAI, 2018 par. 10). Entitas tidak diperkenankan mengakui liabilitas kontinjensi (IAI, 2018
par. 27). Liabilitas kontinjensi diungkapkan, kecuali arus keluar sumber daya yang
mengandung manfaat ekonomik kemungkinannya kecil (IAI, 2018 par. 28). Jika entitas
bertanggung jawab secara masing-masing dan bersama dengan pihak lainnya(tanggung
renteng) atas suatu kewajiban,maka bagian kewajiban yang diharapkan akan dipenuhi oleh
pihak-pihak lain diperlakukan sebagai liabilitas kontinjensi. Entitas rnengakui provisi untuk
bagian dari kewajiban yang arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomik
berkemungkinan besar, kecuali dalam keadaan sangat jarang, ketika estimasi andal tidak
dapat dibuat (IAI, 2018 par. 29).
ASET KONTINJENSI
Aset kontiniensi adalah aset potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan
keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di
masa depan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas (IAI, 2018 par. 10). Sama
seperti liabilitas kontinjensi, entitas tidak diperkenankan mengakui aset kontinjensi (IAI,
2018 par. 31). Aset kontinjensi biasanya timbul dari peristiwa tidak terencana atau tidak
diharapkan yang menimbulkan kemungkinan arus masuk manfaat ekonomik untuk entitas
(IAI, 2018 par. 32). Aset kontinjensi tidak diakui dalam laporan keuangan karena dapat
menimbulkan pengakuan penghasilan yang mungkin tidak pernah terealisasikan (IAI, 2018
par. 33). Aset kontinjensi diungkapkan jika terdapat kemungkinan besar arus masuk manfaat
ekonomik akan diperoleh entitas (IAI, 2018 par. 34). Jika dapat dipastikan bahwa entitas akan
menerima arus masuk manfaat ekonomik, maka entitas akan mengakui aset dan penghasilan
terkait dalam laporan keuangan pada periode timbulnya kepastian tersebut. Akan tetapi, jika
yang timbul hanya kemungkinan besar (bahwa entitas akan mernperoleh arus masuk rnanfaat
ekonomik), maka entitas mengungkapkannya sebagai aset kontinjensi (IAI, 2018 par. 35).
PENGUKURAN
Estimasi Terbaik
Jumlah yang diakui sebagai provisi adalah hasil estimasi terbaik pengeluaran yang
diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini pada akhir periode pelaporan (IAI, 2018 par.
36). Estimasi terbaik pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban kini
adalah jumlah yang secara rasional akan dlbayar entitas untuk menyelesaikan kewajibannya
pada akhir periode pelaporan atau untuk mengalihkan kewajibannya kepada pihak ketiga
pada saat itu (IAI, 2018 par. 37). Estimasi hasil dan dampak keuangan ditentukan berdasarkan
pertimbangan manajemen entitas, ditunjang dengan pengalaman dari transaksi serupa, serta
dalam beberapa kasus dilengkapi dengan laporan ahli independen. Di antara bukti yang
dipertimbangkan termasuk bukti tambahan yang diperoleh dari peristiwa setelah periode
pelaporan (IAI, 2018 par. 38). Ketidakpastian dari jumlah yang akan diakui sebagai provisi
dapat dinilai dengan berbagai cara sesuai dengan kondisi yang ada, yaitu metode "nilai yang
diharapkan" (expected value). Provisi akan berbeda karena bergantung pada kemungkinan
terjadinya kerugian pada tingkat tertentu. Jika hasil yang timbul adalah suatu rentang hasil
yang berkesinambungan, dan setiap titik dalam rentang tersebut mempunyai kemungkinan
terjadi yang sama, maka yang digunakan adalah nilai tengah rentang tersebut IAI, 2018 par.
39). Jika kewajiban yang diukur hanya satu, maka kemungkinan hasil yang probabilitasnya
paling tinggi merupakan estimasi terbaik dari liabilitas tersebut. Akan tetapi, dalam kasus
demikian, entitas mempertimbangkan kemungkinan hasil lainnya. Iika kemungkinan hasil
lain baik yang sebagian besar lebih tinggi atau sebagian besar lebih rendah dibandingkan
dengan kemungkinan hasil yang probabilitasnya paling tinggi, maka yang dianggap estimasi
terbaik adalah mana yang nilainya lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan kemungkinan
hasil probabilitas paling tinggi tersebut (IAI, 2018 par. 40). Provisi diukur sebelum
memperhitungkan pajak karena dampak pajak dari provisi dan perubahannya diatur dalam
PSAK 46 (IAI, 2018 par. 41).
Risiko dan Ketidakpastian
Dalam menentukan estimasi terbaik suatu provisi, entitas mempertimbangkan
berbagai risiko dan ketidakpastian yang selalu mempengaruhi berbagai peristiwa dan keadaan
(IAI, 2018 par. 42). Risiko menimbulkan hasil yang bervariasi. Penetapan risiko dapat
menyebabkan kenaikan nilai liabilitas yang diukur. Iika terdapat unsur ketidakpastian, maka
entitas perlu berhati-hati sehingga pendapatan atau aset tidak menjadi terlalu besar dan beban
atau liabilitas tidak menjadi terlalu kecil, Akan tetapi, adanya ketidakpastian tidak berarti
entitas membuat provisi berIebihan atau dengan sengaja menyajikan liabilitas terlalu besar
(IAI, 2018 par. 43).
Nilai Kini
Jika dampak nilai waktu dari uallg cukup material, maka jumlan provisi adalah nilai
kini dari perkiraan pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban (IAI, 2018
par. 45). Karena nilai waktu dari nang, provisi yang melibatkan pengeluaran uang yang
timbul seketika setelah periode pelaporan lebih memberatkan jika dibandingkan dengan
provisi yang melibatkan pengeluaran uang dalam jumlah sama yang timbul kemudian. Oleh
karena itu, jika dampaknya bersifat material. provisi didiskontokan (IAI, 2018 par. 46).
Tingkat diskonto adalah tingkat diskonto sebelum 'pajak yatlg mencerminkan penilaian pasar
atas nilai waktu dari uang dan risiko yang terkait dengan liabilltas yang bersangkutan.
Tingkat diskonto tidak boleh mencerminkan risiko yang sudah diperhitungkan dalam estimasi
arus kas masa depan (IAI, 2018 par. 47).
Peristiwa Masa Depan
Peristiwa masa depan yang dapat mempengaruhi jumlah yang diperlukan untuk
menyelesalkan kewajiban tercermin dalam jumlah provisi jika ada bukti objektif bahwa
peristiwa itu akan terjadi (IAI, 2018 par. 48). Dalam menentukan jumlah provisi, entitas perlu
mempertimbangkan peristiwa masa depan yang diperkirakan akan terjadi (IAI, 2018 par. 49).
Dalam mengukur kewajiban yang ada, dipertimbangkan dampak peraturan perundang-
undangan yang kemungkinan akan diberlakukan, khususnya jika terdapat bukti objektif yang
memadai bahwa peraturan perundang-undangan itu pasti akan diberlakukan (IAI, 2018 par.
50).
Rencana Pelepasan Aset
Keuntungan sehubungan dengan rencana pelepasan aset tidak boleh dipertimbangkan
dalam menghitung suatu provisi (IAI, 2018 par. 51). Keuntungan sehubungan dengan rencana
pelepasan aset tidak diperhitungkan dalam menghitung provisi walaupun rencana pelepasan
aset tersebut terkait erat dengan peristiwa yang menyebabkan timbulnya provisi. Sebaliknya,
entitas mengakui keuntungan pelepasan aset tersebut pad a saat yang ditentukan oleh PSAK
yang terkait dengan aset tersebut (IAI, 2018 par. 52).
PENGGANTIAN
lika sebagian atau seluruh pengeluaran untuk menyelesaikan provisi diganti oleh
pihak ketiga, maka pengantian itu diakui hanya pada saat timbul keyakinan bahwa
penggantian pasti akan diterima jika entitas menyelesaikan kewajiban. Penggantian tersebut
diakui sebagai aset yang terpisah. Jumlah yang diakui sebagai penggantian tidak boleh
melebihi nilai provisi (IAI, 2018 par. 53). Dalam laporan laba rugi dan penghasilan
komprehensif lain, beban yang terkait dengan provisi dapat disajikan secara neto setelah
dikurangi jumlah yang diakui sebagai penggantiannya (IAI, 2018 par. 54). Pada umumnya,
entitas akan tetap bertanggung jawab untuk menyelesaikan seluruh jumlah yang menjadi
kewajibannya jika pihak ketiga tidak membayar dengan alasan apa pun. Dalam hal ini, entitas
mengakui provisi sejumlah seluruh liabilitas dan mengakui penggantian yang diharapkan dari
pihak ketiga sebagai aset yangterpisah ketika sudah dapat dipastikan bahwa penggantian
tersebut akan diterima entitas pada saat entitas menyelesaikan liabilitas (IAI, 2018 par. 56).
PERUBAHAN PROVISI
Provisl ditelaah pada setiap akhir periode pelaporan dan disesuaikan untuk
mencerminkan estimasi terbaik yang paling kini. Jika arus keluar sumber daya untuk
menyelesaikan kewajiban kemungkinan besar tidak terjadi, maka provisi dibatalkan (IAI,
2018 par. 59). Jika provisi didiskonto, maka nilai tercatatnya akan meningkat pada setiap
periode untuk mencerminkan berlalunya waktu. Peningkatan ini diakui sebagai biaya
pinjaman (IAI, 2018 par. 60).
PENGGUNAAN PROVISI
Provisi hanya dapat digunakan untllk pengeiuaran yang berhubungan langsung
dengan tujuan pembentukan provisi (IAI, 2018 par. 61). Hanya pengeluaran yang
berhubungan langsung dengan tujuan pembentukan provisi awal yang dapat mengurangi
provisi. Membebankan pengeluaran untuk mengurangi provisi yang semula diakui untuk
tujuan lain akan menghilangkan pengaruh dari dua peristiwa yang berbeda (IAI, 2018 par.
62).
PENERAPAN ATURAN PENGAKUAN DAN PENGUKURAN
Kerugian Operasi Masa Depan
Provisi tidak boleh diakui untuk kerugian operasi masa depan (IAI, 2018 par. 63).
Kerugian operasi masa depan tidak memenuhi definisi liabilitas di paragraf 10 dan kriteria
pengakuan umum bagi provisi seperti yang dijelaskan di paragraf 14 (IAI, 2018 par. 64).
Perkiraan akan terjadinya kerugian operasi masa depan merupakan indikasi bahwa aset
tertentu dalam suatu operasi mungkin mengalami penurunan nilai. Entitas menguji adanya
penurunan nilai aset sesuai dengan PSAK 48 (IAI, 2018 par. 65).
Kontrak Memberatkan
Jika entitas terikat dalam suatu kontrak memberatkan, maka kewajiban kini menurut
kontrak tersebut diukur dan diakui sebagoi provisi (IAI, 2018 par. 66). Banyak kontrak dapat
dibatalkan tanpa membayar kompensasi atau denda kepada pihak lain sehingga tidak ada
kewajiban. Jika terjadi peristiwa yang mengakibatkan kontrak tersebut memberatkan, maka
kontrak tersebut masuk dalarn lingkup pernyataan ini dan terdapat liabilitas yang diakui.
Kontrak eksekutori yang tidak memberatkan berada di luar lingkup pernyataan ini (IAI, 2018
par. 67). Kontrak memberatkan merupakan kontrak yang menimbulkan biaya yang tidak
dapat dihindarkan dalam memenuhi kewajiban menurut kontrak dan biaya tersebut melebihi
manfaat ekonomik yang diperkirakan akan diterima. Biaya yang tidak dapat dihindarkan
dalam kontrak mencerminkan biaya neto terendah untuk terbebas dari ikatan kontrak, yaitu
mana yang lebih rendah antara biaya memenuhi kontrak dengan denda atau kompensasi yang
dibayar jika entitas tidak memenuhi kontrak (IAI, 2018 par. 68). Sebelum membentuk suatu
provisi untuk kontrak yang memberatkan, entitas mengakui kerugian karena penurunan nilai
aset yang diperuntukkan bagi kontrak tersebut (IAI, 2018 par. 69).
Restrukturisasi
Restrukturisasi adalah program yang direncanakan dan dikendalikan oleh manajemen
dan secara material mengubah lingkup kegiatan usaha entitas; atau cara mengelola usaha
(IAI, 2018 par. 10). Provisi untuk biaya restrukturisasi diakui hanya jika kriteria pengakuan
umum yang berlaku bagi provisi sesuai dengan paragraf 14 terpenuhi (IAI, 2018 par. 71).
Kewajiban konstruktif untuk melakukan restrukturisasi muncul hanya jika persyaratan
berikut dipenuhi: entitas memiliki rencana formal yatlg rinci untuk restrukturisasi dengan
mengidentifikasikan sekurang-kurangnya: usaha atau bagian usaha yang terlibat, lokasi utama
yang terpengaruh, lokasi, fungsi, dan perkiraan jumlah pegawai yang akan menerima
kompensasi karena pemutusan hubungan kerja, pengeluaran yang akan terjadi, dan waktu
implementasi reneana tersebut; dan entitas menciptakan perkiraan yang valid kepada pihak-
pihak yang terkena dampak restrukturisasi bahwa entitas akan melaksanakan restrukturisasi
dengan memulai implementasi reneana tersebut atau mengumumkan pokok-pokok rencana
(IAI, 2018 par. 72). Tidak ada kewajiban yang timbul dalam penjualan suatu operasi hingga
entitas membuat suatu perjanjlan penjualan yang mengikat (IAI, 2018 par. 78). Provisi
restrukturisasi hanya mencakup pengeluaran langsung yang timbul dari restrukturisasi, yaitu
memenuhi kedua persyaratan berikut ini: benar-benar harus dikeluarkan dalam rangka
restrukturisasi; dan tidak terkait dengan aktivitas entitas yang masih berlangsung (IAI, 2018
par. 80).
PENGUNGKAPAN
Untuk setiap jenis provisi, entitas mengungkapkan nilai tercatat pada awal dan akhir
periode; provisi tambahan yang dibuat dalam periode bersangkutan, termasuk peningkatan
jumlah provisi yang ada; jumlah yang digunakan, (yaitu jumlah yang terjadi dan dibebankan
pada provisi) selama periode bersangkutan; jumlah yang belum digunakan yang dibatalkan
selama periode bersangkutan; dan peningkatan, selama periode yang bersangkutan, dalam
nilai kini yang timbul karena berlalunya waktu dan dampak dari setiap perubahan tingkat
diskonto (IAI, 2018 par. 84). Entitas juga mengungkapkan uraian .singkat mengenai
karakteristik kewajiban dan perkiraan saat arus keluar manfaat ekonomik terjadi; indikasi
mengenai ketidakpastian saat atau jumlah arus keluar tersebut. Jika diperlukan dalam rangka
menyediakan informasi yang memadai, maka entitas mengungkapkan asumsi utama yang
mendasari prakiraan peristiwa masa depan; dan jumlah estimasi penggantian yang akan
diterima dengan menyebutkan jumlah aset apapun yang telah diakui untuk estimasi
penggantian tersebut (IAI, 2018 par. 85).
Kecuali kemungkinan arus keluar dalam. penyelesaian adalah kecil, entitas
mengungkapkan untuk setiap jenis liabilitas kontinjensi pada akhir perlode pelaporan, uraian
ringkas mengenai karakieristik liabilitas kontinjensi dan, jika praktis estimasi dari dampak
keuangannya yang diukur; indikasi tentang ketidakpastian yang terkait dengan jumlah atau
waktu arus keluar sumber daya; dan kemungklnan penggantian oleh pihak ketiga (IAI, 2018
par. 86). Jika kemungkinan besar terjadi arus masuk manfaat ekonomik, maka entitas
mengungkapkan uraian singkat mengenai karakteristik aset kontinjensi pada akhir periode
pelaporan dan, jika praktis, estimasi dampak keuangannya, diukur sesuai dengan prinsip yang
berlaku bagi provisi (IAI, 2018 par. 89). Jika informasi yang diatur di paragraf 86 dan 89
tidak diungkapkan karena tidak praktis dilakukan, maka fakta tersebut diungkapkan (IAI,
2018 par. 91). Pada kasus yang sangat jarang terjadi, pengungkapan sebagian atau seluruh
informasi yang diatur di paragraf 84-89 diperkirakan dapat menyulitkan entitas dalam
perselisihan dengan pihak lain mengenai hal yang menjadi subjek provisi, liabilitas
kontinjensi, atau aset kontinjensi. Dalam hal demlkian, entitas tidak perlu mengungkapkan
informasi tersebut, tetapi mengungkapkan uraian umum perselisihan, berikut fakta dan alasan
bahwa informasi tersebut tidak diungkapkan (IAI, 2018 par. 92).
KETENTUAN TRANSISI, TANGGAL EFEKTIF, DAN PENARIKAN
Dampak diterapkannya Pernyataan ini pada tanggal eJektifnya (atau lebih awal)
dilaporkan sebagai penyesuaian saldo laba awal pada periode Pernyataan ini pertama kali
diterapkan. Entitas dianjurkan, tetapi tidak disyaratkan, untuk menyesuaikan saldo laba awal
dari periode sajian paling dini dan menyajlkan kembali informasi komparatif. Jika informasi
komparatif tersebut tidak dlsajikan kembali, maka fakta tersebut diungkapkan (IAI, 2018 par.
93).
Entitas menerapkan pernyataan ini untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau
setelah tanggal 1 Januari 2011 (IAI, 2018 par. 95). Penyesuaian Tahunan 2015
mengamandemen paragraf 05 sebagai amandemen terhadap SAK yang timbul dari PSAK 22
(Penyesuaian 2015): Kombinasi Bisnis. Entitas menerapkan paragraf tersebut secara
prospektif untuk kombinasi bisnis sesuai dengan penerapan dalam PSAK 22 (IAI, 2018 par.
99). Pernyataan ini menggantikan PSAK 57 (2000): Kewajiban Diestimasi, Kewajiban
Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi.