Anda di halaman 1dari 7

BAB 6

PEMBAHASAN

Pada bab 6 membahas tentang hasil penelitian hubungan jenis cairan

infuse dengan kejadian flebitis dengan menggunakan sampel sebanyak 79

responden yang dilakukan pada tanggal 1 Maret sampai dengan tanggal 7

Maret 2019.

6.1 Jenis cairan infus

Keaktifan ibu dapat dilihat dari kehadiran ibu di Posyandu yaitu

hadirnya ibu balita pada hari dimana kegiatan Posyandu dilaksanakan dan

mengikuti kegiatan yang ada. Kehadiran ibu di Posyandu dihitung berapa

kali hadir dalam satu tahun terakhir. Keaktifan merupakan perilaku dari ibu

yang dapat diamati secara langsung. Ibu yang aktif dalam kegiatan

Posyandu dipengaruhi oleh faktor pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan peran

kader. Ibu yang mempunyai balita tidak datang ke Posyandu dikarenakan

tidak mengetahui manfaat posyandu, karena merasa telah membawa

anaknya ke dokter, faktor pekerjaan ibu balita merupakan salah satu faktor

penghambat ibu balita memanfaatkan penimbangan balita di Posyandu. Ibu

yang bekerja di luar rumah dapat dikatakan tidak dapat pergi ke Posyandu

karena kegiatan di Posyandu dilakukan pada hari dan jam kerja, akan tetapi

ada kemungkinan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan lain atau

menitipkan pada orang lain untuk dibawa ke Posyandu. Jenis pekerjaan ibu

akan berpengaruh terhadap banyaknya waktu luang yang dimilikinya dalam

53
54

turut serta berbagai kegiatan di dalam masyarakat. Orang tua yang bekerja

terutama ibu, maka ibu juga tidak memiliki waktu luang yang tersedia bagi

anaknya khususnya di pagi hari, sehingga ibu tidak dapat membawa

balitanya ke Posyandu pada hari jam kerja. Tidak adanya anggota keluarga

yang lain seperti suami ataupun nenek, maka tidak ada yang mengantarkan

anaknya ke Posyandu. Ibu yang tidak bekerja, maka ibu mempunyai waktu

luang lebih besar dalam memberikan perhatian kepada anaknya dengan

membawa anaknya ke Posyandu.

Ibu yang memiliki pendidikan tinggi lebih aktif dalam kegiatan

posyandu dibandingkan ibu yang memiliki pendidikan menengah atau dasar.

Peningkatan pendidikan ibu akan membawah dampak pada investasi sumber

daya manusia yang berkualitas, karena dengan peningkatan pendidikan ibu

akan meningkatkan status gizi balita yang pada akhirnya dapat

meningkatkan peluang kesempatan pendidikan balitanya sebagai modal

dasar peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas. Tingkat

pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat

untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku

dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi.

Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi tindakan ibu untuk aktif ke

posyandu setiap bulannya

Faktor lain yang mempengaruhi yaitu ibu dengan pendidikan dasar

dan menengah banyak yang tidak bekerja sehingga ibu lebih mempunyai

waktu luang untuk membawa balitanya dalam kegiatan Posyandu maupun


55

adanya dukungan dari keluarga. Dari hasil penelitian saya bahwa sebagian

besar ibu aktif mengunjungi Posyandu Mawar Kelurahan Kidul Dalem.

6.2 Status Gizi Balita di Posyandu Mawar

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dari 50 anak

sebagian besar responden berada pada kategori status gizi normal

sebanyak 25 balita (50%) dan ditemukan anak dengan status gizi gemuk

sebanyak 6 balita (12%), sedangkan 16 balita (32%) dengan status gizi

kurus, dan 3 balita (6%) dengan kategori status gizi sangat kurus.

Usia balita yang dibawa ke Posyandu pada ibu yang aktif

berkunjung ke Posyandu yaitu balita yang berusia 24-59 bulan sebanyak

31 responden, sedangkan pada usia balita yang dibawak ke Posyandu

pada ibu yang aktif berkunjung ke Posyandu yaitu balita yang berusia

24-59 bulan sebanyak 31 responden. Anak balita merupakan kelompok

yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga

memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya.

Makanan memberikan sejumlah zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh

kembang pada setiap tingkat perkembangan dan usia, yaitu masa bayi,

masa balita dan masa prasekolah. Pemilihan makanan yang tepat dan

benar dapat bermanfaat dalam kecukupan gizi yang digunakan dalam

tumbuh kembang fisik, perkembangan sosial, psikologis dan emosional.

Faktor umur balita merupakan faktor yang paling berpengaruh

terhadap kunjungan ibu yang memiliki balita ke Posyandu. Umur balita

yang berkunjung diposyandu yaitu anak balita umur 12-35 bulan dan
56

anak balita umur 36-59 bulan.Umur balita dari 12-35 bulan merupakan

umur yang paling berpengaruh pada kunjungan ke Posyandu.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa usia balita antara ibu

yang aktif ke Posyandu dengan yang tidak aktif keposyandu sama-sama

besar yaitu pada usia balita 24-59 bulan.

Ibu yang tidak aktif ke Posyandu merasa perlu membawa

anaknya ke Posyandu sampai pemberian imunisasi anaknya lengkap dan

setelah itu ibu menganggap kegiatan di Posyandu hanya kegiatan

menimbang balita sampai usia lima tahun yang dianggap oleh ibu bukan

merupakan hal yang sangat penting dilakukan dan lebih mementingkan

dalam bekerja. Ibu yang aktif ke Posyandu merasa perlu membawa

balitanya ke Posyandu sampai usia 49 bulan, hal ini dikarenakan oleh

kegiatan yang ada di Posyandu dapat bermanfaat bagi balitanya yaitu

untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balitanya agar

anaknya dapat tumbuh secara optimal.

Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan

tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia. Status gizi dikatakan baik

bila terdapat keseimbangan dan keserasian antara perkembangan fisik

dan perkembangan mental..

Faktor yang menyebabkan kurang gizi tidak hanya karena

makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapat

makanan yang baik tetapi sering sakit diare atau demam dapat menderita

kurang gizi. Demikian anak yang makanannya tidak cukup maka daya

tahan tubuh akan melemah dan mudah terserang penyakit. Selain itu
57

ketahanan pangan keluarga, pola asuh anak, serta pelayanan kesehatan

dan kesehatan lingkungan. Faktor-faktor tersebut sangat terkait dengan

tingkat pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan keluarga. Makin

tinggi pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan terdapat kemungkinan

makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga. Makin baik pola

pengasuhan anak dan keluarga makin banyak memanfaatnya.

Pada penelitian yang dilakukan peneliti pada anak dengan status

gizi sangat kurus dan kurus ini terjadi terjadi mungkin karena

ketersediaan sumber gizi juga kurang sehingga status gizi anak tidak

terpenuhi yang ditunjang dengan penghasilan orang tua, dan info dari

petugas Posyandu bahwa 1 orang memiliki minat yang kurang untuk

mengikuti Posyandu. Sedangkan pada anak dengan dengan status gizi

gemuk dapat ditunjang dengan penghasilan orang tua yang lebih.

6.3 Hubungan keaktifan kunjungan dengan status gizi

Berdasarkan hasil uji statistik korelasi chi-square diperoleh hasil

nilai p (0,000), karena nilai p > α (0,000 > 0,05) maka H0 diterima dan

H1 ditolak yang artinya tidak terdapat hubungan antara jenis cairan infus

dengan kejadian flebitis di rumah sakit islam lumajang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan

antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar anak yang

dibuktikan dari hasil tabulasi silang antara Keaktifan Kunjungan dengan

status gizi balita bahwa dari 3 ibu yang tidak aktif berada pada kategori
58

status gizi normal dan 12 ibu yang aktif berada pada kategori status gizi

kurang dan status gizi lebih.

Faktor yang dapat mempengaruhi diantaranya yaitu faktor pekerjaan

ibu. Faktor pekerjaan ibu merupakan salah satu faktor penghambat ibu

balita memanfaatkan penimbangan balita di Posyandu. Ibu yang bekerja

di luar rumah dapat dikatakan tidak dapat pergi ke posyandu karena

kegiatan di Posyandu dilakukan pada hari dan jam kerja, akan tetapi ada

kemungkinan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan lain atau

menitipkan pada orang lain untuk dibawa ke Posyandu. Jenis pekerjaan

ibu akan berpengaruh terhadap banyaknya waktu luang yang dimilikinya

dalam turut serta berbagai kegiatan di dalam masyarakat. Maka dari ada

beberapa ibu yang tidak aktif mengunjungi Posyandu dikarenakan ibu

tersebut tidak dapat meluangkan waktunya untuk mengantarkan anaknya

ke Posyandu untuk mengikuti program Posyandu yang terlah berjalan

disebabkan ibu sibuk bekerja.

Faktor yang kedua yaitu tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan

yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang atau masyarakat untuk

menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku dan

gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi. Tingkat

pendidikan dapat mempengaruhi tindakan ibu untuk aktif ke Posyandu

setiap bulannya.

Faktor yang menyebabkan kurang gizi tidak hanya karena

makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapat
59

makanan yang baik tetapi sering sakit diare atau demam dapat menderita

kurang gizi. Demikian anak yang makanannya tidak cukup maka daya

tahan tubuh akan melemah dan mudah terserang penyakit. Selain itu

ketahanan pangan keluarga, pola asuh anak, serta pelayanan kesehatan

dan kesehatan lingkungan. Faktor-faktor tersebut sangat terkait dengan

tingkat pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan keluarga. Makin

tinggi pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan terdapat kemungkinan

makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga. Makin baik pola

pengasuhan anak dan keluarga makin banyak memanfaatnya.

Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini ada beberapa keterbatasan diantarnya adalah:

1. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian cross-sectional sehingga

peneliti hanya melakukan pengukuran keaktifan kunjungan dengan

status gizi balita hanya dalam satu waktu pada saat penelitian

dimungkinkan datanya kurang akurat

2. Penelitian ini menggunakan lembar Observasi sehingga peneliti

hanya melakukan obeservasi keaktifan kunjungan dengan status gizi

balita tidak bisa menggali informasi lebih banya lagi.